Anda di halaman 1dari 3

PELAPORAN KINERJA SOSIAL

Kerangka kerja akuntansi sosial belum secara penuh dikembangkan dan terdapat masalah
pengukuran yang serius mengenai biaya dan manfaat. Meskipun demikian, sejumlah penulis
telah menyarankan agar perusahaan melaporkan kinerja akuntansi sosialnya baik secara internal
maupun secara eksternal. Pendekatan-pendekatan pelaporan akuntansi sosial tersebut meliputi :

1. Audit Sosial

Audit sosial yaitu mengukur dan melaporkan dampak ekonomi, sosial, dan
lingkungan dari program-program yang berorientasi sosial dan operasi perusahaan yang
mengikuti peraturan. Mulanya, manajer perusahaan diminta membuat daftar aktivitas
dengan konsekuensi sosial. Setelah daftar tersebut dihasilkan, auditor sosial kemudian
menilai dan mengukur dampak-dampak dari kegiatan sosial perusahaan. Audit sosial
dilaksanakan secara rutin oleh kelompok konsultan internal maupun eksternal, sebagai
bagian dari pemeriksaan internal sehingga manajer mengetahui konsekuensi sosial dari
tindakan mereka. Selain itu, audit sosial juga bermanfaat agar manajer bias memperbaiki
kinerja mereka dalam bidang-bidang sosial.

Audit sosial serupa dengan audit keuangan dalam hal bahwa audit sosial mencoba
untuk secara independen menganalisis suatu perusahaan dan menilai kinerja. Tetapi
terdapat perbedaan utama mengenai apa yang dianalisis. Dalam audit sosial, auditor
memeriksa operasi untuk menilai kinerja sosial dari suatu perusahaan dan bukan
memeriksa kinerja keuangannya.

2. Laporan-Laporan Sosial

Laporan eksternal terpisah yang menggambarkan hubungan perusahaan dengan


komunitasnya telah dikeluarkan oleh banyak perusahaan baik di Indonesia maupun di
negara-negara maju. David Linowes telah mengembangkan Laporan Operasi Sosio-
Ekonomi untuk digunakan sebagai dasar dalam pelaporan informasi akuntansi sosial.
Linowes membagi laporannya dalam tiga kategori, yaitu:

a. Hubungan dengan manusia


b. Hubungan dengan lingkungan, dan
c. Hubungan dengan produk.

Pada setiap kategori, ia membuat daftar mengenai konstribusi sukarela perusahaan


dan kemudian mengurangkannya dengan kerugian yang disebabkan oleh aktivitas
perusahaan itu. Linowes memonetisasi segala sesuatunya dalam laporan tersebut, sampai
pada saldo akhir yang disebutnya sebagai tindakan sosio-ekonomi netto untuk tahun
tersebut. Dalam laporan Linowes, seluruh kontribusi dan kerugian harus dihitung secara
moneter. Selain Linowes, Ralph Estes juga mengembangkan suatu model pelaporan
mengenai manfaat dan biaya sosial. Ia menghitung manfaat sosial sebagai seluruh
kontribusi kepada masyarakat yang berasal dari operasi perusahaan (misalnya, lapangan
kerja yang disediakan, sumbangan, pajak, perbaikan lingkungan). Sedangkan biaya
sosial, meliputi seluruh biaya operasi perusahaan (bahan baku yang dibeli, utang
kerusakan lingkungan, luka-luka dan penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan). Biaya
sosial dikurangkan dari manfaat sosial untuk memperoleh manfaat atau biaya netto. Estes
mempertimbangkan modelnya sebagai suatu laporan konseptual yang dapat digunakan
secara internal oleh manajemen dalam menilai manfaat netto perusahaan bagi
masyarakat.

3. Pengungkapan Dalam Laporan Tahunan

Beberapa perusahaan menerbitkan laporan tahunan kepada pemegang saham


disertai beberapa informasi sosial yang dilakukan. Namun, melalui informasi yang
dicantumkan dalam laporan tahunan tersebut, belum dapat dinilai kinerja sosial
perusahaan secara komprehensif, karena kebanyakan informasi yang diungkapkan dalam
laporan tahunan bersifat sukarela dan selektif. Dalam artian, bisa jadi perusahaan hanya
menyoroti kontribusi positifnya dan mengabaikan dampak negatif yang ditimbulkan dari
aktivitas usahanya.

4. Perkembangan Luar Negeri

Perusahaan-perusahaan Eropa sudah mempelopori pengungkapan informasi sosial


baik dalam laporan khusus maupun laporan tahunan. Bentuk pelaporan model Eropa yang
telah digunakan oleh sejumlah perusahaan adalah bentuk yang dikembangkan serta
digunakan oleh DeutscheShell (perusahaan minyak Shell di Jerman). Serupa dengan
laporan dari perusahaan-perusahaan di Prancis, laporan Deutsche Shell menekankan pada
hubungan perusahaan dengan karyawannya. Akan tetapi, laporan tersebut juga
memberikan informasi mengenai sejumlah bidang lainnya yang berurusan dengan
tanggung jawab sosial perusahaan. Laporan Deutsche berisi beberapa pos yang tidak
umum. Selain laporan keuangan yang umum, terdapat laporan akun-akuk dan laporan
nilai tambah, yang keduanya berkaitan dengan kontribusi perusahaan terhadap masyrakat.
Laporan akun-akun sosial melaporkan aktivitas perusahaan yang memengaruhi para
pemangku kepentingan perusahaan.seperti, karyawan, investor, komunitas prusahaan itu
sendiri. Sedangkan laporan nilai tambah dimaksudkan untuk menjelaskan peningkatan
nilai yang dikontribusikan perusahaan kepada para masyarakat dengan cara menghasilkan
produk atau jasa.