Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

BAKTERI AEROB PEMBENTUK SPORA


Bacillus sp
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas perkelompok mata kuliah
Bakteriologi Klinik 1

Oleh :
Dina Sulvyana P17334116055
Feby Rizqi Editia P17334116053
Hilal Ramadhan B P17334116083
Serizkia Dwi Restu P17334116077

Kelompok 5
Kelas : 2-B

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
CIMAHI
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah dan inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang
“Bakteri Pembentuk Spora Bacillus sp”.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal, sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, kami menyadari
sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan
kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah ini dapat memberikan
banyak manfaat yang baik maupun inspirasi terhadap pembaca untuk kedepannya
nanti.

Cimahi, April 2018

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kemajuan iptek seperti yang ada pada saat ini, menuntut manusia untuk
bekerja lebih keras lagi. Didalam setiap pekerjaan sudah pasti terdapat resiko dari
pekerjaan tersebut sehingga dapat menimbulkan penyakit akibat kerja. Penyakit
akibat kerja ini di sebabkan oleh beberapa factor diantaranya adalah factor biologi,
fisik, kimia, fisiologi dan psykologi. Sebagai contoh orang yang bekerja pada sektor
peternakan atau pada sektor pekerjaan yang berkontak langsung dengan lingkungan.
Lingkungan dimana mereka bekerja itu tidak selalu bersih dalam artian bebas dari
sumber–sumber penyakit yang berupa virus, bakteri, protozoa, jamur, cacing, kutu,
bahkan hewan dan tumbuhan besarpun dapat menjadi sumber penyakit. Akan tetapi
virus dan bakterilah yang menjadi penyebab utama penyakit dalam kerja, khususnya
pekerjaan yang berkontak langsung dengan lingkungan.

Bakteri adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel.
Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariot dan berukuran sangat kecil
(mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi. Bakteri
merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas
dibandingkan mahluk hidup lain. Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup
didarat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim.

Secara umum kelompok Bacillus merupakan bakteri berbentuk batang (basil),


dan tergolong dalam bakteri gram positif yang umumnya tumbuh pada medium yang
mengandung oksigen (bersifat aerobik) sehingga dikenal pula dengan istilah aerobic
spore formers. Kebanyakan anggota genus Bacillus dapat membentuk endospora
yang dibentuk secara intraseluler sebagai respon terhadap kondisi lingkungan yang
kurang menguntungkan, oleh karena itu anggota genus Bacillus memiliki toleransi
yang tinggi terhadap kondisi lingkungan yang berubah-ubah.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis memberikan makalah yang berjudul
“BAKTERI AEROB PEMBENTUK SPORA (Bacillus sp)”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat merumuskan permasalahan


sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan Bakteri Aerob pembentuk spora ?

2. Apa saja ciri-ciri umum dari Bacillus sp ?

3. Apa saja jenis-jenis dari Bacillus sp ?

4. Bagaimana cara pemeriksaan dan identifikasi dari Bacillus sp?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui Bakteri Aerob pemberntuk spora.


2. Untuk mengetahui ciri-ciri umum dari Bacillus sp.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis dari Bacillus sp.
4. Untuk mengetahui cara pemeriksaan dan identifikasi dari Bacillus sp.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat penulisam dari makalah ini sebagai berikut :

1. Sebagai pengetahuan bagi penulis dan pembaca mengenai Bakteri Aerob


pembentuk spora yaitu Bacillus sp.
2. Memberikan wawasan dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca mengenai
ciri-ciri umum, jenis-jenis dan pemeriksaan dari Bacillus sp.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bakteri Aerob pembentuk spora

Bakteri Aerob merupakan bakteri yang membutuhkan oksigen atau zat asam
untuk pertumbuhannya yang memerlukan zat asam dalam jumlah sedikit disebut
mikroaerofil dan jika tidak ada oksigen, bakteri akan mati. Bakteri aerob
menggunakan glukosa atau zat organik lainnya seperti etanol untuk di oksidasi
menjadi CO2, H2O, dan sejumlah energi. Contoh-contoh Bakteri Aerob adalah
Bacillus, Nitrobacter, Nitrosomonas, Methanimonas (pengoksidasi metan),
Nitrosococcus, Acetobacter, Hydrogemonas, Nocardiaasteroides (penyebab penyakit
paru-paru), Thiobacillus thiooxidans. Bakteri aerob mengandung sitokrom, sitokrom
oksidase, katalase dan peroksidase. Sitokrom dan sitokrom oksidase diperlukan untuk
oksidasi bakteri, sedangkan katalase dan peroksidase diperlukan untuk
menghancurkan H2O2 yang dibentuk sebagai hasil metabolisme bakteri dan bersifat
toksip terhadap bakteri menjadi H2O dan O2.

Bacillus sp. merupakan bakteri berbentuk batang (basil), dan tergolong dalam
bakteri gram positif yang umumnya tumbuh pada medium yang mengandung oksigen
(bersifat aerobik) sehingga dikenal pula dengan istilah aerobic sporefomers.
Kebanyakan anggota genus Bacillus sp. dapat membentuk endospora yang dibentuk
secara intraseluler sebagai respon terhadap kondisi lingkungan yang kurang
menguntungkan, oleh karena itu anggota genus Bacillus sp. memiliki toleransi yang
tinggi terhadap kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Beberapa anggota Bacillus
sp. memiliki S-layer yang merupakan lapisan crystalline dipermukaan subunit protein
atau glikoprotein. Bagian kapsul kebanyakan anggota Bacillus sp.mengandung D atau
L- glutamic acid, sedangkan beberapa lainnya memiliki kapsul yang mengandung
karbohidrat. Variasi struktur dinding sel seperti padakebanyakan bakteri gram negatif
tidak ditemukan pada genus Bacillus sp. Dinding sel vegetatif kebanyakan anggota
Bacillus sp. terbuat dari peptidoglikan yang mengandung Meso-Diaminopimelic
Acid(DAP) dengan tipe Glyserol Teichoic Acid sangat bervariasi diantara spesies.

Kebanyakan anggota genus Bacillus sp. merupakan bakteri yang bersifatmotil


dan memiliki flagela tipe peritrik. Bacillus sp. digolongkan ke dalam kelas bakteri
heterotrofik, yaitu protista bersifat uniseluler, termasuk dalam golongan
mikroorganisme redusen atau yang lazim disebut sebagai dekomposer. Sebagian
besar bakteri laut termasuk dalam kelompok bakteri bersifat heterotrofik dan
saprofitik. Bakteri Aerob Gram (+) ini dapat bertahan hidup pada kondisi lingkungan
yang tidak menguntungkan dengan membentuk spora.

Kelebihan dan Kekurangan Bacillus sp. :

1. Kelebihan
- Bacillus sp memiliki kemampuan dalam menghasilkan antibiotik yang
berperan dalam nitrifikasi dan denitrifikasi.
- Pengikat nitrogen, pengoksidasi selenium (Se), pengoksidasi dan pereduksi
mangan (Mn).
- Bersifat khemolitotrof, aerob dan fakultatif anaerob.
- Dapat melarutkan karbonat.
- Dapat melarutkan posfat, dan menurunkan pH substrat akibat asam organik
yang dihasilkannya.
- Dapat melakukan mineralisasi terhadap bahan organik kompleks baik berupa
senyawa polisakarida, protein maupun selulosa.
2. Kekurangan

Bacillus sp ini dapat dimanfaatkan pada tahap persiapan lahan tambak


dan pembentukan air pada masa awal budidaya ikan/ udang. Pembentukan
plankton, bakteri pembentuk flock, menurunkan pH dan stabilisasi alkalinitas
berupa pembentukan buffer (penyanggah) bikarbonat-asam karbonat dapat
terlaksana. Namun jika dilanjutkan terus dari masa pertengahan budidaya
hingga akhir (panen) maka eutrofikasi air dapat terjadi, konsentrasi posfat dan
nitrit dapat meningkat sebagai akibat pelarutan posfat dan degradasi protein
dari sisa pakan dan kotoran ikan/ udang serta produksi nitrit yang intens dari
hasil pernafasan denitrifikasi Bacillus sp.

Rentang pH pagi – sore juga dapat bergerak melebar, akibat daya larut
terhadap karbonat yang bisa menyebabkan ketidakseimbangan buffer
bikarbonat-asam karbonat dan radikal karbonat terbentuk (kalsinasi).
Disamping itu, enzim protease dan chitinase yang dihasilkan selama
fermentasi Bacillus sp dapat secara ekstrim mengganggu siklus dan
kesempurnaan moulting bagi udang.

2.2 Ciri-ciri umum Bacillus sp.

Secara umum kelompok Bacillus merupakan bakteri berbentuk batang (basil),


dan tergolong dalam bakteri gram positif yang umumnya tumbuh pada medium yang
mengandung oksigen (bersifat aerobik) sehingga dikenal pula dengan istilah aerobic
sporeformers. Kebanyakan anggota genus Bacillus dapat membentuk endospora yang
dibentuk secara intraseluler sebagai respon terhadap kondisi lingkungan yang kurang
menguntungkan, oleh karena itu anggota genus Bacillus memiliki toleransi yang
tinggi terhadap kondisi lingkungan yang berubah-ubah.

Bakteri Bacillus sp. biasanya banyak ditemukan di tanah. Cara untuk


mendapatkan bakteri Bacillus sp. yaitu dengan mengambil sampel tanah
menggunakan sendok yang telah disterilisasikan terlebih dahulu kemudian ambil
tanah sekitar kedalaman 3 cm dari permukaan tanah. Bacillus sp. merupakan bakteri
gram positif dengan sel batang berukuran 0,3-22x1,27-7 πm, sebagian bersifat motil
(gerak) mobilitasnya ini disebabkan oleh flagel, jika dipanaskan akan membentuk
endospora, yaitu bentuk dorman sel vegetatif sebagai bentuk pertahanan diri yang
muncul saat kondisi ekstrim yang tidak menguntungkan bagi bakteri.

Letak endospora dalam sel ukuran selama pembentukannya tidak sama antara
spesies satu dengan lainnya. Beberapa spesies memiliki spora sentral, terminal, atau
letal. Endospora dapat berbentuk oval, silindris, bulat, atau lainnya. Untuk
memastikan bahwa koloni-koloni tersebut adalah Bacillus, maka dilakukan
serangkaian pengujian yang bersifat spesifik yaitu pengecetan gram, pengecetan
negatif dan motilitasnya. Bacillus dibedakan dari anggota familia Bacillaceae lainnya
berdasarkan sifat-sifatnya yaitu: keseluruhannya merupakan pembentuk spora, hidup
pada kondisi aerob baik sebagai jasad yang sepenuhnya aerob maupun aerob
fakultatif, selnya berbentuk batang, dan memproduksi katalase.

2.3 Jenis-jenis dari Bacillus sp.

Kebanyakan anggota genus Bacillus adalah organisme saprofit yang lazim


terdapatdalam tanah, air, udara, dan tumbuh-tumbuhan, seperti Bacilluscereus dan
Bacillussubtilis. Beberapa di antaranya patogen bagi insekta. Bacilluscereus dapat
tumbuh pada makanan dan menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan keracunan
makanan. Organisme ini kadang-kadang dapat menimbulkan penyakit pada orang
fungsi imun yang terganggu (misalnya meningitis, endokarditis, endoftalmitis,
konjungtivitis, atau gastroenteritis akut). Seperti Bacillusanthracis, penyebab antraks
adalah bakteri patogen utama genus ini.
Penularan dari hewan ke manusia dapat dilihat dari manisfestasi klinik dari
penyakit :

1. Melalui saluran pernafasan, spora kuman Bacillus anthraxis yang terdapat


pada bulu domba dari daerah endemis menyebabkan tipe pulmonary yang
bersifat fatal (Wool Solter’s desease).
2. Melalui kulit yang lecet/luka terinfeksi oleh Bacillus anthraxis hingga
timbul bisul yang sulit sembuh, bahkan bertambah besar disertai dengan
pembengkakan kelenjar limfa dan disebut pustule malignant. Dan dari
pustule malignant ini bakteri masuk ke aliran darah dan menyebabkan
septikemi.
3. Melalui daging yang kurang masak menyebabkan keracunan makanan dan
gastroenteritis.

Dengan adanya manifestasi klinis, maka dapat dibedakan jenis-jenis dari


Bacillus sp mulai dari morfologi, patogenitas, anti-toksin dan lain-lain.

Berikut ini adalah jenis-jenis dari Bacillus, yaitu :

A. Bacillus anthracis

Kuman antraks banyak ditemukan pada penyakit zoonosis, infeksi


pada ternak lembu, kambing, domba dan babi. Kuman dikelurakan melalui
feses, urin dan saliva binatang yang terinfeksi dan bertahan hidup di ladang
dalam bentuk spora untuk waktu yang lama sekali.

- Morfologi
Batang dengan ukuran 1 x 3-4 µm, dapat tersusun dengan seperti
bambu, bentuk batangnya persegi atau cekung ujungnya, sendiri-sendiri,
berpasangan atau membentuk rantai pendek, tidak bergerak, berspora oval
yang letaknya sental, kadang-kadang berkapsul.
- Struktur Antigen
Bahan Bacillus anthracis, yang terdiri atas polipeptida berbobot
molekul tinggi yang mengandung asam D-glutamat, adalah suatu hapten.
Badan bakteri mengandung proteindan suatu polisakarida somatic, keduanya
bersifat antigenic.
- Patogenesis
Antraks terutama merupakan penyakit pada biri-biri, sapi, kuda, dan
hewan lainnya; manusia jarang terserang. Infeksi biasanya didapat dengan
masuknya spora melalui lukapada kulit atau selaput lendir, jarang dengan
inhalasi spora ke dalam paru-paru. Eksudat antraks mengandung polipeptida
yang identik dengan polipeptida pada simpai Bacillus, dan dapat
menimbulkan reaksi histologik yang sama seperti reaksi akibat infeksi
antraks. Protein lain yang diisolasi dari eksudat merangsang kekebalan yang
kuat terhadap antraks bila disuntikkan pada hewan.
- Pengobatan
Banyak antibiotika efektif terhadap antraks pada manusia, tetapi
pengobatan harus dimulai sedini mungkin. Penisilin cukup memuaskan,
kecuali pada pengobatan antraks pernapasan, dimana mortilitas tetap tinggi.
Beberapa basil Gram-positif lainnya mungkin resisten terhadap penisilin
karena membentuk β-laktamase. Tetrasiklin, eritromisin, atau clyndamicin
mungkin efektif.

B. Bacillus cereus
Dapat menyebabkan keracuann makanan dan juga menyebabkan
pneumonia, bronkopneumonia dan luka. Bacillus cereusmerupakan salah satu
anggota genus Bacillus yang pertama kali diisolasi pada tahun 1969 dari darah
dan cairan pleura pasien pneumonia.
- Morfologi

Bacillus cereus memiliki beberapa karakter morfologi diantaranya:


Gram positif dengan lebar sel 0,9 – 1,2 µm dan panjang 3 – 5 µm. Motilitas
positif, spora elipsoidal, sentral atau parasentral, spora jarang keluar dari
sporangia. Tidak membentuk kapsul, biasanya muncul dalam bentuk rantai
panjang tipe R. Bentuk koloni irregular, opague terkadang waxy. Pada
medium cair membentuk turbiditas moderate.

- Enterotoksin

Bacillus cereus memiliki karakter yang mirip dengan Bacillus


thuringiensis dan Bacillus anthracis, namun tetap dapat dibedakan
berdasarkan determinasi motilitas (kebanyakan Bacillus cereus bersifat motil)
dan adanya kristal toxin (hanya dihasilkan oleh Basillus thuringiensis),
aktivitas hemolisis (B.cereus memiliki sifat ini, sedangkan B.anthracis bersifat
non-hemolitik). Dalam pertumbuhan Bacillus cereus menghasilkan toksin
selama pertumbuhanatau selama sporulasi.

Beberapa strain dari Bacillus cereus bersifat patogen dan berbahaya


bagi manusia karena dapat menyebabkan foodborne illness, namun beberapa
diantaranya yang bersifat saprofitik dapat bermanfaat sebagai probiotik dan
juga penghasil antibiotik yang potensial. Bacillus cereus kebanyakan
ditemukan terkandung dalam bahan pangan dan menyebabkan 2 tipe
keracunan makanan yaitu emetic dan diarhoeal.

- Antibiotika

Bacillus cereus dapat memproduksi peptida antibiotik diantaranya:


Cerexin, Zwitermicin.

- Gejala Penyakit

Gejala-gejala keracunan makanan tipe diare karena Bacillus cereus


mirip dengan gejala keracunan makanan yang disebabkan oleh Clostridium
perfringens. Diare berair, kram perut, dan rasa sakit mulai terjadi 6-15 jam
setelah konsumsi makanan yang terkontaminasi. Rasa mual mungkin disertai
diare, tetapi jarang terjadi muntah (emesis). Pada sebagian besar kasus, gejala-
gejala ini tetap berlangsung selama 24 jam.

- Tes Diagnostik Laboratorium

Bacillus cereus non pathogen menunjukkan pergerakan dengan


penyebaran (swarming) pada media kultur setengah padat. Sel vegetatif dari
Bacillus cereus dapat tumbuh pada rentang temperatur 5 – 50°C dengan
temperatur optimal antara 35 - 40°C, resisten terhadap pH 4,5 – 9,3. Dapat
tumbuh pada aerobic agar dan nutrien broth dan penambahan NaCl 7%,
nutritive agar serta nutritive agar dengan 7 – 10 % darah domba. Waktu
generasi relatif singkat, antara 20 – 30 menit.

- Patogenesis

Bacillus cereus bertanggung jawab untuk sebagian kecil penyakit


bawaan makanan (2-5%), menyebabkan mual, muntah parah dan diare.

- Pencegahan
Pencegahan secara total mungkin tidak dapat dilakukan. Namun
demikian, makanan yang dimasak, dipanaskan, dan disimpan dengan benar
umumnya aman dari racun yang menyebabkan muntah. Resiko paling besar
yaitu kontaminasi silang.

C. Bacillus subtilis

Dapat menyebabkan meningitis, endokarditis, infeksi mata dan lain-


lainnya. Bacilus Subtilis ini awalnya bernama Vibro subtilis oleh Christian
Gottfried Ehrenberg pada tahun 1835. Kemudian nama Bacillus subtilis
dikenalkan oleh Ferdinand Cohn pada 1872. Bacillus subtilis telah digunakan
sepanjang 1950 sebagai alternatif dari obat karena efek immunostimulatory
sel dari masalah, yang pada pencernaan telah ditemukan secara signifikan
untuk kekebalan aktivasi antibodi spesifik IgM, IgG ,dan IgA.

- Morfologi

Bakteri ini termasuk bakteri gram positif, katalase positif yang umum
ditemukan di tanah. Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk
membentuk endospora yang protektif yang memberi kemampuan bakteri
tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. Tidak seperti species lain seperti
sejarah, Bacillus subtilis diklasifikasikan sebagai obligat anaerob walau
penelitian sekarang tidak benar. Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai
patogen walaupun kontaminasi makanan tetap jarang menyebabkan keracunan
makanan. Sporanya dapat tahan terhadap panas tinggi yang sering digunakan
pada makanan dan bertanggung jawab terhadap kerusakan pada roti.
Bacillus subtilis selnya berbentuk basil, ada yang tebal dan yang tipis.
Biasanya bentuk rantai atau terpisah. Sebagian motil dan adapula yang non
motil. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval. Bacillus
subtilis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang dapat tumbuh pada
kisaran suhu 45°C – 55°C danmempunyai pertumbuhan suhu optimum pada
suhu 60°C – 80°C.

- Toksik

Bacillus subtilis tidak dianggap oleh manusia sebagai bakteri yang


patogen, karena dapat mencemari makanan tetapi jarang menyebabkan
keracunan makanan. Bacillus subtilis produces the proteolyticenzy
mesubtilisin. Bacillus subtilis menghasilkan enzim proteolytic yang subtilisin.
Bacillus subtilis spores dapat hidup yang ekstrim pemanasan yang sering
digunakan untuk memasak makanan, dan bertanggung jawab untuk
menyebabkan kekentalan yanglengket, membenang konsistensi yang
disebabkan oleh bakteri produksi panjang rantai polysaccharides dan dalam
adonan roti.

Bacillus subtilis dapat membagi asymmetrically, memproduksi sebuah


endospora yang tahan terhadap faktor lingkungan seperti panas, asam, dan
garam, yang dapat beradadi dalam lingkungan dalam jangka waktu yang lama.
Endospora adalah yang dibentuk pada saat gizi stres, memungkinkan
organisme untuk terus berada di dalam lingkungan sampai kondisi menjadi
baik. Sebelum proses untuk menghasilkan spora bakteri melalui proses
produksi flagella dan mengambil DNA dari lingkungan.

Bacillus subtilis terbukti untuk manipulasi genetik, karena itu telah


menjadi banyak diadopsi sebagai model organisme untuk penelitian
laboratorium, terutama dari sporulation, yang merupakan contoh sederhana
dari diferensiasi selular. Hal ini juga sangat flagellated, yang memberikan
Bacillus subtilis kemampuan untuk bergerak sangat cepat.
2.4 Pemeriksaan Bacillus sp.

Dalam melakukan pemeriksaan dan mengidentifikasi suatu bakteri, harus


mengetahui sifat biakan. Organisme ini tumbuh baik di media biasa, tetapi
melihat sifat dan bentuk koloni, specimen dibiakan di media agar darah 5 persen
(darahnya bebas dari antibiotika). Ph optimum yaitu 7.0-7.4 dalam suasana aerob,
tetapi pertumbuhan jarang terjadi jika tidak ada oksigen. Suhu optimal 370C.
Bentuk koloni yang bulat, ukurannya 2-3 mm, berwarna putih keabuan,
permukaan dan tepinya tidak rata dan bila terkena sinar menyerupai kaca yang
diukir. Bila dibiakan di agar tegak tumbuh menyerupai pohon cemara yang
terbalik.

- Identifikasi Laboratorium
Identifikasi sifat biokimia dari Bacillus anthraxis digunakan table
seperti di bawah ini. Hal ini untuk membedakan antara Bacillus anthraxis
yang tidak bergerak dan Bacillus cereus yang bergerak, karena Bacillus
anthraxis yang virulen adalah organisme yang membentuk koloni yang
Rouhg bila dibiakan tanpa pertambahan CO2 dan membentuk koloni
Mucoid bila dibiakan di media sodium bicarmate dalam suasana CO2 5
persen. Fermentasi pada karbohidrat tidak ada manfaatnya.

Berikut ini adalah pemeriksaan Bacillus sp:

a. Pengambilan Sampel
- Pengambilan dilakukan secara aseptis
- Sampel diambil dengan cepat dan dengan hati-hati dimasukkan ke dalam
wadah steril dan tertutup.
b. Tahapan Isolasi Bacillus
- Preparasi suspense dilakukan, sebelumnya sampel tanah dimasukkan kedalam
tabung pengenceran pertama kemudian direbus 10 menit dengan suhu 80oC
diatas dandang.
- Diinokulasikan sebanyak 1 ose pada medium agar darah, selanjutnya
diinkubasi pada suhu 30oC selama 2x24 jam.
c. Tahap Pemurnian Dengan Metode Streak Kuadran
- Dipilih satu koloni yang Nampak terdiri dari satu tipe sel
- Jarum ose dibakar, setelah dingin disentuhkan ke permukaan koloni bakteri
yang akan distreak pada plating Agar Darah
- Streak ini dianggap sebagai streak primer pada permukaan Agar Darah
- Jarum ose dibakar, angkat lalu didinginkan dan distreakan melewati streak
primer kesatu atau kedua dan kemudian dilanjutkan kestreak sekunder tanpa
kembali streak primer
- Jarum ose dibakar, angkat lalu dinginkan dan disteakan melewati streak
sekunder dan kemudian dilanjutkan kestreak tersier tanpa kembali kestreak
primer dan sekunder
- Diinkubasi pada suhu 30OC selama 2x24 jam

a. Uji Mikroskopik
- Pewarnaan Gram
Satu ose bakteri berumur 24 jam diambil dari biakan NA miring lalu
dibuat apusan dengan cara meletakkan bakteri pada kaca objek lalu difiksasi
dengan cara melewatkannya diatas Bunsen beberapa kali (fiksasi
panas). Tetesi apusan dengan crystal violet selama 1 menit, lalu bilas dengan
akuades. Kemudian teteskan Gram’s Iodine selama 1 menit, lalu bilas lagi
dengan akuades. Teteskan etil alkohol 95% tetes demi tetes sampai apusan
tampak bersih dari warna crystal violet lalu bilas dengan akuades.
Teteskan safranin selama 45 detik, bilas kembali dengan akuades dan di
keringkan lalu amati dibawah mikroskop.
Setelah fiksasi tetesi dengan larutan kristal ungu yang berfungsi sebagai
zat warna primer dan didiamkan selama 1 menit, karena pada waktu 1 menit
diasumsikan dinding sel bakteri sudah mengunci kristal ungu. Setelah itu
dibilas dengan aquadest hal ini bertujuan agar kristal ungu yang dapat luntur
dan untuk memperjelas pengamatan. Setelah dibilas dengan aquadest lalu
ditetesi iodium dan dibiarkan selama 2 menit. Iodium berfungsi sebagai
penguat warna kristal ungu dan didiamkan selama 2 menit. Perlakuan
inidilakukan karena selama waktu tersebut diasumsikan telah cukup jelas
memberikan warna ungu pada bakteri.Setelah itu dibilas lagi dengan aquadest
hal ini bertujuan untuk membersihkan sisa iodium pada bakteri.Kemudian
dicuci dengan menggunakan etanol 70 %, etanol berfungsi untuk melarutkan
lemak. Kemudian dibilas kembali dengan aquadest, hal ini bertujuan untuk
memperjelas pengamatan setelah itu ditetesi dengan menggunukan safranin,
safranin disini berfungsi sebagai pewarna sekunder dan sebagai tanda bahwa
bakteri tersebut merupakan gram negatif (-) lalu dibiarkan setengah menit
karena waktu tersebut diasumsikan bahwa dinding sel telah mengunci
safranin. Setelah itu dibilas dengan aquadest hal ini bertujuan untuk membilas
safranin dan untuk memperjelas pengamatan.Kemudian preparat diamati di
bawah mikroskop dan kemudian didokumentasikan.
Perbedaan gram positif dan gram negatif adalah gram positif adalah
organismeyang dapat menahan komplek pewarna primer ungu kristal iodium
sampai pada akhir prosedur (sel tampak biru gelap atau ungu). Sedangkan
gram negatif adalah organisme yang kehilangan komplek warna ungu kristal
pada waktu pembilasan dengan alkohol namun kemudian terwarnai oleh
pewarnaan tandingan safranin (sel tampak merah muda) (Hadioetomo, 1985).
- Pewarnaan Endospora
Satu ose bakteri berumur 72 jam diambil dari biakan NA miring lalu
dibuat apusan dengan cara meletakkan bakteri pada kaca objek lalu fiksasi
panas. Apusan diletakkan diatas hot plate lalu ditetesi malachite green.
Angkat apusan dari hot plate, dinginkan dan setelah dingin bilas dengan
akuades. Teteskan safranin selama 30 detik dan bilas kembali dengan
akuades. Keringkan dengan tisu dan amati di bawah mikroskop. Indikator
terdapat spora dengan adanya warna merah yang di kelilingi warna hijau,
bagian vegetatif berwarna hijau sedangkan spora berwarna merah.
Spora bakteri adalah bentuk bakteri yang sedang dalam usaha mengamankan
diri terhadap pengaruh buruk dari luar. Segera setelah keadaan luar baik lagi
bagi mereka, maka pecahlah bungkus spora dan tumbuhlah bakteri. Spora
lazim disebut endospora ialah karena spora itu dibentuk di dalam sel.
Endospora jauh lebih tahan terhadap pengaruh luar yang buruk dari pada
bakteri biasa yaitu bakteri dalam bentuk vegetatif. Sporulasi dapat dicegah, jika
selalu diadakan pemindahan piaraan ke medium yang baru. Endospora dibuat
irisan dapat terlihat terdiri atas pembungkus luar, korteks dan inti yang
mengandung struktur nukleus. Apabila sel vegetatif membentuk endospora, sel
ini membuat enzim baru, memproduksi dinding sel yang sama sekali baru dan
berubah bentuk.
Dengan kata lain sporulasi adalah bentuk sederhana diferensiasi sel,
karena itu, proses ini diteliti secara mendalam untuk mempelajari peristiwa apa
yang memicu perubahan enzim dan morfologi. Spora biasanya terlihat sebagai
badan-badan refraktil intrasel dalam sediaan suspensi sel yang tidak diwarnai
atau sebagai daerah tidak berwarna pada sel yang diwarnai secara biasa.
Dinding spora relatif tidak dapat ditembus, ini pula yang mencegah hilangnya
zat warna spora setelah melalui pencucian dengan alkohol yang cukup lama
untuk menghilangkan zat warna sel vegetatif. Sel vegetatif akhirnya dapat
diberi zat warna kontras. Spora biasanya diwarnai dengan hijau malachit atau
carbol fuchsin. Spora kuman dapat berbentuk bulat, lonjong atau silindris.
Berdasarkan letaknya spora di dalam sel kuman, dikenal letak
sentral,subterminal dan terminal. Ada spora yang garis tengahnya lebih besar
dari garis tengah sel kuman, sehingga menyebabkan pembengkakan sel kuman.
spora merupakan stadium dorman dari sel vegetatif.

b. Uji Biokimia
Metabolisme merupakan suatu transformasi terkendali di dalam sel
dan merupakan reaksi-reaksi kimia. Metabolisme seringkali menghasilkan
hasil sampingan yang dapat digunakan untuk identifikasi mikroorganisme
diantaranya bakteri Bacillus sp.Identifikasi suatu mikrorganisme dilakukan uji
biokimia untuk mengetahui aktivitas metabolisme mikroorganisme. Uji
biokimia ini mencakup uji motilitas, uji gelatin, uji nitrir, uji sitrat, uji urease,
uji glucose, uji arabinose, dan uji mannitol.
1) Uji Motilitas
Uji motilitas berperan dalam mengetahui pergerakan bakteri. Bakteri
yang dinyatakan positif motil atau bergerak akan ditunjukan dengan adanya
kekeruhan pada media uji yang menunjukan pertumbuhan koloni (Aksoy &
Ozman-Sullivan 2008).
2) Uji Gelatin
Uji gelatin dilakukan dengan media nutrien gelatin disiapkan lalu
biakan bakteri B diambil sebanyak satu ose dan diinokulasikan secara vertikal
padamedia nutrien gelatin tersebut, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada
suhu37°C. Teknik tersebut dilakukan secara aseptik. Hasil uji positif jika
gelatin terhidrolisa atau tetap cair, sedangkan hasil uji negatif jika gelatin
tidakterhidrolisa atau membeku.
3) Uji Nitrit
Nitrat dapat berfungsi sebagai akseptor hidrogen terminal untuk proses
transport elektron yang menghasilkan energi.Reaksi nitrit dapat tertimbun
dalam larutan biak dan tidak terjadi pembentukan N2.Uji positif ditandai
dengan terbentuknya warna merah atau merah muda setelah penambahan
reagen uji, yang menunjukkan nitrat telah tereduksi menjadi nitrit. Dan jika
terbentuk gelembung gas, hal ini menunjukkan nitrit tereduksi menjadi gas
nitrogen. Sedangkan uji negatif memberikan hasil uji yang sebaliknya yakni
tidak terjadi perubahan warna dan tidak terbentuk gas. Uji selanjutnya adalah
uji indol, uji indol bertujuan untuk menentukan kemampuan bakteri Bacillus
sp dalam memecah asam amino triptofan. Asam amino triptofan merupakan
komponen asam amino yamg terdapat di dalam protein sehingga asam amino
ini dengan mudah dapat digunakan oleh mikroorganisme akibat penguraian
protein (Pelczar dan Chan 2008).
4) Uji Sitrat
Uji sitrat digunakan untuk melihat kemampuan bakteri Bacillus sp
menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Bila
mikroorganisme mampu menggunakan sitrat, maka asam akan dihilangkan
dari medium biakan, sehingga menyebabkan peningkatan pH dan mengubah
warna medium dari hijau menjadi biru. Perubahan warna dari hijau menjadi
biru menunjukkan bahwa mikroorganisme mampu menggunakan sitrat
sebagai satu-satunya sumber karbon, sedangkan pada medium sitrat koser
kemampuan menggunakan sitrat ditunjukkan oleh kekeruhan yang
menandakan adanya pertumbuhan mikroba. Berdasarkan hasil uji tersebut
bakteri Bacillus sp mampu menggunakan sitrat sebagai sumber karbonnya
(Schlegel dan Karin 1994).
5) Uji Urease
Urease merupakan media differensial yang dapat membedakan bakteri
penghasil eksoenzim yaitu enzim urease ( untuk menghidrolisa urea →amonia
karbodioksida.

Prinsip Urease test

Media urea terdegradasi menjadi amoniak menyebabkan lingkungan


basa, maka media menjadi pink . Sebagian besar bakteri golongan enteric
dapat mendegrasi urea, tetapi lambat.

6) Uji fermentasi karbohidrat (glukosa, arabinose, mannitol)


Fermentasi merupakan salah satu aktivitas biokimia yang dilakukan oleh
mikroba. Jenis karbohidrat yang digunakan pada uji fermentasi karbohidrat
antara lain, glukosa, arabinose, dan manitol.
Pembacaan fermentasi pada glukosa, arabinose, dan mannitol positif jika
warna kaldu berubah menjadi kuning terang dan timbul gas. Uji ini dilakukan
untuk mengindetifikasi bakteri yang mampu memfermentasikan karbohidrat.
Pada uji gula-gula hanya terjadi perubahan warna pada media glukosa yang
berubah menjadi warna kuning, artinya bakteri ini membentuk asam dari
fermentasi glukosa. Pada media glukosa juga terbentuk gelembung pada
tabung durham yang diletakan terbalik didalam tabung media, artinya hasil
fermentasi berbentuk gas (Oktarina, 2010).

Reaksi fermentasi gula yaitu :

fermentasi
C6H12O6 C2H5OH+ CO2 + asam

Bacillus sp Motilitas Gelatin Nitrit Sitrat Urease Glucose Arabinosa Manitol


B. anthracis - + + + - + - -
B. subtilis + + + + V + + +
B. pumilis + + - + - + + +
B. coogulans + - V - - + V V
B. firmus + + + - - - - -
B. lentus + - - - + - - -
B. megaterium + + - + V + + +
B. cereus V + + + V + - -
B. theringiensis + + + - V + - -
B. + + + - V + V -
stearothermophil
us

7) Uji Serologi
Perlu diingat bahwa B. anthracis adalah antigen sangat erat kaitannya
dengan B. cereus, yang dianggap sebagai komponen mikroflora lingkungan.
Satu-satunya antigen unshared yang meminjamkan diri untuk membedakan
kedua spesies dengan pendekatan imunologi adalah antigen anthrax toksin,
diproduksi selama fase eksponensial pertumbuhan, dan kapsul B. anthracis.
Ini menempatkan cukup kendala pada sejauh mana metode imunologi dapat
digunakan dalam metodologi deteksi rutin.
8) Uji Ascoli
Pada tahun 1911, Ascoli (1) diterbitkan prosedur untuk mendeteksi
termostabil antraks antigen dalam jaringan hewan. Ini menggunakan
antiserum dibesarkan di kelinci untuk menghasilkan reaksi precipitin. Uji ini
tidak memiliki kekhususan tinggi, bahwa antigen termostabil dari B. anthracis
dibagi oleh lain Bacillus spp., dan tergantung pada probabilitas bahwa hanya
B. anthracis akan berkembang biak di seluruh hewan dan deposito antigen
yang cukup untuk memberikan reaksi positif. Saat ini, tampaknya akan
digunakan di Eropa Timur saja.
Untuk melakukan tes Ascoli, menempatkan sekitar 2 g sampel dalam 5
ml saline yang mengandung 1/100 akhir konsentrasi asam asetat dan didihkan
selama 5 menit. Solusi yang dihasilkan didinginkan dan disaring melalui filter
kertas. Beberapa tetes antiserum kelinci (lihat persiapan di bawah ini)
ditempatkan dalam tabung reaksi kecil. Filtrat dari langkah sebelumnya
adalah lembut berlapis dari atas antiserum tersebut. Sebuah tes positif adalah
pembentukan terlihat Band precipitin di bawah 15 menit. Kontrol spesimen
suspensi positif dan negatif harus disertakan.
Antiserum disiapkan pada kelinci dengan inokulasi subkutan vaksin
anthrax Sterne pada hari 1 dan Pada hari 28 dan 35, kelinci menerima 0,5 ml
campuran beberapa strain virulen B. anthracis tidak melebihi 105 unit
pembentuk koloni (CFU) / ml ditangguhkan dalam garam. Atau, bakteri
mematikan hidup bisa akan aktif oleh suspensi berkepanjangan di 0,2%
formal saline, tapi massa antigen perlu meningkat menjadi 108-109 CFU / ml.
Suspensi harus diperiksa untuk inaktivasi dari B. anthracis sebelum inokulasi
hewan budaya 0,1 ml menjadi 100 ml kaldu nutrisi yang mengandung 0,1%
histidin dan, setelah inkubasi pada 37 ° C selama 7 hari, subkultur pada darah
atau nutrien agar. Regimen dosis untuk diformalkan suspensi setelah vaksinasi
awal pada hari 1 dan 14 meningkat dosis 0,1, 0,5, 1, dan 2 ml diberikan
intravena pada interval 4-5 hari. Setelah salah prosedur, tes berdarah di 10
hari setelah terakhir injeksi harus menentukan apakah tambahan 2 ml dosis
harus diberikan untuk meningkatkan titer precipitin.