Anda di halaman 1dari 10

PENANGANAN KEGAWAT-DARURATAN KERACUNAN ZAT

KIMIA

OLEH :

KELOMPOK 1

KELAS III A KEPERAWATAN

MOH. HAMID FERDHI ISWANTO


ARIF RONI FIRAH AZZAHRA
DESI TRI UTAMI FIRDAUS
ELEN TRIANANDA FITRIANI
ENJI VISCHATALIA GITA GALFARINA
FADLI Y GITA NURRISKIYANTI
FARID GLADYS PISCILIA
FAULINA I NENGAH LUKI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKes WIDYA NUSANTARA PALU

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Swt atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas berjudul “Penanganan kegawat-daruratan
keracunan zat kimia dan obat-obatan “ dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun
tujuan penyusunan tugas ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem
Integumen.
Dengan segala kerendahan hati Penulis selaku penyusun tugas ini menyadari
bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis senantiasa
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi
kesempurnaan tugas yang serupa dimasa yang akan datang.
Demikian, Semoga segala yang tertulis di dalam tugas ini bermanfaat,
selebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Palu, Maret 2018

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertolongan terhadap keracunan yang ditimbulkan oleh zat apapun
haruslah dipersiapkan dengan sebaik-baikanya. Pertolongan yang keliru atau
secara berlebihan justru mendatangkan bahaya baru. Identifikasi racun
merupakan usaha untuk mengetahui bahan, zat, atau obat yang diduga sebagai
penyebab terjadi keracunan, sehingga tindakan penganggulangannya dapat
dilakukan dengan tepat, cepat dan akurat. Dalam menghadapi peristiwa
keracunan, kita berhadapan dengan keadaan darurat yang dapat terjadi dimana
dan kapan saja serta memerlukan kecepatan untuk bertindak dengan segera
dan juga mengamati efek dan gejala keracunan yang timbul.
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan
berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat
menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan
sering dihubungkan dengan pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya
bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang dapat menyebabkan
keracunan.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi keracunan
2. Untuk mengetahui etiologi keracunan
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis keracunan
4. Untuk mengetahui pertolongan pertama keracunan
5. Untuk mengetahui komplikasi dari keracunan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Racun adalah zat yang ketika tertelan, terhisap, diabsorbsi, menempel
pada kulit, atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil
menyebabkan cedera dari tubuh dengan adanya reaksi kimia. Keracunan
melalui inhalasi dan menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena
kesengajaan, merupakan kondisi bahaya yang mengganggu kesehatan bahkan
dapat menimbulkan kematian.
Keracunan atau intoksikasi adalah keadaan patologik yang disebabkan
oleh obat, serum, alkohol, bahan serta senyawa kimia toksik, dan lain-lain.
Keracunan dapat diakibatkan oleh kecelakaan atau tindakan tidak disengaja,
tindakan yang disengaja seperti usaha bunuh diri atau dengan maksud tertentu
yang merupakan tindakan kriminal. Keracunan yang tidak disengaja dapat
disebabkan oleh faktor lingkungan, baik lingkungan rumah tangga maupun
lingkungan kerja.

B. Etiologi
Keracunan bahan kimia biasanya melibatkan bahan-bahan kimia biasa
seperti bahan kimia rumah, produk pertanian, produk tumbuhan atau produk
industri. Beberapa jenis bahan kimia yang harus diperhatikan karena
berbahaya adalah:

Bahan Penjelasan Potensi Bahaya Kesehatan


Kimia
AgNO3 Senyawa ini beracun dan Dapat menyebabkan luka bakar dan
korosif. Simpanlah dalam kulit melepuh. Gas/uapnya juga
botol berwarna dan ruang menebabkan hal yang sama.
yang gelap serta jauhkan
dari bahan-bahan yang
mudah terbakar.
HCl Senyawa ini beracun dan Dapat menyebabkan luka bakar dan
bersifat korosif terutama kulit melepuh. Gas/uapnya juga
dengan kepekatan tinggi. menebabkan hal yang sama.
H2S Senyawa ini mudah terbakar Menghirup bahan ini dapat
dan beracun menyebabkan pingsan, gangguan
pernafasan, bahkan kematian.

H2SO4 Senyawa ini sangat korosif, Jangan menghirup uap asam sulfat
higroskopis, bersifat pekat karena dapat menyebabkan
membakar bahan organik kerusakan paru-paru, kontak dengan
dan dapat merusak jaringan kulit menyebabkan dermatitis,
tubuh sedangkan kontak dengan mata
Gunakan ruang asam untuk menyebabkan kebutaan.
proses pengenceran dan
hidupkan kipas
penghisapnya.
NaOH Senyawa ini bersifat Dapat merusak jaringan tubuh.
higroskopis dan menyerap
gas CO2.
NH3 Senyawa ini mempunyai Menghirup senyawa ini pada
bau yang khas. konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan pembengkakan saluran
pernafasan dan sesak nafas. Terkena
amonia pada konsentrasi 0.5% (v/v)
selama 30 menit dapat menyebabkan
kebutaan.
HCN Senyawa ini sangat beracun. Hindarkan kontak dengan kulit.
Jangan menghirup gas ini karena
dapat menyebabkan pingsan dan
kematian.
HF Gas/uap maupun larutannya Dapat menyebabkan iritasi kulit,
sangat beracun. mata, dan saluran pernafasan.
HNO3 Senyawa ini bersifat korosif. Dapat menyebabkan luka bakar,
menghirup uapnya dapat
menyebabkan kematian.

C. Manifestasi Klinis
Ciri-ciri keracunan umumnya tidak khas dan dipengaruhi oleh cara
pemberian, apakah melalui mata, paru, lambung atau melalui suntikan. Karena
hal ini mungkin mengubah tidak hanya kecepatan absorpsi dan distribusi
suatu bahan toksik, tetapi juga jenis dan kecepatan metabolismenya,
pertimbangan lain meliputi perbedaan respon jaringan.
Hanya beberapa racun yang menimbulkan gambaran khas seperti pupil
sangat kecil (pinpoint), muntah, depresi, dan hilangnya pernapasan pada
keracunan akut morfin dan alkaloid.
Kulit muka merah, banyak berkeringat, tinitus, tuli, takikardia dan
hiperventilasi sangat mengarah pada keracunan salisilat akut (aspirin).
Riwayat menurunnya kesadaran yang jelas dan cepat, disertai dengan
gangguan pernapasan dan kadang-kadang henti jantung sering dihubungkan
dengan keracunan akut dekstroprokposifen, terutama bila digunakan
bersamaan dengan alkohol.
D. Pertolongan Pertama Pada Keracunan
Tujuan tindakan kedaruratan adalah menghilangkan atau meng-
inaktifkan racun sebelum diabsorbsi, untuk memberikan perawatan
pendukung, untuk memelihara sistem organ vital, menggunakan antidotum
spesifik untuk menetralkan racun, dan memberikan tindakan untuk
mempercepat eliminasi racun terabsorbsi.
1. Periksa tanda-tanda vital seperti jalan napas, sirkulasi, dan penurunan
kesadaran harus dilakukan secara cepat.
2. Setelah jalan nafas dibebaskan dan dibersihkan, periksa pernafasan dan
nadi.Infus dextrose 5 %, nafas buatan, oksigen, hisap lendir dalam saluran
pernafasan, hindari obat-obatan depresan saluran nafas, kalau perlu
respirator pada kegagalan nafas berat. Hindari pernafasan buatan dari
mulut kemulut, sebab racun organo fhosfat akan meracuni lewat mulut
penolong. Pernafasan buatan hanya dilakukan dengan meniup face mask
atau menggunakan alat bag – valve – mask.
3. Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar
atau dengan pemeberian sirup ipecac 15 - 30 ml. Dapat diulang setelah 20
menit bila tidak berhasil. Katarsis, (intestinal lavage), dengan pemberian
laksan bila diduga racun telah sampai diusus halus dan besar. Bilas
lambung atau Gastric lavage pada penderita yang kesadarannya menurun,
atau pada penderita yang tidak kooperatif. Hasil paling efektif bila
dikerjakan dalam 4 jam setelah keracunan.
Keramas rambut dan memandikan seluruh tubuh dengan sabun.
Emesis, katarsis dan bilas lambung sebaiknya hanya dilakukan bila
keracunan terjadi kurang dari 4 – 6 jam . Pada koma derajat sedang hingga
berat tindakan bilas lambung sebaiknya dikerjakan dengan bantuan
pemasangan pipa endotrakeal berbalon, untuk mencegah aspirasi
pnemonia.
4. Pemberian antidot/penawar
Tidak semua racun ada penawarnya sehingga prinsip utama adalah
mengatasi keadaan sesuai dengan masalah.
Atropin sulfat (SA) bekerja dengan menghambat efek akumulasi Akh
pada tempat penumpukan.
a. Mula-mula diberikan bolus IV 1 - 2,5 mg
b. Dilanjutkan dengan 0,5 – 1 mg setiap 5 - 10 - 15 menitsamapi timbulk
gejala-gejala atropinisasi (muka merah, mulut kering, takikardi,
midriasis, febris dan psikosis).
c. Kemudian interval diperpanjang setiap 15 – 30 - 60 menit selanjutnya
setiap 2 – 4 –6 – 8 dan 12 jam.
d. Pemberian SA dihentikan minimal setelah 2 x 24 jam. Penghentian
yang mendadak dapat menimbulkan rebound effect berupa edema paru
dan kegagalan pernafasan akut yang sering fatal.
5. Upaya yang paling penting adalah anamnese yang rinci. Beberapa
pegangan anamnesis yang penting dalam upaya mengatasi keracunan,
ialah :
a. Kumpulkan informasi selengkapnya tentang seluruh obat yang
digunakan,termasuk yang sering dipakai
b. Kumpulkan informasi dari anggota keluarga,teman dan petugas
tentang obat yang digunakan.
c. Tanyakan dan simpan sisa obat dan muntahan yang masih ada untuk
pemeriksaan toksikologi
d. Tanyakan riwayat alergi obat atau syok anafilaktik
6. Umumnya bahan kimia tertentu dapat dengan cepat diserap melalui kulit
sehingga dekontaminasi permukaan sangat diperlukan. Di samping itu,
dilakukan dekontaminasi saluran cerna agar bahan yang tertelan hanya
sedikit diabsorpsi, biasanya hanya diberikan pencahar, obat perangsang
muntah, dan bilas lambung. Induksi muntah atau bilas lambung tidak
boleh dilakukan pada keracunan parafin, minyak tanah, dan hasil sulingan
minyak mentah lainnya. Upaya lain untuk megeluarkan bahan/obat adalah
dengan dialisis.

E. Komplikasi
1. Henti nafas
2. Henti jantung
3. Korosi esophagus/trakea jika substansi penyebabnya teringesti
4. Syok, sindrom gawat pernafasan akut
5. Edema serebral,konvulsi