Anda di halaman 1dari 9

PROYEK PENDIDIKAN PANCASILA

KEBIJAKAN PUBLIK

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Matakuliah Pendidikan Pancasila

Disusun Oleh :

1. JESIKA CITRA REZEKI PANJAITAN / 4161210007


2. NATASYA IRENE YOPANCA SIHOTANG / 4163210015
3. SHOHIHATUN BARIYAH / 4161210011

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2017
PENDAHULUAN

Salah satu persoalan mendasar berkaitan dengan ketahan ideologi adalah rendahnya
kesadaran, bahkan juga pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan pentingnya Pancasila
sebagai ideologi bersama Negara Indonesia yang menjadi perekat atau pemersatu bangsa.
Penguatan ideologi Pancasila sangat penting demi keberlangsungan kautuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Untuk itu masyarakat harus disadarkan akan pentingnya Pancasila
sebagai ideologi bersama yang harus dilestarikan dan diwariskan hingga generasi anak cucu.
Salah satu instrumen penting penguatan ideologi Pancasila adalah melalui pendidikan Pancasila.
Pendidikan yang dimaksudkan disini tidak saja dalam bentuk formal, tetapi juga pendidikan
informal. Penguatan ideologi Pancasila untuk masyarakat luas harus dilakukan sejak dini,
terutama sejak masih kanak-kanak. Karena kesadaran akan pentingnya Pancasila bila
diinternalisasikan sejak masa kanak-kanak akan memungkinkan tumbuhnya nasionalisme
terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Dalam pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila
dapat menelusuri sejarah Indonesia di masa lampau untuk melihat tugas kita di masa depan, yang
mana kuduanya akan menyadarkan kita akan perlunya menghayati dan mengamalkan Pancasila.
Kompetensi mata kuliah pendidikan Pancasila antara agar mahasiswa mampu menjadi penggerak
dalam perwujudan pengamalan nilai-nilai Pancasila di kalangan masyarakat Indonesia yang
beraneka ragam serta cirri khas kebudayaannya masing-masing, mahasiswa mampu
berpartisipasii dalam upaya mencegah dan menghentikan berbagai tindak kekerasan dengan cara
cerdas dan damai, serta mahasiswa mampu memberikan kontribusi dan solusi terhadap berbagai
persoalan kebijakan publik dengan meletakkan nilai-nilai dasar dari Pancasila secara bijak.
PEMBAHASAN

PENGERTIAN KEBIJAKAN PUBLIK


Dari berbagai kepustakaan dapat diungkapkan bahwa kebijakan publik dalam
kepustakaan Internasional disebut sebagai public policy, yaitu suatu aturan yang mengatur
kehidupan bersama yang harus ditaati dan berlaku mengikat seluruh warganya. Setiap
pelanggaran akan diberi sanksi sesuai dengan bobot pelanggarannya yang dilakukan dan sanksi
dijatuhkan didepan masyarakat oleh lembaga yang mempunyai tugas menjatuhkan sanksi
(Nugroho R., 2004; 1-7).
Aturan atau peraturan tersebut secara sederhana kita pahami sebagai kebijakan publik,
jadi kebijakan publik ini dapat kita artikan suatu hukum. Akan tetapi tidak hanya sekedar hukum
namun kita harus memahaminya secara utuh dan benar. Ketika suatu isu yang menyangkut
kepentingan bersama dipandang perlu untuk diatur maka formulasi isu tersebut menjadi
kebijakan publik yang harus dilakukan dan disusun serta disepakati oleh para pejabat yang
berwenang. Ketika kebijakan publik tersebut ditetapkan menjadi suatu kebijakan publik; apakah
menjadi Undang-Undang, apakah menjadi Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden
termasuk Peraturan Daerah maka kebijakan publik tersebut berubah menjadi hukum yang harus
ditaati.
Sementara itu pakar kebijakan publik mendefinisikan bahwa kebijakan publik adalah
segala sesuatu yang dikerjakan atau tidak dikerjakan oleh pemerintah, mengapa suatu kebijakan
harus dilakukan dan apakah manfaat bagi kehidupan bersama harus menjadi pertimbangan yang
holistik agar kebijakan tersebut mengandung manfaat yang besar bagi warganya dan berdampak
kecil dan sebaiknya tidak menimbulkan persoalan yang merugikan, walaupun demikian pasti ada
yang diuntungkan dan ada yang dirugikan, disinilah letaknya pemerintah harus bijaksana dalam
menetapkan suatu kebijakan (Thomas Dye, 1992; 2-4).
KAJIAN MASALAH

Reformasi sosial
Ideologi yang bersumber pada filsafat pancasila menjadikan reformasi bersifat sosio-
moral.Sebagai suatu ideologi maka terkandung suatu kehendak untuk bebuat sesuatu. Bagi
ideologi pancasila diperlukan adanya sadar kehendak (dalam arti tidak akan terombang-ambing).
Agar tidak teombang ambing maka sadar kehendak itu perlu sadar tujuan, sadar laku (usaha) dan
sadar landasanAgenda Reformasi Sosio-Moral
Posisi pemerintah tetap amat penting bagi proyek reformasi.Reformasi plitik harus
mendukung stabilitas dinamis yang berarti bahwa civil society harus diberi ruang untuk bernafas
lega melalui pelaksanaan yang konsisten dan konsekuen akan kebebasan – kebebasan asasi yaitu
kenbebasan menyatakan pendapat, berkumpul dan berserikat.
Berkaitan dengan itu, dapat diamati banyaknya pemimpin politik yang bersedia
melakukan liberalisaasi namun sedikit sekali yang bersedia melakukan dan mendukung
demokratisasi. Kesediaan melakukan liberalisasi dalam artian tersebut itu karena diduga dan
diharap dapat mempertinggi tingkat kesuksesan kekuasaan, karena itu mengukuhkan
legitimasinya, sementara demokratisasai dihalangi karena secara keliru diduga dan dikuatirkan
akan merongrong pemerintahan.

Masalah-Masalah Penting

Berikut ini adalah beberapa persoalan yang diperkirakan akan mewarnai wacana
nasinal tentang sosial dan agenda reformasi yang dikehendaki oleh kelas menengah Indonesia
yang sedang tumbuh. Gejala gejala yang timbul, sebagaimana telah diisyaratkan tadi, harus
dibaca sebagai dampak positif tingkat kecerdasan mum yang semakin tinggi dan kenaikan
kemampuan ekonomi rakyat umum sebagai hasil pembangunan nasional.
1. Reformasi damai namun prinsipil. Penolakan kepada perubahan radikal dan revolusioner
tidak saja didasarkan pada trauma – trauma masa lalu yang masih mencekam, tapi juga karena
pertimbangan bahwa suatu perubahan yang radikal merusak aset – aset positif yang telah
berhasil dibangun.
2. Konstitusionalisme. Bersangkutan dengan reformasi damai itu ialah faham menegakkan
konstitusi.
3. Tertib hukum dan “Predictability”. Benar atau tidak materi permasalahannya, ramainya isu
kolusi dikalangan penegak hukun dinegeri kita menunjukkan adanya kelemahan dalam tertib
hukum.
4. Masalah akhlak atau etika dan moral.banyak tinjauan dari luar yang hendaknya tidak begitu
saja kita tolak secara ksenofobis-xenophic yang mengatakan bahwa negeri kita adalah negeri
yang secara etis dan moral sosial-politik dan ekonomi termasuk lunak.
5. Pengawasan sosial. Karena masakah etika dan moral termasuk yang dikaitkan dengan ajaran
agama pada analisis terakhir adalah masalah pribadi yang tidak dicampuri oleh orang luar.
6. Kebebasan –kebebasan asasi.Pertama, yang positif berupa kebebasan akademik yang relatif
cukup baik di negeri kita.kedua yang negatif, kebebasan menyatakan pendapat secara mum,
termasuk kebebasan pers, yang jauh dari mantap dan penuh percaya diri.
7. Andalan kepada sistem dan struktur, bukan pribadi..salah satu hasil yang diharapkan dari
tegaknya konstitusi, tertib hkum, pengawasan sosial dan pelaksanaan kebebasan – kebebasab
asasi.
8. Keadilan kekuasaan dan ketahanan budaya. “Power tends to corrupt and absolout power
corrupts absolutely” ( kekuasaan cenderung curang, dan kekuasaan mutlak curang secara
mutlak pula.
Reformasi sosio moral yang berdasarkan ideologi pancasila berarti akan menciptakan:
1. Sistem kelembagaan
2. Sistem tanggap nilai
3. Sistem norma yang ideal (esprit dan ethos).
Ini berarti suatu ideologi apapun namanya termasuk ideologi pancasila, “terbuka” terhadap
suatu perubahan yang datangnya dari luar.Walaupun nilai- nilai dasar yang terkandung
didalamnya tidak berubah.Sebagai hasil dari sosio-moral tecipta suatu peradaban dalam
masyarakat berdasarkan pancasila.
Model kebijakan adalah representasi sederhana mengenai aspek-aspek yang terpilih dari suatu
kondisi masalah yang disusun untuk tujuan-tujuan tertentu.Model adalah wakil ideal dari situasi-
situasi dunia nyata.Model adalah menyederhanakan dari realitas yang diwakili. Model dapat
dibedakan atas model fisik dan model abstrak. Model memiliki fungsiantara lain: Membantu kita
untuk memperoleh pemahaman tentang peroperasinya sistem alamiah atau system buatan
manusia. Model membantu kita menjelaskan sistem apa, dan bagaimana sistem tersebut
beroperasi, membantu kita dalam menjelaskan permasalahan dan memilah-milah elemen-elemen
tertentu yang relevan dengan permasalahan, membantu kita memperjelas hubungan antara
elemen-elemen tersebut, membantu kita dalam merumuskan kesimpulan dan hipotesis mengenai
hakekat hubungan antar elemen. Selain fungsi yang di miliki model, model kebijakan juga
memiliki jenis yaitu model pluralis, elitis, sistem, rasional, inskrementalis, dan institusional.
Sedangkan untuk pendekatan kebijakan juga memiliki berbagai macam yaitu pendekatan
kelompok, proses fungsional, kelembagaan, peran serta warga negara, psikologis,
proses,subtantip,logis-positivis, ekonomentrik, Fenomenologik/Pospositivis,
partisipatori, Normatif/Preskriptif, ideologik,Historis.
Dalam sebuah kebijakan yang di tetapkan oleh pemerintah dan telah direalisasikan kepada
masyarakat ada kalanya merupakan sebuah kebijakan yang dapat diterima dengan baik oleh
masyarakat, karena kebijakan tersebut mampu menanggulangi krisis dan ketimpangan serta
masalah-masalah yang ada dalam masyarakat, akan tetapi ada kalanya dalam pemerintah
membuat sebuah kebijakan tidak diterima oleh masyarakat karena kebijakan tersebut dinilai tidak
sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, saran dalam
makalah ini adalah sebaiknya pemerintah dalam membuat sebuah kebijakan hendaklah melihat
realita dalam masyarakat sehingga kebijakan yang akan ditetapkan dapat diterima oleh
masyarakat dan kebijakan tersebut dapat menjadi solusi yang tepat bagi problematika dalam
masyarakat tersebut.
Menurut analisi dari kami bahwa Negara kita paling ideal dapat menggunakan monel
kebijakan dar Thomas r dye yakni Model rasional komprehensif ini menekankan pada
pembuatan keputusan yang rasional dengan bermodalkan pada komprehensivitas informasi dan
keahlian pembuat keputusan. Dalam model ini suatu kebijakan yang rasional adalah suatu
kebijakan yang sangat efisien, dimana rasio antara nilai yang dicapai dengan nilai yang
dikorbankan adalah positif dan lebih tinggi dibandingkan dengan alternatif-alternatif yang lain.

Model Rasional Komprehensif/ Policy as Efficient Goal Achievement.


Model rasional komprehensif ini menekankan pada pembuatan keputusan yang rasional
dengan bermodalkan pada komprehensivitas informasi dan keahlian pembuat keputusan. Dalam
model ini suatu kebijakan yang rasional adalah suatu kebijakan yang sangat efisien, dimana rasio
antara nilai yang dicapai dengan nilai yang dikorbankan adalah positif dan lebih tinggi
dibandingkan dengan alternatif-alternatif yang lain.
Dalam model ini para pembuat kebijakan untuk membuat kebijakan yang rasional, harus :
1. Mengetahui semua nilai-nilai utama yang ada dalam masyarakat.
2. Mengatahui semua alternatif kebijakan yang tersedia.
3. Mengetahui semua konsekuensi dari setiap alternatif kebijakan.
4. Memperhitungkan rasio antara tujuan dan nilai sosial yang dikorbankan bagi setiap alternatif
kebijakan.
5. Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien.

Model ini terdiri dari elemen sebagai berikut :


1. Pembuat keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu. Masalah ini dapat dipisahkan
dengan masalah yang lain atau paling tidak masalah tersebut dapat dipandang bermakna bila
dibandingkan dengan masalah yang lain.
2. Tujuan, nilai atau sasaran yang mengarahkan pembuat keputusan dijelaskan dan disusun
menurut arti pentingnya.
3. Berbagai alternatif untuk mengatasi masalah perlu diselidiki.
4. Konsekunsi (biaya dan keuntungan) yang timbul dari setiap pemilihan alternatif diteliti.
5. Setiap alternatif dan konsekuensi yang menyertainya dapat dibandingkan dengan alternatif
lain.
Pembuat keputusan memil;iki alternatif beserta konsekuensi yang memaksimalkan
pencapaian tujuan, nilai atau sasaran yang hendak dicapai. Keseluruhan proses tersebut akan
menghasilakan suatu keputusan yang rasional, yaitu keputusan yang efektif untuk mencapai
tujuan tertentu
Namun ada krikit terhadap model rasional komprehensif, yaitu :
1. Para pembuat keputusan tidak dihadapkan pada masalah-masalah yang konkrit dan
jelas. Sehingga seringkali para pembuat keputusan gagal mendefinisikan masalah dengan
jelas, akibatnya keputusan yang dihasilkan untuk menyelesaikan masalah tersebut tidak tepat.
2. Tidak realitis dalam tuntutan yang dibuat oleh para pembuat keputusan. Menurut model ini
pembuat keputusan akan mempunyai cukup informasi mengenai alternatif yang digunakan
untuk menanggulangi masalah. Pada kenyataannya para pembuat keputusan seringkali
dihadapkan oleh waktu yang tidak memadai karena desakan masalah yang membutuhkan
penanganan sesegera mungkin.
3. Para pembuat keputusan publik biasanya dihadapkan dengan situasi konflik daripada
kesepakatan nilai. Sementara nilai-nilai yang bertentangan tersebut tidak mudah
diperbandingkan atau diukur bobotnya.
4. Pada kenyataannya bahwa para pembuat keputusan tidak mempunyai motivasi untuk
menetapkan keputusan-keputusan berdasarkan tujuan masyarakat, sebaliknya mereka
mencoba memaksimalkan ganjaran-ganjaran mereka sendiri.
5. Para pembuat keputusan mempunyai kebutuhan, hambatan dan kekurangan sehingga
menyebabkan mereka tidak dapat mengambil keputusan atas dasar rasionalitas yang tinggi.
6. Investasi yang besar dalam program dan kebijakan menyebabkan pembuat keputusan tidak
mempertimbangkan lagi alternatif yang telah ditetapkan oleh keputusan sebelumnya.
7. Terdapat banyak hambatan dalam mengumpulkan semua informasi yang diperlukan untuk
mengetahui semua kemungkinan alternatif dan konsekuensi dari masing-masing alternatif.
DAFTAR PUSTAKA

AG.Subarsono. 2005. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budi Winarno. 2007. Kebijakan Publik: Teori dan Proses. Yogyakarta: Media Pressindo.

Dr. Syafaruddin, M.Pd, 2008. Efektifitas Kebijakan Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Edi Suharto, Ph.D, 2010, Analisa Kebijakan Publik panduan praktis mengkaji masalah dan
kebijakan public, Bandung:Alfabeta.

Miftah toha. 2005. Dimensi-Dimensi Prima Ilmu Aministrasi Negara. Jakarta: Rajagrafindo
Persada.

Riant Nugroho. 2003. Kebijakan Publik: formulasi, implementasi, dan evaluasi. Jakarta: Elex
Media Komputindo.

Riant Nugroho. 2008. Public Policy. Jakarta: Elex Media Komputindo.

William N. Dunn, 1999, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta:Gadjah Mada


University Press.