Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENHADULUAN

INTRA CRANIAL HEMATOM

ANATOMI FISIOLOGI OTAK

A. ANATOMI OTAK
Seperti terlihat pada gambar di atas, otak dibagi menjadi empat bagian,
yaitu:
1. Cerebrum (Otak Besar)
2. Cerebellum (Otak Kecil)
3. Brainstem (Batang Otak)
4. Limbic System (Sistem Limbik)

B. FISIOLOGI OTAK
1. Cerebrum (Otak Besar)
Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga
disebut dengan nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan.
Cerebrum merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan
binatang. Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir,
analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan
visual. Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas
bagian ini.
Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut
Lobus. Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan
yang menyerupai parit disebut sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-
masing adalah: Lobus Frontal, Lobus Parietal, Lobus Occipital dan Lobus
Temporal.
a. Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan
dari Otak Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan
membuat alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan,
penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol
perasaan, kontrol perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara
umum.
b. Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses
sensor perasaan seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
c. Lobus Temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan
kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam
bentuk suara.
d. Lobus Occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan
dengan rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu
melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina
mata.

Apabila diuraikan lebih detail, setiap lobus masih bisa dibagi


menjadi beberapa area yang punya fungsi masing-masing, seperti terlihat
pada gambar di bawah ini.
Selain dibagi menjadi 4 lobus, cerebrum (otak besar) juga bisa
dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanandan belahan otak
kiri. Kedua belahan itu terhubung olehkabel-kabel saraf di bagian
bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan mengontrol sisi kiri tubuh,
dan belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh. Otak kanan terlibat
dalam kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri untuk
logika dan berpikir rasional. Mengenai fungsi Otak Kanan dan Otak Kiri
sudah kami bahas pada halaman tersendiri.
2. Cerebellum (Otak Kecil)
Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala,
dekat dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak
fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh,
mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak
Kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis
yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat
menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya.
Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan
pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak
terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan
makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.
3. Brainstem (Batang Otak)
Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau
rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung
atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar
manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh,
mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar
manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.
Batang otak dijumpai juga pada hewan seperti kadal dan buaya.
Oleh karena itu, batang otak sering juga disebut dengan otak reptil. Otak
reptil mengatur “perasaan teritorial” sebagai insting primitif. Contohnya
anda akan merasa tidak nyaman atau terancam ketika orang yang tidak
Anda kenal terlalu dekat dengan anda.
Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah
bagian teratas dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan
Otak Kecil. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon
penglihatan, gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan
tubuh dan pendengaran.
b. Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah
kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya.
Medulla mengontrol funsi otomatis otak, seperti detak jantung,
sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.
c. Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat
otak bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah
kita terjaga atau tertidur.
Catatan: Kelompok tertentu mengklaim bahwa Otak Tengah
berhubungan dengan kemampuan supranatural seperti melihat dengan
mata tertutup. Klaim ini ditentang oleh para ilmuwan dan para dokter saraf
karena tidak terbukti dan tidak ada dasar ilmiahnya.
4. Limbic System (Sistem Limbik)
Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang
otak ibarat kerah baju. Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti kerah.
Bagian otak ini sama dimiliki juga oleh hewan mamalia sehingga sering
disebut dengan otak mamalia. Komponen limbik antara lain hipotalamus,
thalamus, amigdala, hipocampus dan korteks limbik. Sistem limbik
berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara
homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang,
metabolisme dan juga memori jangka panjang.
Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah Hipotalamus yang
salah satu fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu
mendapat perhatian dan mana yang tidak. Misalnya Anda lebih
memperhatikan anak Anda sendiri dibanding dengan anak orang yang
tidak Anda kenal. Mengapa? Karena Anda punya hubungan emosional
yang kuat dengan anak Anda. Begitu juga, ketika Anda membenci
seseorang, Anda malah sering memperhatikan atau mengingatkan. Hal ini
terjadi karena Anda punya hubungan emosional dengan orang yang Anda
benci.
Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh
oleh indera. Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat
bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Carl Gustav Jung menyebutnya
sebagai “Alam Bawah Sadar” atau ketidaksadaran kolektif, yang
diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang dan perilaku tulus
lainnya. LeDoux mengistilahkan sistem limbik ini sebagai tempat duduk
bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, penghargaan dan
kejujuran.
Perbedaan Fungsi Otak Kiri dan Otak Kanan
Perbedaan dua fungsi otak sebelah kiri dan kanan akan membentuk sifat,
karakteristik dan kemampuan yang berbeda pada seseorang. Perbedaan teori
fungsi otak kiri dan otak kanan ini telah populer sejak tahun 1960an, dari hasil
penelitian Roger Sperry.
Otak besar atau cerebrum yang merupakan bagian terbesar dari otak
manusia adalah bagian yang memproses semua kegiatan intelektual, seperti
kemampuan berpikir, menalarkan, mengingat, membayangkan, serta
merencanakan masa depan.
Otak besar dibagi menjadi belahan kiri dan belahan kanan, atau yang lebih
dikenal dengan Otak Kiri dan Otak Kanan. Masing-masing belahan mempunyai
fungsi yang berbeda. Otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan
logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat
matematika. Beberapa pakar menyebutkan bahwa otak kiri merupakan
pusat Intelligence Quotient (IQ).
Sementara itu otak kanan berfungsi dalam perkembangan Emotional
Quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain
serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif,
kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi,
menari, melukis dan segala jenis kegiatan kreatif lainnya.
Belahan otak mana yang lebih baik? Keduanya baik. Setiap belahan otak
punya fungsi masing-masing yang penting bagi kelangsungan hidup manusia.
Akan tetapi, menurut penelitian, sebagian besar orang di dunia hidup dengan lebih
mengandalkan otak kirinya. Hal ini disebabkan oleh pendidikan formal (sekolah
dan kuliah) lebih banyak mengasah kemampuan otak kiri dan hanya sedikit
mengembangkan otak kanan.
Orang yang dominan otak kirinya, pandai melakukan analisa dan proses
pemikiran logis, namun kurang pandai dalam hubungan sosial. Mereka juga
cenderung memiliki telinga kanan lebih tajam, kaki dan tangan kanannya juga
lebih tajam daripada tangan dan kaki kirinya. Sedangkan orang yang dominan
otak kanannya bisa jadi adalah orang yang pandai bergaul, namun mengalami
kesulitan dalam belajar hal-hal yang teknis.
Ada banyak cara untuk mengetahui apakah seseorang dominan otak kanan
atau dominan otak kiri. Misalnya dengan melihat perilaku sehari-hari, cara
berpakaian, dengan mengisi kuisioner yang dirancang khusus atau dengan
peralatan Electroencephalograph yang bisa mengamati bagian otak mana yang
paling aktif.
Disekitar Anda pastinya ada orang yang pandai dalam ilmu pengetahuan,
tapi tidak pandai bergaul. Sebaliknya ada orang yang pandai bergaul, tapi kurang
pandai di sekolahnya. Keadaan semacam ini disebabkan oleh ketidakseimbangan
antara otak kanan dan otak kiri.
Idealnya, otak kiri dan otak kanan haruslah seimbang dan semuanya
berfungsi secara optimal. Orang yang otak kanan dan otak kirinya seimbang,
maka dia bisa menjadi orang yang cerdas sekaligus pandai bergaul atau
bersosialisasi.
Untuk mengoptimalkan dan menyeimbangkan kinerja dua belahan otak,
Anda bisa menggunakan teknologi CD Aktivasi Otak. Metode ini sangat mudah
diikuti karena Anda hanya perlu mendengarkan semacam musik instrumental yang
dirancang khusus untuk menyelaraskan dan mengaktifkan kedua belahan otak
Anda.
A. DEFINISI
Perdarahan intracerebral adalah perdarahan yang terjadi pada jaringan
otak biasanya akibat robekan pembuluh darah yang ada dalam jaringan otak.
Secara klinis ditandai dengan adanya penurunan kesadaran yang kadang-
kadang disertai lateralisasi.
Perdarahan intracerebral (ICH) terjadi akibat pecahnya pembuluh
intraserebral mengarah pada pengembangan hematoma di dalam substansi
otak.
Intra Cerebral Hematom (ICH) merupakan koleksi darah focus yang
biasanya diakibatkan oleh cidera regangan atau robekan rotasional terhadap
pembuluh –pembuluh darah dalam jaringan fungsi otak atau kadang kerena
cidera tekanan .ukuran hematom bervariasi dari beberapa milimeter sampai
beberapa sentimeter.
Intra secerebral hematom adalah pendarahan dalam jaringan otak itu
sendiri . hal ini dapat timbul pada cidera kepala tertutup yang berat atau
cidera kepala terbuka .intraserebral hematom dapat timbul pada penderita
strok hemorgik akibat melebarnya pembuluh nadi.

B. ETIOLOGI
Etiologi dari Intra Cerebral Hematom adalah :
1. Kecelakaan yang menyebabkan trauma kepala
2. Fraktur depresi tulang tengkorak
3. Gerak akselerasi dan deselerasi tiba-tiba
4. Cedera penetrasi peluru
5. Jatuh
6. Kecelakaan kendaraan bermotor
7. Hipertensi
8. Malformasi Arteri Venosa
9. Aneurisma
10. Distrasia darah
11. Obat
12. Merokok.
C. PATOFISIOLOGI
ICH primer biasa terjadi pada kapsul internal dan hematoma meluas
kemedial kesubstansi kelabu dalam dan kelateral melalui substansi putih yang
relatif aseluler korona radiata. Pembuluh yang ruptur adalah satu dari arteria
perforating kecil yang meninggalkan arteria serebral media dekat pangkalnya
dikarotid internal dan sering dijelaskan sebagai arteria lentikulostriata.
Pemeriksaan postmortem menunjukkan pada arteria perforating pasien
hipertensif terdapat banyak dilatasi aneurismal yang sangat kecil yang diduga
rupturnya menjadi sumber perdarahan. Lebih jarang perdarahan terjadi pada
fossa posterior yang dimulai pada pons atau hemisfer serebeler.
ICH akut sering terjadi saat atau setelah latihan fisik. Sekitar
duapertiga akan mengalami perburukan neurologis progresif dan sepertiganya
dalam defisit maksimal saat datang kerumah sakit. Penurunan kesadaran
terjadi pada 60% dan duapertiganya jatuh kedalam koma. Nyeri kepala dan
mual dengan muntah terjadi pada 20-40% kasus. Gejala ini karena peninggian
TIK akibat perdarahan. Kejang kurang umum terjadi, sekitar 7-14%. Gejala
dan tanda lainnya tergantung ukuran dan lokasi spesifik dari bekuan darah.
Tanda khas perdarahan ganglia basal, biasanya putaminal, adalah defisit
motor kontralateral dan gaze ipsi lateral dengan perubahan sensori, visual dan
tabiat. Perubahan pupil terjadi akibat ancaman herniasi unkal lobus temporal
akibat peninggian TIK dan pergeseran garis tengah. Gejala afasik bila
hemisfer dominan terkena.
Perdarahan menyebabkan kerusakan neurologis melalui dua cara
yaitu:
1. Kerusakan otak yang nyata terjadi pada saat perdarahan. Ini terutama
pada kasus dimana hematoma meluas kemedial dan talamus serta ganglia
basal rusak.
2. Hematoma yang membelah korona radiata menyebabkan kerusakan yang
kurang selluler namun mungkin berukuran besar dan menyebabkan
penekanan serta gangguan fungsi neurologis yang mungkin reversibel.
80% pasien adalah hipertensif dan biasanya dalam eksaserbasi akut dari
hipertensinya pada saat datang. Kebanyakan kasus hematoma memecah
kesistema ventrikuler atau rongga subarakhnoid menimbulkan gambaran
klinis PSA. Pria terkena 5-20% lebih sering dari wanita dan 75-90%
terjadi antara usia 45-75 tahun. Pasien dengan koagulopatia lebih
berisiko terhadap PIS seperti juga penderita yang mendapat antikoagulan
terutama Coumadin. Trombositopenia dengan hitung platelet kurang dari
20.000, penyakit hati, leukemia, dan obat-obat seperti amfetamin
meninggikan risiko terjadinya PIS.
ICH terjadi pada teritori vaskuler arteria perforating kecil
seperti lentikulostriata pada ganglia basal, talamoperforator diensefalon,
cabang paramedian basiler pada pons. Karenanya kebanyakan terjadi pada
struktur dalam dari hemisfer serebral. Berikut ini struktur beserta frekuensi
kejadiannya: putamen 30-50%, substansi putih subkortikal 30%, serebelum
16%, talamus 10-15%, serta pons 5-12%. Arteria yang paling sering
menimbulkan perdarahan adalah cabang lentikulostriata lateral dari arteria
serebral media yang mencatu putamen.
ICH merupakan sekitar 10% dari semua stroke. Seperti dijelaskan
diatas, ia disebabkan oleh perdarahan arterial langsung ke parenkhima otak.
Ruptur vaskuler dikira terjadi pada aneurisma milier kecil, dijelaskan oleh
Charcot dan Bouchard 1868, dan/atau pada arteria lipohialinotik yang sering
tampak pada otopsi pasien dengan hipertensi. Minoritas kasus PIS
kemungkinan disebabkan aneurisma, AVM, malformasi kavernosa, amiloid
serebral, atau tumor. Glioblastoma adalah tumor otak primer yang paling
sering mengalami perdarahan, sedangkan melanoma, khoriokarsinoma dan
ipernefroma adalah tumor metastatik yang tersering menimbulkan
perdarahan.
Kematian akibat ICH sekitar 50% dengan 3/4 pasien yang hidup, tetap
dengan defisit neurologis nyata. Penelitian memperlihatkan bahwa prognosis
terutama tergantung pada derajat klinis saat pasien masuk, lokasi serta ukuran
perdarahan. Pasien sadar tentu lebih baik dari pada pasien koma. Penelitian
Dixon 1984 memperlihatkan bahwa satu-satunya prediktor terpenting atas
outcome adalah Skala Koma Glasgow. Pasien dengan hematoma lober
superfisial cenderung lebih baik dari perdarahan batang otak yang lebih
dalam. Perluasan klot ke sistema ventrikuler memperburuk outcome. Pasien
dengan perdarahan dengan diameter lebih dari 3 cm atau volumenya lebih
dari 50 sk, lebih buruk. Pasien dengan kondisi medis buruk dan yang berusia
70 tahun atau lebih cenderung mempunyai outcome buruk.
D. MANIFESTASI KLINIS
Intracerebral hemorrhage mulai dengan tiba-tiba. Diawali dengan
sakit kepala berat, seringkali selama aktifitas. Meskipun begitu, pada orang
tua, sakit kepala kemungkinan ringan atau tidak ada. Dugaan gejala
terbentuknya disfungsi otak dan menjadi memburuk sebagaimana peluasan
pendarahaan. Beberapa gejala, seperti lemah, lumpuh, kehilangan perasa, dan
mati rasa, seringkali mempengaruhi hanya salah satu bagian tubuh. orang
kemungkinan tidak bisa berbicara atau menjadi pusing. Penglihatan
kemungkinan terganggu atau hilang. Mata bisa di ujung perintah yang
berbeda atau menjadi lumpuh. Pupil bisa menjadi tidak normal besar atau
kecil. Mual, muntah, serangan, dan kehilangan kesadaran adalah biasa dan
bisa terjadi di dalam hitungan detik sampai menit.
Menurut Corwin 2014 manifestasi klinik dari dari Intra cerebral
Hematom yaitu :
1. Kesadaran mungkin akan segera hilang, atau bertahap seiring dengan
membesarnya hematom.
2. Pola pernapasaan dapat secara progresif menjadi abnormal
3. Respon pupil mungkin lenyap atau menjadi abnormal
4. Dapat timbul muntah-muntah akibat peningkatan tekanan intra cranium
5. Perubahan perilaku kognitif dan perubahan fisik pada berbicara dan
gerakan motorik dapat timbul segera atau secara lambat
6. Nyeri kepala dapat muncul segera atau bertahap seiring dengan
peningkatan tekanan intra kranium.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Angiografi serebral
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara apesifik
seperti perdarahan arteriovena atau adanya ruptur.
2. CT Scan
Memperlihatkan secara spesifik letak oedema, posisi hematoma,
adanya jaringan otak yang infark atau iskemia serta posisinya secara pasti.
CT scan merupakan pemeriksaan paling sensitif untuk PIS dalam beberapa
jam pertama setelah perdarahan. CT-scan dapat diulang dalam 24 jam
untuk menilai stabilitas.
3. Pungsi lumbal
Tekanan yang meningkat dan di sertai dengan bercak darah pada
cairan lumbal menunjukkan adanya haemoragia pada sub arachnoid atau
perdarahan pada intrakranial. Peningkatan jumlah protein menunjukan
adanya proses inflamasi.
4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Dengan menggunakan gelombang magnetic untuk menentukan
posisi serta besar/ luas terjadinya perdarahan otak.

5. USG Dopler
Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (masalah
sistem karotis).

6. EEG
Melihat masalah yang timbul dampak dari jaringan yang infark
sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan otak.
7. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan darah lengkap
Untuk mengetahui adanya anemia, trombositopenia dan
leukositosis yang dapat menjadi factor risiko stroke hemoragik
b. Pemeriksaan glukosa darah
Untuk mengetahui kadar glukosa darah sebagai sumber
bahan bakar untuk metabolism sel otak. Apabila kadar glukosa
darah yang terlalu rendah maka akan dapat terjadi kerusakan pada
jaringan otak
c. Pemeriksaan analisa gas darah
Untuk mengetahui gas darah yang disuplai ke jaringan otak
sebagai sumber untuk metabolisme
d. Pemeriksaan serum elektrolit
e. Pemeriksaan LED (Laju Endap Darah)
Mengetahui adanya hiperviskositas yang dapat menjadi
factor risiko stroke hemoragik
f. Pemeriksaan faal hemostatis
Untuk mengetahui adanya risiko perdarahan sebagai
komplikasi dan pencetus stroke hemoragik
8. GCS (glasgow coma scale)
Pengukuran Respon Skor
Eye Spontan Membuka mata 4
(Respon
membuka
mata)
Membuka mata dengan perintah (suara, sentuhan) 3
Membuka mata dengan rangsang nyeri. 2
Tidak membuka mata dengan rangsang apapun 1
Verbal Berorientasi baik 5
Bingung , berbicara mengacau, disorientasi tempat 4
(Respon
dan waktu)
verbal /
Bisa membentuk kata tetapi tidak bisa membentuk 3
bicara)
kalimat
Bisa mengeluarkan suara tanpa arti (mengerang) 2
Tidak bersuara 1
Motor Mengikuti perintah 6
(respon Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan 5

motoric) stimulus saat diberi rangsang nyeri)


Withdraw (menghindar / menarik extremitas atau 4
tubuh menjauhkan stimulus saat diberi rangsang
nyeri
Menjauhi rangsang nyeri 3
Extensi spontan 2
Tidak ada gerakan 1
Nilai Normal GCS 15
9. Tingkat kesadaran :
1. Composmentis, yaitu kondisi seseorang yang sadar sepenuhnya, baik
terhadap dirinya maupun terhadap lingkungannya dan dapat
menjawab pertanyaan yang ditanyakan pemeriksa dengan baik.
2. Apatis, yaitu kondisi seseorang yang tampak segan dan acuh tak acuh
terhadap lingkungannya.
3. Delirium, yaitu kondisi seseorang yang mengalami kekacauan
gerakan, siklus tidur bangun yang terganggu dan tampak gaduh
gelisah, kacau, disorientasi serta meronta-ronta.
4. Somnolen yaitu kondisi seseorang yang mengantuk namun masih
dapat sadar bila dirangsang, tetapi bila rangsang berhenti akan tertidur
kembali.
5. Sopor, yaitu kondisi seseorang yang mengantuk yang dalam, namun
masih dapat dibangunkan dengan rangsang yang kuat, misalnya
rangsang nyeri, tetapi tidak terbangun sempurna dan tidak dapat
menjawab pertanyaan dengan baik.
6. Semi-coma yaitu penurunan kesadaran yang tidak memberikan
respons terhadap pertanyaan, tidak dapat dibangunkan sama sekali,
respons terhadap rangsang nyeri hanya sedikit, tetapi refleks kornea
dan pupil masih baik.
7. coma, yaitu penurunan kesadaran yang sangat dalam, memberikan
respons terhadap pertanyaan, tidak ada gerakan, dan tidak ada respons
terhadap rangsang nyeri.

10. Pemeriksaan B1 – B6
1) B 1 : Breathing (Pernafasan/Respirasi)
 Pola napas : Dinilai kecepatan, irama, dan kualitas.
 Bunyi napas: Bunyi napas normal; Vesikuler, broncho
vesikuler.
 Penurunan atau hilangnya bunyi napas dapat menunjukan adanya
atelektasis, pnemotorak atau fibrosis pada pleura.
 Rales (merupakan tanda awal adanya CHF. emphysema)
merupakan bunyi yang dihasilkan oleh aliran udara yang melalui
sekresi di dalam trakeobronkial dan alveoli.
 Ronchi (dapat terjadi akibat penurunan diameter saluran napas dan
peningkatan usaha napas)
 Bentuk dada : Perubahan diameter anterior – posterior (AP)
menunjukan adanya COPD
 Ekspansi dada : Dinilai penuh / tidak penuh, dan kesimetrisannya.
 Ketidaksimetrisan mungkin menunjukan adanya atelektasis, lesi
pada paru, obstruksi pada bronkus, fraktur tulang iga, pnemotoraks,
atau penempatan endotrakeal dan tube trakeostomi yang kurang
tepat.
 Pada observasi ekspansi dada juga perlu dinilai : Retraksi dari otot-
otot interkostal, substrernal, pernapasan abdomen, dan respirasi
paradoks (retraksi abdomen saat inspirasi). Pola napas ini dapat
terjadi jika otot-otot interkostal tidak mampu menggerakan dinding
dada.
 Sputum : Sputum yang keluar harus dinilai warnanya, jumlah dan
konsistensinya. Mukoid sputum biasa terjadi pada bronkitis kronik
dan astma bronkiale; sputum yang purulen (kuning hijau) biasa
terjadi pada pnemonia, brokhiektasis, brokhitis akut; sputum yang
mengandung darah dapat menunjukan adanya edema paru, TBC,
dan kanker paru.
 Selang oksigen : Endotrakeal tube, Nasopharingeal tube,
diperhatikan panjangnya tube yang berada di luar.
 Parameter pada ventilator : Volume Tidal Normal : 10 – 15 cc/kg
BB. Perubahan pada uduma fidal menunjukan adanya perubahan
status ventilasi penurunan volume tidal secara mendadak
menunjukan adanya penurunan ventilasi alveolar, yang akan
meningkat PCO2. Sedangkan peningkatan volume tidal secara
mendadak menunjukan adanya peningkatan ventilasi alveolar yang
akan menurunkan PCO2. Kapasitas Vital : Normal 50 – 60 cc / kg
BB Minute Ventilasi Forced expiratory volume Peak inspiratory
pressure
2) B 2 : Bleeding (Kardiovaskuler / Sirkulasi)
 Irama jantung : Frekuensi ..x/m, reguler atau irreguler
 Distensi Vena Jugularis
 Tekanan Darah : Hipotensi dapat terjadi akibat dari penggunaan
ventilator
 Bunyi jantung : Dihasilkan oleh aktifitas katup jantung
S1 : Terdengar saat kontraksi jantung / sistol ventrikel. Terjadi
akibat penutupan katup mitral dan trikuspid.
S2 : Terdengar saat akhir kotraksi ventrikel. Terjadi akibat
penutupan katup pulmonal dan katup aorta.
S3 : Dikenal dengan ventrikuler gallop, manandakan adanya
dilatasi ventrikel.
Murmur : terdengar akibat adanya arus turbulansi darah. Biasanya
terdengar pada pasien gangguan katup atau CHF.
Pengisian kapiler : normal kurang dari 3 detik
Nadi perifer : ada / tidak dan kualitasnya harus diperiksa. Aritmia
dapat terjadi akibat adanya hipoksia miokardial.
PMI (Point of Maximal Impuls): Diameter normal 2 cm, pada
interkostal ke lima kiri pada garis midklavikula. Pergeseran lokasi
menunjukan adanya pembesaran ventrikel pasien hipoksemia
kronis.
Edema : Dikaji lokasi dan derajatnya.

3) B 3 : Brain (Persyarafan/Neurologik)
 Tingkat kesadaran : Penurunan tingkat kesadaran pada pasien
dengan respirator dapat terjadi akibat penurunan PCO2 yang
menyebabkan vasokontriksi cerebral. Akibatnya akan menurunkan
sirkulasi cerebral. Untuk menilai tingkat kesadaran dapat
digunakan suatu skala pengkuran yang disebut dengan Glasgow
Coma Scale (GCS). GCS memungkinkan untuk menilai secara
obyektif respon pasien terhadap lingkungan. Komponen yang
dinilai adalah : Respon terbaik buka mata, respon motorik, dan
respon verbal. Nilai kesadaran pasien adalah jumlah nilai-nilai dari
ketiga komponen tersebut. Tingkat kesadaran adalah ukuran dari
kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari
lingkungan. Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari
berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak
seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran
darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang
kepala.
 Refleks pupil : Reaksi terhadap cahaya (kanan dan kiri), Ukuran
pupil (kanan dan kiri; 2-6mm), Dilatasi pupil dapat disebabkan oleh
: stress/takut, cedera neurologis penggunaan atropta, adrenalin, dan
kokain. Dilatasi pupil pada pasien yang menggunakan respirator
dapat terjadi akibat hipoksia cerebral. Kontraksi pupil dapat
disebabkan oleh kerusakan batang otak, penggunaan narkotik,
heroin.
4) B 4 : Bladder (Perkemihan – Eliminasi Uri/Genitourinaria)
 Kateter urin : Urine : warna, jumlah, dan karakteristik urine,
termasuk berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan
peningkatan retensi cairan dapat terjadi akibat menurunnya perfusi
pada ginjal. Distesi kandung kemih

5) B 5 : Bowel (Pencernaan – Eliminasi Alvi/Gastrointestinal)


 Rongga mulut : Penilaian pada mulut adalah ada tidaknya lesi pada
mulut atau perubahan pada lidah dapat menunjukan adanya
dehidarsi.
 Bising usus : Ada atau tidaknya dan kualitas bising usus harus
dikaji sebelum melakukan palpasi abdomen. Bising usus dapat
terjadi pada paralitik ileus dan peritonitis. Lakukan observasi bising
usus selama ± 2 menit. Penurunan motilitas usus dapat terjadi
akibat tertelannya udara yang berasal dari sekitar selang
endotrakeal dan nasotrakeal.
 Distensi abdomen : Dapat disebabkan oleh penumpukan cairan.
Asites dapat diketahui dengan memeriksa adanya gelombang air
pada abdomen. Distensi abdomen dapat juga terjadi akibat
perdarahan yang disebabkan karena penggunaan IPPV. Penyebab
lain perdarahan saluran cerna pada pasien dengan respirator adalah
stres, hipersekresi gaster, penggunaan steroid yang berlebihan,
kurangnya terapi antasid, dan kurangnya pemasukan makanan.
 Nyeri : Dapat menunjukan adanya perdarahan gastriintestinal,
Pengeluaran dari NGT : jumlah dan warnanya, Mual dan muntah.
6) B 6 : Bone (Tulang – Otot – Integumen)
 Warna kulit, suhu, kelembaban, dan turgor kulit : Adanya
perubahan warna kulit; warna kebiruan menunjukan adanya
sianosis (ujung kuku, ekstremitas, telinga, hidung, bibir dan
membran mukosa). Pucat pada wajah dan membran mukosa dapat
berhubungan dengan rendahnya kadar haemoglobin atau shok.
Pucat, sianosis pada pasien yang menggunakan ventilator dapat
terjadi akibat adanya hipoksemia. Jaundice (warna kuning) pada
pasien yang menggunakan respirator dapat terjadi akibatpenurunan
aliran darah portal akibat dari penggunaan FRC dalam jangka
waktu lama. Pada pasien dengan kulit gelap, perubahan warna
tersebut tidak begitu jelas terlihat,. Warna kemerahan pada kulit
dapat menunjukan adanya demam, infeksi. Pada pasien yang
menggunkan ventilator, infeksi dapat terjadi akibat gangguan
pembersihan jalan napas dan suktion yang tidak steril.
 Integritas kulit
 Perlu dikaji adanya lesi, dan dekubitus

F. PENATALAKSANAAN
Pendarahan intracerebral lebih mungkin menjadi fatal dibandingkan
stroke ischemic. Pendarahan tersebut biasanya besar dan catastrophic,
khususnya pada orang yang mengalami tekanan darah tinggi yang kronis.
Lebih dari setengah orang yang mengalami pendarahan besar meninggal
dalam beberapa hari. Mereka yang bertahan hidup biasanya kembali sadar
dan beberapa fungsi otak bersamaan dengan waktu. Meskipun begitu,
kebanyakan tidak sembuh seluruhnya fungsi otak yang hilang.
Pengobatan pada pendarahan intracerebral berbeda dari stroke
ischemic. Anticoagulant (seperti heparin dan warfarin), obat-obatan
trombolitik, dan obat-obatan antiplatelet (seperti aspirin) tidak diberikan
karena membuat pendarahan makin buruk. Jika orang yang menggunakan
antikoagulan mengalami stroke yang mengeluarkan darah, mereka bisa
memerlukan pengobatan yang membantu penggumpalan darah seperti :
1. Vitamin K, biasanya diberikan secara infuse
2. Transfusi atau platelet
3. Transfusi darah yang telah mempunyai sel darah dan pengangkatan
platelet (plasma segar yang dibekukan)
4. Pemberian infus pada produk sintetis yang serupa pada protein di dalam
darah yang membantu darah untuk menggumpal (faktor penggumpalan)
5. Operasi untuk mengangkat penumpukan darah dan menghilangkan
tekanan di dalam tengkorak, bahkan jika hal itu bisa menyelamatkan
hidup, jarang dilakukan karena operasi itu sendiri bisa merusak otak.
Corwin (2014) menyebutkan penatalaksanaan untuk Intra Cerebral
Hematom adalah sebagai berikut :
1. Observasi dan tirah baring terlalu lama
2. Mungkin diperlukan ligasi pembuluh yang pecah dan evakuasi hematom
secara bedah
3. Mungkin diperlukan ventilasi mekanis
4. Untuk cedera terbuka diperlukan antibiotiok
5. Metode-metode untuk menurunkan tekanan intra kranium termasuk
pemberian diuretik dan obat anti inflamasi
6. Pemeriksaan Laboratorium seperti : CT-Scan, Thorax foto, dan
laboratorium lainnya yang menunjang.

G. KOMPLIKASI
1. Defisit iskemik
2. Hidrocepalus oedema otak
3. Perdarahan ulang
4. Hematomaintrakranial
5. Kejang
6. Perdarahan gastrointestinal
7. Oedema paru-paru
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

1. ANAMNESE
a. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, tempat tinggal (alamat), pekerjaan,
pendidikan dan status ekonomi dan yang lain.
b. Keluhan utama
Biasanya mengeluh sakit kepala dan lemas bagian ekstermitas dan
terkadang pasien tidak sadar
c. Riwayat penyakit sekarang
Meliputi keluhan atau gangguan yang sehubungan dengan
penyakit yang di rasakan saat ini. Dengan adanya sakit kepala, kelemahan
fisik, perubahan fungsi berbicara (pelo) sehingga mendorong pasien untuk
mencari pengobatan.
d. Riwayat penyakit dahulu
Keadaan atau penyakit – penyakit yang pernah diderita oleh
penderita yang mungkin sehubungan dengan ICH seperti hipertensi atau
diabetes militus atau karena kecelakaan.
e. Riwayat penyakit keluarga
Mencari diantara anggota keluarga pada tumor otak yang
menderita penyakit tersebut sehingga sehingga diteruskan penularannya.
2. POLA FUNGSI KESEHATAN
a. Nutrisi: terjadi perubahan dan masalah dalam memenuhi kebutuhan nutrisi
karena adanya rasa mual dan muntah, kurang nafsu makan, kehilangan
sensasi rasa pada lidah, disfagia, kesulitan menelan akibat gangguan pada
refleks palatum dan faringeal.
b. Eliminasi: terjadi perubahan dalam pola pemenuhan eliminasi, pada pola
eliminasi BAK akan terjadi perubahan pola berkemih seperti inkontinensia
urine atau anuria, pada pola eliminasi BAB dapat terjadi distensi abdomen
dan dapat terjadi obstipasi.
c. Personal hygiene: karena adanya kelemahan atau kelumpuhan motorik
sehingga klien harus dibantu dalam memenuhi kebutuhannya.
d. Istirahat dan tidur: akan didapatkan kesukaran dalam memenuhi
aktivitasnya karena kelemahan, mudah lelah ataupun intoleran terhadap
aktivitas dan sukar tidur.
e. Kebiasaan mengisi waktu luang: olahraga, nonton TV, berkebun/memasak,
dan lain-lain.
f. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan (jenis, frekuensi, jumlah, dan
lama pakai): merokok, minuman keras, dan ketergantungan terhadap obat.
g. Uraian kronologis kegiatan sehari-hari: jenis kegiatan dan lama waktu
untuk setiap kegiatan.
3. PEMERIKSAAN FISIK
a. Sistem Pernafasan.
Klien akan didapatkan batuk tidak efektif, pernafasan tidak teratur,
kemungkinan cheynes-stokes dan terjadi paralisis otot pernafasan, bunyi
nafas ngorok ronchi, adanya sekret dan aspirasi.
b. Sistem Kardiovaskuler.
Adanya hipotensi, denyut nadi perifer berkurang tetapi nadi sentral
kuat, terdengar bunyi jantung tambahan seperti mur-mur atau gallop dan
irama jantung tidak teratur.
c. Sistem Gastro Intestinal.
Nafsu makan menurun, kehilangan sensasi pada lidah, paralise
pada otot wajah dan kerongkongan (disfagia), sehingga menimbulkan
masalah dalam menelan dan mengunyah, serta terjadi peristaltik usus
menurun yang mengakibatkan konstipasi. Distensi abdomen dan
penembahan berat badan dengan pesat terjadi pada klien stroke disertai
penyakit jantung.
d. Sistem Persarafan.
Dapat terjadi penurunan tingkat kesadaran dihitung dari nilai GCS
biasanya pada stroke dengan hemoragik, biasanya stroke infark pada
hemisfer serebri tetap sadar selama perjalanan penyakitnya.

a) Tes Fungsi Serebral.


 Status Mental.
Dapat timbul gejala disorientasi waktu, tempat dan
orang, menjadi kurang konsentrasi dan perhitungan, ataupun
dalam memori.
 Pengkajian Bicara.
Klien dengan stroke didapatkan bicara menjadi tidak
jelas, bicara rero, pelo dan tidak dimengerti.
b) Tes Fungsi Nervus Kranial.
 Kerusakan Nervus I (olfaktorius) memperlihatkan gejala
penurunan daya penciuman.
 Nervus II (optikus). Penurunan daya penglihatan kehilangan
sebagian penglihatannya, atau bahkan terjadi diplopia.
 Nervus III (okulamotorius), Nervus IV (troklearis) dan Nervus
VI (abdusens). Kerusakannya akan menyebabkan penurunan
lapang pandang perubahan ukuran pupil, pupil tidak sama,
pupil berdilatasi, pergerakan bola mata tidak simetris.
 Nervus V (trigeminus). Kerusakannya akan menyebabkan
gangguan dalam mengunyah, terjadi paralisis otot wajah dan
penurunan fungsi reflek kornea.
 Nervus VII (fasialis). Asimetris wajah saat tersenyum,
melemahnya penutupan kelopak mata dan hilangnya rasa 2/3
bagian tidak anterior lidah.
 Nervus VIII (akustikus). Menyebabkan menurunnya fungsi
pendengaran dan daya keseimbangan tubuh.
 Nervus IX (glosofaringeus), Nervus X (vagus). Biasanya
terjadi cegukan (hiccuping), biasa terjadi pada klien dengan
resiko peningkatan intra kranial, menurunnya reflek menelan,
menurunnya fungsi rasa pada 1/3 posterior lidah.
 Nervus XI (asesorius). Biasanya terjadi penurunan kekuatan
otot sternokleidomastoideus dan otot trapezius.
 Nervus XII (Hipoglosus). Gejala yang biasa timbul adalah
jatuhnya lidah ke salah satu sisi, menurunnya fungsi pergerakan
lidah.
c) Pemeriksaan motorik.
Dapat terjadi massa otot atropi, tonus otot menjadi kurang
baik, terdapat penurunan kekuatan otot.
d) Fungsi sensoris.
Bila terjadi kerusakan pada neuron sensoriknya
kemungkinan klien tidak dapat merasakan sentuhan atau goresan
tumpul, tajam dan halus. Tidak dapat membedakan panas dan
dingin.
e) Fungsi serebelum.
Fungsi koordinasi menjadi kurang sempurna dan terdapat
gangguan keseimbangan tubuh.
f) Tes fungsi refleks.
Terjadi penurunan reflek-reflek karena menurunya respon
motorik involunter yang ditimbulkan karena adanya rangsangan di
sepanjang lengkung reflek .
g) Rangsang selaput meningeal.
Pada klien dengan stroke perdarahan intra serebral pun
tanda meningeal dapat positif apabila stroke tersebut disebabkan
karena sebelumnya ada riwayat hipertensi.
h) Sistem Perkemihan.
Terjadi perubahan pola eliminasi seperti inkontinensia
urine karena adanya paralise spinkter uretra.
i) Sistem Muskuloskeletal.
Biasanya terjadi kesulitan dalam aktivitas karena lemah,
kehilangan fungsi sensasi, paralisis pada sebagian atau seluruh
motorik, perubahan tonus otot, kelelahan, adanya pengurangan
massa otot, terbatasnya Range Of Motion.

j) Sistem Integumen.
Pada stroke yang immobilitas lama terjadi kerusakan pada
kulit daerah yang tertekan akibat immobilitasi yang menimbulkan
perubahan aliran darah ke area yang tertekan dan menonjol.
4. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebri b.d sumbatan pembuluh
darah otak
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan secret karena tirah
baring yang lama
3. Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot
4. Nyeri akut b.d peningkatan tekanan intrakranial (TIK)
5. Resiko infeksi b.d port d’entri mikroorganisme
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia
7. Ketidakefektifan pola nafas b.d kurangnya suplai o2 ke jaringan otak
5. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)


KEPERAWATAN
1 Perfusi jaringan Setelah dilakukan 1. Monitor status
serebral tidak efektif tindakan keperawatan neurologis klien
b.d. Sumbatan selama 2x24 jam dengan GCS
pembuluh darah otak diharapkan : 2. Letakkan kepala
Perfusi jaringan agak ditinggikan
adekuat, dengan kriteria dengan posisi
hasil : netral
-Status neurologic 3. Kelola obat sesuai
normal order
-TTV dalam batas 4. Monitor tanda-
normal tanda vital
5. Pantau ukuran,
bentuk,
kesimetrisan, dan
reaktivitas pupil
6. Pantau adanya
penglihatan kabur,
ketajaman
penglihatan
7. Pantau adanya sakit
kepala
8. Pantau adanya
parestesi: mati rasa
dan kesemutan
9. Pantau status cairan
termasuk asupan
dan haluaran
10. Kolaborasi
pemberian therapy
medis
2 Bersihan jalan napas Setelah dilakukan  Beri pasien 6
tidak efektif b.d asuhan selama x24 sampai 8 gelas
penumpukan secret ketidakefektifan perfusi
jaringan cerebral teratasi cairan/hari
kecuali terdapat
NOC : kor pulmonal
 Respiratory status :  Ajarkan dan
Ventilation berikan
 Respiratory status : dorongan
Airway patency penggunaan
 Aspiration Control
teknik
Kriteria Hasil :
pernapasan
 Mendemonstrasikan
diafragmatik
batuk efektif dan
dan batuk.
suara nafas yang  Bantu dalam
bersih, tidak ada pemberian
sianosis dan dyspneu tindakan
(mampu nebuliser,
mengeluarkan inhaler dosis
sputum, mampu terukur
 Lakukan
bernafas dengan
drainage
mudah, tidak ada
postural dengan
pursed lips)
 Menunjukkan jalan perkusi dan
nafas yang paten vibrasi pada
(klien tidak merasa pagi hari dan
tercekik, irama nafas, malam hari
frekuensi pernafasan sesuai yang
dalam rentang diharuskan
 Instruksikan
normal, tidak ada
pasien untuk
suara nafas abnormal)
 Mampu menghindari
mengidentifikasikan iritan seperti
dan mencegah factor asap rokok,
yang dapat aerosol, suhu
menghambat jalan yang ekstrim,
nafas dan asap.
 Ajarkan tentang
tanda-tanda dini
infeksi yang
harus
dilaporkan pada
dokter dengan
segera:
peningkatan
sputum,
perubahan
warna sputum,
kekentalan
sputum,
peningkatan
napas pendek,
rasa sesak
didada,
keletihan
 Berikan
antibiotik
sesuai yang
diharuskan
 Berikan
dorongan pada
pasien untuk
melakukan
imunisasi
terhadap
influenzae dan
streptococcus
pneumoniae.
3 Kerusakan mobilitas Setelah dilakukan Exercise promotion
fisik berhubungan tindakan keperawatan 1. Bantu identifikasi
dengan tidak nyaman selama 2x 24 jam dapat program latihan
nyeri, intoleransi teridentifikasi Mobility yang sesuai
aktivitas, penurunan level 2. Diskusikan dan
kekuatan otot. Joint movement: aktif. instruksikan pada
Self care:ADLs klien mengenai
Dengan criteria hasil: latihan yang tepat
a) aktivitas fisik Exercise terapi
meningkat ambulasi
b) ROM normal 1. Anjurkan dan Bantu
c) Melaporkan perasaan klien duduk di
peningkatan kekuatan tempat tidur sesuai
kemampuan dalam toleransi
bergerak 2. Atur posisi setiap 2
d) klien _ant melakukan jam atau sesuai
aktivitas toleransi
3. Fasilitasi
e) kebersihan diri klien
penggunaan alat
terpenuhi walaupun Bantu
dibantu oleh perawat
atau keluarga

4 Nyeri akut b.d Tujuan : setelah . 1. Observasi secara


peningkatan tekanan dilakukan tindakan subjektiv skal nyeri
intrakranial (TIK) keperawatan dalam yang dirasakan pasien
waktu 3X24 jam 22. Beri posisi yang
diharapkan rasa nyeri nyaman
yang dirasak pasien 33. Ajari metode
dapat berkurang atau relaksasi seperti
bahkan hilang distraksi, nafas dalam,
Kriteria Hasil : dan bila emosi ajarkan
- Wajah imajinasi terpimpin
tidak mengurung dan 44. Anjurkan pasien
menahan kesakitan untuk melakukan
- Skala nyeri turun pemeriksaan CT-Scan
- Pasien 55. Kolaborasikan
tidak memegangi bagia dengan pihak medis
n yang sakit untuk terapi obat
6. Berikan HE tentang
pentingnya ambulansi
saat emergensi
77. Observasi penurunan
skala nyeri yang
dirasakan