Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS KADAR β-KAROTEN DALAM EKSTRAK PETROLEUM ETER DAUN

KELOR (Moringa oleifera Lam.) DARI DAERAH PESISIR DAN PEGUNUNGAN


SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIOKSIDAN
Analysis of β-carotene in petroleum ether extract moringa (Moringa oleifera Lam.) leaves
from coastal area and highland area with the potential as antioxidant

Yulianti, Hasnah Natsir, dan Abdul Wahid Wahab


Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar 90245 email: yuliantisaid23@gmail.com

ABSTRAK

Abstrak. Penentuan kadar β-karoten dan uji aktivitas antioksidan ekstrak petroleum eter daun
kelor (Moringa oleifera L) telah dilakukan. Ekstraksi senyawa β-karoten dari daun kelor
dilakukan dengan menggunakan petroleum eter kemudian di sentrifuge dengan kecepatan
2000 rpm pada suhu 4 oC. Berdasarkan hasil analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis
pada panjang gelombang 448,5 nm, kadar β-karoten dalam ekstrak petroleum eter daun kelor
muda dan daun kelor tua pesisir adalah 7,2716 mg/100 g dan 8,9081 mg/100 g, sedangkan
daun kelor muda dan daun kelor tua pegunungan adalah 3,2952 mg/100 g dan 3,3788 mg/100
g. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-
picrylhydrazyl) yang diukur pada panjang gelombang 515 nm. Nilai IC50 ekstrak petroleum
eter daun kelor muda dan daun kelor tua pesisir adalah 0,14 ppm dan 0,22 ppm, sedangkan
untuk daun kelor muda dan daun kelor tua pegunungan adalah 0,28 ppm dan 0,35 ppm.

Kata kunci : β-karoten, Antioksidan, Daun Kelor, DPPH, Spekrtrofotometer UV-Vis

Abstract. Determination of β-carotene and antioxidant activity test petroleum ether extract of
moringa (Moringa oleifera L.) leaves has been done. Extraction of β-carotene from the
moringa leaves by using petroleum ether then centrifuged at 2000 rpm on temperature 4 oC.
Based on the analysis results using UV-Vis spectrophotometer on the wavelength 448,5 nm,
concentration of β-carotene in petroleum ether extract young and old moringa leaves in
coastal area are 7.2716 and 8.9081 mg/100 g, while in the young and old moringa leaves in
highland area are 3.2952 and 3.3788 mg/100 g. The antioxidant activity test was carried out
by DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) method as measured on the wavelength 515 nm.
The IC50 of petroleum ether extract young and old moringa leaves extract in coastal area are
0.14 and 0.22 ppm, while for the young and old moringa leaves extract in highland area are
0.28 and 0.35 ppm.

Keywords : β-carotene, Antioxidant, DPPH, Moringa leaves, UV-Vis Spectrophotometer.

1
1. PENDAHULUAN vitamin A terdapat dalam pangan hewani
berupa bentuk aktif (misalnya retinol) dan
β-karoten merupakan sumber dalam pangan nabati berupa provitamin A
vitamin A yang sangat potensial dan (misalnya β-karoten). Akan tetapi, lebih
memiliki aktivitas vitamin A tertinggi dari efisien jika memanfaatkan karotenoid yang
semua karotenoid yang diketahui. banyak terdapat dalam sayur dan buah
(Ruwanti, 2010). Pemberian vitamin A (Herman, 2007).
dalam dosis tinggi dapat bersifat toksis. Salah satu bahan pangan nabati
Akan tetapi, β-karoten dalam jumlah yang tinggi kandungan vitamin A adalah
banyak mampu memenuhi kebutuhan daun kelor. Moringa oleifera Lam
vitamin A. tubuh akan mengkonversi β- (sinonim: Moringa pterygosperma
karoten menjadi vitamin A dalam jumlah Gaertner) yang kita kenal dengan nama
secukupnya saja dan selebihnya akan tetap kelor adalah spesies yang paling terkenal
tersimpan sebagai β-karoten yang dari tiga belas spesies genus Moringacae.
berfungsi sebagai antioksidan. (Silalahi, (Krisnadi, 2015).
2006). Berdasarkan penelitian yang telah
β-karoten berwujud kristal dilakukan oleh Mustapha dan Babura
berwarna merah kecoklatan hingga ungu. (2009), kandungan β-karoten dalam daun
β-karoten agak larut dalam kloroform dan kelor di Kano, Nigeria yaitu 2,33x102
benzena, sangat larut dalam eter dan μg/L, lebih besar dibanding wortel yang
aseton, dan tidak larut dalam air. kandungan β-karotennya sebesar 3,03x101
Karotenoid sangat sensitif terhadap asam, μg/L. Sedangkan daun kelor kering dari
panas, cahaya, dan oksigen (Friedrich, Limpopo, Afrika Selatan mempunyai
1988). β-karoten sukar larut dalam air, kandungan β-karoten 18,5 mg/ 100 g
sehingga β-karoten dalam metabolisme (Moyo, dkk., 2011).
tubuh lebih banyak terlarut oleh lemak Selain itu, daun kelor dapat juga
daripada terserap oleh air. Akibat dimanfaatkan sebagai antioksidan untuk
kekurangan β-karoten tidak segera dapat penangkal radikal bebas. Penelitian yang
dirasakan, maka kebutuhan unsur ini pun terkait dengan pemanfaatan daun kelor
jarang menjadi perhatian (Setiawan, dkk., yaitu penelitian yang dilakukan oleh
2013). Unuigbe, dkk. (2014), daun kelor
Defisiensi vitamin A adalah (Moringa oleifera) dapat digunakan
masalah gizi utama negara dengan sebagai antioksidan alami dengan
penghasilan rendah. Menurut data WHO mencegah kerusakan radikal bebas dengan
pada Global Prevalence of Vitamin A nilai IC50 berkisar 5,72-42,56 µg/ml.
Deficiency in Populations at Risk 1995– Menurut Fatchurrozak, dkk. (2013),
2005, prevalensi rabun senja pada anak ketinggian tempat dari permukaan laut
balita dan ibu hamil di dunia adalah 0,9 % merupakan salah satu faktor yang sangat
dan 7,8 %. Pada wilayah Asia Tenggara, berpengaruh terhadap pertumbuhan
0,5 % (1,01 juta) balita dan 9,9 % (3,84 tanaman. Daerah pesisir dan daerah
juta) ibu hamil menderita rabun senja pegunungan memiliki perbedaan faktor
(WHO, 2009). lingkungan. Perbedaan ketinggian
Pada umumnya tingkat konsumsi menyebabkan proses metabolisme pada
vitamin A pada masyarakat masih rendah suatu tanaman berbeda-beda.
atau di bawah angka kecukupan yang Berdasarkan uraian tersebut, maka
dianjurkan, perlu upaya lain untuk dilakukan penelitian terhadap daun kelor
mendampingi dan menunjangnya, agar (Moringa oleifera Lam) dari daerah pesisir
asupan vitamin A tidak semata-mata dan pegunungan untuk dianalisis kadar β-
tergantung dari kapsul vitamin A (Herman, karoten serta potensinya sebagai
2007). Menurut Meiliana, dkk. (2014), antioksidan.

2
2. METODE selanjutnya ditambahkan Na2SO4 anhidrat
lalu dikocok berkali-kali dan dipindahkan
2.1 Analisis Kadar β-karoten dengan ke dalam tabung reaksi dan dibekukan
Spektrofotometer UV-Vis selama 24 jam. Setelah dibekukan, pigmen
dipipet ke kuvet dan dibaca pada
2.1.1 Pembuatan Larutan Induk spektrofotometer UV-Vis pada panjang
β-Karoten 1000 ppm gelombang maksimum.
Pembuatan larutan induk β-karoten 2.2 Uji Aktivitas Antioksidan dengan
1000 ppm dilakukan dengan cara Metode DPPH
ditimbang dengan teliti 0,05 gram β-
karoten lalu dilarutkan dengan 1 ml 2.2.1 Pembuatan Larutan DPPH
petroleum eter:aseton (1:1) kemudian
dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL Larutan DPPH 0,4 mM dibuat
dan diimpitkan dengan petroleum dengan cara menimbang 7,9 mg DPPH dan
eter:aseton (10:1) hingga tanda batas. dilarutkan dengan metanol p.a hingga 50
Selanjutnya dibuat larutan induk β- mL dalam labu ukur.
karoten 100 ppm.
2.2.2 Penentuan Panjang Gelombang
2.1.2 Pembuatan Deret Standar β-
Maksimum (λmaks) DPPH
Karoten 20 ppm, 40 ppm, 60
ppm, dan 80 ppm. Larutan blanko dibuat dengan cara
memipet 1 mL larutan DPPH 0,4 mM
Pembuatan deret standar β-karoten
kemudian dicukupkan volumenya hingga 5
20 ppm; 40 ppm; 60 ppm; dan 80 ppm
mL dengan methanol p.a. Setelah itu
dilakukan dengan cara larutan -karoten
dibiarkan selama 30 menit ditempat gelap,
100 ppm dipipet masing-masing secara
serapan larutan diukur dengan
berturut-turut sebanyak 1 mL, 2 mL, 3 mL,
spektrofotometer UV-Vis pada panjang
dan 4 mL lalu dimasukkan ke dalam
gelombang 400-600 nm.
tabung reaksi. Kemudian larutan
ditambahkan petroleum eter:aseton (10:1) 2.2.3 Pembuatan Larutan Pembanding
hingga volume 5 mL. Setelah itu diukur (Vitamin C, β-karoten dan BHT)
absorbansinya dengan spektrofotometer
UV-Vis pada panjang gelombang Vitamin C, β-karoten dan BHT
maksimum. masing-masing ditimbang sebanyak 10 mg
dan dilarutkan dalam 10 mL metanol p.a
2.1.3 Preparasi Sampel dan Pengukuran sehingga diperoleh konsentrasi 1000 ppm
dengan Spektrofotometer UV-Vis sebagai larutan induk, kemudian
diencerkan menjadi 100 ppm. Dari larutan
Sampel daun kelor dipisahkan dari
induk dibuat seri konsentrasi 0,1; 0,2; 0,3;
tangkainya. Kemudian dihaluskan
0,4 dan 0,5 ppm dengan memipet
menggunakan blender. Sampel yang telah
berturut-turut 5, 10, 15, 20, dan 25 μL.
dihaluskan ditimbang sebanyak ± 30 gram.
Larutan DPPH ditambahkan sebanyak
Kemudian ditambahkan 42 ml aseton dan
1 mL dan dicukupkan volumenya hingga
90 ml akuades lalu ditambahkan dengan
5 mL dengan metanol p.a.
25 ml petroleum eter. Larutan disentrifuge
pada kecepatan 2000 rpm selama 5 menit, 2.2.4 Pengujian Aktivitas Antioksidan
kemudian didekantasi. Residu
ditambahkan dengan pelarut yang sama Larutan induk dari ekstrak
lalu disentrifuge kembali hingga residu petroleum eter daun kelor yang telah
tidak berwarna, setelah itu, kumpulan diketahui konsentrasinya dibuat dalam 5
filtrat dipipet ke dalam erlenmeyer, seri konsentrasi yaitu 0,1; 0,2; 0,3; 0,4 dan

3
0,5 ppm. Larutan DPPH ditambahkan disentrifuge dengan kecepatan 2000 rpm
sebanyak 1 mL, dan dicukupkan pada suhu 4 oC. Sentrifugasi dilakukan
volumenya hingga 5 mL dengan metanol pada suhu dingin untuk melindungi
p.a, dan sebagai pembanding digunakan pigmen agar tidak terdegradasi.
vitamin C dan BHT (butil hidroksi toluen) Selanjutnya, fase polar yang terikat pada
dengan seri konsentrasi 0,1; 0,2; 0,3; 0,4 akuades dihilangkan dengan penambahan
dan 0,5 ppm. Campuran tersebut dikocok natrium sulfat anhidrat, sehingga diperoleh
dan dibiarkan selama 30 menit pada suhu pigmen β-karoten yang terikat pada
kamar dan pada ruangan yang terlindungi petroleum eter.
dari cahaya matahari. Absorbansi (A)
diukur pada panjang gelombang 3.2 Analisis Dengan Spektrofotometer
maksimum dengan spektrofotometer UV- UV-Vis
Visible. Selanjutnya dihitung persentase 3.2.1 Penentuan Panjang Gelombang
inhibisi (hambatan) dan IC50 (50% Maksimum (λmaks)
Inhibition Concentration). Perhitungan
kuantitatif dilakukan dengan menentukan Berdasarkan penelitian yang
persen inhibisi radikal bebas dari masing- dilakukan, spektrum UV-Vis senyawa β-
masing sampel yang dihitung karoten dapat dilihat pada Gambar 1.
menggunakan persamaan dibawah ini Panjang gelombang maksimum yang
(Lu, dkk., 2014): diperoleh adalah 448,5 nm. Nilai panjang
gelombang tersebut masih bersesuaian
Abs Kontrol-Abs Sampel dengan data dari berbagai literatur
% Inhibisi = Abs Konrol x 100% meskipun nilai yang ditunjukkan tidak
sama persis.
Keterangan: Abs kontrol = Absorbansi DPPH + metanol
Abs sampel = Absorbansi DPPH + sampel

Selanjutnya data nilai % inhibisi


digunakan untuk menghitung nilai IC50
(ppm).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Ekstraksi Pigmen β-Karoten


Gambar 1. Spektrum UV-Vis senyawa
Penambahan aseton bertujuan untuk β-karoten
melarutkan zat pigmen sehingga terpisah
dari sampel. Akuades ditambahkan untuk 3.2.2 Penentuan Kadar β-Karoten Pada
mengikat senyawa-senyawa yang bersifat Ekstrak Petroleum Eter Daun
polar, dengan adanya akuades terdapat Kelor (Moringa oleifera Lam.) dari
pemisahan antara fase polar dan fase Daerah Pesisir dan Pegunungan
nonpolar. Sedangkan penambahan
petroleum eter berfungsi untuk Tabel 1. Hasil penentuan kadar β-karoten
mengekstrak β-karoten dalam sampel. β- Kandungan β-Karoten
karoten yang bersifat nonpolar akan larut Sampel (mg/100 g)
dalam petroleum eter yang memiliki Pesisir Pegunungan
kepolaran yang sama sehingga dapat DKM 7,2716 3,2952
dipisahkan dari komponen senyawa yang DKT 8,9081 3,3788
lain (Nururrahmah dan Widiarnu, 2013). Ket: DKM = Daun kelor muda,
Proses yang dilakukan untuk mempercepat DKT = Daun kelor tua
proses pemisahan yaitu larutan sampel

4
Dari data pada Tabel 1, daun kelor yang sederhana, mudah dan menggunakan
(Moringa oleifera Lam.) yang memiliki sampel dalam jumlah yang sedikit dengan
kandungan β-karoten paling tinggi adalah waktu yang singkat (Kurniasih,
daun kelor tua pesisir dengan kadar 8,9081 dkk., 2015). DPPH juga merupakan
mg/100 g, sedangkan yang paling rendah radikal bebas yang relatif stabil bila
adalah daun kelor muda pegunungan dibandingkan dengan radikal bebas yang
dengan kadar 3,2952 mg/100 g daun kelor. lain serta mudah diperoleh dipasaran
Kelor yang berasal dari daerah pesisir dalam keadaan siap untuk dilarutkan dan
kandungan β-karotennya lebih tinggi mudah direaksikan dengan larutan uji
dibandingkan daerah pegunungan. Hal ini (Larson, 1997).
selaras dengan penelitian yang dilakukan Aktivitas antioksidan diukur pada
oleh Anggarwulan dkk. (2015), kadar panjang gelombang maksimum.
karotenoid jenis umbi kuning di Klaten (98 Berdasarkan penelitian, panjang
mdpl) cukup besar yaitu 17 μmol/ml gelombang maksimum larutan DPPH yang
dibanding Tawangmangu (1200 mdpl) diperoleh dapat dilihat pada Gambar 2
yaitu 13 μmol/ml. Menurut Kusumayadi yaitu 515 nm. Menurut Molyneux (2004),
dkk. (2013), perbedaan kadar karena panjang gelombang tersebut dapat
pengaruh ketinggian tempat tumbuh dapat digunakan sebab panjang gelombang dari
disebabkan oleh berbagai faktor yang absorbansi maksimum yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan digunakan untuk pengukuran dengan
perkembangan tanaman. Lokasi tempat metode DPPH yaitu 515 nm-520 nm.
tumbuh akan berpengaruh pada suhu Panjang gelombang yang diperoleh
udara, sinar matahari dan kelembaban selanjutnya digunakan untuk pengukuran
udara. Semakin tinggi suatu tempat, suhu kontrol dan sampel.
udara semakin rendah sehingga akan
menghambat proses fotosintesis.
Penentuan β-karoten pada ekstrak
petroleum eter daun kelor muda dan daun
kelor tua menunjukkan hasil bahwa daun
kelor tua mengandung β-karoten lebih
besar dibandingkan daun kelor muda.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Prawoto (2014), yang
melaporkan kandungan karotenoid pada
daun kakao dewasa lebih besar dibanding Gambar 2. Panjang gelombang
daun kakao muda yaitu (51.05 ± 12.86 maksimum DPPH
dan 45.14 ±12.37) mg/g berat basah.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Jika suatu senyawa memiliki
Ayua, dkk. (2016), hal ini disebabkan aktivitas sebagai antioksidan, maka akan
karena daun muda aktif secara fisiologis terjadi penurunan nilai absorbansi DPPH.
dari daun tua. Penurunan absorbansi DPPH diukur
terhadap absorbansi blanko yaitu
3.3 Analisis Aktivitas Antioksidan absorbansi DPPH dalam metanol p.a tanpa
dengan Metode DPPH penambahan sampel uji. Penurunan
absorbansi DPPH ditunjukkan dengan
Metode yang digunakan dalam terjadinya degradasi warna DPPH dari
pengujian aktivitas antioksidan adalah warna ungu menjadi warna kuning.
metode serapan radikal DPPH (1,1 – Nilai absorbansi sampel dapat dilihat pada
diphenyl-2- picylhydrazyl), metode Tabel 2 dan nilai absorbansi kontrol dapat
ini digunakan karena merupakan metode dilihat pada Tabel 3.

5
Tabel 2. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Petroleum Eter Daun Kelor (Moringa
oleifera L.) Muda Pesisir, Tua Pesisir, Muda Pegunungan dan Tua
Pegunungan.
Persamaan
Konsentrasi % IC50
Sampel absorbansi Regresi
(ppm) Inhibisi (µg/mL)
Linear
0,1 0,404 46,13
Daun Kelor 0,2 0,347 53,73 y = 111,8x 0,14
Muda 0,3 0,258 65,6 + 33,48
Pesisir 0,4 0,138 81,6
0,5 0,089 88,13
0,1 0,552 26,40
0,2 0,394 47,47
Daun Kelor y = 151,2x
0,3 0,250 66,67 0,22
Tua Pesisir + 16,02
0,4 0,140 81,33
0,5 0,112 85,07
0,1 0,554 27,56
Daun Kelor 0,2 0,455 39,41
y = 126,7x
Muda 0,3 0,355 52,73 0,28
+ 14,56
Pegunungan 0,4 0,261 65,25
0,5 0,165 78,03
0,1 0,626 16,65
Daun Kelor 0,2 0,508 32,36
y = 124,2x
Tua 0,3 0,411 45,27 0,35
+ 6,271
Pegunungan 0,4 0,323 56,99
0,5 0,252 66,45
Absorbansi blanko = 0,750 (daun kelor muda pesisir); 0,751 (daun kelor tua pesisir, daun kelor
muda pegunungan, dan daun kelor tua pegunungan).

Tabel 3. Aktivitas Antioksidan Vitamin C, β-kroten dan BHT (Butil Hidroksi


Toluen) sebagai Kontrol positif.
Persamaan
Konsentrasi IC50
Sampel absorbansi % Inhibisi Regresi
(ppm) (µg/mL)
Linear
0,1 0,382 4,98
Vitamin 0,2 0,376 6,47 y = 15,41x
0,3 0,370 7,96 3,03
C + 3,339
0,4 0,366 8,96
0,5 0,356 11,44
0,1 0,246 4,65
0,2 0,243 5,81
y = 8.92x +
β-Karoten 0,3 0,242 6,2 5,18
3.834
0,4 0,238 7,75
0,5 0,237 8,14
0,1 0,397 1,24
0,2 0,395 1,74 y = 7,23x +
BHT 0,3 0,392 2,49 6,86
0,369
0,4 0,390 2,99
0,5 0,385 4,23
Absorbansi blanko = 0,402

6
Nilai absorbansi yang dihasilkan menjadi kuning pucat disertai penurunan
selalu menurun seiring dengan nilai absorbansi (Molyneux, 2004). untuk
meningkatnya konsentrasi sampel. berikatan dengan DPPH membentuk
Berdasarkan hasil uji aktivitas antoksidan DPPH tereduksi yang ditandai dengan
ekstrak β-karoten menunjukkan bahwa kehilangan warna ungu menjadi kuning
semakin tinggi konsentrasi sampel maka pucat disertai penurunan nilai absorbansi
peluruhan warna ungu DPPH dalam (Molyneux, 2004). Reaksinya dapat dilihat
metanol semakin tinggi yang pada Gambar 3.
mengakibatkan turunnya nilai absorbansi
pada tiap naiknya konsentrasi.
Tinggi atau rendahnya aktivitas
antioksidan sampel dengan metode
penangkapan radikal DPPH ini diketahui
dari persentase inhibisinya. Semakin besar
nilai persentase inhibisi sampel maka
semakin tinggi aktivitas antioksidannya. Gambar 3. Reaksi DPPH dengan
Proses inhibisi terjadi ketika radikal DPPH Antioksidan
bereaksi dengan senyawa antioksidan
melalui pengambilan ion hidrogen. Aktivitas antioksidan dari ekstrak
Senyawa DPPH berwarna ungu karena ditentukan berdasarkan grafik hubungan
adanya delokalisasi elektron pada atom antara konsentrasi (ppm) dengan %
nitrogen dan menjadi kuning ketika inhibisi yang dapat dilihat pada Gambar 4.
bereaksi dengan senyawa antioksidan. Hasil perhitungan dimasukkan ke dalam
Senyawa yang memiliki aktivitas persamaan regresi dengan konsentrasi
antioksidan akan mendonorkan atom ekstrak (ppm) sebagai absis (sumbu X)
hidrogennya untuk berikatan dengan dan nilai % inhibisi (antioksidan) sebagai
DPPH membentuk DPPH tereduksi yang ordinatnya (sumbu Y) (Lusyana, 2015).
ditandai dengan kehilangan warna ungu

100
daun kelor muda
90 pesisir
80 daun kelor tua pesisir
70
% Inhibisi

60 daun kelor muda


50 pegunungan
40 daun kelor tua
30 pegunungan
20 vitamin C
10
β-karoten
0
0 0.2 0.4 0.6
BHT
Konsentrasi

Gambar 4. Kurva Aktivitas Antioksidan Ekstrak Petroleum Eter Daun Kelor


Muda Pesisir, Daun Kelor Tua Pesisir, Daun Kelor Muda Pegunungan, Daun
Kelor Tua Pegunungan dan Kontrol Positif (Vitamin C, β-karoten dan BHT)

7
Dari persamaan garis (Y = aX + b ) ppm, sedangkan daun muda dan daun tua
dapat ditentukan Nilai IC50 dengan gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk) dari
mensubtitusi nilai Y menjadi 50. Nilai IC50 Arboretum Universitas Sumatera Utara
(inhibitor concentration) dari masing- memiliki IC50 sebesar 30,65 ppm dan
masing sampel dan kontrol positif dapat 43,20 ppm. Aktivitas antioksidan yang
dilihat pada Tabel 4. tinggi pada daun muda dapat dipengaruhi
oleh adanya aktivitas perkembangan
Tabel 4. Nilai IC50 Ekstrak Petroleum jaringan sel pada tumbuhan.
Eter Daun Kelor (Moringa Aktivitas antioksidan dengan
oleifera L.) dan Kontrol metode DPPH diperoleh hasil nilai IC50
Positif (Vitamin C dan BHT). ekstrak petroleum eter daun kelor daerah
pesisir lebih kecil dibanding daun kelor
Daya daerah pegunungan, hal ini berarti bahwa
Sampel/Kontrol Nilai IC50 Hambat daun kelor daerah pesisir memiliki
positif (µg/mL) Radikal aktivitas antioksidan yang lebih tinggi. Hal
Bebas ini sesuai dengan penelitian yang
Daun Kelor Sangat dilakukan oleh Hidayah (2011), pengaruh
0,14
Pucuk Pesisir Kuat ketinggian tempat tumbuh yang berbeda
Daun Kelor Tua Sangat mempengaruhi aktivitas antioksidan teh
0,22
Pesisir Kuat kombucha rosella. Aktivitas antoksidan
Daun Kelor pada ketinggian tempat 21 mdpl
Sangat
Pucuk 0,28 (66,888%) lebih tinggi dibandingkan
Kuat
Pegunungan ketinggian 1100 mdpl (53,600%).
Daun Kelor Tua Sangat Perbedaan ketinggian tempat
0,35
Pegunungan Kuat berpengaruh terhadap kelembaban, suhu,
Vitamin C Sangat intensitas cahaya, dan curah hujan.
3,03
Kuat Semakin tinggi dataran/daerah, maka
Β-karoten Sangat semakin rendah suhu udaranya, dan
5,18
kuat intensitas cahaya matahari akan semakin
BHT (Butil Sangat berkurang, sehingga mempengaruhi proses
6,86
Hidroksi Toluen) Kuat fisiologis tanaman, karena proses fisiologi
tanaman bergantung pada cahaya matahari
(Hidayah, 2011).
Hasil yang tertera pada Tabel 4
Pada penelitian ini, sebagai kontrol
menunjukkan ekstrak β-karoten daun kelor
positif digunakan vitamin C dan BHT
(Moringa oleifera L.) mempunyai nilai
(Butil Hidroksi Toluen). Berdasarkan
IC50 <50 ppm. Secara spesifik suatu
penelitian, nilai IC50 vitamin C yaitu 3,03
senyawa dikatakan sebagai antioksidan
ppm (lihat Tabel 4) yang tidak jauh
sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50
berbeda dengan penelitian yang dilakukan
ppm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak
oleh Prayitno, dkk. (2016) bahwa nilai
tersebut mempunyai aktivitas aktioksidan
IC50 vitamin C adalah 2,98 ppm.
yang sangat kuat.
Sedangkan BHT memiliki nilai IC50
Dari data yang diperoleh, ekstrak
sebesar 6,86 (lihat Tabel 4). Nilai IC50
petroleum eter daun kelor muda memiliki
yang diperoleh mendekati IC50 hasil
nilai IC50 yang lebih kecil dibanding daun
penelitian Pratiwi (2009), yaitu sebesar
kelor tua. Hal ini didukung dengan
6,46 ppm. Sedangkan nilai IC50 β-karoten
penelitian yang dilakukan oleh Harahap,
adalah 5,18 ppm. Ketiga pembanding
dkk. (2015), bahwa aktivitas antioksidan
tergolong aktioksidan sangat kuat tetapi
daun muda dan daun tua gaharu (Aquilaria
kurang kuat jika dibandingkan dengan
malaccensis Lamk) dari Langkat memiliki
ekstrak daun kelor.
nilai IC50 sebesar 39,70 ppm dan 40,03

8
4. KESIMPULAN [5] Kurniasih, N., Kusmiyati, M.,
Nurhasanah, Sari, R.P., dan
Berdasarkan penelitian yang telah Wafdan, R., 2015, Potensi Daun
dilakukan, maka dapat disimpulkan Sirsak (Annona Muricata Linn),
sebagai berikut: Daun Binahong (Anredera
1. Kadar β-karoten dalam ekstrak Cordifolia (Ten) Steenis), dan
petroleum eter daun kelor (Moringa Daun Benalu Mangga
oleifera Lam.) muda dan tua pesisir (Dendrophthoe Pentandra) Sebagai
adalah 7,2716 dan 8,9081 mg/100 g Antioksidan Pencegah Kanker,
sedangkan ekstrak petroleum eter daun ISSN 1979-8911, 9(1), 162-184.
kelor (Moringa oleifera Lam.) muda
dan tua pegunungan memiliki kadar β- [6] Larson, R.A., 1997, Naturally
karoten sebesar 3,2952 dan 3,3788 Occuring Antioxidants, Lewis
mg/100 g Publisher, New York.
2. Hasil pengujian aktivitas antioksidan
dengan menggunakan spektrofotometer [7] Lusyana, D.Y., 2014, Eksplorasi
UV-Vis diperoleh hasil ekstrak Potensi Bahan Aktif Berkhasiat
petroleum eter daun kelor (Moringa Antioksidan Pada Daun dan Buah
oleifera Lam.) muda dan tua pesisir Mangrove Jenis Sonneratia Alba
memiliki IC50 sebesar 0,14 dan 0,22 (Je Smith, 1816), Skripsi, Fakultas
ppm dan hasil ekstrak petroleum eter Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB,
daun kelor (Moringa oleifera Lam.) Bogor.
muda dan tua pegunungan memiliki
IC50 sebesar 0,28 dan 0,35 ppm. Hasil [8] Meiliana, Roekistiningsih, dan Sutjiati,
pengujian ini diketahui ekstrak daun E., 2014, Pengaruh Proses
kelor memiliki aktivitas antioksidan Pengolahan Daun Singkong
yang sangat kuat. (Manihot Esculenta Crantz)
Dengan Berbagai Perlakuan
Terhadap Kadar β-Karoten,
DAFTAR PUSTAKA Indoneian Journal of Human
Nutrition, 1(1), 23-34.
[1] Fatchurrozak, Suranto, dan Sugiyarto,
2013, Pengaruh Ketinggian Tempat [9] Nurrahmah, dan Widiarnu, B., 2013,
Terhadap Kandungan Vitamin C Analisis Kadar Beta-Karoten Kulit
dan Zat Antioksidan Pada Buah Buah Naga Menggunakan
Carica pubescens di Dataran Spektrofotometer Uv-Vis, Jurnal
Tinggi Dieng, El-Vivo, 1(1), 24-31. Dinamika, 4(1), 15-26.

[2] Friedrich, Wilhelm, 1988, Vitamins, [10] Ruwanti, S., 2010, Optimasi Kadar ß-
Walter de Gruyter, Berlin. Karoten Pada Proses Pembuatan
Tepung Ubi Jalar Oranye (Ipomoea
[3] Herman, S., 2007, Masalah Kurang Batatas L) Dengan Menggunakan
Vitamin A (KVA) dan Prosper Response Surface Methodology
Penanggulangannya, Media (Rsm), Skripsi, Universitas Sebelas
Litbang Kesehatan, 17(4), 40-44. Maret, Surakarta.

[4] Krisnadi, A.D., 2015, Kelor Super [11] Setiawan, A.Y., Handayani, A.D.,
Nutrisi, Morindo, Blora. Machmudah, S., dan Winardi, S.,
2013, Pemodelan Molekuler
Inklusi Kompleks Betakaroten dan

9
Betasiklodekstrin, Jurnal Teknnik
Pomits, 2(1), 1-3.

[12] Silalahi, J., 2006, Makanan


Fungsional, Kanisius, Yogyakarta.

[13] WHO, 2009, Global prevalence of


vitamin A deficiency in
populations at risk 1995–2005,
WHO Global Database on Vitamin
A Deficiency, World Health
Organization, Geneva.

10