Anda di halaman 1dari 3

RESUSITASI BAYI

Untuk mendapatkan hasil myang sempurna dalam resusitasi, prinsip dasar yang perlu di ingat
ialah:
1. Menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi dan mengusahakan tetap bebasnya jalan
nafas
2. Memberikan bantuan pernafasan secara aktif kepada bayi dengan usaha pernafasan
buatan
3. Memperbaiki asidosis yang terjadi
4. Menjaga agar peredaran darah tetap baik
Tindakan tindakan yang di lakukan pada bayi dapat di bagi menjadi dua golongan.
a. Tindakan umum
Tindakan ini dikerjakakan pada setiap bayi tanpa memandang nilai Apgar.
Segera setelah bayi lahir, di usahakan agar bayi mendapat pemanasan yang
baik. Harus di cegah dan di kurangi kehilangan panas dari tubuhnya .
Penggunaan sinar lampu untuk pemanasan luar dan untuk mengeringkan tubuh
bayi mengurangi evaporasi.
Bayi deletakkan dengan kepala lebih rendah dan penghisapan saluran
pernafasan bagian atas segera dilakukan. Hal ini harus dikerjakan dengan hati-
hati untuk menghindarkan timbulnya kerusakan-kerusakan mukosa jalan
nafas, spasmus laring, atau kolaps paru-paru. Bila bayi belum memperlihatkan
usaha bernafas, rangsangan terhadapnya harus segera dikerjakan. Hal ini dapat
berupa rangsangan nyeri dengan cara memukul kedua telapak kaki, menekan
tendon Achilles, atau pada bayi-bayi tertentu diberi suntikan vitamin K.
b. Tindakan khusus
Tindakan ini dikerjakan setelah tindakan umum diselenggarakan tanpa hasil. Prosedur
yang dilakukan disesuaikan dengan beratnya asfiksia yang timbul pada bayi, yang
dinyatakan oleh tinggi-rendahnya nilai APGAR.
i. Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3)
Resusitasi aktif dalam keadaan ini harus segera dilakukan. Langkah utama
ialah memperbaiki ventilasi paru-paru dengan memberikan O2 secara tekanan
langsung dan berulang-ulang. Cara terbaik ialah melakukan intubasi
endotrakeal dan setelah kateter dimasukkan ke dalam trakea, O2 diberikan
dengan tekanan tidak lebih dari 30 ml air. Tekanan positif dikerjakan dengan
meniupkan udara yang telah diperkaya dengan oksigen melalui kateter tadi.
Untuk mencapai tekanan 30 ml air peniupan dapat dilakukan dengan kekuatan
kurang lebih 1/3-1/2 dari tiupan maksimal yang dapat dikerjakan.
Secara ideal nafas buatan harus dilakukan dengan terlebih dahulu memasang
manometer. Selanjutnya untuk memperoleh tekanan positif yang lebih aman
dan efektif , dapat digunakan pompa resusitasi. Pompa ini dihiubungkan
dengan kateter trakea, kemudian udara dengan oksigen dipompakan secara
teratur dengan memperhatikan gerakan-gerakan dinding toraks . bila bayi telah
memperlihatkan pernafasan spontan, kateter trakea segera dikeluarkan.
Bila setelah beberapa waktu pernafasan spontan tidak timbul dan frekuensi
jantung menurun (kurang dari 100 permenit) maka pemberian obat-obat lain
serta massage jantung sebaiknya segera dilakuakan. Massage jantung
dikerjakan dengan melakukan penekanan diatas tulang dada secara teratur 80-
100 kali permenit. Tindakan ini dilakukan berselingan dengan nafas buatan.
Hal ini bertujuan untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya komplikasi
pneumotoraks atau pneumomediastinum apabila tindakan dilakukan secara
bersamaan. Disamping massage jantung ini. Obat-obat yang dapat diberikan
antara lain ialah larutan 1/10.000 adrenalin dengan dosis 0,5 -1cc secara
intravena/intrakardial (untuk meningkatkan frekuensi jantung) dan kalsium
glukonat 50-100 mg\kg berat badan secara perlahan-lahan melalui intravena
(sebagai obat inotropik). Pada bayi dengan tanda-tanda renjatan, cairan
intravena berupa plasma, darah atau cairan pengganti lainnya (volumke
expander) harus segera diberikan.
Bila tindakan-tindakan tersebut diatas tidak memberi hasil yang diharapkan
oleh gangguan keseimbangan asam dan basa yang belum diperbaiki secara
semestinya, adanya gangguan organic seperti hernia diafragmatika, atresia
atau stenosis jalan napas, dan lain-lain.
ii. Asfiksia ringan-sedang (nilai APGAR 4-6)
Di sini dapat dicoba melakukan rangsangan untuk menimbulkan reflex
pernafasan. Hal ini dapat dikerjakan selama 30-60 detik setelah penilaian
menurut Apgar 1 menit. Bila dalam waktu tersebut pernapasan tidak timbul,
pernapasan buatan harus segera dimulai. Pernafasan aktif yang sederhana
dapat dilakukan secara pernafasan kodok (frog breathing). Cara ini dikerjakan
dengan memasukkan pipa ke dalam hidung, dan O2 dialirkan dengan
kecepatan 1-2 liter dalam satu menit. Agar saluran napas bebas, bayi
diletakkan dengan kepala dalam dorsofleksi. Secara teratur dilakukan gerakan
membuka dan menutup lubang hidung dan mulut dengan disertai
menggerakkan dagu ke atas dan ke bawah dalam frekuensi 20 kali semenit.
Tindakan ini dilakukan dengan memperhatikan gerakan dinding toraks dan
abdomen. Bila bayi mulai memperlihatkan gerakan pernafasan, usahakanlah
supaya gerakan tersebut diikuti. Pernafasan ini dihentikan bila setelah 1-2
menit tidak juga dicapai hasil yang diharapkan, dan segera dilakukan
pernafasan buatan dengan tekanan positif secara tidak langsung. Pernafasan ini
dapat dilakukan dahulu dengan pernafasan dari mulut ke mulut. Sebelum
tindakan dilakukan, ke dalam mulut bayi dimasukkan pharyngeal airway yang
berfungsi mendorong pangkal lidah ke depan, agar jalan napas berada dalam
keadaan sebebas-bebasnya. Pada pernapasan dari mulut ke mulut , mulut
penolong diisi terlebih dahulu dengan O2 sebelum peniupan. Peniupan
dilakukan secara teratur dengan frekuensi 20-30 kali semenit dan diperhatikan
gerakan pernafasan yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhasil
bila setelah dilakukan beberapa saat, terjadi penurunan frekuensi jantung atau
pemburukan tonus otot. Dalam hal demikian bayi harus diperlakukan sebagai
penderita asfiksia berat.
iii. Tindakan lain-lain dalam resusitasi
Pengisapan cairan lambung hanya dilakukan pada bayi-bayi tertentu untuk
menghindarkan kemungkinan timbulnya regurgitasi dan aspirasi, terutama
pada bayi yang sebelumnya menderita gawat-janin, yang dilahirkan dari ibu
yang mendapat obat-obat analgesia/anestesia dalam persalinannya, pada bayi
premature, dan sebagainya.
Tentang penggunaan obat-obat analeptic seperti Lobelin,Koramin, Vandid,
dan lain-lain dewasa ini tidak diberikan lagi dan asfiksia berat bahkan
merupakan kontraindikasi untuk penggunaannya. Nalorphin merupakan obat
satu-satunya yang dapat diberikan pada bayi apabila asfiksia yang terjadi
disebabkan oleh penekanan pernafasan akibat Morfin atau Pethidin dan obat-
obatan berasal dari golongan itu yang diberikan pada ibu selama persalinan.