Anda di halaman 1dari 26

PEMEROLEHAN BUKTI DALAM AUDIT KINERJA

PENGERTIAN BUKTI AUDIT


Dari sudut pandang auditor bukti adalah fakta dan informasi yang dapat
digunakan sebagai dasar pembuatan kesimpulan audit. Bukti harus
mempunyai hubungan dengan kriteria audit yaitu objektif, relevan, dan
bermakna (material). Dalam proses audit, auditor harus dapat menganalisis
dan menentukan fakta dan informasi yang relevan, andal, dan berkaitan
dengan tujuan audit.
Sedangkan menurut Sawyers, bukti audit (audit evidence) adalah
informasi yang diperoleh auditor melalui pengamatan suatu kondisi,
wawancara dan pemeriksaan catatan. Bukti audit harus memberikan dasar
nyata untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti audit terdiri
atas bukti fisik, pengakuan, dokumen dan analitis.
Leo Herbert mendifinisikan bukti audit sebagai berikut:
“Evidence is the facts and information used to came a conclusion on an
audit objective; and these must be planned for, gathered, and analyzed before
any conclusion can be determined.”
Bukti audit adalah fakta dan informasi yang akan digunakan untuk
mengambil keputusan dari tujuan audit; pengambilan bukti harus
direncanakan, dan dikumpulkan dan dianalisa sebelum keputusan
ditetapkan.
Dapat disimpulkan bahwa bukti audit adalah fakta dan informasi yang
diperoleh auditor melalui pengamatan suatu kondisi, wawancara, dan
pemeriksaan catatan yang dapat digunakan untuk pembuatan kesimpulan
audit dari tujuan audit.

JENIS BUKTI AUDIT


Auditor manajemen harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam
setiap penugasannya, mengetahui fakta dan informasi yang reliable,significan,
dan relevan dengan tujuan audit. Bukti audit dapat dikelompokan ke dalam
empat kelompok yaitu:
1. Bukti analisis (analytical evidence): Bukti audit harus sesuai dengan
kenyataan. Bukti analisis adalah bukti yang diperoleh auditor dari hasil
penerapan pengetahuan dan keahliannya atas fakta dan informasi yang
diperolehnya selama pekerjaan audit berlangsung. Bukti audit ini
memilki tingkat kepercayaan paling tinggi bagi auditor, karena
merupakan hasil analisisnya sendiri.
2. Bukti langsung (direct evidence); Bukti yang diperoleh langsung dari
sumber yang kompeten dan berwenang, misalnya bukti pembelian yaitu
faktur asli yang diterbitkan oleh penjual. Kepemilikan gedung, berupa
akte jual beli dan balik nama dari notaris. Bukti ini mempunyai
kekuatan hokum yang pasti, sehingga memiliki kekuatan untuk
dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh auditor.
3. Bukti tidak langsung (circumstantial, or indirect evidence); bukti ini
diperoleh dari sumber bukan utama, misalnya bukti hasil wawancara
dengan karyawan tentang kondisi mesin yang digunakan dalam proses
produksi, bukti konfirmasi, bukti pernyataan dsb.
4. Bukti terbaik dan sekunder (best and secondary evidence); Bukti terbaik
dapat diartikan sebagai bukti asli (dokumen asli), sementara bukti
sekunder dapat dikatakan sebagai duplikat (kopi) dari bukti atau
dokumen asli. Dalam berbagai kondisi, bukti asli sebaiknya digunakan
terlebih dahulu sebelum bukti-bukti lain digunakan. Contoh bukti
kelompok ini adalah copy kontrak, untuk bukti jenis ini auditor harus
meyakinkan diri bahwa bukti tersebut sesuai dengan aslinya. Bukti jenis
ini mempunyai tingkat kepercayaan yang lemah dibandingkan dengan
bukti original.

 Kualitas dan reliabilitas bukti akan sangat berpengaruh pada kesimpulan


auditor. Berdasarkan kualitas dan reliabilitas bukti, dapat diklasifikasi
menjadi :
1) Bukti yang relevan yaitu bukti yang berkaitan erat dengan pokok
permasalahan yang sedang dibahas auditor. Bukti ini harus mempunyai
keterkaitan secara logis dengan criteria dari tujuan audit.
2) Bukti yang material; bukti yang sangat mempengaruhi auditor dalam
mengambil keputusan. Materialitas bukti dapat diukur dengan jumlah
uang secara absolute atau penting tidaknya dengan poko masalah dan
tujuan audit. Penilaian materialitas ini sangat subyektif menurut
pertimbangan auditor.
3) Bukti kompeten; bukti ini merupakan bukti yang diperoleh dari sumber
berwenang dan independen. Beberapa kriteria untuk bukti kompeten:
a. Bukti diperoleh dari sumber independen, dengan jaminan
kepercayaan yang tinggi terpisah dari organisasi yang diaudit.
b. Bukti yang diperoleh dari organisasi dengan system pengendalian
intern yang baik.
c. Bukti yang diperoleh sendiri oleh auditor, seperti bukti hasil
pemeriksaan fisik, hasil observasi, atau hasil perhitungan atau
analisis auditor.
d. Dokumen asli, bukac copy.
4) Bukti yang cukup (sufficiency evidence); bukti yang cukup artinya bukti
yang akan memberikan kesimpulan yang yang sama dengan auditor.
Dengan bukti yang cukup orang lain tidak akan dapat
mempermasalahkan kesimpulan auditor.

 Adapun menurut sifatnya, bukti audit dibedakan menjadi :


1. Bukti fisik (physical evidence) diperoleh dengan mengamati orang,
properti, dan kejadian. Bukti ini dapat berbentuk observasi oleh
pengamat, atau oleh foto, bagan, peta, grafik atau gambar-gambar
lainnya. Bukti grafik bersifat persuasive. Semua pengamatan harus
didukung oleh contoh-contoh dokumen. Jika pengamatan merupakan
satu-satunya bukti, maka lebih disukai bila ada dua atau lebih auditor
yang melakukan pengamatan fisik yang penting. Jika dimungkinkan,
wakil dari klien harus menemani auditor dalam pemeriksaan tersebut.
2. Bukti Pengakuan (testimonial evidence) berbentuk surat atau pernyataan
sebagai jawaban atas pertanyaan. Bukti ini jika dimungkinkan masih
harus didukung oleh dokumentasi.
3. Bukti dokumen (documentary evidence) merupakan bentuk bukti audit
yang paling biasa. Dokumen dapat berasal dari eksternal maupun
internal. Bukti dokumen eksternal mencakup surat atau memorandum
yang diterima oleh klien, faktur-faktur pemasok, dan lembar
pengemasan. Bukti dokumen internal dibuat dalam organisasi klien,
mencakup catatan akuntansi, salinan korespondensi ke pihak luar,
laporan penerimaan melalui email, dll
Sumber bukti dokumen akan mempengaruhi keandalannya. Sebuah
dokumen eksternal yang diperoleh langsung dari sumbernya (misal
sebuah konfirmasi) lebih andal dibandingkan dokumen yang di dapat
dari klien.
4. Bukti Analitis (analytical evidence), berasal dari analitis dan verifikasi.
Sumber-sumber bukti ini adalah perhitungan: perbandingan dengan
standar yang ditetapkan, operasi masa lalu, operasi yang serupa, dan
hukum atau regulasi; pertimbangan kewajaran; dan informasi yang
telah dipecah ke dalam bagian-bagian kecil.

 Berdasarkan prosedur audit, bukti audit dapat dikelompokkan ke dalam 9


jenis bukti. Berikut ini dikemukakan ke Sembilan jenis bukti tersebut:
1. Struktur Pengendalian Intern
Struktur pengendalian intern dapat dipergunakan untuk mengecek
ketelitian dan dapat dipercayai data akuntansi. Kuat lemahnya struktur
pengendalian intern merupakan indicator utama yang menentukan
jumlah bukti yang harus dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur
pengendalian intern merupakan bukti yang kuat untuk menentukan
dapat atau tidaknya informasi keuangan dipercaya.
2. Bukti Fisik
Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama
kas dan persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan
aktiva berwujud. Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap
aktiva merupakan cara yang paling obyektif dalam menentukan kualitas
yang bersangkutan. Oleh karena itu, bukti fisik merupakan jenis bukti
yang paling dapat dipercaya.
Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi
penghitungan, dan observasi. Pada umumnya biaya memperoleh bukti
fisik sangat tinggi. Bukti fisk berkaitan erat dengan keberadaan atau
kejadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.
3. Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi seperti jurnal dan buku besar, merupakan sumber
data untuk membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti catatan
akuntansi merupakan obyek yang diperiksa dalam audit laporan
keuangan. Ini bukan berarti catatan akuntansi merupakan obyek audit.
Obyek audit adalah laporan keuangan. Tingkat dapat dipercayanya
catatan akuntansi tergantung kuat lemahnya struktur pengendalian
intern.
4. Konfirmasi
Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu
komunikasi lansgung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan
informasi tentang unsure tertentu yang berdampak terhadap asersi
laporan keuangan. Konfirmasi merupakan bukti yang sangat tinggi
reliabilitasnya karena berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga
secara langsung dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak menghabiskan
waktu dan biaya.
Ada tiga jenis konfirmasi, yaitu:
a. Konfirmasi positif
b. Blank confirmation
c. Konfirmasi negative

Konfirmasi yang dilakukan auditor pada umumnya dilakukan pada


pemeriksaan:
a. Kas di bank dikonfirmasikan ke bank klien
b. Piutang usaha dikonfirmasikan ke pelanggan
c. Persediaan yang disimpan di gudang umum. Persediaan ini
dikonfirmasikan ke penjaga atau kepala gudang
d. Hutang lease dikonfirmasikan kepada lessor

5. Bukti Dokumenter
Bukti documenter merupakan bukti yang paling penting dalam audit.
Menurutr sumber dan tingkat kepercayaannya bukti, bukti documenter
dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor
secara langsung
b. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor
melalui klien
c. Bukti documenter yang dibuat dan disimpan oleh klien
Bukti dokumenter kelompok a mempunyai kredibilitas yang lebih
tinggi daripada kelompok b. Bukti dokumenter kelompok b mempunyai
kredibilitas yang lebih tinggi daripada kelompok c. bukti dokumenter
meliputi notulen rapat, faktur penjualan, rekening koran bank (bank
statement), dan bermacam-macam kontrak. Reliabilitas bukti
documenter tergantung sumber dokumen, cara memperoleh bukti, dan
sifat dokumen itu sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat kemungkinan
terjadinya kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan
dokumen. Bukti documenter banyak digunakan secara luas dalam
auditing. Bukti documenter dapat memberikan bukti yang dapat
dipercaya (reliabel) untuk semua asersi.
6. Bukti Surat Pernyataan Tertulis
Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang
ditandatangani seorang individu yang bertanggung jawab dan
berpengetahuan mengenai rekening, kondisi, atau kejadian tertentu.
Bukti surat pernyataan tertulis dapat berasal dari manajemen atau
organisasi klien maupun dari dari sumber eksternal termasuk bukti dari
spesialis. Reprentation letter atau representasi tertulis yang dibuat
manajemen merupakan bukti yang berasal dari organisasi klien. Surat
pernyataan konsultan hokum, ahli teknik yang berkaitan dengan kegiatan
teknik operasional organisasi klien merupakan bukti yang berasal dari
pihak ketiga. Bukti ini dapat menghasilkan bukti yang reliable untuk
semua asersi.
7. Perhitungan Kembali sebagai Bukti Matematis
Bukti matematis diperoleh auditor melalui perhitungan kembali
oleh auditor. Penghitungan yang dilakukan auditor merupakan bukti
audit yang bersifat kuantitatif dan matematis. Bukti ini dapat digunakan
untuk membuktikan ketelitian catatan akuntansi klien. Perhitungan
tersebut misalnya:
a. Footing untuk meneliti penjumlahan vertical
b. Cross-footing untuk meneliti penjumlahan horizontal
c. Perhitungan depresiasi
Bukti matematis dapat diperoleh dari tugas rutin seperti
penjumlahan total saldo, dan perhitugnan kembali yang rumit seperti
penghitungan kembali anuitas obligasi. Bukti matematis menghasilkan
bukti yang handal untuk asersi penilaian atau pengalokasian dengan
biaya murah.

8. Bukti Lisan
Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan
dengan manusia, sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan lisan. Masalah yang ditanyakan antara lain meliputi
kebijakan akuntansi, lokasi dokumen dan catatan, pelaksanaan
prosedur akuntansi yang tidak lazim, kemungkinan adanya utang
bersyarat maupun piutang yang sudah lama tak tertagih. Jawaban atas
pertanyaan yang ditanyakan merupaka bukti lisan. Bukti lisan harus
dicatat dalam kertas kerja audit. Bukti ini dpat menghasilkan bukti yang
berkaitan dengan semua asersi.

9. Bukti Analitis dan Perbandingan


Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data
klien dengan anggaran atau standar prestasi, trend industry, dan kondisi
ekonomi umum. Bukti analitis menghasilkan dasar untuk menentukan
kewajaran suatu pos tertentu dalam laporan keuangan dan kewajaran
hubungan antas pos-pos dalam laporan keuangan. Keandalan bukti
analitis sangat tergantung pada relevansi data pembanding. Bukti analitis
berkaitan serta dengan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan,
dan penilaian atau pengalokasian.
Bukti analitis meliputi perbandingan atas pos-pos tertentu antara
laporan keuangan tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun
sebelumnya. Perbandingan in dilakukan untuk meneliti adanya
perubahan yang terjadi dan untuk menilai penyebabnya.
TUJUAN PEROLEHAN BUKTI AUDIT
Tujuan Perolehan Bukti Audit adalah untuk menentukan bahwa:
1. Kriteria atas kegiatan yang diaudit sudah sesuai dan dapat diterima
2. Terdapat pelaksanaan yang menyimpang (baik tidak diterapkannya
prosedur yang sudah ditetapkan untuk setiap program/aktivitas atau
tidak dilakukannya pengendalian/supervisi yang semestinya atas
kegiatan yang diaudit) merupakan penyebab dari timbulnya akibat yang
kurang menguntungkan bagi kegiatan yang diaudit.
3. Terdapat akibat yang cukup penting dan material dari terjadinya
perbedaan antara kondisi dengan kriteria yang telah ditetapkan

Dalam proses pengumpulan bukti audit, auditor melakukan empat


pengambilan keputusan yang saling berkaitan, yaitu :
1) Penentuan prosedur audit yang akan digunakan.
2) Penentuan besarnya sampel untuk prosedur audit tertentu.
3) Penentuan unsur tertentu yang harus dipilih dari populasi.
4) Penentuan waktu yang cocok untuk melaksanakan prosedur audit
tertentu.

SUMBER-SUMBER BUKTI
Sumber bukti adalah tempat dimana auditor memperoleh fakta dan
informasi yang akan dijadikan dasar penngambilan keputusannya.
Menurut Leo Herbert, kompetensi dari bukti audit berkaitan dengan
sumber. Sumber dalam hal ini berkaitan dengan yang berasal dari sebuah
pandangan dan yang berasal dari dunia nyata. Berdasarkan persyaratan
tersebut maka bukti audit hanya dapat berasal dari tiga sumber yaitu :
Pandangan auditor yang berkaitan dengan dunia nyata (bukti
observasi).
Pandangan orang lain yang berkaitan dengan dunia nyata yang
disampaikan kepada auditor (bukti testimonial).
Karakteristik khususs dari suatu item yang terkait dengan realitas yang
dapat dirassakan oleh siapa saja (bukti tercatat).

v Bukti Tercatat (Records Evidence)

Sebagai sebuah pernyataan umum, sumber tunggal yang paling penting


dari fakta dan informasi yang digunakan auditor sebagai bukti adalah catatan.
Catatan didalamnya termasuk semua informasi tertulis.

v Bukti Testimonial (Testimonial Evidence)

Sebuah bukti testimoni adalah berbagai informasi yang diterima dari pihak
lain atau diri sendiri, yang bertindak sebagai saksi ahli sebagai hasil dari
sebuah pertanyaan langsung. Permintaan bukti testimoni dapat
diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu :
§ Bukti Interview Personal
Auditor menerima beberapa bukti terhandalnya melaui interview secara
mendalam terhadap orang lain yang memiliki pengetahuan menganai subjek.
§ Bukti Surat dan Konfirmasi

Informasi yang digunakan sebagai bukti dalam laporan audit seringkali


diperoleh melalui surat (korespondensi) dan konfirmasi.
§ Bukti analitikal

Sebagian besar hasil rinci dari auditor membuat evaluasi atau analisisnya
sendiri. Hasil analisis ini dapat digunakan sebagai bukti (bukti analitis).
Berkaitan secara langsung dengan bukti analitis adalah bukti yang diperoleh
auditor dari saksi ahli lainnya.
v Bukti observasi (Observation Evidence)

Auditor memperoleh sejumlah bukti substansial melalui indra


penglihatan dan perasanya. Bukti observasi harus berasal dari seseorang yang
melatih dirinya menjadi seorang pengamat (observer).

KECUKUPAN DAN KOMPETENSI BUKTI AUDIT


Berkaitan dengan kuantitas Bukti audit. Faktor yang mempengaruhi
kecukupan bukti audit meliputi:
ñ Materialitas.
ñ Resiko Audit
ñ Faktor – faktor ekonomi.
ñ Uuran dan karakteristik populasi

Kompetensi Bukti Audit

Kompetensi bukti adalah berkaitan dengan kuantitas atau mutu dari bukti–
bukti tersebut. Bukti yang kompeten adalah bukti yangdapat dipercaya , sah ,
obyektif , dan relevan.
Untuk menentukan kompetensi bukti harus mempertimbangkan berbagai
faktor , yaitu :
ñ Sumber bukti ,
ñ Relevansi bukti ,
ñ Obyektivitas bukti ,
ñ Saat atau waktu.
Bukti kurang kompeten Faktor Kompetensi Bukti Lebih
Kompeten
Dari luar
Dari dalam perusahaan perusahaan yg
independen

SUMBER Pengendalian intern


Pengendalian intern
baik
lemah
Perolehan atau Perolehan atau
pengetahuan tidak pengetahuan
langsung langsung
Relevan tidak langsung RELEVANSI Relevan langsung
Subyektif OBYEKTIVITAS Obyektif
Bukti diterapkan
Bukti di terapkan pada
SAAT/WAKTU pada tgl
selain pada tgl neraca
neraca

Judgementatau pertimbangan yang dilakukan auditor dipengaruhi berbagai


faktor , yaitu :
1)Pertimbangan profesional auditor.
2)Integritas manajemen.
3)Transaksi yang terjadi di perusahaan.
4)Jenis kepemilikan perusahaan.
5)Kondisi keuangan perusahaan.

KUALITAS DAN KEANDALAN BUKTI


Dalam menentukan akseptabilitas dan reliabilitas dari bukti audit, auditor
harus memperhatikan empat hal berikut ini :
v Relevansi Bukti
Relevansi disini berarti bahwa informasi yang digunakan sebagai bukti harus
memiliki hubungan logis terhadap criteria dari tujuan audit.
v Materialitas Bukti
Materialitas bukti berkaitan dengan bobot peranan masing-masing potongan
bukti dalam mempengaruhi pemikiran auditor terhadap kesimpulan atas
tujuan audit.
v Kompetensi Bukti
Kompetensi adalah keandalan satu tempat pada sumber informasi yang
digunakan sebagai bukti.
Beberapa panduan untuk menentukan bukti yang kompeten diantaranya
adalah :
a. Bukti yang diperoleh dari sumber independen memberikan jaminan
keandalan yang lebih besar daripada sumberi yang diperoleh dari organisasi
yang tengah diaudit.
b. Bukti yang dikembangkan dibawah sebuah sistem pengendalian internal
yang baik akan lebih andal daripada yang diperoleh dari sistem
berpengandalian lemah atau tidak memuaskan.
c. Bukti yang diperoleh auditor melalui pemerksaan fisik, pengamatan,
perhitungan, dan inspeksi akan lebih andal daripada bukti yang diperoleh
secara tidak langsung.
d. Dokumen asli akan lebih andal daripada suplikast dokumen.
v Kecukupan Bukti
Kecukupan bukti berkaitan dengan seberapa banyak bukti yang harus
dikumpulkan oleh auditor untuk mencapai sebuah kesimpulan dari tujuan
audit. Hal ini sering disebut sebagai berat bukti (weight of evidence). Terdapat
dua istilah yang digunakan dalam hukum untuk menentukan berat bukti
yaitu :
o Pengaruh yang lebih besar (preponderance)
Bukti ini adalah bukti yang secara jelas dan meyakinkan melebihi bukti yang
bertentangan dalam pemikiran orang yang mencapai kesimpulan.
o Pembuktian melebihi sebuah keraguan yang masuk akal (proof beyond a
reasonable doubt)
Hal ini adalah bukti yang jauh melebihi pengaruh yang lebih besar atau hanya
jelas dan meyakinkan.

PROSEDUR AUDIT

Prosedur Audit adalah tindakan yang di lakukan atau metode dan teknik
yang digunakan oleh auditor untuk mendapatkan atau mengevaluasi bukti
audit.
Ø Jenis – Jenis Prosedur Audit
a) Prosedur Analitis
Terdiri dari kegiatan yang mempelajari dan membandingkan data yang
memiliki hubungan.Prosedur analitis mengahsilkan bukti analitis.
b) Menginspeksi
Meliputi kegiatan pemeriksaan secara teliti atau pemeriksaan secara
mendalam atas dokumen catatan atau pemeriksaan fisik atas sumber-sumber
berwujud. Dengan cara ini auditor dapat membuktikan keaslian suatu
dokumen.
c) Mengkonfirmasi
Adalah suatu bentuk pengajuan pertanyaan yang memungkinkan auditor
untuk mendapatkan informasi langsung dari sumber independent dari luar
perusahaan.
d) Mengajukan pertanyaan
Hal ini bisa dilakukan secar lesan ataupun tertulis.Pertanyaan bisa dilakukan
kepada sumber intern pada perusahaan klien atau pada pihak luar.
e) Menghitung
Penerapan prosedur menghitung yang paling umum dilakukan adalah :
1.melakukan perhitungan fisik atas barang-barang berwujud
2.menghitung dokumen bernomor tercetak
Tindakan yang pertama dimaksudkan untuk mengevaluasi bukti fisik dari
jumlah
yang ada di tangan sedangkan yang kedua merupakan cara untuk
mengevaluasi bukti dokumen khususnya yang berkaitan dengan kelengkapan
catatan akuntansi.
f) Menelusur
Yang biasa dilakukan adalah :
1. memilih dokumen yang di buat pada saat transaksi terjadi
2. menentukan bahwa dokumen pada transaksi tersebut telah dicatat dengan
tepat dalam catatan akuntansi.
g) Mencocokkan ke dokumen
Kegiatannya meliputi :
1. memilih ayat jurnal tertentu dalam catatan akuntansi
2. mendapatkan dan menginspeksi dokumen tanyg menjadi dasar pembuatan
ayat jurnal tersebut untuk menentukan validasi dan ketelitian transaksi yang
dicatat.
h) Mengamati
Aktivitas ini merupakan kegiatan rutin dari suatu tipe transaksi.
i) Melakukan ulang
Auditor juga bisa melakukan ulang beberapa aspek dalam proses transaksi
tertentu untuk memastikan bahwa proses yang telah dilakukan klien sesuai
dengan prosedur dan kebijakan pengendalian yang telah di tetapkan.
j) Teknik audit berbantu computer

Prosedur audit yang dapat digunakan untuk memperoleh bukti yang


kompeten atau dapat dipercaya adalah :
Inspeksi Pembuktian ( vouching )
Observasi Kalkulasi Kembali
Konfirmasi Analisis
Perbandingan Rekonsiliasi
Pengkajian ulang Penjajagan
Penilaian Perhitungan (count)
Verifikasi Pengujian (test)
Penelusuran Scanning

TEKNIK AUDIT
Teknik audit adalah cara yang ditempuh untuk memperoleh bukti. Antara
lain :
a. Pemeriksaan dokumen.(verifikasi).
b. Pemeriksaan fisik.
c. Observasi.
d. Rekonsiliasi, mencocokan dua saldo dari dua sumber yang berbeda,
misalnya untuk mencari saldo kas yang benar, dilakukan rekonsiliasi antara
saldo kas menurut buku perusahaan dengan saldo kas menurut laporan bank.
e. Konfirmasi; yaitu meminta penegasan dari pihak ketiga atas informasi yang
telah auditor peroleh selama kegiatan auditnya. Contoh konfirmasi saldo
Piutang.
f. Wawancara dengan karyawan auditi.
g. Reprosessing transaksi.
h. Analisis fakta/informasi.
i. Vouching transaksi. Merekonstruksi ulang transaksi sampai ke dokumen
sumbernya secara sistematis.
Jumlah dan jenis bukti audit yang dikumpulkan auditor sangat tergantung
pada keahlian dan pengalaman auditor serta pertimbangan ( judgement )
auditor dan tujuan auditnya. Selama auditor belum merasa yakin, maka ia
akan terus berusaha mengumpulkan bukti agar kesimpulannya dapat
dipertanggungjawabkan secara professional.
Evaluasi bukti harus lebih teliti bila menghadapi situasi audit yang
mengandung risiko besar. Situasi tersebut adalah sebagai berikut:
a.Pengawasan intern yang lemah
b.Kondisi keuangan klien yang tidaksehat.
c.Manajemen yang tidak dapat dipercaya.
d.Penggantian kantor akuntan publik.
e.Perubahan peraturan perpajakan.
f.Usaha yang bersifat spekulatif
g.Transaksi yang kompleks.

BATASAN BUKTI AUDIT


Kehendak juruaudit untuk mendapatkan bukti audit selalu menemui
batasan tertentu. Batasan tersebut timbul disebabkan oleh beberapa faktor:
a) Bukti audit adalah subjektif, bergantung pada keadaan sekeliling yang
mempengaruhi audit dan bergantung pada budi bicara juruaudit. Ini
bermakna bukti audit yang mutlak tidak mungkin diperoleh.
b) Bukti yang diperoleh mungkin tidak perlu diambil kira kerana kenyataan
atau perkara yang terlibat tidak matang
c) Biasanya juruaudit mempunyai tempoh yang terhad untuk menyiapkan
kerja audit yang diberikan kepadanya. Oleh sebab faktor masa, juru audit
terpaksa menerima bukti audit yang tidak begitu sempurna untuk menemui
tempoh yang telah ditentukan.
d) Juruaudit harus juga menimbangkan di antara cost yang terlibat
untuk mendapatkan bukti audit dengan keperluan memperoleh bukti
tersebut. Perkara ini terjadi terutama sekali jika cost yang terlibat terlalu
tinggi.

HUBUNGAN BUKTI HUKUM DENGAN BUKTI AUDIT


Bukti hukum dan bukti audit memiliki banyak kesamaan. Keduanya
memiliki tujuan yang sama-untuk memberikan bukti, untuk mendorong
keyakinan tentang kebenaran atau kesalahan setiap pernyataan atas suatu
masalah. Keyakinan dibangun dari pertimbangan atas informasi, informasi
tersebut yang kemudian disajikan, dalam bentuk apa pun, merupakan bukti.
Fokus bukti audit sedikit berbeda dengan bukti hukum. Bukti-bukti
hukum (legal evidence) sangat mengandalkan pengakuan lisan. Bukti-bukti
audit (audit evidence) sangat mengandalkan bukti-bukti dokumen. Bukti-bukti
hukum memungkinkan pernyataan-pernyataan tertentu, misalnya dalam
hukum dinyatakan bahwa fakta-fakta yang tertera pada instrument tertulis,
antara pihak-pihak yang berkepentingan adalah benar (artinya tidak ada bukti
lain, seberapa pun kuatnya, yang dapat menentang kebenaran dari fakta
tertulis tersebut). Tetapi auditor tidak dibatasai pada anggapan atau
pernyataan tertentu; mereka harus mempertanyakan setiap bukti hingga
mereka sendiri puas dengan kebenaran atau kesalahannya. Berikut ini
beberapa ringkasan bentuk bukti hukum.
1. Bukti terbaik (best evidence) sering disebut bukti primer, merupakan
bukti yang paling alami-bukti yang paling memuaskan mengenai fakta-fakta
yang sedang diselidiki. Bukti tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan
keandalan. Umumnya bukti tersebut terbatas pada bukti dokumen dan
kebanyakan diterapkan untuk membuktikan isi pernyataan tertulis. Jika
tersedia pernyataan tertulis yang asli, aturan tentang bukti terbaik mencegah
salah satu pihak membuktikan isi pernyatan tertulis melalui pengakuan lisan.
Aturan tersebut dirancang untuk menutup kemungkinan terjadinya
interpretasi yang salah atas pernyataan tertulis; karena mengharuskan
tersedianya dokumen asli bila tersedia. Bukti lisan, misalnya, tidak boleh
digunakan untuk memperselisihkan instrument tertulis seperti kontrak atau
akta; tetapi, bukti lisan dapat digunakan untuk menjelaskan makna
instrument tersebut jika instrument seperti ini memungkinkan terjadinya lebih
dari satu interpretasi
2. Bukti sekunder (secondary evidence) berada di bawah bukti primer
dan tidak disamakan keandalannya. Bukti sekunder bisa mencakup salinan
bukti tertulis atau lisan. Sebuah salinan tertulis umumnya dapat diterima,
jika:
(1) dokumen asli hilang atau telah dimusnahkan tanpa niat melakukan
kecurangan di pihak pendukung salinan tersebut;
(2) bukti tertulis tersebut sulit diperoleh oleh pendukung salinan tersebut;
(3) bukti tertulis dikendalikan oleh entitas publik. Harus ditunjukkan bahwa
salinan tersebut merupakan representasi yang layak dari dokumen asli.
Pengakuan lisan atau risalah tertulis umumnya dianggap berada di bawah
salinan dokumen tertulis
Bentuk bukti yang inferior ini tidak dibatasi oleh aturan bukti terbaik jika:
(1) bukti tertulis terdiri atas beberapa akun atau bukti tertulis lainnya;
(2) akun-akun tersebut tidak dapat diperiksa di pengadilan tanpa menghabiskan
banyak waktu; atau
(3) akun-akun atau bukti tertulis lainnya dihasilkan untuk diperiksa oleh pihak
yang berlawanan jika kebijakan pengadilan mengharuskan.
3. Bukti langsung (direct evidence) membuktikan fakta tanpa harus
menggunakan pernyataan atau rujukan untuk menetapkan suatu bukti.
Pengakuan dari seorang saksi atas sebuah fakta merupakan bukti langsung-
tidak diperlukan rujukan. Misalnya, seorang saksi yang menyatakan bahwa ia
mengamati seorang karyawan yang menginspeksi penerimaan barang
menandatangani berkas pemeriksaan. Padahal barang yang diterima kurang
dari yang tertera di berkas tersebut, merupakan bukti tertulis.
4. Bukti tidak langsung (circumstantial evidence) membuktikan fakta
sementara, atau sekumpulan fakta, yang dapat dirujuk seseorang untuk
mengetahui keberadaan beberapa fakta primer yang signifikan atas masalah
yang sedang dipertimbangkan. Bukti ini tidak langsung membuktikan
keberadaan fakta-fakta primer, tetapi hanya meningkatkan penggunaan
pemikiran logis yang ada. Penerimaan barang yang kurang dari jumlah yang
seharusnya tetapi lolos pemeriksaan departemen penerima, disertai stempel
pemeriksaan pada memo penerimaan, merupakan bukti tidak langsung bahwa
si pemeriksa telah lalai. Auditor harus senantiasa berhati-hati dengan bukti
tidak langsung. Misalnya, dalam kasus petugas pemeriksa tadi, mungkin saja
ia sedang tidak bertugas pada hari barang diterima dan orang lain
menggunakan stempelnya.
5. Bukti yang meyakinkan. Bukti yang meyakinkan merupakan bukti
yang tak terbantahkan, apa pun bentuknya. Bukti ini sangat kuat sehingga
mengalahkan semua bukti lainnya, dan merupakan sumber diambilnya
kesimpulan. Bukti ini tidak tidak bisa dipertentangkan dan tidak
membutuhkan bukti-bukti yang menguatkan.
6. Bukti yang menguatkan merupakan bukti tambahan dari karakter
yang berbeda menyangkut hal yang sama. Bukti ini mendukung bukti yang
telah diberikan dan cenderung menguatkan atau mengonfirmasikannya.
Misalnya, bukti lisan yang konsisten dengan instrument tertulis, dan
diberikan semata-mata untuk mengonfirmasi pernyataan tertulis, dan
diberikan semata-mata untuk mengonfirmasi pernyataan tertulis atau
menunjukkan kebenaran masalah yang terkandung di dalamnya, maka hal ini
merupakan bukti yang menguatkan dan dianggap dapat diterima. Bukti lisan,
yang diberikan oleh penyelia inspeksi, bahwa petugas inspeksi sedang
bertugas pada hari diterimanya barang dalam jumlah yang kurang dari
seharusnya dan tidak ada orang lain yang bisa menggunakan stempelnya,
menguatkan bukti tidak langsung atas stempel penerimaan.
7. Bukti Opini, berdasarkan aturan opini, saksi-saksi harus memberikan
kesaksian hanya terhadap fakta yang ada-pada apa yang benar-benar mereka
lihat atau dengar. Sebaliknya auditor harus menyaring opini dan
mengumpulkan serta ,mengevaluasi fakta-fakta semata.
Opini yang diberikan orang lain bisa bermamfaat sebagai penunjuk jalan
yang benar untuk mengumpulkan fakta, tetapi opini juga bisa bias,
mementingkan kepetingan sendiri, atau kurang mengandung informasi. Akan
tetapi terdapat pengecualian atas aturan opini, yang berkaitan dengan
pengakuan saksi ahli. Berdasarkan pengecualian ini, seorang ahli
diperbolehkan memberikan opini atas suatu fakta; karena hanya dengan cara
ini juri atau hakim administratif akan memahami fakta-fakta tersebut dan
hanya dengan cara inilah juri akan memahami fakta-fakta tersebut dan hanya
dengan cara inilah juri akan memperoleh kebenaran. Untuk pengakuan
berupa opini telah dibuat beberapa pengamanan dengan mensyaratkan
adanya dua elemen: Pertama, subyek yang dinyatakan opininya harus jelas
terkait dengan pengetahuan, profesi, bisnis, atau jabatan yang berada di luar
pemahaman orang awam. Kedua, saksi ahli harus memiliki keahlian,
pengetahuan, atau pengalaman dalam bidang tersebut sehingga bisa
membantu anggota juri atau pengadilan dalam mencari kebenaran.
Auditor harus memiliki aturan opini dalam pikiran mereka menghadapi
masalah yang berada di luar pengetahuannya. Mereka harus memahami
bahwa opini orang lain adalah abash jika opini stersebut berada dalam lingkup
aturan opini ahli, tetapi tidak valid kecuali mencakup tiga bagian penting ini:
(1) subyek yang berada di luar pemahaman auditor; dan
(2) saksi ahli yang dikenal memang memiliki pengetahuan di bidang
tersebut.
Untuk praktisnya, auditor harus memiliki elemen ketiga: bebas dari
kemungkinan bias. Dalam situasi bisnis, saksi ahli biasanya adalah pegawai
organisasi. Auditor harus, jika mungkin, memilih seseorang di luar
departemen atau divisi yang terlibat dalam audit. Seorang insinyur yang
opininya diperoleh atas masalah yang melibatkan proyek A harus dipilih dari
insinyur yang menangani proyek B atau C. Tentu saja dalam beberapa
organisasi, satu-satunya saksi ahli mungkin bekerja pada proyek yang sedang
ditelaah. Dalam kasus ini, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan
bahwa pengakuan saksi ahli tersebut tidak sepenuhnya bebas dari bias.
8. Bukti kabar angin. Aturan bukti kabar angin memberikan pernyataan
yang tidak dapat diterima yang dibuat seseorang, selain saksi ahli, untuk
membuktikan kebenaran suatu masalah. Dengan kata lain, bukti ini berupa
bukti lisan atau tertulis yang dibawa ke pengadilan dan menjadi bukti atas
pernyataan yang dikatakan di pengadilan. Bukti kabar angin umumnya tidak
dapat diterima karena salah satu cara terbaik untuk membuktikan kebenaran
atau kesalahan sebuah pernyataan adalah dengan mendengar keterangan dari
saksi ahli di bawah sumpah dan memeriksa silang dengan apa yang benar-
benar dilihat atau didengar. Pemeriksaan silang merupakan cara untuk
menemukan ketidakjujuran dan kecurangan, penindasan, dan sumber
kesalahan yang terkandung dalam pernyataan seorang saksi ahli. Auditor
harus menempatkan diri mereka sendiri pada posisi sebagai seorang hakim di
pengadilan pada saat mengajukan pertanyaan dan memeriksa catatan. Jika
Smith mengatakan kepada auditor.

MEMBUAT RINGKASAN dan MENGELOMPOKKAN BUKTI

Bukti-bukti yang telah diperoleh dalam audit kemudian diringkas dan


dikelompokkan sesuai dengan tujuan elemen tujuan audit yang meliputi:
kriteria, penyebab dan akibat. Bukti-bukti yang masuk dalam kelompok
kriteria adalah keseluruhan temuan audit yang berkaitan dengan
norma/standar yang ditetapkan perusahaan (dirumuskan bersama dengan
auditor) yang menjadi dasar bagi setiap komponen dalam perusahaan dalam
melakukan aktivitasnya. Seringkali auditor menemukan bukti kriteria sudah
tidak relevan lagi dalam mendukung operasional perusahaan karena sudah
berkembang suatu metode operasi yang lebih mutakhir yang dapat
meningkatkan ekonomisasi, efisiensi operasi dan efektivitas dalam mencapai
tujuan.
Sedangkan bukti-bukti yang termasuk dalam kelompok penyebab biasanya
berupa berbagai tindakan menyimpang atau tindakan positif yang tidak
dilakukan yang merupakan sumber terjadinya ketidakekonomisan,
ketidakefisienan operasi, dan ketidakefektifan pencapaian tujuan. Di samping
penyebab-penyebab yang bersifat negatif ini, memungkinkan juga auditor
menemukan penyebab-penyebab yang bersifat positif yang secara relatif
merupakan kebalikan dari penyebab negative di atas, auditor harus secara
objektif menyajikan dalam temuan auditnya baik temuan bersifat negative
maupun temuan yang bersifat positif.
Bukti-bukti yang merupakan kelompok akibat adalah bukti-bukti yang
biasanya ditemukan terlebih dahulu. Bukti-bukti ini adalah hasil pengukuran
antara penyebab yang terjadi dengan kriteria yang berhubungan dengan
penyebab tersebut. Bukti-bukti ini dapat dipahami sebagai dampak dari
berbagai permasalahan yang terjadi pada objek audit.
Bukti dan Dokumentasi Audit
PEMBAHASAN[1]

[1] Hery, Auditing I : Dasar-dasar Pemeriksaan Akuntansi, (Kencana Perdana Media


Grup, Jakarta : 2011) h.51-69
A. Sifat dan Keputusan Bukti Audit
Bukti audit merupakan informasi yang akan digunakan oleh auditor untuk
menentukan kesesuaian antara yang diaudit dan kriteria tertentu yang telah ditetapkan.
Bukti audit dapat berupa informasi yang sangat persuasif (sangat meyakinkan) maupun
informasi yang kurang persuasif (kurang meyakinkan). Contoh bukti audit yang sangat
persuasif adalah hasil perhitungan ulang oleh auditor atas besarnya amortisasi
premium atau diskonto utang obligasi. Adapun contoh bukti audit yang kurang persuasif
adalah hasil tanya jawab dengan karyawan klien. Jadi sifat bukti audit dapat sangat
bervariasi sesuai dengan kemampuannya dalam meyakinkan auditor bahwa laporan
keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Keputusan penting yang dihadapi oleh auditor dalam menentukan jenis dan
jumlah bukti audit yang tepat adalah meliputi penentuan prosedur audit, ukuran sampel,
metode pemilihan sampel, dan penetapan waktu.
Prosedur audit adalah rincian instruksi yang menjelaskan bukti audit yang harus
diperoleh selama audit berlangsung. Sebagai contoh, prosedur audit untuk
memverifikasi pembelian barang dagang adalah memeriksa jurnal pembelian dan
membandingkannya dengan jumlah yang tertera dalam formulir permintaan pembelian,
laporan penerimaan barang, serta faktur tagihan. Setelah prosedur audit ditetapkan,
auditor menentukan ukuran sampel. Sebagai contoh, auditor dapat memilih ukuran
sampel sebanyak 35 dari 300 faktur tagihan untuk dibandingkan dengan jurnal
pembelian. Ukuran sampel untuk setiap prosedur mungkin akan berbeda antara audit
yang satu dengan audit yang lainnya. Setelah ukuran sampel untuk suatu prosedur
audit ditentukan, auditor harus memutuskan metode pemilihan sampel. Dalam contoh
ini, auditor dapat memilih 35 invoicepertama, atau 35 invoice dengan nilai terbesar, atau
35 invoice secara acak, atau 35 invoice yang menurut auditor paling mungkin
mengandung salah saji, atau bisa juga menggunakan kombinasi dari berbagai metode
tersebut. Keputusan penetapan waktu berkaitan dengan penentuan atau pemilihan
tanggal sampel. Sebagai contoh, auditor memutuskan untuk memeriksa secara acak
sampel jurnal pembelian barang dagang yang terjadi untuk satu tahun penuh dalam
periode laporan keuangan yang diaudit.

B. Tingkat Keyakinan (Persuasivitas) Bukti Audit


Sesuai dengan standar pekerjaan lapangan yang ketiga, auditor harus
memperoleh cukup bukti audit yang tepat dengan melakukan prosedur audit agar
memiliki dasar yang layak untuk memberikan pendapat menyangkut laporan keuangan
yang diaudit. Ada dua penentu tingkat keyakinan bukti audit , yaitu ketepatan bukti dan
kecukupan bukti.
Ketepatan bukti
Bukti dikatakan tepat apabila memenuhi karakteristik relevansi(kecocokan) dan
relialibitas (keandalan). Bukti yang dianggap sangat tepat akan sangat membantu
dalam meyakinkan auditor bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar.
Ketepatan bukti hanya terkait dengan prosedur audit yang dipilih dan penetapan waktu,
serta tidak dapat diperbaiki dengan menambah ukuran sampel atau mengubah metode
pemilihan sampel. Ketetapan hanya dapat diciptakan melalui pemilihan prosedur audit
yang lebin relevan dan dapat diandalkan.
Sehubungan dengan relevansi bukti, bukti audit dikatakn tepat jika berkaitan
dengan tujuan audit yang akan diuji oleh auditor. Sebagai contoh, prosedur audit yang
relevan untuk mengidentifikasi pengiriman atau penjualan barang yang belum ditagih
adalah dengan menelusuri laporan pengiriman barang ke faktur penjualan, bukan
sebaliknya. Menelusuri faktur penjualan kelaporan pengiram barang merupakan
prosedur audit yang relevan untuk menguji tujuan audit khusus: apakah transaksi
penjualan yang dicatat benar-benar untuk pengiriman barang yang dilakukan kepada
pelanggan non fiktif relevansi hanya dapat dipertimbangkan dalam tujuan audit khusus,
karna bukti audit mungkin relevan untuk tujuan audit yang satu tetapi tidak relevan
untuk tujuan audit yang lain.
Sehubungan dengan reliabilitas bukti, bukti audit dikatakan tepat jika dapat
diandalkan , dapat dipercaya, atau layak dipercaya. Sama seperti relevansi , bukti
dianggap dapat diandalkan jika bukti tersebut sangat membantu dalam meyakinkan
auditor bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar. Sebagai contoh,prosedur
audit yang dapat diandalkan untuk menguji eksistensi (keberadaan) saldo kas kecil dan
saldo persediaan barang dagang pada tanggal neraca adalah dengan melakukan
pemeriksaan fisik , yaitu masing-masing cash opname dan stock opname. Contoh
lainnya, hasil konfirmasi secara tertulis dari bank merupakan bukti audit yang dapat
diandalkan untuk menguji keberadaan saldo kas dibank.
Secara umum, keandalan bukti audit sangat tergantung pada:
· Indenpenden penyediaan bukti
Bukti yang diperoleh dari pihak ketiga atau pihak yang berada diluar klien (bukti
eksternal) tentu saja lebih dapat diandalkan dibanding dengan bukti yang berasal dari
atau yang dibuat oleh klien sendiri (bukti internal) . contoh bukti eksternal adalah hasil
komunikasi dengan pihak bank ,advokat, atau pelanggan, faktur tagihan dari
pemasok,sekuritas, investasi yang diterbitkan oleh perusahaan lain, dan sertifikat
deposito bank,adapun contoh bukti internal adalah formulir permintaan pembeli dan
laporan penerimaan barang.
· Efektivitas pengendalian internal klien.
Bukti audit akan menjadi lebih dapat diandalkan jika pegendalian internal diterapkan
secara efektif oleh klien. Sebagai contoh, jika pengendalian internal atas pembayaran
kas kecilditerapkan secara efektif, maka bukti audit yang dapat dindalkan dapat
diperoleh dari formulir penerimaan kas kecil (petty cash receipt atau petty cash
voucher) yang bernomor urut tercetak dan ditandatangani oleh karyawan yang
membayrkan/menangani kas kecil maupun oleh pihak yang menerima pembayaran kas
kecil.
· Perolehan secara langsung oleh auditor
Bukti audit yang diperoleh secara langsung oleh auditor melalui pemeriksa
fisik,pengamatan,penghitungan ulang,dan inspeksi akan lebih dpat diandalkan
dibanding dengan bukti audit yang diperoleh secara tidak langsung . sebagai contoh
adalah bukti audit yang diperoleh dari hasil cash opname,stock opname, penghitungan
ulang oleh auditor atas beban penyusutan aktiva tetap ,dan pengamatan atau
observasi langsung atas proses produksi klien.
· Kualifikasi penyediaan informasi dan juga auditor
Meskipun penyediaan informasi adalah pihak yang indenpenden namun bukti audit
akan menjadi tidak dapat diandalkan jika penyediaan informasi ini tidak memilliki
pemahaman mengenai arti pentingnya bukti tersebut. Sebagaai contoh,hasil
komunikasi dengan advokat dan bank pada umumnya akan lebih layak dipercaya
(secara prpfesional) dibanding dengan hasil konfirmasi piutang dari
pelanggan,khususnya untuk pelanggan yang tidak memahami maksud dan tujuan dari
dilakukannya komunikasi atau konfirmasi tersebut. Selain itu, bukti yang diperoleh
secara langsung oleh auditor juga akan menjadi tidak dapat diandalkan jika auditor
tersebut tidak atau kurang memiliki pengetahuan (kecakapan) untuk mengevaluasi bukti
terkait,sebagai contoh,audit atas persediaan batu bara oleh auditor yang tidak terlatih
untuk membedakan jenis kualitas kalori batu bara bukanlah merupakan bukti audit yang
dapat diandalkan bagi tujuan klasifikasi.
· Objektivitas
Bukti yang objektif lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan bukti yang memerlukan
pertimbangan tertentu. Contoh bukti yang bersifat objektif adalah hasil konfirmasi atas
piutang usaha dan kas di bank,pemeriksaan fisik atas saldo kas kecil,persediaan, dan
aktiva tetap berwujud,serta bukti pembelian perlengkapan dan peralatan. Adapun
contoh bukti yang bersifat subjektif (melibatkan justifikasi dan pertimbangantertentu
dari manajemen) adalah hasil tanya jawab dengan manajer akuntansi mengenai
besarnya estimasi atas nilai residu dari beberapa aktiva tetap tertentu dan estimasi atas
besarnya pencadangan piutang tak tertagih.
· Ketepatan waktu
Ketepatan waktu bukti audit berkaitan dengan kapan bukti ini dikumpulkan serta
bagaimana menentukan tanggal sampel. Untuk akun-akun neraca, ketepatan waktu
bukti audit berkaitan dengan kapan bukti ini dikumpulkan, sedangkan untuk akun-akun
laporan laba rugi, ketepatan waktu bukti audit berkaitan dengan pemilihan tanggal
smapel atau penentuan bagian periode yang akan diaudit.sebagai contoh,penghitungan
oleh auditor atas posisi kas pada tanggal neraca akan lebih dapat diandalkan
dibanding dengan jika penghitungan jika penghitungan dilakukan pada dua bulan
sebelumnya. adapun untuk akun laporan laba rugi , bukti yang diperoleh akan lebih
dapat diandalkan jika sampel diambil dari keseluruhan periode yang diaudit.contohnya
adalah memeriksa secara acak sampel jurnal pemberian barang dagang yang terjadi
untuk satu tahun penuh dalam periode laporan keuangan yang diaudit ,bukan hanya
dari sebagian periode saja (misalkan sampel yang terbatas hanya ntuk kwartal
terakhir).

Kecukupan bukti
Kuantitas bukti yang dikumpulkan akan menentukan kecukupannya. Kecukupan
bukti diukur dari ukuran sampel yang dipilih auditor. Untuk prosedur audit tertentu.bukti
yang diperoleh dari sampel sebanyak 100 pada umumnya lebih mencukupi di banding
dengan dari sampel sebanyak 35. Selain ukuran sampel ,metode pemilihan sampel
juga akan menentukan kecukupan bukti audit.sampel yang terdiri dari item-item
populasi dengan nilai moneter yang besar pada umumnya dianggap sudah
mencukupi terutama apabila item-item ini merupakan bagian terbesar dari jumlah
total populasi.

C. Jenis Bukti Audit


Dalam memutuskan prosedur audit mana yang akan digunakan,auditor dapat
memilihnya dari delapan jenis bukti audit berikut:

Pemeriksa fisik
Jenis bukti ini paling sering dilakukan atas saldo kas kecil dan persediaan, tetapi
juga dapat diterapkan untuk mrmverifikasi sertifikat deposito, sekuritas investasi,wesel
tagih,dan aktiva tetap berwujud.pemeriksaan fisik merupakan cara langsung untuk
memverivikasi apakah suatu aktiva yang ada tersebut telah dicatat (tujuan
kelengkapan). Pada umumnya, pemeriksaan fisik adalah cara yang objektif untuk
mengetahui kuantitas maupun deskripsi aktiva. Dalam beberapa kasus ,pemeriksaan
fisik juga berguna untuk megevaluasi kondisi atau kualitas aktiva. Akan tetapi,
pemeriksaan fisik bukanlah merupakan bukti yang mencukupi untuk memverifikasi
bahwa aktiva yang ada memang merupakan milik klien (tujuan hak dan kewajiban)
.sebagai contoh adalah bahwa untuk barang konsinyasi yang dititipkan kepada pihak
lain tentu saja tidak dapat diuji lewat pemeriksaan fisik, melainkan melalui prosedur
konfirmasi,selain itu, penilaian dan alokasinyang tepat untuk tujuan pelaporan
keuangan juga tidak dapat diuji oleh pemeriksa fisik (tujuan keakuratan).

Konfirmasi
Konfirmasi adalah proses untuk mendapatkan respons (tertulis atau lisan) dari
pihak ketiga sebagai jawaban atas suatu permintaan informasi tentang unsur tertentu
yang berkaitan dengan asersi manajemen dan tujuan audit.biasanya,auditor lebih
memilih konfirmasi tertulis dibanding konfirmasi lisan karna konfirmasi tertulis lebih
mudah di-review oleh supervisor audit dan memberikan dukungan keandalan . pada
umunya, konfirmasi relatif mahal dan dapat menimbulkan beberapa ketidaknyamanan
bagi pihak -pihak yang diminta untuk menyediakan konfirmasi ini.
Proses konfirmasi mencangkup:
a. Pemilihan unsur yang akan dimintakan konfirmasi
b. Perancangan atas isi permintaan konfirmasi
c. Pengkomunikasian permintaan konfirnasi kepada pihak ketiga yang bersangkutan
d. Perolehan jawaban dari pihak ketiga ,dan
e. Penilaian terhadap informasi atau tidak adanya informasi yang disediankan oleh pihak
ketiga mengenai tujuan audit,termasuk keandalan informasi ini.konfirmasi dilaksanakan
untuk memperoleh bukti dari pihak ketiga mengenai asersi laporan keuangan yang
dibuat oleh manajemen . bukti audit yang diperoleh dari sumber indenpenden diluar
erusahaan klien pada umumnya memberikan keyakinan yang lebih besar,karena lebih
dapat diandalkan untuk tujuan audit indenpenden dibandingkan dengan bukti audit yang
berasal dari dalam perusahaan klien tersebut.
Auditor harus menetapkan apakah bukti yang diperoleh dari konfirmasi dapat
mengurangi resiko audit. Dalam menetapkan ini, auditor harus mempertimbangkan
materialitas saldo akun dan risiko pengendalianya. Jika auditor berkesimpulan bahwa
bukti yang diperoleh dari konfirmasi ternyata tidak memadai , prosedur tambahan harus
dilaksanakan. Sebagai contoh, untuk mencapai risiko audit pada tingkat yang cukup
rendah , yang bersangkutan dengan asersi eksistensi dan kelengkapan piutang usaha
,auditor dapat melaksanakan pengujian pisah batas penjualan sebagai tambahan
terhadap konfirmasi piutang usaha.
Permintaan konfirmasi, jika dirancang secara memadai oleh auditor, dapat
ditujukan untuk satu atau lebih asersi. Namun, konfirmasi tidak ditujukan untuk semua
asersi secara bersama-sama. Sebagai contoh, konfirmasi atas barang konsinyasi
kepada perusahaan yang dititipkan (consignee) merupakan cara yang lebih efektif
untuk membuktikan asersi eksistensi serta hak dan kewajiban dibandingkan dengan
untuk asersi penilaian dan alokasi. Konfirmasi atas piutang usaha kemungkinan akan
lebih efektif untuk membuktikan asersi eksistensi dibandingkan dengan untuk asersi
kelengkapan serta penilaian dan alokasi. Oleh sebab itu, apabila konfirmasi tidak
mencukupi untuk memperoleh bukti, maka auditor harus mempertimbangkan prosedur
audit lain untuk melengkapi atau menggantikan prosedur konfirmasi.
Auditor harus menerapkan skeptisisme profesional pada tingkat memedai
selama proses konfimasi. Skeptisisme profesional ini sangat di perlukan dalam
merancang, melaksanakan, dan menilai hasil konfirmasi. Permintaan konfirmasi harus
dirancang sesuai dengan tujuan audit tertentu. Jadi, pada waktu merancang permintaan
konfirmasi, auditor harus mempertimbangkan asersi yang akan diuji dan faktor-faktor
yang kemungkinan berdampak terhadap keandalan konfirmasi. Faktor-faktor seperti
bentuk permintaan konfirmasi, pengalaman audit sebelumnya, sifat informasi yang di
konfirmasi, dan responden yang dituju dapat memengaruhi rancangan permintaan
konfirmasi karena faktor-faktor tersebut mempunyuai dampak langsung terhadap
keandalan bukti yang diperoleh melalui prosedur konfirmasi.
Ada dua bentuk permintaan konfirmasi yang umum, yaitu bentuk positif dan
negatif. Konfirmasi positif meminta si penerima untuk memberikan respons dalam
semua situasi. Beberapa konfirmasi bentuk positif meminta responden untuk
menanggapinya apakah ia setuju atau tidak setuju dengan konfirmasi yang
dicantumkan dalam surat permintaan konfirmasi. Bentuk konfirmasi positif lainnya tidak
menyebutkan jumlah (atau informasi lain) pada surat permintaan konfirmasi, tetapi
meminta responden untuk mengisi saldo atau informasi lain pada ruang kosong yang
disediakan dalam formulir permintaan konfirmasi. Apabila auditor tidak menerima
respons atas konfirmasi positif, biasanya auditor akan mengirimkan permintaan kedua,
ketiga, dan dalam beberapa kasus bahkan meminta klien untuk menghubungi pihak
ketiga yang independen dan memintanya untuk memberikan respon segera kepada
auditor. Jika upaya ini tetap gagal atau dianggap terlalu mahal, auditor akan
melaksanakan prosedur alternatif.
Bentuk konfirmasi positif menyediakan bukti hanya jika jawaban diterima oleh
auditor dari penerima permintaan konfirmasi. Permintaan konfirmasi yang tidak dijawab
tidak memberikan bukti audit mengenai asersi laporan keuangan yang dituju oleh
prosedur konfirmasi.karena terdapat resiko bahwa penerima konfirmasi positif
kemungkiunan hanya menandatangani dan mengembalikan konfirmasi tanpa
melakukan vertifikasi atas kebenaran informasi ini,formulir yang berisi ruangan kosong
dapat digunakanuntuk mengurangi resiko ini. Jadi pengunaan konfirmasi dengan ruang
kosong yang harus diisi oleh responden dapat memberikan tingkat keyakinan yang
lebih besar mengenai informasi yang dikonfirmasi. Namun, konfirmasi yang berisi
ruangan kosong yang harus diisi oleh responden dapat mengakibatkan berkurangnya
jumlah jawaban konfirmasi yang diterima oleh auditor karena diperlukan usaha
tambahan dari pihak penerima permintaan konfirmasi, sebagai akibatnya, auditor
kemungkinan harus melaksanakan lebih banyak prosedur alternatif.
Bentuk konfirmasi negatif meminta penerima konfirmasi untuk memberikan
jawabn hanya jika ia tidak setuju dengan konfirmasi yang disebutkan dalam surat
permintaan konfirmasi, dan tidak ada pengujian tambahan yang dilakukan apabila
respons tidak diterima. Akibatnya, konfirmasi negatif memberikan bukti yang kurang
dapat diandalkan dibanding dengan konfirmasi positif. Permintaan konfirmasi negatif
digunakan jika gabungan tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian adalah rendah,
terdapat banyak saldo yang jumlahnya kecil-kecil, dan auditor tidak yakin bahwa
penerima permintaan konfirmasi akan mempertimbangkan pemintaan tersebut.
Permintaan konfirmasi negatif dapat menghasilkan jawaban yang menunjukkan adanya
salah saji, dan kemungkinan besar akan terjadi jika auditor mengirim permintaan
konfirmasi negatif dalam jumlah yang banyak dan tersebar secara luas. Auditor harus
menyelidiki informasi relevan yang dihasilkan dari konfirmasi negatif untuk
menentuukan kemungkinan dampk informasitersebut terhadap audit yang
dilakukannya. Jika penyelidikan auditor terhadap jawaban permintaan konfirmasi negatif
menunjukkan suatu pola salah saji, auditor harus mempertimbangkan gabungan tingkat
risiko bawaan dan risiko pengendalian serta mempertimbangkan dampaknya terhadap
prosedur audit yang telah direncanakan. Konfirmasi negatif yang dikembalikan dapat
memberikan bukti mengenai asersi laporan keuangan, sedangkan konfirmasi negatif
yang tidak kembali jarang memberikan bukti signifikan tentang asersi laporan keuangan
(selain asersi keberadaan). Sebagai contoh, konfirmasi negatif dapat memberikan
beberapa bukti mengenai keberadaan pihak ketiga, jika konfirmasi negatif ini tidak
kembali dengan suatu petunjuk bahwa alamat yang dikirimi konfirmasi tidak diketahui.
Namun, konfirmasi negatif ang tidak kembali tidak memberikan bukti yang jelas bahwa
pihak ketiga yang dituju menerima permintaan konfirmasi dan memverifikasi kebenaran
informasi yang dicantumkan dalam konfirmasi negatif tersebut.
Selain piutang usaha, konfirmasi juga sering dilakukan atas piutang wesel, kas
di bank, persediaan konsinyasi, premi asuransi, sekuritas investasi, utang usaha, uang
wesel,uang muka dari pelanggan, utang hipotik, tang obligasi, dan saham yang
beredar. Agar dapat dikategorikan sebagai bukti yang andal, konfirmasi harus
dikendalikan oleh auditor,mulai dari saat konfirmasi disiapkan hingga diterima kembali.
Dokumentasi
Dokumetasi adalah pemeriksaan atau penyelidikan oleh auditor atas dokumen
dan catatan klien untuk mendukung informasi yang tersaji atau seharusnya tersaji
dalam laporan keuangan. Sebagai contoh, formulir permintaan pembelian, laporan
penerimaan barang, serta faktur tagihan dari pemasok merupakn dokumen yang perlu
diperiksa oleh auditor untuk memverifikasi keakuratan catatan klien tentang transaksi
pembelian barang dagang. Dokumentasi telah digunakan secara luas sebagai bukti
audit, karena jenis bukti ini biasanya tersedia dengan biaya yang relatif murah dan
kadang-kadang merupakn satu-satunya jenis bukti audit yang layak dan tersedia.
Proses pemeriksaan atau penyelidikan oleh auditor atas dokumen dan catatan klien
untuk mendukung informasi yang tersaji atau seharusnya tersaji dalam laporan
keuangan disebut sebagai vouching (pemeriksaan dokumen).
Dokumen dapat diklasifikasi menjadi dokumen internal dan dokumen eksternal.
Dokumen internal adalah dokumen yang disiapkan dan digunakan dalam organisasi
klien dan disimpan tanpa pernah disampaikan kepada pihak luar.contoh dokumen
internal adalah laporan penerimaan barang, catatan atau lembar biaya pekerjaan
catatan permintaan bahan, dan catatan jam kerja karyawan. Dokumen internal yang
disiapkan serta diproses dalam kondisi pengendalian internal yang lemah mungkin
bukan merupakan bukti audit yng dapat diandalkan. Dokumen eksternal adalah
dokumen yang berasal dari luar organisasi klien, tetapi dokumen tersebut saat ini
berada ditangan klien. Dokumen eksternal dianggap sebagai bukti yang lebih dapat
diandalkan dibanding dengan dokumen internal. Contoh dokumen eksternal adalah
faktur tagihan dari pemaksok, formulir pesanan pelanggan, sertifikat tanah, surat
perjanjia atau kontarak hutang, surat pemberitahuan pajak terhubung, dan polis
asuransi. Dokumen asli dipandang lebih dapat diandalkan dibanding dengan dokumen
yang berupa hasil fotokopi atau faks.

Prosedur Analitis
Prosedur analitis menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menilai
apakah saldo akun atau data lainnya tampak wajar atau rasional. Sebagai contoh,
melakukan perbandingan antara total beban gaji dn jumlah tenaga personel bisa
menunjukkan ada tidaknya pembayaran gaji yang tidak semestinya. Contoh lainnya,
auditor dapat membandingkan beban komisi dengan total penjualan bersih untuk
menguji kewajaran atas jumlah komisi yang dibayarkan.
Pada umumnya, prosedur analitis dapat digunakan untuk tujuan:
§ Memahami industri dan bisnis klien.
Penting bagi auditor untuk memahami aspek-aspek kunci dari bisnis klien, seperti
memahami kekuatan pasar dan pesaing, serta memahami operasi, strategi, dan sistem
kinerja klien. Sebagai contoh, penurunan presentase margin kotor tahun berjalan
dibanding dengan tahun sebelumnya dappat menunjukkan adanya peningkatan
persaingan dan kebutuhan untuk mengubah kebijakan harga jual, sistem promosi, serta
kebijakan saluran distribusi produk. Demikian juga, penambahan sejumlah besar mesin
produk dapat menunjukkan adanya investasi penting yang harus di telaah secara
cermat oleh auditor. Contoh lainnya, peningkatan yang signifikan atas saldo penyisihan
piutang tak tertagih dapat menunjukkan adanya perubahan kondisi dan operasi bisnis
klien (seperti perubahan dalam sistem atau cara pembayaran, adanya peningkatan
penjualan, atau bahkan peningkatan piutang macet).
§ Menilai kesinambungan usaha klien.
Prosedur analitis sering kali juga dapat berguna untuk menentukan apakah perusahaan
klien sedang mengalami masalah keuangan. Prosedur analitis tertentu dapat membantu
auditor dalam menilai kemungkinan terjadinya kegagalan bisnis klien. Indikasi adanya
risiko kegagalan keuangan dapat dilihat dari tingginya jumlah kewajiban jangka panjang
di banding dengan jumlah modal (ukuran solvabilitas) dan rendah nya rasio laba bersih
terhadap total aktiva operasi (ukuran profitabilitas). Indikasi ini tidak hanya akan
memengaruhi rencana audit, tetapi juga dapat menunjukkan adanya keraguan yang
substansial mengenai kemampuan klien untuk dapat terus melanjutka kegiatan
bisnisnya, sehingga memerlukan paragraf penjelasan dalam laporan audit wajar tanpa
pengecualian.
§ Menunjukkan adanya kemungkinan salah saji.
Fluktuasi tidak biasa atau perbedaan signifikan yang tidak diharapkan antara data
keuangan tahun berjalan yang belum diaudit dan data lainnya yang digunakan dalam
perbandinga dapat menunjukkan adanya kemungkinan salah saji. Sebagai contoh, jika
perputaran persediaan (hasil bagi antara harga pokok penjualan dan rata-rata
persediaan) selama periode berjalan mengalami peningkatan dibanding dengan tahun
sebelumnya, sementara besarnya rata-rata persediaan (persediaan awal ditambah
dengan persediaan aakhir kemudian dibagi dua) tidak mengalmi perubahan, maka
harga pokok penjualan periode berjalan yang disajikan lebih kecil dibanding dengan
tahun sebelumnya menunjukkan adanya kurang saji. Contoh lainnya, jika total
penjualan bersih selam periode berjalan mengalami penurunan dibanding dengan
tahun sebelumnya, sementara besarnya tarif komisi tdak mengalami perubahan, maka
beban komisi periode berjalan yang disajikan lebih besar dibanding dengan tahun
sebelumnya menunjukkan adanya lebih saji.
§ Mengurang pengujian audit yang terinci.
Apabila tidak mengungkapkan adanya salah saji akun, maka pengujian terinci dapat
dikurangi terhadap akun-akun tersebut. Dalam hal ini, prosedur audit tertentu bahkan
dapat di hilangkan dan ukuran sampel juga bisa di kurangi.

Wawancara dengan Klien


Wawancara atau tanya jawab dengan klien merupakan suatu upaya untuk
memperoleh informasi secara lisan maupun tertulis dari klien sebagai bentuk respons
atas pertanyaan yang diajukan auuditor. Walaupun banyak bukti yang dapat diperoleh
dari klien melaui tanya jawab ini, namu jenos bukti ini biasanya tidak dapat dianggap
sebagai bukti yang meyakinkan karena di peroleh bukan dari pihak yang independen
dan mungkin berpihak pada klien. Oleh sebab itu, apabila auditor memperoleh bukti
pendukung melalui prosedur lainnya. Sebagai contoh, apabila auditor ingin memperoleh
informasi tentang metode pendapatan dan pengendalian atas persediaan, auditor
biasanya akan memulai dengan menanyakan klien bagaimana pengendalian iternal
diterapkan, untuk selanjutnnya pengujian audit dilakukan melalui pemeriksaan fisik,
dokumenttasi, penghitungan ulang dan observasi.
Penghitungan Ulang
Rekalkulasi melibatkan pengecekan ulang atas sampel hitungan yang telah
dilakukan oleh klien. Pengecekan ulang ini merupakan pengujian atas keakuratan hasil
perhitungan klien. Sebagai contoh, auditor menghitung ulang besarnya beban
penyusutan aktiva tetap, beban amortisasi diskonto atau premium utang obligasi, nilai
persedian akhir, harga pokok penjualan, beban perlengkapan, dan nilai buku sekuritas
invenstasi.

Observasi
Observasi adalah penggunaan alat inden untuk menilai aktivitas klien. Sebagai
contoh, auditor dapat mengunjungi lokasi pabrik untuk memperoleh kesanumum atas
fasilitas klien, atau mengamati jalannya proses produksi, atau mengamati cara kerja
karyawan klien dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk menentukan
tingkat efiseiensi dan efektivitas. Namun observasi seringkali kurang dapat diandalkan
karena ada kemungkinan bahwa karyawan klien akan mengubah prilakunya pada saat
sednag diamati oleh auditor. Biasanya, dihadapan auditor, karyawan klien akan
melaksanakan tanggungjawabnya sesuai dengan kebijakan perusahaan, tetapi akan
kembali melakukan hal yang biasa dilakukan setelah auditor tidak mengamatinya. Oleh
sebab itu, perlu bagi auditor untuk menindak lanjuti kesan pertama yang diperoleh
dengan jenis bukti pendukung lainnya.

D. Dokumentasi Audit
Menurut standar auditing, dokumentasi audit adalah catatan utama tentang
prosedur audit yang diterapkan bukti yang di peroleh,dan kesimpulan yang dihasilkan
auditor dalam melaksanakan penugasan. Dokumentasi audit harus mencakup semua
informasi yang perlu dipertimbangkan oleh auditor untuk melakukan audit secara
memadai dan untuk mendukung laporan audit. Dokumentasi audit dapat juga di anggap
sebagai kertas kerja, meskipun akhir akhir ini semakin banyak dokumentasi audit yang
diselenggarakan dalam file komputer.
Tujuan dokumentasi audit secara keseluruhan adalah untuk membantu auditor
dalam memberikan kepastian yang layak bahwa audit yang memadai telah dilakukan
sesuai dengan standar audit. Secara spesifik, dokumentasi audit merupakan :
§ Dasar bagi perencanaan audit berikutnya.
Dalam merencanakan audit yang akan berlangsung, penting bagi auditor untuk
mempelajari kembali dan melihat sejenak terlebih dahulu informasi deskriptif mengenai
pengendalian internal klien bersangkutan, anggaran waktu untuk masing masing area
audit,program audit (kumpulan prosedur audit),dan hasil audit tahun sebelumnya yang
telah didokumentasikandalam kertas kerja atau dokumentasi (file) audit.
§ Catatan mengenai bukti yang dikumpulkan dan hasil pengujian.
Apabila sewaktu-waktu auditor diminta oleh lembaga pengadilan atau badan
berwenang lainnya untuk menunjukkan bahwa audit telah direncanakan dengan baik
dan diawasi secara memadai, bukti yang dikumpulkan telah tepat dan mencukupi,serta
laporan audit adalah tepat dengan mempertimbangkan hasil audit, maka dengan
adanya dokumentasi audit yang berisi catatan mengenai bukti yang dikumpulkan dan
hasil pengujian, auditor dapat memperlihatkannya.Dokumentasi atau file audit harus
mengidentifikasi item item yang diuji,serta mendokumentasikan hasil temuan atau
masalah audit yang signifikan, tindakan yang diambil untuk menanganinya, dan dasar
kesimpulan yang diperoleh.
§ Data untuk menentukan jenis laporan audit yang tepat.
File audit menyediakan sumber informasi yang penting untuk membantu auditor dalam
memutuskan apakah bukti yang tepat dan mencukupi telah dikumpulkan guna
menjustifikasi laporan audit berdasarkan kondisi tertentu.Otomatis, berdasarkan bukti
audit tersebut, data yang ada dalam file audit juga kegunaan telah disajikan secara
wajar.
§ Dasar bagi penelaahan oleh supervisor dan partner.
Dokumentasi audit menjadi acuan utama bagi supervisor untuk menelaah pekerjaan
asisten (junior auditor).Telaah secara cermat oleh suoervisor juga memberikan bukti
bahwa audit telah diawasisebagaimana mestinya.

E. Kepemilikan, Kerahasiaan, dan Persyaratan untuk Menyimpan Dokumentasi Audit


Dokumentasi audit yang disiapkan selama penugasan merupakan milik auditor.
Pada setiap akhir penugasan, file audit ini akan disimpan dikantor akuntan public untuk
digunakan sebagai acuan audit dimasa penugasan berikutnya. Auditor
harus senantiasa melindungi file auditnya setiap waktu.
Selama pelaksanaan audit, auditor biasanya akan memperoleh sejumlah besar
informasi yang bersifat rahasia mengenai kliennya, seperti besarnya gaji manajer dan
direktur, hargga pokok produksi, rencana pengembangan bisnis, perancangan produk
baru, dan rencana kegiatan promosi. Sesuai dengan kode prilaku professional, auditor
tidak boleh mengungkapkan setiap informasi rahasia mengenai kliennya yang
diperolehselama penugasan audit kecuali dengan persetujuan klien atau diminta oleh
pengadilan. Ijin dari klien tidak diperlukan jika dokumentasi audit diminta oleh
pengadilan sebagai bukti hukum, atau digunakan sebagai bagian dari program peer
review di sini adalah hasil pekerjaan yang dilakukan oleh akuntan public lainnya.
Sarbanes Oxley Act mensyaratkan akuntan public untuk menyiapkan dan
menjaga file audit serta informasi lainnya yang berkaitan dengan setiap laporan audit
secara cukup rinci guna mendukung kesimpulan auditor, selama periode yang tidak
kurang dari tujuh tahun. Undang-undang ini menetapkan bahwa tindakan pengrusakan
atas dokumen audit yang dilakukan dengan sadar dan sengaja dalam kurun waktu tujuh
tahun tersebut dapat dituduh berbuat kriminal dan akan dikenakan denda keuangan
serta hukuman penjara maksimal 10 tahun.

E. Isi File Audit


Pada dasarnya, isi file audit dapat dibedakan menjadi dua bagian,
yaitu file permanen dan file tahun berjalan. File permanen berisi data historis mengenai
klien yang memiliki keterkaitan secara terus menerusdengan audit saat ini.File ini dapat
menjadi sumber informasi yang penting mengenai audit dari tahun
ketahun.Adapun file tahun berjalan mencakup semua informasi dan data yang terkait
secara khusus denganpenugasan audit dalam tahun berjalan.
File permanen umumnya meliputi:
§ Kutipan atau salinan dari dokumen perusahaan yang terus penting artinya, seperti akte
pendirian perusahaan, anggaran rumah tangga, bagan perkiraan, pedoman akuntansi,
struktur organisasi, perjanjian penerbitan obligasi, dan kontrak kontrak yang terkait
dengan program pensiun, sewa menyewa,opsi saham, kontrak tenaga kerja, dan lain
sebagainya.
§ Dokumentasi pengendalian internal, seperti flowcharts, yang digunakan sebagai titik awal
untuk mendokumentasikan pemahaman auditor atas pengendalian internal, yang
dimana sistem tersebut seringkali tidak berubah dari tahun ketahun.
§ Hasil prosedur analitis tahun sebelumnya,yang berguna dalam membantu auditor untuk
memutuskan apakah ada perubahan tidak biasa dalam saldo akun tahun berjalan yang
harus diselidiki secara ekstensif.
File tahun berjalan meliputi:
§ Rencana dan program audit.
Rencana audit berisi tentang strategi yang akan dijalankan oleh auditor dalam
melakukan audit.Dokumen ini menguraikan pemahaman auditor mengenai klien dan
risiko audit potensial, yang berisi kerangka kerjadasar tentang bagaimana sumber daya
audit (jam audit yang dianggarkan) akan dialokasikan ke berbagai bagian penugasan.
Program audit berisi prosedur audit yang akan dilakukan oleh auditor.Biasanya setiap
proses bisnis dan saldo akun memiliki program audit yang terpisah.
§ Neraca saldo periode berjalan.
Program perangkat lunak akan memungkinkan auditor untuk mengunduh saldo akhir
buku besar klien kedalam file neraca saldo berjalan.Neraca saldo ini akan
menghubungkan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dengan kertas
kerja audit.Disamping kolom nama perkiraan, neraca saldo juga berisi kolom referensi
kertas kerja, saldo akun tahun sebelumnya, saldo akun tahun berjalan sebelum
penyesuaian, dan kolom untuk jurnal penyesuaian serta reklasifikasi.Setiap saldo akun
yang ada pada neraca saldo berjalan akan didukung oleh lead schedule yang berisi
rinciannya dan supporting schedule.
§ Jurnal penyesuaian dan reklasifikasi
Jurnal penyesuaian dibuat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam catatan
klien.Sebagai contoh,jika auditur menemukan bahwa jenis persediaan tertentu telah
dinilai secara tidak tepat,maka jurnal penyesuaian akan diusulkan untuk memperbaiki
jumlah yang salah tersebut.Jurnal penyesuaian dibukukan baik dalan catatan klien
maupun neraca saldo berjalan.Jurnal rekalasifikasi dibuat untuk menyajikan informasi
secara tepat dalam laporan keuangan.Jurnal reklasifikasi memengaruhi akun laporan
laba rugi atau akun neraca,tetapi tidak kedua-duanya.Sebagai contoh,jurnal reklasifikasi
diperlukan untuk menyajikan besarnya bagian dari kewajiban jangka panjang yang
bersifat lanca.Jurnal reklasifikasi tidak dibukukan ke catatan klien.
§ Skedul Pendukung.

Bagian terbesar dari dokumentasi audit meliputi skedul pendukung,yang disiapkan oleh
klien atau auditor untuk mendukung jumlah tertentu dalam laporan keuangan. Auditor
harus memilih jenis skedul yang tepat untuk setiap aspek auditit tertentu untuk
mendokumentasi kecukupan audit dan memenuhi tujuan lain dari dokumentasi
audit.Sebagai contoh,total harga perolehan aktiva tetap berikut total akumulasi
penyusutannya yang ada dalam neraca dirinci dalam skedul utama yang menunjukkan
jenis aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan sehingga membentuk total aktiva
tetap.Masing-masing jenis aktiva tetap tersebut kemudian diuraikan lagi secara individu
dalam skedul pendukung yang menggambarkan harga perolehan, tahun perolehan,
perhitungan penyusutan, sampai pada nilai buku dari masing-masing jenis aktiva tetap
secara individu.

Anda mungkin juga menyukai