Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PEMISAHAN KIMIA

“PENENTUAN KOEFISIEN DISTRIBUSI I2”

Kelompok 1
Offering - H

Fanantra A. (120332426438)
Intan Piranti (120332421347)
Rizky Septi A. (120332421446)
Setyowati Dewi Y. (120332421446)
Ulfa Nurul Q. (120332421446)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2014
PENDAHULUAN

A. TUJUAN PERCOBAAN
- Memahami fenomena distribusi diantara dua cairan yang
tidak saling campur .
- Menentukan koefisien distribusi .

B. DASAR TEORI
Partisi suatu komponen antara dua cairan yang tidak saling bercampur dapat
memberikan berbagai kemungkinan teknik pemisahan . Metode ekstraksi seringkali menjadi
tahapan penting dalam suatu prosedur analisis. Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari
campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat
tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari suatu pelarut ke pelarut yang lain.
Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnya bahan alami) tidak dapat atau sukar
sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis. Misalnya saja, karena
komponennya saling bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat
fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah (Rahayu. 2009).

Hukum distribusi atau partisi. Cukup diketahui berbagai zat-zat tertentu lebih mudah
larut dalam pelarut-pelarut tertentu dibandingkan dengan pelarut-pelarut yang lain. Jadi iod
jauh lebih mudah larut dalam karbon disulfida, kloroform, atau karbon tetraklorida. Bila
cairan-cairan tertentu seperti karbon disulfida dan air, eter dan air, dikocok bersama-sama
dalam satu bejana dan campuran kemudian dibiarkan, kedua cairan akan memisah menjadi
dua lapisan. Cairan-cairan seperti itu dikatakan sebagai tak-dapat-campur (karbon disulfida
dan air) atau setengah-campur (eter dan air). Jika iod dikocok bersama suatu campuran
karbon disulfida dan air kemudian didiamkan, iod akan dijumpai terbagi dalam kedua pelarut.
Suatu keadaan kesetimbangan terjadi antara larutan iod dalam karbon disulfida dan larutan
iod dalam air (Vogel. 1986 : 145).

Menurut hukum distribusi Nerst, bila ke dalam kedua pelarut yang tidak saling
bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi
pembagian kelarutan. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. Solute akan
terdistribusi dengan sendirinya ke dalam dua pelarut tersebut setelah di kocok dan dibiarkan
terpisah. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap, dan
merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau
koefisien distribusi. Koefisien distribusi dinyatakan dengan berbagai rumus sebagai berikut :
KD = [A1]/[A2]
KD = koefisien distribusi
[A1] = konsentrasi spesi A pada fasa 1
[A2] = konsentrasi A pada fasa 2

C. ALAT DAN BAHAN

Alat:

 Pipet volume
 Corong pisah
 Buret
 Erlenmeyer
 Gelas kimia
 Labu takar
 Gelas arloji

Bahan:

 Larutan HCl
 Larutan K2Cr2O7 0,1 N
 Larutan KI 0,1 N
 Larutan iod
 Kloroform
 Indicator amilum
 Larutan Na2S2O3
 Aquades
C. ALAT DAN BAHAN
1
Pembakuan larutan Natrium
Tiosulfat dengan K2Cr2O7

• 10 ml K2Cr2O7 0.1N

• Ditambah 3 mL HCl Pekat

• Ditambah 15 mL KI 0.1N

• Dikocok

• Dititrasi dengan Na2S2O3

• Ditambah amilum saat


mendekati titik akhir titrasi

• Titrasi dilanjutkan

• Dicatat volume Na2S2O3 Volume Na2S2O3 = 7,5


mL
Hasil

Penentuan Konsentrasi I2 Awal


2

• Larutan iod Larutan Iod = warna


merah betadin
• Diambil 10 mL
Dititrasi hingga kuning
• Ditambah 2 mL H2SO4 muda
encer

• Dititrasi dengan Na2S2O3 Ditambahkan indicator


amilum jadi berwarna
• Ditambah 3 tetes amilum biru tua

• Titrasi dilanjutkan Dititrasi lagi hingga tidak


berwarna
• Dicatat volume Na2S2O3 Volume Na2S2O3 = 2 mL

Hasil
3.
Penentuan Koefisien Distribusi

• Larutan Iod Fasa Organik (ungu)=


Bawah
• Dipipet sebanyak 25 mL Fasa Air(cokelat) = Atas

• Dimasukkan ke corong
pisah
Volume titrasi yang
• Ditambah 10 mL dibutuhkan untuk
kloroform , dikocok menitrasi Na2S2O3 Fasa
air = 1,3 mL
• Didiamkan kemudian Konsentrasi Na2S2O3 fasa
dikeluarkan fasa organiknya air = 0.017 N
Konsentrasi Na2S2O3 fasa
• Fasa air dimasukkan dalam organik = 0.003 N
Erlenmeyer

• Ditambah 4 mL H2SO4
encer

• Dititrasi dengan Na2S2O3

• Dicatat Volume Na2S2O3

• Iod yang tertinggal dalam


air dihitung

Hasil

E. ANALISIS DATA
1. Penentuan Konsentrasi I2 awal :
Diketahui :
Volume I2 : 10mL
Volume Na2S2O3 yang dibutukan : 2 mL
Ditanya : Konsentrasi I2 awal?
N1 . V1 = N2 . V2
𝑁2 𝑥 𝑉2
N1 = 𝑉1
0.1 𝑥 2
N1 = 10

N1 = 0.02 N
2. Penentuan Koefisien Distribusi
Diketahui :
Volume Na2SO3 Fasa Air = 7,5 mL
Konsentrasi Na2S2O3 = 0.1 N
Volume Na2S2O3 titrasi = 1,3 mL
Ditanya :
1. Konsentrasi Na2S2O3 Fasa air?
2. Konsentrasi Na2S2O3 Fasa organik?
3. Koefisien distribusi I2 ?

Konsentrasi Na2S2O3 Fasa air


N1 . V1 = N2 . V2
𝑁2 𝑥 𝑉2
N1 = 𝑉1
0.1 𝑥 1,3 𝑚𝐿
N1 = 7,5 𝑚𝐿

N1 = 0.017 N

Konsentrasi Na2S2O3 Fasa Organik :


Konsentrasi I2Fasa Organik = I2awal – I2fasa air
= 0.02 N – 0.017 N
= 0.003 N

0.003 𝑁
Koefisien distribusi I2 = 0.02 𝑁

= 0.15
F. PEMBAHASAN
Prinsip dasar percobaan ini yaitu distribusi zat terlarut I2 ke dalam dua pelarut yang
tidak saling bercampur yaitu air dan kloroform, menurut hukum distribusi Nerst, jika ke
dalam sistem dua fasa cair yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat
larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Perbandingan
konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap dan merupakan suatu ketetapan
pada suhu tetap. Tetapan tersebut adalah tetapan distribusi atau koefisien distribusi (KD).
Pada percobaan ini, untuk menentukan konsentrasi larutan I2 awal dilakukan
penambahan larutan I2 10 ml ditambahkan dengan 2 ml larutan asam sulfat encer.
Kemudian campuran ini dititrasi Na2S2O3 hingga kuning muda, kemudian ditambah
dengan indikator amilum 3 tetes dan dititrasi lagi hingga warna biru hilang. Dari hasil
percobaan ini didapatkan konsentrasi I2 awal = 0.02 N.
Pada penentuan koefisien distribusi I2, larutan I2 25 mL dimasukkan ke dalam corong
pisah kemudian ditambahkan kloroform 10 mL dan diperoleh dua lapisan. Dua lapisan ini
terbentuk akibat adanya perbedaan massa jenis dimana lapisan bawah berwarna ungu
(fasa organik) mempunyai massa jenis yang lebih besar dari pada lapisan atas cokelat
(fasa air). Kemudian dikocok agar I2 terdistribusi dengan maksimal ke kloroform, lalu
dipisahkan dan dititrasi dengan Na2S2O3 serta mencatat volume Na2S2O3 yang dipakai
hingga tercapai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna.
Pada lapisan air dari merah tua menjadi ungu tua. Berdasarkan analisis data, diperoleh
KD1 = 0.15. Adapun rekasinya yaitu:
2S2O32- + I2 —> S4O62- + 2 I-
2Na2S2O3 + 2I- —> Na2S2O6 + 2NaI

G. KESIMPULAN
1. Koefisien distribusi I2 dalam pelarut CHCl3 = 0.15.