Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

MIKROBA ANTAGONIS DAN PEMBUATAN


MIKROBA STARTER

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Laporan Praktikum mata
kuliah Mikrobiologi Perikanan semester ganjil

Disusun oleh :
Kelompok 3 – C

Yaumil Akbar Rachim 230110160172


Raihan Wandri Samara 230110160173
Munawwar Johar Latif 230110160174
Ridho Wiranda Gurning 230110160176
Naufal Sofyan Ibrahim N 230110160177
Murfida Lefizani 230110160178
Farhan Aziz 230110160179
Ibrahim Abdullah 230110160180
Ayu Octrina 230110160182
Thessa Yusela 230110160183

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa., yang telah
melimpahkan berkat dan rahmat-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan praktikum Mikrobiologi. Sehubungan dengan tugas
praktikum mata kuliah Mikrobiologi, kami sebagai mahasiswa perikanan dituntut
untuk menyusun sebuah laporan praktikum berjudul “Mikroba Antagonis dan
Pembuatan Mikroba Starter”.
Kami menyadari bahwa laporan ini belum sempurna. Oleh karena itu,
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki laporan praktikum ini. Akhir kata kami berharap semoga
laporan praktikum mengenai mikroba antagonis dan pembuatan mikroba starter ini
dapat memperkaya wawasan tentang Mikrobiologi terhadap pembaca.

Jatinangor, Desember 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

BAB Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................ ii
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang . ................................................................................. 1
1.2 Tujuan. ............................................................................................... 2
1.2 Manfaat. ............................................................................................. 2
II LANDASAN TEORI
2.1 Fermentasi.......................................................................................... 3
2.2 Mikroba Antagonis ........................................................................... 3
2.3 Mikroba Starter ................................................................................. 5
III METODELOGI
3.1 Waktu dan Tempat ............................................................................. 6
3.2 Alat dan Bahan .................................................................................. 6
3.3 Prosedur Praktikum ........................................................................... 6
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan .............................................................................. 9
4.2 Pembahasan ..................................................................................... 10

V SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ...................................................................................... 13
5.2 Saran ................................................................................................ 13
VI PENDALAMAN .................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 16

ii
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman

1. Alat yang Digunakan dalam Praktikum .................................................... 6


2. Bahan yang Digunakan dalam Praktikum ................................................ 7
3. Hasil Pengamatan ..................................................................................... 9

iii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman

1. .....................................................................................................

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Fermentasi adalah proses perombakan senyawa kompleks yang terdapat
dalam bahan pengan menjadi senyawa lebih sederhana dengan bantuan enzim
yang berlangsung dalam suasana terkendali. Pengertian senyawa kompleks adalah
protein, lemak, dan karbohidrat. Selama proses fermentasi, senyawa kompleks ini
akan dirombak menjadi senyawa lebih sederhana. karbohidrat akan dirombak
menjadi glukosa; Protein yang terdiri dari sejumlah polipeptida akan dirombak
menjadi peptida atau senyawa asam amino; dan Lemak akan dirombak menjadi
senyawa asam lemak.
Mikroba memiki berbagai peran penting dalam suatu ekosistem. Peran ini
bisa diemban dalam kapasitasnya sebagai organisme tunggal (sel atau koloni)
maupun dalam kaitannya sebagai organisme yang memiliki kebutuhan dan
kemampuan untuk berinteraksi dengan organisme lain. Untuk membutuhkan dan
mengembangbiakkan mikroba diperlukan suatu substrat yang disebut medium.
Sedangkan medium itu sendiri sebelum digunakaan harus dalam keadaan steril
artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan agar mikroba
dapat tumbuh dan berkembangbiak dengan baik di dalam medium, maka diperlukan
syarat tertentu yang diantaranya bahwa didalam medium harus terkandung semua
unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroba
kemudian susunan makanannya, tekanan osmosis, derajar, keasaman (pH),
temperature, sterilisasi.
Mikroba mengeluarkan enzim untuk merombak bahan organik kompleks
yang ada di sekelilingnya. Dari hasil perombakan tersebut akan diperoleh
energi yang dibutuhkan bagi kehidupan mikroba dan senyawa sederhana
sebagai hasil sampingnya. Senyawa inilah yang banyak digunakan sebagao
bahan pangan atau obat – obatan. Enzim yang berperan dalam proses fermentasi
berasal dari bahan pangan tersebut, mikroba, atau bahan organik. Setiap bahan
pangan mengandung enzim yang mampu merombak senyawa kompleks menjadi

1
senyawa yang lebih sederhana. Setelah bahan pangan mati karena dipanen
atau ditangkap, aktivitas enzimnya masih aktif namun tidak terkendali.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada praktikan
mengenai teknologi fermentasi dan teknologi pengawetan ikan dan juga dapat
memahami cara pembuatan mikroba starter yang dapat digunakan sebagai mikroba
antagonis dalam memperpanjang masa simpan hasil perikanan.

1.3 Manfaat
Memahami bakteri antagonis dan peranannya serta mengetahui cara
pembuatan mikroba starter khususnya starter kubis yang menghasilkan bakteri
Lactobacillus sp.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Fermentasi
Fermentasi secara teknik dapat didefinisikan sebagai suatu proses oksidasi
anaerob atau partial anaerobic dari karbohidrat dan menghasilkan alkohol serta
beberapa asam. Namun banyak proses fermentasi yang menggunakan substrat
protein dan lemak (Muchtadi, 1989).
Hasil dari fermentasi terutama tergantung pada berbagai faktor, yaitu jenis
bahan pangan (substrat), macam mikroba dan kondisi di sekelilingnya yang
mempengaruhi pertumbuhan dan metabolisme mikroba tersebut. Mikroba yang
bersifat fermentatif dapat mengubah karbohidrat dan turunan-turunannya terutama
menjadi alkohol, asam dan CO2. Mikroba proteolitik dapat memecah protein dan
komponen-komponen nitrogen lainnya sehingga menghasilkan bau busuk yang
tidak diinginikan sedangkan mikroba lipolitik akan memecah atau menghidrolisa
lemak, fosfolipida dan turunannya dengan menghasilkan bau yang tengik (Winarno
et al., 1980).
Bila alkohol dan asam yang dihasilkan oleh mikroba fermentatif cukup tinggi
maka pertumbuhan mikroba proteolitik dan lipolitik dapat dihambat. Prinsip
fermentasi sebenarnya adalah mengaktifkan pertumbuhan dan metabolisme dari
mikroba pembentuk alkohol dan asam, dan menekan pertumbuhan mikroba
proteolitik dan lipolitik. Faktor- faktor yang mempengaruhi fermentasi yaitu jumlah
mikroba, lama fermentasi, pH (keasaman), substrat (medium), suhu, alkohol,
oksigen, garam dan air.

2.2 Mikroba Antagonis


Mikroba Antagonis adalah mikroba yang memiliki sifat berlawanan dengan
mikroba patogen atau pembusuk melalui mekanisme kerjanyanya. Antibiosis yaitu
penghambatan perkembangan suatu populasi mikroba akibat pembentukan
(pengeluaran) zat racun oleh populasi yang lain (Bakteriosin). Bakteriosin adalah

3
zat bersifat bakterisida yang dihasilkan oleh mikroba antagonis yang terhadap
mikroba patogen/pembusuk. Keunggulan mikroba antagonis aman bagi kesehatan
manusia dan lingkungan karena tidak menghasilkan residu racun, menghilangkan
ketergantungan terhadap bahan sintetis. Selain itu menurunkan biaya produksi
karena dapat diperoleh dari biakan alami dan dapat dikembangkan dengan
fermentasi.
Mikroba antagonis dalam menghambat aktifitas mikroba pembusuk
menggunakan tiga cara yaitu dengan menimbulkan persaingan makanan
sedemikian rupa sehingga bakteri pembusuk sulit mendapatkan makanan
(kompetisi). Dengan menurunkan pH sehingga aktifitas mikroba pembusuk dapat
terganggu dan tidak bertahan hidup (pengendalian lingkungan). Dengan
menghasilkan produk metabolit yang bersifat racun bagi mikroba merugikan
(bakteriosin).
Suatu bakteri antagonis dapat menghasilkan senyawa tunggal atau beberapa
senyawa tersebut. Selanjutnya Verschuere et al. (2000) mengemukakan bahwa
mekanisme bakteri antagonis yang dapat digunakan sebagai biokontrol adalah
menghasilkan senyawa penghambat pertumbuhan patogen, terjadi kompetisi
pemanfaatan senyawa tertentu atau kompetisi pemanfaatan energi, kompetisi
tempat menempel, mempertinggi tanggap kebal inang, meningkatkan kualitas air
dan adanya interaksi dengan fitoplankton atau zooplankton.
Sebagai contohnya Vibrio sp. NM 10 yang diisolasi dari Leiognathus nuchalis
bersifat antagonis terhadap Pasteurella piscicida karena menghasilkan protein
dengan berat molekul kurang dari 5 kDa. Protein tersebut diduga bacteriocin atau
senyawa serupa bacteriocin (bacteriocin-like substance) (Sugita et al., 1997).
Senyawa yang serupa juga ditemukan oleh Gibson et al. (1998) dari Aeromonas
media. Bacteriocin merupakan senyawa yang banyak dihasilkan oleh bakteri asam
laktat (lactic acid bacteria) (Ringo and Gatesoupe, 1998). Isnansetyo et al. (2002);
Kamei and Isnansetyo (2003) menemukan Pseudomonas sp. AMSN mampu
menghambat pertumbuhan V. alginolyticus karena menghasilkan senyawa 2,4
diacetylploroglucinol.

4
2.3 Mikroba Starter
Starter merupakan media berisi mikroba yang sudah diinaktifkan (immobile).
Dalam keadaan inaktif, kebutuhan mikroba terhadap energi demikian rendah.
Dengan demikian, pemanfaatan energi yang terkandung dalam media 10 starter
menjadi lambat sehingga kehidupanmikroba didalam starter dapat bertahan lama.
Starter dapat dibuat dengan mengendalikan lingkungan hidup mikroba
sehinggamikroba yang diharapkan tetap hidup dan mikroba lain tidak dapat tumbuh
dan berkembang. Kegagalan pengendalian lingkungan dapat menyebabkan
populasi mikroba yang diharapkan menjadi menurun atau aktivitasnya menurun.
Starter adalah populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang
siapdiinokulasikan pada media fermentasi. Starter mikroba dapat dijumpai dalam
berbagai bentuk, salah satunya adalah ragi untuk pembuatan roti. Mikroba pada
starter tumbuh dengancepat dan fermentasi segera terjadi. Media starter biasanya
identik dengan media fermentasi.Media ini diinokulasi dengan biakan murni dari
agar miring yang masih segar (umur 6 hari). (Holzapfel, 2002)
Starter baru dapat digunakan 6 hari setelah diinokulasi dengan biakan murni.
Pada permukaan starter akan tumbuh mikroba membentuk lapisan tipis berwarna
putih. Lapisan inidisebut dengan nata. Semakin lama lapisan ini akan semakin tebal
sehingga ketebalannyamencapai 1,5 cm. Starter yang telah berumur 9 hari (dihitung
setelah diinokulasi dengan biakan murni) tidak dianjurkan digunakan lagi karena
kondisi fisiologis mikrobatidak optimum bagi fermentasi, dan tingkat kontaminasi
mungkin sudah cukup tinggi. Volume starter disesuaikan dengan volume media
fermentasi yang akan disiapkan.Dianjurkan volume starter tidak kurang dari 5%
volume media yang akan difermentasi menjadi nata. Pemakaian starter yang terlalu
banyak tidak dianjurkan karena tidak ekonomis.
Mikroorganisme yang digunakan di dalam ragi umumnya terdiri atas berbagai
bakteri dan fungi (khamir dan kapang), yaitu Rhizopus, Aspergillus, Mucor,
Amylomyces, Endomycopsis, Saccharomyces, Hansenula anomala, Lactobacillus,
Acetobacter, dan sebagainya. Tujuan pembuatan starter pada ragi adalah untuk
memperbanyak yeast dan untuk melatih yeast tersebut pada kondisi yang akan
difermentasi. (Tamime, 2009)

5
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 29 November 2017 pada pukul
10.00 sampai selesai. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Avertebrata Air
dan Laboraturium Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.

3.2 Alat dan Bahan


Pelaksanaan praktikum ini digunakan alat-alat dan bahan sebagai berikut:

3.2.1 Alat Praktikum


Alat-alat yang digunakan pada praktikum pembuatan mikroba antagonis dan
mikroba starter disajikan dalam bentuk tabel berikut:

Tabel 1. Alat yang Digunakan dalam Praktikum


No Nama Alat Prinsip Kerja
1 Stoples Tempat pengembangbiakan mikroba starter
2 Pisau Untuk memotong kubis.
3 Talenan Alas memotong kubis
4 Timbangan Mengukur massa garam dan kubis
5 Piring stirofoam Tempat ikan kembung
6 Tisu tawl Untuk menyerap air
7 Cling warp Alat pembungkus
8 Gelas ukur Menghitung volume air
9 Beaker glass Menampung air cucian ikan
10 Tabung reaksi Tempat melakukan pengenceran
11 Petri dish Tempat mengembangbiakan mikroba
12 Bunsen Pembakar/sterilisasi
13 Refrigerator Lemari pendingin

3.2.1 Bahan yang digunakan


Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum inokulasi, isolasi, dan
identifikasi mikroba disajikan dalam bentuk tabel berikut:

6
Tabel 2. Bahan yang Digunakan dalam Praktikum
No Nama Bahan Prinsip Kerja
1 Nutrien Agar Media kultur bakteri.
2 Ikan Kembung Sampel
3 Garam 30% Pengendali kondisi
4 Kubis Habitat mikroba starter

3.3 Prosedur Kerja


3.3.1 Prosedur Mikroba Antagonis
Adapun prosedur kerja yang harus dilakukan oleh praktikan dalam proses
mikroba antagonis adalah sebagai berikut:

Ambil cairan hasil fermentasi sebanyak 50 persen volume yang ada lalu
tuang kedalam piring

Rendamkan ikan dalam media mikroba starter selama 30 menit dan


tiriskan

Ikan disimpan pada piring stirofoam dan dikemas dengan cling wrap

Simpan di lemari pendingin selama seminggu

Lakukan pengamatan

3.3.2 Pembuatan Starter Lactobacillus sp.


Adapun prosedur kerja yang harus dilakukan oleh praktikan dalam proses
adalah sebagai berikut:
Mensterilisasi stoples menggunakan sabun dan bilas dengan air hingga
bersih kemudian tiriskan

7
Potong kubis hingga berukuran panjang 5cm dan lebar 0.5cm

Masukan potongan kubis kedalam stoples dan ukur tingginya lalu


tambahkan air sebanyak 2 kali tinggi kubis dan ukur volumenya

Tambahkan pada stoples garam sebanyak 30 persen dari volume air

Stoples ditutup dan simpan di tempat sejuk lalu biarkan berlangsung proses
fermentasi selama tujuh hari

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Berikut adalah hasil pengamatan dari praktium antagonis dan starter mikroba.
Tabel 3. Hasil Pengamatan
Sebelum Sesudah
Organoleptik
Ikan Nila Ikan Kembung Ikan Nila Ikan Kembung
Aroma Tidak segar / Segar / berbau Bau busuk Berbau khas
berbau busuk khas ikan sangat ikan kembung
kembung menyengat semakin tajam

Tekstur Tidak elastis Elastis Lunak dan Semakin lunak


daging dan sudah berwarna dan menjadi
mengeras putih pucat tidak elastis

Mata Pupil mata Pupil mata Berwarna Berwarna


hitam sedikit putih dan kekuningan
menonjol menonjol dan lunak dan lunak
warna mata
tidak jernih

Insang Insang Insang Insang Insang


berwarna berwarna berwarna berwarna
merah merah merah gelap merah
kecoklatan kecoklatan kecoklatan kecoklatan dan
sedikit ke abu- dan sedikit terlihat pucat
abuan terlihat
pucat

Lender Lendir lengket Sedikit lender Lender Warna lendir


dan berwarna dan berwarna berwarna kuning
kekuningan bening kuning kecoklatan,
kecoklatan, lengket dan
lengket dan semakin
semakin banyak
banyak

Warna Warna kulit Warna kulit Warna kulit Warna kulit


pudar dan masih bagus pucat dan menjadi lebih
pucat dan terlihat semakin pucat
segar memudar

9
4.2 Pembahasan
Fermentasi adalah proses perombakan senyawa kompleks yang terdapat
dalam bahan pangan menjadi senyawa lebih sederhana dengan bantuan enzim yang
berlangsung dalam suasana terkendali. Pengertian senyawa kompleks adalah
protein, lemak, dan karbohidrat. Selama proses fermentasi, senyawa kompleks ini
akaan dirombak menjadi senyawa lebih sederhana. Karbohidrat akan dirombak
menjadi glukosa, protein yang terdiri dari sejumlah polipeptida akan dirombak
menjadi peptide atau senyawa asam amino, dan lemak akan dirombak menjadi
senyawa asam lemak (Nainggolan, 2009).
Perendaman kubis menggunakan ekstrak nenas dilakukkan untuk
menumbuhkan bakteri antagonis sebagai starter, karena ekstrak nenas yang bersifat
asam sehingga mampu mencegah tumbuhnya mikroba-mikroba pembusuk yang
tidak diinginkan karena mikroba pembusuk terhambat pertumbuhannya pada
kondisi asam, sedangkan bakteri antagonis itu sendiri tahan atau mampu hidup
dalam kondisi asam.
Kubis digunakan pada saat persiapan starter bertujuan untuk terjadinya
fermentasi asam laktat sehingga menghasilkan bakteri asam laktat (BAL). Kubis
menyimpan kandungan gizi terutama karbohidrat untuk dimanfaatkan dalam
fermentasi asam laktat tersebut. Bakteri asam laktat itu sendiri berfungsi sebagai
pengawet alami pada makanan sehingga dapat membantu mengawetkan ikan yang
dipraktikumkan. Bakteri asam laktat juga mampu menurunkan pH sehingga dapat
mencegah timbulnya bakteri pembusuk. Meningkatnya jumlah asam laktat selain
menurunkan nilai pH juga akan mempengaruhi nilai total asam tertitrasi (Fardiaz,
1989).
Makanan yang mengandung asam biasanya tahan lama, tetapi jika gen cukup
jumlahnya dan kapang dapat tumbuh serta fermentasi berlangsung terus, maka daya
awet dari tersebut akan hilang. Pada keadaan ini mikroba proteolitik dan lipolitik
dapat berkembang biak. Dalam hal ini mula mula adalah Streptococcus lactis
sehingga dapat menghasilkan asam laktat. Tetapi pertumbuhan selanjutnya dari
bakteri ini akan terhambat oleh keamsamaan yang dihasilkannya sendiri. Oleh
karena itu bakteri tersebut akan menjadi inaktif sehingga kemudian akan tumbuh

10
bakteri jenis Lactobacillus yang lebih toleran terhadap asam daripada
Streptococcus. Lactobacillus juga akan menghasilkan asam lebih banyak lagi
sampai jumlah tertentu yang dapat menghambat pertumbuhannya, selama
pembentukan asam tersebut pH akan menurun (Suharto, 1994).
Berdasarkan tabel pengamatan kelompok 3 diatas dapat diamati keadaan
aroma, tekstur daging, mata, insang, lendir, dan warna pada ikan nila dan ikan
kembung sebelum dan sesudah di beri sampel kubis dan ekstrak nenas, dimana ikan
nila sebelum di beri sampel kubis dan ekstrak nenas memiliki aroma tidak segar /
berbau busuk, dengan tekstur daging tidak elastis dan sudah mengeras, mata ikan
nila memiliki pupil mata hitam menonjol, insang berwarna merah kecoklatan, lendir
lengket dan berwarna kekuningan, dan warna kulit pudar dan pucat. Saat ikan nila
diberikan sampel kubis dan nanas maka keadaan yang diamati sesudah perlakuan
tersebut adalah ikan nila memiliki aroma bau busuk sangat menyengat, tesktur
daging lunak dan berwarna putih pucat, mata berwarna putih dan lunak, insang ikan
nila yang berwarna merah gelap kecoklatan dan sedikit terlihat pucat, lendir
berwarna kuning kecoklatan, lengket dan semakin banyak, dan warna kulit pucat
dan semakin memudar.
Selain memberi perlakuan pada ikan nila, pada praktikum mikrobiologi ini
juga mengamati perlakuan pada ikankembung dengan memberikan sampel yang
sama yaitu kubis dan ekstrak nenas, dimana sebelum diberi perlakuan sampel kubis
dan nanas dapat dilihat aroma ikan kembung segar / berbau khas ikan kembung,
tekstur daging elastis, mata pada ikankembung memiliki pupil mata sedikit
menonjol dan warna mata tidak jernih, insang berwarna merah kecoklatan sedikit
ke abu-abuan, memiliki sedikit lendir dan berwarna bening, dengan warna kulit
masih bagus dan terlihat segar. Sesudah diberi perlakuan kubis dan nanas keadaan
ikan kembung berdasarkan pengamatan diatas adalah ikan kembung memiliki
aroma berbau khas ikan kembung semakin tajam, tekstur daging semakin lunak dan
menjadi tidak elastis, mata berwarna kekuningan dan lunak, insang berwarna merah
kecoklatan dan terlihat pucat, warna lendir kuning kecoklatan, lengket dan semakin
banyak, warna kulit menjadi lebih pucat.

11
Berdasarkan hasil praktikum, starter dengan kondisi berbeda mempengaruhi
bakteri yang akan tumbuh. Pada pengamatan kelompok 3 dengan menggunakan
sample kubis dan ekstrak buah nanas lebih mudah ditumbuhi oleh mikroba jenis
Acetobacter xylinum mampu mengoksidasi glukosa menjadi polimer yang panjang
yang disebut selulosa. Dapat dilihat dari kulitas ikan nila dan ikan kembung
sebelum dan sesudah diberi perlakuan kubis dan ekstrak nanas kualitas ikan nila
dan ikan kembung semakin tidak segar karena adanya aktivitas bakteri yang
terdapat pada ikan yang membuat keadaan aroma, tekstur daging, mata, insang,
lendir, dan warna ikan nila dan ikan kembung semakin tidak segar dan menjadi
busuk.

12
BAB V
Kesimpulan dan Saran

5.1. Kesimpulan

5.2. Saran

13
BAB VI
PENDALAMAN

1. Bagaiamana anda mengetahui bahwa starter telah tumbuh? Jelaskan.


Jawab:
Cara mengetahui bahwa starter telah tumbuh dengan baik dapat dibuktikan
dari bau larutan starter tersebut. Starter yang tidak ditumbuhi mikroba Lactobacillus
plantanum akan berbau busuk saat dicium sedangkan starter yang ditumbuhi
Lactobacillus plantanum tidak akan berbau busuk. Bau busuk ini disebabkan oleh
tidak tumbuhnya mikroba asam laktat sehingga yang tumbuh adalah mikroba
pembusuk yang menyebabkan larutan bebau busuk

2. Apakah lama perendaman ikan dalam larutan media mikroba starter


memberikan perbedaan terhadap penurunan tingkat kesegaran hasil
perikanan? Jelaskan.
Jawab :
Iya, dengan perbedaan lama perendaman ikan dalam larutan mikroba starter
memberikan perbedaan terhadap penurunan tingkat kesegaran hasil perikanan.
Semakin lama melakukan perendaman, maka semakin rendah tingkat penurunan
kesegaran ikan atau kesegaran ikan lebih terjaga, karena dengan semakin lamanya
dilakukan perendaman ikan terhadap mikroba starter, maka akan makin banyak
pula mikroba antagonis yang tumbuh pada ikan, dengan banyaknya mikroba
antagonis yang terdapat pada ikan, maka mikroba antagonis ini dapat menekan
pertumbuhan mikroba pembusuk pada ikan dengan cara menimbulkan persaingan
makan/ nutrisi, menurunkan pH lingkungan, dan menghasilkan produk metabolit
yang bersifat racun bagi mikroba – mikroba merugikan.

3. Dari mana datangnya mikroba Lactobacillus plantarum pada starter?


Jawab :
Lactobacillus plantarum datangnya dari potongan kubis yang ditambahkan
air bergaram tersebut menyimpan kandungan gizi, terutama karbohidrat untuk bisa

14
dimanfaatkan dalam fermentasi asam laktat untuk menghasilkan bakteri asam
laktat. Larutan garam tersebut menyebabkan hanya bakteri asam laktat yang dapat
tumbuh. Adanya garam menjadikan air dan zat gizi seperti gula tertarik keluar
secara osmosis dari sel-sel sayuran. Gula-gula dalam cairan tersebut merupakan
makanan bagi bakteri asam laktat, yang selanjutnya diubah menjadi asam laktat.
Asam laktat inilah yang berfungsi sebagai pengawet produk tersebut.

4. Jelaskan fungsi kubis dan garam dalam pembuatan mikroba strater?


Jawab:
Bahan dasar sayuran seperti kubis yang digunakan pada pembuatan mikroba
starter ini menjadi medium pertumbuhan bagi bakteri asam laktat. Bahan-bahan ini
akan melakukan fermentasi bersama dengan garam yang akan menarik air dan zat
gizi dari jaringan sayuran sebagai pelengkap subsrat untuk petumbuhan bakteri
asam laktat yang terdapat pada permukaan daun-daun kubis. Bakteri asam laktat
pada kubis ini akan memfermentasi gula-gula menjadi asam laktat melalui jalur
glikolisis secara anaerob. Garam berfungsi sebagai penghambat alami bagi
pertumbuhan mikroba pembusuk. Selain itu, garam juga berperan untuk menarik
air dan nutrisi dari kubis yang kemudian nutrisi ini akan digunakan oleh mikroba
asam laktat untuk metabolisme.

15
DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E. 2012. Modul Praktikum Mikrobiologi Perikanan “Pembuatan


Starter”. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Padjadjaran Jatinangor.

Chatim dan Suharto. 1994. Sterilisasi dan Disinfeksi. Buku Ajar Mikrobiologi
Kedokteran. Edisi Revisi. Binarupa Aksara. Jakarta.

Fardiaz S. 1989. Mikrobiologi Pangan. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian


Bogor. Bogor.

Gibson, L.F., J. Woodworth, and A.M. Goerge. 1998. Probiotic activity of


Aeromonas media on the Pacific oyster, Crassostrea gigas, when challenged
with Vibrio tubiashii. Aquaculture. 169: 111-120.

Holzapfel, W.H. dan U. Schillinger. 2002. Introduction to pre- and probiotics. Food
Res. Int. 35: 109-116

Hutagaol Yon Pither. 2011. Laporan Mikrobiologi Pengolahan. http://


simpleoflive.blogspot.com. Diakses pada tanggal 5 Desember 2017.

Kamei, Y. and A. Isnansetyo. 2003. Lysis of methicillin-resistant Staphylococcus


aureus by 2,4-diacetylphloroglucinol produced by Pseudomonas sp. AMSN
isolated from a marine alga. Int. J. Antimicrob. Agents. 21: 71-74.

Lukas, S. 2006. Formulasi Steril. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Muchtadi, T. R. dan Sugiono. 1989. Petunjuk Laboratorium Ilmu Pengetahuan


Bahan Pangan. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi
Institut Pertanian Bogor.

Nainggolan, Jusman. 2009. Kajian Pertumbuhan Bakteri Acetobacter sp. dalam


Kombucha rosella merah pada kadar gula dan lama fermentasi yang
berbeda. Medan, Sumatera Utara.

Ringø, E. and F-J. Gatesaupe. 1998. Lactic acid bacteria in fish: a review.
Aquaculture. 160: 177-203.

Sugita, H., N. Matsuo, Y. Hiroshe, M. Iwato and Y. Deguchi. 1997. Vibrio sp. strain
NM 10 with an inhibitory effect against Pasteurella piscicida from the
intestine of Japanese coastal fish. Appl. Environ. Microbiol. 63(12): 4986-
4989.

16
Tamime, A. Y. 2002. Microbiology of starter cultures. In: Robinson, R. K. ed.
Dairy Microbiology. Handbook. 3rd ed. Pp. 261-366. A John Wiley and
Sons, Inc., USA.

Verschuere, L., G. Rombout, G. Huys, J. Dhont, O. Sorgeloos, and W. Verstraete.


1999. Microbial control of the culture Artemia juveniles through pre-
emptive colonization by selected bacterial strain. App. Environ. Microbiol.
65: 2527-2533.

Winarno, F.G., S. Fardiaz dan D. Fardiaz, 1988. Pengantar Teknologi Pangan.


Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

17