Anda di halaman 1dari 1

 Gejala Klinis

Umumnya white muscle disease terjadi secara sub akut yang ditandai dengan
melemahnya otot secara progresif, kekakuan ringan pada otot, nyeri saat berjalan, kaku,
penampilan membungkuk dan ketidakmampuan untuk berdiri, pada anak sapi yang dipaksa
berdiri akan gemetar, disfagia, trismus dan fasikulasi otot serta adanya gangguan metabolik yang
terkait seperti hiperkalemia,hiponatremia, hipokalsemia dan hipoklinmia. White muscle disease
juga dapat bermanisfestasi sebagai bentuk perakut, dimana kematian disebabkan oleh kolaps
kardiovaskuler dan edema paru-paru yang terjadi dalam beberapa jam serta menunjukkan tanda-
tanda klinis seperti recumbency secara tiba-tiba,takipnea dan dyspnea. Pada hewan muda tanda
klinis yang terlihat harus diwaspadai karena dapat merupakan tanda klinis dari penyakit lainnya
yang bersifat fatal seperti septicemia,asfiksia neonatal, pneumonia botulism, tetanus, trauma dan
atritis septic. Biasanya pada sapi yang menderita white muscle disease kurang merespon
terhadap pemberian terapi antibiotik dan kematian dapat terjadi sebagai akibat dari akumulasi
cairan di paru-paru.

Penyakit white muscle disease ini sering terjadi pada sapi yang baru lahir atau anak sapi
dengan menunjukkan tanda klinis seperti lahir pada usia 4 hingga 6 minggu. Hal ini disebabkan
oleh induk sapi yang mengalami defisiensi selenium selama kehamilan dapat melahirkan
keturunan yang menderita defisiensi mineral, dengan begitu fetus yang terkandung dalam induk
sapi dapat mengalami lahir mati atau lemah dan mati (still birth) pada masa awal kebuntingan.
Pada beberapa kasus yang ekstrim, kerusakan permanen dapat terjadi dan dapat berkontribusi
terhadap masalah kesehatan kronis pada sapi dewasa. Pada sapi betina dapat terjadi retensi
membran janin sampai 24 jam yang dapat berkontribusi terhadap infeksi rahim dan mengganggu
kemampuan perkembangbiakan selanjutnya.