Anda di halaman 1dari 4

BIJAK MENYIKAPI MARAKNYA GAME ONLINE

Game online, telah berkembang pesat dan digemari banyak kalangan, tidak terkecuali
mahasiswa. Semakin lama, permainannya semakin menyenangkan. Mulai dari tampilan, gaya
bermain, grafis permainan, resolusi gambar dan lain sebagainya. Tak kalah juga
bervarisasinya tipe permainan seperti permainan perang, petualangan, perkelahian dan game
online jenis lainnya yang membuat menariknya permainan.

Memainkan game online saat ini telah menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat
modern. Namun, segala sesuatu, apapun itu, bila dilakukan secara berlebihan, maka akan
mendatangkan banyak kerugian bagi yang menggunakannya.

Dalam batas penggunaan yang tidak berlebihan, game online pada dasarnya dapat
dikatakan sebagai sarana hiburan atau kegiatan pengisi waktu luang. Namun, ada pula pemain
game online yang kesulitan mengendalikan kebiasaan bermain mereka hingga menjadi
adiksi/kecanduan.

Hal ini terjadi pada Muhammad Fazrul Rahman. Mahasiswa program studi Geofisika
ini mengisi hari-harinya dengan bermain game. Fazrul mengaku bahwa, awalnya bermain
game hanyalah untuk mengisi waktu luang. Tetapi, karena game tersebut menimbulkan rasa
ingin tahu sehingga bermain game menjadi hobi yang kemudian membuatnya menjadi
kecanduan untuk terus-terusan bermain game. Bermain game sudah seperti menjadi
kebutuhan, bahkan tanpa disengaja pun tetap kepikiran akan game dan akhirnya mulai
bermain lagi. Menurut Fazrul, ketika banyak masalah, bosan, atau bahkan ketika stres,
bermain game adalah cara efektif untuk menghilangkannya, sehingga pernah selama dua hari
penuh atau 48 jam bermain game di warnet. Fanatiknya bermain game, membuat mahasiswa
angkatan 2016 ini begadang sampai terbit fajar hanya untuk bermain game dan akhirnya telat
masuk kelas, bahkan karena asiknya bermain game tugas-tugas kuliahpun terbengkalai.
”Sebenarnya, saya telah mengetahui bahwa game tidak mempunyai banyak manfaat dan lebih
ke menghabiskan waktu melakukan hal yang sia-sia, namun, rasa sadar akan hal itu sangat
kecil dibanding kemauan saya untuk bermain game”, ungkapnya, Kamis (26/10).

Hal serupa juga dialami oleh Sairuddin Bae. Mahasiswa Administrasi Negara ini juga
sering bermain game online. Namun, ia bermain game hanya saat ada waktu luang, karena
menurutnya game hanya sarana hiburan. Mahasiswa angkatan 2013 ini mengakui bahwa
ketika bermain game akan ada selalu rasa penasaran, itulah sebabnya selalu bertahan untuk
bermain game. “Kalau masalah buang-buang waktu, sebenarnya tergantung dari kita
bagaimana caranya menyikapi game tersebut, jika digunakan hanya untuk hiburan disaat
waktu luang saya rasa tidak masalah”, katanya, Sabtu (11/11).

Tanggapan lain datang dari Hardiyanti Yunus, mahasiswa dari jurusan keperawatan
ini juga sering memainkan game online. Menurutnya, Game yang sering ia mainkan seperti
hidup di dunia nyata. Didalam game itu dia bisa memilih karakternya dan ingin menjadi
seperti apa. Perempuan yang akrab disapa Anti ini, mengaku bahwa game mampu
menghilangkan kebosanan dan stresnya. Dia selalu merasa senang ketika bermain game,
sehingga selalu membuatnya ingin memainkan game cukup lama. Lewat game juga ia
menemukan banyak teman dari berbagai Negara, sehingga mengasah kemampuannya untuk
berbahasa Ingris. Selain itu, mahasiswa angkatan 2016 ini mengungkapkan, game yang sering
ia mainkan dapat digunakan sebagai tempat mencari uang, tetapi dia tidak tertarik mencari
uang lewat game. ”Saya tidak tertarik mencari uang lewat game, walaupun sebenarnya saya
mampu, tapi saya tidak mau terlalu tergiur dengan dunia imajinasi. Saya lebih mendahulukan
dunia real saya, karena saya main game dengan tujuan menghilangkan kebosanan dan stress,
bukan sebagai pekerjaan” tuturnya. Diyan juga, masih mampu memposisikan dirinya sebagai
mahasiswa yang prioritas utamanya adalah kuliah, walaupun sering karena game ia kurang
bersosialisasi. “Sebagai mahasiswa kita seharusnya tidak terlalu fanatik pada game. Game
memang menyenangkan tapi jangan sampai terbuai dan melupakan kehidupan real. Yang
harus diingat sebagai mahasiswa yaitu tugas kita adalah kuliah, dan mimpi kita akan tercapai
lewat kuliah bukan game” , tambahnya menjelaskan, Jumat (10/11).

Selanjutnya, hal yang sama juga dialami oleh Khumaira Alya Aqilah. Mahasiswa
angkatan 2017 ini juga sering bermain game online untuk menghilangkan rasa bosan dan
stress. Apalagi game yang ia mainkan seperti memainkan sebuah peran dan ada misi yang
harus diselesaikan didalam game tersebut. Mahasiswa jurusan agroteknologi ini juga
mengakui bahwa ia sering juga lupa waktu karena asiknya bermain game, namun tetap
berusaha untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah dan belajar terlebih dahulu sebelum
bermain game. “Kadang saya juga berpikir kalau main game itu buang-buang waktu, namun
jika tidak ada hal penting yang harus dilakukan, maka saya isi dengan bermain game. Saya
rasa itu tidak masalah”, ungkapnya, Jumat (10/11).

Mahmudin Safiu, mahasiswa teknik sistem perkapalan ini juga sering bermain game.
Walaupun ia bermain game disaat ada waktu luang, namun bermain game selalu membuat dia
penasaran, karena ketika kalah, selalu ingin balas kekalahan, begitu juga ketika menang akan
tambah bersemangat untuk main lagi dan lagi. Mahasiswa angkatan 2016 ini juga
beranggapan bahwa masalah utama yang dihadapi para gamer adalah masalah manajemen
waktu dan kurangnya kepedulian terhadap kesehatannya sendiri. “Saya sendiri memang
pernah melalaikan tugas kuliah saya karena asiknya bermain game. Namun, makin kesini
saya makin belajar untuk memanajemen waktu dengan baik”, tuturnya, Sabtu (11/11).

Cerita berbeda tentang game datang dari Reski Amalia, mahasiswa program studi
Ilmu Hukum ini sudah sangat handal bermain game online terlebih lagi jika gamenya berjenis
MOBA (Multiplayer Online Battle Arena). Mahasiswa yang akrab disapa Kiki ini,
menjelaskan kegemarannya bermain game online bukan hanya karena iseng atau sekedar
mencari kesenangan, tapi ada keinginan untuk sampai ditingkat kompetitif dan ingin
membuktikan bahwa perempuan bisa main game, bisa menang kompetisi, sehingga sampai
sekarang masih bertahan untuk terus bermain game. Kiki juga mendapat banyak teman dan
berbagai pengalaman lewat game. Salah satu pengalamannya, bisa merasakan beberapa kali
euforia mengikuti turnamen game dan mendapatkan juara, selain itu karena kemampuannya
bermain game kiki juga mendapat kesempatan direkrut oleh tim e-sport perempuan terbesar
di Indonesia (Female Fighters). Mahasiswa angkatan 2015 ini, beranggapan bahwa bermain
game memang membuang-buang waktu apabila terlalu berlebihan digunakan. Selain itu, kiki
mengaku kuliahnya pernah terbengkalai karena game, tapi dia punya teman yang selalu
support dan mengingatkan, jadi makin kesini dia juga belajar untuk mengatur waktu.
“Bermain game memang membuang-buang waktu jika sampai lupa dengan aktivitas
kehidupan nyata seperti ibadah, kuliah, bersosialisasi, dan lainnya. Namun, jika bermain
game disaat waktu-waktu kosong kayaknya tidak ada salahnya, seperti saya yang punya
banyak waktu kosong. Intinya ambil positifnya yang didapat dari game”, tuturnya, Jumat
(10/11).

Menanggapi hal ini, pakar psikologi, Istiana Tajuddin Spsi MPsi Psikolog
beranggapan bahwa dampak positif dari bermain game online, yaitu dapat memperluas
jejaring, karena biasanya di game online banyak gamers dari berbagai negara yang bermain
game tersebut yang kadang kita diajak untuk chat, bahkan berkenalan. Secara virtual,
seseorang yang bermain game online bisa membangun konsep sosial. Namun, yang menjadi
persoalannya adalah itu maya, tidak nyata. Untuk dampak negatifnya banyak sekali, yaitu
dapat mengambil banyak waktu, yang membuat pembagian waktu seseorang tidak efektif.
Kedua, akan mengganggu interaksi seseorang dengan orang lain disekitarnya. Jadi, kalau
seseorang fokus bermain game, tentu saja dia tidak fokus dengan orang-orang yang ada
disekitarnya. Selanjutnya, akan mengganggu kuliah yang seharusnya jadi prioritas. “Bermain
game memang sangat menyenangkan. Namun, bermain game online itu tidak bisa dipause,
jadi harus di ikuti sampai waktu tertentu. Ini pasti yang akan menggangu regulasi dirinya.
Misalnya mau kerja tugas, tapi sayang untuk meninggalkan game karena levelnya sudah
jauh”, ujarnya, Jumat (27/10).

Bermain game memang dapat menghilangkan stress, namun hanya sementara. Ketika
berhenti bermain game, stress akan kembali lagi. Jadi, bermain game merupakan langkah
yang tidak efektif untuk menyelesaikan masalah apalagi untuk menghilangkan stress.
Biasanya orang-orang yang terlalu fokus bermain game akan kehilangan prioritas. Mereka
tidak tau apa sebenarnya prioritas mereka. Mereka tidak punya perencanaan (scheduling),
yang bisa jadi ini juga merupakan perwujudan bahwa mereka kurang keras dengan
perkuliahannya, dan tugas-tugasnya. Kalau di anggap bahwa melatih ketangkasan, lebih baik
melatih ketangkasan di dunia yang nyata saja, karena melatih ketangkasan di dunia game
adalah sesuatu yang tidak nyata (maya).

Selanjutnya, Istiana Tajuddin menjelaskan beberapa hal yang membuat seseorang


kecanduan dengan game. Game dapat membuat kecanduan karena mempunyai lima stimulus
yang menarik, yaitu gerak, bahasa, suara, warna, dan gambar. Game memancing semua panca
indera, jadi semua panca indera ikut terlibat sehingga bermain game menjadi sangat menarik,
sangat addictive, dan sangat mengikat yang dapat membuat seseorang menjadi nyaman.
“Ketika bermain game, memang butuh niat dari orangnya sendiri, supaya bisa mengendalikan
diri. Jadi, niat awal ketika dia main game bahwa game ini tidak menjadi hal yang mengatur
kita, tapi kita yang dapat mengatur waktu kita untuk bermain game”, lanjutnya menjelaskan.
Game itu memang didesain untuk membuat orang penasaran supaya orang konsumsinya tidak
lepas, dan ini yang tidak dipahami oleh gamers. Biasanya kita tidak dibiasakan untuk
melakukan prioritas. Jika mereka mahasiswa, maka prioritasnya adalah kuliah, dan
menyelesaikan tugas, setelah itu baru kemudian bermain game.
Dosen psikologi ini memberi solusi bagi para mahasiswa yang telah kecanduan
dengan game. Uninstall game adalah salah satu solusinya. Jadi, ketika kepikiran untuk
bermain game, carilah aktivitas lain. Lebih baik berolahraga, atau bergabung di komunitas-
komunitas yang punya aktivitas yang jelas, misalnya komunitas olahraga, musik, teater,
ilmiah dan penalaran. “Tidak ada salahnya bermain game, namun yang terpenting adalah
membangun komitmen pada diri sendiri, membangun mindset bahwa prioritasnya sebagai
mahasiswa adalah kuliah. Mereka harus tau kapan mereka harus main game, dan kapan
mereka harus kuliah atau kerja tugas”, tuturnya, Jumat (27/10).

Cahya Mukhlisa Azdarani (M50)