Anda di halaman 1dari 20

PROFESI KEPENDIDIKAN

SIKAP PROFESIONAL KEGURUAN

Oleh Kelompok 4/ Kelas 6B :

1. Rina Marwati NIM. 1413011119


2. Putu Umi Kartika Dewi NIM. 1513011020
3. I Gede Lanang Paramartha NIM. 1513011067
4. Ida Ayu Indah Pradnyani NIM. 1513011084
5. Syaqdiyatun Handayani NIM. 1513011096

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. I Made Ardana,M.Pd

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN MATEMATIKA


JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2018

i
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
Puja dan Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Ida Shang Hyang Widhi
Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaiakn makalah seminar yang yang berjudul “Sifar Profesional Keguruan”
tepat pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini disusun sebagai salah satu
tugas dalam mata kuliah Profesi Kependidikan. Dalam kesempatan ini, penulis
hendak menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya terhadap
seluruh pihak yang telah membantu penyelesaikan makalah ini. Secara khusus,
penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Prof.Dr. I Made Ardana, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah
Profesi Kependidikan, yang telah memberikan kesempatan pada penulis
untuk menyusun makalah ini.
2. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa
atas saran yang diberikan kepada penulis serta pihak lain yang turut
membantu proses pembuatan makalah ini.
Penulis memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat
kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai
pihak. Harapan penulis yaitu semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
para pembaca.
Akhirya atas segala kerendahan hati, penulis sampaikan terima kasih.
Om Santi, Santi, Santi, Om

Singaraja, Februari 2018

Penulis

ii
RINGKASAN

Pendidikan adalah salah satu kunci pokok untuk memajukan bangsa, sedangkan
salah satu tempat untuk mendapat pendidikan yaitu disekolah dan guru merupakan
salah satu unsur dari sekolah. Guru merupakan seorang pemimpin yang mengatur,
mengelola, dan mengawasi seluruh proses pembelajaran yang menjadi tanggung
jawabnya. Oleh karena itu, kelancaran proses seluruh kegiatan pendidikan
disekolah tergantung pada seberapa besar guru dapat melaksanakan tanggung
jawabnya.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan
menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran,
dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta
memerlukan pendidikan profesi (UU. No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan
Dosen pasal 1.4). Guru sebagai pendidik professional dituntut untuk selalu
menjadi teladan bagi masyarakat di sekelilingnya, karena Semakin dituntutnya
profesionalitas seorang guru, maka guru sebagai tenaga pengajar dan pemberi
informasi kepada siswa tentunya akan berusaha untuk mengetahui dan melakukan
dengan maksimal bagaimana seorang guru yang profesional.Pola tingkah laku
guru yang berhubugan dengan profesional guru sesuai dengan sasarannya, yakni
sikap profesional keguruan terhadap peraturan perundang-undagan, organisasi
profesi, teman sejawat, anak didik, tempat kerja, pimpinan, dan pekerjaan. Selain
itu juga terdapat pengembangan sikap profesional guru.
Pengembangan sikap profesional dapat dilakukan baik dalam pendidikan pra-
jabatan maupun dalam bertugas atau dalam jabatan. Selama calon guru berada
dalam pendidikan pra-jabatan, berbagai latihan, contoh-contoh sikap, aplikasi
ilmu, keterampilan dan sikap profesional dirancang dan dilaksanakan oleh para
calon guru tersebut. Setelah calon guru menyelesaikan pendidikan pra-jabatan
maka saatnya untuk mereka mengabdi sebagai guru. Peningkatan profesional
kegururan dapat dilakukan dengan cara formal; melalui kegiatan penataran,
lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, atupun secara informal melalui
media massa televise, radio, koran, dan majalah maupun publikasi lainnya.

Kata kunci: Pendidikan, Sekolah, Guru, Profesi, Profesional.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................. ii
RINGKASAN ........................................................................................ iii
DAFTAR ISI ........................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................ 2
1.4 Manfaat Penulisan ...................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sikap Profesional Guru ............................................. 3
2.2 Sasaran Sikap Profesional Guru.................................................. 4
2.2.1 Sikap Terhadap Peraturan Perundang - undangan............. 4
2.2.2 Sikap Terhadap Organisasi Profesi ................................... 6
2.2.3 Sikap Terhadap Teman Sejawat ........................................ 7
2.2.4 Sikap Terhadap Anak Didik .............................................. 9
2.2.5 Sikap Terhadap Tempat Kerja ......................................... 10
2.2.6 Sikap Terhadap Pimpinan................................................ 11
2.2.7 Sikap Terhadap Pekerjaan ............................................... 12
2.3 Pengembangan Sikap Profesional Guru.................................... 13
2.3.1 Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan ..... 13
2.3.2 Pengembangan Sikap Selama dalam Jabatan .................. 14
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan .................................................................................... 15
3.2 Saran ......................................................................................... 15

DAFTAR RUJUKAN

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi
kurangnya kemampuan prfesionalisme guru menggunkana kurikulum tersebut
dalam kegiatan belajar mengajar dan keennganan siswa belajar sungguh-
sungguh karena berbagai alasan salah satu alasannya pendekatan guru dalam
memberikan pelajaran cenderung tidak menarik. Tentu saja ada guru yang
betul-betul menguasai materi pelajaran dan menggunakan pendekatan yang
menarik dan komunikatif, tetapi jumlah mereka tidak banyak. Kemampuan
dan kualitas guru melaksanakan tugas sebagai pendidik selalu disebut
menjadi guru yang profesional atau tidak profesional. Profesionalisme
menekankan kepada penguasaaan ilmu pengetahuan khusunya materi
pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya, kemudian kemampuan
manajemen pembelajaran beserta strategi penerapannya.
Profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen
tetapi harus didukung sikap responsif mampu menyelesaikan masalah-
masalah pembelajaran. Pengembangan profesionaliem guru tentu harus lebih
baik dan ideal dibanding seorang teknisi. Guru bukan hanya memiliki
keterampilan yang tinggi dalam hal pengajaran tetapi memiliki suatu tingkah
laku pedagogik yang dipersyaratkan. Guru akan diposisikan sebagai suatu
profesi, harkat dan martabatnya sebagaimana halnya akuntan, dokter dan
pengacara. Tujuan dijadikannya guru sebagai suatu profesi adalah sebagai
bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia pada jalur pendidikan.
Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan ini, guru dituntut bersikap
profesional. Sikap profesional guru bukan sekadar mempunyai pengetahuan
tetapi mempunyai sikap yang dapat mengarahkan dan membimbing peserta
diidk agar dapat belajar dalam arti sebenarnya, katena tugas utama seorang
guru adalah menyelenggarakan kegiatan pembelajaran agar kegiatan itu
terselenggara dengan efektif.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adaupun permasalahan yang
diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan sikap profesional guru ?
2. Apa saja sasaran sikap profesional guru ?
3. Bagaimana pengembangan sikap profesional guru ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah yang telah ditentukan, maka tujuan
pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Memahami pengertian sikap profesional guru.
2. Memahami apa saja sasaran sikap profesional guru.
3. Memahami pengembangan sikap profesional guru.

1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Secara Teoretis
Secara teoretis makalah ini diharapakan dapat bermanfaat dalam
memberikan informasi tentang sikap profesional keguruan.
2. Secara Praktis
a. Bagi Mahasiswa
Makalah ini diharapakan dapat membantu mahasiswa sebagai calon
pendidik, agar dapat menerapkan sikap profesional guru dalam
pendidikan untuk menjadi pendidik yang bermutu.
b. Bagi Dosen
Makalah ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi dosen, untuk
aktivitas mendidik untuk mengembangkan individu/mahasiswa.
c. Bagi Penulis
Penulis dapat mengetahui dan memahami pengertian, sasaran sikap
profesional guru serta pengembangan sikap profesional guru tersebut.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sikap Profesional Guru


Sebelum menguraikan definisi Sikap Profesional Guru, terlebih dahulu
kita mengetahui apa sebenarnya definisi dari ketiga kata tersebut.
Pengertian sikap menurut Syamsudin (1997) adalah tingkah laku atau
gerakan-gerakan yang tampak dan ditampilkan dalam interaksinya dengan
lingkungan sosial. Interaksi tersebut terdapat proses saling merepon, saling
mempengaruhi serta saling menyesuiakan diri dengan lingkungan sosial.
Sedangkan menurut Thursthoen dalam Walgito (1990) menjelaskan bahwa,
“Sikap” adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui
gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek.
Profesi adalah suatu pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya
memerlukan/menuntut keahlian, menggunakan teknik-teknik ilmiah,
memerlukan dedikasi yang tinggi serta memiliki tanggung jawab. Sedangkan
profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang
dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian,
kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu
serta memerlukan pendidikan profesi. Dalam Undang-Undang Nomor 14
Tahun 2005 Pasal 1 Ayat (4) tentang guru dan dosen, profesional adalah
pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau
kecakapan yang memiliki standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan
pendidikan profesi.
Guru sebagai suatu profesi dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun
2005 Pasal 1 Ayat (1) tentang guru adalah pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,
dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Guru profesional adalah seseorang yang memiliki kemampuan dan
keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas

3
dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Oleh karena itu,
selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas,
bijak dan dapat bersosialisasi dengan baik. Sebagai seorang guru, diwajibkan
harus memiliki sikap sesuai dengan profesinya. Hal ini agar seorang guru
mempunyai citra yang baik sehingga mampu menunjukkan kepada siswanya
bahkan masyarakat sekelilingnya bahwa seorang guru layak menjadi panutan
atau teladan.
Jadi dapat disimpulkan Sikap Profesional Keguruan adalah sikap
seorang guru dalam menjalankan pekerjaannya yang mencakup keahlian,
kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu
serta memerlukan pendidikan profesi keguruan.

2.2 Sasaran Sikap Profesional Guru


Secara umum, sikap profesional seorang guru dapat dilihat
dari faktor luar. Akan tetapi, hal tersebut belum mencerminkan
seberapa baik potensi yang dimiliki guru sebagai seorang tenaga pendidik.
Sikap dan Pola tingkah laku seorang guru yang berhubungan dengan
profesionalisme haruslah sesuai dengan sasarannya. Berikut ini yang
dijadikan sasaran dengan profesi keguruan yaitu meliputi sikap profesional
keguruan terhadap (1) Peraturan Perundang-undangan, (2) Organisasi Profesi,
(3) Teman sejawat, (4) Anak didik, (5) Tempat kerja, (6) pemimpin, dan (7)
dan Pekerjaan. (Soetjipto dan Kosasi, 2005).
2.2.1 Sikap Terhadap Peraturan Perundang-undangan
Sikap terhadap peraturan perundang-undangan adalah suatu pola
prilaku yang menunjukan guru dalam menjalankan tugas mengajar,
membimbing, mendidik dan sebagainya, berdasarkan peraturan-
peratuaran yang ditetapkan pemerintah terkait dengan peraturan
kebijakaan pendidikan. Pada butir sembilan Kode Etik Guru Indonesia
disebutkan bahwa: “Guru melaksanakan segala kebijaksanaan
Pemerintah dalam bidang pendidikan” (PGRI, 1973).
Kebijaksanaan pendidikan di Negara kita dipengang oleh
pemerintah, dalam hal ini oleh Kementrian Pendidikan dan

4
Kebudayaan. Dalam rangka pembangunan di bidang pendidikan di
Indonesia, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan
kententuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang merupakan
kebijaksanaan yang akan dilaksanakan oleh aparatnya, yang meliputi
antara lain: pembangunan gedung-gedung pendidikan, pemerataan
kesempatan belajar antara lain melalui kewajiban belajar, peningkatan
mutu pendidikan, pembinaan generasi muda dengan menggiatkan
kegiatan karang taruna, dan lain-lain. Kebijaksanaan pemerintah
tersebut biasanya akan dituangkan ke dalam bentuk ketentuan-
ketentuan pemerintah. Dari ketentuan-ketentuan pemerintah ini
selanjutnya dijabarkan ke dalam program-program umum pendidikan.
Guru merupakan unsur aparatur Negara dan abdi Negara. Karena
itu, guru mutlak mengetahui kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah
dalam bidang pendidikan, sehingga dapat melaksanakan ketentuan-
ketentuan yang merupakan kebijaksanaan tersebut. Kebijaksanaan
pemerintah dalam bidang pendidikan ialah segala peraturan-peraturan
pelaksanaan baik yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan, dipusat maupun di daerah, maupun lembaga lain dalam
rangka pembinaan pendidikan di Negara kita. Sebagai contoh, adanya
program beasiswa unggulan, program Indonesia Pintar (PIP), program
rumah belajar, program televisi edukasi, penyelenggaraan ujian
nasional (UN), dan lain sebagainya.
Untuk menjaga agar guru Indonesia tetap melaksanakan ketentuan-
ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang
pendidikan, Kode Etik Guru Indonesia mengatur hal tersebut, seperti
yang tertentu dalam dasar kesembilan dari kode etik guru. Dasar ini
juga menunjukkan bahwa guru Indonesia harus tunduk dan taat kepada
pemerintah Indonesia dalam menjalankan tugas pengabdiannya,
sehingga guru Indonesia tidak mendapat pengaruh yang negarif dari
pihak luar, yang ingin memaksakan idenya melalui dunia pendidikan.
Dengan demikian, setiap guru Indonesia wajib tunduk dan taat kepada
segala ketentuan-ketentuan pemerintah. Dalam bidang pendidikan ia

5
harus taat kepada kebijaksanaan dan peraturan, baik yang dikeluarkan
oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan maupun lembaga lain
yang berwenang mengatur pendidikan, di pusat dan di daerah dalam
rangka melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan pendidikan di
Indonesia.

2.2.2 Sikap Terhadap Organisasi Profesi


Menurut Richard D. Kellough, ada beberapa kompetensi yang
harus dikuasai oleh guru yang profesional. Salah satunya yakni guru
merupakan anggota aktif organisasi profesi guru, membaca jurnal
profesional, melakukan dialog dengan sesama guru, mengembangkan
kemahiran metodologi, membina siswa dan materi pelajaran (Sudarwan
Danim, 2010 : 57). PGRI atau Persatuan Guru Republik Indonesia
merupakan organisasi profesi guru yang ada di Indonesia. Guru secara
bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI
sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
PGRI sendiri didirikan sebagai wadah untuk para guru. Guru yang
menjadi anggota aktif suatu organisasi keprofesian sudah pasti memiliki
kewajiban dan hak anggota. Kewajiban membina organisasi profesi
merupakan kewajiban semua anggota beserta pengurusnya. Dalam
pelaksanaan kewajibannya, seluruh anggota harus memberikan
sebagian waktunya untuk kepentingan pembinaan profesinya dan semua
waktu serta tenaga ini akan dikoordinasikan oleh pejabat organisasi
tersebut sehingga pemanfaatannya menjadi efektif dan efisien.
Guru serta organisasi tersebut juga hendaknya berperan serta dalam
pengembangan program-program studi baru, buku-buku pelajaran, dan
alat bantu pengajaran. Selain itu, guru dan organisasi-organisasi
tersebut juga diharapkan bekerjasama penuh dengan pihak yang
berwenang untuk kepentingan murid-murid, layanan pendidikan dan
masyarakat umumnya. Sehingga kerjasama diantara keduanaya amatlah
penting.

6
Dalam usaha peningkatan dari pengembangan mutu profesi di
Indonesia dapat dilakukan perseorangan maupun secara berkelompok.
Peningkatan mutu profesi keguruan secara berkelompok dapat
dilakukan melalui penataran, lokakarya dan seminar (Soetjipto dan
Kosasi, 2005). Sehingga diharapkan organisasi keguruan dapat
mewadahi peningkatan mutu profesi khususnya profesi keguruan di
Indonesia secara lebih baik. Sesuai dengan fungsi dan peran organisasi
itu sendiri.

2.2.3 Sikap Terhadap Teman Sejawat


Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa secara garis besar,
kompetensi guru dapat dibedakan menjadi tiga yakni kompetensi
personal, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional (Sudarwan
Danim, 2010: 58). Dari tiga kompetensi tersebut, kompetensi sosial
merupakan kemampuan guru yang berhubungan dengan partisipasi
sosialnya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat baik di tempat
kerja maupun tempat tinggalnya. Misalnya kemampuan berkomunikasi
dengan siswanya, sesama teman guru, kepala sekolah, orang tua,
pegawai tata usaha dan lain-lain, baik secara formal dan informal.
Sehingga seorang guru diharapkan dapat membina hubungan baik
dengan teman – teman sejawatnya baik di lingkungan kerja maupun
lingkungan keseluruhan.
Dalam kode etik guru pasal 7 dinyatakan bahwa “Guru
memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan,
kesetiakawanan sosial.” Kode etik guru di Indonesia menunjukkan
bahwa betapa pentingnya hubungan harmonis yang harus diciptakan
dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang mendalam antara
teman/rekan sesama profesi.
Hubungan sesama anggota profesi dapat dilihat dari dua segi, yakni
hubungan formal dan hubungan kekeluargaan. Hubungan formal adalah
hubungan yang perlu dilakukan dalam tugas kedinasan. Sedangkan

7
hubungan kekeluargaan suatu hubungan di lingkungan kerja maupun
lingkungan keseluruhan.
a. Hubungan guru berdasarkan lingkungan kerja
Lingkungan kerja guru sebagian besar akan berpusat pada
sekolah. Kegiatan yang dilakukan guru juga banyak di lakukan di
sekolah. Seperti yang telah diketahui bersama, di sebuah sekolah
tidak hanya guru dan siswa yang berperan dalam
penyelenggaraannya tetapi juga kepala sekolah, pegawai tata usaha
serta pegawai-pegawai lain yang memiliki tujuan bersama yakni
ingin memajukan sekolah tersebut. Sebagai seorang guru, sudah
selayaknya menjaga keharmonisan di dalam sekolah agar setiap
personil sekolah dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Sikap profesional lain yang juga harus dimiliki oleh seorang
guru adalah sikap saling bekerja sama, saling menghargai, saling
pengertian dan tanggung jawab. Apabila seluruh sikap profesional
tersebut dapat diterapkan oleh guru, maka keberlangsungan proses
belajar-mengajar di sekolah akan menjadi lebih baik. Selain itu juga,
sikap profesional tersebut dapat menghindarkan guru dari perasaan
saling menjatuhkan satu sama lain. Apabila sikap saling
menjatuhkan ini yang dipupuk, tidak menutup kemungkinan bahwa
masyarakat luas akan memberi penilaian negatif pada sekolah
tersebut. Sehingga sikap profesional antara profesi di dalam
lingkungan kerja sangat penting.
b. Hubungan guru berdasarkan lingkungan keseluruhan.
Tidak hanya pada sekolah bersangkutan, guru juga harus
menjaga sikap profesional dengan guru-guru lain yang berada di
sekolah lain. Sebagai seorang guru, sudah sepatutnya menganggap
bahwa seluruh guru di sekolah manapun guru tersebut mengajar
adalah sebuah keluarga besar.
Persatuan antara guru di seluruh Indonesia akan membantu
mendorong kemajuan dalam bidang profesinya. Sebagai suatu
keluarga besar, guru wajib saling mengoreksi dan menegur rekan

8
lainnya apabila terdapat kesalahan maupun penyimpangan yang
dapat membawa dampak negatif bagi profesinya.
Hal ini berguna bagi kelangsungan pendidikan di Indonesia.
Seluruh guru harus bersatu demi melayani kebutuhan pendidikan
serta meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

2.2.4 Sikap Terhadap Anak Didik


Sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap
perkembangan jiwa anak didik, sehingga guru dituntut memiliki sikap
yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang
pendidik yang bertanggung jawab.
Dalam kode etik guru indonesia dijelaskan bahwa : Guru berbakti
membimbing peserta didik untuk membentuk manusia seutuhnya yang
berjiwa pancasila, dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus
dipahami oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari,
yakni : Tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing, dan prinsip
pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Tujuan pendidikan nasional dalam UU No. 2/1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, yakni membentuk manusia Indonesia seutuhnya
yang berjiwa pancasila. Prinsip yang lain adalah membimbing peserta
didik, bukan mengajar, atau mendidik saja (Soetjipto, 2004:50).
Pengertian seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara
dalam sistem amongnya. Tiga kalimat yang terkenal dari sistem itu
adalah “ing angarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut
wuri handayani”. Ketiga kalimat itu mempunyai arti bahwa pendidikan
harus dapat memberi contoh, harus dapat memberikan pengaruh dan
harus dapat mengendalikan peserta didik. Dalam tut wuri terkandung
maksud membiarkan peserta didik menuruti bakat dan kodratnya dan
guru memperhatikannya. Dalam handayani berati guru mempengaruhi
peserta didik, dalam arti membimbing atau mengajarnya. Dengan
demikian membimbing mengandung arti bersikap menentukan kearah
pembentukan manusia yang seutuhnya yang berjiwa pancasila, dan

9
bukanlah mendikte peserta didik, apalagi memaksanya menurut
kehendak sang pendidik. Motto tut wuri handayani sekarang telah
diambil menjadi motto dari departemen pendidikan dan kebudayaan RI
(Soetjipto, 2004:50).
Prinsip manusia seutuhnya dalam kode etik ini memandang
manusia sebagai kesatuan yang bulat, utuh, baik jasmani maupun rohani
tidak hanya berilu tinggi tetapi juga bermoral tinggi pula. Oleh
Karenanya, Guru dalam mendidik seharusnya tidak hanya
mengutamakan pengetahuan atau perkembangan intelektual saja. Tetapi
juga harus memperhatikan perkembangan seluruh pribadi peserta didik,
baik jasmani, rohani dan sosial sesuai dengan dimaksudkan agar peserta
didik pada akhirnya akan dapat menjadi manusia yang mampu
menghadapi tantangan tantangan dalam kehidupannya sebagi insan
dewasa. Peserta didik tidak dapat dipandang sebagai objek semata yang
harus patuh kepada kehendak dan kemauan guru.
Salah satu implementasi sikap professional guru terhadap anak
didik, antara lain:
a. Tetap semangat dalam menjalankan tugas
b. Selalu melakukan perubahan dalam mengajar
c. Ciptakan Kondisi Kondusif
d. Pelaksanaan Evaluasi

2.2.5 Sikap Terhadap Tempat Kerja


Tempat kerja merupakan wahana dimana personel sekolah berada.
Suasana yang baik di tempat kerja akan meningkatkan produktivitas.
Untuk menciptakan suasana yang baik itu terdapat dua hal yang harus
dipehatikan (Soetjipto, 2004:51)., yaitu:
a. Guru sendiri
Guru harus aktif dalam mengusahakan suasana yang baik
dengan berbagai cara, baik dengan metode mengajar yang sesuai,
penggunaan media yang tepat, maupun pendekatan lainnya yang
diperlukan.

10
b. Hubungan guru dengan orang tua dan masyarakat sekeliling.
Hal ini harus dilakukan agar orang tua dan masyarakat juga
merasa memiliki rasa tanggung jawab terhadap pendidikan anak
mereka di sekolah.
Terhadap guru sendiri dengan jelas juga dituliskan dalam salah
satu butir dari kode etik yang berbunyi : “Guru menciptakan suasana
sekolah sebaik-baiknya yang menunjang keberhasilan proses belajar
mengajar”. Oleh sebab itu, guru harus aktif mengusahakan suasana
yang baik itu dengan berbagai cara, baik dengan penggunaan metode
mengajar sesuai, maupun dengan penyediaan alat belajar yang cukup,
serta pengaturan organisasi kelas yang mantap, ataupun pendektan
lainnya yang diperlukan.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suasana yang baik di
tempat kerja akan meningkatkan produktifitas. Hal ini disadari dengan
sebaik-baiknya oleh setiap guru dan guru berkewajiban menciptakan
suasana yang demikian dalam lingkungannya, menjalin kerjasama
dengan orang tua dan masyarakat, sekolah dapat mengambil prakarsa,
misalnya dengan cara mengundang orang tua sewaktu mengambil
rapor, mengadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat
sekitar.

2.2.6 Sikap Terhadap Pemimpin


Sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif, dalam
pengertian harus bekerja sama dalam menyukseskan program yang
sudah disepakati, baik disekolah maupun di luar sekolah.
Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi guru
maupun organisasi yang lebih besar, guru akan selalu berada dalam
bimbingan dan pengawasan pihak atasan. Dari organisasi guru, ada
strata kepemimpinan mulai dari pengurus cabang, daerah, sampai
kepusat.
Pemimpin suatu unit atau organisasi akan mempunyai
kebijaksanaan dan arahan dalam memimpin organisasinya, di mana tiap

11
anggota organisasi itu dituntut berusaha untuk bekerja sama dalam
melaksanakan tujuan organisasi tersebut. Kerja sama yang dituntut
tersebut berupa tuntutan akan kepatuhan dalam melaksanakan arahan
dan petunjuk yang diberikan mereka. Kerja sama juga dapat diberikan
dalam bentuk usulan dan malahan kritik yang membangun demi
pencapaian tujuan yang telah digariskan bersama dan kemajuan
organisasi. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa sikap seorang guru
terhadap pemimpin harus positif.

2.2.7 Sikap Terhadap Pekerjaan


Profesi guru berhubungan dengan anak didik, yang secara alami
mempunyai persamaan dan perbedaan. Tugas melayani orang yang
beragam sangat memerlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi,
terutama bila berhubungan dengan peserta didik yang masih kecil.
Barangkali tidak semua orang dikarunia sifat seperti itu, namun bila
seseorang telah memilih untuk memasuki profesi guru, ia dituntut untuk
belajar dan berlaku seperti itu.
Orang yang telah memilih suatu karier tertentu biasanya akan
berhasil, bila dia mencintai kariernya dengan sepenuh hati. Artinya, ia
akan berbuat apapun agar karirnya baik, committed dengan
pekerjaannya, mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan mampu
melayani dengan baik pemakai jasa yang membutuhkannya.
Agar dapat memberikan layanan yang memuaskan masyarakat,
guru harus selalu dapat menyesuaikan kemampuan dan pengetahuannya
dengan keinginan dan permintaan masyarakat, dalam hal ini peserta
didik dan orang tuanya. Keinginan ini selalu berkembang sesuai
perkembangan dengan perkembangan masyarakat yang biasanya
dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu
guru selalu dituntut untuk secara terus menerus meningkatkan dan
mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan mutu layanannya.
Keharusan meningkatkan dan mengembangkan mutu ini merupakan
butir yang keenam dalam Kode Etik Guru Indonesia yang berbunyi:

12
“Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan dan
meningkatkan mutu dan martabat profesinya”.
Dalam butir keenam ini dituntut kepada guru, baik secara pribadi
maupun secara kelompok, untuk selalu meningkatkan mutu dan
martabat profesinya. Guru, sebagaumana juga dengan profesi lainnya,
tidak mungkin dapat meningkatkan mutu dan martabat profesinya bila
guru itu tidak menigkatkan atau menambah pengetahuan dan
keterampilannya, karena ilmu dan pengetahuan yang menunjang profesi
itu selalu berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.
Untuk meningkatkan mutu profesi secara mandiri, guru dapat
melakukannya secara formal maupun secara informal. Secara formal
artinya guru mengikuti berbagai pendidikan lanjutan atau kursus yang
sesuai dengan bidang tugas, keinginan, waktu, dan kemampuannya,
serta secara informal guru dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilannya melalui media masa seperti televise, radio, majalah
ilmiah, koran dan sebagainya, ataupun membaca buku teks dan
pengetahuan lainnya yang cocok dengan bidangnya.

2.3 Pengembangan Sikap Profesional


Dalam meningkatkan mutu seorang guru, guru harus meningkatakan
dan mengembangkan sikap profesionalnya. Pengembangan sikap profesional
ini dapat dilakukan baik dalam pendidikan pra-jabatan maupun dalam
jabatan. Berikut penjelasan mengenai Pengembangan sikap profesional dalam
pendidikan pra-jabatan dan dalam jabatan. (Soetjipto dan Kosasi, 2005:50-
51).
2.3.1 Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan
Dalam pendidikan prajabatan calon guru dididik dalam berbagai
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam
pekerjaannya nanti. Karena tugasnya yang bersifat unik, guru selalu
menjadi panutan bagi siswanya, dan bahkan bagi masyarakat
sekelilingnya. Oleh karena itu, guru bersikap terhadap pekerjaan dan
jabatannya selalu menjadi perhatian siswa dan masyarakat.

13
Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja,
tetapi harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannya di lembaga
pendidikan guru. Berbagai usaha, latihan, contoh-contoh, aplikasi
penerapan ilmu, keterampilan, serta sikap profesional yang dirancang
dan dilaksanakan selama calon guru berada dalam pendidikan
prajabatan. Sering juga pembentukan sikap tertentu terjadi sebagai hasil
sampingan (by product) dari pengetahuan yang diperoleh calon guru.
Sikap teliti dan disiplin, misalnya dapat terbentuk sebagai hasil
sampingan dari hasil belajar matematika yang benar, karena belajar
matematika selalu menuntut ketelitian dan kedisiplinan penggunaan
aturan dan prosedur yang telah ditentukan. Sementara itu tentu saja
pembentukan sikap dapat diberikan dengan memberikan pengetahuan,
pemahaman, dan penghayatan khusus yang direncanakan, sebagaimana
halnya mempelajari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
(P4) yang diberikan kepada seluruh siswa sejak dari sekolah dasar
sampai perguruan tinggi.

2.3.2 Pengembangan Sikap Selama dalam Jabatan


Pengembangan sikap profesional tidak berhenti apabila calon
guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan. Banyak usaha yang
dapat dilakukan dalam rangka peningkatan sikap profesional keguruan
dalam masa pengabdiannya sebagai guru. Seperti telah disebut,
peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan
mengikuti penataran lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya,
ataupun secara informal melalui media massa televisi, radio, koran, dan
majalah maupun publikasi lainnya. Kegiatan ini selain dapat
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus dapat juga
meningkatkan sikap profesional keguruan.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Guru merupakan unsur aparatur negara dan abdi negara. Karena itu,
guru mutlak perlu mengetahui kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah
dalam bidang pendidikan, sehingga dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan
yang merupakan kebijaksanaan tersebut. Peraturan perundang-undangan
adalah suatu pola prilaku yang menunjukan guru dalam menjalankan tugas
mengajar, membimbing, mendidik dan sebagainya, berdasarkan peraturan-
peratuaran yang ditetapkan pemerintah terkait dengan peraturan kebijakaan
pendidikan. Sikap Profesional Keguruan adalah sikap seorang guru dalam
menjalankan pekerjaannya yang mencakup keahlian, kemahiran dan
kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta
memerlukan pendidikan profesi keguruan. Pola tingkah laku guru yang
berhubugan dengan itu akan di bahas sesuai dengan sasarannya, yakni sikap
profesional keguruan terhadap peraturan perundang-undagan, organisasi
profesi, teman sejawat, anak didik, tempat kerja, pimpinan, dan pekerjaan.
Dalam rangka meningkatkan mutu seorang guru, baik mutu profesional
maupun mutu layanan, guru harus meningkatakan serta mengembangkan
sikap profesionalnya. Pengembangan sikap profesional ini dapat dilakukan
baik dalam pendidikan pra-jabatan maupun dalam bertugas atau dalam
jabatan.

3.2 Saran
Pada makalah ini penulis berharap agar pembaca dapat mengetahui
sikap profesional guru baik itu dari segi sasarannya maupun dari segi
pengembangannya sehingga pembaca yang dalam hal ini dominan merupakan
calon pendidik akan bisa menerapkan sikap profesional guru untuk
memajukan kualitas pendidikan di Indonesia.

15
DAFTAR RUJUKAN

Abin, Syamsudin. 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya


Danim, Sudarman. 2010. Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru. Bandung:
Alfabeta
Soetjipto dan Kosasi, Raflis. 1994. Profesi Keguruan. Halaman 39 sampai 51.
Jakarta : Rineka Cipta.
Undang-undang Republik Indonesia, Tentang Guru dan Dosen No. 14 Jakarta,
2005.
Walgito, Bimo. 1990. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset