Anda di halaman 1dari 38

I

PENDAHULUAN

3.1. Latar Belakang

Pakan adalah bahan makanan untuk ternak, sedangkan ransum adalah

bahan pakan ternak yang dicampur dari dua jenis bahan makanan dengan

komposisi tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidup 24 jam. Dalam penyusunan

komposisi tidak bisa sembarangan karena dalam memnyusun komposisi ransum

perlu ketelitian untuk menghasilkan kualitas produksi yang baik.

Pakan unggas sangatlah beragam, ada pakan konvensional dan

inkonvensional, pakan yang digunakan untuk penyusunan ransum bisa berbeda-

beda tergantung dari keinginan produksi apa yang ingin ditingkatkan, ada pakan

yang mengandung sumber energi, protein, mineral, vitamin, dan lain-lain,

seluruhnya harus terdapat dalam ransum agar kebutuhan ternak dapat terpenuhi.

Secara garis besar bahan untuk ransum terdiri dari bahan nabati dan

hewani. Kedua jenis bahan tersebut terkadang juga masih ditambahkan dengan

bahan yang lain. Oleh karena itu, praktikum tentang evaluasi bahan pakan ini

harus dilaksanakan dan mahasiswa diharapkan dapat mengetahui jenis bahan

makanan untuk ternak unggas.

3.2. Identifikasi Masalah

(1). Apa yang dimaksud pakan unggas dan apa saja jenis pakan unggas.

(2). Bagaimana prinsip dasar pengujian kualitas pakan unggas secara fisik

makroskopis.
2

(3). Bagaimana prinsip dasar pengujian kualitas pakan unggas secara fisik

mikroskopis

3.3. Maksud dan Tujuan

(1). Mengetahui definisi dan jenis-jenis bahan pakan unggas.

(2). Mengetahui prinsip dasar pengujian kualitas pakan unggas secara fisik

makroskopis.

(3). Mengetahui prinsip dasar pengujian kualitas pakan unggas secara fisik

mikroskopis.

3.4. Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Rabu, 29 Maret 2018

Pukul : 07.30 s/d 09.30 WIB

Tempat : Laboratorium Produksi Ternak Unggas Fakultas

Peternakan Universitas Padjadjaran.


3

II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1. Bahan Pakan Unggas

Bahan pakan adalah suatu bahan yang dimakan oleh hewan yang

mengandung energi dan zat-zat gizi (atau keduanya) di dalam pakan ternak

(Hartadi, 2005). Ransum adalah jumlah total bahan makanan yang diberikan pada

ternak selama 24 jam (Sinaga, 2009). Bahan pakan unggas harus memenuhi syarat

yaitu, tidak bersaing dengan kebutuhan pangan manusia, ketersediaannya mentu

(kontinyu) sehingga kuantitas tinggi, harga murah, dan kualitas tinggi (Subekti,

2009).

(1) Sumber Energi

Kandungan protein pada pakan sumber energi sekitar 10% (Suprijatna,

2005).

- Jagung

Jagung mempunyai kandungan protein rendah dan beragam dari 8 sampai

13%, tetapi kandungan serat kasarnya rendah (3,2%) dan kandungan energi

metabolismenya tinggi (3130 kcal/kg) (Agus, 2008). Jagung merupakan sumber

energi bagi ternak, jagung digunakan dalam nutrisi ternak kisaran 40 – 50 % dan

jagung memiliki energi metabolisme sebesar 3394 Kkal/kg ( Parning, 2000 ).

- Minyak Kelapa

Kandungan nutrisi yang terdapat dalam minyak kelapa sawit adalah BK

81,65% - 93,14%, PK 12,63% - 17,41%, LK 7,12% - 15,15%, SK 9,98% - 25,79

%, dan energi 3217 kkal/kg – 3454 kkal/kg (Hidayanto, 2006). Minyak kelapa
4

sangat disukai oleh jamur Aspergillus flavus yang meghasilkan racun aflatoxin

penyebab penyakit pada hati (Aprilio, 2010).

- Dedak Padi

Dedak padi halus yang diproses secara tradisional mengandung serat kasar

lebih tinggi dan bisa mencapai 12% sehingga dedak padi halus pada pakan ayam

sebaiknya tidak melebihi 45% karena dapat mengganggu prosespencernaan ayam

yang kurat dibantuk oleh mikroorganisme (Santoso, 1996).

Dedak merupakan limbah proses pengolahan gabah, dan tidak dikonsumsi

manusia, sehingga tidak bersaing dalam penggunaannya. Dedak mengandung

bagian luar beras yang tidak terbawa, tetapi tercampur pula dengan bagian

penutup beras itu. Hal ini mempengaruhi tinggi-rendahnya kandungan serat kasar

dedak. Kandungan serat kasar dedak 13,6%, atau 6 kali lebih besar dari pada

jagung kuning, merupakan pembatas, sehingga dedak tidak dapat digunakan

berlebihan. Kandungan asam amino dedak, walaupun lengkap tapi kuantitasnya

tidak mencukupi kebutuhan ikan, demikian pula dengan vitamin dan mineralnya

(Prakoso, 2010).

Penggunaan dedak padi dalam ransum unggas ada batasanya, yaitu 0-15 %

untuk ayam petelur fase starter, 0-20 % untuk ayam petelur fase grower. untuk

ayam broiler, itu berkisar antara 5-20 %, dan tidak lebih dari 20 % karena akan

dapat menurunkan produktivitas ayam yang disebabkan oleh adanya kandungan

asam fitat dalam dedak padi yang berada dalam bentuk kompleks dengan protein,

pektin, dan polisakarida bukan pati atau serat kasar sehingga protein dan fosfor

sulit dicerna dan dimanfaatkan oleh ayam (Hendri, 2002).


5

(2) Sumber Protein

Bahan pakan sumber protein mengandung protein kasar lebih dari 20%

(Anggorodi, 1995).

- Bungkil Kacang Kedelai

Bungkil kacang kedelai mempunyai kandungan protein berkisar 40%

sampai 45%. (Widodo, 2000).

Bungkil kedelai merupakan limbah dari industri minyak biji kedele.

Bungkil ini sangat disukai ternak namun, penggunaannya harus diperhatikan

karena zat penghambat tripsin mungkin masih tersisa pada bungkil kedelai yang

diproduksi dengan pemakaian suhu yang rendah (Suhendra, 2004).

- Tepung Ikan

Kandungan nutrisi tepung ikan pada umumnya yaitu 62% PK; 10,2%

lemak; 1% SK; 5% Ca; 2.950 kkal/kg EM; 1,8% metionin; dan 4,7% lisin

(Suprijatna, 2005).

Tepung ikan berasal dari ikan sisa atau buangan yang tidak dikonsumsi

oleh manusia atau sisa pengolahan industri makanan ikan sehingga kandungan

nutrisinya beragam, pada umumnya berkisar antara 60-70%. Tepung ikan

merupakan pemasok lysin dan methionin yang baik, dimana hal ini tidak terdapat

pada kebanyakan bahan baku nabati. Kandungan nutrisi tepung ikan yaitu 60-70%

protein, 1,0% serat kasar, 5,0% Ca dan 3,0% P ( Hatara jasa, 2007). Tepung ikan

merupakan bahan pakan sumber protein yang paling baik dibandingkan dengan

bahan yang lainnya (Nurhayati, 2008).

- CGM

CGM sangat kaya dengan protein (60%), sehingga dapat bersaing dengan

protein hewani (Amrullah, 2003).


6

(3) Sumber Mineral

Anggorodi (1995) bahwa zat mineral seperti karbon, nitrogen, oksigen,

dan sulfur merupakan unsuru terbesar yang mencukupi kimiawi organik tubuh,

maka hewan membutuhkan setidaknya 13 zat organik untuk pakan yang baik.

- Tepung Tulang

Tepung tulang mengandung kalsium antara 24% - 25% dan fosfor antara

12% -15% maka digunakan sebagai sumber mineral (Santoso, 1996).

Pengolahan tulang menjadi tepung dapat mempertahankan kandungan gizi

di dalamnya (Agustin, 2003). Pemanfaatan limbah tulang sebagai sumber kalsium

dan fosfor dibatasi dengan adanya kandungan kolagen yang tinggi. Kolagen

merupakan protein fibrous yang memiliki karakteristik resisten terhadap enzim

pencernaan, tidak dapat larut, dapat mengubah protein dan gelatin dengan

pemasakan, dan banyak mengandung hidroksiprolin (Tillman, 1984).

- Tepung Kerang

Tepung kerang memiliki kandungan protein 2% - 3% dan kalsium 30% -

40% (Suharno, 2001).

(4) Sumber Vitamin

Sumber vitamin terdapat dalam biji-bijian, sisa hasil penggilingan, kacang-

kacangan, hijauan, tepung ikan, dan sisa metabolisme (Wahju, 1997).

(5) Feed Supplement

Ketiga komponen yang terkandung dalam feed supplement seringkali

mengalami defisiensi (Misriadi, 2013).

- Premix
7

Premix mengandung mineral dan pemberian sejumlah mineral bersifat

esensial untuk kesehatan, pertumbuhan, dan produksi ternak yang optimal

(Phillips, 2001).

(6) Feed Additives

Feed additives adalah tambahan pakan yang umum digunakan dalam

meramu pakan ternak yang ditambahkan dalam jumlah sedikit (Murtidjo, 1993).

Feed additives dapat berupa flavoring agent, antibiotik, enzim, antioksidan,

hormon, probiotik, dan antioksidial (Lesson dan Summers, 2001).

2.2. Evaluasi Bahan Pakan

2.2.1 Evaluasi Bahan Pakan Secara Makroskopis

Penentuan kualitas bahan baku pakan secara organoleptic atau fisik

dilakukan dengan cara menggunakan panca indera yang terdiri dari 4M yaitu

melihat, meraba, mencium, dan merasakan (Kushartono, B, 2000).

(1) Dedak

Dedak padi yang berkulitas baik mempunyai ciri fisik seperti baunya khas,

tidak tengik, teksturnya halus, lebih padat, dan mudah digenggam karena

mengandung kadar sekan yang rendah, dedak seperti ini mempunyai nilai nutrisi

yang tinggi (Rasyaf, 2002).

(2) Jagung

Jagung yang baik masih terlihat segar dan tidak banyak debu dan kotoran,

apabila warna jagung kusam menandakan bahwa jagung tersebut sudah lama

disimpan dan biasanya terdapat serangga (Saeong, 1988).


8

(3) Minyak Kelapa

Minyak kelapa memiliki warna kuning jernih dan berbentuk cairan, tidak

berbau dan memiliki rasa yang gurih (Somaatmadja, 1981). Penambahan minyak

kelapa dalam ransum ayam dapat meningkatkan palatabilitas (napsu makan) dan

mengurangi debu. Dari sisi produksi pun minyak kelapa dapat meringankan kerja

mesin pembuat pellet. Minyak kelapa berfungsi untuk mempermudah penyerapan

vitamin A,D,E,K, karoten, dan kalsium di dalam saluran pencernaan ayam juga

memenuhi kebutuhan asam lemak esensial serta meningkatkan efisiensi

penggunaan energy dalam tubuh ayam (Hapsari, 2007).

(4) Bungkil Kedelai

Bungkil kedelai merupakan limbah dari industry minyak biji kedelai

umumnya berwarna coklat muda, bertektur kasar, dan sebagai sumber protein

nabati (Anita, 2013).

(5) Tepung Ikan

Tepung ikan yang baik baunya harum, tidak amis dan tidak anyir.

Kandungan proteinnya diatas 55%, kandungan lemaknya < 12 %, butirannya

halus, tidak terlalu banyak mengandung tulang. Tepung ikan yang terlalu amis

atau anyir menandakan bahwa bahan baku tepung ikan tidak segar (Anas, 2005).

Tampilan fisik tepung ikan yang bagus yaitu partikelnya halus, warnanya

coklat kehijau-hijauan dan baunya tidak begitu menyengat dan apabila dicicipi

rasanya tidak terlalu asin. Apabila baunya menyegat menandakan proses

pengeringan kurang sempurna, apabila rasanya terlalu asin dan dipegang agak

lembab ini menunjukan tepung ikan tersebut mengandung kadar garam yang

tinggi dan kualitasnya rendah (Kushartono, B, 2000).


9

(6) Tepung Kulit Kerang (grit)

Bahan-bahan pakan sumber mineral antara lain tepung tulang, tepung kulit

kerang, mineral supplement. Warna dari 3 macam bahan pakan sumber mineral

hampir sama yaitu abu-abu karena mineral merupakan bahan anorganik yang

merupakan abu, setelah melalui proses pembakaran dalam tanur (Handaka, 2008).

Warna dari grit adalah putih keabu-abuan atau hampir menyerupai warna

putih tulang. Tepung kulit kerang ini merupakan salah satu bahan pakan unggas

sebagai sumber mineral (Rasyaf, 1992).

(7) Tepung Tulang

Bahan-bahan pakan sumber mineral antara lain tepung tulang, tepung kulit

kerang, mineral supplement. Warna dari 3 macam bahan pakan sumber mineral

hampir sama yaitu abu-abu karena mineral merupakan bahan anorganik yang

merupakan abu, setelah melalui proses pembakaran dalam tanur (Handaka, 2008).

Tepung tulang yang baik biasanya memenuhi beberapa syarat, diantaranya

berwarna keputih-putihan, tidak berbau, tidak mengandung bibit penyakit, kadar

air paling tinggi 5% dan kadar tepunya mencapai 94%. Bau menyegat dari tepung

tulang menandakan tepung tulang tersebut sudah terlalu lama disimpan.

(Rasyaf, 1992).

(8) Premix

Bahan-bahan pakan sumber mineral antara lain tepung tulang, tepung kulit

kerang, mineral supplement. Warna dari 3 macam bahan pakan sumber mineral

hampir sama yaitu abu-abu karena mineral merupakan bahan anorganik yang

merupakan abu, setelah melalui proses pembakaran dalam tanur (Handaka, 2008).

Hasil evaluasi fisik premix berwarna kuning terang, teksturnya halus,

berbau seperti kacang-kacangan dan rasnya pahit (Philips, 2011).


10

2.2.2 Evaluasi Bahan Pakan Secara Mikroskopis

Pengujian dengan menggunakan mikroskop dalam evaluasi bahan pakan

sangat mempengaruhi dalam manajemen pakan, karena bahan pakan sangat

berperan penting dalam pemasokan nutrisi untuk pertumbuhan ternak. Pengujian

mikroskopis saat bahan pakan datang dapat mencegah sekitar 90 persen masalah

yang disebabkan bahan baku dalam industri pakan ternak (Bates, 2003).

Dari setiap bahan pakan yang diamati di mikroskop bahwa ada

karakteristik yang berbeda dari setiap bahan pakan. Bahan pakan tersebut dapat

diamati dengan perbesaran 4 x 10 dengan beberapa butiran setiap pakan yang

dilihat menggunakan mikroskop. Bahan-bahan pemalsu pakan merupakan bahan-

bahan yang bentuk, tekstur, hampir sama dengan bahan pakan yang dipalsukan

akan tetapi satu hal yang sulit untuk dipalsukan yaitu bau (Antonio. A, 2001).

Bahan pakan sumber energi yang utama adalah bahan pakan yang

kandungan utamanya berupa karbohidrat yang mana lebih mudah dimetabolisme

dari pada energi yang berasal dari lemak. Sedangkan pakan sumber mineral tidak

ada pada setiap bahan pakan campuran (Sembiring, 2001).

Bahan-bahan pakan sumber mineral antara lain tepung tulang, tepung kulit

kerang, mineral supplement (Handaka, 2008).

Bungkil kedelai merupakan limbah dari industri minyak biji kedelai

umumnya berwarna coklat muda dan bertekstur kasar dan sebagai sumber protein

nabati (Anita, 2013).

Feed microscopy adalah suatu metode pemeriksaan pakan yang dilakukan

dengan menggunakan mikroskop. Pemeriksaan pakan dengan menggunakan

mikroskop sering digunakan dalam pengendalian mutu (quality control) yang

lebih banyak berdasarkan pada perbandingan karakteristik fisik dari partikel bahan
11

pakan. Metode ini pada dasarnya digunakan untuk mendeteksi adanya

pencampuran dan pemalsuan pada bahan pakan (Bates, 2005). Feed microscopy

merupakan pelengkap analisis kimia untuk pengendalian kualitas yang sederhana,

lebih singkat dari alat analisis lain dan murah (Vaughan, 1981).

Pada pengamatan mikroskopis dapat mengetahui struktur fisik bahan

pakan, sehingga pengujian pakan akan lebih baik dengan memadukan analisis

proksimat dan pengamatan mikroskopis. Tujuan utama dari feed microscopy

adalah untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi bahan pakan dan bahan-bahan

asing dalam pakan (Khajarern dkk, 1987). Pengamatan pakan secara mikroskopis

mempunyai beberapa tujuan, yaitu (1) untuk mendeteksi pencampuran dan

pemalsuan, (2) untuk mengidentifikasi racun dan stimulannya, (3) untuk

mengetahui karakteristik cita rasa dari bahan pakan dan (4) untuk memeriksa

komponen pakan (Vaughan, 1981).

Feed microscopy dapat dikelompokkan menjadi dua tipe yaitu secara

kualitatif dan kuantitatif. Feed microscopy secara kualitatif adalah identifikasi dan

evaluasi bahan-bahan dan benda-benda asing dalam pakan atau campuran pakan

melalui penampakan permukaan (stereomicroscopy) dan melalui karakteristik

internal pakan (compound microscopy). Feed microscopy secara kuantitatif adalah

pengukuran proporsi dari masing-masing bahan pakan dalam pakan jadi atau

pengukuran proporsi pemalsuan atau pencampuran dalam bahan pakan. Feed

microscopy secara kuantitatif dapat dilakuan dengan memisahkan seluruh partikel

yang ada dan kemudian menimbangnya, pembuatan standar rasio setiap partikel,

menghitung sel dan analisis atau pembuktian dari analisis kimia (Bates, 2005).

Prinsip kerja Feed Microscopy alat peralatan yang digunakan pada metode

pengujian feed microscopy antara lain adalah mikroskop sederhana. Mikroskop


12

yang digunakan yaitu mikroskop menggunakan cahaya matahari. Perbesaran dari

mikroskop menggunakan cahaya matahari adalah 4 x 10 kali. Pengamatan melalui

mikroskop ini dilakukan dengan melihat penampakan permukaan dari bahan

pakan (Bates, 2005).

(1) Jagung Meal

Bentuk mikroskopik jagung meal akan membentuk butiran yang cukup

besar, walaupun bentuknya tidak terlalu halus namun dapat dicerna oleh unggas

bahkan butirannya yang kasar ini dapat membantu pencernaan unggas secara

mekanik (Bates, 2003).

(2) Dedak Padi

Dedak padi yang mengandung banyak sekam padi akan berwana coklat

dan untuk dedak berkulitas baik akan terdapat butiran beras yang ikut terbawa

saat penggilingan (Rasyaf, 2002).

(3) Tepung Ikan

Secara tekstur tepung ikan berbentuk butiran-butiran halus yang

menunjukan bahwa tepung ikan mudah dicerna oleh unggas. Tepung ikan yang

tidak rusak karena pengolahan mengandung energy metabolis yang cukup tinggi

dibandingkan dengan bahan-bahan makanan lainnya yang digunakan dalam

ransum ungags (Anggorodi, 1994).

(4) Bungkil Kedelai

Bungkil kedelai butirannya terlihat jelas dan terlihat lembut warnanya

putihnya kecoklatan. Bungkil kedelai merupakan bahan pakan yang paling baik

untuk ternak unggas, karena mudah dicerna kadar proteinnya tinggi dan kaya

asaam amino esensial dan bila dikombinasikan dengan jagung akan menghasilkan

pakan yang baik untuk ternak (Anggorodi, 1994).


13

III
ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA

4.1 Alat

- Baki atau nampan

- Toples

- Plastik

4.2 Bahan

- Jagung

- Dedak

- Bungkil kelapa

- Bungkil kedelai

- Tepung ikan

- Tepung tulang

- Grit

4.3 Prosedur Kerja

- Diperhatikan serta diamati setiap sampel bahan pakan unggas yang

tersedia dalam baki atau nampan.

- Setiap pakan unggas diamati dengan cara melakukan uji fisik melalui

alat indra yatu dengan cara diraba, dicicipi, dicium dengan hidung, dan

dilihat warna bahan pakan tersebut.

- Dicatat setiap jenis dan macam bahan pakan yang ada dan diberi
14

keterangan pada tabel yang telah disediakan mengenai warna, bau,

tekstur, dan rasa.


15

IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 1. Hasil Pengamatan Fisik Pakan Unggas Secara Makroskopis

Nama Pakan Warna Bau Rasa Tekstur

Jagung mash Kuning Tidak menyengat Hambar Halus

Jagung meal Kuning Tidak menyengat Hambar Kasar

Minyak Kuning Tidak berbau hambar Cair sedikit

kelapa kental

Dedak A Krem Khas dedak padi Hambar Kasar dan

terdapat pecahan

beras

Dedak B Krem gelap Khas dedak padi Hambar Halus

Bungkil Coklat Tidak menyengat Hambar Kasar

Kedelai muda (khas gandum)

Tepung Ikan Coklat Amis menyengat Amis dan Halus

asin

Corn Gluten Orange Tidak menyengat manis Kasar

Meal cerah (khas jagung)

Grit (tepung Abu - abu Sedikit Asin Kasar

kulit kerang) menyengat

Tepung Putih Cukup Asin Sedikit halus

Tulang keabuan menyengat


16

Premix Putih Sedikit amis Amis Halus

Tabel 2. Hasil Pengamatan Fisik Pakan Unggas Secara Mikroskopis

No Hasil Pengamatan

Dedak A

Dedak B

Jagung Mash

Tepung Ikan

Bungkil Kedelai
17

4.2 Pembahasan

4.2.1. Bahan Pakan Unggas

Pakan adalah bahan makanan untuk unggas. Menurut Hartadi dkk (2005),

bahan pakan adalah suatu bahan yang dimakan oleh hewan yang mengandung

energi dan zat-zat gizi (atau keduanya) di dalam pakan ternak. Ransum adalah

campuran dua atau lebih dari bahan makanan atau pakan yang diberikan pada

ayam untuk memenuhi kebutuhan selama 24 jam. Hal tersebut sesuai dengan

pernyataan dari Sinaga (2009), bahwa ransum adalah jumlah total bahan makanan

yang diberikan pada ternak selama 24 jam.

Syarat pakan unggas yaitu, tidak boleh bersain dengan manusia,

ketersediaannya dalam waktu lama dan kontinu, harganya murah, kualitas nutrisi

pakan baik, dan tidak mengandung toxic. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan

Subekti (2009), bahwa bahan pakan unggas harus memenuhi syarat yaitu, tidak

bersaing dengan kebutuhan pangan manusia, ketersediaannya mentu (kontinyu)

sehingga kuantitas tinggi, harga murah, dan kualitas tinggi.

Bahan pakan unggas digolongkan ke dalam bahan pakan konvensional dan

bahan pakan inkonvensional. Bahan pakan konvensional yaitu pakan yang sering

digunakan, misalnya jagung, dedak, bungkil kedelai, bungkil kelapa, minyak

kelapa, tepung ikan, tepung tulang, dan kulit kerang (grit). Sedangkan bahan

pakan inkonvensional adalah pakan unggas alternatif yang jarang digunakan,

biasanya digunakan apabila ketersediaan pakan konvensional harga sangat mahal,

misalnya sorghum, bungkil kacang tanah, kerabang telur, cacing, siput, dsb.

Selain itu, bahan pakan unggas juga dapat digolongkan berdasarkan sifat

fisik dan kimia antara lain:


18

(1). Sumber Energi

Berbagai pakan yang mengandung protein kasar kurang dari 20% dan serat

kasar kurang dari 18% dalam bahan kering. Menurut Suprijatna (2005) bahwa

kandungan protein pada pakan sumber energi sekitar 10%. Bahan pakan sumber

energi yang digunakan saat praktikum yaitu jagung, minyak kelapa, dan dedak

padi.

Jagung merupakan bahan pakan sumber energi yang baik untuk unggas,

karena jagung mengandung PK kurang dari 20%, SK yang rendah yaitu 3,1%, dan

energi sebesar 3.340 kkal/kg. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Agus

(2008) bahwa jagung mempunyai kandungan protein rendah dan beragam dari 8

sampai 13%, tetapi kandungan serat kasarnya rendah (3,2%) dan kandungan

energi metabolismenya tinggi (3130 kcal/kg).

Minyak kelapa digunakan sebagai pakan tambahan sumber energi dan

protein. Menurut Hidayanto (2006) bahwa kandungan nutrisi yang terdapat dalam

minyak kelapa sawit adalah BK 81,65% - 93,14%, PK 12,63% - 17,41%, LK

7,12% - 15,15%, SK 9,98% - 25,79 %, dan energi 3217 kkal/kg – 3454 kkal/kg.

Zat antinutrisi pada minyak kelapa dinamakan aflatoxin. Hal tersebut sesuai

dengan pernyataan dari Aprilio (2010) bahwa minyak kelapa sangat disukai oleh

jamur Aspergillus flavus yang meghasilkan racun aflatoxin penyebab penyakit

pada hati.

Dedak padi merupakan bahan pakan sumber energi. Kandungan SK dedak

yaitu 13,6% atau 6 kali lebih besar daripada SK jagung, sehingga jumlah energi

pada dedak tergantung dangan jumlah SK, apabila kandungan SK tinggi maka

kandungan energi rendah, sedangkan kandungan SK rendah maka kandungan

energi tinggi. Menurut Santoso (1996) bahwa dedak padi halus yang diproses
19

secara tradisional mengandung serat kasar lebih tinggi dan bisa mencapai 12%

sehingga dedak padi halus pada pakan ayam sebaiknya tidak melebihi 45% karena

dapat mengganggu prosespencernaan ayam yang kurat dibantuk oleh

mikroorganisme. Zat antinutrisi pada dedak yaitu Asam phytat.

(2). Sumber Protein

Berbagai bahan pakan yang mengandung protein kasar lebih dari atau

sama dengan 20% dan serat kasar kurang dari 18% dalam bahan kering. Hal

tersebut sesuai dengan pernyataan dari Anggorodi (1995) bahwa bahan pakan

sumber protein mengandung protein kasar lebih dari 20%. Bahan pakan sumber

protein yang digunakan saat praktikum yaitu bungkil kedelai, tepung ikan, dan

CGM.

Bungkil kedelai merupakan bahan pakan unggas sumber protein nabati,

berdasarkan hasil praktikum bahwa bungkil kedelai memiliki kandungan protein

kasar sebesar 40,45%. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Widodo (2000)

bahwa bungkil kacang kedelai mempunyai kandungan protein berkisar 40%

sampai 45%. Zat antinutrisi pada bungkil kedelai dinamakan Antitripsin.

Tepung ikan merupakan bahan pakan unggas sumber protein hewani yang

memiliki kandungan protein kasar 60 % - 80%. Hal tersebut sesuai dengan

pernyataan dari Suprijatna (2005) bahwa kandungan nutrisi tepung ikan pada

umumnya yaitu 62% PK; 10,2% lemak; 1% SK; 5% Ca; 2.950 kkal/kg EM; 1,8%

metionin; dan 4,7% lisin. Zat antinutrisi pada tepung ikan yaitu kandungan garam

tinggi yang dapat menyebabkan kematian pada unggas.

CGM atau Corn Gluten Meal merupakan limbah pengolahan minyak

jagung yang termasuk ke dalam bahan pakan unggas sumber protein nabati,

berdasarkan hasil praktikum bahwa CGM memiliki kandungan protein hingga


20

60%. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Amrullah (2003) bahwa CGM

sangat kaya dengan protein (60%), sehingga dapat bersaing dengan protein

hewani.

(3). Sumber Mineral

Berbagai bahan pakan yang mengandung kadar mineral tinggi, baik

sumber mineral makro maupun sumber mineral mikro. Menurut Anggorodi

(1995) bahwa zat mineral seperti karbon, nitrogen, oksigen, dan sulfur merupakan

unsuru terbesar yang mencukupi kimiawi organik tubuh, maka hewan

membutuhkan setidaknya 13 zat organik untuk pakan yang baik. Bahan pakan

sumber mineral yang digunakan saat praktikum yaitu tepung tulang dan tepung

kerang.

Tepung tulang merupakan bahan pakan unggas sumber mineral yang

mengandung kalsium dan fosfor. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari

Santoso (1996) bahwa tepung tulang mengandung kalsium antara 24% - 25% dan

fosfor antara 12% -15% maka digunakan sebagai sumber mineral.

Tepung kerang merupakan bahan pakan unggas sumber mineral yang

mengandung 38% kalsium atau 98% CaCO3. Hal tersebut sesuai dengan

pernyataan dari Suharno (2001) bahwa tepung kerang memiliki kandungan

protein 2% - 3% dan kalsium 30% - 40%.

(4). Sumber Vitamin

Berbagai bahan pakan yang tinggi kadar vitaminnya, baik mengandung

satu macam vitamin atau lebih. Menurut Wahju (1997) bahwa sumber vitamin

terdapat dalam biji-bijian, sisa hasil penggilingan, kacang-kacangan, hijauan,

tepung ikan, dan sisa metabolisne. Contoh: minyak ikan, jagung, dedak, dll.
21

(5). Feed Supplement

Bahan berupa zat makanan yang ditambahkan ke dalam ransum.

Kandungan yang terdapat pada feed supplement antara lain vitami, mineral, dan

asam amino. Menurut Misriadi (2013) bahwa ketiga komponen yang terkandung

dalam feed supplement seringkali mengalami defisiensi. Feed supplement yang

digunakan saat praktikum yaitu Premix.

Premix merupakan campuran dari berbagai bahan sumber vitamin,

mineral, atau campuran dari keduanya. Kandungan yang terdapat dalam premix

yaitu 12 vitamin, 6 mineral, dan 2 asam amino yang berfungsi sebagai feed

suplement bagi unggas. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Phillips (2001)

bahwa premix mengandung mineral dan pemberian sejumlah mineral bersifat

esensial untuk kesehatan, pertumbuhan, dan produksi ternak yang optimal.

(6). Feed Additives

Berbagai bahan pakan yang ditambahkan ke dalam pakan dalam jumlah

sedikit dengan tujuan tertentu. Menurut Murtidjo (1993) bahwa feed additives

adalah tambahan pakan yang umum digunakan dalam meramu pakan ternak yang

ditambahkan dalam jumlah sedikit. Contoh: antibiotika, hormon, arsenikal,dan

sulfaktan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Lesson dan Summers (2001)

bahwa feed additives dapat berupa flavoring agent, antibiotik, enzim, antioksidan,

hormon, probiotik, dan antioksidial.

4.2.2 Evaluasi Bahan Pakan Secara Fisik

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan evaluasi bahan pakan yang

dilakukan adalah evaluasi secara fisik. Evaluasi secara fisik dilakukan dengan

menggunakan pancaindra dengan cara dicium, dilihat, diraba, dan dikecap agar

dapat mengetahui bau, warna, tektur dan rasa dari bahan pakan itu sendiri. Hal
22

tersebut sesuai dengan pernyataan Kushartono, B (2000) yang menyatakan bahwa

penentuan kualitas bahan baku pakan secara organoleptic atau fisik dilakukan

dengan cara menggunakan panca indera yang terdiri dari 4M yaitu melihat,

meraba, mencium, dan merasakan.

Bahan pakan yang di evaluasi secara fisik pada saat praktikum terdiri dari

jagung (mash dan meal), dedak (kualitas baik dan kualitas rendah), minyak

kelapa, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung tulang, grit, CGM, dan premix.

(1) Jagung

Bahan baku pakan jagung yang digunakan pada saat praktikum dibagi

menjadi dua yaitu jagung mash dan jagung meal. Pengujian fisik pada jagung

dilakukan dengan mengamati warna, bau, rasa, dan tektur dari jagung. Pada

praktikum jagung mash memiliki warna kuning dengan bau yang tidak

menyengat, rasanya hambar dan memiliki tektur yang halus. Sedangkan jagung

meal memiliki warna kuning, baunya juga tidak menyengat, rasanya hambar,

tetapi tekturnya agak kasar. Hasil uji fisik tersebut menandakan bahwa kualitas

jagung masih dalam kualitas bagus, sesuai dengan pernyataan dari Saeong (1988)

yang menyatakan bahwa jagung yang baik masih terlihat segar dan tidak banyak

debu dan kotoran, apabila warna jagung kusam menandakan bahwa jagung

tersebut sudah lama disimpan dan biasanya terdapat serangga.

(2) Dedak

Bahan baku pakan dedak yang digunakan pada saat praktikum dibagi

menjadi dua yaitu dedak dengan kualitas yang baik dan dedak dengan kuliatas

rendah. Dari hasil evaluasi secara fisik terhadap dedak, untuk dedak dengan

kualitas baik memiliki warna krem, dengan bau khas dedak, rasanya hambar, dan

tekturnya agak kasar dan terlihat ada bulir-bulir beras. Sedangkan untuk dedak
23

dengan kualitas rendah memiliki warna krem kusam, baunya khas dedak, rasanya

hambar, dan tekturnya halus. Perbedaan warna pada kedua sampel dedak ini di

sebabkan karena pada dedak dengan kualitas rendah pada saat penggilingan

dicampur dengan sekam. Untuk membedakan antara dedak dengan kualitas baik

dengan dedak kualitas rendah dapat dengan cara menggenggam dedak kemudian

dikepalkan, apabila dedak bisa menggumpal mendandakan dedak tersebut

berkulitas baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (2002) bahwa dedak padi

yang berkulitas baik mempunyai ciri fisik seperti baunya khas, tidak tengik,

teksturnya halus, lebih padat, dan mudah digenggam karena mengandung kadar

sekan yang rendah, dedak seperti ini mempunyai nilai nutrisi yang tinggi.

(3) Minyak Kelapa

Berdasarkan hasil evaluasi secara fisik pada minyak kelapa pada saat

praktikum minyak kelapa memiliki warna kuning, tidak berbau, memiliki rasa

hambar, dan tekturnya cair sedikit kental. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Somaatmadja (1981) yang menyatakan bahwa minyak kelapa memiliki warna

kuning jernih dan berbentuk cairan, tidak berbau dan memiliki rasa yang gurih.

Menurut Hapsari (2007) penambahan minyak kelapa dalam ransum ayam dapat

meningkatkan palatabilitas (napsu makan) dan mengurangi debu. Dari sisi

produksi pun minyak kelapa dapat meringankan kerja mesin pembuat pellet.

Minyak kelapa berfungsi untuk mempermudah penyerapan vitamin A,D,E,K,

karoten, dan kalsium di dalam saluran pencernaan ayam juga memenuhi

kebutuhan asam lemak esensial serta meningkatkan efisiensi penggunaan energy

dalam tubuh ayam.


24

(4) Bungkil Kedelai

Berdasarkan hasil evaluasi fisik bungkil kedelai diketahui bahwa bungkil

kedelai memiliki warna coklat muda, baunya seperti gandum, rasanya hambar,

dan tekturnya kasar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anita (2013) bahwa bungkil

kedelai merupakan limbah dari industry minyak biji kedelai umumnya berwarna

coklat muda, bertektur kasar, dan sebagai sumber protein nabati.

(5) Tepung Ikan

Berdasarkan hasil praktikum untuk evaluasi fisik tepung ikan diketahui

bahwa tepung ikan memiliki warna coklat, baunya amis menyengat, rasanya

amis dan asin, dan teksturnya halus. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan

Kushartono, B (2000) yang menyatakan bahwa tampilan fisik tepung ikan yang

bagus yaitu partikelnya halus, warnanya coklat kehijau-hijauan dan baunya tidak

begitu menyengat dan apabila dicicipi rasanya tidak terlalu asin. Apabila baunya

menyegat menandakan proses pengeringan kurang sempurna, apabila rasanya

terlalu asin dan dipegang agak lembab ini menunjukan tepung ikan tersebut

mengandung kadar garam yang tinggi dan kualitasnya rendah.

(6) Tepung Tulang

Berdasarkan hasil evaluasi fisik tepung tulang diketahui bahwa tepung

tulang memiliki warna putih keabuan, baunya cukup menyengat, rasanya asin, dan

tekturnya agak halus. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Rasyaf (1992) yang

menyatakan bahwa tepung tulang yang bermutu baik biasanya memenuhi

beberapa syarat, diantaranya berwarna keputih-putihan, tidak berbau, tidak

mengandung bibit penyakit dan kadar airnya paling tinggi 5% dan kadar tepunya

mencapai 94%. Bau menyegat dari tepung tulang menandakan tepung tulang

tersebut sudah terlalu lama disimpan.


25

(7) Grit (Tepung Kulit Kerang)

Berdasarkan hasil evaluasi fisik tepung kulit kerang (grit) diketahui bahwa

tepung kulit kerang (grit) memiliki warna abu-abu, baunya sedikit menyengat,

rasanya asin, dan teksturnya kasar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf

(1992) yang menyatakan bahwa warna dari grit adalah putih keabu-abuan atau

hampir menyerupai warna putih tulang. Tepung kulit kerang ini merupakan salah

satu bahan pakan unggas sebagai sumber mineral.

(8) Corn Gluten Meal (CGM)

Berdasarkan hasil evaluasi fisik dari CGM diketahui bahwa CGM

memiliki warna orange cerah, baunya khas jagung, rasanya manis, dan

teksturnya kasar.

(9) Premix

Berdasarkan hasil evaluasi fisik dari premix diketahui bahwa premix

memiliki warna putih, baunya agak amis, rasanya amis, dan tekturnya halus. Hal

ini tidak sesuai dengan penyataan Philips (2011) yang menyatakan bahwa hasil

evaluasi fisik premix berwarna kuning terang, teksturnya halus, berbau seperti

kacang-kacangan dan rasnya pahit. Perbedaan ini mungkin disebakan karena

berbedanya merk premix yang digunakan.

4.2.3 Evaluasi Bahan Pakan Secara Mikroskopis

Pengujian dengan menggunakan mikroskop dalam evaluasi bahan pakan

sangat mempengaruhi dalam manajemen pakan, karena bahan pakan sangat

berperan penting dalam pemasokan nutrisi untuk pertumbuhan ternak. Pengujian

mikroskopis saat bahan pakan datang dapat mencegah sekitar 90 persen masalah

yang disebabkan bahan baku dalam industri pakan ternak (Bates, 2003).
26

Dari setiap bahan pakan yang diamati di mikroskop bahwa ada

karakteristik yang berbeda dari setiap bahan pakan. Bahan pakan tersebut dapat

diamati dengan perbesaran 4 x 10 dengan beberapa butiran setiap pakan yang

dilihat menggunakan mikroskop. Bahan-bahan pemalsu pakan merupakan bahan-

bahan yang bentuk, tekstur, hampir sama dengan bahan pakan yang dipalsukan

akan tetapi satu hal yang sulit untuk dipalsukan yaitu bau (Antonio. A, 2001).

Tiap bahan juga terdapat pakan sumber energi, sumber protein dan sumber

mineral. Menurut Sembiring (2001), menyatakan bahan pakan sumber energi

yang utama adalah bahan pakan yang kandungan utamanya berupa karbohidrat

yang mana lebih mudah dimetabolisme dari pada energi yang berasal dari lemak.

Sedangkan pakan sumber mineral tidak ada pada setiap bahan pakan campuran.

Menurut Handaka (2008), bahan-bahan pakan sumber mineral antara lain tepung

tulang, tepung kulit kerang, mineral supplement.

Pengujian menggunakan mikroskop ini menggunakan pengujian kualitatif

menggunakan 2 kelas sumber energi dan 2 kelas sumber protein. Diuji secara

mikroskopis supaya dapat membedakan pakan yang baik dan yang sudah

dicampur bahan lain. Menurut Anita (2013), yang menyatakan bungkil kedelai

merupakan limbah dari industri minyak biji kedelai umumnya berwarna coklat

muda dan bertekstur kasar dan sebagai sumber protein nabati

Feed microscopy adalah suatu metode pemeriksaan pakan yang dilakukan

dengan menggunakan mikroskop. Pemeriksaan pakan dengan menggunakan

mikroskop sering digunakan dalam pengendalian mutu (quality control) yang

lebih banyak berdasarkan pada perbandingan karakteristik fisik dari partikel bahan

pakan. Metode ini pada dasarnya digunakan untuk mendeteksi adanya

pencampuran dan pemalsuan pada bahan pakan (Bates, 2005). Feed microscopy
27

merupakan pelengkap analisis kimia untuk pengendalian kualitas yang sederhana,

lebih singkat dari alat analisis lain dan murah (Vaughan, 1981).

Pada pengamatan mikroskopis dapat mengetahui struktur fisik bahan

pakan, sehingga pengujian pakan akan lebih baik dengan memadukan analisis

proksimat dan pengamatan mikroskopis. Tujuan utama dari feed microscopy

adalah untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi bahan pakan dan bahan-bahan

asing dalam pakan (Khajarern dkk, 1987). Pengamatan pakan secara mikroskopis

mempunyai beberapa tujuan, yaitu (1) untuk mendeteksi pencampuran dan

pemalsuan, (2) untuk mengidentifikasi racun dan stimulannya, (3) untuk

mengetahui karakteristik cita rasa dari bahan pakan dan (4) untuk memeriksa

komponen pakan (Vaughan, 1981).

Feed microscopy dapat dikelompokkan menjadi dua tipe yaitu secara

kualitatif dan kuantitatif. Feed microscopy secara kualitatif adalah identifikasi dan

evaluasi bahan-bahan dan benda-benda asing dalam pakan atau campuran pakan

melalui penampakan permukaan (stereomicroscopy) dan melalui karakteristik

internal pakan (compound microscopy). Feed microscopy secara kuantitatif adalah

pengukuran proporsi dari masing-masing bahan pakan dalam pakan jadi atau

pengukuran proporsi pemalsuan atau pencampuran dalam bahan pakan. Feed

microscopy secara kuantitatif dapat dilakuan dengan memisahkan seluruh partikel

yang ada dan kemudian menimbangnya, pembuatan standar rasio setiap partikel,

menghitung sel dan analisis atau pembuktian dari analisis kimia (Bates, 2005).

Prinsip kerja Feed Microscopy alat peralatan yang digunakan pada metode

pengujian feed microscopy antara lain adalah mikroskop sederhana. Mikroskop

yang digunakan yaitu mikroskop menggunakan cahaya matahari. Perbesaran dari

mikroskop menggunakan cahaya matahari adalah 4 x 10 kali. Pengamatan melalui


28

mikroskop ini dilakukan dengan melihat penampakan permukaan dari bahan

pakan (Bates, 2005). Bahan yang diuji dalam evaluasi bahan pakan dengan uji

mikroskopis terdiri dari: dedak, tepung ikan, bungkil kedelai

(1) Jagung Meal

Berdasarkan hasil pengamatan secara mikroskopis dibawah mikroskop

terlihat jagung meal membentuk butiran agak besar. Hal ini sesuai dengan

pernyataan dari Bates (2003) bahwa bentuk mikroskopik jagung meal akan

membentuk butiran yang cukup besar, walaupun bentuknya tidak terlalu halus

namun dapat dicerna oleh unggas bahkan butirannya yang kasar ini dapat

membantu pencernaan unggas secara mekanik.

(2) Dedak Padi

Dari hasil pengamatan dedak padi secara mikroskopis terlihat bahwa

dedak padi dengan kualitas bagus berbentuk butiran-butiran dengan permukaan

yang tidak rata namun lembut seperti kapas, sedangkan dedak padi dengan

kualitas rendah berbentuk butiran kasar dan berwarna coklat kusam. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Rasyaf (2002) yang menyatakan bahwa dedak padi

yang mengandung banyak sekam padi akan berwana coklat dan untuk dedak

berkulitas baik akan terdapat butiran beras yang ikut terbawa saat penggilingan.

(3) Tepung Ikan

Berdasarkan hasil pengamatan secara mikroskopis pada tepung ikan, di

dapatkan hasil pengamatannya bahwa tepung ikan berbentuk butiran-butiran

halus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anggorodi (1994) bahwa secara tekstur

tepung ikan berbentuk butiran-butiran halus yang menunjukan bahwa tepung ikan

mudah dicerna oleh unggas. Tepung ikan yang tidak rusak karena pengolahan

mengandung energy metabolis yang cukup tinggi dibandingkan dengan bahan-


29

bahan makanan lainnya yang digunakan dalam ransum unggas.

(4) Bungkil Kedelai

Berdasarkan hasil pengamatan secara mikroskopis pada bungkil kedelai

dapat dilihat bahwa bentuk butiran bungkil kedelai berbentuk butiran kasar yang

terlihat sangat jelas dan warnanya sama seperti pengamatan secara fisik. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Anggorodi (1994) bahwa bungkil kedelai butirannya

terlihat jelas dan terlihat lembut warnanya putihnya kecoklatan. Bungkil kedelai

merupakan bahan pakan yang paling baik untuk ternak unggas, karena mudah

dicerna kadar proteinnya tinggi dan kaya asaam amino esensial dan bila

dikombinasikan dengan jagung aka menghasilkan pakan yang baik untuk ternak.
30

V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

(1). Bahan pakan unggas digolongkan ke dalam bahan pakan konvensional dan

bahan pakan inkonvensional. Bahan pakan konvensional yaitu pakan yang

sering digunakan, misalnya jagung, dedak, bungkil kedelai, bungkil

kelapa, minyak kelapa, tepung ikan, tepung tulang, dan kulit kerang (grit).

Sedangkan bahan pakan inkonvensional adalah pakan unggas alternatif

yang jarang digunakan, biasanya digunakan apabila ketersediaan pakan

konvensional harga sangat mahal, misalnya sorghum, bungkil kacang

tanah, kerabang telur, cacing, siput, dsb. Selain itu, bahan pakan unggas

juga dapat digolongkan berdasarkan sifat fisik dan kimia antara lain

sumber energy, sumber proein, sumber mineral, sumber vitamin, feed

supplement, dan feed aditif.

(2). Prinsip dasar pengujian kualitas bahan pakan secara fisik dilakukan

dengan menggunakan pancaindra dengan cara dicium, dilihat, diraba, dan

dikecap agar dapat mengetahui bau, warna, tektur dan rasa dari bahan

pakan itu sendiri. Bahan pakan yang di uji kualitasnya secara fisik pada

saat praktikum terdiri dari jagung (mash dan meal), dedak (kualitas baik

dan kualitas rendah), minyak kelapa, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung

tulang, grit, CGM, dan premix.


31

5.2 Saran

Saat praktikum Pengenalan Bahan Pakan sebaiknya dibagi kedalam

beberapa kelompok kecil karena ketika dibagi ke dalam kelompok besar

penyampaian materi tidak efektif, lebih kondusif saat praktikum, dan asisten lebih

mendetail dan tidak terburu-buru saat penyampaian materi.


32

DAFTAR PUSTAKA

_______. 2005. Aquaculture feed microscopy a practical approach to quality


control. http://www.alteca.com/aquaculture.htm. (diakses pada 1 April
2018).

_________, 1992, Seputar Makanan Ayam Kampung. Kanisius, Yogyakarta.

_________. 2002. Beternak Ayam Pedaging. Edisi Revisi. Penebar Swadaya,


Jakarta.

Agus, A. 2008. Panduan Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Penerbit Ardana


Media. Yogyakarta.

Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Petelur. Lembaga Satu Gunung Budi: Bogor.

Anggorodi, R. 1994. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta

Anggorodi, R. 1995. Ilmu Makanan Ternak Unggas Kemajuan Mutakhir . PT.


Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Anita, H. Harahap. 2013. Pengaruh Waktu Simpan Film Plastik Biodegradasi dari
Pati Kulit Singkong Terhadap Sifat Mekanikalnya. Jurnal Ternik Kimia
USU. 2(1) : 11-15

Antonio. A. 2001. Bahan Pemalsuan Pakan. Erlangga. Yogyakarta

Bates, L. 2003. Microscopy: Fast QA to characteristics raw materials. Feed


International , October 2003:28-29.

Handaka, A. 2008. Perspektif Pengembangan Mekanisasi Pertanian dalam Sistem


Integrasi Ternak – Tanaman Berbasis Sawit, Padi, dan Kakao. Prosiding
Workshop Nasional Dinamika dan Keragaan Sistem Integrasi Ternak –
Tanaman: Padi, Sawit, Kakao. (In Press). Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan. Bogor.

Hapsari, N. 2007, "Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Dengan Metode


Sentrifugasi”, Jurnal, Teknik Kimia UPN Veteran, Surabaya.
33

Hartadi, H.S., Reksohadiprojo dan A. D. Tillman. 2005. Tabel Komposisi Pakan


untuk Indonesia. Cetakan ke IV. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.

Hidayanto, 2006. Limbah Kelapa Sawit sebagai Sumber Pupuk Organik dan
Pakan Ternak. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian: Kalimantan Timur

Khajarern, J., D. Sinchermsiri, A. Hanbunchong, and U. Kanto. 1987. Manual of


Feed Microscopy and Quality Control . America Soybean Association,
National Renderer Association US Feed Grains Council. Bangkok.

Murtidjo, B.A. 1993. Beternak Sapi Potong. Kanisius: Yogyakarta

Rasyaf, M. 1989. Memelihara Ayam Buras. Kanisius, Yogyakarta.

Saenong S., 1988. Teknologi Benih Jagung dalam Jagung. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor . Hal 163-
184.

Santoso. 1996. Pakan Ayam Buras. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi
Pertanian: Jakarta.

Sembiring, H. 2001. Komoditas Unggulan Pertanian Propinsi Sumatera Utara.


Sumatera Utara : Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi.
Sinaga, S. 2009. Nutrisi dan Ransum Babi. Kanisius: Yogyakarta.

Subekti, E. 2009. Ketahanan Pakan Ternak Indonesia. Jurnal Mediagro Vol.5 No.
2: 63-71.
Suprijatna, E., Atmormarsono, U., dan Kartasudjana, R. 2005. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penebar Swadaya: Jakarta.

Vaughan, J. G. 1981. Light Microcopy of Plant Constituents in Animal Feeds.


Studies of Food Microstructure. 299-304. Scanning Electron Microscopy.
Inc., Chicago.

Wahju, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-4. Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta.
34

Widodo, W. 2000. Nutrisi dan Pakan Unggas Konstekstual. Fakultas Peternakan


Universitas Muhammadiyah: Surabaya.
35

LAMPIRAN

Lampiran 1. Dokumentasi Bahan Pakan

Corn Gluten Meal Minyak Kelapa

Jagung Mash Jagung Meal

Dedak Padi (B) Bungkil Kedelai


36

GRIT (Tepung Kulit Kerang ) Premix

Tepung Ikan Tepung tulang

Dedak Padi (A)


37

Lampiran 2. Tabel Pembagian Tugas

No Nama (NPM) Tugas

1 Clarissa Gustiana A (200110160208) BAB IV

2 Daniarti Safrida M (200110160004) BAB III

3 Deka Ruslinasih (200110160188) Penyusun

4 Hanifa Dinillah (200110160076) BAB II

5 Leni (200110160012) BAB V

6 Ovy Yanti (200110160213) BAB I

7 Raihan Naufal R.S (200110160016) BAB IV