Anda di halaman 1dari 10

RESUME BAB I

HAKIKAT PARTAI POLITIK

A. Partai dan Non Partai


Beberapa ahli berpendapat tentang definisi partai politik. Yang membedakan
dari beberapa argumentasi para ahli tersebut adalah penekanannya. Burke dan
Reagan misalnya yang menekankan pada akar idiologi partai. Kemudian
Epstein, Schlesinger, dan Aldrich yang menekankan bahwa partai merupakan
sebuah instrumen untuk memperoleh akses terhadap pemerintah. Selain itu
Downs, Key, dan Chambers menekankan bahwa partai politik merupakan
desain instrumen yang penting dalam mengorganisir dan menyederhanakan
pilihan pemilih dalam mempengaruhi tindakan pemerintah.

Dari beberapa definisi diatas dengan penekanan-penekanan yang berbeda


maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan partai politik adalah
sebuah organisasi untuk memperjuangkan nilai atau idiologi teretentu
melalui penguasaan struktur kekuasaan dan kekuasaan itu diperoleh
melalui keikut sertaannya melalui pemilihan umum.

Dari definisi tersebut maka ada empat substansi yang dapat dipahami
diantaranya adalah :
1. Partai politik merupakan sebuah organisasi
Artinya sebagai sebuah organisasi, partai politik merupakan entitas yang
bekerjanya berdasarkan pada prinsip-prinsip tertentu seperti adanya
kepemimpinan dan keanggotaan, devisionalisasi dan spesifikasi,
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan kontrol serta adanya
aturan main yang mengatur perilaku anggota dan organisasi tersebut.

2. Partai politik merupakan instrumen memperjuangkan nilai atau idiolgi.


Artinya partai adalah alat perjuangan atas sebuah nilai yang mengikat
kolektivitas sebuah organisasi. Dimana nilai atau idiologi itu diyakini
kebenarannya oleh kolektivitas individu yang tergabung dalam organisasi

1
tersebut. Dalam kerangka kerangka tersebut nilai atau idiologi tersebut
memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Pada tingkat paling minimal nilai atau idiologi merupakan sebuah
corak atau ciri khas yang membedakan dirinya dengan artai lain.
b. Menjadi pisau analisis partai dalam memahami realitas.
c. Pemandu perilaku partai dalam menjalankan fungsi-fungsinya.

3. Partai politik merupakan perjuangan partai melalui penguasaan struktur


kekuasaan. Itu artinya bahwa partai sesungguhnya adalah berorientasi
pada kekuasaan, yaitu untuk mendapatkan, mempertahankan, dan
memperluas kekuasaan yang pada akhirnya untuk berorientasi pada
kebaikan bersama.

4. Partai politik merupakan instrumen untuk meraih kekuasaan melalui


Pemilu, bukan yang lainnya.

Perbedaaan antara partai politik dengan kelompok kepentingan adalah terletak


pada;
1. Partai Politik
Secara umum partai politik perhatian utamanya adalah pada pemilihan
umum, mereka sepenuh waktu berkomitmen pada aktivitas politik,
memobilisasi masa dalam jumlah yang sangat besar , memiliki waktu
hidup yang sangat lama serta mereka menyiapkan diri sebagai simbol
politik ( Harshey, 2005:12-13).

2. Kelompok kepentingan merupakan suatu organisasi yang terdiri dari


sekelompok individu yang memiliki kepentingan-kepentingan, tujuan-
tujuan, keinginan-keinginan yang sama, dan mereka bekerja sama untuk
mempengaruhi kebijakan pemerintah demi tercapai kepentingan-
kepentingan, tujuan-tujuan dan keinginan-keinginannya. Letak
perbedaan antara kelompok kepentingan dengan partai politik adalah
pada bagaimana cara kekuasaan itu diperlakukan.

2
3. Kelompok kepentingan kepentingan berusaha mempengaruhi kebijakan
pemerintah tanpa berkehendak memperoleh jabatan politik. Sedangkan
partai politik secara terang-terangan memang bertujuab untuk memperoleh
dan menguasi jabatan-jabatan publik melalui pemilu.

Sementara itu perbedaan antara partai poitik denagn kelompok penekanan dapat
dilihat pada dua hal sebagai berikut :

1. Tujuan utama partai politik adalah merebut kekuasaan atau ambil bagian
dalam perebutan kekuasaan. Artinya partai selalu berusaha memenagkan
pemilu, menentukan para menteri dan perwakilan-perwakilan, serta dapat
mengendalikan pemerintahan. Sedangkan kelompok penekanan
sebaliknya, tidak mencari kekuasaan untuk dirinya sendiri, atau untuk
mengambil bagian dalam kendali pemerintahan , melainkan hnaya
melancarkan pengaruh atas pemerintah yang sedang berkuasa dan
memberikan tekanan kepada penguasa atau wakl-wakilnya.
2. Dukungan terhadappartai politik berasal dari suatu dasar atau fondasi yang
luas, sedangkan kelompok penekanan hanya mewakili satu jumlah yang
terbatas yang mempunyai kepentingan khusus.

Artinya partai politik bertindak dalam rangka masyarakat secara keseluruhan


parpol menjadi tempat setiap warga negara bergantung hanya karena ia seorang
warga negara. Sebaliknya kelompok penekanan bertindak untuk selalu
mempertahankan dan membela kepentingan mereka sendiri.

B. Asal Usul
Menurut Giovanni Sartori dalam bukunya Parties and Party System: A
Frameworks for Analysis (1967). Bahawa sinisme terhadap partai muncul
karena kata “Partai” sering disamakan dengan “Faksi” . Menurut Sartori,
secara etimologis dan semantis ‘Faksi’ (faction) dan ‘parti’ (party) tidak
mengacu pada kata yang sama. Faksi merupakan istilah yang jauh lebih tua
dan lebih mapan, berasal dari verba latin facere (melakukan, bertindak), dan

3
factio untuk mengacu pada kelompok politik yang menyimpang kepada suatu
tindakan yang memcah dan berbahaya.

Menurut Huntington partai politik memiliki 3 sumber yang berbeda.


1. Kaum Konservatif
Golongan ini menentang partai karena partai dianggap sebagai sebuah
tantangan terhadap struktur sosial yang sudah mapan. Kaum konservatif
juga menolak kehadiran partai juga terkait dengan adanya gagasasan
modernisasi yang dibawa oleh partai.

2. Golongan Administrator
Golongan ini menentang partai tetapi menerima rencana rasionalisasi
struktur sosial dan ekonomi. Yang ditolak oleh golongan ini adalah
pelaksanaan modernisasi yang ditunjukan untuk memperluas wawasan
partisipasi rakyat diarena politik. Kelompok ini adalah kelompok birokrat
yang bertujuan mencapi efisiensi kerja dan menghindarkan konflik

3. Golongan Populis
Yang menjadi kelompok ini adalah setiap orang yang menerima partisipasi
tetapi menolak diorganiasinya partisipasi politik tersebut (penganut
demokrasi langsung). Partai dianggap sebagai halangan untuk
menyuarakan kehendak-kehendak umum.

Pendekatan-pendekatan dalam memahami asal-usul partai politik diantaranya


adalah sebagi berkut:

1. Teori Institusional
Teori ini memberikan tekanan pada transformasi yang terjadi pada
parlemen. Teori ini melihat lahirnya partai poltik dari dua arah
a. Dari dalam parlemen ( intra parlemen), tahapannya sebagai berikut :
- Lahirnya kelompok-kelompok parlementer
- Pembentukan panitia-panitia pemilihan lokal

4
- Diadakan hubungan-hubungan permanen diantara keduanya.

Contoh : Partai Konservatif dan Partai Liberal di Inggris. Partai


Liberal Wilhemina di Jerman, dan partai-partai liberal abad 19 di
Italia

b. Lahir dari luar parlemen (ekstra parlemen)


- Menghadirkan perlawanan-perlawanan idiologis terhadap elit yang
berkuasa.
- Berusaha untuk masuk kekoridor kekuasaan dengan
mengedepankan kepentingan kelompok yang sebelumnya
disingkirkan.
- Mentranformasikan sistem politik itu sendiri.
- Merupakan partai politik masa
Contoh : partai sosialis, partai komunis, partai kristen demokratis,
partai pertanahan agraria.

2. Teori Historis
Teori ini memberikan tekanan pada krisis-krisis sitemis yang berkaitan
dengan proses pembangunan bangsa (Nation Building). Krisis tersebut
adalah berkaitan dengan integrasi nasional, legitimasi bangsa, dan tuntutan
legitimasi yang lebih besar. Krisis-krisis tersebutlah yang kemudian
membentuk karakter partai .
a. Generasi pertama
Adanya krisis legitimasi, yang kemudian terbentuknya partai politik
dari dalam parlemen.

b. Post Kolonial
Yang terjadi seiring terbentuknya negara bangsa, terutama partai-partai
nasionalis.

5
3. Teori Modernisasi Pembangunan Politik
Masyarakat modern adalah masyarakat masa dan dengan demikian
masyarakat itu membutuhkan suatu institusi untuk mengorganisasikan
inklusi dan integrasi publik masa kedalam system. Dalam masyarakat
modern, partai politik muncul untuk memobilisasi masa, bukan untuk
mengadakan revolusi.

Kelemahan-kelemahan teori pendekatan asal usul


1. Teori institusional terikat tempat, dalam arti teori ini tidak berhubungan
dengan pengalaman rezim-rezim kolonial atau bangsa-bangsa yang sedang
berkembang. Teori ini terikat waktu, artinya teori ini tidak menjelaskan
proses ketika partai terbentuk ditempat-tempat dimana hak pilih universal
telah menjadi norma untuk beberapa dekade. Munculnya partai-partai
ekologi di negara-negara demokrasi Barat adalah contoh utama untuk
gejala sejis itu.

2. Teori Modernisasi
Teori ini belum secara jelas menggambarkan jalan-jalan alternatif menuju
modernitas atau pembangunan bangsa. Untuk alasan tersebut, sedikit saja
yang bisa dikatakan dengan pasti tentang kapan, dengan lingkungan,
seperti dan dengan akibat-akibat apa partai politik bisa mewujud.

C. Fungsi-Fungsi
Kesulitan untuk meletakan fungsi apa yang semstinya menjadi atribut partai
disebabkan dua hal:
1. Diantara ahli kepartaian tidak pernah mencapi kesepakatan tentang apa
yang dimaksud dengan kata fungsi.
2. Kesulitan untuk memformulasikan kategori fungsi partai berikut dengan
kebutuhan untuk dapat diobservasi dan diukur atas fungsi yang
dijalankan.

6
3 Pembagian Partai Politik

Organisasi Partai Partai di Pemerintahan


(Komite partai, pegawai, pekerja ) (Para pejabat pemerintahan
)

Partai di elektorat
(identifer dan pemilih partai )
Gambar dibuat sendiri oleh Ahmad Robi Ulzikri

Pada konseptualisai V.O Key (1964;163-164) bahwa partai dibagai atas 3 bagian

1. Partai di Elektorat (parties in the electorat)


Fungsi partai menujuk pada penampilan partai politik dalam
menghubungkan individu dalam proses demokrasi. Terdapat 4 fungsi
partai yang termasuk dalam fungsi partai di elektorat.
a. Menyederhanakan pilihan bagi pemilih.
Partai politik membantu untuk membuat politik ‘user friendly’ bagi
warga negara.

b. Pendidikan warga negara.


Parati politik adalah mendidik , menginformasikan, dan membujuk
masyarakat untuk berperilaku tertentu.

c. Membangkitkan simbol identifikasi dan loyalitas.


Partai politik dapat dapat melestarikan dan menstabilkan pemerintahan
demokratis, menciptakan kesinambungan pilihan pemilih dari hasil
pemilu.

d. Mobilisasi rakyat untuk berpartisipasi


Partai politik memainkan peran penting dalam mendapatkan orang
untuk memilih dan berpartisipasi dalam proses pemilihan.

7
2. Fungsi partai sebagai organisasi
Fungsi ini menunjuk pada fungsi-fungsi melibatkan partai sebagai
organisasi politik, atau proses-proses didalam organisasi partai itu sendiri.
Terdapat 4 fungsi partai yang termasuk dalam fungsi partai ini.
a. Rekruitmen kepemimpinan politik dan mencari pejabat pemerintahan.
Partai politik aktif mencari, meneliti, dan mendisain kandidat yang
akan bersaing dalam pemilu.

b. Pelatihan elit Politik.


Partai politik melakukan pelatihan dan pembekalan terhadap elit yang
prospektif untuk mengisi jabatan-jabatan politik.

c. Pengartikulasian kepentingan politik.


Partai politik menyuarakan kepentingan-kepentingan pendukungnya
melalui pilihan posisi dalam berbagai isu politik dan dengan
mengekspresikan pandangan pendukungnya dalam proses
pemerintahan.

d. Pengagregasian kepentingan politik.


Paratai politik menggabungkan dan menyeleksi tuntutan kepentingan
dari berbagi kelompok sosial kedalam alternatif-alternatif kebijkan
atau program pemerintahan.

3. Fungsi Partai di pemerintahan


Pada arena ini, partai bermain dalam pengelolaan dan penstrukturan
persoalan-persoalan pemerintahan . Partai telah identik dengan sejumlah
aspek kunci proses demokratik. Terdapat 7 fungsi utama partai
dipemerinthan.
a. Menciptakan mayoritas pemerintahan.
Partai-partai yang memperoleh kursi di parlemendituntut untuk
menciptakan mayoritas politik agar dalam sistem parlementer, dapat

8
memnbentuk pemerintahan, atau dalam sistem residensil
mengefektifkan pemerintahan.

b. Pengorganisasian pemerintahan.
Partai politik menyediakan mekanisme untuk pengorganisasian
kepentingan dan menjamin kerjasama antara individu-individu
legislator.

c. Implementasi tujuan kebijakan


Partai politik adalah aktor sentral yang menentukan output kebijakan
pemerintahan.

d. Mengorganisasikan ketidak sepakatan dan oposisi.


Partasi oposisi mengembangkan alternatif kebijakn diluar kebijakan
yang ditempuh penguasa.

e. Menjamin tanggung jawab tindakan pemerintah.


Partai penguasa bertanggung jawab terhadap berbagai tindakan yang
dilakukan pemerintah.

f. Kontrol terhadap administrasi pemerintahan.


Partai ikut mengkontrol birokrasi pemerintahan.

g. Memperkuat stabilitas pemerintahan.


Fungsi partai untuk memperkuat stabilitas pemrintahan dan demokrasi.

9
Fungsi Partai Dalam Nrgara Demokrasi

Caton (2007: 7) dalam negara demokrasi dari berbagai fungsi partai politik yang
ada sebenarnya terdapat 4 (empat) fungsi sentral artai politik.

Tabel Fungsi Partai dalam Negara Demokrasi

Artikulasi Agregasi Rekruitmen


Pemerintahan Melaksanakan Melanggengkan Mengisi posisi-
Kebijakan dukungan kepada posisi
pemerintah pemerintahan
Oposisi Mengembangkan Mendapatkan Membangun
Alternatif dukungan untuk kelompok yang
perubahan kompeten

Pertama, fungsi artikulasi kepentingan, yaitu mengembangkan program-program


pemerintah yang konsisten.

Kedua, fungsi agregasi kepentingan, artinya memungut tuntutan masyarakat dan


membungkusnya.

Ketiiga, fungsi rekruitmen, yaitu menyeleksi dan melatih orang untuk posisi di
eksekutif dan legislatif

Keempat, Mengawasi dan mengontrol pemerintah.

Menurut Caton ketiga fungsi yang pertama yaitu artikulasi, agregasi, dan
rekruitmen, memainkan peran fundamental dimana partai politik bermain dalam
prosess politik. Yang artinya mereka membentuk pemerintahan atau mereka
menjadi oposisi. Sementara itu fungsi keempat, yaitu mengawasi dan mengontrol
pemerintah sesuai dengan sistem politik yang dianut suatu negara.

10