Anda di halaman 1dari 8

PERAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI CERMINAN PEMBENTUK KARAKTER

BANGSA

Pagaralam – Bahasa memang memiliki andil paling besar dalam suatu komunikasi karena,
bahasa merupakan syarat utama untuk terjadinya komunikasi. Kemampuan berbahasa tidak
hanya sekedar menulis (writing) dan berbicara (speaking) saja, tapi juga harus didukung
dengan kemampuan menyimak (listening) dan membaca (reading). Ketika seseorang
menghadiri suatu acara seperti seminar, symposium dan sebagainya, tentunya secara
langsung ia akan melakukan tahapan kemampuan dalam berbahasa yang dimulai dari
menyimak, menulis, membaca, dan berbicara. Di sini disebutkan bahwa tahapan terakhir
dalam berbahasa adalah berbicara. Yang mengesankan orang ketika berbicara adalah
karakternya.

Menurut Tesaurus Bahasa Indonesia (2006), pengertian bahasa adalah


dialek,logat,ragam,tutur dan ucapan. Dari pengertian tersebut, Penulis menyimpulkan bahwa
cara berbicara sudah menunjukkan adanya bahasa, karena berkaitan langsung dengan dialek
atau tutur kata yang diucapkan, sedangkan untuk cara berbahasa sendiri dapat diungkapkan
secara lisan maupun tulis. Berarti berbicara di sini termasuk dalam bahasa yang diungkapkan
secara lisan.

Berbicara mengenai bahasa, lantas bagaimanakah peran bahasa Indonesia sebagai cerminan
pembentuk karakter bangsa?Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terpenting di wilayah
Indonesia. Seperti yang telah disebutkan dalam UUD 1945 pasal 36 yang berbunyi “bahasa
Negara adalah bahasa Indonesia” serta dalam pasal 36C pun disebutkan ”ketentuan lebih
lanjut mengenai bendera,bahasa dan lambang negara,serta lagu kebangsaan diatur dengan
undang-undang”. Artinya bahasa Indonesia telah diakui keberadaannya sebagai bahasa
Negara dan telah dilindungi oleh aturan hukum. Yang menjadi pertanyaan bagi Penulis
adalah sudahkah Bahasa Indonesia itu diterapkan secara baik dan benar? Sangat ironis sekali
jika dalam ikrar Sumpah Pemuda yang salah satunya berbunyi “ Kami Putra dan Putri
Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” , namun dalam kenyataannya. hal
tersebut sangatlah bertolak belakang.

Anton Moeliono mengemukakan penting tidaknya suatu bahasa dapat juga didasari patokan
sebagai berikut: (1) jumlah penuturnya (2) luas penyebarannya (3) peranannya sebagai sarana
ilmu,susastra dan ungkapan budaya lain yang dianggap bernilai. (TBBBI,1992:1).
Berdasarkan jumlah penuturnya, jumlah penutur bahasa Indonesia dari tahun ke tahun
semakin meningkat. Pertambahan tersebut di antaranya disebabkan oleh adanya arus
perpindahan penduduk dari desa ke kota terutama Jakarta yang sangat memungkinkan
penggunaan bahasa Indonesia, adanya perkawinan dari antar suku atau antar daerah yang
memungkinkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bahasa daerah mereka ,
adanya anggapan bahwa mereka tidak perlu lagi menggunakan bahasa daerahnya, orang-
orang, dewasa ini cenderung lebih suka bertutur kata menggunakan bahasa Indonesia dari
pada bahasa daerahnya. Dari hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa salah satu fungsi dari
bahasa Indonesia adalah sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai
macam suku dan ragam bahasa daerah.

Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Kunardi
berpendapat alasan mengapa bahasa Melayu diterima sebagai dasar bahasa persatuan, yaitu
(1) kedudukannya yang telah berabad-abad sebagai bahasa penghubung antar pulau, lingua
franca (2) bentuk bahasanya yang luwes dan mudah dipelajari (3) bahasa Melayu tidak
mengenal tingkatan-tingkatan seperti yang terdapat dalam bahasa Jawa, Sunda dan Madura.
Jadi ada suasana yang demokratis. (Kunardi,2005:6). Pada tahun 1928, dalam kongres
pemuda yang dihadiri oleh aktivis oleh berbagai daerah, menetapkan bahasa Melayu diubah
namanya menjadi bahasa Indonesia dan diikrarkan dalam Sumpah Pemuda sebagai bahasa
persatuan atau bahasa nasional. Bahasa Indonesia yang kita gunakan sebagai bahasa
pengantar dan bahasa persatuan. merupakan salah satu dialek bahasa Melayu yang digunakan
sebagian masyarakat di sekitar pesisir pantai Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, masyarakat
melayu di Singapura, Malaysia dan Brunei. Bangsa asing yang datang ke Indonesia
menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kepada penduduk setempat. Misalnya
pada saat penjajahan Belanda, hal ini sangat menguntungkan karena penyebaran bahasa
Melayu yang tak lain adalah bahasa Indonesia menjadi menyebar atau berkembang lebih
luas.Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia di dalam Negara ini menurut Depdiknas dalam
Pelatihan Nasional Dosen Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi berpendapat
sebagai berikut:(a). Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional (b).Bahasa Indonesia sebagai
Lambang Kebanggaan Nasional©. Bahasa Indonesia sebagai Lambang Identitas Nasional
(d).Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu Berbagai Suku Bangsa (e).Bahasa Indonesia
sebagai Alat Perhubungan Antar daerah dan Antar budaya (f).Bahasa Indonesia sebagai
Bahasa Negara (g).Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kenegaraan (h).Bahasa Indonesia
sebagai Bahasa Pengantar Dalam Dunia Pendidikan (i).Bahasa Indonesia sebagai Alat
Perhubungan di Tingkat Nasional untuk Kepentingan Pembangunan dan Pemerintahan
(j).Bahasa Indonesia sebagai Alat Pengembangan Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi.

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan nasional,
lambang identitas nasional, alat pemersatu berbagai suku bangsa serta alat perhubungan antar
daerah dan antar budaya. Adanya sebuah bahasa yang dapat menyatukan berbagai suku
bangsa yang berbeda merupakan suatu kebanggaan Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa
bangsa Indonesia sanggup mengatasi perbedaan dan kemungkinan perpecahan yang terjadi.
Untuk membangun kepercayan diri yang kuat,sebuah bangsa memerlukan identitas. Identitas
sebuah bangsa dapat diwujudkan di antaranya melalui bahasanya. Seperti yang tersebut
dalam salah satu bait gurindam XII Raja Ali Haji yang menyebutkan “ Jika hendak mengenal
orang berbangsa, lihatlah kepada budi bahasanya”. Dengan adanya sebuah bahasa yang
mengatasi berbagai bahasa dan suku yang berbeda dapat digunakan untuk mengidentikkan
diri sebagai satu bangsa dilihat dari bahasa yang ia gunakan.

Sebagai bahasa Negara bahasa Indonesia dipakai dalam kegiatan kenegaraan. Dalam hal ini,
pidato-pidato resmi, dokumen dan surat resmi harus ditulis dalam bahasa Indonesia.
Pemakaian bahasa dalam acara-acara kenegaraan sesuai dengan UUD 1945 mutlak
diharuskan. Tidak dipakainya bahasa Indonesia dalam hal ini dapat mengurangi kewibawaan
Negara karena merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945.Perkembangan jaman cukup
memberi pengaruh terhadap penggunaan bahasa di Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai
bahasa negara dan bahasa nasional (persatuan) sudah sepantasnya diterapkan secara baik dan
benar berdasarkan konteks dan kedudukannya, karena Bahasa Indonesia juga memiliki
unggah-ungguh seperti halnya Bahasa Jawa. Bedanya dalam bahasa Indonesia tidak ada
tingkatan-tingkatan yang mengharuskan penggunaan perubahan kata-kata tertentu. Dewasa
ini,umumnya anak-anak maupun remaja menggunakan bahasa Indonesia tidak memenuhi
aturan ejaan yang disempurnakan, dengan cara menyerap kata-kata asing semaunya sendiri,
mengkombinasi kata-kata dari bahasa daerah dengan bahasa Indonesia bahkan menciptakan
kosakata sendiri atau sering juga disebut dalam bahasa “gaul”.Bahasa Indonesia mengenal
adanya ragam bahasa. Ragam bahasa standar atau bahasa keilmuan memiliki sifat
kemantapan yang dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Baku atau standar tidak
dapat diubah setiap saat. Adanya penyeragaman kaidah baku penyamaan ragam bahasa aatau
penyeragaman variasi bahasa merupakan cirri bahasa baku yang ketiga setelah kecendekiaan.
Kegunaan dari penyeragaman ini adalah untuk menyamakan persepsi atas suatu bahasa ke
dalam bahasa Indonesia.(Moeliono,2002:13). Fungsi dari bahasa baku menurut Anton M.
Moeliono yaitu sebagai pemersatu,pemberi kekhasan,pembawa kewibawaan dan kerangka
acuan. Bahasa baku memperhubungkan semua penutur berbagai dialek bahasa, dengan
adanya kata-kata yang dibakukan penutur memiiki pegangan ketika ingin mengungkapkan
sesuatu dalam bahsa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki keunggulan dengan bahasa
daerah yang lain, jumlah penuturnya lebih banyak, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai
bahasa negara sekaligus digunakan sebagai bahasa nasional (persatuan) merupakan ciri khas
yang dimiliki bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia akan mampu berdiri sebanding, berkedudukan sama (sejajar) dengan
bahasa-bahasa lain di dunia, jika kita sebagai bangsa Indonesia mau menghormati,
menghargai serta mampu menggunakannya dengan baik dan benar berdasarkan konteks dan
kedudukannya. Jika bahasa sudah memiliki kebakuan atau standar, baik yang ditetapkan,
secara resmi lewat surat keputusan pejabat pemerintahan atau maklumat maupun diterima
berdasarkan kesepakatan umum hendaknya kita terapkan, untuk menunjukkan bahwa
memang keberadaan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar, betul-betul
dijunjung tinggi dan dihormati. Anjuran menggunakan bahasa yang baik dan benar artinya
pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya di samping itu juga mengikuti
kaidah-kaidah bahasa yang benar.Ungkapan bahasa dalam tulisan, hendaknya perlu
diperhatikan, karena kadang orang menjadi salah pengertian dengan bahasa yang
diungkapkan secara tertulis. Penulisan tanda baca tertentu sangat mempengaruhi intonasi
baca orang yang menerima pesan. Kesalahan teknis dalam mengungkapkan bahasa secara
tertulis dapat berakibat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Contoh bila kita hendak
menulis pesan, ekspresi yang kita berikan dalam pesan itu biasa-biasa saja,tidak dengan nada
marah dan sebagainya, tetapi dalam pesan tersebut kita sisipi banyak sekali tanda seru.
Apakah ekspresi Si penerima pesan juga akan tetap biasa-biasa saja? Belum tentu, Si
penerima pesan bisa saja salah mengartikan maksud dari isi pesan tersebut dan menganggap
bahwa kita sedang marah kepadanya. Yang mana nanti pada akhirnya, antara pihak satu dan
dua akan terjadi ketidak saling pengertian. Hanya gara-gara tanda baca pada pesan yang
dikirim secara tertulis itu. Jadi, jelaslah bahwa raut muka atau mimik wajah sesorang pun
juga dapat digambarkan dan diterjemahkan melalui bahasa tulis. Namun, ketidak jelasan
dalam mengungkapkan bahasa secara tertulis,dapat mengakibatkan salah penerjemahan
maksud pesan.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “ Mulutmu,Harimaumu”. Segala sesuatu, tutur kata
yang kita ucapkan sangat berpengaruh terhadap perasaan seseorang. Karena pada saat kita
berbicara pada orang lain, kita secara langsung juga mengolah perasaannya menjadi sebuah
ekspresi. Memang mungkin secara tidak kita sadari, terkadang apa yang kita katakan pada
orang lain, niatnya hanya bercanda, tetapi justru itu sangat menyakitkan bagi orang yang kita
ajak bicara, apa yang kita katakan malah membuat orang tersebut tersinggung.

Bahasa mencerminkan karakter bangsa. Berdasarkan Tesaurus Bahasa Indonesia (2006),


menyebutkan bahwa karakter adalah ciri, karakteristik, keunikan,sosok,pribadi serta sifat.
Jadi, karakter adalah suatu ciri yang mendasari atau menggambarkan kepribadian diri secara
keseluruhan. Kita dapat menunjukkan kebangsaan kita sendiri dengan cara menguatkan
bahasa Negara kita yaitu Bahasa Indonesia.Keunikan ragam budaya bangsa Indonesia di
antaranya adanya beratus-ratus bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Keanekaragaman tersebut dipersatukan oleh bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung
antar daerah dan antar budaya. Sifat saling mempengaruhi antara bahasa nusantara dan
bahasa Indonesia merupakan hal yang sangat wajar.Bahasa dapat berkembang karena adanya
kontak dengan bahasa dan budaya lain sehingga perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan dapat terikuti. Satu hal yang perlu dijaga adalah dalam mengembangkan bahasa
nasional ini kita harus bersifat terbuka tetapi di sisi lain kita juga harus waspada. Jangan
sampai Negara kita dicap oleh dunia buruk hanya karena mereka melihat dari segi bahasanya.
Oleh karena itu, kita perlu bangga memiliki bahasa Indonesia, dengan kita memiliki rasa
bangga kita akan cenderung lebih menyayangi dan berusaha untuk bisa melestarikan serta
dapat menciptakan suatu kesan yang baik ketika orang melihat kita berbahasa Indonesia.
Dengan adanya ketertarikan tersebut, orang mungkin ingin mempelajari bahasa kita yaitu
bahasa Indonesia dan siapa tahu buku-buku yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia akan
diterjemahkan menggunakan bahasa mereka (bahasa asing).

Jadi, peran bahasa Indonesia sebagai cerminan pembentuk karakter bangsa adalah di mana
bahasa Indonesia digunakan sesuai konteks dan kedudukannya, secara baik dan benar
keberadaannya sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh bangsanya. Tentunya, orang akan
menilai bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat menjujung tinggi bahasa
negaranya. Dengan penggunaan bahasa Indonesia sesuai unggah-ungguh serta baik dan
benar, orang di sekitar kita termasuk orang asing akan melihat dan menilai bahwa karakter
orang Indonesia itu sopan-santun. Bahasa Indonesia pun akan lebih dihormati lagi di dunia
Internasional. Karena bangsanya sendiri sangat menjujung tinggi hal itu. Tapi, berbeda jika
bangsanya sendiri saja tidak menghormati bahasa negaranya apa kata orang yang melihat,
orang akan menilai bahwa karakter kita adalah orang acuh tak acuh tak peduli, bangsa
Indonesia adalah bangsa yang tidak menghargai negaranya sendiri apalagi bahasa negaranya.
Besar harapan penulis,semoga tulisan ini bisa menjadi cambuk bagi kita,bangsa Indonesia
untuk lebih menghormati bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan baik dan
benar.(Nop)

1. Pengertian Bahasa
2. Bahasa merupakan alat komunikasi utama, dan dengan bahasa manusia
mengungkapkan pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Proses-proses pemikiran
sangat ditentukan oleh kemampuan berbahasa. Melalui ungkapan bahasa, pikiran,
perasaan dan penalaran seseorang dapat dirangsang dan dilatih. Kemampuan
menggunakan bahasalah yang paling membedakan manusia dari mahkluk hidup
lainnya. Bahasa memungkinkan manusia untuk menyampaikan informasi dan
meneruskannya dari generasi ke generasi, melalui ungkapan secara tertulis. Bahasa
memungkinkan manusia untuk membangun kebudayaan serta menguasai ilmu
pengetahuan dan dengan pengetahuan meningkatkan mutu kehidupannya. Bahasa
juga dapat mempengaruhi arah perilaku manusia. Akhirnya dapat dikatakan bahwa
bahasa memberikan manusia identitasnya, untuk menentukan posisinya di dalam
dunia dan membentuk pandangannya tentang dunianya.
3. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001:88), bahasa adalah sistem
bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja
sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Yudrik Jahja dalam bukunya
Psikologi Perkembangan (2011:53) mengemukakan bahwa bahasa merupakan
kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pengertian ini tercakup semua
cara untuk berkomunikasi, di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk
lambang atau simbol untuk mengungkapkan suatu pengertian seperti dengan
menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka. Sedangkan
Harimurti Kridalaksana mengemukakan bahwa bahasa adalah sistem lambang berupa
bunyi arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama,
berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Selanjutnya wojowarsito (2011:1)
berpengertian bahwa bahasa adalah alat manusia mengungkapkan pikiran, perasaan,
pengalaman yang terdiri dari lambang-lambang bahasa.
4. Bahasa mempunyai fungsi yang amat penting bagi manusia. Fungsi bahasa adalah
instrumental, regulasi, representasional, personal, heuristik, interaksional, dan
imajinatif. Bahasa sebagai aspek kebudayaan, bahasa dan aspek-aspek lain dari
kebudayaan, sebagai pendukung kebudayaan, atau kebudayaan sebagai pendukung
bahasa, dan bahasa sebagai cermin kebudayaan, merupakan ungkapan-ungkapan yang
tercermin di masyarakat yang menggambarkan hubungan bahasa dengan kebudayaan.
5. 2.2 Pengertian Bahasa Indonesia
6. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa
persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah
proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan
mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berstatus sebagai
bahasa kerja.
7. Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak
ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu-Riau (wilayah
kepulauan Riau sekarang) dari abad ke-19. Kemudian mengalami perubahan akibat
penggunaannya sebagai bahasa kerja di lingkungan Administrasi kolonial dan
berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “ bahasa Indonesia”
diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 oktober 1928, untuk menghindari
kesan “Imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini
menyebabkan berbedanya bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang
digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa Indonesia
merupakan bahasa yang hidup yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui
penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
8. Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia,
bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar
warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia
sebagai bahasa ibu. Penutur bahasa Indonesia kerap kali menggunakan reaksi sehari-
hari (kolokial) dan/atau mencampur-adukan dengan dialek Melayu lainnya atau
bahasa ibunya. Meskipun demikian, bahasa Indonesia digunakan sangat luas di
perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-meyurat resmi,
dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa
Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia. Fonologi dan tata bahasa Indonesia
dianggap relatif muda.
9. Menurut Alisyahbana (1978:37), bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa
perhubungan yang berabad-abad tumbuh berlahan-lahan di kalangan penduduk Asia
Selatan dan yang setelah bangkitnya pergerakan pembangunan rakyat Indonesia pada
permulaan abad ke-20 dengan insyaf diangkat dan dijunjung sebagai bahasa
persatuan. Demikianlah , Sutan Takdir Alisyahbana menyatakan bahwa bahasa
Indonesia itu adalah bahasa yang tumbuh berabad-abad, sudah tumbuh sejak beberapa
abad, bukan baru satu atau dua abad di Asia Selatan.
10. 2.3 Fungsi Bahasa Indonesia
11. Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di
Jakarta pada tanggal 25 s.d 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa di dalam
kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: (a) bahasa
resmi kenegaraan, (b) bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, (c)
bahasa resmi di dalam perhubungan dalam tingkat nasional untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, (d) bahasa resmi
dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi
modern.
12. 2.4 Pengertian Kepribadian dan Pengembangan Kepribadian
13. a. a. Pengertian Kepribadian
14. Istilah kepribadian atau personality berasal dari bahasa Latin persona
yang berarti topeng. Menurut Allport (Hurlock, 1978), kepribadian merupakan
susunan sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu yang unik dan
mempengaruhi penyesuaian dirinya terhadap lingkungan. Kepribadian juga
merupakan kualitas perilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian diri
terhadap lingkungannya secara unik. Menurut Horton (1982), kepribadian adalah
keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang. Sikap perasaan
ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan
pada situasi tertentu. Menurut Schever Dan Lamm (1998) mendefinisikan kepribadian
sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan perilaku seseorang. Pola
berarti sesuatu yang udah menjadi standar atau baku, sehingga jika dikatakan pola
sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam
menghadapi situasi yang dihadapi.
15. Kepribadian adalah karakteristik seseorang yang menyebabkan
munculnya konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kepribadian antara lain: fisik, inteligensi, jenis kelamin, teman sebaya,
keluarga, kebudayaan, lingkungan dan sosial budaya, serta faktor internal dari dalam
diri individu seperti tekanan emosional.
16. Ciri-ciri kepribadian yang sehat antara lain.
17. 1. Mandiri dalam berpikir dan bertindak.
18. 2. Mampu menjalin relasi sosial yang sehat dengan sesamanya.
19. 3.Mampu menerima dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana apa adanya.
20. 4.Dapat menerima dan melaksanakan tanggung jawab yang dipercayakan.
21. 5.Dapat mengendalikan emosi.
22. b. Dinamika Sistem Kepribadian
23. Struktur kepribadian manusia menurut pandangan psikoanalisis, terdiri
dari Id, Ego, dan Superego. Id adalah sistem kepribadian yang orisinal, di mana ketika
manusia ini dilahirkan ia hanya memiliki Id saja karena ia merupakan sumber utama
dari energi psikis dan tempat timbulnya insting. Ego mengadakan kontak dengan
dunia realistis yang ada di luar dirinya. Di sini, Ego berperan sebagai “eksekutif”
yang memerintah, mengatur, dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya
persis seperti “polisi lalu lintas” yang selalu mengontrol jalannya Id, Superego, dan
dunia luar. Superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua
sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, dan boleh-tidak. Di sini,
Superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma
moral masyarakat.
24. Perilaku manusia untuk sebagian besar ditentukan oleh mekanisme
masing-masing struktur. Pembentukan kepribadian akibat mekanisme tersebut secara
global yaitu: (1) apabila rasa Id-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka
pribadinya akan bertindak primitif, impulsif, dan agresif dan ia akan mengumbar
implus-implus primitifnya; (2) apabila rasa egonya menguasai sebagaian besar energi
psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan cara-cara yang realistis, logis, dan
rasional; dan (3) apabila rasa Superegonya menguasai sebagian besar energi psikis itu.
Maka pribadinya akan bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-
hal yang sempurna yang kadang-kadang irasional.
25. 2.5 Pengembangan Kepribadian
26. Pengembangan diri dapat disamakan dengan istilah pengembangan
kepribadian atau pengembangan jati diri dalam literatur pendidikan, khususnya
psikologi pendidikan . Meskipun sebetulnya istilah diri (self) tidak sepenuhnya identik
dengan kepribadian (personality). Istilah diri dalam bahasa psikologi disebut pula
sebagai aku, ego, atau self yang merupakan salah satu aspek sekaligus inti dari
kepribadian, yang di dalamnya meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-
cita, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Aku yang disadari oleh individu
bisa disebut self picture (gambaran diri), sedangkan aku yang tidak disadari disebut
unconscious aspect of the self (aku tidak sadar).
27. Perkembangan kepribadian sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor
baik heriditas ( pembawaan) maupun lingkungan (seperti fisik, psikis, kebudayaan,
spiritual, dan lain-lain). Perkembangan ini akan menimbulkan perubahan-perubahan
kepribadian terutama pada masa anak-anak dan remaja. Khusus pada masa remaja,
perubahan kepribadian ini akan menjadi masa amat penting dan memberikan dasar
bagi masa dewasa karena pada masa ini merupakan saat berkembangnya identity ( jati
diri).