Anda di halaman 1dari 85

SARI

Dwi Retnaningtyas. 2005. Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Produktivitas


Kerja Di Bagian Linting Rokok PT Gentong Gotri Semarang

Stres kerja dapat menimpa semua tenaga kerja dalam melaksanakan


pekerjaannya. Penyebab terjadinya stres kerja yaitu faktor- faktor intrinsik
pekerjaan, peran individu dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan dalam
organisasi, struktur organisasi, hubungan di luar organisasi atau pekerjaan, ciri
individu. Stres yang dialami oleh tenaga kerja dapat berkembang kearah positif
yaitu stres dapat menjadi kekuatan positif bagi tenaga kerja. Adanya dorongan
yang tinggi untuk berprestasi membuat makin tinggi tingkat stresnya dan makin
tinggi juga produktivitas dan efisiensinya. Tetapi stres juga dapat berkembang
kearah negatif yaitu penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja
dan kecenderungan mengalami kecelakaan. Demikian pula jika banyak diantara
tenaga kerja di dalam organisasi atau perusahaan mengalami stres kerja, maka
produktivitas dan kesehatan organisasi itu akan terganggu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara stres
kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita. Penelitian dilakukan pada tenaga
kerja wanita bagian linting PT Gentong Gotri Semarang. Populasi penelitian
berjumlah 100 orang dengan sampel sebanyak 25 orang. Sampel diambil dengan
menggunakan teknik sampling purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu. Adapun pertimbangan tersebut yaitu tenaga kerja wanita,
berkeluarga, umur 20-35 tahun, masa kerja 1-5 tahun, pendidikan terakhir SMP,
Kesehatan fisik baik (tidak sedang sakit).
Setelah penentuan sampel maka dilakukan pengambilan data. Teknik
pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala stres kerja dan lembar
pencatatan produktivitas tenaga kerja. Sebelum skala stres kerja disebarkan,
diadakan uji coba skala stres kerja. Kemudian hasilnya dianalisis yang terdiri dari
validitas dan reliabilitas untuk mendapatkan skala stres kerja yang absah. Teknik
yang digunakan dalam analisis data adalah korelasi Rank Spearman. Berdasarkan
hasil analisis data, didapatkan besarnya probabilitas yaitu 0,005. Karena
probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak, yang artinya ada hubungan antara stres kerja
dengan produktivitas tenaga kerja wanita. Didapatkan ρ hitung sebesar -0,549 yang
artinya ada hubungan yang cukup kuat antara dua variabel. Koefisien korelasi
mempunyai tanda negatif yang berarti semakin tinggi stres kerja maka
produktivitas tenaga kerja semakin rendah. Demikian sebaliknya makin rendah
stres kerja, maka produktivitas tenaga kerja semakin tinggi.

Kata kunci: Stres kerja, produktivitas kerja

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat yang

telah dilimpahkan kepada penulis dan berkat bimbingan bapak dan ibu dosen,

penulis dapat menyusun skripsi dengan judul “Hubungan Antara Stres Kerja

Dengan Produktivitas Kerja Di Bagian Linting Rokok PT Gentong Gotri

Semarang”.

Skripsi ini disusun untuk melengkapi persyaratan kelulusan jurusan Ilmu

Kesehatan Masyarakat S1, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri

Semarang.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak dapat selesai tanpa

bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis

sampaikan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan, Bapak Drs. Sutardji, MS yang telah

memberikan kemudahan administrasi dan perijinan penelitian ini.

2. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ibu dr Oktia Woro KH, MKes atas

masukannya

3. Pembimbing I, Bapak Eram Tunggul P, SKM MKes yang telah memberikan

bimbingan, arahan dan masukan dalam penyusunan skripsi ini.

4. Pembimbing II, Ibu dr Yuni Wijayanti, yang telah memberikan bimbingan,

arahan dan masukan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Manajer Personalia PT Gentong Gotri Semarang, Bapak Noerwito, MBA,

MM yang telah memberikan ijin penelitian di perusahaan tersebut.

v
6. Wakil Manajer Personalia PT Gentong Gotri Semarang, Bapak Bangun yang

telah membantu selama penelitian.

7. Keluargaku atas segala perhatian dan doa yang telah diberikan selama ini.

8. Dora, sahabat- sahabatku Tika, Anisa, Ida, Dewi dan Ita atas segala bantuan

dan dukungan selama ini.

9. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas bantuan

dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saran

dan kritik selalu penulis harapkan demi sempurnanya skripsi ini. Kiranya semua

pihak yang telah memberikan bantuannnya mendapatkan berkat yang melimpah

dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak

yang berkepentingan.

Semarang, September 2005

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i

SARI ................................................................................................................... ii

PENGESAHAN ................................................................................................ iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv

KATA PENGANTAR ....................................................................................... v

DAFTAR ISI ................................................................................................... vii

DAFTAR TABEL ............................................................................................ ix

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... x

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul .................................................................................. 1

1.2 Permasalahan ................................................................................................ 4

1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 4

1.4 Penegasan Istilah............................................................................................ 5

1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 5

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

2.1 Landasan Teori ............................................................................................. 6

2.1.1 Stres ............................................................................................................ 6

2.1.1.1 Stres Kerja ............................................................................................... 6

2.1.1.2 Penyebab Stres Kerja ............................................................................... 8

2.1.1.3 Gejala Stres Kerja .................................................................................. 16

vii
2.1.1.4 Dampak Stres Kerja ............................................................................... 22

2.1.2 Produktivitas ............................................................................................. 27

2.1.2.1 Pengertian Produktivitas ......................................................................... 27

2.1.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas ............................................. 28

2.1.2.3 Pengukuran Produktivitas ....................................................................... 31

2.2 Hipotesis ...................................................................................................... 35

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Populasi Penelitian ....................................................................................... 36

3.2 Sampel Penelitian......................................................................................... 36

3.3 Variabel Penelitian ....................................................................................... 37

3.4 Rancangan Penelitian ................................................................................... 38

3.5 Instrumen Penelitian .................................................................................... 38

3.6 Prosedur Penelitian ...................................................................................... 44

3.7 Teknik Pengambilan Data ............................................................................ 45

3.8 Analisis Data................................................................................................ 47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data ............................................................................................ 48

4.2 Hasil Penelitian ............................................................................................ 50

4.3 Pembahasan ................................................................................................. 53

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ...................................................................................................... 60

5.2 Saran............................................................................................................ 60

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 61

LAMPIRAN

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Skala Stres Kerja Untuk Uji Validitas dan Reliabilitas 64

2. Skala Stres Kerja Untuk 25 Responden 68

3. Uji Validitas dan Reliabilitas 72

4. Lembar Pencatatan Produktivitas Tenaga Kerja 74

5 Grafik Produktivitas Tenaga Kerja 75

6. Skor Hasil Penelitian Variabel Stres kerja 76

7. Statistik Deskriptif Data Penelitian 77

8. Output Analisis Korelasi Rank Spearman 79

9. Daftar Nama Responden 80

10. Surat Keterangan Penelitian 81

xi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Pembangunan nasional yang telah dilaksanakan sampai saat ini telah

menghasilkan banyak perubahan dan kemajuan diberbagai bidang dan sektor

kehidupan. Selain itu pembangunan tersebut telah memunculkan banyak

fenomena baru. Salah satu diantara fenomena itu adalah semakin besarnya jumlah

wanita yang bekerja. Bahkan saat ini banyak perusahaan yang sebagian besar

tenaga kerjanya adalah wanita. Jika dahulu wanita hanya berperan sebagai ibu

rumah tangga, namun sekarang banyak wanita yang berpartisipasi dalam dunia

kerja. Adanya tuntutan untuk mendukung ekonomi rumah tangga menjadi salah

satu alasan bagi wanita untuk bekerja (Pandji Anoraga, 1998: 119).

Dalam proses industri memerlukan kegiatan tenaga kerja sebagai unsur

dominan yang mengelola bahan baku atau material, mesin, peralatan dan proses

lainnya yang dilaksanakan di tempat kerja guna menghasilkan produk yang

bermanfaat bagi masyarakat. Saat melaksanakan pekerjaannya tenaga kerja wanita

perlu mendapatkan perlindungan sehingga terhindar dari segala resiko akibat

kerja, kecelakaan, atau penyakit akibat kerja. Hal ini telah diatur dalam Undang-

Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang tenaga kerja wanita yang memuat waktu

kerja, cuti haid, waktu melahirkan, perlindungan dari jenis pekerjaan terburuk,

dan sebagainya. Namun selain itu, tenaga kerja juga berhak mendapatkan derajat

kesehatan setinggi- tingginya baik fisik, mental maupun sosial (Sugeng Budiono

dkk, 2003:89,145).

1
2

Setiap aspek di pekerjaan dapat menjadi pembangkit stres. Tenaga kerja yang

menentukan sejauhmana situasi yang dihadapi merupakan situasi stres. Berbagai

tekanan yang dirasakan oleh tenaga kerja dapat berasal dari faktor- faktor intrinsik

dalam pekerjaan yang menimbulkan kebosanan karena pekerjaan berulang- ulang

dan tempat kerja yang bising, konflik peran yang dirasakan wanita pekerja yaitu

sebagai ibu rumah tangga sekaligus sebagai pekerja, adanya karir yang tidak

berkembang, hubungan yang buruk dengan rekan sekerja maupun dengan atasan,

ditambah lagi adanya struktur organisasi yang jelek, aturan main yang terlalu

kaku, sedikitnya keterlibatan atasan, serta ciri individu dalam menanggapi situasi

yang dihadapi. Selain itu, tenaga kerja dalam interaksinya dengan pekerjaan juga

dipengaruhi pula oleh hasil interaksi di tempat lain seperti di di rumah, di

perkumpulan dan sebagainya (Ashar Sunyoto, 2001:380). Hampir 50- 75 % dari

seluruh kunjungan kepada dokter, langsung maupun tidak langsung berhubungan

dengan stres (Laurentius Panggabean, 2003:1).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rice seorang ahli psikologi

didapatkan bahwa wanita yang bekerja mengalami stres lebih tinggi dibandingkan

dengan pria. Hal ini dikarenakan wanita yang bekerja menghadapi konflik peran.

Di satu pihak wanita berperan sebagai ibu rumah tangga yang harus terlebih

dahulu mengatasi urusan keluarga, suami, anak, dan hal lain yang menyangkut

rumah tangga. Tetapi di pihak lain wanita sebagai pekerja yang harus

menyelesaikan pekerjaannya di tempat kerja. Tuntutan ini sangat berpotensi

menyebabkan wanita bekerja mengalami stres (Jacinta, 2002). Demikian juga

penelitian yang dilakukan oleh Regina (2003) pada wanita bekerja didapatkan
3

bahwa wanita yang mempunyai peran ganda yaitu sebagai ibu sekaligus sebagai

pekerja sering mengalami stres.

Stres yang dialami oleh tenaga kerja dapat berkembang kearah positif yaitu

stres dapat menjadi kekuatan positif bagi tenaga kerja. Adanya dorongan yang

tinggi untuk berprestasi membuat makin tinggi tingkat stresnya dan makin tinggi

juga produktivitas dan efisiensinya (Ashar Sunyoto, 2001:374). Tetapi stres juga

dapat berkembang kearah negatif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Randall

Schuller, stres yang dihadapi tenaga kerja berhubungan dengan penurunan prestasi

kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja dan kecenderungan mengalami

kecelakaan. Demikian pula jika banyak diantara tenaga kerja di dalam organisasi

atau perusahaan mengalami stres kerja, maka produktivitas dan kesehatan

organisasi itu akan terganggu (Jacinta, 2002).

Dari hasil observasi dan wawancara yang telah kami lakukan pada tenaga

kerja bagian linting PT Gentong Gotri Semarang didapatkan bahwa tenaga kerja

bekerja selama 6 hari yaitu hari Senin sampai Sabtu. Setiap harinya harus bekerja

selama 7 jam dengan 1 jam istirahat. Tenaga kerja bagian linting bertugas

membuat rokok dalam bentuk batangan dengan menggunakan peralatan sederhana

sesuai dengan target perusahaan, yaitu sehari minimal sebanyak 4500 batang

rokok yang harus dihasilkan oleh setiap tenaga kerja. Selama bekerja, meskipun

sudah memakai masker namun tenaga kerja masih menghirup bau dari tembakau.

Selain itu, pengawasan terhadap kualitas rokok yang dihasilkan setiap tenaga

kerja dilakukan selama jam kerja berlangsung. Upah yang diberikan pada tenaga

kerja berbentuk borongan yaitu Rp 7600,00 per 1000 batang rokok yang
4

dihasilkan. Posisi kerja yang tidak nyaman dirasakan oleh tenaga kerja karena

peralatan kerja letaknya lebih rendah dari tempat duduk tenaga kerja sehingga

pada saat bekerja harus menundukkan kepala, serta jarak antara tenaga kerja satu

dengan yang lain sempit sehingga membatasi gerak tenaga kerja. Banyak tenaga

kerja yang mengalami keluhan kaku leher dan punggung. Adanya tuntutan fisik

dan tuntutan tugas yang berupa pekerjaan berulang- ulang mengakibatkan tenaga

kerja mengalami kebosanan sehingga tenaga kerja bagian linting diduga

mengalami stres kerja, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada produktivitas

tenaga kerja tersebut.

Berdasarkan gambaran tersebut diatas, maka penulis tertarik melakukan

penelitian apakah memang ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas

tenaga kerja wanita di bagian linting rokok PT Gentong Gotri Semarang.

1.2 Permasalahan

Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini dapat dibuat rumusan

masalah sebagai berikut:

Apakah ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja

wanita di bagian linting rokok PT Gentong Gotri Semarang ?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan

produktivitas tenaga kerja wanita di bagian linting PT Gentong Gotri Semarang.


5

1.4 Penegasan Istilah

1.4.1 Stres Kerja

Yang dimaksud stres kerja dalam penelitian ini adalah suatu proses yang

menyebabkan orang merasa sakit, tidak nyaman atau tegang karena pekerjaan,

tempat kerja atau situasi kerja tertentu (Bambang Tarupolo, 2002:17).

1.4.2 Produktivitas Kerja

Produktivitas kerja adalah rasio hasil kerja (keluaran) dan berbagai sumber

yang diperlukan untuk tercapainya hasil kerja tersebut (masukan)(I Ketut Gde Juli

S, 2004:18).

1.4.3 Bagian Linting Rokok PT Gentong Gotri Semarang

Bagian linting rokok PT Gentong Gotri Semarang adalah suatu bagian yang

bertugas membuat rokok dalam bentuk batangan dengan menggunakan peralatan

sederhana.

1.5 Manfaat Penelitian

1) Bagi perusahaan dan tenaga kerja adalah mengetahui terjadinya stres kerja

yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja.

2) Bagi perguruan tinggi adalah menambah referensi pengetahuan tentang

hubungan stres kerja terhadap produktivitas.

3) Bagi penulis adalah mengetahui hubungan antara stres kerja dengan

produktivitas tenaga kerja.


BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Stres

Stres adalah reaksi seseorang secara psikologi, fisiologi, maupun perilaku bila

seseorang mengalami ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan

kemampuannya untuk memenuhi tuntutan tersebut dalam jangka waktu tertentu.

Selye mendefinisikan stres sebagai reaksi non spesifik tubuh terhadap beberapa

tuntutan yang melebihi dari kemampuannya (Bambang Tarupolo, 2002:4).

Definisi stres menurut Agus M (1994:23) adalah tanggapan menyeluruh dari

tubuh terhadap setiap tuntutan yang datang atasnya .

David Hager dan Linda C (1999:21) menyatakan stres sebagai suatu keadaan

ketegangan fisik atau mental atau kondisi yang menyebabkan ketegangan.

Menurut David A (1990:240), stres adalah respon otomatis dari tubuh,

termasuk pikiran sampai pada perubahan- perubahan, tantangan- tantangan, dan

tuntutan lain yang kita temui dalam setiap bagian kehidupan sehari- hari.

Stres dapat juga berarti respon fisiologi, psikologi dan perilaku dari seseorang

dalam upaya untuk menyesuaikan dari tekanan baik secara internal maupun

eksternal (Laurentius Panggabean, 2003:2).

2.1.1.1 Stres Kerja

Stres kerja adalah suatu perasaan yang menekan atau rasa tertekan yang

dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaannya (Anwar Prabu, 1993: 93).

6
Beehr dan Franz (dikutip Bambang Tarupolo, 2002:17), mendefinisikan stres

kerja sebagai suatu proses yang menyebabkan orang merasa sakit, tidak nyaman

atau tegang karena pekerjaan, tempat kerja atau situasi kerja yang tertentu.

Menurut Pandji Anoraga (2001:108), stres kerja adalah suatu bentuk

tanggapan seseorang, baik fisik maupun mental terhadap suatu perubahan di

lingkunganya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam.

Gibson dkk (1996:339), menyatakan bahwa stres kerja adalah suatu

tanggapan penyesuaian diperantarai oleh perbedaan- perbedaan individu dan atau

proses psikologis yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan dari luar

(lingkungan), situasi, atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan

atau fisik berlebihan kepada seseorang.

Setiap aspek di pekerjaan dapat menjadi pembangkit stres. Tenaga kerja yang

menentukan sejauhmana situasi yang dihadapi merupakan situasi stres atau tidak.

Tenaga kerja dalam interaksinya dipekerjaan, dipengaruhi pula oleh hasil interaksi

di tempat lain, di rumah, di sekolah, di perkumpulan, dan sebagainya (Ashar

Sunyoto, 2001: 380).

Phillip L (dikutip Jacinta, 2002), menyatakan bahwa seseorang dapat

dikategorikan mengalami stres kerja jika:

1) Urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau

perusahaan tempat individu bekerja. Namun penyebabnya tidak hanya di

dalam perusahaan, karena masalah rumah tangga yang terbawa ke

pekerjaan dan masalah pekerjaan yang terbawa ke rumah dapat juga

menjadi penyebab stress kerja.

7
2) Mengakibatkan dampak negatif bagi perusahaan dan juga individu.

3) Oleh karenanya diperlukan kerjasama antara kedua belah pihak untuk

menyelesaikan persoalan stres tersebut.

Sebenarnya stres kerja tidak selalu membuahkan hasil yang buruk dalam

kehidupan manusia. Selye membedakan stres menjadi 2 yaitu distress yang

destruktif dan eustress yang merupakan kekuatan positif. Stres diperlukan untuk

menghasilkan prestasi yang tinggi. Semakin tinggi dorongan untuk berprestasi,

makin tinggi juga produktivitas dan efisiensinya. Demikian pula sebaliknya stres

kerja dapat menimbulkan efek yang negatif. Stres dapat berkembang menjadikan

tenaga kerja sakit, baik fisik maupun mental sehingga tidak dapat bekerja lagi

secara optimal (Ashar Sunyoto, 2001: 371,374).

2.1.1.2 Penyebab Stres Kerja

Menurut Gibson dkk (1996:343-350), penyebab stres kerja ada 4 yaitu

1) Lingkungan fisik

Penyebab stres kerja dari lingkungan fisik berupa cahaya, suara, suhu, dan

udara terpolusi.

2) Individual

Tekanan individual sebagai penyebab stres kerja terdiri dari:

(a) Konflik peran

Stressor atau penyebab stres yang meningkat ketika seseorang

menerima pesan- pesan yang tidak cocok berkenaan dengan perilaku

peran yang sesuai. Misalnya adanya tekanan untuk bergaul dengan

baik bersama orang- orang yang tidak cocok.

8
(b) Peran ganda

Untuk dapat bekerja dengan baik, para pekerja memerlukan informasi

tertentu mengenai apakah mereka diharapkan berbuat atau tidak

berbuat sesuatu. Peran ganda adalah tidak adanya pengertian dari

seseorang tentang hak, hak khusus dan kewajiban- kewajiban dalam

mengerjakan suatu pekerjaan.

(c) Beban kerja berlebih

Ada dua tipe beban berlebih yaitu kuantitatif dan kualitatif. Memiliki

terlalu banyak sesuatu untuk dikerjakan atau tidak cukup waktu untuk

menyelesaikan suatu pekerjaan merupakan beban berlebih yang

bersifat kuantitatif. Beban berlebih kualitatif terjadi jika individu

merasa tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan pekerjaan mereka atau standar penampilan yang

dituntut terlalu tinggi.

(d) Tidak adanya kontrol

Suatu stresor besar yang dialami banyak pekerja adalah tidak adanya

pengendalian atas suatu situasi. Sehingga langkah kerja, urutan kerja,

pengambilan keputusan, waktu yang tepat, penetapan standar kualitas

dan kendali jadwal merupakan hal yang penting.

(e) Tanggung jawab

Setiap macam tanggung jawab bisa menjadi beban bagi beberapa

orang, namun tipe yang berbeda menunjukkan fungsi yang berbeda

sebagai stresor.

9
(f) Kondisi kerja

3) Kelompok

Keefektifan setiap organisasi dipengaruhi oleh sifat hubungan diantara

kelompok. Karakteristik kelompok menjadi stresor yang kuat bagi

beberapa individu. Ketidakpercayaan dari mitra pekerja secara positif

berkaitan dengan peran ganda yang tinggi, yang membawa pada

kesenjangan komunikasi diantara orang- orang dan kepuasan kerja yang

rendah. Atau dengan kata lain adanya hubungan yang buruk dengan

kawan, atasan, dan bawahan.

4) Organisasional

Adanya desain struktur organisasi yang jelek, politik yang jelek dan tidak

adanya kebijakan khusus.

Sumber stres kerja menurut Carry Cooper (dikutip Jacinta F, 2002) ada 4

yaitu

1) Kondisi pekerjaan, meliputi

(a) Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan

mudah jatuh sakit, jika ruangan tidak nyaman, panas, sirkulasi

udara kurang memadahi, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan

kerja kurang bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada

kenyamanan kerja karyawan.

(b) Overload. Overload dapat dibedakan secara kuantitatif dan

kualitatif. Dikatakan overload secara kuantitatif jika banyaknya

10
pekerjaan yang ditargetkan melebihi kapasitas karyawan tersebut.

Akibatnya karyawan tersebut mudah lelah dan berada dalam

tegangan tinggi. Overload secara kualitatif bila pekerjaan tersebut

sangat kompleks dan sulit sehingga menyita kemampuan

karyawan.

(c) Deprivational stres. Kondisi pekerjaan tidak lagi menantang, atau

tidak lagi menarik bagi karyawan. Biasanya keluhan yang muncul

adalah kebosanan, ketidakpuasan, atau pekerjaan tersebut kurang

mengandung unsur sosial (kurangnya komunikasi sosial).

(d) Pekerjaan beresiko tinggi. Pekerjaan yang beresiko tinggi atau

berbahaya bagi keselamatan, seperti pekerjaan di pertambangan

minyak lepas pantai, tentara, dan sebagainya.

2) Konflik peran.

Stres karena ketidakjelasan peran dalam bekerja dan tidak tahu yang

diharapkan oleh manajemen. Akibatnya sering muncul ketidakpuasan

kerja, ketegangan, menurunnya prestasi hingga ahirnya timbul keinginan

untuk meninggalkan pekerjaan. Para wanita yang bekerja mengalami stres

lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Masalahnya wanita bekerja ini

menghadapi konflik peran sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah

tangga.

11
3) Pengembangan karir.

Setiap orang pasti punya harapan ketika mulai bekerja di suatu perusahaan

atau organisasi. Namun cita- cita dan perkembangan karir banyak sekali

yang tidak terlaksana.

4) Struktur organisasi .

Gambaran perusahaan yang diwarnai dengan struktur organisasi yang

tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran, wewenang dan

tanggung jawab, aturan main yang terlalu kaku atau tidak jelas, iklim

politik perusahaan yang tidak jelas serta minimnya keterlibatan atasan

membuat karyawan menjadi stres.

Adnyana Manuaba (2005:4), menyebutkan bahwa stres yang berkaitan

dengan pekerjaan, dapat disebabkan oleh

1) Tuntutan pekerjaan terlalu berat atau terlalu rendah

2) Pekerja tidak punya hak/ tidak diikutkan dalam mengorganisir kerja

mereka

3) Dukungan rendah dari manajemen dan teman sekerja

4) Konflik karena tuntutan yang tinggi seperti tercapainya kualitas dan

produktivitas.

Pengendalian yang buruk terhadap penyebab stres kerja dapat berakibat pada

penyakit dan menurunnya penampilan dan produktivitas.

Stres kerja dapat disebabkan oleh beban kerja yang dirasakan terlalu berat,

waktu kerja yang mendesak, kualitas pengawasan yang rendah, iklim kerja yang

12
tidak menentu, autoritas yang tidak memadahi yang berhubungan dengan

tanggung jawab, konflik kerja, perbedaan nilai antara karyawan dengan

perusahaan, dan frustasi (Anwar Prabu, 1993: 93).

Ashar Sunyoto (2001: 381), mengelompokkan faktor- faktor penyebab stres

dalam pekerjaan yaitu

1) Faktor- faktor intrinsik dalam pekerjaan

Meliputi tuntutan fisik dan tuntutan tugas. Tuntutan fisik berupa bising,

vibrasi (getaran), higene. Sedangkan tuntutan tugas mencakup:

(a) Kerja shift atau kerja malam

Kerja shift merupakan sumber utama dari stres bagi para pekerja

pabrik. Para pekerja shift lebih sering mengeluh tentang kelelahan

dan gangguan perut daripada para pekerja pagi, siang dan dampak

dari kerja shift terhadap kebiasaan makan yang mungkin

menyebabkan gangguan perut.

(b) Beban kerja

Beban kerja berlebih dan beban kerja terlalu sedikit merupakan

pembangkit stres.

(c) Paparan terhadap risiko dan bahaya

Risiko dan bahaya dikaitkan dengan jabatan tertentu merupakan

sumber stres. Makin besar kesadaran akan bahaya dalam

pekerjaannya makin besar depresi dan kecemasan pada tenaga

kerja.

13
2) Peran individu dalam organisasi

Setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus

dilakukan sesuai dengan aturan- aturan yang ada dan sesuai yang

diharapkan atasannya. Namun tenaga kerja tidak selalu berhasil

memainkan perannya sehingga timbul:

(a) Konflik peran

(b) Ketaksaan peran

Ketaksaan peran dirasakan jika seseorang tenaga kerja tidak

memiliki cukup informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya,

atau tidak mengerti atau tidak merealisasikan harapan- harapan

yang berkaitan dengan peran tertentu.

3) Pengembangan karier

Pengembangan karir merupakan pembangkit stres potensial yang

mencakup ketidakpastian pekerjaan, promosi berlebih dan promosi yang

kurang.

4) Hubungan dalam pekerjaan

Harus hidup dengan orang lain merupakan salah satu aspek dari

kehidupan yang penuh stres. Hubungan yang baik antar anggota dari satu

kelompok kerja dianggap sebagai faktor utama dalam kesehatan individu

dan organisaasi.

5) Struktur dan iklim organisasi

Kepuasan dan ketidakpastian kerja berkaitan dengan penilaian dari

struktur dan iklim organisasi. Faktor stres yang ditemui terpusat pada

14
sejauh mana tenaga kerja dapat terlibat atau barperan serta dalam

organisasi.

6) Tuntutan dari luar organisasi atau pekerjaan

Kategori pembangkit stres potensial ini mencakup segala unsur

kehidupan seorang yang dapat berinteraksi dengan peristiwa- peristiwa

kehidupan dan kerja didalam satu organisasi dan dengan demikian

memberikan tekanan pada individu. Isu tentang keluarga, krisis

kehidupan, kesulitan keuangan, keyakinan- keyakinan pribadi dan

organisasi yang bertentangan, konflik antara tuntutan keluarga dan

tuntutan perusahaan semuanya dapat merupakan tekanan pada individu

dalam pekerjaannya.

7) Ciri individu

Stres ditentukan oleh individunya sendiri, sejauhmana ia melihat

situasinya sebagai penuh stres.

Sarafino (dikutip Bart Smet, 1994: 117) membagi penyebab stres kerja

menjadi 4 yaitu

1) Lingkungan fisik yang terlalu menekan seperti kebisingan, temperatur

atau panas yang terlalu tinggi, udara yang lembab, penerangan di

kantor yang kurang terang.

2) Kurangnya kontrol yang dirasakan

3) Kurangnya hubungan interpersonal

15
4) Kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja. Para pekerja akan

merasa stres bila mereka tidak mendapatkan promosi yang selayaknya

mereka terima.

Sedangkan menurut Igor S (1997:248), stres kerja dapat disebabkan oleh

(a) Intimidasi dan tekanan dari rekan sekerja, pimpinan perusahaan dan

klien

(b) Perbedaan antara tuntutan dan sumber daya yang ada untuk

melaksanakan tugas dan kewajiban

(c) Ketidakcocokan dengan pekerjaan

(d) Pekerjaan yang berbahaya, membuat frustasi, membosankan atau

berulang- ulang

(e) Beban lebih

(f) Faktor- faktor yang diterapkan oleh diri sendiri seperti target dan

harapan yang tidak realistis, kritik dan dukungan terhadap diri sendiri.

2.1.1.3 Gejala Stres Kerja

Menurut Ashar Sunyoto (2001: 378) gejala- gejala stres di tempat kerja

sebagai berikut:

1) Tanda- tanda suasana hati (mood )

Berupa menjadi overexcited, cemas, merasa tidak pasti, sulit tidur

malam hari, menjadi mudah bingung dan lupa, menjadi sangat tidak

enak dan gelisah, menjadi gugup.

16
2) Tanda- tanda otot kerangka (musculoskeletal)

Berupa jari- jari dan tangan gemetar, tidak dapat duduk diam atau

berdiri di tempat, mengembangkan tic (gerakan tidak sengaja), kepala

mulai sakit, merasa otot menjadi tegang atau kaku, menggagap ketika

bicara, leher menjadi kaku.

3) Tanda- tanda organ- organ dalam badan (viseral)

Berupa perut terganggu, merasa jantung berdebar, banyak keringat,

tangan berkeringat, merasa kepala ringan atau akan pingsan,

mengalami kedinginan, wajah menjadi panas, mulut menjadi kering,

mendengar bunyi berdering dalam kuping.

Igor S (1997:249) menyatakan bahwa ada beberapa gejala- gejala dari stres

kerja yaitu

(a) Menolak perubahan

(b) Produktivitas dan efisiensi yang berkurang

(c) Kehilangan motivasi, ingatan, perhatian, tenggang rasa dan

pengendalian

(d) Kurang tidur, kehilangan nafsu makan dan menurunnya nafsu seks

(e) Tidak menyukai tempat bekerja dan orang- orang yang bekerja

bersama anda.

Carry Cooper dan Alison Straw (1995: 7) membagi gejala stres kerja menjadi

tiga yaitu

17
1) Gejala fisik

Gejala stres menyangkut fisik bisa mencakup: nafas memburu, mulut

dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot tegang,

pencernaan terganggu, mencret- mencret, sembelit, letih yang tak

beralasan, sakit kepala, salah urat, gelisah

2) Gejala- gejala dalam wujud perilaku

Banyak gejala stres yang menjelma dalam wujud perilaku, mencakup:

(a) Perasaan, berupa: bingung, cemas, dan sedih, jengkel, salah

paham, tak berdaya, tak mampu berbuat apa- apa, gelisah, gagal,

tak menarik, kehilangan semangat.

(b) Kesulitan dalam: berkonsentrasi, berfikir jernih, membuat

keputusan.

(c) Hilangnya: kreatifitas, gairah dalam penampilan, minat terhadap

orang lain.

3) Gejala- gejala di tempat kerja

Sebagian besar waktu bagi pekerja berada di tempat kerja, dan jika

dalam keadaan stres , gejala- gejala dapat mempengaruhi kita di

tempat kerja, antara lain:

(a) Kepuasan kerja rendah

(b) Kinerja yang menurun

(c) Semangat dan energi hilang

(d) Komunikasi tidak lancar

(e) Pengambilan keputusan jelek

18
(f) Kreatifitas dan inovasi berkurang

(g) Bergulat pada tugas- tugas yang tidak produktif.

Gejala- gejala stres kerja dapat berupa letih dan lelah, kecewa, perasaan tidak

berdaya, gangguan tidur, kegelisahan, ketegangan, kecemasan, cepat marah,

kehilangan rasa percaya diri, perasaan kesepian atau keterasingan, makan terlalu

sedikit, mudah tersinggung, berdebar- debar dan sulit berkonsentrasi (Bambang

Tarupolo, 2002:5).

Gejala stres kerja menurut Terry B dan John N (dikutip Jacinta F, 2002),

dapat dibagi dalam 3 aspek yaitu

1) Gejala psikologis, meliputi

Kecemasan, ketegangan, bingung, marah, sensitif, memendam perasaan,

komunikasi tidak efektif, mengurung diri, depresi, merasa terasing dan

mengasingkan diri, kebosanan, ketidakpuasaan kerja, lelah mental,

menurunnya fungsi intelektual, kehilangan daya konsentrasi, kehilangan

spontanitas dan kreativitas, kehilangan semangat hidup dan menurunnya

harga diri dan rasa percaya diri.

2) Gejala fisik, meliputi

Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, meningkatnya sekresi

adrenalin dan noradrenalin, gangguan gastrointestinal (misalnya

gangguan lambung), mudah terluka, mudah lelah secara fisik, kematian,

gangguan kardiovaskuler, gangguan pernafasan, lebih sering berkeringat,

19
gangguan pada kulit, kepala pusing, migrain, kanker, ketegangan otot,

problem tidur (sulit tidur, terlalu banyak tidur).

3) Gejala perilaku, meliputi

Menunda atau menghindari pekerjaan atau tugas, penurunan prestasi dan

produktivitas, meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk,

perilaku sabotase, meningkatnya frekuensi absensi, perilaku makan yang

tidak normal (kebanyakan atau kekurangan), kehilangan nafsu makan

dan penurunan drastis berat badan, meningkatnya kecenderungan

perilaku beresiko tinggi seperti berjudi, meningkatnya agresifitas dan

kriminalitas, penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan

keluarga dan teman serta kecenderungan bunuh diri.

Sedangkan menurut Agus M Hardjana (1994: 23-26) indikator- indikator stres

sebagai berikut:

1) Gejala fisikal berupa

(a) Sakit kepala, pusing, pening

(b) Tidur tidak teratur: insomnia (susah tidur), tidur terlantur, bangun

terlalu awal

(c) Sakit punggung terutama dibagian bawah

(d) Mencret- mencret dan radang usus besar

(e) Sulit buang air besar, sembelit

(f) Gatal- gatal pada kulit

(g) Urat tegang- tegang terutama pada leher dan bahu

20
(h) Terganggu pencernaanya atau bisulan

(i) Tekanan darah tinggi atau serangan jantung

(j) Keluar keringat banyak

(k) Selera makan berubah

(l) Lelah atau kehilangan daya energi

(m) Bertambah banyak melakukan kekeliruan atau kesalahan dalam

kerja dan hidup.

2) Gejala emosional

(a) Gelisah atau cemas

(b) Sedih, depresi, mudah menangis

(c) Merana jiwa dan hati atau mood berubah- ubah cepat

(d) Mudah panas dan marah

(e) Gugup

(f) Rasa harga diri menurun atau merasa tidak aman

(g) Terlalu peka dan mudah tersinggung

(h) Marah- marah

(i) Gampang menyerang orang dan bermusuhan

(j) Emosi mengering atau kehabisan sumber daya mental (burn out)

3) Gejala intelektual

(a) Susah berkonsentrasi atau memusatkan pikiran

(b) Sulit membuat keputusan

(c) Mudah terlupa

(d) Pikiran kacau

21
(e) Daya ingat menurun

(f) Melamun secara berlebihan

(g) Pikiran dipenuhi oleh satu pikiran saja

(h) Kehilangan rasa humor yang sehat

(i) Produktivitas atau prestasi kerja menurun

(j) Mutu kerja rendah

(k) Dalam kerja bertambah jumlah kekeliruan

4) Gejala interpersonal

(a) Kehilangan kepercayaan kepada orang lain

(b) Mudah mempersalahkan orang lain

(c) Mudah membatalkan janji atau tidak memenuhinya

(d) Suka mencari- cari kesalahan orang lain atau menyerang orang

dengan kata- kata

(e) Mengambil sikap terlalu membentengi dan mempertahankan diri

(f) Mendiamkan orang lain.

2.1.1.4 Dampak Stres Kerja

Menurut Gibson dkk (1996:363), dampak dari stres kerja banyak dan

bervariasi. Dampak positif dari stres kerja diantaranya motifasi pribadi,

rangsangan untuk bekerja lebih keras, dan meningkatnya inspirasi hidup yang

lebih baik. Meskipun demikian, banyak efek yang mengganggu dan secara

potensial berbahaya. Cox membagi menjadi 5 kategori efek dari stres kerja yaitu

22
1) Subyektif berupa kekhawatiran atau ketakutan, agresi, apatis, rasa

bosan, depresi, keletihan, frustasi, kehilangan kendali emosi,

penghargaan diri yang rendah, gugup, kesepian.

2) Perilaku berupa mudah mendapat kecelakaan, kecanduan alkohol,

penyalahgunaan obat, luapan emosional, makan atau merokok secara

berlebihan, perilaku impulsif, tertawa gugup.

3) Kognitif berupa ketidakmampuan untuk membuat keputusan yang

masuk akal, daya konsentrasi rendah, kurang perhatian, sangat sensitif

terhadap kritik, hambatan mental.

4) Fisiologis berupa kandungan glukosa darah meningkat, denyut jantung

dan tekanan darah meningkat, mulut kering, berkeringat, bola mata

melebar, panas, dan dingin.

5) Organisasi berupa angka absensi, omset, produktivitas rendah,

terasing, dari mitra kerja, komitmen organisasi dan loyalitas

berkurang.

Selain efek tersebut terdapat juga efek stres yang lain yaitu perilaku tidak

produktif dan menarik diri seperti lekas marah, kecanduan alkohol,

penyalahgunaan obat, dan tindakan legal (hukum) secara khusus mengganggu

dalam bentuk hilangnya produktivitas .

Menurut Bambang Tarupolo (2002:18), tenaga kerja yang tidak mampu

bereaksi secara baik terhadap stres yang dialami, kesehatan jiwanya akan tergangu

dan karenanya kualitas hidup dan produktivitasnya menjadi rendah. Karyawan

tersebut akan menunjukkan:

23
(a) Sering mengeluh sakit dan berobat

(b) Malas dan sering mangkir

(c) Sering membuat kesalahan dalam pekerjaan dan cenderung mengalami

kecelakaan kerja

(d) Sering marah dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan baik

(e) Tidak peduli dengan lingkungan, bingung dan pelupa

(f) Cara pandang yang negatif dan rasa permusuhan

(g) Terlibat penyalahgunaan narkoba

(h) Terlibat tindak sabotase di lingkungan kerja.

Igor S (1997:249) menyatakan beberapa akibat stres kerja yaitu

(a) Sering tidak masuk kerja

(b) Semangat dan produktivitas yang rendah

(c) Kepuasan kerja yang rendah

(d) Perputaran pegawai tinggi (banyak pegawai keluar)

(e) Kenaikan beban biaya terhadap masyarakat dan para majian.

Stres kerja dapat mengakibatkan hal- hal sebagai berikut:

(a) Penyakit fisik yang diinduksi oleh stres yaitu penyakit jantung

koroner, hipertensi, gangguan menstruasi, gangguan pencernaan, mual,

muntah, dan sebagainya.

(b) Kecelakaan kerja: terutama pada pekerjaan yang menuntut kinerja

yang tinggi, bekerja bergiliran (shift), penyalahgunaan zat aditif

24
(c) Absen: pegawai yang sulit menyelesaikan pekerjaan sebab tidak hadir

karena pilek, sakit kepala

(d) Lesu kerja: pegawai kehilangan motivasi bekerja

(e) Gangguan jiwa: mulai dari gangguan yang mempunyai efek yang

ringan dalam kehidupan sehari- hari sampai pada gangguan yang

mengakibatkan ketidakmampuan yang berat.Gangguan jiwa ringan

seperti mudah gugup, tegang, marah- marah, mudah tersinggung,

kurang berkonsentrasi, apatis dan depresi. Perubahan perilaku berupa

kurang partisipasi dalam pekerjaan, mudah bertengkar, terlalu mudah

mengambil resiko. Gangguan yang lebih jelas lagi dapat berupa

depresi, gangguan cemas (Laurentius Panggabean, 2003:2).

Menurut Jacinta (2002), stres kerja dapat juga mengakibatkan hal- hal sebagai

berikut:

1) Dampak terhadap perusahaan yaitu

(a) Terjadinya kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun

operasional kerja

(b) Mengganggu kenormalan aktivitas kerja

(c) Menurunnya tingkat produktivitas

(d) Menurunkan pemasukan dan keuntungan perusahaan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Randall Schuller, stres

yang dihadapi tenaga kerja berhubungan dengan penurunan prestasi

kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja dan kecenderungan

25
mengalami kecelakaan. Demikian pula jika banyak diantara tenaga

kerja di dalam organisasi atau perusahaan mengalami stres kerja, maka

produktivitas dan kesehatan organisasi itu akan terganggu.

2) Dampak terhadap individu.

Munculnya masalah- masalah yang berhubungan dengan:

(a) Kesehatan

Banyak penelitian yang menemukan adanya akibat-akibat stres

terhadap kesehatan seperti jantung, gangguan pencernaan, darah

tinggi, maag, alergi, dan beberapa penyakit lainnya.

(b) Psikologis

Stres berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan

kekuatiran yang terus menerus yang disebut stres kronis. Stres

kronis sifatnya menggerigoti dan menghancurkan tubuh, pikiran

dan seluruh kehidupan penderitanya secara perlahan- lahan.

(c) Interaksi interpersonal

Orang yang sedang stres akan lebih sensitif dibandingkan orang

yang tidak dalam kondisi stres. Oleh karena itu sering salah

persepsi dalam membaca dan mengartikan suatu keadaan, pendapat

dan penilaian, kritik, nasehat, bahkan perilaku orang lain. Orang

stres sering mengaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Pada

tingkat stres yang berat, orang bisa menjadi depresi, kehilangan

rasa percaya diri dan harga diri.

26
2.1.2 Produktivitas

2.1.2.1 Pengertian Produktivitas

Produktivitas kerja seringkali dikaitkan dengan keefektivan dan efisiensi dari

kerja atau dikaitkan dengan masalah rasio hasil kerja (keluaran) dan berbagai

sumber yang diperlukan untuk tercapainya hasil kerja tersebut (masukan) (I Ketut

Gde Juli S, 2004:17).

Menurut Sugeng Budiono (2003: 263) produktivitas mempunyai beberapa

pengertian yaitu

1) Pengertian fisiologi

Produktivitas yaitu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan

bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik kemarin, esok harus lebih

baik dari hari ini. Pengertian ini mempunyai makna bahwa dalam

perusahaan atau pabrik, manajemen harus terus menerus melakukan

perbaikan proses produksi, sistem kerja, lingkungan kerja dan lain- lain.

2) Produktivitas merupakan perbandingan antara keluaran (output) dan

masukan (input). Perumusan ini berlaku untuk perusahaan, industri dan

ekonomi keseluruhannya. Secara sederhana produktivitas adalah

perbandingan secara ilmu hitung, antara jumlah yang dihasilkan dan

jumlah setiap sumber daya yang dipergunakan selama proses berlangsung.

Produktivitas adalah hasil nyata terukur, yang dapat dicapai seseorang dalam

lingkungan kerja nyata untuk setiap satuan (Sjahmien Moehji, 2003: 75).

27
Husein Umar (1998:9) menyatakan produktivitas adalah hasil perbandingan

antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang

digunakan (input).

2.1.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas

Faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas kerja karyawan

antara lain motivasi, kepuasan kerja, tingkat stres, kondisi fisik pekerjaan, sistem

kompensasi, desain pekerjaan dan aspek- aspek ekonomis (Handoko, 2001:193).

Sritomo Wignjosoebroto (2003:9) mengungkapkan bahwa pada hakikatnya

produktivitas kerja akan banyak ditentukan oleh 2 faktor utama yaitu

1) Faktor teknis

yaitu faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan penerapan

fasilitas produksi secara lebih baik, penerapan metode kerja yang

lebih efektif dan efisien, dan atau penggunaan bahan baku yang lebih

ekonomis.

2) Faktor manusia

Yaitu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap usaha- usaha yang

dilakukan manusia didalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi

tugas dan tanggung jawabnya. Ada 2 hal pokok yang menentukan,

yaitu kemampuan kerja dari pekerja tersebut dan yang lain adalah

motivasi kerja yang merupakan pendorong ke arah kemajuan dan

peningkatan prestasi kerja atas seseorang.

28
Sjahmien Moellfi (2003:75) menyatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi

produktivitas yaitu

1) Beban kerja

Berhubungan langsung dengan beban fisik, mental maupun sosial yang

mempengaruhi tenaga kerja sehingga upaya penempatan pekerja yang

sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan.

2) Kapasitas kerja

Kapasitas kerja adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan

pekerjaannya pada waktu tertentu. Kapasitas kerja sangat bergantung pada

jenis kelamin, pendidikan, ketrampilan, usia dan status gizi.

3) Beban tambahan akibat lingkungan kerja

Lingkungan kerja yang buruk akan memberikan dampak berupa

penurunan produktivitas kerja, antara lain:

(a) Faktor fisik seperti panas, iklim kerja, kebisingan, pencahayaan, dan

getaran.

(b) Faktor kimia seperti bahan- bahan kimia, gas, uap, kabut, debu,

partikel.

(c) Faktor biologis seperti penyakit yang disebabkan infeksi, jamur, virus,

dan parasit.

(d) Fisiologis, letak kesesuaian ukuran tubuh tenaga kerja dengan

peralatan, beban kerja, posisi dan cara kerja yang akan mempengaruhi

produktivitas kerja.

29
(e) Faktor psikologis, berupa kesesuaian antara hubungan kerja antar

karyawan sendiri, karyawan atasan, suasana kerja yang kurang baik

serta pekerjaan yang monoton.

Balai Pengembangan Produktivitas Daerah (dikutip Husein Umar, 1998:11)

menyebutkan ada 6 faktor utama yang menentukan produktivitas tenaga kerja

yaitu

(a) Sikap kerja

(b) Tingkat ketrampilan

(c) Hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan

(d) Manajemen produktivitas

(e) Efisiensi tenaga kerja

(f) Kewiraswastaan

Sedangkan menurut Sugeng Budiono dkk (2003:265), produktivitas

dipengaruhi banyak faktor. Faktor- faktor tersebut dapat berada dalam diri tenaga

kerja maupun diluar diri tenaga kerja itu sendiri. Didalam diri tenaga kerja antara

lain sikap mental, motivasi, disiplin dan etos kerja. Faktor lain yang dapat

mempengaruhi produktivitas yaitu pendidikan, ketrampilan dan kemampuan,

sistem manajemen, teknologi yang digunakan, sarana produksi, iklim lingkungan

kerja, kesehatan dan gizi kerja, jaminan sosial.

30
2.1.2.3 Pengukuran Produktivitas

Menurut I Ketut Gde Juli S (2004:18), produktivitas kerja seringkali dikaitkan

dengan keefektivan dan efisiensi dari kerja atau dikaitkan dengan masalah rasio

hasil kerja (keluaran) dan berbagai sumber yang diperlukan untuk tercapainya

hasil kerja tersebut (masukan). Rasio keluaran dan masukan ini dapat juga dipakai

untuk mengetahui usaha yang dilakukan manusia. Produktivitas secara umum

dapat diformulasikan sebagai berikut:

Produktivitas = Output

Input . Waktu

Menurut Sritomo Wignjosoebroto (2003:5-7), produktivitas merupakan rasio

antara keluaran (output) dan masukan (input). Untuk beberapa jenis masukan atau

keluaran tertentu kadang- kadang agak sulit diukur besarnya karena sifatnya yang

abstrak. Masukan terdiri bahan baku dan penunjang, tenaga kerja, mesin dan

fasilitas produksi lainnya, informasi, energi, waktu. Selain itu terdapat masukan

yang sulit dinilai dan diukur besarnya, tetapi cukup penting dalam penentuan

produktivitas kerja. Faktor itu dikenal dengan masukan bayangan (invisible input)

yang antara lain meliputi tingkat pengetahuan, kemampuan teknis, metodologi

kerja dan pengaturan organisasi serta motivasi kerja. Sehingga produktivitas dapat

diformulasikan sebagai berikut:

Produktivitas = Output

Input (Measurable) + Input (Invisible)

31
Produktivitas akan bertambah bila ada penambahan secara proporsional dari nilai

keluaran per masukan. Bilamana masukan dalam keadaan konstan, sedang

keluaran yang dihasilkan terus bertambah, maka hal ini menunjukkan bahwa

sumber- sumber produksi (masukan) telah berhasil dilaksanakan, dioperasikan,

dimanfaatkan dan dikelola secara efektif dan efisien. Untuk mengukur

produktivitas kerja dari tenaga kerja manusia, operator mesin misalnya,

produktivitas dapat hitung dengan:

Produktivitas = Total keluaran yang dihasilkan

Tenaga kerja Jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan

Produktivitas dari tenaga kerja ditunjukkan sebagai rasio dari jumlah keluaran

yang dihasilkan per total tenaga kerja yang jam manusia (man- hour), yaitu jam

kerja yang dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Untuk produk-

produk tertentu rasio antara keluaran dan pemasukan dapat dinyatakan dalam

jumlah produk yang dibuat per jam kerja yang dipergunakan untuk itu. Seseorang

dinyatakan telah bekerja dengan produktif jikalau ia menunjukkan output kerja

yang paling tidak telah mencapai suatu ketentuan minimal. Ketentuan ini

didasarkan atas besarnya keluaran yang dihasilkan secara normal dan diselesaikan

dalam jangka waktu yang layak pula. Ada 2 unsur dalam kriteria produktivitas

yaitu

a. Besar atau kecilnya keluaran yang dihasilkan

b. Waktu kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

32
Sugeng Budiono (2003:263) menyatakan bahwa produktivitas dapat

dirumuskan sebagai berikut:

P=O

Dimana: P : Produktivitas

O : Keluaran (output)

I : Masukan ( Input )

Masukan dapat berupa bahan baku, teknologi (pabrik, mesin, peralatan kerja),

modal, SDM. Produktivitas dapat digunakan sebagai ukuran tingkat efisiensi,

efektivitas dan kualitas setiap sumber daya yang digunakan selama produksi

berlangsung. Hasil bagi antara output dan input akan menghasilkan suatu besaran

angka mutlak. Angka ini akan memperlihatkan:

1) Apakah produktivitas akan meningkat dari satu periode ke periode yang lain ?

2) Apakah produktivitas suatu perusahaan lebih baik dari yang lain?

Setiap sumber daya mempunyai produktivitas tersendiri (produktivitas partial).

Produktivitas dari masing- masing sumber daya dihitung sebagai berikut:

a) Produktivitas tenaga kerja = Keluaran

Jumlah tenaga kerja

b) Produktivitas modal = Keluaran

Jumlah modal

33
c) Produktivitas bahan = Keluaran

Jumlah bahan

Produktivitas akan meningkat bila:

1) Keluaran meningkat tetapi masukan menurun

2) Keluaran tetap tetapi masukan menurun

3) Keluaran meningkat dan masukan meningkat tetapi perbedaan

keluaran lebih besar dari kenaikan masukan.

Produktivitas dikatakan meningkat bila P ≥ 1, yaitu:

1) Tenaga kerja mampu menghasilkan keluaran (barang) yang lebih besar

dalam waktu yang sama.

2) Hasil perhitungan:

Produktivitas Tenaga Kerja ≥1

Produktivitas yang Diharapkan

Sedangkan menurut Husein Umar (1998:10), produktivitas memiliki 2

dimensi yaitu

1) Efektivitas yang mengarah kepada pencapaian unjuk kerja yang

maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas,

kuantitas, dan waktu

2) Efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan

realisasi penggunaanya atau bagaimana pekerjaan tersebut

dilaksanakan.Berdasarkan hal tersebut, produktivitas dapat

diformulasikan sebagai berikut:

34
Produktivitas = Efektivitas menghasilkan output

Efisiensi menggunakan input

2.1 Hipotesis

Ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita di

bagian linting rokok PT Gentong Gotri Semarang.

35
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Populasi Penelitian

Menurut Sugiyono (2002:55), populasi adalah wilayah generalisasi yang

terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik

tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya.

Populasi dalam penelitian ini adalah tenaga kerja bagian linting PT Gentong

Gotri Semarang yang berjumlah 100 orang.

3.2 Sampel Penelitian

Menurut Sugiyono (2002:56), sampel adalah sebagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian ini sampel sebanyak

25 orang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik sampling purposive, yaitu

teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun pertimbangan

tersebut yaitu

1) Tenaga kerja wanita

2) Sudah berkeluarga

3) Umur 20- 35 tahun

4) Masa kerja 1-5 tahun

5) Pendidikan terakhir SMP

6) Kesehatan fisik baik (tidak sedang sakit).

36
37

3.3 Variabel Penelitian

Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab

timbulnya atau berubahnya variabel dependen (variabel terikat). Jadi variabel

independen adalah variabel yang mempengaruhi. Sedangkan variabel dependen

atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat

karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2002:3). Dalam penelitian ini variabel

yang digunakan yaitu

1) Variabel bebas yaitu stres kerja

2) Variabel terikat yaitu produktivitas

3) Variabel pengganggu yaitu beban kerja, beban tambahan lingkungan

kerja tidak diukur karena tempat kerja sama sehingga dianggap sama.

Sedangkan jenis kelamin, status, kesehatan fisik, umur, masa kerja,

pendidikan dikendalikan.

Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat

Stres kerja Produktivitas

Variabel Pengganggu
Beban Kerja, Beban Tambahan
Lingkungan Kerja
Jenis kelamin, status, kesehatan
fisik, umur, masa kerja,
pendidikan
38

3.4 Rancangan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei analitik dengan

pendekatan cross sectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika

korelasi antara faktor- faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan,

observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach)

(Soekidjo Notoatmodjo, 2002:145). Jadi dalam penelitian ini semua subjek

penelitian diamati pada waktu yang sama.

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat- alat yang digunakan untuk pengumpulan

data (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:48). Dalam penelitian ini instrumen yang

digunakan berupa:

3.5.1 Skala Stres Kerja

Dalam penelitian ini, skala stres kerja disusun berdasarkan indikator-

indikator atau gejala- gejala stres kerja menurut Carry Cooper dan Alison Straw

(1995: 7). Gejala- gejala stres kerja dibagi menjadi 3 yaitu

1) Gejala fisik

Gejala stres menyangkut fisik bisa mencakup: nafas memburu, mulut dan

kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot tegang, pencernaan

terganggu, mencret- mencret, sembelit, letih yang tak beralasan, sakit kepala,

salah urat, gelisah.

2) Gejala- gejala dalam wujud perilaku

Banyak gejala stres yang menjelma dalam wujud perilaku, mencakup:


39

(a) Perasaan, berupa: bingung, cemas, dan sedih, jengkel, salah paham, tak

berdaya, tak mampu berbuat apa- apa, gelisah, gagal, tak menarik,

kehilangan semangat..

(b) Kesulitan dalam: berkonsentrasi, berfikir jernih, membuat keputusan.

(c) Hilangnya: kreatifitas, gairah dalam penampilan, minat terhadap orang

lain.

3) Gejala- gejala di tempat kerja

Sebagian besar waktu bagi pekerja berada di tempat kerja, dan jika dalam

keadaan stres , gejala- gejala dapat mempengaruhi kita di tempat kerja, antara

lain:

(a) Kepuasan kerja rendah

(b) Kinerja yang menurun

(c) Semangat dan energi hilang

(d) Komunikasi tidak lancar

(e) Pengambilan keputusan jelek

(f) Kreatifitas dan inovasi berkurang

(g) Bergulat pada tugas- tugas yang tidak produktif

Dalam skala stres kerja ini terdiri dari 2 pernyataan yaitu pernyataan positif

(Favorabel) dan pernyataan negatif (Unfavorable). Pernyataan positif adalah

pernyataan yang mendukung tentang stres kerja dan pernyataan negatif adalah

pernyataan yang tidak mendukung stres kerja. Dalam skala ini disediakan 4

jawaban yaitu selalu, seringkali, kadang- kadang, dan tidak pernah. Dengan

penilaian selalu = 4, seringkali = 3, kadang- kadang = 2, tidak pernah = 1 untuk

pernyataan positif. Sedangkan untuk pernyataan negatif selalu = 1, seringkali = 2.


40

kadang- kadang = 3, dan tidak pernah = 4. Dari 40 pernyataan dapat disusun

jawaban skala stres kerja sebagai berikut:

Tabel 1
Komponen dan Distribusi Butir Soal Skala Stres Kerja

No Indikator stres No Item Jumlah

kerja Favourable Unfavourable

1. Gejala fisik 1,2,7,8,9,15,16,20,40 36 10

2. Gejala dalam 3,10,11,18,21,22,25,26, 17,29,33 17

wujud perilaku 27,30,34,37,38,39

3. Gejala di tempat 4,6,12,14,19,24,31 5,13,23,28,32,35 13

kerja

Jumlah 30 10 40

3.5.1.1 Pengujian Skala Stres kerja

Untuk mendapatkan instrumen yang ampuh dalam mengukur seluruh

indikator atau gejala dalam skala stres kerja, maka dilakukan uji instrumen

terlebih dahulu. Uji instrumen tersebut meliputi uji validitas dan reliabilitas.

3.5.1.1.1 Validitas Butir Soal Skala Stres Kerja

Rumus yang digunakan Product Moment yaitu

N ∑ XiYi − (∑ Xi )(∑ Yi )
rxy =
{n ∑ Xi 2
− (∑ Xi ) n ∑ Yi 2 − (∑ Yi )
2
}{ 2
}
Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi tiap butir
n = Jumlah peserta tes
∑Xi = Jumlah skor butir
∑Yi = Jumlah skor total
41

∑XiYi = Jumlah perkalian skor butir dan skor total


∑Xi2 = Jumlah kuadrat butir
∑Yi2 = Jumlah kuadrat skor total (Sugiyono, 2002:213).

Untuk menentukan valid atau tidaknya pernyataan yang digunakan dalam

skala stres kerja, dilakukan dengan mengkorelasikan skor butir pernyataan dengan

skor total. Hasil perhitungan validitas butir pernyataan dapat dilihat pada lampiran

3. Setelah dilakukan korelasi skor total dengan skor butir pernyataan, maka rxy

didapatkan. Kemudian dibandingkan dengan rtabel product moment. Untuk n = 5

dan taraf signifikan 5% diperoleh harga rtabel sebesar 0, 878. Apabila rhitung > rtabel

maka pernyataan yang bersangkutan dinyatakan valid, sebaliknya apabila

rhitung < rtabel maka pernyataan yang bersangkutan dinyatakan tidak valid.

Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan:

1) Pernyataan yang mempunyai rhitung < 0, 878 = pernyataan nomor 16 yaitu

sebesar -0,0039 dan pernyataan nomor 28, yaitu sebesar -0,2572. Dengan

demikian, pernyataan nomor 16 dan 28 dinyatakan tidak valid.

2) Pernyataan yang mempunyai rhitung > 0, 878 = seluruh pernyataan kecuali

pernyatan nomor 16 dan 28. Dengan demikian, pernyataan selain nomor 16

dan 28 dinyatakan valid.

Sehingga pernyataan yang digunakan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai

berikut:
42

Tabel 2
Komponen dan Distribusi Butir Soal Skala Stres Kerja

No Indikator stres No Item Jumlah

kerja Favourable Unfavourable

1. Gejala fisik 1,2,7,8,9,15,20,40 36 9

2. Gejala dalam 3,10,11,18,21,22,25,26, 17,29,33 17

wujud perilaku 27,30,34,37,38,39

3. Gejala di tempat 4,6,12,14,19,24,31 5,13,23,32,35 12

kerja

Jumlah 29 9 38

3.5.1.1.2 Uji Reliabilitas Instrumen

Uji reliabilitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan teknik Alpha,

dengan rumus:

 k  ∑ σb 
2
r11 =  1 − 
 k − 1  σ 12 

Keterangan:

r11 : Reliabilitas instrumen

Σσb2 : Jumlah varians butir

k : Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

σ12 : Varians total (Suharsimi Arikunto, 2002:171).


43

Penentuan reliabilitas instrumen dilakukan dengan membandingkan harga

koefisien r Alpha dengan r tabel. Apabila rhitung > rtabel, maka instrumen tersebut

dinyatakan reliabel.

Perhitungan reliabilitas instrumen dapat dilihat pada lampiran 3. Dari hasil

perhitungan reliabilitas instrumen diperoleh rhitung = 0, 9930. Untuk n = 5 dengan

taraf signifikansi 5% diperoleh rtabel sebesar 0, 878. Dengan demikian rhitung > rtabel,

sehingga instrumen dinyatakan reliabel.

Dalam penelitian ini tingkatan stres kerja disajikan dalam 5 tingkatan yaitu

sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Menurut Sudjana (1996:

47), langkah-langkah yang dilakukan untuk penentuan tingkatan tersebut adalah

sebagai berikut:

a. Menentukan skor maksimal = jumlah item skala x skor maksimal

= 38 x 4 = 152

b. Menentukan skor minimal = jumlah soal x skor minimal

= 38 x 1 = 38

c. Menentukan rentang skor = skor maksimal – skor minimal

= 152 – 38 = 114

d. Jumlah kelas kategori = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 25

= 5,6 dibuat 5 kelas kategori

e. Panjang kelas = rentang skor : jumlah kelas

=114 :5 = 22,8
44

Adapun penentuan kriteria tingkatan stres kerja sebagai berikut:

1) Jika nilai terletak pada interval 38-59,8 maka mengalami stres kerja tingkat

sangat rendah.

2) Jika nilai terletak pada interval 60,8- 82,9 maka mengalami stres kerja tingkat

rendah.

3) Jika nilai terletak pada interval 83,6-105,4 maka mengalami stres kerja tingkat

sedang.

4) Jika nilai terletak pada interval 106,4- 128,2 maka mengalami stres kerja

tingkat tinggi

5) Jika nilai terletak pada interval 129,2-152 maka mengalami stres kerja tingkat

sangat tinggi.

3.5.2 Lembar Pencatatan Produktivitas Tenaga kerja

Produktivitas tenaga kerja merupakan rasio antara jumlah barang yang

dihasilkan tenaga kerja dan waktu yang dibutuhkan. Produktivitas tenaga kerja

diukur dengan cara:

Jumlah batang rokok yang dihasilkan dalam 1 minggu

Jumlah batang rokok yang ditargetkan perusahaan 1 minggu

Dengan kriteria:

Jika hasilnya: < 1, maka produktivitas rendah

≥ 1, maka produktivitas tinggi

3.6 Prosedur Penelitian

Dalam penelitian ini melalui beberapa tahap yaitu:

1) Pembuatan proposal skripsi dan bimbingan kepada kedua dosen pembimbing.


45

2) Pembuatan surat ijin observasi di PT Gentong Gotri semarang.

3) Mengajukan permohonan ijin observasi kepada perusahaan tersebut.

4) Penerimaan dari perusahaan untuk melakukan observasi dan penelitian.

5) Observasi terhadap lokasi serta wawancara terhadap tenaga kerja bagian

linting.

6) Penyusunan Skala Stres Kerja.

7) Persetujuan terhadap Skala Stres Kerja yang telah disusun serta pengesahan

proposal untuk melakukan peneltitian.

8) Pembuatan surat ijin penelitian di bagian linting PT Gentong Gotri Semarang.

9) Permohonan ijin penelitian di bagian linting PT Gentong Gotri Semarang

10) Penerimaan dari perusahaan untuk melakukan penelitian di perusahaan

tersebut.

11) Meminta ijin kepada perusahaan dan pengawas bagian linting untuk

pemberian Skala Stres Kerja kepada tenaga kerja. Sebelum skala diberikan

pada sampel, skala terlebih dahulu diuji cobakan kebagian lain.

12) Setelah skala valid dan reliabel, skala dibagikan kepada responden bagian

linting untuk diisi. Dan skala dikumpulkan lagi.

13) Setelah Skala Stres Kerja dan data jumlah produk yang dihasilkan tenaga

kerja diperoleh dilakukan analisis data.

3.7 Teknik Pengambilan Data

3.7.1 Skala Stres Kerja

Skala adalah alat pengumpulan data untuk menerangkan, menggolongkan dan

menilai seseorang atau suatu gejala. Skala berupa daftar yang berisikan ciri- ciri
46

tingkah laku, yang dicatat secara bertingkat (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:100).

Dalam penelitian ini skala yang digunakan yaitu Skala stres kerja. Skala stres

kerja adalah alat pengumpulan data untuk menerangkan, menggolongkan dan

menilai gejala- gejala stres kerja. Skala stres kerja berisi indikator- indikator atau

gejala- gejala perilaku stres kerja (Saifudin Azwar, 1999:2).

Dalam penelitian ini skala stress kerja diberikan secara langsung kepada

responden yang menjadi subyek penelitian. Adapun cara pemberian dan

pengumpulan skala stres kerja sebagai berikut:

1) Meminta ijin pada perusahaan untuk membagikan skala stress kerja pada

responden di bagian linting.

2) Sebelum skala diberikan pada sample, skala diuji cobakan pada bagian lain.

3) Setelah skala valid dan reliabel kemudian skala diberikan pada 25 responden

di bagian linting.

4) Responden diberikan waktu selama 30 menit untuk mengisi skala stress kerja.

5) Setelah 30 menit skala dikumpulkan kembali.

3.7.2 Pencatatan Produktivitas Kerja

Pengukuran produktivitas tenaga kerja dilakukan terhadap 25 responden

selama 1 minggu. Cara yang digunakan dalam pencatatan produktivitas responden

sebagai berikut:

1) Meminta ijin pada perusahaan untuk mencatat data jumlah rokok yang

dihasilkan responden selama 1 minggu.

2) Setelah ijin didapatkan maka dilakukan pencatatan terhadap jumlah rokok

yang dihasilkan responden.


47

3) Kemudian dilakukan pengukuran produktivitas dari 25 responden

4) Setelah pengukuran produktivitas kerja selesai kemudian dilakukan pencatatan

produktivitas responden.

3.8 Analisis Data

Setelah semua data terkumpul maka langkah selanjutnya adalah analisis data,

sehingga data tersebut dapat ditarik menjadi suatu simpulan. Adapun data

dianalisis dengan menggunakan bantuan komputer yang meliputi:

3.8.1 Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan variabel stres kerja dan

variabel produktivitas kerja yang disajikan dalam bentuk mean, nilai terendah,

nilai tertinggi dan standar deviasi.

3.8.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan variabel bebas dan

variabel terikat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan skala data yaitu

ordinal. Uji statistik yang digunakan adalah korelasi Rank spearman.

Menurut Sugiyono (2002: 216), kriteria keeratan hubungan antara variabel

bebas dan variabel terikat, yaitu sebagai berikut :

1. 0,00 – 0,199 : hubungan sangat rendah

2. 0,20 – 0,399 : hubungan rendah

3. 0,40 – 0,599 : hubungan cukup kuat

4. 0,60 – 0,799 : hubungan kuat

5. 0,80 – 1,000 : hubungan sangat kuat.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

Langkah yang dilakukan setelah mendapatkan data dari seluruh responden

adalah mendeskripsikan data hasil penelitian. Deskripsi data ini dimaksudkan

untuk memperoleh gambaran secara nyata dan jelas tentang aspek- aspek atau

faktor- faktor yang menjadi variabel penelitian. Deskripsi data dalam penelitian

ini akan mengungkap gambaran tentang stres kerja dan produktivitas yang

dialami oleh tenaga kerja wanita bagian linting PT Gentong Gotri Semarang.

Pendeskripsian data dilakukan dengan menggunakan perhitungan mean (rata-

rata), skor tertinggi dari responden, skor terendah dari responden serta standar

deviasi.

4.1.1 Stres Kerja

Pengukuran tingkat stres kerja pada tenaga kerja wanita dalam penelitian ini

dilakukan dengan menggunakan skala stres kerja. Setelah dilakukan pengumpulan

data diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 3
Statistik Deskriptif Variabel Stress Kerja
Jumlah Nilai Nilai Mean Standar

Sampel terendah Tertinggi deviasi

25 65,00 94,00 79,2000 9,79371


49

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa dari sampel penelitian

sejumlah 25 responden, rata-rata skor yang diperoleh seluruh responden adalah

79,2 dengan standar deviasi sebesar 9,79. Skor tertinggi yang diperoleh responden

adalah sebesar 94 dan skor terendah yang dicapai responden sebesar 65.

4.1.2 Produktivitas Tenaga Kerja

Pengukuran tingkat produktivitas tenaga kerja wanita dalam penelitian ini

dilakukan dengan pencatatan. Setelah dilakukan pengumpulan data diperoleh hasil

statistik deskriptif sebagai berikut:

Tabel 4
Statistik Deskriptif Variabel Produktivitas Kerja

Jumlah Nilai Nilai Mean Standar

Sampel Terendah Tertinggi Deviasi

25 0,81 1,24 1,0516 0,11164

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa dari sampel penelitian

sejumlah 25 responden, rata-rata tingkat produktivitas kerja yang ditunjukkan

seluruh responden adalah 1,0516 dengan standar deviasi sebesar 0,1116. Tingkat

produktivitas tertinggi yang ditunjukkan responden adalah sebesar 1,24 dan

tingkat produktivitas terendah yang dicapai responden sebesar 0,81.


50

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Penyajian Data Hasil Penelitian

Penyajian data hasil penelitian dimaksudkan untuk menggambarkan sebaran

data hasil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan daftar disribusi

frekuensi serta dilengkapi dengan tabel dan grafik.

4.2.1.1 Stres Kerja

Gambaran tingkatan stres kerja dalam penelitian ini disajikan dalam 5

tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.

Tabel 5
Daftar Distribusi Frekuensi Tingkatan Stress Kerja

INTERVAL KATEGORI FREKUENSI PROSENTASE


38 - 59.8 SANGAT RENDAH 0 0
60.8 - 82.6 RENDAH 15 60
83.6 - 105.4 SEDANG 10 40
106.4 - 128.2 TINGGI 0 0
129.2 - 152 SANGAT TINGGI 0 0
Jumlah 25 100 %
Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai

berikut:

Grafik 1
Tingkatan Stress Kerja Tenaga Kerja

60
50
40
30
PROSENTASE
20
10
0
SANGAT RENDAH SEDANG TINGGI SANGAT
RENDAH TINGGI
51

Berdasarkan tabel dan grafik di atas, dapat diketahui bahwa dari 25

responden, 15 orang (60%) mempunyai tingkat stres kerja yang rendah dan 10

orang (40%) mempunyai tingkat stres kerja pada taraf sedang. Hasil tersebut juga

menunjukkan tidak ada responden yang mempunyai stress kerja pada tingkatan

sangat rendah, tinggi dan sangat tinggi.

4.2.1.2 Produktivitas Kerja

Tingkatan produktivitas responden disajikan dalam 2 tingkatan yaitu

produktivitas tinggi dan produktivitas rendah. Produktivitas diukur dengan

membandingkan jumlah rokok yang dihasilkan selama1 minggu dan jumlah rokok

yang ditargetkan selama 1 minggu. Apabila hasilnya 1 atau lebih maka tenaga

kerja tersebut dinyatakan mempunyai produktivitas kerja tinggi, namun jika

tingkat produktivitas yang diperoleh kurang dari 1, maka tenaga kerja tersebut

dinyatakan mempunyai tingkat produktivitas kerja yang rendah. Berdasarkan

pengukuran produktivitas kerja responden didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 6
Prosentase Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja Wanita
PRODUKTIVITAS KERJA FREKUENSI PROSENTASE
RENDAH 8 32
TINGGI 17 68
JUMLAH 25 100 %

Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai

berikut:
52

Grafik 2
Tingkatan Produktivitas Tenaga Kerja

70
60
50
40
30 PROSENTASE

20
10
0
RENDAH TINGGI

Berdasarkan tabel dan grafik di atas, diketahui bahwa 8 responden (32%)

mempunyai tingkat produktivitas kerja yang rendah, sedangkan 17 responden

(68%) mempunyai tingkat produktivitas kerja yang tinggi.

4.2.2 Pengujian Hipotesis Penelitian

Analisis terhadap data dilakukan untuk menjawab hipotesis penelitian yang

telah disusun. Teknik yang digunakan adalah dengan menggunakan korelasi Rank

Spearman. Dengan menggunakan teknik tersebut akan diperoleh nilai rhohitung

(ρhitung). Hasil perhitungan dapat disajikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 7
Korelasi Rank Spearman Variabel Bebas dan Variabel Terikat

Jumlah Variabel Variabel Batas P ρ hitung


Sampel Bebas Terikat Signifikan
25 Stres Kerja Produktivitas 0,01 0,005 -0,549

Berdasarkan tabel di atas, didapatkan besarnya probabilitas = 0,005. Karena

probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak, yang artinya ada hubungan antara stres kerja

dengan produktivitas tenaga kerja wanita.


53

Dari tabel di atas, juga terlihat ρ hitung = -0,549 (di antara nilai 0,40- 0,599),

yang artinya ada hubungan yang cukup kuat antara dua variabel (Sugiyono,

2004:216). Koefisien korelasi mempunyai tanda negatif yang berarti semakin

tinggi stres kerja maka produktivias tenaga kerja semakin rendah. Demikian

sebaliknya makin rendah stres kerja, maka produktivitas tenaga kerja semakin

tinggi.

4.3 Pembahasan

Berdasarkan analisis deskriptif pada variabel stres kerja dapat diketahui

bahwa dari 25 responden, 15 orang (60%) mempunyai tingkat stres kerja rendah

dan 10 orang (40%) mempunyai tingkat stres kerja pada taraf sedang dan tidak

ada responden yang mempunyai tingkat stres kerja sangat rendah, tinggi dan

sangat tinggi.

Berdasarkan observasi dan hasil pengisian skala stres kerja yang dilakukan

responden, beberapa hal yang dapat diduga sebagai penyebab stres kerja yang

dialami oleh tenaga kerja yaitu:

1. Faktor- faktor intrinsik pekerjaan, meliputi:

(a) Tuntutan fisik: tempat kerja yang dirasakan bising karena alat kerja, posisi

kerja yang tidak nyaman, ketidaksesuaian antara sarana kerja dengan

bentuk tubuh, keterbatasan gerak saat bekerja.

(b) Tuntutan tugas: Tenaga kerja melakukan pekerjaan secara berulang- ulang

sehingga mengakibatkan kebosanan.


54

2. Peran individu dalam organisasi, meliputi:

(a) Konflik peran: responden mengalami konflik peran yaitu disatu sisi

berperan sebagai ibu rumah tangga dan disisi lain berperan sebagai

pekerja yang harus menyelesaikan pekerjaan.

(b) Tidak dapat mencapai target yang ditetapkan perusahaan.

3. Tidak adanya perkembangan karir sehingga tenaga kerja merasa tidak puas

dengan pekerjaan saat ini.

4. Hubungan dalam organisasi, terdiri:

(a) Tidak adanya kecocokan dengan teman sekerja

(b) Tidak adanya kecocokan dengan atasan.

5. Struktur Organisasi, berkaitan dengan tidak adanya hak yang dimiliki oleh

tenaga kerja dalam mengorganisir pekerjaan mereka.

6. Hubungan diluar organisasi atau pekerjaan, meliputi adanya masalah keluarga

yang terbawa di tempat kerja.

Gejala-gejala stres kerja yang banyak dialami oleh tenaga kerja adalah

sebagai berikut

1. Gejala fisik

a. Menjadi susah tidur bila sedang mempunyai masalah (nomor 1)

b. Telapak tangan berkeringat bilang sedang bekerja (nomor 2)

c. Kepala terasa sakit bila banyak pekerjaan yang belum selesai (nomor 7)

d. Merasa panas meskipun bekerja di tempat kerja dengan jendela yang

cukup (nomor 8)
55

e. Bila bekerja terlalu lama leher menjadi kaku (nomor 19)

f. Nafsu makan berubah jika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan

(nomor 34)

2. Gejala perilaku secara umum

a. Merasa bingung bila melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan

kemampuannya (nomor 3)

b. Menerima semua kebijakan dari perusahaan (nomor 10)

c. Tidak tenang bila menghadapi banyak persaingan dengan teman sekerja

(nomor 16)

d. Merasa tidak cocok dengan teman sekerja (nomor 24)

e. Merasa gelisah bila ada masalah dalam pekerjaan (nomor 26)

f. Tidak mudah menyesuaikan dengan lingkungan kerja (nomor 27)

g. Merasa tidak selalu senang saat mendapat bimbingan dan dukungan dari

atasan (nomor 30)

h. Lebih mudah melakukan kesalahan atau kekeliruan saat bekerja

(nomor 35)

i. Tidak dapat bekerja dengan tenang bila ada masalah keluarga (nomor 37)

3. Gejala di tempat kerja

a. Merasa tidak puas dengan pekerjaan saat ini (nomor 4)

b. Merasa malas bekerja bila perusahaan mempersulit karyawan dalam

mengambil ijin atau cuti kerja (nomor 14)

c. Tempat kerja yang bising membuat tidak nyaman bekerja (nomor 21)
56

Gejala- gejala yang dialami oleh tenaga kerja tersebut sesuai dengan pendapat

Carry Cooper and Alison Straw (1995 : 7) yaitu ada 3 macam gejala stres kerja,

meliputi gejala fisik, perilaku secara umum yang dapat muncul juga di tempat

kerja serta gejala-gejala di tempat kerja. Stres dapat menimpa semua orang dari

satu individu ke individu yang lain dan dari waktu sampai kurun waktu tertentu.

Munculnya gejala-gejala tersebut merupakan hasil dari tidak atau kurang adanya

kecocokan antara orang (dalam arti kepribadiannya, bakatnya dan kecakapannya)

dan lingkungan, yang mengakibatkan ketidakmampuannya untuk menghadapi

berbagai tuntutan terhadap dirinya secara efektif.

Stres kerja tidak selalu membuahkan hasil yang buruk dalam kehidupan

manusia. Selye membedakan stres menjadi 2 yaitu distress yang destruktif dan

eustress yang merupakan kekuatan positif. Stres diperlukan untuk menghasilkan

prestasi yang tinggi. Semakin tinggi dorongan untuk berprestasi, makin tinggi

juga produktivitas dan efisiensinya. Demikian pula sebaliknya stres kerja dapat

menimbulkan efek yang negatif. Stres dapat berkembang menjadikan tenaga kerja

sakit, baik fisik maupun mental sehingga tidak dapat bekerja lagi secara optimal

(Ashar Sunyoto, 2001: 371,374).

Stres kerja dapat menjadi bagian dari kehidupan individu dan organisasi atau

perusahaan. Sekecil apapun gejala stres kerja yang muncul tidak perlu menunggu

hingga menjadi besar dan parah, yang pada akhirnya akan merugikan tenaga kerja

dan juga perusahaan yang bersangkutan karena sangat berpengaruh terhadap

produktivitas kerja yang dihasilkan.


57

Hasil analisis deskriptif pada variabel produktivitas kerja menunjukkan

bahwa sebagian besar tenaga kerja (68%) mempunyai tingkat produktivitas tinggi.

Hal ini disebabkan wanita dalam melaksanakan pekerjaannya lebih terampil, teliti

dan ulet sehingga produktivitas tenaga kerja tinggi. Selain itu, umur responden

masih muda sehingga kekuatan fisiknya lebih baik dibandingkan dengan umur

yang lebih tua dalam melaksanakan pekerjaannya.

Pada dasarnya produktivitas dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu beban kerja,

kapasitas kerja dan beban tambahan akibat lingkungan kerja. Beban kerja

berhubungan dengan beban fisik, mental maupun sosial yang mempengaruhi

tenaga kerja, kapasitas kerja berkaitan dengan kemampuan untuk menyelesaikan

pekerjaan pada waktu tertentu. Sedangkan beban tambahan akibat lingkungan

kerja meliputi faktor fisik, kimia, biologis, fisiologis, dan psikologis (Sjahmien

Moellfi, 2003:75).

Setelah dilakukan pengukuran produktivitas kerja terhadap 25 responden

dalam 1 minggu, terlihat bahwa pada hari senin sebagian responden mempunyai

produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan hari yang lain.

Adanya beban yang harus ditanggung tenaga kerja dapat mengakibatkan

tenaga kerja tertekan sehingga tenaga kerja mengalami stres kerja, yang pada

akhirnya dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Setelah tenaga kerja

libur pada hari minggu, tenaga kerja menjadi malas bekerja pada hari senin karena

tenaga kerja dihadapkan kembali dengan berbagai beban yang ada di tempat kerja,

sehingga hasilnya produktivitas pada hari senin lebih rendah. Namun, setelah
58

menjalani hari berikutnya tenaga kerja sudah mulai menyesuaikan dengan tekanan

tersebut, sehingga produktivitas tenaga kerja mulai meningkat kembali.

Hasil analisis korelasi dengan menggunakan teknik korelasi Rank

Spearman, diperoleh keeratan hubungan sebesar –0,549 yang artinya ada

hubungan yang cukup kuat antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja.

Koefisien korelasi negatif yang berarti adanya hubungan negatif antara kedua

variabel. Semakin tinggi stres kerja maka produktivitas tenaga kerja semakin

rendah. Demikian juga sebaliknya semakin rendah stres kerja maka semakin

tinggi produktivitas tenaga kerja.

Hasil analisis korelasi tersebut sesuai dengan pendapat Handoko (2001 :

193) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja adalah

tingkat stres.

Stres kerja dapat berdampak, baik bagi individu maupun organisasi atau

perusahaan. Stres dapat berhubungan dengan kesehatan, psikologis dan interaksi

sosial. Sedangkan dampak stres kerja terhadap perusahaan yaitu terjadinya

kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun operasional kerja,

mengganggu kernormalan aktivitas kerja, menurunkan tingkat produktivitas,

menurunkan pemasukan dan keuntungan perusahaan (Jacinta, 2002).

Stres kerja sekecil apapun juga harus ditangani dengan segera. Menurut Igor

S (1997 : 250) ada beberapa cara untuk mengobati stres kerja :

1. Dukungan sosial

2. Menjaga kesehatan tubuh dengan tidur cukup, makan makanan sehat dan

berolahraga dengan benar.


59

3. Bekerja lebih sedikit dan mengurangi ketakutan akan perkejaan

4. Menghindari perbaikan tambal sulam seperti minum alkohol dan kopi

5. Manajemen waktu yang benar

6. Yoga

7. Senam pagi, bisa dilakukan pada hari senin mengingat produktivitas tenaga

kerja pada hari senin lebih rendah dari hari yang lain.

Adapun kelemahan dalam penelitian ini, yaitu :

1) Waktu yang diberikan perusahaan untuk melakukan penelitian terlalu singkat.

2) Adanya batasan dalam pengambilan data di perusahaan.

3) Peraturan perusahaan terlalu ketat terhadap penelitian.


BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dari dua variabel didapatkan bahwa ada

hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita di bagian

linting rokok PT. Gentong Gotri Semarang.

5.2. Saran

Berdasarkan simpulan yang telah diperoleh, peneliti mengemukakan beberapa

saran, antara lain:

1) Perlu kiranya menyediakan tempat kerja yang nyaman dan bersih sehingga

tenaga kerja merasa betah saat di tempat kerja, mengadakan senam bersama

setiap hari Senin, serta diadakan kegiatan bersama misalnya piknik bersama

tiap setahun sekali untuk menghilangkan kejenuhan.

2) Bagi peneliti berikutnya, sebaiknya faktor- faktor dari dalam diri individu

seperti motivasi, disiplin, sikap mental dan etos kerja ikut diteliti serta

diadakan penelitian yang lebih mendalam tentang faktor- faktor yang

mempengaruhi rendahnya produktivitas kerja pada hari Senin.

60
DAFTAR PUSTAKA

Adnyana Manuaba. 2005. Ergonomi Dalam Industri. Denpasar: Universitas

Udayana

Agus M Harjana. 1994. Stres tanpa Distres Seni Mengolah Stres. Yogyakarta:

Kanisius

Anwar Prabu. 1993. Psikologi Perusahaan. Bandung: Trigenda Karya

Ashar Sunyoto. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas

Indonesia

Bambang Tarupolo. 2002. Warta Kesehatan Kerja Media Komunikasi Kesehatan

Kerja edisi 2

Bart Smet. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Grasindo

Carry Cooper dan Alison Straw. 1995. Stres Manajemen Sukses Dalam Sepekan.

Editor: Fathudin. Jakarta: Kesaint Blanc

David A. 1990. Industrial Safety Management and Technology. New Jersey:

Prectice Hall

David Hager dan Linda C. 1999. Stres dan Tubuh Wanita. Alih Bahasa: Widjaja

Kusuma. Batam: Interaksa

Gibson dkk. 1996. Organisasi. Editor: Lyndon Saputra. Jakarta: Binarupa Aksara

Handoko, TH. 2001. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia.

Yogyakarta: BPFE

Husein Umar. 1998. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka

Utama

61
Igor S. 1997. Pekerjaan Anda Bagaimana Mendapatkannya Bagaimana

Mempertahankannya. Alih Bahasa: Monica. Solo: Dabara

I Ketut Gde Juli S. 2004. Pemberian Kudapan dan Istirahat Pendek Menurunkan

Kehilangan Berat Badan, beban Kerja dan Keluhan Subjektif Serta

Meningkatkan Produktivitas Perajin Gamelan di Desa Tihingan Kabupaten

Klungkung. Jei Vol 5. No.1/Juni 2004, hlm. 16-22

Jacinta F. 2002. Stres kerja.www.e-psikologi.com/masalah/stres.

Pandji Anoraga. 2001. Psikologi Kerja. Jakarta: PT Rineka Cipta

Pedoman Penyusunan Skripsi Mahasiswa Program Strata 1. 2004. Universitas

Negeri Semarang

Laurentius Panggabean. 2003. Warta Kesehatan Kerja Media Komunikasi

Kesehatan Kerja edisi 1

Regina Naisa. 2003. Konflik dan Coping Ibu Terhadap Stres Ketika Akan

Bekerja.www.F.PsiUntar.com.

Saifuddin Azwar. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Singgih Santosa. 2004. SPSS Versi 10. Jakarta: PT Gramedia

Soekidjo Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT

Rineka Cipta

Sjahmien Moellfi. 2003. Ilmu Gizi. Jakarta: PT Papas Sinar Sinanti Bhatara

Sugeng Budiono, dkk. 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan KK. Semarang: Badan

Penerbit Universitas Diponegoro

Sugiyono. 2002. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfa Beta

Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta

62
Sritomo Wignjoebroto. 2003. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu Teknik Analisis

Untuk Peningkatan Produktivitas Kerja. Surabaya: guna Wijaya

63
LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG
16- 21 Mei 2005

Kode Hari Total PTK Target 1 PYD Tingkat Kategori


Respond Minggu Produktivitas
en (PTK/ PYD)
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu
R1 4860 4900 4900 4880 4900 4900 29340 4890 27000 4500 1,08 1
R2 5600 5600 5580 5600 5600 5600 33580 5596,6 27000 4500 1,24 1
R3 4600 4840 4880 4900 4900 4900 29020 4836,6 27000 4500 1,07 1
R4 4780 4860 4900 4900 4900 4900 29240 4873,3 27000 4500 1,08 1
R5 4820 4900 4900 4880 4900 4900 29300 4883,3 27000 4500 1,08 1
R6 4900 4900 4880 4900 4900 4900 29380 4896,6 27000 4500 1,08 1
R7 5480 5580 5600 5600 5600 5580 33440 5573,3 27000 4500 1,23 1
R8 5200 5580 5580 5600 5600 5560 33120 5520 27000 4500 1,22 1
R9 4900 4880 4900 4900 4900 4820 29300 4883,3 27000 4500 1,08 1
R10 5180 5320 5320 5380 5460 5400 32060 5343,3 27000 4500 1,18 1
R11 4880 4980 4900 4900 4900 4900 29460 4910 27000 4500 1,09 1
R12 4750 4880 4800 4900 4900 4840 29070 4845 27000 4500 1,07 1
R13 5020 5280 5300 5280 5300 5280 31460 5243 27000 4500 1,16 1
R14 4980 5000 5040 5040 5020 5000 30080 5013,3 27000 4500 1,11 1
R15 4300 4860 4900 4900 4900 4900 28760 4793,3 27000 4500 1,06 1
R16 4200 4200 4200 4200 4200 4200 25200 4200 27000 4500 0,93 0
R17 4180 4180 4200 4200 4200 4200 25160 4193,3 27000 4500 0,93 0
R18 4540 4880 4900 4900 4900 4900 29020 4836,6 27000 4500 1,07 1
R19 4900 4900 4880 4880 4900 4900 29360 4893,3 27000 4500 1,08 1
R20 4160 4200 4200 4200 4200 4200 25160 4193,3 27000 4500 0,93 0
R21 4200 4200 4200 4200 4200 4200 25200 4200 27000 4500 0,93 0
R22 4100 4160 4180 4200 4200 4200 25040 4173,3 27000 4500 0,81 0
R23 4120 4180 4200 4200 4200 4200 25100 4183,3 27000 4500 0,92 0
R24 4200 4200 4200 4200 4200 4200 25200 4200 27000 4500 0,93 0
R25 4180 4200 4200 4200 4200 4180 25160 4193,3 27000 4500 0,93 0
LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG
Senin, 16 Mei 2005

Kode Total PTK Target PYD Tingkat Kategori


Responden Sehari Produktivitas
(PTK/ PYD)
R1 4860 694,2 4500 642,8 1,08 1
R2 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R3 4600 657,1 4500 642,8 1,02 1
R4 4780 682,8 4500 642,8 1,06 1
R5 4820 688,5 4500 642,8 1,07 1
R6 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R7 5480 782,8 4500 642,8 1,21 1
R8 5200 742,8 4500 642,8 1,15 1
R9 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R10 5180 740 4500 642,8 1,15 1
R11 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R12 4750 678,5 4500 642,8 1,05 1
R13 5020 717,1 4500 642,8 1,11 1
R14 4980 711,4 4500 642,8 1,10 1
R15 4300 614,2 4500 642,8 0,95 0
R16 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R17 4180 597,1 4500 642,8 0,92 0
R18 4540 648,5 4500 642,8 1,00 1
R19 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R20 4160 594,2 4500 642,8 0,92 0
R21 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R22 4100 585,7 4500 642,8 0,91 0
R23 4120 588,5 4500 642,8 0,91 0
R24 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R25 4180 597,1 4500 642,8 0,92 0
LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG
Selasa, 17 Mei 2005

Kode Total PTK Target PYD Tingkat Kategori


Responden Sehari Produktivitas
(PTK/ PYD)
R1 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R2 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R3 4840 691,4 4500 642,8 1,07 1
R4 4860 694,2 4500 642,8 1,08 1
R5 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R6 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R7 5580 797,1 4500 642,8 1,24 1
R8 5580 797,1 4500 642,8 1,24 1
R9 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R10 5320 760 4500 642,8 1,18 1
R11 4980 711,4 4500 642,8 1,10 1
R12 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R13 5280 754,2 4500 642,8 1,17 1
R14 5000 714,2 4500 642,8 1,11 1
R15 4860 694,2 4500 642,8 1,08 1
R16 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R17 4180 597,1 4500 642,8 0,92 0
R18 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R19 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R20 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R21 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R22 4160 594,2 4500 642,8 0,92 0
R23 4180 597,1 4500 642,8 0,92 0
R24 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R25 4200 600 4500 642,8 0,93 0
LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG
Rabu, 18 Mei 2005

Kode Total PTK Target PYD Tingkat Kategori


Responden Sehari Produktivitas
(PTK/ PYD)
R1 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R2 5580 797,1 4500 642,8 1,24 1
R3 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R4 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R5 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R6 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R7 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R8 5580 797,1 4500 642,8 1,24 1
R9 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R10 5320 760 4500 642,8 1,18 1
R11 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R12 4800 685,7 4500 642,8 1,06 1
R13 5300 757,1 4500 642,8 1,17 1
R14 5040 720 4500 642,8 1,12 1
R15 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R16 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R17 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R18 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R19 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R20 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R21 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R22 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R23 4180 597,1 4500 642,8 0,92 0
R24 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R25 4200 600 4500 642,8 0,93 0
LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG
Kamis, 19 Mei 2005

Kode Total PTK Target PYD Tingkat Kategori


Responden Sehari Produktivitas
(PTK/ PYD)
R1 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R2 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R3 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R4 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R5 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R6 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R7 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R8 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R9 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R10 5380 768,5 4500 642,8 1,19 1
R11 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R12 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R13 5280 754,2 4500 642,8 1,17 1
R14 5040 720 4500 642,8 1,12 1
R15 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R16 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R17 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R18 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R19 4880 697,1 4500 642,8 1,08 1
R20 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R21 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R22 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R23 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R24 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R25 4200 600 4500 642,8 0,93 0
LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG
Jumat, 20 Mei 2005

Kode Total PTK Target PYD Tingkat Kategori


Responden Sehari Produktivitas
(PTK/ PYD)
R1 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R2 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R3 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R4 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R5 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R6 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R7 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R8 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R9 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R10 5460 780 4500 642,8 1,21 1
R11 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R12 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R13 5300 757,1 4500 642,8 1,17 1
R14 5020 717,1 4500 642,8 1,11 1
R15 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R16 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R17 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R18 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R19 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R20 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R21 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R22 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R23 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R24 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R25 4200 600 4500 642,8 0,93 0
LEMBAR PENCATATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI BAGIAN LINTING PT. GENTONG GOTRI SEMARANG
Sabtu,, 21 Mei 2005

Kode Total PTK Target Sehari PYD Tingkat Kategori


Responden Produktivitas
(PTK/ PYD)
R1 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R2 5600 800 4500 642,8 1,24 1
R3 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R4 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R5 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R6 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R7 5580 797,1 4500 642,8 1,24 1
R8 5560 794,2 4500 642,8 1,23 1
R9 4820 688,5 4500 642,8 1,07 1
R10 5400 771,4 4500 642,8 1,20 1
R11 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R12 4840 691,4 4500 642,8 1,07 1
R13 5280 754,2 4500 642,8 1,17 1
R14 5000 714,2 4500 642,8 1,11 1
R15 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R16 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R17 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R18 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R19 4900 700 4500 642,8 1,08 1
R20 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R21 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R22 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R23 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R24 4200 600 4500 642,8 0,93 0
R25 4200 600 4500 642,8 0,93 0
Lampiran 1

SKALA STRES KERJA UNTUK UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

Nama :
Umur :
Pendidikan Terakhir :
Lama Bekerja :

Petunjuk

Dibawah ini terdapat 40 pernyataan. Pilihlah jawaban dengan cara memberi tanda silang (×)
pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia. Tidak ada jawaban yang salah. Semua pilihan
jawaban adalah benar, karena itu pilihlah jawaban yang sesuai dengan yang anda alami.

1. Saya menjadi susah tidur bila saya sedang mempunyai masalah.


a. Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

2. Telapak tangan saya berkeringat bila saya sedang bekerja


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

3. Saya merasa bingung bila melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan saya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

4. Dengan pekerjaan yang saya tekuni saat ini, saya merasakan belum puas.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

5. Keadaan lingkungan kerja yang nyaman membuat saya betah.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

6. Saya tidak puas dengan kondisi kebersihan lingkungan kerja sehingga menambah kelelahan saat
bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

7. Kepala saya terasa sakit bila banyak pekerjaan yang belum selesai.

a Selalu c. Kadang- kadang


b. Seringkali d. Tidak Pernah

8. Saya merasa panas meskipun bekerja di tempat dengan cendela yang cukup.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

64
9. Saya merasa lelah meskipun belum melakukan pekerjaan apapun.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

10. Saya menerima semua kebijakan dari perusahaan.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

11. Saya merasa kecewa bila tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

12. Jadwal kerja dapat menurunkan motivasi saya dalam bekerja.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

13. Meskipun tenaga saya terkuras untuk pekerjaan tetapi saya tetap semangat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

14. Saya merasa malas bekerja bila perusahaan mempersulit karyawan dalam mengambil ijin atau
cuti kerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

15. Saya menjadi sakit perut bila atasan mengawasi saya saat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

16. Pada saat banyak pikiran, haid saya menjadi lebih cepat.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

17. Saya tetap tenang meskipun menghadapi banyak persaingan dengan teman sekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

18. Saya merasa malas bila harus bekerja lembur.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

19. Tambahan kerja yang diberikan pada saya membuat saya jengkel.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

20. Bila bekerja terlalu lama leher saya menjadi kaku.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

21. Suara alat kerja mempengaruhi konsentrasi saya dalam bekerja.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

65
22. Tempat kerja yang bising membuat saya tidak nyaman bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

23. Saya senang dengan atasan yang selalu memperhatikan kondisi karyawannya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

24. Saya hanya diam dengan pendapat atasan saya.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

25. Saya merasa tidak cocok dengan teman sekerja saya.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

26. Saya tidak senang bila atasan mengawasi saya saat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

27. Saya merasa gelisah bila ada masalah dalam pekerjaan saya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

28. Saya merasa betah walaupun peraturan perusahaan keras.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

29. Saya mudah menyesuaikan dengan lingkungan kerja saya.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

30. Saya merasa tersinggung bila teman sekerja mencela pekerjaan saya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

31. Gairah kerja saya menurun bila pekerjaan yang saya kerjakan tidak dihargai perusahaan.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

32. Saya merasa senang saat mendapat bimbingan dan dukungan dari atasan.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

33. Adanya poliklinik di perusahaan membuat saya nyaman bekerja.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

34. Saya tidak peduli dengan teman sekerja yang tidak menghargai saya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

66
35. Kemajuan perusahaan membuat saya percaya diri dengan pekerjaan yang saya tekuni.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

36. Nafsu makan saya tetap meskipun banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

37. Saya menjadi lebih mudah melakukan kesalahan atau kekeliruan saat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

38. Saya tidak mudah percaya dengan teman sekerja saya.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

39. Saya tidak dapat bekerja dengan tenang bila sedang ada masalah keluarga.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

40. Saya merasa nafas saya menjadi cepat bila membuat kesalahan atau kekeliruan saat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

Periksalah kembali jangan sampai ada nomor yang terlewatkan. Terima kasih.

67
Lampiran 2

SKALA STRES KERJA UNTUK 25 RESPONDEN

Nama :
Umur :
Pendidikan Terakhir :
Lama Bekerja :

Petunjuk

Dibawah ini terdapat 38 pernyataan. Pilihlah jawaban dengan cara memberi tanda silang (×)
pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia. Tidak ada jawaban yang salah. Semua pilihan
jawaban adalah benar, karena itu pilihlah jawaban yang sesuai dengan yang anda alami.

1. Saya menjadi susah tidur bila saya sedang mempunyai masalah.


c. Selalu c. Kadang- kadang
d. Seringkali d. Tidak Pernah

2. Telapak tangan saya berkeringat bila saya sedang bekerja


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

3. Saya merasa bingung bila melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan saya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

4. Dengan pekerjaan yang saya tekuni saat ini, saya merasakan belum puas.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

5. Keadaan lingkungan kerja yang nyaman membuat saya betah.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

6. Saya tidak puas dengan kondisi kebersihan lingkungan kerja sehingga menambah kelelahan saat
bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

7. Kepala saya terasa sakit bila banyak pekerjaan yang belum selesai.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

8. Saya merasa panas meskipun bekerja di tempat dengan cendela yang cukup.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

68
9. Saya merasa lelah meskipun belum melakukan pekerjaan apapun.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

10. Saya menerima semua kebijakan dari perusahaan.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

11. Saya merasa kecewa bila tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

12. Jadwal kerja dapat menurunkan motivasi saya dalam bekerja.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

13. Meskipun tenaga saya terkuras untuk pekerjaan tetapi saya tetap semangat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

14. Saya merasa malas bekerja bila perusahaan mempersulit karyawan dalam mengambil ijin atau
cuti kerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

15. Saya menjadi sakit perut bila atasan mengawasi saya saat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

16. Saya tetap tenang meskipun menghadapi banyak persaingan dengan teman sekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

17. Saya merasa malas bila harus bekerja lembur.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

18. Tambahan kerja yang diberikan pada saya membuat saya jengkel.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

19. Bila bekerja terlalu lama leher saya menjadi kaku.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

20. Suara alat kerja mempengaruhi konsentrasi saya dalam bekerja.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

21. Tempat kerja yang bising membuat saya tidak nyaman bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

69
22. Saya senang dengan atasan yang selalu memperhatikan kondisi karyawannya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

23.. Saya hanya diam dengan pendapat atasan saya.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

24. Saya merasa tidak cocok dengan teman sekerja saya.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

25. Saya tidak senang bila atasan mengawasi saya saat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

26. Saya merasa gelisah bila ada masalah dalam pekerjaan saya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

27. Saya mudah menyesuaikan dengan lingkungan kerja saya.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

28. Saya merasa tersinggung bila teman sekerja mencela pekerjaan saya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

29. Gairah kerja saya menurun bila pekerjaan yang saya kerjakan tidak dihargai perusahaan.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

30. Saya merasa senang saat mendapat bimbingan dan dukungan dari atasan.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

31. Adanya poliklinik di perusahaan membuat saya nyaman bekerja.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

32. Saya tidak peduli dengan teman sekerja yang tidak menghargai saya.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

33. Kemajuan perusahaan membuat saya percaya diri dengan pekerjaan yang saya tekuni.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

34. Nafsu makan saya tetap meskipun banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

70
35. Saya menjadi lebih mudah melakukan kesalahan atau kekeliruan saat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

36. Saya tidak mudah percaya dengan teman sekerja saya.


a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

37. Saya tidak dapat bekerja dengan tenang bila sedang ada masalah keluarga.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

38. Saya merasa nafas saya menjadi cepat bila membuat kesalahan atau kekeliruan saat bekerja.
a Selalu c. Kadang- kadang
b. Seringkali d. Tidak Pernah

Periksalah kembali jangan sampai ada nomor yang terlewatkan. Terima kasih.

71