Anda di halaman 1dari 15

PERCOBAAN II

STANDARISASI LARUTAN NAOH 0.1 M DAN PENGGUNAANNYA DALAM


PENENTUAN KADAR ASAM CUKA PERDAGANGAN

I. Tujuan
1. Menentukan molaritas larutan NaOH dengan larutan asam oksakat.
2. Menetapkan kadar asam cuka perdagangan.
II. Landasan Teori
Titrasi dilakukan untuk menetapkan molaritas suatu larutan dengan
menggunakan larutan lain yang telah diketahui jumlah molaritasnya secara
pasti. Larutan yang berperan sebagai peniter disebut dengan larutan standar.
Ketepatan atau akurasi dari konsentrasi larutan yang di titer sangatlah penting,
karena memiliki dampak pada larutan. Salah satunya adalah pada
ketergantungan kepastian molaritas dari larutan peniter. Apabila larutan
peniter yang digunakan tidak pasti, maka molaritas larutan yang dititer pasti
juga tidak akan akurat. Titrasi ini merupakan salah satu proses untuk
menstandarisasi larutan. Biasanya, proses titrasi ini seering dilakukan untuk
suatu larutan asam dan larutan basa, yang sering disebut dengan titrasi asam
basa atau reaksi penetralan (Susiloningsih dan Indah, 2013).
Larutan standar terbagi menjadi larutan standar primer dan larutan
standar sekunder. Larutan standar primer merupakan suatu larutan yang telah
diketahui konsentrasinya secara tepat melalui proses gravimetri. Nilai
konsentrasi tersebut dihitung melalui perumusan sederhana, yaitu dengan
menimbang bahan bakunya lalu dilarutkan dalam volume tertentu. Sedangkan
Larutan standar sekunder merupakan larutan yang dapat diketahui
konsentrasinya dengan cara metode titrimetri, yaitu dengan cara dititrasi
dengan larutan standar primer terlebih dahulu.
Analisis dengan metode titrimetrik didasarkan pada reaksi seperti
berikut:
aA + tT → Produk

dimana a merupakan molekul analit dari A yang bereaksi dengan t molekul


pereaksi T. Pereaksi T disebut dengan titran, ditambahkan secara perlahan-
lahan namun berkesinambungan. Baik jumlah tetesannya maupun waktu
selang penetesannya dengan menggunakan alat berupa buret harus dilakukan
secara perlahan-lahan namun pasti. Dalam proses ini, digunakan larutan
standar, yaitu larutan yang telah diketahui nilai konsentrasinya secara pasti
(Day dan Underwood, 2002).
Dalam kegiatan standarisasi larutan, maka harus sangat diperhatikan
apa yang dimaksud dengan molaritas. Molaritas adalah jumlah mol zat terlarut
per liter zat pelarut, dengan satuan molaritas adalah Mol/L atau Mol L-1. Selain
molaritas, istilah konsentrasi juga perlu diperhatikan, karena konsentrasi
adalah induk dari perhitungan molaritas dalam ilmu kimia. Konsentrasi adalah
jumlah zat terlarut yang terlarut dalam sejumlah volume pelarut. Yang mana
setiap larutan memiliki nilai konsentrasi yang berbeda, bergantung pada jenis,
massa dan volumenya (James, et al., 2008).
Salah satu cara dalam penentuan kadar larutan asam dan larutan basa
adalah melalui proses titrasi asidi-alkalimetri. Titrasi asidi-alkalimetri dibagi
menjadi dua bagian besar, yaitu titrasi asidimetri dan titrasi alkalimetri.
Asidimetri merupakan titrasi dengan menggunakan larutan standar asam
untuk menentukan konsentrasi larutan basa. Biasanya titrasi asidimetri
menggunakan larutan dari asam cuka, asam klorida, asam oksalat dan asam
borat. Sedangkan titrasi alkalimetri merupakan kebalikan dari asidimetri, yaitu
titrasi yang menggunakan larutan standar basa untuk menentukan konsentrasi
larutan asam, yang biasanya menggunakan larutan NaOH yang telah
distandarisasi terlebih dahulu (Yurida, et al., 2013).
Proses titrasi yang terjadi antara asam cuka dan natrium Hidroksida
merupakan salah satu contoh dari reaksi titrasi asam lemah dan basa kuat.
Reaksi ini juga disebut dengan reaksi penetralan antara asam asetat
(CH3COOH) dengan natrium Hidroksida (NaOH). Menurut Chang, (2004) reaksi
antara asam asetat dengan natrium hidroksida dapat dituliskan dengan
persamaan sebagai berikut:

CH3COOH(aq) + NaOH(aq) → CH3COONa(aq) + H2O(l)

Persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi:

CH3COOH(aq) + OH-(aq) → CH3COO-(aq) + H2O(l)

Ion asam cuka mengalami hidrolisis sebagai berikut:

CH3COO-(aq) + H2Oaq) → CH3COOH(aq) + OH-(l)

Untuk titrasi asam basa biasanya dilakukan kegiatan untuk


mempersiapkan larutan asam dan basa dari konsentrasi yang kira-kira
diinginkan dan kemudian larutan tersebut distandarisasikan, salah satunya
adalah dengan sebuah larutan standar primer. Larutan yang telah
distandarisasi dapat digunakan sebagai standar sekunder untuk mendapatkan
konsentrasi dari larutan lainnya (Day dan Underwood, 2002).
Standarisasi larutan merupakan proses saat konsentrasi dari larutan
standar sekunder ditentukan dengan tepat dengan cara mentitrasinya dengan
larutan standar primer. Titran atau titer merupakan larutan yang digunakan
untuk mentitrasi, yang mana biasanya konsentrasi larutan tersebut telah
diketahui secara pasti. Dalam proses suatu zat berfungsi sebagai titran dan
yang lain sebagai titrat. Titrat adalah larutan yang dititrasi untuk diketahui
konsentasi komponen tertentu. Pada tahap titrasi terdapat titik ekuivalen, yaitu
titik yang menyatakan banyaknya titran secara kimia setara dengan banyaknya
analit. Analit merupakan spesies (atom, unsur, ion, gugus molekul) yang
dianalisis atau ditentukan konsentrasinya ataupun strukturnya. Titik akhir
titrasi adalah titik pada saat titrasi dihentikan (Day dan Uderwood, 2002).
Penentuan kadar asam cuka (CH3COOH) dalam asam cuka
perdagangan menggunakan cara alkalimetri, yaitu dengan menggunakan
larutan NaOH sebagai larutan standar basa untuk titrasi basa. Pada titrasi
asam asetat dengan NaOH sebagai larutan standar akan dihasilkan garam yang
berasal dari asam lemah dan basa kuat. Dengan persamaan reaksi yang sama
dengan reaksi netralisasi asam basa, yaitu:

CH3COOH(aq) + NaOH(aq) → CH3COONa(aq) + H2O(l)

Berbagai merk asam cuka banyak tersedian dipasar. Rata- rata asam
cuka tersebut terdapat label yang mencantumkan informasi kadar asam cuka
sebesar 25%. Maka pada praktikum ini akan dilakukan percobaan untuk
menyelidiki kebenaran label yang tercantum tersebut dengan menggunakan
proses titrimetri alkalimetri. Perlu diperhatikan bahwa dalam kegiatan titrasi
digunakan larutan yang relatif encer. Oleh karena itu, asam cuka perdagangan
harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan, supaya dalam proses
titrasi tidak akan memerlukan banyak NaOH untuk mentitrasi larutan tersebut
(Susiloningsih dan Indah, 2013).
Ketika melakukan titrasi, biasanya digunakan larutan sebagai
indikator. Indikator merupakan zat atau larutan yand dapat berubah warna
apabila berada pada lingkungan asam atau lingkungan basa, sehingga dapat
memberikan kode bahwa proses titrasi sudah mencapai titk akhir dan titik
ekuivalen. Indikator yang digunakan harus dapat memberikan perubahan
warna yang tepat pada saat diteteskan pada larutan asam ataupun basa,
sehingga larutan juga dapat terdeteksi dengan benar. Indikator yang sering
digunakan pada proses titrasi adalah indikator fenolftalein. Indikator
fenolftalein berwarna bening atau tidak berwarna pada larutan asam, dan akan
berwarna merah pada larutan basa (Harjanti, 2008).
III. Alat Dan Bahan
3.1. Alat
 Labu ukur 100 mL
 Buret 50 mL
 Erlenmeyer 100 mL
 Erlenmeyer 50 mL
 Pipet ukur 10 mL
 Klem dan standar
 Batang pengaduk
 Gelas ukur 100 mL
 Gelas ukur 50 mL
 Kaca arloji
 Pipet tetes
 Spatula
3.2. Bahan
 Asam oksalat
 Larutan NaOH
 Asam cuka perdagangan
 Indikator Fenolftalein
IV. Prosedur Kerja
4.1 Penentuan Molaritas NaOH
a.
Asam Oksalat
ditimbang 1,26 gram.
dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml.
ditambahkan air suling hingga volume menjadi 100 ml.
dimasukkan kedalam buret.
Hasil

b.
NaOH
dituang 10 ml kedalam erlenmeyer.
ditambah 100 ml air suling.
ditambahkan 1-2 tetes indikator fenolftalein.
dititrasi dengan larutan asam oksalat hingga warna
merah jambu hilang.
dilakukan 3 kali.
Hasil

4.2 Penetapan kadar asam cuka perdagangan


Asam Cuka Perdagangan
dimasukkan 10 ml kedalam labu ukur 100 ml.
diencerkan hingga volume 100 ml.
dimasukkan 10 ml kedalam erlenmeyer 125 ml.
ditambahkan 1-2 tetes indikator fenolftalein.
dititrasi dengan larutan NaOH standar hingga berubah
warna merah jambu.
dilakukan 3 kali.
Hasil
V. Hasil dan Pembahasan
Standarisasi larutan merupakan proses saat konsentrasi dari larutan
standar sekunder ditentukan dengan tepat dengan cara mentitrasinya dengan
larutan standar primer. Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah
dilaksanakan, didapatkan hasil data pengamatan sebagai berikut:
Tabel 1: Penentuan Molaritas NaOH
Titrasi I Titrasi II Titrasi III Vrata-rata
V NaOH 20 mL 20 mL 20 mL 20 mL
V H2C2O4.2H2O 16,5 mL 17,3 mL 15,1 mL 16,3 mL
Pada proses praktikum pertama, dilakukan proses standarisasi larutan
NaOH dengan larutan asam oksalat terlebih dahulu. Dalam proses standarisasi
ini digunakan larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Larutan standar
primer merupakan suatu larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara
tepat melalui proses gravimetri. Nilai konsentrasi tersebut dihitung melalui
perumusan sederhana, yaitu dengan menimbang bahan bakunya lalu
dilarutkan dalam volume tertentu. Sedangkan Larutan standar sekunder
merupakan larutan yang diketahui konsentrasinya dengan cara metode
titrimetri, yaitu dengan cara dititrasi dengan larutan standar primer.
Pada percobaan ini juga dilakukan analisa kuantitatif untuk
menstandarisasi larutan baku sekunder dengan menggunakan larutan baku
primer. Larutan baku sekunder yang digunakan adalah larutan Natrium
Hidroksida (NaOH), sedangkan larutan baku primernya adalah asam oksalat
(C2H2O4). Asam oksalat yang digunakan adalah asam oksalat yang masih
berbentuk kristal yang ditimbang dengan massa sebanyak 1,26 gram, lalu
kemudian setelah ditimbang dilarutkan dengan 100 mL air suling.
Larutan NaOH ini harus distandarisasi terlebih dahulu dengan
menggunakan asam oksalat sebelum digunakan, dikarenakan NaOH
merupakan zat yang mudah terkontaminasi, dan bersifat higrokopis, sehingga
NaOH mampu dengan mudah menarik uap air dari udara dan juga dapat
dengan mudah bereaksi dengan gas CO2 yang ada di udara. Dimana ketika
dilakukan proses pemindahan larutan ke dalam gelas ukur tidak memberikan
kepastian massa NaOH yang sesungguhnya, karena jumlah air dan karbon
dioksida yang diserap oleh larutan NaOH tidak diketahui pasti massanya.
Sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan jumlah konsentrasi larutan NaOH
akan berubah dari jumlah konsentrasi pada awalnya, dan itulah alasan
mengapa larutan NaOH yang akan digunakan sebagai pereaksi dalam kegiatan
titrasi harus distandarisasikan terlebih dahulu.
Untuk menstandarisasi larutan NaOH, digunakanlah larutan dari asam
oksalat yang telah dibuat tadi dengan menggunakan buret. Asam oksalat
digunakan untuk menstandarisasi larutan NaOH kare asam oksalat bersifat
higrokopis dan juga memiliki berat ekuivalen yang tinggi sehingga dapat
meminimalisir kesalahan dalam proses standarisasi. Sebelum dititrasi dengan
asam oksalat, larutan NaOH ditambahkan 100 mL akuades supaya
menurunkan konsentrasi atau kepekatan dari NaOH agar tidak terlalu banyak
menggunakan asam oksalat dalam titrasi. Larutan tersebut juga ditetesi
indikator fenolftalein sebagai indikator penentu titik akhir titrasi. Indikator
fenolftalein berwarna merah muda ketika diteteskan pada larutan NaOH, karena
sifatnya yang tak berwarna pada larutan asam dan berwarna merah pada
larutan basa.
Ketika proses titrasi NaOH dan asam oksalat, warna merah jambu yang
ada pada larutan NaOH diharuskan menjadi hilang setelah dititrasi dengan
larutan asam oksalat. Ketika dilakukan titrasi pertama, diketahui bahwa
larutan H2C2O4.2H2O yang digunakan untuk menetralisasi NaOH 20 mL adalah
sebanyak 16,5 mL, pada titrasi kedua sebanyak 17,3 mL H 2C2O4.2H2O, dan
pada titrasi ketiga adalah sebanyak 15,1 mL H2C2O4.2H2O. Sehingga diperoleh
volume rata-rata H2C2O4.2H2O yang digunakan adalah sebanyak 16,3 mL.
Proses tercapainya titik ekuivalen pada proses titrasi ini menyatakan
terjadinya kesetimbangan antara jumlah mol asam dan jumlah mol basa. Dalam
perhitungan yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil konsentrasi dari NaOH
yang telah dititrasi adalah sebesar 0,163 ek/L. Setelah konsentasi larutan
NaOH ini diketahui, maka larutan tersebut dapat digunakan untuk
menentukan kadar asam cuka perdagangan.
Reaksi yang terjadi pada titrasi asam kuat dari larutan NaOH dengan
basa lemah dari larutan H2C2O4.2H2O dapat dituliskan dengan persamaan
reaksi sebagai berikut:

H2C2O4.2H2O (aq) + NaOH(aq) → Na2C2O4(aq) + 2H2O(l)

yang menurut reaksi, titrasi yang dilakukan menghasilkan garam hasil titrasi,
yang ditandai dengan adanya unsur Na yang terbentuk pada produk yang
dihasilkan. Karena proses netralisasi larutan asam dan larutan basa menurut
literatur akan menghasilkan garam.
Selanjutnya, menentukan kadar asam cuka perdagangan yang telah
disiapkan oleh asisten. Pada percobaan penentuan kadar asam cuka
perdagangan, dilakukan dengan kegiatan titrimetri alkalimetri, yaitu dengan
cara melakukan titrasi pada larutan asam cuka perdagangan yang akan
ditentukan kadar asamnya dengan menggunakan larutan baku sekunder NaOH
untuk menentukan jumlah kadar asam cuka yang ada, dan mengetahui apakah
kadar asam cuka yang tertera pada label asam cuka perdagangan tersebut telah
sesuai dengan kadar sebenarnya sesuai pada proses uji coba atau tidak.
Untuk menganalisis asam cuka yang ada dalam cuka perdagangan dapat
dilakukan dengan titrasi netralisasi. Dalam proses ini, larutan asam cuka
perdagangan diencerkan terlebih dahulu untuk mengurangi kepekatannya
dengan tujuan supaya tidak terlalu banyak menggunakan NaOH ketika proses
titrasi dengan cara menambahkan 100 mL akuades pada 10 mL asam cuka
perdangangan. Reaksi yang terjadi pada titrasi ini adalah reaksi antara asam
lemah dari larutan asam asetat dan basa kuat dari larutan NaOH.
Berdasarkan kegiatan praktium titrasi untuk menentukan kadar asam
cuka perdagangan yang telah dilakukan oleh praktikan, maka diperoleh data
hasil pengamatan sebagai berikut:
Tabel 2: Penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka
perdagangan
Titrasi I Titrasi II Titrasi III Vrata-rata
Skala awal 9 mL 5 mL 16 mL -
Skala akhir 24 mL 30,3 mL 30 mL -
VNaoH 15 mL 15,3 mL 14 mL 14,77 mL
Untuk menganalisa kadar aam cuka perdagangan , maka larutan asam
cuka yang telah diencerkan dimasukka ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan
indikator fenolftalein sebanyak 2 tetes yang bertujuan untun digunakan sebagai
indikator perubah warna ketika titrasi telah mencapai titik akhir dan titik
ekuivalen titrasi. Namun, apabila pada larutan NaOH yang ditambahkan
indikator fenolftalein akan mengalami perubahan warna dari bening menjadi
merah muda, maka pada larutan asam asetat indikator fenolftalein tidak
berwarna sehingga larutan tetap bening. Hal tersebut terjadi karena NaOH
merupakan larutan basa sedangkan asam asetat merupakan larutan asam.
Percobaan ini dilakukan dengan tiga kali proses pengulangan proses
titrasi. Pada titrasi yang pertama, untuk dapat merubah warna asam asetat dari
bening menjadi berwarna merah jambu membutuhkan volume NaOH sebagai
titran sebanyak 15 mL, pada titrasi yang kedua membutuhkan larutan NaOH
sebanyak 15,3 mL dan pada titrasi yang ketiga membutuhkan larutan NaOH
sebanyak 14 mL. Sehingga diperoleh volume rata-rata larutan NaOH yang
digunakan untuk mentitrasi asam cuka perdagangan dalam tiga kali
pengulangan adalah sebanyak 14,77 mL.
Setelah diketahui volume rata-rata larutan NaOH yang telah digunakan
dalam proses titrasi avam cuka perdagangan, maka dapat ditentukan
konsentrasi asam asetat tersebut. Berdasarkan perhitungan yang telah
dilampirkan, dapat diketahui nilai konsentrasi asam asetat yang telah
diencerkan adalah sebanyak 0,241 mol/L. Dan untuk mengetahui konsentrasi
asam asetat sebelum diencerkan dapat dihitung dengan rumus pengenceran,
sehingga diperoleh konsentrasi dari asam asetat sebelum diencerkan adalah
sebanyak 2,41 mol/L. Dari konsentrasi asam asetat itulah dapat diperoleh hasil
konsentrasi asam asetat dengan persentase sebesar 14,46%.
Reaksi yang terjadi pada proses titrasi asam asetat dan NaOH adalah
sebagai berikut:

CH3COOH(aq) + NaOH(aq) → CH3COONa(aq) + H2O(l)

Reaksi asam basa antara larutan asam asetat dengan larutan NaOH juga
mengahasilkan garam hasil titrasi, yang juga ditandai dengan adanya
pembentukan unsur Na dalam produk yang dihasilkan. Karena literatur
menyatakan bahwa reaksi netralisasi antara asam dan basa akan menghasilkan
garam.
Berdasarkan perhitungan dari proses titrasi yang telah dilakukan, dapat
diketahui bahwa kadar dari asam asetat yang tercantum pada labelnya
seharusnya tidak kurang dari 14,46 %, hal ini bertujuan agar konsumen tidak
salah dalam menggunakan asam cuka tersebut. Dalam penentuan kadar asam
cuka perdagangan ini juga belum memiliki kebenaran 100%, dikarenakan
proses titrasi yang dilakukan ini juga kali pertama bagi praktikan.
VI. Kesimpulan Dan saran
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum dan analisis data yang telah dilakukan, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Molaritas larutan NaOH setelah distandarisasi dengan larutan asam
oksalat adalah sebesar 0,163 ek/L.
2. Kadar asam cuka perdagangan yang digunakan pada praktium adalah
sebesar 14,46%.

6.2. Saran
Dalam kegiatan praktikum dibutuhkan adanya kesabaran dalam
proses titrasi, supaya hasil yang diinginkan dapat sesuai dengan perlakuan.
Dan juga dibutuhkan kehati-hatian dalam penanganan alat kaca.
DAFTAR PUSTAKA

Chang, R. 2004. KIMIA DASAR EDISI KETIGA JILID 2. Jakarta: Erlangga.


Day, R. A dan A. L Underwood. 2002. ANALISIS KUANTITATIF EDISI KEENAM.
Jakarta: Erlangga.
James, J., C. Baker dan H. Swain. 2008. PRINSIP-PRINSIP SAINS UNTUK
KEPERAWATAN. Jakarta: Erlangga.
Harjanti, R. S. 2008. “Pemungutan Kurkuim dari Kunyit (Curcuma domestica
Val.) dan Pemakaiannya Sebagai Indikator Analisis Volumetri”. Jurnal
Rekayasa Proses. Vol. 2 (2: 49-55).
Susiloningsih, E dan I. P Rahayu. “Eksplnasi Materi Acak Praktikum Asam Basa
Dengan Produk Media Transvisi Untuk Pembelajaran Kimia”. Jurnal
Inovasi Pendidikan Kimia. Vol. 7 (2: 1138-1145).
Yurida, M., E. Afriani dan S. Arita, R. 2013. “Asidi-Alkalimetri”. Jurnal Teknik
Kimia. Vol. 19 (2:1-8)
Lampiran 1
Perhitungan

1. Standarisasi Larutan NaOH


a. Konsentrasi Larutan Asam Oksalat
Massa : 1,26 gram
MR : 126 gr/mol
V Asam Oksalat : 100 mL + 0,1 L
gram 1000
Molaritas = X
MR V
1,26 gram 1000
X
126 gr/mol 100 mL

0,1 M
Normalitas =nxm
2 x 0,1 M
0,2 ek/L
b. Konsentrasi Larutan NaOH
V NaOH : 20 mL
V rata-rata C2H2O4 : 16,3 mL
N Asam Oksalat : 0,2 ek/L
Pada saat titik ekuivalen :
(N x V) asam = (N x M) basa

0,2 ek/L x 16,3 mL = NNaOH x 20 mL


3,26 = 20 NnaoH

3,26
NNaOH =
20
= 0,163 ek/L
2. Penentuan Konsentrasi asam asetat dalam asam cuka perdagangan
Normalitas Asam Asetat yang diritrasi : Nasetat
Vasam asetat yang dititrasi : 10 mL
VNaOH rata-rata yang digunakan : 14,77 mL
NNaOH yang digunakan : 0,163 ek/L
Jumlah ekuivalen asam = Jumlah ekuivalen basa

(N x V) asam = (N x V) basa

Nasetat x Vasetat = NNaOH x VNaOH

Nasetat x 10 mL = 0,163ek/L x 14,77mL

Nasetat = 0,241 ek/L


Asam asetat : Asam Monopotrik
Nasetat
Masetat =
n
= 0,241 ek/L
Konsentrasi Asam Asetat sebelum diencerkan:

(M x V) sebelum = (M. V) sesudah

100 mL
Msebelum = Masetat x
10 mL

100 mL
0,241 ek/L x
10 mL

2,41 mol/L

Konsentrasi Asam Asetat:


1L
% CH3COOH = Masetat x Mr Asetat x x 100%
1000 mL
1L
2,41 mol/L x 60 gr/mol x x 100%
1000 mL
14,46%`
Lampiran 2
Pertanyaan Prapraktek

1. Apa yang dimaksud dengan molaritas, titrasi dan larutan standar?


Jawab: Molaritas merupakan banyaknya mol zat terlarut per liter larutan.
Titrasi merupakan proses pengukuran volume titran Titrasi
dilakukan untuk menetapkan molaritas suatu larutan dengan
menggunakan larutan lain yang telah diketahui jumlah molaritasnya
secara pasti.
Larutan standar merupakan larutan yang jumlah molaritasnya
telah diketahui secara pasti.
2. Bagaimana cara menghitung molaritas larutan?
Jawab: Molaritas larutan dapat dihitung dengan rumus
gram 1000
Molaritas = X
MR V
3. Apa tujuan dilakukannya titrasi dan penggunaan larutan standar dalam
titrasi?
Jawab: Titrasi dilakukan untuk menetapkan molaritas suatu larutan
dengan menggunakan larutan lain yang telah diketahui jumlah
molaritasnya secara pasti.
Pertanyaan Pascapraktek

1. Apakah yang dimaksud dengan larutan standar?


Jawab: Larutan standar merupakan larutan yang jumlah molaritasnya
telah diketahui secara pasti.
2. Apa itu larutan standar primer dan larutan standar sekunder?
Jawab: Larutan standar primer merupakan suatu larutan yang telah
diketahui konsentrasinya secara tepat melalui proses gravimetri.
Nilai konsentrasi tersebut dihitung melalui perumusan sederhana,
yaitu dengan menimbang bahan bakunya lalu dilarutkan dalam
volume tertentu.
Larutan standar sekunder merupakan larutan yang diketahui
konsentrasinya dengan cara metode titrimetri, yaitu dengan cara
dititrasi dengan larutan standar primer.
3. Apabila larutan asam kuat dititrasi dengan basa kuat memakai indikator
fenolftalein, apakah tepat apabila titrasi sebaliknya juga menggunakan
fenolftalein? Jelaskan.
Jawab: Apabila melakukan titrasi asam basa, indikator fenolftalein sangat
dibutuhkan. Karena indikator fenolftalein merupakan indikator yang
dapat menentukan sifat larutan dalam suasana asamatau suavana
basa. Larutan basa yang ditetesi fenolftalein akan berwarna merah
jambu hingga merah, sedangkan larutan asam yang ditetesi
fenolftalein tidak berwarna atau tetap bening. Apabila basa dititasi
dengan asam, maka warna merah jambu akan hilang, sebagai
penanda bahwa porses titrasi telah mencapai titik akhir. Begitu juga
apabila larutan asam apabila dititrasi dengan larutan basa akan
berubah warna dari bening menjadi merah jambu.