Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

SEJARAH
Pembina : Mustafa S.Pd.I

Di susun oleh :
Kartika Febriyanti R.

SMA NURUL JADID ( TERAKREDITASI


A)
PROGRAM UNGGULAN IPA
DESEMBER 2010
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim,

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan


dan senantiasa meridhoi amal ibadah kita. Kesejahteraan
dan keselamatan semoga senantiasa dilimpahkan kepada
Nabi besar Muhammad SAW. Dan tak lupa kami ucapkan
terima kasih kepada:

1. Sang Pencipta Allah SWT

2. Kepala Sekolah SMA Nurul Jadid

3. Guru Pembimbing

4. Orang tua yang selalu mendampingi kami

5. Sahabat yang ada dalam keadaan suka


maupun duka

Yang telah memberikan motifasi sehingga kami bisa


menyelesaikan makalah yang sangat sederhana ini.
Sebagaimana pepatah yang mengatakan tiada gading
yang tak retak, maka makalah ini tentunya tiada terbebas
dari kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, kritik
dan saran demi perbaikan makalah ini sangat diharapkan
kepada semua pihak.

Akhirnya, hanya Allah SWT jualah yang dapat


memberikan balasan yang setimpal terhadap amal baik.
Semoga amal ibadah dan kerja keras kami, senantiasa
mendapatkan ridho dan ampunan dari-Nya. Amin.
Paiton, 01 Februari 2011

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................

DAFTAR ISI ...................................................................

BAB I PENDAHULUAN.......................................................

1.1.................................................. Latar Belakang....

1.2................................................................ Tujuan....

1.3............................................... Batasan Masalah....

BAB II ISI..........................................................................

2.1 Sejarah kota

Bondowoso.................................................................

BAB III PENUTUP............................................................

A. Kesimpulan..........................................................

B. Saran........................................................................

..............................

DAFTAR PUSTAKA.............................................................
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bondowoso adalah kota yang mempunyai ciri khas dan

lambang daerah tertentu.

1.2 Tujuan
Makalah disusun bertujuan untuk mengetahui kisah dan

sejarah di kota Bondowoso.

1.3 Batasan Masalah


Dalam penulisan makalah ini, penulis hanya membahas

tentang sejarah kota Bondowoso.

BAB II
ISI
SEJARAH KOTA
BONDOWOSO
Berawal dari seorang anak yang bernama Raden

Bagus Assra, ia adalah anak Demang Walikromo pada

masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV,

menantu Tjakraningkat Bangkalan, sedangkan Demang

Walikoromo tak lain adalah putra Adikoro IV.

Tahun 1743 terjadilah pemberontakan Ke Lesap

terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui

sebagai anak selir. Pertempuran yang terjadi di desa

Bulangan itu menewaskan Adikoro IV. Tahun 1750

pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke

Lesap. Terjadi pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya

anak Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Tak berapa lama

terjadi perebutan kekuasaan dan pemerintahan dialihkan

pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar

Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya.

Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi


Sedabulangan membawa lari cucunya mengikuti eksodus

besar-besaran eks pengikut Adikoro IV ke Besuki.

Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih

Wiropuro untuk kemudian ditampung serta dididik ilmu

bela diri dan ilmu agama. Usia 17 tahun beliau diangkat

sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno

dan tahun 1789 ditugaskan memperluas wilayah

kekuasaan Besuki ke arah selatan, sebelumnya beliau

telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo. Tahun

1794 dalam usaha memperluas wilayah beliau

menemukan suatu wilayah yang sangat strategis untuk

kemudian disebut Bondowoso. Dengan diangkatnya beliau

sebagia Demang di daerah yang baru dengan nama

Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno. Demikianlah dari hari

ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan

Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada tanggal 17

Agustus 1819 atau hari selasa kliwon, 25 Syawal 1234 H.

Adipati Besuki R. Aryo Prawirodiningrat sebagai orang kuat

yang memperoleh kepercayaan Gubernur Hindia Belanda,

dalam rangka memantapkan strategi politiknya

menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan


status Keranggan Bondowoso dan mengangkat R. Bagus

Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa

wilayah dan pimpinan agama dengan gelar M. NG.

Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, yang ditandai

penyerahan Tombak Tunggul Wulung.

Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 – 1830

yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember. Pada tahun

1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat

di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di

Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang

kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo

Bondowoso.

Di Bondowoso ada sebuah monumen bernama

Monumen Gerbong Maut. Monumen ini terletak di tengah

jalan, antara alun-alun (lapangan) Bondowoso dan kantor

Pemda Kabupaten Bondowoso. Patung beberapa pejuang

dibagian depan dengan latar belakang sebuah gerbong

kereta api. Monumen ini dibangun untuk mengenang

tragedi 62 tahun yang silam. Yang di negeri Belanda


dikenal dengan sebutan “De Trein van de Dood†alias

Gerbong Maut. Berikut kisahnya. Pada Sabtu tanggal 23

Nopember 1947 penjajah Belanda akan memindahkan 100

tawanan dari penjara Bondowoso ke penjara Kalisosok

Surabaya. Para tawanan ini terdiri dari para pejuang dan

rakyat sipil. Mereka kemudian dibawa ke Stasiun

Bondowoso dan dimasukkan ke dalam 3 gerbong. 32

orang masuk ke gerbong pertama dengan No. GR 5769.

30 orang ke gerbong kedua dengan No. GR 4416 dan

sisanya sebanyak 38 orang dimasukkan ke gerbong ketiga

dengan No. GR 10152. Gerbong-gerbong ini bukan

gerbong penumpang tetapi gerbong barang terbuat dari

baja yang tertutup dan tanpa ventilasi. Jadi, walaupun hari

masih pagi, di dalam gerbong sangat panas dan gelap

gulita setelah gerbong dikunci. Jam 07:30 WIB kereta

bertolak ke Surabaya. Di Stasiun Kalisat, gerbong tawanan

harus menunggu kereta dari Banyuwangi. Selama 2 jam

mereka terpanggang dalam gerbong di bawah terik

matahari. Kemudian kereta beranjak menuju Stasiun

Jember. Jam 10:30 WIB kereta melanjutkan perjalanan ke

Probolinggo. Para tawanan benar-benar terpanggang.


Sepanjang perjalanan terjadi hal-hal yang memilukan.

Bahkan untuk menghilangkan rasa haus, sebagian

tawanan terpaksa minum air seni tahanan lainnya.

Mendekati Stasiun Jatiroto, terjadi hujan yang cukup deras.

Tetesan air hujan yang masuk dari lubang-lubang kecil ke

dalam gerbong, dimanfaatkan oleh para tawanan yang

masih hidup. Tapi tidak demikian dengan tawanan di

gerbong ketiga (No. GR 10152). Karena gerbongnya masih

baru, maka mereka tidak mendapatkan tetesan air

sedikitpun. Sesampai di Surabaya, di dalam gerbong

ketiga ini tidak ada satu pun tawanan yang hidup. Tragis,

jam 20:00 WIB kereta sampai di Stasiun Wonokromo. Para

tawanan didata. Hasilnya, di gerbong pertama No. GR

5769 sebanyak 5 orang sakit keras, gerbong kedua No. GR

4416 sebanyak 8 orang meninggal, di gerbong ketiga No.

GR 10152 seluruh tawanan sebanyak 38 orang meninggal.

Arti Lambang Bondowoso. Lambang Daerah

Bondowoso terbagi atas :


 Perisai melambangkan kesatuan pertahanan dari

rakyat daerah , warna kuning emas melambangkan

keluhuran budi.

 Pohon beringin melambangkan suatu pemeritahan

yang senantiasa berusaha memberikan

pengayoman kepada rakyat.

 Atas Kepala Kereta Api (lokomotif) mengepul dalam

bentuk garis-garis hitam yang mewujudkan dua sapi

beradu muka menunjukkan kebudayaan khusus

serta kegemaran rakyat Bondowoso akan aduan

sapi.

 Kepala kerbau putih berbentuk dangkal

melambangkan kerbau yang menunjukkan letak

kota sewaktu pembabatan kota Bondowoso.

 Kepala Kereta api (Lokomotif) melambangkan

keberanian perjuangan rakyat Bondowoso, warna

hitam yang tak pernah luntur melambangkan

kekuatan serta ketetapan hati.

 Cemeti , Parang, Tasbih merupakan pegangan

Kironggo yang kewibawaannya dicerdaskan atas

ketekunan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.


 Jagung, seni karya, padi, daun tembakau,

menunjukaknan hasil utama Kabupaten Bondowoso.

 Tulang daun tembakau membagi daun tembakau

sebelah luar menjadi lima bagian, melambangkan

dasar Negara Pancasila. Tulang daun tembakau

membagi daun tembakau sebelah dalam menjadi

empat bagian dan sebelah luar menjadi lima bagian

melambangkan Undang-undang Dasar 1945.

 Gunung dan Air menunjukkan letak geografis daerah

yang dikelilingi oleh gunung-gunung dengan

pengairan cukup , warna biru melambangkan

harapan atas kesuburan daerah.

 Sesanti Daerah Kabupaten Bondowoso berbunyi

SWASTI BHUWANA KERTA.

Swasti artinya Selamat,bahagia lahir dan batin.

Merdeka,menyatu diri dengan Tuhan untuk

mendapatkan kebahagian lahir dan batin

keselamatan dunia akhirat.

Bhuwana Kerta artinya Kemakmuran dunia

kesempurnaan dunia.
Swasti Bhuwana Kerta artinya barang siapa di

dunia melakukan amal perbuatan yang baik

dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa akan

mendapatkan kesempurnaan dan kebahagiaan

hidup di dunia dan akhirat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Lambang daerah Bondowoso terbagi menjadi 10. Di

Bondowoso juga mempunyai monumen yang


bernama gerbong maut yang terbuat dari baja yang

tertutup dan tanpa ventilasi.

B. Saran

1. Dibutuh kesabaran dan ketelitian dalam membuat

makalah.

2. Harus mengikuti Tata Cara Penulisan Makalah yang

baik supaya mendapatkan hasil yang baik pula.


DAFTAR PUSAKA

WWW. GOOGLE.COM