Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASKEP GERONTIK DENGAN HIPERTENSI

A. Konsep keperawatan gerontik


1. Definisi kperawatan gerontik
Gerontologi berasal dari bahasa latin yaitu geros berarti usia dan logos berarti ilmu.
Gerontologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari prosesmenua dan masalah -
masalah yang terjadi pada lanjut usia (Miller, 1990).
Menurut siti Badriah (2009), keperawatan gerontik adalah suatupelayanan
professional yang berdasarkan ilmu dan kiat / teknik keperawatanyang berbentuk bio-
psiko-sosial- spiritual dan cultural yang holistic yangditujukan pada klien lanjut usia baik
sehat maupun sakit pada tingkat individu,keluarga, kelompok, dan masyarakat.

2. Batasan usia lanjut


a) Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada empat tahapan yaitu :
1) Usia pertengahan (middle age ) usia 45 –59 tahun
2) Lanjut usia (elderly ) usia 60 –74 tahun.
3) Lanjut usia tua (old ) usia 75 –90 tahun.
4) Usia sangat tua (very old ) usia > 90 tahun

3. Faktor – faktor yang mempengaruhi penuaan


Faktor-faktorpenuaan meliputi :
a) Hereditas (keturunan)
b) Nutrisi / makanan
c) atus kesehatan
d) Pengalaman hidup
e) Lingkungan
f) Stress

4. Proses penuaan

a) Perubahahn biologi yang berasal dari dalam(intrinsik)/ Teori Genetika, yaitu :

1) Teori jam biologi (Biological clock theory), Proses menua dipengaruhi oleh
faktor-faktor keturunan dari dalam. Umur seseorang seolah-olah distel seperti
jam.

1
2) Teori menua yang terprogram (program aging theory), sel tubuh manusia
hanya dapat membagi diri sebanyak 50 kali.

3) Teori Mutasi (somatic mutatie theory), setiap sel pada saatnya akan mengalami
mutasi.

4) The Error Theory, “Pemakaian dan rusak” kelebihan usaha dan stres
menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).

b) Perubahan biologik yang berasalah dari luar/ekstrinsik (Teori Non Genetika).

1) Teori radikal bebas, meningkatnya bahan-bahan radikal bebas sebagai akibat


pencemaran lingkungan akan menimbulkan perubahan pada kromosom
pigmen dan jaringan kolagen.

2) Teori imunologi, perubahan jaringan getah bening akanmengakivbatkan


ketidakseimbangan sel T dan terjadi penurunan fungsi sel-sel kekebalan tubuh,
akibatnya usia lanjut mudah terkena infeksi.

B. Konsep hipertensi
1. Definisi
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 149mmHg
atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg. (Price & Wilson,2005)
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darahsistolik lebih
dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHg pad a dua kali
pengukuran dengan selang waktu lima menit dala m keadaan cukup istirahat dan
tenang. (Depkes,2014)

2. Klasifikasi hipertensi
Klasifikasi hipertensi menurut WHO adalah :

Katagori Sistol ( mmHg ) Diastol ( mmHg )


Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Tingkat 1 ( hipertensi ringan ) 140 - 159 90 - 99
Sub grup : perbatasan 140 - 149 90 - 94
Tingkat 2 ( hipertensi sedang ) 160 - 179 100 – 109
Tingkat 3 ( hipertensi berat ) >180 >110
Hipertensi sistol terisolasi >140 < 90
Sub grup : perbatasan 140 -149 < 90

2
3. Patofisiologi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak


dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras
saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna
medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan
konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu
dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui
dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan
tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi
otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi
dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa
oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan
peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
3
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu”
disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff
sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel
jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila
diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang
berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada
angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah,
sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan
hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan
berakibat pada peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan tekanan darah
maka akan menimbulkan kerusakan pada organ-organ seperti jantung. ( Suyono,
Slamet. 1996 ).

4
4. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik
(idiopatik). Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau
peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi
terjadinya hipertensi:
a. Genetik: Respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport
Na.
b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan
darah meningkat.
c. Stress Lingkungan.
d. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua serta
pelebaran pembuluh darah.

5
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
a. Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti
genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin
angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
b. Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan
– perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

5. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi: ( Edward K Chung, 1995)
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa.
Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan
arteri tidak terukur.

b. Gejala yang lazim


Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala
terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan
medis.

C. Askep gerontik dengan hipertensi


1. Pengkajian

6
a. Data umum
b. Riwayat penyakit
c. Pemeriksaan fisik
1) Sistem integumen
Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan pucat
dan terdapat bintik–bintik hitam akibat menurunnya aliran darah kekulit
dan menurunnya sel–sel yang memproduksi pigmen, kuku pada jari
tengah dan kaki menjadi tebal dan rapuh. Pada orang berusia 60 tahun
rambut wajah meningkat, rambut menipis/botak dan warna rambut
kelabu, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya
2) Sistem Muskuler
Kecepatan dan kekuatan kontraksi otot skeletal berkurang
pengecilan otot karena menurunnya serabut otot. Pada otot polos tidak
begitu berpengaruh
3) Sistem pendengaran
Presbiakusis (menurunnya pendengaran pada lansia) membran
timpani menjadi atrofi menyebabkan austosklerosis, penumpukan
serumen sehingga mengeras karena meningkatnya keratin.
4) Sistem Penglihatan
Karena berbentuk speris, sfingter pupil timbul sklerosis dan
hilangnya respon terhadap sinar, lensa menjadi keruh, meningkatnya
ambang penglihatan (daya adaptasi terhadap kegegelapan lebih
lambat, susah melihat gelap). Hilangnya daya akomodasi, menurunnya
lapang pandang karena berkurangnya luas pandangan. Menurunnya
daya membedakan warna hijau atau biru pada skala.
5) Sistem Pernafasan
Otot – otot penafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku,
menurunnya aktivitas sillia, paru kurang elastis, alveoli kurang melebar
biasanya dan jumlah berkurang. Oksigen pada arteri menurun menjadi
75 mmHg. Karbon oksida pada arteri tidak berganti – kemampuan batuk
berkurang.
6) Sistem Kardiovaskuler
Katub jantung menebal dan menjadi kaku. Kemampuan jantung
memompa darah menurun 1 % pertahun. Kehilangan obstisitas
pembuluh darah, tekanan darah meningkat akibat meningkatnya
resistensi pembuluh darah perifer.
7) Sistem Gastointestinal

7
Kehilangan gigi, indra pengecap menurun, esofagus melebar, rasa
lapar menurun, asam lambung menurun waktu pengosongan lambung,
peristaltik lemah sehingga sering terjadi konstipasi, hati makin mengecil.
8) Sistem Perkemihan
Ginjal mengecil, nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal
menurun sampai 50 %, laju filtrasi glumesulus menurun sampai 50 %,
fungsi tubulus berkurang sehingga kurang mampu memekatkan urine,
Dj urin menurun, proteinuria bertambah, ambang ginjal terhadap
glukosa meningkat, kapasitas kandung kemih menurun ( zoome )
karena otot – otot yang lemah, frekwensi berkemih meningkat, kandung
kemih sulit dikosongkan, pada orang terjadi peningkatan retensi urin
dan pembesaran prostat ( 75 % usia diatas 60 tahun).
9) Sistem Reproduksi
Selaput lendir vagina menurun / kering, menciutnya ovarium dan
uterus, atrofi payu darah testis masih dapat memproduksi meskipun
adanya penurunan secara berangsur – angsur, dorongan sek menetap
sampai usia diatas 70 tahun asal kondisi kesehatan baik.
10) Sistem Endokrin
Produksi semua hormon menurun, fungsi paratiroid dan sekresinya
tidak berubah, berkurangnya ACTH, TSH, FSH, dan LH, menurunnya
aktivitas tiroid sehingga laju metabolisme tubuh (BMR) menurun,
menurunnya produk aldusteran, menurunnya sekresi, hormon godad,
progesteron, estrogen, testosteron.
11) Sistem Sensori
Reaksi menjadi lambat kurang sensitif terhadap sentuhan (berat
otak menurun sekitar 10 – 20 %)

2. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien hipertensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi
2. Anxietas berhubungan dengan krisis situasional
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakberdayaan fisik

3. Implementasi
a) Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi

8
Tujuan dan kriteria hasil (NOC)
Setelah diberikan perawatan pasien akan:
Memperlihatkan pengendaian nyeri, yang dibuktikan oleh indicator
sebagai berikut:
1 tidak pernah
2 jarang
3 kadang-kadang
4 sering
5 selalu
1 2 3 4 5
Mengenali awitan nyeri
Menggunakan tindakan pencegahan
Melaporkan nyeri dapat dikendaikan

Menunjukan tingkat nyeri, yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut:


1 sangat berat
2 berat
3 sedang
4 ringan
5 tidak ada
Indicator 1 2 3 4 5
Ekspresi nyeri pada wajah
Gelisah atau ketegangan otot
Durasi episode nyeri
Merintih dan menangis
Gelisah

 memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk


mencapai kenyamanan

 mempertahankan nyeri pada ….atau kurang (dengan skala 0-10)

9
 melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis

 mengenali factor penyebab dan menggunakan tindakan untuk memodifikasi


factor tersebut

 melaporkan nyeri kepada pelayan kesehatan

 melaporkan pola tidur yang baik

Intervensi keperawatan (NIC)

Pengkajian

 Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk


mengumpulkan informasi pengkajian

 Minta pasien untuk menilai nyeri dengan skala 0-10.

 Gunakan bagan alir nyeri untuk mementau peredaan nyeri oleh


analgesic dan kemungkinan efek sampingnya

 Kaji dampak agama, budaya dan kepercayaan, dan lingkungan


terhadap nyeri dan respon pasien

 Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata-kata yang sesuai usia


dan tingkat perkembangan pasien

Manajemen nyeri:

 Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi,


karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau
keparahan nyeri dan factor presipitasinya

 Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada


mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif

Penyuluhan untuk pasien/keluarga

10
 Sertakan dalam instruksi pemulangan pasien obat khusus yang harus
diminum, frekuensi, frekuensi pemberian, kemungkinan efek samping,
kemungkinan interaksi obat, kewaspadaan khusus saat mengkonsumsi obat
tersebut dan nama orang yang harus dihubungi bila mengalami nyeri
membandel.

 Instruksikan pasien untuk menginformasikan pada perawat jika


peredaan nyeri tidak dapat dicapai

 Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat


meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping yang ditawarkan

 Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesic narkotik atau oploid


(resiko ketergantungan atau overdosis)

Manajemen nyeri:

 Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama


akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur

 Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi, distraksi,


terapi)

Aktivitas kolaboratif

 Kelola nyeri pasca bedah awal dengan pemberian opiate yang


terjadwal (missal, setiap 4 jam selama 36 jam) atau PCA

Manajemen nyeri:

 Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi lebih


berat

 Laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika keluhan
saat ini merupakan perubahan yang bermakna dari pengalaman nyeri
pasien dimasa lalu

Perawatan dirumah

 Intervensi di atas dapat disesuaikan untuk perawatan dirumah

11
 Ajarkan klien dan keluarga untuk memanfaatkan teknologi yang
diperlukan dalam pemberian obat

b) Diagnosa 2 : Anxietas berhubungan dengan krisis situasional

Tujuan dan kriteria hasil (NOC)

Setelah diberikan perawatan klien akan menunjukkan:

 Ansietas berkurang, dibuktikan oleh tingkat ansietas hanya ringan sampai


sedang dan selau menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas, diri, koping.

 Menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas; yang dibuktikan oleh


indicator sibagai berikut:

1 tidak pernah
2 jarang
3 kadang-kadang
4 sering
5 selalu

Idicator 1 2 3 4 5
Merencanakan strategi koping untuk situasi penuh
tekanan
Mempertahankan performa peran
Memantau distorsi persepsi
Memantau manifestasi perilaku ansietas
Menggunakan teknik relaksasi untuk meredakan
ansietas

Intervensi Keperawatan NIC


Pengkajian

 kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien, termasuk reaksi fisik setiap……..

 kaji untuk factor budaya yang menjadi penyebab ansietas

 gali bersama pasien tenteng tehnik yang berhasil dan tidak berhasil menurunkan
ansietas dimasa lalu

12
 reduksi ansietas (NIC); menentukan kemampuan pengambilan keputusan pasien

Penyuluhan untuk pasien dan keluarga

 buat rencana penyuluhan dengan tujuan ang realistis, termasuk kebutuhan untuk
pengulangan, dukungan dan pujian terhadap tugas-tugas yang telah dipelajari

 berikan informasi mengenai sumber komunitas yang tersedia, seperti teman, tetangga,
kelompok swabantu, tempat ibadah, lembaga sukarelawan dan pusat rekreasi

 informasikan tentang gejala ansietas

 ajarkan anggota keluarga bagaimana membedakan antara serangan panic dan gejala
penyakit fisik

penurunan ansietas (NIC);

 sediakan informasi factual menyangkut diagnosis, terapi dan prognosis

 instruksikan pasien tentang penggunaan teknik relaksasi

 jelaskan semua prosedur, termasuk sensasi yang biasanya dialami selama prosedur

Aktivitas kolaboratif
penurunan ansietas (NIC); berikan obat untuk menurunkan ansietas jika perlu

Aktivitas lain

 pada saat ansietas berat, dampingi pasien, bicara dengan tenang, dan berikan
ketenangan serta rasa nyaman

 beri dorngan kepada pasien untuk mengungkapkan secara verbal pikiran dan perasaan
untuk mengeksternalisasikan ansietas

 bantu pasien untuk memfokuskan pada situasi saat ini, sebagai cara untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi ansietas

 sediakan pengalihan melaui televise, radio, permainan serta terapi okupasi untuk
menurunkan ansietas dan memperluas fokus

13
 coba teknik seperti imajinasi bombing dan relaksasi progresif

 dorong pasien untuk mengekspresikan kemarahan dan iritasi, serta izinkan pasien
untuk menangis

 yakinkan kembali pasien melalui sentuhan, dan sikap empatik secara verbal dan
nonverbal secara bergantian

 sediakan lingkungan yang tenang dan batasi kontak dengan orang lain

 sarankan terapi alternative untuk mengurangi ansietas yang dapat diterima oleh
pasien

 singkirkan sumber-sumber ansietas jika memungkinkan

penurunan ansietas (NIC);

 gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan

 nyatakan dengan jelas tentang harapan terhadap perilaku pasien

 damping pasien untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi rasa takut

 berikan pijatan punggung, pijatan leher jika perlu

 jaga peralatan perawatan jauh dari pandangan

 bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang mencetuskan ansietas

c) Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakberdayaan fisik

Tujuan dan kriteria hasil (NOC)

Setelah diberikan perawatan pasien akan menunjukkan:

 Mentoleransi aktivitas yang bisasa dilakukan, yang dibuktikan oleh toleransi


aktivitas, ketahanan, penghematan energy, kebugaran fisik, energy psikomotorik, dan
perawatan diri, ADL.

 Menunjukkan toleransi aktivitas, yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut:

14
1 gangguan eksterm
2 berat
3 sedang
4 ringan
5 tidak ada gangguan

Indicator 1 2 3 4 5
Saturasi oksigen saat beraktivitas
Frekuensi pernapasan saat beraktivitas
Kemampuan untuk berbicara saat beraktivitas fisik

Mendemonstrasikan penghematan energy, yang dibuktikan oleh indicator sebagai


berikut:
1 tidak pernah
2 jarang
3 kadang-kadang
4 sering
5 selalu

Indicator 1 2 3 4 5
Menyadari keterbatasan energy
Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat
Mengatur jadwal aktivitas untuk menghemat energy

Intervensi keperawatan (NIC)

Pengkajian

 Kaji tingkat kemampuan pasien untuk berpindah dari tempat tidur, berdiri, ambulasi,
dan melakukan ADL

 Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktivitas

 Evaluasi motivasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan aktivitas

Manajemen energy (NIC):

 Tentukan penyebab keletihan

15
 Pantau respon kardiorespiratori terhadap aktivitas

 Pantau respon oksigen pasien terhadap aktivitas

 Pantau respon nutrisi untuk memastikan sumber-sumber energy yang adekuat

 Pantau dan dokumentasikan pola tidur pasien dan lamanya waktu tidur dalam jam

Penyuluhan untuk pasien dan keluarga

 Instruksikan pada pasien dan keluarga untuk:

 Penggunaan teknik napas terkontrol selama aktivitas, jika perlu

 Mengenali tanda dan gejala intoleransi aktivitas, termasuk kondisi yang perlu
dilaporkan ke dokter

 Pentingnya nutrisi yang baik

 Penggunaan peralatan seperti oksigen saat aktivitas

 Penggunaan tehnik relaksasi selama aktivitas

 Dampak intoleransi aktivitas terhadap tanggung jawab peran dalam keluarga

 Tindakan untuk menghemat energy

Manajemen energy (NIC):

 Ajarkan pada pasien dan orang terdekat tentang teknik perawatan diri yang akan
meminimakan konsumsi oksigen

 Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah
kelelahan

Aktivitas kolaboratif

 Berikan pengobatan nyeri sebelum aktivitas, apabila nyeri merupakan salah satu
penyebab

16
 Kolaborasikan dengan ahli terapi okupasi, fisik atau rekreasi untuk merencanakan dan
memantau program aktivitas, jika perlu.

 Untuk pasien yang mengalami sakit jiwa, rujuk kelayanan kesehatan jiwa dirumah

 Rujuk pasien kepelayanan kesehatan rumah untuk mendapatkan pelayanan bantuan


perawtan rumah, jika perlu

 Rujuk pasien keahli gizi untuk perencanaan diet

 Rujuk pasien kepusat rehabilitasi jantung jika keletihan berhubungan dengan penyakit
jantung

Aktivitas lain

 Hindari menjadwalkan pelaksanaan aktivitas perawatan selama periode istirahat

 Bantu pasien untuk mengubah posisi secara berkala, jika perlu

 Pantau tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah aktivitas

 Rencanakan aktivitas bersama pasien secara terjadwal antar istirahat dan latihan

Manajemen energy (NIC);

 Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktivitas

 Rencanakan aktivitas pada periode saat pasien memiliki energy paling banyak

 Bantu pasien untuk aktivitas fisik teratur

 Bantu rangsangan lingkungan untuk relaksasi

 Bantu pasien untuk melakukan pemantauan mandiri dengan membuat dan


menggunakan dokumentasi tertulis untuk mencatat asupan kalori dan energy

Perawatan dirumah
 Evaluasi kondisi rumah yang dapat menyebabkan intoleransi aktivitas
 Kaji kebutuhan terhadap alat bantu, oksigen dan lain sebagainga dirumah

17
18