Anda di halaman 1dari 61

PERLINDUNGAN HUKUM

TERHADAP PASIEN HIV/AIDS YANG


DITOLAK OLEH RUMAH SAKIT

OLEH:

BAMBANG MURINO
NPM : 1310122039

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS WARMADEWA
DENPASAR
2017

i
SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI DAN DINYATAKAN LULUS
PADA TANGGAL : AGUSTUS 2017

Ketua,
Sekretaris,

Dr. NLM Mahendrawati,SH.,M.Hum. I WayanArthanaya,SH.,MH.


NIP. 196409071994032002 NIP. 195804161989011001

Anggota :

Dr. I NyomanPutuBudiartha,SH.,MH.
NIP. 195912311992031007

A.A SagungLaksmiDewi,SH.,MH.
NIK. 230330126

LuhPutuSuryani,SH.,MH.
NIK. 230330182

ii
SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI
PADA TANGGAL : AGUSTUS 2017

Pembimbing I,

Dr. NLM Mahendrawati,SH.,M.Hum


NIP. 196409071994032002

Pembimbing II,

I WayanArthanaya,SH.,MH.
NIP. 195804161989011001

Mengtahui
FAKULTAS WARMADEWA DENPASAR
DEKAN,

Dr. I NyomanPutuBudiartha,SH.,MH.
NIP. 195912311992031007

iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... I
HALAMAN PERSETUJUAN .......................................................................... II
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ..................................................... III
KATA PENGANTAR .................................................................................... IV
ABSTRAK ................................................................................................. V
ABSTRAC ................................................................................................. VII
...............................................................................................................
DAFTAR ISI .............................................................................................. VIII
...............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah ............................................................ 1
..............................................................................................
1.2. Rumusan Masalah .................................................................... 8
..............................................................................................
1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................... 8
..............................................................................................
1.3.1. Tujuan Umum ............................................................... 8
...................................................................................
1.3.2. Tujuan Khusus .............................................................. 8
...................................................................................
1.4. Manfaat Penelitian ................................................................... 9
..............................................................................................
1.4.1. Manfaat Teoritis ............................................................ 9
...................................................................................
1.4.2. Manfaat Praktis ............................................................. 9
...................................................................................
1.5. Tinjauan Pustaka ..................................................................... 9
..............................................................................................
1.5.1. Teori asas – asas hukum ................................................ 9
1.5.2. Teori perlindungan hukum ............................................. 20

iv
1.6. Metode Penelitian .................................................................... 23
..............................................................................................
1.6.1. Tipe penelitian dan pendekatan masalah ......................... 23
1.6.2. Sumber bahan hukum ................................................... 23
1.6.3. Metode pengumpulan bahan hukum ............................... 24
1.6.4. Analisis bahan hukum .................................................... 24
BAB II PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN HIV/AIDS
2.1. Teori perlindungan hukum bagi konsumen................................. 26
......................................................................................................
2.1.1. Hak pasien menurut undang – undang ............................ 29
..............................................................................................
2.1.2. Perlindungan hukum bagi pasien HIV/AIDS ................... 31
..............................................................................................
2.1.3. Pelayanan anti diskriminasi pada suatu Rumah Sakit ........ 34
..............................................................................................
2.1.4. Contoh kasus dan sanksi terhadap Rumah Sakit yang
melakukan penolakan menangani pasien HIV/AIDS .......... 35
...................................................................................

BAB III AKIBAT HUKUM TERHADAP RUMAH SAKIT YANG MENOLAK PASIEN
HIV/AIDS
3.1. Undang – undang yang mengatur tentang pelayanan kesehatan
( UU kesehatan dan UU Rumah Sakit ) ...................................... 38
3.2. hak dan perlindungan hukum pasien HIV/AIDS .......................... 44
3.3. Sanksi terhadap Rumah Sakit yang menolak pasien HIV/AIDS ..... 45
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan ............................................................................. 48
4.2. Saran ...................................................................................... 49
DAFTAR BACAAN

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat-Nya maka penulis dapat menyusun sebuah karya ilmiah dibidang
hukum yang berjudul “PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN HIV/AIDS
YANG DITOLAK OLEH RUMAH SAKIT”, untuk memenuhi salah satu tugas akhir
guna memperoleh gelar Sarjana Hukum.
Tujuan penyusunan skripsi ini adalah untuk melatih mahasiswa dalam

usaha menyatakan pikiran ilmiah secara tertulis dengan memenuhi persyaratan

akademis dalam rangka untuk menyelesaikan perkuliahan tentang Ilmu Hukum di

Fakultas Hukum Universitas Warmadewa Denpasar.

Atas segala bantuan serta bimbingan dari semua pihak

perkenankanlah penulis dengan segala kerendahan hati menyampaikan rasa

hormat dan terimakasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. Dewa Putu Widjana, DAP & E, SpPark, Rektor

Universitas Warmadewa Denpasar.

2. Bapak Dr. I Nyoman Putu Budiartha, SH., MH. Dekan Fakultas

Hukum Universitas Warmadewa Denpasar.

3. Ibu DR. Ni Luh Made Mahendrawati, SH., M.Hum. Pembimbing I

yang telah banyak memberikan masukan dan arahan dalam

penyusunan skripsi ini, sehingga bisa terselesaikan dengan baik.

4. Bapak I Wayan Arthanaya, SH. ,MH. Pembimbing II yang banyak

meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan masukan

sehingga skripsi ini bisa terselesaikan tepat pada waktunya.

vi
5. Bapak I Wayan Arthanaya, SH. ,MH. Pembimbing Akademik yang

dengan sabar membimbing dan memberikan motivasi sehingga

penulisan skripsi ini bisa terselesaikan tepat pada waktunya.

6. Staf dan Karyawan yang berada di lingkungan Fakultas Hukum

Universitas Warmadewa yang telah banyak membantu dalam

menyelesaikan administrasi.

7. Untuk keluarga tercinta yang tidak terbalas jasanya atas jerih

payah,biaya, kasih sayang dan doa restu serta dukungan

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Untuk sahabat dan teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan

namanya satu persatu yang telah banyak memberikan semangat,

dukungan dan bantuan dalam penulisan skripsi ini.

Karena keterbatasan kemampuan penulis, sudah barang tentu banyak

kekurangan-kekurangan, maka dari itu penulis mohon maaf kepada semua pihak

dan atas bantuannya penulis mengucapkan terimakasih.

Denpasar,

Agustus 2017

Penulis

vii
SURAT PERMOHONAN
Nomor :-
Lampiran : 1(satu) gabung
Hal : Permohonan Ujian Skripsi

Kepada
Yth. Dekan Fakultas Hukum
Universitas Warmadewa
di Denpasar

Dengan hormat,
Yang bertanda tangan di bawahini :
Nama : Bambang Murino
NPM : 1310122039
Alamat : Jl PuriGading Blok F-8, Jimbaran, Kuta Selatan
Telp/HP : 082145 877500
Dengan ini mengajukan permohonan kehadapan Dekan Fakultas Hukum
Universitas Warmadewa agar dapat kiranya ditetapkan tim penguji sekripsi saya
dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Pasien AIDS Yang Ditolak
oleh RumahSakit “.

Demikian permohonan ini disampaikan dengan harapan dapat dikabulkan.


Sebelumnya saya ucapkan terimakasih
.
Denpasar, Agustus 2017
Hormat Saya

Bambang Murino

viii
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS

Yang bertanda tangan di bawahini :


Nama : Bambang Murino
NPM : 1310122039
Alamat : Jl PuriGading Blok F-8, Jimbaran, Kuta Selatan
Telp/HP : 082145 877500

Dengan ini saya menyatakan bahwa:


1. Karya tulis (skripsi) saya ini, adalah asli dan belum pernah diajukan untuk
mendapatkan gelar akademik (Sarjana Hukum), baik di Universitas
Warmadewa maupun di Perguruan tinggi lainnya.
2. Karya tulis (skripsi) saya ini murni gagasan, rumusan, dan kajian atau
penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Dosen
Pembimbing.
3. Karya tulis (skripsi) saya initidak terdapat karya atau pendapat yang telah
ditulis atau di publikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas
dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan sebutan nama
pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila kemudian
hari terdapat penyimpangan dan ketidak benaran dalam pernyataan ini,
maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar
yang telah diperoleh karena karya tulis saya ini, serta sanksi lainnya
sesuai dengan norma yang berlaku di perguruan tinggi

Denpasar, Agustus 2017


Hormat Saya

Bambang Murino

ix
SURAT PERNYATAAN TIDAK MERUBAH NAMA

Yang bertanda tangan di bawahini :


Nama : Bambang Murino
NPM : 1310122039
Alamat : Jl PuriGading Blok F-8, Jimbaran, Kuta Selatan
Telp/HP : 082145877500

Bahwa memang benar nama saya seperti tersebut diatas dan saya tidak pernah
merubahnya.
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat
dipergunakan sebagai mana mestinya.

Denpasar, Agustus 2017


Hormat Saya

Bambang Murino

x
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Setiap orang berhak untuk hidup dan bisa menikmati hidupnya dalam

keadaan apapun.Dari dalam kandungan sampai dengan dewasa dan menjelang

ajalpun, kita mengusahakan diri untuk tetap hidup dan bisa menikmati hidup

layaknya manusia pada umumnya.

Saat kita sakitpun, kita akan berusaha melakukan berbagai cara untuk

melindungi diri. Baik dengan pengobatan sendiri, pengobatan alternatif maupun

pengobatan formal ke dokter ( baik praktek pribadi ataupun dirumah sakit).

Apapun penyakitnya, dokter akan berusaha dengan keahliannya

membantu menyembuhkan penyakit yang diderita pasien. Dengan menggunakan

fasilitas rumah sakit yang ada, segala diagnosa penyakit bisa cepat diketahui,

sehingga penanganan juga bisa segera dilaksanakan untuk mempercepat

kesembuhan.

Memperoleh pelayanan kesehatan merupakan bagian dari hak asasi yang

dimiliki oleh setiap manusia.Setiap manusia berhak atas taraf kehidupan yang

memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri dan keluarganya1.

Pemberian pelayanan kesehatan harus diwujudkan sebagaimana cita-cita bangsa

Indonesia, yaitu dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945

Pasal 28H Ayat (1) menyebutkan “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat

1
Soekidjo Notoatmodjo, Etika & Hukum Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2010,
hlm. 49.

1
serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.2

Rumah sakit merupakan salah satu bentuk fasilitas pelayanan

kesehatan.Salah satu kewajiban rumah sakit adalah memberi pelayanan

kesehatan yang aman, bermutu, anti-diskriminasi dan efektif dengan

mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah

sakit.3Selain itu rumah sakit berkewajiban untuk menghormati serta melindungi

hak-hak pasien. Hak-hak pasien tersebut antara lain yaitu memperoleh

pelayanan kesehatan yang manusiawi, adil, jujur, tanpa diskriminasi, serta

memungkinkan pasien untuk menggugat dan menuntut rumah sakit apabila

rumah sakit memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar baik secara

perdata maupun pidana.4

Namun ada satu sisi yang masih menjadi fenomena masyarakat kita

maupun di kalangan para petugas kesehatan di suatu instansi rumah sakit yaitu

dalam hal penanganan pasien penyakit HIV/AIDS, selanjutnya disebut pasien

ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Apakah sebenarnya HIV/AIDS itu sendiri.Menurut Depkes RI, definisi HIV

( Human Immuno Virus ) yaitu virus yang menyerang sel-sel darah putih yang

bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia.

Gejala-gejala timbul tergantung dari infeksi oportunistik yang

menyertainya.Infeksi oportunistik terjadi oleh karena menurunnya daya tahan

3
Soekidjo Notoatmodjo, Op.Cit, hlm. 159.

4
Endang Wahyati Yustina, Mengenal Hukum Rumah Sakit, CV Keni Media,
Bandung,
2012, hlm. 111.

2
tubuh (kekebalan) yang disebabkan rusaknya sistem imun tubuh akibat infeksi

HIV tersebut. Virus HIV menginfeksi berbagai jenis sel sistem imun termasuk sel

T CD4+ , makrofag dan sel dendritik. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya

berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah

berkembang menjadi AIDS. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune

Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang

biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Sindrom AIDS timbul akibat

melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh karena sel CD4 pada sel

darah putih yang banyak dirusakoleh Virus HIV.Pada tahun 1993, CDC

memperluas definisi AIDS, yaitu dengan memasukkan semua orang HIV positif

dengan jumlah CD4+ di bawah 200 per μL darah atau 14% dari seluruh limfosit.5

Kasus HIV/AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan dan diidentifikasi

pada seorang laki-laki asing di Bali yang kemudian meninggal pada April 1987.

Pada Juni 1988 di tempat yang sama juga ditemukan orang Indonesia pertama

yang meninggal karena HIV/AIDS. Kasus ini kemudian mulai menjadi perhatian

terutama oleh kalangan tenaga kesehatan. Dari hasil pemeriksaan darah yang

dilakukan pada sekitar tahun 1990 di berbagai ibukota propinsi di Indonesia

menunjukkan bahwa infeksi HIV/AIDS telah menyebar ke berbagai propinsi

meskipun prevalensinya masih rendah. Pemeriksaan sekitar 10.500 darah donor

yang diperiksa hasilnya ternyata negatif.

Gejala-gejala meningkatnya infeksi HIV/AIDS di Indonesia mulai nyata

ketika pemeriksaan darah donor pada tahun 1992/1993 menunjukkan HIV positif

5Depkes RI, Situasi HIV/AIDS 1987-2006, Pusat Data dan Informasi DEPKES RI, Jakarta 2006,
hal 3

3
pada 2 diantara 100.000 donor darah yang kemudian meningkat menjadi 3 per

100.000 donor darah pada tahun 1994/1995.

Perubahan epidemi HIV/AIDS terjadi pada tahun 2000 dimana kasus

meningkat secara nyata diantara pekerja seks dan bervariasi dari satu daerah ke

daerah lain. Di Tanjung Balai Karimun, Propinsi Riau hanya ditemukan 1 % pada

1995/1996 kemudian meningkat menjadi lebih dari 8,38%, pada tahun 2000.

Prevalensi HIV/AIDS pada pekerja seks di Irian Jaya (Merauke) sebesar 26,5%,

di DKI Jakarta (Jakarta Utara) sebesar 3,36% dan di Jawa Barat sebesar 5,5%.

Pada tahun yang sama, hampir semua propinsi di Indonesia telah melaporkan

infeksi HIV/AIDS.

Meskipun prevalensi HIV secara umum masih rendah, tetapi Indonesia

digolongkan sebagai negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi

(concentrated level epidemic) karena terdapatnya kantong-kantong epidemi

dengan prevalensi yang lebih dari 5% dari sub-populasi tertentu.

Pada tahun 1999 ada terjadi fenomena baru dalam penularan HIV/AIDS,

yaitu infeksi HIV/AIDS mulai terlihat pada penyalahguna Napza suntik. Penularan

HIV/AIDS diantara penyalahguna Napza suntik terjadi sangat cepat karena

penggunaan jarum suntik bersama. Pada tahun 1999, 18% dari para

penyalahguna Napza yang dirawat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO)

Jakarta yang terinfeksi HIV/AIDS dan meningkat menjadi 40% pada tahun 2000

dan 48% pada tahun 2001. Data yang lain menunjukkan tahun 2000 di Kampung

Bali di Jakarta 90% dari penyalahguna Napza suntik terinfeksi HIV.

Secara umum dapat dikatakan bahwa sejak tahun 1996 sampai dengan

tahun 2002 terjadi peningkatan kasus hampir 17,5%. Pada tahun 1996 hanya

4
2,5 % dari kasus AIDS melalui Napza suntik, dan pada tahun 2002 sudah hampir

20 %.

Dalam 16 tahun terakhir sampai dengan akhir tahun 2002 telah

dilaporkan sebanyak 1.016 kasus HIV/AIDS. Jumlah yang tercatat tersebut

sebenarnya jauh lebih kecil dari prevalensi yang sesungguhnya, karena adanya

fenomena gunung es. Pada tahun 2002 diperkirakan jumlah orang yang

terinfeksi HIV/AIDS berkisar antara 90.000-130.000 orang. (Stratanas

Penanggulangan HIV/AIDS 2003-2007).

Sedangkan data terbaru yang diperoleh dari laporan Ditjen PP dan PL

Kemerdekaan RI, jumlah kumulatif kasus AIDS di Indonesia menurut jenis

kelamin sampai dengan akhir Juni 2011 sebanyak 26.483 kasus dimana kasus ini

paling banyak ditemukan dan pada jenis kelamin laki-laki (19.139 kasus) dan

pada kelompok umur 20-49 tahun (23.225 kasus). Hal ini tentu menjadi hal yang

memprihatinkan mengingat kelompok umur ini merupakan usia produktif.6

Strategi untuk memerangi epidemi HIV terhambat di mana hak asasi

manusia tidak dihormati. Paling penting adalah dengan makin banyak informasi

yang diserap masyarakat (dari berbagai lapisan), maka perlahan-lahan stigma

dan diskriminasi dapat dilenyapkan, sehingga mempercepat dan mempermudah

usaha pencegahan karena orang tidak takut lagi untuk mengetahui status HIV-

nya, apakah mereka terinfeksi atau tidak. Epidemi HIV/AIDS merupakan krisis

global dan tantangan yang berat bagi pembangunan dan kemajuan sosial.Banyak

negara-negara miskin yang sangat dipengaruhi epidemi ini ditinjau dari jumlah

infeksi dan dampak yang ditimbulkannya. Bagian terbesar orang yang hidup

6http://jurnalkesehatanmasyarakat.blogspot.co.id/2012/01/makalah-hukum-dan-uu-

hivaids.html diakses 16 Juni 2017

5
dengan HIV/AIDS adalah orang dewasa yang berada dalam usia kerja dan

hampir separuhnya adalah wanita, yang akhir-akhir ini terinfeksi lebih cepat

daripada laki-laki. Konsekuensinya dirasakan oleh perusahaan dan ekonomi

nasional, demikian juga oleh tenaga kerja dan keluarganya.7

Berkat penyuluhan ke masyarakat dan petugas medis, sebagian dari

masyarakat sudah banyak yang mengerti tentang HIV/AIDS.Namun dalam

pelaksanaannya mereka sangat ketakutan saat menangani pasien – pasien

HIV/AIDS dirumah sakit.Bahkan beberapa rumah sakit menolak untuk merawat

pasien HIV/AIDS.

Bagaimana bila hal ini terjadi pada diri kita sendiri.Atau pada anggota

keluarga yang kita sayangi, ditolak oleh rumah sakit karena penyakit yang

ada.Bukankah setiap individu berhak hidup dan mendapat kesembuhan dari

penyakitnya.

Salah satu kasus penolakan memberikan perawatan yang dilakukan

rumah sakit terhadap pasien HIV/AIDS adalah RSUD Ciamis yang berada di

Provinsi Jawa Barat. RSUD Ciamis telah menolak memberikan perawatan kepada

seorang ibu yang akanmelakukan persalinan. RSUD Ciamis tidak bisa melayani

ibu hamil pengidap HIV.Rumah sakit telah melakukan diskriminasi terhadap

pasien yang membutuhkan pertolongan.Alasan bagi rumah sakit pemerintah

tersebut menolak pasien HIV/AIDS tersebut karena terkendala fasilitas. Namun

tahun 2013 juga pernah ada kasus serupa, akan tetapi hal itu tidak menjadikan

pelajaran baru RSUD Ciamis. Apabila alasan fasilitas, mengapa rumah sakit tidak

dipersiapkan sejak jauh hari, karena persoalan penyakit yang menyerang

7Zulmiar Yanri.2005.Pedoman Bersama ILO/WHO tentang Pelayanan Kesehatan dan


HIV/AIDS. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja.Jakarta:1

6
kekebalan tubuh sudah ada sejak lama. Apabila karena takut tertular, bukan

alasan yang kuat, karena rumah sakit sudah mendapat pelatihan

carapenanganan pasien HIV/AIDS8.

Headline pada Kompas.com tanggal 28 Agustus 2009 berjudul “Pasien

HIV Ditolak Dirawat di RS Sulianti Saroso”9 menimbulkan keprihatinan bagi

banyak pihak.

Keprihatinan yang muncul antara lain, apakah pasien HIV/AIDS tidak

berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama dengan yang pasien yang

lain, apakah alasan dari Rumah Sakit tersebut melakukan penolakan. Apabila

Rumah Sakit tersebut adalah instrumen yang mempunyai kewajiban,

kemampuan, peralatan, tenaga ahli medis, ilmu pengetahuan medis sehingga

mempunyai kewenangan untuk penanganan orang sakit atau penderita, dalam

hal ini khususnya HIV/AIDS, maka apabila Rumah Sakit melakukan penolakan

melayani HIV/AIDS, akan seperti apa,siapa dan bagaimana penanganannya dan

bagaimana mencegah penyebarannya.

8
Nurhandoko, RSUD Ciamis Tolak Persalinan Pasien ODHA, http://www.pikiran-
rakyat.com/jawa-barat/2015/12/04/352456/rsud-ciamis-tolak-persalinan-pasien-odha, diakses pada
Selasa
6 Juni 2017 pukul 12.00 WIB.

9http://megapolitan.kompas.com/read/2009/08/28/15420039/Pasien.HIV.Ditolak.Dirawat

.di.RS.Sulianti.Saroso, diakses 6 Juni 10:12

7
1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai

berikut :

1. Bagaimanakah bentuk perlindungan hukum terhadap

pasienHIV/AIDSberdasarkan peraturan-peraturan yang ada?

2. Sanksi apakah yang dapat dijatuhkan terhadap rumah sakit yang

melakukan penolakan pasien HIV/AIDSberdasarkan peraturan-

peraturan yang berlaku?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

1) Sebagai pedoman untuk mempelajari hukum khususnya

Perlindungan Hukum terhadap pasien HIV/AIDS yang ditolak oleh

rumah sakit untuk berobat.

2) Untuk mengembangkan ilmu di bidang hukum.

3) Untuk melatih para mahasiswa agar bisa menyatakan pikiran

ilmiah secara tertulis.

4) Sebagai persyaratan akhir perkuliahan untuk bisa mencapai

kelulusan untuk meraih gelar sarjana.

5) Untuk meningkatkan kejelian mahasiswa dalam menghadapi

sebuah kasus.

1.3.2. Tujuan Khusus

1) Untuk mengetahui lebih jelas bentuk perlindungan hukum kepada

pasien HIV/AIDS yang ditolak rumah sakit untuk berobat.

8
2) Untuk mengetahui penjatuhan sanksi kepada rumah sakit yang

menolak pasien pengidap HIV/AIDS untuk berobat.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Penelitian Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secarateoritis,

sekurang-kurangnya dapat berguna sebagai sumbangan pemikiran bagi

dunia pendidikan.

1.4.2. Manfaat Penelitian Praktis

a) Bagi peneliti

Menambah wawasan penulis mengenai wacana nilai pendidikan

khususnya pendidikan hukum, untuk selanjutnya dijadikan sebagai

acuan dalam bersikap dan berperilaku.

b) Bagi Rumah Sakit

Sebagai masukan yang membangun guna meningkatkan kualitas

rumah sakit yang ada, termasuk para pendidik yang ada didalamnya, dan

penentu kebijakan dalam rumah sakit, serta pemerintah secara umum.

1.5. Tinjauan Pustaka

1.5.1. Teori asas-asas Hukum

Manusia sebagai makhluk sosial pasti saling berhubungan antara

satu individu dengan individu lainnya.Dalam perjalanannya, manusia

membutuhkan hukum supaya terjalin suatu hubungan yang harmonis.

Pada dasarnya manusia secara alami terikat oleh kaidah seperti norma

kesusilaan, norma kesopanan, dan norma adat sebagai aturan dalam

kehidupannya. Akan tetapi norma-norma itu tidak cukup untuk menjamin

9
keberlangsungan kehidupan manusia karena tidak tegasnya sanksi bagi

yang melanggarnya sehingga kesalahan itu bisa terulang lagi, maka

disusunlah suatu hukum yang mempunyai sanksi yang tegas terhadap

pelanggarnya, Satjipto Raharjdo bahwa tujuan dalam teori ilmu hukum

yang menegaskan :10

“Teori hukum tidak dapat dilepaskan dari lingkungan jaman nya ia sering
kita lihat sebagai jawaban yang diberikan terhadap pemasalahan hukum atau
mengugat suatu pemikiran hukum yang dominan pada suatu saat. Oleh karena
itu, sekalipun ia berkeinginan untuk mengutarakan suatu pemikiran secara
universal, tetapi alangkah baiknya kita senantiasa waspada bahwa teori itu
memiliki latar belakang pemikiran yang demikian itu. Sehubungan dengan
keadaan yang demikian itu sudah seharusnya kita tidak boleh melepaskan teori-
teori itu dari konteks waktu pemunculannya, sebaiknya memahami latar
belakang yang demikian itu.”

Pada hakikatnya tujuan pokok hukum adalah menciptakan tatanan

masyarakat yang tertib, menciptakan ketertiban dan keseimbangan.Setiap

hubungan kemasyarakatan tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-

ketentuan dalam peraturan hukum yang ada dan berlaku dalam

masyarakat.Hukum berfungsi sebagai pengatur keseimbangan antara hak

dan kewajiban manusia sebagai makhluk sosial, dan mewujudkan

keadilan dalam hidup bersama. Hal itu dikemukakan oleh Jeremy

Bentham yang menegaskan:11

“Hukum barulah diakui sebagai hukum, jika ia memberikan kemanfaatan


yang sebesar-besarya terhadap sebanyakbanyaknya orang.”

Dari prinsip tersebut dapatlah di ambil suatu kesimpulan bahwa hukum

itu harus memberikan manfaat bagi masyarakat banyak tanpa memandang

10 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum Legal theory Dan Teori Peradilan Judicialprudance,
Kencana, Makasar, 2007, hlm. 48.
11 Achmad Ali, opcit, hlm. 76.

10
status sosial siapapun. Karena pentingnya kedudukan hukum dalam tatanan

masyarakat, maka dalam pembentukan peraturan hukum tidak bisa terlepas dari

asas hukum, karena asas hukum adalah landasan utama dalam pembentukan

hukum juga disebut titik tolak dalam pembentukan dan interpretasi undang-

undang tersebut, hal itu di tegaskan oleh Satjipto Rahardjo:12

“Di tengah-tengah kehilangan suasana kehilangan totalitas kehidupan dan

totalitas jagat ketertiban, oleh karena tergusur oleh jagat perundang-undangan

kerinduan terhadap suasana keutuhan tetap meyertai manusia yang dewasa ini

sudah berhukum dengan rezim perundang-undangan itu. Kehidupan dan jagat

dan jagat ketertiban yang utuh sudah tergusur oleh jagat perundang-

undangan.Di tengah-tengah rimba ribuan produk legislasi yang disebut

perundang-undangan ini, kita sudah kehilangan orientasi. Segalanya sudah

menjadi terkotak-kotak, terkeping-keping, menjadi undang-undang, kelompok

undang-undang, bidang-bidang hukum, yang masing-masing semakin memiliki

logikanya sendiri.”

Di dalam pembentukan kehidupan bersama yang baik, dituntut

pertimbangan tentang asas atau dasar dalam membentuk hukum supaya sesuai

dengan cita-cita dan kebutuhan hidup bersama.Dengan demikian asas hukum

adalah prinsip yang dianggap dasar atau fundamen hukum.karena itu bahwa

asas hukum merupakan jantung dari peraturan hukum. Dikatakan demikian

karena asas hukum merupakan landasan yang paling luas bagi lahirnya suatu

peraturan hukum.Asas hukum merupakan unsur yang sangat penting dalam

pembentukan peraturan hukum. Oleh karena itu, penulis akan menguraikan

12 Achmad Ali, opcit, hlm. 11.

11
sedikit pembahasan yang berkaitan dengan masalah ini dengan harapan dapat

mendekatkan pemahaman kita tentang asas-asas hukum. Asas hukum adalah

aturan dasar dan prinsip-prinsip hukum yang abstrak dan pada umumnya

melatarbelakangi peraturan konkret dan pelaksanaan hukum. Dalam bahasa

Inggris, kata " asas " diformatkan sebagai " principle ", peraturan konkret seperti

undang-undang tidak boleh bertentangan dengan asas hukum, demikian pula

dalam putusan hakim, pelaksanaan hukum, hukum dasar, dasar sesuatu yang

menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat dan sistem hukum yang di pertegas

oleh Dragan Milovanovic:13

“Pengsistematisan hukum berlangsung secara terus-menerus kedalam

kumpulan hukum yang relevan, yang di koordinasi oleh beberapa asas-asas

tentang pembenaran.”

Tentang batasan pengertian asas hukum ada beberapa pendapat yang

dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu:

1. Bellefroid, berpendapat bahwa asas hukum adalah norma dasar yang

dijabarkan dari hukum positif dan yang oleh ilmu hukum tidak dianggap berasal

dari aturan- aturan yang lebih umum.

2. Van Scholten, berpendapat bahwa asas hukum adalah kecenderungan

yang disyaratkan oleh pandangan kesusilaan kita pada hukum dan merupakan

sifat- sifat umum dengan segala keterbatasannya sebagai pembawaan yang

umum itu, tetapi yang tidak boleh tidak harus ada.

13 Achmad Ali, opcit, hlm. 14.

12
3. Van Eikema Hommes, berpendapat asas hukum bukanlah norma-

norma hukum konkrit, tetapi ia adalah sebagai dasar-dasar pikiran umum atau

petunjuk-petunjuk bagi hukum yang berlaku.

4. Van der Velden, berpendapat asas hukum adalah tipe putusan yang

digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai situasi atau digunakan sebagai

pedoman berperilaku.

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa

asas hukum bukan merupakan hukum konkrit, melainkan merupakan pikiran

dasar yang umum dan abstrak, atau merupakan latar belakang peraturan konkrit

yang terdapat di dalam dan di belakang setiap sistem hukum yang terjelma

dalam peraturan perundang-undangan dan putusan hakim yang merupakan

hukum positif dan dapat diketemukan dengan mencari sifat-sifat umum dalam

peraturan konkrit tersebut. Atau lebih ringkasnya, asas hukum merupakan latar

belakang dari terbentuknya suatu hukum konkrit. Menurut Stammler, harus

dibedakan antara “ the concept of law” dengan the idea of law yang

menjabarkan bahwa the idea of law merupakan realisasi keadilan dengan

pemahaman sebagai berikut:14

a. “Semua hukum positif merupakan usaha menuju hukum yang adil;


b. Hukum alam berusaha membuat suatu metode yang rasional yang
dapat digunakan untuk menentukan suatu kebenaran yang relatif dari hukum
pada setiap situasi;
c. Metode itu diharapkan menjadi pemandu jika hukum itu gagal dalam
ujian dan membawanya lebih dekat pada tujuannya;
d. Hukum adalah suatu struktur yang demikian itu, kita harus
mengabstrasikan tujuan-tujuan tersebut dari kehidupan sosial yang nyata;
e. Dengan bantuan analisis yang logis, kita akan menemukan asasasas
penyusunan hukum (juridical organisation) tertentu yang mutlak sah, yang akan
menmandu kita dengan aman, dalam memberikan penilaian tentang tujuan

14 Achmad Ali, opcit, hlm. 55.

13
manakah yang layak untuk di peroleh pengakuan oleh hukum dan bagaimana
kah tujuan itu berhubungan satu sama lain secara hukum (jurally related).”

Sering kali menuai anggapan bahwa asas dan norma itu merupakan suatu

kesatuan yang tidak berbeda, namun pemahaman tersebut tidaklah sepenuhnya

benar, alasan tersebut terlihat dari beberapa perbedaan mendasar antara asas

dan norma yaitu :

1. Asas merupakan dasar pemikiran yang umum dan abstrak, sedangkan

norma merupakan peraturan yang nyata;

2. Asas adalah suatu ide atau konsep, sedangkan norma adalah

penjabaran dari ide tersebut;

3. Asas hukum tidak mempunyai sanksi sedangkan norma mempunyai

sanksi. Tentu saja keduanya berbeda, karena asas hukum adalah merupakan

latar belakang dari adanya suatu hukum konkrit, sedangkan norma adalah

hukum konkrit itu sendiri. Atau bisa juga dikatakan bahwa asas adalah asal mula

dari adanya suatu norma.

Negara hukum diartikan sebagai suatu negara yang menerapkan prinsip

legalitas, yaitu segala tindakan negara melalui, berdasarkan dan sesuai dengan

hukum. Hukum mempunyai kedudukan tertinggi agar supaya pelaksanaan

kekuasaan negara tidak menyimpang dari undang undang, hal itu ditegaskan

oleh E.Y Kanter, S.H dan S.R Sianturi, S.H:15

“Hukum pidana harus bersumber pada undang-undang, disebut juga

sebagai asas legalitas. Artinya pemidanaan harus berdasarkan undang-undang

(lege) yang di maksud undangundang dalam hal ini adalah pengertian yang luas,

15E.Y.Kanter dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, Storia Grafika, Jakarta,
2012, hlm. 74.

14
yaitu bukan saja secara tertulis telah di tuangkan dalam bentuk undang-undang

yang di buat oleh pemerintah dengan DPR, akan tetapi produk perundang-

undangan lainnya seperti peraturan pemeritah pengganti undang-undang,

peraturan pemerintah, keputusan presiden, peraturan-peraturan pelaksanaan

lainya seperti perartuaran atau intruksi menteri, Gubernur atau kepala daerah

dan lain sebagainya.”

Dengan demikian kekuasaan akan tunduk pada hukum, bukan sebaliknya.

Hukum sebagai perangkat kaidah sosial yang salah satu tugasnya menciptakan

pergaulan hidup damai, dalam penegakannya kerapkali juga mesti

memperhatikan Penerapan Asas Hukum dan Kepentingan Politik tetapi perlu

dipandang sebagai dasardasar umum atau petunjuk-petunjuk bagi hukum yang

berlaku, yakni dasar-dasar atau petunjuk arah dalam hukum positif Suatu asas

hukum bukanlah suatu ketentuan hukum, asas bukanlah hukum namun hukum

tidak dapat dimengerti tanpa asas, asas adalah gejala yang mengarah penentuan

moral kita pada hukum, asas adalah hal-hal yang umum dengan segala sesuatu

yang relatif yang mendampinginya yang tidak lolos dari kebutuhan untuk

memperjelas pemahaman menyangkut asas hukum, pandangan tentang asas

hukum itu tidak boleh dianggap sebagai norma-norma hukum yang kongkret,

akan tetapi perlu dipandang sebagai dasar-dasar umum atau petunjuk-petunjuk

bagi hukum yang berlaku. B. Arif Sidharta menjelaskan:16

“Fungsi dan tujuan hukum itu sebenarnya sudah terkandung dalam

batasan pengertian atau definisinya. Kalau dikatakan hukum itu adalah

perangkat kaidah dan asas-asas yang mengatur kehidupan mausia dalam

16 B. Arif Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 2009, hlm. 49.

15
masyarakat, dapat disimpulkan bahwa fungsi yang terpenting dari hukum adalah

tercapainya keteraturan dalam kehidupan manusia di dalam masiarakat. Artinya

orang dapat mengadakan kegiatan-kegiatan yang di perlukan dalam kehidupan

bermasyarakat karena ia dapat mengadakan perhitungan tentang apa yang akan

terjadi atau apa yang bisa dia harapkan.”

Meskipun setiap produk asas hukum memuat kehendak serta keputusan

penguasa atau penentu kebijakan politik, tidaklah kemudian berarti kaidah asas

hukum tersebut merugikan kepentingan masyarakat banyak serta menyimpang

dari kaidah-kaidah hukum pada umumnya. Pembentukan hukum yang praktis

perlu berorientasi pada asas-asas hukum tersebut dengan kata lain, asas hukum

adalah dasar-dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif,

berkenaan dengan asas hukum, dimana fungsi asas hukum dapat dilihat atas

fungsi sebagaimana dijelaskan oleh Achmad Ali adalah17:

“Dalam sistem hukum, asas hukum memiliki fungsi, yaitu Menjaga

ketaatan asas atau konsistensi. Contoh, dalam Hukum Acara Perdata dianut "

asas pasif bagi hakim ", artinya hakim hanya memeriksa pokok-pokok sengketa

yang oleh para pihak yang berperkara dan bukan oleh hakim. Hakim hanya

ditentukan membantu para pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala

hambatan dan rintangan untuk tercapainya keadilan.”

Fungsi asas hukum juga di uraikan Achmad Ali yang membagi kedalam

beberapa fungsi sebagai berikut:

a. Fungsi Taat Asas (konsisten). Fungsi taat asas dari hukum itu adalah

bagaimana konsistensi dapat terjamin dalam sistem hukum. Contohnya dalam

17 Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum, Prenada Media Group, Jakarta, 2015, hlm. 370.

16
hukum asas perdata dianut asas pasif bagi hakim, artinya hakim hanya

memeriksa dan mengadili pokok persengketaan yang ditentukan oleh para pihak

yang berperkara.

b. Fungsi Mengatasi Konflik. Fungsi ini merupakan fungsi penting dari

asas hukum, Asas lex superior derogat legi inferiori adalah asas yang mengatur

bahwa peraturan hukum yang lebih tinggi hirarkinya harus didahulukan dari pada

peraturan hukum yang lebih rendah.Jika suatu peraturan walikota bertentangan

dengan peraturan-peraturan Gubernur maka harus diberlakukan peraturan

Gubernur.

c. Fungsi Rekayasa Sosial Mengemukakan bahwa dilihat dari fungsi

hukum sebagai alat perekayasa sosial (a tool of social engineering), maka

sebenarnya suatu asas hukumpun dapat difungsikan sebagai alat perekayasa

sosial.

Hal ini tentunya tergantung pada inisiatif dan kreativitas para pelaksana

dan penentu kebijakan hukum, sebagai contoh untuk ini adanya asas tidak ada

keharusan untuk mewakilkan sebaliknya diganti dengan asas keharusan untuk

mewakilkan, sebagai salah satu bentuk rekayasa sosial dibidang asas hukum,

oleh karena itu dengan asas ini proses pengadilan setidaknya dapat berlangsung

cepat, serta juga dapat mengaktifkan lebih banyak penggunaan sarjana hukum.

Menyelesaikan konflik yang terjadi di dalam sistem hukum Fungsi asas

diwujudkan dalam beberapa asas hukum, dengan demikian hakim menjadi pasif

dan terjagalah ketaatan asas atau konsistensi:

1. Lex dura sed ita scripta, Undang- Undang adalah keras tetapi ia telah

ditulis demikian;

17
2. Lex niminem cogit ad impossibilia, undang- undang tidak memaksa

seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin;

3. Lex posterior derogat legi priori atau Lex posterior derogat legi

anteriori, undang-undang yang lebih baru mengenyampingkan undang-undang

yang lama;

4. Lex specialist derogat legi generali, undang-undang yang khusus

didahulukan berlakunya daripada undang- undang yang umum;

5. Lex superior derogat legi inferiori, undang-undang yang lebih tinggi

mengenyampingkan undang- undang yang lebih rendah tingkatannya.

Fungsi lain adalah sebagai rekayasa sosial, baik dalam sistem hukum

maupun dalam sistem peradilan. Pada fungsi rekayasa sosial, kemungkinan

difungsikannya suatu asas hukum untuk melakukan rekayasa sosial di bidang

peradilan, seperti asas sistem peradilan pidana di Indonesia menganut asas tidak

ada keharusan mendampingi kepada advokat, diubah menjadi asas keharusan

untuk diwakili. Asas yang masih dianut tersebut, sebetulnya sebagai bentuk

diskriminasi kolonial Belanda, sehingga sudah perlu dihapuskan.Dengan

demikian, asas hukum difungsikan sebagai a tool of social engineering bagi

masyarakat.Asas dalam hukum mendasarkan eksistensinya pada rumusan oleh

pembentuk undang-undang dan hakim ini merupakan fungsi yang bersifat

mengesahkan serta mempunyai pengaruh yang normatif dan mengikat para

pihak. Asas dalam ilmu hukum hanya bersifat mengatur dan eksplikatif,

tujuannya adalah memberi ikhtisar, sifatnya tidak normatif dan tidak termasuk

hukum positif..

18
Penerapan asas hukum tidak sepenuhnya diterapkan terutama ketika itu

berhadapan dengan kepentingan politik, tidak dijalankannya asas hukum secara

konsisten dan ideal sebagai salah satu faktor karena hukum itu sendiri tidak

otonom. Keberadaannya sangat dipengaruhi oleh tangan-tangan politik, sehingga

terlihat kesan bila hukum berhadapan dengan politik, maka hukum tersebut akan

tunduk di bawah keinginan politisi. Ketidak otonomnya hukum terutama di

negara-negara berkembang seperti di Indonesia ini adalah lantaran sistem

kemasyarakatan, termasuk sistem politik dan pemerintahan tidak mengenal

adanya pemisahan kekuasaan yang terpisah secara tajam, antara lembaga

legislatif, eksekutif dan yudikatif. Misalnya, pada prakteknya cenderung kita lihat

lembaga legislatif juga diperankan dengan tidak maksimal.

Negara hukum diartikan sebagai suatu negara yang menerapkan prinsip

legalitas yaitu segala tindakan negara melalui, berdasarkan dan sesuai dengan

hukum. Hukum mempunyai kedudukan tertinggi agar supaya pelaksanaan

kekuasaan negara tidak menyimpang dari Undang-undang, dengan demikian

kekuasaan akan tunduk pada hukum, bukan sebaliknya. Asas hukum sebagai

tuntunan etis yang bersifat abstrak dalam hal melakukan pertimbangan-

pertimbangan hukum, secara ideal seharusnya berjalan dengan konsisten serta

tidak boleh dijadikan sebagai dalih untuk melakukan penyimpangan-

penyimpangan hukum. Oleh karena asas hukum memang diadakan untuk

melakukan harmonisasi bagi semua kepentingan-kepentingan hukum, guna lebih

mengarahkan tujuantujuan hukum itu sendiri pada dasarnya yang lebih

proporsional hal itu di jelaskan oleh J.J. H. Bruggink yang menjelaskan:18

18 Arief Sidharta, Refleksi Tentang Hukum, Citra Aditya Bakti, bandung, 1996, hlm. 126.

19
“Asas hukum berisi ukuran nilai dan hanya tidak secara langsung

memberikan pedoman, asas hukum tidak selalu di positifkan dalam aturan

hukum, maka sulit untuk mengkonstantasi, kapan asas hukum akan kehilangan

keberlakuannya, misalnya karena pengemban kewenangan tidak lagi

menegakkan asas hukum tertentu atau para justisiabel tidak lagi menerima

ukuran nilai itu dan tidak lagi mencadi acuan bagi perilaku.”

1.5.2. Teori Perlindungan Hukum

Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Indonesia

adalah negara hukum. Dengan demikian negara menjamin hak-hak hukum

warga

negaranya dengan memberikan perlindungan hukum dan perlindungan hukum

akan menjadi hak bagi setiap warga negara. Ada beberapa pengertian terkait

perlindungan hukum menurut para ahli, antara lain:

1. Menurut Satjipto Rahardjo, perlindungan hukum adalah adanya upaya

melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu

kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya

tersebut.19

2. Menurut CST Kansil perlindungan hukum adalah berbagai upaya

hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan

rasa

aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai

ancaman dari pihak manapun.

19
Satjipto Rahardjo, 2003, Sisi-Sisi Lain Dari Hukum Di Indonesia,
Kompas, Jakarta, hal. 121.

20
3. Menurut Muktie, A. Fadjar perlindungan hukum adalah penyempitan

arti dari perlindungan, dalam hal ini hanya perlindungan oleh hukum saja.

Perlindungan yang diberikan oleh hukum, terkait pula dengan adanya hak

dan kewajiban, dalam hal ini yang dimiliki oleh manusia sebagai subyek

hukum dalam interaksinya dengan sesama manusia serta lingkungannya.

Sebagai subyek hukum manusia memiliki hak dan kewajiban untuk

melakukan suatu tindakan hukum.20

1. Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya

untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh

penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan

ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk

menikmati martabatnya sebagai manusia.21

2. Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk

melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah-

kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya

ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.22

Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-

subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan

20
Tesis Hukum, “Pengertian Perlindungan Hukum Menurut Para Ahli”
(Cited 2017Juli 8), available from : URL : http://tesishukum.com/pengertian-
perlindungan-hukum-menurut-para-ahli/
21
Setiono, Rule of Law (Supremasi Hukum), (Surakarta; Magister Ilmu Hukum Program
Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2004) hal. 3.
22
Muchsin, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia, (Surakarta;
magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2003), hal. 14.

21
dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat

dibedakan menjadi dua, yaitu:23

a. Perlindungan Hukum Preventif

Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk

mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam

peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu

pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan

dalam melakukan sutu kewajiban.

b. Perlindungan Hukum Represif.

Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa

sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan

apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.

Dari pemaparan para ahli di atas mengenai asas dan perlindungan hukum

dapat disimpulkan bahwa perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum

dalam melindungi hak asasi manusia serta hak dan kewajiban yang timbul

karena hubungan hukum antar sesama manusia sebagai subyek hukum dengan

mempertimbangkan berbagai macam asas hukum yang terkait sebagai

prinsipnya, mengingat Indonesia merupakan negara hukum.

Menurut penulis, teori dan konsep mengenai asas dan perlindungan

hukum merupakan keharusan yang harus diulas dan dipahami agar pembahasan

mengenai rumusan masalah dalam penulisan “Perlindungan Hukum Terhadap

23
Ibid, hal. 20.

22
Pasien HIV/AIDS” ini bisa terpaparkan dengan baik dan sangat relevan untuk

menjawab permasalahan-permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini.

1.6. Metode Penelitian

1.6.1. Tipe Penelitian dan Pendekatan Masalah

Tipe penelitian yang digunakanuntuk penyusunan skripsi ini

adalah tipe penelitian hukum normatif yaitu yang didasarkan pada bahan

pustaka sedangkan pendekatan dalam pembahasan skripsi ini

menggunakan statue approach dan conceptual approach. Statue

approach adalah pendekatan yang dilakukan dengan mengidentifikasi

serta membahas peraturan perundangan – undangan yang berlaku,

sedangkan conceptual approach adalah suatu pendekatan dengan cara

membahas pendapat para sarjana sebagai landasan pendukung. Kedua

pendekatan ini baik statue approach maupun conceptual approach

digunakan karena penulisan skripsi ini mengkaji sebuah fakta yang terjadi

di kalangan masyarakat dengan menggunakan hukum positif (peraturan

perundang-undangan yang berlaku ) serta konsep dan pemikiran para

penulis dalam buku literature, doktrin-doktrin dan bahan bacaan yang

terkait dengan pemecahan permasalahan.

1.6.2. Sumber Bahan Hukum

Bahan hukum dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer

dan bahan hukum sekunder yaitu :

1. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat

mengikat berupa peraturan perundang-undangan. Dalam penulisan ini

23
mengacu pada perundang-undangan seperti : Undang-undang Dasar

1945, Undang-Undang Hukum Perrdata, Undang-Undang No. 44 Tahun

2009 tentang Rumah Sakit, Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan.

2. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang sifatnya

menjelaskan bahan hukum primer yang berupa berita, literatur-literatur,

dan karya ilmiah yang ada keterkaitannya dengan permasalahan yang

dibahas.Salah satunya adalah penulis mengangkat berita dari media

nasional yang mengangkat kasus penolakan rumah sakit terhadap pasien

HIV/AIDS.

1.6.3. Metode Pengumpulan Bahan dan Hukum

Metode pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan cara studi

pustaka, yang diawali dengan menginventarisasi bahan hukum yang

terkait, dilanjutkan dengan memilah-milah atau mengklarifikasi bahan

bacaan tersebut dan akhirnya disusun secara sistematis untuk

mempermudah dalam membaca dan memahami.

1.6.4. Analisis Bahan Hukum

Setelah bahan terkumpuldan diolah secara sistematis hanya

semata-mata melihat dari kualitas bahan hukum yang berkaitan dengan

permasalahan, serta dianalisis dengan interpretasi sistematis, yaitu

menjelaskan secara detail dengan menerapkan logika yang selanjutnya

dituangkan secara deskriptif menjadi suatu skripsi. Metode analisis dalam

menjawab permasalahan-permasalahan digunakan penalaran yang

bersifat induksi deduksi yaitu bernalaran yang diperoleh secara umum

24
dari peraturan perundang-undangan dalam hal ini adalah perundang-

undangan tentang peraturan rumah sakit dan undang-undang

perlindungan konsumen, dan juga literature hasil penalaran tersebut

diterapkan pada permasalahan yang diajukan secara khusus.

25
BAB II
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN HIV/AIDS

2.1. Teori Perlindungan Hukum

Perkembangan ilmu hukum tidak terlepas dari teori

hukumsebagai landasannya dan tugas teori hukum adalah untuk

menjelaskan nilai-nilai hukum dan postulat-postulatnya hingga dasar-

dasar filsafatnya yang paling dalam.24

Penelitian ini tidak terlepas dari teori-teori ahli hukum yang

dibahas dalam bahasa dan sistem pemikiran para ahli hukum

sendiri.Jelaslah kiranya bahwa seorang ilmuan mempunyai

tanggungjawab sosial yang terpikul dibahunya.Bukan karena dia adalah

warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di

masyarakat melainkan juga karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam

kelangsungan masyarakat hidup masyarakat.25

Menurut Satjipto Raharjo, ”Hukum melindungi kepentingan

seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya

untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut. Pengalokasian

kekuasaan ini dilakukan secara terukur, dalam arti, ditentukan keluasan

dan kedalamannya.Kekuasaan yang demikian itulah yang disebut

hak.Tetapi tidak di setiap kekuasaan dalam masyarakat bisa disebut

24
W.Friedman, Teori dan Filsafat Umum (Jakarta; Raja Grafindo) hal.2.

25
Jujun S. Suryasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer (Jakarta; Pustaka Sinar
Harapan, 1999) hal. 237

26
sebagai hak, melainkan hanya kekuasaan tertentu yang menjadi alasan

melekatnya hak itu pada seseorang.26

Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa

Indonesia adalah negara hukum. Dengan demikian negara menjamin

hak-hak hukum warga negaranya dengan memberikan perlindungan

hukum dan perlindungan hukum akan menjadi hak bagi setiap warga

negara.

Ada beberapa pengertian terkait perlindungan hukum menurut

para ahli, antara lain:

3. Menurut Satjipto Rahardjo, perlindungan hukum adalah

adanya upaya melindungi kepentingan seseorang dengan

cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk

bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut.27

4. Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau

upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan

sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan

aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan

ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk

menikmati martabatnya sebagai manusia.28

5. Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan

26
Satjipto Rahardjo, Ilmu hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, Cetakan ke-V 2000). hal. 53.
27
Satjipto Rahardjo, 2003, Sisi-Sisi Lain Dari Hukum Di Indonesia,
Kompas, Jakarta, hal. 121.
28Setiono, Rule of Law (Supremasi Hukum), (Surakarta; Magister Ilmu Hukum Program
Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2004) hal. 3.

27
untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan

nilai-nilai atau kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap

dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam

pergaulan hidup antar sesama manusia.29

Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi

subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang

berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi.

Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:30

a. Perlindungan Hukum Preventif

Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan

untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran.Hal ini terdapat

dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk

mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu

atau batasan-batasan dalam melakukan sutu kewajiban.

b. Perlindungan Hukum Represif.

Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir

berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan

yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan

suatu pelanggaran.

29
Muchsin, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia, (Surakarta;
magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2003), hal. 14.
30
Ibid, hal. 20.

28
2.1.1. Hak PasienMenurut Undang Undang

Hak pasien sebenarnya merupakan hak yang asasi yang

bersumber dari hak dasar individual dalam bidang kesehatan, the right of

self determination.31

Undang Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Bab III

mengatur mengenai Hak dan Kewajiban. Berikut Kutipan dari Bagian

Kesatu mengenai Hak, yaitu :

Pasal 4
Setiap orang berhak atas kesehatan.
Pasal 5
(1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam
memperoleh akses atas sumber daya di bidang
kesehatan.
(2) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh
pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan
terjangkau.
(3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung
jawab menentukan sendiri pelayanan
kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.
Pasal 6
Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi
pencapaian derajat kesehatan.
Pasal 7
Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi
tentang kesehatan yang seimbang dan
bertanggung jawab.
Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data
kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah
maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.

Dalam UU ini pasal 4 menyatakan sangat tegas bahwa setiap

orang berhak atas kesehatan dan pasal 5 (1) Setiap orang mempunyai

hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang

kesehatan.

31Danny Wiradharma.1996.Penuntun Kuliah Hukum


Kedokteran.Jakarta Barat.Binarupa Aksara, hal: 56

29
Pada Bab I Ketentuan Umum Pasal 1(4) Undang-Undang Nomor

44 tahun 2009 mengenai Rumah Sakit, pasien adalah adalah setiap orang

yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh

pelayanan kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung maupun

tidak langsung di Rumah Sakit.

Pada Bab VIII, Bagian Keempat Pasal 32 Undang Undang Nomor

44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit juga membahas mengenai Hak

Pasien. Berikut adalah kutipannya :

Pasal 32
Setiap pasien mempunyai hak:
a. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan
yang berlaku di Rumah Sakit;
b. memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;
c. memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan
tanpa diskriminasi;
d. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;
e. memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga
pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi;
f. mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang
didapatkan;
g. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
h. meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya
kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik
(SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit;
i. mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang
diderita termasuk data-data medisnya;
j. mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara
tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif
tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan
prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta
perkiraan biaya pengobatan;
k. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan
yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap
penyakit yang dideritanya;
l. didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
m. menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan
yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggupasien
lainnya;

30
n. memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama
dalam perawatan di Rumah Sakit;
o. mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah
Sakit terhadap dirinya;
p. menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai
dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya;
q. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila
Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yangtidak
sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun
pidana; dan
r. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai
dengan standar pelayanan melalui media cetakdan
elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pada pasal 32 poin a sampai dengan d ini juga secara jelas

disebutkan hak-hak pasien yang berkaitan dengan perlakuan yang tanpa

mendiskriminasikan pasien. Apapun penyakitnya, pasien mendapatkan

perlakuan yang sama.

Undang-Undang Undang Undang No 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan dan Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah

Sakit penulis simpulkan merupakan dasar hukum yang kuat mengenai

hak pasien dengan berbagai macam penyakitnya.

2.1.2. Perlindungan Hukum Bagi Pasien HIV AIDS

Berdasarkan teori mengenai perlindungan hukum seperti yang

sudah dikemukakan yang berasal dari pendapat para ahli di atas, maka

penulis menyimpulkan suatu perlindungan yang diberikan kepada subyek

hukum ke dalam bentuk perangkat baik yang bersifat preventif maupun

yang bersifat represif, baik yang lisan maupun yang tertulis.

31
Dipandang dari sudut kesehatan, UU No 36 Tahun 2009 pasal 4

menyebutkan, setiap orang berhak atas kesehatan.32 Selanjutnya pada

pasal yang ke 5 menyebutkan :

1. Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh


akses atas sumber daya di bidang kesehatan.
2. Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan
kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
3. Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab
menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi
dirinya.33
Selanjutnya Pasal 6 UU No. 36 Tahun 2009 menyebutkan :

setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi


pencapaian derajatkesehatan.34
Kemudian, salah satu prinsip etis utama dari hubungan dokter-

pasien, yakni keadilan. Keadilan, yaitu perlakuan yang sama untuk setiap

orang dalam situasi kondisi yang sama, dengan menekankan persamaan

dan kebutuhan menurut kategori penyakit yang diderita, bukannya jasa,

kekayaan, status sosial atau kemampuan membayar.35

Pasien HIV/AIDS yang berobat atau konsultasi ke rumah sakit

juga merupakan pasien yang tidak berbeda dari pasien dengan berbagai

penyakit dan keluhan yang lain yang memerlukan penganganan medis

oleh tenaga medis. UU No. 4 Tahun 2009 tentang Rumah sakit tidak

membedakan antara pasien berdasarkan penyakitnya.

Jika pasien HIV/AIDSmendapatkan pelayanan yang tidak sesuai

dengan standar, maka pada pasal 32 UU No. 44 Tahun 2009 huruf q dan

r pasien berhak untuk :

322010.UNDANG-UNDANG KESEHATAN DAN RUMAH SAKIT 2009.Yogyakarta.Pustaka


Yustisia:10
33Ibid hal 47
34 Ibid
35 Danny Wiradharma.1996.Penuntun Kuliah Hukum Kedokteran.Jakarta Barat.Binarupa

Aksara hal:12

32
q. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila
Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak
sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun
pidana; dan
r. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai
dengan standar pelayanan melalui media cetak dan
elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 32 UU No. 4 Tahun 2009 huruf q dan r merupakan landasan

hukum atau dasar hukum yang kuat yang bisa dijadikan perlindungan

hukum terhadap pasien, khususnya pasien HIV/AIDS yang di beberapa

daerah masih mendapatkan penolakan pelayanan kesehatan.

Dari berbagai pasal dan ayat dari UU No. 36 tahun 2009 tentang

Kesehatan dan UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit menyatakan

pasien adalah subyek hukum yang memiliki hak, dan wajib mendapatkan

perlindungan hukum, baik preventif maupun represif.

Selain Undang-Undang di atas, masih banyak peraturan yang bisa

digunakan sebagai perlindungan hukum bagi pasien HIV/AIDS, antara

lain :

1.Strategi Nasional HIV dan AIDS2003-2007

2. Strategi Nasional HIV dan AIDS 2007- 2010dan Rencana Aksi

Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia

3. Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan

AIDS 2010-2014

4. Kepres RI No.36 Tahun 1994 tentang Komisi Penanggulangan

AIDS

5. Perpres RINo.75 Tahun 2006 tentang Komisi Penanggulangan

AIDS

33
6. Permendagri RI No.20Tahun2007 tentang Komisi Penanggulangan

AIDS .

Kesimpulan sederhana dari sub bab ini adalah peraturan sebagai

dasar hukum untuk menjamin perlindungan hukum bagi pasien HIV/AIDS

sudah banyak dan kuat.

2.1.3. Pelayanan Anti Diskriminasi Pada Suatu Rumah Sakit

Pasal 2 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pun

mengatur tentang larangan diskriminasi terhadap seseorang yang

merupakan salah satu tindakan pelanggaran hak asasi manusia, maka

mereka yang menjadi korban diskriminasi, seharusnya mendapatkan

keadilannya sebagai manusia yang memiliki hak kodrat dari Sang

Pencipta. Berangkat dari pengertian diskriminasi menurut UU No.39

Tahun 1999 pasal 1 ayat 3 “Diskriminasi adalah setiap pembatasan,

pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung

didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik,

kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa,

keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau

penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi

manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individu maupun

kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek

kehidupan lainnya.36

Pasal 29 ayat (1) huruf b UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah

Sakit (“UURS”) disebutkan bahwa setiap Rumah Sakit mempunyai

4 Tim Pengajar Hukum dan HAM Kelompok A.2009.Hukum dan Hak Asasi
36

Manusia.Manado hal. 17

34
kewajiban antara lain untuk memberi pelayanan kesehatan yang aman,

bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan

kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit.

Setiap pasien RS, termasuk bagi pasien HIV/AIDS diberikan hak

oleh undang-undang untuk memperoleh layanan yang manusiawi, adil,

jujur, dan tanpa diskriminasi (lihat Pasal 32 huruf c UURS jo).

Apabila pasien merasa diperlakukan diskriminatif karena penyakit

yang diderita, bisa mendapatkan perlindungan hukum seperti dijamin

pada Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

2.1.4. Contoh kasus dan sanksi terhadap Rumah Sakit yang

melakukan penolakanmenangani pasien HIV/AIDS

Salah satu kasus penolakan memberikan perawatan yang

dilakukan rumah sakit terhadap pasien HIV/AIDS adalah RSUD Ciamis

yang berada di Provinsi Jawa Barat, dimana RSUD Ciamis telah menolak

memberikan perawatan kepada seorang ibu yang akan melakukan

persalinan. RSUD Ciamis tidak bisa melayani ibu hamil pengidap

HIV.Rumah sakit telah melakukan diskriminasi terhadap pasien yang

membutuhkan pertolongan.Alasan bagi rumah sakit pemerintah tersebut

menolak pasien HIV/AIDS tersebut karena terkendala fasilitas. Namun

tahun 2013 juga pernah ada kasus serupa, akan tetapi hal itu tidak

menjadikan pelajaran baru RSUD Ciamis. Apabila alasan fasilitas,

mengapa rumah sakit tidak dipersiapkan sejak jauh hari, karena

persoalan penyakit yang menyerang kekebalan tubuh sudah ada sejak

lama. Apabila karena takut tertular, bukan alasan yang kuat, karena

35
rumah sakit sudah mendapat pelatihan cara penanganan pasien

HIV/AIDS37.

Berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku, Rumah sakit dan

pasien merupakan subyek hukum, apabila dikaitkan dengan kasus pada

RSUD Ciamis diatas, maka rumah sakit bertanggung jawab secara hukum

atas kerugian yang diterima oleh Ibu hamil HIV/AIDS tersebut. Tanggung

jawab hukum itu meliputi tiga aspek yaitu hukum perdata, hukum pidana,

dan hukum administrasi.

a. Tanggung jawab perdata

Akibat dari suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum

diatur juga oleh hukum.Apabila melakukan perbuatan

bertentangan dengan hukum maka harus mengganti kerugian

yang diderita oleh yang dirugikan akibat perbuatan tersebut.

Berdasarkan pasal 1365 KUH Perdata RSUD Ciamis wajib

bertanggung jawab terhadap kerugian yang diterima pasien

tersebut.Karena setiap perbuatan melanggar hukum, yang

membawa kerugian terhadap orang lain, mewajibkan orang yang

karena kesalahannya menerbitkan kerugian itu, mengganti

kerugian tersebut.

b. Tanggung jawab pidana

Dirumuskan pada pasal 190 UU Kesehatan bahwa pimpinan

fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan

3737
Nurhandoko, RSUD Ciamis Tolak Persalinan Pasien ODHA, http://www.pikiran-
rakyat.com/jawa-barat/2015/12/04/352456/rsud-ciamis-tolak-persalinan-pasien-odha, diakses pada
Selasa 6 Juni 2017

36
yangmelakukan praktisi atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan

kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan pertolongan

pertama terhadap pasien yang dalam keadaan gawat darurat

sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 dipidana dengan pidana

penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp.

200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Dalam hal perbuatan

sebagaimana pada ayat (1) mengakibatkan terjadinya kecacatan

dan/atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan

dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan pidana

penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak

Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

c. Tanggung Jawab Adminitrasi

Jika rumah sakit tidak memenuhi kewajiban atau persyaratan

administratif maka pemerintah dan pemerintah daerah yang

memiliki tugas untuk melakukan pengawasan dan pembinaan

terhadap rumah sakit sebagaimana tercantum dalam Pasal 54

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit

memiliki wewenang untuk memberikan sanksi administratif yaitu

berupa teguran, teguran tertulis, tidak diperpanjang izin

operasional, dan/atau denda dan pencabutan izin.

Demikian berbagai macam sanksi baik perdata, pidana

maupun administrative yang bisa dikenakan pada Rumah Sakit

apabila melakukan penolakan terhadap pasien HIV/AIDS

berdasarkan pada peraturan yang berlaku

37
BAB III
AKIBAT HUKUM TERHADAP RUMAH SAKIT YANG MENOLAK
PASIEN HIV/AIDS

3.1. Undang-undang Tentang Pelayanan Kesehatan

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28H Ayat

(1) menyebutkan “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan b atin,

bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta

berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.Kemudian, Pasal 34 ayat (3) Undang-

Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menyatakan “Negara

bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas

pelayanan umum yang layak“. Untuk mencapai tujuan nasional tersebut

diselenggarakanlah upayapembangunan yang berkesinambungan yang

merupakan suatu rangkaian

pembangunan yang menyeluruh terarah dan terpadu, termasuk diantaranya

pembangunan kesehatan.

Di Indonesia perkembangan hukumdalam bidang kesehatan telah

diimplementasikan dengan dikeluarkannyaberbagai undang-undang yang bersifat

sektoral. Sebagai contoh, antaralain Undang-Undang No.23 Tahun 1992 yang

diganti oleh Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Undang-

Undang No.25Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik, Undang-Undang No.44

Tahun2009 Tentang Rumah Sakit, Undang-Undang No.29 Tahun 2004

TentangPraktik Kedokteran, dan Undang-Undang Tahun 2014 Tentang

Kesehatan Jiwa.

38
Pembahasan dalam bab ini penulis fokus merujuk pada Undang-Undang

No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Undang-Undang No. 44 Tahun 2009

tentang Rumah Sakit, dimana dua Undang-undang ini mempunyai peranan

penting yang berkaitan dengan perlindungan hukum pasien HIV/AIDS.

UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Bab 2 Asas dan Tujuan Pasal

(2) menyebutkan :

“Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan,


keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap hak dan
kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama”

Dikutip pada Penjelasan dalam undang-undang ini adalah sebagai berikut

Pasal 2
Pembangunan kesehatan harus memperhatikan berbagai asas yang memberikan
arah pembangunan kesehatan dan dilaksanakan melalui upaya kesehatan
sebagai berikut:
(5) asas perikemanusiaan yang berarti bahwa pembangunan kesehatan harus
dilandasi atas perikemanusiaan yang berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha
Esa dengan tidak membedakan golongan agama dan bangsa.
(6) asas keseimbangan berarti bahwa pembangunan kesehatan harus
dilaksanakan antara kepentingan individu dan masyarakat, antara fisik dan
mental, serta antara material dan sipiritual.
(7) asas manfaat berarti bahwa pembangunan kesehatan harus memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanausiaan dan perikehidupan yang
sehat bagi setiap warga negara.
(8) asas pelindungan berarti bahwa pembangunan kesehatan harus dapat
memberikan pelindungan dan kepastian hukum kepada pemberi dan penerima
pelayanan kesehatan.
(9) asas penghormatan terhadap hak dan kewajiban berarti bahwa
pembangunan kesehatan dengan menghormati hak dan kewajiban masyarakat
sebagai bentuk kesamaan kedudukan hukum.
(10) asas keadilan berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus dapat
memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada semua lapisan masyarakat
dengan pembiayaan yang terjangkau. humonline.com
(11) asas gender dan nondiskriminatif berarti bahwa pembangunan kesehatan
tidak membedakan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki.
(12) asas norma agama berarti pembangunan kesehatan harus memperhatikan
dan menghormati serta tidak membedakan agama yang dianut masyarakat.

Perlindungan menjadi salah satu asas dalam undang-undang ini yang

39
disebutkan secara jelas, undang-undang ini juga memberikan penghormatan

terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-

norma agama.

Merujuk pada perlindungan merupakan salah satu asas seperti tercantum

pada Bab 2 Pasal (2) di atas, sebagai perlindungan preventive, maka pada Bab 3

Pasal (4) sampai dengan pasal (8) secara jelas dan tegas menyatakan mengenai

hak setiap individu adalah sebagai berikut :

Pasal 4
Setiap orang berhak atas kesehatan.
ukumonline.com
Pasal 5
(1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas
sumber daya di bidang kesehatan.
(2) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan
yang aman, bermutu, dan terjangkau.
(3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan
sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.
Pasal 6
Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian
derajat kesehatan.
Pasal 7
Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang
kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.
Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya
termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya
dari tenaga kesehatan

Sebagai perlindungan represif, undang-undang ini juga sangat tegas


menyatakan pada BAB XX Ketentuan Pidana, pasal (190), menyebutkan :
(1) Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang
melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang
dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama terhadap pasien yang
dalam keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2)
atau Pasal 85 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun dan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
terjadinya kecacatan atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan
dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama
10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
Penulis mengambil kesimpulan bahwa melalui undang-undang ini sangat

40
jelas memberikan perlindungan hukum terhadap setiap individu di Indonesia

mengenai kesehatan.

Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, merupakan

salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk melaksanakan amanah UUD 1945

yang sejara jelas disebutkan dalam :

Menimbang (a) bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang
dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
yang harus diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya;

Undang-undang ini juga mempunyai asas perlindungan yang secara jelas

disebutkan pada pasal (2) sebagai berikut :

Pasal 2
Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai
kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan
anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta
mempunyai fungsi sosial.

Penjelasan dari pasal(2) tersebut adalah sebagai berikut :

Pasal 2
Yang dimaksud dengan ”nilai kemanusiaan” adalah bahwa penyelenggaraan
Rumah Sakit dilakukan dengan memberikan perlakuan yang baik dan manusiawi
dengan tidak membedakan suku, bangsa, agama, status sosial, dan ras.

Yang dimaksud dengan ”nilai etika dan profesionalitas” adalah bahwa


penyelenggaraan rumah sakit dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki
etika profesi dan sikap profesional, serta mematuhi etika rumah sakit.

Yang dimaksud dengan ”nilai manfaat” adalah bahwa penyelenggaraan Rumah


Sakit harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan
dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.

Yang dimaksud dengan ”nilai keadilan” adalah bahwa penyelenggaraan Rumah


Sakit mampu memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada setiap orang
dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat serta pelayanan yang bermutu.

Yang dimaksud dengan ”nilai persamaan hak dan anti diskriminasi” adalah
bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit tidak boleh membedakan masyarakat baik
secara individu maupun kelompok dari semua lapisan.

Yang dimaksud dengan ”nilai pemerataan” adalah bahwa penyelenggaraan


Rumah Sakit menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

41
Yang dimaksud dengan ”nilai perlindungan dan keselamatan pasien” adalah
bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit tidak hanya memberikan pelayanan
kesehatan semata, tetapi harus mampu memberikan peningkatan derajat
kesehatan dengan tetap memperhatikan perlindungan dan keselamatan pasien.

Yang dimaksud dengan “nilai keselamatan pasien” adalah bahwa


penyelenggaraan rumah sakit selalu mengupayakan peningkatan keselamatan
pasien melalui upaya manajemen risiko klinik.

Yang dimaksud dengan “fungsi sosial rumah sakit” adalah bagian dari tanggung
jawab yang melekat pada setiap rumah sakit, yang merupakan ikatan moral dan
etik dari rumah sakit dalam membantu pasien khususnya yang kurang/tidak
mampu untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatan.

Undang-undang ini secara jelas juga mempunyai asas perlindungan

terhadap pasien, dimana Rumah Sakit harus memberikan perlindungan terhadap

pasien. Perlindungan terhadap pasien dalam undang-undang ini diwujudkan pada

bagian keempat mengenai hak pasien yang disebutkan pada pasal (32), yaitu :

Pasal 32
Setiap pasien mempunyai hak:
a. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di
Rumah Sakit;
b. memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;
c. memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;
d. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional;
e. memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar
dari kerugian fisik dan materi;
f. mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan;
g. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan
peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
h. meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain
yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah
Sakit;
i. mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk
data-data medisnya;
j. mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis,
tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin
terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya
pengobatan;
k. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan
oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;
l. didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
m. menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya
selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya;
n. memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan

42
di Rumah Sakit;
o. mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap
dirinya;
p. menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya;
q. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata
ataupun pidana; dan
r. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar
pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal (32) dari undang-undang ini secara preventive sudah memberikan

perlindungan hukum terhadap pasien dimana penyedia layanan kesehatan dalam

hal ini Rumah Sakit untuk tidak mengabaikan pasien, apapun penyakitnya, suku,

agama maupun profesi.

Undang-undang tentang Rumah Sakit ini juga memberikan perlindungan

hukum bagi pasien dalam bentuk represif, seperti disebutkan pada pasal 32 UU

No. 44 Tahun 2009 huruf q dan r bahwa pasien berhak untuk :

q. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit

diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik

secara perdata ataupun pidana; dan

r. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan

standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 32 UU No. 4 Tahun 2009 huruf q dan r bisa dijadikan perlindungan

hukum terhadap pasien, apabila mendapatkan penolakan pelayanan kesehatan

dari Rumah Sakit.

Inti dari pembahasan UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU

No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit adalah menjelaskan adanya aspek asas

43
perlindungan hukum bagi setiap individu dan atau pasien terhadap pelayanan

kesehatan dan fasilitasnya.

3.2. Hak dan perlindungan hukum pasien HIV/AIDS

Secara khusus perlindungan hukum pasien HIV/AIDS penulis merujuk

pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 21 tahun 2013

tentang Penanggulangan HIV dan AIDS padaBagian Kelima mengenai

Pengobatan dan Perawatan Paragraf 1 Umum pasal(30) yang menyatakan :

1) Setiap fasilitas pelayanan kesehatan dilarang menolak pengobatan


dan perawatan ODHA.
(2) Dalam hal fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud ayat
(1) tidak mampu memberikan pengobatan
dan perawatan, wajib merujuk ODHA ke fasilitas pelayanan
kesehatan lain yang mampu atau ke rumah sakit rujukan ARV.
Dikutip dari peraturan ini juga menyebutkan secara jelas perlindungan

hukum bagi pasien HIV/AIDS :

Bab VII SUMBER DAYA KESEHATAN


Bagian Kesatu
Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pasal 41
(1) Setiap ODHA berhak memperoleh akses pelayanan kesehatan.
(2) Setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan pelayanan
kesehatan pada ODHA sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
(3) Setiap fasilitas pelayanan kesehatan primer wajib mampu melakukan
upaya promotif, preventif, konseling, deteksi dini dan merujuk kasus
yang memerlukan rujukan.
(4) Setiap Rumah Sakit sekurang-kurangnya kelas C wajib mampu
mendiagnosis, melakukan pengobatan dan perawatan ODHA sesuai
dengan ketentuan dalam sistem rujukan.
(5) Fasilitas pelayanan kesehatan primer dan rumah sakit kelas D dapat
melakukan diagnosis, pengobatan dan perawatan ODHA sesuai
dengan kemampuan dan sistem rujukan.
Undang-Undang Rumah Sakit memberikan perlindungan hukum

terhadap pasien HIV/AIDS yang diatur dalam pasal 32 mengenai hak pasien,

seperti dibahas di atas.

Kemudian Di dalam Pasal 29 Undang-Undang Rumah Sakit

44
memberikan kewajiban kepada rumah sakit dalam melaksanakan kegiatannya

sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan, yaitu:

a. Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi,


dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan
standar pelayanan rumah sakit (Pasal 29 huruf b);
b. menghormati dan melindungi hak-hak pasien. (Pasal 29 huruf m).
Pelanggaran atas kewajiban-kewajiban tersebut dikenakan sanksi
administratif berupa; teguran, teguran tertulis atau denda dan
pencabutan izin rumah sakit.

Penulis mengambil kesimpulan bahwa Undang-Undang No 36 tahun 2009

tentang Kesehatan, Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit,

dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 21 tahun 2013 tentang

Penanggulangan HIV dan AIDS sudah sangat kuat dan jelas dalam memberikan

perlindungan hukum terhadap pasien HIV/AIDS.

3.3. Sanksi terhadap Rumah Sakit yang menolak pasien HIV/AIDS

Menurut pendapat beberapa ahli yang sudah dikutip dan dibahas pada

Bab 2 Tinjauan Umum di atas, sanksi merupakan salah satu bentuk perlindungan

hukum, dalam hal ini represif khususnya bagi pasien HIV/AIDS agar tidak

mengalami perlakuan diskriminatif dalam hal pelayanan kesehatan.

Berikut penulis memaparkan sanksi-sanksi yang bisa dikenakan :

1. Undang-Undang no. 44 tahun 2009 mengenai Rumah Sakit dalam

pasal 32 huruf (q) dan (r) juga menyebut dengan jelas untuk sanksi bagi Rumah

Sakit yang tidak memberikan pelayanan bagi pasien.

2. Apabila pasien HIV/AIDS pada situasi gawat darurat, sudah

dirumuskan sanksi pada pasal 190 UU Kesehatan bahwa pimpinan fasilitas

pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang melakukan praktisi atau

pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang dengan sengaja tidak

45
memberikan pertolongan pertama terhadap pasien yang dalam keadaan gawat

darurat sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 dipidana dengan pidana penjara

paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua

ratus juta rupiah). Dalam hal perbuatan sebagaimana pada ayat (1)

mengakibatkan terjadinya kecacatan dan/atau kematian, pimpinan fasilitas

pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan

pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.

1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

3. Jika rumah sakit tidak memenuhi kewajiban atau persyaratan

administratif maka pemerintah dan pemerintah daerah yang memiliki tugas

untuk melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap rumah sakit

sebagaimana tercantum dalam Pasal 54 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009

Tentang Rumah Sakit memiliki wewenang untuk memberikan sanksi administratif

yaitu berupa teguran, teguran tertulis, tidak diperpanjang izin operasional,

dan/atau denda dan pencabutan izin.

4. Berdasarkan pasal 1365 KUH Perdata, bahwa setiap perbuatan

melanggar hukum, yang membawa kerugian terhadap orang lain, mewajibkan

orang yang karena kesalahannya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian

tersebut. Maka Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan yang menolak melayani

pasien, dalam hal ini khususnya HIV/AIDS bisa dikenakan tuntutan perdata.

Demikian penulis melakukan pembahasan pada Bab III ini bahwa

Undang-undang maupun peraturan terkait yang berlaku saat ini di Indonesia

sudah sangat jelas dan tegas dalam memberikan perlindungan hukum terhadap

pasien HIV/AIDS, juga sudah memberikan pemaparan mengenai sanksi yang

46
bisa dikenakan terhadap Rumah Sakit maupun fasilitas kesehatan apabila

menolak memberikan pelayanan terhadap pasien, khususnya HIV/AIDS.

47
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang dilakukan pada bab sebelumnya, penulis

memberikan kesimpulan adalah sebagai berikut :

1. Setiap rumah sakit wajib memiliki dan mematuhi seluruh

standar pelayanan rumah sakit dalam memberikan jasa

pelayanan kesehatan terhadap pasien pada umumnya dan

pasien HIV/AIDS, khususnya yaitu antara lain standar

pelayanan operasional prosedur, standar pelayanan medis, dan

standar keperawatan berdasarkan peraturan yang berlaku

seperti Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV/AIDS diatur

mengenai pelayanan kesehatan yang wajib diberikan terhadap

pasien HIV/AIDS.

2. Pasien HIV/AIDSsebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan

mempunyai perlindungan hukum yang kuat melalui Undang-

Undang dan Peraturan Menteri Kesehatan, yaitu Undang-

undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-Undang

No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, KUHPerdata, dan

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 21 tahun

2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS.

5. Rumah Sakit maupun fasilitas kesehatan bisa dikenakan sanksi,

baik administrative, pidana dan perdata apabila menolak pasien

48
HIV/AIDS, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

4.2. Saran

1. Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan diharapkan lebih aktif

dan rutin secara berkala memberikan penyuluhan kepada

masyarakat awam mengenai HIV/AIDS.

2. Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lain harus meningkatkan

pemahaman, tenaga terampil dan fasilitas untuk pasien HIV/AIDS

agar bisa melaksanakan amanah UU maupun peraturan terkait

pasien HIV/AIDS.

3. Pasien HIV/AIDS atau melalui keluarga terdekat, diharapkan aktif

dalam lembaga-lembaga swadaya masyarakat maupun organisasi-

organisasi yang terkait dengan pasien HIV/AIDS, agar

perlindungan hukum lebih terjamin.

49
DAFTAR BACAAN
UNDANG- UNDANG Dasar 1945
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Undang- Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 21 tahun 2013 tentang
Penanggulangan HIV dan AIDS
Soekidjo Notoatmodjo, Etika & Hukum Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta,
2010,

Endang Wahyati Yustina, Mengenal Hukum Rumah Sakit, CV Keni Media,


Bandung,
2012,
W.Friedman, Teori dan Filsafat Umum (Jakarta; Raja Grafindo)

Jujun S. Suryasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer (Jakarta;


Pustaka Sinar
Harapan, 1999)
Satjipto Rahardjo, Ilmu hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, Cetakan ke-V
2000). hal. 53.

Satjipto Rahardjo, 2003, Sisi-Sisi Lain Dari Hukum Di Indonesia, Kompas,


Jakarta,

Setiono, Rule of Law (Supremasi Hukum), (Surakarta; Magister Ilmu Hukum


Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2004)

Muchsin, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia,


(Surakarta;
magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2003),
hal. 14.
Danny Wiradharma.1996.Penuntun Kuliah Hukum Kedokteran.Jakarta
Barat.Binarupa Aksara, 2010

UNDANG UNDANG KESEHATAN DAN RUMAH SAKIT


2009.Yogyakarta.Pustaka Yustisia:10

4 Tim Pengajar Hukum dan HAM Kelompok


A.2009.Hukum dan Hak Asasi Manusia.Manado hal. 17

Zulmiar Yanri.2005.Pedoman Bersama ILO/WHO tentang Pelayanan Kesehatan


dan HIV/AIDS. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja.Jakarta:1

Arief Sidharta, Refleksi Tentang Hukum, Citra Aditya Bakti, bandung, 1996

Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum, Prenada Media Group, Jakarta, 2015
B. Arif Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 2009

50
E.Y.Kanter dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, Storia
Grafika, Jakarta, 2012

Achmad Ali, Menguak Teori Hukum Legal theory Dan Teori Peradilan
Judicialprudance, Kencana, Makasar, 2007

http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2015/12/04/352456/rsud-ciamis-tolak-
persalinan-pasien-odha,

http://jurnalkesehatanmasyarakat.blogspot.co.id/2012/01/makalah-hukum-dan-uu-
hivaids.html diakses 16 Juni 2017

http://megapolitan.kompas.com/read/2009/08/28/15420039/Pasien.HIV.Ditolak.D
irawat.di.RS.Sulianti.Saroso, diakses 6 Juni 10:12

http://tesishukum.com/pengertian-perlindungan-hukum-menurut-para-ahli/

51