Anda di halaman 1dari 27

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KNISLEY UNTUK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI DAN BERPIKIR


KRITIS MATEMATIS DITINJAU DARI SELF CONFIDENCE
SISWA SMA

Artikel Ilmiah Tesis

Oleh :

TANTI MISRIATI OKTAVIANA


148060052

MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2016
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KNISLEY UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI DAN BERPIKIR
KRITIS MATEMATIS DITINJAU DARI SELF CONFIDENCE
SISWA SMA
Oleh Tanti Misriati Oktaviana
Mahasiswa S2 Pasca Sarjana UNPAS
tantimomoy@yahoo.com

ABSTRAK
Dalam proses pembelajaran kemampuan koneksi, berpikir kritis serta self
confidence siswa masih rendah, salah satu model pembelajaran yang diasumsikan
dapat meningkatkan itu semua adalah model pembelajaran Knisley. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis peningkatan kemampuan koneksi dan berpikir kritis
matematis siswa yang ditinjau dari self confidence siswa. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu Mixed Method (Metode Campuran) tipe The Embedded
Design dengan populasi seluruh siswa kelas XI SMAN 1 Cisaat. Diperoleh
kesimpulan bahwa kemampuan koneksi dan berpikir kritis matematis siswa
ditinjau dari self confidence lebih baik siswa yang menggunakan model
pembelajaran Knisley daripada siswa yang menggunakan model pembelajaran
konvensional.

Kata Kunci: Model Pembelajaran Knisley, Kemampuan Koneksi, Kemampuan


Berpikir Kritis, Self Confidence

ABSTRACT

In the learning process connection capability, critical thinking and self-confidence


of students is still low, one model of learning that can improve assumed that all
Knisley learning. This study aimed to analyze the connection capacity building
and critical thinking mathematical students in terms of students' self confidence.
The method used in this research is Mixed Method type The Embedded Design
with the entire population of students of class XI SMAN 1 Cisaat. We concluded
that the ability to connect students' mathematical and critical thinking in terms of
a better self confidence of students who use the Knisley learning than students
who use conventional learning models.

Keywords: Knisley Learning, Ability Connections, Critical Thinking Skills, Self


Confidence
PENDAHULUAN mengaitkan konsep yang telah

Dalam proses pembelajaran, dimilikinya dengan konsep

model pembelajaran matematika matematika yang baru, mengaitkan

kurang mendorong siswa berinteraksi konsep matematika dengan konsep

dengan sesama siswa dalam belajar, bidang lainnya, dan juga mengaitkan

siswa menyelesaikan banyak soal konsep matematika dengan

tanpa pemahaman yang mendalam, kehidupan sehari-hari. Apalagi

dan juga siswa selalu tidak percaya dengan kemampuan berpikir tingkat

diri dalam mengungkapkan pendapat tingginya, seperti berpikir kritis.

yang dimilikinya. Hal ini Hanya beberapa siswa yang mampu

menunjukkan bahwa masih menyelesaikan soal HOTS. Terlebih

rendahnya kemampuan koneksi lagi jika siswa diminta untuk

matematis, kemampuan berpikir mengerjakan soal, mengeluarkan

kritis matematis, dan self-confidence pendapat, ataupun bertanya kepada

siswa dalam pembelajaran guru, mereka tidak memberikan

matematika. respon apapun. Setelah dilakukan

Menurut hasil wawancara dan wawancara terhadap siswa, ternyata

observasi yang telah dilakukan mereka merasa tidak percaya diri

dengan guru Matematika SMAN 1 untuk aktif dalam kegiatan belajar

Cisaat, siswa-siswa di sekolah itu dan merasa takut salah jika

memiliki kesulitan yang sama mengeluarkan pendapat. Hal itu

dengan yang masyarakat sekitar mungkin dikarenakan oleh model

rasakan, bahwa siswa sulit untuk pembelajaran yang dilaksanakan di


kelas tidak membiasakan siswa Kemampuan mengaitkan

untuk mengeluarkan pendapat dan konsep-konsep matematika sangat

kegiatan pembelajaran berpusat berhubungan dengan berpikir kritis.

hanya pada guru. Sejalan dengan Krulik dan Rudnik

Pada hakekatnya, Matematika (Rochaminah: 2008) mendefinisikan

sebagai ilmu yang terstruktur dan “Berpikir kritis adalah berpikir yang

sistimatik mengandung arti bahwa menguji, menghubungkan, dan

konsep dan prinsip dalam mengevaluasi semua aspek dari

Matematika adalah saling berkaitan situasi masalah”. Berpikir kritis

antara satu dengan lainnya. Sebagai bukanlah dilakukan untuk mencari

implikasinya, maka dalam belajar jawaban semata, tetapi yang lebih

matematika untuk mencapai utama adalah mempertanyakan

pemahaman yang bermakna siswa jawaban, fakta, atau informasi yang

harus memiliki kemampuan koneksi ada, sehingga bisa ditemukan

matematis yang memadai. Menurut alternatif atau solusi terbaiknya.

Ruspiani, “kemampuan koneksi Berpikir kritis mampu meningkatkan

matematis adalah kemampuan kreativitas seseorang karena berpikir

mengaitkan konsep konsep kritis membantu seseorang

matematika baik antar konsep dalam menemukan bukan hanya satu solusi

matematika itu sendiri maupun tetapi berbagai alternatif solusi.

mengaitkan konsep matematika Berpikir kritis juga membantu

dengan konsep dalam bidang seseorang melihat suatu

lainnya” (Permana, 2007:116). permasalahan dari berbagai sumber,


sehingga berbagai alternatif solusi dituntut untuk berpartisipasi aktif

bisa dikembangkan lebih jauh. dalam mengeksplorasi dan

Menurut Walgito (dalam menemukan sendiri pengetahuan

Afiatin dan Martaniah, 1998:37) mereka (melalui kerja kelompok),

salah satu cara untuk menumbuhkan dan self confidence juga dapat

self confidence adalah dengan dikembangkan dengan melakukan

memberikan suasana atau kondisi pembelajaran yang bersifat rasional

yang demokratis, yaitu individu dan realistis di dalam kelas. Self

dilatih untuk dapat mengemukakan confidence yang baik akan

pendapat kepada pihak lain melalui memberikan kesuksesan siswa dalam

interaksi sosial, dilatih berpikir belajar matematika, karena jika siswa

mandiri dan diberi suasana yang memiliki hal tersebut, mereka

aman sehingga indiviu tidak takut cenderung selalu memperjuangkan

berbuat kesalahan. Dari pernyaataan keinginannya untuk meraih suatu

tersebut, agar seorang siswa prestasi, dengan demikian mereka

memiliki self confidence yang baik, akan sukses dalam belajar

maka guru harus menyusun sebuah matematika. Prestasi yang dimaksud

pembelajaran dengan suasana yang termasuk juga di dalamnya yaitu

kaya akan interaksi baik siswa kemampuan koneksi dan berpikir

dengan siswa, atau pun siswa dengan kritis matematis.

guru melalui diskusi kelas. Self Model Pembelajaran

confidence dapat dikembangkan Matematika Knisley (MPMK)

melalui interaksi sosial, di sini siswa merupakan penerapan teori Kolb


learning cycle dalam pembelajaran penelitian berkenaan dengan

matematika yang terdiri dari empat pengaruh penggunaan model

tahap, yakni kongkrit reflektif, pembelajaran Knisley terhadap

kongkrit aktif, abstrak reflektif, dan kemampuan koneksi matematis dan

abstrak aktif. Mulyana (2009) dalam kemampuan berpikir kritis matematis

desertasinya menjelaskan bahwa ditinjau dari self confidence siswa

pembelajaran matematika Knisley sebagai kontribusi penulis untuk

berpengaruh baik secara bermakna meningkatkan kualitas pendidikan di

terhadap peningkatan pemahaman Indonesia.

matematika siswa SMA IPA.

Pemahaman matematika dalam METODE PENELITIAN

penelitian tersebut mencakup Jenis penelitian yang

kemampuan koneksi matematis dan diterapkan dalam penelitian ini

kemampuan berpikir kritis matematis adalah penelitian eksperimen dengan

siswa. Oleh karena itu, pembelajaran menggunakan Mixed Method.

dengan menggunakan MPMK layak Metode penelitian kombinasi yang

dicoba dan diteliti bagi siswa SMA digunakan pada penelitian ini yaitu

kelas XI dalam upaya meningkatkan The Embeded Design. Metode

kemampuan koneksi matematis dan penelitian yang digunakan mix

kemampuan berpikir kritis method maka terdapat dua

matematisnya. pendekatan yaitu pendekatan

Dari sinilah penulis kuantitatif dan pendekatan kualitatif

tertantang untuk melakukan sebagai penguat.


Metode The Embeded Design (Fraenkel dan Wallen dalam

ini menggunakan dua kelas, yaitu Indrawan dan Yaniawati,2014),

kelas kontrol dan kelas eksperimen. kemudian memilih dua kelas yang

Kedua kelas ini dipilih secara acak setara ditinjau dari kemampuan

(random sampling). Dari kelas yang akademiknya. Kelas yang pertama

terpilih, kelas eksperimen diberi memperoleh model pembelajaran

pembelajaran dengan menggunakan Knisley (Kelas Eksperimen) dan

model pembelajaran Knisley, kelas kedua memperoleh

sedangkan kelas kontrol diberi pembelajaran konvensional (kelas

pembelajaran konvensional. Pada kontrol).

proses pengumpulan data kuantitatif Populasi dalam penelitian ini

dilakukan tes kemampuan koneksi adalah seluruh siswa kelas XI SMA

dan berpikir kritis matematis, Negeri 1 Cisaat Kabupaten

sedangkan pada pengumpulan data Sukabumi semester ganjil tahun

kualitatif dilakukan angket self ajaran 2016/2017. Sampel diambil

confidence, wawancara dan secara acak dari semua kelas XI, satu

observasi kepada siswa terhadap kelas sebagai kelompok eksperimen

mata pelajaran Matematika. dan satu kelas sebagai kelompok

Desain rencana penelitian kontrol yang dapat mewakili subjek

kuantitatif yang digunakan adalah tersebut.

desain eksperimen semu (Quasi Teknik pengumpulan data

Eksperiment) yaitu dilakukan tanpa yaitu tes kemampuan koneksi

proses teknik sampel peluang matematis, tes berpikir kritis


matematis, angket, observasi dan eksperimen adalah 0,445 > 0,05 dan

wawancara. Teknik analisis data kelas kontrol 0,482 > 0,05. Dengan

yang duginakan yaitu statistika demikian, dapat diartikan bahwa

deskriptif, uji normalitas, uji kemampuan koneksi matematis di

homogenitas, uji anova dua jalur, dan kelas eksperimen dan kelas kontrol

uji korelasi. tersebut berdistribusi normal, maka

dilanjutkan dengan menggunakan uji

HASIL PENELITIAN DAN homogenitas dan uji kesamaan rata-

PEMBAHASAN rata. Kemudian pada postes untuk

Data yang diperoleh dalam kelas eksperimen menunjukan data

penelitian ini adalah data nilai tes tersebut tidak berdistribusi normal

kemampuan koneksi dan berpikir yaitu 0.010 < 0.05 dan pada kelas

kritis matematis siswa (tes awal dan kontrol menunjukan data tersebut

tes akhir) dan data hasil self tidak berdistribusi normal yaitu

confidence siswa, serta hasil dengan nilai signifikansi 0.020 <

observasi dan wawancara. 0.05, sehingga dilanjutkan

Berdasarkan hasil menggunakan statistik non

perhitungan dengan uji statistik parametrik menggunakan uji Mann

menggunakan software IBM SPSS Whitney. Kemudian untuk nilai gain

statistics 21 dengan menggunakan dan n-gainnya berdistribusi normal

uji Shapiro-Wilk diperoleh data karena menunjukan nilai 0,526 >

bahwa kemampuan koneksi 0.05 untuk kelas eksperimen dan

matematis pada pretes di kelas nilai 0,846 > 0,05 untuk kelas
kontrol, maka dilanjutkan dengan Variances Assumed (diasumsikan

menggunakan uji homogenitas dan varians homogen) pada kemampuan

uji kesamaan rata-rata. awal koneksi adalah 0,529. Nilai

Berdasarkan uji Levene signifikansi tersebut lebih besar dari

Statistic, data pretes kemampuan 0,05 sehingga berdasarkan kriteria

koneksi kedua kelompok memiliki pengujian, H0 diterima. Hal ini

nilai signifikansi yang lebih besar menunjukkan bahwa tidak terdapat

dari 0,05 yaitu 0,795, artinya H0 perbedaan kemampuan awal siswa

diterima. Hal tersebut menunjukkan kelompok eksperimen dan siswa

bahwa data berasal dari dua sampel kelompok kontrol. Hasil uji Mann-

yang bervarians sama (homogen). Whitney untuk postes kemampuan

Begitu pun dengan gain kemampuan koneksi matematis nilai 0,274 lebih

koneksi kedua kelompok memiliki dari 0,05 yang berarti Ho diterima.

nilai signifikansi yang lebih besar Dengan kata lain, tidak ada

dari 0,05 yaitu 0,416, artinya H0 perbedaan kemampuan koneksi

diterima untuk gain kemampuan matematis siswa kelas eksperimen

koneksi. Hal tersebut menunjukkan dengan kelas kontrol. Sedangkan

bahwa data gain kemampuan koneksi hasil untuk gain menggunakan uji

berasal dari dua sampel yang Independent Sample T-Test nilai

bervarians sama (homogen). signifikansi dua pihaknya (Sig.2-

Berdasarkan uji Independent Tailed) untuk Equal Variances

Sample T-Test, nilai signifikansi dua Assumed (diasumsikan varians

pihaknya (Sig.2-Tailed) untuk Equal homogen) pada kemampuan koneksi


adalah 0,072. Nilai signifikansi nilai yang maksimal. Selain itu

kemampuan koneksi lebih besar dari terlihat dari data yang ada bahwa

0,05 sehingga berdasarkan kriteria nilai rata-rata gain ataupun n-gain

pengujian, H0 diterima. Hal ini pada kelas eksperimen lebih besar

menunjukkan bahwa peningkatan dari pada kelas kontrol. Kategori n-

rata-rata skor indeks gain gain untuk koneksi pada kelas

kemampuan koneksi kelas eksperimen dan kontrol menunjukan

eksperimen tidak lebih baik dari pada kategori sedang yaitu 0,44 dan 0,41

kelas kontrol. yang berarti kurang dari 0,7.

Berdasarkan data yang Berdasarkan hasil

diperoleh dari hasil pretes dan postes perhitungan dengan uji statistik

koneksi matematis, menunjukan menggunakan software IBM SPSS

bahwa nilai siswa mengalami statistics 21 dengan menggunakan

kenaikan yang tadinya kecil menjadi uji Shapiro-Wilk diperoleh data

lebih besar ketika sudah menjalani bahwa kemampuan berpikir kritis

pretes dan menjadi lebih baik matematis pada pretes di kelas

daripada waktu menjalani postes hal eksperimen adalah 0,445 > 0,05 dan

tersebut berarti siswa mengalami kelas kontrol 0,246 > 0,05. Dengan

perubahan yang lebih baik, baik itu demikian, dapat diartikan bahwa

siswa yang bisa ataupun siswa yang kemampuan berpikir kritis matematis

pada awalnya tidak bisa atau tidak di kelas eksperimen dan kelas

tahu sama sekali menjadi lebih tahu kontrol tersebut berdistribusi normal,

dan bisa walaupun tidak mencapai maka dilanjutkan dengan


menggunakan uji homogenitas dan memiliki nilai signifikansi yang lebih

uji kesamaan rata-rata.. Kemudian besar dari 0,05 yaitu 0,833, artinya

pada postes untuk kelas eksperimen H0 diterima. Hal tersebut

menunjukan data tersebut menunjukkan bahwa data berasal

berdistribusi normal yaitu 0.176 > dari dua sampel yang bervarians

0.05 dan pada kelas kontrol sama (homogen). Begitu pun dengan

menunjukan data tersebut tidak gain kemampuan berpikir kritis

berdistribusi normal yaitu dengan kedua kelompok memiliki nilai

nilai signifikansi 0.016 < 0.05, signifikansi yang lebih besar dari

sehingga dilanjutkan menggunakan 0,05 yaitu 0,161, artinya H0 diterima

statistik non parametrik untuk gain kemampuan berpikir

menggunakan uji Mann Whitney. kritis. Hal tersebut menunjukkan

Kemudian untuk nilai gain dan n- bahwa data gain kemampuan

gainnya berdistribusi normal karena berpikir kritis berasal dari dua

menunjukan nilai 0,864 > 0.05 sampel yang bervarians sama

untuk kelas eksperimen dan nilai (homogen).

0,343 > 0,05 untuk kelas kontrol, Berdasarkan uji Independent

maka dilanjutkan dengan Sample T-Test, nilai signifikansi dua

menggunakan uji homogenitas dan pihaknya (Sig.2-Tailed) untuk Equal

uji kesamaan rata-rata. Variances Assumed (diasumsikan

Berdasarkan uji Levene varians homogen) pada kemampuan

Statistic, data pretes kemampuan awal berpikir kritis adalah 0,337.

berpikir kritis kedua kelompok Nilai signifikansi tersebut lebih besar


dari 0,05 sehingga berdasarkan ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa

kriteria pengujian, H0 diterima. Hal peningkatan rata-rata skor indeks

ini menunjukkan bahwa tidak gain kemampuan berpikir kritis kelas

terdapat perbedaan kemampuan awal eksperimen lebih baik dari pada

siswa kelompok eksperimen dan kelas kontrol.

siswa kelompok kontrol. Hasil uji Berdasarkan data yang

Mann-Whitney untuk postes diperoleh dari hasil pretes dan postes

kemampuan berpikir kritis matematis berpikir kritis matematis,

nilai 0,431 lebih dari 0,05 yang menunjukan bahwa nilai siswa

berarti Ho diterima. Dengan kata lain, mengalami kenaikan yang tadinya

tidak ada perbedaan kemampuan kecil menjadi lebih besar ketika

berpikir kritis matematis siswa kelas sudah menjalani pretes dan menjadi

eksperimen dengan kelas kontrol. lebih baik daripada waktu menjalani

Sedangkan hasil untuk gain postes hal tersebut berarti siswa

menggunakan uji Independent mengalami perubahan yang lebih

Sample T-Test nilai signifikansi dua baik, baik itu siswa yang bisa

pihaknya (Sig.2-Tailed) untuk Equal ataupun siswa yang pada awalnya

Variances Assumed (diasumsikan tidak bisa atau tidak tahu sama sekali

varians homogen) pada kemampuan menjadi lebih tahu dan bisa

koneksi adalah 0,010. Nilai walaupun tidak mencapai nilai yang

signifikansi kemampuan koneksi maksimal. Selain itu terlihat dari data

lebih kecil dari 0,05 sehingga yang ada bahwa nilai rata-rata gain

berdasarkan kriteria pengujian, H0 ataupun n-gain pada kelas


eksperimen lebih besar dari pada kemampuan berpikir kritis matematis

kelas kontrol. Kategori n-gain untuk ditinjau dari self confidence rendah,

berpikir kritis pada kelas eksperimen tinggi untuk kelas eksperimen dan

dan kontrol menunjukan kategori kontrol menunjukan data tersebut

sedang yaitu 0,39 dan 0,35 yang lebih dari 0.05 sehingga dapat

berarti kurang dari 0,7. disimpulkan data tersebut

Berdasarkan hasil berdistribusi normal, maka

perhitungan dengan uji statistik dilanjutkan dengan menggunakan uji

menggunakan software IBM SPSS homogenitas dan uji kesamaan rata-

statistics 21 dengan menggunakan rata.

uji Shapiro-Wilk diperoleh data Berdasarkan uji Levene

bahwa peningkatan kemampuan Statistic, data peningkatan

koneksi matematis ditinjau dari self kemampuan koneksi ditinjau dari self

confidence rendah, tinggi di kelas confidence kedua kelompok

eksperimen dan kelas kontrol lebih memiliki nilai signifikansi yang lebih

dari 0,05. Dengan demikian, data besar dari 0,05 yaitu 0,429, artinya

peningkatan kemampuan koneksi H0 diterima. Hal tersebut

matematis siswa pada kedua kelas menunjukkan bahwa data berasal

ditinjau dari self confidence adalah dari dua sampel yang bervarians

berdistribusi normal, maka sama (homogen). Begitu pun dengan

dilanjutkan dengan menggunakan uji peningkatan kemampuan berpikir

homogenitas dan uji kesamaan rata- kritis ditinjau dair self confincence

rata.. Kemudian peningkatan kedua kelompok memiliki nilai


signifikansi yang lebih besar dari rendah, tinggi, dan keseluruhan yang

0,05 yaitu 0,194, artinya H0 diterima mendapatkan pembelajaran dengan

untuk peningkatan kemampuan model Knisley lebih baik daripada

berpikir kritis ditinjau dari self siswa yang mendapatkan

confidence. Hal tersebut pembelajaran konvensional..

menunjukkan bahwa data Kemudian untuk peningkatan

peningkatan kemampuan berpikir kemampuan berpikir kritis matematis

kritis ditinjau dari self confidence ditinjau dari self confidence nilai

berasal dari dua sampel yang 0,005 lebih kecil dari 0,05 yang

bervarians sama (homogen). berarti Ho ditolak. Dengan kata lain,

Berdasarkan uji anova dua peningkatan kemampuan berpikir

jalur, nilai signifikansi dua pihaknya kritis siswa ditinjau dari perbedaan

(Sig.2-Tailed) untuk Equal self confidence rendah dan tinggi

Variances Assumed (diasumsikan yang mendapatkan pembelajaran

varians homogen) pada peningkatan dengan model Knisley lebih baik

koneksi ditinjau dari self confidence daripada siswa yang mendapatkan

adalah 0,033. Nilai signifikansi pembelajaran konvensional.

tersebut lebih kecil dari 0,05 Hasil data angket siswa

sehingga berdasarkan kriteria mengenai self confidence pada kelas

pengujian, H0 ditolak. Hal ini eksperimen dan kelas kontrol

menunjukkan bahwa peningkatan diperoleh dengan menggunakan

kemampuan koneksi siswa ditinjau program SPSS dilakukan dengan

dari perbedaan self confidence menggunakan uji Shapiro-Wilk


dengan taraf signifikansinya adalah Hasil perhitungan SPSS

0,05. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan Uji-T

dengan uji statistik menggunakan menunjukan bahwa nilainya kurang

SPSS dengan menggunakan uji dari 0,05 yaitu Sig. (2-tailed) 0.055

Shapiro-wilk diperoleh data angket yaitu tidak ada perbedaan self

siswa pada kelas eksperimen confidence siswa kelas eksperimen

memiliki nilai diatas 0.05 yaitu 0.791 dengan kelas kontrol. Akan tetapi

dan pada kelas kontrolnya kalau dilihat dari rata-rata respon

menunjukan nilai diatas 0.05 yaitu siswa terhadap pernyatan-pernyatan

0.907. ini menunjukan data yang diberikan, di kelas eksperimen

berdistribusi normal, maka menunjukan rata-rata self confidence

dilanjutkan dengan uji homogenitas. siswa positif atau tinggi, sedangkan

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata respon siswa terhadap

dengan uji statistik menggunakan pernyataan-pernyataan yang

SPSS dengan menggunakan uji diberikan, di kelas kontrol

homogenitas pada kedua kelas menunjukan rata-rata self confidence

memiliki nilai diatas 0.05 yaitu 0.483 siswa lebih rendah daripada kelas

maka H0 diterima artinya bahwa self eksperimen, walaupun masih sama-

confidence siswa kelas eksperimen sama menunjukkan respon yang

dan kelas kontrol bervariansi positif atau tinggi.

homogen, dan dilanjutkan dengan uji Korelasi antara kemampuan

t. koneksi dan berpikir kritis matematis

siswa kelas eksperimen dan kelas


control diperoleh dengan perhitungan control, korelasi antara kemampuan

program SPSS 21, dengan koneksi dengan kemampuan berpikir

menggunakan uji korelasi dengan kritis dengan nilai sigfikansi 0,000 <

standar signifikansi 0.05 diperoleh 0,05, maka Ho ditolak, yang artinya

hasil perhitungan menunjukan bahwa terdapat korelasi antara kemampuan

nilai yang diperoleh 0.000 < 0.05, koneksi dengan berpikir kritis

maka Ho ditolak, yang artinya matematis. Korelasi antara

terdapat korelasi antara kemampuan kemampuan koneksi dengan self

koneksi dengan berpikir kritis confidence siswa dengan nilai

matematis. Korelasi antara sigfikansi 0,000 < 0,05, maka Ho

kemampuan koneksi dengan self ditolak, yang artinya terdapat

confidence siswa dengan nilai korelasi antara antara kemampuan

sigfikansi 0,001 < 0,05, maka Ho koneksi dengan self confidence.

ditolak, yang artinya terdapat Korelasi antara kemampuan berpikir

korelasi antara antara kemampuan kritis dengan self confidence siswa

koneksi dengan self confidence. dengan nilai sigfikansi 0,000 > 0,05,

Korelasi antara kemampuan berpikir maka Ho ditolak, yang artinya

kritis dengan self confidence siswa terdapat korelasi antara kemampuan

dengan nilai sigfikansi 0,466 > 0,05, berpikir kritis dengan self

maka Ho diterima, yang artinya tidak confidence.

ada korelasi antara kemampuan Berdasarkan analisis terhadap

berpikir kritis dengan self hasil setelah penelitian, diketahui

confidence. Kemudian untuk kelas bahwa peningkatan kemampuan


koneksi matematis siswa yang siswa yang menggunakan model

mendapatkan pembelajaran dengan pembelajaran Knisley diberikan

model Knisley tidak lebih baik kebebasan terhadap siswanya untuk

daripada siswa yang mendapatkan menggali kemampuan koneksinya,

pembelajaran konvensional ditinjau sejalan dengan pendapat Haety dan

secara keseluruhan tiap siswa. Dari Mulyana (2012) yang mengatakan

hasil tersebut, peneliti “MPMK memberikan ruang kepada

berpendapat bahwa hal siswa untuk memahami suatu konsep

ini disebabkan karena proses matematika dan melihat keterkaitan

pembelajaran Knisley dan konsep matematika dan melihat

konvensional yang diberikan keterkaitan konsep tersebut secara

kepada siswa dapat meningkatkan internal dan eksternal”. Saat

kemampuan koneksi setiap siswa pembelajaran Knisley dilaksanakan

secara seimbang. siswa berdiskusi untuk saling

Kemampuan koneksi untuk mengaitkan konsep yang dimilikinya

siswa yang menggunakan model dengan konsep yang baru untuk

pembelajaran Knisley menunjukkan menyelesaikan permasalahan secara

rata-rata indeks gain lebih tinggi bersama-sama, sehingga siswa yang

daripada kemampuan koneksi siswa berkemampuan rendah pun memiliki

yang menggunakan model kesempatan yang lebih baik untuk

pembelajaran konvensional, dapat meningkatkan kemampuan

walaupun perbedaan itu tidak terlalu koneksinya dari pada siswa yang

signifikan. Hal tersebut dikarenakan mendapatkan model pembelajaran


konvensional yang belajar secara interaksi siswa baik dengan guru

individu. maupun dengan sesama siswa

Berdasarkan analisis, (Preston, 2007:214). Jika kedua

diketahui bahwa peningkatan pendapat tersebut disatukan, maka

kemampuan koneksi matematis self confidence adalah salah satu

siswa ditinjau dari self confidence kunci kesuksesan dalam belajar

rendah, tinggi yang mendapatkan matematika dan cara menumbuhkan

pembelajaran dengan model Knisley hal tersebut dengan interaksi sesama

lebih baik daripada siswa yang siswa dan guru.

mendapatkan pembelajaran Pendapat para ahli didukung

konvensional. Afiatin dan Martaniah dengan hasil wawancara dengan

(1998) mengungkapkan bahwa, ”self beberapa siswa yang menggunakan

confidence yang baik akan pembelajaran konvensional, mereka

memberikan kesuksesan siswa dalam berkata dengan model pembelajaran

belajar matematika, karena jika siswa seperti ini membuat mereka malu

memiliki hal tersebut, mereka untuk bertanya kepada guru maupun

cenderung selalu memperjuangkan teman, karena siswa cenderung

keinginannya untuk meraih suatu hanya mendengarkan penjelasan

prestasi, dengan demikian mereka yang diberikan guru. Hal tersebut

akan sukses belajar matematika”. menjadikan siswa memiliki interaksi

Sedangkan pembentuk utama dari yang kurang dengan teman maupun

self confidence siswa dalam guru, sehingga self confidence siswa

pembelajaran matematika adalah


tersebut rendah dan berpengaruh ini disebabkan karena proses

terhadap kemampuan koneksinya. pembelajaran Knisley dapat lebih

Dari data-data yang diperoleh mengembangkan cara berpikir kritis

peneliti, peneliti menyimpulkan siswa melalui langkah-langkah

bahwa kemampuan koneksi dalam model tersebut yang

matematis siswa yang mendapatkan digunakan oleh Hartman (Mulyana,

pembelajaran dengan model Knisley 2009:6), yang memuat salah satunya

lebih baik daripada siswa yang adalah abstrak-reflektif yang

mendapatkan pembelajaran dengan menuntut siswa untuk menganalisis

model konvensional ditinjau secara lebih dalam yang diberikan oleh

keseluruhan dan self confidence guru. Menggunakan tahapan-tahapan

(rendah, tinggi). dalam model pembelajaran Knisley

Berdasarkan analisis terhadap membiasakan siswa untuk berpikir

hasil setelah penelitian, diketahui kritis, sehingga siswa dapat lebih

bahwa peningkatan kemampuan baik menyelesaikan permasalahan-

berpikir kritis matematis siswa yang permasalahan yang tidak rutin

mendapatkan pembelajaran dengan daripada siswa yang menggunakan

model Knisley lebih baik daripada model pembelajaran konvensional.

siswa yang mendapatkan Kemudian hasil dari data

pembelajaran konvensional ditinjau kualitatif yang diperoleh oleh

secara keseluruhan tiap siswa. Dari peneliti yaitu dari hasil wawancara

hasil tersebut, peneliti didapatkan jawaban-jawaban yang

berpendapat bahwa hal menunjukan bahwa kemampuan


berpikir kritis matematis siswa mendapat pernyataan yang salah.

meningkat setelah mendapatkan Sehingga siswa yang menggunakan

pembelajaran dengan model Knisley. model pembelajaran konvensional

Itu terlihat dari hasil jawaban siswa kesulitan untuk mengerjakan soal-

pada saat wawancara yang soal kemampuan berpikir kritis.

mengatakan bahwa soal-soal yang Berdasarkan analisis,

diberikan memang lebih sulit diketahui bahwa peningkatan

daripada saat diberikan soal kemampuan berpikir kritis matematis

kemampuan koneksi, tapi mereka siswa ditinjau dari self confidence

merasa terbantu dengan modl rendah, tinggi yang mendapatkan

pembelajaran Knisley karena mereka pembelajaran dengan model Knisley

terbiasa dengan menyelesaikan soal lebih baik daripada siswa yang

dengan langkah-langkah yang mendapatkan pembelajaran

mendetail, menganalisis soal, dan konvensional. Menurut Walgito

menemukan kesimpulannya. Berbeda (Afiatin dan Martaniah, 1998:37)

dengan siswa yang diberi mengungkapkan bahwa, ”salah satu

pembelajaran konvensional, mereka cara untuk menumbuhkan self

mengatakan bahwa kemampuan confidence adalah dengan

berpikir kritis mereka kurang bisa memberikan suasana atau kondisi

ditingkatkan karena tidak dilatih yang demokratis, yaitu individu

untuk menganalisis pernyataan, dilatih untuk dapat mengemukakan

mengambil kesimpulan, dan pendapat kepada pihak lain melalui

memberi pernyataan yang benar jika interaksi social, dilatih berpikir


mandiri dan diberi suasana yang mengungkapkan bahwa mereka

aman sehingga individu tidak takut sangat tergantung pada guru

berbuat kesalahan”. Jika self menjelaskan, sehingga mereka malu

confidence tinggi, maka kemampuan untuk bertanya dan menganalisis

berpikir kritis seseorang akan suatu permasalahan adalah suatu hal

meningkat karena mereka tidak takut yang asing bagi mereka.

bila mereka salah dalam mencari Dari data-data yang diperoleh

cara-cara yang dapat dipakai untuk peneliti, peneliti menyimpulkan

menangani masalah dan yakin pada bahwa kemampuan berpikir kritis

dirinya sendiri untuk menganalisi matematis siswa yang mendapatkan

pernyataan dan menarik kesimpulan- pembelajaran dengan model Knisley

kesimpulan yang diperlukan. lebih baik daripada siswa yang

Pendapat para ahli didukung mendapatkan pembelajaran dengan

dengan hasil wawancara dengan model konvensional ditinjau secara

beberapa siswa yang menggunakan keseluruhan dan self confidence

pembelajaran Knisley, mereka (rendah, tinggi).

berkata dengan model pembelajaran Dari temuan yang dihasilkan,

seperti ini membuat mereka aktif tidak ada perbedaan self confidence

dalam pembelajaran dan dapat lebih siswa kelas Knisley dengan kelas

mudah dipahami dengan langkah- konvensional. Akan tetapi kalau

langkah yang diberikan oleh guru. dilihat dari rata-rata respon siswa

Sedangkan siswa yang mendapat terhadap pernyatan-pernyataan yang

pembelajaran konvensional diberikan, di kelas Knisley


menunjukan rata-rata self confidence siswa dikelas yang mendapatkan

siswa lebih tinggi daripada kelas pembelajaran konvensional siswa

konvensional. cenderung bosan dan tidak ada

Kemudian hasil pengamatan motivasi untuk berubah, tidak sedikit

peneliti pada saat pembelajaran siswa yang diam saja saat

berlangsung baik pada siswa yang mengerjakan soal latihan, dan ada

mendapatkan pembelajaran dengan juga siswa yang mengganggu siswa

model Knisley ataupun konvensional lainnya saat pembelajaran. Ini tidak

menunjukan bahwa pada siswa yang sejalan dengan yang diungkapkan

mendapatkan pembelajaran dengan oleh Hakim (Megawati dalam

model Knisley lebih terlihat percaya Fitriani, 2015:345) bahwa ciri-ciri

diri, nyaman dan menunjukan sikap orang yang memiliki self confidence

yang optimis pada saat pembelajaran salah satunya adalah selalu bersikap

berkelompok ataupun menampilkan tenang dan selalu bersikap positif.

hasil diskusi dengan teman Hal ini menunjukan bahwa siswa

sekelompoknya. Berbeda dengan yang mendapat pembelajaran dengan

siswa yang mendapatkan model konvensional mempunyai self

pembelajaran dengan model confidence yang tidak lebih baik dari

konvensional yang selalu terlihat siswa yang mendapat pembelajaran

pasif pada saat pembelajaran dan Knisley, terlihat dari sikap dan

ragu saat mengerjakan soal, perilaku yang mereka tunjukan pada

contohnya pada saat peneliti saat pembelajaran berlangsung.

memberikan materi ajar kepada


Dari data-data diatas peneliti analisis yang dihasilkan bahwa

menyimpulkan bahwa self kemampuan koneksi matematis

confidence siswa yang mendapatkan siswa yang tinggi dapat

pembelajaran dengan model Knisley meningkatkan juga kemampuan

lebih baik daripada siswa yang berpikir kritis matematis, semakin

mendapatkan pembelajaran tinggi kemampuan koneksi siswa

konvensional. maka akan semakin tinggi pula

Berdasarkan hasil analisis kemampuan siswa dalam berpikir

korelasi, terlihat bahwa ada korelasi kritis.

yang positif antara kemampuan Dari hasil analisis, self

koneksi matematis dengan confidence siswa mempunyai

kemampuan berpikir kritis matematis korelasi yang positif dengan

siswa yang mendapatkan kemampuan koneksi matematis, baik

pembelajaran matematika dengan siswa yang menggunakan model

model Knisley maupun dengan Knisley maupun siswa yang

model konvensional, artinya semakin menggunakan model konvensional.

tinggi kemampuan koneksi siswa Artinya semakin tingginya self

maka akan berpengaruh positif confidence maka akan semakin

terhadap kemampuan berpikir kritis tinggi kemampuan koneksi

siswa. matematis siswa.

Dari hasil wawancara, Selain dari itu pengamatan

observasi dan pengamatan peneliti yang peneliti lakukan pada siswa

juga didapat hal yang sama dengan yang mempunyai self confidence
yang tinggi, memunculkan fakta mempunyai korelasi yang positif

bahwa siswa tersebut sangat aktif, terhadap kemampuan koneksi

bahkan berusaha mengajak dan matematis.

menyemangati teman Dari hasil analisis, self

sekelompoknya untuk belajar dengan confidence siswa tidak mempunyai

lebih giat dalam proses pembelajaran korelasi yang positif dengan

ataupun pada saat diberikan soal, kemampuan berpikir kritis matematis

siswa tersebut tidak sungkan untuk pada kelas Knisley, sebaliknya self

membantu temannya yang kesulitan confidence siswa mempunyai

saat mengerjakan soal latihan. Hal korelasi yang positif dengan

ini sejalan dengan yang kemampuan berpikir kritis matematis

dikemukakan oleh Raghunatan pada kelas konvensional. Artinya self

(Nurhayati A., 2014:22) bahwa ciri- confidence memberikan pengaruh

ciri orang yang memiliki self yang berbeda pada siswa yang

confidence adalah berbaur diri menggunakan model pembelajaran

dengan orang yang optimis, positif, Knisley dengan siswa yang

dan aktif; membantu orang lain menggunakan model pembelajaran

dengan sepenuh hati tanpa konvensional.

mengharapkan apapun; jadilah aktif Kemudian jika dilihat dari

dan antusias. hasil wawancara kepada siswa yang

Dari hasil-hasil yang menggunakan model pembelajaran

diperoleh peneliti diatas maka dapat Knisley didapat hasil bahwa siswa

disimpulkan bahwa self confidence yang menjawab pertanyaan


wawancara dengan self confidence penulis dapat menarik kesimpulan

rendah memiliki hasil tes berpikir sebagai berikut terdapat peningkatan

kritis matematis yang besar, karena kemampuan koneksi siswa yang

dia merasa terbantu oleh temannya memperoleh model pembelajaran

saat pembelajaran berlangsung Knisley lebih baik daripada siswa

sehingga dia dapat mengerjakan tes yang memperoleh model

kemampuan berpikir kritis dengan pembelajaran konvensional ditinjau

baik. Dia pun merasa termotivasi dari self confidence siswa dengan

oleh teman-teman kelompoknya agar kategori tinggi dan rendah; terdapat

terus semangat mengerjakan latihan- peningkatan kemampuan berpikir

latihan sampai dia bias. Tetapi pada kritis matematis siswa yang

siswa yang mendapatkan memperoleh model pembelajaran

pembelajaran konvensional yang Knisley lebih baik daripada siswa

memiliki self confidence rendah yang memperoleh model

mempunyai nilai tes kemampuan pembelajaran konvensional ditinjau

berpikir kritis matematis yang kecil, dari self confidence siswa dengan

karena dia memiliki pemikiran kategori tinggi dan rendah; tidak

terbatas hanya yang disampaikan terdapat perbedaan self confidence

oleh guru. siswa yang memperoleh

pembelajaran Knisley dengan siswa

KESIMPULAN yang memperoleh pembelajaran

Berdasarkan hasil analisis konvensional. Akan tetapi kalau

data dan pengujian hipotesis, maka dilihat dari rata-rata respon siswa
terhadap pernyataan-pernyataan yang pembelajaran konvensional terdapat

diberikan, siswa yang memperoeh korelasi antara kemampuan berpikir

pembelajaran Knisley menunjukan kritis matematis dengan self

rata-rata self confidence siswa lebih confidence.

tinggi daripada siswa yang Kendala yang terjadi ketika

memperoleh pembelajaran melaksanakan penelitian model

konvensional; terdapat korelasi pembelajaran Knisley yaitu

antara kemampuan koneksi dengan kemampuan prasyarat yang dimiliki

berpikir kritis matematis siswa yang siswa, ketidakhadiran siswa

memperoleh pembelajaran Knisley dikarenakan sakit atau kesiangan saat

maupun siswa yang memperoleh ke sekolah, self confidence siswa

pembelajaran konvensional; terdapat yang rendah, siswa masih belum

korelasi antara kemampuan koneksi tebiasa dengan model pembelajaran

matematis dengan self confidence Knisley, dan memerlukan waktu

siswa yang memperoleh yang lebih lama saat mengajar.

pembelajaran Knisley maupun siswa

yang memperoleh pembelajaran DAFTAR PUSTAKA

konvensional; tidak terdapat korelasi Afiatin, T, & Martaniah, SM. (1998).


Peningkatan Kepercayaan Diri
antara kemampuan berpikir kritis Remaja Melalui Konseling
Kelompok. Jurnal Psikologi
matematis dengan self confidence Nomor 6 III 1998 66-79.

siswa yang memperoleh Fitriani, N. (2015). Hubungan


Antara Kemampuan
pembelajaran Knisley, sedangkan Pemecahan Masalah
Matematis dengan Self
siswa yang memperoleh Confidence Siswa SMP yang
Menggunakan Pendekatan
Pendidikan Matematika
Realistik. Unswagati Cirebon:
Jurnal Euclid Vol.2 No.2.

Haety, N.I & Mulyana, E. (2012).


Pengaruh Model Pembelajaran
Matematika Knisley terhadap
Peningkatan Kemampuan
Koneksi Matematis Siswa SMA.

Indrawan, R. dan Yaniawati, P.


(2014). Metodologi Penelitian.
Bandung: PT. Refika Aditama.

Mulyana, E. (2009). Pengaruh


Model Pembelajaran
Matematika Knisley terhadap
Peningkatan Pemahaman dan
Disposisi Matematika Siswa
Sekolah Menengah Atas
Program Ilmu Pengetahuan
Alam. Disertasi Doktor pada
FPMIPA UPI.

Nurhayati, A. (2014). Meningkatkan


Kemampuan Koneksi
Matematis, Self-Confidence
Siswa Melalui Penerapan
Pendekatan Pembelajaran
Saintifik Berbantuan Persoalan
Open-Ended. Tesis. UPI
Bandung.

Permana, Y. (2007).
Mengembangkan Kemampuan
Penalaran dan Koneksi
Matematis Siswa SMA melalui
Pembelajaran Berbasis
Masalah. Educationist Vol.I
No.2 : Universitas Pendidikan
Indonesia.

Preston, D.L. (2007). 365 Steps to


Self Confidence. ISBN: 978 1
84803 210: Oxford OX5 1RX.