Anda di halaman 1dari 65

HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT PERUT, DAYA

LEDAK OTOT LENGAN BAHU, DAN KEKUATAN


OTOT PERAS DENGAN HASIL PUKULAN SMASH
PADA PEMAIN PEMULA PUTERA
PB. PRESTASI WELERI
TAHUN 2005

SKRIPSI

Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1


Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

NAMA : HERI SETIAWAN


NIM : 6301401050
JURUSAN : PENDIDIKAN KEPELATIHAN
FAKULTAS : ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2005

i
SARI

Heri Setiawan, 2005. Hubungan Antara Kekuatan Otot Perut, Daya Ledak Otot
Lengan Bahu dan Kekuatan Otot Peras dengan Hasil Pukulan Smash Pada Pemain
Pemula Putera PB. Prestasi Weleri. Skripsi.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui : 1) apakah ada hubungan antara


kekuatan otot perut dengan hasil pukulan smash, 2) apakah ada hubumgan antara
daya ledak otot lengan bahu dengan hasil pukulan smash, 3) apakah ada hubungan
antara kekuatan otot peras dengan hasil pukulan smash, dan 4) apakah ada hubungan
antara kekuatan otot perut, daya kedak otot lengan bahu, dan kekuatan otot peras
dengan hasil pukulan smash.
Metode penelitian menggunakan survei dengan teknik tes. Hipotesis peneliti-
an adalah : 1) Ada hubungan antara kekuatan otot perut dengan hasil pukulan smash,
2) Ada hubungan antara daya ledak otot lengan bahu dengan hasil pukulan smash, 3)
Ada hubungan antara kekuatan otot peras dengan hasil pukulan smash, dan 4) Ada
hubungan antara kekuatan otot perut, daya kedak otot lengan bahu, dan kekuatan otot
peras dengan hasil pukulan smash. Variabel penelitian meliputi variabel bebas
(prediktor) terdiri dari 1) kekuatan otot perut (X1), 2) daya ledak otot lengan bahu
(X2), 3) kekuatan otot peras (X3), dan variabel tergantung (kriterium) atau Y adalah
hasil pukulan smash. Populasi penelitian sebanyak 35 orang, dengan menggunakan
teknik total sampling diperoleh sampel sebanyak 35 orang. Data hasil penelitian diuji
dengan uji normalitas, uji homogenitas varians, uji linieritas, dan uji keberartian
model, selanjutnya diolah menggunakan teknik regresi tunggal dan regresi ganda
menggunakan program SPSS versi 11, menggunakan taraf signifikansi 5 %.
Hasil analisis data penelitian dengan uji F untuk rX1-Y = 174,839 atau
signifikansi 0,000; uji F untuk rX2-Y = 16,843 atau signifikansi 0,000; uji F untuk
rX3-Y = 5,692 atau signifikansi 0,023; dan rX123-Y = 58,369 atau signifikansi 0,000.
Berdasar hasil uji F tersebut dapat disimpulkan 1) Ada hubungan antara kekuatan
otot perut dengan hasil pukulan smash, 2) Ada hubungan antara daya ledak otot
lengan bahu dengan hasil pukulan smash, 3) Ada hubungan antara kekuatan otot
peras dengan hasil pukulan smash, dan 4) Ada hubungan antara kekuatan otot perut,
daya kedak otot lengan bahu, dan kekuatan otot peras dengan hasil pukulan smash.
Berdasar pada simpulan, disarankan kepada para pelatih bulutangkis, bahwa
dalam pelatihan pukulan smash aspek kekuatan otot perut, daya ledak otot lengan
bahu dan kekuatan otot peras, dapat dijadikan sebagai materi pendukung didalam
penyusunan program pelatihan pukulan smash pada pemain pemula putera, agar
proses pelatihan pukulan smash yang dilakukan dapat berhasil guna dan berdaya
guna.

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

Telah disetujui untuk diajukan ke panitia penguji Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang

Menyetujui :

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Prof. M. Nasution, M. Kes. Drs. Joko Hartono, M. Pd.


NIP. 13876219 NIP. 131415251

Mengetahui :

Ketua Jurusan PKLO FIK UNNES

Drs. Wahadi, M. Pd.


NIP . 131571551

iii
HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu


Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, pada :
Hari :
Tanggal :
Jam :
Tempat :

Panitia Ujian

Ketua, Sekretaris,

Drs. Sutardji, MS. Drs. Wahadi, M. Pd.


NIP. 130937114 NIP . 131571551

1. Drs. Tohar, M. Pd
NIP. 130340642

2. Drs. M. Nasution, M. Kes.


NIP. 131876219

3. Drs. Joko Hartono, M. Pd.


NIP. 131415251

iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO :

Sesungguhnya Allah SWT., tidak akan melihat pada tubuh dan rupamu,

tetapi Allah akan melihat hatimu dan amalmu (HR. Muslim)

PERSEMBAHAN :

Skripsi ini kupersembahkan kepada :

1. Ayahanda Sudirman dan Almarhumah Ibu Djumiati

2. Kakak-kakakku dan Adikku tercinta.

3. Sahabat-sahabatku seperjuangan Jurusan PKLO FIK UNNES

4. Almamaterku UNNES

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan
rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun
skripsi dalam rangka menyelesaikan studi Strata - 1 di FIK UNNES.
Pada Kesempatan ini, tak lupa penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada
yang terhormat :
1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk melanjutkan studi.
2. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk melanjutkan studi.
3. Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga yang telah memberikan
dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu
Keolahragaan UNNES.
4. Drs. M. Nasution, M. Kes. dan Drs. Joko Hartono, M. Pd. selaku pembimbing
yang banyak memberikan bimbingan sehingga penulisan ini berjalan lancar.
5. Ketua PB. Prestasi Weleri, yang telah memberikan ijin dan kemudahan kepada
penulis untuk mengambil data penelitian.
6. Bapak dan Ibu Dosen FIK UNNES jurusan Kepelatihan Olahraga yang telah
banyak memberikan ilmunya kepada penulis selama menempuh studi.
7. Seluruh pemain PB. Prestasi Weleri, dengan segala kesadarannya mau menjadi
sampel penelitian.
8. Teman-teman Jurusan Kepelatihan Olahraga FIK UNNES, dan semua pihak
yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Harapan penulis semoga amal baik Bapak, Ibu dan Saudara berikan kepada
penulis mendapat ridlo dari Allah SWT dengan kebaikan yang berlebih. Amin.

Semarang, 1 Juli 2005


Penulis

vi
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………. i


SARI …………………………………………………………………….. ii
HALAMAN PERSETUJUAN ………………………………………….. iii
HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………... iv
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ………………………... v
KATA PENGANTAR …………………………………………………... vi
DAFTAR ISI ……………………………………………………………. vii
DAFTAR TABEL ………………………………………………………. x
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………. xi
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………. xii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………… 1
1.1. Latar Belakang ........................……………………………. 1
1.2. Permasalahan ...………………………………………….... 6
1.3. Penegasan Istilah ...………………………………………... 7
1.4. Tujuan Penelitian .......…………………………………….. 10
1.5. Manfaat Penelitian ...……………………………………... 10
BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS …………………… 12
2.1. Landasan Teori .…………………………………………... 12
2.1.1. Daya Ledak Otot Tungkai ..…….……….……........ 12
2.1.2. Kekuatan Otot Perut ...........................……………. 19
2.1.3. Panjang Tungkai ...................................................... 20
2.1.4. Tendangan Jarak Jauh Dalam Sepakbola .............. 23
2.2. Hipotesis…………………………………………………… 29
BAB III. METODE PENELITIAN ........…………………………….. 31
3.1. Populasi ..………………………………………….……....... 31
3.2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ……...………....... 31

vii
3.3. Variabel Penelitian ................……………………………..... 32
3.4. Metode dan Desain Penelitian ...…..…………....................... 33
3.5. Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 35
3.6. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................ 36
3.7. Teknik Analisis Data .............................................................. 37
BAB IV. KEMAMPUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ….. 40
4.1. Hasil Penelitian …………………………………………….. 40
4.1.1. Diskripsi Data …………………………………..……. 40
4.1.2. Analisis Data…………………………………….……. 41
4.2. Uji Hipotesis ....……………………………………………. 44
4.3. Pembahasan ……..………………………………………..... 47
4.4. Keterbatasan Penelitian ......................................................... 50
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN ………………………………… 52
5.1. Simpulan ……………………………………………….…. 52
5.2. Saran............……………………………………………….. 52
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 54
LAMPIRAN-LAMPIRAN ……………………………………………… 55

viii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Perbandingan Sifat Otot Lambat dan Otot Cepat ……………………... 14

2. Diskripsi Data Variabel Penelitian ........................................................ 40

3. Rangkuman Uji Normalitas Distribusi Data …………………………. 41

4. Rangkuman Uji Homogenitas Varians Data …………......................... 42

5. Rangkuman Uji Linieritas Variabel Data Penelitian Menggunakan

Anava ..................................................................................................... 43

6. Rangkuman Uji Keberartian Model Variabel Data Penelitian

Menggunakan uji t .................................................................................. 44

7. Ringkasan Kemampuan Analisis Regresi antara Daya Ledak otot

Tungkai, Kekuatan Otot Perut dan Panjang Tungkai dengan Hasil

Menendang Bola …................................................................................ 45

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Susunan Otot Perut ................................................................................ 20

2. Tungkai dilihat dari depan ..................................................................... 23

3. Bagian Kaki yang Digunakan untuk Menendang .................................. 25

4. Teknik Menendang Bola dengan Bagian Samping Dalam Kaki ........... 27

5. Teknik Menendang Bola dengan Bagian Samping Luar Kaki .............. 28

6. Teknik Menendang Bola dengan Kura-kura Kaki ................................. 29

7. Desain Penelitian ……………………………………………………… 34

x
LAMPIRAN – LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Data Nama Sampel dan Hasil Pelaksanaan Tes .............……………… 55

2. Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Data Penelitian .......................... 56

3. Analisis Data Penelitian ............……………..……………………….. 57

4. SK Pembimbing Skripsi ........................................................................ 61

5. Surat Keterangan Penelitian ………………………………………...... 62

6. Foto Anggota Sampel Penelitian ……………………………………… 63

7. Petugas Pelaksana ..........................…………………………………… 65

xi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Bagi bangsa Indonesia, olahraga bulu tangkis merupakan salah

satu cabang olahraga yang banyak digemari semua lapisan masyarakat.

Olahraga ini dapat dimainkan oleh golongan anak-anak sampai orang

dewasa, baik pria maupun wanita.

Selain dijadikan sebagai olahraga rekreasi, peran bulu tangkis juga

tidak perlu diragukan lagi karena telah mampu membawa bangsa

Indonesia ke puncak prestasi tingkat dunia. Terbukti dari berbagai

kejuaraan tingkat dunia, baik perorangan maupun beregu, Indonesia

mampu memboyong beberapa lambang supremasi bidang olahraga

tersebut. Rekor-rekor atas nama putra-putri Indonesia memang telah diakui

dunia oleh tercapainya prestasi yang fenomenal.

Dengan adanya prestasi yang membanggakan itu maka bulu

tangkis bukan hanya menjadi urusan orang-orang PBSI, melainkan juga

menjadi urusan masyarakat Indonesia, baik para pelaku bisnis maupun

para penikmat. Berangkat ke luar negeri untuk mengikuti kejuaraan bulu

tangkis tingkat dunia dengan membawa nama bangsa menjadi sesuatu

1
2

yang harus dipersiapkan secara matang yang meliputi berbagai aspek

penunjangnya.

Olahraga tidak hanya bermanfaat bagi tubuh manusia, tapi juga

dapat mencairkan dua hubungan negara yang berseteru. Untuk itu, PBSI

telah mendapat tugas dari Ketua Umum KONI Pusat Sri Sultan

Hamengkubuwono IX untuk menjadi duta perdamaian dan persahabatan

ke Kuala Lumpur. Peristiwa itu terjadi tahun 1967 saat konfrontasi sudah

cair, tetapi luka-luka yang tersisa masih terasa.(Eko Djatmiko dkk, 2004:

68).

Untuk menjadi pemain bulu tangkis yang berprestasi maka

seseorang harus menguasai faktor-faktor teknis dan pendukung lainnya.

Penguasaan teknik dasar ataupun teknik pukulan bulu tangkis secara baik

merupakan awal dari pola permainan yang baik pula. Tentu hal itu harus

pula didukung dengan penanganan seorang pelatih yang mumpuni.

Penanganan tersebut perlu dilakukan sejak awal misalnya dengan

membentuk klub-klub bulu tangkis di daerah. Sebab, klub tersebut akan

memunculkan bibit-bibit pemain bulu tangkis yang andal.

Teknik dasar penguasaan pokok yang harus dikuasai oleh setiap

pemain meliputi (1) cara mememegang raket yang terdiri atas pegangan

Amerika, pegangagn Inggris, pegangan gabungan, dan pegangan

backhand, (2) gerakan pergelangan tangan, (3) gerakan melangkahkan

kaki atau foot work, (4) pemusatan pikiran atau konsentrasi (Tohar, 1992:
3

34-40). Adapun teknik pukulan menurut Tohar (1992: 40-67) terdiri atas

(1) pukulan service, (2) pukulan lob, (3) pukulan drive, (4) pukulan

dropshot, (5) pukulan pengembalian service, (6) pukulan smash.

Pembelajaran teknik dasar secara benar dengan intensitas latihan

yang terprogram bagi seorang atlet akan dapat mengembangkan pola

pukulan dari tingkat kesukaran masing-masing. Dalam permainan bulu

tangkis faktor stamina merupakan faktor penting karena mustahil tercipta

permainan yang baik jika pemain tidak mampu mempertahankan

staminanya. Pemain bulu tangkis juga membutuhkan aspek kekuatan dan

kecepatan yang dapat berguna agar bisa menjangkau shuttle cock dari

setiap sudut lapangan dan akan kembali pada sikap yang siap dalam waktu

yang singkat.

Di samping pukulan yang lain, smash merupakan pukulan yang

biasa digunakan karena sangat memungkinkan untuk menekan permainan

lawan sehingga lawan harus selalu siap dan cekatan dalam

mengantisipasinya. Pukulan smash adalah pukulan overhand (atas) yang

diarahkan ke bawah dan dilakukun dengan tenaga penuh. Pukulan ini

identik dengan pukulan menyerang karena tujuanya adalah mematikan

permainan lawan (PBSI 30-31). Dalam pemberian materi latihan,

khususnya pukulan smash, seorang pelatih harus mampu mengembangkan

faktor_apa saja yang dapat mendukung terciptanya hasil yang maksimal

karena pukulan ini paling banyak memerlukan tenaga.


4

Selanjutnya pengembangan pola latihan perlu diterapkan dengan

memperhatikan faktor usia karena pola latihan yang melebihi dosis

kemampuan otot akan berpengaruh terhadap perkembangan fisik

seseorang. Menurut M. Sajoto (1995: 7), apabila seseorang ingin mencapai

prestasi yang optimal, perlu memiliki empat hal yang meliputi (1)

pengembangan fisik, (2) pengembangan teknik, (3) pengembangan mental,

dan (4) kematangan juara. Adapun faktor-faktor penentu prestasi olahraga

menurut Sajoto meliputi (1) aspek biologis yang terdiri atas potensi atau

kemampuan dasar tubuh, fungsi organ tubuh, struktur dan postur tubuh,

gizi, (2) aspek psikologis yang terdiri atas intelektual, motivasi,

kepribadian, koordinasi kerja otot dan saraf, (3) aspek lingkungan, (4)

aspek penunjang (1992: 22-25).

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis tertarik untuk

mengadakan penelitian tentang hubungan kekuatan otot peras, daya ledak

otot lengan bahu, dan kekuatan otot perut terhadap hasil pukulan smash

pada pemain pemula putra PB. Prestasi Weleri tahun 2005.

Adapun alasan pemilihan judul dalam skripsi ini adalah

sebagai berikut.

1.1.1. Dalam permainan bulu tangkis, pukulan smash memiliki manfaat

yang sangat besar untuk meningkatkan kualitas permainan.

1.1.2. Pukulan smash merupakan jenis pukulan menyerang dan

mematikan yang memerlukan tenaga besar.


5

1.1.3. Belum ada mahasiswa FIK Unnes yang melakukan penelitian

serupa.

1.2. Permasalahan

Permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut.

Apakah ada hubungan antara kekuatan otot peras dan hasil pukulan

smash.

Apakah ada hubungan antara daya ledak otot lengan bahu dan hasil

pukulan smash.

1.2.3. Apakah ada hubungan antara kekuatan otot peras dan hasil pukulan

smash.

1.2.4. Apakah ada hubungan antara kekuatan otot peras, daya ledak otot

lengan bahu, kekuatan otot perut, dan hasil pukulan smash pada

pemain pemula putra PB. Prestasi Weleri.

1.3. Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi salah pengertian terhadap istilah yang dimaksud

dalam skripsi ini maka dalam penelitian ini perlu diadakan penegasan

istilah sebagai berikut.


6

1.3.1. Hubungan.

Menurut WJS Poerwodarminto (1986: 362), hubungan

adalah keadaan yang dihubungkan atau penghubung. Penelitian

hubungan atau korelasi yang dimaksud di sini bertujuan untuk

menemukan ada tidaknya hubungan. Apabila ada seberapa erat,

dan seberapa besar pengaruh dari hubungan itu.

1.3.2. Kekuatan Otot Perut.

Pengertian kekuatan (strength) adalah komponen fisik

seseorang tentang kemampuanya dalam mempergunakan otot

untuk menerima beban sewaktu bekerja (M. Sajoto 1983: 8).

Adapun istilah otot diartikan sebagai jaringan yang mempunyai

kemampuan khusus untuk bekerja (Evelyn, 1986; 8), dan yang

dimaksud dengan kekuatan perut adalah kemampuan seseorang

dalam menggunakan perut untuk berkontraksi. Jadi yang dimaksud

kekuatan otot perut dalam skripsi ini adalah kemampuan seseorang

dalam menggunakan jaringan otot perut dalam melakukan pukulan

smash pada permainan bulu tangkis.

1.3.4 Kekuatan Otot Peras.

Pengertian istilah peras adalah (1) memijit (manekan dan

sebagainya) supaya keluar air. (2) mengeluarkan air sebanyak-

banyaknya (Poerwadarminto 1983: 736). Jadi yang dimaksud


7

dengan kekuatan otot peras adalah kemampuan sebuah otot atau

kelompok otot untuk memijit atau menggenggam tangkai raket

ketika seorang pemain bulu tangkis melakukuan pukulan smash.

1.3.5. Daya Ledak Otot Lengan Bahu.

Daya ledak menurut M. Sajoto (1995: 8) adalah gerakan

yang dilakukan secara eksplosif. Maksudnya, kemampuan

seseorang untuk mempergunakan kekuatan otot lengan bahu yang

dikerahkan secara maksimum dalam waktu sependek-pendeknya

ketika melakukan pukulan smash dalam permainan bulu tangkis.

1.3.6. Hasil Smash.

Pukulan smash adalah suatu pukulan yang keras dan curam

ke bawah mengarah ke bidang lapangan pihak lawan (Tohar, 1992:

57). Pendapaat lain mengatakan bahwa pukulan smash adalah

pukulan overhead (atas) yang diarahkan ke bawah dan dilakukan

dengan tenaga penuh (Tahir Djide, 2005:30). Jadi yang dimaksud

hasil pukulan smash adalah penempatan shuttle cock di daerah

lapangan lawan.

1.3.7. Pemain pemula putra PB. Prestasi weleri.

Pemain pemula putra PB. Prestasi Weleri adalah Pemain

bulu tangkis putra yang pada tahun 2005 berusia 11-14 tahun.
8

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.4.1. Untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot perut dan hasil

pukulan smash.

1.4.2. Untuk mengetahui hubungan antara daya ledak otot lengan bahu

dan hasil pukulan smash.

1.4.3. Untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot peras dan hasil

pukulan smash.

1.4.4. Untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot perut, daya ledak

otot lengan bahu serta kekuatan otot peras dan hasil pukulan smash

pada pemain putra PB.Prestasi Weleri.

1.5. Manfaat penelitian

1.5.1. Manfaat yang didapat dari penelitian ini merupakan sumbangan

yang dapat berguna bagi Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan

dalam upaya pengembangan permainan bulutangkis mengenai

peningkatan hasil pukulan smash.

1.5.2. Dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan dan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi

mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES yang akan

melaksanakan penelitian di masa yang akan datang dalam

menempuh studinya.
BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Kondisi Fisik.

Permainan bulu tangkis merupakan permainan yang sarat

dengan penampilan gerak atraktif yang memiliki tingkat kesulitan.

Konsentrasi dan kemampuan keterampilan teknik dapat menunjang

seseorang untuk melakukan gerakan yang cepat, lentur, dan tetap

menjaga keseimbangan tubuh. Untuk menunjang kelincahan gerak maka

dibutuhkan pola latihan kondisi fisik yang terprogram demi tercipta

permainan yang baik.

Menurut M. Sajoto, dalam latihan tersebut harus ada kesatuan

yang utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu

saja baik dalam peningkatan maupun pemeliharaan kondisi fisik.

Kompnen kondisi fisik itu meliputi:

a. Kekuatan (strength) adalah komponen fisik seseorang tentang

kemampuanya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban

sewaktu bekerja.

b. Daya tahan (endurance) dalam hal ini dikenal dua macam. Pertama

adalah daya tahan umum (general endurance) yaitu kemampuan

9
10

seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, paru-paru, dan

peredaran darahnya secara efektif dan efisien untuk menjalankan

pekerjaan secara terus-menerus yang melibatkan kontraksi sejumlah

otot dengan intensitas dalam waktu yang cukup lama. Kedua adalah

daya tahan otot (local endurance) yaitu kemampuan seseorang dalam

mempergunakan ototnya untuk berkontraksi secara terus-menerus

dalam waktu yang relatif lama dengan beban tertentu.

c. Daya otot (muscular power) kemampuan seseorang untuk

mempergunakan kemampuan maksimum yang dikerahkan dalam

waktu yang sependek-pendeknya. Dalam hal ini dapat dinyatakan

bahwa daya otot = kekuatan (force) x kecepatan (velocity).

d. Kecepatan (speed) kemampuan seseorang dalam mengerjakan

gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu

sesingkat-singkatnya.

e. Daya lentur (fleksibelity) seseorang dalam penyesuaian diri dalam

aktifitas dengan penguluran tubuh yang luas. Hal ini akan sangat

mudah ditandai dengan tingkat flexibility persendian pada seluruh

tubuh.

f. Kelincahan (agility) adalah kemampuan seseorang merubah posisi di

area tertentu.

g. Koordinasi (coordination) adalh kemampuan seseorang

mengintegrasi bermacam-macam gerakan yang berbeda kedalam pola

gerakan tunggal secara efektif.


11

h. Keseimbangan (balance) Kemampuan seseorang mengendalikan

organ-organ syaraf otot.

i. Ketepatan (accuracy) adalah seseorang untuk mengenalikan gerak-

gerak bebas terhadap suatu sasaran. Sasaran ini dapat merupakan

jarak atau mungkin suatu objek langsung yang harus dikenai dengan

salah satu bagian tubuh.

j. Reaksi (reaction) adalah kemampuan seseorang untuk segera

bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang

ditimbulkan lewat indra, syaraf, atau filling lainya. Seperti dalam

mengantisipasi datangnya bola (1995 : 8-11).

Dari sepuluh komponen kondisi fisik tersebut kekuatan otot

peras, daya ledak otot lengan bahu, dan kekuatan otot perut merupakan

komponen otot yang dominan di samping komponen otot yang lain.

Peranan seorang pelatih untuk proses penyempurnaan atlet demi mutu

prestasi yang maksimal dapat dijadikan hal yang penting, maka perlu

diterapkan prinsip-prinsip latihan sebagai usaha untuk mempercepat

tujuan yang ingin dicapai.

Prinsip-prinsip latihan tersebut meliputi (1) latihan harus

sepanjang tahun tanpa terseling atau prinsip kontinuitas dalam latihan,

(2) kenaikan beban latihan yang teratur, (3) prinsip individualis atau

perorangan atlet, (4) pinsip interval, (5) prinsip stressing atau penekanan

(Suharno H, 1986 : 19-26).


12

Faktor latihan yang dapat dijadikan dasar untuk memiliki

kecakapan dalam bermain bulu tangkis di antaranya adalah gerakan kaki

atau footwork.yang memungkinkan pemain untuk bergerak selincah

mungkin ke segala bagian lapangan. Footwork sangat penting karena

atlet tidak akan mungkin memukul shuttle cock dengan efisien ataupun

mengontrol lawannya bila tidak dapat dengan mudah berada pada posisi

untuk memukul (James Poole, 50).

2.1.2 Pengertian Istilah Teknik Pukulan

Teknik pukulan adalah cara melakukan pukulan dalam

permainan bulutangkis dengan tujuan untuk menerbangkan shuttle cock

ke bidang lapangan lawan (Tohar, 1992:40). Sebuah teknik pukulan

dalam olahraga Bulutangkis tersusun atas beberapa gerakan dasar yang

terangkai secara sistematis dari gerakan awal sampai akhir. Pengambilan

posisi untuk melakukan pukulan dapat berpengaruh terhadap hasil.

Teknik pukulan dalam Bulutangkis yang tepat, dapat sebagai

acuan penilaian kualitas permainan, oleh karena itu harus dapat

dipahami oleh seorang pelatih guna tecipta efektifitas gerak atletnya.

Teknik pukulan dalam Bulutangkis antara lain:

a. Pukulan Service

Pengrtian pukulan service adalah pukulan dengan raket yang

menerbangkan shuttle cock ke bidang lapangan lawan sacara diagonal


13

dengan tujuan sebagai pembuka permainan dan merupakan suatu

pukulan yang penting dalam permainan bulutangkis (Tohar, 1992:132).

Dapat juga dikatakan bahwa servis merupakan modal awal untuk bisa

memenagkan pertandingan. “Dalam permainan bulutangkis ada tiga jenis

service yaitu servis pendek, servis tinggi, dan flick servis atau servis

setengah tinggi (Tahir djide dkk, 2005:20). Pukulan ini membutuhkan

tingkat konsentrasi yang tinggi karena merupakan awal dari

berlangsungnya permainan.

b. Pukulan Lob atau Clear

Pukulan lob adalah suatu pukulan dalam permainan bulutangkis

yang dilakukan dengan tujuan untuk menerbangkan shuttle cock

setinggi-tingginya dan mengarah jauh ke belakang garis lapangan

(Tohar, 1992:47). Keuntungan dari pukulan ini adalah dengan

mengarahkan shuttle cock ke belakang lawan atau dengan membuat

mereka bergerak lebih cepat dari yang mereka inginkan, akan membuat

mereka kekurangan waktu dan membuat lebih cepat lelah (Tony Grice,

1996 :57).

c. Pukulan Drop Shot

“Pukulan drop shot adalah pukulan pelan atau seolah-olah hanya

dengan sentuhan atau jentikan yang menjatuhkan shuttle cock dilapangan

lawan dekat net atau sedekat-dekatnya dengan net” (Tohar, 1992:50).


14

Nilai dari pukulan drop overhead atau underhand terletak pada

kombinasi pukulan ini dengan clear atau membuat lawan sibuk dan

memaksanya untuk mempertahankan seluruh lapangan (Tony Grice,

1996 : 71)

d. Pukulan Drive

Dikatakan bahwa “Pukulan Drive adalah Pukulan yang dilakukan

dengan cara menerbangkan shuttle cock secara mendatar, ketinggianya

menyusur di atas net dan penerbanganya sejajar dengan lantai” (Tohar

1992:65). Pukulan ini memiliki keuntungan untuk menekan permainan

lawan agar tidak dapat menyerang. Pendapat lain mengatakan bahwa

pukulan drive adalah pukulan mendatar yang meluncurkan bola sedikit

lebih tinggi dari net (Christian Hadinata 19).

e. Pukulan Smash.

Gerakan awal dalam melakukan pukulan smash hampir sama

dengan saat melakukan pukulan lob. Perbedaan utamanya adalah pada

saat akan impact. Pada pukulan lob shuttle cock diarahkan ke atas,

sedangkan pada pukulan smash, shuttle cock diarahkan tajam ke bawah

dengan kecepatan yang tinggi karena menggunakan tenaga penuh dan

cambukan pergelangan tanga (Tohar 1992: 69). Hal yang penting bagi

seorang pemain bulu tangkis untuk dapat melakukan pukulan smash

yang baik adalah bagaimana cara mengeluarkan tenaga otot-otot yang


15

ada pada dirinya secara efektif dan efisien. Koordinasi gerakan

merupakan gerakan terpadu yang berakhir pada pecutan pergelangan

tangan untuk melepaskan tembakan smash yang dikehendaki. “Pukulan

smash hanya dapat dilakukan dari posisi overhead bola dipukul dengan

kuat tetapi anda harus mengatur tempo dan keseimbangan sebelum

mencoba mempercepat kecepatan smash anda” (Tony Grice, 1996 : 85).

2.1. 3. Macam-macam Pukulan Smash.

Dalam permainan bulu tangkis kecakapan seseorang turut

mempengaruhi pola permainan, perubahan gerakan yang secepat

mungkin dapat berguna untuk mengecoh prediksi lawan sehingga tidak

dapat mengantisipasi pengembalian shuttle cock. pukulan smash dapat

dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Pukulan Smash Penuh

Pukulan smash penuh adalah melakukan pukulan smash dengan

mengayunkan pukulan-pukulan raket yang perkenaannya tegak lurus

antara daun raket dengan datangnya shutle cock sehingga pukulan itu

dilakukan dengan tenaga penuh (Tohar, 1992: 60). Ketepatan sasaran

dalam pukulan ini harus diperhitungkan dengan sebagaimana mungkin

agar menyulitkan gerakan pengembalian smash. Penempatan Shuttle

cock yang jauh dari posisi lawan memang merupakan titik sasaran yang

tepat, tapi itu bukan merupakan satu-satunya cara yang digunakan,


16

kesulitan mekanika gerak lawan yang lebih condong untuk mematikan

pemainan.

Gambar 1

Pukulan Smash penuh

Sumber: Armbuster,dkk.(1979). Sport and Rekreasional Activities For

men and women. London: The CV. Mosby Company (hal. 39).

b. Pukulan Smash Dipotong (Iris)

Yang dimaksud dengan pukulan smash dipotong adalah

melakukan pukulan smash pada saat impact atau perkenaanya antara

ayunan raket dan penerbangan shuttle cock dilakukan dengan cara

dipotong atau diiris dengan kecepatan jalannya shuttle cock agak kurang

cepat tetapi daya lncur shuttle cock tajam (Tohar, 1992: 60). Pendapat

lain mengatakan, pukulan smash potong dilakukan dengan cara

memotong (slice) terhadap shuttle cock menurut sudut miring pada

permukaan raket. Smakin kecil permukaan raket yang dibentur shuttle

cock semakin berkurang kecepatan shuttle cock itu. Oleh sebab itu,
17

menggunakan sepenuhnya ayunan yang sangat cepat menurut pola

pukulan smash yang biasa akan menghasilkan pukulan yang lebih lambat

dari yang biasa (M.L.Johnson, 1990: 134).

Gambar 2.

Gerakan melakukan pukulan pukulan smash potong. Sumber: M.L.

Johnson.(1990). Bimbingan bermain bulutangkis. Jakarta: Mutiara

Sumber Widya (hal.134).

c. Pukulan Smash Melingkar

Yang dimaksud dengan pukulan smash melingkar adalah

melakukan gerakan dengan mengayunkan tangan yang memegang

raket kemudian dilingkarkan melewati atas kepala dilanjutkan dengan

mengarahkan pergelangan tangan dengan cara mencambukkan raket

sehingga melentingkan shuttle cock mengarah ke seberang lapangan

lawan. Perlu diingat bahwa dalam pukulan smash melingkar ini


18

dibutuhkan kelentukan dan koordinasi gerak badan serta sangat

membutuhkan keterampilan gerakan pergelangan tangan untuk

mengantisipasi ketepatan pukulan, menjaga keseimbangan badan

dalam meraih pengambilan shuttle cock, dan gerakan lanjutan untuk

menjaga agar tetap berdiri tegak serta tidak goyah untuk menerima

pengembalian shuttle cock dari lawan. Untuk lebih jelasnya lihat

gambar 4 halaman 18.

Gambar 3.

Gerakan melakukan gerakan pukulan smash melingkar.

Sumber: Tohar (1992). Olah Raga Pilihan Bulutangkis. Semarang:

IKIP Semarang (hal.62).


19

d. Smash Cambukan (Flicsk Smash)

Cara melakukan pukulan ini adalah dengan mengaktifkan

pergelangan tangan untuk melakukan cambukan dengan cara ditekan

ke bawah. Kelajuan penerbangan shuttle cock dari hasil pukulan ini

tidak cepat tetapi kecuraman penerbangan shuttle cock inilah yang

diharapkan (Tohar, 1992: 63). Pada jenis pukulan smash ini paling

sedikit mengeluarkan tenaga dibandingkan jenis pukulan smash yang

lain. Gerakan pukulan ini tepat sekali untuk gerakan menipu lawan,

dengan koordinasi yang tepat apalagi bila ditambah dengan gerakan

jamping, maka hasil pukulan akan lebih curam dan lebih mudah untuk

penempatan shuttle cocknya.

Gambar 4.

Gerakan melakukan smash cambukan. Sumber: Tohar.(1992).

Olahraga Pilihan Bulutangkis. Semarang: IKIP Semarang (hal.62).


20

e. Pukulan Backhand Smash

“Pukulan backhand smash adalah melakukan pukulan smash

dengan menggunakkan daun raket bagian belakang sebagai alat

pemukul. Sedang biasanya yang digunakan untuk memukul adalah

daun raket bagian depan yang disebut dengan pukulan forehand. Pada

saat memukul smash dengan cara backhand ini posisi badan

membelakangi net. Pukulan smash yang dilakukan terutama

mengutamakan gerakan cambukan pergelangan tangan yang diarahkan

atau digerakan menukik ke belakang” (Tohar, 1992:64).

Gambar 5

Gerakan melakukan pukulan bachand smash.

Sumber: Tohar. (1992). Olahraga Pilihan Bulutangkis. Semarang: IKIP

Semarang (hal.62).
21

2.1.4. Analisis Gerakan Pukulan Smash.

Hal yang mendasari untuk melakukan pukulan smash yang baik

adalah bagaimana menciptakan rangkaian gerakan sesuai dengan

mekanika gerak yang efektif dan efisien dengan didukung oleh kekuatan

otat bagian kaki kemudian bagian perut diteruskan bagian lengan dan

pergelangan tangan. Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk

menggerakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dan

dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (M. Sajoto 1995: 9). Dengan

kecepatan yang ada serta penempatan shuttle cock yang akurat maka

seseorang dapat secara efektif melakukan pukulan smash yang

memungkinkan tidak dapat dikembalikan oleh lawan. Hal-hal yang perlu

diperhatikan dalam melakukan pukulan smash adalah ”Biasa bergerak

cepat untuk mengambil posisi pukul yang tepat, perhatikan pegangan

raket, sikap badan harus tetap lentur, perkenaan raket dan shuttle cock

diatas kepala dengan cara meluruskan lengan untuk menjangkau setinggi

mungkin dan gunakan tenaga pergelangan tangan pada saat memukul,

akhiri rangkaian gerakan pukul itu dengan gertak lanjut ayunan raket

yang sempurna ke depan badan” (Tahir Djide dkk, 2005: .31).

Kunci keberhasilan dalam melakukan pukulan smash forehand

dapat dilakukan melalui beberapa fase yang tersusun secara sistematis.

Seorang atlet harus mampu menggunakan pegangan yang cocok dan

mengatur impack perkenaan yang tepat saat shutltle cock berada diatas
22

kepala dan berakhir degan tetap dalam keadaan siap. Seperti yang

dikemukakan oleh Tahir Djide (30-31) hal-hal yang perlu diperhatikan

dalam melakukan pukulan smash adalah:

a. Biasakan bergerak cepat untuk mengambil posisi pukul yang tepat.

b. Pehatikan pegangan raket.

c. Sikap badan harus tetap lentur,kedua lutut dibengkokan dan tetap

berkonsentrasi pada shuttle cock

d. Perkenaan raket dan shuttle cock di atas kepala dengan cara

meluruskan lengan untuk menjangkau shuttle cock itu setinggi

munglkin dan pergunakan tenaga pergelangan tangan pada saat

memukul shuttle cock. Akhiri rangkaian gerakan pukul itu dengan

gerak lanjut ayunan raket yang sempurna ke depan badan.

Dengan adanya pola latihan yang terprogram maka keberhasilan

pukulan smash akan semakin cepat tercapai. Bentuk-bentuk latihan

smash menurut Tony Grice (1996: 90-96) adalah:

a. Latihan smash bayangan

b. Melambungkan Shuttle cock dan melakukan smash. Ini bisa

dilakukan sendiri dengan keuntungan lebih bisa mengatur impact

perkenaan shuttle cock.

c. Service dan pengembalian bola. Ini dilakukan berpasangan dengan

salah satu pemain memberikan umpan pada pemain lainnya.

d. Pengembalian service-smash-block.
23

e. Rally Clear-Smah-Drop-Clear berkesinambungan.

f. Pengembalian service lurus.

g. Smash menyilang.

2.1.5. Hubungan Kekuatan Otot Peras dengan Hasil Pukulan Smash.

Dalam melakukan pukulan smash kekuatan otot merupakan

suatu komponen yang dominan. Sebab, kekuatan otot peras banyak

berperan dalam penempatan shuttle cock pada pukulan smash. Cara otot

berkontraksi untuk menghasilkan kekuatan yang maksimal dapat dilatih

dengan program latihan yang berkualitas untuk menunjang penguasaan

pegangan raket yang benar. Kekuatan dapat dikatakan merupakan

aktifitas gerakan manusia. Oleh karena itu kekuatan juga memegang

peranan yang penting untuk kemungkinan tejadinya cidera otot bila

dilakukan sesuai dengan ilmu biomekanika olah raga. Kekuatan menurut

Suharno H.P (1986:35), adalah kemampuan otot untuk dapat mengatasi

tahanan atau beban dalam menjalankan aktivitas. Dalam menggenggam

grip raket untuk memperkokoh pegangan yang kuat seorang atlet sudah

tentu membutuhkan kekuatan otot peras, genggaman raket pada

bulutangkis dapat berubah-ubah setiap saat tergantung pada jenis

pukulan yang akan dilakukan. Otot-otot yang terdapat pada lengan

bawah terbagi dalam:


24

a. Ketul

b. Telapak tangan-pronator teres

c. Ibu jari. Otot yang bekerja pada ibu jari adalah:

- M. Palmaris longus.

- M. Fleksor karpi radialis.

- M. Fleksor digitor sublimes.

- M. Fleksor digitorum profundus.

d. Memutar radialis. Otot yang berfungsi adalah:

- M. Pronator teres Quadratus.

- M. Supinator bravis.

e. Punggung tangan.

f. Telapak tangan.

- Tenar.

- Hipotenar.

g. Kedang.

- M. Ekstensor karpi radialis longus.


25

- M. Ekstensor karpi radialis brevis.

- M. Ekstensor karpi ulnaris.

- M. Digitorum karpi radialis.

- M. Ekstensor policis longus.

Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut.

Gambar 6

Otot peras (Syaifuddin,1992: 53-62).


26

2.1.6. Hubungan Daya Ledak Otot Lengan Bahu dengan Hasil Pukulan

Smash

Gerakan pukulan smash lebih banyak didominasi oleh gerakan

otot lengan bahu. Oleh karena itu, perlu koordinasi gerak yang baik dari

gerakan seperti pada pukulan lob secara cepat diubah menjadi pukulan

smash yang dapat dimanfaatkan untuk mengejutkan lawan. Dengan

demikian, semakin cepat perubahan itu dilakukan maka semakin banyak

pula komponen gerakan yang harus dikoordinasikan. Dalam hal ini daya

ledak (power) = kekuatan (strength) x Kecepatan (speed) ( M. Sajoto,

1995 : 8). Dalam penerapan pada program latihan seorang atlet

bulutangkis tidak akan mendapatkan prestasi yang baik jika hanya

berlatih kekuatan saja karena kekuatan merupakan modal untuk

terciptanya power. Program latihan power sangat penting untuk cabang-

cabang olahraga dimana atlet harus mengerahkan tenaga yang eksplosif

seperti nomor-nomor lempar pada cabang atletik, dan melempar bola

dalam softball, juga dalam cabang-cabang olahraga yang mengharuskan

atlet untuk menolak dengan kaki (harsono, 1988 : 200) oleh karena itu

cabang bulutangkis power sangat penting karena dibutuhkan saat terjadi

pukulan-pukulan keras.

Menurut H. Syaifudin (1992:46-54), otot-otot yang terdapat

dalam lengan bahu adalah sebagai berikut.


27

1. Otot-otot bahu meliputi:

a. M. Deltoid (otot segi tiga), otot ini memebentuk lengkung bahu dan

berpangkal di sisi tulang selangka ujung bahu, balung tulang

belikat dan diafise tulang pangkal lengan. Fungsinya mengangkat

lengan sampai mendatar.

b. M.subskapularis (otot depan tulang belikat) otot ini mulai dari

depan tulang belikat menuju taju kecil pangkal lengan. Fungsinya

menegahkan dan memutar tulang humerus ke dalam.

c. M. Suprasuspinatus (otot atas balung tulang belikat) otot ini

berpangkal di lekuk sebelah atas menuju ke taju besar tulang

pangkal lengan fungsinya mengangkat lengan.

d. M. Infraspinatus (otot bawah balung tulang belikat) otot ini

berpangkal dilekuk sebelah bawah balung tulang belikat dan

menuju ke taju besar tulang pangkal lengan. Fungsinya memutar

lengan keluar.

e. M. Teres mayor (otot lengan bulat besar) otot ini berpangkal disiku

bawah tulang belikat dan menuju ketaju kecil tulang pangkal

lengan. Fungsinya memutar lengan ke dalam.

f. M. Teres minor (otot lengan belikat kecil) otot ini berpangkal

disiku sebelah luar tulang belikat dan menuju ke taju besar tulang

pangkal lengan. Fungsinya memutar lengan ke luar.


28

2. Otot-otot pangkal lengan atas.

a. M. Biseps braki (otot lengan berkepala dua), kepala yang panjang

melekat pada sendi bahu, kepala yang pendek melekat di sebelah

luar dan yang kedua di sebelah dalam. Otot itu ke bawah menuju

tulang pengupil. Fungsinya membengkokkan lengan bawah siku,

meratakan hasta dan mengangkat lengan.

b. M.Brakialis (otot lengan dalam) otot ini berpangkal di bawah otot

segitiga di tulang pangkal lengan menuju taju di pangkal tulang

hasta. Fungsinya membengkokkan lengan bawah siku.

c. M. Kurako brakialis otot ini berpangkal diprosesus korakoid

menuju tulang pangklal lengan. Fungsinya mengangkat lengan.

Untuk lebih jelasnya posisi otot-otot lengan bahu adalah sebagai berikut:

Gambar 7

Otot lengan dan bahu (Syaifuddin,1992: 47-54)


29

2.1.7. Hubungan Kekuatan Otot Perut dengan Hasil Pukulan Smash.

Seorang pemain bulu tangkis yang bagus harus dapat

memanfaatkan kekuatan otot perut karena dari gerakanya, terutama saat

melenting, akan banyak berguna agar tidak banyak menguras tenaga

dengan hanya mengandalkan pada kekuatan salah satu otot saja. Namun

tentu saja hal itu harus dilakukan dengan koordinasi gerakan yang tepat.

Oleh karena itu, seorang pemain bulu tangkis harus memperhatikan

mekanika gerakan smash yang akan dilakukannya karena biasanya

smash dilakukan pada saat shuttle cock betul-betul enak dipukul.

Menurut Syaifuddin otot-otot perut terdiri atas:

a. M.abdominis internal (dinding perut). Garis di tengah dinding perut

dinamakan linea alba, otot sebelah luar (Muskulus abdominis

eksternal. Otot yang tebal dinamakan aponeurosis. Membentuk

kandung otot yang terdapat disebelah kiri dan kanan linea itu.

b. Lapisan sebelah luar sekali dibentuk otot miring luar (Muskulus

obliqus eksternus abdominis).

c. Lapisan kedua di bawah otot dibentuk oleh otot perut dalam

(Muskulus obliqus internus abdominis).

d. Muskulus transverses abdominis.


30

Uuntuk lebih jelasnya posisi dari otot-otot perut adalah sebagai

berikut.

Gambar 8

otot perut (Syaifuddin,1992: 47-49)

2.2. Hipotesis

Dalam suatu penelitian yang ilmiah hipotesis dimaksudkan untuk

menjawab suatu pertanyaan-pertanyaan berdasarkan teori yang ada. Oleh

karena itu, perlu diperhatikan kebenaranya. (Sutrisno hadi, 1987: 257).

Berdasarkan permasalahan dan landasan teori yang telah

penyusun lontarkan di atas maka penyusun mengemukakan hipotesis

sebagai berikut.
31

1. Ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot peras dan hasil

pukulan smash.

2. Ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot lengan bahu dan

hasil pukulan smash.

3. Ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot perut dan hasil

pukulan smash.

4. Ada hubungan antara kekuatan otot peras, daya ledak otot lengan

bahu, kekuatan otot perut dan hasil pukulan smash pada pemain

pemula putra PB. Prestasi weleri.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Diskripsi data

Data dari hasil tes dan pengukuran yaitu tes dan pengukuran kekuatan otot

perut, daya ledak otot lengan bahu dan kekuatan otot peras. Karena masing-

masing variabel penelitian memiliki satuan yang berbeda, maka untuk pengolahan

data terlebih dulu diubah menjadi skor T dengan jalan nilai hasil dikurangi rata-

rata per standar deviasi kali 10 ditambah 50.

Diskripsi data kekuatan otot perut, daya ledak otot lengan bahu, kekuatan

otot pras dan hasil pukulan smash berdasar hasil tes tersaji pada tabel berikut ini :

Tabel 2
Deskripsi Data Variabel Penelitian

Variabel N Rata-rata SD Varians


Kekuatan otot perut 35 41,46 9,97 55,70

Daya ledak ot lengan bahu 35 13,30 9,86 4,00

Kekuatan otot peras hasil 35 90,80 9,99 15,50

pukulan smash 35 46,6 9.75 29,10

Tabel 2 menyajikan diskripsi data hasil pengukuran berdasar angka kasar

atau data mentah hasil pengukuran variabel kekuatan otot perut dengan satuan

jumlah, memiliki rata-rata sebesar 50.03 centimeter; SD sebesar 9.97; dan varians

data sebesar 99,44. Daya ledak otot lengan bahu dengan satuan

kilogram.meter/detik, memiliki rata-rata sebesar 50,02 kali; SD sebesar 9.87; dan

47
48

varians data sebesar 97,38. Kekuatan otot peras memiliki rata-rata sebesar 49,99

centimeter; SD sebesar 9.99; dan varians data sebesar 99,80. Adapun hasil

pukulan smash rata-rata sebesar 50,11; SD sebesar 9.76; dan varians data sebesar

95,23.

4.1.2. Analisis Data

Agar memenuhi persyaratan analisis dalam menguji hipotesis penelitian,

dilakukan beberapa langkah uji persyaratan, meliputi: uji normalitas distribusi

data, uji homogenitas varians data, uji linieritas, dan uji keberartian model garis

regresi. Adapun hasilnya dirangkum pada tabel-tabel di bawah ini.

4.1.2.1. Uji Persyaratan Normalitas Data

Uji normalitas distribusi data masing-masing variabel meliputi kekuatan

otot perut, daya ledak otot lengan bahu, kekuatan otot peras dan hasil pukulan

smash, dengan anggota sampel sejumlah 35 orang. Berdasar pada hasil

pengukuran atau tes, hasilnya seperti tersaji pada tabel 3 di bawah ini sebagai

berikut :

Tabel 3
Rangkuman Uji Normalitas Distribusi Data dengan Kolmogorof-Smirnof Z
Variabel Kol-Smir Z Sig. Keterangan
Kekuatan otot perut 0,981 0,291 Normal
Daya ledak otot lengan bahu 0,733 0,656 Normal
Kekuatan otot peras 0,623 0,833 Normal
Hasil pukulan smash 0,961 0,314 Normal

Berdasar pada hasil analisis yang tercantum dalam tabel 3 terlihat bahwa

data masing-masing variabel yaitu variabel kekuatan otot perut, daya ledak otot

lengan bahu, kekuatan otot peras dan hasil pukulan smash, subyek penelitian
49

penyebaran distribusi data dalam keadaan normal, sehingga dapat dilanjutkan

dengan uji parametrik.

4.1.2.2. Uji Homogenitas Varians Data

Prasyarat berikutnya untuk memenuhi analisis yaitu melakukan uji homo-

genitas varians data. Uji homogenitas varians data untuk menguji kesamaan

beberapa buah populasi. Adapun hasil uji homogenitas penelitian menggunakan

uji Chi Kuadrat seperti tercantum pada Tabel 4.

Tabel 4
Rangkuman Uji Homogenitas Varians Data Menggunakan Uji Chi
Kuadrat

Variabel χ 2 hitung Sig. Keterangan


Kekuatan otot perut 12,00 0,062 Homogen
Daya ledak ot lengan bahu 2.486 1,000 Homogen
Kekuatan otot peras 7.257 1,000 Homogen
Hasil pukulan smash 8.714 0,121 Homogen

Berdasar pada hasil analisis yang menggunakan Chi Kuadrat seperti yang

tercantum pada tabel 4 terlihat bahwa varians data variabel penelitian dalam

keadaan homogen. Dengan demikian karena masing-masing variabel dalam

keadaan homogen, sehingga dapat dilanjutkan dengan uji parametrik.

4.1.2.3. Uji Linieritas

Uji kelinieran atau uji linieritas adalah uji untuk mengetahui apakah antara

prediktor (X1, X2 dan X3) memiliki hubungan yang linier atau tidak terhadap

kriterium. Uji dilakukan dengan teknik analisis varians. Kriteria uji dinyatakan
50

linier, jika hasil F hitung X1 , X2 dan X3 ≥ F tabel pada taraf signifikansi 5 %.

Sebaliknya jika hasil F hitung X1 , X2 dan X3 ≤ F tabel dinyatakan tidak linier. Hasil

perhitungan dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini.

Tabel 5
Rangkuman Uji Linieritas Variabel Data Penelitian Menggunakan Anava

Variabel F hitung Sig. Keterangan


Kekuatan Otot Perut 174,839 0,000 Linier
Daya ledak otot lengan bahu 5,692 0,023 Linier
Kekuatan otot peras 16,843 0,000 Linier

Hasil uji linieritas antara X1 dengan Y diperoleh F hitung sebesar 174,839; X2

dengan Y diperoleh F hitung sebesar 5,692; antara X3 dengan Y diperoleh F hitung

sebesar 16,843. Berdasar hasil perhitungan, maka variabel prediktor penelitian

yaitu kekuatan otot perut, daya ledak otot lengan bahu dan kekuatan otot peras

dinyatakan linier.

4.1.2.4. Uji keberartian model

Uji keberartian model garis regresi dilakukan untuk mengetahui apakah

persamaan garis regresi yang diperoleh berarti (bermakna) atau tidak untuk

digunakan sebagai prediksi harga kriterium. Uji dilakukan dengan uji t. Kriteria

uji dinyatakan berarti, jika hasil t hitung X1, X2 dan X3 ≥ t tabel pada taraf signifikansi

5 %. Sebaliknya jika hasil t hitung X1 X2 dan X3 ≤ t tabel dinyatakan tidak linier. Hasil

analisis regresi untuk keberartian model garis regresi hasil perhitungan tersaji

pada tabel 6 sebagai berikut :


51

Tabel 6
Rangkuman Hasil Uji Keberartian Model Garis Regresi Variabel Penelitian
Menggunakan uji t

Variabel t hitung Sig. Keterangan


Kekuatan otot perut 13,223 0,000 Berarti
Daya ledak otot lengan bahu 2,386 0,23 Berarti
Kekuatan otot peras 4,104 0,00 Berarti

Hasil uji keberartian model garis regresi antara X1 dengan Y diperoleh t hitung

sebesar 13,223; X2 dengan Y diperoleh t hitung sebesar 2,386; serta X3 dengan Y

diperoleh t hitung sebesar 4,104. Berdasar hasil perhitungan, maka variabel

prediktor penelitian yaitu variabel kekuatan otot perut, daya ledak otot lengan

bahu, dan kekuatan otot peras dinyatakan berarti dan dapat digunakan untuk

memprediksi keberhasilan pelaksanan hasil pukulan smash pada permainan

bulutangkis.

4.2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis penelitian yang mengkaji hubungan antara kekuatan otot

perut, daya ledak otot lengan bahu dan kekuatan otot peras terhadap hasil pukulan

smash dilakukan dengan analisis hubungan menggunakan teknik korelasi dan

regresi ganda. Perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan bantuan

program SPSS versi 11. Adapun hasil perhitungan analisis data tersaji pada tabel

7 berikut ini.
52

Tabel 7: Ringkasan Hasil Analisis Regresi antara Daya Ledak Otot Tungkai,
Kekuatan Otot Perut dan Panjang Tungkai dengan Hasil Menendang Bola

Sumber variasi R Square Sum of Squares df Mean Square F hitung Sig.


X1 dengan Y 0,841 3236,896 1 0,764 21,510 0,000
X2 dengan Y 0.147 3236,896 1 0,390 7,198 0,23
X3 dengan Y 0,338 3236,896 1 0,377 6,868 0,00
X123 dengan Y 0,850 3236,896 3 0,275 7,645 0,00

Sumber : Hasil Analisis Data Penelitian

4.2.1 Uji hipotesis ke 1 yaitu Ada hubungan antara kekuatan otot perut dengan

hasil pukulan smash (X1 dengan Y)

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa F hitung ≥ F tabel (Signifikansi alfa

0,05), sehingga hipotesis nihil yang mengatakan “Tidak ada hubungan yang

signifikan antara kekuatan otot perut terhadap hasil pukulan smash, ditolak”.

Berdasar pada hasil tersebut maka dapat dinyatakan bahwa ada hubungan yang

signifikan antara kekuatan otot perut, daya ledak otot lengan bahu dan kekuatan

otot peras terhadap hasil pukulan smash pada pemain pemula PB.Prestasi Weleri

tahun 2004/2005.

4.2.2 Uji hipotesis ke 2 yaitu Ada hubungan antara daya ledak otot lengan bahu

dengan hasil pukulan smash. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa F

hitung ≥ F tabel (Signifikansi alfa 0,05), sehingga hipotesis nihil yang

mengatakan “Tidak ada hubungan yang signifikan antara daya ledak otot

lengan bahu dengan hasil pukulan smash, ditolak”. Berdasar pada hasil

tersebut maka dapat dinyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan


53

antara daya ledak otot lengan bahu dengan hasil pukulan smash pada

pemain pemula PB.Prestasi Weleri tahun 2004/2005.

4.2.3 Uji hipotesis ke 3 yaitu Ada hubungan antara kekuatan otot peras dengan

hasil pukulan smash. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa F hitung ≥

F tabel (Signifikansi alfa 0,05), sehingga hipotesis nihil yang mengatakan

“Tidak ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot peras dengan

hasil pukulan smash, ditolak”. Berdasar pada hasil tersebut maka dapat

dinyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot

peras dengan hasil pukulan smash pada pemain pemula PB.Prestasi Weleri

tahun 2004/2005.

4.2.4 Uji hipotesis ke 4 yaitu Ada hubungan antara kekuatan otot perut, daya

ledak otot lengan bahu dan kekuatan otot peras dengan hasil pukulan

smash.

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa F hitung ≥ F tabel (Signifikansi

0,05), sehingga hipotesis nihil yang mengatakan “Tidak ada hubungan yang

signifikan antara kekuatan otot perut, daya ledak otot lengan bahu dan kekuatan

otot peras dengan hasil pukulan smash, ditolak”. Berdasar pada hasil tersebut

maka dapat dinyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot

perut, daya ledak otot lengan bahu dan kekuatan otot peras dengan hasil pukulan

smash pada pemain pemula PB. Prestasi Weleri tahun 2004/2005.

4.3 Pembahasan

Merujuk pada hasil perhitungan dan analisis data penelitian, terlihat ada

hubungan yang berarti antara kekuatan otot perut, daya ledak otot lengan bahu dan
54

kekuatan otot peras dengan hasil pukulan smash pada pemain pemula PB. Prestasi

Weleri tahun 2004/2005.

Berkaitan dengan hal tersebut, selanjutnya akan dibahas hal-hal sebagai

berikut:

4.3.1 Daya ledak otot lengan dengan hasil pukulan smash

Daya ledak sebagai perpaduan antara kecepatan maksimal dan kekuatan

maksimal sangat diperlukan dalam hasil pelatihan pukulan smash. Pencapaian

hasil pukulan smash memerlukan unjuk kerja kecepatan tinggi disertai lecutan

lengan, untuk mencapai hasil yang optimal. Berdasar uraian tersebut dapat

disimpulkan bahwa daya ledak merupakan kemampuan tubuh untuk dapat

menggerakkan semua sistem dalam melawan beban, jarak, dan waktu yang

menghasilkan kerja mekanik dalam waktu sesingkat mungkin.

Daya ledak memegang peranan penting dalam cabang olahraga bulu

tangkis. Khususnya pada melompat, berlari, dan memukul. Daya ledak sangat

diperlukan karena satuan unjuk kerja harus dapat diselesaikan dengan sebaik

mungkin dalam waktu singkat.

Prinsip lain yang tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan pukulan smash

adalah teknik yang benar dengan penempatan posisi kaki tumpu yang baik.

Teknik yang baik dan benar dalam pelaksanaan pukulan smash ikut menentukan

hasil pukulan samash, sehingga harus dikuasai dengan baik oleh setiap pemain.

Kesalahan teknik dalam pelaksanaan tendangan jauh sangat merugikan para

pemain, karena hasil tendangan menjadi kurang kuat, kurang keras, dan jarak

jatuhan bola menjadi kurang optimal.


55

Berdasar pada hasil analisis data daya ledak otot lengan memberikan

sumbangan keberhasilan sebesar 38,4 % terhadap pukulan smash pada pemain

pemula PB. Prestasi Weleri tahun 2004/2005. Berorientasi pada hasil tersebut,

hasil pukulan smash sebesar 61,6 % ditentukan oleh aspek lain di luar komponen

kondisi fisik daya ledak otot lengan.

4.3.2 Kekuatan otot perut dengan pukulan smash

Mencermati keberadaan otot perut yang terentang antara gelang panggul

dan rongga dada, jika dikaji secara seksama otot perut memiliki peran yang sangat

penting dalam pelaksanaan gerak anggota gerak atas. Hal ini dapat dimengerti

karena anggota gerak atas dalam melakukan gerakan terutama sekali dalam

pelaksanaan memukul bola memerlukan ayunan lengan yang didukung oleh

persendian pada bahu.

Persendian bahu digerakkan oleh otot perut dan otot punggung. Sebagai

otot penopang tegaknya tubuh, otot perut memberikan manfaat yang sangat besar

dalam ayunan lengan. Ayunan lengan yang cepat dan kuat serta dibantu

fleksibilitas gerakan panggul yang baik akan menyebabkan ayunan lengan dengan

amplitudo yang besar. Amplitudo ayunan lenganm yang besar tersebut akan

menyebabkan gerakan tangan menjadi cepat dan kuat. Ayunan yang cepat dan

kuat tersebut akan menghasilkan hasil pukulan smash yang baik.

4.3.3 Kekuatan remas dengan hasil pukulan smash

Kekuatan remas dalam segala aktivitas merupakan aspek penting dalam

melakukan unjuk kerja memukul. Penempatan tangkai yang dilakukan dengan

cara yang benar dengan menggunakan ayunan yang cepat dan kuat, serta
56

didukung panjang tuas akan memberikan hasil secara optimal. Kekuatan remas

dipengaruhi oleh proporsi latihan seseorang. Sebagai penunjang gerakan dalam

unjuk kerja memukul, kekuatan meremas memberikan keuntungan relatif lebih

baik.

4.3.4 Daya ledak otot lengan, Kekuatan otot perut, dan kekuatan remas dengan

hasil pukulan smash

Berdasar pada hasil analisis regresi ganda masing-masing prediktor baik

daya ledak otot lengan, kekuatan otot perut, dan remas dengan hasil pukulan

smash, jika dicermati lebih lanjut secara bersama-sama ketiga prediktor memiliki

hubungan dengan kriterium. Mencermati hal tersebut, daya ledak otot lengan

sebagai suatu komponen kondisi fisik merupakan gabungan dari unsur komponen

kondisi fisik yang lain yaitu kecepatan maksimal dan kekuatan maksimal.

Keuatan yang baik akan berpengaruh pada daya ledak, dan dengan

memiliki daya ledak otot lengan yang baik hasil pukulan smash menjadi lebih

optimal dibandingkan dengan daya ledak yang kurang baik. Berdasar pada hasil

analisis data daya ledak otot tungkai kekuatan otot perut, dan kekuatan remas

memberikan sumbangan keberhasilan secara bersama-sama sebesar 92,2 %

terhadap hasil pukulan smash pemain pemula PB. Prestasi Weleri tahun

2004/2005. Berorientasi pada hasil tersebut, hasil pikulan smash sebesar 7,8 %

ditentukan oleh aspek lain di luar komponen kondisi fisik daya ledak otot tungkai,

kekuatan otot perut, dan kekuatan remas.


57

4.4 Keterbatasan Penelitian

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan agar mendapat data yang akurat,

namun demikian karena adanya berbagai keketerbatasan yang bersifat teknis

maupun nonteknis, perlu dikemukakan beberapa hal berkaitan dengan

keterbatasan yang muncul dalam penelitian ini, diantaranya adalah sebagai

berikut.

4.4.1 Subyek atau sampel penelitan adalah para murid yang relatif masih belajar

dan belum menguasai teknik gerakan-gerakan smash seperti pada atlet

dengan baik dan benar. Pukulan smash merupakan salah satu materi pada

pelatihan bulu tangkis yang diberikan dengan sedikit tatap muka, maka

untuk penguasaan gerakan yang baik dan benar sangat sulit dicapai.

Penguasaan teknik pukulan smash yang baik dan benar membutuhkan

waktu yang relatif lama dan frekuensi latihan yang memadai. Situasi

demikian secara tidak langsung berpengaruh terhadap hasil pengukuran,

sehingga keberhasilannya dapat mempengaruhi hasil penelitian.

4.4.2 Pukulan smash merupakan perpaduan gerak yang utuh dan terpadu mulai

dari permulaan (awalan) sampai kelanjutan gerak menyemes. Hal ini

memerlukan koordinasi gerak yang tinggi. Adapun pelaksanaan tes untuk

mengungkap masing-masing variabel dilakukan secara terpisah atau

perbagian, dengan demikian dimungkinkan terjadi kesenjangan pola gerak.

Hal ini tentunya akan mempengaruhi hasil yang dicapai.


BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasar pada hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan

beberapa hal sebagai berikut :

5.1.1. Ada hubungan yang signifikan antara daya ledak otot lengan dengan hasil

pukulan smash pada pemain pemula PB. Prestasi Weleri tahun 2004/2005.

5.1.2. Ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot perut dengan hasil

pukulan smash pada pemain pemula PB. Prestasi Weleri tahun 2004/2005.

5.1.3. Ada hubungan yang signifikan antara kekutan remas dengan hasil pukulan

smash pada pemain pemula PB. Prestasi Weleri tahun 2004/2005.

5.1.4. Ada hubungan yang signifikan antara daya ledak otot lengan, kekuatan otot

perut, kekuatan remas dengan hasil pukulan smash pada pemain pemula PB.

Prestasi Weleri tahun 2004/2005.

5.2 Saran

Berorientasi pada hasil penelitian dan simpulan hasil penelitian yang telah

dilakukan, maka perlu penulis ajukan beberapa saran kepada para pelatih bulu tangkis

dalam melatih cabang olahraga bulu tangkis khususnya pikulan smash, sebagai

berikut.

58
59

5.2.1. Keberhasilan menyemes berkaitan erat dengan unsur kondisi fisik yaitu daya

ledak otot lengan. Daya ledak otot lengan sangat diperlukan dalam me-

nunjang keberhasilan seorang menyemes, sehingga perlu dijadikan sebagai

bahan pelatihan. Berkaitan dengan daya ledak otot lengan tersebut, para

pelatih didalam melatih pukulan smash kepada para pemain hendaknya

diimbangi dengan peningkatan daya ledak otot lengan sehingga pelatihan

yang dilakukan dapat berhasil guna dan berdaya guna dalam mewujudkan

hasil secara optimal.

5.2.2. Keberhasilan pukulan smash berkaitan erat dengan unsur kondisi fisik yaitu

kekuatan otot perut. Kekuatan otot perut dalam hal ini sangat diperlukan

dalam menunjang keberhasilan seorang memukul. Oleh sebab itu, faktor

kondisi fisik berupa kekuatan harus selalu diberikan dan ditumbuh-

kembangkan oleh para pelatih agar dalam proses pelatihan yang dilakukan

dapat berhasilguna dan berdayaguna.

5.2.3. Aspek kekuatan remas sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan

seorang memukul bola. Oleh sebab itu, faktor pemilihan atlet bulutangkis

hendaknya memperhatikan tinggi badan dan panjang lengan, agar pola

pembinaan dan proses pelatihan yang dilakukan dapat berhasilguna dan

berdayaguna.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT


Rineka Cipta : Jakarta.

Bambang Priyono . 2002. Hubungan Kekuatan Otot Perut, Daya Ledak Otot
Lengan, dan Daya Ledak Otot Panggul, terhadap Neck Kip. Tesis.
Universitas Negeri Semarang.

Dumadi, 1990. Dasar-dasar Penelitian, Semarang, FPOK IKIP Semarang.

Engkos Kosasih, 1994. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Erlangga : Jakarta.

Gill Harvey. 2003. Passing and Shooting, (Alih Bahasa : Tim GMS), PT
Gapuramitra Sejati

Hadi Sutrisno. 1980. Dasar Metodologi Riset Field Study Masalah Konsistensi
Experimental Design And Analisis. Universitas Airlangga : Surabaya.

Harsono, 1988. Coaching dan Aspek Psikologi dalam Coaching. Dirjen Dikti :
Jakarta.

M. Sajoto. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kondisi Fisik. Semarang : IKIP


Semarang

Oktia Woro KH, 1981. Praktikum Pendidikan Jasmani. FPOK IKIP Semarang :
Semarang

Peace. C. Evelyn, 1987. Anatomi dan Fisiologi Untuk Para Medis. Gramedia :
Jakarta.

Radioputro, 1973. Kinesiologi dan Body Mechanies. Dirjen Pemuda dan


Olahraga Depdikbud : Jakarta

Sarumpaet A. dkk, 1991. Permainan Besar. Depdikbud : Jakarta.

Sudjana. 1992. Metode Statistik. Bandung : Tarsito

Sukatamsi, 1984. Bahan Mengajar dan Melatih Sepak Bola : Semarang.

Sukintaka, 1982. Permainan dan Metodik. Depdikbud : Jakarta.

Witarsa Aang, 1984. Teknik Sepak Bola. Pusdiklat PSSI : Jakarta.


Lampiran 1

HASIL TES DAN PENGUKURAN SAMPEL PENELITIAN


No NAMA P.TUNGKAI KO. PERUT DLO TUNGKAI T. JAUH
1 SANTO 91 13.0 40.0 44.0
2 SUKLAK 93 14.0 45.0 47.0
3 CATUR 95 17.0 55.0 56.0
4 SENDI 96 16.0 50.0 48.0
5 RIFO 94 15.0 50.0 51.5
6 HARTANTO 85 10.0 40.0 51.0
7 ABI 90 11.0 35.0 43.5
8 MANAN 93 14.0 40.0 42.5
9 PARMAN 87 12.0 35.0 41.5
10 RIAN 83 10.0 25.0 36.5
11 ARIF 89 14.0 45.0 44.0
12 BACHTIAR 90 12.0 40.0 55.5
13 RICKY 86 12.0 35.0 44.0
14 MALKA 90 14.0 40.0 51.0
15 RUDI 89 12.0 35.0 42.0
16 IWAN 96 17.0 50.0 50.5
17 ARDILES 92 13.0 45.0 43.0
18 HUDA 91 13.0 35.0 41.0
19 GINGIN 95 15.0 55.0 55.5
20 YANDI 84 11.0 35.0 41.5
21 IVO ANDRE 92 13.0 40.0 50.5
22 HENDRI 96 15.0 45.0 45.0
JUMLAH 1997.0 293.0 915.0 1025.0
RATA-RATA 90.8 13.3 41.6 46.6
SD 3.9 58.4 182.3 204.1
VARIANS 15.5 4.0 55.7 29.1
Keterangan :
P. TUNGKAI = Panjang Tungkai
KO. PERUT = Kekuatan otot Perut
DLO TUNGKAI = Daya Ledak Otot Tungkai
T. JAUH = Tendangan Jauh
Lampiran 2
Lampiran 6

Dokumentasi Pengambilan Data

Persiapan dan Pengarahan Sebelum Pelaksanaan Tes

Pelaksanaan Tes Loncat Vertikal

Lampiran 6 (Lanjutan)
Pelaksanaan Tes Kekuatan Otot Perut

Pelaksanaan Tes Menendang Bola