Anda di halaman 1dari 2

Nama : Fithri Hifzhah Mulkillah

NIM : 141734014

Kelas : 4D-Teknik Konservasi Energi

Tugas : Etika Profesi

SALAHUDDIN AL-AYYUBI

Yusuf bin Najmuddin al-Ayyub adalah seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi
dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Lahir pada tahun 1138 di Tikrit, Irak. Ia mendirikan
Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr.
Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan
militer dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara
salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kecil
dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud.
Di tahun 1169 Sultan Saladin diangkat menjadi wazir (perdana menteri), dan
menerima tugas sulit mempertahankan Mesir dari serangan Raja Latin Yerusalem,
khususnya Amalric I. Kedudukannya cukup sulit pada awalnya, sedikit orang yang
beranggapan ia akan berada cukup lama di Mesir mengingat sebelumnya telah banyak
terjadi pergantian pergantian kekuasaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan
bentrok yang terjadi antar anak-anak Kalifah untuk posisi wazir. Sebagai pemimpin dari
pasukan asing Suriah, dia juga tidak memiliki kekuasaan atas pasukan Syi’ah Mesir yang
masih berada di bawah Khalifah yang lemah, Al-Adid. “Ketika Tuhan memberiku negeri
Mesir, aku yakin bahwa Dia juga bermaksud memberiku tanah Palestina,” Kata-kata yang
paling di ingat umat Muslim dari Sultan Saladin.

1. Sikap terhadap sesama


Salahuddin al-ayyubi gemar memberikan sesuatu kepada orang lain,
sekalipun orang tersebut telah menuduh sesuatu yang tidak benar tentang dirinya,
tidak mudah marah, dan sangat lembut hati kepada orang lain sekalipun ia adalah
seorang pelayan.
2. Etika Keluarga
Pernah seorang lelaki mengadukan perihal keponakan Sultan Saladin yang
bernama Taqiyyuddin. Shalahuddin langsung memanggil anak saudaranya itu untuk
dimintai keterangan, tanpa menuduh yang tidak-tidak tentang keponakannya itu.
3. Etika Politik
Saat Raja Richard sakit parah, Salahuddin mengirimkan dokter terbaik untuk
menyembuhkan Richard. Raja Inggris yang saat itu memang butuh sekali pengobatan
merasa kagum luar biasa dengan itikad baik Salahuddin ini. Tak hanya dokter,
menurut beberapa riwayat Salahuddin juga membawakan buah dan juga es untuk
membantu menyembuhkan sang raja. Begitulah kira-kira sepenggal cerita
persahabatan dalam permusuhan yang terjalin dalam Perang Salib.
4. Etika Lingkungan
Dalam penaklukan Yarussalem, Salahuddin memiliki strategi untuk tetap
menjaga warga sipil yang ada di daerahnya dan tidak membunuhnya, walaupun
warga sipil tersebut merupakan salah satu dari musuh.
5. Etika Profesi
Selama dua bulan memerintah Mesir, Shalahuddin membuat kebijakan-
kebijakan progresif yang visioner. Ia membangun dua sekolah besar berdasarkan
madzhab Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini ia tujukan untuk memberantas pemikiran
Syiah yang bercokol sekian lama di tanah Mesir. Hasilnya bisa kita rasakan hingga
saat ini, Mesir menjadi salah satu negeri pilar dakwah Ahlussunnah wal Jamaah atau
Sunni. Kebijakan lainnya yang ia lakukan adalah mengganti penyebutan nama-nama
khalifah Fathimiyah dengan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam khutbah Jumat.
6. Etika Keagamaan
Penaklukan Yerusalem yang dilakukan pasukan Islam di bawah komando
Salahudin sungguh amat berbeda, ketika tentara Perang Salib menduduki Yerusalem
pada 1099. Salahudin menetapi janjinya. Jenderal dan panglima perang tentara Islam
itu menaklukan Yerusalem menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Tak
ada balas dendam dan pembantaian, penaklukan berlangsung ‘mulus’ seperti yang
diajarkan Al-Qur’an.