Anda di halaman 1dari 34

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas hasil dan pembahasan tentang asuhan
keperawatan pada pasien Cerebro Vasculler Accident dengan masalah konstipasi
di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.
4.1. Hasil
4.1.1. Gambaran Lokasi Pengambilan Data
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2018 di ruang Unit Stroke
di RS Panti Waluya Malang. Klien 1 berada di ruang unit stroke , yaitu bed
5 pada tanggal 16 – 19 Februari 2018. Pada saat pengkajian ruangan terisi
3 pasien dari 6 tempat tidur. Klien 2 berada di ruang unit stroke, yaitu bed
2 pada tanggal 18 – 20 Februari 2018 dan pada saat pengkajian ruangan
terisi 4 pasien dari 6 tempat tidur. Dan 2 privasi pasien tersebut terjaga
selama proses pengambilan data dan hingga pemberian Asuhan
Keperawatan.
4.1.2. Karateristik Partisipan
Tabel 4.1 Identitas Pasien
Identitas pasien Pasien 1 Pasien 2
Nama Tn. M Ny. L
Umur 76 tahun 51 tahun
Jenis kelamin Laki-laki Perempuan
Alamat Jl. S Ds.C
Agama Kristen Islam
Pendidikan SLTA SD
Pekerjaan Pensiunan Petani
Status pernikahan Menikah Menikah
Suku Bangsa Indonesia Indonesia
Tanggal MRS 13-2-2018 / 07:10 15-2-2018 / 23:00
Tanggal pengkajian 16-2-2018 / 13:00 18-2-2018 / 06:00
Diagnosa Medis CVA Infark Lakunar CVA Infark
Tabel 4.2 Identitas Penanggung Jawab
IDENTITAS SUAMI Klien 1 Klien 2
Nama Ny. A Tn. S
Umur 45 tahun 32 tahun
Agama Kristen Islam
Pendidikan Sarjana SLTP
Pekerjaan Guru Swasta
4.1.3. Data Asuhan Keperawatan
1. Data riwayat pasien
Tabel 4.3 Riwayat Penyakit
Riwayat
Pasien 1 Pasien 2
penyakit
Keluhan Klien mengatakan sudah tidak Pasien mengatakan perutnya
utama BAB selama 3 hari sejak MRS terasa penuh dan tidak BAB sejak
tanggal 13 Februari 2018 MRS tanggal 15 Februari 2018
Riwayat Klien mengatakan badannya Klien dan keluarga mengatakan
penyakit lemas dan mengeluh pusing pada tanggal 15 februari 2018 jam
sekarang berputar-putar sejak 11 10.00 mengalamai bicara belo dan
Februari 2018. Saat di rumah lemah separuh badan bagian
tanggal 13 Februari 2018 kanan. Klien dibawa ke RS jam
klien terjatuh di kamar mandi. 16.00 ke RS.SS kemuadian
Kemudian klien dibawa ke dirujuk ke RSPW. Di IGD RSPW
IGD RSPW oleh keluarganya. klien mengeluh bicara pelo dan
Saat di IGD klien mengeluh lemas pada badan kanan.
masih pusing berputar-putar di Keluarga mengatakan klien
sertai mual namun tidak memiliki riwayat hipertensi rutin
muntah. Keluarga mengatakan minum obat Captopril, tapi 3 hari
klien tidak pernah mengalami ini tidak minum obat dan pada
keadaan seperti ini bulan oktober 2017 klien juga
sebelumnya. Didapatkan data mengalami bicara pelo serta lemas
TD : 120/80 mmHg, nadi : separuh badan kemudian MRS di
68x/menit, RR : 20x/menit , klinik pakis setelah dirawat 1 hari
suhu: 37,3 0C. Di IGD klien sembuh. Didapatkan data di IGD
mendapatkan terapi 1 amp RSPW keadaab umum cukup ,
dipenhidramine, ondancentron GCS 456, TD: 210/110mmHg,
4mg, dan diberikan cairan Nadi: 120x/menit, RR: 20x/menit,
infus NS 20 tpm serta suhu: 36.70C, saturasi 02 96%
dilakukan pemeriksaan setelah dipasang 02 nasal kanul
laboratorium darah lengkap. saturasi 98%, GDA :190mg/dl.
Dokter menyarankan klien Di IGD di klien diberikan obat
untuk di rawat inap. Keluarga captopril (PO) 25mg, injeksi
memilih klien untuk dirawat di beclov 250 mg, dilakukan
rawat inap kelas 1 yaitu ruang pemasangan infus RL 16 tpm,
maria paviliun (MP) kamar pemeriksaan laboratorium DL,
47. CT-Scan kepala, foto thoraks.
Pada 13 februari 2018 jam Lalu oleh dokter di sarankan
11.30 diruangan MP dokter untuk MRS di Unit Stroke(US).
saraf melakukan visitasi dan Saat pengkajian klien sudah 3 hari
menyarankan untuk dilakukan di rawat di US dan klien
pemeriksaan MRI. mengatakan sudah tidak BAB
Hasil pemeriksaan MRI selama dirawat di RS. Klien
tanggal 13 Februari 2018 mengatakan terakhir BAB 1 hari
menunjukan: sebelum MRS tanggal 14 Februari
 Infark lacunar kronis di 2018. Saat pengkajian tanggal 18
putamen kiri Februari 2018 klien mengeluh
 Senile brain atropy perutnya terasa penuh. Pada
 Degenerasi fazekas II pemeriksaan abdomen bentuk
Saat tanggal 14 februari 2018 perut klien normal, bising usus:
jam 11.45 dokter saraf 4x/ menit, perut teraba sedikit
melakukan visitasi klien distended, tidak teraba massa
mengeluh sulit menelan, klien fekal, perkusi perut terdengar
disarankan dikter untuk dullness pada abdomen kuadran
dilakukan pemasangan NGT atas dan bawah. Data yang
serta klien disarankan untuk didapat saat pengkajian TD: 150/
pindah ke Unit stroke dan 85 mmHg, Nadi: 69x/menit, RR:
disetujui keluarga. 21x/menit, Suhu: 36,5 0C,
Saat pengkajian tanggal 16 terpasang oksigen nasal kanul
februari 2018 klien dengan saturasi 02 98%.
mengatakan keluhan pusing
berkurang, klien mengatakan
tidak bias BAB selama 3 hari
di rawat di RS , klien
mengatakan merasa ingin
BAB namun tidak bisa keluar,
klien juga merasakan
tubuhnya bagian kiri terasa
lemas. Istri klien mengatakan
bahwa klien terakhir BAB
tanggal 12 Februari 2018
sebelum dibawa ke rumah
sakit.
Didapatkan data saat
pengkajian tanggal 16
Februari 2018 pada
pemeriksaan abdomen
inspeksi abdomen normal,
auskultasi bising usus
3x/menit, pada perkusi
terdengar hipertimpani pada
kuadran atas abdomen dan
terdengar dullness pada
kuadran bawah abdomen,
palpasi tidak ada nyeri tekan
dan tidak teraba massa. Pada
tanda-tanda vital TD: 150/90
mmHg, Nadi: 72x/menit
Suhu: 36,50C, RR: 20x/menit
terpasang O2 nasal kanul 3
lpm dengan saturasi 02 99%.
Riwayat Keluarga klien mengatakan Keluarga mengatakan bahwa
penyakit bahwa klien mempunyai klien mempunyai riwayat
dahulu riwayat hipertensi selama 5 penyakit hipertensi 1 tahun
tahun dan penyakit diabetes terakhir namun menyangkal
mellitus selama 1 tahun adanya riwayat DM.Klien rutin
terakhir rutin kontrol dan minum obat Captopril 2x1.
minum obat Amlodipin 3x1 , Keluraga mengatakan bahwa
Metformin 2x1. Keluarga klien pernah dibawa ke klinik dan
mengatakan klien tidak pernah dirawat selama 1 hari lalu sembuh
mengalami serangan stroke karena serangan stroke 2 bulan
sebelumnya. yang lalu.

Riwayat Keluarga mengatakan bahwa Keluarga mengatakan bahwa klien


penyakit memiliki penyakit keturunan memiliki riwayat penyakit
keluarga yaitu hipertensi. Anggoata keturunan hipertensi dari Ibunya.
keluarga yang memiliki
riwayat hipertensi adalah ibu
dan 2 saudaranya.
2. Pola Konsep Diri
Tabel 4.4 persepsi diri
Persepsi diri Pasien 1 Pasien 2
Gambaran diri Pasien mengatakan sedikit Pasien mengatakan menyukai
cemas dengan anggota semua anggota tubuhnya karena
badannya karena tangan dan tubuhnya dapat melakukan
kaki kirinya lemas aktivtinya sehari-hari
Identitas diri Pasien dapat menyebutkan Pasien mengatakan beragama
identitas diri seperti nama, islam , dan dapat menyebutkan
tanggal lahir. tempat pasien tinggal saat ini.

Peran diri Pasien mengatakan sebagai Pasien mengatakan sebagai ibu


kepala keluarga semenjak rumah tangga yang melakukan
pasien sakit semua kegiatan kegiatan rumah tangga di bantu
dilakukan oleh istrinya. oleh anaknya juga di rumah klien
berusaha berperan sebagai ibu
yang baik
Ideal diri Pasien mengatakan Pasien mengatakan mempunyai
mempunyai harapan untuk harapan sebagai ibu dan nenek
bias segera pulih dan ingin yang baik buat anak dan cucunya
cepat pulang bisa berkumpul dan klien ingin segera pulih
bersama istrinya. pulang ke rumah berkumpul
dengan keluarga besar.

Harga diri Klien merasa diperlakukan Klien merasa diperlakukan


dengan baik oleh tenaga medis dengan baik oleh tenaga medis
yang ada di rumah sakit. yang ada di rumah sakit.

3. Perubahan pola kesehatan


Tabel 4.5 Pola Kesehatan
Pola kesehatan Pasien 1 Pasien 2
Pola Nutrisi
Di rumah Makan 3 x/hari (1 porsi Makan 2 x/hari (porsi makan
makan habis) nafsu makan cenderung sedikit)
baik Jenis makanan : nasi, lauk, sayur,
Jenis makanan : nasi, lauk, buah
sayur, buah Minum ± 2000 cc/ hari
Minum ± 1500-2500 cc/ hari Jenis minuman : air putih, the,
Jenis minuman : air putih, kopi.
teh, kopi. Ket : pola makan cenderung tidak
Ket : tidak ada masalah teratur, keluarga mengatakan klien
dalam pemenuhan nutrisi suka makan gorengan dan tidak
menjaga pola makannya setelah
dirasa sembuh dari sakitnya yang
lalu
Di rumah Sakit Makan 3 x/ hari (1 porsi Makan 3 x/hari (habis ½ porsi
makan habis) makan yang diberikan)
Jenis makan : sonde + TD 1 Jenis makan : sonde + TD 1 DM
DM 1900 kkal 1700kkal , agar-agar
Minum: ±1500cc/hari Minum: 800cc/hari
Jenis minuman : air putih, Jenis minuman : air putih, the, jus,
the, jus, air kacang hijau air kacang hijau
Ket:klien sulit menelan, Ket: klien sulit menelan ,
mual , terpasang NGT, klien terpasang NGT,klien
mampu menghabiskan 1 menghabiskan ¼ diit TD 1 yang
porsi diit TD 1. diberikan.

Pola kebersihan diri


Di rumah Mandi: 2 kali/ sehari Mandi: 2 kali/ sehari
Gosok gigi: 2 kali/ sehari Gosok gigi: 2 kali/ sehari
Keramas: 3x/minggu Keramas: 3x/minggu
Gunting kuku: tidak tentu Gunting kuku: tidak tentu saat
saat kuku panjang kuku panjang
Ket: tidak ada masalah Ket: tidak ada masalah
Di rumah Sakit Mandi: 2 kali/sehari (seka) Mandi: 2 kali/sehari (seka)
Gosok gigi: 2 kali/ sehari Gosok gigi: 2 kali/ sehari
Keramas: saat dikaji pasien Keramas: saat dikaji pasien
mengatakan belum keramas mengatakan belum keramas
Gunting kuku: selama di RS Gunting kuku: selama di RS klien
klien belum pernah gunting belum pernah gunting kuku, kuku
kuku, kuku dalam keadaan tampak sedikit panjang
pendek dan rapi. Ket: pemenuhan personal hygiene
Ket: pemenuhan personal klien di bantu sepenuhnya
hygiene klien di bantu
sepenuhnya
Pola eliminasi
Di rumah BAB : 1-2kali/sehari, BAB : 1x/hari konsistensi lembek
konsistensi lembek berwarna berwarna kuning kecoklatan.
kuning kecoklatan. BAK : ± 6-8 x/hari, berwarna
BAK: ± 5-7 x / hari,
kuning jernih
berwarna kuning jernih.
Ket: tidak ada Ket: tidak ada
Di rumah Sakit BAB : selama di RS klien BAB : selama di RS klien belum
belum BAB BAB
BAK : 1350 cc/hari, BAK : 1100 cc/hari, berwarna
berwarna kuning kuning jernih
Ket : terpasang cateter Ket : terpasang cateter ukuran 16
ukuran 10
Pola aktivitas
Di rumah Klien mengatakan saat Aktivitas klien sehari-hari adalah
dirumah klien melakukan mengerjakan pekerjaan rumah
semua aktivitasnya sendiri tangga dan bertani.
klien memiliki kesibukan
membuat kerajinan patung
Di rumah Sakit Klien hanya bisa beristirahat Klien hanya bisa beristirahat dan
dan melakukan aktivitasnya melakukan aktivitasnya diatas
diatas tempat tidur seperti tempat tidur seperti miring kanan
menekuk kaki kanannya dan kiri serta mengangkat kaki
sendiri, miring masih di kiri.
bantu.
Pola istirahat tidur
Di rumah Tidur siang: biasanya klien Tidur siang : biasanya klien tidur
tidur siang 1 jam pada jam 2 jam mulai jam 10.00 – 12.00
13.00 Tidur malam : ± 6 jam , pada
Tidur malam: ±5 jam , klien 22.00-04.00
biasa tidur jam 22.00 Ket : klien mengatakan tidak ada
Keterangan: klien saat di masalah tidur
rumah kadang sulit tidur,
saat sudah terbangun sulit
untuk tidur kembali.

Di rumah Sakit Tidur siang : jam 13.00- Tidur siang : jam 12.00-15.00
15.00 Tidur malam :
Tidur malam: Ket : klien alami sulit tidur pada
Ket : klien mengatakan sulit 2hari dirawat di RS.
tidur saat malam hari

4. Pemeriksaan Fisik
Tabel 4.6 Pemeriksaan Fisik
Observasi Pasien 1 Pasien 2
Keadaan umum Lemas Cukup
Kesadaran Composmentis Composmentis
GCS 4-5-6 4-5-6
TD 120/80 mmHg 150/ 85 mmHg
Nadi 68x/menit 69x/menit
Suhu 37,3 0C 36,5 0C
Respirasi 20x/menit 21x/menit
Sat O2 99% 98%
Pemeriksaan Kulit Inspeksi: Inspeksi:
dan Kuku Warna kulit: persebaran Kulit berwarna sawo matang,
warna kulit merata, tidak persebaran warna kulit merata,
ada lesi, kuku tampak kuku sedikit panjang.
pendek, Palpasi:
Palpasi: Kondisi kulit : lembab
Kondisi kulit: lembab Piting edema < 2 detik
Piting edema < 2 detik CRT : < 2 detik
CRT : < 2 detik

Pemeriksaan Inspeksi: Inspeksi:


Kepala Bentuk kepala: Bentuk kepala: Normochepal
Normochepal Rambut: persebaran warna
Rambut: warna rambut rambut merata.
sedikit beruban, bersebaran Kondisi kepala sedikit kotor dan
rambut merata. lembab, tidak terdapat lesi.
Kondisi kepala bersih, Palpasi: tidak ada nyeri tekan
tidak terdapat lesi. Ket: tidak ada masalah
Palpasi: tidak ada nyeri
tekan
Ket: tidak ada masalah
Pemeriksaan Mata Inspeksi: Inspeksi:
Mata simetris kanan dan Mata simetris kanan dan kiri,
kiri,penyebaran bulu mata penyebaran bulu mata merata,
merata, pupil isokor (+/+), persebaran alis merata, skelera
skelera berwarna putih berwarna putih kekuningan,
kekuningan, konjungtiva konjungtiva merah muda
merah muda Palpasi:
Palpasi: Tidak terdapat nyeri tekan.
Tidak terdapat nyeri tekan.
Pemeriksaan Inspeksi: Inspeksi:
Hidung Tepat berada ditengah, Persebaran warna kulit merata,
tidak terdapat secret, Tepat berada ditengah, tidak
persebaran warna kulit terdapat secret. Klien terpasang
merata, tidak ada bekas nasal canul 3 lpm dan NGT.
luka, terpasang NGT dan Palpasi:
nasal kanul 3 lpm Tidak terdapat nyeri tekan.
Palpasi: Ket: tidak ada masalah
Tidak terdapat nyeri tekan.
Ket: tidak ada masalah
Pemeriksaan Inspeksi: Inspeksi:
Telinga Daun telinga: simetris Daun telinga: simetris kanan
kanan dan kiri dan kiri
Kondisi lubang telinga: Kondisi lubang telinga: bersih,
bersih, tidak terdapat tidak terdapat serumen,
serumen, membrane membrane timpani utuh.
timpani utuh. Palpasi:
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan.
Tidak ada nyeri tekan.
Ket: pendengaran klien
menurun
Pemeriksaan Mulut Inspeksi: Inspeksi: Mukosa bibir lembab,
Mukosa bibir kering, lidah uvula tempat berada ditengah,
tampak berwarna putih lidah tampak berwarna putih
kotor. kotor,.
Pemeriksaan Leher Inpeksi: Inpeksi:
Kondisi kulit: bersih,, tidak Kondisi kulit: bersih, tidak ada
ada lesi. lesi
Palpasi: Palpasi:
Kalenjer tiroid: tidak ada Kalenjer tiroid: tidak ada
pembesaran kalenjer tiroid. pembesaran kalenjer tiroid.
Vena jugularis: tidak ada Vena jugularis: tidak ada
pembesaran vena jugularis. pembesaran vena jugularis.
Trakea: tidak ada deviasi Trakea: tidak ada deviasi trakea
trakea Kalenjer limfe: tidak teraba
Kalenjer limfe: tidak teraba pembesaran kalenjer limfe.
pembesaran kalenjer limfe. Ket: tidak ada masalah.
Ket: tidak ada masalah.

Pemeriksaan Inspeksi: Inspeksi:


Thorax Dada: simetris, pergerakan Dada: simetris, pergerakan
dinding dada simetris, tidak dinding dada simetris, tidak
terdapat bekas luka, tidak terdapat bekas luka, persebaran
ada lesi. warna kulit merata.
Palpasi: vocal fremitus Palpasi: vocal fremitus kurang
teraba kuat bergetar pada bagian belakang
Perkusi : terdngar sonor kanan dan kiri
pada ics 1-5 dekstra dan ics Perkusi : terdngar sonor pada
1-3 sinistra ics 1-5 dekstra dan ics 1-3
Auskultasi: vesikuler, tidak sinistra
ada suara nafas tambahan Auskultasi: vesikuler, tidak ada
suara nafas tambahan
Pemeriksaan Inspeksi: bentuk perut Inspeksi: Bentuk abdomen
Abdomen normal, tidak ada lesi , normal, tidak ada lesi,tidak ada
persebaran warna kulit bekas operasi atau luka, perut
merata membesar
Auskultasi: Bising usus Auskultasi: Terdengar bising
3x/menit usus 4 x/menit
Palpasi: tidak terdapat nyeri Palpasi: tidak ada nyeri tekan
tekan abdomen, tidak dibagian abdomen, tidak teraba
terdapat benjolan. massa.
Perkusi: terdengar Perkusi : terdengar shifting
hipertimpani di bagian dullness pada abdomen
kuadaran kanan dan kiri kuadaran kiri bawah.
atas, dan shifting dullness
di bagian kuadran kanan
dan kiri bawah abdomen
Pemeriksaan Terpasang kateter ukuran Terpasang kateter ukuran 16,
Genetalia 10, kondisi genetalia kondisi genetalia bersih.
bersih.
Pemeriksaan Inspeksi: Inpeksi:
Muskoloskeletal Simetris ekstermitas atas Simetris ekstermitas atas dan
dan bawah, tidak terdapat bawah, tidak terdapat lesi
lesi (bekas luka) pada (bekas luka) pada ektermitas
ektermitas atas dan bawah. atas dan bawah.
Palpasi: Palpasi:
Tidak terdapat nyeri tekan Tidak terdapat nyeri tekan pada
pada ekstermitas atas dan ekstermitas atas dan bawah,
bawah, ektremitas atas dan tidak ada petting edema
bawah , tidak ada petting Kekuatan otot:
edema 4 5
Kekuatan otot:
5 4 4 5

5 4
Keterangan:
Kekuatan otot sedikit berkurang
Keterangan:
Kekuatan otot sedikit
berkurang
Pengkajian saraf kranial
Nervus

N I (Olfactorius) Klien mampu mengenali Klien mampu mengenali bau


bau minyak kayu putih, dan minyak kayu putih, dan
parfum : daya cium baik parfum : daya cium baik
(normosmi) (normosmi)
N II (Optikus) Klien mengalami Klien mampu membaca dengan
penurunan pengelihatan. jelas kartu yang berisi tulisan.
Klien seharusnya
menggunakan kaca mata.
Klien mampu melihat dan
menghitung gerakan jari
serta mampu melihat
cahaya dengan baik.
N III,IV & VI Kelopak mata normal, Kelopak mata normal, diameter
(okulomotorikus, diameter pupil 2mm pupil 2mm isokor,reflek cahaya
troklearis, abdusen) isokor,reflek cahaya +/+, +/+, bola mata klien mampu
bola mata klien mampu mengikuti arah gerak jari
mengikuti arah gerak jari pemeriksa kearah atas, bawah,
pemeriksa kearah atas, kanan, kiri, serta diagonal.
bawah, kanan, kiri, serta
diagonal.

N V (trigeminus) Saat pemeriksaan Saat pemeriksaan membuka


membuka rahang simetris, rahang klien miring ke arah kiri,
klien mampu meutup mulut klien mampu meutup mulut
dengan baik, klien mampu dengan baik, klien mampu
menunjukan bagian mana menunjukan bagian mana yang
yang disentuh pemeriksa disentuh pemeriksa dengan
dengan mata menutup mata menutup
N VII (fasialis) Wajah simetris, senyum Wajah simetris, senyum klien
klien mendatar pada sisi mendatar pada sisi kiri, klien
kanan, klien mampu mampu menutup kedua mata
menutup kedua mata dengan rapat,
dengan rapat,
N VIII Pendengaran menurun Pendengaran normal
(vestibulokoklearis) klien tidak mampu
mendengar suara bisikan.
N IX & X Klien kesulitan untuk Klien kesulitan untuk menelan,
(glosofaringeus , menelan, klien mampu klien mengalami penurunan
vagus) membedakan rasa asin dan kekuatan mengecap, klien
manis, mampu membedakan rasa asin
dan manis,
N XI (aksesorius) Klien mampu menoleh ke Klien mengalami sedikit kaku
arah kanan dan kiri, klien saat menoleh kearah kanan dan
mampu mengangkat kedua kiri, klien mampu mengangkat
bahu dan diberi sedikit kedua bahu namun sedikit
tahanan lemah pada bahu kanan.
N XII (hipoglosus) Klien mampu menjulurkan, Klien mampu menjulurkan,
menarik dan mengangkat menarik dan mengangkat lidah,
lidah, saat menjulurkan saat menjulurkan lidah sedikit
lidah sedikit cenderung cenderung kearah kanan
kearah kiri.
Pengkajian sistem Hemiparesis sisi kiri, kaki Hemiparesis sisi kanan, klien
motoric kiri klien kaku saat mampu menganggakat semua
digerakkan, klien mampu anggota geraknya, namun
mengangkat tangan kiri tangan dan kaki kanan tidak
namun tidak kuat terhadap kuat terhadap tahanan.
tahanan, klien sulit untuk
mengangakt kaki kiri.
Pengkajian sistem Klien mampu merasakan Klien mampu merasakan
sensorik adanya goresan dari benda adanya goresan dari benda
tajam dan benda tumpul, tajam dan benda tumpul, saat
saat menutup mata klien menutup mata klien mampu
mampu merasakan saat merasakan saat jarinya
jarinya digerakan dan digerakan dan mampu
mampu menyebutkan arah menyebutkan arah geraknya.
geraknya.

5. Pemeriksaan Penunjang
Tabel 4.7 Pemeriksaan penunjang pasien 1 pada tanggal 13 februari 2018
Pemeriksaan Hasil klien 1 Normal
Hematologi
Darah lengkap
Jumlah leukosit 11.45 4-11 10^3/ul
Jumlah eritrosit 4.72 4.5-5.5 10^6/ul
Hemoglobin 14.4 13-17 g/dl
Hematokrit 40 40-50%
Jumlah trombosit 269 150-400 10^3/ul
Hitung jenis
Neutrophil 82.4 50-70%
Limfosit 7.7 20-40%
Monosit 9.4 2-8%
Eosinophil 0.1 1-3%
Basophil 0.4 0-1%
Jumlah Neutrophil 9.4 1.5-7 10^3/ul
Jumlah Limfosit 0.9 1-3.7 10^3/ul
Jumlah Monosit 1.08 0.16-1 10^3/ul
Jumlah Eosinophil 0.0 0-0.8 10^3/ul
Jumlah Basophil 0.1 0.0.2 10^3/ul
Faal ginjal
Ureum 34.9 18-55 mg/dl
BUN 16.3 10-20 mg/dl
Kreatinin 1.05 <1.2 mg/dl
Asam urat 5.7 3.6-8.2 mg/dl
Faal hepar
SGOT 14 0-37 U/L
SGPT 12 0-41 U/L
Gula
HbA1c 7.6 ≤6.5%
Lemak
Kolestrol total 130 <200 mg/dl
Trigliserida 104 <150 mg/dl
Kolestrol HDL 29 >40 mg/dl
Kolestrol LDL 83 <100 mmg/dl
Elektrolit
Kalsium 2.08 2-2.6 mmol/L
SE
Natrium 133 135-145 mEq/L
Kalium 3.02 3.5-5.5 mEq/L
Klorida 106 94-110 mEq/L
MRI Brain MRI tanpa kontras potongan axial, 10agittal, coronal,
T1W1, T2W1 dan FLAIR, hasil sbb:
- Tampak lesi hipotens pada T1W1 dan FLAIR, hipertens
pada T2W1 di putamen kiri
- Cortical sulci, fissure sylvii melebar dan gyri prominent
- System ventrikel dan sisterna melebar, lesi hipertens
periventrikel pada FLAIRtak tampak deviasi midline
- Infratentorial : pons cerebellum dan kedua CPA normal
- Sella dan parasella normal
- Mastoid – orbita- cavum nasi – dan sinus paranasalis
normal
Kesimpulan
- Infark Lacunar kronis di putamen kiri
- Senile brain atrophy
- Degenerasi fazekas II

Tabel 4.8 Pemeriksaan penunjang pasien 2 pada tanggal 16 februari 2018


Pemeriksaan Hasil klien 1 Normal
Hematologi
Darah lengkap
Jumlah leukosit 9.32 4-11 10^3/ul
Jumlah eritrosit 4.84 4.5-5.5 10^6/ul
Hemoglobin 13.7 13-17 g/dl
Hematokrit 45 40-50%
Jumlah trombosit 248 150-400 10^3/ul
Hitung jenis
Neutrophil 74.2 50-70%
Limfosit 18 20-40%
Monosit 7.6 2-8%
Eosinophil 0.8 1-3%
Basophil 0.6 0-1%
Jumlah Neutrophil 6.3 1.5-7 10^3/ul
Jumlah Limfosit 0.9 1-3.7 10^3/ul
Jumlah Monosit 0.6 0.16-1 10^3/ul
Jumlah Eosinophil 0.0 0-0.8 10^3/ul
Jumlah Basophil 0.0 0-0.2 10^3/ul
Faal ginjal
Ureum 32.8 18-55 mg/dl
Kreatinin 0.9 <1.2 mg/dl
Asam urat 3.2 2.3-6.1 mg/dl
Gula
GDP 213 60-100 mg/dl
GD 2 Jam PP 274 <130 mg/dl
Lemak
Kolestrol total 314 <200 mg/dl
Trigliserida 114 <150 mg/dl
Kolestrol HDL 54 >40 mg/dl
Kolestrol LDL 256 <100 mmg/dl
SE
Natrium 136 135-145 mEq/L
Kalium 3.54 3.5-5.5 mEq/L
Klorida 103 94-110 mEq/L
CT SCAN CT SCAN kepala tanpa kontras, brain window, potongan
KEPALA axial, hasil sbb:
- Tampak lesi hypodense di nucleus lentiformis kanan kiri
dan corona radiate kanan
- Cortical sulci, fisura sylvii dan gyri normal
- System ventrikel dan sisterna normal
- Tak tampak deviasi midline
- Infratentorial : pons,cerebellum dan kedua CPA normal
Kesimpulan:
- Infark subacut di nucleus lentiformis kanan kiri dan
corona radiate kanan
Foto thorax COR: Bentuk dan ukuran membesar
PULMO : tak tampak infiltrat proses
Corakan bronchovascular normal
Sinus dan diapragma normal

6. Terapi obat
Tabel 4.9 Terapi Obat Pasien 1
Nama obat Dosis Waktu Pemberian Fungsi obat
Neurosanbe 5000 1x1 amp IV Mengobati pada kelainan saraf
Neucity 500 mg 3x1 amp IV Perawatan peningkatan fungsi
neurologis pada pasien stroke
iskemik
Lapibal 500mg 3x1 amp IV Pengobatan gangguan saraf
perifer
Thidim 1 gram 2x1 vial IV Untuk perawatan infeksi
Topazol 3x1 vial IV Untuk mengobati tukak
/esofer lambung/usus dan refluks
esophagitis sedang-berat
Neurochol ½ tab 2x ½ tab PO Untuk suplementasi funsi otak
KSR 3x1 tab PO Untuk perawatan kekurangan
kalium
Clopidogrel 75 mg 1x1 tab PO Untuk menyembuhkan
aterotrombosis
Frixitas 0,5 mg 0-0-1 tab PO Untuk obat penenang

Tabel 4.10 Terapi Obat Pasien 2


Nama obat Dosis Waktu Pemberian Fungsi obat
Citicolin 250 mg 3x1 amp IV Untuk mengurangi kerusakan
jaringan otak
Clopidogrel 75 mg 0-0-1 tab PO Untuk menyembuhkan
aterotrombosis
Amlodipine 10 mg 1x1 tab PO Untuk menurunkan tekanan
darah tinggi
Betablok 50 mg 0-0-1 cap PO Untuk menurunkan tekanan
darah tinggi
Atorvastatin 20 mg 0-0-1 tab PO Untuk menurunkan adar
kolestrol tubuh
Metformin 500 mg 3x1 tab PO Untuk obat antidiabetik yang
dapat menurunkan kadar gula
darah
Lactulac 10 cc 3x10cc PO Untuk pengobatan konstipasi
Clobazam 10 mg k/p 1x1 PO Untuk mengatasi keadaan
tab ansietas

7. Analisa data
Tabel 4.11 analisa data

Penurunan
peristaltik usus

Penurunan
motalitas usus
Gangguan
pasase feses

Feses lama dikolon


alami reabsorbsi
air banyak

Konstipasi
Analisa data Etiologi Masalah
Klien1
DS : Stroke Konstipasi
- Istri klien mengatakan
klien terakhir BAB
sebelum dibawa ke RS
Defisit neurologis
pada tanggal 12 februari
2018 Disfungsi N.XI(assesorius)
- Keluarga klien
mengatakan klien tidak Kehilangan control volunter
BAB selama 3 hari di RS
- Klien mengatakan ingin Kelemahan anggota gerak
BAB namun tidak bisa
keluar
Kelemahan otot pelvis
- Klien mengatakan
badannya terasa lemas
pada bagian kiri Penurunan peristaltic usus
- Klien mengatakan
kebiasaan setiap hari rutin Penurunan motalitas usus
BAB
- Klien mengeluh mual Gangguan pasase feses

DO :
K/U lemah Feses lama dikolon alami
- Bentuk abdomen normal reabsorbsi air banyak
- Bising usus 3x/ menit
- Tidak teraba massa feses KONSTIIPASI
pada inguinalis kiri
- Perkusi perut kuadran atas
terdengar hipertimpani
- Dan perut kuadran bawah
dullness
- Klien mengalami kesulitan
menelan
- Klien mengkonsumi diit
cair TD 1 + sonde
- Klien menghabiskan 1
porsi makanan yang
diberikan
- Klien terpasang NGT
- Klien mengalami
hemiparese anggota gerak
kiri.
- Kekuatan otot

5 4

5 4

Klien 2
DS : Stroke Konstipasi
- Istri klien mengatakan
klien terakhir BAB Defisit neurologis
sebelum dibawa ke RS
pada tanggal 12 februari
2018 Disfungsi N.XI(assesorius)
- Keluarga klien
mengatakan klien tidak Kehilangan control volunter
BAB selama 3 hari di RS
- Klien mengatakan ingin Kelemahan anggota gerak
BAB namun tidak bisa
keluar Kelemahan otot pelvis
- Klien mengatakan
badannya terasa lemas
pada bagian kiri Penurunan peristaltic usus
- Klien mengatakan
5 4kebiasaan setiap hari rutin Feses lama dikolon
Penurunan motalitasalami
usus
BAB reabsorbsi air banyak
5 -4 Klien mengeluh mual Gangguan pasase feses
KONSTIIPASI
\

8. Diagnosa keperawatan
Tanggal Diagnosa Keperawatan

Pasien 1
16 Februari 2018 Konstipasi berhubungan dengan menurunnya
aktivitas fisik
Pasien 2
18 februari 2018 Konstipasi berhubungan dengan menurunnya
aktivitas fisik

9. Intervensi keperawatan
Tabel 4.13 intervensi keperawatan klien 1
Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
keperawatan Hasil
Pasien 1
Konstipasi Tujuan jangka 1) Kaji pola buang 1) Dengan
berhubungan panjang: air besar, mengkaji pola
dengan Setelah diberikan termasuk waktu, eliminasi dapat
menurunnya asuhan keperawatan jumlah dan diketahui
aktivitas fisik selama 3x24 jam frekuensi tinja, berbagai
klien mampu riwayat kebiasaan penyebab dari
memenuhi buang air besar konstipasi
kebutuhan atau penggunaan
eleminasi alvi pencahar, diet,
Tujuan jangka termasuk serat,
pendek: dan asupan cairan
Setelah diberikan 2) Kaji keadaan 2) Bising usus
asuhan keperawatan bising usus klien refleksi dari
selama 1x24 klien peristaltik usus.
mampu Peristaltik usus
meningkatkan yang lambat
aktivitas fisiknya. menyebabkan
Kriteria hasil : konstipasi
1) Klien dapat karena
defekasi dengan penyerapan air
teratur setiap 1- di usus lebih
3 hari banyak
2) Klien dapat 3) Berikan 3) Dengan
defekasi secara penjelasan pada diberikan KIE
spontan dan klien dan klien dan
lancar tanpa keluarga tentang kerluarga
menggunakan penyebab mengerti
obat laksatif konstipasi tentang
3) Klien bebas penyebab
dari konstipasi
ketidaknyaman 4) Ajarkan 4) Dengan latihan
an saat defekasi keluarga gerak secara
4) Bising usus gerakan ROM rutin dapat
normal dan dorong mengontraksi
(5-30x/menit) keluarga untuk otot abdomen
5) Klien dan membantu klien sehingga
keluarga latihan gerak motalitas usus
mampu mengubah posisi meningkat
mengidentifikas di tempat tidur,
i indikator mengangkat
untuk pinggul tempat
mencegah tidur, melakukan
konstipasi serangkaian
6) Aktivitas latihan gerak,
anggota gerak secara
tubuh bergantian
meningkat mengangkat
setiap lutut ke
dada
5) Anjurkan pada 5) Dengan diet
klien dan seimbang tinggi
keluarga agar kandungan serat
klien makan merangsang
makanan yang peristaltik dan
mengandung eliminasi
serat seperti regular
buah dan sayur
sejumlah 400-
600gr/hari
6) Berikan asupan 6) Dengan
cairan air putih masukan cairan
hangat 500 ml adekuat
tiap pagi / 1,5 – membantu
2L per hari jika mempertahan-
tidak ada kan konsistensi
kontraindikasi. feses yang
sesuai pada
usus dan
membantu
eliminasi
regular
7) Berikan latihan 7) Dengan latihan
ROM pasif ROM pasif otot
seperti mem- abdomen akan
fleksikan kaki berkontraksi
kearah dada sehingga
secara motalitas usus
bergantian meningkat
8) Lakukan 8) Dengan miring
mobilisasi kanan dan
miring kanan miring kiri
dan miring kiri membantu
eliminasi
dengan
memperbaiki
tonus otot
abdomen dan
merangsang
nafsu makan
serta peristaltik
9) Berikan privasi 9) Dengan
pada saat klien memberikan
BAB privasi klien
merasa tenang
saat melakukan
defekasi

10) Bantu klien 10)Dengan


untuk membiasakan
membiasakan BAB secara
melakukan teratur dengan
eliminasi (BAB) waktu yang
secara teratur 30 sama pola
menit sesudah eliminasi akan
sarapan/makan kembali
reguler/normal
secara
signifikan lebih
cepat
11) Kolaborasi 11) Dengan
dengan tim pemberian
dokter dalam pelunak feses
pemberian meningkatkan
pelunak feses efisiensi
(laksatif, pembasahan air
supositoria, usus, yang
enema) melunakaan
massa feses dan
membantu
eliminasi.
Dengan
observasi
penumpukan
feses dapat
diidentifikasi
adanya massa
pada rectum
atau kolon
asenden
12) Observasi suara 12)Dengan
bising usus, pemeriksaan
perkusi lapang pada abdomen
abdomen, dapat
adanya massa mengetahui
feses pada efektifitas
abdomen bagian intervensi
kiri bawah, terhadap
konstipasi
13) Observasi 13)Dengan skala
dengan skala feses bristol
feses bristol banyak
untuk menilai digunakan
konsistensi tinja sebagai ukuran
yang lebih
obyektif untuk
menggambarka
n konsistensi
tinja yang
menggambarka
n kondisi
konstipasi

Tabel 4.14 intervensi keperawatan klien 2


Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
keperawatan Hasil
Pasien 1
Konstipasi Tujuan jangka 1) Kaji pola buang 1) Dengan
berhubungan panjang: air besar, mengkaji pola
dengan Setelah diberikan termasuk waktu, eliminasi
menurunnya asuhan keperawatan jumlah dan dapat
aktivitas fisik selama 3x24 jam frekuensi tinja, diketahui
klien mampu riwayat kebiasaan berbagai
memenuhi buang air besar penyebab dari
kebutuhan atau penggunaan konstipasi
eleminasi alvi pencahar, diet,
Tujuan jangka termasuk serat,
pendek: dan asupan cairan
Setelah diberikan 2) Kaji keadaan 2) Bising usus
asuhan keperawatan bising usus klien refleksi dari
selama 1x24 klien peristaltik
mampu usus.
meningkatkan Peristaltik
aktivitas fisiknya. usus yang
Kriteria hasil : lambat
1. Klien dapat menyebabkan
defekasi dengan konstipasi
teratur setiap 1-3 karena
hari penyerapan air
2. Klien dapat di usus lebih
defekasi secara banyak
spontan dan 3) Berikan 3) Dengan
lancar tanpa penjelasan pada meberikan
menggunakan klien dan KIE klien dan
obat laksatif keluarga tentang kerluarga
3. Klien bebas dari penyebab mengerti
ketidaknyamana konstipasi tentang
n saat defekasi penyebab
4. Bising usus konstipasi
normal (5- 4) Ajarkan keluarga 4) Dengan
30x/menit) gerakan ROM latihan gerak
5. Klien dan dan dorong secara rutin
keluarga mampu keluarga untuk dapat
mengidentifikasi membantu klien mengontraksi
indikator untuk latihan gerak otot abdomen
mencegah mengubah posisi sehingga
konstipasi di tempat tidur, motalitas usus
6. Aktivitas mengangkat meningkat
anggota gerak pinggul tempat
tubuh meningkat tidur, melakukan
serangkaian
latihan gerak,
secara bergantian
mengangkat
setiap lutut ke
dada
5) Anjurkan pada 5) Dengan diet
klien dan seimbang
keluarga agar tinggi
klien makan kandungan
makanan yang serat
mengandung merangsang
serat seperti buah peristaltik dan
dan sayur eliminasi
sejumlah 400- regular
600gr/hari
6) Berikan asupan 6) Dengan
cairan air putih masukan
hangat 500 ml cairan adekuat
tiap pagi / 1,5 – membantu
2L per hari jika mempertahan-
tidak ada kan
kontraindikasi. konsistensi
feses yang
sesuai pada
usus dan
membantu
eliminasi
regular
7) Berikan latihan 7) Dengan
ROM pasif latihan ROM
seperti mem- pasif otot
fleksikan kaki abdomen akan
kearah dada berkontraksi
secara bergantian sehingga
motalitas usus
meningkat
8) Lakukan 8) Dengan miring
mobilisasi miring kanan dan
kanan dan miring miring kiri
kiri membantu
eliminasi
dengan
memperbaiki
tonus otot
abdomen dan
merangsang
nafsu makan
serta
peristaltik
9) Berikan privasi 9) Dengan
pada saat klien memberikan
BAB privasi klien
merasa tenang
saat
melakukan
defekasi
10) Bantu klien untuk 10) Dengan
membiasakan membiasakan
melakukan BAB secara
eliminasi (BAB) teratur dengan
secara teratur 30 waktu yang
menit sesudah sama pola
sarapan/makan eliminasi akan
kembali
reguler/normal
secara
signifikan
lebih cepat
11) Kolaborasi 11) Dengan
dengan tim pemberian
dokter dalam pelunak feses
pemberian meningkatkan
pelunak feses efisiensi
(laksatif, pembasahan
supositoria, air usus, yang
enema) melunakaan
massa feses
dan membantu
eliminasi.
Dengan
observasi
penumpukan
feses dapat
diidentifikasi
adanya massa
pada rectum
atau kolon
asenden
12) Observasi suara 12) Dengan
bising usus, pemeriksaan
perkusi lapang pada abdomen
abdomen, adanya dapat
massa feses pada mengetahui
abdomen bagian efektifitas
kiri bawah, intervensi
terhadap
konstipasi
13) Observasi dengan 13) Dengan skala
skala feses bristol feses bristol
untuk menilai banyak
konsistensi tinja digunakan
sebagai ukuran
yang lebih
obyektif untuk
menggambark
an konsistensi
tinja yang
menggambark
an kondisi
konstipasi
10. Implementasi Keperawatan

Tabel 4.15 implementasi keperawatan


Dx
Hari 1 Hari 2 Hari 3
Keperawatan
Klien 1 17 februari 2018 18 februari 2018 19 februari 2018
Konstipasi 07.00 - Memberikan minum air 06.30 - Menyuapi klien makan TD1 06.30 - Menyuapi klien makan TD1
berhubungan hangat per NGT 300 cc - Memberikan minum air - Memberikan minum air
dengan - Mengatur posisi tubuh klien hangat per NGT 500 cc hangat per NGT 500 cc
menurunnya miring ke kanan 07.00 - Mengatur posisi tubuh klien 07.00 - Mengatur posisi tubuh klien
aktivitas fisik 08.00 - Melakukan wawancara miring ke kanan miring ke kanan
tentang pola eliminasi dan - Menanyakan keluhan klien - Menanyakan keluhan klien
pola nutrisi pada klien dan ingin BAB ingin BAB
keluarga - Memeriksa bising usus klien - Memeriksa bising usus klien
- Memeriksa bising usus klien 09.00 - Memberikan minum teh 09.00 - Memberikan minum air
09.00 - Memberikan minum air hangat per NGT 200 cc kacang hijau hangat per NGT
hangat per NGT 200 cc 10.00 - Memberikan latihan ROM 200 cc
10.00 - Menginformasikan pada pasif kaki 10.00 - Memberikan latihan ROM
klien dan keluarga penyebab - Memeriksa bising usus klien pasif kaki
konstipasi yang dialami 11.00 - Mengubah posisi tubuh - Memeriksa bising usus klien
klien klien miring ke kiri 11.00 - Mengubah posisi tubuh klien
- Menginformasikan pada - Membantu klien minum air miring ke kiri
keluarga dan klien kacang hijau hangat 200 cc - Membantu klien minum jus
pentingnya konsumi per oral dan per NGT jambu biji 200 cc per oral dan
makanan mengandung serat 12.00 - Membantu klien makan per NGT
tinggi dan minum banyak bubur TD 1 12.00 - Membantu klien makan bubur
air putih pada klien yang - Memberikan air putih TD 1
mengalami konstipasi hangat 200cc per oral - Memberikan air putih hangat
- Mengajarkan keluarga 14.30 - Meberikan latihan ROM 200cc per oral
tentang gerakan ROM pasif pasif kaki fleksi ekstensi ke 14.30 - Meberikan latihan ROM pasif
dan menyarankan keluarga arah abdomen kaki fleksi ekstensi ke arah
untuk membantu melakukan - Memeriksa suara bising abdomen
gerakan ROM pada pasien usus klien - Memeriksa suara bising usus
- Memberikan latihan ROM 15.00 - Membantu klien BAB klien
pasif kaki - Memberikan klien privasi 15.00 - Membantu klien BAB
- Memeriksa suara bising dengan menutup tirai - Memberikan klien privasi
usus klien selama BAB dengan menutup tirai selama
11.00 - Mengubah posisi tubuh - Membantu klien mandi BAB
klien miring ke kiri diatas tempat tidur - Membantu klien mandi diatas
- Membantu klien minum jus - Membantu klien mengubah tempat tidur
jambu biji 200 cc per oral posisi tubuh miring ke - Membantu klien mengubah
dan per NGT kanan posisi tubuh miring ke kanan
12.00 - Membantu klien makan - Melakukan dokumentasi - Melakukan dokumentasi
bubur TD 1 tentang keadaan pasien tentang keadaan pasien
- Memberikan air putih
hangat 200cc per oral
14.30 - Meberikan latihan ROM
pasif kaki fleksi ekstensi ke
arah abdomen
- Memeriksa suara bising
usus klien
15.00 - Membantu klien BAB
- Memberikan klien privasi
dengan menutup tirai
11. Evaluasi Keperawatan

Tabel 4.16 Evaluasi keperawatan

Diagnosa Keperawatan Hari 1 Hari 2 Hari 3


Klien 1
Konstipasi berhubungan S: S: S:
dengan menurunnya - Klien mengatakan tadi pagi jam 08.00 - Klien mengatakan sudah terasa ingin - Klien mengatakan bisa BAB dengan
aktivitas fisik terasa ingin BAB tapi tidak bisa keluar BAB dan bisa keluar 1 x lancar 1x
- Klien mengatakan masih belum bisa - Klien mengatakan masih sedikit - Klien mengatakan masih sedikit
BAB kesulitan untuk menela dan saat minum kesulitan menelan
- Klien mengatakan sudah tidak terasa masih tersedak
mual - Klien mengatakan anggota gerak O:
- Klien mengatakan masih kesulitan kirinya masih terasa lemas - K/U cukup
untuk menelan - Kesadaran composmentis
- Klien mengatakan anggota gerak - GCS 456
kirinya masih terasa lemas O: - TTV
- Klien dan keluarga klien mengatakan - K/U cukup TD: 160/80 mmHg
paham tentang penyebab konstipasi, - Kesadaran composmentis N: 69 x/mnt
pentingnya asupan tinggi serat dan - GCS 456 S: 36.7⁰C
minum air hangat untuk pasien - TTV RR: 18 x/mnt
TD: 130/70 mmHg - Perut soefl
O: N: 63 x/menit - Bising usus 9 x/ menit
- Klien tampak lemas S: 36,1⁰C - BAB keluar lembek berwarna kuning
- Kesadaran Composmentis RR: 16 x/menit pekat
- GCS 456 - Perut soefl - Klien menghabiskan 1 porsi TD1 yang
- Kondisi abdomen normal, soefl - Bising usus 6 x/ menit diberikan
- Bising usus terdengar 8x/menit - Tidak teraba massa fekal dan nyeri - ROM pasif kaki klien berjalan dengan
- Perkusi sebagian besar lapang abdomen tekan abdomen baik dengan bantuan perawat
timpani - BAB keluar lembek berwarna kuning - Kekuatan otot
5 5 - Palpasi abdomen tidak ada nyeri tekan pekat
dan tidak teraba massa fekal - Klien menghabiskan 1 porsi TD1
- Klien belum bisa BAB yang diberikan
5 5
- TTV - Klien mulai bisa menekuk kakinya
- TD: 170/85 mmHg secara mandiri
- N: 65 x/menit - ROM pasif kaki klien berjalan A: masalah teratasi sebagian
- S: 36,3 ⁰C dengan baik dengan bantuan perawat P: lanjutkan intervensi.
- RR: 20x/menit - Kekuatan otot
- Klien makan TD 1 yang diberikan
5 5 - Klien sedikit kesulitan/tersedak untuk
minum
5 5 - Klien mulai bisa mengangkat anggota
geraknya bagian kiri
- Klien mampu melakukan gerakan rom
pasif kaki walaupun sedikit kaku A: masalah teratasi sebagian
- Kekuatan otot P: lanjutkan intervensi.
- mengahabiskan 1 porsi

5 4

5 4

A: masalah teratasi sebagian


P: lanjutkan intervensi.
Klien 2
Hari 1 Hari 2 Hari 3
Konstipasi berhubungan S: S: S:
dengan menurunnya - Klien mengatakan perutnya terasa - Klien mengatakan perutnya masih - Klien mengatakan perutnya terasa
aktivitas fisik penuh terasa penuh
- Klien mengatakan terasa ingin BAB - Klien mengatakan sudah bisa BAB - Klien mengatakan tidak bisa BAB lagi
namun tidak bisa keluar namun merasa belum tuntas - Klien mengatakan ingin BAB namun
- Klien mengatakan kesulitan untuk - Klien mengatakan masih kesulitan tidak bisa keluar
menelan dan mengunyah menelan dan mengunyah - Klien merasakan badannya sebelah
- Klien mengatakan anggota gerak - Klien merasakan badannya sebelah kanan masih terasa lemas
kanannya masih terasa lemas kanan masih terasa lemas
- Klien dan keluarga klien mengatakan
paham tentang penyebab konstipasi, O: O:
pentingnya asupan tinggi serat dan - K/U cukup - K/U sedang
minum air hangat untuk pasien - Kesadaran composmentis - Kesadaran composmentis
O: - GCS 456 - GCS 456
- Klien tampak lemas - TTV - TTV
- Kesadaran Composmentis TD: 165/100 mmHg - TD: 150/90 mmHg
- GCS 456 N: 75 x/menit - N: 78 x/menit
- Kondisi abdomen normal S: 36⁰C - S: 37,1 ⁰C
- Bising usus terdengar 6x/menit RR: 19 x/menit - RR: 18 x/menit
- Perkusi sebagian besar lapang abdomen - Perut soefl - Kondisi abdomen normal
dullnes - Bising usus 5 x/ menit - Bising usus 3x/menit
- Palpasi abdomen tidak ada nyeri tekan , - Tidak teraba massa fekal dan nyeri - Tidak teraba massa fekal,nyeri tekan,
abdomen teraba destended tekan abdomen namun teraba distended
- Klien belum bisa BAB - BAB keluar dalam jumlah sedikit, - Klien tidak BAB hari ini
- TTV teksture lembek berwarna kuning - Klien hanya menghabiskan ±5 sendok
- TD: 170/110 mmHg - Klien menghabiskan ½ porsi TD1 makan dari 1 porsi makan yang
- N: 83 x/menit yang diberikan diberikan
- S: 36,3 ⁰C - Klien menghabiskan agar-agar yang - Klien sulit mengunyah dan menelan
- RR: 18 x/menit diberikan makanan
- Klien menghabiskan ¼ dari setiap 1 - Klien dibantu untuk mobilisasi - Klien mampu melakukan ROM pasif
porsi makan yang diberikan yaitu diit duduk pasif kaki dengan baik.
TD I - ROM pasif kaki klien berjalan - Kekuatan otot
- Klien masih sulit untuk mengunyah dan dengan baik dengan bantuan perawat
4 5 menelan - Kekuatan otot
- Klien mampu melakukan gerakan rom
4
4 55 pasif kaki walaupun sedikit kaku
- Kekuatan otot
4 5 A: masalah teratasi sebagian
4 5 P: lanjutkan intervensi.
A: masalah teratasi sebagian
4 5 P: lanjutkan intervensi.

A: masalah teratasi sebagian


P: lanjutkan intervensi
4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengkajian

Tabel 4.17 Tabel pembahasan pengkajian

Klien 1 Klien 2
Klien 1 mengalami CVA Infark Lakunar Klien 2 mengalami CVA Infark
saat ini adalah serangangan stroke pertama. sekarang adalah serangan stroke yang
Klien 1 tidak BAB selama 3 hari selama kedua. Klien 2 mengeluh perutnya
dirawat di rumah sakit sejak 13 Februari terasa penuh dan tidak nyaman , klien
2018. Klien terakhir BAB sebelum di terakhir BAB tanggal 14 Februari 2018
bawa ke rumah sakit. Klien mengatakan dan selama di RS tidak BAB. Klien
ingin BAB namun tidak bisa keluar. mengatakan tangan dan kaki kanannya
Keluarga klien mengatakan setiap hari lemas. Klien harus bedrest selama
klien BAB secara teratur. Klien perawatan di RS. Klien memiliki
mengatakan tangan dan kaki kirinya lemas riwayat penyakit hipertensi selama 1
dan sulit digerakan. Klien harus bedrest tahun. Pada pemeriksaan abdomen
selama perawatan di RS. Klien memiliki bentuk perut klien normal, bising usus:
riwayat penyakit hipertensi selama 5 tahun 4x/ menit, perut teraba sedikit
dan DM 1 tahun. Pada pemeriksaan distended, tidak teraba massa fekal,
abdomen bentuk perut normal, bising usus perkusi perut terdengar dullness pada
terdengar 3x/menit, perkusi abdomen pada abdomen kuadran atas dan bawah. Klien
kuadran kiri dan kanan atas terdengar mengkonsumi diit TD 1 DM 1700 kkal
hiperthimpani, pada kuandran kanan dan hanya menghabiskan ¼ porsi. Data yang
kiri bawah terdengar dullness, tidak teraba didapat saat pengkajian TD: 150/ 85
masa fekal dan nyeri abdomen. Klien mmHg, Nadi: 69x/menit, RR:
mengkonsumsi diit TD 1 DM 1900 kkal 21x/menit, Suhu: 36,5 0C.
habis 1 porsi. Data tanda-tanda vital TD:
150/90 mmHg, Nadi: 72x/menit Suhu:
36,50C, RR: 20x/menit .
Opini:
Berdasarkan data pengkajian dari kedua klien adalah klien yang sama-sama
mengalami CVA Infark dan kelemahan dalam beraktivitas karena kelemahan salah
satu sisi anggota gerak tubuh sehingga harus bedrest selama perawatan di RS. Kedua
Perbedaannya klien 1 mengalami serangan stroke pertama dan klien 2 mengalami
serangan stroke kedua. Kedua klien juga mengalami penurunan suara bising usus < 5
x/menit dan tidak BAB selama 3 hari perawatan di rumah sakit sehingga mengalami
konstipasi.
Teori:
Hal ini sesuai dengan teori Smeltzer dan Bare (2008) yang mengatkan bahwa tirah
baring yang lama merupakan penyebab terjadinya konstipasi pada pasien stroke serta
menurut teori Ginting,dkk (2015) mengatakan bahwa imobilisasi yang
berkepanjangan dapat menurunkan pergerakan peristaltik usus dan perubahan terjadi
pada otot abdomen serta dinding pelvis akan meningkatkan risiko konstipasi.

4.2.2 Diagnosa Keperawatan

Dari hasil pengkajian terhadap kedua klien dapat ditegakkan diagnosa

pada Klien 1 dan 2 yaitu Konstipasi berhubungan dengan menurunnya


aktivitas fisik. Diagnosa yang ditegakkan pada klien 1, dapat didukung

dengan data peristaltik usus 3x/menit, klien tidak BAB selama 3 hari,

terjadi kelemahan anggota gerak sehingga aktivitas menurun. Pada klien

2 mengeluh perut terasa penuh, peristaltik usus 4x menit, klien tidak BAB

selama 4 hari, terjadi kelemahan anggota gerak sehingga aktivitas

menurun dapat mendukung diagnosa yang telah ditegakkan penulis. Hal

ini sesuai dengan teori menurut NANDA (2016) yang mengatakan bahwa

konstipasi berhubungan dengan faktor penurunan aktivitas fisik dan

imobilisasi.

4.2.3 Rencana Keperawatan

Berdasarkan dari diagnosa yang telah ditegakkan pada Klien 1 dan Klien

2, dapat dilakukan perencanaan tindakan keperawatan kepada kedua klien

berdasarkan teori.
Tabel 4.18 Tabel Pembahasan Tujuan Intervensi Keperawatan

Tujuan Klien 1 Klien 2

Tujuan jangka pendek: Pada klien 1 juga ditetapkan Pada klien 1 juga ditetapkan
Setelah diberikan asuhan tujuan yang sama yaitu, tujuan yang sama yaitu,
keperawatan selama 1x24 klien mampu memenuhi klien mampu memenuhi
klien mampu kebutuhan eliminasi alvi kebutuhan eliminasi alvi
meningkatkan aktivitas setelah dilakukan asuhan setelah dilakukan asuhan
fisiknya.Tujuan jangka keperawatan keperawatan
panjang:
Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 3x24
jam klien mampu
memenuhi kebutuhan
eleminasi alvi.
Opini:
Menurut penulis, tujuan yang ditetapkan pada kedua klie sudah sesuai dengan teori
yang dinyatakan pada tinjauan pustaka karena dengan ditetapkannya tujuan seperti di
atas akan mengatasi terjadinya konstipasi,

Teori:
Dari tujuan yang ditetapkan pada kedua pasien dan pada tinjauan pustaka sudah sesuai
dengan teori Muttaqin (2011) yang mengatakan bahwa penetapan tujuan bagi rencana
keperawatan pada pasien stroke dengan masalah konstipasi tidak terjadi setelah
dilakukan asuhan keperawatan.

Tabel 4.19 Tabel Pembahasan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan

Klien 1 Klien 2
1. Klien dapat defekasi dengan teratur 1. Klien dapat defekasi dengan teratur
setiap 1-3 hari setiap 1-3 hari
2. Klien dapat defekasi secara spontan 2. Klien dapat defekasi secara spontan dan
dan lancar tanpa menggunakan obat lancar tanpa menggunakan obat laksatif
laksatif 3. Klien bebas dari ketidaknyamanan saat
3. Klien bebas dari ketidaknyamanan saat defekasi
defekasi 4. Bising usus normal (5-30x/menit)
4. Bising usus normal (5-30x/menit) 5. Klien dan keluarga mampu
5. Klien dan keluarga mampu mengidentifikasi indikator untuk
mengidentifikasi indikator untuk mencegah konstipasi
mencegah konstipasi 6. Aktivitas anggota gerak tubuh
6. Aktivitas anggota gerak tubuh meningkat
meningkat

Opini:
Kriteria hasil yang telah ditetapakan pada kedua pasien sudah sesuai dengan teori
penulis pada tinjauan pustaka. Pada pasien 1 dan pasien 2 ditentukan kriteria diatas
karenadisesuaikan dengan kondisi klien yang mengalami CVA dengan penurunan
aktivitas fisik yang mengalami kelemahan tubuh.

Teori:

Tabel 4.20 Tabel Pembahasan Intervensi Keperawatan

Intervensi

Pasien 1 Pasien 2
1. Kaji pola buang 1. Kaji pola buang air besar, 1. Kaji pola buang air besar,
air besar, termasuk termasuk waktu, jumlah termasuk waktu, jumlah
waktu, jumlah dan dan frekuensi tinja, dan frekuensi tinja, riwayat
frekuensi tinja, riwayat kebiasaan buang kebiasaan buang air besar
riwayat kebiasaan air besar atau penggunaan atau penggunaan pencahar,
buang air besar pencahar, diet, termasuk diet, termasuk serat, dan
atau penggunaan serat, dan asupan cairan asupan cairan
pencahar, diet, 2. Kaji keadaan bising usus 2. Kaji keadaan bising usus
termasuk serat, klien. klien.
dan asupan cairan 3. Berikan penjelasan pada 3. Berikan penjelasan pada
(Ackley & klien dan keluarga klien dan keluarga tentang
Ladwing, 2011). tentang penyebab penyebab konstipasi
2. Kaji keadaan konstipasi 4. Ajarkan keluarga gerakan
bising usus klien 4. Ajarkan keluarga gerakan ROM dan dorong keluarga
(Tarwoto & ROM dan dorong untuk membantu klien
Wartonah, 2015). keluarga untuk membantu latihan gerak mengubah
3. Berikan klien latihan gerak posisi di tempat tidur,
penjelasan pada mengubah posisi di mengangkat pinggul
klien dan keluarga tempat tidur, mengangkat tempat tidur, melakukan
tentang penyebab pinggul tempat tidur, serangkaian latihan gerak,
konstipasi melakukan serangkaian secara bergantian
(Muttaqin, 2011) latihan gerak, secara mengangkat setiap lutut ke
4. Ajarkan keluarga bergantian mengangkat dada
gerakan ROM dan setiap lutut ke dada 5. Anjurkan pada klien dan
dorong keluarga 5. Anjurkan pada klien dan keluarga agar klien makan
untuk membantu keluarga agar klien makanan yang
klien latihan gerak makan makanan yang mengandung serat seperti
mengubah posisi mengandung serat seperti buah dan sayur sejumlah
di tempat tidur, buah dan sayur sejumlah 400-600gr/hari
mengangkat 400-600gr/hari 6. Berikan asupan cairan air
pinggul tempat 6. Berikan asupan cairan air putih hangat 500 ml tiap
tidur, melakukan putih hangat 500 ml tiap pagi / 1,5 – 2L per hari jika
serangkaian pagi / 1,5 – 2L per hari tidak ada kontraindikasi.
latihan gerak, jika tidak ada 7. Berikan latihan ROM pasif
secara bergantian kontraindikasi. seperti memfleksikan kaki
mengangkat setiap 7. Berikan latihan ROM kearah dada secara
lutut ke dada pasif seperti bergantian
(Ackley & memfleksikan kaki 8. Lakukan mobilisasi miring
Ladwing, 2011). kearah dada secara kanan dan miring kiri
5. Anjurkan pada bergantian 9. Berikan privasi pada saat
klien dan keluarga 8. Lakukan mobilisasi klien BAB
agar klien makan miring kanan dan miring 10. Bantu klien untuk
makanan yang kiri membiasakan melakukan
mengandung serat 9. Berikan privasi pada saat eliminasi (BAB) secara
seperti buah dan klien BAB teratur 30 menit sesudah
sayur sejumlah 10. Bantu klien untuk sarapan/makan
400-600gr/hari membiasakan melakukan 11. Kolaborasi dengan tim
(Izwardy, 2014). eliminasi (BAB) secara dokter dalam pemberian
6. Berikan asupan teratur 30 menit sesudah pelunak feses (laksatif,
cairan air putih sarapan/makan supositoria, enema)
hangat 500 ml tiap 11. Kolaborasi dengan tim 12. Observasi suara bising
pagi / 1,5 – 2L per dokter dalam pemberian usus, perkusi lapang
hari jika tidak ada pelunak feses (laksatif, abdomen, adanya massa
kontraindikasi. supositoria, enema) feses pada abdomen bagian
(Hikayah, 2014) 12. Observasi suara bising kiri bawah,
7. Berikan latihan usus, perkusi lapang 13. Observasi dengan skala
ROM pasif seperti abdomen, adanya massa feses bristol untuk menilai
mem-fleksikan feses pada abdomen konsistensi tinja
kaki kearah dada bagian kiri bawah,
Opini:

Pada klien 1 dan klien 2 telah ditetapkan rencana keperawatan sesuai dengan tinjauan
pustaka. Pada setiap pasien, intervensi juga direncanakan untuk penyuluhan tentang
penyebab konstipasi, penanganan konstipasi pada klien stroke, pentingnya konsumi
makanan mengandung serat tinggi dan minum banyak air putih pada klien yang
mengalami konstipasi, mengajarkan keluarga tentang gerakan ROM pasif, memberikan
latihan gerak pasif khususnya kaki, membantu klien dalam melakukan defekasi.

Teori:

4.2.4 Implementasi Keperawatan

Tabel 4.21 Tabel Pembahasan Implementasi Keperawatan

Pasien 1 Pasien 2
1. Melakukan pengkajian pola buang air 1. Melakukan pengkajian pola buang air
besar, termasuk waktu, jumlah dan besar, termasuk waktu, jumlah dan
frekuensi tinja, riwayat kebiasaan buang frekuensi tinja, riwayat kebiasaan buang
air besar atau penggunaan pencahar, diet, air besar atau penggunaan pencahar,
termasuk serat, dan asupan cairan diet, termasuk serat, dan asupan cairan
2. Melakukan pengkajian mendengarkan 2. Melakukan pengkajian mendengarkan
suara bising usus klien suara bising usus klien
3. Memberikan penjelasan pada klien dan 3. Memberikan penjelasan pada klien dan
keluarga tentang penyebab konstipasi keluarga tentang penyebab konstipasi
4. Mengajarkan keluarga gerakan ROM dan 4. Mengajarkan keluarga gerakan ROM
dorong keluarga untuk membantu klien dan dorong keluarga untuk membantu
latihan gerak mengubah posisi di tempat klien latihan gerak mengubah posisi di
tidur, mengangkat pinggul tempat tidur, tempat tidur, mengangkat pinggul
melakukan serangkaian latihan gerak, tempat tidur, melakukan serangkaian
secara bergantian mengangkat setiap lutut latihan gerak, secara bergantian
ke dada mengangkat setiap lutut ke dada
5. Menganjurkan pada klien dan keluarga 5. Menganjurkan pada klien dan keluarga
agar klien makan makanan yang agar klien makan makanan yang
mengandung serat seperti buah dan sayur mengandung serat seperti buah dan
sejumlah 400-600gr/hari sayur sejumlah 400-600gr/hari
6. Memberikan asupan cairan air putih 6. Memberikan asupan cairan air putih
hangat 500 ml tiap pagi. hangat 500 ml tiap pagi.
7. Melakukan latihan ROM pasif dengan 7. Melakukan latihan ROM pasif dengan
memfleksikan kaki kearah dada secara memfleksikan kaki kearah dada secara
bergantian bergantian
8. Membantu klien mobilisasi miring kanan 8. Membantu klien mobilisasi miring
dan miring kiri kanan dan miring kiri
9. Memberikan privasi pada saat klien BAB 9. Memberikan privasi pada saat klien
10. Membantu klien untuk membiasakan BAB
melakukan eliminasi (BAB) secara teratur 10. Membantu klien untuk membiasakan
30 menit sesudah sarapan/makan melakukan eliminasi (BAB) secara
11. Memberikan obat laksatif per oaral teratur 30 menit sesudah sarapan/makan
12. Melakukan observasi dengan 11. Memberikan obat laksatif per oaral
mendengarkan suara bising usus, perkusi 12. Melakukan observasi dengan
lapang abdomen, adanya massa feses mendengarkan suara bising usus,
pada abdomen bagian kiri bawah, perkusi lapang abdomen, adanya massa
13. Melakukan observasi menilai konsistensi feses pada abdomen bagian kiri bawah,
tinja 13. Melakukan observasi menilai
konsistensi tinja
Opini:

Pada pasien 1 dari 13 intervensi yang telah direncanakan seluruhnya dapat dilakukan dalam
bentuk tindakan keperawatan, namun ada beberapa intervensi yang telah dilaksanakan
dengan edukasi karena pada intervensi melalu edukasi pasien lebih memahami dan mengerti
tentang konstipasi dan penangannya. Pada klien 2 dari 13 intervensi yang direncnaka
dilakukan, , juga ada beberapa intervensi yang telah dilaksanakan dengan edukasi karena
pada intervensi melalu edukasi pasien lebih memahami dan mengerti tentang konstipasi dan
penangannya

Teori:

Hal di atas sesuai denga teori menurut Debora (2013) dengan melakukan implementasi sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan klien untuh dapat mencapai kriteria hasil yang telah
ditetapkan.

4.2.5 Evaluasi Keperawatan

Tabel 4.22 Tabel Evaluasi Keperawatan Berdasarkan Kriteria Hasil

Evaluasi
Klien 1 Klien 2
1) klien mengatakan lega saat defekasi 1) klien mengatakan perutnya terasa
2) klien mampu kembali ke pola penuh dan tidak nyaman
defekasi semula 1x/hari 2) klien mampu defekasi dengan
3) bising usus klien 9x/menit keluaran feses sedikit
4) klien bebas dari ketidaknyamanan 3) konsistensi feses lembek
saat defekasi 4) bising usus 3x/menit
5) konsistensi feses lembek 5) klien dan keluarga memahami
6) klien dan keluarga memahami pencegahan dan penanganan
pencegahan dan penanganan konstipasi pada stroke
konstipasi pada stroke 6) klien masih mengonsumsi obat
laksatif untuk merangsang defekasi
Opini :
Berdasarkan tindakan keperawatan yang telah dilakukan dapat berhasil terbukti kedua
klien tidak mengalami konstipasi. Namun terdapat perbedaan hasil , pada klien 1 klien
menyatakan mampu berdefekasi dengan baik sesuai dengan kriteria hasil yang di
tetapkan setelah diberikan rangkaian asuhan keperawatan, pada klien 2 menyatakan
masih mengalami ketidaknyamanan pada perut dan suara bising usus terakhir <5x/
menit namun klien mampu berdefekasi dengan keluaran feses sedikit.
Teori:
Menurut teori konstipasi semua kriteria hasil yang dapat dicapai menurut Muttaqin
(2011) dan Ackley (2011) yaitu Klien dapat defekasi dengan teratur setiap 1-3 hari,
defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat laksatif, bising usus normal
(5-30x/menit), bebas dari ketidaknyamanan saat defekasi, konsistensi feses lembek dan
berbentuk, serta klien dan keluarga mampu mengidentifikasi indikator untuk mencegah
konstipasi.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan disajikan kesimpulan dan saran penelitian tentang” Asuhan

Keperawatan Pada Pasien Cerebro Vasculler Accident dengan masalah Konstipasi

di Rumah Sakit Panti Waluya Malang”.

5.1. Kesimpulan
Asuhan keperawatan pada pasien Cerebro Vasculler Accident dengan

masalah Konstipasi di Rumah Sakit Panti Waluya Malang dapat

dilaksanakan pada pasien 1 dan 2 selama 3 hari selama pasien di rawat

inap di rumah sakit.


5.1.1. Pengkajian
Pengkajian dapat dilakukan pada pasien 1 dan 2 dengan menetapkan

masalah dengan mendapatkan data untuk menetapkan masalah

keperawatan. Berdasarkan teori dan fakta pada pasien yang mengalami

konstipasi karena penurunan aktivitas fisik.


5.1.2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data yang diperoleh pada pasien 1 dan 2 dapat ditetapkan

diagnosa keperawatan Konstipasi berhubungan dengan penurunan

aktivitas fisik.
5.1.3. Rencana Keperawatan
Berdasarakan data diagnosa keperwatan yang ada dapat disusun rencana

keperawatan pada pasien Cerebro Vasculler Accident dengan masalah

konstipasi.
5.1.4. Implementasi Keperawatan
Berdasarkan diagnosa keperawatan konstipasi peneliti dapat melakukan

tindakan keperawatan pada pasien yang mengalami Cerebro Vasculler

Accident.
5.1.5. Evaluasi
Pada kedua pasien telah dilakukan kunjungan selama 3 hari, dan

didapatkan perbedaan hasil pada klien 1 dan 2. Pada pasien 1 mampu


memenuhi kebutuhan eliminasi alvi dan pada pasien 2 belum mampu

melakukan pemenuhan kebutuhan eliminasi alvi.


5.2. Saran
5.2.1. Bagi Lahan Penelitian
Sesuai dengan hasil penelitian , maka peneliti menyarankan bagi lahan

penelitian yaitu Rumah Sakit Panti Waluya Malang untuk meningkatkan

pelaksanaan Asuhan Keperawatan tentang Cerebro Vasculler Accident

memberikan informasi kepada masyarakat melalui penyuluhan atau

Penkes , sehingga masyarakat lebih mengerti tentang Cerebro Vasculler

Accident dengan bekerjasama lintas sektor maupun dengan masyarakat.


5.2.2. Bagi Instistusi Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti menyarankan untuk

mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan serta memberikan

aplikasi yang baik dilapangan.


5.2.3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Disarankan bagi peneliti selanjutnya diharapakan mampu memberikan

asuhan keperawatan dan mampu melanjutkan atau mengembangkan

tentang peneliti “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Cerebro Vasculler

Accident dengan masalah Konstipasi” lebih baik.