Anda di halaman 1dari 48

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kerja Praktek

Pembekalan bagi seorang calon sarjana Teknik Sipil tidak cukup


dengan pembekalan teori di bangku kuliah saja. Ada berbagai pengetahuan
penting lain yang hanya bisa didapat dari pengamatan visual di lapangan
secara langsung, seperti pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses
dan tahapan dalam kegiatan konstruksi, keterampilan berkomunikasi, dan
bekerja sama.
Kerja praktek adalah suatu kegiatan dimana mahasiswa memiliki
kesempatan untuk mengamati kegiatan konstruksi secara langsung serta
mengasah kemampuan interpersonal. Diharapkan mahasiswa dapat lebih
siap untuk menjadi calon sarjana teknik sipil yang tidak hanya memiliki
kemampuan teoritis, namun juga pemahaman dan kemampuan praktis
sebagai bekal memasuki dunia kerja kelak.
Oleh karena itu, Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam “45”
Bekasi bekerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang
konstruksi, pada kesempatan kali ini dipilih PT. PP Properti Tbk selaku
kontraktor, yang sedang melakukan konstruksi Proyek Pembangunan
Apartemen Grand Kamala Lagoon yang berlokasi di Jalan Pekayon Raya
Bekasi Barat.

1.2 Ruang Lingkup Kerja Praktek

Pekerjaan yang terdapat di Proyek Pembangunan Apartemen Grand Kamala


Lagoon meliputi:
1. Persiapan, mobilisasi & demobilisasi.
2. Pekerjaan bored pile.
3. Pekerjaan raft foundation.

1
2

4. Pekerjaan struktur dinding penahan tanah.


5. Pekerjaan waterproofing dinding penahan tanah .
6. Pekerjaan floor hardener area parkir basement dan area tangga.
7. Pekerjaan urugan tanah sisi dinding penahan tanah.

1.3 Tujuan dan Manfaat Kerja Praktek

Tujuan diadakan kerja praktek untuk mahasiswa adalah:


1. Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman mengenai kegiatan
konstruksi beserta berbagai aspeknya melalui pengamatan secara
langsung di lapangan.
2. Mengasah keterampilan dan kemampuan mahasiswa, terutama kerja
sama, komunikasi lisan dan tulisan melalui keterlibatan langsung di
lapangan.
3. Mendapatkan pengalaman bagaimana cara menyelesaikan masalah-
masalah yang muncul di lapangan baik yang berkaitan dengan masalah
teknis maupun non teknis.
4. Menjelaskan secara rinci dan detail mengenai proses-proses yang terjadi
dalam suatu proyek, diantaranya proses perencanaan, proses
pembangunan, manajemen proyek, dan pengadaan jasa konstruksi.

1.4 Sistematika Penulisan

Laporan kerja praktek ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:


 BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar belakang kerja praktek, tujuan kerja praktek, waktu dan
tempat pelaksanaan kerja praktek, dan sistematika penulisan laporan
kerja praktek.
 BAB II PROFIL PERUSAHAAN/PROYEK
Berisi informasi dasar mengenai Proyek Pembangunan Apartemen Grand
Kamala Lagoon, mencakup latar belakang proyek, lokasi proyek, lingkup
pekerjaan.
3

 BAB III MANAJEMEN PROYEK


Berisi informasi manajemen Proyek Pembangunan Apartemen Grand
Kamala Lagoon, meliputi organisasi proyek, ruang lingkup pekerjaan
berdasarkan dokumen kontrak, cara menentukan macam, volume, dan
harga satuan pekerjaan, pengendalian jadwal pekerjaan, prosedur
pengadaan bahan, peralatan, dan tenaga kerja, prosedur pembayaran,
serta prosedur perubahan lingkup pekerjaan.
 BAB IV PELAKSANAAN PROYEK
Berisi informasi proses pelaksanaan pekerjaan yang diamati, yakni
mengenai alat dan bahan, pekerjaan galian dan urugan, pekerjaan dinding
penahan tanah, pekerjaan pondasi, pekerjaan kolom, serta pekerjaan
kolom.
 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Memberikan kesimpulan dari hasil kerja praktek dan saran-saran yang
dianggap perlu.

1.5 Metode Penulisan

Laporan ini disusun dengan sistem penulisan deskriptif yang


menggambarkan dan menguraikan tahapan pelaksanaan kegiatan atau
pekerjaan di dalam proyek serta memaparkan penjelasan berdasarkan data
yang diperoleh selama proyek berlangsung.
4

BAB II
PROFIL PERUSAHAAN/PROYEK

2.1 Sekilas Tentang Perusahaan

PT PP Properti Tbk didirikan Tahun 2013 sesuai Akta Pendirian


Perseroan Terbatas No.18 tanggal 12 Desember 2013 dibuat dihadapan Ir.
Nanette Cahyanie Handari Adi Warsito, S.H. yang telah mendapat
pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor AHU-
04852.AH.01.01.Tahun 2014 tanggal 5 Februari 2014 ("PP Properti") yang
merupakan pemisahan divisi properti dari PT PP (Persero) Tbk yang telah
ada sejak tahun 1991.
PT PP Properti Tbk mengintegrasikan pengembangan yang didukung
dengan adanya fasilitas yang beragam dan lengkap sehingga menjadikan
penghuninya berkembang sehat lahir batin. Lebih dari 20 (dua puluh)
tahun PT PP Properti Tbk (yang merupakan pemisahan dari Divisi Properti
dari PT PP (Persero) Tbk) telah mengembangkan kemampuannya di segala
bidang, antara lain membangun Perumahan Otorita Jatiluhur tahun 1991,
pengembangan kawasan Cibubur tahun 1991 – 2004, Apartemen Paladian
Park di Kelapa Gading, Juanda business center di Surabaya dan
pembangunan serta pengelolaan Park Hotel Jakarta tahun 2010 dan Park
Hotel Bandung tahun 2012.
PT PP Properti Tbk memiliki 3 (tiga) unit Bisnis, yaitu Komersial,
Residensial dan Hotel. PT PP Properti Tbk berkomitmen untuk terus
mengembangkan bisnisnya dengan mengkombinasikan segala
pengetahuan dan kemampuan karyawannya, dari segi desain maupun
kualitas pembangunan yang semakin baik dan juga berkomitmen kepada
pelanggan serta pemasoknya.

4
5

2.2 Latar Belakang Pembangunan

Proyek Grand Kamala Lagoon adalah produk Unggulan dari PT. PP


Properti dibangun diatas Lahan 24 Ha, dikembangkan oleh Master Planner
dari USA yaitu DDG (DEVELOPMENT DESIGN GROUP). PT. PP
Properti juga akan membangun Jembatan Iconic Kalimalang sebagai Akses
ke PROYEK GRAND KAMALA LAGOON BEKASI.

2.3 Visi dan Misi Perusahaan

 Visi

Menjadi Pengembang Properti 5 Besar di Indonesia, yang memberikan


nilai kepada Para Pemangku Kepentingan dan Peduli Lingkungan.
 Misi

 Mengembangkan produk dan layanan properti yang unggul dan


memberikan kenyamanan bagi penghuninya.
 Meningkatkan kontribusi laba kepada Perusahaan Induk.
 Meningkatkan Kompetensi, Profesionalisme dan Kesejahteraan
Karyawannya.
 Memberikan komitmen dan partisipasi terbaik bagi perbaikan
lingkungan sekitar.

2.4 Lokasi Proyek

Proyek Pembangunan Apartemen Grand Kamala Lagoon berlokasi di Jl.


KH. Noer Ali Tol Jakarta-Cikampek KM 11 Bekasi Barat, Kelurahan
Pekayon Jaya.
6

Gambar 2.1 Peta Lokasi Proyek Grand Kamala Lagoon

2.5 Lingkup Pekerjaan Proyek

Pekerjaan yang terdapat di Proyek Pembangunan Apartemen Grand Kamala


Lagoon meliputi:
1. Persiapan
2. mobilisasi & demobilisasi.
3. Pekerjaan bored pile.
4. Pekerjaan raft foundation.
5. Pekerjaan waterproofing dinding penahan tanah.
6. Pekerjaan urugan tanah sisi dinding penahan tanah.
7. Pekerjaan floor hardener area parkir basement dan area tangga.

Adapun lingkup pekerjaan yang diamati selama kerja praktek berlangsung


di antaranya:
1. Pekerjaan galian dan urugan
2. Pekerjaan dinding penahan tanah
3. Pekerjaan raft foundation dan bore pile
4. Quality control pada slump te
7

2.6 Uraian Proyek

Proyek Apartemen Grand Kamala Lagoon berlokasi di Jl. KH Noor


Ali, Kalimalang, Bekasi - Jawa Barat. Proyek ini merupakan proyek
apartemen yang terdiri dari 44 lapis dan 4 basement.

2.7 Data Umum Proyek

1) Nama Proyek : Apartemen Grand Kamala Lagoon


2) Alamat : Jl. KH Noer Ali, Pekayon Raya Bekasi
Barat
3) Batas-batas Proyek :
 Utara : Jalan Kalimalang dan Tol
 Selatan : Perumahan Grand Galaxy
 Barat : Bekasi Kota
 Timur : Perumahan Grand Galaxy
4) Jenis Proyek : Pembangunan Apartemen
5) Jenis Kontruksi : Kontruksi Beton Bertulang
6) Luas Lahan : 30 Ha
7) Luas Bangunan : 124.766 M2
8) Jumlah Lantai : 50 Lantai (3 Lantai Basement, 4 Podium, &
43
Lantai Apartemen
9) Jenis Pondasi : Bored Pile
10) Tinggi Bangunan : 160 Meter
11) Owner : PT. PP Properti Tbk
12) Kontraktor Pelaksana : PT. PP (Persero) Tbk
13) Konsultan Pengawas : PT. Dinamika Teknik Selaras
14) Nilai Anggaran : 11 Triliyun
15) Waktu Pelaksanaan : 15 Bulan Kalender
16) Massa Pemeliharaan : 365 hari kalender
17) Retensi : 5% dari nilai kontrak
8

18) Nilai Kontrak : Rp. 205.863.900.000,- (Incl. PPN), Rp.


187.149.000.000,- (Excl. PPN)
19) Sifat Kontrak : Lumpsum FixPrice dan Provisinal Sum

2.8 Fasilitas Proyek

Fasilitas proyek dalam Pembangunan ada dua macam yaitu fasilitas di


workshop dan fasilitas di proyek, adapun fasilitas di proyek antara lain:
1. Kantor lapangan
2. Mes pekerja
3. Instalasi listrik
4. Telepon
5. Fasilitas air
6. Kendaraan
7. Safety
8. Workshop

Gambar 2.2 Areal Kantor

2.9 MK dan Kontraktor Pelaksana

Dibawah ini adalah daftar konsultan perencana, MK dan Kontraktor


yang terlibat dalam Pelaksanan Pekerjaan PROYEK GRAND KAMALA
LAGOON, Bekasi.
9

Tabel 2.1 Daftar Konsultan Perencana, MK dan Kontraktor


No Perusahaan Bidang
I KONSULTAN PERENCANA
1 PT. TOTAL REKAYASA SEJAHTERA Konsultan Struktur
2 PT. SEKAWAN DESIGN ARSITEK Konsultan Arsitektur
3 PT. MALLMAS MITRA Konsultan Me
4 PT. AECOM Konsultan Landscape
5 PT. MTA Konsultan Arsitektur Komersial

II PT. DINAMIKA TEKNIS SELARAS MK

III MAIN KONTRAKTOR & SUB


KONTRAKTOR
1 PT.PP ( Persero) Cabang III Main Kontraktor Struktur & Basic
2 PT. CASA PRIMA INDONESIA Electrical
3 PT. MITRAMAS ARTHA GRIYA AC & Fire Hydrant
4 Fire Alarm,Sound Tower 1 &
PT. ROL NATAMARO INDONESIA
Tower 2, Plumbing Tower 2
5 PT. PILAR GARBA INTI Plumbing Tower 1
6 PT. PLASMA STP
7 PT. DCT TOTAL SULUTION CCTV & Access Card
8 PT. WISE Lift
9 PT. MEGA SELARAS UTAMA Pintu Kayu
10 PT. SINAR SURYA ALUMINDO Facede, Jendela Tower South
11 CV WIDODO MAKMUR Plafond
12 PT. SUMMERLINDO Plafond
13 PT. INDOFLEK Facade, Jendela Tower North
14 PT. MITRA ANDALAN LESTARI Pintu Besi
15 Insalasi Telepon dan Data
PT. MITRA SINERGI ADHITAMA
(Indosat)
16 PT. DCT TOTAL SOLUTION IP CCTV & Access Control
17 PT INDOSAT Insatalasi Perangkat Komunikasi
10

BAB III
MANAJEMEN PROYEK

3.1 Uraian Umum

Manajemen proyek adalah merupakan penerapan fungsi-fungsi


manajemen (perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian) secara sistematis
pada suatu proyek dengan menggunakan sumber daya yang ada secara
efektif dan efisien, agar tercapai tujuan proyek secara optimal.
Proyek dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mencapai suatu
tujuan tertentu yang dibatasi oleh waktu dan sumber daya yang terbatas.
Usaha tersebut dibatasi oleh tiga variable proyek, yaitu waktu (Time), mutu
(Quality) dan harga (Cost).
Kegiatan-kegiatan ini menghasilkan suatu output, baik software (design),
maupun hardware (pelaksanaan fisik).
Unsur-unsur yang dikelola dalam sebuah proyek, yaitu:
- Money (uang dan material)
- Man (tenaga kerja, tenaga ahli)
- Machine (alat-alat untuk mempermudah pelaksanaan proyek)
- Methode (mekanisme dan prinsip kerja yang diterapkan dalam
menjalankan suatu proyek)
Sebuah proyek diawali adanya gagasan atau ide dari pihak pengguna
jasa (owner) yang kemudian dituangkan kedalam pekerjaan perencanaan
dan direalisasikan menjadi suatu wujud fisik tiga dimensional. Dalam hal ini
yang akan dibahas secara mendalam adalah proyek dalam kelompok industri
kontruksi.

10
11

3.2 Unsur-unsur Organisasi Proyek

Organisasi diperlukan untuk memperlancar dan mempermudah pekerjaan


yang dilaksanakan. Pihak-pihak organisasi yang terlibat dalam proyek ini
adalah:
1. Pemilik Proyek (bouwheer/owner)
2. Konsultan Perencana (consultan/designer)
3. Konsultan Pengawas (direksi/supervisior)
4. Pelaksana (contractor)
Seluruh pihak yang terdapat didalam struktur organisasi tersebut memilik
fungsi dan tanggung jawab masing-masing yang berbeda, tetapi dalam
pelaksanaannya saling terkait satu sama lain sehingga didalam pelaksanaan
pekerjaan akan memperoleh hasil yang baik. Untuk lebih jelasnya, struktur
organisasi dapat dilihat pada Gambar 3.1:

Project Director

Project Manager

Site Manager

Drafter Proyek

Surveyor
Logistik

Pelaksana Surveyor

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana


12

3.2.1 Pemilik Proyek (Bouwheer/Owner)

Pemilik proyek disebut juga pemberi tugas adalah seorang atau


instansi baik pemerintah maupun swasta yang memiliki proyek atau
pekerjaan dan memeberikannya kepada pihak lain yang mampu
melaksanakan sesuai dengan perjanjian kontrak kerja. Pemilik
proyek pembangunan apartemen grand kalama lagoon ini adalah PT.
PP Properti Tbk.
Untuk merealisasikan proyek, pemilik proyek mempunyai
kewajiban pokok yaitu menyediakan dana untuk membiayai proyek.
Berikut penjelasan mengenai tugas dan wewenang owner dalam
pelaksanaan proyek kontruksi bangunan.
a. Tugas pemilik proyek atau owner:
- Menyediakan biaya perencana dan pelaksanaan pekerjaan
proyek.
- Mengandalkan kegiatan administrasi proyek.
- Memberikan tugas kepada kontraktor atau melaksanakan
pekerjaan proyek.
- Meminta pertanggung jawaban kepada konsultan pengawas
atau menajemen kontruksi (MK).
- menerima proyek yang sudah selesai dikerjakan oleh
kontraktor.
b. Wewenang yang dimilik pemilik proyek atau owner:
- Membuat Surat Perintah Kerja (SPK).
- Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah
diencanakan.
- Meminta pertanggungjawaban kepada para pelaksana proyek
atas hasil pekerjaan kontruksi,
- Memutuskan hubungan kerja pembangunan dengan bentuk dan
material yang tidak sesuai dengan RKS.
13

3.2.2 Konsultan Perencana (Consultan/Designer)

Konsultan perencana adalah pihak yang ditunjuk oleh pemilik


proyek untuk melaksanakan pekerjaan perencanaan, perencana dapat
berupa perorangan atau badan usaha baik pemerintah maupun
swasta. Konsultan perencana pada proyek ini dipercayakan pada PT.
Dinamika Teknik Selaras. Tugas dan wewenang konsultan
perencana dalam pelaksanaan proyek kontruksi adalah:
a. Tugas dari konsultan perencana:
- Mengandalkan penyesuain keadaan lapangan dengan
keinginan pemilik bangunan.
- Membuat gambar kerja pelaksanaan.
- Membuat Rencana kerja dan syarat-syarat pelaksanaan
bangunan (RKS).
- Membuat rencana anggaran biaya bangunan.
- Memproyeksikan keinginan-keinginan atau ide-ide pemilik ke
dalam desain bangunan.
- Melakukan perubahan desain bila terjadi penyimpangan
pelaksanaan pekerjaan dilapangan yang tidak memingkinkan
desain terwujud di wujudkan.
- Mempertanggungjawabkan desain dan perhitungan struktur
jika terjadi kegagalan kontruksi.
b. Wewenang konsultan perencana adalah:
- Mempertahankan desiain dalam hal adanya pihak-pihak
pelaksana bangunan yang melaksanakan pekerjaaan tidak
sesuai dengan rencana.
- Menentukan warna dan jenis meterial yang akan digunakan
dalam pelaksanaan pembangunan.
14

3.2.3 Konsultan Pengawas (Direksi/Supervisior)

Konsultan pengawas adalah badan usaha atau perorangan yang


ditunjuk oleh pemilik proyek untuk melaksanakan pekerjaan
pengawasan. Konsultan pengawas dalam suatu proyek mempunyai
tugas dan wewenang sebagai berikut:
Tugas konsultan pengawas adalah:
- Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan
kontrak kerja.
- Melaksanakan pengawasan secara rutin dalam perjalanan
pelaksanaan proyek.
- Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek untuk dapat dilihat
oleh pemilik proyek.
- Konsultan pengawas memberikan saran atau pertimbangan
kepada pemilik proyek maupun kontraktor dalam proyek
pelaksanaan pekerjaan.
- Mengoreksi dan memberikan persetujuan mengenai tipe dan
merek yang diusulkan oleh kontraktor agar sesuai dengan harapan
pemilik proyek namun tetap berpedoman dengan kontrak kerja
kontruksi yang sudah dibuat sebelumnya.
Konsultan pengawas juga memilik wewenang sebagai berikut:
- Memperingatkan atau menegur pihak pelaksana pekerjaan jika
terjadi penyimpangan terhadap kontrak kerja.
- Menghentikan pelaksanaan pekerjaan jika pelaksana proyek tidak
memperhatikan peringatan yang diberikan.
- Memberi tanggapan atas usul pihak pelaksana proyek serta berhak
memerikasa gambar shop drawing pelaksana proyek.
- Melakukan perubahan dengan menerbitkan berita acara
perubahan (Site Intruction).
- Mengoreksi pekerjaan yang dilakasanakan oleh kontraktor agar
sesuai dengan kerja yang telah disepakati sebelumnya.
15

3.2.4 Pelaksana (Contraktor)

Pelaksanaan adalah suatu badan usaha atau badan hukum yang


bergerak dalam bidang jasa kontruksi sesuai dengan keahlian dan
kemampuan yang mempunyai tenaga ahli teknik dan peralatan.
Berdasarkan dari hasil pelelangan, pelaksanaan pada proyek tersebut
dimenangkan oleh PT. PP (Persero) Tbk.
Tugas dan tanggung jawab kontraktor sebagai pelaksana
proyek yaitu:
- Memahami gambar desain dan spesifikasi teknis sebagai
pedoman dalam melaksanakan pekerjaan dilapangan.
- Bersama dengan bagian enginering menyusun kembali metode
pelaksanaan kontruksi dan jadwal pelaksaan pekerjaan.
- Memimpin dan mengendalikan pelaksaan pekerjaan dilapangan
sesuai dengan persyaratan waktu, mutu dan biaya yang telah
ditetapkan.
- Membuat program kerja mingguan dan mengadakan pengarahan
kegiatan harian kepada pelaksana pekerjaan.
- Mengadakan evaluasi dan membuat laporan hasil pelaksaan
pekerjaan dilapangan.
- Membuat program penyesuaian dan tindakan turun tangan,
apabila terjadi keterlambatan dan penyimpangan pekerjaan di
lapangan.
- Bersama dengan bagian teknik melakukan pemeriksaan dan
memproses berita acara kemajuan pekerjaan dilapangan.
- Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan program kerja mingguan,
metode kerja, gambar kerja dan spesifikasi teknik.
- Menyiapkan tenaga kerja sesuai dengan jadwal tenaga kerja dan
mengatur pelaksanaan tenaga dan peralatan proyek.
- Mengupayakan efesiensi dan efektifitas pemakaian bahan, tenaga
dan alat dilapangan.
16

- Mengadakan pemeriksaan dan pengukuran hasil pekerjaan


dilapangan.

3.3 Hubungan Kerja Antara Pihak-pihak Organisasi

Dalam pelaksanaan setiap proyek, hubungan kerja antara pihak-pihak


organisasi dapat dikelompokan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu:
1. Hubungan kerja secara teknis,
2. Hubungan kerja secara hukum.

3.3.1 Hubungan kerja secara teknis

Secara teknis, hubungan kerja merupakan hubungan antara


pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan suatu proyek antara
pemilik proyek, konsultan perencana, konsultan pengawas dan
pelaksana/kontraktor terjadi suatu hubungan vertikal. Dalam hal ini
semua masalah teknis perencana diserahkan oleh pemilik proyek
kepada konsultan perencana. Berdasarkan penunjukan pengawas
oleh pemilik proyek, maka seluruh teknis pengawas diserahkan
kepada konsultan pengawas. Jika ada masalah teknis yang perlu
dibicarakan, maka menurut peraturan umum pemilik proyek tidak
dapat berhubungan langsung dengan pelaksana/kontraktor tetapi
harus melalui konsultan pengawas. Dalam pelaksanaan dilapangan
konsultan pengawas berkuasa penuh untuk menegur
pelaksana/kontraktor jika pekerjaan yang dilaksanakannya
bertentangan atau menyimpang dari bestek yang ada, baik secara
lisan maupun tulisan sesuai dengan wewenangnya. Apabila teguran-
teguran tersebut tidak diindahkan oleh pelaksana, maka konsultan
pengawas dapat menghentikan seluruh pekerjaan baik untuk
sementara waktu maupun seterusnya.
Berbeda halnya dengan konsultan perecana, ia tidak dapat
menegur atau memerintahkan pelaksana/kontraktor secara langsung
17

dilapangan tanpa melalui konsultan pengawas. Hal ini disebabkan


karena diantara konsultan perencana dan pelaksana/kontraktor tidak
ada hubungan kerja, sebaliknya antara konsultan perencana dan
konsultan pengawas terdapat hubungan garis konsultrasi. Untuk
lebih jelasnya, hubungan kerja secara teknis dapat digambarkan
sebagai berikut:

PEMILIK PROYEK

KONSULTAN
KONSULTAN
PENGAWAS
PERENCANA

Keterangan:
PELAKSANA
KONTRAKTOR Garis Perintah

Garis Konsultrasi
Gambar 3.2 Hubungan Kerja Secara Teknis

3.3.2 Hubungan kerja secara hukum

Dalam hubungan kerja secara hukum, masing-masing pihak


mempunyai kedudukan yang terikat secara hukum (kontrak).
Masing-masing pihak dalam melaksanakan tugas haruslah sesuai
dengan kedudukan dan tidak boleh menyimpang dari kontrak. Untuk
lebih jelas kedudukan masing-masing pihak secara hukum dapat
digambarkan sebagai berikut:
18

Pemberi jasa Pemberi jasa


PEMILIK PROYEK

Membayar jasa Membayar jasa

KONSULTAN KONSULTAN
PENGAWAS Kontrak kerja Kontrak kerja PERENCANA

Kontrak kerja

Membayar jasa

Melaksanakan sesuai Memberi jasa


bestek

PELAKSANA/KONTRAKTOR
Mengawasi pekerjaan
Gambar 3.3 Hubungan Kerja Secara Hukum

3.4 Hubungan Kerja

Keempat unsur proyek ini mempunyai kerja satu sama lainnya di


dalam menjalankan peranannya masing-masing. Hubungan kerja yang ada
dapat bersifat ikatan kontrak, hubungan koordinasi ataupun perintah.
Hubungan antara pihak-pihak terkait dilihat pada skema hubungan kerja
pihak-pihak yang terkait dalam proyek.
19

OWNER

KONSULTAN KONSULTAN
KONSULTAN M&E
STRUKTUR ARSITEK

KONTRAKTOR
UTAMA

Keterangan:

Hubungan Komando/Perintah

SUB KONTRAKTOR
Hubungan Koordinasi

Hubungan Tanggung Jawab


Gambar 3.4 Struktur Organisasi Proyek Grand Kamala lagoon

Dari skema bagan di atas dapat dijelaskan hubungan kerja diantara ke enam
unsur proyek tersebut sebagai berikut:

3.4.1 Pemilik Proyek dan Konsultan Perencana

Diantara keduanya terdapat ikatan kontrak, dimana konsultan


perncana memberikan jasa perencana proyek yang meliputi masalah-
masalah teknis maupun administrasi kepada pemilik proyek, dan
sebaliknya pemilik proyek berkewajiban memberikan imbalan berupa
biaya perencanaan kepada konsultan perencana. Pemilik proyek
mempunyai hak memberi perintah kepada konsultan perencana.
20

3.4.2 Pemilik Proyek dan Kontraktor Pelaksana

Kontraktor pelaksana berkewajiban melaksanakan pekerjaan


proyek dengan baik dan memuaskan pemilik proyek pada watktu
penyerahan pekerjaan. Sebaliknya pemilik proyek berkewajiban
untuk membayar seluruh biaya pelaksanaan kepada kontraktor
pelaksana agar proyek dapat berjalan dengan lancar. Hubungan kerja
telah diatur dalam kontrak kerja.

3.4.3 Konsultan perencana dan kontraktor Pelaksana

Konsultan perencana terlebih dahulu menyampaikan


perencanaan pekerjaan proyek, sedangkan kontraktor pelaksana
bertugas untuk melaksanakan pekerjaan proyek sesuai dengan
perencanaan konsultan perencana. Tetapi di antara keduanya tidak
terjadi hubungan perintah, tetapi terdapat hubungan koordinanasi.

3.5 Sistem Pelaporan Proyek, Administrasi Proyek, Rapat Proyek

3.5.1 Sistem Laporan

Laporan pekerjaan dibuat pada saat proyek sedang bejalan


maupun setelah proyek berakhir yang dijadikan sebagai bahan
evaluasi hasil pekerjaan dan untuk penyempurnaan proyek dimasa
mendatang.

a. Laporan Harian

Laporan harian dibuat setiap hari secara tertulis oleh pihak


pelaksana proyek dalam melakukan tugasnya dan dalam
mempertanggungjawabkan terhadap apa yang telah dilaksanakan
serta untuk mengetahui hasil kemajuan pekerjaannya apakah
sesuai dengan rencana atau tidak. Laporan ini dibuat untuk
21

memberikan informasi bagi pengendali proyek dan pemberi tugas


melalui direksi tentang pekerjaan proyek.
Laporan harian berisikan data-data antara lain:
- Waktu dan jumlah jam kerja
- Pekerjaan yang telah dilaksakan maupun yang belum
- Keadaan cuaca
- Bahan-bahan yang masuk kelapangan
- Peralatan yang tersedia dilapangan
- Jumlah tenaga kerja dilapangan
- Hal-hal yang terjadi dilapangan
Dengan adanya laporan harian ini, maka segala kegiatan proyek
yang dilakukan tiap hari dapat dipantau.

b. Laporan Mingguan

Laporan mingguan ini dibuat bedasarkan laporan harian


yang telah dibuat sebelumnya. Laporan mingguan berisi tentang
uruaian pekerjaan hari-hari sebelumnya serta kemajuan
pekerjaan telah dilaksanakan selama satu minggu. Laporan ini
dibuat oleh site manager.Sama halnya seperti laporan harian,
pembuatan laporan mingguan juga dimaksudkan untuk
mengetahui keadaan proyek, hanya saja dalam laporan
mingguan ini mencakup waktu setiap minggu dan permasalahan
yang lebih kompleks. Prosentase kemajuan dan atau
keterlambatan proyek juga dapat diketahui melalui laporan
mingguan ini dengan cara membandingkan kurva S.
Adapun gambaran mengenai laporan mingguan seperti hal-hal
berikut:
1. Kemajuan pelaksaan pekerjaan sampai dengan minggu yang
berlalu, jenis perlatan beserta jumlahnya, jumlah tenaga
kerja, dan material yang digunakan beserta volumenya.
22

2. Besar biaya proyek yang dikeluarkan selama satu minggu dan


perencanaan biaya yang akan dikeluarkan minggu berikutnya.
3. Jumlah pemakaian dan pemasukan bahan.
4. Catatan permasalahan yang ada selama satu minggu
pelaksanaan.
5. Hambatan-hambatan yang timbul mengenai tenaga kerja,
bahan dan peralatan serta cara menanganinya.
6. Catatan tentang ada tidaknya pekerjaan tambah dan pekerjaan
kurang dalam pelaksanan proyek selama satu minggu.
7. Intruksi, informasi, serta keputusan yang diberikan kontraktor
untuk minggu berikutnya dari pihak pemberi tugas.

c. Laporan Bulanan

Laporan bulanan yang dibuat oleh kontraktor yaitu oleh site


manager dimaksudkan agar penggunaan dana dan prestasi kerja
selama satu bulan dapat dikontrol oleh pemilik proyek sesuai
denga kesepakatan yang telah disepakati dalam tender proyek.
Kemajuan proyek selama satu bulan juga dapat diketahui melalui
laporan bulanan ini. Laporan bulanan ini merupakan akumulasi
dari laporan mingguan, yang dilengkapi dengan foto dokumentasi
sebagai tolak ukur realisasi kemajuan pelaksaan proyek, dan
evaluasi kemajuan pekerjaan terhadap rencana awal.
Dalam laporan bulanan yang berisi seluruh kegiatan proyek,
baik pelaksanaan maupun kegiatan-kegiatan penunjangnya,
terdapat dalam hal-hal sebagai berikut:
i. Data umum proyek,
ii. Master schedule,
iii. Mouthly progres report,
iv. Permasalahan yang terjadi beserta pemecahannya,
v. Kondisi cuaca di proyek selama satu bulan lengkap,
vi. Foto dokumentasi kemajuan proyek.
23

3.5.2 Administrasi Proyek

Administrasi Proyek berisi tentang laporan keungan yang


dibuat oleh bagian administrasi proyek, dan yang dituangkan dalam
laporan ini adalah sebagai berikut:
1) Daftar pembayaran biaya tidak langsung yang dibuat setiap hari
dan berisi tentang pengeluaran setiap hari.
2) Butu kas yang telah dibuat setiap minggu antara lain berisi
tentang keadaan keuangan proyek per-minggu.
Laporan keungan ini dibuat satu minggu sekali dan dikirim
kepada Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan Kantor Pusat
serta pemilik proyek, administrasi keuangan bertanggung jawab
dalam kegiatan pelaksanaan di proyek bidang administrasi keuangan
dan dokumentasi pembayaran, serta menyiapkan laporan-laporan
keuangan dan SDM proyek. Bertanggung jawab terhadap site
manager, dengan uraian yang lebih spesifik yaitu:
1) Pencatatan keluar masuknya uang/kas
2) Mengurus perlengkapan dan kelancaran tagihan proyek
3) Membuat dan menyajikan cashflow kepada Kepala Proyek
4) Membuat laporan berkala dibidang keuangan
5) Menyusun Anggaran Pembelanjaan Mingguan Proyek.

3.5.3 Rapat Organisasi

Rapat organisasi adalah merupakan peremuan yang diadakan


dan dihadiri oleh Pemilik proyek, Konsultan Perencana, Kontraktor
utama dan Sub-Kontraktor untuk mengadakan koordinasi lebih lanjut
pada penanganan proyek. Dalam rapat ini sebagai media untuk
membahas masalah-masalah yang terjadi dan rencana
penyelesaiannya. Pada kondisi tertentu rapat organisasi ini dapat
diadakan di luar waktu biasanya, bila salah satu pihak
memerlukannya.
24

Masalah-masalah yang dibahas dalam rapat ini antara lain:


1) Kesulitan yang dihadapi oleh pihak kontraktor dalam
pelaksanaan di lapangan.
2) Alternatif-alternatif dari pelaksanaan proyek dan masalah-
masalah lain yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek
secara teknis dalam detail yang lebih terperinci dan jelas.
3) Prestasi fisik yang telah dicapai berdasarkan laporan yang telah
dibuat.
4) Permasalahan atau macam-macam kesulitan yang menjadi
faktor penghambat dan alternatif penanggulangannya.

3.6 Rencana Kerja

Rencana kerja merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kontraktor


di dalam melaksanakan pekerjaan. Dengan adanya rencana kerja akan
diperoleh gambaran secara jelas dan terperinci tentang lingkup pekerjaan
yang dilaksanakan beserta waktu yang disediakan untuk masin-masing
tahapan pekerjaan. Bentuk rencana kerja yang ada dalam proyek ini
meliputi:

3.6.1 Time Schedule

Time schedule adalah suatu bentuk rencana kerja yang berupa


tabel. Berisi jenis-jenis pekerjaan disertai waktu dimulainya sampai
dengan berakhirnya setiap jenis pekerjaan tersebut. Namun
demikian, pada umumnya time schedule tidak memperhatikan
masalah biaya dan ukuran jelas menunjukan ketergantungan antara
jenis pekerjaan yang satu dengan yang lainnya.
25

3.6.2 Kurva S

Kurva S merupakan grafik yang menyatakan hubungan antara


bobot kumulatif kemajuan pekerjaan dalam persen dengan waktu
pelaksanaan pekerjaan dalam satuan waktu. Dengan adanya kurva S,
dapat diikuti perkembangan kemajuan pekerjaan setiap saat sehingga
dapat diketahui dengan cepat apabila proyek mengalami
keterlambatan/kemunduran. Kurva S juga dapat dipakai untuk
menilai presentasi kerja kontraktor sampai denga waktu yang
ditinjau.
Dalam kenyataannya dilapangan, meskipun setiap tahapan
kegiatan dalam proyek sudah direncanakan dengan baik, masih
sering dijumpai timbulnya permasalahan yang dapat menghambat
berlangsungnya pekerjaan proyek yang pada akhirnya akan
mengabitkan keterlambatan dalam menyelesaikan proyek itu sendiri.
Permasalahan yang timbul dapat berupa masalah teknis maupun non
teknis yang sulit diputuskan.

3.6.3 Shop Drawing

Rencana gambar kerja yang telah dibuat terkadang masih perlu


dijelaskan dengan gambar-gambar dan detail-detai agar memudahkan
pelaksanaannya dan menghindari kesalahan serta memperlancar
jalannya pekerjaan. Selain untuk memperjelas gambar kerja terkadang
juga dalam pelaksanaan apabila terjadi perubahan-perubahan dari
rencana semula, maka perlu perubahan gambar kerja yang lebih lengkap
yang disetujui oleh perencana dan pengawas.

3.7 Tenaga Kerja, Waktu Kerja, dan Upah Kerja

Pada umunya pengaturan tenaga kerja pada semua kontraktor hampir


sama dari segi waktu kerja. Hanya saja mengenai sistem pengupahan
masing-masing mempunyai pengaturan tersendiri. Tetapi pada prinsipnya
26

pengaturan tenaga kerja ini sesuai dengan Undang-undang Perburuhan yang


di dalamnya terdapat peraturan mengenai jam kerja, jam lembur, upah
minimum dan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah
ketenagakerjaan.

3.7.1 Tenaga Kerja

Tenaga kerja pada proyek ini dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:


1) Tenaga tetap
Tenaga kerja tetap adalah karyawan yang sudah diangkat, dan
mendapat gaji tetap langsung dari kantor pusat.
2) Tenaga harian
Tenaga kerja harian adalah tenaga kerja yang dipekerjakan
berdasarkan kebutuhan pada suatu jenis pekerjan tertentu.
Jumlah tenaga kerja harian tergantung pada volume pekerjaan
yang ada.
3) Tenaga borongan
Tenaga kerja borongan adalah mandor beserta anak buahnya
yang mendapatkan upahnya berdasarkan presentasi pekerjaan
yang dilakukan. Mandor berkewajiban mangatur anak buahnnya
yang disesuaikan kebutuhannya dengan jadwal pelaksanaan
pekerjaan.

3.7.2 Waktu kerja

Waktu kerja pada hari senin-minggu mulai pukul 08.00-17.00


dan jika lembur bisa sampai pukuk 21.00 dengan waktu istirahat
pukul 12.00-13.00. Waktu libur dalam proyek ini hanya pada hari
libur nasional saja.
27

3.7.3 Upah Kerja

Pelaksanaan pembayaran uaah pada karyawan yang bekerja


pada proyek ini adalah sebagai berikut:
a. Upah karyawan tetap dibayarkan setiap akhir bulan.
b. Upah mandor dibayarkan setiap hari Sabtu melaui bagian
administrasi proyek.
c. Upah tenaga kerja dibayarkan setiap minggunya melalui mandor,
tepatnya hari Sabtu setelah mandor mandapat dari bagian
administrasi proyek.

3.8 Sistem lelang

Pelaksana/kontraktor pelaksana pada proyek pembangunan apartemen


grand kamala lagoon dilakukan dengan sistem pelelangan umum dengan
pascakualifikasi. Proses pelelangan ini ada 3 (tiga) tahap yaitu:
1. Persiapan pelelangan, terdiri dari:
- Penentuan sasaran menurut pelelangan.
- Penyedian dana.
- Pembentukan Panitia lelang proyek/bagian proyek yang bersangkutan.
- Penetapan daftar rekanan terseleksi.
- Pembuatan jadwal pelelangan.
- Penyediaan dokumen lelang.
2. Pelaksanaan pelelangan, terdiri dari:
- Pengumuman/undangan pelelangan.
- Pendaftaran peserta lelang.
- Pengambilan dokumen lelang.
- Rapat penjelasan.
- Penyampaian berita acara rapat dan addendum bila ada.
- Pemasukan penawaran.
- Pembukaan penawaran.
- Evaluasi penawaran.
28

- Pengumuman pemenang.
3. Evaluasi dan klasifikasi hasil pelelangan, terdiri dari:
- Evaluasi dan penawaran.
- Klasifikasi.
- Laporan Evaluasi penawaran.

3.9 Sistem pembayaran

Dalam pengadaan barang dan jasa berdasarkan Perpres No. 54 Tahun


2010, PPK bertanggung jawab terhadap semua tahapan dalam pengadaan
barang dan jasa, dimulai dari perencanaan hingga selesainya pelaksanaan
pekerjaan termasuk pembayaran atas tagihan yang diajukan oleh penyedia.
Selesainya pelaksanaan pekerjaan dinyatakan dengan Berita Acara Serah
Terima Pekerjaan yang ditandatangani Penyedia dan Panitia Penerima Hasil
Pekerjaan (Pasal 95 Perpres No. 54 Tahun 2010). Berita Acara Serah
Terima Pekerjaan tersebut menjadi dasar bagi penyedia untuk dapat
melakukan/mengajukan penagihan atas pekerjaan tersebut kepada
Kementrian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Instansi yang
bersangkutan, sedangkan bagi PPK berita acara tersebut sebagai dasar untuk
melaporkan penyelesaian pekerjaan pengadaan barang dan jasa serta
menyerahkan hasil pekerjaan pengadaan barang dan jasa kepada PA/KPA
berdasarkan pasal 11 Perpres No. 54 Tahun 2010.
Perpres No. 54 Tahun 2010 tidak mengatur lebih lanjut tentang
bagaimana prosedur penagihan atas pekerjaan yang telah selesai
dilaksanakan, padahal atas keterlambatan pembayaran kepada penyedia
maka PPK dapat dimintakan ganti rugi bunga yang dihitung dari nilai
tagihan, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 122 huruf (a) Perpres No. 54
Tahun 2010. Hal ini dapat menjadi permasalahan tersendiri bilamana antara
proses pengadaan dan proses pembayaran tidak sesuai sehingga dapat
mengakibatkan seorang PPK dikenakan ganti rugi.
29

BAB IV
PELAKSANAAN PROYEK

Selama kerja praktek berlangsung, pengamatan di lapangan dilakukan


beberapa kali.Pengamatan di lapangan ini berguna untuk menambah wawasan
mengenai praktek pelaksanaan konstruksi di lapangan. Dari hasil pengamatan
tersebut, dapat dipelajari beberapa proses pelaksanaan konstruksi dan material
pendukungnya. Pada sub bab berikut akan dijelaskan mengenai pelaksanaan
pekerjaan yang diamati selama kerja praktek.

4.1 Ruang Lingkup Kerja Praktek

Ruang lingkup kerja praktek ini meliputi pengamatan dan pelaporan aspek-
aspek teknik, manajerial pelaksanaan dan pengendalian proyek. Pada saat
ini pembangunan Proyek Apartemen Grand Kamala Lagoon sudah sampai
pembangunan raft fondation. Maka dari itu spesifikasi laporan pengamatan
kerja praktek ini hanya difokuskan pada pekerjaan struktur bawah yaitu
meliputi:
1. Pengecekan titik-titik pondasi
2. Pekerjaan dinding penahan tanah
3. Pengerjaan pengecoran pada raft fondation
4. Quality control pada slump test

4.2 Alat dan Bahan

Material pokok yang digunakan saat konstruksi antara lain:


1. Beton ready mix
Beton ready mix adalah beton siap pakai yang biasanya disediakan oleh
subkontraktor. Penggunaan beton ready mix memudahkan pelaksanaan

29
30

di lapangan karena kontraktor tidak perlu menyediakan pekerja dan


menyimpan bahan dan material di lapangan.
2. Kawat baja/kawat bendrat
Kawat baja berfungsi untuk mengikat tulangan sehingga kedudukan
tulangan dalam beton tidak berubah. Kawat baja biasanya berbentuk
gulungan yang harus dipotong sebelum penggunaan.
3. Hollow
Hollow adalah balok kayu memanjang yang gunakan untuk bekisting.
Hollow digunakan untuk melapisi multipleks sehingga menjadi lebih
kokoh.
4. Kayu multipleks (Plywood)
Multiplex merupakan bahan bekisting yang berfungsi untuk membentuk
permukaan struktur yang akan dicor.
5. Kayu
Kayu yang digunakan merupakan balok dan papan yang digunakan
untuk pekerjaan cetakan dan perancah.
6. Betonit
Bentonit merupakan mineral lempung yang mampu menyerap air dan
mengembang. Bentonit digunakan untuk penahan longsor tanah saat
dilakukan pengeboran pada pekerjaan bored pile.
7. Additive
Additive yang digunakan adalah integral dan retarder. Integral
berfungsi untuk menjadikan beton kedap air. Penambahan integral
dilakukan untuk beton yang akan digunakan pada dinding penahan
tanah dan instalasi sanitasi air. Sedangkan retarder digunakan pada
beton ready mix, untuk memperlambat pengerasan beton.
Untuk membantu proses konstruksi di lapangan dibutuhkan beberapa
peralatan antara lain:
1. Mobile crane
Mobile crane diperlukan untuk proses pemasangan tower crane. Mobile
crane yang digunakan berkapasitas 50 T.
31

2. Tower crane
Tower crane yang digunakan berkapasitas maksimum 3 T dengan
panjang boom 55 m.
3. Back hoe
4. Mesin Bor
Mesin bor digunakan untuk membuat lubang galian tanah pada
pekerjaan soldier pile.
5. Truk
6. Bucket Cor
Bucket cor adalah wadah yang digunakan untuk membawa adukan
beton ke lokasi pengecoran dengan diangkut oleh tower crane
7. Trame
Pipa memanjang dari besi yang digunakan untuk memasukkan adukan
beton ke soldier pile.
8. Concrete pump car
Alat ini digunakan untuk memompa beton dari mixing truck ke lokasi
pengecoran.
9. Compressor
10. Vibrator
Digunakan saat pengecoran untuk meratakan adukan beton sehingga
lebih padat dan tercampur dengan baik sehingga tidak berongga saat
sudah mengeras.
11. Theodolite
Alat ini digunakan oleh surveyor untuk memastikan letak/kedudukan
suatu elemen struktur.
12. Waterpass
Alat ini digunakan oleh surveyor untuk memastikan letak/kedudukan
serta kerataan permukaan struktur.
13. Perancah (scaffolding)
Perancah yaitu konstruksi pipa besi yang digunakan untuk menopang
bekisting.
32

14. Bekisting
Bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan
beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang
diinginkan.
15. Bending Machine
Alat untuk melengkungan tulangan sesuai bentuk rencana.
16. Per cutter
Alat untuk memotong tulangan

4.2.1 Pengangkutan dan Penyimpanan

Pengangkutan material umumnya menggunakan truk. Material


lalu disimpan di tempat penyimpanan baik secara manual oleh
pekerja, maupun dengan bantuan tower crane. Material yang
disimpan di lokasi proyek antara lain besi tulangan, wiremesh untuk
pelat lantai, kayu untuk bekisting dan perancah, serta sebagian tanah
galian yang akan digunakan untuk timbunan. Beberapa material
disimpan di dalam gudang, seperti minyak bekisting. Beton yang
digunakan dalam proses pengecoran struktur adalah beton readymix.
Dalam hal ini, pihak kontraktor bekerja sama dengan supplier beton
ready mix yaitu PT. Pioneer Beton dan PT. Adhimix. Beton ready
mix dipesan jikaakan dilakukan proses pengecoran, sehingga tidak
ada penyimpanan material beton di lokasi proyek.

4.2.2 Pabrikasi

Di proyek ini, terdapat dua macam pabrikasi yang dikerjakan, yaitu:


a. Bekisting balok dan pelat lantai
Bekisting balok dan pelat lantai menggunakan bahan multiplex
dengan tebal 12 mm. Kayu yang digunakan untuk bekisting ini
adalah jenis kayu Plywood.
Di lokasi ini, papan multipleks dipotong-potong sesuai
33

kebutuhan desain elemen struktur dan dipasagkan dengan


hollow sebagai penopang multiplex.
b. Tulangan
Terdapat berbagai macam diameter tulangan yang digunakan
dalam proyek ini. Tulangan biasanya dijual dalam panjang
tertentu. Proses pabrikasi yang dilakukan adalah pembengkokan
dan pemotongan tulangan kemudian dirakit sesuai desain yang
dibutuhkan. Proses ini dilakukan dengan bantuan per cutter,
bending machine, dan rolan.

Gambar 4.1 Alat Pemotong Tulangan

4.3 Pelaksanaan Proyek

4.3.1 Pekerjaan Galian dan Urugan

Pekerjaan tanah yang diamati adalah proses galian, serta


urugan. Pada mulanya penggalian tanah dilakukan oleh owner.
Karena proses penggalian tanah belum selesai saat proses konstruksi
akan dimulai oleh kontraktor, akhirnya pekerjaan tanah yang belum
selesai dikerjakan oleh kontraktor. Pekerjaan galian tanah lalu
dilakukan paralel dengan proses pengerjaan struktur atas dan bawah,
sehingga saat pengerjaan sebagian struktur sudah mencapai beberapa
lantai, pekerjaan galian tanah terutama di areal depan bangunan
rencana belum selesai. Galian tanah dilakukan dengan menggunakan
34

back hoe untuk kemudian dibuang menggunakan truk dan secara


manual oleh pekerja dengan bantuan sekop, palu dan jack hammer,
yang kemudian diangkut ke truk menggunakan bantuan tower crane.
Pekerjaan timbunan dilakukan untuk mengisi bagian galian diluar
dinding penahan tanah. Tanah yang digunakan sebagian merupakan
tanah dari hasil galian dan sebagian lain dibeli. Material tanah yang
akan digunakan harus bebas lumpur, kotoran, dan sampah.
a. Pekerjaan Galian
Persiapkan alat bantu kerja sesuai dengan MS (Method
Schedule) pekerjaan galian : manual atau dengan mesin bantu
excavator. Adapun langkah-langkah galain tanah adalah sebagia
berikut :
 Persiapkan alat bantu ukur untuk penentuan batas galian
dan pompa air untuk dewatering.
 Untuk galian yang besar dan dalam serta berbatasan dengan
bangunan lain perlu disiapkan turap untuk dapat menahan
tanah di sekelilingnya dan mencegah terjadinya kelongsoran
seperti sheet pile, continuous pile, H pile dan lain-lain.
Sistemnya adalah sebagai berikut:
 Dengan sheet pile (plat baja yang telah dimodifikasi)
 Dengan Soldier pile (bored pile beton dipasang berbaris
mengelilingi bangunan
 Dengan Shot create:
 Penjangkarannya dengan menggunakan ground anchor
 Penjangkarannya dengan menggunakan soil nailin
 Periksa kemungkinan adanya prasarana lingkungan yang
melintasi atau berada di sekitar area galian (jalur
kabel/pipa/telepon, dll).
 Menentukan batas daerah galian (survey & marking
koordinat serta elevasi).
 Menentukan peralatan yang cocok untuk pekerjaan
35

penggalian dan jumlah alat untuk kelancaran pekerjaan.


b. Pekerjaan Urugan
Persiapan:
 Menyiapkan alat bantu kerja : pacul, pengki (manual), atau
peralatan berat seperti bulldozer untuk area urugan yang
cukup luas dan bervolume besar. Menyiapkan peralatan
pemadatan (compacting) dan alat ukur untuk pengecekan
level akhir urugan.
 Untuk urugan yang besar dan dalam serta berbatasan
dengan lereng perlu disiapkan turap untuk dapat menahan
tanah. Siapkan jalur kendaraan dump truck sesuai urutan
pengurugan.

4.3.2 Pekerjaan Dinding Penahan Tanah

Pada pekerjaan dinding penahan tanah, tahapan pekerjaan


secara umum adalah pembesian, pemasangan bekisting, pengecoran,
pelepasan bekisting dan perawatan.

4.3.2.1 Fungsi dinding penahan tanah

Dinding penahan tanah yaitu dinding luar yang


berfungsi sebagai penahan tanah agar kondisinya stabil dan
tidak bisa longsor atau terlindung dari erosi.

4.3.2.2 Pembesian

Proses pembesian hampir sama dengan pembesian


pada pelat lantai basement/pondasi raft. Tulangan yang
telah dipotong kemudian dirakit pada lokasi dinding
penahan tanah yang akan dicor. Pengikatan antar tulangan,
sengkang dan sambungan dilakukan menggunakan kawat
baja.
36

Gambar 4.7 Pengangkatan Tulangan DPT

4.3.2.3 Pemasangan Bekisting

Bekisting yang telah dibuat di lokasi pabrikasi di


angkut menggunakan towercrane. Bekisting kemudian
dipasangkan dan diberi perkuatan dengan pipa-pipa besi
sebagai penopang bekisting.
Pada pekerjaan dinding penahan tanah digunakan
sparing yang berfungsi menutup bukaan untuk
mechanical/electrical dan bukaan untuk pertemuan balok
dan lantai. Bahan yang digunakan adalah styrofoam.

4.3.2.4 Pengecoran

Pengecoran dilakukan dengan menggunakan concrete


bucket dan pipa tremie. Pengecoran dilakukan menerus, dan
digunakan vibrator untuk memadatkan adukan beton. Selain
itu untuk membantu pemadatan, bekisting dipukul dengan
palu kayu.

4.3.2.5 Pembongkaran Bekisting dan Perawatan

Pembongkaran bekisting dilakukan 8 jam setelah


pengecoran selesai. Pipa-pipa penopang bekisting dilepas
37

sehingga otomatis bekisting terlepas dari beton. Bekisting


kemudian dipindahkan oleh tower crane. Perawatan beton
menggunakan bahan liquid membrane forming coumpounds
yang disiramkan pada permukaan kolom setelah bekisting
dilepaskan untuk mencegah penguapan sampai beton
berusia 28 hari.

4.3.3 Pekerjaan Raft Podasi dan Bored Pile

Belum selesainya pekerjaan galian menyebabkan pekerjaan


pondasi dan boredpile dikerjakan secara parsial tiap segmen tertentu.
Pada pekerjaan pondasi raft dan bored pile, secara umum tahapan
yang dilakukan adalah persiapan, pembesian, dan pengecoran.
Pekerjaan pondasi raft, terutama penulangan dan pengecoran
dilakukan setelah pekerjaan bored pile pada area tersebut selesai.
Pada tahap ini tidak/sedikit sekali digunakan bekisting karena yang
menjadi lantai kerja adalah lapisan tanah. Karena tanah cukup kuat
maka bekisting tidak diperlukan terkecuali pekerjaan di segmen tepi
luar bangunan.

Gambar 4.2 Pekerjaan Bored Pile


38

Gambar 4.3 Pekerjaan Pengeboran Bored pile

Gambar 4.4 Pengangkatan Tulangan Bored Pile

4.3.3.1 Persiapan

Setelah penggalian tanah selesai kemudian dibuat


marking & leveling lahan untuk pembuatan pondasi
sumuran sesuai dengan gambar kerja. Lubang-lubang untuk
bored pile kemudian dibuat sejumlah 360 titik. Pekerjaan
galian dilakukan manual oleh 2-3 orang pekerja. Untuk
penulangan bored pile diberi overstek 40D untuk
sambungan menerus kolom.

4.3.3.2 Pembesian

Pada pembesian bored pile, tulangan yang sudah


disusun di tempat pabrikasi tulangan diangkut
menggunakan tower crane. Pekerja dengan bantuan
39

towercrane lalu menempatkan susunan tulangan ke bored


pile. Pada pondasi raft, perangkaian tulangan dilakukan di
lokasi tulangan terpasang. Tulangan disusun sesuai rencana
kemudian disatukan menggunakan kawat baja atau di las.
Sebagai dudukan tulangan, dipasang beton decking. Beton
decking/tahu beton juga berfungsi untuk menopang
tulangan sehingga tulangan tidak bergeser/melendut
sehingga mengurangi tebal selimut beton. Untuk menjaga
ketebalan plat dan jarak antara tulangan atas dan bawah,
maka digunakan cakar ayam, yaitu tulangan ulir yang
dibengkokan dan dipasang diantara tulangan atas dan bawah
yang berfungsi menjaga ketebalan pelat sesuai rencana.
Karena proses pengecoran dilakukan tiap segmen tertentu,
maka dipasang stop cor. Stop cor merupakan kawat yang
dipasang pada bagian tepi segmen yangakan dicor yang
nanti akan disambung oleh pengecoran berikutnya sehingga
beton tertahan oleh stop cor tersebut.

Gambar 4.5 Pekerjaan Pembesian bored pile

4.3.3.3 Pengecoran

Sebelum dilakukan pengecoran, dilakukan


pengecekan tulangan, meliputi diameter tulangan, serta
jarak antar tulangan serta pemasangan beton decking.
Lokasi pengecoran dibersihkan menggunakan compressor.
40

Pengecoran dilakukan pertama kali pada bored pile dengan


menggunakan concrete pump car dan pipa tremie. Saat
dilakukan pengecoran, digunakan vibrator agar beton
teraduk rata.
Pengecoran pondasi raft dilakukan kemudian setelah
semua pekerjaan bored pile pada area yang akan dicor
selesai. Untuk pengecoran sambungan pelat lantai, stop cor
terlebih dahulu disiram menggunakan calbond yang
berfungsi sebagai perekat. Pengecoran dilakukan dengan
dua cara, menggunakan pipa dengan bantuan concrete pump
car atau menggunakan bucket cor yang diangkut oleh tower
crane. Saat dilakukan pengecoran, pekerja meratakan
campuran beton dengan menggunakan vibrator.
Penggunaan vibrator ditujukan agar adukan beton merata
sehingga mengurangi terciptanya rongga saat beton
mengering. Pemakai vibrator harus diperhatikan, yakni
harus tegak lurus permukaan beton dan tidak boleh terlalu
lama, karena akan mengakibatkan bleeding, yaitu
terpisahnya air dari adukan beton, dan material yang lebih
berat seperti aggregate terkumpul dibawah adukan. Setelah
selesai dicor, pekerja meratakan permukaan beton dan
mengecek kerataan permukaan menggunakan waterpass.
Proses perawatan dilakukan dengan menggenangi
permukaan pelat lantai dengan air. Ditiap sambungan pelat
diberi water stop utuk mencegah adanya rembesan air dari
celah pada sambungan.
41

Gambar 4.6 Pekerjaan Pengcoran

4.3.4 Quality Control

Pengendalian mutu bahan mengacu pada peraturan-peraturan yang


berlaku, diantaranya:
1. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung,
SNI-03-2897-2002
2. Baja Tulangan Beton, SNI 07-2052-2002
3. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung SNI
1729-1989-F/T/TCPBB 1987
4. SII, PBI, PPBBI, PKKI, PUIL (General Building Standards
&Facilities)
5. American Concrete Institute (ACI)
6. American Standard for Testing Material (ASTM)

Pengendalian mutu bahan dilakukan dengan melakukan pengujian.


Beton ready mix yang tiba di lapangan akan diuji menggunakan kerucut
abrams untuk mendapatkan nilai slump. Beton yang tidak layak tidak
diizinkan untuk digunakan. Beton juga akan diambil sampel untuk dicetak
dalam cetakan silinder dan persegi untuk pengujian kekuatan di
laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan secara acak, sebanyak 1 kali
dari setiap 10 truck beton.
Pemeriksaan tulangan dilakukan secara visual dan menggunakan
jangka sorong untuk mengetahui diameter serta luas efektif. Pengujian kuat
42

tarik dilakukan pada beberapa sampel tulangan. Pengujian beton dan baja
dilakukan di laboratorium struktur.
Pengendalian mutu pekerjaan dilakukan dengan pengwasan selama
pekerjaan berlangsung. Beberapa hal-hal yang selalu diperhatikan antara
lain, ketepatan cara penggunaan vibrator saat pengecoran, kebersihan lokasi
pengecoran, kerataan permukaan, serta pengecekan tulangan.

Gambar 4.12Slump test

4.3.5 Kesehatan, Keamanan Kerja, dan Lingkungan (K3L)

PT. PP PROPERTI TBK berkomitmen terhadap kesehatan, keamanan


kerja dan lingkungan dengan menerapkan hal-hal berikut:
1. Pemantauan penggunaan Alat Pengaman Diri (APD), bagi setiap
orang yang memasuki lingkungan proyek termasuk tamu dan
pekerja, meliputi helm, sepatu bot dan rompi.
2. Pemantauan kedisipilinan bekerja, pekerja tidak diizinkan
merokok selama bekerja untuk menghindari kelalaian akibat
terpecahnya konsentrasi.
3. Pembuatan safety plan, berupa prosedur preventif dan reaktif.
Preventif meliputi identifikasi wilayah atau titik berbahaya dan
pencegahannya dengan pemasangan alat pengaman maupun
43

plang peringatan. Reaktif meliputi penanganan/penyelamatan


yang harus dilakukan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
misalnya, kebakaran, kecelakaan, maupun bencana alam.
Sehingga dampak dari kejadian-kejadian tersebut dapat
dikurangi.
4. Pembuatan security plan, meliputi prosedur keluar masuk bahan
dan alat berat, serta prosedur komunikasi di lapangan.
5. Pengaturan kerapihan alat dan material serta pengaturan
pembuangan sampah organic dan anorganik.
6. Safety morning talk yang diadakan setiap hari rabu

4.3.6 Permasalahan dan solusi

4.3.6.1 Permasalahan

Disetiap proyek kontruksi tidak terlepas dari


permasalahan yang menyangkut desain, tender,
koordinasi antar berbagai pihak dan sebagainya yang
dapat mempengaruhi biaya, waktu dan mutu dari
proyek tersebut. Berikut adalah bebagai potensial
problem beserta solusinya dari Proyek Apartemen
Grand Kamala Lagoon.
1) Masalah teknis
Masalah teknis ini sangat berpengaruh terhadap
performa bangunan atau kualitas dari bangunan
setelah jadi. di sini peran engineer sangat
berpengaruh terutama untuk menyelesaikan
masalah-masalah teknis seperti ini. Beberapa
kendala teknis yang ada di proyek gedung antara
lain:
 Masalah: Penumpukan hasil pembongkaran
bekisting serta material lainnya masih berada
44

pada area kerja sehingga dapat menghambat


langkah kerja para pekerja proyek.
Solusi: Material hasil pembongkaran serta
banda-benda yang dapat mengganggu
kelancaran pekerjaan proyek segera
dibersihkan agar tidak mengganggu kelancaran
pekerjaan proyek.
 Masalah: Cuaca seperti hujan dapat
mempengaruhi aktifitas pelaksanaan
pembangunan proyek, sehinnga progres
pekerjaan menjadi lambat dan terjadi
penundaan pekerjaan yang berdampak pada
pekrjaan pengecoran.
Solusi: Masalah ini dapat diselesaikan dengan
cara penambahan waktu kerja dengan cara
lembur atau juga bisa dengan penambahan
tenaga kerja, sehingga yang semula terjadi
penundaan waktu akibat cuaca hujan dapat
dikejar sesuai dengan rencana.
 Masalah: kolom dan balok pasca pengecoran
mengalami keropos. Hal ini disebabkan karena
kurang jelinya pekerja yang bertugas untuk
meratakan adonan beton pada saat pengecoran
kolom dan balok berlangsung sehingga
menyebabkan kolom dan balok pasca
pengecoran menjadi keropos.
Solusi: Masalah ini dapat diselesaikan dengan
cara melakukan penambalan pada kolom dan
balok yang mengalami keropos. Penggunaan
penambalan dilakukan dengan cara manual,
artinya tanpa menggunakan mesin pengaduk.
45

bahan penambalnya yaitu dengan Sika


Monotop.
 Masalah: Pelanggaran Pelaksanaan K3 masih
terjadi. Contohnya dalam proyek masih ada
tenaga kerja yang bekerja tanpa menggunakan
sepatu boot atau sepatu safety. Selain itu, saat
pemasangan scafolding dan bekisting di area
pinggir apartemen tenaga kerja tidak mamakai
full body harness.
Solusi: Tim K3 memperketat aturan tentang
K3 sehingga tenaga kerja dapat disiplin untuk
mematuhi aturan tersebut dengan cara
memberikan sanksi dan papan-papan warning.
 Masalah: Perubahan gambar kerja selalu
diperbaharui disesuaikan dengan permasalahan
di lapangan. Jadi dalam beberapa waktu
gambar yang dilapangan belum sesuai dengan
kondisi dilapangan. Hal tersebut cukup
menunda kerja dilapangan, dikarenakan
pelaksana harus memeriksa dan
mengkoordinasikan kembali pada pihak
perencana.
Solusi: Dilakukan koordinasi sehingga
pembaruan data dan gambar selalu diketahui
oleh setiap pihak yang berkepentingan.
2) Masakah non teknis
Kendala-kendala yang terjadi di proyek
sangat berpengaruh terhadap progres di lapangan
sehingga semua masalah harus bisa diminimalisir
termasuk masalah non teknis. Permasalahan non
46

teknis ini berbeda dengan masalah teknis.


Beberapa masalah non teknis antara lain:
 Masalah: Adanya pungutan liar yang
dilakukan oleh oknum pejabat dan preman
setiap kali ngecor dengan jumlah yang
lumayan besar.
Solusi: Pihak owner menyiapkan oknum
aparat agar para preman tidak mengganggu
dan meminta pungutan liar kepada mobil yang
lewat untuk melakukan pekerjaan pengecoran.
 Masalah: Terjadi penundaan atau
keterlambatan armada ready mix yang
mengakibatkan pengecoran lebih lama.
Solusi: Lebih mengkoordinasikan dari pihak
pionir beton sebagai suplayer beton agar lebih
cepat datang agar tidak terhambatnya
pekerjaan pengecoran.
47

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah mengikuti Kerja Praktek (KP) selama lebih kurang 3 (tiga) bulan
pada pelaksanaan Proyek Apartemen Grand Kamala Lagoon yang berlokasi di
Pekayon Bekasi Barat penulis banyak mendapatkan pengetahuan baik mengenai
sistem organisasi dalam suatu pelaksanaan pekerjaan proyek maupun pengetahuan
tentang langkah–langkah pengerjaan atau pelaksanaan dari tiap item pekerjaan
baik yang diamati maupun yang diikuti serta ini merupakan pengalaman pertama
bagi penulis berada langsung dilapangan atau lokasi pekerjaan.

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil pengamatan di lapangan selama mengikuti


kegiatan Kerja Praktek, penulis dapat mengambil kesimpulan seperti
berikut:
1. Didalam pelaksanaan pekerjaan suatu proyek sangat dibutuhkan sistem
manajemen yang baik agar pihak – pihak yang terlibat didalam
pekerjaan proyek tersebut dapat mengetahui posisi serta tanggung
jawab terhadap tugas dan pekerjaannya masing – masing.

6.2 Saran

Berdasarkan pengamatan dan pekerjaan yang diikuti penulis selama masa


waktu Kerja Praktek dilakukan, sistem serta proses pelaksanaan
pembangunan proyek tersebut telah dijalankan dengan sebaik – baiknya.
Namun didalam pelaksanaannya penulis menemukan beberapa kesalahan
dari sistem dan pelaksanaan proyek tersebut sehingga penulis
mengemukakan beberapa saran antara lain:
1. Penempatan bahan material seperti pasir dan kerikil seharusnya diberi
alas agardisaat pengambilan bahan material tersebut tidak bercampur
dengan tanah dibawahnya.

47
48

2. Hendaknya penempatan besi tulangan diletakkan juga pada tempat yang


terlindungi dari rembesan ataupun percikan air hujan mengingat disaat
proses pelaksanaan proyek memasuki musim penghujan, agar besi-besi
tidak mengalami karatan.
3. Pembukaan papan bekisting hendaknya dilakukan dengan lebih hati –
hati agar papan–papan bekisting tersebut dapat dipergunakan kembali
untuk pekerjaan selanjutnya.
4. Masih perlu dilakukan pengawasan yang lebih ketat lagi agar
pengerjaan pekerjaan tidak menyimpang dari peraturan yang
disyaratkan.