Anda di halaman 1dari 4

Nama : Fithri Hifzhah Mulkillah

NIM : 141734014
Kelas : 4D-Teknik Konservasi Energi
Tugas Mata Kuliah : Manajemen Limbah

1. Mengapa CO2 dianggap paling bertanggung jawab atas terjadinya global warming?

Global warming merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari


tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang
disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO 2), metana
(CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam
atmosfer bumi (http://geo.ugm.ac.id).
 Efek rumah kaca
Efek rumah kaca yaitu adalah proses ketika matahari meradiasikan energi
panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik dan sebagiannya menerpa
permukaan bumi. Ketika gelombang elektromagnetik tersebut menerpa permukaan
bumi, maka sebagian energinya diserap oleh tanah dan sebagian yang lain akan
dipantulkan kembali ke udara. Bagian dari energi yang dipantulkan, sebagian akan
diteruskan ke angkasa dan sebagian yang lain diikat oleh gas-gas rumah kaca.
Faktor utama yang memicu terjadinya efek rumah kaca adalah meningkatnya
konsentrasi karbondioksida (CO2) dan gas-gas lain di atmosfer. Peningkatan
karbondioksida (CO2) di bumi disebabkan oleh banyaknya pembakaran bahan bakar
minyak dan bahan sejenisnya.Energi yang diserap ke bumi kemudian dipantulkan lagi
dalam bentuk radiasi inframerah. Akan tetapi sebagian besar zat inframerah yang
dipantulkan oleh permukaan bumi tertahan oleh awan. Dan juga tertahan oleh zat-
zat yang mengandung karbondioksida (CO2) dan kembali lagi ke permukaan bumi.
Sebenarnya efek rumah kaca sangat diperlukan oleh bumi ini, dengan syarat
keadaanya normal dan stabil. karena dengan adanya efek rumah kaca suhu di
permukaan bumi menjadi lebih stabil. Dan dengan adanya fenomena ini menjadikan
suhu siang dan malam di bumi tidak jauh berbeda.
Tetapi efek rumah kaca yang terjadi sekarang ini tidak lagi tergolong sabagai
hal yang normal. Karena lama-kelamaan suhu di permukaan bumi kita ini menjadi
sangat panas. Karena banyak panas matahari yang tertampung di bawah atmosfer
bumi, yang seharusnya dipantulkan ke luar angkasa, dan suhu bumi yang meningkat
inilah yang menjadi salah satu faktor yang dapat membahayakan kehidupan manusia.
Hal itu dipicu karena banyaknya penggunaan kendaraan bermotor, gas emisi dari
pabrik dan hutan yang sudah mulai punah.
 Karbondioksida (CO2)
Karbondioksida adalah sejenis senyawa kimia, zat ini terdiri dari dua atom
yaitu oksigen dengan atom karbon. Zat ini berbentuk gas pada temperatur dan
tekanan yang normal, yang berada di atmosfer bumi. Pada umumnya konsentrasi
karbondioksida di atmosfer bumi adalah 387 ppm.
Jumlah ini bisa berganti, tergantung pada tempat dan waktu tertentu.
Karbondioksida adalah gas rumah kaca yang memiliki peranan yang penting. Karena
zat ini dapat menyerap gelombang inframerah dengan kuat.
Karbon dioksida tidak berbentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm tetapi
berbentuk padat pada temperatur di bawah -78 °C. Dalam bentuk padat, karbon
dioksida disebut es kering. Karbondioksida (CO 2) adalah oksida asam. Larutan CO2
mengubah warna litmus dari biru menjadi merah muda.
Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer Bumi adalah gas karbon
dioksida(CO2). Sebagian besar ilmuan berpandangan bahwa gas rumah kaca,
terutama karbon dioksida, sebagai sesuatu yang paling bertanggungjawab atas
fenomena global warming. Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat
kecil dari seluruh gas yang ada di atmosfer (hanya sekitar 0,04% dalam basis molar,
meskipun sedang mengalami kenaikan), namun ia memiliki peran yang penting
dalam menyokong kehidupan. Gas-gas lain yang mengandung karbon di atmosfer
adalah metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau
buatan). Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer
telah bertambah dalam dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global.
Seperti halnya gas CO, gas karbon dioksida juga mempunyai sifat tidak
berwarna, tidak berasa, dan tidak merangsang. Gas CO 2 merupakan hasil
pembakaran sempurna bahan bakar minyak bumi maupun batu bara. Dengan
semakin banyaknya jumlah kendaraan bermotor dan semakin banyaknya jumlah
pabrik, berarti meningkat pula jumlah atau kadar CO 2 diudara. Keberadaan CO2 yang
berlebihan di udara memang tidak berakibat langsung pada manusia, sebagaimana
gas CO. Akan tetapi berlebihnya kandungan CO 2 menyebabkan sinar inframerah dari
matahari diserap oleh bumi dan benda-benda di sekitarnya. Kelebihan sinar
inframerah ini tidak dapat kembali ke atmosfer karena terhalang oleh lapisan CO 2
yang ada di atmosfer. Akibatnya suhu di bumi menjadi semakin panas. Hal ini
menyebabkan suhu di bumi, baik siang maupun malam hari yang tidak menunjukkan
perbedaan yang berarti atau bahkan dapat dikatakan sama.
Karbondioksida, suatu gas yang penting, tetapi keberadaannya yang tidak
seimbang akan membuat fenomena alam yang mampu merusak bumi. Mulai dari
tenggelamnya beberapa pulau di dunia sampai musnahnya beberapa jenis spesies di
bumi. Oleh karena itu kadar konsentrasi karbondioksida yang sesuai harus
dipertahankan, dan komposisi karbondioksida dalam udara bersih seharusnya adalah
314 ppm.
Karbondioksida yang berlebihan efeknya :
 Melubangi lapisan Ozon
 Efek rumah kaca, cahaya & panas matahari yang masuk kebumi tidak dapat di
lepas ke luar angkasa secara kosmis.
 Meningkatkan suhu bumi secara global beberapa derajat
Menurut penelitian yang ditunjukkan Arrhenius “jika konsentrasi karbon-
dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi
sangat signifikan”
 Mencairkan es kutub sehingga meningkatkan permukaan air laut
Saat ini, pemanasan global telah menjadi isu global yang semakin penting di
dunia dan diketahui telah menyebabkan beberapa dampak negatif bagi kehidupan
manusia. Salah satu indikator yang digunakan dalam menganalisis isu pemanasan
global adalah bertambahnya gas rumah kaca, terutama gas CO 2, secara cepat akibat
kegiatan manusia. Sejauh ini, berbagai upaya telah mulai dilakukan oleh manusia
untuk mengurangi dampak pemanasan global, seperti program penanaman kembali
(reboisasi), penghematan energi, penggunaan energi baru dan terbarukan, dan
pemanfaatan berbagai teknologi carbon capture and storage (CCS).

2. Hukum Termodinamika
Terdapat empat Hukum Dasar yang berlaku di dalam sistem termodinamika, yaitu:
A. Hukum Awal (Zeroth Law/Hukum ke-0)
Bunyi Hukum Termodinamika 0 : "Jika dua sistem berada dalam kesetimbangan
termal dengan sistem ketiga, maka mereka berada dalam kesetimbangan termal satu
sama lain"
B. Hukum Pertama
 Bunyi Hukum Termodinamika 1 : "Energi tidak dapat diciptakan ataupun
dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja."
 Rumus/Persamaan 1 Termodinamika:
Q = W + ∆U
Q = kalor/panas yang diterima/dilepas (J)
W = energi/usaha (J)
∆U = perubahan energi (J)
 Hukum 1 Termodinamika dibagi menjadi empat proses, yaitu
a. Proses Isobarik (tekanan tetap)
Proses isobarik adalah proses perubahan gas dengan tahanan tetap
b. Proses Isotermis (suhu tetap)
Proses isotermis adalah proses perubahan gas dengan suhu tetap.
c. Proses Isokhoris (volume tetap)
Proses isokhoris adalah proses perubahan gas dengan volume tetap. Pada
grafik P.V dapat digambarkan seperti pada Gambar berikut.
d. Proses Adiabatis (kalor tetap)
Proses yang yang dinamakan proses adiabatis ialah Q=0 dan W=- ∆ U
C. Hukum Kedua
Bunyi Hukum Termodinamika 2 : "Kalor mengalir secara spontan dari benda bersuhu
tinggi ke benda bersuhu rendah dan tidak mengalir secara spontan dalam arah
kebalikannya."
D. Hukum Ketiga
Bunyi Hukum Termodinamika 3 :
"Suatu sistem yang mencapai temperatur nol absolut, semua prosesnya akan
berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum."
"Entropi benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai
nol."