Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bani Umayyah atau kekhalifahan Umaiyah adalah kekhalifahan Islam pertama
setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661-750 M di jazirah Arab
yang berpusat di Damaskus, Syiria, serta dari 756-1031 di Cordoba-Andalusia,
Spanyol. Masa kekhalifahan Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun yaitu dimulai
pada masa kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan, dimana pemerintahan yang
bersifat Islamiyyah berubah menjadi kerajaan turun-temurun. Yaitu setelah Al-
Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada
Muawwiyah dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada saat itu sedang
dilanda fitnah akibat terbunuhnya Utsman bin Affan yakni pada peristiwa perang
Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi’ah.
Nama Dinasti Umayyah diambil dari nama nenek moyang mereka yaitu
Umayyah bin Abdi Syams bin Abdimanaf. Ia adalah salah seorang terkemuka
dalam dalam persukuan pada zaman Jahiliyah, bergandeng dengan pamannya
Hasyim bin Abdimanaf. Umayyah dan Hasyim berebut pengaruh politik dalam
proses-proses sosial-politik pada zaman Jahiliyah, namun Umayyah lebih dominan.
Hal itu disebabkan karena ia merupakan pengusaha yang kaya, dan memiliki harta
yang melimpah. Harta dan kekayaan menjadi faktor dominan untuk merebut hati di
kalangan Qureisy, sehingga Hasyim tidak dapat mengimbangi keponaknnya
tersebut.
Dari dinasti Umayyah ini terdapat 14 Khalifah yang bergantian memimpin
dalam masa pemerintahan, dimulai dari Muawwiyah (661) sampai dengan Marwan
II (750).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana proses berdirinya Dinasti Umayyah?
1.2.2 Bagaimana kemajuan Dinasti Umayyah I?
1.2.3 Siapa saja khalifah Dinasti Umayyah I?
1.2.4 Apa saja penyebab runtuhnya Dinasti Umayyah I?

1
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui proses berdirinya Dinasti Umayyah.
1.3.2 Untuk mengetahui kemajuan Dinasti Umayyah.
1.3.3 Untuk mengetahui runtuhnya Dinasti Umayyah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Proses Berdirinya Dinasti Umayyah I


Bani Umayyah atau kekhalifahan Umaiyah adalah kekhalifahan Islam
pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661-750 M di
jazirah Arab yang berpusat di Damaskus, Syiria, serta dari 756-1031 di Cordoba-
Andalusia, Spanyol. Nama Dinasti Umayyah diambil dari nama nenek moyang
mereka yaitu Umayyah bin Abdi Syams bin Abdimanaf. Ia adalah salah seorang
terkemuka dalam dalam persukuan pada zaman Jahiliyah.
Masa kekhalifahan Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun yaitu dimulai
pada masa kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan, dimana pemerintahan yang
bersifat Islamiyyah berubah menjadi kerajaan turun-temurun. Yaitu setelah Al-
Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada
Muawwiyah dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada saat itu sedang
dilanda fitnah akibat terbunuhnya Utsman bin Affan yakni pada peristiwa perang
Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi’ah.
Suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai ketika Muawiyah bin
Abi Sufyan mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap
anaknya, Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bermaksud mencontoh sistem dinasti di
Persia dan Bizantium.
Dari dinasti Umayyah ini terdapat 14 Khalifah yang bergantian memimpin
dalam masa pemerintahan, dimulai dari Muawwiyah (661 M) sampai dengan
Marwan II (750 M).

2.2 Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Umayyah I


Dalam upaya perluasan daerah kekuasaan Islam pada masa Dinasti
Umayyah, Muawiyah selalu mengerahkan segala kekuatan yang dimilikinya untuk
merebut kekuasaan di luar Jazirah Arab, antara lain upayanya untuk terus merebut
kota Konstantinopel. Ada tiga hal yang menyebabkan Muawiyah terus berusaha
merebut Bizantium, yaitu :

3
a. Kota tersebut adalah basis kekuatan Kristen Ortodoks, yang
pengaruhnya dapat membahayakan perkembangan Islam.
b. Orang-orang Byzantium sering melakukan pemberontakan dan
pengrusakan ke daerah Islam.
c. Byzantium termasuk wilayah yang memiliki kekayaan yang melimpah.
Pada waktu Dinasti Umayyah berkuasa, daerah islam membentang ke
berbagai negara yang berada di benua Asia dan Eropa. Dinasti Umayyah, juga terus
memperluas peta kekuasaannya ke daerah Afrika Utara pada masa Khalifah Walid
bin Abdul malik, dengan mengutus panglimanya Musa bin Nushair dan mengutus
Thariq bin Ziyad untuk merebut wilayah Andalusia.
Pada masa Dinasti umayyah beberapa kemajuan di berbagai sektor berhasil
dicapai. Antara lain :
2.2.1 Kemajuan Bidang Ilmu Hadits
Menurut ilmu hadits, hadits adalah segala ucapan, perbuatan, dan
keadaan Nabi Muhammad SAW. Hadits sebagai sumber hukum Islam kedua,
proses perkembangan ilmu hadits sangat panjang, perkembangan ilmu hadits
telah mencapai tujuh periode.
1. Periode Pertama
Periode pertama ialah periode turunnya wahyu, pembentukan
hukum, serta dasar-dasarnya. Periode ini berlangsung tahun 13 SH-11 H
ataumasa kerasulan Nabi Muhammad SAW.
2. Periode Kedua
Perode kedua disebut periode pembatasan hadits dan penyelidikan
riwayat. Periode ini berlangsung pada masa Khulafaur Rasyidin (11-41
H).
3. Periode Ketiga
Perode ketiga ialah periode penyebaran riwayat ke kota-kota.
Periode ini berlangsung pada masa sahabat kecil dan tabiin besar.
4. Periode Keempat
Periode keempat adalah periode penulisan dan kodifikasi resmi.
Periode ini berlangsung tahun 102 H hingga akhir abad ke-2 H.
5. Periode Kelima

4
Periode kelima adalah periode pemurniaan, penyehatan, dan
penyempurnaan. Periode ini berlangsung awal hingga akhir abad ke-3 H.
6. Periode Keenam
Periode keenam adalah periode pemeliharaan, penertiban,
penambahan, dan penghimpunan. Periode ini berlangsung abad ke-4 H
sampai pertengahan abad ke-7 H, pada saat Kota Bagdad jatuh ke tangan
bangsa Mongol.
7. Periode Ketujuh
Periode ketujuh merupakan periode pensyarah, penghimpunan,
pengeluaran riwayat, dan pembahasan. Periode ini berlangsung sejak
jatuhnya Kota Bagdad hingga sekarang.
Berdasarkan periodesasi tersebut perkembangan ilmu hadits pada
Dinasti Umayyah meliputi periode ketiga dan keempat.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-102 H),
dilakukan upaya pembukuan hadits-hadits yang tersebar di berbagai tempat
dan banyak para tabi’in.
Untuk mewujudkan keinginan tersebut, khalifah umar bin Abdul Aziz
memerintah kepada para gubernurnya dan para ulama terkemuka untuk
mengumpulkan dan membukukan hadits untuk disebarkan kepada masyarakat
Islam.
Gubernur Madinah, Ibn Hazm dikenal sebagai seorang ulama yang
memiliki pengetahuan keagamaan yang cukup luas. Karena itu, khalifah
member kepercayaan kepadanyauntuk menghimpun dan membukukan hadits-
hadits yang ada padanya dan yang ada pada sahabat lainnya di kota Madinah.
Di antara tugas yang diembannya adalah mengumpulkan hadis-hadits yang
ada pada Amrah bin Abdurrahmandan al-Qasim bin Muhammad bin Bakar.
Karena Amrah adalah anak angkat Siti aisyah dan orang yang paling
dipercaya untuk menerima hadits dari Siti Aisyah tersebut.
Sementara itu al-Qasim adalah salah seorang dari tujuh ulama fiqih di
Madinah. Selain mengirim surat perintah kepada para gubernur, Khalifah
Umar bin Abdul Aziz juga memerintahkan Ibn Syihab az-Zuhri (wafat tahun
124 H) dan ulama lainnya untuk mengumpulkan dan membukukan hadits

5
yang ada pada mereka serta mengirimkannya kepada khalifah. Bahkan beliau
sendiri ikut terlibat di dalam mendiskusikan dan menghimpun hadits-hadits.
Az-Zuhri adalah seorang ulama terkemuka di Hijaz dan Syria pada masa itu.
Karena itu, tidak salah apabila Khalifah Umar bin Abdul Aziz meminta
kepada mereka untuk mengumpulkan dan membukukan hadits-hadits. Uasaha
yang dilakukan para ulama dan tokoh terkemuka ketika itu di dalam upaya
pembukuan hadits cukup berhasil. Sebab az-Zuhri telah merampungkan
upaya pembukuan hadits tersebut, meskipun khalifah Umar bin Abdul Aziz
belum melihat secara langsung hasilnya. Karena khalifah sangat percaya
dengan kemampuan dan keahlian mereka di bidang hadits.
Usaha pembukuan hadits terus dilakukan setelah masa kepemimpinan
khalifah Umar bin Abdul Aziz (102 H). Di antara para ulama yang terus
berjuang mengumpulkan dan membukukan hadits adalah Ibnu Juraij (wafat
tahun 150 H) di Mekah. Muhammad bin Ishak (wafat tahun 151 H) di
Madinah. Said bin Urwah (wafat tahun 156 H) di Basrah. Sufyan As-Saury
(wafat tahun 161 H) di kufah. Al-Awa’il (wafat tahun 157 H) di Syria.
Kemudian abad ketiga hijriah (ke-3 H) dan keempat (ke-4 H) usaha
pembukuan hadits mengalami masa kejayaan.

2.2.2 Kemajuan Bidang Ilmu Tafsir


Tafsir adalah ilmu yang menjelaskan makna ayat sesuai dengan
petunjuk yang lahir dalam batas kemampuan manusia. Dengan kata lain, ilmu
tafsir mengkaji bagaimana menjelaskan kehendak Allah SWT, yang
terkandung dalam Al-Qur’an melalui lafal dan makna serta mejelaskan
hukum-hukum yang dikandungnya sesuai dengan kemampuan mufasir (ahli
tafsir).
Ilmu ini penting karena di samping mengandung kata-kata yang
mudah dan terperinci, Al-Qur’an juga memuat ayat-ayat yang sulit di pahami
atau ayat-ayat yang hanya memuat prinsip umum. Usaha-usaha untuk
menafsirkan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW adalah orang yang memiliki otoritas dan tugas utama

6
dalam menjelaskan Al-Qur’an. Oleh karena itu, penafsiran yang diberikan
oleh nabi Muahammad SAW adalah penafsiran yang paling benar.
Setelah Nabi Muhammad SAW meninggal, penafsiran al-Qur’an
dilakukan oleh para sahabat, yaitu Abu Bakar As-Sidiq, Umar bin Khattab,
Usman bin Affan, Ali bin abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Zaid
bin Tsabit, Abu Muasa al-Asy’ari, dan Abdullah bin Zubair.
Abdullah bin Abbas merupakan seorang yang hidup hingga masa
Dinasti Umayyah. Beliau wafat pada masa pemerintahan Abdul malik bin
Marwan. Keahliannya dalam ilmu tafsir membuatnya dijuliki Tarjuman al-
Qur’an (Juru Bicara Al-Qur’an).
Pada masa berikutnya, tafsir para sahabat itu berkembang di berbagai
kota dan memunculkan generasi ahli tafsir dari kalangan tabi’in. Di Mekah,
tafsir Ibnu Abbas dikembangkan oleh murid-muridnya, seperti Sa’id bin
Jabir, Mujahid, Ata bin Abi Rabah, dan Ikrimah bin Abu Jahal.
Di Kufah muncul generasi ahli tafsir yang bersumber dari Ibnu
Mas’ud. Di Madinah muncul pula para ahli tafsir, seperti Abdurrahman bin
Aslam dan Malik bin Anas. Pada masa itu, penafsiran ayat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, menafsirkan
Al-Qur’an dengan hadit-hadits Nabi Muhammad SAW, serta menefsirkan Al-
Qur’an dengan ijtihad sahabat. Metode tafsir yang terakhir itu disebut dengan
tafsir bil-ma’sur. Hasil-hasil penafsiran Al-Qur’an pada masa itu belum ada
yang dibukukan. Hasil karya para ulama di berbagai bidang tersebut baru
mulai dibukukan pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah.

2.2.3 Kemajuan Bidang Ilmu Fiqih


Definisi fiqih menurut ulama fiqih adalah sekumpulan hukum amaliah
yang disyariatkan dalam Islam. Bidang bahasan ilmu fiqih adalah setiap
perbuatan mukalaf yang terhadap perbuatannya itu ditentukan hukum apa
yang harus dilakukan karenanya.
Menurut seorang ahli fiqih dan ahli usul fiqih yang bernama Mustafa
Ahmad Zarqa, perkembangan ilmu-ilmu fiqih terbagi dalam tujuh periode.
Periode pertama adalah periode risalah, yaitu periode yang berlangsung pada

7
masa hidup Nabi Muhammad SAW. Periode kedua berlangsung sejak zaman
Khlafaur Rasyidin sampai pertengahan abad pertama hijriah.
Periode ketiga berlangsung sejak pertengahan abad pertama hjriah
sampai permulaan abad kedua hijriah. Periode keempat dimulai pada
permulaan abad kedua hijriah dan berakhir pada pertengahan abad keempat
hijriah. Periode kelima berlangsung pada pertengahan abad ketujuh hijriah.
Periode keenam dimulai pada pertengahan abad ketujuh hijriah sampai
munculnya Mujallah al-Ahkam al-‘Adliyyah, yaitu sebuah kodifikasi hukum
perdata Islam di zaman Turki Usmaniyang diundangkannya kodifikasi hukum
perdata Islam tersebut hingga sekarang.
Perkembangan ilmu fiqih pada masa Dinasti Umayyah hampir
seluruhnya terjadi periode ketiga.
Pada masa pemeritahan Usman bin Affan, para sahabat mulai
berpencar ke berbagai daerah. Para sahabat tersebut menjumpai masyarakat
yang memiliki sistem sosial yang berbeda. Dengan demikian, makin banyak
pula hasil ijtihad yang muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Di Irak, ibnu Mas’ud berperan sebagai sahabat yang menjawab
berbagai persoalan di sana. System masyarakat di Irak berbeda dengan sistem
masyarakat di Mekah atau Madinah. Hal itu karena masyarakat irak lebih
heterogen dibanding masyarakat Mekah dan Madinah sehingga permasalahan
yang mereka hadapi juga lebih kompleks. Dalam berijtihad, Ibnu Mas’ud
mengikuti cara-cara Umar bin Khattab yang mengedepankan nalar dan akal.
Dari sinilah munculnya aliran ahlur-ra’yi di Irak.
Adapun ilmu fiqih dikembangkan oleh Zaid bin Tsabit dan Abdullah
bin Umar di madinah. Dalam berijtihad, mereka mengedepankan dalil-dalil
Al-Qur’an dan Hadits. Hal itu merupakan cikal bakal munculnya aliran ahlul-
hadits.
Murid-murid Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, dan Adullah bin Umar
selanjutnya meneruskan usaha mereka. Di antara murid-murid itu adalah
Sa’id bin Musayyab di Madinah, Ata bin Abi Rabah di Mekah, Ibrahim an-
Nakha’I di Kufah, Makhul di Suriah, dan Tawys bin Kisan al-Yamani di

8
yaman. Mereka dalah generasi tabi’in yang mengembangkan ilmu fiqih pada
periode selanjutnya.

2.2.4 Kemajuan dalam Bidang Arsitektur


Pada masa Dinasti Umayyah bidang arsitektur maju pesat. Terlihat
dari bangunan-bangunan artistik serta masjid-masjid yang memenuhi kota.
Mereka memadukan gaya Persia dengan nuansa Islam yang kental di setiap
bangunan. Adapun pada masa Walid dibangun sebuah masjid agung yang
terkenal dengan sebutan Masjid Damaskus yang diarsiteki oleh Abu Ubaidah
bin Jarrah. Sedangkan kota yang dibangun di zaman ini dalah Kota Kairawan.
Didirikan oleh Uqbah bin Nafi ketika dia menjabat sebagai gubernur. Hasil
rekayasa umat Islam mengambil pola Persia, Romawi, dan Arab.

2.2.5 Kemajuan dalam Bidang Organisasi Militer


Di zaman ini militer dibagi menjadi 3angkatan. Yaitu angkatan darat
(al jund), angkatan laut (al bahariyah), dan angkatan kepolisian. Pada waktu
ini juga diberlakukan Undang-Undang Wajib Militer (Nizhamut Tajnidil
Ijbaryl), yang pada masa sebelumya disebut pasukan sukarela.
Politik ketentaran yang digunakan adalah politik Arab, dimana tentara
harus dari orang Arab sendiri atau dari unsure Arab. Pada masa ini juga,
dibangun Armada Islam yang terdiri dari ±17.000 kapal. Disamping itu
Muawiyah membentuk “Armada Musim Panas dan Armada Musim Dingin’,
sehingga memungkinkan untuk bertempur di segala musim.

2.2.6 Kemajuan dalam Bidang Perdagangan


Setelah Bani Umayyah berhasil menaklukkan berbagai wilayah, jalur
perdagangan jadi semakin lancer. Ibu kota basrah di teluk Persi pun menjadi
pelabuhan dagang yang ramai dan makmur, begitu pula kota Aden.

2.2.7 Kemajuan dalam Bidang Seni


Ketika Khalifah Abdul Mlik menjabat, mulailah dirintis pembuatan
tirai, yakni cap resmi pada pakaian khalifah dan para pembesar pemerintahan.

9
a. Seni sastra, berkembang dengan pesat sehinnga syair yang muncul
senantiasa sering menonjol dari sastranya, disamping isinya yang
bermutu tinggi.
b. Seni suara, berkembang adalah seni baca Al-Qur’an, qasidah,
music, dan lagu-lagu yang bernafaskan cinta. Dan pada saat itu
muncul para seniman dan qori’ ternama.
c. Seni ukir, penggunaan khot Arab sebagai motif ukiran atau
pahatan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya dinding masjid dan
tembok-tembok Istana yang diukir dengan khat Arab. Misal
Qushair Amrah.

2.2.8 Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan


Perkembangan ilmu pengetahuan meliputi ilmu kodokteran, filsafat,
astronomi, ilmu pasti, ilmu bumi, sejarah, dan lain-lain.

2.2.9 Kemajuan dalam Bidang Politik dan Seni Budaya


Politik pada masa ini mengalami kemajuan yang pesat, sehinnga lebih
teratur disbanding dengan masa sebelumnya. Terutama dalam hal Khilafah,
al-Kitabah, al- Hijabah, keuangan, kehakimn, tata usaha negara.
Pada masa ini khalifah telah banyak memberikan konstribusi yang
besar. Yakni dengan dibangunnya rumh sakit di setiap kota yang pertama
oleh Khalifah Walid Bin Abdul Malik. Di bangun juga panti asuhan dan panti
jompo.

2.3 Khalifah Dinasti Umayyah I


2.3.1 Muawiyah bin Ai Sufyan (41-61 H / 661-680 M)
Muawwiyah membagi dua kelompok dewan Syuro, yaitu dewan
Syuro Khos (pusat) dan Majelis Syuro sementara (ad hoc) yang memiliki
jumlah lebih banyak terdiri dari berbagai provinsi dan kota, di satu sisi ia
membuka ruang untuk system pemerintahan yang lebih terbuka dan di sisi
lain ia juga mengampanyekan bentuk pemerintahan monarki dengan
mengangkat anaknya Yazid menjadi putera mahkota.

10
Semasa pemerintahan Umayyah peta islam melebar ke timur sampai
kabu, Kandahar, Ghazni, Balakh, bahkan sampai kota Bukhara. Selain itu
kota Samarkand dan Tirmiz menjadi wilayah kekuasaannya. Di selatan
tentanranya sampai ke tepi sungai Sind (Indus), akan tetapi wilayah Sind
menjadi permanen dalam kekuasaan islam pada masa khalifah Walid bin
Abdul Malik tahun 707-715 M.
Di barat, panglima ‘Uqbah bin Nafi’ menaklukkan Carthage
(kartagona), ibukota Bizantium di Ifriqiya dan mendirikan masjid bersejarah
Qayrawan dengan membangun pusat militer di kota Qayrawan.
Muawwiyah juga berusaha untuk menaklukkan Konstantinopel,
ibukota Romawi Timur yang selalu menjadi ancaman kedaulatan islam
sebanyak dua kali. Walaupun mengalami kegagalan, namun tentara
Muawwiyah berhasil menguasai pulau Rodes, Sijikas, Kreta, dan pulau-pulau
lain di laut tengah.
Muawwiyah juga seorang administrator ulung, dalam banyak hal ia
melakukan perubahan. Ia menerapkan untuk pertama kalinya Diwan Al
Khotim dan Diwan Al Barid, diwan-diwan ini kemudian berkembang maju
pada masa pemerintahan Abdul Malik, dan ia juga yang pertama kali
membentuk pasukan pengawal pribadi yang terkenal dengan pasukan
bertombak pengawal raja.
Muawwiyah meninggal dunia pada bulan Rajab, tahun 60 H. bagi
khalifah Bani Umayyah, Muawwiyah merupakan teladan dalam hal
kelembutan, semangat, kecerdasan, dan kenegarawanan. Bukan saja raja
pertama, tetapi raja arab yang terbaik.

2.3.2 Yazid bin Muawiyah (61-66 H / 680-685 M)


Masa pemerintahan Yazid sangat singkat, kurang lebih tiga tahun.Ia
dibai’at oleh rakyat dengan sepenuh hati terutama penduduk Mekah dan
Madinah. Yazid memiliki kemampuan dan memimpin perang lebih baik, jika
dibandingkan dengan Hasan dan Husein, ia memimpin perang melawan
Bizantium sebanyak 27 kali walaupun tidak berhasil menaklukkan
konstantinopel.

11
Masa pemerintahannya meskipun monarki, namun masih terdapat
majelis syuro dan para penguasa dinasti ini tetap menggunakan sebutan
Khalifah.
Pemerintahan Yazid ditandai dengan empat kejadian penting.Pertama,
cucu Nabi SAW Husein bin Ali terbunuh di Karbala menyebabkan golongan
Syiah lahir secara sempurna dan menjadi penentang utama
kekuasaannya1.Kedua, pasukan Yazid dibawah pimpinan Muslim bin ‘Uqbah
menyerang kota Madinah dalam peperangan di Harra, hal itu disebabkan
2
ketidak setujuan warga Madinah atas pemerintahan Yazid . Ketiga,
penyerangan dan pengepungan kota Mekkahserta pengrusakan Ka’bah (yang
pada waktu itu mengakui Abdullah bin Zubair sebagai khalifah mereka) oleh
tentara Yazid yang masih dibawah pimpinan Hushain bin Numair. Namun
saat pengepungan dan penyerangan terjadi terdengar kabar bahwa Yazid
meninggal dunia pada tahun 683, maka para tentara tersebut menghentikan
penyerangan dan pengepungan kota Mekkah serta kembali ke
Damaskus 3
.Keempat, mengangkat kembali ‘Uqbah bin Nafi’ menjadi
gubernur kedua kalinya di Ifriqiyah.
Pemerintahan pun dipegang oleh putera Yazid, Muawwiyah II.Ia tidak
terlalu tertarik dengan kekuasaan, dan setelah memangku jabatan selama
beberapa bulan Muawwiyah II meninggal dunia, dialah khalifah terakhir dari
keluarga Abu Sufyan.

2.3.3 Abdul Malik bin Marwan bin Hakam (66-87 H / 685-705 M)


Setelah meninggalnya Marwan bin Hakam kondisi kekhalifahan kacau
dan hamper terjadi perang antar suku, akan tetapi dengan diangkatnya abdul
Malik bin Marwan sebagai Khalifah semua dapat terkendali.
Periode pemerintahannya adalah periode emas dinasti Umayyah.Ia
mengadakan berbagai macam pembaruan, diantaranya penggunaan Bahasa
arab secara resmi sebagai Bahasa Negara setelah sebelumnya kekhalifahan

1
M.Abdul karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Pustaka Book Publisher:
Yogyakarta, 2007), Cet 1, hal 118.
2
Tarikh Al Islam As Siyasi, hal 230.
3
M.Abdul karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Pustaka Book Publisher:
Yogyakarta, 2007), Cet 1, hal 118.

12
menggunakan Bahasa Qibti, Suryani dan Yunani dalam pemerintahan.Ia juga
mencetak mata uang dengan nama Dinar, Dirham dan Fals. Kemudian ia
mendirikan kantor kas Negara di Damaskus. Selain itu, pertama kali dalam
sejarah Bahasa arab menggunakan (.) dan (,) dan pembaharuan kaidah yang
telah dimulai pada masa khalifah Ali bin Abi Tholib.
Pelayanan pos dan telekomunikasi juga ditingkatkan dnegan
menugaskan seorang dinas pos yang akan segera mengirim berita penting.
Khalifah Abdul Malik terkenal sebagai seorang yang suka arsitektur,
ia mendirikan masjid Qubbatus Syaqra’ dan istana-istana serta bangunan yang
indah4.

2.3.4 Walid bin Abdul Malik bin Marwan (87-97 H / 705-715 M)


Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-
Walid bin Abdul Malik. Masa pemerintahan Walid adalah masa ketentraman,
kemakmuran, dan ketertiban. Umat Islam hidup bahagia. Pada masa
pemerintahannya tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju
wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Al-Jazair, Maroko,
Spanyol, Kordova, dengan cepat dapat dikuasai.

2.3.5 Umar bin Abdul Aziz (98-101 H / 717-720 M)


Semula Umar menolak untuk menerima amanah sebagai khalifah,
namun karena didesak oleh kaum muslimin ketika itu akhirnya ia menerima
walaupun dengan berat.Ucapannya yang terkenal ketika menerima amanh itu
ialah “Innalillah Wainna Ilaihi Rojiun”, seperti orang sedang ditimpa
mushibah.
Setelah menjadi khalifah ia kirimkan seluruh harta kekayaan ke kantor
kas Negara, termasuk perhiasan pribadi istrinya, Fathimah binti Abdul Malik
yang didapat dari pemberian ayahnya.Ia menanggalkan semua kemewahan
hidupnya demi memikul amanah ini.

4
M.Abdul karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Pustaka Book Publisher:
Yogyakarta, 2007), Cet 1, hal 120.

13
Suatu ketika ia pernah terlmabat perg ke masjid di hari jumat, karena
pakaian satu-satunya yang dipenuhi tempelan jahitan belum kering dicuci. Di
lain hari anak bungsunya menghadap kepadanya karena sudah tidak tahan
dengan makanan-makanan kasar yang menjadi konsumsi mereka, ia berkata:
wahai anakku, apakah kau senang makan makanan lezat sedangkan yahmu
masuk neraka?”.
Kebijakan Umar dalam menata adminstrasi terfokus untuk
memberikan jaminan keamanan bagi rakyat, demi memberikan keamanan dan
kenyamanan bagi rakyat ia meninggalkan kebijakan-kebijakan pendahulunya
yang memfokuskan pada perluasan dan penguasaan Negara.
Kebijakan yang ditetapkan; mengatur para penguasa dan pejabat
daerah. Netral dan adil dalam pemberian hak dan kewajiban kepada orang
arab dan mawali. Mereka yang tidak cakap dan mampu, ber-KKN dan Zalim
serta tidak memihak kepada kepentingan rakyat dipecat tanpa pandang bulu.
Ia adalah satu-satunya khalifah Bani Umayyah yang mampu meredam
konflik antar golongan dan sekte, para da’I, alim ulama, dan sufi berbondong-
bondong dating dari berbagai kawasan, masa itu betul-betul masa keemasan
islam.
Umar pun telah memikirkan penggantinya yang lain dari pada yang
diwasiatkan Abdul Malik yakni Yazid bin Abdul Malik. Ia sadar Yazid bin
Abdul Malik tidak layak untuk memangku jabatan itu. Tetapi sebelum ia
melakukan apa yang sebaiknya dilakukan maut telah menyambutnya, ia
meninggal pada tahun 720.

2.3.6 Yazid bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam (101-105 H / 717-720 M)
Penguasa yang satu ini terlalu gandrung kepada kemewahan dan
kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Masyarakat yang sebelumnya
hidup dalam ketentraman berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan
kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap
pemerinyahannya.

14
2.3.7 Hisyam bin Abdu Malik bin Marwan (105-125 H / 724-743 M)
Pada masa ini kekacauan semakin bertambah bahkan ada satu
kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi Dinasti Umayyah . kekuatan
itu berasal dari Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali. Pada
perkembangan berikutnya, kekuatan ini dapat menghancurkan Dinasti
Umayyah.

2.4 Kemunduran Dinasti Umayyah I


Bani Umayyah mengalami keruntuhan oleh banyak hal, diantaranya adalah
terbaginya kekuassaan ke dalam dua wilayah. Khalifah Marwan bin Muhammad
berkuasa di wilayah Semenanjung Tanah Arab, dan Khalifah Yazid bin umar
berkuasa di wilayah Wasit. Tetapi yang paling kuat adalah yang berpusat di
Semenanjung Tanah Arab. Sehinnga para pendiri Bani Abbasiyah terus-menerus
mengatur strateginya untuk menmbangkan Khalifah Marwan. Dan diantara faktor
kemunduran Dinasti Umayyah adalah :
a. System pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu
yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas.
Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan system pergantian khalifah
menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalankan
keluarga istana.
b. Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa
dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-
sisa Syi’ah dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi. Penumpasan
terhadap gerakan-gerakan ini menyedot perhatian kekuatan para
pemerintah.
c. Pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia
Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin
meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa mendapat
kesulitan untuk menggalang persatuan dn kesatuan.
d. Ketidakpuasan golongan mawali, terutama di Irak dan wilayah bagian
timur lainnya, terhadap perbedaan tingkat sosial.

15
e. Lemahnya pemerintahan juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di
lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul
beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di
samping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian
para pemerintah sangat kurang terhadap perkembangan agama.
f. Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas
Ibn Abdul Muthalib.

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Bani Umayyah atau kekhalifahan Umaiyah adalah kekhalifahan Islam
pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661-750 M di
jazirah Arab yang berpusat di Damaskus, Syiria, serta dari 756-1031 di Cordoba-
Andalusia, Spanyol. Masa kekhalifahan Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun
yaitu dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. Nama Dinasti
Umayyah diambil dari nama nenek moyang mereka yaitu Umayyah bin Abdi Syams
bin Abdimanaf. Ia adalah salah seorang terkemuka dalam dalam persukuan pada
zaman Jahiliyah, bergandeng dengan pamannya Hasyim bin Abdimanaf. Umayyah
dan Hasyim berebut pengaruh politik dalam proses-proses sosial-politik pada zaman
Jahiliyah, namun Umayyah lebih dominan.
Dari dinasti Umayyah ini terdapat 14 Khalifah yang bergantian memimpin
dalam masa pemerintahan, dimulai dari Muawwiyah (661) sampai dengan Marwan
II (750).
Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, pemerintahan agama Islam
mengalami banyak kemajuan baik dalam politik, seni budaya, maupun ilmu
pengetahuan. Tetapi, pemerintahan Dinasti Umayyah runtuh akibat banyaknya
penguasa yang berfoya-foya dan adanya pemberontakan dari golongan yang tidak
puas.

3.2 Kritik dan Saran


Pada kesempatan yang baik ini penulis ingin menyampaikan saran dan
kritik :
3.2.1. Bagi pembaca, diharapkan mampu memberikan masukan kepada
pemakalah jika terdapat kekurangan dan kesalahan. Dan semoga makalah
ini dapat memberikan pengetahuan tentang Fungsi Al-Qur’an bagi Umat
Manusia.

17
3.2.2. Bagi penulis, diharapkan mampu lebih berhati-hati dalam menulis dan
selalu memperhatikan kaidah tulisan dan senantiasa memperbanyak
literature mengenai makalah yang telah dibuat.

18