Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

MODEL KRONIG-PENNEY

OLEH :
KELOMPOK IV
NATALIA PRASISKA SITANGGANG (4153121044)
RIANDA SINAGA (4151121057)
ROSAYANI SIREGAR (4152121039)

PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang mana telah
memberikan rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah Fisika Zat Padat ini yang
berjudul “Model Kronig Penney”.
Makalah ini kami buat untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi kami dan
pembaca .Makalah ini masih jauh dari sempurna.Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran untuk menuju kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sebelumnya kami
mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan .

Medan,18 maret 2017


Penyusun,

Kelompok IV

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ...................................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................ 1

1.3 Tujuan ................................................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 2

2.1 Pita Energi ............................................................................................................................. 2

2.2 Model Elektron Bebas Terdekat ............................................................................................ 3

2.3 FUNGSI BLOCH.................................................................................................................. 4

2.4 Definisi Model Kronig-Penney ............................................................................................. 5

BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 13

3.1 KESIMPULAN ................................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 14

iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan azas larangan Pauli, dalam satu tingkat energi tidak boleh ada lebih dari satu
elektron pada keadaan yang sama. Kumpulan garis pada tingkat energi yang sama akan saling
berhimpit dan membentuk satu pita, pita inilah yang dinamakan sebagai pita energi.Pita energi
terbagi menjadi dua yaitu, pita valensi dan pita konduksi.
Model elektron bebas dalam metal memberikan informasi mengenai kapasitas panas,
konduktivitas termal, konduktivitas elektrikal, suseptibilitas magnetik dan elektrodinamik dalam
metal. Tetapi kegagalan model menimbulkan pertanyaan mengenai perbedaan antara metal,
semimetal, semikonduktor dan insulator; peristiwa dalam jumlah positif koefisien Hall
Model Kronig-Penney (1930) yang menelaah perilaku elektron dalam kristal linier
sederhana, meskipun tidak menyelesaikan masalahnya secara konkret, memberikan ciri-ciri yang
pokok tentang perilaku elektron dalam potensial yang periodik.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan rumusan masalah :

1. Apa itu Pita Energi ?


2. Apa itu model Elektron Bebas ?
3. Apa itu Fungsi Blonch ?
4. Bagaimana model Kronig -Penney itu ?
5. Bagaimana hubungan persamaan Schrodinger dengan Model Konig Penney ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu pita energi


2. Untuk mengetahui model elektron bebas
3. Untuk mengetahui fungsi Blonch
4. Untuk memahami model Kronig Penney
5. Untuk mengetahui hubungan persamaan Schrodinger dengan Model Konig Penney ?

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pita Energi

Model elektron bebas dalam metal memberikan informasi mengenai kapasitas panas,
konduktivitas termal, konduktivitas elektrikal, suseptibilitas magnetik dan elektrodinamik dalam
metal. Tetapi kegagalan model menimbulkan pertanyaan mengenai perbedaan antara metal,
semimetal, semikonduktor dan insulator; peristiwa dalam jumlah positif koefisien Hall;
hubungan konduksi elektron di dalam metal untuk elektron valensi atom bebas; dan teori; dan
banyak kelengkapan pembawa, khususnyaMagnetotransport.

Perbedaan antara konduktor yang baik dan isulator yang baik adalah saling menabrak
atau membentur. Sebuah resistivitas listrik metal murni bernilai rendah atau setara dengan 10-10
ohm-cm pada temperatur 1 Kelvin, jauh dari kemungkinan superkonduktivity. Resistivitas
insulator yang baik sebanding dengan 1022 ohm-cm. Rangkaian ini 1032 lebih lebar dari
kebanyakan fisika zat padat.

Setiap padatan mengandung elektron. Kristal menjadi insulator jika salah satu pita
energinya terisi atau kosong, sehingga tidak ada elektron yang berpindah dalam medan listrik.
Sebuah kristal menunjukkan reaksi seperti metal jika salah satu pita terisi sebagian, sekitar 10
dan 90 persen bagian. Kristal adalah semikonduktor jika satu atau dua pita memiliki bagian tipis
atau kosong.

Untuk memahami perbedaan antara insulator dan konduktor, kita harus memperluas
model elektron bebas untuk menghitung periodisitas kisi-kisi padatan. Kita akan menemui hal
lain yang sungguh luar biasa yang dimiliki elektron di dalam kristal.

2
2.2 Model Elektron Bebas Terdekat

Model elektron bebas memenuhi jumlah distribusi yang pada dasarnya terus menerus berawal
dari nol hingga tak terhingga.Telah diketahui bahwa:
ℏ2
∈𝑘 = (𝑘𝑥2 + 𝑘𝑦2 + 𝑘𝑧2 ) [1]
2𝑚

Dimana, untuk kondisi batas periodik sebuah kubus berukuran L,


2𝜋 4𝜋
𝑘𝑥 , 𝑘𝑦 , 𝑘𝑧 = 0; ± ;± ; [2]
𝐿 𝐿

Fungsi gelombang elektron bebas, persamaannya sebagai berikut


Ψ𝑘 (𝑟) = exp(𝑖𝑘. 𝑟) ; [3]
yang mewakili gelombang berjalan dengan momentum 𝑝 = ℏ𝑘
Struktur pita merupakan sebuah kristal yang seringkali dapat menjelaskan model elektron
bebas terdekatkarena pita elektron diperlakukan sebagai pengusik oleh potensial periodik pada
inti ion saja. Refleksi Bragg merupakan ciri khas penyebaran gelombang dalam kristal. Refleksi
Bragg gelombang elektron dalam kristal adalah penyebab celah energi. Celah energi dapat
menentukansecara signifikandalam penentuan apakah zat padat merupakan insulator ataukah
konduktor.
Kondisi Bragg (k+G)2=k2 untuk gelombang difraksi gelombang vektor dalam satu
dimensi.
1
𝑘 = ± 2 𝐺 = ±𝑛 𝜋⁄𝑎 [4]
𝑛
dimana 𝐺 = 2𝜋 𝑎 adalah kisi resiprokal vektor dan n adalah bilangan bulat. Refleksi pertama dan

celah energi pertama terbentuk pada 𝑘 = ± 𝜋⁄𝑎. Pada bagian ini k diantara − 𝜋⁄𝑎adalah zona
Brillouin kisi. Celah energi lainnya terjadi untuk nilai bilangan n lainnya.

Fungsi gelombang pada 𝑘 = ± 𝜋⁄𝑎 bukanlah gelombang berjalan exp (𝑖𝜋 𝑥⁄𝑎) atau
exp(−𝑖𝜋 𝑥⁄𝑎 ) elektron bebas. Dimana nilai khusus untuk k fungsi gelombang membuat
persamaan bagian perjalanan gelombang untuk bagian kanan dan kiri
Pernyataan tidak terikat waktu direpresentasikan oleh gelombang berdiri. Kita dapat

3
menuliskan persamaan dua gelombang berdiri yang berbeda dari gelombang berjalan
𝑖𝑘𝑥
exp( )yaitu :
𝑎

𝜓(+) = exp(iπx/a) + exp(-iπx/a) = 2 cos (πx/a);


𝜓(−) = exp(iπx/a) - exp(-iπx/a) = 2i sin (πx/a).

2.3 FUNGSI BLOCH


Fungsi Bloch membuktikan bahwa solusi untuk persamaan Schrodinger pada potensial
periodik harus berbentuk:

𝜓𝑘 (𝑟) = 𝑈𝑘 (𝑟) exp(𝑖𝑘. 𝑟) [5]

Dimana Uk(r) mempunyai periode kristal lattice dengan Uk(r) = Uk (r +T) dengan T adalah vektor
sisi translasi. Persamaan diatas mengungkapkan teorema bloch :
Fungsi Eigen dari persamaan gelombang untuk potensial periodik mempunyai hasil dari
bidang gelombang eksp. (ik . r) fungsi waktu Uk (r) dengan periodisitas kisi kristal

Fungsi gelombang one-elektron pada persamaan (7) disebut fungsi bloch dan dapat
didekomposisikan dalam jumlah gelombang berjalan. Fungsi Bloch dapat dikumpulkan dalam
bentuk gelombang paket-paketmewakili elektron – elektron yang menyebar secara bebas melalui
medan potensial dari inti ion.
Teorema Bloch valid jika 𝜓𝑘 nondegenerasi yaitu ketika tidak ada fungsi gelombang
dengan energi yang sama dan vektor gelombangnya 𝜓𝑘 . Energi potensial piriodik di a dengan
U(x) =U(x + sa) dimana s adalah bilangan bulat.
Untuk mencari solusi persamaan gelombang dapat dibantu oleh garis simetri cincin
sehingga:
𝜓(𝑥 + 𝑎) = 𝐶𝜓(𝑥) [6]
dimana C konstan, sehingga disekitar cincin adalah
𝜓(𝑥 + 𝑁𝑎) = 𝜓(𝑥) = 𝐶 𝑁 𝜓(𝑥) [7]
Karena 𝜓(𝑥) harus bernilai tunggal. C adalah satu dari akar dari kesatuan atau
𝑖2𝜋𝑠𝑥
𝐶 = exp ( ) ; 𝑠 = 0, 1, 2, … , 𝑁 − 1 [8]
𝑁𝑎

4
Kita gunakan persamaan diatas
𝑖2𝜋𝑠𝑥
𝜓(𝑥) = 𝑈𝑘 (𝑥) exp ( ) [9]
𝑁𝑎

Dalam Telaah Bloch potensial periodiknya merupakan superposisi dua potensial:

1. Potensial berkala dari kisi-kisi gugus-gugus atom atau ion.

2. Potensial yang berasal dari semua elektron terluar atom-atom kristal.

Fungsi gelombang Schroedinger ketika ada potensial periodik untuk keberkalaan kisi
adalah:

Merupakan fungsi yang memiliki keberkalaan kisi kristal

Gambaran potensial periodik untuk kisi linier monoatomik

2.4 Definisi Model Kronig-Penney

Model Kronig – Penney dalam satu dimensi adalah merupakan suatu deretan sumur potensial persegi
dengan lebar , dipisahkan oleh penghalang energy yang lebarnya b dan tinggi V0. Luas penghalang bV0,
berubah dari tak berhingga sampai nol.Sebagian dari fungsi gelombang bergetar dalam sumur
dan meluruh secara eksponensial.Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.

5
Gambar 1.Energi potensial periodik satu dimensi yang digunakan oleh Kronig dan Penney.

Energi potensial dari sebuah elektron dalam sebuah susunan inti-inti atom yang positif
dianggap berbentuk seperti sebuah susunan sumur potensial periodik dengan perioda a + b,
seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.Di dasar sumur, yaitu untuk 0 < x < a, elektron dianggap
berada di sekitar sebuah inti atom (atau di antara dua inti atom) dan energi potensialnya dianggap
nol sehingga di daerah ini elektron bertingkah sebagai elektron bebas. Sebaliknya, di luar sumur,
yaitu untuk –b < x < 0, energi potensial elektron dianggap sama dengan V0. Meskipun model
Kronig-Penney ini menggunakan pendekatan yang sangat kasar dibandingkan dengan energi
potensial yang ada dalam suatu kisi, tetapi model ini sangat berguna untuk menjelaskan berbagai
sifat penting dari tingkah laku elektron secara kuantum mekanik dalam sebuah kisi periodik.
Fungsi-fungsi gelombang elektron diperoleh dari persamaan Schrodinger untuk kedua daerah
yaitu daerah 0 < x < a, dan daerah –b < x < 0) sebagai berikut:

a. untuk 0 < x < a.

𝑑2 𝛹 (𝑥) 2𝑚
+ 2 𝐸𝛹(𝑥) = 0(𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑒𝑙𝑒𝑘𝑡𝑟𝑜𝑛 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑠, 𝑉𝑜 = 0) [10]
𝑑𝑥 2 ħ

b. untuk –b < x < 0.

6
𝑑2 𝛹(𝑥) 2𝑚
+ 2 (𝐸 − 𝑉𝑜 )𝛹(𝑥) = 0 [11]
𝑑𝑥 2 ħ

Jika kita misalkan bahwa energi elektron lebih kecil dari pada V0, dan kita difinisikan dua
besaran real 𝛼 dan β sebagai berikut:
2𝑚 2𝑚
𝛼2 = 𝐸 𝑑𝑎𝑛 𝛽 2 = (𝑉𝑜 − 𝐸) [12]
ħ2 ħ2

maka persamaan-persamaan (1) dan (2) dapat ditulis menjadi


𝑑2 𝛹(𝑥) 𝑑2 𝛹(𝑥)
+ 𝛼 2 𝛹(𝑥) = 0 𝑑𝑎𝑛 − 𝛽 2 𝛹(𝑥) = 0 [13]&[14]
𝑑𝑥 2 𝑑𝑥 2

Karena energi potensial dari model Kronig-Penney itu adalah periodik, maka fungsi-
fungsi gelombang tersebut haruslah berbentuk fungsi Bloch, yaitu:
𝛹(𝑥) = 𝑒 ±𝑖𝑘𝑥 𝑢𝑘 (𝑥) [15]

dimana uk(x) sekarang adalah sebuah fungsi periodik dalam x dengan perioda a + b, yaitu
𝑢𝑘 (𝑥) = 𝑢𝑘 (𝑥 + (𝑎 + 𝑏)) [16]

Sekarang marilah kita hitung turunan kedua terhadap x dari persamaan diatas, sebagai
berikut:
𝑑2 𝛹(𝑥) 2 𝑖𝑘𝑥 𝑖𝑘𝑥
𝑑𝑢𝑘 𝑖𝑘𝑥
𝑑2 𝑢𝑘
= −𝑘 𝑒 𝑢𝑘 (𝑥) + 2𝑖𝑘 𝑒 + 𝑒 [17]
𝑑𝑥 2 𝑑𝑥 𝑑𝑥 2

Selanjutnya coba kita substitusikan persamaan (6) dan (8) ini ke dalam persamaan-
persamaan (4) dan (5) di atas. Hasilnya adalah sebagai berikut:
a. untuk 0 < x < a.
𝑑2 𝑢1 𝑑𝑢𝑖
2
+ 2𝑖𝑘 + (𝛼 2 − 𝑘 2 )𝑢1 = 0 [18]
𝑑𝑥 𝑑𝑥
b. untuk –b < x < 0.
𝑑2 𝑢2 𝑑𝑢2
+ 2𝑖𝑘 + (𝛽 2 + 𝑘 2 )𝑢2 = 0 [19]
𝑑𝑥 2 𝑑𝑥

yang mana u1dan u2 masing-masing menyatakan nilai uk(x) dalam interval 0 < x < a dan –b < x

7
<0. Seperti kita ketahui bahwa dari mekanika kuantum atau dari Fisika kuantum, solusi umum
untuk persamaan-persamaan (9) dan (10) di atas adalah:
𝑢1 = 𝐴 𝑒 𝑖(𝛼−𝑘)𝑥 + 𝐵𝑒 −𝑖(𝛼+𝑘)𝑥 [20]

dan
𝑢2 = 𝐶𝑒 (𝛽−𝑖𝑘)𝑥 + 𝐷𝑒 −(𝛽+𝑖𝑘)𝑥 [21]

yang mana A, B, C, dan D adalah tetapan-tetapan yang biasa ditentukan oleh syarat batas berikut:
𝑑𝑢1 𝑑𝑢2
𝑢1 (0) = 𝑢2 (0) ∶ (𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑥 = 0) = (𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑥 = 0) [22]
𝑑𝑥 𝑑𝑥

𝑑𝑢1 𝑑𝑢2
𝑢2 (𝑎) = 𝑢2 (−𝑏) ∶ (𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑥 = 𝑎) = (𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑥 = −𝑏) [23]
𝑑𝑥 𝑑𝑥

Syarat batas yang ditunjukkan oleh persamaan (13) sesuai dengan syarat bahwa fungsi
gelombang  dan turunan pertamanya (d/dx) dan juga u dengan du/dx haruslah kontinyu.
Sebaliknya, kondisi yang ditunjukkan oleh persamaan (14) sesuai dengan syarat bahwa
uk(x)adalah periodik. Dengan menggunakan syarat-syarat batas ini dan mensubstitusikannya ke
dalam persamaan-persamaan (11) dan (12), kita akan memperoleh empat persamaan linier
homogen sebagai berikut:
𝐴+𝐵 =𝐶+𝐷 [24]

𝐴𝑖 (𝛼 − 𝛽) − 𝐵𝑖(𝛼 + 𝛽) = 𝐶(𝛽 − 𝑖𝑘) − 𝐷(𝛽 + 𝑖𝑘) [25]

𝐴𝑒 𝑖(𝛼−𝑘)𝑎 + 𝐵𝑒 −𝑖(𝛼+𝑘)𝑎 = 𝐶𝑒 −(𝛽−𝑖𝑘)𝑏 + 𝐷𝑒 (𝛽+𝑖𝑘)𝑏 [26]

𝐴𝑖(𝛼 − 𝑘)𝑒 𝑖(𝛼−𝑘)𝑎 − 𝐵𝑖(𝛼 + 𝑘)𝑒 −𝑖(𝛼+𝑘)𝑎 = 𝐶(𝛽 − 𝑖𝑘)𝑒 −(𝛽−𝑖𝑘)𝑏 − 𝐷(𝛽 + 𝑖𝑘)𝑒 (𝛽+𝑖𝑘)𝑏 [27]

Keempat persamaan linier yang homogen ini biasa digunakan untuk menentukan tetapan-
tetapan A, B, C, dan D. Solusi yang tidak sama dengan nol untuk keempat persamaan linier
tersebut ada jika dan hanya jika determinan dari koefisien-koefisien A, B, C, dan D adalahsama
dengan nol,yaitu:

8
𝛼2 +𝛽 2
sinh(𝛽𝑏) sin(𝛼𝑎) + cos ℎ(𝛽𝑏) cos(𝛼𝑎) − cos 𝑘(𝑎 + 𝑏) = 0 [28]
2𝛼𝛽

Untuk menyederhanakan persamaan (19) ini, Kronig dan Penney memilih kasus yang
mana nilai V0 cenderung menuju tak hingga dan nilai b menuju nol, tetapi hasil kali V0b tetap
terhingga. Dengan demikian, potensial model Kronig dan Penney menjadi potensial penghalang
sebuah fungsi delta. Dalam keadaan seperti ini model Kronig-Penney ini dimodifikasi menjadi
sebuah deret sumur potensial yang terpisahkan oleh sebuah potensial penghalang yang sangat-
sangat tipis. Karena itu, hasil kali V0b (untuk V0 →ω dan b→ 0) disebut kekuatan penghalang
(barrier strength).
Pada saat b → 0, sinh (βb) →βb, dan cosh (βb)→1. Di samping itu, dari persamaan
sebelumnya jika kita menjumlahkan 𝛼 2 dan 𝛽 2 kemudian membaginya dengan 2𝛼𝛽 maka kita
akan memperoleh hasil sebagai berikut:
𝛼 2 + 𝛽2 𝑚𝑉0
= [29]
2𝛼𝛽 𝛼𝛽ħ2

Dengan menggunakan persamaan (20) ini dan kondisi dimana saat b → 0, sinh (βb)
→βb, dan cosh (b) →1, kita akan dapat menulis persamaan (19) menjadi
𝑚𝑉0
( ) (𝛽𝑏) sin(𝛼𝑎) + cos(𝛼𝑎) = cos(𝑘𝑎)
𝛼𝛽ħ2

𝑚𝑉0
( ) sin(𝛼𝑎) + cos(𝛼𝑎) = cos(𝑘𝑎) [30]
𝛼𝛽ħ2

Jika kita definisikan besaran P sebagai berikut:

𝑚𝑉0 𝑏𝑎 𝑃 𝑚𝑉0 𝑏
𝑃=( 2
) , 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 =( ) [31]
ħ 𝛼𝑎 𝛼ħ2

Nilai P ini adalah sama dengan luas energi potensial penghalang V0b. Jadi jika kita meperbesar
nilai P berarti mengikat sebuah elektron secara kuat pada sebuah sumur tertentu. Nah, sekarang
coba kita substitusikan persamaan (22) ini ke dalam persamaan (21) di atas. Hasilnya adalah
sebagai berikut:
9
𝑃
( ) sin(𝛼𝑎) + cos(𝛼𝑎) = cos(𝑘𝑎) [32]
𝛼𝑎

Persamaan (23) ini merupakan syarat agar solusi untuk persamaan gelombang itu ada. Kita
ketahui bahwa nilai cos (ka) terletak diantara –1 dan +1 sehingga ruas kiri dari persamaan (23)
itu harus memiliki nilai a sedemikian rupa sehingga nilai-nilai ruas kiri persamaan (23) terletak
dalam rentang –1 dan +1. Nilai-nilai a yang menghasilkan nilai (P/a) sin (a) + cos (a)
berada dalam rentang antara –1 dan +1 ditunjukkan dalam Gambar 2.

Gambar 2. Grafik (P/a) sin (a) + cos (a) sebagai fungsi a untuk P = 3/2. Nilai-nilaia
yang menghasilkan nilai (P/a) sin (a) + cos (a) berada dalam rentang –1 dan +1ditunjukkan
oleh potongan (segmen) garis-garis tebal dalam sumbu a.

Karena 2 sebanding dengan energi, maka sumbu horizontal juga secara tidak langsung
menyatakan sumbu energi.Jadi panjang potongan-potangan garis tebal itu menyatakan rentang
energi yang diizinkan untuk elektron. Dari Gambar 2 kita dapat melihat bahwa ternyata dengan
menggunakan model Kronig-Penney itu sumbu energi (sumbu a) dibagi menjadi daerah-daerah
yang diizinkan dan daerah terlarang bagi elektron. Daerah yang diizinkan untuk elektron adalah
sepanjang garis tebal, sedangkan daerah terlarang adalah daerah di antara ujung dua garis tebal

10
yang berdekatan.Panjang segmen garis tebal (yang berarti sebanding dengan rentang energi) itu
sebanding dengan nilai a. Artinya, makin besar nilai a makin panjang rentang energi yang
diizinkan. Jadi, dengan mengacu pada Gambar 2 di atas kita dapat menarik 3 kesimpulan berikut:
1. Spektrum energi elektron terdiri atas pita-pita energi yang diizinkan dan pita-pita energi
yang terlarang.
2. Lebar pita energi yang diizinkan sebanding dengan nilai a, artinya makin besar nilai a
makin besar pula lebar pita energi.
3. Lebar suatu pita energi yang diizinkan berbanding terbalik dengan nilai P, yaitu dengan
energi ikat elektron. Makin besar P makin kecil lebar pita energi yang diizinkan.
Jika P →, pita-pita energi yang diizinkan dipersempit sedemikian rupa sehingga
menjadi berbentuk garis-garis dan membentuk sebuah spektrum garis. Dalam kasus seperti itu,
persamaan (23) akan memiliki solusi hanya jika sin (a) = 0 (sebab jika sin (a) tidak sama
dengan nol, persamaan (23) menjadi tak hingga, karena P→). Jadi agar persamaan (23)
memiliki solusi maka
sin(𝛼𝑎) = 0

𝛼𝑎 = ± 𝑛𝜋 [33]

dimana n = bilangan bulat. Karena itu, dengan menggunakan persamaan (3) dan (24) energi
dapat ditulis sebagai berikut:
𝛼 2 ħ2 𝜋 2 ħ2 𝑛2
𝐸= = [34]
2𝑚 2𝑚𝑎2

Persamaan (25) ini menyatakan tingkat energi sebuah partikel dalam sebuah energi
potensial yang tetap. Sebaliknya, jika P→0, persamaan (34) menjadi:

𝑐𝑜𝑠 (𝛼𝑎) = cos(𝑘𝑎) 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝛼 = 𝑘 [35]

11
sehingga dengan menggunakan persamaan (3) dan (26) di atas, energi partikel menjadi:
ħ2 𝑘 2
𝐸= [36]
2𝑚

Persamaan (27) ini menyatakan energi dari elektron bebas. Hal ini memang sesuai dengan
harapan kita bahwa jika P → 0, memang elektron menjadi bebas.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. Spektrum energi elektron terdiri dari beberapa pita energi (daerah energi) yang
diperkenankan dan beberapa yang terlarang.
2. Lebar pita energi yang diperkenankan bertambah lebar dengan meningkatnya harga α a, jadi
dengan energi yang meningkat.
3. Lebar pita energi tertentu yang diperkenankan mengecil apabila P bertambah artinya
mengecil apabila energi ikatan makin naik.

13
DAFTAR PUSTAKA
Kittel, Charles.1996.Introduction To Solid State Physics 7th.ed .New York : Jhon Wiley and Sons
Ashcroft and Mermin.1976. Solid Sate Physics. Philadelphia : Saunders College

14