Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH PROFESI KEPENDIDIKAN

PERAN GURU BIDANG STUDI PADA SETIAP SUBSTANSI MANAJEMEN


PENDIDIKAN

Disusun Oleh :
1. Adhyta Cahyani 7143142001
2. Alfi Rahmah 7143142002
3. Elfina Devianty 7143142011
4. Fitri Anisa 7141142007

PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena ridho, hikmah, kemurahan
dan BERKAH-nyalah kami selaku penyusun dan mahasiswa dapat menyelesaikan tugas
makalah mata kuliah profesi kependidikan. Tugas ini bertemakan tentang peranan guru
bidang studi pada setiap substansi manajemen pendidikan.
Makalah ini ditulis bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi juga untuk berbagi
pengetahuan kepada para pembaca berupa informasi dan ilmu mengenai peranan guru bidang
studi pada setiap substansi manajemen pendidikan, serta semua yang berkaitan tentang hal
tersebut dan yang berkaitan dengan mata kuliah profesi kependidikan.
Tugas ini juga tak akan rampung bila tidak ada bantuan dari berbagai pihak yang
punya peran dalam penyusunan makalah ini, yaitu orang tua, teman-teman, dan dosen mata
kuliah profesi kependidikan yaitu Bapak Faisal, S.Pd, M.Pd. kami ucapkan banyak terima
kasih.
Adapun fungsi dari penulisan makalah ini untuk mengetahui tentang bagaimana
peranan guru bidang studi pada setiap substansi manajemen pendidikan. Dengan
memanfaatkan informasi serta data yang ada di sumber bacaan dan sumber buku, pengerjaan
makalah ini semakin tepat dan lancar sesuai dengan yang semestinya.
Pada akhirnya, kami sadari makalah ini masih banyak kekurangan di mana-mana
dalam pembahasannya, mudah-mudahan dapat di perbaiki di lain kesempatan. Kami
menerima segala kritik dan saran dari berbagai pihak guna memperbaiki makalah ini menjadi
lebih baik lagi.

Medan, 26 April 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................................................2
1.3 Tujuan.......................................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................................3
2.1 Kurikulum.................................................................................................................................3
2.2 Peserta Didik...........................................................................................................................15
2.3 Pendidik dan Tenaga Kependidikan........................................................................................16
2.4 Sarana dan Prasarana..............................................................................................................20
2.5 Keuangan................................................................................................................................23
2.6 Layanan Khusus......................................................................................................................24
2.7 Ketatausahaan.........................................................................................................................28
2.8 Mitra Sekolah dengan Masyarakat..........................................................................................32
BAB III PENUTUP.............................................................................................................................36
3.1 Kesimpulan.............................................................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................37

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menjadi seorang administrator, berarti tugas guru ialah merencanakan,
mengorganisasikan, menggerakkan, mengawasi dan mengevaluasi program
kegiatan dalam jangka pendek, menengah atau pun jangka panjang yang menjadi
perioritas tujuan sekolah.
Untuk mendukung terpenuhinya kebutuhan utama sekolah, maka tugas
perancang yaitu; menyusun kegiatan akademik (kurikulum dan pembelajaran),
menyusun kegiatan kesiswaan, menyusun kebutuhan sarana-prasarana dan
mengestimasi sumber-sumber pembiayaan operasional sekolah, serta menjalin
hubungan dengan orangtua, masyarakat, stakeholders dan instansi terkait.
Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan guru, yaitu:
 Mengerti dan memahami visi-misi dan tujuan lembaga sekolah atau
madrasah. Guru dapat menjabarkannya ke dalam sebuah isi (content)
kurikulum dan pembelajaran (learning), kegiatan kesiswaan, penciptaan
kultur/budaya sekolah, serta membangun penguatan kelembagaan yang
sehat dan berkualitas.
 Mampu mengalisis data-data yang terkait masalah perubahan kurikulum,
perkembangan peserta didik, kebutuhan sumber belajar dan pembelajaran,
strategi pembelajaran, perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek) serta informasi.
 Mampu menyusun perioritas program sekolah secara terukur dan
sistematis, seperti proses rekuitmen siswa, masa orientasi siswa, proses
pembelajaran, hingga proses evaluasi.
Guru juga dikatakan sebagai penggerak, yaitu mobilisator yang mendorong
dan menggerakkan sistem organisasi sekolah. Untuk melaksanakan fungsi-fungsi
tersebut, seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual dan kepribadian
yang kuat. Kemampuan intelektual, misalnya; punya jiwa visioner, jiwa kreator,
jiwa peneliti, jiwa rasional/cerdik dan jiwa untuk maju. Sedangkan kepribadian
seperti; wibawa, luwes, adil dan bijaksana, arif dan jujur, sikap objektif dalam

1
mengambil keputusan, toleransi dan tanggung jawab, komitmen, disiplin, dan
lain-lain..
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana peran guru bidang studi dalam kurikulum?
2. Bagaimana peran guru bidang studi terhadap peserta didik?
3. Bagaimana peran guru bidang studi terhadap pendidik dan tenaga
kependidikan?
4. Bagaimana peran guru bidang studi dalam sarana dan prasarana?
5. Bagaimana peran guru bidang studi dalam keuangan?
6. Bagaimana peran guru bidang studi terhadap layanan khusus?
7. Bagaimana peran guru bidang studi terhadap ketatausahaan?
8. Bagaimana peran guru bidang studi terhadap mitra sekolah dengan
masyarakat?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui peran guru bidang studi dalam kurikulum
2. Untuk mengetahui peran guru bidang studi terhadap peserta didik
3. Untuk mengetahui peran guru bidang studi terhadap pendidik dan tenaga
kependidikan
4. Untuk mengetahui peran guru bidang studi dalam sarana dan prasarana
5. Untuk mengetahui peran guru bidang studi dalam keuangan
6. Untuk mengetahui peran guru bidang studi terhadap layanan khusus
7. Untuk mengetahui peran guru bidang studi terhadap ketatausahaan
8. Untuk mengetahui peran guru bidang studi terhadap mitra sekolah dengan
masyarakat

BAB II
PEMBAHASAN

Di sekolah guru berada dalam kegiatan manajemen administrasi sekolah,


terutama ketatausahaan sekolah. Sekolah melaksanakan kegiatanya untuk
menghasilkan lulusan yang jumlah serta mutunya telah ditetapkan. Dalam lingkup
administrai atau ketatausahaan sekolah itu peranan guru amat penting, seperti
penetapkan kebijaksanaan dan melaksanakan proses perencanaan,
pengorganisasiaan, pengarahan, pengkoordinasiaan, pembiayaan, dan penilaian

2
kegiatan kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana sekolah, personalia sekolah,
keuangan dan hubungan sekolah-masyarakat guru harus memberikan sumbangan
baik tenaga maupun pikiran.

2.1 Kurikulum
I. Konsep Kurikulum
Kurikulum dalam sistem pendidikan merupakan komponen yang teramat
penting, karena merupakan pedoman dalam penyelenggaraan proses pembelajaran
di sekolah. Kualitas keluaran pendidikan juga dipengaruhi oleh kurikulum dan
efektivitas pelaksanaannya. Kurikulum harus sesuai dengan filsafat dan cita-cita
bangsa, perkembangan siswa, perkembangan ilmu pengetahuan, serta kemajuan
dan tuntutan masyarakat terhadap lulusan lembaga pendidikan tersebut.
Kurikulum adalah seperangkat bahan pengalaman belajar siswa dengan segala
pedoman pelaksanaannya yang tersusun secara sistematik dan dipedomani oleh
sekolah dalam kegiatan mendidik siswanya.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah sebuah konsep
kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan
(kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya
dapat dirasakan oleh siswa berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi
tertentu. KTSP merupakan perangkat pengembangan program pendidikan yang
mengantarkan siswa memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan dan nilai-
nilai yang digunakan dalam berbagai bidang kehidupan. KTSP merupakan
kurikulum yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan dan sikap sehingga
dapat meningkatkan potensi peserta didik secara utuh.
Menurut Kunandar (2007) sebagai sebuah konsep, sekaligus sebagai
sebuah program KTSP mempunyai karakteristik berikut ini.
a. KTSP menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara KTSP
individual maupun klasikal. Dalam KTSP peserta didik dibentuk untuk
mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap,
minat, yang pada akhirnya akan membentuk pribadi yang terampil dan
mandiri.

3
b. KTSP berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.
c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode
yang bervariasi.
d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi sumber belajar lainnya yang
memenuhi unsur edukatif.
e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya
penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Standar kompetensi yang diharapkan dicapai peserta didik mencakup
aspek berfikir, keterampilan dan kepribadian. Tujuan utama dari standar
kompetensi adalah untuk memberikan arah kepada pendidik tentang kemampuan
dan keterampilan yang menjadi fokus proses pembelajaran dan penilaian.

II. Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum


Kerangka kerja pengembangan kurikulum bertujuan untuk membuat
proses, implementasi, dan pengawasan kurikulum agar lebih mudah dikelola.
Menurut Oemar Hamalik (2009) kegiatan pengembangan kurikulum terdiri dari
sembilan komponen yaitu;
1. Kebijakan umum dalam kegiatan belajar mengajar
2. Program kegiatan
3. Rencana pengembangan sekolah
4. Organisasi dan struktur kurikulum
5. Skema kerja
6. Penilaian, perekaman dan pelaporan
7. Petunjuk teknis
8. Perencanaan jangka pendek dan menengah, dan
9. Strategi monitoring.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan
menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada
standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum
yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip:

4
a. Berpusat pada potensi perkembangan kebutuhan dan kepentingan peserta
didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip
bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan
kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut,
pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi,
perkembangan, kebutuhan, kepentingan peserta didik serta tuntutan
lingkungan.
b. Beragam dan terpadu. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan
keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah dan jenjang serta
jenis pendidikan tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat
serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi
komponen muatan wajib, kurikulum muatan lokal dan pengembangan diri
secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang
bermakna dan tepat antar substansi.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni.
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan
teknologi dan seni, berkembang secara dinamis. Oleh karena itu semangat
dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan
memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan
seni.
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan Pengembangan kurikulum
dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan untuk menjamin
relevansi pendidikan dengan kebutuhan hidup termasuk di dalamnya
kehidupan kemasyarakatan dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu
pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan sosial, keterampilan
akademik dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
e. Menyeluruh dan berkesinambungan

5
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang
kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan
secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
f. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum dikembangkan sepanjang hayat kepada proses pengembangan
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung
sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur
pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan
kondisi dan tuntuntan lingkungan yang selalu berkembang serta arah
pengembangan manusia seutuhnya
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional
dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara, Kepentingan nasional dan dan kepentingan
daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto
Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia (Kunandar, 2007: 140-141)

Dalam melaksanakan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan


prinsip sebagai berikut:
a. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi perkembangan peserta
didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya dalam hal
ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu
serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara
bebas dan menyenangkan.
b. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar yaitu:
(1) belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2)
belajar untuk memahami dan menghayati, (3) belajar untuk mampu
melaksanakan dan berbuat secara efektif, (4) belajar untuk hidup bersama
dan berguna bagi orang lain, dan (5) belajar untuk membangun dan

6
menemukan jati diri melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan.
c. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan
yang bersifat perbaikan, pengayaan dan atau percepatan sesuai dengan
potensi, tahap perkembangan dan kondisi peserta didik dengan tetap
memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang
berdimensi ke tuhanan keindividuan, kesosialan dan moral.
d. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana peserta didik dan pendidik yang
saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat dengan
prinsip tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung
tulada (di belakang memberi daya dan kekuatan, di tengah membangun
semangat dan prakarsa di depan memberikan contoh dan teladan).
e. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi
dan multimedia sumber belajar dan teknologi yang memadai dan
memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dengan prinsip
semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan
lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan contoh dan
teladan.
f. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam sosial dan
budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan
muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
g. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran,
muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam
keseimbangan, keterkaitan dan kesinambungan yang cocok dan memadai
antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.

III. Peran guru bidang study dalam pengembangan kurikulum disekolah


Menurut Oemar Hamalik (2009) peran guru dalam pengembangan
kurikulum adalah:
a. Pengelolaan administratif. Pengelolaan administrasi adalah pengelolaan
secara tercatat, teratur, dan tertib sebagai penunjang jalannya pendidikan

7
yang lancar. Ruang lingkupnya antara lain mencakup administrasi
kurikulum, administrasi siswa, administrasi personal, administrasi
material, dan administrasi keuangan.
b. Pengelolaan konseling dan pengembangan kurikulum. Pengelolaan
layanan bimbingan konseling dan pengembangan kurikulum merupakan
hal yang mendesak dan diperlukan untuk menunjang pencapaian tujuan
pendidikan.
c. Guru sebagai tenaga profesional. Guru tidak hanya berperan sebagai guru
di dalam kelas, ia juga seorang komunikator, pendorong kegiatan belajar,
pengembang alat-alat belajar, penyusun organisasi, manajer sistem
pengajaran, dan pembimbing baik di sekolah maupun di masyarakat.
d. Berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Guru diharapkan berperan
aktif dalam kepanitiaan atau tim pengembang kurikulum. Oleh karena itu
guru memegang peranan penting dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
pengembangan kurikulum di kelasnya.
e. Meningkatkan keberhasilan sistem instruksional. Keberhasilan mengajar
bergantung pada kepribadian, pengetahuan, dan keahlian guru. Dengan
keahlian, keterampilan, dan kemampuan seninya dalam mengajar, guru
mampu menciptakan situasi belajar yang aktif dan mampu mendorong
kreativitas anak.
f. Pendekatan kurikulum. Guru yang bijaksana senantiasa berupaya
mengembangkan kurikulum sekolah berdasarkan kepentingan masyarakat,
kebutuhan siswa, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.Upaya
pengembangan ini disertai dengan tindakan yang nyata di kelas.
g. Meningkatkan pemahaman konsep diri. Guru dapat mengembangkan
kurikulum dengan cara mempelajari lebih banyak tentang dirinya sendiri.
Keberhasilan guru terletak pada pengetahuan tentang diri dan pengenalan
terhadap kekuatan dan kelemahan pribadi serta bagaimana mengatasi
kelemahan-kelemahan tersebut.
h. Memupuk hubungan timbal balik yang harmonis dengan siswa. Guru
berupaya mendorong dan memajukan kegiatan belajar siswa sehingga

8
terjadi perubahan tingkah laku yang diinginkan. Guru hendaknya bersikap
menerima, meenghargai, dan menyukai siswanya sehingga siswapun
menyenangi guru dan menghayati harapan serta keinginan gurunya.

IV. Peran Guru Bidang Studi dalam Pengembangan Kurikulum Tingkat


Satuan Pendidikan
Dalam KTSP guru ditempatkan sebagai fasilitator dan mediator yang
membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Perhatian utama pada
siswa yang belajar bukan pada disiplin atau guru yang mengajar. Fungsi fasilitator
dan mediator:
a. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa
bertanggungjawab dalam membuat rancangan dan proses.
b. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang
keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan
gagasan-gagasannya, menyediakan sarana yang merangsang siswa berfikir
secara produktif, menyediakan kesempatan dan pengalaman konflik.
c. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan
atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan
siswa berlaku untuk menghadapi persoalan baru. Guru membantu
mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan siswa.
Peran guru dalam KTSP adalah sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar
mengajar. Sebagai fasilitator guru dituntut mempunyai tujuh sikap berikut ini:
a. Tidak berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinannya
b. Dapat lebih mendengarkan peserta didik
c. Mau dan mampu menerima ide peserta didik yang inovatif dan kreatif;
d. Lebih meningkatkan perhatiannya terhadap hubungan dengan peserta
didik dapat menerima balikan baik yang positif maupun yang negative
e. Toleransi terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik
f. Menghargai peserta didik
Pengembangan kurikulum sekolah menengah sebagian telah dilaksanakan
oleh Diknas, namun bukan berarti di tingkat sekolah tidak ada pengembangan

9
kurikulum lebih lanjut. Guru seharusnya secara profesional tidak dapat
menghindarkan diri untuk tidak melibatkan dalam proses pengembangan
kurikulum terutama dalam proses pelaksanaannya karena, proses pembelajaran
tidak h]anya mencapai target pencapaian saja. Kegiatan yang dilakukan pada
pengembangan kurikulum tingkat lembaga antara lain:
a. Mengembangkan kompetensi lulusan dan merumuskan tujuan pendidikan
pada berbagai jenis lembaga pendidikan.
b. Berdasarkan kompetensi dan tujuan tersebut selanjutnya dikembangkan
bidang-bidang studi yang akan diberikan untuk merealisasikan tujuan
tersebut.
c. Mengembangkan dan mengidentifikasi tenaga-tenaga kependidikan (guru
dan non guru) sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan.
d. Mengidentifikasi fasilitas pembelajaran yang diperlukan untuk memberi
kemudahan belajar.
Kurikulum dalam dimensi kegiatan adalah sebagai manifestasi dari upaya
untuk mewujudkan kurikulum yang masih dokumen tertulis menjadi aktual dalam
serangkaian aktivitas belajar mengajar. Terdapat beberapa kegiatan guru dalam
upaya mengembangkan kurikulum yang berlaku di sekolah yang meliputi
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum.

A. Kegiatan Guru dalam Merencanakan Kurikulum


Menurut Sudjana (2000) pada dasarnya kegiatan merencanakan meliputi
penentuan tujuan pengajaran, menentukan bahan pelajaran, menentukan alat dan
metode pembelajaran, dan merencanakan penilaian. Bentuk-bentuk pembelajaran
yang disarankan dari KTSP meliputi meliputi: pembelajaran autentik,
pembelajaran berbasis inquiri, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran
berbasis layanan, pembelajaran berbasis kerja, dan pembelajaran berbasis
portofolio.

10
Kegiatan yang dilakukan pada tingkat pengembangan kurikulum tingkat
bidang studi (penyusunan silabi) antara lain:
1. Mengidentifikasi dan menentukan jenis-jenis kompetensi dan tujuan setiap
bidang studi.
2. Mengembangkan kompetensi dan pokok-pokok bahasan serta
mengelompokkannya sesuai dengan ranah pengetahuan, pemahaman,
kemampuan (keterampilan), nilai, dan sikap.
3. Mendeskripsikan kompetensi serta mengelompokkannya sesuai dengan
skope dan skuensi.
4. Mengembangkan indikator untuk setiap kompetensi serta kriteria
pencapaiannya.
Tahap perencanaan dalam kegiatan pembelajaran adalah tahap yang
berhubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar. Kemampuan guru
dapat dilihat dari cara atau proses penyusunan program kegiatan pembelajaran
yang dilakukan oleh guru yaitu mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) Diknas (2009) menjelaskan unsur/komponen silabus terdiri
dari: identitas silabus, standar Kompetensi (SK), kompetensi Dasar (KD), materi
Pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, alokasi waktu, dan sumber
Pembelajaran.
Program pembelajaran jangka waktu singkat sering dikenal dengan istilah
RPP, yang merupakan penjabaran lebih rinci dan spesifik dari silabus ditandai
oleh adanya kompenen-komponen: identitas RPP, standar Kompetensi (SK),
kompetensi Dasar (KD) , indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran,
alokasi waktu, metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan, sumber
pembelajaran, dan penilaian.

B. Kegiatan Guru dalam Melaksanakan Kurikulum


Melaksanakan kurikulum merupakan kegiatan inti dari proses
perencanaan, karena tidak akan mempunyai makna apa-apa jika rencana tersebut
tidak dapat dilaksanakan. Melaksanakan kurikulum yang dimaksud adalah guru
mampu mengimplementasikan dalam proses belajar mengajar. Proses belajar

11
mengajar pada dasarnya dapat berlangsung di dalam dan di luar sekolah dan di
dalam jam pelajaran atau di luar jam pelajaran yang telah dijadwalkan
(Depdiknas, 2008).
Untuk mengetahui ketercapaian harus diadakan pengujian secara tepat.
Tujuan evaluasi adalah :
1. Memberikan umpan balik kepada guru dan peserta didik dengan tujuan
memperbaiki cara pembelajaran, mengadakan perbaikan dan pengayaan
bagi peserta didik pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai
dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya.
2. Memberikan informasi kepada peserta didik tentang tingkat
keberhasilannya dalam belajar dengan tujuan untuk memperbaiki,
mendalami atau memperluas pelajarannya.
3. Menentukan nilai hasil belajar. Sistem penilaian yang dikembangkan
adalah sistem penilaian yang berbasis portofolio yaitu suatu usaha untuk
memperoleh berbagai informasi secara berkala berkesinambungan, dan
menyeluruh tentang proses dan hasil pertumbuhan dan perkembangan
wawasan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik yang
bersumber dari catatan dan dokumen pengalaman belajarnya.
Evaluasi program merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan
dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program serta faktor-faktor
yang mendukung atau menghambat keberhasilan tersebut.
Penyusunan silabus mengacu pada Kurikulum Berbasis Kompetensi dan
perangkat komponen-komponennya yang disusun oleh Pusat Kurikulum, Badan
Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional. Sekolah yang
mempunyai kemampuan mandiri dapat menyusun silabus yang sesuai dengan
kondisi dan kebutuhannya setelah mendapat persetujuan dari Dinas Pendidikan
setempat (provinsi, kabupaten/kota). Dinas Pendidikan setempat dapat
mengkoordinasikan sekolah-sekolah yang belum mempunyai kemampuan mandiri
untuk menyusun silabus. Penyusunan silabus dapat dilakukan dengan melibatkan
para ahli atau instansi yang relevan di daerah setempat seperti tokoh masyarakat,
instansi pemerintah, instansi swasta termasuk perusahaan dan industri, atau

12
perguruan tinggi. Bantuan dan bimbingan teknis untuk penyusunan silabus
sepanjang diperlukan dapat diberikan oleh Pusat Kurikulum.
Dalam pembelajaran tugas guru yang utama adalah mengkondisikan
lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.
Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal yaitu: pre tes, proses
pembelajaran dan pos tes. Pre tes sangat penting dalam menjajagi proses
pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu hasil pre tes harus segera
diperiksa sebelum proses pembelajaran inti dilaksanakan. Pemeriksaan harus
dilakukan secara cermat dan cepat jangan sampai mengganggu suasana belajar
dan jangan sampai mengalihkan perhatian peserta didik. Untuk itu pada waktu
memeriksa pre tes perlu diberikan kegiatan lain misalnya membaca hand out. Pre
tes sebaiknya dilaksanakan secara tertulis meskipun boleh juga dilaksanakan
secara lisan atau perbuatan.
Proses pembelajaran dikatakan efektif jika seluruh peserta didik terlibat
secara aktif baik mental, fisik, maupun sosialnya. Kualitas pembelajaran dapat
dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan
berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar
(75 %) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam
proses pembelajaran di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi,
semangat belajar yang besar dan rasa percaya diri sendiri. Dari segi hasil proses
pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku.yang positif
pada diri peserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%).
Proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata
menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi serta sesuai dengan
kebutuhan perkembangan masyarakat dan pembangunan.

C. Kegiatan Guru dalam Menilai Kurikulum


Evaluasi kurikulum adalah proses untuk menilai kinerja pelaksanaan suatu
kurikulum. Menurut Departemen Pendidikan Nasional Guru sebagai pengembang
kurikulum di sekolah harus senantiasa melaksanakan evaluasi atau penilaian
kurikulum secara kontinyu dan komprehesnsip. Penilaian terhadap kurikulum

13
sesungguhnya sangat luas, oleh karena itu untuk dapat melakukan penilaian secara
akurat terlebih dahulu harus dipahami pengertian kurikulum yang dianutnya,
sebab penilaian terhadap kurikulum berarti menyangkut kurikulum sebagai
rencana, kurikulum sebagai hasil, kurikulum sebagai proses dan kurikulum
sebagai hasil dan sebagainya (Departemen Pendidikan Nasional 2008).
Sistem kurikulum memiliki tiga fungsi pokok, yaitu pengembangan
kurikulum, pelaksanaan kurikulum dan evaluasi kurikulum. Evaluasi kurikulum
minimal berfokus pada empat bidang yaitu evaluasi terhadap desain kurikulum,
penggunaan kurikulum, hasil dari siswa, dan sistem kurikulum. Menurut Taylor
dalam Oemar Hamalik evaluasi kurikulum harus dilaksanakan berturut-turut
sepanjang proses pengembangan kurikulum yang terdiri atas empat tahapan yaitu
penentuan tujuan pendidikan, pemilihan pengalaman pembelajaran,
pengorganisasian pembelajaran, dan evaluasi efek pembelajaran (Oemar Hamalik,
2009). Berdasarkan uraian ini sangatlah relevan bagi guru sebagai pengembang
kurikulum untuk melaksanakan evaluasi kurikulum karena dalam melaksanakan
tugasnya seorang guru dituntut mampu melaksanakan aktivitasnya mulai dari
merencanakan kurikulum, melaksanakan kurikulum dan mampu menilai
kurikulum tersebut. Terdapat beberapa prinsip evaluasi kurikulum yaitu:
1. Tujuan tertentu
2. Bersifat objektif
3. Bersifat komprehensif
4. Kooperatif dan bertanggungjawab dalam pelaksanaan
5. Efisien, dan
6. Berkesinambungan.

2.2 Peserta Didik


Siswa merupakan salah satu sub-sistem yang penting dalam system
pengelolaan pendidikan di sekolah menengah. Administrasi kesiswaan merupakan
proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa di suatu sekolah milau
dari perencanaan penerimaan siswa, pembinaan selama siswa berada di sekolah,
sampai dengan siswa menamatkan pendidikannya melalui penciptaan suasana

14
yang kondusif terhadap berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif.
Tugas kepala sekolah dan para guru dalam hal ini adalah memberikan layanan
kepada siswa, dengan memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan.

a. Kegiatan dalam Manajemen Pendidikan Peserta Didik


Kegiatan dalam administrasi kesiswaan terdapat tiga bagian besar,
yaitu kegiatan penerimaan siswa, pembinaan siswa, dan penamatan program siswa
di sekolah.
1. Penerimaan siswa adalah proses pencatatan dan layanan kepada siswa
yang baru masuk sekolah setelah mereka memenuhi persyaratan-
persyaratan yang ditentukan oleh sekolah itu.
2. Pembinaan siswa adalah pemberian layanan kepada siswa disuatu lembaga
pendidkan, baik di dalam maupun di luar jam belajarnya di kelas.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka pembinaan siswa ini
adalah: (1) memberikan orientasi pada siswa baru, (2) mengatur dan atau
mencatat kehadiran siswa, (3) mencatat prestasi dan kegiatan siswa, dan
(4) mengatur disiplin siswa di sekolah
3. Tamat belajar
Apabila siswa telah menamatkan (selesai dan lulus) semua mata pelajaran
atau telah menempuh kurikulum sekolah dengan memuaskan, maka siswa berhak
mendapatkan surat tanda tamat belajar dari ekpala sekolah. Dalam hal yang
demikian siswa sudah tidak mempunyai hak lagi untuk tetap tinggal di sekolah
yang bersangkutan karena dianggap telah menguasai semua mata pelajaran atau
kurikulum sekolah.
b. Peranan Guru dalam Substansi Manajemen Pendidikan Peserta Didik
Keterlibatan guru dalam administrasi kesiswaaqn tidak sebanyak
keterlibatannya dalam mengajar. Dalam administrasi kesiswaan guru lebih banyak
berperan secara tidak langsung. Beberapa peranan guru dalam administrasi
kesiswaan itu diantaranya adalah:

15
1. Dalam penerimaan siswa, para guru dapat dilibatkan untuk ambil bagian,
sebagai panitia penerimaan yang dapt melaksanakan tugas-tugas teknis.
2. Dalam masa orientasi, tugas guru adalah membuat agar para siswa cepat
beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya.
3. Untuk pengaturan kehadiran siswa dikelas, guru diharapkan mapu
mencatat/ merekam kehadiran ini meskipun dengan sederhana akan tetapi
harus baik.
4. Dalam memotifasi siswa untuk senantiasa berprestasi tinggi, guru juga
harus mampu menciptakan suasana yang mendukung hal tersebut.
5. Dalam menciptakan disiplin sekolah atau kelas yang baik, peranan guru
sangat penting karena guru dapat menjadi model.

2.3 Pendidik dan Tenaga Kependidikan


I. Guru sebagai pendidik
Pendidik dalam Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003
didefinisikan dengan tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru,
dosen, konselor, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan
kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, Bab XI Pasal 39 Ayat 2
dikatakan bahwa Guru sebagai pendidik adalah tenaga profesional yang bertugas
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Peran guru sebagai pendidik merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-
tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan
pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan
anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup
dalam keluarga dan masyarakat.
Peran guru sebagai pendidik merupakan peran-peran yang berkaitan
dengan tugas- tugas memberi bantuan dan dorongan, tugas-tugas pengawasan dan
pembinaan serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar
anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam

16
keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-
pengalaman lebih lanjut. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan
pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus
mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang
dengan norma-norma yang ada. Model pembelajaran berkarakter :
2.1 Pembiasaan, adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang
agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan.
2.2 Keteladanan, memiliki fungsi untuk membentuk kepribadian anak guna
menyiapkan dan mengembangkan SDM.
2.3 Pembinaan disiplin peserta didik, guru harus mampu menumbuhkan
disiplin peserta didik, terutama disiplin diri (self-discipline).

II. Guru sebagai Pengajar


Guru adalah seseorang yang pekerjaannya mengajar. Maka, dalam hal ini
guru yang dimaksudkan adalah guru yang memberi pelajaran atau memberi materi
pelajaran pada sekolah-sekolah formal dan memberikan pelajaran atau mengajar
materi pelajaran yang diwajibkan kepada semua siswanya berdasarkan kurikulum
yang ditetapkan.
Peran guru ialah pola tingkah laku tertentu yang merupakan ciri-ciri khas
semua petugas dari pekerjaan atau jabatan tertentu. Guru harus bertanggung jawab
atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi belajar mengajar. Guru
merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses belajar, dan
karenanya guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar di samping menguasai
materi yang akan diajarkan. Dengan kata lain guru harus mampu menciptakan
suatu kondisi belajar yang sebaik-baiknya. Kegiatan belajar peserta didik
dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya:
1. Motivasi
2. Kematangan
3. Hubungan peserta didik dengan guru
4. Tingkat kebebasan
5. Rasa aman
6. Keterampilan guru dalam berkomunikasi

17
Jika faktor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran, peserta
didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi
jelas bagi peserta didik dan terampil dalam memecahkan masalah.
Dalam kegiatan pembelajaran, guru akan bertindak sebagai fasilisator dan
motivator yang bersikap akrab dengan penuh tanggung jawab, serta
memperlakukan peserta didik sebagai mitra dalam menggali dan mengolah
informasi menuju tujuan belajar mengajar yang telah direncanakan. Guru dalam
melaksanakan tugas profesinya selalu dihadapkan pada berbagai pilihan, karena
kenyataan di lapangan kadang tidak sesuai dengan harapan, seperti cara bertindak,
bahan belajar yang paling sesuai, metode penyajian yang paling efektif, alat bantu
yang paling cocok, langkah-langkah yang paling efisien, sumber belajar yang
paling lengkap, sistem evaluasi yang sesuai.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam
pembelajaran, yaitu:
1. Membuat ilustrasi
2. Bertanya dan merespon
3. Menciptakan kepercayaan
4. Memberikan pandangan yang bervariasi
5. Menyediakan media untuk mengkaji materi
6. Meyesuaikan metode pembelajaran
Agar pembelajaran memiliki kekuatan yang maksimal, guru harus
senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang
telah dimilikinya ketika mempelajari materi. Dalam pembelajaran, seorang guru
juga berperan sebagai seorang pembimbing yang senantiasa memberikan
bimbingan kepada anak didik nya.
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai
pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian
diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat.
Dalam keseluruhan proses pendidikan guru merupakan faktor utama.
Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru memegang berbagai jenis peran yang mau
tidak mau harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Setiap jabatan atau tugas tertentu
akan menuntut pola tingkah laku tertentu pula. Sehubungan dengan peranannya
sebagai pembimbing, seorang guru harus:

18
1. Mengumpulkan data tentang siswa
2. Mengamati tingkah laku siswa dalam situasi sehari-hari
3. Mengenal para siswa yang memerlukan bantuan khusus
4. Mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orangtua siswa baik secara
individu maupun secara kelompok untuk memperoleh saling pengertian
tentang pendidikan anak.
5. Bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga lainnya untuk membantu
memecahkan masalah siswa
6. Membuat catatan pribadi siswa serta menyiapkannya dengan baik.
7. Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu.
8. Bekerja sama dengan petugas bimbingan lainnya untuk membantu
memecahkan masalah siswa.
9. Menyusun program bimbingan sekolah bersama-sama dengan petugas
bimbingan lainnya.
10. Meneliti kemajuan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Berdasarkan uraian di atas maka jelaslah bahwa peran guru baik sebagai
pengajar maupun sebagai pembimbing pada hakekatnya saling berkaitan satu
dengan yang lainnya. Dengan kata lain, kedua peran tersebut harus dilaksanakan
secara berkesinambungan dan sekaligus merupakan keterpaduan.

2.4 Sarana dan Prasarana


Untuk menunjang pelaksanaan pendidikan diperlukan fasilitas pendukung
yang sesuai dengan tujuan kurikulum. Dalam mengelola fasilitas agar mempunyai
manfaat yang tinggi diperlukan aturan yang jelas serta pengetahuan dan
keterampilan personil sekolah dalam administrasi prasarana dan sarana tersebut.
Prasarana dan sarana pendidikan adalah semua benda bergerak maupun yang tidak
bergerak yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar
mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Substansi manajemen pendidikan atau administrasi prasarana dan sarana
pendidikan merupakan keseluruhan proses pengadaan, pendayagunaan, dan
pengawasan prasarana dan peralatan yang digunakan untguk menunjang
pendidikan agar tujuan pendidikan yang telah dityetapkan tercapai secara efektif
dan efisien.
Kegiatan dalam administrasi prasarana dan sarana pendidikan meliputi:

19
a) Perencanaan kebutuhan, penyusunan daftar kebutuhan prasarana dan
sarana di sekolah didasarkan atas pertimbangan bahwa:
 Pengadaan kebutuhan prasarana dan sarana karena berkembangnya
kebutuhan sekolah.
 Pengadaan prasarana dan sarana untuk penggantian barang-barang
yang rusak, dihapuskan, atau hilang.
 Pengadaan prasarana dan sarana untuk persediaan barang.
b) Pengadaan prasarana dan sarana pendidikan
Pengadaan adalah kegiatan untuk menghadirkan prasarana dan sarana
pendidikan dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas-tugas sekolah.
Pengadaan prasarana dan sarana pendidikan dapat dilakukan dengan cara:
Pembelian, Buatan sendiri, Penerimaan hibah atau bantuan, Penyewaan,
Pinjaman dan Pendaur ulangan. Pengadaan prasarana dan sarana
pendidikan di suatu lembaga pendidkan atau sekolah dan dilakikan dengan
dana rutin, dana dari masyarakat, atau dana dana bantuan dari pemerintah
daerah atau anggota masyarakat lainnya.
c) Penyimpanan prasarana dan sarana pendidikan
Penyimapanan merupakan kegiatan pengurusan, penyelengaraan, dan
pengaturan persediaan prasarana dan sarana di dalam ruang penyimp[anan
atau gudang. Penyimpanan hanya bersifat sementara. Penyimapanan
dilakukan agar barang atau prasarana dan sarana yang sudah diadakan atau
dihadirkan tidak rusak sebelum tiba saat pemakaian. Penyimpanan barang
harus dilakukan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan sifat-sefat barang
yang disimpan. Dengan demikian nilai guna barang tidak sust sebelum
barang itu dipakai.
d) Infentarisasi prasarana dan sarana pendidikan
Iventarisasi adalah kegiatan melaksanakan pengurusan penyelenggaraan,
pengaturan, dan pencatatan barang-barang yang menjadi milik sekolah
menengah yang bersangkutan dalam semua daftar inventaris barang.
Daftar barang inventaris merupakan suatu dokumen berisi jenis dan
jumlah barang baik bergerak maupun tidak bergerak yang menjadi milik

20
dan dikuasai Negara, serta berada di bawah tanggung jawab sekolah.
Daftar barang itu terdiri dari:
 Inventaris ruangan
 Kartu inventaris barang
 Buku inventaris
e) Pemeliharaan prasarana dan sarana pendidikan
Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari
kerusakan suatu barang, sehingga barang tersebut dalam kondisi baik dan
siap dipakai. Pemeliharaan dilakukan secara kontinu terhadap semua
barang-barang inventaris. Sarana dan prasarana yang telah dibeli dengan
harga mahal akan bertambah mahal apabila tidak dipelihara sehingga tidak
dapat dipergunakan. Pelaksanaan pemeliharaan barang inventaris meliputi:
 Perawatan
 Pencegahan perusakan
 Penggantian ringan
f) Penghapusan prasarana dan sarana pendidikan
Penghapusan ialah kegiatan meniagakan barang-barang milik Negara atau
daerah dari daftar inventaris karena barang itu dianggap tidak memp[unyai
niklai guina atau sudah tidak berfungsi sebagai mana yang diharapkan,
atau biaya pemeliharaannya sudah terlalu mahal.
g) Pengawasan prasarana dan sarana pendidikan
Pengawasan prasarana dan sarana merupakan kegiatan pengamatan,
pemeriksaan, dan penilaian terhadap pelaksanaan administrasi-
administrasi sarana dan prasarana pendidikan di sekolah. Hal ini untuk
menghindari penyimapangan, penggelapan atau penyalahgunaan.
Pengawasan dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan
prasarana pendidikan itu. Pengawasan harus dilakukan asecara objektif,
artinya pengawasan itu harus didasarkan atas bukti-bukti yang ada.
Apabila dari hasil pengawasan/pemeriksaan ternyata terdapat kekurangan-
kekurangan maka kepala sekolah wajib melakukan tindakan-tindakan
perbaikan dan penyelesaiannya.

21
h) Peranan guru dalam administrasi prasarana dan sarana
Sebagai pelaksana tugas pendidikan, guru juga mempunyai andil ndalam
administrasi prasarana dan sarana pendidikan. Dalam hal ini, guru lebih
banyak berhubungan dengan sarana pengajaran, yaitu alat pelajaran, alat
peraga, dan media pengajaran lainnya dibandingkan dengan
keterlibatannya dengan prasaran pendidikan yang tidak langsung
berhubungan.
Peranan guru dalam substansi manajemen pendidikan sarana dan prasarana
dimulai dari perencanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan, serta pengawasan
penggunaan prasarana dan sarana yang dimaksud.
1. Perencanaan
Guru sekolah menengah dituntut untuk memikirkan sarana dan prasarana
pendidikan yang dibutuhkan oleh sekolah , supaya hal tersebut fungsional
dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. Pengadaan barang tersebut
dapat berupa papan temple, majalah diding, papan rencana kegiatan kelas,
dan tempat penyimpanan alat-alat pelajaran atau peraga milik kelas.
2. Pemanfaatan dan pemeliharan
Guru harus dapat memanfaatkan segala sarana seoptimal mungkin dan
bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan pemakaian sarana dan
prasarana pengajaran yang ada. Juga bertanggung jawab terhadap
penempatan sarana dan prasarana tersebut di kelas dimana dia mengajar.
Dalam hal pemeliharaan atau perbaikan yang lebih kompleks, misalnya
berkaitan dengan alat-alat elektronik, petugas atau ahli media, atau tehnisi
pendidikan lebih kompeten untuk melakukan pemeliharaan itu.
3. Pengawasan penggunaan
Apabila sarana dan prasarana pendidikan itu digunakan oleh siswa yang
ada di kelasnya, maka tugas guru adalah melakukan pengawasan atau
memberikan arahan agar siswa dapat menggunakan atau memakai sarana
dan prasarana pendidikan itu sebagai mana mestinya.

2.5 Keuangan

22
Penanggung jawab biaya pendidikan adalah kepala sekolah namun
demikian, guru diharapkan ikut berperan dalam administrasi biaya ini meskipun
menambah beban mereka, juga memberikan kesempatan untuk ikut serta
mengarahkan pembiayaan itu untuk perbaikan proses belajar mengajar.
Administrasi keuangan meliputi kegiatan perencanaan, penggunaan, pencatatan
data, pelaporan dan pertanggung jawaban dana yang dialokasikan untuk
penyelenggaraan sekolah. Tujuan administrasi ini adalah untuk mewujudkan suatu
tertib administrasi keuangan, sehingga pengurusannya dapat dipertanggung
jawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Beberapa peran guru dalam administrasi keuangan ini meliputi:
1. Membuat file keuangan sesuai dengan dana pembangunan.
2. Membuat laporan data usulan pembayaran gaji, rapel ke Pemerintah Kota.
3. Membuat pembukuan penerimaan dan penggunaan dana pembangunan.
4. Membuat laporan dana pembangunan pada akhir tahun anggaran.
5. Membuat laporan Rancangan Anggaran Pendapatan Bantuan Sekolah
( RAPBS ).
6. Membuat laporan tribulan dana Bantuan Operasional Sekolah ( BOS ).
7. Membagikan gaji atau rapel.
8. Menyimpan dan membuat arsip peraturan keuangan sekolah.

2.6 Layanan Khusus


Proses belajar mengajar memerlukan dukungan fasilitas yang tidak secara
langsung dipergunakan di kelas. Fasilitas yang dimaksud antara lain adalah Pusat
sumber belajar, Laboratorium unit kesehatan siswa dan kafetaria sekolah.
1. Pusat sumber belajar
Pusat sumber belajar (PSB) adalah unit kegiatan yang mempunyai fungsi
untuk memproduksi mengadakan, menyimpan serta melayani bahan pengajaran
sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas atau
pelaksanaan pendidikan di sekolah pada umumnya pusat belajar dirancang untuk
membantu pelaksanaan pendidikan di sekolah oleh karena itu pesat sumber belajar
harus diadminitrsikan secara professional. Pusat sumber belajar sekolah dibeli dari
dana yang tersedia, diberi oleh masyarakat (BP3) atau pun diberi oleh pemerintah
Menurut Mulyani A. Nurhadi (1983) (dalam B. Suryosubroto, 2002 : 205),
perpustakaan sekolah adalah suatu unit kerja yang merupakan bagian integral dari

23
lembaga pendidikan sekolah, yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan
pustaka yang dikelola dan diatur secara sitematis dengan cara tertentu untuk
digunakan oleh siswa dan guru sebagai sumber informasi, dalam rangka
menunjang program belajar mengajar di sekolah.
Berdasarkan pengertian tersebut, adapun ciri atau unsur pokok yang ada
dalam perpustakaan yaitu :
1. Tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan
pustaka.
2. Koleksi bahan pustaka yaitu dikelola dan diatur secara sistematis dengan
cara tertentu.
3. Untuk digunakan secara kontinyu oleh guru dan murid sebagai sumber
informasi.
4. Merupakan suatu unit kerja.
Mulyani A. Nurhadi (1983) (dalam B. Suryosubroto, 2002 : 206)
menjelaskan bahwa dalam hubungannya dengan keseluruhan proses pendidikan di
sekolah, perpustakaan berperan sebagai instalasi atau sebagai sarana pendidikan
yang bersifat teknis edukatif, bersama-sama dengan unsur-unsur lainnya ikut
menentukan terjadinya proses pendidikan. Layanan perpustakaan bertujuan untuk
membantu meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dengan cara memberikan
kesempatan untuk menumbuhkan sikap senang membaca dalam mengembangkan
bakat siswa. Untuk mencapai kal tersebut perpustakaan harus dikembangkan
sehingga mampu menarik perhatian siswa yang pada gilirannya dapat mendorong
mereka untuk menggunakan perpustakaan sekolahnya.
Hak semua guru harus terlibat langsung dalam administrasi perpustakaan
sekolah. S. Nasution (1989), mengemukakan antara lain :
1. Memperkenalkan buku-buku kepada para siswa dan guru-guru.
2. Memilih buku-buku dan bahan pustaka lainnya yang akan digunakan
untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah.
3. Mempromosi untuk perpustakaan, baik untuk pemakaian, muapun untuk
pembinaan.
4. Mengetahui jenis dan menguasai kriteria umum yang dapat menentukan
baik buruknya suatu buku.

24
5. Mengusahakan agar siswa aktif membantu perkembangan perpustakaan.

A. Laboratorium
Labolatorium secara sederhana dapat diuraikan sebagai suatu tempat
dimana dosen, mahasiswa, guru, siswa, dan orang lain melaksanakan kegiatan
kerja ilmiah seperti pratikum, observasi, penelitian, demokrasi dan pembuatan
model-model dalam rangka kegiatan belajar mengajar.
a) Jenis-jenis laboratorium
Labolatorium dapat dibedakan atas berapa jenis. Jenis-jenis ini biasanya
disesuaikan dengan bidang studi atau kelompok bidang studi tertentu.
Jenis laboratotium tersebut antra lain:
 Menurut bidang studi misalnya: Labolatorium kimia, fisika, pmp
dan sebagainya.
 Menurut kelompok bidang studi misalnya : Laboratorim IPS, IPA.
 Untuk bidang ilmu teknik labor dapat diartikan sebagai workshop/
bengkel kerja.
2. Perencanaan penggunaan laboratorium
Rencana penggunaan labor minimal meperhatikan hal-hal berikut:
 Jenis laboratorium yang akan digunakan
 Siswa atau pihak yang akan menggunakan
 Waktu yang tersedia
 Peralatan yang ada
 Jenis bidang studi
 Topic yang akan dipelajari
Secara lebih rinci langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan penggunaan laboratorium adalah:
a. Menganalisis kurikulum secara keseluruhan
b. Penentuan bobot taksonomik pokok bahasa
c. Pengembangan desain intruksional
d. Pengembangan materi dan pokok bahasan
e. Menetapkan apakah seluruh bagian, satu atau dua materi pokok bahasan
yang memerlukan “ labotory work”
f. Peralatan yang akan digunakan
g. Penetapan langkah-langkah dalam pengajaran dengan memakai
laboratorium
Peran Guru dalam Pengelolaan Laboratorium adalah :
a. Menjaga laboratorium agar tetap bersih dan rapi.

25
b. Membimbing para peserta didik dalam melaksanakan praktik belajarnya
dengan baik.
c. Mempersiapkan dan Merawat alat-alat peraktikum yang ada didalam.

B. Unit Kesehatan Siswa


Unit Kesehatan Siswa atau UKS merupakan suatu unit yang menangani
masalah kesehatan jasmani siswa. Di sini peran guru yang memiliki pengalaman
serta pemahaman tentang kesehatan jasmani sangat dibutuhkan untuk membantu
siswa-siswa yang membutuhkan pertolongan (sakit). Secara spesifik peran guru
dalam UKS yaitu :
a. Membantu menangani dan mengawasi siswa yang membutuhkan
pertolongan (sakit).
b. Mengawasi obat-obatan yang di input(masuk) kedalam UKS dan output
(keluar) dari UKS.
c. Membantu menghimbau para siswa agar mau hidup sehat agar terbebas
dari penyakit.

C. Kafetaria (kantin) sekolah


Kantin sekolah tidak harus diadministrasikan oleh sekolah, tetapi dapat
diadministrasikan oleh peribadi di luar sekolah atau oleh dharma wanita sekolah.
Namun kantin sekolah ini tidak boleh terlepas dari perhatian kepala sekolah.
Kepala sekolah harus memikirkan atau mengupayakan agar kehadiran kantin itu
mempunyai sumbangan positif dalam proses belajar anak di sekolah. Beberapa hal
yang harus diperhatikan dalam kantin itu adalah :
a. Administrasi kantin sekolah harus menjaga kesehatan masakan-masakan
yang dijajakan kepada siswa.
b. Kebersihan tempat juga harus menjadi pertimbangan utama. Karena
kebersihan diharapkan dapat menjauhkan penyebar penyakit.
c. Makanan-makanan yang disajikan hendaknya makanan yang bergizi tinggi
d. Harga makanan hendaknya dapat dijangkau atau sesuai dengan kondisi
ekonomi siswa.

26
e. Usahakan agar kantin tidak memberikan kesempatan siswa untuk berlama-
lama atau nongkrong karena akan memunculkan perilaku-perilaku
negative.
Peran Guru dalam pengelolaan Kantin adalah :
a. Dapat menghimbau pihak Kantin sekolah agar menjaga kesehatan
(higienitas) masakan-masakan yang dijajakan kepada siswa.
b. Memantau kantin agar selalu tetap bersih.
c. Tidak membiarkan para siswa menuju kantin sebelum waktu istirahat.
d. Makanan yang dijual hendaknya sesuai dengan rata-rata ekonomis siswa.
e. Meminta agar kantin tidak memberikan kesempatan siswa untuk berlama-
lama atau nongkrong.

2.7 Ketatausahaan
a. Peranan Guru Bidang Studi dalam Ketatausahaan
Administrasi tata usaha adalah kegiatan melakukan pencatatan untuk
segala sesuatu yang terjadi dalam sekolah untuk digunakan sebagai bahan
keterangan bagi pimpinan. Sedangkan tugas utama guru yaitu mengelola proses
belajar mengajar di sekolah. Sekolah merupakan sub sistem pendidikan nasional
dan di samping sekolah, sistem pendidikan nasional itu juga mempunyai
komponen-komponen lainya. Guru harus juga memahami apa yang terjadi di
lingkungan kerjanya.
Administrasi sekolah terutama yang berkaitan dengan ketata usahaan
adalah pekerjaan yang bersifat kolaboratif, artinya pekerjaan yang didasarkan atas
kerja sama, dan bukan bersifat individual. Oleh karena itu semua personel sekolah
terutama guru harus ikut terlibat Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh
seorang guru dalam hal ketatausahaan di sekolahnya, yaitu antara lain:
1. Pencatatan Murid
Pencatatan terhadap siswa ini terutama adalah siswa baru-siswa perkelas-
persemester-dan yang mengulang kelasnya, pindahan, serta jumlah siswa yang
keluar karena lulus atau bahkan karena drop out. Dengan pencatatan inilah maka
dengan mudah diketahui jumlah siswa dan perkembangannya pada setiap tahun
ajaran.

27
Di samping itu tugas lainnya adalah pencatatan daftar hadir siswa, dalam
rangka untuk menghitung keaktifan siswa dan partisipasinya dalam kerjasama dan
sebagai alat kontrol dalam menegakkan tata tertib sekolah. Dan yang terpenting
adalah data tentang prestasi muridnya. Untuk dapat melihat kemajuan atau
kemunduran dengan segera dapat dilihat dari dokumentasi siswa tersebut. Semua
hasil pencatatan ini diperlukan sekali sebagai bahan laporan yang nyata kepada
atasannya. Oleh karena itu tidak boleh hilang atau rusak. Dokumentasi ini bisa
juga sebagai bahan laporan untuk orang tua siswa.
1. Pencatatan tentang Guru
Data tentang keadaan guru harus dicatat dengan baik, terutama tentang
jumlah, data pribadi, masa kerja, dan bahan untuk usulan kenaikan pangkatnya
dan gaji berkala. Demikian pula kehadiran guru melaksanakan tugas sebagai
pegawai, terutama PNS, yang sangat berguna untuk pembinaan guru itu
selanjutnya. Pada gilirannya nanti semua data itu akan berguna sebagai bahan
bimbingan, perencanaan, pengawasan, koordinasi dan pendidikannya. Data yang
dicatat dengan rapi dan lengkap akan sangat menunjang untuk mengatasi masalah
yang dialami sekolah maupun pribadi guru itu sendiri. Data yang lengkap akan
memberikan petunjuk untuk mengambil keputusan bagi kepala sekolah.
2. Pencatatan Proses Belajar Mengajar (PBM)
Pengaturan proses belajar mengajar pun harus dilakukan dengan tertib. Hal
ini akan mempengaruhi bagi kelancaran proses pendidikan di sekolahnya.
3. Penertiban Buku-buku Tata Usaha
Mengingat kegiatan komunikasi lembaga pendidikan baik secara lisan
maupun tertulis dengan pihak luar dan dalam lembaga pendidikannya.
Komunikasi dalam bentuk tertulis dilaksanakan melalui surat, telegram, nota, dan
lain-lain. Sehingga perlu penertiban surat-menyurat ini, baik surat masuk maupun
surat keluar. Buku-buku tata usaha di antaranya ;
 Buku agenda
 Buku arsip
 Buku ekspedisi

28
Masih banyak kesempatan lain yang mengharuskan guru ikut berperan
atau terlibat dalan administrasi sekolah, terutama berkaitan dengan tata usaha
sekolah, Beberapa di antaranya ialah:
 Merencanakan penggunaan ruang-ruang di sekolah
 Merumuskan kebijakan tentang pembagian tugas mengajar guru-guru
 Menyelidiki buku-buku sumber bagi guru dan buku-buku pelajaran bagi
murid-murid
 Berperan dalam hal surat-menyurat di lingkungan sekolah
 Berperan sebagai penerima, penyortir, pencatat, pengarah, pengolah,
peñata arsip pada proses surat menyurat.
b. Optimalisasi Peran Guru dalam Tata Usaha Sekolah
Berdasarkan fakta yang ada, ternyata tidak semua guru memahami tugas
dan peranannya dalam tata usaha di sekolahnya. Karena mereka menganggap
untuk urusan tata usaha sudah ada pegawai yang bertanggung jawab dalam
menyelesaikan tugas-tugas tata usaha, sehingga para guru tersebut hanya fokus
untuk mengajar di kelas dan menganggap kewajiban mereka sebagai komponen
sekolah sampai di situ saja.
Tata usaha adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan keberadaannya.
Dikatakan di atas, bahwa tata usaha memberi kontribusi dalam prestasi sekolah
(akademik dan non akademik). Pada umumnya guru diangkat berdasarkan syarat-
syarat seperti: umur, ijazah, kelompok kesehatan, kelakukan baik, tidak cacat dan
sebagainya. Kedudukannya ialah sebagai pembantu kepala sekolah. Tugasnya
dalam tata usaha sekolah ialah sebagai pembantu, yakni ikut melaksanakan tata
usaha sekolah agar tercapai tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Pada masa yang lampau pada umumnya tugas dan kewajiban guru
hanyalah mengajar melulu, artinya hanya menyampaikan pengajaran, member
tugas dam memeriksanya. Hal ini di sekolah-sekolah kita sekaran sudah usang.
Dalam banyak hal, pekerjaannya berhubungan sekali dengan seorang pengawas,
kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan sebagainya. Berbagai langkah dapat
ditempuh untuk pengoptimalisasi peran guru dalam tata usaha di sekolah.

29
a. Guru harus patuh melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.
Bukannya kepatuhan lahir saja, melainkan juga kepatuhan akan
kesadaran. Tidak baik seorang guru kurang patuh dan mengingkari
tugas. Ia harus menyadari bahwa jika tidak menjalankan tugas berarti
menghalangi kelancaran tata usaha secara keseluruhan.
b. Guru bersikap terus terang bila menerima pembangian tugas tanggung
jawab yang terlalu berat baginya atau bukan bidangnya atau di luar
kemampuannya. Sikap menggerutu dan pura-pura di depan merusak
suasana kekeluargaan dan mengurangi kepercayaan pimpinan
kepadanya.
c. Guru harus siap sedia memberikan bantuan apabila bantuan itu
diperlukan
d. Guru harus mempunyai semangat yang besar untuk menyukseskan
program kerja dalam melaksanakan tata usaha sekolah bukannya acuh
tak acuh sebagai penonton belaka
e. Guru harus mampu mengajak teman-teman sepekerjaan untuk ikut
bersama-sama melaksanakan tata usaha di sekolah
f. Guru harus menyadari kedudukannya sebagai pembantu, bukan
penanggung jawab dalam keseluruhan dalam tata usaha sekolah.
Penanggung jawab tertingginya adalah kepala sekolah.
Dengan adanya saling pengertian antara pemimpin dan yang dipimpin,
maka masing-masing melaksanakan tugas masing-masing sebaik-baiknya
sehingga tercapai tujuan bersama. Adapun kegiatan partisipasi guru dalam tata
usaha sekolah itu antara lain; sumbangan-sumbangan guru terhadap perbaikan
kesejahteraan guru dan murid, penyempurnaan kurikulum, pemilihan buku dan
alat pelajaran, dan lain-lain.
Terhadap penyelenggaraan tata usaha di sekolah guru tidak lagi sebagai
penonton saja, melainkan sebagai subjek atau pemain atau partisipan. Motivasi
partisipasi guru adalah kesadaran karena ia tidak diajak ikut menetapkan serta
membuat program kerja kegiatan mengenai seluruh tata usaha sekolah. Cara
melaksanakan dan hasil kegiatan bergantung pada besar kecilnya “dedication of

30
life” nya. Kemerdekaan kita menugaskan kepada kita, sebagai warga Negara yang
terbuka, untuk lebih banyak berpartisipasi dalam menyelenggarakan tata usaha
sekolah.
Bagaimana hubungannya dengan tugas guru dalam bidang pendidikan?
Kita wajib dan diwajibkan berpartisipasi. Kurikulum dibuat oleh pemerintah atas
dasar usul-usul daerah, pembuatannya fleksibel (luwes) agar dapat disesuaikan
dengan situasi daerah, dengan kata lain ; agar daerah dapat berpartisipasi.
Berbagai kegiatan ditentukan oleh daerah sendiri. Juga tiap sekolah wajib
menentukan kegiatan sendiri sesuai dengan kebutuhannya.
Para karyawan diberi kebebasan dan karenanya mempunyai tanggung
jawab. Organisasi sekolah, program kerja, usaha kesejahteraan ditentukan
bersama oleh seluruh karyawan sekolah. Hal itu semua dibicarakan dalam rapat
dewan guru. Rapat dewan guru berguna ;
1. Dengan adanya rapat itu dijalankan demokratisasi administrasi pendidikan
agar tiap karyawan, dalam batas-batas tertentu mempunyai
kebebasan berkerja dan karenanya memiliki tanggung jawab atas
tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran.
2. Dengan adanya rapat itu dapat dilaksanakan program kerja yang disetujui
bersama, hingga pelaksanaannya dapat berjalan tanpa pertentangan.
3. Dengan adanya rapat itu dapat memperat persaudaraan serta menimbulkan
saling pengertian karena itu terbina kegembiraan bekerja sama,
melaksanakan tugas Negara dan bangsa.
4. Dengan adanya rapat itu dapat dilaksanakan supervise (pengawasan),
evaluasi (penilaian), dan bimbingan dengan baik. Selanjutnya, rapat guru
akan menimbulkan nilai negative bila ada di antara guru yang berusaha
memasukkan kepentingan organisasi politik ke dalam kehidupan sekolah
atau melalui program kerja sekolah.

2.8 Mitra Sekolah dengan Masyarakat


Hubugan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi
antara seolah dengan masyarakat untuk meningkatkan pengertian masyarakat

31
tentang kebutuhan dan kegiatan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama
dalam meningkatkan dan mengembangkan kuantitas dan kualitas lembaga
pendidikan. Dalam hal ini manajer sekolah harus mampu memahami fungsi
sekolah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang berada dilingkungan sekitar
sekolah. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah harus mampu menjalankan
fungsinya sebagai lembaga yang dapat melestarikan dan mentransfer nilai-nilai
cultural kepada generasi-generasi penerus (peserta didik) sehingga warga sekolah,
peserta didik, dapat menghayati, menghargai, dan mampu menyikapi atau
merealisasikan tata-tertib sosial dalam setiap tindakannya baik di sekolah maupun
di masyarakat.
Pengembangan hubungan antara sekolah dengan masyarakat pada
dasarnya dimaksudkan untuk:
1. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang tujuan serta sasaran yang
ingin dicapai sekolah.
2. Meningkatkan pemahaman sekolah tentang keadaan dan kebutuhan serta
aspirasi masyarakat tentang sekolah.
3. Menggalang usaha orang tua dan guru-guru dalam memenuhi kebutuhan
peserta didik dan meningkatkan kuantitas dan kualitas bantuan orang tua
dalam kegiatan pendidikan disekolah.
4. Mengembangkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peranan
pendidikan di sekolah dalam mengembangkan atau membangun
masyarakat.
5. Membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat dan terhadap
sekolah serta apa yang dilakukan sekolah.
6. Memberitahu masyarakat tentang pertanggung jawaban sekolah atas
harapan yang di bebankan masyarakat kepada sekolah.
7. Mencari dukungan serta bantuan dari masyarakat dalam memperoleh
sumber-sumber yang di perlukan untuk meneruskan dan meningkatkan
program sekolah.
Kemitraan sekolah dengan pihak ketiga adalah suatu hubungan kerjasama
antar sekolah dengan mitranya, seperti perseorangan, perusahaan, yayasan,
organisasi nirlaba, lembaga pendidikan, universitas, asosiasi dan badan-badan
bilateral dan multilateral yang bertujuan secara bersama-sama memberikan
dampak perubahan yang lebih baik pada penyelenggaraan pendidikan. Pada
dasarnya banyak pihak yang bersedia untuk membantu sekolah, karena sekolah
merupakan institusi yang memberikan pembelajaran pada anak-anak mereka dan
masyarakat merupakan pengguna akir dari hasil pembelajaran tersebut. Tetapi
semua ini kembali kepada bagaimana cara sekolah dan para stakeholders-nya
mengembangkan pola pikir yang berbeda darui kebiasaan dan memanfaatkan
berbagai sumber yang ada untuk mendekati calon mitranya.
Kemitraan antara sekolah dengan mayarakat akan dapat dilakukan jika:

32
a. Adanya pemahaman dan persepsi yang sama antara pemerintah
kabupaten/kota, dinas pendidikan, dan sekolah tentang pola-pola
kemitraan dengan pihak yang berkepentingan.
b. Adanya lingkungan yang kondusif bagi masyarakat khususnya pengusaha
secara kelembagaan maupun individu melakukan kemitraan dengan
institusi pendidikan.
c. Terbukanya kesempatan bagi swasta dan masyarakat berperan dalam
menyediakan ruang yang cukup untuk menjalin kemitraan dengan sekolah.
d. Pemberdayaan potensi satuan pendidikan dan potensi masyarakat
melakukan kemitraan.
e. Peraturan/kebijakan yang mendorong terciptanya kemitraan pemerintah-
swasta dan masyarakat dengan sekolah. Dari beberapa alternatif
pemecahan masalah, suatu pendekatan kemitraan dengan piha ketiga
merupakan sebuah alternatif yang dapat direncanakan dan dilakukan oleh
pihak sekolah.
Hubungan kemitraan sekolah dengan masyarakat, secara bersam-sama
memberikan dampak perubahan yag lebih baik pada penyelenggaraan pendidikan.
Manfaat bagi masing-masing antara lain:
a. Pihak ketiga dapat membantu mengatasi keterbatasan sekolah
meningkatkan mutu, dan
b. Pihak ketiga membutuhkan SDM yang berkualitas sebagai hasil
pendidikan yang diselenggarakan sekolah.
Para mitra sekolah ataupun pihak ketiga sekolah, yaitu:
a. Alumni sekolah tersebut yang memiliki kempuan dan kemauan membanu
sekolah.
b. Perorangan, kelompok, dunia usaha, dan lainnya yang berada di
lingkungan sekolah, dan
c. Perantau asal desa tersebut yang dipandang mampu dan bersedia memberi
bantuan baik gagasan pemikiran, dana, dan bantuan lainnya untuk
kemajuan sekolah.
Komite sekolah, kepala sekolah dan beberapa guru mengkaji dan
menganalisis apakah kemitraan ini akan memberikan dampak positif. Mereka
mencoba melakukan penawaran secara terbuka kepada beberapa perusahaan yang
ada di daerah dimana sekolah itu berada.
Penawaran ini, diperkirakan akan terjadi persaingan positif dalam
meningkatkan kemitraan antara sekolah dengan pihak ketiga. Dengan mengetahui
berbagai bentuk kemitraan yang bisa dilaksanakan, pihak sekolah dan para
stakeholders-nya tidak hanya harus terpaku pada penggalangan dana tunai saja,
seperi pola penggalangan yang dilakukan selama ini, tetapi bisa juga dalam
bentuk kemitraan lainnya. Misalnya para mitra dapat memberikan bantuan dalam
bidang teknis edukatif seperti menjadi guru pengganti, tenaga pengajar sukarela,

33
atau dengan berbagai keahlian profesional yang dimilikinya seperti guru bantu
bidang agama, tenaga pengajar sukarela komputer, seni, olahraga, dan sebagainya.
Bantuan meja dan ursi, perbaikan perpustakaan, renovasi sekolah,
penggunaan lapangan badminton perusahaan, bekas peralatan olahraga bola
volley, basket, dan lain sebagainya. Buku panduan pelatihan komputer, buku
agama dan alat bantu mengajar, buku bacaan populer, dan bantuan peatihan
gratis/diskon khusus bagi murid sekolah, beasiswa, dan sebagainya. Pihak sekolah
bisa memperbesar peluang untuk melakukan kemitraan dengan menawarkan
berbagai alternatif yang bisa dipilih oleh calon mitra yang didekatinya. Dari sifat
dan bentuknya, bentuk kemitraan yang dapat dilakukan adalah dalam bentuk tunai
(cash), natura (in-kind) dan edupreneurship.
Peranan guru dalam mitra atau hubungan sekolah dengan masyarakat,
yaitu:
a. Menbantu sekolah dalam melaksanakan teknik-teknik hubungan sekolah
dengan masyarakat meskipun kepala sekolah merupakan orang atau pihak
kunci dalam pengelola administrasi pendidikan, akan tetapi kepala sekolah
tidak mungkin melaksanakan progam tersebut tanpa bantuan guru-guru.
b. Membuat dirinya lebih baik lagi dalam masyarakat.
c. Dalam melaksanakan semua itu guru harus menuruti dan melaksanakan kode
etiknya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Admnistrasi pendidikan bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan,
pengertian administrasi pendidikan dapat dirumuskan dari berbagai sudut pandang
kerja sama, proses kerja sama itu, sistem dan mekanismenya, manajemen,
kepemimpinan, proses pengambilan keputusan, komunikasi dan ketatausahaan.

34
Guru sangat berperan dalam administrasi pendidikan, tugas utama guru
yang sebagai pengelola dalam proses belajar mengajar di lingkungan tertentu,
yaitu sekolah. Administrasi pendidikan mempunyai lingkup garapan yang luas,
antara lain administrasi kurikulum, pesrta didk, pendidik dan tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, keungan, ketatausahaan, mitra/hubungan
sekolah dengan masyarakat, serta layanan khusus.
Dalam melaksanakan tugas yang menjadi lingkup garapan di atas, guru
harus melaksanakan perannya sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya.
Guru merupakan mitra kerja kepala sekolah dan personel yang sangat
berkepentingan agar semua sumber yang ada dimanfaatkan secara maksimal untuk
peningkatan proses belajar mengajar. Dalam masing-masing bidang garapan
administrasi pendidikan, guru berperan sesuai dengan tahapan proses dan
substansi menurut kewenangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Idochi Anwar, Moch. 2013. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya


Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Purwanto, Ngalim. 2003. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

35
Sagala, Syaiful. 2013. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan:
Pemberdayaan Guru, Tenaga Kependidikan dan Masyarakat dalam
Manajemen Sekolah. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Suharsaputra, Uhar. 2010. Administrasi Pendidikan. Bandung: Penerbit Reflika
Aditama.
Wau, Yasaratodo. 2017. Profesi Pendidikan. Medan: Unimed Pers.

36