Anda di halaman 1dari 7

Daftar Isi

Daftar Isi ........................................................................................................................... 3

Bab I

Pendahuluan ...................................................................................................................... 6

Bab II

Tinjauan Pustaka ............................................................................................................... 7

2.1. Gangguan Panik dan Agorafobia ............................................................................... 12

2.2. Fobia Spesifik dan Fobia Sosial................................................................................. 33

2.3. Gangguan Obsesif Kompulsif .................................................................................... 43

2.4. Gangguan Stress Postraumatik (Post Traumatic Stress Disorder) ............................. 47

2.5. Gangguan Cemas Menyeluruh ................................................................................... 57

2.6. Gangguan Cemas Lainnya ......................................................................................... 63

Bab III

Penutup ............................................................................................................................. 76

Daftar Pustaka ................................................................................................................... 77


Bab I
Pendahuluan

Istilah “panik” berasal dari kata Pan, dewa Yunani yang setengah hantu, tinggal
dipegunungan dan hutan, dan perilakunya sangat sulit diduga. Di tahun 1895 deskripsi
gangguan panik pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud dalam kasus agorafobia.
Rasa panic atau cemas dapat datang dari eksternal atau internal. Masalah eksternal
umumnya terkait dengan hubungan antara seseorang dengan komunitas, teman, atau keluarga.
Masalah internal umumnya terkait dengan pikiran seseorang sendiri. Dari beberapa jenis
gangguan cemas, gangguan panik adalah yang seringkali dijumpai di masyarakat.
Rasa cemas dapat dikonsepkan sebagai respon normal dan adaptif terhadap ancaman
yang megharuskan seseorang untuk lari ataupun melawan. Orang yang tampak cemas
patologis mengenai hampir semua hal cenderung di golongkan memiliki gangguan cemas.
Dalam referat ini penyusun akan membahas beberapa penggolongan dari gangguan
cemas, yakni gangguan panik dan agoraphobia, fobia spesifik dan fobia social, gangguan
obsesif kompulsifm gangguan stress post traumatik, gangguan cemas menyeluruh, dan
gangguan cemas lainnnya. Dalam setiap sub bab akan dibahas mengenai definisi,
epidemiologi, etiopatogenesis, tanda dan gejala, pedoman diagnosis, penatalaksanaan,
perjalanan gangguan serta prognosis dari masing-masing gangguan cemas.
Bab II
Tinjauan Pustaka

DEFINISI

Cemas didefinisikan sebagai suatu sinyal yang menyadarkan; ia memperingatkan


adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk
mengatasi ancaman. Rasa tersebut ditandai dengan gejala otonom seperti nyeri kepala,
berkeringat, palpitasi, rasa sesak di dada, tidak nyaman pada perut, dan gelisah.
Rasa cemas dapat datang dari eksternal atau internal. Masalah eksternal umumnya
terkait dengan hubungan antara seseorang dengan komunitas, teman, atau keluarga. Masalah
internal umumnya terkait dengan pikiran seseorang sendiri. 1, 2

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN CEMAS


Gejala-gejala cemas pada dasarnya terdiri dari dua komponen yakni, kesadaran
terhadap sensasi fisiologis ( palpitasi atau berkeringat ) dan kesadaran terhadap rasa gugup
atau takut. Selain dari gejala motorik dan viseral, rasa cemas juga mempengaruhi kemampuan
berpikir, persepsi, dan belajar. Umumnya hal tersebut menyebabkan rasa bingung dan distorsi
persepsi. Distorsi ini dapat menganggu belajar dengan menurunkan kemampuan memusatkan
perhatian, menurunkan daya ingat dan menganggu kemampuan untuk menghubungkan satu
hal dengan lainnya.
Aspek yang penting pada rasa cemas, umumnya orang dengan rasa cemas akan
melakukan seleksi terhadap hal-hal disekitar mereka yang dapat membenarkan persepsi
mereka mengenai suatu hal yang menimbulkan rasa cemas.2

PATOFISIOLOGI GANGGUAN CEMAS

Teori Psikoanalitik
Sigmeun Freud menyatakan dalam bukunya “ 1926 Inhibitons, Symptoms, Anxiety”
bahwa kecemasan adalah suatu sinyal kepada ego bahwa suatu dorongan yang tidak dapat
diterima menekan untuk mendapatkan perwakilan dan pelepasan sadar. Sebagai suatu sinyal,
kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam.
Jika kecemasan naik di atas tingkatan rendah intensitas karakter fungsinya sebagai suatu
sinyal, ia akan timbul sebagai serangan panik.2
Teori Perilaku
Rasa cemas dianggap timbul sebagai respon dari stimulus lingkungan yang spesifik.
Contohnya, seorang anak laki-laki yang dibesarkan oleh ibunya yang memperlakukannya
semena-mena, akan segera merasa cemas bila ia bertemu ibunya. Melalui proses generalisasi,
ia akan menjadi tidak percaya dengan wanita. Bahkan seorang anak dapat meniru sifat orang
tuanya yang cemas.2

Teori Eksistensi
Pada gangguan cemas menyeluruh, tidak didapatkan stimulus rasa cemas yang bersifat
kronis. Inti dari teori eksistensi adalah seseorang merasa hidup di dalam dunia yang tidak
bertujuan. Rasa cemas adalah respon mereka terhadap rasa kekosongan eksistensi dan arti.

Berdasarkan aspek biologis, didapatkan beberapa teori yang mendasari timbulnya


cemas yang patologis antara lain:
 Sistem saraf otonom

 Neurotransmiter 2

Neurotransmiter
1. Norepinephrine
Gejala kronis yang ditunjukan oleh pasien dengan gangguan cemas berupa serangan
panik, insomnia, terkejut, dan autonomic hyperarousal, merupakan karakteristik dari
peningkatan fungsi noradrenergik. Teori umum dari keterlibatan norepinephrine pada
gangguan cemas, adalah pasien tersebut memiliki kemampuan regulasi sistem noradrenergik
yang buruk terkait dengan peningkatan aktivitas yang mendadak. Sel-sel dari sistem
noradrenergik terlokalisasi secara primer pada locus ceruleus pada rostral pons, dan memiliki
akson yang menjurus pada korteks serebri, sistem limbik, medula oblongata, dan medula
spinalis. Percobaan pada primata menunjukan bila diberi stimulus pada daerah tersebut
menimbulkan rasa takut dan bila dilakukan inhibisi, primata tersebut tidak menunjukan adanya
rasa takut. Studi pada manusia, didapatkan pasien dengan gangguan serangan panik, bila
diberikan agonis reseptor β-adrenergik ( Isoproterenol ) dan antagonis reseptor α-2 adrenergik
dapat mencetuskan serangan panik secara lebih sering dan lebih berat. Kebalikannya,
clonidine, agonis reseptor α-2 menunjukan pengurangan gejala cemas.2
2. Serotonin
Ditemukannya banyak reseptor serotonin telah mencetuskan pencarian peran serotonin
dalam gangguan cemas. Berbagai stress dapat menimbulkan peningkatan 5-
hydroxytryptamine pada prefrontal korteks, nukleus accumbens, amygdala, dan hipotalamus
lateral. Penelitian tersebut juga dilakukan berdasarkan penggunaan obat-obatan serotonergik
seperti clomipramine pada gangguan obsesif kompulsif. Efektivitas pada penggunaan obat
buspirone juga menunjukkan kemungkinan relasi antara serotonin dan rasa cemas. Sel-sel
tubuh yang memiliki reseptor serotonergik ditemukan dominan pada raphe nuclei pada rostral
brainstem dan menuju pada korteks serebri, sistem limbik, dan hipotalamus.2

3. GABA
Peran GABA pada gangguan cemas sangat terlihat dari efektivitas obat-obatan
benzodiazepine, yang meningkatkan aktivitas GABA pada reseptor GABA tipe A. Walaupun
benzodiazepine potensi rendah paling efektif terhadap gejala gangguan cemas menyeluruh,
benzodiazepine potensi tinggi seperti alprazolam dan clonazepam ditemukan efektif pada
terapi gangguan serangan panik

Pada suatu studi struktur dengan CT scan dan MRI menunjukan peningkatan ukuran
ventrikel otak terkait dengan lamanya pasien mengkonsumsi obat benzodiazepine. Pada satu
studi MRI, sebuah defek spesifik pada lobus temporal kanan ditemukan pada pasien dengan
gangguan serangan panik. Beberapa studi pencitraan otak lainnya juga menunjukan adanya
penemuan abnormal pada hemisfer kanan otak, tapi tidak ada pada hemisfer kiri. fMRI,
SPECT, dan EEG menunjukan penemuan abnormal pada korteks frontal pasien dengan
gangguan cemas, yang ditemukan juga pada area oksipital, temporal, dan girus hippocampal.
Pada gangguan obsesif kompulsif diduga terdapat kelainan pada nukleus kaudatus. Pada
PTSD, fMRI menunjukan pengingkatan aktivitas pada amygdala. 2

Sistem Saraf Otonom


Gejala-gejala yang ditimbulkan akibat stimulus terhadap sistem saraf otonom adalah:
 sistem kardiovaskuler (palpitasi)

 muskuloskeletal (nyeri kepala)

 gastrointestinal (diare)

 respirasi (takipneu)
Sistem saraf otonom pada pasien dengan gangguan cemas, terutama pada pasien
dengan gangguan serangan panik, mempertunjukan peningkatan tonus simpatetik, yang
beradaptasi lambat pada stimuli repetitif dan berlebih pada stimuli yang sedang.
Berdasarkan pertimbangan neuroanatomis, daerah sistem limbik dan korteks serebri
dianggap memegang peran penting dalam proses terjadinya cemas.2

Korteks Serebri
Korteks serebri bagian frontal berhubungan dengan regio parahippocampal, cingulate
gyrus, dan hipotalamus, sehingga diduga berkaitan dengan gangguan cemas. Korteks temporal
juga dikaitkan dengan gangguan cemas. Hal ini diduga karena adanya kemiripan antara
presentasi klinis dan EEG pada pasien dengan epilepsy lobus temporal dan gangguan obsesif
kompulsif.

Sistem Limbik
Selain menerima inervasi dari noradrenergik dan serotonergik, sistem limbik juga
memiliki reseptor GABA dalam jumlah yang banyak. Ablasi dan stimulasi pada primata juga
menunjukan jikalau sistem limbik berpengaruh pada respon cemas dan takut. Dua area pada
sistem limbik menarik perhatian peneliti, yakni peningkatan aktivitas pada septohippocampal,
yang diduga berkaitan dengan rasa cemas, dan cingulate gyrus, yang diduga berkaitan dengan
gangguan obsesif kompulsif.

KLASIFIKASI GANGGUAN CEMAS

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ( DSM-IV),


gangguan cemas terdiri dari :
(1) Serangan panik dengan atau tanpa agoraphobia;
(2) Agoraphobia dengan atau tanpa Serangan panik;
(3) Fobia spesifik;
(4) Fobia sosial;
(5) Gangguan Obsesif-Kompulsif;
(6) Post Traumatic Stress Disorder ( PTSD );
(7) Gangguan Stress Akut;
(8) Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder).
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III,
gangguan cemas dikaitkan dalam gangguan neurotik, gangguan somatoform dan gangguan
yang berkaitan dengan stress (F40-48).

F40–F48 GANGGUAN NEUROTIK, GANGGUAN SOMATOFORM DAN


GANGGUAN
YANG BERKAITAN DENGAN STRES
F40 Gangguan Anxieta Fobik
F40.0 Agorafobia
.00 Tanpa gangguan panik
.01 Dengan gangguan panik
F40.1 Fobia sosial
F40.2 Fobia khas (terisolasi)
F40.8 Gangguan anxietas fobik lainnya
F40.9 Gangguan anxietas fobik YTT

F41 Gangguan Anxietas Lainnya


F41.0 Gangguan panik (anxietas paroksismal episodik)
F41.1 Gangguan anxietas menyeluruh