Anda di halaman 1dari 14

PENGAMATAN MORFOLOGI KOLONI MIKROBA

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi

Yang Dibimbing Oleh Dr. Endang Suarsini, M. Ked

Disusun oleh Kelompok 1 Offering A:

1. Amalia Nur Latifah /160341606001


2. Farida Sulviana Dewi /160341606046
3. Hikmah Buroidah /160341606031
4. I Wayan Agung K / 160341606070
5. Naimmatus Sholikah /160341606003

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

Februari 2018
A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mempelajari morfologi koloni bakteri.

B. DASAR TEORI
Mikroorganisme adalah makhluk hidup berukuran sangat kecil yang hanya
bisa diamati dengan mikroskop. Menurut klasifikasi makhluk hidup,
mikroorganisme dapat digolongkan ke dalam 5 kerajaan, yaitu Protista, Fungi,
Monera, Virus dan Prion (Fardiaz,Srikandi.1992). Pada praktikum kali ini,
mikroorganisme yang diamati yaitu bakteri.
Bakteri adalah sel prokariotik yang sangat kecil, berdiameter antara 0.2 - 3.0
mm, sedangkan yang berbentuk batang berukuran 0.5-15 mm. Tiga bentuk dasar
bakteri, yaitu bulat atau kokus (jamak = koki), batang atau basilus (jamak =
basili) dan spiral. Pada umumnya bakteri berbentuk kokus bisa tersusun
membentuk pasangan (diplokoki), empat sel (tetrad), delapan sel (sarcina),
rantai (streptokoki), dan bergerombol seperti anggur (stafilokoki). Bakteri
berbentuk batang juga bisa menyusun diri membentuk pasangan (diplobasili),
atau rantai (streptobasili). Bakteri berbentuk spiral bisa berupa batang pendek,
seperti koma dan disebut vibrio, ada yang membentuk heliks (spirila) dan ada
yang bergerak dengan cara merentang (flexing) dan bergoyang (wiggling)yang
disebut spirokhet (Fardiaz,Srikandi.1992). Berikut ini merupakan gambar yang
menunjukkn bentuk dan susunan bakteri.

Gambar 1. Bentuk dan Susunan Bakteri


Sumber: Fardiaz,Srikandi.1992
Bakteri dapat ditumbuhkan dalam suatu medium agar dan akan membentuk
penampakan berupa koloni. Koloni sel bakteri merupakan sekelompok masa sel
yang dapat dilihat dengan mata langsung. Semua sel dalam koloni itu sama dan
dianggap semua sel itu merupakan keturunan (progeny) satu mikroorganisme
dan karena itu mewakili sebagai biakan murni (Kusnandi, 2009).
Penampakan koloni bakteri dalam media lempeng agar menunjukkan bentuk
dan ukuran koloni yang khas, dapat dilihat dari bentuk keseluruhan penampakan
koloni, tepi dan permukaan koloni. Koloni bakteri dapat berbentuk bulat, tak
beraturan dengan permukaan cembung, cekung atau datar serta tepi koloni rata
atau bergelombang dsb. Pada medium agar miring penampakan koloni bakteri
ada yang serupa benang (filamen), menyebar, serupa akar dan sebagainya
(Kusnandi, 2009). Berikut ini merupakan bentuk dari koloni bakteri.

Gambar 2. Penampakan Koloni Bakteri


Sumber: Kusnandi, 2009
C. ALAT BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain:
1. Inkubator
2. Loupe/ Colony counter
3. Dua buah media lempeng Na steril

D. LANGKAH KERJA

Membawa satu pasang cawan petri berisi media lempeng ke tempat yang
E. LANGKAH KERJ
diminati untuk dilakukan penelitian antara lain tempat sampah O5 lantai 3,
F.
sekretariat
G.
BDM Al-Hikmah, di atas Hp Lila, Nabila dan Naelly, kamar mandi
O5 lantai 3, rak sepatu Kultur Jaringan Hewan O5 lantai 3 dan balkon O5 lantai
2.

Mengusap benda menggunakan kapas steril kemudian membuka tutup cawan


petri.

Meratakan hasil usapan di permukaan media itu secara zig-zag kemudia


menutup cawan petri kembali.

Membawa cawan petri yang sudah diberi perlakuan ke laboratorium untuk


dilakukan inkubasi.

Membagi satu pasang cawan petri berisi media lempeng lainnya menjadi 4
kwadran. Mengusap ibu jari secara rata di permukaan media pada kwadran 1
kemudian menutup cawan.

Mencuci tangan menggunakan sabun, mengusap telunjuk secara rata di


permukaan media pada kwadran 2, kemudian menutup cawan.

Mencuci tangan menggunakan alkohol 70%, mengusap jari tengah secara rata
di permukaan media pada kwadran 3, kemudian menutup cawan.
Membiarkan biakan sampai berumur 1x24 jam, kemudian melakukan
pengamatan terhadap koloni mikroba yang tumbuh pada media lempeng
tersebut.

Mengamati koloni bakteri yang tumbuh yang ditandai dengan bentuk seperti
lendir, tetesan mentega, dan tetesan sari buah.

Menghitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh.

Membandingkan hasil pengamatan seperti pada gambar 5.2 yang tersedia pada
buku petunjuk praktikum.

Memilih dua jenis koloni yang menarik perhatian untuk diamati sifat-sifatnya.
Melakukan pengamatan morfologi koloni meliputi warna, bentuk, tepi, elevasi
(kenaikan permukaan koloni), kepekaan, mengkilat atau suram dan diameter
koloni.

Menyusun hasil pengamatan dalam bentuk tabel seperti pada tabel 1 yang
tersedia pada buku petunjuk praktikum dan bisa mengacu pada gambar 2.2.
E. HASIL PENGAMATAN

Tabel 1. Jumlah Bakteri (dari Jari Tangan) pada Masing-Masing Kuadran


Kuadran Jumlah Koloni
Kuadran I 97
Kuadran II 208
Kuadran III 41
Kuadran IV 0

Tabel 2. Morfologi Koloni Bakteri


No Ciri Morfologi Koloni 1 Koloni 2
1 Warna Koloni Putih Putih
2 Bentuk Koloni Bundar Bentuk L
3 Tipe Koloni Berombak Licin
4 Elevasi Koloni Cembung Datar
5 Mengkilat/Suram Mengkilat Suram
6 Diameter Koloni 0,1 cm 0,5 cm
7 Kepekatan Koloni Tidak Pekat Pekat
8 Jumlah Koloni 1 4
9 Jumlah Keseluruhan 113
10 Asal Bakteri Tempat Sampah Gedung O5
Lantai 3

F. ANALISIS DATA

1. Koloni Bakteri Tangkapan dari Udara

Koloni bakteri ditangkap dari udara dengan cara membuka tutup cawan petri
yang sudah terdapat media di dalamnya, usahakan cawan tidak menyentuh benda
tertentu. Kemudian dibiarkan terbuka selama sepuluh menit di tempat-tempat
yang ingin diketahui adanya bakteri. Setelah sepuluh menit cawan ditutup
kemudian diinkubasi di dalam incubator selama 1 x 24 jam pada suhu 37oC.
Setelah inkubasi selesai cawan petri dikeluarkan dan koloni bakteri yang tumbuh
dihitung menggunakan colony counter. Pada data pertama, koloni bakteri yang
berkembang adalah sebanyak 113 koloni yang diambil di tempat sampah gedung
O5 lantai 3. Pada data kedua, jumlah koloni yang berkembang adalah sebanyak
265 koloni yang diambil dari Sekretariat BDM Al-Hikmah. Pada data ketiga,
jumlah koloni yang berkembang adalah sebanyak 17 koloni yang diambil dari
alat komunikasi handphone. Pada data keempat, jumlah koloni yang
berkembang adalah sebanyak 131 koloni yang diambil dari kamar mandi O5
lantai 3. Pada data kelima, jumlah koloni yang berkembang adalah sebanyak 264
koloni yang diambil dari rak sepatu KJH O5. Pada data kedua, jumlah koloni
yang berkembang adalah sebanyak 84 koloni yang diambil dari balkon O5 lantai
2. Berdasarkan data diatas didapat kesimpulan sementara yaitu semua tempat
terdapat bakteri dan tempat yang paling banyak terdapat bakteri adalah
sekretariat BDM Al-Hikmah. Banyak sedikitnya bakteri yang terdapat pada
suatu tempat bergantung pada kebersihan tempat tersebut. Berikut ini merupakan
histogram yang menunjukkan distribusi bakteri pada beberapa tempat tersebut.

SEBARAN KOLONI BAKTERI DI


WILAYAH UM
300
250
Jumlah Koloni

200
150
100
50
0
Handphone Balkon O5 Tempat Kamar Rak Sepatu Sekretariat
lantai 2 sampah O5 Mandai KJH BDM
lantai 3
Tempat Pengambilan

Grafik 1. Distribusi Bakteri di Beberapa Tempat

Setelah dilakukan penghitungan koloni bakteri kemudian dilanjutkan


dengan identifikasi dua koloni bakteri tangkapan yaitu koloni pertama dengan
ciri berwarna putih, mengkilat, dan tidak pekat, berbentuk keriput, tepi
berombak, elevasinya cembung, memiliki diameter 0,1 cm, dan hanya
ditemukan satu koloni saja. Pada identifikasi koloni kedua didapatkan ciri
yaitu berwarna putih, pekat, dan suram, memiliki tepi licin, elevasinya datar,
berdiameter 0,5 cm , dan ditemukan 4 koloni. Berdasarkan hal tersebut
kemungkinan dua koloni bakteri tersebut berbeda jenisnya. Setelah diamati
cirinya koloni bakteri tersebut ditanam pada media agar dan diinkubasi
selama 1x24 jam kemudian diamati pertumbuhannya ternyata pertumbuhan
bakteri tidak sesuai literatur karena diduga terjadi kontaminasi.

2. Koloni Bakteri dari Jari Tangan

Koloni bakteri dari jari tangan dengan cara membuka tutup cawan petri
yang sudah terdapat media di dalamnya, usahakan cawan tidak menyentuh
benda selain jari tangan. Kemudian membagi cawan petri menjadi 4 kuadran.
Setiap kuadran diberikan perlakuan berbeda, kuadran I menggunakan jari
yang belum dicuci, kuadran II menggunakan jari yang sudah dicuci dengan
sabun, kuadran III menggunakan jari yang sudah diberi alkohol, kuadran IV
tidak diberi perlakuan apapun. Setelah itu cawab ditutup kemudian diinkubasi
di dalam incubator selama 1 x 24 jam pada suhu 37 oC. Setelah inkubasi
selesai cawan petri dikeluarkan dan koloni bakteri yang tumbuh dihitung
menggunakan colony counter. Pada data pertama, koloni bakteri yang
berkembang adalah sebanyak 97 koloni. Pada data kedua, jumlah koloni yang
berkembang adalah sebanyak 208 koloni. Pada data ketiga, jumlah koloni
yang berkembang adalah sebanyak 41 koloni. Pada data keempat, jumlah
koloni yang berkembang adalah sebanyak 0 koloni. Berdasarkan data diatas
didapat kesimpulan sementara yaitu pada semua jari tangan terdapat bakteri
dan jari tangan yang paling banyak terdapat bakteri adalah pada jari tangan
yang sudah dicuci dengan sabun. Banyak sedikitnya bakteri yang terdapat
pada jari tangan bergantung pada perlakuan yang diberikan pada jari tangan
tersebut. Berikut ini merupakan histogram yang menunjukkan jumlah bakteri
pada masing-masing kuadran tersebut.

250

200
Jumlah Koloni

150

100

50

0
Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV
Kuadran

Grafik 2. Jumlah Bakteri di Masing-Masing Kuadran

G. PEMBAHASAN
1. Koloni Bakteri dari Udara

Koloni bakteri dapat ditemukan di berbagai tempat. Pada pengamatan


koloni bakteri yang diamati di berbagai tempat, ditemukan bahwa pada
Sekretariat BDM UM paling banyak ditemukan bakteri yaitu 265 bakteri.
Sedangkan pada empat tempat lainnya yang berbeda, pada rak sepatu KJH O5
Lantai 3 sebanyak 264 bakteri, di kamar mandi O5 Lantai 3sebanyak 131
bakteri, pada tempat sampah O5 Lantai 3 sebanyak 113 bakteri, pada balkon O5
Lantai 2 sebanyak 84 dan pada handphone Lila, Nabila, dan Naelly ditemukan
sebanyak 17 bakteri.

Dari pengamatan kelompok kami, koloni bakteri yang diinokulasi dari


tempat sampah O5 Lantai 3 memiliki beragam bentuk dan warna. Dari beberapa
koloni bakteri yang berbeda, kelompok kami memilih dua koloni bakteri yang
ciri morfologinya paling jelas dan tampak untuk diamati. Koloni yang pertama
memiliki ciri morfologi yaitu warna tubuh berwarna putih, bentuk koloni
keriput, tepi koloni berombak, elevasi koloni cembung, tubuh mengkilat,
diameter koloni 0,1 cm, dan koloni tidak pekat, sedangkan koloni kedua
memiliki ciri morfologi yaitu warna tubuhnya sama-sama putih, bentuk koloni
bentuk L, tepi koloni licin, elevasi koloni datar, tubuh suram, diameter koloni
0,5 cm. Dari proses isolasi ini dapat diketahui bahwa kedua koloni bakteri ini
bukan spesies yang sama.

Medium pertumbuhan (disingkat medium) adalah tempat untuk


menumbuhkan mikroba. Mikroba memerlukan nutrisi untuk memenuhi
kebutuhan energi dan untuk bahan pembangun sel, untuk sintesa protoplasma
dan bagian-bagian sel lain. Setiap mikroba mempunyai sifat fisiologi tertentu,
sehingga memerlukan nutrisi tertentu pula (Ika dkk, 2016). Pada praktikum kali
ini, medium yang digunakan yaitu medium agar karena standar untuk semua
bakteri.

Di lingkungan banyak sekali bakteri yang bercampur (mix culture).


Dalam praktikum kali ini karena lebih menggunakan teknik aseptik, maka
bakteri pada mix culture yang terisolasi dipindah untuk diinokulasi menjadi
biakan murni pada lempeng agar. Setelah biakan murni tumbuh, lalu
diinkubasikan di inkubator. Namun, isolat murni tidak diletakkan dalam
inkubator lebih dari 1x24 jam karena tidak meninjau pertumbuhan yang terus-
menerus. Dari hasil isolasi, maka dapat ditinjau bahwa sebenarnya bentuk koloni
bakteri yang pertama berbentuk tasbih dan koloni bakteri yang kedua sebenarnya
berbentuk pedang. Namun karena terkena kontaminasi dari faktor luar yaitu
lingkungan dan personal hygiene yang belum sesuai teknik aseptik maka biakan
murni terkena kontaminasi. Prosedur teknik aseptik pada pengamatan biakan
murni harus memenuhi persyaratan salah satunya yaitu praktikan harus bekerja
secara cepat dan tepat agar meminimalkan pemaparan kontaminasi pada biakan
murni (Basslrl, 2005). Isi nutrien biakan murni dibuat miring untuk memperluas
permukaan agar dapat ditanami lebih banyak bakteri.

Karena isolat murni dibiakkan dalam medium padat dan diletakkan


dalam kondisi miring agar biakan semakin banyak, maka sifat koloni pada agar
miring yaitu berkisar pada bentuk dan koloni koloni. Bentuk koloni pada agar-
agar miring beraneka ragam seperti serupa batang, berduri, serupa tasbih, titik-
titik, serupa pedang dan serupa akar (Dwidjoseputro, 1989) seperti yang
ditampilkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Bentuk Koloni Bakteri pada Koloni Agar Miring

Namun, secara praktis, koloni amatan kelompok kami mengalami


kontaminasi. Aktivitas memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium
yang baru membutuhkan ketelitian yang tinggi. Terlebih dahulu diusahakan agar
semua alat yang ada hubungannya dengan medium dan inokulasi benar-benar
steril untuk menghindari kontaminasi yaitu masuknya mikroorganisme yang
tidak diinginkan. Dalam pemindahan dengan kawat inokulasi, ujung kawat
inokulasi sebaiknya dari platina atau dari nikrom. Ujung boleh lurus atau berupa
kolongan. Setelah pengambilan inokulum (sampel bakteri) selesai, mulut tabung
dipanasi kembali kemudian disumbat seperti semula untuk menjaga dari
kontaminasi.

2. Koloni Bakteri dari jari Tangan


Untuk pengamatan jumlah koloni bakteri pada jari tangan , praktikan
membaginya menjadi 4 kuadran dengan perlakuan sebagai berikut :
Kuadran I : Mengusap ibu jari secara merata pada permukaan
media.
Kuadran II : Mengusap jari telunjuk secara merata pada permukaan
media setelah mencuci tangan dengan sabun.
Kuadran III : Mengusap jari tengah secara merata pada permukaan
media setelah mencuci tangan dengan menggunakan
alkohol 70%.
Kuadran IV : Mengosongkan permukaan media sebagai kontrol.

Setelah diberi perlakuan tersebut selanjutnya cawan petri diinkubasi selama


24 jam pada suhu 37oCelcius. Hal ini bertujuan untuk membiakkan bakteri agar
berkembang biak secara optimal. Perlakukan ini sesuai dengan teori diatas
dimana perkembang biakkan bakteri dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu suhu,
kelembaban dan cahaya. Suhu diatur pada suhu badan karena bakteri yang akan
diamati berupa bakteri mesofil dimana ia tumbuh pada suhu 15o – 40o Celcius.
Kelembaban pada inkubator telah disesuaikan dengan kelembaban optimum
sehingga bakteri mesofil dapat tumbuh dengan optimum. Selain itu,
pencahayaan pada inkubator menggunakan bola lampu karena cahaya yang
dihasilkan tidak mengandung sinar ultraviolet yang dapat merusak bakteri.
Setelah diinkubasi selama 24 jam, terlihat bakteri pada cawan petri sudah
membentuk koloni. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembiakan telah
berhasil.
Pada kuadran I, praktikan menemukan ada 97 koloni bakteri. Jumlah bakteri ini
menunjukkan bahwa tangan praktikan meskipun tidak terlihat kotor tetapi
terdapat bakteri dalam jumlah yang sedang dibandingkan dengan jumlah dari
kelima percobaan praktikan yang lainnya. Hal ini terjadi karena tanpa disengaja
praktikan menggosok- gosokkan tangannya pada tangga besi yang telah
dipegang oleh banyak orang dan sedikit berdebu pada saat itu. Dari percobaan
yang telah dilakukan masing- masing kelompok dari kelompok 1-6
menghasilkan jumlah bakteri yang berbeda- beda yaitu 97 ekor, 97 ekor, 127
ekor, 431 ekor, 377 ekor, dan 20 ekor. Jumlah bakteri yang paling banyak pada
kelompok 4 dan paling sedikit pada kelompok 6. Perbedaan jumlah bakteri yang
ditemukan disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya yaitu tingkat
kebersihan tangan praktikan sebelum melakukan percobaan. Tangan yang kotor
akan menghasilkan bakteri dalam jumlah yang banyak.

Pada kuadran II, jumlah bakteri kelompok kami yang tadinya berjumlah
97 ekor naik menjadi 208 ekor. Hasil ini tidak sesuai dengan teori yang ada
bahwa sabun adalah suatu bahan yang digunakan untuk membersihkan kulit baik
dari kotoran maupun bakteri. Sabun yang dapat membunuh bakteri dikenal
dengan sabun antiseptik (Anton, 2008). Sabun antiseptik atau disebut juga
dengan sabun obat mengandung asam lemak yang bersenyawa dengan alkali dan
ditambah dengan zat kimia atau bahan obat. Sabun ini berguna untuk mencegah,
mengurangi ataupun menghilangkan penyakit atau gejala penyakit pada kulit
(Lubis, 2003). Pada kelompok kami jumlah bakteri yang ditemukan pada
kuadran II lebih banyak dibandingkan dengan kuadran I. Salah satu
kemungkinan yang menyebabkan hal itu adalah kurang lama dan kurang
meratanya pencucian tangan dengan sabun sehingga bakteri masih ada yang
menempel pada tangan tersebut. Dari data hasil percobaan kelompok 2-5
menunjukkan bahwa jumlah koloni bakteri pada kuadran II semakin berkurang
dari kuadran I.

Pada kuadran III, jumlah bakteri kelompok kami mengalami penurunan dari
208 ekor menjadi 41 ekor,dan 4 kelompok lainnya juga mengalami penurunan
yang drastis. Hasil percobaan tersebut sesuai dengan teori yang ada. Hal ini
disebabkan karena tangan yang diberi alkohol 70% memiliki lebih sedikit
bakteri dibandingkan tangan yang hanya dicuci dengan sabun. Alkohol
merupakan zat yang efektif dan dapat diandalkan untuk sterilisasi dan disinfeksi.
Hal ini didukung oleh pernyataan Zaldi (2009) bahwa alkohol
mendenaturasikan protein dengan jalan dehidrasi dan juga merupakan pelarut
lemak, sehingga membrane sel bakteri akan rusak dan enzim-enzim akan
dinonaktifkan oleh alkohol. Dalam praktikum ini, alkohol yang digunakan tidak
murni, melainkan hanya berkadar 70%. Konsentrasi alkohol ini cocok untuk
menjadi disinfektan. Sesuai dengan pernyataan lain oleh Zaldi bahwa etanol
murni kurang daya bunuhnya terhadap mikroba. Akan tetapi dari data keenam
kelompok yang dihasilkan ada satu kelompok yang jumlah bakterinya
mengalami kenaikan yaitu dari 15 ekor menjadi 30 ekor. Salah satu faktor yang
mengakibatkan hal itu terjadi yaitu kurang meratanya pemberian alkohol pada
tangan sehingga masih ada bakteri yang melekat.

Pada kuadran IV kelompok kami dan 4 kelompok lainnya tidak menemukan


bakteri pada permukaan media tersebut. Hal ini terjadi karena pada kuadran IV
dikosongkan atau sebagai kontrol, akan tetapi ada 1 data dari kelompok 3 yang
menemukan 2 bakteri di permukaan media pada kuadran IV. Hal tersebut terjadi
disebabkan oleh pengusapan jari pada kuadran I dan II yang melebihi batas
permukaan daerah masing- masing sehingga mengenai daerah kuadran IV.

H. KESIMPULAN

Koloni bakteri dapat ditemukan di berbagai tempat. Pengamatan


morfologi koloni bakteri meliputi warna, bentuk, tepi, elevasi (kenaikan
permukaan koloni), kepekaan koloni, mengkilat atau suram dan diameter koloni.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, walaupun pengambilan sampel
bakteri dari tempat yang sama atau dari satu tempat akan diperoleh koloni
bakteri dengan morfologi yang berbeda dan bervariasi, hal ini disebabkan karena
di lingkungan banyak sekali bakteri yang bercampur (mix culture). Berdasarkan
hasil isolasi, awalnya bentuk bakteri dapat diidentifikasi berdasarkan morfologi
yang dirujuk berdasarkan buku panduan praktikum, namun karena terkena
kontaminasi dari faktor luar yaitu lingkungan dan personal hygiene yang belum
sesuai maka biakan murni terkena kontaminasi.

DAFTAR PUSTAKA
Anton. 2008. Proses Aseptik Dalam Laboratorium. Bali: Udayana Press.

Basslrl, E. 2005. Microbiology. ebassiri@sas.upenn.edu.

Fardiaz,Srikandi.1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia Pustaka


Utama,Jakarta
Ika, P,. Hidayat. 2016. Mikrobiologi Dasar: Diktat Kuliah.
Lubis. 2003. Desinfektan Dalam Teknik Aseptik. Jakarta: Gagas Media.

Kusnandi, 2009. Dasar-Dasar Bakteriologi. Bandung: Universitas Pendidikan


Indonesia

Zaldi. 2009. Faktor Lingkungan Abiotik dan Biotik yang Mempengaruhi


Mikroba. Pontianak: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Muhammadiyah Pontianak