Anda di halaman 1dari 73

.

Rancang Bangun Rangkaian “RLC” untuk


Memperkenalkan Kurva Histeresis Magnetik pada
Mahasiswa Fisika dalam Mata Kuliah Listrik
Magnet .

Oleh
Riza Uldin A.
NIM 4201401037
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk dimajukan ke sidang Ujian

Skripsi jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Negeri Semarang.

Semarang, Februari 2006

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Agus Yulianto, M.Si Drs. Sudjarwata, M.Si


NIP 131900801 NIP 131852202

ii
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan dalam sidang panitia Ujian Skripsi jurusan Fisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universiatas Negeri Semarang
pada:

Hari :

Tanggal : Februari 2006

Panitia Ujian:

Ketua Sekretaris

Drs. Kasmadi Imam S, M.Si Drs. M. Sukisno, M.Si


NIP. 130781011 NIP. 130529522

Pembimbing I Penguji I

Drs. Agus Yulianto, M.si Drs. Kadartono P, M.T


NIP. 131900801 NIP. 130367993

Pembimbing II Penguji II

Drs. Sujarwata, M.T Drs. Agus Yulianto, M.si


NIP. 131862202 NIP. 131900801

Penguji III

Drs. Sujarwata, M.T


NIP. 131862202

iii
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar hasil karya

saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain. Pendapat atau temuan orang

lain yang tertulis dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan etika ilmiah.

Semarang, Februari 2006

Riza Uldin A
NIM 4201401037

iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

¾ ”Tidak ada akal seperti kepandaian mengatur, tidak ada wara’ seperti

menahan dari sesuatu yang haram dan tidak ada kemuliaan seperti baik

budi pekerti”

¾ ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran

yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

¾ ”Dan tetaplah kamu membei peringatan karena peringatan itu bermanfaat

bagi orang-orang yang beriman”.

PERSEMBAHAN

1. Bapak dan emak tercinta

2. Kakak-kakakku Mas Nur, Mas Umar, Mas Zaenal,

Mbak Umi, Mbak Rini.

3. Adik-adikku Kurnia, Imam, Sri, Atin, Eni.

4. Keluarga Besar Bani H.Yusuf semuanya.

5. Bu Etik sekeluarga

6. Teman-teman angkatan 2001

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini telah tersusun dengan baik karena bantuan dari berbagai

pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima

kasih kepada:

1. Bapak Drs. M. Sukisno, M.Si, ketua Jurusan Fisika Universitas Negeri

Semarang.

2. Bapak Drs. Agus Yulianto, M.Si, dosen pembimbing utama yang telah

memberikan bimbingan kepada penulis.

3. Bapak Drs. Sujarwata, M.Si, dosen pembimbing pendamping yang telah

memberikan bimbingan kepada penulis.

4. Bapak Drs. Kadartono P, M.T, dosen penguji yang telah memberikan

masukannya kepada penulis.

5. Ibu Dra. Dwi Yulianti, M. Si, dosen wali yang telah memberikan perwalian

kepada penulis.

6. Bapak Drs. Teguh Darsono, M.Si yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan skripsi dari awal sampai akhir.

7. Kakak-kakakku: Mas Wasi, Mas Hamrowi, Mas Nugroho, Mas Andi, Mas

Joko, Mas Mahardika, Mbak wiwit dan yang seangkatan dengannya

8. Teman-temanku di Lab Fisika Kemagnetan Bahan UNNES, teman-teman

angkatan 2001 dan semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu.

vi
Penulis menyadari bahwa pengetahuan yang penulis miliki masih

dangkal dan sempit, sehingga penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu penulis dengan kerendahan hati mengharapkan saran dan kritik yang

membangun dari semua pihak guna perbaikan dan penyempurnaan skipsi ini.

Semarang, Februari 2006

Penulis

vii
ABSTRAK

Riza Uldin A. 2005. Rancang Bangun Rangkaian “RLC” untuk Memperkenalkan


Kurva Histeresis Magnetik pada Mahasiswa Fisika dalam
Mata Kuliah Listrik Magnet .
Pembimbing : I. Drs. Agus Yulianto, M.Si; II. Drs. Sujarwata, M. Si

Telah dilakukan rancang bangun rangkaian RLC untuk menampilkan kurva


histeresis magnetik pada layar osiloskop. Komponen-komponen yang baik untuk
membuat rangkaian RLC ini terdiri dari resistor R1=1Ω dan R2=10 kΩ , kapasitor
C = 0,1 μf, serta induktor L= 0,0063 H. Rancang bangun ini menggunakan
toroida sebagai sumber medan magnet untuk diketahui kurva histeresis
magnetiknya. Toroida dibuat dengan menggunakan inti besi lunak berjari-jari
dalam 2,1 cm dan dililit dengan kumparan berdiameter 0,45 mm. Tampilan berupa
kurva histeresis magnetik diperoleh setelah rangkaian RLC dihubungkan ke
osiloskop dan pada sumber sinyal berupa Audio Frequensy Generator (AFG).
Rangkaian RLC tersebut telah diujicobakan dalam kegiatan pembelajaran pada
mahasiswa Prodi Fisika semester V tahun 2005 FMIPA UNNES. Pembelajaran
dilaksanakan dalam bentuk demonstrasi dengan desain evaluasi berupa pre-test
post-test. Data yang diperoleh dari pre-test dan post-test dianalisis dengan metode
statistik. Nilai koefisien korelasi biserial yang diperoleh dari analisis tersebut
menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mahasiswa yang cukup signifikan
dengan tingkat signifikansi sebesar 2,66. Sedangkan dari uji kesamaan hasil dua
rata-rata didapatkan hasil antara pre-test dan post-test mengalami perbedaaan
yang positif ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil post-test setelah
demonstrasi alat. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa alat ini dapat
digunakan sebagai alat pembelajaran mata kuliah yang membahas tentang kurva
histeresis magnetik.

Kata Kunci: Toroida, Kurva histeresis, Osiloskop.

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................................... ii
PENGESAHAN KELULUSAN ................................................................... iii
PERNYATAAN ............................................................................................. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................ v
KATA PENGANTAR ................................................................................... vi
ABSTRAK ..................................................................................................... viii
DAFTAR ISI .................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1
B. Permasalahan ................................................................................. 3
C. Tujuan Penelitian........................................................................... 3
D. Manfaat penelitian ......................................................................... 3
E. Sistematika Penulisan Skripsi........................................................ 4

BAB II LANDASAN TEORI


A. Sifat Kemagnetan Bahan .............................................................. 5
B. Medan Magnet............................................................................... 9
C. Kurva Histeresis ............................................................................ 14
D. Rangkaian RC dan RL................................................................... 16
E. Imbas Medan Listrik Terhadap Medan Magnet ............................ 19
F. Arus Pergeseran............................................................................. 21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat Penelitian ....................................................... 23
B. Desain Penelitian ........................................................................... 23

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian .............................................................................. 32
B. Pembahasan ..................................................................................... 37

ix
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan........................................................................................ 40
B. Saran .............................................................................................. 40

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 41

LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................ 42

x
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kriteria tingkat kesukaran soal .......................................................... 27

Tabel 2. Kriteria daya pembeda soal................................................................ 28

Tabel 3. Hasil analisis uji coba instrumen ....................................................... 34

Tabel 4. Beberapa bahan magnet lunak ........................................................... 78

Tabel 5. Beberapa bahan magnetik keras......................................................... 78

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Arah domain-domain dalam bahan ferromagnetik sebelum


diberi medan magnet luar............................................................. 8

Gambar 2. Arah domain dalam bahan feromagnetik setelah diberi


medan magnet luar ....................................................................... 9

Gambar 3. Kumparan cincin dialiri arus .......................................................... 11

Gambar 4. Kurva induksi normal .................................................................... 14

Gambar 5. Kurva Histeresis ............................................................................. 15

Gambar 6. Rangkaian RC................................................................................. 16

Gambar 7. Rangkaian RL ................................................................................. 18

Gambar 8. Desain toroida inti besi lunak......................................................... 32

Gambar 9. Rangkaian RLC hasil kegiatan rancang bangun............................. 33

Gambar 10. (a) Rangkaian paralel RLC


(b) rangkaian setara untuk (a) ...................................................... 72

Gambar 11. Foto karakterisasi kurva histeresis dengan osiloskop .................. 79

Gambar 12. Foto proses demonstrasi alat ........................................................ 79

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Data linearitas tegangan dan arus pada toroida .......................... 42

Lampiran 2. Data tegangan output pada MBL................................................. 43

Lampiran 3. Data konversi tegangan out put terhadap medan B dan H .......... 45

Lampiran 4. Daftar nilai dan deviasi standar pretes dan postes....................... 51

Lampiran 5. Analisis perangkat tes.................................................................. 52

Lampiran 6. Uji normalitas data sebelum demonstrasi.................................... 53

Lampiran 7. Uji normalitas data sesudah demonstrasi..................................... 54

Lampran 8. Perhitungan koefisien korelasi biseral .......................................... 55

Lampiran 9. Uji kesamaan dua rata-rata hasil belajar...................................... 56

Lampiran 10. Program Satuan Pengajaran....................................................... 57

Lampiran 11. Uji coba tes ................................................................................ 58

Lampiran 12. Instrumen penelitian .................................................................. 62

Lampiran 13. Modul demonstrasi alat ............................................................. 66

Lampiran 14. Analisis rangkaian RLC ............................................................. 72

Lampiran 15. Kurikulum dan Silabi Listrik Magnet........................................ 75

Lampiran 14. Bahan Magnet............................................................................ 78

Lampiran 15. Foto-foto Penelitian ................................................................... 79

xiii
xiv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara historis ilmu kemagnetan bahan mulai tumbuh dari sebuah

pengamatan bahwa “batu-batu” (magnetite) tertentu akan menarik potongan besi-

besi yang kecil. Perkataan magnetisme berasal dari magnesia di Asia Kecil, yakni

salah satu diantara tempat batu-batu tersebut ditemukan. Kemudian ilmuwan-

ilmuwan berusaha mencari tahu hal yang terjadi pada kasus tersebut, hingga

memunculkan nama-nama yang dikenal sampai sekarang antara lain Oersted dan

Maxwell.

Rangkaian RLC adalah sebuah rangkaian yang berfungsi sebagai osilator.

Jika rangkaian ini diberi sumber tegangan bolak-balik maka akan terjadi pengisian

tegangan pada kapasitor. Ketika kapasitor penuh maka tegangan akan menuju ke

dalam induktor. Pada proses ini energi yang diberikan oleh kapasitor adalah

energi listrik. Setelah kapasitor dalam keadaan kosong, tegangan akan kembali

lagi menuju kapasitor untuk pengisian. Sedangkan pada proses ini energi yang

diberikan oleh induktor adalah energi magnet. Konsep pertambahan dan

pengurangan tegangan ini sama dengan proses pembentukan kurva histeresis.

Kurva Histeresis magnetik merupakan kurva karakteristik bahan magnet

jika diberi medan magnet luar. Karakteristik dari kurva histeresis magnetik dapat

digunakan untuk menyimpulkan suatu data bahwa bahan magnetik tersebut

termasuk soft-magnet atau hard-magnet. Parameter kemagnetan dari kurva


2

histeresis magnetik bahan soft-magnet dan hard-magnet memerlukan visualisasi

untuk menjelaskan konsep tersebut.

Listrik magnet merupakan salah satu mata kuliah yang membahas tentang

ilmu kemagnetan dan termasuk di dalamnya adalah kurva histeresis. Pada mata

kuliah listrik magnet diajarkan mulai dari konsep dasar kemagnetan sampai

lengkap pada bahan-bahannya. Mata kuliah listrik magnet memerlukan dua kali

pemahaman yaitu hafalan dan hitungan. Konsep yang banyak hafalan dan

hitungan pada mata kuliah ini sangat dikeluhkan oleh mahasiswa. Oleh karena itu

pada mata kuliah listrik magnet perlu adanya penjelasan konsep dengan

memanfaatkan alat peraga.

Pada saat ini banyak dijumpai alat-alat yang menggunakan prinsip-prinsip

kemagnetan di laboratorium Fisika FMIPA Unnes. Karena kesederhanaan dan

kurangnya pengembangan alat, maka sedikit dosen yang menggunakan alat ini

sebagai alat pengajaran. Untuk itu visualisasi kurva histeresis magnetik

merupakan pengembangan alat peraga yang sesuai sebagai alat bantu mahasiswa

fisika dalam memahami konsep-konsep kemagnetan, khususnya pendekatan

secara abstraknya.

Oleh karena itu penulis memandang perlu untuk melakukan penelitian

dengan judul: “Rancang Bangun Rangkaian “RLC” Untuk Memperkenalkan

Kurva Histerisis Bahan Magnet Pada Mahasiswa Fisika Dalam Mata Kuliah

Listrik Magnet ”.
3

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditegaskan bahwa penelitian ini

memiliki fokus pada dua permasalahan, yaitu mengenai:

1. Rancang bangun alat berupa rangkaian RLC yang dapat digunakan untuk

menampilkan kurva histeresis magnetik pada layar osiloskop.

2. Kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang

konsep-konsep fisika yang ada pada kurva histeresis dengan memanfaatkan

rangkaian yang telah dibuat.

Jadi secara keseluruhan penelitian ini tetap berorientasi pada kegiatan

pembelajaran yang dapat memberikan pemahaman yang baik kepada mahasiswa.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menghasilkan prototipe rangkaian RLC yang dapat digunakan untuk

menampilkan kurva histeresis magnetik pada layar osiloskop.

2. Memanfaatkan rangkaian RLC tersebut dalam kegiatan pembelajaran untuk

meningkatkan pemahaman mahasiswa Jurusan Fisika tentang konsep-konsep

fisika yang terdapat pada kurva histeresis magnetik.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai salah satu alat

bantu pengajaran mata kuliah listrik magnet dan praktikum fisika dasar tentang

kemagnetan yang selama ini sangatlah kurang. Hasilnya yang diharapkan adalah

mahasiswa menjadi lebih memahami tentang konsep kurva histeresis dari bahan

magnet yang digunakan.


4

E. Sistematika Penulisan Skripsi

Sistematika penyusunan skripsi ini adalah:

1. Bagian awal skripsi, berisi tentang halaman judul, abstrak, halaman

pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar,

daftar tabel, dan daftar lampiran.

2. Bagian isi skripsi, terdiri atas:

Bab I : Pendahuluan, meliputi alasan pemilihan judul, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.

Bab II : Landasan teori, berisi tentang teori-teori yang mendukung

penelitian dan kerangka berpikir.

Bab III : Metodologi penelitian, berisi metode yang digunakan dalam

penelitian.

Bab IV : Hasil penelitian dan pembahasan, berisi tentang hasil-hasil

penelitian yang telah dilakukan disertai dengan pembahasan

mengenai hasil tersebut.

Bab V : Penutup, berisi kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran yang

diajukan.

3. Bagian akhir skripsi, berisi tentang daftar pustaka dan lampiran-lampiran.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Sifat Kemagnetan Bahan

Semua bahan tersusun semata dari atom. Setiap atom terdiri dari inti dan

elektron yang bergerak mengelilingi inti. Di samping mengorbit inti, elektron

melakukan gerakan spin pada sumbunya. Akibat gerakan elektron ini, maka dalam

atom timbul medan magnet (Hayt, 1990: 321).

Medan magnet akibat orbit dan spin elektron ini dapat dipadu seperti

perpaduan vektor. Dan hasil perpaduannya disebut resultan medan magnet atomis.

Berdasarkan sifat medan magnet atomis bahan dibagi menjadi tiga golongan,

yaitu:

1. Bahan diamagnetik

Tahun 1846 Michael Faraday menemukan bahwa sebuah contoh bahan

bismuth yang didekatkan ke kutub sebuah magnet akan ditolak. Zat-zat semacam

itu oleh Faraday dinamakan zat diamagnetik. Diamagnetisme yang ada di dalam

semua zat merupakan suatu efek yang begitu lemah, sehingga kehadiran efek

tersebut ditutupi (tidak terlihat) di dalam zat-zat yang terbuat dari atom-atom yang

mempunyai momen dipole magnet netto yaitu pada zat paramagnetik dan

ferromagnetik.

Bahan diamagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis

masing-masing atom atau molekulnya nol, tetapi orbit dan spinnya tidak nol

(Halliday & Resnick, 1989:427). Bahan diamagnetik tidak mempunyai momen

dipol magnet permanen. Jika bahan diamagnetik diberi medan magnet luar, maka
6

elektron-elektron dalam atom akan berubah gerakannya sedemikian hingga

menghasilkan resultan medan magnet atomis yang arahnya berlawanan dengan

medan magnet luar tersebut. Akibatnya, jika bahan ini dimasukkan dalam

kumparan toroida akan menyebabkan fluks induksi magnet (Ф) menjadi lebih
r
kecil, sehingga induksi magnet ( B ) yang ditimbukan juga lebih kecil.

Sifat diamagnetik bahan ditimbulkan oleh gerak orbital elektron. Karena

atom mempunyai elektron orbital, maka sifat diamagnetik dimiliki oleh setiap

bahan. Suatu bahan dapat bersifat magnet apabila susunan atom dalam bahan

tersebut mempunyai spin elektron yang tidak berpasangan. Dalam bahan

diamagnetik hampir semua spin elektron berpasangan, akibatnya bahan ini tidak

menarik garis gaya. Permeabilitas bahan ini: μ < μ 0 dengan suseptibilitas

magnetik bahan: χ m < 0 . Contoh bahan diamagnetik yaitu: bismut, perak, emas,

tembaga dan seng.

2. Bahan paramagnetik

Bahan paramagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis

masing-masing atom/molekulnya tidak nol, tetapi resultan medan magnet atomis

total seluruh atom/molekul dalam bahan nol (Halliday & Resnick, 1989). Hal ini

disebabkan karena gerakan atom/molekul acak, sehingga resultan medan magnet

atomis masing-masing atom saling meniadakan.

Jika bahan ini diberi medan magnet luar, maka elektron-elektronnya akan

berusaha sedemikian rupa sehingga resultan medan magnet atomisnya searah

dengan medan magnet luar. Sifat paramagnetik ditimbulkan oleh momen


7

magnetik spin yang menjadi terarah oleh medan magnet luar. Pada bahan ini efek

diamagnetik (efek timbulnya medan magnet yang melawan medan magnet

penyebabnya) dapat timbul, tetapi pengaruhnya sangat kecil.

Oleh karena itu jika bahan ini dimasukkan dalam kumparan toroida akan
v
menyebabkan induksi magnet B bertambah besar. Dalam bahan paramagnetik

hanya sedikit spin elektron yang tidak berpasangan, sehingga bahan ini sedikit

menarik garis gaya magnet. Permeabilitas bahan: μ > μ0 , dengan suseptibilitas

magnetik bahan : χ m > 0. Contoh bahan paramagnetik antara lain : alumunium,

magnesium dan wolfram.

Bahan diamagnetik dan paramagnetik mempunyai sifat kemagnetan yang

lemah. Perubahan induksi magnet dengan adanya bahan tersebut tidaklah besar

apabila digunakan sebagai pengisi kumparan toroida.

3. Bahan ferromagnetik

Bahan ferromagnetik adalah bahan yang mempunyai resultan medan

atomis besar (Halliday & Resnick, 1989:422). Hal ini terutama disebabkan oleh

momen magnetik spin elektron. Pada bahan ferromagnetik banyak spin elektron

yang tidak berpasangan, misalnya pada atom besi terdapat empat buah spin

elektron yang tidak berpasangan. Masing-masing spin elektron yang tidak

berpasangan ini akan memberikan medan magnetik, sehingga total medan

magnetik yang dihasilkan oleh suatu atom lebih besar.

Medan magnet dari masing-masing atom dalam bahan ferromagnetik

sangat kuat, sehingga interaksi diantara atom-atom tetangganya menyebabkan


8

sebagian besar atom akan mensejajarkan diri membentuk kelompok-kelompok.

Kelompok atom yang mensejajarkan dirinya dalam suatu daerah dinamakan

domain. Bahan feromagnetik sebelum diberi medan magnet luar mempunyai

domain yang momen magnetiknya kuat. Momen magnetik ini mempunyai arah

yang berbeda-beda dari satu domain ke domain yang lain, sehingga medan magnet

yang dihasilkan tiap domain saling meniadakan.

Gambar 1. Arah domain-domain dalam bahan ferromagnetik sebelum diberi


medan magnet luar (Surya, 1989: 61).

Jika bahan ini diberi medan magnet dari luar, maka domain-domain ini

akan mensejajarkan diri searah dengan medan magnet dari luar tersebut. Semakin

kuat medan magnetnya semakin banyak domain-domain yang mensejajarkan

dirinya. Setelah seluruh domain terarahkan, penambahan medan magnet luar tidak

memberi pengaruh apa-apa karena tidak ada lagi domain yang disearahkan.

Keadaan ini dinamakan keadaan saturasi (jenuh).

Gambar 2. Arah domain dalam bahan feromagnetik setelah


diberi medan magnet luar (Surya, 1989: 61).
9

Berbeda dengan bahan paramagnetik, bahan ferromagnetik ini tetap

bersifat magnet (memiliki medan magnet) meskipun pengaruh magnet dari luar

dihilangkan. Karena itu bahan ini sangat baik sebagai sumber magnet permanen.

Jika toroida diisi bahan ferromagnetik, maka induksi bahan magnetik yang

dihasilkan oleh toroida bertambah besar sampai ribuan kali. Permeabilitas

bahan: μ >>> μ0 , dengan suseptibilitas bahan : χ m >>> 0 . Contoh bahan

ferromagnetik antara lain: besi, baja dan besi silikon. Sifat kemagnetan bahan

ferromagnetik ini akan hilang pada temperatur yang disebut Temperatur Currie.

Temperatur Curie untuk besi lemah adalah 7700 C, dan untuk baja adalah 10430 C

(Kraus. J. D, 1970: 165).

B. Medan Magnet

Medan magnet didefinisikan sebagai ruang disekitar sebuah magnet atau di

sekitar sebuah penghantar yang dialiri arus (Halliday & Resnick, 1989: 251).

Medan magnet merupakan besaran vektor, sehingga kita dapat menggunakan garis

medan untuk menyatakan medan magnet. Salah satu besaran medan magnet
v
adalah induksi magnet dan dinyatakan dengan vektor Β . Garis medan induksi

magnet disebut garis induksi. Seperti halnya pada medan listrik, jumlah garis gaya

yang menembus pada suatu permukaan luasan S dapat ditentukan bila induksi
v r
magnet Β pada tiap titik pada permukaan luasan S tersebut diketahui. Bila dΑ
v
adalah vektor elemen luas pada luasan S tertentu dan Β adalah vektor induksi

pada elemen luas tersebut, maka jumlah garis gaya atau Fluks Ф yang keluar dari

permukaan luasan S adalah:


10

Φ = ∫ Βr •dAr ……………………………………………… ............(2.1)


s

(Sutrisno dan Tan, 1983: 80)

Integral pada persamaan (2.1) adalah integral permukaan. Integral


r r v r
Β • dΑ menyatakan produk skalar antara vektor Β dan dΑ . Persamaan (2.1) juga

dapat ditulis:

Φ = ∫ ΒdΑ cosθ
s

Φ = ∫sΒ n dΑ …………………………………......................... (2.2)

θ adalah sudut antara vektor B dan dA, sedangkan Bn= B cos θ adalah komponen

B pada arah normal. Hubungan diatas berasal dari gambaran besar induksi magnet

(B) sebagai rapat garis gaya tiap satuan luas, sehingga besar induksi magnet (B)

dapat disebut sebagai rapat fluks (Sutrisno dan Tan, 1983: 80).

1. Medan magnet dalam kumparan solenoida

Solenoida adalah sebuah kawat panjang yang dililitkan dan terbungkus

rapat (Halliday & Resnick.1987: 311). Medan magnet yang ditimbulkan dari

solenoida merupakan jumlah vektor dari medan-medan magnet yang ditimbulkan

oleh semua lilitan yang membentuk solenoida tersebut.

Untuk menghitung besarnya medan magnet yang terdapat dalam solenoida


r r
digunakan hukum Ampare ∫ Β • dl = μ i
C
o sebagai dasarnya. Dari hukum Ampere

ini persamaan medan magnet di dalam solenoida menjadi;

B = μ0in ........................................................................................... (2.3)

(Halliday & Resnick, 1989: 312 )


11

faktor n menyatakan banyaknya lilitan per satuan panjang.

Walaupun telah menurunkan persamaan (2.3) untuk sebuah solenoida

ideal yang panjangnya tak hingga, namun persamaan (2.3) tersebut cukup baik

juga untuk medan magnet pada titik-titik di dekat pusat solenoida. Persamaan

(2.3) tersebut memperlihatkan bahwa B tidak bergantung pada diameter atau

panjang solenoida, sehingga penampang solenoida tersebut dapat dianggap

konstan.

2. Medan magnet dalam kumparan toroida

Kumparan toroida berisi udara dengan N jumlah lilitan yang rapat dan arus

i mengalir dalam kawat kumparan maka garis induksi magnet akan membentuk

lingkaran sepusat dengan cincin. Untuk menghitung induksi magnet dalam

kumparan menggunakan hukum Ampere. Hukum Ampere menyatakan:


r r
∫C
Β • d l = μoiC ………………………………………........….(2.3)

dimana iC adalah arus yang ada dalam lengkung. Karena garis induksi magnet

berupa lingkaran, maka induksi magnet B selalu sejajar di sepanjang lengkung C.

r iC
a
B
b

Gambar 3. Kumparan cincin dialiri arus (Sutrisno dan Tan, 1983: 105)
12

Disamping itu harga induksi magnetik B tidak bergantung pada letak perubahan

panjang pada C tetapi integral garis.(sutrisno dan Tan, 1983: 104).

r r
∫C
Β • d l = Β∫ d l
r r
C ………………………………................ (2.4)
∫ Β • d l =(2πr )
C

Karena ∫ dl = l
C
adalah keliling lingkaran C sebesar 2πr , sehingga induksi

magnet dalam cincin adalah:

B (2 πr ) = μ 0 iN

μ 0 iN
B= ………….…………………………………………......... (2.5)
2πr

Induksi magnet di luar penampang cincin sama dengan nol. Hal ini dapat

ditunjukkan dengan hukum Ampere, dengan syarat lengkungan C diambil di luar

cincin. Karena arus yang terkandung dalam C adalah nol, maka induksi magnet di

luar penampang cincin juga sama dengan nol.

3. Medan magnet dalam toroida yang mengandung bahan magnetik

Jika dalam toroida terdapat bahan magnet (dalam hal ini adalah bahan

ferromagnetik yang dianggap homogen), apabila diberi medan magnet dari luar

akan berpengaruh terhadap arah momen magnetik spin pada tiap atom dalam

bahan. Momen magnetik spin tersebut cenderung searah dengan medan magnet

luar. Hal ini mengakibatkan timbulnya momen dipol resultan yang dihasilkan oleh

arus permukaan iS. Arus permukaan iS akan mengubah harga induksi magnet total

menjadi:
13

iN i
Bt = μ0
B + μ0 S ………………………………………….......... (2.6)
l l

N menunjukkan jumlah lilitan pada kumparan toroida, i adalah arus pada

lilitan kawat dan iS adalah arus permukaan yang dihasilkan oleh bahan magnetik.

Bila jari-jari rerata toroida r jauh lebih besar dari pada a, maka medan dalam

toroida dianggap homogen. Dengan kata lain rapat fluks induksi magnetik sama

pada seluruh bagian penampang toroida.

Untuk membedakan arus pada lilitan kawat ( i ) dengan arus permukaan

(iS) digunakan besaran medan magnet yang baru yaitu intensitas magnet H dan

magnetisasi bahan M yang dirumuskan:

iN i
H= dan M = S …………………………………........................(2.7)
l l

dengan l adalah keliling dari lingkaran C sebesar 2πr, sehingga satuan untuk H

dan M adalah Am-1. Dengan demikian persamaan (2.6) dapat ditulis sebagai :

Bt = μ 0 ( H + M ) ………………………………………………….......(2.8)
B

Dengan adanya penambahan faktor μ 0 M pada induksi magnetik akan

menyebabkan medan magnet total menjadi lebih besar. Demikian juga dengan

harga fluks induksi magnet (Φ) akan menjadi lebih besar.

Pada banyak bahan, besarnya magnetisasi M sebanding dengan besarnya

intensitas megnet H yang diungkapkan secara matematis seperti persamaan di

bawah:
r r
M = χ m H …………………………………………………............ (2.9)

(Reitz, 1993: 224).


14

dengan besaran skalar tanpa dimensi χ m yang disebut suseptibilitas magnetik

(kerentanan magnet). Adanya medan magnet dari arus bebas pada bahan
r r
ferromagnetik akan menyebabkan hubungan M dengan H tidaklah linier. Hal ini

merupakan perbedaan antara bahan ferromagnetik dengan bahan diamagnetik dan

bahan paramagnetik.

C. Kurva Histerisis

Bentuk umum kurva induksi magnet B sebagai fungsi intensitas magnet H

terlihat pada gambar 4. Kurva B-H seperti ini disebut kurva induksi normal.
B

Bs (a) a

Bs (b) b
Bs ( c) c

Gambar 4. Kurva induksi normal (Sutrisno dan Tan, 1983:110)

Tampak bahwa kurva tidak berbentuk garis lurus, sehingga dikatakan

bahwa hubungan antara B dan H adalah tidak linier. Dengan kenaikan harga H,

mula-mula B turut naik tetapi tidak linear. Mulai dari satu titik tertentu harga H

hanya akan menghaslkan harga B yang konstan, keadaan ini disebut dengan

kedaan saturasi. Harga induksi magnetik untuk keadaan saturasi disebut dengan

Bs atau induksi magnet saturasi. Bahan yang mencapai saturasi untuk harga H

rendah disebut bahan magnet lunak seperti kurva (a) pada gambar 4. Bahan
15

magnet yang saturasinya terjadi pada harga H tinggi disebut magnet keras seperti

kurva (c) pada gambar 4.

Bila sudah mencapai saturasi intensitas magnet (H) diperkecil ternyata

harga B tidak terletak pada kurva semula. Pada harga H = 0, induksi magnet atau

rapat fluks B mempunyai harga Br ≠ 0. Jadi apabila arus yang masuk pada toroida

dimatikan (i = 0) dalam bahan masih tersimpan fluks induksi. Harga Br ini disebut

dengan induksi remanen atau remanensi bahan.

BS
HS
Br

-Hc 0 Hc H

Gambar 5. Kurva Histeresis (Haliday dan Resnick, 1983:110)

Bila setelah mencapai nol harga intensitas magnet H dibuat negatif

(dengan membalik arus pada lilitan), kurva B-H akan memotong sumbu H pada

harga -Hc. Intensitas Hc inilah yang diperlukan untuk membuat rapat fluks B=0

atau menghilangkan fluks dalam bahan. Intensitas magnet Hc ini disebut

koersivitas bahan. Bila selanjutnya harga diperbesar pada harga negatif sampai

mencapai saturasi dan dikembalikan melalui nol berbalik arah dan terus
16

diperbesar pada harga H positif hingga saturasi kembali, kurva B-H akan

membentuk satu lintasan tertutup yang disebut kurva histeresis.

Bahan magnet dengan koersivitas tinggi berarti tidak mudah hilang

kemagnetannya. Untuk menghilangkan kemagnetannya diperlukan intensitas

magnet H yang besar. Bahan magnet seperti ini baik untuk membuat magnet

permanen. Bahan megnet lunak dengan Hc rendah dan Br tinggi mempunyai

permeabilitas maksimum yang tinggi. Bahan magnet ini terutama digunakan

untuk memperbesar fluks. Dengan arus yang tidak terlalu besar, dapat dihasilkan

fluks yang besar.

D. Rangkaian RC dan RL

1. Rangkaian RC R

ε(t) C
VC

Gambar 6. Rangkaian RC (Marthen K. 2000: 92)

Jika suatu kapasitor dengan kapasitansi C dihubungkan dengan sumber

tegangan ac sebesar ε(t), maka setelah beberapa waktu di dalam kapasitor

terkumpul muatan sebanyak q = CE. Setelah muatan ini tercapai, dikatakan

muatan ini terisi penuh. Isi muatan akan tetap tersimpan dalam kapasitor selama

tak ada kebocoran muatan yang mengalir dari plat kapasitor satu ke yang lain.

Kapasitor C tidaklah langsung terisi penuh melainkan memerlukan waktu.


17

Ketika sumber tegangan ac dihubungkan pada rangkaian, maka arus

mengalir dari sumber tegangan dan mengisi muatan kapasitor. Pada saat t,

kapasitor yang mula-mula kosong mendapat muatan;

t
q (t ) = ∫ i dt .................................................................................. (2.10)
0

beda tegangan pada kapasitor sebesar;

q (t )
VC (t ) =
C
t ............................................................................ (2.11)
1
VC (t ) = ∫ i dt
C0

sedangkan beda tegangan antara kedua ujung resistor R menjadi;

VR = ε − VC (t )
t
1
VR = ε − ∫ i dt ........................................................................... (2.12)
C0
VR = iR

ε adalah ggl induksi pada rangkaian. Oleh karena VC terus bertambah, maka VR

akan terus berkurang sehingga arus i(t) akan terus berkurang pula. Penurunan arus

ini secara eksponensial dengan persamaan;

ε
i (t ) = e − t / RC ............................................................................ (2.13)
R

waktu t = RC disebut tetapan waktu dan dinyatakan dengan τ, sehingga τ = RC.

Tampak makin besar harga dari RC, maka makin lama waktu yang

diperlukan untuk mengisi kapasitor hingga penuh. Secara fisis ini dapat

diterangkan bahwa jika R besar maka arus untuk mengisi kapasitor kecil.

Sehingga memerlukan waktu yang lama, begitupun jika C besar diperlukan waktu

yang lama untuk mengisi hingga penuh.


18

2. Rangkaian RL

Pada gambar 7 ditunjukkan sebuah rangkaian yang terdiri dari induktor L,

Resistor R dan sumber tegangan bolak-balik. Jika induktor tidak ada dalam

rangkaian maka arus listrik yang mengalir dalam rangkaian segera mencapai nilai

tetap V(t)/R begitu sumber dipasang.

RL

L
ε(t) ∞
R V0

Gambar 7. Rangkaian RL (Kanginan, 2000:93)

Pada rangkaian tersebut ketika sumber tegangan dipasang, terjadi laju

pertumbuhan arus di/dt dalam rangkaian dimana sebelum arus mencapai harga

tetapnya yaitu ε(t)/R. Karena adanya di/dt, maka pada induktor timbul ggl induksi

diri ε = -L di/dt yang menentang pertumbuhan arus dalam rangkaian. Dengan kata

lain induktor L bertindak seakan-akan sebagai sebuah sumber tegangan ε dengan

polaritas berlawanan dengan sumber tegangan ε(t). Ggl induksi diri inilah yang

menyebabkan arus listrik dalam rangkaian bertambah secara perlahan sampai

mencapai harga tetapnya. Ketika arus dalam rangkaian sudah mencapai harga
19

tetapnya, laju pertumbuhan arus sudah mencapai harga nol (di/dt=0), dan ggl

induksi sama dengan nol.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa induktor dapat menghambat laju arus

dalam rangkaian. Makin besar nilai induktansi L makin baik induktor tersebut

dalam mengurangi laju pertumbuhan arus (Marthen K. 2000). Tetapan waktu

dalam rangkain di berikan rumus:

L
τ = ............................................................................................... (2.14)
R

Jika sumber tegangan diputus maka terjadi laju pengecilan arus dalam

rangkaian sebelum arus mencapai nol. Pada induktor timbul ggl induksi diri yang

menentang pengecilan arus dalam rangkaian. Akibat ggl induksi diri, arus dalam

rangkaian mengecil secara perlahan sampai mencapai nilai nol.

Tegangan yang terukur pada titik R merupakan tegangan yang dipengaruhi

arus i (t), sehingga arus tersebut dapat dihitung dangan hukum Ohm yaitu:

V
i (t ) = ............................................................................................ (2.15)
R

E. Imbas Medan Listrik Terhadap Medan Magnet

Medan listrik ( E ) dapat dihasilkan dari plat kapasitor yang sejajar. Disini

dianggap bahwa E semakin besar dengan kecepatan perubahan yang tetap (steady

rate) dE/dt, yang berarti bahwa muatan harus dibekalkan kepada plat-plat

kapasitor dengan kecepatan yang tepat. Untuk membekalkan muatan ini, maka

akan diperlukan sebuah arus i yang tetap memasuki plat positif dan sebuah arus

tetap i yang sama keluar plat negatif.


20

Sebuah eksperimen oleh Faraday memperlihatkan bahwa sebuah medan

magnet dihasilkan oleh medan listrik yang berubah-ubah. Untuk menjelaskan efek

ini secara kuantitatif, maka dipandu oleh analogi dengan hukum induksi Faraday

(Halliday & Resnick, 1989).

dΦ B
∫ E • dl = − dt
......................................................................... (2.15)

yang menyatakan bahwa sebuah medan listrik (suku kiri) dihasilkan oleh sebuah

medan magnet yang berubah-ubah (suku kanan). Untuk imbangan simetrinya,

maka dapat dituliskan

dΦ E
∫ B • dl = μ 0 ∈0
dt
.......................................................................................................... (2.16)

Persamaan 2.16 manyatakan bahwa sebuah medan magnet dapat dihasilkan oleh

sebuah medan listrik yang berubah-ubah dari kapasitor.

Di dalam persamaan 2.3 bisa dilihat bahwa sebuah medan magnet juga

dihasilkan oleh sebuah arus i di dalam sebuah kawat. Telah dijelaskan bahwa

secara kuantitatif hikum Ampere:

∫ B • dl = μ i ..................................................................................
0 (2.17)

yang di dalamnya I adalah arus konduksi yang melewati suatu simpal di sekeliling

integral garis. Jadi setidak-tidaknya ada tiga cara untuk menghasilkan medan

magnet yaitu:

1. dengan sebuah medan listrik yang menghasilkan medan magnet

2. dengan sebuah arus

3. dengan sebuah benda yang dimagnetkan.

Pada umumnya ketiga-tiganya harus diperhitungkan sesuai persamaan;


21

dΦ E
∫ B • dl = μ 0 ∈0
dt
+ μ0i + μ0iM ........................................................................... (2.18)

∈0 adalah permitivitas dari kapasitor berisi udara yang digunakan dan iM adalah

arus pemagnet yang berasal dari bahan magnet yang dipakai dalam toroida.

Rumus umum dari IM yaitu

M 2πr
iM =
N
dengan ................................................................................ (2.19)
B − μ0 H
M =
μ0

(Halliday & Resnick, 1989:443)

Rumus generalisasi hukum Ampere yang penting ini diturunkan oleh Maxwell.

Generalisasi tersebut adalah suatu sumbangan (kontribusi) yang sangat penting.

F. Arus Pergeseran

dΦ E
Persamaan 2.18 memperlihatkan bahwa suku ∈0 mempunyai dimensi
dt

arus. Walaupun tidak ada gerak muatan yang terlibat, namun ada keuntungan-

keuntungan di dalam menamakan suku ini yaitu arus pergeseran. Jadi dapat

dikatakan bahwa sebuah medan magnet dapat dihasilkan baik oleh arus konduksi

dΦ E
i, arus pemagnet iM maupun oleh arus pergeseran id (= ∈0 ). Dan dapat
dt

ditulikan kembali persamaan 2.18 menjadi

∫ B • dl = μ (i 0 d + i + iM ) ................................................................. (2.20)

Untuk menghitung arus pergeseran oleh kapasitor, maka dapat diturunkan

persamaan fluks (Φ) dari plat kapasitor keping sejajarn yaitu:


22

ΦE 1 dq
=
dt ∈0 dt

ΦE 1 dV
= C ............................................................................... (2.21)
dt ∈0 dt

sehingga persamaan untuk arus pergeseran adalah;

dV
id = ∈0 C
∈0 dt

dV
id = C ...................................................................................................................................... (2.22)
dt

dari persamaan ini maka semakin jelas bahwa medan magnet juga dipengaruhi

oleh besarnya kapasitor, hubungan itu adalah

dV
∫ B • dl = μ (C 0
dt
+ i + iM ) ........................................................... (2.23)
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Sifat Kemagnetan Bahan

Semua bahan tersusun semata dari atom. Setiap atom terdiri dari inti dan

elektron yang bergerak mengelilingi inti. Di samping mengorbit inti, elektron

melakukan gerakan spin pada sumbunya. Akibat gerakan elektron ini, maka dalam

atom timbul medan magnet (Hayt, 1990: 321).

Medan magnet akibat orbit dan spin elektron ini dapat dipadu seperti

perpaduan vektor. Dan hasil perpaduannya disebut resultan medan magnet atomis.

Berdasarkan sifat medan magnet atomis bahan dibagi menjadi tiga golongan,

yaitu:

1. Bahan diamagnetik

Tahun 1846 Michael Faraday menemukan bahwa sebuah contoh bahan

bismuth yang didekatkan ke kutub sebuah magnet akan ditolak. Zat-zat semacam

itu oleh Faraday dinamakan zat diamagnetik. Diamagnetisme yang ada di dalam

semua zat merupakan suatu efek yang begitu lemah, sehingga kehadiran efek

tersebut ditutupi (tidak terlihat) di dalam zat-zat yang terbuat dari atom-atom yang

mempunyai momen dipole magnet netto yaitu pada zat paramagnetik dan

ferromagnetik.

Bahan diamagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis

masing-masing atom atau molekulnya nol, tetapi orbit dan spinnya tidak nol

(Halliday & Resnick, 1989:427). Bahan diamagnetik tidak mempunyai momen

dipol magnet permanen. Jika bahan diamagnetik diberi medan magnet luar, maka
6

elektron-elektron dalam atom akan berubah gerakannya sedemikian hingga

menghasilkan resultan medan magnet atomis yang arahnya berlawanan dengan

medan magnet luar tersebut. Akibatnya, jika bahan ini dimasukkan dalam

kumparan toroida akan menyebabkan fluks induksi magnet (Ф) menjadi lebih
r
kecil, sehingga induksi magnet ( B ) yang ditimbukan juga lebih kecil.

Sifat diamagnetik bahan ditimbulkan oleh gerak orbital elektron. Karena

atom mempunyai elektron orbital, maka sifat diamagnetik dimiliki oleh setiap

bahan. Suatu bahan dapat bersifat magnet apabila susunan atom dalam bahan

tersebut mempunyai spin elektron yang tidak berpasangan. Dalam bahan

diamagnetik hampir semua spin elektron berpasangan, akibatnya bahan ini tidak

menarik garis gaya. Permeabilitas bahan ini: μ < μ 0 dengan suseptibilitas

magnetik bahan: χ m < 0 . Contoh bahan diamagnetik yaitu: bismut, perak, emas,

tembaga dan seng.

2. Bahan paramagnetik

Bahan paramagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis

masing-masing atom/molekulnya tidak nol, tetapi resultan medan magnet atomis

total seluruh atom/molekul dalam bahan nol (Halliday & Resnick, 1989). Hal ini

disebabkan karena gerakan atom/molekul acak, sehingga resultan medan magnet

atomis masing-masing atom saling meniadakan.

Jika bahan ini diberi medan magnet luar, maka elektron-elektronnya akan

berusaha sedemikian rupa sehingga resultan medan magnet atomisnya searah

dengan medan magnet luar. Sifat paramagnetik ditimbulkan oleh momen


7

magnetik spin yang menjadi terarah oleh medan magnet luar. Pada bahan ini efek

diamagnetik (efek timbulnya medan magnet yang melawan medan magnet

penyebabnya) dapat timbul, tetapi pengaruhnya sangat kecil.

Oleh karena itu jika bahan ini dimasukkan dalam kumparan toroida akan
v
menyebabkan induksi magnet B bertambah besar. Dalam bahan paramagnetik

hanya sedikit spin elektron yang tidak berpasangan, sehingga bahan ini sedikit

menarik garis gaya magnet. Permeabilitas bahan: μ > μ0 , dengan suseptibilitas

magnetik bahan : χ m > 0. Contoh bahan paramagnetik antara lain : alumunium,

magnesium dan wolfram.

Bahan diamagnetik dan paramagnetik mempunyai sifat kemagnetan yang

lemah. Perubahan induksi magnet dengan adanya bahan tersebut tidaklah besar

apabila digunakan sebagai pengisi kumparan toroida.

3. Bahan ferromagnetik

Bahan ferromagnetik adalah bahan yang mempunyai resultan medan

atomis besar (Halliday & Resnick, 1989:422). Hal ini terutama disebabkan oleh

momen magnetik spin elektron. Pada bahan ferromagnetik banyak spin elektron

yang tidak berpasangan, misalnya pada atom besi terdapat empat buah spin

elektron yang tidak berpasangan. Masing-masing spin elektron yang tidak

berpasangan ini akan memberikan medan magnetik, sehingga total medan

magnetik yang dihasilkan oleh suatu atom lebih besar.

Medan magnet dari masing-masing atom dalam bahan ferromagnetik

sangat kuat, sehingga interaksi diantara atom-atom tetangganya menyebabkan


8

sebagian besar atom akan mensejajarkan diri membentuk kelompok-kelompok.

Kelompok atom yang mensejajarkan dirinya dalam suatu daerah dinamakan

domain. Bahan feromagnetik sebelum diberi medan magnet luar mempunyai

domain yang momen magnetiknya kuat. Momen magnetik ini mempunyai arah

yang berbeda-beda dari satu domain ke domain yang lain, sehingga medan magnet

yang dihasilkan tiap domain saling meniadakan.

Gambar 1. Arah domain-domain dalam bahan ferromagnetik sebelum diberi


medan magnet luar (Surya, 1989: 61).

Jika bahan ini diberi medan magnet dari luar, maka domain-domain ini

akan mensejajarkan diri searah dengan medan magnet dari luar tersebut. Semakin

kuat medan magnetnya semakin banyak domain-domain yang mensejajarkan

dirinya. Setelah seluruh domain terarahkan, penambahan medan magnet luar tidak

memberi pengaruh apa-apa karena tidak ada lagi domain yang disearahkan.

Keadaan ini dinamakan keadaan saturasi (jenuh).

Gambar 2. Arah domain dalam bahan feromagnetik setelah


diberi medan magnet luar (Surya, 1989: 61).
9

Berbeda dengan bahan paramagnetik, bahan ferromagnetik ini tetap

bersifat magnet (memiliki medan magnet) meskipun magnet dari luar dihilangkan.

Karena itu bahan ini sangat baik sebagai sumber magnet permanen. Jika toroida

diisi bahan ferromagnetik, maka induksi bahan magnetik yang dihasilkan oleh

toroida bertambah besar sampai ribuan kali. Permeabilitas bahan: μ >>> μ0 ,

dengan suseptibilitas bahan : χ m >>> 0 . Contoh bahan ferromagnetik antara lain:

besi, baja dan besi silikon. Sifat kemagnetan bahan ferromagnetik ini akan hilang

pada temperatur yang disebut Temperatur Currie. Temperatur Curie untuk besi

lemah adalah 7700 C, dan untuk baja adalah 10430 C (Kraus. J. D, 1970: 165).

B. Medan Magnet

Medan magnet adalah ruangan disekitar bahan magnetik yang dialiri arus

listrik (Halliday & Resnick, 1989: 251). Medan magnet merupakan besaran

vektor, sehingga kita dapat menggunakan garis medan untuk menyatakan medan

magnet. Salah satu besaran medan magnet adalah induksi magnet dan dinyatakan
v
dengan vektor Β . Garis medan induksi magnet disebut garis induksi. Seperti

halnya pada medan listrik, jumlah garis gaya yang menembus pada suatu
v
permukaan luasan S dapat ditentukan bila induksi magnet Β pada tiap titik pada
r
permukaan luasan S tersebut diketahui. Bila dΑ adalah vektor elemen luas pada
v
luasan S tertentu dan Β adalah vektor induksi pada elemen luas tersebut, maka

jumlah garis gaya atau Fluks Ф yang keluar dari permukaan luasan S adalah

Φ = ∫ Βr •dAr ……………………………………………… ............(2.1)


s

(Sutrisno dan Tan, 1983)


10

Integral pada persamaan (2.1) adalah integral permukaan. Integral


r r v r
Β • dΑ menyatakan produk skalar antara vektor Β dan dΑ . Persamaan (2.1) juga

dapat ditulis:

Φ = ∫ ΒdΑ cosθ
s

Φ = ∫sΒ n dΑ …………………………………......................... (2.2)

θ adalah sudut antara vektor B dan dA, sedangkan Bn= B cos θ adalah komponen

B pada arah normal. Hubungan diatas berasal dari gambaran besar induksi magnet

B sebagai rapat garis gaya tiap satuan luas, sehingga induksi magnet B dapat

disebut sebagai rapat fluks (Sutrisno dan Tan, 1983: 80).

1. Medan magnet dalam kumparan solenoida

Solenoida adalah sebuah kawat panjang yang dililitkan dan terbungkus

rapat (Halliday & Resnick). Medan magnet yang ditimbulkan dari solenoida

merupakan jumlah vektor dari medan-medan magnet yang ditimbulkan oleh

semua lilitan yang membentuk solenoida tersebut.

Untuk menghitung besarnya medan magnet yang terdapat dalam solenoida


r r
digunakan hukum Ampare ∫ Β • dl = μ i
C
o sebagai dasarnya. Dari hukum Ampere

ini persamaan medan magnet di dalam solenoida menjadi;

B = μ0in ……………………………................................................ (2.3)

(Halliday & Resnick, 1989)

faktor n menyatakan banyaknya lilitan per satuan panjang.


11

Walaupun telah menurunkan persamaan (2.3) untuk sebuah solenoida

ideal yang panjangnya tak hingga, namun persamaan (2.3) tersebut cukup baik

juga untuk medan magnet pada titik-titik di dekat pusat solenoida. Persamaan

(2.3) tersebut memperlihatkan bahwa B tidak bergantung pada diameter atau

panjang solenoida, sehingga pada penampang solenoida tersebut dapat dianggap

konstan.

2. Medan magnet dalam kumparan toroida

Kumparan toroida berisi udara dengan N jumlah lilitan yang rapat dan arus

i mengalir dalam kawat kumparan maka garis induksi magnet akan membentuk

lingkaran sepusat dengan cincin. Untuk menghitung induksi magnet dalam

kumparan menggunakan hukum Ampere. Hukum Ampere menyatakan:


r r
∫C
Β • d l = μoiC ………………………………………........….(2.3)

dimana iC adalah arus yang ada dalam lengkung. Karena garis induksi magnet

berupa lingkaran, maka induksi magnet B selalu sejajar di sepanjang lengkung C.

r iC
a
b

i
Gambar 3. Kumparan cincin dialiri arus (Sutrisno dan Tan, 1983: 105)
12

Disamping itu harga induksi magnetik B tidak bergantung pada letak perubahan

panjang pada C tetapi integral garis.(sutrisno dan Tan, 1983: 104).

r r
∫C
Β • d l = Β∫ d l
C

r r
∫C
Β • d l = Β(2πr ) ………………………………................ (2.4) Karena

∫ dl = l
C
adalah keliling lingkaran C sebesar 2πr , sehingga induksi magnet dalam

cincin adalah:

B (2 πr ) = μ 0 iN

μ 0 iN
B= ………….…………………………………………......... (2.5)
2πr

Induksi magnet di luar penampang cincin sama dengan nol. Hal ini dapat

ditunjukkan dengan hukum Ampere, dengan syarat lengkungan C diambil di luar

cincin. Karena arus yang terkandung dalam C adalah nol, maka induksi magnet di

luar penampang cincin juga sama dengan nol.

3. Medan magnet dalam toroida yang mengandung bahan magnetik

Jika dalam toroida terdapat bahan magnet (dalam hal ini adalah bahan

ferromagnetik yang dianggap homogen), apabila diberi medan magnet dari luar

akan berpengaruh terhadap arah momen magnetik spin pada tiap atom dalam

bahan. Momen magnetik spin tersebut cenderung searah dengan medan magnet

luar. Hal ini mengakibatkan timbulnya momen dipol resultan yang dihasilkan oleh

arus permukaan iS. Arus permukaan iS akan mengubah harga induksi magnet total

menjadi:
13

iN i
Bt = μ0
B + μ0 S ………………………………………….......... (2.6)
l l

N menunjukkan jumlah lilitan pada kumparan toroida, i adalah arus pada

lilitan kawat dan iS adalah arus permukaan yang dihasilkan oleh bahan magnetik.

Bila jari-jari rerata toroida r jauh lebih besar dari pada a, maka medan magnetik

dalam toroida dianggap homogen. Dengan kata lain rapat fluks induksi magnetik

sama pada seluruh bagian penampang toroida.

Untuk membedakan arus (i) dengan arus permukaan (iS) digunakan besaran

medan magnet yang baru yaitu intensitas magnet H dan magnetisasi bahan M

yang dirumuskan:

iN i
H= dan M = S …………………………………........................(2.7)
l l

Satuan untuk H dan M adalah Am-1, sehingga persamaan (2.6) dapat ditulis

sebagai berikut :

Bt = μ 0 ( H + M ) ………………………………………………….......(2.8)
B

Dengan adanya penambahan faktor μ 0 M pada induksi magnetik akan

menyebabkan medan magnet total menjadi lebih besar. Demikian juga halnya

dengan harga fluks induksi magnet (Φ) akan menjadi lebih besar.

Pada banyak bahan, besarnya magnetisasi (M) sebanding dengan besar

intensitas megnet (H) yang diungkapkan secara matematis seperti persamaan (2.9)

di bawah.
r r
M = χ m H …………………………………………………............ (2.9)

(Reitz, 1993)
14

dengan besaran skalar tanpa dimensi χ m yang disebut suseptibilitas magnetik

(kerentanan magnet). Adanya medan magnet dari arus bebas pada bahan
r r
ferromagnetik, maka menyebabkan hubungan M dan H tidaklah linier. Hal ini

merupakan perbedaan antara bahan ferromagnetik dengan bahan diamagnetik dan

bahan paramagnetik.

C. Kurva Histerisis

Bentuk umum kurva induksi magnet B sebagai fungsi intensitas magnet H

terlihat pada gambar 4. Kurva B-H seperti ini disebut kurva induksi normal.
B

Bs (a) a

Bs (b) b
Bs ( c) c

Gambar 4. Kurva induksi normal (Sutrisno dan Tan, 1983:110)

Tampak bahwa kurva tidak berbentuk garis lurus sehingga dikatakan

bahwa hubungan antara B dan H adalah tidak linier. Dengan kenaikan harga H,

mula-mula B turut naik tetapi tidak linear. Mulai dari satu titik tertentu harga H

hanya akan menghaslkan harga B yang konstan, keadaan ini disebut dengan

kedaan saturasi. Harga induksi magnetik untuk kedaan saturasi disebut dengan Bs

atau induksi magnet saturasi. Bahan yang mencapai saturasi untuk harga H rendah

disebut bahan magnet lunak seperti kurva (a) pada gambar 4. Bahan magnet yang
15

saturasinya terjadi pada harga H tinggi disebut magnet keras seperti kurva (c)

pada gambar 4.

Bila sudah mencapai saturasi intensitas magnet H diperkecil ternyata harga

B tidak terletak pada kurva semula. Pada harga H = 0, induksi magnet atau rapat

fluks B mempunyai harga Br ≠ 0. Jadi apabila arus pada toroida dimatikan (I = 0)

dalam bahan masih tersimpan fluks induksi. Harga Br ini disebut dengan induksi

remanen atau remanensi bahan.

BS
HS
Br

-Hc 0 Hc H

Gambar 5. Kurva Histeresis (Haliday dan Resnick, 1983:110)

Bila setelah mencapai nol harga intensitas magnet H dibuat negatif

(dengan membalik arus pada lilitan), kurva B-H akan memotong sumbu H pada

harga -Hc. Intensitas Hc inilah yang diperlukan untuk membuat rapat fluks B=0

atau menghilangkan fluks dalam bahan. Intensitas magnet Hc ini disebut

koersivitas bahan. Bila selanjutnya harga intensitas magnet H diperbesar pada

harga negatif sampai mencapai saturasi dan dikembalikan melalui nol berbalik
16

arah dan terus diperbesar pada harga H positif hingga saturasi kembali, maka

kurva B-H akan membentuk suatu lintasan tertutup yang disebut kurva histeresis.

Bahan dengan koersivitas tinggi berarti tidak mudah hilang

kemagnetannya. Untuk menghilangkan kemagnetannya diperlukan intensitas

magnet H yang besar. Bahan seperti ini baik untuk membuat magnet permanen.

Bahan megnetik lunak dengan Hc rendah dan Br tinggi mempunyai permeabilitas

maksimum yang tinggi. Bahan ini terutama digunakan untuk memperbesar fluks

karena dengan arus yang tidak terlalu besar dapat dihasilkan fluks yang besar.

D. Rangkaian RC dan RL
R
1. Rangkaian RC

ε(t) C
VC

Gambar 6. Rangkaian RC (Marthen K. 2000)

Jika suatu kapasitor dengan kapasitansi C dihubungkan dengan sumber

tegangan ac sebesar ε(t), maka setelah beberapa waktu di dalam kapasitor

terkumpul muatan sebanyak q = CE. Setelah muatan ini tercapai, dikatakan

muatan ini terisi penuh. Isi muatan akan tetap tersimpan dalam kapasitor selama

tak ada kebocoran muatan yang mengalir dari plat kapasitor satu ke yang lain.

Kapasitor C tidaklah langsung terisi penuh melainkan memerlukan waktu.


17

Ketika sumber tegangan ac dihubungkan pada rangkaian, maka arus

mengalir dari sumber tegangan dan mengisi muatan kapasitor. Pada saat t,

kapasitor yang mula-mula kosong mendapat muatan;

t
q (t ) = ∫ i dt .................................................................................. (2.10)
0

beda tegangan pada kapasitor sebesar;

q (t )
VC (t ) =
C

t
1
VC (t ) = ∫ i dt ............................................................................ (2.11)
C0

sedangkan beda tegangan antara kedua ujung resistor R menjadi;

VR = ε − VC (t )
t
1
C ∫0
VR = ε − i dt

V.....................................................................................................
R = iR
(2.12)

ε adalah ggl induksi pada rangkaian. Oleh karena VC terus bertambah, maka VR

akan terus berkurang sehingga arus i(t) akan terus berkurang pula. Penurunan arus

ini secara eksponensial dengan persamaan;

ε
i (t ) = e − t / RC ............................................................................ (2.13)
R

waktu t = RC disebut tetapan waktu dan dinyatakan dengan τ, sehingga τ = RC.

Tampak makin besar harga dari RC, maka makin lama waktu yang

diperlukan untuk mengisi kapasitor hingga penuh. Secara fisis ini dapat

diterangkan bahwa jika R besar maka arus untuk mengisi kapasitor kecil.

Sehingga memerlukan waktu yang lama, begitupun jika C besar diperlukan waktu

yang lama untuk mengisi hingga penuh.


18

2. Rangkaian RL

Pada gambar 7 ditunjukkan sebuah rangkaian yang terdiri dari induktor L,

Resistor R dan sumber tegangan bolak-balik. Jika induktor tidak ada dalam

rangkaian maka arus listrik yang mengalir dalam rangkaian segera mencapai nilai

tetap V(t)/R begitu sumber dipasang.

V(t) ∞
R V0

Gambar 7. Rangkaian RL (Kanginan, 2000)

Pada rangkaian tersebut ketika sumber tegangan dipasang, terjadi laju

pertumbuhan arus di/dt dalam rangkaian dimana sebelum arus mencapai harga

tetapnya yaitu V(t)/R. Karena adanya di/dt, maka pada induktor timbul ggl

induksi diri ε = -L di/dt yang menentang pertumbuhan arus dalam rangkaian.

Dengan kata lain induktor L bertindak seakan-akan sebagai sebuah sumber

tegangan ε dengan polaritas berlawanan dengan sumber tegangan V(t). Ggl

induksi diri inilah yang menyebabkan arus listrik dalam rangkaian bertambah

secara perlahan sampai mencapai harga tetapnya. Ketika arus dalam rangkaian

sudah mencapai harga tetapnya, laju pertumbuhan arus sudah mencapai harga nol

(di/dt=0), dan ggl induksi sama dengan nol.


19

Dari sini dapat disimpulkan bahwa induktor dapat menghambat laju arus

dalam rangkaian. Makin besar nilai induktansi L makin baik induktor tersebut

dalam mengurangi laju pertumbuhan arus (Marthen K. 2000). Tetapan waktu

dalam rangkain di berikan rumus:

L
τ = ............................................................................................... (2.14)
R

Jika sumber tegangan diputus maka terjadi laju pengecilan arus dalam

rangkaian sebelum arus mencapai nol. Pada induktor timbul ggl induksi diri yang

menentang pengecilan arus dalam rangkaian. Akibat ggl induksi diri, arus dalam

rangkaian mengecil secara perlahan sampai mencapai nilai nol.

Tegangan yang terukur pada titik R merupakan tegangan yang dipengaruhi

arus I , sehingga arus tersebut dapat dihitung dangan hukum Ohm yaitu:

V
I= ............................................................................................... (2.15)
R

E. Imbas Medan Listrik Terhadap Medan Magnet

Medan listrik ( E ) dapat dihasilkan dari plat kapasitor yang sejajar. Disini

dianggap bahwa E semakin besar dengan kecepatan perubahan yang tetap (steady

rate) dE/dt, yang berarti bahwa muatan harus dibekalkan kepada plat-plat

kapasitor dengan kecepatan yang tepat. Untuk membekalkan muatan ini, maka

akan diperlukan sebuah arus I yang tetap memasuki plat positif dan sebuah arus

tetap I yang sama keluar plat negatif.

Sebuah eksperimen oleh Faraday memperlihatkan bahwa sebuah medan

magnet dihasilkan oleh medan listrik yang berubah-ubah. Untuk menjelaskan efek
20

ini secara kuantitatif, maka dipandu oleh analogi dengan hukum induksi Faraday

(Halliday & Resnick, 1989).

dΦ B
∫ E • dl = − dt
......................................................................... (2.15)

yang menyatakan bahwa sebuah medan listrik (suku kiri) dihasilkan oleh sebuah

medan magnet yang berubah-ubah (suku kanan). Untuk imbangan simetrinya,

maka dapat dituliskan

dΦ E
∫ B • dl = μ 0 Є0
dt
........................................................................................................... (2.16)

Persamaan 2.16 manyatakan bahwa sebuah medan magnet dapat dihasilkan oleh

sebuah medan listrik yang berubah-ubah dari kapasitor.

Di dalam persamaan 2.3 bisa dilihat bahwa sebuah medan magnet juga

dihasilkan oleh sebuah arus I di dalam sebuah kawat. Telah dijelaskan bahwa

secara kuantitatif hikum Ampere:

∫ B • dl = μ 0 I ................................................................................. (2.17)

yang di dalamnya I adalah arus konduksi yang melewati suatu simpal di sekeliling

integral garis. Jadi setidak-tidaknya ada tiga cara untuk menghasilkan medan

magnet yaitu:

1. dengan sebuah medan listrik yang menghasilkan medan magnet

2. dengan sebuah arus

3. dengan sebuah benda yang dimagnetkan.

Pada umumnya ketiga-tiganya harus diperhitungkan sesuai persamaan;

dΦ E
∫ B • dl = μ 0 Є0
dt
+ μ0 I + μ0 I M ........................................................................ (2.18)
21

IM adalah arus pemagnet yang berasal dari bahan magnet yang dipakai dalam

toroida. Rumus umum dari IM yaitu

M 2πr
I M=
N
dengan ................................................................................ (2.19)
B − μ0 H
M =
μ0

(Halliday & Resnick, 1989)

Rumus generalisasi hukum Ampere yang penting ini diturunkan oleh Maxwell.

Generalisasi tersebut adalah suatu sumbangan (kontribusi) yang sangat penting.

F. Arus Pergeseran

dΦ E
Persamaan 2.18 memperlihatkan bahwa suku Є0 mempunyai dimensi
dt

arus. Walaupun tidak ada gerak muatan yang terlibat, namun ada keuntungan-

keuntungan di dalam menamakan suku ini yaitu arus pergeseran. Jadi dapat

dikatakan bahwa sebuah medan magnet dapat dihasilkan baik oleh arus konduksi

dΦ E
I, arus pemagnet IM maupun oleh arus pergeseran Id (= Є0 ). Dan dapat
dt

ditulikan kembali persamaan 2.18 menjadi

∫ B • dl = μ 0 ( I d + I + I M ) .............................................................. (2.20)

Untuk menghitung arus pergeseran oleh kapasitor, maka dapat diturunkan

fluks (Φ) dari plat kapasitor keping sejajar

ΦE 1 dq 1 dV
= = C ................................................................ (2.21)
dt ∈0 dt ∈0 dt

sehingga persamaan untuk arus pergeseran adalah


22

dV dV
Id = ∈0 C =C ..................................................................................................... (2.22)
∈0 dt dt

dari persamaan ini maka semakin jelas bahwa medan magnet juga dipengaruhi

oleh besarnya kapasitor, hubungan itu adalah

dV
∫ B • dl = μ C
0
dt
+ I + I M ) .......................................................... (2.23)
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan bulan

Desember 2005 di Laboratorium Fisika FMIPA UNNES.

B. Desain Penelitian

Desain utama penelitian adalah berkaitan dengan desain pembelajaran.

Namun karena untuk keperluan pembelajaran tersebut diperlukan demonstrasi

alat, maka tahap penelitian diawali dengan kegiatan rancang bangun alat. Rancang

bangun tersebut berupa rangkaian RLC yang dapat digunakan untuk menampilkan

kurva histeresis magnetik pada layar osiloskop. Setelah alat selesai dibuat dan

terkarakterisasi dengan baik, maka alat tersebut digunakan dalam penelitian

(kegiatan pembelajaran) dengan desain sebagai berikut.

1. Populasi dan sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA

UNNES semester V tahun 2005, sedangkan sampel yang digunakan adalah

mahasiswa Prodi Fisika FMIPA UNNES semester V tahun 2005. Jumlah

mahasiswa prodi ini adalah 40 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 20 orang

dijadikan kelompok untuk melakukan uji coba instrumen, dan 20 orang lainnya

sebagai kelompok treatment penelitian. Pengelompokan mahasiswa menjadi

kelompok uji coba ataupun kelompok treatment dilakukan dengan metode

random sampling. Tiap-tiap individu dalam populasi diberi kesempatan yang


24

sama untuk menjadi anggota sampel (Hadi, 1989). Hal ini dipilih dengan asumsi

bahwa semua mahasiswa pada prodi tersebut memiliki kemampuan yang tidak

jauh berbeda.

2. Proses pembelajaran

Awal proses pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

dengan memberikan soal pre-test pilihan ganda. Bentuk Pre-test berupa soal

pilihan ganda sebanyak 15 soal dan dikerjakan mahasiswa selama 15 menit.

Setelah pre-test selesai kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan demonstrasi

alat untuk menampilkan kurva histeresis magnetik.

Proses demonstrasi kurva histeresis dimulai dengan menjelaskan

karakteristik bahan-bahan magnet jika dimagnetisasi. Pada kegiatan ini diberikan

penjelasan tentang karakteristik bahan diamagnetik, paramagnetik dan

ferromagnetik ketika diberi medan magnetik luar. Penjelasan ini juga membahas

perpaduan dua gelombang input channel 1 dan inputt channel 2 pada osiloskop

ketika menekan tombol dual dan tombol X-Y . Setelah penjelasan secara lisan ini

diberikan kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi, yaitu menunjukkan kurva

histeresis magnetik pada layar osiloskop dengan memanfaatkan rangkaian RLC

hasil rancang bangun. Tahap kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan selama 20

menit.

Tahap proses pembelajaran selanjutnya adalah pemberian post-test. Soal

post-test yang diberikan kepada mahasiswa sama dengan soal pre-test. Post-test

diberikan dengan maksud untuk mengetahui peningkatan pemahaman mahasiswa

terhadap konsep-konsep fisika tentang kurva histeresis sebagai hasil kegiatan


25

demonstrasi. Waktu yang diberikan kepada mahasiswa untuk mengerjakan Post-

test juga selama 15 menit.

Hasil peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep yang

terdapat dalam kurva histeresis magnetik diperoleh dengan membandingkan hasil

pre-test dan post-test melalui pengolahan statistik.

3. Analisis Perangkat Tes

Instrumen tes yang digunakan adalah sejumlah soal yang telah diuji

cobakan dan telah dianalisis serta ditetapkan kelayakannya sebagai instrumen

penelitian. Analisis terhadap instrumen penelitian tersebut meliputi uji validitas,

reliabilitas, tingkat kesukaran serta daya beda soal.

a. Validitas butir soal

Validitas butir soal berfungsi untuk mengetahui seberapa besar peran

yang diberikan oleh butir soal tes dalam mencapai peran yang keseluruhan skor

soal tes. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan validitas

tes. Dalam penelitian ini validitas tes dianalisis dengan menggunakan korelasi

Point Biserial (Arikunto:1998), yaitu dengan menggunakan rumus:

M −Mt p
r pbis =
p
........................................ .......... (3.1)
St q
Keterangan:

rpbis = koefisien point biserial

Mp = mean skor dari subjek-subjek yang menjawab betul item yang dicari

korelasinya dengan tes


26

Mt = mean skor total (skor rerata dari seluruh pengikut tes)

St = standar deviasi skor total

p = proporsi subjek yang menjawab betul item tersebut

q = proporsi subjek yang menjawab salah item tersebut

Cara menggunakan rumus di atas adalah sebagai berikut. Pertama

menghitung ritem. Setelah itu ritem hasil perhitungan dibandingkan dengan rtabel

hasil korelasi produk moment, dengan taraf signifikan 5%. Item soal dikatakan

valid jika ritem > rtebel .

b. Reliabilitas

Reliabilitas berfungsi untuk menunjukkan suatu pengertian bahwa suatu

instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data.

Dalam penelitian ini reliabilitas tes diuji dengan menggunakan rumus KR-20

(Arikunto.1998):

⎛ k ⎞⎛⎜ S − ∑ pq ⎞⎟
2

r11 = ⎜ ⎟ .................................................... ............(3.2)


⎝ k − 1 ⎠⎜⎝ S2 ⎟

Keterangan:

K = banyaknya butir soal

∑pq = jumlah dari pq

S = Varians total

Penetapan reliabilitas tes diperoleh dengan cara mencocokkan nila r11

dengan harga r pada tabel r produk momen. Instrumen dianggap reliabel pada

taraf nyata 5%, jika r11 > rtabel .


27

c. Tingkat kesukaran butir soal

Tingkat kesukaran dari butir soal yang diberikan pada penelitian dianalisis

dengan menggunakan rumus indeks kesukaran (Subino,1987), yaitu:

JB A + JBB
IK = .................................................................... .......... (3.3)
JS A + JS B

Keterangan:

IK = Indeks kesukaran

JBA= jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok atas

JBB = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok bawah

JSA= banyaknya siswa pada kelompok atas

JSB = banyaknya siswa pada kelompok bawah

Penetapan tingkat kesukaran dilakukan dengan kriteria seperti tercantum

pada tabel 1 berikut.

Tabel 1. Kriteria tingkat kesulitan soal (Diambil dari Subino,1987)

Interval IK Kriteria

IK = 0,00 Terlalu sukar


0,00 < IK ≤ 0,20 Sukar
0,20 < IK ≤ 0,70 Sedang
0,70 < IK ≤ 1,00 Mudah
IK = 1,00 Terlalu mudah

d. Daya pembeda soal

Rumus yang digunakan untuk menghitung daya pembeda soal adalah

sebagai berikut:

JB A − JBB
DP = .................................................................. ……. (3.4)
JS A
28

Keterangan:

DP = daya pembeda soal

JBA = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok atas

JBB = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok bawah

JSA = banyaknya siswa pada kelompok atas

Kriteria yang digunakan adalah seperti ditunjukkan oleh tabel 2.

Tabel 2. Kriteria daya pembeda soal (Subino.1987)

Interval DP Kriteria
DP ≤ 0,00 Sangat jelek
0,00 < DP ≤ 0,20 Jelek
0,20 < DP ≤ 0,40 Cukup
0,40 < DP ≤ 0,70 Baik
0,70 < DP ≤ 1,00 Sangat baik

4. Metode Analisis Data

a. Uji normalitas data

Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah data hasil

penelitian terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas sangat penting untuk

menentukan metode statistik berikutnya yang cocok untuk manganalisis data

yang diperoleh. Dalam penelitian ini uji normalistas dilakukan dengan

menggunakan rumus chi kuadrat (Sudjana.1996), yaitu:

k
(Oi − Ei )
X2 = ∑ ………………………………………………… (3.5)
i =1 Ei

Keterangan:

X2 = harga chi kuadrat

Oi = frekuensi hasil pengamatan


29

Ei = frekuensi yang diharapkan

K = banyaknya kelas

Kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika X2 ≥ X2(1-α)(k-1) dengan α

adalah taraf nyata untuk pengujian, sedangkan H0 diterima jika selain dari kriteria

pengujian itu. Jika data terdistribusi normal, maka dilanjutkan pengolahan data

secara statistik seperti yang tersebut dalam uraian berikut dan jika data tidak

terdistribusi normal, maka dilakukan uji non parametrik lain.

b. Perhitungan koefisien korelasi biserial

Untuk mengetahui derajat hubungan penerapan model belajar demonstrasi

alat dan peningkatan pemahaman materi dari mahasiswa, digunakan rumus

koefisien korelasi biserial (Sudjana.1996), yaitu:


(Y2 −Y1 ) pq
rb = .................................................................................... (3.6)
u sy
Keterangan:

rb = koefisien korelasi biserial

Y1 = rata-rata variabel Y yang didapat karena kategori pertama

Y2 = rata-rata variabel Y yang didapat karena kategori kedua

Sy = simpangan baku untuk semua nilai Y

P = Proporsi pengamatan dalam kategori pertama

q = proporsi pengamatan dalam kategori kedua

u = tinggi ordinat dari normal kurva baku bagian p dan q


30

c. Uji kesamaan rata-rata dua hasil belajar

Setelah dilakukan uji normalitas dan perhitungan koefisien korelasi

biserial langkah selanjutnya adalah pengujian kesamaan rata-rata dua hasil belajar.

Pasangan hipotesis nol dan tandingannya yang akan diuji adalah:

Ho : µ1 = µ2

Ha : µ1 ≠ µ2

Ho adalah hipotesa bahwa tidak ada peningkatan hasil belajar dengan

menggunakan model demonstrasi alat yang telah dibuat pada mahasiswa Fisika

semester V FMIPA UNNES tahun 2005, sedangkan Ha adalah hipotesa yang

menyatakan bahwa peningkatan hasil belajar dengan menggunkan model

demonstrasi alat yang telah dibuat pada mahasiswa Fisika semester V FMIPA

UNNES tahun 2005.

Pengujian peningkatan hasil belajar ini menggunakan uji t, seperti

diberikan oleh Sudjana ( 1996):

X1 − X 2
t=
1 1
s +
n2 n2
( n1 − 1) s12 + ( n2 − 1) s22
s=
n1 + n2 − 2 ............................................... ........... (3.7)

Keterangan:

t = tingkat kesamaan rata-rata hasil belajar

s = deviasi rata-rata dua hasil belajar

n = jumlah testi

X = rata-rata dari hasil belajar


31

Kriteria pengujian yang berlaku adalah Ho diterima jika –t(1-1/2α)< t < t(1-1/2α)

dimana t(1-1/2α) didapat dari distribusi t dengan dk = (n1+n2-2) peluang (1-1/2 α)

serta α = 5%.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Hasil rancang bangun alat

Melalui penelitian ini telah dihasilkan sebuah alat berupa rangkaian RLC

yang dapat digunakan untuk menampilkan kurva histeresis dengan menggunakan

osiloskop. Skema rangkaian yang digunakan ditunjukkan oleh gambar 8 di bawah

ini.

Gambar 8. Skema Rangkaian RLC untuk menampilkan kurva


histeresis magnetik

Dari tahap ujicoba telah diperoleh hasil bahwa kurva histeresis dapat

ditampilkan secara baik menggunakan rangkaian RLC dengan memakai

komponen-komponen R1=1Ω, R2=10 kΩ , C = 0,1 μf, RL=1,1 ohm dan L =

0,0082 H. Tegangan input diambil dari Audio Frequensy Generator (AFG)

sebesar 4,7 volt. Induktansi diperoleh dari toroida berinti besi lunak berdiamater 5

cm dan jari-jari dalam 2,1 cm dengan jumlah lilitan 200.


33

Bahan-bahan tersebut dirangkai pada PCB kecil yang dilengkapi terminal-

terminal pada tegangan masukan dan tegangan keluaran. Cara menghubungkan

terminal-terminal pada rangkaian dengan AFG serta osiloskop adalah sebagai

berikut. Pertama, AFG dihubungkan ke dalam terminal input. Kemudian terminal

output X dihubungkan dengan channel 1 osiloskop, sementara output Y

dihubungkan ke channel 2 osiloskop. Gambar rangkaian RLC serta induktor

ditunjukkan oleh gambar 9, sedangkan data hasil-hasil karakterisasi alat yang

dipakai untuk keperluan demonstrasi disajikan secara lengkap pada lampiran 1s/d

3.

Gambar 9. Hasil rancang bangun rangkaian RLC

2. Hasil proses pembelajaran

Hasil proses pembelajaran dengan demonstrasi alat yang dilakukan kepada

mahasiswa fisika semester V tahun 2005 adalah sebagai berikut:

a. Hasil uji coba instrumen tes

Uji coba instrumen tes ini dilaksanakan pada mahasiswa Jurusan Fisika

non kependidikan semester V tahun 2005. Hasil uji coba tersebut selengkapnya

dapat dilihat pada lampiran 5 dan terangkum pada tabel 3 berikut:


34

Tabel 3. Hasil analisis uji coba instrumen

Validitas Daya Pembeda Tingkat Kesukaran


N0 Kriteria
rpbis Kriteria DP kriteria IK kriteria
1 -0,406 Tidak -0,222 Sgt jelek 0,67 Sedang Dibuang
2 0,612 Valid 0,444 Baik 0,722 mudah Dipakai
3 0,657 Valid 0,333 cukup 0,389 Sedang Dipakai
4 0,576 Valid 0,333 cukup 0,444 Sedang Dipakai
5 -0,8 Tidak -1.16 Sgt jelek 0,33 Sedang Dibuang
6 -0,866 Tidak -0.84 Sgt jelek 0,667 Sedang Dibuang
7 -0,366 Tidak -1.611 Sgt jelek 0,83 mudah Dibuang
8 0,657 Valid 0,333 cukup 0,67 Sedang Dipakai
9 0,548 Valid 0,444 Baik 0,5 Sedang Dipakai
10 0,612 Valid 0,444 Baik 0,5 Sedang Dipakai
11 0,539 Valid 0,222 cukup 0,28 sukar Dipakai
12 0,626 Valid 0,111 Jelek 0,22 Sedang Dipakai
13 0,657 Valid 0,222 Cukup 0,233 Sedang Dipakai
14 -0,032 Tidak 0 Sgt jelek 0,389 Sedang Dibuang
15 0,713 valid 0,444 Cukup 0,56 Sedang Dipakai
16. 0.7 Valid 0,3 Cukup 0,7 Sedang Dipakai
17 2.511 Valid 0.305 Cukup 0,341 Sedang Dipakai
18 0.52 Valid 0,32 Cukup 0,32 Sedang Dipakai
19 0.68 Valid 0,34 Cukup 0,31 Sedang Dipakai
20 2.011 Valid 0,36 cukup 0,291 sedang Dipakai

Butir soal tes yang valid dipakai sebagai intrumen tes penelitian,

sedangkan butir soal yang tidak valid dibuang. Secara keseluruhan soal tes uji

coba berjumlah 20 soal yang terdapat pada lampiran 10. Dari jumlah tersebut yang

tergolong valid berjumlah 15 dan yang tidak valid berjumlah 5. Untuk itu soal tes

yang dipakai sebagai bahan uji berjumlah 15 soal.


35

b. Hasil implementasi kegiatan pembelajaran

Kegiatan ini direncanakan untuk 20 mahasiswa yang mengikuti

perkuliahan praktikum elektronika dasar II. Tetapi pada saat dilaksanakan

pembelajaran ada 2 mahasiswa meminta izin untuk tidak mengikuti proses

pembelajaran demonstrasi alat, sehingga mahasiswa yang hadir dalam kegiatan

pembelajaran ini berjumlah 18 orang. Implementasi kegiatan pembelajaran dibagi

menjadi tiga bagian, yaitu:

1) Bagian awal : Pemberian pre-test, dengan soal yang ada pada lampiran

11 dilaksanakan selama 15 menit

2) Bagian proses : Penjelasan dengan demonstrasi alat, dilaksanakan selama

20 menit materi ada pada lampiran 13.

3) Bagian akhir : Pemberian pos-test, dengan soal yang sama dengan soal

pre-test dilaksanakan selama 15 menit.

Dari kegiatan tersebut diperoleh data yang dapat diolah secara statistik,

untuk menentukan peningkatan pemahaman mahasiswa hasil dari kegiatan

pembelajaran dengan demonstrasi. Data yang dimaksud adalah nilai mahasiswa

hasil pre-test dan pos-test. Data nilai yang diperoleh oleh masing-masing

mahasiswa diberikan pada lampiran 5.

c. Analisis data hasil pembelajaran

1) Hasil uji normalitas data tahap awal

Hasil pengujian kenormalan data keadaan awal yang berupa nilai pre-test

mahasiswa Fisika semester V Jurusan Fisika FMIPA UNNES adalah

X2data=7.2127366. Sedangkan dari tabel diperoleh X2(0,95)(5)= 11.07 . Karena hasil


36

X2data < X2tabel , maka nilai pre-test mahasiswa Fisika semester V Jurusan Fisika

FMIPA UNNES terdistribusi normal. Perhitungan ada pada lampiran 6.

2) Hasil uji normalitas data tahap akhir

Hasil pengujian kenormalan data keadaan akhir berupa nilai post-test.

Post-test diberikan setelah diadakan demonstrasi alat sebagai bentuk model

pembelajaran. Kenormalan nilai post-test mahasiswa Fisika semester V Jurusan

Fisika FMIPA UNNES adalah X2data= 8,71911, sedangkan dari tabel diperoleh

X2(0,95)(5)= 11.07. Karena X2data < X2tabel , maka nilai post-test mahasiswa Fisika

semester V tahun 2005 Jurusan Fisika FMIPA UNNES terdistribusi normal.

Perhitungan uji normalitas ada pada lampiran 7.

3) Hasil perhitungan koefisien korelasi biserial

Besarnya pengaruh penerapan demonstrasi alat yang telah dibuat sebagai

model pembelajaran listrik magnet dalam meningkatkan pemahaman konsep dari

mahasiswa fisika semester V tahun 2005 dapat dilihat dengan menggunakan

koefisien korelasi biserial. Berdasarkan analisis perhitungan yang ada di lampiran

8, diketahui besarnya koefisien korelasi biserial mahasiswa adalah sebesar 2,66.

Karena hasil tersebut lebih besar dari pada 0,5, maka dapat disimpulkan bahwa

terjadi hubungan yang kuat antara hasil pre-test dan post-test, artinya bahwa

secara keseluruhan rata-rata kelas dan tiap individu testi mengalami peningkatan.

Hasil perhitungan dari koefisien korelasi biserial ini berada pada lampiran 8.
37

4) Hasil uji kesamaan rata-rata hasil belajar

Hasil uji kesamaan rata-rata hasil belajar mahasiswa Fisika semester V

tahun 2005 antara pre-test dengan pos-test setelah diterapkan model belajar

demonstrasi alat yang telah dibuat adalah tdata= 7,16 sedangkan t(0,975)(18:18)= 2,04.

Karena tdata> t(0,975)(18:18) berarti terjadi perbedaan antara nilai pre-test dan post-

test. Perbedaan yang terjadi dari data tersebut adalah lebih besar, artinya terjadi

peningkatan hasil belajar mahasiswa dalam demonstrasi alat. Perhitungan ada

pada lampiran 9.

B. Pembahasan

1. Sistem kerja rangkaian alat

Pada dasarnya rangkaian yang telah dibuat merupakan rangkaian osilator

paralel R1L (induktansi) dan R2C (kapasitor). Gambaran sederhana mengenai

rangkaian tersebut adalah seperti dibawah ini;

L
R2

RL C L
RP C

(a) (b)

Gambar 10. (a) Analisis rangkaian RLC paralel pada alat


(b) Rangkaian setara pada (a)

Pada gambar 10 (a) menunjukkan suatu rangkaian osilator yang terdiri atas

kumparan dengan induktansi L yang di seri dengan R1 dirangkai paralel dengan

kapasitor yang memiliki kapasitas C dan R2. Rangkaian cenderung bergetar


38

(berosilasi) pada frekuensi resonansinya ketika suatu pulsa energi diberikan pada

rangkaian ini. Energi ini disimpan oleh kapasitor dalam bentuk medan listrik.

Kapasitor kemudian memberikan energi medan listrik tersebut kapada kumparan

untuk diubah menjadi energi magnetik. Selama proses ini suatu ggl balik

diinduksikan oleh kumparan. Dan ini menyebabkan kapasitor diisi muatan listrik

kembali. Siklus perubahan energi listrik menjadi energi magnetik dan energi

magnetik menjadi energi listrik terjadi berulang-ulang pada rangkaian ini dan

rangkaian ini mengalami osilasi. Proses osilasi dalam rangkaian osilator terjadi

1 CRs 2 − L
pada suatu frekuensi resonansi (fr), dengan f = . Perhitungan
2π (C 2 R22 L − L2 )

ada pada lampiran 14.

Alat ini dapat menampilkan kurva histeresis dengan bantuan osiloskop

sebagai alat visualisasinya. Data yang telah diperoleh melalui karakteristerisasi

kurva histeresis baik melalui Osiloskop maupun MBL menunjukkan bahwa alat ini

dapat digunakan sebagai alat pengajaran maupun praktek, sehingga dengan alat ini

diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran.

2. Peningkatan pemahaman mahasiswa

Dilihat dari sampel baik pre-test maupun post-test menunjukkan bahwa

semua sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari populasi yang

terdistribusi normal, artinya populasi dalam penelitian ini adalah populasi yang

memiliki penyebaran membentuk distribusi normal. Dengan demikian statistik

yang tercantum pada metodologi penelitian dapat dipakai sebagai analisis data

pada penelitian ini.


39

Uji instrumen tes yang telah dilakukan terhadap mahasiswa Fisika

semester V tahun 2005 Jurusan Fisika FMIPA UNNES dengan membandingkan

hasil pre-test dan pos-test didapatkan peningkatan pemahaman konsep dari

mahasiswa setelah didemonstrasikan alat hasil rancang bangun. Peningkatan

pemahaman ini dapat dilihat dalam analisis perhitungan koefisien biserial yang

besarnya 2,66. Dalam beberapa penelitian koefisien biserial dianggap baik bila

nilainya lebih dari 0,5. Hasil perhitungan koefisien korelasi biserial ini

menunjukkan terjadinya peningkatan pemahaman yang cukup signifikan baik dari

rata-rata kelas maupun tiap individunya.

Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar dalam pre-test dan post-test

digunakan analisis uji kesamaan dua rata-rata hasil belajar. Dari uji ini didapatkan

hasil yang berbeda dengan nilai perbedaan positif antara pre-tes dan post-tes.

Tanda positif ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep

mahasiswa setelah diberi perlakuan dengan demonstrasi alat.

Dari berbagai uji yang telah dilakukan melalui data statistik, maka penulis

dapat mengambil kesimpulan bahwa alat ini dapat digunakan dalam proses

perkuliahan listrik magnet bab kemagnetan bahan yang di dalamnya memuat

materi kurva histeresis bahan magnet serta praktek fisika dasar II tentang listrik

magnet sesuai Kurikulum dan Silabi Listrik Magnet yang berada pada lampiran

15. Diharapkan dengan pemanfaatan alat ini dapat mempermudah penjelasan

tentang konsep-konsep kurva histeresis magnetik serta dapat meningkatkan mutu

perkuliahan dan praktikum.


BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil-hasil penelitian dan pembahasan yang telah diberikan di

muka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Telah dibuat rangkaian RLC yang dapat digunakan untuk menampilkan kurva

histeresis magnetik pada layar osiloskop.

2. Prototipe rangkaian RLC yang baik untuk menampilkan kurva histeresis

magnetik adalah dengan menggunakan komponen-komponen masing-masing

dengan harga: R1=1Ω, R2=10 kΩ , C = 0,1 μf, RL=1,1 ohm dan L = 0,0082 H.

3. Hasil uji coba alat pada kegiatan pembelajaran menunjukkan bahwa

pemanfaatan rangkaian RLC untuk kurva magnetik tersebut telah dapat

meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang konsep-konsep fisika yang ada

pada gejala kemagnetan bahan yang ditunjukan oleh kurva histeresis.

B. Saran

1. Alat yang telah dibuat dan diteliti masih sangat sederhana, maka perlu adanya

pengembangan serta penelitian lebih lanjut mengenai alat tersebut, khususnya

dalam hal pengemasan.

2. Jika alat hasil penelitian ini akan digunakan untuk kegiatan praktikum yang

dilaksanakan oleh mahasiswa, maka disarankan agar mahasiswa dibekali

terlebih dahulu pengetahuan dan ketrampilan mengoperasikan osiloskop dan

AFG.
Daftar Pustaka

Alonso, M dan Finn, E.J. 1980. Dasar-Dasar Fisika Universitas Medan dan
Gelombang. Terjemahan lea. P dan Kusnul, H. 1994. Jakarta: Erlangga.

Hadi, Sutrisno.1989. Statistika Jilid II. Yogyakarta: Andi Offset

Halliday, D dan Resnick, R. 1978. Fisika jilid 2. Terjemahan Pantur Silaban dan
Erwin Sucipto. 1992. Jakarta: Erlangga.

Lawrence H V. 1985. Ilmu dan Teknologi Bahan. Alih Bahasa Ir. Sriati Djaprie.
Jakarta: Erlangga

LEN-LIPI. 1984. Perencanaan dan Pembuatan Transformator Skala Kecil.


Bandung: UNIDO/UNDP.

Marthen, K. 2000. Fisika 2000 3B untuk SMU Kelas 3. Jakarta: Eralngga

Paul Gluck. High School for Sciense and Arts. Jerusalem: Israel (Physic
Education)

Sears, F W. 1970. Listrik Magnet. Terjemahan M. Muslimin. 1983. Bandung:


Ganesha .

Subino. 1987. Konstruksi dan Analisis Tes (suatu pengantar kepada teori tes dan
pengukuran). Jakarta: DEPDIKBUD/DIKTI.

Sudjana. 1996. Metode Statistika. Bandung:Tarsito

Suharsimi Arikunto.1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Surya, Y. dan Ananta, S. 1986. Fisika 3 SMA. Klaten: Intan Pariwara.

……… 1996. Olimpiade Fisika Kelas II Cawu Pertama. Jakarta: Primatika Cipta.

Sutrisno dan Tan Ik Gie.1983. Fisika Dasar Listrik Magnet dan Termodinamika.
Jakarta: Erlangga

William H. Hayt, Jr. 1982. Elektromagnetika Teknologi. Jakarta: Erlangga.