Anda di halaman 1dari 17

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMUMIAN
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

TUGAS MAKALAG GEOLOGI SULAWESI


“STRATIGRAFI KEPULAUAN BANGGAI”

OLEH
KELOMPOK 1
AHMAD KURINAWAN F1G1 14 001

ASDIWAN F1G1 14 003

ASRI F1G1 14 004

BUSTAM F1G1 14 006

DARSONO F1G1 14 008

DIANYUSTIKA RINI F1G1 14 009

ERBIT ASKAR F1G1 14 010

ERICK RIYANTO F1G1 14 011

HAMLIANA F1G1 14 012

JAINAL F1G1 14 014

LAODE MUHAMMAD ZULKIFLI F1G1 14 065

KENDARI
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Geologi Sulawesi ini tentang tatanan stratigrafi
kepulauan banggai.

Adapun makalah Geologi Sulawesi ini tentang tatanan stratigrafi


kepulauan banggai telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya
dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih
kepada pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Namun
tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan
baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan
lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca
yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki makalah Geologi Sulawasi ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah Geologi


Sulawesi ini kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat
memberikan inpirasi terhadap pembaca.

Kendari, 2017

Penyusun
DAFRAT ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………….i

DAFTAR ISI…………………...…………………………………………………ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG…………………………………..………………1


1.2 RUMUSAN MASALAH………………………………………………..2
1.3 TUJUAN…………………………………………………………………2

BAB 2 PEMBAHSAN

2.1 KERANGKA TEKTONIK KEPULAUAN BANGGAI SULA….…3

2.2 STRATIGRAFI KEPULAUAN BANGGAI SULA……………….10

BAB 3 PENUTUP

3.1 KESIMPULAN………………………………………….…………….13

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………...14
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya dibagi menjadi tiga mendala (propinsi)
geologi, yang secara orogen bagian timur berumur lebih tua sedangkan bagian
barat lebih muda. Mendala-mendala tersebut adalah mendala Sulawesi Barat,
mendala Sulawesi Timur dan mendala Banggai-Sula (Gambar 2.1). Pembagian
tersebut didasarkan pada stratigrafi, struktur dan sejarah masing-masing mendala.
Kepulauan Banggai dan Kepulauan Sula merupakan satu mendala geologi
tersendiri, daerah Sulawesi Tenggara termasuk lengan timur Sulawesi termasuk
mendala Sulawesi Timur sedangkan mendala Sulawesi Barat yang meliputi daerah
Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah bagian barat dan Sulawesi Utara. Mendala
Banggai-Sula mempunyai urutan sedimen yang menonjol, yang diendapkan
selama Jura dan Kapur. Urutan ini menindih batuan sedimen yang diendapkan tak
selaras di atas batuan gunungapi dan kompleks alas batuan metamorf dan batuan
bersifat granit.
Banggai Sula Mikrocontinent merupakan bagian dari lempeng benua stralia-
New Guinea yang terlepas selama zaman Mesozoik akhir. Hal inididukung
dengan adanya kesamaan dalam stratigrafi Pra Cretaceous beradadiatas basement
Paleozoic granitic dan metamorphic. Selama periode Miosen hingga Pliosen,
Mikrocontinent bertubrukan dengan lempeng Asiatic menghasilkan obduction
kearah timur dari ophiolite di Timurlaut Sulawesi.Cekungan Banggai/Tomori
tergolong unik. Cekungan Banggai/Tomori diketahui memiliki kandungan
hidrokarbon, tetapi uniknya, di cekungan di sebelahnya, seperti P.Seram, Buton,
dan sebagainya, itu tidak ada. hal itu disebabkan Cekungan Banggai yang
merupakan bagian dari mintakat (microcontinent) Banggai-Sula, yang
diinterpretasikan sebagai fragmen dari Australian Continent.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan pada makalah geologi Sulawesi ini adalah sebagai berikiut:
1. Bagiaman Kerangka Tektonik Kepulauan Banggai Sula?
2. Bagaimnana Kondisi Tatanan Stratigrafi Kepulauan Banggai Sula?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalaha sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui Kerangka Tektonik Kepulauan Banggai Sula?
2. Dapat mengetahui Kondisi Tatanan Stratigrafi Kepulauan Banggai Sula?
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Kerangka Tektonik Kepulauan Banggai Sula


Konsep escape tectonics (extrusion tectonics) yang dikemukakan oleh
Molnar dan Tapponnier (1975), Tapponnier dkk. (1982), dan Burke dan Sengör
(1986) dicoba diterapkan di Indonesia (Satyana, 2006). Escape tectonics adalah
konsep tektonik yang membicarakan terjadinya gerak lateral suatu blok geologi
menjauhi suatu wilayah benturan di benua dan bergerak menuju wilayah bebas di
samudra. Karena itu, peneyebutan konsep tektonik ini lebih sesuai bila disebut
: post-collisional tectonic escape (gerak lateral menjauh
pascabenturan). Eksplorasi hidrokarbon di wilayah Indonesia membantu
menunjukkan bukti-bukti bahwa telah terjadi escape tectonics di Indonesia.
Secara singkat bisa dikatakan, zone benturan dicirikan oleh jalur sesar-lipatan
yang ketat, sementara hasilescape tectonics dicirikan oleh sesar-sesar mendatar
regional, sesar-sesar normal, dan retakan-retakan atau pemekaran kerak Bumi.
Awang H. Satyana (2007) mengidentifikasi lima peristiwa benturan di Indonesia
yang membentuk atau mempengaruhi sejarah tektonik Indonesia sepanjang
Kenozoikum. Benturan pertama adalah benturan India ke Eurasia yang terjadi
mulai 50 atau 45 Ma (Eosen awal-tengah). Benturan ini telah menghasilkan Jalur
Lipatan dan Sesar Pegunungan Himalaya yang juga merupakan suture Indus.
Benturan ini segera diikuti oleh gerakan lateral Daratan Sunda (Sundaland) ke
arah tenggara, sebagai wujud escape tectonics, diakomodasi dan dimanifestasikan
oleh sesar-sesar mendatar besar di wilayah Indocina dan Daratan Sunda,
pembukaan Laut Cina Selatan, pembentukan cekungan-cekungan sedimen di
Malaya, Indocina, dan Sumatra, dan saat ini oleh pembukaan Laut Andaman.
Sesar-sesar ini terbentuk di atas dan menggiatkan kembali garis-
garis suture akresi batuandasar berumur Mesozoikum di Daratan Sunda. Sesar-
sesar besar hasil escape tectonics ini adalah : Sesar Red River-Sabah, Sesar Tonle-
Sap-Mekong (Mae Ping), Sesar Three Pagoda-Malaya-Natuna-Lupar-Adang, dan
Sesar Sumatra.
Benturan kedua terjadi pada sekitar 25 Ma (Oligosen akhir) ketika sebuah
busur kepulauan samudra yang terbangun di tepi selatan Lempeng Laut Filipina
berbenturan dengan tepi utara Benua Australia di tengah Papua sekarang.
Benturan ini menghasilkan jalur lipatan dan sesar Pegunungan Tengah Papua dan
segera diikuti olehescape tectonics berupa sesar-sesar mendatar besar dan
pembentukan cekungan akibat runtuhan (collapse) di depan zone benturan. Sesar-
sesar besar tersebut adalah Sesar Sorong-Yapen (bagian awalnya), Sesar Waipoga,
Sesar Gauttier, dan Sesar Apauwar-Nawa. Pembukaan daerah cekungan (basinal
area) Papua Utara (termasuk di dalamnya Cekungan Waipoga, Waropen, Biak,
Jayapura) dan Cekungan Akimeugah di selatan zone benturan Pegunungan
Tengah Papua, terbentuk akibat runtuhan untuk mengkompensasi tinggian akibat
benturan. Sesar-sesar mendatar yang terbentuk juga mempengaruhi pembentukan
cekungan-cekungan ini.
Benturan ketiga adalah benturan antara mikro-kontinen Kepala Burung
dengan badan Papua pada sekitar 10 Ma (Miosen akhir). Jalur lipatan dan sesar
Lengguru menandai benturan ini. Sesar-sesar mendatar yang menjauh dari zone
benturan ini seperti Tarera-Aiduna, Sorong, Waipoga, dan Ransiki
menunjukkan escape tectonicspascabenturan. Cekungan Bintuni yang terletak di
sebelah barat Jalur Lengguru merupakan foreland basin yang terbentuk sebagai
akibat post-collisionextensional
structure.

Gambar 1.1 Kerangka Perkembangan Tektonik Mikro-kontinen Banggai-Sula


(op.cit BATM Report, 2011)

Benturan keempat terjadi dari 11-5 Ma (Miosen akhir-Pliosen paling awal)


ketika mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan Banggai-Sula membentur ofiolit
Sulawesi Timur. Kedua mikro-kontinen ini terlepas dari Kepala Burung Papua
dan bergerak ke barat oleh Sesar Sorong. Benturan ini telah membentuk jalur
lipatan dan sesar Buton di selatan Sulawesi Timur dan Jalur Batui di daerah
benturan Banggai dan Sulawesi Timur. Kedua benturan ini telah diikuti tectonic
escapes pascabenturan dalam bentuk-bentuk rotasi lengan-lengan Sulawesi,
pembentukan sesar-sesar menndatar besar Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo,
Hamilton, Matano, dan Balantak, dan pembukaan Teluk Bone. Gerak sesar-sesar
mendatar ini di beberapa tempat telah membuka cekungan-cekungan
koyakan (pull-apart basin) akibat mekanisme trans-tensional seperti danau-
danau Poso, Matano, Towuti juga Depresi Palu.
Benturan terakhir mulai terjadi pada sekitar 3 Ma (pertengahan-Pliosen)
ketika tepi utara Benua Australia berbenturan dengan busur Kepulauan Banda.
Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar forelandsepanjang Timor,
Tanimbar sampai Seram. Di wilaya Seram, jalur ini juga banyak dipengaruhi oleh
benturan busur Seram dengan mikro-kontinen Kepala Burung. Pembukaan lateral
juga terjadi mengikuti benturan busur-benua ini, pembukaan ini adalah
manifestasi tectonic escape. Sesar-sesar mendatar besar terbentuk hampir sejajar
dengan orientasi Pulau Timor. Pengalihan tempat mikro-kontinen Sumba dan
pembentukan serta pembukaan Cekungan Weber, Sawu, dan Laut Banda dapat
berhubungan dengan escape tectonics pascabenturan ini melalui
mekanismeextensional structure atau collapse yang mengikuti arc-continent
collision. Kasus-kasus di Indonesia ini menunjukkan bahwa tectonic
escapes adalah gejala dan proses yang penting dalam evolusi wilayah konvergen
seperti Indonesia. Konsep escape tectonics memberikan kontribusi penting untuk
pemahaman bagaimana benua terbangun dan terpotong-potong.

Banggai-Sula Mikrokontinen merupakan bagian dari benua Australia


Utara – New Guinea. Selama zaman Mesozoic Lempeng mikro Banggai-Sula
terpisah dan bergerak kearah barat Lempeng Asia. Periode extensional ini
dicirikan dengan sebuah fase transgresi klastika jurasik dari daratan ke laut
dangkal yang berada diatas anoxic shalelaut dalam. Secara utama proses
sedimentasi passive margin terjadi dalam Cretaceous hingga Tersier selama
pergerakannya kearah barat.
Collision dari Banggai-Sula dengan Lempeng Asia terjadi dari Miosen
Tengah hingga Pliosen dan dihasilkan dalam kerak samudra Asia, Sulawesi
ophiolite, sedang ditekan menuju timur pada Lempeng mikro Banggai-
Sula.Episode compressive merupakan hal yang mengakibatkan terjadinya struktur
sesar yang muncul di paparan Taliabu. Mengikuti aktivitas pensesaran dan
pengangkatan dari Sulawesi timus, kearah timur dihubungkan dengan
pengendapan molasses yang dimulai pada Pliosen awal. Sedimen molasses pada
periode Pliosen dan Pleistosen, mengalami progradasi kearah timur mengisi area
cekungan hingga ke bagian barat pulau Peleng.

Gambar 1.2. Peta Lokasi Cekungan Banggai

Di bagian utara Banggai-Sula mikrokontinen merupakan batasan


dengan lempeng laut Maluku. Sedimen yang terdeformasi menunjukan bukti
obduksi menuju north-dipping bagian Mesozoik hingga Tersier. Sequence yang
terdeformasi mungkin menjadi bagian yang tersusun atas sedimen imbrikasi dari
batuan asal Banggai-Sula tapi lebih menyerupai sebuah mélange tektonik yang
menutupi laut Maluku. Jauh ke utara diketahui kandungan sedimen yang
berasosiasi dengan batuan ultrabasa dan batuan vulkanik.

Gambar1.3 Keadaan Tektonik pada Cekungan Banggai.

Ditempat lain, sesar normal periode Pliosen akhir hingga Pleistosen


diakibatkan bagian dari gaya tekanan compressive awal, dihasilkan dari
subsidence pada selat Peleng. Kompleks Collisi / terusan sabuk diinterpretasikan
terbentuk sebagai suatu hasil dari proses kolisi, yang terjadi selama Kala Miosen,
dari Lempeng Mikro Kontinen Banggai-Sula dan sebuah Busur vulkanik Tersier,
yang membentuk daerah yang dikenal sebagai Sulawesi Tengah pada saat ini.
Proses Collisi menghasilkan lipatan yang mempengaruhi daerah disekitarnya,
penujaman, dan imbrikasi dari sedimenter, dan juga pada ubduksi dari salah satu
massa ophiolit terbesar di dunia, yakni Sabuk Ophiolit Sulawesi Bagian Timur.
Lempeng Mikro Kontinen Banggai-Sula diinterpretasikan mempunyai
lokasi awal yang jauh ke arah timur dari lokasinya yang sekarang, dipredeksikan
di dekat daerah New Guinea Bagian Tengah, dan membentuk Lempeng Kontinen
Mayor dari Australia-New Guinea, dimana lempeng ini sendiri terbentuk sebagai
hasil dari proses pemisahan dari Gondwana, yang terjadi selama Masa
Mesozoikum. Pada saat proses pemisahan berlangsung, lempeng mikro
mengalami pemekaran ke arah barat, dan subduksi kerak oceanic yang cenderung
ke arah barat, berhubungan dengan bagian tepi dari lempeng mikro yang dikenal
pada saat sekarang ini dengan Sulawesi Barat.
Inisial sedimentasi yang berada di atas basement batuan beku atau
metamorfik dari Lempeng mikro Banggai-Sula yang berumur Paleozoikum Akhir
dimulai dari sedimen laut dangkal hingga laut dalam, sedimen klastik berumur
Jura, sedimen khas hasil pemisahan, batas pemekaran sikuen. Batupasir laut
dangkal dan material lempung dijumpai pada daerah Peleng Timur dan fasies laut
dalam, termasuk turbidit, dijumpai pada daerah bagian barat dari Sulawesi Timur.
Sedimentasi pasif yang terjadi selama Zaman Kapur hingga Paleogen, sebagai
hasil dari proses pemekaran ke arah barat dari lempeng mikro yang
berkesinambungan. Adanya singkapan yang muncul di permukaan yang terbatas
dan data well memperlihatkan bahwa sedimentasi karbonat dimulai pada Kala
Eosen pada bagian selatan dan barat dari wilayah ini, sementara di daerah lain di
bagian timur sedimentasi karbonat tidak jelas terjadi hingga Kala Miosen. Pada
suatu paparan (shelf) dengan kaberadaan karbonat yang ekstensif, dilokalisir oleh
pertumbuhan terumbu karang, mengelilingi wilayah Banggai Sula selama Kala
Miosen.
Selama Kala Miosen Akhir hingga Pliosen Awal, collisi dari lempeng
mikro dengan bagian luar, busur non-vulkanik menghasilkan gaya kompresi yang
mengarah ke timur, terobosan dan imbrikasi dari sedimenter, dan obduksi dari
ophiolit mulai dari tepian lempeng Asia ke Lempeng Mikro Banggai-Sula. Plat
Banggai-Sula bersama dengan sedimenter bagian atas pada akhirnya merupakan
plat yang yang berada di dalam overthrust sedimenter Tersier dan Mesozoik dan
batuan beku ultrabasa yang membentuk kompleks collisi pada saat ini. Bersama
dengan sedimen flysch, yang dihasilkan oleh proses erosi dari kompleks collisi,
terjadi di depan dari penunjaman bagian timur. Komponen utama dari sedimen ini
adalah debris ophiolit.
2.2 Tatanan Stratigrafi Kepulauan Banggai Sula
Banggai Sula Mikrokontinen memiliki urutan stratigrafi yang diurutkan
berdasarkan umur dari Paleozoikum hingga Kuarter (Gambar.3). Batuan alas
(basement) merupakan basal klastik berumur Paleogen tipis (Eosen akhir-
Oligosen awal) dan batuan karbonat, dan dalam skala regional berupa batuan
karbonat dan klastik (Kelompok Salodik).
2.2.1 Pra Jurasik
 Metamorphic Tanpa Nama
Basement berupa batuan metamorf terdiri atas slate, schist, dan gneiss
yang mungkin sudah mengalami proses deformasi pada periode Paleozoikum
Atas. Selama Permian Akhir hingga Triassic batuan granite bercampur
dengan Basement. Tingkat metamofisme tinggi dihasilkan oleh intrusi ini
yang sebagiannya merupakan hornfel.Batuan alas (Basement) dari Lempeng
Mikro Banggai Sula terlihat dalam bentuk outcrop/singkapan di Pulau Peleng
dan beberapa singkapan yang terdapat di Tomori PSC, merupakan sekis
primer yang terintrusi oleh Granit berumur Perm hingga Trias.
 Granit Banggai
Granit diperkirakan berumur Permian Akhir hingga Triassic. Terdapat
bermacam-macam intrusi di daerah ini, termasuk Orthoclase merah kaya
granit, granadiorit, diorite kuarsa, mikrodiorit, syenite porphiri, aplite dan
pegmatite. Di Banggai dan Selatan Taliabu, granit terlihat segar dan ini
menjadi dalil kemunculannya relatif masih baru sebagai hasil dari proses
pengangkatan dan pensesaran. Terlihat jelas seperti pada pulai Kano, granit
mengalami pelapukan secara intensif, ini memungkinkan terjadi selama
periode pembukaan benua yang berasosiasi denganrifting pada Jurassic
Awal. Variasi outcrop dari batuan yang berumur Mesozoikum terekam
sebagai jendela tektonik di Cekungan Banggai, terutama pada sabuk ophiolit.
Batuan yang berumur Trias hingga Kapur terbentuk dan meliputi
batugamping pelagic dan batulempung, batugamping laut dangkal dan
turbidit, dan batupasir. Keduanya merupakan reservoir potensial dan batuan
induk yang terekam. Diperkirakan sekitar 14.000 kaki dari sedimen Tersier
dikenali pada bagian tengah wilayah lepas pantai dari blok Tomori dari
interpretasi seismic. Sedimen-sedimen tersebut cenderung menebal secara
signifikan kearah barat dan barat daya.

Gambar 3. Stratigrafi Regional Cekungan Banggai.

2.2.2 Mangole Vulkanik


Muncul dengan ketebalan sekitar 1000m di Banggai, Taliabu, dan
Mangole dan termasuk didalamnya rhyolite, dasit, ignimbrite lithic tuff dan breksi
pada Pulau Bangga yang mengandung fragmen batuan metamorf.Sedimentasi
karbonat terus berlangsung hingga zaman Kuarter dan pengangkatan pada zaman
recent secara ekstensiv memunculkan beberapa dari endapan-endapan ini.
2.2.3 Formasi Luwuk/Peleng
Terbentuknya batugamping pada Formasi Luwuk dan Peleng ditemukan
lebih banyak pada Pulau Peleng. Tipe sedimen utama digambarkan sebagai karang
konglomerat karena ini terbentuk oleh campuran acak dari karang-karang yang
hancur, molusca, algae dan foraminifera. Pengendapan terjadi dibawah kondisi
energy yang tinggi, dalam beberapa kasus kemungkinan berasosiasi dengan lereng
curam sesar aktif yang mengindikasikan seluruh wilayah tetap menyisakan
aktifitas geologi yang aktif.
2.2.4 Endapan Recent, Alluvium
Berupa lempung, lanau, pasir dan gravel yang berasosiasi dengan rawa-
rawa, sungai dan pantai yang muncul dalam lokasi yang bermacam-macam
disekitar pesisir dan dekat bibir sung.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut
1. Benturan kedua terjadi pada sekitar 25 Ma (Oligosen akhir) ketika sebuah
busur kepulauan samudra yang terbangun di tepi selatan Lempeng Laut
Filipina berbenturan dengan tepi utara Benua Australia di tengah Papua
sekarang. Benturan ini menghasilkan jalur lipatan dan sesar Pegunungan
Tengah Papua dan segera diikuti olehescape tectonics berupa sesar-sesar
mendatar besar dan pembentukan cekungan akibat runtuhan (collapse) di
depan zone benturan. Sesar-sesar besar tersebut adalah Sesar Sorong-
Yapen (bagian awalnya), Sesar Waipoga, Sesar Gauttier, dan Sesar
Apauwar-Nawa. Pembukaan daerah cekungan (basinal area) Papua Utara
(termasuk di dalamnya Cekungan Waipoga,
2. Banggai Sula Mikrokontinen memiliki urutan stratigrafi yang diurutkan
berdasarkan umur dari Paleozoikum hingga Kuarter (Gambar.3). Batuan
alas (basement) merupakan basal klastik berumur Paleogen tipis (Eosen
akhir-Oligosen awal) dan batuan karbonat, dan dalam skala regional
berupa batuan karbonat dan klastik (Kelompok Salodik).
DAFTAR PUSTAKA

Allen, A., dan J.R. Allen, 1990, Basin Analysis Principles and Applications :
Blackwell Scientific Publicationa, 451 hal.
BATM, 2011, Studi Penajaman Prospek Hidrokarbon Tiara dan Grupa Wilayah
Offshore Toili, Blok Senoro-Toili
Koesoemadinata, R.P., Taib, M.I.T., dan Samuel, L., 1994. Subsidence Curves
and Modeling of Some Indonesia Tertary Basins : AAPG
International Conference and Exhibition Kuala Lumpur, Malaysia,
hal. 1- 42.
Magara, K., 1976, Water Expulsion from Clastic Sediment During Compaction
Direction and Volumes : AAPG Bull., vol. 60, no. 4, hal. 543-553.
Wu. C.1994, Burial Geohistory & Backstripping Analysis, Jurusan Teknik
Geologi, Laborato-rium Geokomputasi, ITB. Wu, C., dan Taib,
M.I.T., 1995, Geohisfory Modeling : Buku pegangan matakuliah
Geohistory Modeling untuk Program Studi Geologi, Fakultas
Pascasarjana, ITB.