Anda di halaman 1dari 3

Lestarikanlah Local Wisdom!

Sebagai sebuah negara bangsa, Indonesia terus mengalami transformasi budaya, dari
budaya etnik menjadi budaya nasional. Proses ini terus berjalan hingga pada detik ini. Dan
agar ia terus berjalan secara baik, merujuk pada Umar Kayam, kita perlu menciptakan kondisi
yang sehat serta menguntungkan bagi terciptanya dialog budaya antar nilai-nilai etnik dengan
nilai-nilai Negara-kebangsaan.
Yang dimaksud dengan nilai-nilai etnik di sini adalah nilai-nilai tradisional yang
diwarisi oleh lingkungan etnik dari pemantapan struktur masyarakat-masyarakat yang
mendahului mereka. Sedangkan nilai-nilai negara-kebangsaan adalah nilai-nilai kontemporer
yang diletakkan oleh persyaratan minimal untuk membangun sosok struktur Negara-
kebangsaan tersebut. Pemaknaan praktis dari apa yang digagaskan oleh Umar Kayam, adalah
bahwa kita perlu memberikan ruang yang setara dan sebebas-bebasnya bagi setiap suku
bangsa untuk mengaktualisasikan, mengekspresikan dan mendialogkan kebudayaan lokal
yang mereka miliki, sembari pada saat yang sama, kita berbegang teguh pada suatu common
platform, sebuah nilai bersama sebagai bangsa yang biasanya berupa nilai-nilai luhur yang
bersifat lebih universal dan bisa diterima oleh semua suku bangsa.
Berangkat dari pertimbangan-pertimbangan di atas, maka strategi kebudayaan yang
perlu kita kembangkan adalah, pertama, menginventarisasi nilai-nilai luhur dari kebudayaan
nasional maupun kebudayaan daerah yang bisa kita terima, jalankan, lestarikan, tanpa perlu
pemaknaan ulang; kedua, memaknai ulang segenap nilai-nilai luhur dari kebudayaan nasional
maupun kebudayaan daerah yang masih dipegang teguh oleh berbagai suku bangsa di
Indonesia, agar pola kehidupan kita menjadi lebih selaras dengan tantangan pada masa kini;
dan ketiga, merumuskan nilai-nilai kebudayaan bangsa yang bisa diterima oleh berbagai suku
bangsa di Indonesia sebagai common platform, yang menjadi rujukan bagi upaya
pembentukan jatidiri bangsa.

Nilai-nilai Luhur yang Patut Dilestarikan

Nilai-nilai luhur yang diwariskan dari masa lalu, biasanya disebut juga dengan kearifan
lokal, yang artinya adalah gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh
kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. [2]
Merujuk pada I Ketut Gobyah, kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang
telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara
nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai
keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan
lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan
pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap
sangat universal. Sementara S. Swarsi Geriya mengatakan bahwa secara konseptual,
kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada
filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Kearifan
lokal adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang
lama dan bahkan melembaga.
Pada kenyataannya, bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki
banyak sekali kearifan lokal yang jika dihayati dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-
hari, niscaya membawa bangsa ini pada kehidupan yang baik, berwujud nilai, norma, etika,
kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus.

Untuk masyarakat Bali misalnya, kearifan lokal tersebut memiliki beberapa fungsi dan
makna antara lain:

1. Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.

2. Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya berkaitan

dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate.


3. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya

pada upacara saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura Panji.


4. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.

5. Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat.

6. Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.

7. Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan

penyucian roh leluhur.

8. Bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron


client.

Dalam konteks ikhtiar mewujudkan kejayaan bangsa, penulis berpikir bahwa yang
sepatutnya kita kemukakan adalah kearifan-kearifan lokal yang berprospek secara langsung
mewarnai dan mengarahkan kehidupan masyarakat kepada perbaikan kesejahteraan, baik
pada aspek sosial, ekonomi maupun lingkungan. Pada aspek sosial misalnya, kita perlu
mengaktualisasikan dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang mendorong peningkatan
kualitas kemanusiaan kita dan mendorong terbangunnya relasi sosial yang harmonis.

Contoh kearifan lokal yang kita perlu lestarikan pada aspek ini misalnya, adalah
budaya tepa selira atau toleransi yang secara indah terkandung dalam ungkapan bhinneka
tunggal ika. [6] Budaya ini sebetulnya menunjukkan kuatnya kesadaran multikultural pada
leluhur kita, yang sepatutnyalah kita teruskan. Mengapa demikian? Karena salah satu
tantangan kita saat ini, adalah bahwa kita yang memang terdiri dari multi budaya dan etnis,
cenderung terfragmentasi, terpisah-pisah, bahkan berkompetisi secara tidak produktif. Kita
belum merasa menjadi satu bangsa, yang memiliki rumah besar bernama Indonesia, dan harus
kita makmurkan bersama, dan masing-masing penghuninya harus kita hormati dengan tulus.
Ke depan, kejayaan bangsa ini sangat tergantung dari sejauh mana kita sanggup
mengelola realitas multikultural bangsa ini secara arif.

Referensi:

H. Dewantoro, S. Lestarikanlah Local Wisdom!


http://redaksiindonesia.com/read/lestarikanlah-local-wisdom.html. Diakses pukul 13.18
tanggal 20 September 2016