Anda di halaman 1dari 22

2015

BELA NEGARA

Dosen Pembimbing:
Andhika Satria Nugraha
Disusun oleh:
Arum Candra
Rizka Dwi Sulistia
Siti Nurul Hidayati
Susi Suci Yati
Wafa Adhani UNIVERSITAS MUHAMAD HUSNI THAMRIN
JAKARTA
FAKULTAS KESEHATAN
S1 – KEPERAWATAN
R8 (Semester 1/Tingkat 1)
2015/2016
PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Bela
Negara.
Makalah ini membahas tentang “BELA NEGARA” yang berkaitan dengan mata
kuliah Pendidikan kewarganegaran Makalah ini dapat sebagai rujukan
u n t u k menambah pengetahuan mengenai cara menghargai dengan masyarakat
sehingga memperkokoh pertahanan jiwa saling menyatu dan kompak .
Makalah ini telah dirancang dan disusun sebaik mungkin, sehingga dapat memperkecil
kemungkinan adanya ketidakteraturan dalam sistematika penulisan. Akan tetapi kami sebagai
makhluk yang tidak sempurna menyadari bahwa makalah yang kami sajikan ini masih jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik konstuktif senantiasa kami harapkan.
Harapan kami, makalah ini dapat memberikan pencerahan kepada kita selaku mahasiswa pada
khususnya, serta bagi bagi kehidupan bangsa pada umumnya.
Mudah-mudahan makalah yang sederhana ini dapat menjadi sumbangsih bagi dunia
pendidikan dalam mengembangkan kreatif dan gemar belajar.
Dan pada kesempatan yang baik ini pula kami mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, sehingga
makalah ini dapat tersaji dihadapan para pembaca.

Jakarta, 08 Oktober 2015

Penulis

Bela Negara
1
BAB I
PENDAHULUAN
Era reformasi membawa banyak perubahan di hampir segala bidang di republik
indonesia. Ada perubahan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi tampaknya ada
juga yang negatif dan pada gilirannya akan merugikan bagi keutuhan wilayah dan kedaulatan
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Suasana keterbukaan pasca pemerintahan orde baru
menyebabkan arus informasi dari segala penjuru dunia seolah tidak terbendung. Berbagai
ideologi, mulai dari ekstrim kiri sampai ke ekstrim kanan, menarik perhatian bangsa kita,
khususnya generasi muda, untuk dipelajari, dipahami dan diterapkan dalam upaya mencari jati
diri bangsa setelah selama lebih dari 30 tahun merasa terbelenggu oleh sistem pemerintahan
yang otoriter.
Salah satu dampak buruk dari reformasi adalah memudarnya semangat nasionalisme
dan kecintaan pada negara. Perbedaan pendapat antar golongan atau ketidaksetujuan dengan
kebijakan pemerintah adalah suatu hal yang wajar dalam suatu sistem politik yang
demokratis. Namun berbagai tindakan anarkis, konflik sara dan separatisme yang sering
terjadi dengan mengatas namakan demokrasi menimbulkan kesan bahwa tidak ada lagi
semangat kebersamaan sebagai suatu bangsa. Kepentingan kelompok, bahkan kepentingan
pribadi, telah menjadi tujuan utama. Semangat untuk membela negara seolah telah memudar.
Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme, seolah-olah
kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada tentara nasional
Indonesia. Padahal berdasarkan pasal 30 UUD 1945, Bela Negara merupakan hak dan
kewajiban setiap warga Negara Republik Indonesia. Bela negara adalah upaya setiap warga
negara untuk mempertahankan Republik Indonesia terhadap ancaman baik dari luar maupun
dalam negeri.

Bela Negara
2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bela Negara di Indonesia

Bela negara adalah tekad, sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan
kepada negara kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 dalam
menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Pembelaan negara bukan semata-mata
tugas TNI, tetapi segenap warga negara sesuai kemampuan dan profesinya dalam kehidupan
bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Era reformasi membawa banyak perubahan di hampir segala bidang di republik


Indonesia. Ada perubahan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi tampaknya ada
juga yang negatif dan pada gilirannya akan merugikan bagi keutuhan wilayah dan kedaulatan
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Suasana keterbukaan pasca pemerintahan orde baru
menyebabkan arus informasi dari segala penjuru dunia seolah tidak terbendung. Berbagai
ideologi, mulai dari ekstrim kiri sampai ke ekstrim kanan, menarik perhatian bangsa kita,
khususnya generasi muda, untuk dipelajari, dipahami dan diterapkan dalam upaya mencari jati
diri bangsa setelah selama lebih dari 30 tahun merasa terbelenggu oleh sistem pemerintahan
yang otoriter.

Salah satu dampak buruk dari reformasi adalah memudarnya semangat nasionalisme dan
kecintaan pada negara. perbedaan pendapat antar golongan atau ketidaksetujuan dengan
kebijakan pemerintah adalah suatu hal yang wajar dalam suatu sistem politik yang
demokratis. Namun berbagai tindakan anarkis, konflik sara dan separatisme yang sering
terjadi dengan mengatas namakan demokrasi menimbulkan kesan bahwa tidak ada lagi
semangat kebersamaan sebagai suatu bangsa. Kepentingan kelompok, bahkan kepentingan
pribadi, telah menjadi tujuan utama. Semangat untuk membela negara seolah telah memudar.

Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme, seolah-olah
kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada Tentara Nasional
Indonesia. Padahal berdasarkan pasal 30 UUD 1945, Bela Negara merupakan hak dan
kewajiban setiap warga Negara Republik Indonesia. Bela negara adalah upaya setiap warga

Bela Negara
3
negara untuk mempertahankan Republik Indonesia terhadap ancaman baik dari luar maupun
dalam negeri.

UUD No 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara RI mengatur tata cara penyelenggaraan
pertahanan negara yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun oleh
seluruh komponen bangsa. Upaya melibatkan seluruh komponen bangsa dalam
penyelenggaraan pertahanan negara itu antara lain dilakukan melalui pendidikan pendahuluan
bela negara.

Konsep bela negara dapat diartikan secara fisik dan non-fisik, secara fisik dengan
mengangkat senjata menghadapi serangan atau agresi musuh, secara non-fisik dapat
didefinisikan sebagai segala upaya untuk mempertahankan Negara dengan cara meningkatkan
rasa nasionalisme, yakni kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan
terhadap tanah air, serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara.

Landasan pembentukan bela negara adalah wajib militer. Bela negara adalah pelayanan
oleh seorang individu atau kelompok dalam tentara atau milisi lainnya, baik sebagai pekerjaan
yang dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer). Beberapa negara
(misalnya Israel, Iran) meminta jumlah tertentu dinas militer dari masing-masing dan setiap
salah satu warga negara (kecuali untuk kasus khusus seperti fisik atau gangguan mental atau
keyakinan keagamaan). Sebuah bangsa dengan relawan sepenuhnya militer, biasanya tidak
memerlukan layanan dari wajib militer warganya, kecuali dihadapkan dengan krisis
perekrutan selama masa perang.

Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Jerman, Spanyol dan Inggris, bela
negara dilaksanakan pelatihan militer, biasanya satu akhir pekan dalam sebulan. Mereka dapat
melakukannya sebagai individu atau sebagai anggota resimen, misalnya Tentara Teritorial
Britania Raya. Dalam beberapa kasus milisi bisa merupakan bagian dari pasukan cadangan
militer, seperti Amerika Serikat National Guard. Di negara lain, seperti Republik China
(Taiwan), Republik Korea, dan Israel, wajib untuk beberapa tahun setelah seseorang
menyelesaikan dinas nasional. Sebuah pasukan cadangan militer berbeda dari pembentukan
cadangan, kadang-kadang disebut sebagai cadangan militer, yang merupakan kelompok atau
unit personil militer tidak berkomitmen untuk pertempuran oleh komandan mereka sehingga
mereka tersedia untuk menangani situasi tak terduga, memperkuat pertahanan Negara.

Bela Negara
4
B. Dasar Hukum Bela Negara

Beberapa dasar hukum dan peraturan tentang Wajib Bela Negara :

1. Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep Wawasan Nusantara dan Keamanan
Nasional.
2. Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
3. Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI.
Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
4. Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI.
5. Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI.
6. Amandemen UUD '45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.
7. Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Unsur Dasar Bela Negara

1. Cinta Tanah Air


2. Kesadaran Berbangsa & bernegara.
3. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara.
4. Rela berkorban untuk bangsa & Negara.
5. Memiliki kemampuan awal Bela Negara.
Hari bela negara

Tanggal 19 Desember ditetapkan sebagai Hari Bela Negara ditetapkan oleh Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28
tahun 2006.

C. Bela Negara Nebagai Hak dan Kewajiban Warga Negara

Pasal 30 UUD 1945 menyebutkan bahwa "tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha pembelaan negara". Konsep bela negara dapat diuraikan yaitu secara fisik
maupun non-fisik. Secara fisik yaitu dengan cara "memanggul senjata" menghadapi serangan
atau agresi musuh. Bela negara secara fisik dilakukan untuk menghadapi ancaman dari luar.
Sedangkan bela negara secara non-fisik dapat didefinisikan sebagai "segala upaya untuk
mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia dengan cara meningkatkan kesadaran
berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan terhadap tanah air serta berperan aktif
dalam memajukan bangsa dan negara".
Bela Negara
5
Bela negara secara fisik

Keterlibatan warga negara sipil dalam upaya pertahanan negara merupakan hak dan
kewajiban konstitusional setiap warga negara republik Indonesia. Tapi, seperti diatur dalam
UU No. 3 tahun 2002 dan sesuai dengan doktrin sistem pertahanan semesta, maka
pelaksanaannya dilakukan oleh rakyat terlatih (ratih) yang terdiri dari berbagai unsur misalnya
resimen mahasiswa, perlawanan rakyat, pertahanan sipil, mitra babinsa, okp yang telah
mengikuti pendidikan dasar militer dan lainnya. Rakyat terlatih mempunyai empat fungsi
yaitu ketertiban umum, perlindungan masyarakat, keamanan rakyat dan perlawanan rakyat.
tiga fungsi yang disebut pertama umumnya dilakukan pada masa damai atau pada saat
terjadinya bencana alam atau darurat sipil, di mana unsur-unsur rakyat terlatih membantu
pemerintah daerah dalam menangani keamanan dan ketertiban masyarakat, sementara fungsi
perlawanan rakyat dilakukan dalam keadaan darurat perang di mana rakyat terlatih merupakan
unsur bantuan tempur bagi pasukan reguler TNI dan terlibat langsung di medan perang.

Apabila keadaan ekonomi nasional telah pulih dan keuangan negara memungkinkan,
Maka dapat pula dipertimbangkan kemungkinan untuk mengadakan wajib militer bagi warga
negara yang memenuhi syarat seperti yang dilakukan di banyak negara maju di barat. Mereka
yang telah mengikuti pendidikan dasar militer akan dijadikan cadangan Tentara Nasional
Indonesia selama waktu tertentu, dengan masa dinas misalnya sebulan dalam setahun untuk
mengikuti latihan atau kursus-kursus penyegaran. Dalam keadaan darurat perang, mereka
dapat dimobilisasi dalam waktu singkat untuk tugas-tugas tempur maupun tugas-tugas
teritorial. Rekrutmen dilakukan secara selektif, teratur dan berkesinambungan. penempatan
tugas dapat disesuaikan dengan latar belakang pendidikan atau profesi mereka dalam
kehidupan sipil misalnya dokter ditempatkan di rumah sakit tentara, pengacara di dinas
hukum, akuntan di bagian keuangan, penerbang di skwadron angkutan, dan sebagainya.
Gagasan ini bukanlah dimaksudkan sebagai upaya militerisasi masyarakat sipil, tapi
memperkenalkan "dwi-fungsi sipil". Maksudnya sebagai upaya sosialisasi "konsep bela
negara" di mana tugas pertahanan keamanan negara bukanlah semata-mata tanggung jawab
tni, tapi adalah hak dan kewajiban seluruh warga negara republik Indonesia.

Bela Negara
6
Bela negara secara non-fisik

Di masa transisi menuju masyarakat madani sesuai tuntutan reformasi saat ini, justru
kesadaran bela negara ini perlu ditanamkan guna menangkal berbagai potensi ancaman,
gangguan, hambatan dan tantangan baik dari luar maupun dari dalam seperti yang telah
diuraikan di atas.

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, bela negara tidak selalu harus berarti
"memanggul bedil menghadapi musuh". Keterlibatan warga negara sipil dalam bela negara
secara non-fisik dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, sepanjang masa dan dalam segala
situasi, misalnya dengan cara:

a. meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, termasuk menghayati arti demokrasi


dengan menghargai perbedaan pendapat dan tidak memaksakan kehendak

b. menanamkan kecintaan terhadap tanah air, melalui pengabdian yang tulus kepada masyarakat

c. berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara dengan berkarya nyata (bukan retorika)

d. meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap hukum/undang-undang dan menjunjung


tinggi hak azasi manusia

e. pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar dapat menangkal pengaruh-


pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan bangsa Indonesia
dengan lebih bertaqwa kepada Allah SWT melalui ibadah sesuai agama/kepercayaan masing-
masing.

Apabila seluruh komponen bangsa berpartisipasi aktif dalam melakukan bela negara
secara non-fisik ini, maka berbagai potensi konflik yang pada gilirannya merupakan ancaman,
gangguan, hambatan dan tantangan bagi keamanan negara dan bangsa kiranya akan dapat
dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali. Kegiatan bela negara secara non-fisik sebagai
upaya peningkatan ketahanan nasional juga sangat penting untuk menangkal pengaruh budaya
asing di era globalisasi abad ke 21 di mana arus informasi (atau disinformasi) dan propaganda
dari luar akan sulit dibendung akibat semakin canggihnya teknologi komunikasi.

Bela Negara
7
D. Wujud Bela Negara Oleh Mahasiswa

Mahasiswa adalah sosok intelektual yang menduduki posisi dan peran khusus dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan. Posisi dan peran khusus itu selain dimungkinkan oleh
kepemilikan pengetahuan yang luas juga oleh kepemilikinan nilai-nilai dasar yang menjadi
landasan jati diri intelektualnya. Pengetahuan dan nilai-nilai dasar itu hendaknya menyata
dalam setiap teladan hidup dan perjuangan mahasiswa. Seorang mahasiswa mestinya
memiliki pengetahuan yang luas untuk bisa mengkritisi berbagai ketimpangan yang terjadi
dalam masyarakat. Karena itu, minat baca yang tinggi dan kebiasaan untuk melakukan
refleksi kritis terhadap berbagai fenomena yang muncul amatlah dianjurkan dan mesti
menjadi menu harian para mahasiswa. Adalah sebuah ironi besar bahkan sebuah
penyangkalan terhadap jati dirinya sendiri apabila mahasiswa asing dari buku-buku yang
memuat segudang ilmu pengetahuan dan asing dari realitas masyarakat sekelilingnya.
Mahasiswa mestinya memiliki semangat untuk mencari dan memiliki ilmu pengetahuan.
Namun, akumulasi pengetahuan yang diperoleh dalam bangku kuliah itu pada mestinya selalu
diaplikasikan dalam setiap konteks persoalan masyarakat. Kiprah seorang mahasiswa tidak
hanya terbatas dalam tembok-tembok kampus atau dalam bangku kuliah tetapi senantiasa
digemakan keluar terutama dalam menjawabi setiap persoalan yang terjadi dalam masyarakat.
mahasiswa mestinya mampu menangkap berbagai fenomena timpang yang terjadi di
sekitarnya, untuk kemudian dikritisi dan dicari alternatif solusi atasnya.

Pemanfaatan inteligensi yang tinggi seperti yang telah mendasari perjuangan mahasiswa
era pra-kemerdekaan, mestinya juga mendasari perjuangan mahasiswa saat ini. Karena itu,
kebiasaan-kebiasaan yang tidak menunjukkan pemanfaatan inteligensi atau berada di luar ciri
jati diri intelektualitasnya mestinya ditinggalkan. fenomena absurditas intelektual, keterlibatan
dalam praktik kekerasan dan pelanggaran ham, pesta pora dan hedonisme, gaya hidup
konsumtif, seks bebas, lemahnya minat membaca dan berdiskusi, kurangnya minat belajar,
serta rendahnya minat berorganisasi yang sekarang ini menjadi ciri kehidupan para mahasiswa
umumnya, mestinya ditinggalkan jauh-jauh. Selain pemanfaatan pengetahuan yang
dimilikinya, mahasiswa juga mestinya selalu berjuang menegakkan nilai-nilai universal
kemanusiaan. Mahasiswa pada hakikatnya memiliki kemampuan yang khas dan unik yang
sulit ditemukan pada anggota masyarakat kebanyakan.

Kekhasan itu justru terletak pada nilai-nilai dasar yang menjadi landasan jati diri
intelektualitasnya, dan nilai-nilai itu amat inheren dalam identitasnya sebagai seorang
Bela Negara
8
mahasiswa. Dunia mahasiswa adalah dunia akademik yang di dalamnya terkandung nilai-nilai
dasar seperti kebijaksanaan, keadilan, kebenaran, dan objektivitas. Yang diharapkan dari
mahasiswa adalah upaya perealisasian nilai-nilai dasar tersebut dalam setiap kiprahnya dalam
lembaga pendidikan dan terutama di tengah masyarakat. Perealisasian nilai-nilai dasar itu
selain melalui sikap dan teladan hidup hariannya, juga mesti direalisasikan dalam setiap upaya
memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan tersebut.

Perjuangan mahasiswa, dalam aksi demonstrasi misalnya, hendaknya bukan dilandasi


oleh sikap primordial-kedaerahan, atau demi keuntungan eksklusif orang atau kelompok
tertentu, melainkan demi menegakkan nilai-nilai universal kemanusiaan. Hanya dengan ini
mahasiswa mampu menghidupkan kembali rasa persatuan dan kesatuan dalam masyarakat.
Nilai-nilai universal kemanusiaan adalah nilai-nilai yang senantiasa didambakan oleh setiap
orang. nilai-nilai itu dapat mempersatukan dan membangun solidaritas semua orang. Karena
itu, memperjuangkan nilai-nilai seperti itu akan mendorong rasa solidaritas dan persatuan
dalam masyarakat. Mahasiswa dipanggil untuk mewujudkan itu di tengah masyarakat.

Contohnya adalah pemanfaatan inteligensi sebagai modal dasar. Kemerdekaan yang


telah diraih bangsa Indonesia pertama-tama sebenarnya merupakan hasil pemanfaatan
inteligensi, dan bukan kemenangan senjata. Perjuangan merebut kemerdekaan melalui perang
fisik/senjata telah terbukti tidak membawa pembebasan bagi rakyat Indonesia. Karena itu,
mereka berusaha memikirkan alternatif lain agar bisa keluar dari situasi penindasan pada
masa itu. Munculnya berbagai organisasi pemuda termasuk kongres sumpah pemuda
merupakan hasil nyata pemanfaatan inteligensi ini yang kemudian membawakan hasil yang
memuaskan. Mahasiswa adalah kaum intelektual muda. Sebagai kaum intelektual, mahasiswa
selain bergulat dengan berbagai ilmu pengetahuan, juga bergulat dalam memperjuangkan
nilai-nilai universal kemanusiaan seperti kebijaksanaan, kebenaran, keadilan, dan objektivitas.
Dalam setiap perjuangannya, mahasiswa mesti selalu berpegang teguh pada nilai-nilai di atas.
Melalui kemampuan intelek yang dimilikinya mahasiswa mengakomodasi harapan dan
idealism masyarakat yang kemudian terbentuk dalam ide-ide atau gagasannya. Ide dan
gagasan itu merupakan kontribusi paling bermakna dalam cita-cita pembaruan dalam konteks
kebangsaan.

Perang adalah keadaan konflik antara dua pihak yang besar, seperti negara, organisasi,
dan kelompok sosial, yang dikarakterisasikan dengan adanya pemakaian senjata mematikan.
Gambaran umum tentang perang adalah kampanye militer antara dua atau lebih pihak yang
Bela Negara
9
pertentangan mengenai kedaulatan, daerah kekuasaan, sumber daya alam, agama, dan isu-isu
lainnya. Lalu bagaimana wujud bela negara yang dapat dilakukan mahasiswa ketika terjadi
perang? Dalam menghadapi ancaman militer , sistem pertahanan negara menempatkan tni
sebagai komponen utama, dengan didukung oleh komponen cadangan dan komponen
pendukung. Komponen cadangan adalah sumber daya nasional yang telah disiapkan untuk
dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan komponen
utama. di sini resimen mahasiswa adalah sumber yang paling siap untuk dimobilisasi
memperkuat komponen utama.

Komponen pendukung adalah sumber daya nasional yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama dan komponen cadangan. Di
komponen pendukung ini semua keluarga besar perguruan tinggi bahkan semua warga negara
dapat mengambil peran. Ditinjau dari hukum humaniter, komponen utama adalah kombatan,
komponen cadangan adalah kombatan setelah melalui mobilisasi , sedangkan komponen
pendukung adalah non kombatan.

Sistem pertahanan di manapun senantiasa padat teknologi. Setiap negara senantiasa


berusaha mengungguli kemampuan pertahanan negara lain yang dianggap memiliki potensi
ancaman. Salah satu aspek yang ingin diungguli adalah teknologi persenjataannya. Cara yang
paling mudah untuk melakukannya adalah dengan membeli persenjataan dari dari negara
kawan. Hal itu tentu akan menguras devisa yang jumlahnya terbatas.

Saat ini pemerintah kita dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya sebagian besar masih
membeli ini pemerintah kita dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya sebagian besar masih
membeli, padahal devisa kita sangat terbatas. Bahkan hanya untuk memeliharapun, sebagian
masih menggantungkan pada luar negeri.

E. Nilai-Nilai Bela Negara

Nilai-nilai bela negara yang dikembangkan adalah Cinta Tanah air, yaitu mengenal,
memahami dan mencintai wilayah nasional, menjaga tanah dan pekarangan serta seluruh
ruang wilayah Indonesia, melestarikan dan mencintai lingkungan hidup, memberikan
kontribusi pada kemajuan bangsa dan negara, menjaga nama baik bangsa dan negara serta
bangga sebagai bangsa indonesia dengan cara waspada dan siap membela tanah air terhadap
ancaman tantangan, hambatan dan gangguan yang membahayakan kelangsungan hidup
bangsa serta negara dari manapun dan siapapun.
Bela Negara
10
Nilai yang kedua adalah Sadar akan berbangsa dan bernegara, yaitu dengan membina
kerukunan menjaga persatuan dan kesatuan dari lingkungan terkecil atau keluarga, lingkungan
masyarakat, lingkungan pendidikan dan lingkungan kerja, mencintai budaya bangsa dan
produksi dalam negeri, mengakui, menghargai dan menghormati bendera merah putih,
lambang negara dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, menjalankan hak dan kewajiban sesuai
peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan mengutamakan kepentingan bangsa di
atas kepentingan pribadi, keluarga dan golongan.

Nilai ketiga adalah yakin kepada Pancasila sebagai ideologi negara, yaitu memahami
hakekat atau nilai dalam Pancasila, melaksanakan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-
hari, menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan negara serta yakin pada kebenaran
Pancasila sebagai ideologi negara.

Nilai keempat rela adalah berkorban untuk bangsa dan negara, yaitu bersedia
mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk kemajuan bangsa dan negara, siap
mengorbankan jiwa dan raga demi membela bangsa dan negara dari berbagai ancaman,
berpastisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat, bangsa dan negara, gemar membantu
sesama warga negarayg mengalami kesulitan dan yakin dan percaya bahwa pengorbanan
untuk bangsa dan negara tidak sia-sia.

Untuk nilai yang terakhir memiliki kemampuan awal bela negara secara psikis dan fisik.
Secara psikis, yaitu memiliki kecerdasan emosional, spiritual serta intelegensia, senantiasa
memelihara jiwa dan raganya serta memiliki sifat-sifat disiplin, ulet, kerja keras dan tahan uji.
Sedangkan secara fisik yaitu memiliki kondisi kesehatan, ketrampilan jasmani untuk
mendukung kemampuan awal bina secara psikis dengan cara gemar berolahraga dan
senantiasa menjaga kesehatan.

Beberapa contoh bela negara dalam kehidupan nyata, yakni siskamling, menjaga
kebersihan, mencegah bahaya narkoba, mencegah perkelahian antar perorangan sampai
dengan antar kelompok, meningkatkan hasil pertanian sehingga dapat mencukupi
ketersediaan pangan daerah dan nasional, cinta produksi dalam negeri agar dapat
meningkatkan hasil eksport, melestarikan budaya Indonesia dan tampil sebagai anak bangsa
yang berprestasi baik nasional maupun internasional.

Bela Negara
11
F. SIKAP MAHASISWA DALAM BELA NEGARA

1) Menumbuhkan semangat dan sikap hidup lebih baik dan lebih maju. Sikap tersebut
dapat diwujudkan dengan cara giat belajar dan giat bekerja, optimis terhadap masa
depan, tidak boros dan tidak bergaya hidup mewah, serta menumbuhkan semangat
gemar menabung. Mahasiswa harus giat belajar demi meraih masa depan yang
gemilang serta dapat membantu kelangsungan pembangunan Negara . Ilmu yang
melimpah dari para pelajar apabila di amalkan kepada bangsa ini maka akan
membawa perubahan yang besar.

2) Memiliki semangat dan sikap ingin berperan serta dalam usaha-usaha pembangunan.
Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan cara taat membayar pajak, taat hukum, ikut
serta dalam menjaga keamanan, serta menjaga kehormatan dan martabat bangsa di
hadapan dunia internasional.

3) Menumbuhkembangkan semangat dan sikap rela berkorban dalam masa


pembangunan. Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan cara sehat jasmani dan rohani,
tahan derita dan tahan uji, selalu tegar menghadapi masalah, cekatan dalam bertindak,
berpendirian teguh, siap menanggung risiko, bertanggung jawab, serta berani membela
kebenaran dan keadilan.

4) Memiliki semangat dan sikap untuk mengembangkan inovasi (pembaruan) dalam


berbagai hal. Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan cara terbuka terhadap
perubahan, menerima dengan selektif budaya asing, menolak tegas kebudayaan asing
yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, mengubah pola hidup dan
tingkah laku yang tidak sesuai dengan sendi-sendi kehidupan yang baik, serta selalu
bangga sebagai bangsa dan warga negara Indonesia.

5) Melestarikan kebudayaan Indonesia baik di dalam negri maupun diluar negri. Budaya merupakan
harta suatu bangsa dan alangkah bagusnya apabila harta tak ternilai tersebut dilestarikan.

Bela Negara
12
G. Contoh keikutsertaan warganegara dalam usaha bela Negara

Keikutsertaan setiap warga negara dalam usaha pembelaan negara bukan hanya
merupakan hak tetapi juga kewajiban. Dalam usaha pembelaan negara atau pun tindakan bela negara terbagi :
Sebelum Kemerdekaan Tindakan bela negara sebelum kemerdekaan yang paling nampak di
perankan oleh TNI sejak perang kemerdekaan sampai masa reformasi ini.
Contohnya yang dilakukan TNI :
- Menghadapi ancaman agresi Belanda dan para penjajah
- Menghadapi ancaman federalis dan separatis APRA, RMS, PRRI/PERMESTA, Papua
Merdeka, Separatis Aceh (GSA)
- Melawan PKI dan melawan DI/TII
- Kelaskaran yang kemudian dikembangkan menjadi barisan cadangan pada periode
perang kemerdekaan ke-I.
- Pada periode perang kemerdekaan ke-II ada organisasi Pasukan Gerilya Desa (Pager
Desa) termasuk mobilisasi pelajar (Mobpel) sebagai bentuk perkembangan dari barisan
cadangan
- Mempertahankan negara NKRI dan menjaga keutuhan wilayah negara Indonesia
- Pada saat masa penjajahan warga membantu perang dengan bambu runcing
Contoh pada polri:
- Menjaga keamanan Negara
- Mencegah ancaman dari negara lain
- Menjaga ketertiban masyarakat seperti: kerusuhan, penyalahgunaan narkoba, konflik
komunal, dan yang menganggu keselamatan bangsa dan negara ·

Contoh lain dari TNI, sebenarnya TNI dari masa sebelum kemerdekaan sampai setelah
kemerdekaan masih melakukan upaya bela negara, diantaranya: Pada tahun 1961 dibentuk
pertahanan sipil, perlawanan rakyat, keamanan rakyat sebagai bentuk penyempurnaan dari
OKD/OPR.

Perwira cadangan yang dibentuk sejak tahun 1963, kemudian berdasarkan UURI Nomor 20
Tahun 1982 tentang ketentuan - ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik
Indonesia ada organisasi yang disebut Rakyat Terlatih dan anggota Perlindungan Masyarakat
(LIMNAS), mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah, melindungi
kehormatan dan keselamatan bangsa, melaksanakan operasi militer selain perang, ikut seta
secara aktif dalam tugas pemeliharaan perdamaian regional dan internasional, Tim SAR untuk
mencari dan menolong korban bencana alam, PMI dan Para Medis, hansip untuk menjaga
keamanan dan ketertiban.
Bela Negara
13
Sikap positif warga negara dalam bela negara di lingkungan :

a. Keluarga: Menghargai antar anggota keluarga, saling menghormati antar anggota kelurga,
saling membantu apabila sedang mengerjakan sesuatu, saling mendukung pada kegiatan yang
sedang dilakukan, menjaga nama baik keluarga.

b. Sekolah: Belajar dengan sungguh-sungguh, mematuhi peraturan sekolah, rajin mengerjakan


PR dan Tugas Kelompok, ikut serta menjaga keamanan lingkungan tempat tinggal dan
sekolahnya, menjaga nama baik sekolah

c. Masyarakat: Mengikuti kegiatan Siskamling, ikut serta menanggulangi akibat bencana


alam, ikut serta mengatasi kerusuhan masal, mengadakan organisasi LIMNAS yaitu berfungsi
untuk menanggulangi akibat bencana alam dan bencana pada saat perang, mengadakan
organisasi Keamanan Rakyat (KAMRA) yaitu partisipasi rakyat langsung dalam bidang
keamanan, perlawanan Rakyat (Wanra), yaitu partisipasi rakyat langsung dalam bidang
pertahanan, Pertahanan sipil (Hansip), yaitu kekuatan rakyat yang merupakan unsur unsur
perlindungan masyarakat pada saat menghadapi bencana saat perang .

Adapun di Bali yang di sebut Pecalang (orang yang sangat berperan dalam menjaga keamanan
di lingkungan setempat )

d. Negara: Menjaga nama baik bangsa dan negara, menjaga keutuhan dan keamanan negara,
mematuhi peraturan perundang-undangan di suatu negara, menjaga ancaman dari negara lain
karena negaran Indonesia termasuk negara yang sedang berkembang, mengusahakan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, melaksanakan operasi militer selain perang,
mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah.

Bela Negara
14
BAB III
KESIMPULAN
Upaya membela Negara, warga Negara sebenarnya tidak hanya berhubungan dengan

upaya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman dan

serangan musuh, melainkan merupakan upaya warga Negara mempertahankan dan

memajukan bangsa Indonesia di segala bidang, baik dari luar maupun dari dalam Negara kita

sendiri.

Kemerdekaan yang telah kita miliki harus dijaga dan dipertahankan. Sebab, meskipun

bangsa Indonesia telah merdeka, bukan berarti terlepas dari segala bentuk ancaman,

gangguan, hambatan, dan tantangan. Setiap Negara pasti akan menghadapi segala macam

bentuk tantangan tersebut, besar ataupun kecil. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita

semua warga Negara Indonesia, untuk terus menjaga dan mempertahankan keutuhan serta

kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Kita bela dan pertahankan

Negara kita dari segala bentuk gangguan dan ancaman, baik yang berasal dari dalam maupun

luar negeri.

Bela Negara
15
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Internet:
http://emi-agustina17.blogspot.co.id/2014/07/makalah-peran-mahasiswa-dalam-
bela.html ( 07 Oktober 2015, pukul: 17.00 )

http://www.rijalhabibulloh.com/2014/06/makalah-bela-negara.html( 07 Oktober 2015,


pukul: 17.01 )

http://www.academia.edu/6194354/MAKALAH_BELA_NEGARA( 07 Oktober 2015, pukul:


17.02 )

http://fitrianigr.blogspot.co.id/ ( 07 Oktober 2015, pukul: 17.03 )

Bela Negara
16
RANCANGAN PEMBELAJARAN

I. PERENCANAAN
A. POKOK BAHASAN
Bela Negara

B. KOMPETENSI DASAR
Memahami konsep-konsep bela negara

C. INDIKATOR
Mampu menjelaskan:
1. M ampu pengertian pembelaan Negara
2. Menyebutkan bentuk-bentuk usaha pembelaan Negara
3. Menjelaskan cara berpartisipasi dalam usaha pembelaan Negara

D. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah proses pembelajaran mahasiswa dapat memahami:
1. Pengertian Bela Negara
2. Manfaat Bela Negara Bagi Mahasiswa
3. Cara berpastisipasi dalam usaha pembelaan Negara

E. METODE PEMBELAJARAN
1. Diskusi
2. Presentasi
3. Tanya jawab

F. MEDIA PEMBELAJARAN
A. Laptop
B. LCD
C. White board
D. Alat Tulis

Bela Negara
17
G. SUSUNAN FISIK RUANGAN
Gambar:

White Board

LCD

Dosen
K
O
M
U
N
I
K
MAHASISWA
MAHASISWA

MAHASISWA
MAHASISWA

A
T
O
R

MAHASISWA

Bela Negara
18
II. PROSES PEMBELAJARAN
A. Kegiatan Awal (10’)
1. Kegiatan Fasilitator
 Membuka diskusi
 Menjelaskan alur diskusi
 Menjelaskan tata tertib selama diskusi
 Menjelaskan secara singkat mengenai materi yang akan disajikan
 Mengajukan form diskusi berisi pertanyaan bahasan
 Menyimpulkan hasil diskusi

2. Kegiatan Peserta
 Mendengarkan penjelasan yang telah diberikan oleh moderator
 Menjawab dan menuliskan hasil diskusi pada form diskusi
 Menanggapi hasil diskusi kelompok lain.

3. Kegiatan Pendamping/Pembimbing
 Mengawasi jalannya diskusi
 Mencatat tentang hal-hal yang terjadi selama diskusi berlangsung
 Memberikan pengarahan apabila ada materi yang kurang tepat.

B. Kegiatan Inti (90’)


1. Kegiatan Fasilitator (45’)
 Menampung berbagai jawaban dari peserta, membuat kesimpulan
awal
 Mempresentasikan secara singkat materi tentang Konsep Dasar
Kebijakan Publik
 Mengkombinasikan persepsi peserta dengan persepso fasilitator
 Memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengajukan
pertanyaan mengenai materi yang didiskusikan
 Menjawab pertanyaan yang diajukan peserta

2. Kegiatan Peserta (45’)


 Memperhatikan, menyimak dan mengajukan pertanyaan mengenai
materi yang telah dipresentasikan oleh fasilitator
 Menyimak pembahasan atau penjelasan mengenai pertanyaan yang
telah diajukan

3. Kegiatan Pendamping / Pembimbing


 Mengawasi jalannya diskusi
 Mencatat hal-hal yang terjadi selama diskusi
 Memberi pengarahan apabila ada materi yang kurang tepat
 Memberikan penguatan mengenai jawaban yang diberikan fasilitator
terhadap pertanyaan yang diajukan peserta mengenai materi yang
telah disajikan.
Bela Negara
19
C. Kegiatan Penutup (35’)
1. Kegiatan Fasilitator
 Memberikan kesimpulan tentang materi yang telah didiskusikan dan
dipresentasikan
 Menutup diskusi

2. Kegiatan Peserta
 Menyimak kesimpulan dari materi yang didiskusikan dan
dipresentasikan

3. Kegiatan Pembimbing
 Memberikan pengayaan atas kesimpulan yang telah diberikan oleh
fasilitator

Bela Negara
20
III. EVALUASI PEMBELAJARAN

Hasil Diskusi ( Tanya – Jawab )

1. Pertanyaan dari Sdri. Yully Maulana

Apa pentingnya Bela Negara ?

Jawaban:
 Bela Negara penting dilakukan karena untuk menjaga keutuhan NKRI.

2. Pertanyaan dari Sdri. Siti Aminah

Apa isi Proklamasi dan kapan proklamasi itu dibacakan ?


Jawaban:
 Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll, diselenggarakan dengan cara
seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Atas nama Bangsa Indonesia


Soekarno-Hatta
Jakarta, 17-08-05

3. Pertanyaan dari Sdr. M. Khairudin ?

Apa dasar hukum Bela Negara ?

Jawaban:

1. Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep Wawasan Nusantara dan Keamanan
Nasional.
2. Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
3. Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI.
Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
4. Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI.
5. Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI.
6. Amandemen UUD '45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.
7. Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

Bela Negara
21