Anda di halaman 1dari 6

A.

LATAR BELAKANG
Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan dalam negeri yang paling potensial. Pajak
digunakan untuk membiayai pengeluaran negara, baik pengeluaran yang rutin maupun
pembangunan. Tax planning sebagai suatu upaya meminimalkan beban pajak dengan tujuan dan
manfaat dari perencanaan pajak adalah untuk mengefesiensikan pendapatan perusahaan dalam
mencapai laba maksimal dan pajak terutang dalam posisi seminimal mungkin serta menerapkan
peraturan perpajakan dengan benar tanpa adanya penggelapan pajak atau penghindaran pajak
(Kurniawan, 2017). Pajak saat ini menjadi hal yang menakutkan bagi para pengusaha atau Wajib
Pajak yang tidak ingin kehilangan hartanya. Padahal pajak adalah salah satu kewajiban yang
harus ditunaikan sebagai warga negara yang baik, hal itu dikarenakan pajak merupakan sumber
dana terbesar di negara ini untuk sarana berbagai pembangunan. Masih banyak Wajib Pajak yang
mematuhi aturan-aturan dalam perpajakan karena mereka sadar, bahwa pajak yang mereka
bayarkan juga suatu saat nanti bisa mereka rasakan hasilnya. Benefit dari membayar pajak
memang tidak langsung bisa di rasakan, namun baru terasa setelah segala target pemerintah
tercapai.
Berbagai cara di lakukan oleh para Wajib Pajak yang tidak ingin membayar pajak dari
penghasilan yang mereka terima. Mulai dari memalsukan data, menyembungikan harta dan lain
sebagainya. Bahkan saat ini, untuk menghindari pembayaran pajak, timbul dua istilah
Penghindaran Pajak atau Tax Avoidance dan juga Penggelapan Pajak atau Tax Evasion. Wajib
pajak (WP) melakukan perencanaan pajak dengan cara tax avoidance maupun tax evasion, guna
menghindari sanksi dalam melakukan perencanaan pajak wajib pajak melakukannya dengan cara
yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kedua hal ini pun menjadi suatu masalah tersendiri
bagi para penegak pajak yang hingga saat ini terus memberantas ketidak patuhan dalam hal
perpajakan. Dalam hal ini tax avoidance dilakukan dengan cara tidak melanggar ketentuan yang
berlaku yaitu dengan cara memanfaatkan kelemahan yang terdapat dalam ketentuan yang
berlaku. Tax evasion dilakukan dengan usaha aktif wajib pajak dalam hal mengurangi,
menghapus, memanipulasi ilegal terhadap utang pajak atau meloloskan diri untuk tidak
membayar pajak sebagaimana yang telah terutang menurut aturan perundang-undangan cara
yang bersifat melanggar ketentuan yang berlaku dan dapat dikenakan sanksi pidana.
Meskipun perencanaan pajak diartikan sebagai usaha wajib pajak meminimalkan pajak
terutangnya, akan tetapi dalam hal perencanaan pajak secara agresif tidak dapat ditoleransi.
Pengenaan pajak di Indonesia bisa dilakukan bila suatu badan usaha merupakan BUT, hingga
saat ini Google menolak disebut BUT, tetapi menurut DJP, Google Indonesia sudah berbentuk
badan hukum dengan statusnya sebagai Penanam Modal Asing (PMA) terhitung sejak 15
September 2011 dan menginduk kepada Google Asia Pasific Pte Ltd. Permasalahan yang terjadi
pada Google merupakan salah satu fenomena yang bisa saja ditiru oleh Wajib Pajak Badan atau
Wajib Pajak Orang Pribadi lain, dimana selama ini Google memanfaatkan kelemahan dari
peraturan pajak yang bertujuan untuk menghindari pembayaran pajak.
A. PROFIL GOOGLE
Google adalah sebuah
perusahaan multinasional Amerika
Serikat yang berkekhususan pada jasa
dan produk Internet. Sebagian besar
labanya berasal dari AdWords. Produk-
produk tersebut meliputi
teknologi pencarian, komputasi
web, perangkat lunak, dan periklanan
daring, berikut produk Google yang
dapat diklasifikasikan:

1. Periklanan (Google Adsense, Google


Adwords)
2. Aplikasi Pencarian (Google Search,
Google Maps, Google Earth, Google
Books, Google Translate, Google
Mars, Google Sound Search - Google
Assistant)
3. Komunikasi (Gmail, Google Drive, Google Docs, Google Chrome)
4. Telepon Genggam (T-Mobile)
5. Hiburan (Google Video, YouTube)
6. Lainnya (Google Analytics)

Google didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin saat masih
mahasiswa Ph.D. di Universitas Stanford. Mereka berdua memegang 16 persen saham
perusahaan. Mereka menjadikan Google sebagai perusahaan swasta pada tanggal 4 September
1998. Pernyataan misinya adalah "mengumpulkan informasi dunia dan membuatnya dapat
diakses dan bermanfaat oleh semua orang", dan slogan tidak resminya adalah "Don't be evil".
Pada tahun 2006, kantor pusat Google pindah ke Mountain View, California.

Sejak didirikan, pertumbuhan perusahaan yang cepat telah menghasilkan berbagai


produk, akuisisi, dan kerja sama di bidang mesin pencari inti Google. Perusahaan ini
menawarkan perangkat lunak produktivitas daring (dalam jaringan), termasuk surat
elektronik (surel), paket aplikasi perkantoran, dan jejaring sosial. Produk-produk komputer
mejanya meliputi aplikasi untuk menjelajah web, mengatur dan menyunting foto, dan pesan
instan, situs-situs Google dalam bahasa lain masuk peringkat 100 teratas, sebagaimana halnya
situs milik Google seperti YouTube dan Blogger.

Perusahaan ini memprakarsai pengembangan sistem operasi Android untuk telepon


genggam dan Google Chrome OS untuk jajaran netbook Chrome book. Google sudah beralih ke
perangkat keras komunikasi. Mereka bekerja sama dengan berbagai produsen elektronik besar
untuk memproduksi perangkat Nexus-nya dan mengakuisisi Motorola Mobility pada Mei 2012.
Tahun 2012, infrastruktur serat optik dipasang di Kansas untuk memfasilitasi layanan Internet
pita lebar Google Fiber.

B. KASUS PAJAK GOOGLE DI INDONESIA


D. KASUS PAJAK GOOGLE DI NEGARA LAINNYA
1. Inggris
Inggris merupakan negara pasar kedua terbesar kedua bagi Google setelah Amerika
Serikat. Inggris menilai Google yang menghasilkan profit besar di Inggris, mangkir dari
kewajiban membayar pajak sejak 2005. Otoritas pajak setempat, HM Revenue and
Customs, melakukan penyelidikan selama enam tahun dan meminta Google untuk
membayar 130 juta poundsterling atau setara Rp2,2 triliun sebagai utang pajak sejak
2005 tersebut. Setelah dilakukan "audit terbuka", awal tahun 2016 Head of Google
Europe Matt Brittin mengumumkan bahwa perusahaan setuju untuk mengikuti aturan
yang ditetapkan Inggris terkait pajak yang akan berguna di masa depan.

Keputusan untuk membebankan pajak sebesar itu dilakukan HMRC setelah 'sadar'
perusahaan besar seperti Google hanya membayar pajak dalam jumlah yang terbilang
sedikit. Padahal, jelas ia beroperasi dan melakukan kegiatan ekonomi di Inggris, namun
segala transaksi penjualan dilakukan di luar negeri.

Tercatat Google hanya membayar pajak 20,4 juta poundsterling pada 2013, sedangkan
nilai penjualannya di Inggris kala itu mencapai 3,8 miliar poundsterling. Google sendiri
disebut menghasilkan keuntungan besar di Inggris melalui iklan online.

2. Perancis
Di Prancis, Google membawa sebagian besar pendapatannya ke Irlandia. Prancis
menuntut Google membayar 1,6 miliar Euro atau setara Rp23,5 triliun. Jika dilihat modus
Google melakukan aggressive tax planning atau mencari kelemahan ketentuan pajak di
satu negara semuanya sama yakni mengalokasikan pendapatan ke sebuah negara yang
lebih rendah dan ramah soal pajak.

3. Italia
Di Italia, Google diminta untuk membayar 300 juta Euro atau setara Rp4,4 triliun pada
awal 2016. Nilai itu dikalkulasi dari pendapatan rata-rata Google selama enam tahun
berbisnis di Itaia. Dalam kacamata pemerintah Italia, Google telah melakukan manipulasi
pajak dengan mengalokasikan pendapatan yang diperoleh di Italia ke Irlandia.
Dampaknya, pajak yang disetor Google menciut menjadi 2,2 juta Euro atau Rp32 miliar
pada 2015 lalu.

4. Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, negara asalnya saja, Google dikabarkan melalaikan kewajiban
pajaknya sebesar USD2 miliar dengan cara memindahkan pendapatan mereka senilai
USD10 miliar atau 80 persen dari laba sebelum pajak ke sebuah cabang perusahaan
mereka di Bermuda.

C. KESIMPULAN KASUS
Dari kasus diatas, Google melakukan tax avoidance dimana Google memanfaatkan
negera yang bebas pajak (tax heaven) yaitu Irlandia untuk menghindari pengenaan pajak
internasional pada perusahaan Google. Di Indonesia, Direktorat Jendral Pajak sebagai
lembaga negara yang berwenang terkait dengan pajak berhak memungut pajak yang berasal
dari wajib pajak pribadi maupun wajib pajak badan yang beroperasi serta berpenghasilan di
Indonesia. Sesuai dengan pasal 2 ayat (4b) UU PPh yang menjelaskan terkait subjek pajak
luar negeri, yaitu:
“Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap Indonesia”
Google menghindari pengenaan pajak dengan tidak mengakui perusahaannya sebagai
perusahaan asing yang harus membayar pajak dengan kata lain sebagai objek pajak Badan
Usaha Tetap (BUT). Kasus Google tidak bayar pajak di Indonesia tidak dapat sepenuhnya
disalahkan kepada pihak Google. Pemerintah sebagai regulator yang kurang meregulasi serta
tidak mewaspadai perusahaan asing yang merupakan salah satu penyebab terjadinya kasus
tidak bayar pajak ini. Alasan Google sebagai bukan BUT serta keberatan atas nilai pajak
yang ditagih DJP juga merupakan bentuk dari minimnya regulasi yang ada. Selain itu,
keberatan Google juga masuk akal karena DJP baru menyadari setelah 3-4 tahun beroperasi
di Indonesia.

REFERENSI

https://id.wikipedia.org/wiki/Google

http://www.infopajak.id/penghindaran-pajak-tax-avoidance-dan-penggelapan-pajak-tax-evasion-
oleh-wajib-pajak/

Fajrin, Hani Nur. “Cara Inggris Kejar Pajak dari Google“.01 Maret 2018.
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160920145646-185-159680/cara-inggris-kejar-
pajak-dari-google

Nirmala, Ronna. “Kelihaian Google menghindar dari pajak di berbagai negara”.01 Maret 2018.
https://beritagar.id/artikel/berita/kelihaian-google-menghindar-dari-pajak-di-berbagai-negara