Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) TEKNIK RELAKSASI OTOT

PROGRESIF UNTUK MENGATASI GANGGUAN POLA TIDUR

DI RT 01 RW 02 KELURAHAN ULAK KARANG SELATAN

Oleh :
KELOMPOK S17
Adila Fitri, S.Kep Mayuni, S.Kep
Dolly Nopriadi Lova, S.Kep Nency Aldani Putri, S.Kep
Diana Deyva, S.Kep Rhadiatul Aulia Sari.J , S.Kep
Elditya Fransiska, S.Kep Suci Nilam Sari, S.Kep
Fanny Meilani, S.Kep Suci Rizki Mukhlisah, S.Kep
Fina Oktaviani, S.Kep Wilda Dahlia, S.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Promosi Kesehatan


Subpokok Bahasan : Teknik Relaksasi Otot Progresif Untuk Mengatasi
Gangguan pola Tidur
Sasaran : Warga Lansia Ulak Karang Selatan
Hari/ tanggal : Senin / 2 April 2018
Jam : 10.00 WIB – 10.30 WIB
Tempat : Musholla Ulak Karang Selatan RT 01/ RW02

A. LATAR BELAKANG
Lanjut usia merupakan suatu bagian dari tahap perjalanan hidup manusia dan
keberadaannya senantiasa harus diperhatikan. Seiring bertambahnya usia dengan
proses penuaan serta masalah fisik dan juga berakibat pada psikis lansia, maka
kesehatan lansia mengalami penurunan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana
cara mensikapi agar kesehatan fisik dan psikis tetap terjaga. Orang yang berusia
lanjut memerlukan tindakan keperawatan, baik yang bersifat promotif maupun
preventif, dapat menikmati masa usia lanjut yang berguna dan bahagia (Fatma, 2012
).Pada lansia terjadi penurunan sistem tubuh karena terjadi degeneratif yang
berakibat dalam kemunduran sistem syaraf, sistem pencernaan, sistem pernapasan,
sistem endokrin, sistem eksresi urogenital, sistem kardivaskuler, dan sistem
muskuloskeletal, perubahan-perubahan ini dapat mempengaruhi pola tidur lansia
(Rowlet,2015).
Pertambahan jumlah penduduk lansia sangat cepat. Badan kesehatan dunia
(WHO) bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2013 sudah mencapai angka
11,34% atau tercatat 28,8 juta orang. Bersamaan dengan peningkatan jumlah
penduduk lanjut usia tersebut membawa implikasi pada berbagai aspek kehidupan.
Dari aspek kesehatan, seseorang disebut usia pertengahan (middle age) ialah 45-59
tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) ialah 75-90 tahun,
usia sangat tua (very old) ialah di atas 90 tahun.
Penduduk lanjut usia di Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan
meningkatnya usia harapan hidup. Menurut Data Statistik Indonesia, tahun 2014
jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia mencapai 14,1 juta jiwa. Oleh karena
semakin meningkatnya usia harapan hidup lansia di dunia, lansia akan mengalami
perubahan fisik baik anatomis maupun fisiologisnya. Sehingga dapat menimbulkan
masalah kesehatan, salah satunya gangguan pada kualitas tidur. Masalah tersebut
menimbulkan beberapa dampak seperti perasaan tidak berguna, mudah stres, sedih,
depresi, ansietas, demensia, delirium dan mengalami gangguan tidur baik kualitas
maupun kuantitasnya (Wayan 2016). Hasil penelitian WHO (Word Health
Organization) dipusat kesehatan menunjukkan prevalensi sekitar 27 % untuk
kesulitan tidur, ternyata insomnia merupakan keluhan tidur yang paling sering
ditemukan. Menurut National Sleep Foundation (2010) sekitar 67% dari lansia di
Amerika usia 65 tahun keatas melaporkan mengalami gangguan tidur dan sebanyak
7,3% lansia mengeluhkan gangguan memulai dan mempertahankan tidur atau
insomnia.
Kekurangan tidur pada lansia memberikan pengaruh terhadap fisik, kemampuan
kognitif dan juga kualitas hidup. Lansia yang mengalami gangguan tidur akan
mengalami peningkatan jumlah tidur pada siang hari, masalah pada perhatian dan
memori, depresi, kemungkinan jatuh pada malam hari, serta rendahnya kualitas
hidup (Merrit, 2015).
Cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah kualitas tidur dari terapi
farmakologi dan nonfarmakologi.Terapi nonfarmakologi untuk mengatasi gangguan
tidur yaitu terapi relaksasi, terapi relaksasi dapat dilakukan dengan cara relaksasi
nafas dalam, relaksasi otot progresif. Relaksasi otot progresif adalah relaksasi yang
dilakukan dengan cara melakukan peregangan otot dan mengistirahatkannya kembali
secara bertahap dan teratur sehingga memberi keseimbangan emosi dan ketenangan
pikiran (Sitralita 2010).
Wilayah kerja Puskesmas Ulak karang merupakan salah satu daerah yang ada di
kota Padang yang memiliki angka lansia tinggi dan mengalami masalah gangguan
pola tidur dimana didapatkan berdasarkan hasil studi pendahuluan dari 20 lansia 12
diantaranya memiliki gangguan pola tidur mereka sering terbangun saat malam hari
dan sulit untuk tidur kembali.
Berbagai dampak negatif dapat ditimbulkan oleh gangguan tidur; antara lain
menurunnya daya tahan tubuh, menurunnya prestasi kerja, kelelahan, depresi, mudah
tersinggung, dan menurunnya daya konsentrasi yang dapat memengaruhi
keselamatan diri sendiri dan juga orang lain. Menurut Malik (2010),
ketidakmampuan lansia memenuhi tidur yang berkualitas dan menurunnya fase tidur
REM dapat menimbulkan keluhan pusing, kehilangan gairah, rasa malas, cenderung
mudah marah/tersinggung, kemampuan pengambilan keputusan secara bijak
menurun, hingga menyebabkan depresi dan frustrasi.
Perawat komunitas memiliki tanggung jawab guna membantu lansia mengatasi
gangguan tidur. Beberapa cara yang umum dilakukan untuk meningkatkan kualitas
tidur lansia antara lain melakukan aktifitas fisik pendek, rendam kaki dengan air
hangat, minum minuman hangat, membaca buku, atau kitab suci dan relaksasi salah
satunya relaksasi otot progresif (Jesica, 2010).
B. TUJUAN
1. Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan peserta memahami tentang konsep
tentang relaksasi otot progresif terhadap gangguan pola tidur pada lansia.
2. Khusus
Setelah diberi penyuluhan peserta mampu memahami tentang:
1. Pengertian Gangguan Pola Tidur
2. Penyebab Gangguan Pola Tidur
3. Pengertian relaksasi otot progresif
4. Manfaat relaksasi otot progresif
5. Cara melakukan relaksasi otot progresif
C. METODE
a. Ceramah
b. Demonstrasi
c. Tanya jawab

D. MEDIA
a. Slide presentasi Power Point
b. Video
c. Laptop
d. Infocus
e. Leaflet
E. MATERI
(Terlampir)

F. Pengorganisasian
1. Moderator : Wilda Dahlia,S.Kep
Tugas Moderator :
a. Membuka penyuluhan.
b. Memperkenalan diri
c. Memberitahu pokok bahasan penyuluhan kepada peserta.
d. Kontrak waktu dengan peserta penyuluhan.
e. Menyampaikan rute atau tahap-tahap dalam penyuluhan.
f. Menguraikan secara singkat latar belakang dan tujuan penyuluhan.
g. Mempersilakan pemateri untuk menyampaikan materi.
h. Membuka sesi tanya-jawab.
i. Mempersilakanpeserta untuk bertanya.
j. Mempersilakan pemateri untuk menjawab pertanyaan peserta.
k. Merangkum inti presentasi pemateri.
l. Mengucapan terimakasih kepada pemateri dan peserta.
m. Menutup penyuluhan
2. Pemateri : Dolly Nopriadi Lova S.Kep
Tugas Pemateri:
a. Menyampaikan materi penyuluhan.
b. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peserta.
3. Notulen : Wilda Dahlia, S.Kep
Tugas Notulen:
a. Bertanggung-jawab atas daftar hadir peserta penyuluhan.
b. Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta.
c. Mencatat jawaban-jawaban yang disampaikan oleh pemateri.
d. Membuat rangkuman materi penyuluhan.
e. Membuat Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) setelah terlaksananya
penyuluhan.
4. Fasilitator : Nency Aldani, S.Kep, Fina Oktaviani S.Kep, Suci Rizki
Mukhlisah S.Kep, Diana Deyva, S.Kep, Adilla Fitri, S.Kep, Elditya
Fransiska, S.Kep, Fanny Meilani, S.Kep
Tugas Fasilitator:
a. Mempersiapkan dan bertanggung-jawab atas setting tempat penyuluhan,
seperti susunan dan jumlah meja dan kursi yang digunakan dalam
penyuluahan.
b. Mempersiapakan dan bertanggung-jawab atas segala media dan alat peraga
yang digunakan oleh pemateri dalam penyuluhan.
c. Selalu memfasilitasi semua kebutuhan peserta dalam penyuluhan dan
menyesuaikannya dengan kondisi saat penyuluhan, sehingga penyuluhan
berjalan dengan lancar.
5. Observer : Rhadiatul Aulia Sari, S.Kep
Tugas Observer :
a. Memonitor atau memantau selama berjalannya penyuluhan.
b. Mengamati reaksi peserta penyuluhan.
c. Mengamati keberhasilan penyuluhanan.

I. Setting Tempat

1 2 3 KETERANGAN

1. Moderator
2. Pemateri
7 6 6 3. Notulen
4. Fasilitator
4 4 5. Observer
7 6. Peserta
5 7. Pembimbing
G. KEGIATAN PENYULUHAN

No Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta Waktu


1 Pendahuluan
 Memberi salam  Menjawab salam
 Memperkenalkan diri dan anggota  Mendengarkan 5 menit
 Mengkomunikasikan pokok bahasan  Mendengarkan
 Mengkomunikasikan tujuan  Mendengarkan
2 Kegiatan Inti
 Menggali pengetahuan peserta  Menjawab pertanyaan
tentang pengertian gannguan pola
tidur
 Menggali pengetahuan peserta  Memperhatikan
tentang penyebab gangguan pola dengan seksama
tidur  Menjawab
 Menjelaskan penyebab gangguan
pola tidur  Memperhatikan 45 menit
 Menggali pengetahuan peserta dengan seksama
tentang relaksasi otot progresif
 Menjelaskan pengertian relaksasi otot  Menjawab pertanyaan

regresif
 Memperhatikan
 Menjelaskan manfaat relaksasi otot
progresif
 Memperhatikan
 Menjelaskan cara melakukan
 Memperhatikan
relaksasi otot progresif
 Tanya jawab
 Memberikan
pertanyaan
3 Penutup
 Melakukan evaluasi secara lisan  Menjawab
 Menyimpulkan materi penyuluhan  Menjawab 10 menit
bersama peserta  Menjawab salam
 Memberikan salam penutup
H. EVALUASI
Kriteria evaluasi:
1. Evaluasi Struktur
a. Pengorganisasian penyuluhan sesuai dengan perencanaan
b. Tempat dan media serta alat sesuai rencana
2. Evaluasi Proses
a. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan
b. Peran dan tugas sesuai dengan perencanaan
c. Waktu pelaksanaan sesuai dengan perencanaaan
d. peserta mengikuti kegiatan penyuluhan sampai selesai
e. peserta berperan aktif selama kegiatan berlangsung
3. Evaluasi Hasil
Sebanyak 50% dari peserta mampu :
a. Peserta mampu menjelaskan pengertian
b. Peserta mampu menjelaskan penyebab hipertensi
c. Peserta mampu menjelaskan tanda gejala hipertensi
d. Peserta mampu menjelaskan penatalaksanaan hipertensi
e. Peserta mampu menjelaskan pengertian kecemasan
f. Peserta mampu menjelaskan cara perawatan ansietas pada pasien hipertensi
g. Peserta mampu menjelaskan pengertian relaksasi otot progresif
h. Peserta mampu menjelaskan manfaat relaksasi otot progrosif
i. Peserta mampu melakukan relaksasi otot progresif
LAMPIRAN MATERI
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
PASIEN DENGAN GANGGUAN KUALITAS TIDUR
A. Definisi insomnia

Insomnia adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami kesulitan


untuk tidur dengan nyenyak. Rata-rata setiap orang pernah mengalami insomnia
sekali dalam hidupnya. Insomnia tidak hanya kondisi sulit tidur, tetapi juga
seluruh gangguan tidur, seperti sering terjaga saat tidur yaitu lebih dari 4 kali, sulit
memulai tidur, tidur kurang dari 7 jam hingga tidak bisa mencapai kualitas tidur
yang normal. Pada penderita insomnia, umumnya tidak bangun dalam keadaan
segar tetapi justru merasa lemas, kurang bersemangat, sangat mengantuk, dan
perasaan tidak enak lainnya (Widya, 2010).

B. Penyebab insomnia

Menurut Association of Sleep Disorder Centers pada tahun 1990 dalam Prayitno
(2002) insomnia pada lansia disebabkan oleh

1. Apnea tidur, terutama apnea tidur sentral

2. Mioklonus yang berhubungan dengan tidur berjalan, gerakan mendadak pada


tingkat yang berulang, stereotipik, unilateral atau bilateral, keluhan
berupa”tungkai gelisah” (restless leg), tungkai kaku waktu malam, neuropatia
atau miopatia dan defisiensi asam folat dan besi.

3. Berbagai konflik emosional dan stress merupakan penyebab psikofisiologik


dari insomnia.

4. Gangguan psikiatrik berat terutama depresi berat seringkali menimbulkan


bangun terlalu pagi dan dapat bermanifestasi sebagai insomnia dan
hipersomnia. Depresi endogen berkaitan dengan onset dini dari tidur REM dan
dapat diperbaiki secara dramatis dengan obat anti depresan.

5. Keluhan penyakit-penyakit organik, misalnya nyeri karena arthritis, penyakit


keganasan, nokturia, penyakit hati atau ginjal dan sesak napas dapat
mengakibatkan bangun berulang pada tidur malam.
6. Sindrom otak organik yang kronik seringkali menimbulkan insomnia. Penyakit
parkinson terganggu tidurnya 2-3 jam. Pasien alzheimer sering terbangun
tengah malam dan dapat menimbulkan eksitasi paradoksial.

7. Zat seperti alkohol dan obat kortikosteroid, teofilin dan beta blokers dapat
menginterupsi tidur. Pengobatan dengan stimulansia dan gejala lepas zat
hipnotika dan sedativa perlu diperhatikan untuk gangguan tidur

C. Tanda dan gejala insomnia

Gejala-gejala umum yang sering dialami oleh penderita insomnia menurut Susilo
& Wulandari (2011) adalah sebagai berikut:

1. Perasaan sulit tidur

2. Bangun tidak diinginkan

3. Wajah selalu terlihat lebih kusam

4. Kurang energi dan lemas

5. Cemas berlebihan tanpa sebab

6. Gangguan emosional

7. Mudah lelah

8. Penglihatan kabur

9. Koordinasi gerak anggota tubuh terganggu

10. Berat badan turun drastis

11. Gangguan pencernaan

12. Fobia malam hari

13. Ketergantungan obat tidur

14. Ketergantungan zat penenang


D. Dampak insomnia

1. Menurunnya vitalitas kerja

2. Daya ingat dan konsentrasi menurun

3. Tidak ada tenaga/malas

4. Keterampilan berkomunikasi tidak bagus

5. Badan lemah, kelelahan, sakit kepala

E. Cara Mengatasi Insomnia

1. Ciptakan lingkungan yang tenang dan aman untuk tidur: kurangi bising dan
cahaya ruangan yang tidak diinginkan, ruangan tidak terlalu panas atau dingin

2. Olahraga kurang lebih 6 jam sebelum tidur

3. Mandi dengan air hangat sebaiknya dillakukan 1 atau 2 jam sebelum tidur

4. Hindari stress dengan cara berdzikir, beribadah, dll.

5. Hindari penggunaan obat tidur jangka panjang

6. Gunakan teknik relaksasi

F. Pengertian Terapi relaksasi otot progresif

Teknik relaksasi otot progresif memusatkan perhatian pada suatu aktivitas otot
dengan mengidentifikasi otot yang tegang kemudian menurunkan ketegangan dengan
melakukan teknik relaksasi untuk mendapatkan perasaan relaks (Herodes,
2010). Teknik relaksasi otot progresif merupakan suatu terapi relaksasi yang
diberikan kepada klien dengan menegangkan otot-oto tertentu dan kemudian relaksasi.
Relaksasi progresif adalah salah satu cara dari teknik relaksasi mengombinasikan
latihan napas dalam dan serangkaian seri kontraksi dan relaksasi otot tertentu.
(Kustanti dan Widodo, 2008).
G. Manfaat Terapi Relaksasi Otot Progresif

Menurut Herodes (2010), Alim (2009), dan potter (2005), tujuan dari teknik ini adalah
untuk:

1) Menurunkan ketegangan otot, kecemasan, nyeri leher dan punggung, tekanan


darah tinggi, frekuensi jantung, laju metabolic.

2) Mengurangi disritmia jantung, kebutuhan oksigen;

3) Meningkatkan gelombang alfa otak yang terjadi ketika klien sadar dan tidak
memfokuskan perhatian serta relaks;

4) Meningkatkan rasa kebugaran, konsentrasi;

5) Memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stress

6) Mengatasi insomnia, depresi, kelelahan, iritabilitas, spasme otot, fobia ringan,


gagap ringan, dan

7) Membangun emosi positif dari emosi negative.

H. Cara Melakukan Terapi Relaksasi Otot Progresif

a. Persiapan klien
1. Jelaskan tujuan, manfaat, prosedur, dan pengisian lembar persetujuan terapi
pada klien.
2. Posisikan tubuh klien secara nyaman yaitu berbaring dengan mata tertutup
menggunakan bantal dibawah kepala dan lutut atau duduk dikursi dengan
kepala ditopang, hindari posisi berdiri.
3. Lepaskan asesoris yang digunakan seperti kacamata, jam, dan sepatu;
4. Longgarkan ikatan dasi, ikat pinggang atau hal lain yang sifatnya mengikat
ketat.
Prosedur

Gerakan 1: ditujukan untuk melemaskan otot-otot wajah (seperti otot dahi, mata,
rahang, dan mulut).

1. Gerakkan otot dahi dengan cara mengerutkan dahi dan alis sampai otot terasa
dan kulitnya keriput.
2. Tutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan disekitar mata dan otot-otot
yang mengendalikan gerakan mata.
Gerakan 2 : ditujukan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh otot rahang.

Katupkan rahang, diikuti dengan menggigit gigi sehingga terjadi ketegangan


disekitar otot rahang.

Gerakan 3 dan 4 : ditujukan untuk mengendurkan otot-otot sekitar mulut.

Bibir dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga akan dirasakan ketegangan di


sekitar mulut.

Gerakan 5 : ditujukan untuk merileksikan otot leher bagian depan maupun belakang.

1. Gerakan diawali dengan otot leher bagian belakang baru kemudian otot leher
bagian depan.
2. Letakkan kepala sehingga dapat beristirahat.
3. Tekan kepala pada permukaan bantalan kursi sedemikian rupa sehingga dapat
merasakan ketegangan dibagian belakang leher dan punggung atas.
Gerakan 6. : ditujukan untuk melatih otot leher begian depan.

1. Gerakan membawa kepala ke muka.


2. Benamkan dagu ke dada, sehingga dapat merasakan ketegangan di daerah leher
bagian muka.
Gerakan 7 : ditujukan untuk melatih otot tangan.

1. Genggam tangan kiri sambil membuat suatu kepalan.


2. Buat kepalan semakin kuat sambil merasakan sensasi ketegangan yang terjadi.
3. Pada saat kepalan dilepaskan, klien dipandu untuk merasakan relaks selama 10
detik.
4. erakan pada tangan kiri ini dilakukan dua kali sehingga klien dapat membedakan
perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan relaks yang dialami.
5. Prosedur serupa juga dilatihkan pada tangan kanan.
Gerakan 8: ditujukan untuk melatih otot tangan bagian belakang.

1. Tekuk kedua lengan ke belakang pada pergelangan tangan sehingga otot di


tangan bagian belakang dan lengan bawah menegang, jari-jari menghadap ke
langit-langit.
2. Gerakan melatih otot tangan bagian depan dan belakang ditunjukkan pada
gambar.
Gerakan 9: ditujukan untuk melatih otot biseps (otot besar pada bagian atas pangkal
lengan).

1. Genggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan.


2. Kemudian membawa kedua kepalan ke pundak sehingga otot biseps akan menjadi
tegang.
Gambar:

Gerakan 10 : ditujukan untuk melatih otot bahu supaya mengendur.

1. Angkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan hingga menyantuh kedua telinga.


2. Fokuskan atas, dan leher.
Gambar:

Gerakan 11: ditujukan untuk melatih otot punggung

1. Angkat tubuh dari sandaran kursi.


2. Punggung dilengkungkan.
3. Busungkan dada, tahan kondisi tegang selama 10 detik, kemudian relaks.
4. Saat relaks, letakkan tubuh kembali ke kursi sambil membiarkan otot menjadi
lemas.
Gerakan 12: ditujukan untuk melemaskan otot dada.

1. Tarik napas panjang untuk mengisi paru-paru dengan udara sebanyak-


banyaknya.
2. Ditahan selama beberapa saat, sambil merasakan ketegangan di bagian dada
sampai turun ke perut, kemudian dilepas.
3. Saat ketegangan dilepas, lakukan napas normal dengan lega.
4. Ulangi sekali lagi sehingga dapat dirasakan perbedaan antara kondisi tegang dan
relaks.
Gerakan 13: ditujukan untuk melatih otot perut.

1. Tarik dengan kuat perut kedalam.


2. Tahan sampai menjadi kencang dank eras selama 10 detik, lalu dilepaskan bebas.
3. Ulangi kembali seperti gerakan awal perut ini.
Gerakan 14-15: ditujukan untuk melatih otot-otot kaki (seperti paha dan betis).

1. Luruskan kedua telapak kaki sehingga otot paha terasa tegang.


2. Lanjutkan dengan mengunci lutut sedemikian rupa sehingga ketegangan pindah
ke otot betis.
3. Tahan posisi tegang selama 10 detik, lalu dilepas.
4. Ulangi setiap gerakan masing-masing dua kali
DAFTAR PUSTAKA

Alim. 2009. “Langkah-Langkah Relaksasi Otot Progresif”.

Nurarif, Amin Huda dan Kusuma, Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA jilid 1. Jakarta : Mediaction

Riyadi, Sujono. 2011. Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Nabil S. Kamel, MD,a,b Julie K. Gammack, MDa,b. 2006. Insomnia in the Elderly:
Cause, Approach, and Treatment

Brandt, Nicole J, PharmD, CGP, BCPP, FASCP; Piechocki, Jennifer M, BS.


2013. Treatment of Insomnia in Older Adults: Re-Evaluating the Benefits and
Risks of Sedative Hypnotic Agents

Turkoski, Beatrice B. 2006. Managing Insomnia