Anda di halaman 1dari 29

ANTROPOLOGI POLITIK

(GEORGES BALANDIER)

Disusun Oleh :

DEWINA IRAWAN INDAH TARIDA MIRA NANDITA OKTO BERMAN


(3173122010) (3173322031) (3173122025) (3173122027)

AGUSTINUS TOMMY
(3173122002)

PROGRAM STUDI S1PENDIDIKAN ANTROPOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL - UNIVERSITAS NEGERI


MEDAN

MEDAN

MARET 2018
KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab
telah memberikan rahmat dan karuniaNya serta kesehatan kepada kami, sehingga mampu
menyelesaikan tugas “Critical Book Review”. Tugas ini di buat untuk memenuhi salah satu mata
kuliah kami yaitu “Antropologi Politik”.

Tugas critical book report ini disusun dengan harapan dapat menambah pengetahuan dan
wawasan kita semua khusunya dalam bidang antopologi politik. Kami juga menyadari bahwa
tugas critical book review ini masih jauh dari kesempurnaan, Apabila dalam tugas ini terdapat
banyak kekurangan dan kesalahan, Kami selaku penyusun mohon maaf karena sesungguhnya
pengetahuan dan pemahaman kami masih terbatas, karena keterbatasan ilmu dan pemahaman
saya yang belum seberapa dan masih dalam tahap pembelajaran. Karena itu kami sangat
menantikan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun guna menyempurnakan
tugas ini. Kami berharap semoga tugas critical book review ini dapat bermanfaat bagi pembaca
dan bagi kami selaku penyusun khususnya, Atas perhatiannya kami mengucapkan terimakasih.

Medan, Maret 2018

Kelompok 3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................

DAFTAR ISI .............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................

A. Latar Belakang ..............................................................................................


B. Tujuan Penulisan CBR ...................................................................................
C. Manfaat CBR .................................................................................................
D. Identitas Buku ................................................................................................

BAB II: Ringkasan Isi Buku ......................................................................................

A. Ringkasan Isi Buku .......................................................................................

BAB III: KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ......................................................

A. Kelebihan ........................................................................................................

B. Kekurangan ....................................................................................................

BAB IV: PENUTUP ..................................................................................................

A. Kesimpulan .....................................................................................................
B. Saran ...............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan
logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata.Objek dari antropologi
adalah manusia di dalam masyarakat suku bangsa, kebudayaan danprilakunya. Ilmu pengetahuan
antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari manusia dalam bermasyarakat suku bangsa,
berperilaku dan berkebudayaan untuk membangun masyarakat itu sendiri.Dalam bidang teori
antropologi, memberikan penjelasan dalam menunjukkan perbedaaan struktur sosial serta pola-
pola kebudayaan yang berbeda-beda pada tiap-tiap masyarakat.

Antropologi Politik juga membahas pendekatan antropologi terhadap gejala-gejala politik


dalam kehidupan manusia.Pembahasan meliputi teori-teori mengenai perwujudan politik dalam
kehidupan manusia sertasistem politik pada masyarakat sederhana dan modern. Selain itu juga
membahas pendekatanantropologi terhadap gejala-gejala politik dalam kehidupan manusia,
termasuk yang tidakterkategori sebagai gejala-gejala politik yang berkaitan dengan lembaga-
lembaga politikformal/pemerintah dalam masyarakat modern.

Dengan demikian, cakupan pembahasan meliputi pula berbagai gejala politik dan
organisasi sosial dalam komuniti-komuniti masyarakatperdesaan/non-masyarakat
kompleks.Kaitan antara Ilmu Antropologi dengan ilmu politik yaitu ilmu antropologi
memberikan pengertian-pengertian dan teori-teori tentang kedudukan serta peranan satuan-
satuan sosial budaya yang lebihkecil dan sederhana. Mula-mula Antropologi lebih banyak
memusatkan perhatian pada kehidupanmasyarakat dan kebudayaan di desa-desa dan
dipedalaman.Antropologi telah pula berpengaruh dalam bidang metodologi penelitian ilmu
politik. salah satupengaruh yang amat berguna dan terkenal serta kini sering dipakai dalam ilmu
politik ialah metode peserta pengamat. penelitian semacam ini memksa sarjana ilmu politik
untuk meniliti gejala-gejala kehidupan sosial dari dalam masyarakat yang menjadi obyek
penelitiannya. Mula-mula Antropologi lebih banyak memusatkan perhatian pada kehidupan
masyarakat dan kebudayaan di desa-desa dan dipedalaman.

Pembahasan tentang antropologi politik tidak bisa dilepaskan dari pemahaman atas:

1. Ruang lingkup atau batasan yang menjadi "ruang sentuhan" antara disiplin antropologi dan
ilmu politik. Pengertian dasar mengenai kedua disiplin ini akan memudahkan perumusan
mengenai ruang lingkup antropologi politik.
2. Pendekatan-pendekatan antropologi politik. Melalui pemahaman atas kedua aspek ini, suatu
kajian dapat secara subyektif menyatakan diri memakai pendekatan antropologi politik atau
secara obyektif ke dalam subdisiplin ini.

B. TUJUAN

1. Menyusun sejumlah generalisasi yang bermakna tentang budaya manusia dan


perilakunya dalam berpolitik
2. Menambah wawasan pembaca mengenai arti pentingnya memahami perkembangan
antropologi politik.
3. Meningkatkan motivasi pembaca dalam mengenal lebih jauh lagi mengenai Apakah
Antropologi Politik itu?
4. Menguatkan pemahaman pembaca mengenai betapa pentingnya mempelajari antropologi
politik sejak dini.

C. MANFAAT

Bagi Penulis :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah antropologi politik
2. Melatih kemampuan penulis dalam hal mengkritisi sebuah buku
3. Menumbuhkan pola fikir yang aktif,kreatif,serta inovatif dalam hal membandingkan satu
buku dengan buku yang lainnya.
Bagi Pembaca :
1. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai perkembangan antropologi politik
ataupun kenyataan yang ada pada budaya politik yang ada serta dapat diimplementasikan
dalam kehidupan sehari-hari.

D. IDENTITAS

 Buku Utama (Buku I)


1. Judul : ANTROPOLOGI POLITIK
2. Edisi :
3. Penulis : Georges Balandier
4. Penerbit : PT Raja Grafindo Persada
5. Kota terbit : Jakarta
6. Tahun terbit :
7. ISBN :
 Buku Pembanding (Buku II)

1. Judul : PENDEKATAN ANTROPOLOGI PADA PERILAKU


POLITIK
2. Edisi : I (Pertama)
3. Penulis : Frank McGlynn dan Arthur Tuden
4. Penerbit : Universitas Indonesia Press
5. Kota terbit : Jakarta
6. Tahun terbit : 2000
7. ISBN : 979-456-212-2
BAB II

PEMBAHASAN

 Buku Utama : Antropologi Politik

BAB I : KEKERABATAN DAN KEKUASAN


Kekerabatan dan politik itu sebagai pengertian-pengertian yang saling meniadakan,
antropologi politik telah memperhatikan ikatan-ikatan kompleks antara dua sistem itu,
menganalisisnya, serta mengembangkan teori-teori mengenaik hubungan-hubungan itu dengan
berlandasan kepada karya lapangan.masyarakat-masyarakat tanpa Negara, acephalous,

masyarakat, “garis keturunan” atau masyarakat segmenter, dimana kecil saja diferensiasi antara

fungsi-fungsi politiknya dan pranata-pranatanya, memberikan landasan penguji yang pertama


dalam kenyataan, adalah sehubungan dengan masyarakat itulah garis depan kaitan kekerabatan
dan politik di beberkan. Demikianlah, studi citra organisasi dan proyeksinya atas ruang
memeperlihatkan, secara cukupterang, keberadaan hubungan-hubungan politik berlandasan
politik kekerabatannya.

Serupa itu pula, kekerabatan member prinsip tadi sebagai buah modal dan bahasa bagi
masyarakat-masyarakat itu, sebagaimana di tunjukkan oleh Van Velse, dalam kasus orang Tonga

di Malawi :”hubungan-hubungan politik itu di ungkapkan dalam pengertian-pengertian

kekerabatan’. “manipulasi-manipulasi “ kekerabatan adalah satu dari cara-cara yang di

pergunakan dalam iktategi politik mereka.

Fortes telah mengamati bahwa tentang hubungan-hubungan serta kelompok-kelompok


yang secara tradisional . di pandang dari sudut kekerabatan itu, akan berhasil jika di kaji dari
sudut pandang organisasi politik. Hal ini, meskipun demikian, tidaklah menyarankan bahwa
kekerabatan sebagai keseluruhan memiliki pengertian-pengertian dan fungsi-fungsi politik
seperti formasi jaringan-jaringan fungsi politik, seperti dalam formasi jaringan-jaringan
persekutuan berlandasan atas keturunan unileneal, atas landasan aksternal, seperti pembentukan
jaringan-jaringan persekutuan metrional, yang disusun dengan melibatkan hubungan-hubungan
politik.
Garis-garis keturunan itu, berlandasan atas orang-orang, yang di situasikan dalam
kerangka geneologis yang sama, yaitu secara unilenael, kepada satu sumber. Tingkat deretnya
berbeda-beda menuruti jumlah generasi yang terlibat dalam geneologisnya, seperti juga dengan
jumlah elemen-elemen yang membentuknya. Lebih lanjut, manakala garis keturunan terkena
oleh organisasi tertentu, atas dassar fakta ini, mereka tidaklah membentuk komunitas-komunitas ,

mereka hanyalah menjadi “inti” dari komunitas-komunitas itu orang perempuannya di kirim

keluar melalui perkawinan, istri-istrinya di terima dari luar.

Kesukaran-kesukaran yang di temui dalam menentukan bidang politik, luar kekerabatan,


serta dalam menerapkan analisa structural atas politik masyarakat-massyarakat segmenter,
cukuplah menjadi alasan bagi serangan kertas atas persoalan dinamika lineal.

Kondisi

Hubungan-hubungan “segmenter” bukanlah hubungan-hubungan tanpa keunggulan dan

subordinasi. Klan-klan dan garis-garis keturunan tidaklah seluruhnya ekuivalen, klan-klan bisa

berdiferensasi, terspesialisasi dan “tersusun”; garis-garis keturunan bisa meliputi hak-hak setara

menuruti apakah berkenan dengan yang lebih tua ataukah dengan juniornya. Keduanya bisa di
bedakan dalam keperluan aturan-aturan upacara, yang memiliki akibat-akibat politik dan
ekonomi.Kondisi kekuasaan politik dapat di temukan baik dalam dinamika klan, maupun dalam

karakteristik ketidakmerataan dari suatu masyarakat tipe”aristokratik”.

Penampakan dan pengertian

Dalam masyarakat-masyarakat “segmenter” kehidupan politik yang merembes di

tampakkan oleh situasi ketimbangan oleh pranata-pranata politik, ini adalah dalam kenyataannya,

masyarakat-masyarakat dimana struktur-struktur politiknya paling tidak “taraba” dan paling “

terjalin” untuk mempergunakan istilah almond.

Konfrontasi tertutup adalah penampakan kehidupan politik dari masyarakat-masyarakat


garis keturunan, sebagaimana juga dengan konfrontasi langsung. Beberapa masyarakat ini
memiliki mekanisme-mekanisme rahasia dalam membatasi para pemegang kekuasaan serta
akumulasi kekeyaan merekaStrategi penggunaan symbol-simbol ini juga mencapai bobot
politiknya, dalam hail itu di perlihatkan melalui pengkajian atas hubungan-hubungan antara
religi dan kekuasaan.

Aspek “kekuasaan segmenter

Sistem-sistem “segmenter” yang kini di sampaikan sebagai sistem politik itu, belum lagi di

beri klasifikasi berdasarkan kriteria politiknya, secara meyakini. Dengan lebih member tekanan
kepada perangkat klan garis keturunan ini, serta struktur-struktur geneologis yang
mengabsahkannya.

BAB II : STRATIFIKASI SOSIAL DAN KEKUASAAN


Kekuasaan politik mengorganisir dominasi yang abash dan subordinasi, serta
menciptakan hirarkinya sendiri. Dari segala nya, ia member pengungkapan “resmi” terhadap
ketidakmerataan yang lebih funmental lagi, yakni ketidakmeratan dalam straktifikasi sosial
dalam sistem kelas-kelas sosial yang di bangun di antara individu serta kelompok.
Teori-teori antropologi kelihatan di tandai oleh ketidakpastian beberapa di antaranya
melihat pengungkapan hubungan-hubungan hirarki dan dominasi itu di dalam sifat aamiahnya,
hirarki ini dapatlah secara adil di anggap sebagai membayangi bentuk-bentuk elementer dari
straktifikasi sosial. Ia adalah hasil dari sejarah, serta di beri pembenaran diri oleh rujuknya
kepada mitos yang leluhur pendiri itu di pandang sebagai dewa-dewa atau pahlawan-pahlawan.

Staktifikasi atas kelompok usia berada darari sekedar generasi-generasi. Ia dihasilkan


baik dari usia mauoun prosedur ritual yang mengkodisikan akses ke dalam solidaritas serta
kewenangan yang kompensasi-kompensasi yang berangkali hasil penyesuaian yang bermainya
konpensasi-konpensasi yang mengkaitkan hubungan-hubungan dominasi di antara kelompok-
kelompok pengganti dan hubungan-hubungan bebas diantaranya.

Bentuk-bentuk elementer dari straktifikasi sosial, yang melibatkan klan-klan atau garis-
garis keturunan serta kelompok-kelompok usia ini, tidaklah sepenuhnya biasa di hapuskan.
Semua biasa hidup berdampingan dengan bentuk-bentuk yang lebih kompleks, yang
memepergunakan serta mendominasinya melalui cara-cara prosedur variable.
Jabatan niscaya mengandung elemen serimonial dan ritusl uang melalui prosedur “khusuk

dan di tetapkan”. ,mempengaruhi akses para pejabat serta member mereka sebuah identitas sosial

yang baru. Hubungan kompleks pun di bangun antara jabatan atau pejabat yang bila pertama
tampak kosonh, maka tata tutur sosial kelihatannya akan terancam bila kedua tidak sesuai
dengan kewajiban-kewajiaban serta larangan-larangan yang di tetapkan oleh jabatan itu.

Pertanyaan mengenai validitas konsep kelas-kelas sosial yang dirapkan bagi sebuah
bidang yang bukan merupakan bidang aslinya itu, masih terbuka, adalah abash untuk
menerapkan hanya pada masyarakat-masyarakat terpusat kekuatan-kekuatan ekonomi
menentukan lebih dominan nya straktifikasi-straktifikasi sosial, dan dimana hubungan-hubungan
antagonistic mengancam tata aturan yang di bangunnya itu.

Sebelum membuat verifikasi mengenaik hubungan antara straktifikasi sosial dengan tipe-
tipe sosial dengan tipe-tipe kekuasaan politik, kita harus menciptakan perangkat yang
memungkinkan kita menganalisa, kompleksnya serta saling tumpang tindik nya hirarki-hirarki
kelompok itu.

Bagi Maquet feodalitas itu bukanlah sebuah car produksi tetapi sebuah lazim politik
suatu cara untul mendiskribsikan peranan mereka memerintas dan yang mendefinisikan peranan
mereka yang memerintas dan yang di perintah fakta spesifiknya berupa ikatan antar personal.

BAB III : RELIGI DAN KEKUASAAN

Para raja adalah keturunan, penjelmaan atau pengantara dewa-dewa. Eratnya atribut
kekuasaan dan atribut agama menunjukan adanya ikatan yang selalu terdapat diantaranya;
sejarah cenderung memutus ikatan ini namun tak pernah berhasil. Bahkan pada masyarakat
modern yang sekuler, hal ini masih tampak kelihatan; kekuasaan tidak pernah kososng
kandungan religiusnya yang meskipun susut dan tidak menonjol, namun masih saja ada dan
tampak begitu jelas. Menurut Herbert Spencer dalam bukunya “ Principles of Sociology”;
Negara senantiasa memelihara terus beberapa cirri khas Gereja, biarpun Negara sudah mencapai
tahap akhir suatu proses sekulerisasi yang panjang. Adalah Sifat Kekuasaan yang
mempertahankan suatu agama politis, entah secara gamblang atau terselubung. Kenyataan ini
menjelaskan rumusan yang cemerlang dan agak paradoksal yang dicanangkan Luch De Heusch:
“pengetahuan politik berasal dari perbandingan agama- agama” (1962). Dalam kaitannya dengan
ini, Marx juga memberikan titik tolak dengan menunjukannya dalam masyarakat bernegara yakni
adanya dualisme yang mirip dengan pertentangan hal skral dan profan : “Para anggota dari
Negara politik adalah religious berkat adanya dualism antara kehidupan individual dan umum,
antara kehidupan masyarakat sipil dan politik.

A. Dasar-dasar Sakral Kekuasaan

Pensakralan kekuasaan terjadi karena setiap masyarakat mengukuhkan kerinduannya


untuk menjadi abadi dan takut akan kembalinya keadaan khaos sebagai perwujudan kematian itu
sendiri, yang prosesnya digambarkan seperti di bawah ini:

- Tata tertib dan kekacauan

Suatu pendalaman atas teori “asli/pribumi” tentang kekuasaan menunjukan bahwa


kekuasaan sering dikaitkan pada suatu kekuatan yang dipandang sebagai wujudnya, yakni
sebagai suatu kekuatan yang subordinasi atau sebagai pembuktian legitimasinya. Dengan
menekankan ambivalensi atau ambiguitas kekuatan ini melalui mistis yang mengisyaratkan
keistimewaan sifat politiknya. Hasil penelitian di afrika menunjukan bahwa bahwa gagasan yang
membantu menjelaskan hakekat kekuasaan bukan saja masuk dalam pembendaharaan politik,
melainkan tercakup juga dalam bahasan agama yang dicerminkan dalam pelabelan kata sacral.

Menurut Paul Valery, seorang politikus mempengaruhi orang lain dengan cara yang
menyerupai alasan alasan alamiah mereka untuk takluk dan tunduk pada angkasa, laut dan bumi
(regards sur le monde actuel). Hal itu terkait dengan tata tertib dunia yang ditetapkan oleh dewa-
dewa yang disusun oleh leluhur dan pendiri kerajaan. Unsur penjelasan teoritis disini
memperlihatkan unsure kekuasaan dari seginya yang dinamis dan merupakan kekuatan yang
dijadikan sebagai tata tertib kekeraturan agen agen dalam pergulatannya melawan factor-faktor
perubahan yang dihubungkan dengan sihir dan dekulturasi. Oleh karena itu, gagasan tentang
agama dan politik cenderung menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dan mempunyai
keterlekatan antara satu dengan lainnya. Agama dan politik juga sama sama berjasa terhadap
pemeliharaan tata tertib yang sudah dibangun sehingga hal ini tetap menjadi popular dalam
kajian kenegaraan dalam kaitannya dengan menciptakan dan meningkatkan stabilitas politik
Negara.

- Enropi pembaruan tata tertib

Ordo rerum dan ordo hominum diancam oleh entropi dan kekuatan kekuatan perusak
yang terdapat dalam diri sendiri serta mekanisme yang menopangnya. Sebuah karya baru tentang
masyaratak Dogon di Mali menunjukan bagaimana masyarakat tersebut menggunakan kekuatan
untuk menjamin perjuangan melawan perusak dan pengubahan menuju ketidakseimbangan
menjadi keseimbangan sementara modelnya masih sesuai dengan primordial (Calame Griaule,
1965).

Mekanisme penciptaan kembali tata tertib jelas perlu melibatkan para pemegang
kekuasaan karena dengan melibatkan mereka maka akan menolong memperlancar mekanisme
politik, hal ini Nampak ketika Lowie mendalami beberapa segi organisasi politik Amerindian
menemukan dasar religious kekuasaan yakni, kerja sama antara kapala kepala suku dengan
spesialis supranatural dan antara kepala suku dengan peristiwa musiman seperti musim panen
dan tata tertib social lainnya. Ditangan para pemangku adatlah simpul simpul kekuatan social di
bangun dan dirubah. Perubahan itu berlangsung secara periodic dan biasanya tiap tiga tahun
karena memerlukan biaya yang besar. Pembaruan itu dimaksudkan untuk melakukan penyegaran
kekuatan yang memungkinkan kepala suku tidak dapat ditentang dan tetap dihargai oleh semua
orang sebagai oro kau “ Putera Agung”.

- Kembali pada awal mula dan pemberontakan ritual

George Dumezil memperlihatkan bagaimana pergantian raja raja di kekaisaran Romawi.


Dia memperlihatkan bagaimana proses pergantian raja Roma membentuk suatu rangkaian dua
jenis raja silih berganti, meskipun diterima dari suatu tradisi yang lebih tua dari roma itu sendiri
dengan ditampilkannya sebagai pendiri kota kerajaan. Hal ini juga baru baru ini dikalangan suku
Agni Ndeye di Pantai Gading Afrika mengungkapkan adanya ritual inverse social ( Be di Merua)
yang berlangsung pada periode Interregnum. Yang menggambarkan bahwa dalam pengertian
tertentu tidak ada alternative terhadap tertib social yang sudah mapan selain hal hal konyol dan
ancaman kekacauan. Sehingga setipa warga ditempatkan sebagai yang diperintah dan raja raja
baru dapat mengendalikan arah suatu masyarakat yang tertib dan alam semesta yang terorganisir
(Perrot, 1967). Dengan demikian perlawanan dalam bentuk ritus merupakan strategi yang
memungkinkan kekuasaan secara teratur menimba kembali kekuatannya.

B. Strategi Kelompok Agama dan Strategi kekuasaan

Kelompok agama merupakan suatu dimensi dari suasana politik dan agama bisa dijadikan
sebagai alat kekuasaan, alat legitimasi, atau sarana perjuangan politik. Dalam karangannya
tentang suku Lugbara di Uganda, Middleton (1960) mengarahkan hubungan antara upacara dan
wewenang. Dia memperlihatkan bahwa struktur upacara dan wewenang bengitu erat kaitannya
dan memiliki hubungan yang dinamis diantara keduanya sehingga mencapai keserasian dantara
keduanya. Fortes juga melihat orang Tallensi di Ghana yang menggambarkan bahwa kebaktian
kepada leluhur seharusnya ditafsirkan sebagai kegiatan yang bukan hanya berkaitan dengan
metafisik dan etika akan tetapi dalamhubungannya dengan yuridis politik.

Hubungan yang terjalin antara kekuasaan politik dan agama juga digambarkan oleh
Malinowski bahwa mitos sebagai suatu piagam social dan sebagai alat manipulasi oleh
pemegang kekuasaan, hak istimewa dan kekayaan (1936). Dalam segi ini, mitos memiliki peran
ganda yaitu menerangkan tata tertib yang ada dalam istilah sejarah dan membenarkannya dengan
suatu dsar moril maupun menyajikannya sebagai suatu system yang harus diterima. Dari contoh
tersebut menggambarkan bahwa kekuasaan politik mempunyai penguasaan mutlak atas agama
dan dapat mengubahnya demi kepentingannya dalam semua keadaan. Meskipun dibeberapa
penelitian sebelumnya juga melahirkan tesis yang berbeda mengenai hubungan antara agama dan
kekuasaan yang saling memainkan peranannya dalam menciptakan sebuah system sosial yang
harmonis. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Beattie yang membeda bedakan aspek
kategori dan kondisional dalam kaitannya dengan penyalahgunaan kekuasaan politik.

BAB IV : ASPEK-ASPEK NEGARA TRADISIONAL

A. Persoalan Konsepsi Negara

Aspek negara tradisional yang pertama adalah persoalan konsepsi negara. Disini
dipaparkan berbagai defenisi tentang negara dari para spesialis yang berbeda-beda. Yang
pertama dipaparkan oleh Koppers. Menurut Koppers, negara diidentifikasikan untuk
mempertahankan tata aturan dalam batas wilayah yang ditentukan secara sosial. Menurut
Aristotle, negara diidentifikasikan dengan pengelompokan yang lebih luas, dengan unit sosial
superior, dengan organisasi masyarakat sebagai suatu keseluruhan. Ada juga teori Marx tentang
sebuah negara yaitu 1) negara adalah organisasi dari masyarakat, 2) negara adalah pengungkapan
resmi dari negara, 3) negara adalah produk dari masyarakat yang telah mencapai tingkat tertentu.

Dari berbagai defenisi yang telah dipaparkan, muncul sebuah teori tentang negara oleh
Engels, yaitu masyarakat menciptakan sebuah organisme untuk mempertahankan kepentingan-
kepentingan umum terhadap serangan internal dan eksternal. Organisme itu adalah kekuasaan
negara, dan makin lama menjadi organisme dari kelas tertentu.

B. Tidak Menentunya Antropologi Politik

Tidak menentunya antropologi politik pertamakali dijumpai pada tingkat perbedaan


antara organisasi politik dan negara kedua pada tingkat tipologinya yakni sepanjang masyarakat
itu bernegara diliat dari hubungan hubungan lain, Jadi yang menjadi masalah yang menyebabkan
tidak menentunya antropologi politik adalah batas tutorial yang memisahkan yang memerintah
dan diperintah, Ketidak menentuan tersebutlah yang memberi pembatasan negara sebagai yang
mempertahankan tat masyarakat dalam batas tutorial, Seperti dalam kelompok kekerabatan yang
memperoleh kekuasaan secara permanen untuk mengatur suatu kolektivitas dan memaksakan
kehendaknya, Disilah terjadi diferensiasi kelompok sosialdilihat dari hubungannya untuk
memperoleh kekuasaan, Disinilah pentingnya tutotial dalam mempertahankan masyarakat jadi
antroplogi politik belum bisa mengatur atau menerapkan dalam batas batas teritorial.

Menurut Miane dan Mobgah negara khas itu ada karena adanya ikatan ikatan lokal yang
membentuknya kondisi kondisi(persoalan negara) perbedaan kondisi tersebutlah yang
menimbulkan ikatan kekerabatan melemah dan organisasi kekerabatan merosot. Faktor
tutotialpun yang mrnampakkan bagaimana organisasi politik tersebut itu berbobot dilihat dari
mekanisme khusus bagi koordinasi integrasi dan administrasi itu jadi terbentuk dan kekerabatan
telah digantikan dengan hak hak pemilihan organisasi disilah batas tutorial sebagai pendukung
organisasi politik, Jadi kekrabatan,teritorial dan politik merupakan hal yang sulit untuk
disatukan tetapi membutuhkan hubungan timbal balik.

C. Yang Segmenter dan Yang Terpusat

Yang berkenaan dengan struktur teritorial dari negara yang bersifat segmentar, yakni
dibentuk oleh elemen-elemen homologous, meskipun dihirarkikan , disini terdapat risiko
pemutusan hubungan dan suksesi. Manakala negara menjadi lemaha, ia tidaklah membawa
masyarakat secara keseluruhan runtuh ke dalam kekacauan, tetapi secara bertahap dilakukan
kontrak-kontrak dan wilayah yang dikontrolnyapun akhirnya menjadi terbatas, dengan pusatnya
pada ibu kota yang sedang merosot itu.

Persoalan tentang kemampuan pusat, untuk mengontrol wilayah politik sebagai


keseluruhan ini, dapat dijumpai pula dalam masyarakat-masyarakat dengan kekuasaan absolut,
yang memiliki aparatus pemerintahan yang efisien pula. Kekuasaan despotik total ini, sementara
mampu menumpas gerakan-gerakan separatis, mendapati keterbatasan-keterbatasannya yang
paling terasa dalam kaitannya dengan ruang, material, dan birokrasi dalam genggamannya.

D. Rasionalitas Negara Tradisional

Kesatuan dan nasionalisasi tidak pernah lengkap dan rawan, hak-hak pemisahan tetap
ada, administrasinya didasarkan pada hubungan-hubungan pribadi, kekuasaan negara sangat
mencampuri peristiwa lokal. Bentuk negara yang seperti inilah yang mampu menjadi lebih
berkuasa ketimbang masyarakat itu sendiri. Contohnya cina sistem birokratisnya itu, struktur
politiknya tetap mewarisi sifat segmenter secara luas. Wilayah-wilayah mereka ini semakin lama
semakin tidak terkendalikan oleh negara karena wilayah yang semakin jauh dari pusat sehingga
kontrol jadi lemah, struktur-struktur dan garis keturunan menguat. Sistem seperti inilah yang
memperlihatkan ketidakstabilan negara tradisional

E. Karakteristik Negara Tradisional

Strategi-strategi politik dalam suatu negara tradisional kelihatan spesifik bagi tipe
kekuasaan ini melibatkan hubungan-hubungan kekerabatan dan persekutuan, serta cara-cara
keupacaraan yang member kekuasaan itu yang bersifat suci.

F. Hipotesa dan Asal-Usul Negara

F Oppenheimer mendefinisikan semua negara yang dikenal dengan fakta dominasi satu
kelas atas kelas lainnya, melalui suatu pandangan eksploitasi ekonomi. Ia mengaitkannya dengan
pembentukan sistem kelas dan menghasilkan sebuah kekuasaan negara dengan intervensi
eksternal. Berkat riset-riset antropologi yang mutakhir, peranan relatif dari penaklukan-
penaklukan didalam totalitas proses-proses tersebut , telah dinilai ulang. Fried menyarankan
bahwa pembedaan secara terang harus dibuat antara negara-negara yang dibentuk melalui
perkembangan internal dan eksternal.

BAB V : TRADISI DAN MODERNISASI

Di dalam bab ini kita membahas tentang tradisi dan modernisasi dimana pemerintah-
pemerintahan primtif dan Negara-negara tradisional birokrasi-birokrasinya telah menghilang
atau mengalami transformasi –transformasi. Modifikasi politik yang paling terkenal , bukanlah
produk dari pengaruh-pengaruh yang sekarang saja tetapi diantara sejumlah masyarakat
tradisional mengubah sifat-sifatnya melalui pengungkapan-pengungkapan yang lebih hebat lagi.
Atas dasar inilah antropologin politik tidak bisa mengabaikan dinamisme dan gerak sejarah yang
telah mengubah system-sistem dari pranata-pranata yang di pelajari dan harus menciptakan
model-model yang dinamik yang dapat mempertimbangkan perubahan politik serta
mengidentifikasi perubahan dalam struktur organisasi.. antropologi politik banyak mempelajari
eksperimen besar sehingga dapat meningkatkan dan mendiferensiasikan berbagai informasi
yang memungkinkan menjadi suatu ilmu perbandingan tentang politik dan tentang cara-cara
pemerintahan.

1. Agen dan aspek perubahan politik

Dalam merujuk afrika colonial , dimana fenomena itu tampil secara terang benderang, ada 5
gambaran yang bisa di bedakan yaitu :

1. Denaturasi unit-unit politik


2. Degradasi melalui depotilisasi
3. Pecahnya system kekuasaan terbatas tradisional
4. Dua system kekuasaan dan kewenangan yang tak terdamaikan
5. Desakralisasi parsial atas kekuasaan

2. Dinamika tradisionalisme dan modernitas


Dalam bidang antropologi riset-riset di dasarkan kepada penolakan untuk
mengidentifikasikan tradisi dengan “fixisme” dan upaya untuk membuka “aspek-aspek dinamik”
dari masyarakat tradisional. Riset yang kini dilakukan antropologi politik mengenai modalitas
akan hubungan tradisi dan modernitas. Riset tidak lagi berisi pemahaman yang umum namun
analisanya harus mampu mncapai dan meningkatkan khasiat ilmiahnya, seperti:

a. Komunitas pedesaan
b. Partai politik sebagai perangkat modernisasi
c. Ideology, sebuah ekspresi modernilahtas

Demikian itulah, jalan yang te membawa mitos tradisional dengan isi bagian ideologinya,
kepada ideology dan doktrin politik modern, yang masih berisikan banyak mitos. Persoalannya
adalah tentang dialektika permanen antara tradisi dan revolusi.

BAB VI : TRADISI DAN MODERNITAS

Antropologi politik belum mencapai kematangan nya, ia harus terlebih dahulu


memperoleh pengujian atas mana semua karya antropologi sekarang ini mengajukan dirinya ,
pemerintah pemerintah primitif dan negara negara tradisonal ,berikut birokrasi birokrasi ,telah
menghilang atau mengalami trasformasi trasformasi mutasi mutasi politik telah mulai terjadi di
banyak dari itu .

Mutasi mutasi meluas kesepanjang sejarah politik mereka yang secara luas kesejarah
politik yang secara luas dibentuk nya oleh bermainnya hubungan hubunga eksternal di
polynesia-samoa ,Tahiti dan hawii-’’monarki sentralistik” dihasil oleh aktifitas orang eropa serta
gagasan mereka ,kemudian hukum kolonialisme itu .di black afrika ,entitas entitas polik
memiliki jalur ysng ke pantai barat ,melihat hubunga hubungan ini memberi kondisi bagi
pertumbuhan .

Modifikasi politik yang paling terkenal sekarang ini bukan lah dari produk produk yang
sekarang saja ,tetapi setelah bekerja di berbagai yang bersifat pengaruh pengaruh yang lebih
umumnya lagi. Karya karya nya tidak terbatas lagi karena merasa ada keanekaragaman cukup
tidak puas menganggap sebagai angoota primitif. Dengan demikian meningkatkan
mendeferensiikan berbagai informasi yang memungkinkan menjadi ssuatu ilmu pembanding
tentang politik dan tentang cara pemerintaha .

1. AGEN DANASPEK PERUBAHAN POLITIK

Traspormasi sistem sistem politik tradisional ,di luar eropa dan amerika kulit putih ,pada
umunya berhubungan dengan kolonnisasi modern atau bentuk variasinya yang lebih lemah
.Apter (1965) mengangap kolonialisme itu sebagai “kekuatan modernisasi (“a modernizing
force”) dalam merujuk afrika kolonial ,dimana fenomena itu tampil secara terang benderang ,ada
lima gambaran yang bisa di bedakan .

A. Denaturasi Unit Unit Politik Tradisional

Secara kebtulan di ciptakan kolonialisme tidak bertepatan batas batas politik yang di
banguanin sepanjang sejarah afrika ,atau dengan wilayah wilayah kultural yang memiliki
kebersamaan dalam hubungan ini kerajjan kongon yang lama

B. Degragasi Melelui Depolitisasi

Kololialisme mengubah setiap kasus politik ke dalam suatu persoalan yang di urusin oleh
admistrasi tampa mengandung bentuk bentuk masyarakat politik pribumi dan rezim yang
mengoraganisasiikan ,setiap tindakan tampa memandang bentuk betuk masyarkat polik pribumi
,secara politik reaksi reaksi berbobot juga setelah tahun 1920 ,dalam bentuk bentuk yang
sehubungan oleh tradisonalisme non politik

C. Pencahnya Sistem Kekuasaan Terbatas Tradisional

Hubungan yang di bangun pada umunya ,suatu mekanis yang di jamin persetujuan dari
mereka yang di perinntah ,jur bicara rakyat merakyat untuk menghadapin para pengentahuan
mereka yang di perintahkan ; juru bicara rakyat –mereka unntuk menghapadin menjadi
kehilangan fungsinya .
Trasformasi ekonomi ,sosial dan akulturasi yang di bawa oleh yang mempunyai
konsekuensi dalam analisis tentang tentang politik di negara orang suku .”elit yang memiliki
subkultul bagi dirinya –dan penduduk desa sehinga administrasi kekeuasan mejadi dibentuk
,yang menepalai komunitas komunitas desa ,yang dalam kenyataan bereada dalam model
tradisional .

D. Dua Sistem Kekuasan Dan Kewewenangan Yang Tak Terdamaikan .

Memang besar situasi kolonial ini menicaya koeksistem antara sistem tradisional ,dan
sebuah istem yang modren ,didasarkan kepada kurangb bersifat personal . Faller sehubungan
dengan orang soga , manaklah ia megemukaan penyiapan penyiapan dan strategi yayng di
munculkan oleh dua sistem , fihak fukah itu kini dapat memadahi solidaritas lama lebih lanjuut
serta serta yang terlibat di dalamnya “merasionalisir ’’dalam kata yang di pakai weberatas cara
pemerintahan tradisional ,dalam membirikrasikanya dan dengan memasukinya menjadi satu “
penghalang utama’’sehingan ketindakan nya adalah satu kondisi bagi sukses nya upaya
modrenisasi .

E. Desakralisasi Parsial Atas Kekuasaan

Desakralisasi atas kedudukan raja dan pengetua pengentua adat ,bahakan pada di tingkat
di mana pun para penguasa di mana pun diabsakan lebih melalui mengontrolnya serta bersaingan
dengan memperlihat bahwa merosotnya praktek praktek religi tradisional sehingga
kewewnagan politik sehinga (1951) semacam itu mempertlihatkan ,seperti di antara orang
Rwanda pada tahun 1960 bahwa raja raja masi dapat di jatuhkan .mereka meletakan wilayah
politik baru di dalam komunitas petani black afrika ,

karakteristik karari kolonialisme kteristik yang mendefenisikian akibat akibat langsung


nya di kolialisme modren di afrika .ia memeperlihatka bahwa bimbingan yang di terima oleh
pemerintah tradisional suatu jebakan yang di bawah pihak meraguka pihak pihaknya Mus
menarik perhatian akan desakralisasi yang telah memberikan orientasi para petani seperti hal nya
tentang administrasi “kehidupan politik yang aktif tidak lagi berbagi kekuasaan kepada
kolialisme dengan mengobrak abrik ,dan korban “sikap sikap militan’’ diantara permuksnya

Pada tuhaun yang sama pula ,di burundi ,suatu upaya untuk modrenisasi atas sistem
morki oleh sang putra ,yang membawa perubahan interlacustrian di afrika timur ,mejadi lemah
dan jatuh,bekerja melawan mereka sendiri.

Krisis krisis akibat politik yang tidak langsung semenjak beberapa abad yang lampau
,diikuti oleh konfrontasi oleh dua kelompok yang sama kuatnya ,namun yang mendukung tidak
sebanding ,yakni ;mayoritas petani melawan aristokrasi ,pertama tama dengan menutut
“dekolonisasi internal ’’penolakan kekuasaan tradisional serta agen agen

Situasi kolonial yang mengantur dinamikanya pertama ; menghalangkan penduduk kelas


kelas sosial kedua mana kalah tuntutan akan otonomi mejadi mereka semakin vocal “front”
sekali kemerdekan telah di peroleh ,penyebab penyebab nya karena kemerdekan ,hubungan
produktif (bahkan yang paling modren pun ) ,atas bentuk kemerdekaan ,Asian tenggara
,trasformasi juga terjadi pada tahun 1985 atas kemerdekaan nya pemerintah tradisional
menghapus monarki burman ,kehidupan politik atas unik unik politik biro krasi .pada tahun
1948,beberapa persen saja pegawai negeri seniora yang orang burman .sebuah strata sosial
,dalam ukuran kecil ,yang di tarik para pemakan gaji pribumi membentuk kelas dengan lambat
,bersaing dengan para perkerja ,mereka membangun perangkat pemilik tanah yang tradisional .

Karya apter menuyusun teori “the politickm of modezrniztion,terbit pada tahun


1965,peran peran yang berbeda yang di ciptakan melalu traspormasi yang peran ke 3 tiga tipe
peranan ini dalam bentuk stratifikasih sosial ,yang sering hidup yang berdampingan dalam satu
mastarakat yang sering menemouh jalan .konflik konflik itu menegundang kepentingan yang
tidak bertemu dalam bentuk kategori . Menurut terminologi yang di pakai di mana peran cina
,terlibat dalam revolusi susuna sejak 1949 revolusi kulturasi peran peran ini memelalui,kelompok
kelompok tersebut .

2. DINAMIKA TRADISIONALISME DAN MODERNITAS

Dalam bidang antropologi politik,dan didasarkan pada penolakan untuk untuk


mengidentifikasihan tradisi dengan ‘fixismen’’ istilah tradisionalisme kelihatan sebagai tidak
dapat .ia dilihat sebagai kesinambungan ,sedang modernitas gandung arti pemutusan .selain itu
politik juga berhubungan dengan yang berkaitan dengan modrenitas yang memperlihatkan
kekuatan konvensi ,karena demikian akan berkaitan berkaitan india oleh serangan serangan
(cf.dumont,1966)

Bentuk bentuk tradisionalisme membuat analisis yang lebih maju suatu jalan bagi dengan
cara mengesperesikan mereka terhadap pemimpin di dalam kabylia ,di mana kelompok selama
sebulan melayani fungsi fungsi dalam bentuk politik ,para petani yang belum mampu membahas
yang tidak di kenal kelompok kelompok dalam tradisi mereka memili suatu negara ,para petani
belum mampu untuk memilik suatu negara dan lebih mejadimkurang memiliki bobot penting di
satu pihak masyarakat dalam satu pihak. C. Geertz telah menjadi penyebab melemhnya
separtisme yang menekan kekuasaan yang baru secara perlahan lahan jadi merosot ,kekuasaan
pusat dan,lebih lanjut ,dari ketidak berdayaan ,serta menciptakan suatu inflasi ,sepanjang
penyangkutan organisasi dalam pengertian pengertian .

Di black afrika ketidak ketidak cocokan ke dua hubunga tersebut tampil pula secara
serupa ,teristimewah dalam rezim rezim politik menjadi berbeda tajam dengan mengunakan
secara permanen ,kongko –kinshasa dan nigeria-tampak mejadi sesuatu ancaman konstan .model
model tradisional dan simbol simbol menjasi cara car negara yang kuat perna muncul sepanjang
sejarah mereka . Ada figur ke tiga ,yang di kaitkan dengan figur kharifikasi ,sejak 1960 kongo
telah gagal untuk mempersatukan figur tri tunggal pengepala adat pada satu orang dan ,menurut
pengertian tradisional itu keadaan lemah nya negeri itu sekarang .

a. Kumunikasi pedesaan

G althabe (1968) dengan observasi yang sabar dengan wilaya pantai selangkahan .dengan
sistem admistartif yang di kenalkan oleh negara malasya “dengan dunia luar ” yang telah di
bangun dengan hubungan kekuatan modrenisasi .menyangkut hubungan hubungan dengan
mewakili Negara. Negara aturan aturan yang sangat yang kesempatan bagi mereka ,yang dalam
kenyataan di secara parsial yang di anggap hal hal sifat ektrim bagi masyarakat .

Tromba tersebut memberi suatu bidang yang lain memlaui ,karena ukuran nya tipe atas
fenomena ini membawa kepada suatu ,karena ukuran namika dengan ,dimana baru dapat M.
halpern telah ; Filsafat marxis disajikan dalam bentuk pada dataran material dari filsafat itu
dipandang sabagai memiliki pintu pintu (Halpern 1963) “ sosialisasi afrika’’tradisi kuno itu
melaksanakan batas batas bagi tindakan radikal gagal untuk kecuali jalanya sang waktu .

b. Partai politik sebagai perangkat modrenisasi

Partai politik adalah alat utama modrenisasi ,karena sifat nya sebagai intisiatif elit lebih
erat , karena yang memberi kontek lebih erat dengan komunikasih .di negeri barat ,diantara orang
yoruba yang mengunkap modrenisasi pada tahun 1945 dan junjungan tinggi sangat leluhur
kembali aktivitas politik .ivory coast ,lahir “ unik demokrasi afrika’’dari persekutuan bagi partai
petani kebun karena mereka dala seorang petani untuk bekeingin untuk memperbaiki tata
masyarakat dalam wilayah yang suci .di kongo negara ,gerakan gerakan religuis lahir dari nya

c. Ideologi ,sebagai ekspresi modernalitas


Yang di mana berkaitan dengan rencana rencana kontribusi nasional ,mereka di tandai
denag tema lebih efektiflagi dalam hal semua dan ekonomi mereka ,ini adalah kasus sosialisme
dan marxisme serta bentuk bentuk tertentu dari .

Ideologi ideologi modrenisasi ini belum masuk inovasi inovasi radikal ,yang membuat
mungkin menangkap struktur tradisi atau serupa ,dan mitos mitos tradisi itu yang mengadakan di
antar mereka sebagai gerakan akanmemajukan pembebasan kultural serta politik idiologin yang
mewakili ,pada tahap serta politik .

Demikian itu lah yang membawa idiologisnya , kepada ideoligi dan dekrotif politik
modren pada sisetem semua masyarakat adalah tentang di artikan permanen antara dan revolusi

 Buku Pembanding : Antropologi Politik

PENDEKATAN ANTROPOLOGI PADA PERILAKU POLITIK

Sejak awal periode colonial,pemerintah-pemerintah nasional di Meksiko telah


mengadakan hubungan desa-desa suku Indian melalui suatu golongna perantara seperti,
caciques, alcades, presiden-presiden municipio dan perantara-perantara politik yang lain.
Kebijakan memerintah tidak langsung seperti itu sangat meringankan pemerintah colonial untuk
mencapai maksud nya, para pejabat local akan tetap mengatur kehidupan penduduk Indian
sehingga pemerintah sepanyol terlepas darri kerepotannya dan bersamaan dengan itu kelompok-
kelompok suku Indian akan menjadi unit-unit yang siap pakai kalau di butuhkan tenaga kerja dan
dipungut pajak.

 Sengketa Tanaah Antar Desa

Sistem-sistem politik desa diatur berdasarkan konsep pelayanan dan cita-cita tentang
kesamaan derajat. Setiap lelaki dewasa adalah warga dari kelompok itu dengan hak suara dan
hak pilih yang sederajat dalam mengambil keputusan penting. Ada pertemuan berkala antar
warga Negara dari kelompok itu, dengan hak suara dan hak pilih yang sederajat dalam
mengambil keputusan orang penting. Ada pertemuan berkala antar warga untuk membahas soal-
soal penting, dipimpin oleh pimpinan desa yang telah terpilih .Episode-episode paling keras
dalam sengketa tanah ini ialah yang disebut tumoltos atau perkelahian ramai-ramai, yang terjadi
secara berkala di sepanjang perbatasan yang disengketakan. Biasanya merupakan peristiwa
spontan, yang meletus kalau sejumlah laki-laki terkumpul di perbatasan (misalnya waktu ada
survey tanah).Kata-kata makian mulai dilontarkan.

Dalam sejarah amilpas dan soyaltepec,tercatat sudah terjadi jumultos pada tahun
1694,1972,1830,1909, dan 1910.Berbagai tumultos dengan desa-desa tetangga lain juga telah
terjadi, begitu pula banyak kekerasan lain dalam skala yang lebih kecil.Pada tahun 1965 seorang
laki-laki ampilas dibunuh dekat perbatasan desa oleh orang-orang soyalpenos, yang tidak senang
dengan percobaannya untuk membelokkan aliran air sungai, yang mengalir ke hilir memasuki
tanah soyaltepec. Gerombolan besar laki-laki dari kedua desa nyaris terlibat pertempuran di
beberapa tempat pada waktu pemerintah mengadakan penyelesaian soal tanah di tahun-tahun
1940-an.Maka,pertempuran dan konflik-konflik bersenjata kurang spektakuler akibat masalah
tanah,sudah menjadi pemandangan yang biasa dan sangat terpola dalam peta budaya oaxacan.

 Presiden Sebagai Perantara

Dalam kelompok-kelompok masyarakat Oaxaca,presiden bertindak sebagai perantara


politik,untuk bertindak sebagai wakil masyarakat itu,warga desanya tidak memberikan
kepadanya kekuasaan politik yang sungguh-sungguh.Dilingkungan dasarnya sendiri,seorang
presiden harus bertindak sesuai dengan consensus dan kerja sama.Ia tidak dapat memerintah
warga yang lain melakukan apapun juga yang belum disepakati lebih dulu pendiriian nya.Dalam
kasus-kasus yang ekstream presiden yang dapat mengendalikan warganya,seorang perantara
yang tidak arogan atau curang mungkin saj diusir dari desa atau bahkan mempunyai kendali atas
warganya tertentu kurang berguna bagi dibunuh oleh para warga yang marah ada sebuah kasus
ditahun pemerintah yang lebih tinggi asumsi nya rupanya ialah sang presiden 1950-an yang
melibatkan seseorang mantan presiden dan warga yang dapat berindak seperti seorang
pemimpin.

Disini kita melihat suatu dilemma yang menarik,sang presiden harus bertindak sesuai
keputusan kensensus dan kerja sama dalam rakyat untuk kepentingan-kepentingan nya sendiri
yang bermotif menghadapi sesama warganya.Ia tidak dapat memerintahkan apapun (egoistic)
kasus ini juga kepada mereka atau mencegahnya dari melakukan sesuatu apapun,ditafsirkan
sebagai konfirmasi atas kecurigaan yang luas bahwa orang namun ia anggap harus secara pribadi
bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka.Dilema presiden itu mirip dengan yang
dihadapi seorang ketua afrika masa sekarang, sebagai yang dilaporkan oleh fallers(1955).Dalam
menempati status politiknya,sang presiden atau ketua harus melayani dua macam keinginan yang
berbea dan bertentangan satu sam lain. Ini tugas berat, dan menjatuhkan korban di kalangan
presiden maupun ketua_ketua.karenanya, ia tidak mengalami problem_probelm psikologis
seperti ketua, yang harus menjiwai dua ukuran yang berbeda dan tidak bersesuaian untuk
perilakunya sendiri.Kesulitan yang dihadapi oleh Presidan Desa Oaxaca ialah dalam bidang
tindkan, Tugasnya yang paling utama ialah dalm situasi yang sulit.

 Solusi-Solusi Dilema Presiden

Memang sesungguhnya banyak orang melakukan apa saja agar tidak menjabat sebagai
kepengurusan desa yang lebih penting, kalau terpilih mereka memperotes dengan hingar binger
bahwa dirinya tidak memenuhi syarat. Atau bahwa orang lain lebih berpengalaman akhirnya
mereka dibawa ke depan musyawarah dan diberitahu mengenai pemilihan mereka. Penduduk
desa lainnya menyambut rasa tidak senang mereka dengan cara tertawa-tawa atau menghibur.
Keengganan penduduk dalam jabatan-jabatan politik local itu biasanya ditafsirkan karena ada
faktor penting, karena tidak ada gaji dan banyak waktu yang hilang dari tugas pertanian. Sebagai
presiden seseorang lebih besar kemungkinan akan terperangkap antar standart-standart yang
saling bertentangan, daripada memperoleh kekuasaan dan pengaruh dalam peristiwa serupa
tahun 1972 para penerobos amilpas ditangkap oleh soyaltepec dan dipenjaraka oleh pejabat
tingkat distrik yang mendukung tindakan soyaltepec. Seorang presiden yang fasih mungkin bisa
efektif membuat warganya di dalam musyawarah untuk menyetujui pendiriannya. Karena ia
tidak memiliki kekuasaan yang nyata maka ia harus bertumpu pada kemampuannya untuk
menerangkan, membujuk dan memperoleh dukungan daripadda warganya yang dihimpun dalam
musyawarah. Karena semangat pengabdian sang presiden harus menyampaikan alasan-lasan
yang berkaitan dengan kesejahteraan bersama. Strategi umum yang lain ialah menghindar sejauh
mungkin dari situasi-situasi konflik yang secara potensial berbahaya. Orang-orang yang prnah
penting dalam sejarah politik desa tidak pernah menonjol sebagai pimpinan waktu konflik masih
memegang jabatan, ketika bertindak selaku perorangan itulah mereka memegang peran penting
dalam konfrontasi actual dengan desa-desa lawan. Sebenarnya menjadi keinginan pemerintah
bahwa presiden akan bertindak selaku pimpinan penyelesaian konflik tetapi harapan seperti itu
tidak realistis karena presiden menyadari kendala-kendala yang membatasi langkahnya yaitu
demikianlah seorang presiden bertempur secara efektif bukan dengan senapan atau pedang tetapi
dengan akalnya dengan dibantu dimana mungkin dengan dokumen uang suap dan tokoh-tokoh
pendukung di desa.

MODEL-MODEL POLITIK YANG SALING BERLAWANAN DISEBUAH KOMUNE


SWISS

Sistem politik suatu masyarakat yang kompleks bersifat halus dan sulit diketahui
disinilah disuatu bagian sistem politik yang baru sedikit dipelajari kita mungkin dapat
menemukan apa yang ditemui oleh Dimenschein disebut struktur mrenengah yang muncul
seperti kelompok-kelompok etnik dan rukun tetangga. Bugnes adalah sebuah komune yang besar
dan terdiri dari banyak desa yang meniru keanekaragaman budayanya Negara kebangsaan Swiss
orang luar melihat komune itu sebagai sebuah unit tunggal politik, geografi, agama dan bahasa.
Oleh karena itu di dalam banyak hal desa-desa di bagnes seperti kelompok etnik dan rukun
tetangga yang dimaksudkan Dimenschein mereka memiliki suatu realitas kognitif yang jelas
dalam komune, tetapi tidak ada pengenalan formal dari luar. Kekuasaan informal desa
berimbang terhadap kekuasaan formal aparat politik resmi dari pemerintah dan partai dalam
suatu replica skala kecil dari sistem federal Swiss. Pengaruh mempengaruhi antara kesatuan dan
kebinekaan berlaku di satu pihak, sebagai pengekang atas suatu kekuasaan pusat yang dominan
dan dilain pihak atas suatu anarki yang menjauh dari pusat. Meskipun pernyataan Presiden
menekankan perlunya meningkatkan efisiensi tetapi pengaruh reformasinya bersifat politik para
warga kwhilangan para pendukungnya di dewan komuni dan ternyata mereka terlepas dari akses
langsung untuk proses pengambilan keputusan.
 Otonomi Desa Sebelum 1930

Komune bugnes terletak di pegunungan peninne alps di Swiss selatan yang setengah
penduduknya berbahasa Prancis di antara selusin dessanya terjadi isolasi selama musim dingin
beberapa bulan, musim panas menimbulkan berbagai gerakan dan kontak terutama antara desa-
desa yang bergerombol di suatu daerah. Desa sebenanrnya merupakan unit politik, ekonomi, dan
sosial yang minimal dalam pengertian bahwa desa itu sudah swasembada dan otonom.

 Proses politik Informal

Partai konservatif bugnes meraih komunitas yang tidak tertandingi sebanyak 65-75%
dalam dewan komune selam 120 tahun. Satu-satunya saingan yang signifikan yaitu partai radikal
telah puas dengan peranan sebagai oposisimyang setia. Tiap-tiap partai merekrut anggota baru
berdasarkan hubungan keluarga, merupakan karakteristik bawaan seseorang yang diturunkan
oleh seorang ayah kepada anaknya. Sebagai suatu bagian dari warisan hal itu sewajarnya tidak
berdasarkan pilihan dan tidak mengalami perubahan termasuk dalam kelompok-kelompok
tersebut ialah tebing kiri lawan tebing kanan, kepala lembah lawan mulut lembah, pariwisata
komersial lawan pertanian, kelima kelompok desa kognitif, geografi, desa sendiri, dan
dibeberaapa desa kelompok keluarga yang secara tradisional erdapat seseorang yang terikat
kepadanya.

 Konflik Antar Partai dan Desa

Sewaktu pemilihan umum tingkat komune, seorang oemilih akan membawa kertas
ketempat pemilihan suara, dan mungkin dia akan mengubahnya dengan mencoret satu nama atau
lebih, atau menuliskan nama-nama calon yang tertera pada kertas suara partai lain.NIlai-nilai
normative diganbungkan dengan kesetiaan di luar partai dan ketentuan undang-
undang,menjadikan massa sebelum pemilu suatu masa yang penuh ketegangan bagi tiap-tiap
partai.Mengnai jumlahnya tiap-tiap partai akan mencoba mengajukan sedikitnaya sama banyak
dengan yang saat itu telah duduk dalam dewan. Norma-norma demokratis dan hukum
menentukan sebanyak-banyaknya calon yang seyogiyanya diajukan untuk meberikan
kemungkinan memilih yang luas-luasnya kepada pemilih. Calon yang bersedia dicalonkan lalu
menang akhirnya mengetahui bahwa menjadi anggota dewan memakan banyak waktu dan mahal
dalam keuangan maupun reputasi diri. Sebagian Konselor dipandang tidak mementingkan diri
dan taat kepada tugas-tugasnya, tetapi yang lain diyakini telah menyalahgunakan jabatan untuk
mendapat berbagai keuntungan pribadi. Apakah diiputi konflik-konflik atau teenang, dessa tetap
mengandung arti yang sangat penting bagi partai. Peristiwa-peristiwa tahun 1968 memberikan
kepada partai konservatif suatu penyelesaian yang ideal atas masalah: disingkirkannya desa dari
perpolitikan komuni.

 Perubahan Struktural Formal


Perubahan mulai terjadi tahun 1964 dengan reorganisaasi penting atas administrasi
komune. Lalu melalui pemungutan suara setingkat komune, jumlah anggota dewan dikurangi
dari 15 menjadi 11 orang. Partai konservatif mendukung pengurangan tersebut, yang terlaksana
dengan mayoritas dua pertiga suara disemua desa kecuali bruson para pendukung berpendapat
bahwa pengurangan anggota dewan akan berakibat meningkatkan tanggung jawab, dan
kesungguhan masing-masing. Perhitungan ketua dibalik perubahan itu ada dua segi : pertama
menciptakan pembagian kerja yang lebih logis, yang lebih tanggap terhadap kebutuhan-
kebutuhan komune, kedua untuk menjamin adanya pembagian tanggung jawab yang adil
diantara anggota dewan. Ketua menganggap perubahan itu sebagai langkah yang positif kea rah
sentralisasi yang diperluakan demi perkembangan ekonomi dan semangkin meningkatnya
kompleksitas masalah-masalah dan keuangan komune. Riorganisasi atas komune tahun 1968
menegakkan daerah tanpa menghancurkan desa, dengan proses-proses yang secara resmi terlepas
dari sistem, sebenarnya mereka tidak lagi menjalankan fungsi yang mantap, melainkan tampil
sebagai konflik yang berkelok-kelok, perbedaan pendapat dan kepentingan perorangan.

PENGARUH TIMBAL BALIK PERAN KEPEMIMPINAN TRADISIONAL DAN


DEMOKRATIS DI PONAPE.

Kebangkitan cepat sistem-sistem politik dalam dasawarsa terakhir memberikan kepada


ilmuan sosial kesempatan melakukan studi yang signifikan baik teori dan praktik. Banyak
masalah yang timbul dari peralihan politik ini dapat ditinjau secara menguntungkan dari suatu
rangka bangunan analisis peran. Satu studi yang jelas dan langsung menggunakan pendekatan
umum ialah karya Force tentang munculnya peran kepemimpinan di pulau. Force meelihat
bahwa peran-peran kepemimpinan baru tanpa mitra-mitra imbangan tradisional jadi produktif
dengan lebih sedikitnya ketidakamanan tradisional, dan menyumbang lebih sedikit bagi
penyimpangan fungsi daripadda yang diberikan peran-peran kepemimpingan dengan mitra-mitra
imbangan tradisional.

 Sistem Tradisional Dan Demokratis

Sistem politik tradisional, yang masih berfungsi di pulau ponape, berada di pusat kelima
kerajaan Mandolenimw, tiap kerajaan secara tradisional adalah daerah kekuasaan dua penguasa
yang disebut nanmuarki dan nhanken. Kerajaan-kerajaan itu dibagi sejumlah sisi geografi, yang
diperintah oleh kepala seksi yang diangkat oleh nanmuarki. Kepala seksi adalah pemegang gelar
pertama dalam rangkaian gelar sesi, setiap sesi dibagi lagi dalam tanah-tanah pertanian yang
biasanya terdiri dari kelompok-kelompok dari dua atau tiga rumah yang para warganya
mengerjakan lahan-lahan disekelilingnya. Dalam sistem politik demokrasi yang diperkenalkan
oleh pemerintah Amerika diantaranya adalah koekstensif dengan lima kerajaan tradisional.
Sistem tradisional ponape hanya menjangkau tingkat kota praja atau kerajaan. Pada tingkat ini
ketua magistrad sejajar dengan nanmuarki yang tradisional, sedangkan anggota dewan sejajr
dengan kepala seksi.
 Peran Ketua Magistrad

Orang Jerman dan Jepang menjadikan nanmuarki sebagai administrator resmi mereka
untuk kerajaan-kerajaan tersebut dan melakukakn semua bisnis dengan rakyat melalui pnguasa-
penguasa kerajaan ini. Ketua magistrad dari kerajaan, yang sekarang disebut kota praja yang
kelak seluruh wilayah perwakilan diusahakan agar ditetepkan dengan piagam dan pemilihan
ketua magistrad dimasukkan di dalam piagam yang diberikan. Pada waktu studi ini dibuat hanya
17% dari anggota kongres dan 13% lagi dari legislator adalah orang bangsawan asumsi
tradisional tentang keunggulan kaum bangsawan tampaknya karena mempengaruhi pilihan
terhadap anggota kongres dan legislator yang jauh lebih kecil daripada terhadap pilihan ketua
magistrad. Kebanyakan orang bangsawan beranggapan posisi ini dibawah martabat mereka dan
tidak mintak dipilih untuk jabatan itu.

 Perilaku Peran

Komunikasi antara Ketua magistrad dan rakyat kotapraja tampaknya terjalin luas. Dari
penarikan sampel secara acak dinyatakan bahwa 61 persen mendengar ketua magistrad mereka
bicara di depan pertemuan-pertemuan umum sedikitnya sekali selama tahun sebelumnya, dan 64
persen mendengarnya berbicara di radio sekitnya sekali selama periode yang sama. Ketua
magistrad bertindak sebagai ketua dalam sidang-sidang puluhan dewan kotapraja. Sidang-sidang
ini penting karena di dalam sidang-sidang inilah undang-undang disetujui dan kebijakan
administrasi pemerintah diputuskan. Dalam menilai ketua magistrad berdasarkan sumbangannya
bagi kemaslahatan bersama, orang ponape mengungkapkan sebuah nilai yang ditegaskan di
dalam sistem tradisional maupun di dalam sistem demokrasi baru.

 Harapan Atas Peran

Posisi ketua magistrad, seperti posisi nanwarki membewa prestise yang sama tinngi did
dalam masyarakat ponape masa masa kini. Prestise seorang ketua magistrad meningkat ketika
orang berpikir bahwa melakukan pekerjaan yang baik merupakan imbalan jasa besar bagi
karyanya. Kemampuan dalam pemerintahan dianggap penting karena ketua magistrad diakui
sebagai pejabat kepala eksekutif kotapraja, dengan penanggung jawab utama atas soal-soal
seperti pembangunan jalan dan pemungutan berbagai pajak. Dalam menjelaskan apa yang
mereka maksudkan dengan membantu rakya jelaslah bahwa rakyat penope mengharapkan ketua
magistrad seperti para pemimpin tradisional mereka, bekerja demi kesejahteraan para
pengikutnya baik individu maupun kolektif.

 Perekrutan Peran

Norma-norma umun yang sama berlaku pada pemilihan seorang namwarki dewasa ini
seperti di masa tradisional. Idealnya kalau ada lowongan di tiap garis bangsawan sebaiknya diisi
oleh orang yang memegang gelar lebih rendah berikutnya, tetapi dalam praktiknya adalah masih
umum bagi orang pria melompati satu gelar atau lebih.
Pola-pola tradisional, tentang rasa hormat kepada namwarki dan bangsawan lainnya,
dalam pada itu, tidak mudah dikesampingkan begitu saja, khususnya pada kesempatan seperti
pesta. Sejumlah anak muda ponape yang tidak bersekolah dan kemudian menghabiskan waktu
dengan bekerja di colonial mengenal sedikit pola-pola tradisional tentang rasa hormat sehingga
mereka juga merasa malu ikut hadir dalam pesta-pesta.

 Harapan-Harapan Atas Peran

Kualitas-kualitas yang terpilih sebagai yang apling diinginkan ada pada seorang
namwarki mencerminkan perannya tugas-tugasnya sebagai bapak guru. Kulaitas yang paling
ditekankan adalah cinta pada rakyat. Kemampuan dalam pemerintahan dan kecerdasan juga
meruakan kualitas yang diinginkan ada dalam diri seorang namwarki, kemampuan
memperkokoh, kerja sama dan kesabaran. Sebagai bapak dan pemimpin mereka, orang ponape
berharap namwarki menjadi gurunya. Banyak yang menyatakan bahwa secara tradisional adalah
guru kepala rakyat kerajaan, walaupun mereka sebetulnya dapat mengacaukan perannya dengan
peran pendidikan nahnken, dan meraka mengungkapkan suatu keinginan untuk memenuhi
panggilan tugasnya ini engan penuh semangat.
BAB III

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

A. KELEBIHAN
- Kedua buku menurut saya sangat bagus karena terdapat materi-materi yang lengkap
dan padat,
- kedua buku dapat membuat pembaca dapat mengerti dan memahami apa maksud dan
tujuan dari mempelajari antropologi/kebudayaan serta dapat diaplikasikan terhadap
diri sendiri dan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
- Kedua buku memiliki cover, layout sangat bagus, membuat pembaca tertarik untuk
membacanya.

B. KEKURANGAN
- Ditinjau dari segi ketatabahasaannya dapat dikatakan bahwa bahasa yang digunakan
cukup sulit untuk dipahami pembaca,
- Didalam buku ada beberapa istilah-istilah yang sulit dipahami tanpa memberikan
keterangan yang jelas.
- Kedua buku ini sangat sedikit tercantum pendapat-pendapat ahli.
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Antropologi politik adalah penggunaan metode pendekatan antropologi untuk


mengkaji masalah politik. Antropologi politik lebih ke pergerakan tingkah laku dan
kebudayaan yang berorientasi kepada proses menuju sintesis yang baru dengan
menggunakan metode analisis struktur yang telah diperbaharui.

Manfaat antropologi politik dapat melakukan adaptasi kebudayaan dan metode


pendekatan tingkah laku dalam mengantisipasi dan memberikan jalan keluar terhadap
masalah-masalah.

Pada dunia politik, antropologi telah memberikan sumbangan berupa sistem


politik lokal yang dapat menambah perbendaharaan dalam ilmu politik serta suatu
strategi politik terkait dengan pembangunan kegiatan politik negara yang didapat dari
hasil penelitian sistem politik diberbagai daerah di indonesia (integrasi nasional).

B. SARAN

Kedua buku ini sebaiknya lebih memperbanyak di bagian aspek pendukungnya seperti
tabel, diagram serta gambar sebagai panduan dan daya tarik untuk memahami kajian-kajian dan
mengaplikasikan setiap teori yang ada didalam buku ini.
DAFTAR PUSTAKA

Balandier Georges(….).Antropologi Politik.Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada

McGlynn Frank dan Tuden Arthur(2000) Pendekatan Antropologi Pada Perilaku


Politik.Jakarta:Universtas Indonesia Press