Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang ......................................................................................... 2

1.2. Rumusan masalah ................................................................................... 2

1.3. Maksud dan tujuan .................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Perkawinan alam ..................................................................................... 3

2.2. Fertilisasi ................................................................................................. 7

2.2.1. Pengertian fertilisasi ............................................................................. 7

2.2.2. Proses fertilisasi .................................................................................... 7


2.2.3. Tahapan fertilisasi................................................................................. 9

BAB III KESIMPULAN

3.1. Perkawinan alam ..................................................................................... 11

3.2. Fertilisasi ................................................................................................. 11

DAFAR PUSTAKA .............................................................................................. 12


2

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Reproduksi merupakan proses fisiologis pada makhluk hidup untuk

menghasilkan keturunan. Hewan tingkat tinggi, semua hewan bereproduksi secara

seksual dan proses reproduksinya meliputi beberapa tingkatan fisiologik yang

meliputi fungsi-fungsi yang sangat komplek dan terintegrasi antara proses yang

satu dengan yang lainnya. Tingkatan-tingkatan fisiologik tersebut meliputi

pembentukan sel-sel kelamin (gamet). Pelepasan sel-sel gamet yang telah

terdiferensiasi secara fungsional, perkawinan untuk mempertemukan gamet

jantan dan betina, fertilisasi, fusi antara kedua pronuklei, pertumbuhan,

diferensiasi dan perkembangan zigot sampai kelahiran normal.

Kawin alam adalah suatu proses peleburan sel telur (ovum) oleh sel mani

(sperma) pada hewan ternak yang terjadi dengan sendirinya tanpa bantuan manusia

sedangkan fertilisasi adalah suatu proses peleburan sel telur (ovum) oleh sel mani

(sperma) untuk menghasilkan zigot, yang kemudian berkembang menjadi embrio

atau janin suatu organisme (makhluk hidup).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dumaksud kawin alam dan bagaimana prosesnya?

2. Apa yang dimaksud fertilisasi dan bagaimana prosesnya?

1.3 Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui pengertian dan proses perkawinan alam

2. Mengetahui pengertian dan proses fertilisasi


3

II

PEMBAHASAN

2.1. Perkawinan Alam

Perkawinan alami dilakukan oleh seekor pejantan yang langsung

memancarkan sperma kedalam alat reproduksi betina dengan cara kopulasi.

Terlebih dahulu pejantan mendeteksi kondisi berahi betina dengan menjilati atau

membau di sekitar organ reproduksi betina bagian luar setelah itu pejantan

melakukan penetrasi. Sapi dara yang berahi tidak langsung dikawinkan, melainkan

diperiksa kondisi fisiologinya, yaitu dengan melihat bobot badan sebagai acuan

bahwa sapi dara tersebut sudah dewasa kelamin.

Pada beberapa keadaaan, perkawinan betina sengaja ditunda dengan

maksud agar induk tidak terlalu kecil waktu melahirkan. Induk yang terlalu kecil

pada waktu melahirkan maka kemungkinan akan terjadi distokia. Umur ternak

betina pada saat pubertas mempunyai variasi yang lebih luas dari pada bobot badan

pada saat pubertas (Nuryadi, 2006). Hal ini berarti bahwa bobot badan lebih

berperan terhadap pemunculan pubertas daripada umur ternak. Umur dan bobot

badan pubertas dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik. Walaupun umur dari sapi
dara sudah cukup untuk dikawinkan atau dengan kata lain sudah mengalami dewasa

tubuh tidak berarti mengalami dewasakelamin.

Alasan bahwa sapi dara harus mengalami dewasa kelamin adalah membantu

dalam proses kelahiran, karena kelahiran yang tidak normal banyak terdapat pada

sapi-sapi yang baru pertama kali melahirkan. Intensifikasi Kawin Alam ini dapat

dilakukan oleh berbagai macam cara, diantaranya adalah :

a. Perkawinan model kandang individu

b. Perkawinan model kandang kelompok

c. Perkawinan model mini Ranch (paddock)

d. Perkawinan padang pengembalaan (angonan)


4

Hasil perkawinan alam ini tidak diragukan keberhasilanya. Menurut

kejadian alamnya, perkawinan hanya mungkin terjadi antara sapi jantan dan sapi

betina birahi yang merupakan periode sapi betina mau menerima sapi jantan. Cara

pengaturan perkawinan pada sapi dapat dilakukan dengan pengaturan sepenuhnya

oleh manusia yang disebut “Hand Mating”, di mana pemeliharaan yang jantan dan

betina dipisah dan bila ada betina yang birahi diambilkan pejantan untuk

mengawininya. Cara yang lain yaitu “Pastura Mating”, dimana sapi jantan dan

betina dewasa pada musim kawin dilepas secara bersama. Bila ada sapi yang birahi

tanpa campur tangan manusia akan terjadiperkawinan. Untuk melaksanakan

perkawinan perlu diperhatikan waktu yang tepat agar betina dapat terjadi bunting

(konsepsi). Saat optimum terjadinya konsepsi pada ternak sapi adalah pertengahan

estrus sampai akhir estrus.

Perkawinan alam pada sapi potong merupakan upaya untuk meningkatkan

populasi ternak sapi melalui program Intensifikasi Kawin Alam (Inka) yang

menerapkan 4 model perkawinan alam yaitu: 1) perkawinan kandang individu, 2)

perkawinan kandang kelompok/umbaran, 3) perkawinan rench dan 4) perkawinan

padang penggembalaan. Perkawinan alam pada usaha budidaya sapi potong yang
biasa dilakukan oleh petani baik secara perorangan maupun berkelompok umumnya

memilih salah satu dari 3 model berikut: a) perkawinan kandang individu, b)

perkawinan kandang kelompok/umbaran, c) perkawinan padang penggembalaan.

Kandang untuk perkawinan sapi secara individu, sapi biasanya dalam

keadaan terikat. Kandang individu memiliki sekat sebagai pembatas kandang

sehingga sapi-sapi yang lainnya tidak akan mengganggu.

Perkawinan sapi dengan menggunakan kandang individu perlu diperhatikan

betul pengamatan masa birahi pada sapi induk. Pengamatan masa birahi sapi induk

dapat dilakukan setiap hari pada waktu pagi atau sore hari. Pada sapi induk yang

mengalami masa birahi akan memberikan isyarat tanda-tanda birahi. Setelah 6-12
5

jam sapi induk mengalami tanda-tanda masa birahi baru dapat dikawinkan. Sapi

induk yang memberikan tanda-tanda birahi dibawa ke kandang kawin individu dan

diikat. Setelah sapi betina siap barulah sapi pejantan didatangkan ke kandang

perkawinan individu. Untuk bisa mencapai keberhasilan kebuntingan dianjurkan

perkawinan dilakukan sampai sapi pejantan mengalami ejakulasi dua kali.

Luas area kandang perkawinan kelompok/umbaran perlu diperhitungkan

betul agar tidak terjadi saling berhimpitan di antara sapi-sapi induk yang

dikandangkan. Acuan pedoman yang dianjurkan untuk kebutuhan luas area

kandang perkawinan kelompok/umbaran untuk setiap induk sapi membutuhkan 20-

30 meter persegi.

Perkawinan menggunakan kandang kelompok/umbaran ada beberapa

tahapan proses manajemen yang harus dilakukan petani sapi potong di antaranya

: 1) Induk sapi yang akan dikawinkan harus memenuhi persyaratan 40 hari setelah

melahirkan; 2) Sapi pejantan dan sapi induk berkumpul dalam satu kandang selama

2 bulan sehingga perkawinan akan terjadi pada semua sapi induk; 3) Sapi pejantan

harus mampu mengawini 10 ekor induk sapi; 4) Setelah 2 bulan dalam kandang

bersama harus dilakukan pemeriksaan kebuntingan dengan menggunakan metoda


palpasi rectal yang dilakukan oleh petugas dinas peternakan; 5) Induk sapi yang

positif bunting segera dipisahkan dan ditempatkan di kandang sapi bunting dan

menyusui; 6) Sapi-sapi induk yang belum bunting dimasukkan kembali ke dalam

kandang perkawinan kelompok/umbaran dengan perbandingan jantan betinanya

tetap menganut 1:10 yaitu satu pejantan melayani 10 ekor sapi betina siap kawin.

Di Indonesia bagian timur seperti daerah Nusa Tenggara Timur dan Nusa

Tenggara Barat masih banyak ditemukan padang penggembalaan yang cukup luas.

Program Intensifikasi Kawin Alam menerapkan teknologi perkawinan padang

penggembalaan pada sapi potong masih sangat memungkinkan untuk

dikembangkan.
6

Untuk keberhasilan model perkawinan padang penggembalaan dianjurkan

untuk menerapkan manajemen perkawinan sebagaimana berikut : Perbandingan

jumlah sapi jantan dan sapi betina induk 3:100 artinya 3 ekor sapi pejantan harus

mampu mengawini 100 ekor induk sapi. Sapi jantan dan betina induk dibiarkan

lepas di padang penggembalaan dengan melakukan pengamatan masa birahi pada

induk sapi betina. Jika ditemukan adanya sapi induk yang mengalami masa birahi

segera pisahkan. Dan tempatkan sapi induk di kandang terpisah untuk dikawinkan

dengan sapi pejantan. Dua hari setelah perkawinan sapi induk dapat dilepaskan

kembali ke padang penggembalaan. Induk yang sudah bunting tua dianjurkan untuk

dipisahkan dan ditempatkan di kandang di dekat rumah sampai induk sapi

melahirkan. Induk sapi yang baru melahirkan dibiarkan tetap hidup bersama anak

sapi dalam kandang dekat rumah. Untuk mencegah

terjadinya inbreeding (perkawinan yang sedarah) lakukan penggantian pejantan

setelah tiga kali perkawinan.

Proses tahapan perkawinan alam menurut Wodzicka antara lain :

1. Sniffing : pejantan mengendus vulva betina dan menggoyangkan ekor

2. Flehmen : pejantan mendekati atau menjilati vulva betina


3. Nudging and kicking : pejantan menggaruk betina dengan kaki atau

menendang kaki bagian belakang betina

4. Mounting : pejantan menaiki betina tanpa kopulasi

5. Kopulasi : pejantan menaiki betina disertai dengan ejakulasi pada betina


7

2.2. Fertilisasi

2.2.1. Pengertian Fertilisasi

Fertilisasi merupakan suatu proses penyatuan atau fusi dari dua sel gamet

yang berbeda, yaitu sel gamet jantan dan betina untuk membentuk satu sel yang

disebut zygote. Secara embriologik fertilisasi merupakan pengaktifan sel ovum oleh

sperma dan secara genetik merupakan pemasukkan faktor-faktor hereditas pejantan

ke ovum (Toelihere, 1985).

Menurut Nalbandov (1990), hanya beberapa lusin sel sperma yang dapat

mendekati ovum dan hanya beberapa sperma yang bisa masuk ke dalam zona

pelusida yang akhirnya hanya satu buah sperma yang bisa membuahi ovum.

2.2.2. Proses Fertilisasi

Peristiwa fertilisasi terjadi di saat sel spermatozoa dilepaskan dan dapat

membuahi ovum di ampula tuba fallopii. Sebanyak 300 juta spermatozoa

diejakulasikan ke dalam saluran genital wanita. Sekitar 1 juta yang dapat berenang

melalui serviks, ratusan yang dapat mencapai tuba fallopi dan hanya 1 yang dapat

membuahi sel telur. Sel spermatozoa mempunyai rentang hidup sekitar 48 jam
(Cambridge, 1998).

Sebelum membuahi sel telur, spermatozoa harus melewati tahap kapasitasi

dan reksi akrosom terlebih dahulu. Kapasitasi merupakan suatu masa penyesuaian

di dalam saluran reproduksi wanita, berlangsung sekitar 7 jam. Selama itu suatu

selubung glikoprotein dari plasma semen dibuang dari selaput plasma yang

membungkus daerah akrosom spermatozoa. Sedangkan reaksi akrosom terjadi

setelah penempelan spermatozoa ke zona pelusida. Reaksi tersebut membuat

pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida yang

terdapat pada akrosom (Sadler, 1996)


8

Oosit (ovum) akan mencapai tuba satu jam lebih setelah diovulasikan.

Ovum ini dikelilingi oleh korona dari sel-sel kecil dan zona pelusida yang nantinya

akan menyaring sel spermatozoa yang ada sehingga hanya satu sel yang dapat

menembus ovum. Setelah spermatozoa menembus ovum, ia akan menggabungkan

material intinya dan menyimpan komplemen kromosom ganda yang lazim.

Kromosomm ini mengandung semua informasi genetic yang nantinya akan

diturunkan kepada keturunannya (Cambridge, 1998).

Sel telur yang telah dibuahi akan membentuk zigot yang terus membelah

secara mitosis menjadi dua, empat, delapan, enam belas dan seterusnya. Pada saat

32 sel disebut morula, di dalam morula terdapat rongga yang disebut blastosoel

yang berisi cairan yang dikeluarkan oleh tuba fallopii, bentuk ini kemudian disebut

blastosit. Lapisan terluar blastosit disebut trofoblas merupakan dinding blastosit

yang berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni atau ari-

ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya disebut simpul embrio (embrionik knot)

merupakan calon janin. Blastosit ini bergerak menuju uterus untuk mengadakan

implantasi (perlekatan dengan dinding uterus). (Cambridge, 1998).

Pada hari ke-4 atau ke-5 sesudah ovulasi, blastosit sampai di rongga uterus,
hormon progesteron merangsang pertumbuhan uterus, dindingnya tebal, lunak,

banyak mengandung pembuluh darah, serta mengeluarkan sekret seperti air susu

(uterin milk) sebagai makanan embrio. Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas

menempel pada dinding uterus (melakukan implantasi) dan melepaskan hormon

korionik gonadotropin. Hormon ini melindungi kehamilan dengan cara

menstrimulasi produksi hormon estrogen dan progesteron sehingga mencegah

terjadinya menstruasi. Trofoblas kemudian menebal beberapa lapis, permukaannya

berjonjot dengan tujuan memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio telah

kuat menempel setelah hari ke-12 dari fertilisasi.


9

Plasenta atau ari-ari pada janin berbentuk seperti cakram dengn garis tengah

20 cm, dan tebal 2,5 cm. Ukuran ini dicapai pada waktu bayi akan lahir tetapi pada

waktu hari 28 setelah fertilisasi, plasenta berukuran kurang dari 1 mm. Plasenta

berperan dalam pertukaran gas, makanan dan zat sisa antara ibu dan fetus. Pada

sistem hubungan plasenta, darah ibu tidak pernah berhubungan dengan darah janin,

meskipun begitu virus dan bakteri dapat melalui penghalang (barier) berupa

jaringan ikat dan masuk ke dalam darah janin. (Cambridge, 1998).

2.2.3. Tahapan Fertilisasi

Tahapan-tahapan yang terjadi pada fertilisasi adalah sebagai berikut :

a. Kapasitasi spermatozoa dan pematangan spermatozoa

Kapasitasi spermatozoa merupakan tahapan awal sebelum fertilisasi.

Sperma yang dikeluarkan dalam tubuh (fresh ejaculate) belum dapat dikatakan fertil

atau dapat membuahi ovum apabila belum terjadi proses kapasitasi. Proses ini

ditandai pula dengan adanya perubahan protein pada seminal plasma, reorganisasi

lipid dan protein membran plasma, Influx Ca, AMP meningkat, dan pH intrasel

menurun. (Langman, 1994)

b. Perlekatan spermatozoa dengan zona pelucida


Zona pelucida merupakan zona terluar dalam ovum. Syarat agar sperma

dapat menempel pada zona pelucida adalah jumlah kromosom harus sama, baik

sperma maupun ovum, karena hal ini menunjukkan salah satu ciri apabila keduanya

adalah individu yang sejenis. Perlekatan sperma dan ovum dipengaruhi adanya

reseptor pada sperma yaitu berupa protein. Sementara itu suatu glikoprotein pada

zona pelucida berfungsi seperti reseptor sperma yaitu menstimulasi fusi membran

plasma dengan membran akrosom (kepala anterior sperma) luar. Sehingga terjadi

interaksi antara reseptor dan ligand. Hal ini terjadi pada spesies yang spesifik.

(Langman, 1994).
10

c. Reaksi akrosom

Setelah reaksi kapasitasi, sperma mengalami reaksi akrosom, terjadi

setelah sperma dekat dengan oosit. Sel sperma yang telah menjalani kapasitasi

akan terpengaruh oleh zat – zat dari korona radiata ovum, sehingga isi akrosom dari

daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontak dengan lapisan korona radiata.

Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang dapat melarutkan korona radiata,

trypsine – like agent dan lysine – zone yang dapat melarutkan dan membantu

sperma melewati zona pelusida untuk mencapai ovum. Reaksi tersebut terjadi

sebelum sperma masuk ke dalam ovum. Reaksi akrosom terjadi pada pangkal

akrosom, karena pada lisosom anterior kepala sperma terdapat enzim digesti yang

berfungsi penetrasi zona pelucida. (Langman, 1994).

d. Penetrasi zona pelucida

Setelah reaksi akrosom, proses selanjutnya adalah penetrasi zona pelucida

yaitu proses dimana sperma menembus zona pelucida. Hal ini ditandai dengan

adanya jembatan dan membentuk protein actin, kemudian inti sperma dapat masuk.

Hal yang mempengaruhi keberhasilan proses ini adalah kekuatan ekor sperma

(motilitas), dan kombinasi enzim akrosomal. (Langman, 1994).

e. Bertemunya sperma dan oosit

Apabila sperma telah berhasil menembus zona pelucida, sperma akan

menenempel pada membran oosit. Penempelan ini terjadi pada bagian posterior

(post-acrosomal) di kepala sperma yang mnegandung actin. Molekul sperma yang

berperan dalam proses tersebut adalah berupa glikoprotein, yang terdiri dari protein

fertelin. Protein tersebut berfungsi untuk mengikat membran plasma oosit

(membran fitelin), sehingga akan menginduksi terjadinya fusi. (Langman, 1994).


11

III

KESIMPULAN

3.1. Perkawinan alami dilakukan oleh seekor pejantan yang langsung

memancarkan sperma kedalam alat reproduksi betina dengan cara kopulasi.

Terlebih dahulu pejantan mendeteksi kondisi berahi betina dengan menjilati

atau membau di sekitar organ reproduksi betina bagian luar setelah itu

pejantan lalu melakukan penetrasi.

3.2. Fertilisasi merupakan suatu proses penyatuan atau fusi dari dua sel gamet

yang berbeda, yaitu sel gamet jantan dan betina untuk membentuk satu sel

yang disebut zygote. Secara embriologik fertilisasi merupakan pengaktifan

sel ovum oleh sperma dan secara genetik merupakan pemasukkan faktor-

faktor hereditas pejantan ke ovum


12

DAFTAR PUSTAKA

Cambridge, 1998. Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia dan Sistem

Reproduksi. EGC : Jakarta.

Langman and T.W. Sadler. 1994. Embryologi Kedokteran Edisi Ke-7. EGC :

Jakarta.

Nalbandov, A. V., 1990. Reproductive Physiology of Mammals and Birds. Alih

Bahasa: S. Keman. UI-Press, Jakarta.

Sadler, T.W, 1996. Embriologi Kedokteran. EGC : Jakarta.

Toelihere, M. R., 1985. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa,

Bandung.

Wodzicka, M., I Ketut S., I Gede P., dan Thamrin C. 1991.Reproduksi,Tingkah

Laku dan Produksi ternak di Indonesia.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta