Anda di halaman 1dari 4

Aplikasi Nanokomposit Silika Aerogel dengan Menggunakan Karbon Aktif sebagai

Absorben Ion Logam Kadmium (Cd) II

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini dibagi menjadi 4 tahap, yaitu: (1) pembuatan nanokomposit silika aerogel
dengan karbon aktif(2) pembuatan silika aerogel yang ditambahkan solvent exchage dan karbon
aktifserta karakterisasinya menggunakan spektrum inframerah (FT-IR), X-Ray
Diffraction (XDR) dan Scanning mikroskop elektron (SEM).(3) aplikasi dan uji kemampuan
nanokomposit silika aerogel dengan karbon aktif sebagai adsorben ion logam Cd (II) dengan
berbagai variasi konsentrasi adsorbat dan waktu kontak dan pH (4) penentuan parameter
kesetimbangan adsorpsi (isoterm adsorpsi, termodinamika adsorpsi, dan kinetika adsorpsi).

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Laboratorium Penelitian Kimia FMIPA Universitas Negeri
Malang. Karakterisasasi XRD (X-Ray Diffraction), FT-IR (Fourier Transform Infrared) dan
SEM (Scanning Electron Microscopy) dilakukan di Laboratorium Mineral dan Material Maju
FMIPA Universitas Negeri Malang dan karakterisasi BET (Brunauer-Emmett-Teller) dilakukan
di Laboratorium Elektrokimia dan Korosi Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh
November Surabaya. Analisis Spektrofotometri dengan Spectronic-20 dilakukan di
Laboratorium Analitik Kimia UM. Penelitian dilaksanakan mulai Desember hingga Maret 2017.

C. Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Abu bagasse, Karbon aktif, NaOH,.
Aquadest, H2O, HCl, fuming 37%, Chlorotrimethylsilane (TMCS), C3H9ClSi, 1,1,1,3,3,3-
Hexamethyldisilazane (HMDS), C6H19NSi2, Pembuat : Merck, Fungsi : untuk modifikasi
permukaan silika aerogel. n – hexane,Pyridine dan Gas Nitrogen.
D. ProsedurKerja
1. Pembuatan Larutan Asam Silicic
Abu bagasse sebanyak 10 gram diekstraksi dengan menggunakan larutan 60 ml NaOH
2N pada suhu didihnya selama 1 jam. Kemudian campuran didinginkan pada suhu ruang dan
disaring dengan menggunakan kertas saring bebas abu. Hasil penyaringan ini menghasilkan
residu yang kemudian dibuang dan filtrat berupa natrium silikat (Na2O.SiO2). Filtrat yang
berupa larutan sodium silikat dicampur dengan resin penukar ion H+ untuk mempertukarkan ion
Na+ dengan ion H+ sehingga diperoleh larutan asam silicic dengan pH 2. Pada saat pencampuran,
dilakukan pengadukan kuat dan konstan agar tidak terjadi gelling.

2. Pembuatan Silika Aerogel yang Ditambahkan Solvent Exchagedan karbon aktif


Silicic acid yang telah memiliki pH 2 ditambahkan surface modifying agent yaitu
trimethylclorosilane (TMCS) dan hexamethyldisilazane (HMDS) pada berbagai volume dengan
interval penambahan antara TMCS dan HMDS yaitu 15 menit dan 30 menit kemudian di tambah
karbon aktif. Sol silika yang sudah jadi kemudian di tuang ke dalam beaker glass
danditambahkan ke dalam n-hexane (300 mL dalam 1 L volume beaker) tetes demi tetes, dengan
putaran konstan berkecepatan 400 rpm. Pyridine sebanyak 2 mL ditambahkan tetes demi tetes ke
dalam larutan tersebut, hingga terbentuk gelation. Hidrogel yang terbentuk kemudian di-aging
pada suhu 40°C selama 18 jam untuk penguatan jaringan dan dikeringkan pada tekanan ambient
pada suhu 65°C selama 1 jam. Pengeringan lebih lanjut dilakukan pada suhu 100°C selama 1 jam
untuk mendapatkan silika aerogel kering.

3. Karakterisasinanokomposit silika aerogel dengan karbon aktif


Karakterisasi silika aerogel yang dihasilkan meliputi uji dengan metode BET untuk
mengetahui specific surface area, volume pori dan ukuran pori, Uji Scanning Electron
Microscopy (SEM) untuk mengetahui morfologi partikel dengan, dan Fourier transform
spektrum inframerah (FT-IR) untuk mengetahui gugus fungsi senyawa.
4. Aplikasidan Uji Kemampuan Silika Aerogel dengan Karbon Aktif Sebagai Adsorben
Ion Logam Cd (II)
Nanopartikel magnetit dan magnetit bersalut silika yang diperoleh, diuji kemampuan
penyerapannya terhadap zat warna pada dua variasi keadaan, yaitu variasi konsentrasi adsorbat
waktu kontak dan pH.

a. Pembuatan Larutan Kadmium (Cd)


Larutan standar kadmium 1000 ppm diambil 2,5 mL kemudian dimasukkan dalam labu
ukur 250 mL dan diencerkan dengan aquadest sampai tanda batas sehingga didapatkan larutan
standar 10 ppm. Larutan standar 10 ppm diambil 10 mL, 20 mL, 30 mL, 40 mL, 50 mL dan
diencerkan dalam labu ukur 100 mL sehingga diperoleh larutan standar 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4
ppm dan 5 ppm.

b. Pengaruh konsentrasi awal ion logam


Sebanyak 10 mL larutan ion logam Cd(II) dengan variasi konsentrasi : 5, 10, 20, 50, 100,
200, 300, 400 dan 500 mg/L, masing-masing diinteraksikan dengan 100 mg adsorben silika
aerogel dari abu bagasse selama 30 menit kemudian disaring. Konsentrasi ion logam yang tersisa
dalam larutan ditentukan dengan AAS, dan jumlah ion logam yang teradsorpsi dihitung dari
selisih jumlah logam sebelum dan sesudah adsorpsi.

c. Pengaruh pH adsorbat terhadap adsorpsi


Untuk mengetahui pengaruh pH larutan terhadap adsorpsi, maka dibuat suatu seri larutan
Cd(II) dengan pH: 1-9, masing-masing 100 mg/L. Sepuluh mililiter larutan logam pada masing-
masing pH diinteraksikan dengan 100 mg adsorben silika aerogel dari abu bagasse selama 30
menit dengan pengocokan kemudian disaring. Kemudian hasil yang berupa surfaktan dianalisis
menggunakan AAS untuk menganalisis konsentrasi ion Cd(II) dan Pd(II) yang mampu terserap
oleh silika aerogel. Sedangkan suspensi yang terbentuk dilakukan sentrifugasi pada 8.000 rpm
selama 15 menit kemudian surfaktan dianalisis dengan menggunkan. Konsentrasi ion logam
yang tersisa dalam larutan ditentukan dengan AAS.
d. Pengaruh waktu kontak adsorbat terhadap adsorpsi
Sebanyak 10 mL larutan ion logam Cd(II) dengan variasi waktu: 5, 10, 20, 50, 60, 70, 80,
90, 100, 120 menit, masing-masing diinteraksikan dengan 100 mg adsorben silika aerogel pada
pH optimum kemudian disaring. Konsentrasi ion logam yang tersisa dalam larutan ditentukan
dengan AAS, dan jumlah ion logam yang teradsorpsi dihitung dari selisih jumlah logam sebelum
dan sesudah adsorpsi.

E. Analisis Data
Data nilai absorbansi yang diperoleh pada variasi waktu kontak, konsentrasi awal, pH, dan
suhu adsorben digunakan untuk mengetahui konsentrasi ion logam Cd (II) sebelum dan sesudah
adsorpsi. Konsentrasi yang didapatkan selanjutnya digunakan pada penentuan kapasitas adsorpsi
magnetit bersalut silika pada saat waktu t, persentase metilen biru teradsorpsi, dan penentuan
isoterm adsorpsi (Freundlich dan Langmuir).