Anda di halaman 1dari 134

0

PELAKSANAAN MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL

DI RUANG SHINTA RSJD SURAKARTA

DISUSUN OLEH:

LAELATUL AROFAH G1B211003


TIA SULISTIAWATI G1B211011
DWI YULIASTUTI P G1B211012
HERAWATI NUR P G1B211016
ASTRI FEBRIANTI S G1B211024
MAHACAKRI DARA S G1B211026

FAKUTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PROGRAM PROFESI NERS

PURWOKERTO

2012

BAB I

PENDAHULUAN
1

A. Latar belakang

Proses manajemen berlaku untuk semua orang yang mencari cara

untuk mempengaruhi perilaku orang lain.Harsey dan Blanchard (1977)

menyebutkan 4 fungsi manajerial yaitu perencanaan, pengorganisasian,

motivasi, dan pengendalian. Keempat unsur tersebut saling berhubungan dan

memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis, hubungan antar manusia, dan

konseptual yang mendukung tercapainya suatu tujuan.

Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat kompleks dan

merupakan komponen yang sangat penting dalam upaya peningkatan status

kesehatan bagi masyarakat. Salah satu fungsi rumah sakit adalah

menyelenggarakanpelayanan dan asuhan keperawatan yang merupakan

bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara kesehatan

masyarakat seoptimal mungkin.

Keperawatan merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan

dari upaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan yang menjadi salah satu

faktor penentu baik buruknya mutu dan citra rumah sakit. Oleh karenanya

kualitas pelayanan keperawatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan

seoptimal mungkin.

Dalam rangka mencapai visi dan misinya, rumah sakit sangat

membutuhkan suatu komponen yang penting dan pelaksanaan manajemen

perawatan yang bermutu. Manajemen keperawatan merupakan suatu

pelayanan keperawatan profesional dengan pengelolaan sekelompok perawat


1
dalam suatu tempat yang memeberikan asuhan keperawatan dengan

menggunakan fungsi menjemen sehingga dapat memberikan asuhan


2

keperawatan secara optimal kepada klien, untuk itu manajemen keperawatan

perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa

depan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tututan global bahwa

setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara

professional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi (Nursalam,

2002).

Pelayanan kesehatan pada saat ini telah mengalami perubahan sebagai

konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan

status sosial ekonomi dan semakin pesatnya kemajuan media informasi.

Berkenaan dengan hal tersebut pengetahuan dan kesadaran masyarakat pun

sebagai konsumen untuk mendapat pelayanan profesional semakin

meningkat, oleh karena itu mereka menuntut adanya peningkatan mutu

pelayanan kesehatan. Berbagai pendekatan sistempun disusun untuk

meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang aman, efektif dan efisien.

Kualitas pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit ataupun Puskesmas

dipengaruhi oleh sistem pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikan

oleh perawat sebagai komponen terbesar yang memberikan kontribusinya.

Pelayanan keperawatan memiliki banyak peran penting dalam pemenuhan

kebutuhan pelayanan kesehatan dan perubahan kebijakan. Perawat

diharapkan dapat menjadi leader didalam timnya untuk merancang ataupun

mengelola sistem pelayanan keperawatan yang modern.

Permasalahan yang sering muncul di Indonesia dalam hal pengelolaan

atau pelayanan keperawatan saat ini adalah belum diterapkannya sistem

pengorganisasian asuhan keperawatan secara memadai bahkan di banyak


3

rumah sakit pengorganisasiannya belum dikembangkan secara maksimal

sehingga asuhan keperawatan profesional belum dapat dicapai sesuai yang

diharapkan.

Ciri – ciri mutu asuhan keperawatan yang baik antara lain: memenuhi

standar profesi yang ditetapkan, sumber daya untuk pelayanan asuhan

keperawatan dimanfaatkan secara wajar, efisien, dan efektif, aman bagi

pasien dan tenaga keperawatan, memuaskan bagi pasien dan tenaga

keperawatan serta aspek sosial, ekonomi, budaya, agama, etika dan tata nilai

masyarakat diperhatikan dan dihormati. Hal ini dapat dicapai dengan adanya

manajemen yang baik.

Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif

dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Dimana dalam manajemen

tersebut mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf, sarana

dan prasarana dalam mencapai tujuan. Sedangkan manajemen keperawatan

adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk

memberikan asuhan keperawatan secara profesional. Manajemen

keperawatan merupakan pelayanan keperawatan profesional dimana tim

keperawatan dikelola dengan menjalankan empat fungsi manajemen, yaitu

perencanaan, pengorganisasian, motivasi dan pengendalian. Keempat fungsi

tersebut saling berhubungan dan memerlukan ketrampilan-ketrampilan teknis,

hubungan antar manusia dan konseptual yang mendukung tercapainya asuhan

keperawatan yang bermutu, berdaya guna dan berhasil guna kepada klien.

Dengan alasan tersebut, manajemen keperawatan perlu mendapat

prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Hal


4

tersebut berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap

perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional

dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi.

Seorang perawat harus mampu merespon positif dan beradaptasi

terhadap setiap perubahan ataupun tantangan, oleh karena itu perawat dituntut

untuk memiliki penguasaan konsep, keterampilan yang berhubungan dengan

basic science, ilmu-ilmu sosial, pertumbuhan dan perkembangan teknologi

dan area lain agar dapat menjalankan berbagai peran yang dimiliki, terutama

ketika menjadi seorang manajer di lingkup keperawatan Rumah Sakit.

Strategi yang dapat di laksanakan oleh mahasiswa Program Profesi

Ners FKIK Unsoed yaitu dengan mengaplikasikan secara langsung

pengetahuan manajerialnya di Ruang ShintaRSJD Surakarta dengan arahan

dari pembimbing lapangan maupun dari pembimbing akademik yang intensif.

Pelaksanaan praktek tersebut memberikan masukan yang positif, sehingga

mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang didapat dan mengelola ruang

perawatan dengan pendekatan proses manajemen.

Salah satu bentuk penataan sistem pemberian pelayanan keperawatan

adalah melalui pengembangan model praktek keperawatan yang ilmiah dan

biasa disebut Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP). Model ini

sangat menekankan pada kualitas kinerja tenaga keperawatan yang berfokus

pada profesionalisme keperawatan antara lain melalui penetapan dan fungsi

setiap jenjang tenaga keperawatan, sistem pengambilan keputusan, sistem

peuigasan, dan sistem penghargaan yang memadai.


5

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Setelah melakukan praktek peminatan keperawatan jiwa selama empat

minggu di ruang Shinta RSJD Surakarta diharapkan mahasiswa mampu

menerapkan proses MPKP di ruangan.

2. Tujuan Khusus

Secara khusus tujuan dari praktek peminatan keperawatan jiwa adalah:

a. Mampu melakukan analisa tentang gambaran umum ruang Shinta.

b. Mampu melakukan/ menerapkan model keperawatan MPKP di

ruang Shinta.

c. Mampu mengidentifikasi dan menyusun prioritas permasalahan

yang ada di ruang Shinta

d. Mampu menyusun rencana kegiatan untuk mengatasi permasalahan

yang ada di ruang Shinta.

e. Mampu melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan rencana

kegiatan yang telah disusun sesuai prioritas di ruang Shinta.


6

C. Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:

1. Perawat

Sebagai masukan bagi perawat dalam meningkatkan pelaksanaan Model

Praktik Keperawatan Profesional di Ruangan.

2. Instansi Pelayanan/ Rumah Sakit

Sebagai informasi bagi pimpinan dan staf dalam pengembangan Rumah

Sakit Jiwa Daerah Surakarta khususnya dalam pelaksanaan Model Praktik

Keperawatan Profesional.

3. Institusi Pendidikan/Keilmuan

a. Hasil aplikasi ini merupakan masukan bagi pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya mengenai pelaksanaan Model Praktik

Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit.

b. Sebagai referensi di perpustakaan yang dapat digunakan oleh peneliti

yang mempunyai peminatan di bidang pengelolaan sumber daya

manusia yang berkaitan dengan pelaksanaan Model Praktik

Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit.


7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjaua Teori
Manajemen adalah proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui

orang lain (Gillies, 1989). Swanburg (2000) mendefinisikan manajemen

sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara

efisien, efektif, dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah

ditetapkan sebelumnya.
Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh

banyak orang sehingga diperlukan penerapan pendekatan manajemen.

Pendekatan manajemen adalah suatu proses kerja sama anggota staf

keperawatan untuk memberikan asuhan, terapi, dan bantuan kepada para

pasien (Gillies, 1989).


Model praktik keperawatan menempatkan pendekatan manajemen

sebagai pilar praktik profesional yang pertama. Oleh sebab itu, proses

manajemen harus dilakukan dengan disiplin demi menjamin pelayanan yang

diberikan kepada pasien atau keluarga. Di ruang MPKP pendekatan

manajemen diterapkan dalam bentuk fungsi manajemen yang terdiri dari :


1. Perencanaan (planning)
2. Pengorganisasian (organizing)
3. Pengarahan (directing)
4. Pengendalian (controling)
Di rumah sakit jiwa telah dikembangkan MPKP dengan modifikasi

MPKP yang telah dikembangkan di rumah sakit umum. Beberapa modifikasi

yang dilakukan meliputi beberapa jenis MPKP :


1. MPKP transisi
8

MPKP dasar yang masih memiiki tenaga perawat yang berpendidikan

SPK, tetapi kepala ruang dan kepala tim nya minimal dari D3

keperawatan.
2. MPKP pemula
MPKP dasar dengan semua tenaganya minimal D3 keperawatan
3. MPKP profesional dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu:
a. MPKP I
MPKP basic (dasar) dengan tenaga perawat pelaksana minimal D3

keperawatan. Tetapi kepala ruang dan ketua tim berpendidikan minimal

S1 keperawatan.
b. MPKP II
MPKP intermediate (menengah) dengan tenaga minimal D3

keperawatan dan mayoritas Ners sarjana keperawatan, dan sudah

memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa.


c. MPKP III
MPKP advance (tingkat lanjut) yang semua perawatnya minimal Ners

sarjan keperawatan dan sudah mempunyai tenaga spesialis keperawatan

jiwa dan doktor keperawatan yang bekerja di area keperawatan jiwa.


Dalam MPKP keperawatan jiwa, terdapat empat pilar yaitu

Management Approach, Compensatory Reward, Professional Relationship,

dan Patient Care Delivery. Pengkajian variabel MPKP di ruang Shinta

dilakukan dengan mengelompokkan MPKP dalam 4 pilar yaitu Management

Approach, Compensatory Reward, Professional Relationship, dan Patient

Care Delivery.
Metode pengumpulan data dengan menggunakan wawancara,

kuesioner, dan observasi. Kuesioner diberikan pada 15 perawat di ruang

Shinta, yang mencakup 1 orang kepala ruang, 2 orang kepala Tim, dan 12

orang perawat assosiet, guna memvalidasi hasil kuesioner serta memperdalam

pengkajian yang telah didapatkan. Observasi dilakukan pada aktivitas


9

kegiatan ruangan, bukti dokumentasi, dengan menggunakan pedoman

observasi.
1. Man (Ketenagaan)
a. Kuantitas
Keberhasilan sebuah organisasi rumah sakit sangat bergantung

pada kemampuan manajemen dalam menyerasikan unsur-unsur

karyawan (tenaga perawat) dengan system, struktur organisasi,

teknologi, tugas, budaya kerja dan lingkungannya. Hal ini telah

disadari bahwa sumber daya manusia sering kali menjadi penyebab

kegagalan suatu organisasi. Oleh karena itu penetapan sumber daya

manusia di rumah sakit dalam hal ini tenaga perawat perlu

diperhatikan.
Penetapan jumlah tenaga perawatan adalah proses membuat

perencanaan untuk menentukan berapa banyak dan dengan kriteria

tenaga yang seperti apa pada suatu ruangan tiap shifnya. Untuk

keperluan itu beberapa ahli telah mengembangkan beberapa formula.

Formula tersebut juga dapat digunakan untuk menilai dan

membandingkan apakah tenaga yang ada saat ini cukup, kurang atau

berlebih.
b. Kualitas
Menurut analisa Teng (2002) dalam Soeroso (2003) penyebab

kegagalan organisasi dari sisi sumber daya manusia yaitu sikap serta

poal piker yang negative, staff Turnover (tingkat penggantian staff)

yang tinggi, program insentif yang buruk, program pelatihan yang

buruk, dan rendahnya kemampuan mengembangkan dan memotivasi

karyawan.
Secara teori indikator keberhasilan rumah sakit dalam

memberikan pelayanan kesehatan salah satunya ditentukan oelh


10

pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas. Supaya dapat

memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas diperlukan

sumber daya yang cukup dengan kualitas yang tinggi dan professional

sesuai dengan tugas dan fungsinya. Menurut Djodjodibroto (1997)

konsep pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) atau Human

Resource Development mempunyai tiga program, yaitu:


1) Training, yaitu aktiivitas dimana proses belajar diarahkan kepada

pekerjaan saat ini


2) Education, yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak diarahkan

kepada pekerjaan yang akan _racti


3) Development, yaitu aktivitas dimana proses belajar tidak

diarahkan untuk pekerjaan pegawai yang bersangkutan secara

langsung.
Bagi tenaga professional di rumah sakit, Djodjodibroto (1997)

mengemukakan bahwa pelatihan, kursus dan lokakarya yang diperlukan

untuk paramedik adalah:


1) Etika komunikasi
2) Komunikasi terapetik dalam perawatan
3) Etika keperawatan
4) Manajemen keperawatan
5) Hospital management training
6) Audit medik
7) Pencegahan penyakit nosokomial
8) Sanitasi rumah sakit
Sedangkan untuk tenaga non medis diperlukan etika

komunikasi. Disamping itu perlunya direncanakan rotasi dan mutasi

SDM untuk menyesuaikan beban dan tuntutan pelayanan dimasa depan.

Sehingga penyesuaian keahlian yang dibutuhkan dilakukan melalui

pelatihan secara terus menerus dan berkesinambungan.


Program pengambangan yang lain menurut Soeroso (2003)

meliputi jaminan mutu (quality assurance), manajemen risiko (risk


11

management), praktik berbasis bukti (evidence based atractice), audit

klinik (clinical audit) dan audit medic (medical audit).

c. Metode/ standar/ pedoman/ prosedur tetap


Standar adalah suatu tingkatan kinerja yang secara umum

dikenal sebagai sesuatu yang dapat diterima, adekuat memuaskan dan

digunakan sebagai tolak ukur atai titik acuan yang digunakan sebagai

pembanding (Marr dan Biebiing, 2001).


Berdasarkan clinical practice guidelines (1990) standar

merupakan keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan

sempurna yang digunakan sebagai batas penerimaan minimal atau

disebut juga sebagai kisaran variasi yang masih dapat diterima. Standar

diperlukan untuk member suatu indikasi kualitas yang diinginkan

dengan kata lain standar digunakan untuk menilai mutu sesuai dengan

yang diharapkan.
Suatu ruang perawatan didalam sebuah rumah sakit idealnya

mempunyai prosedur tetap (protap) tindakan yang berlaku secara resmi

yang dipahami dan diharapkan oleh seluruh staf di ruangan, ruang

perawatan mempunyai prosedur tetap semua tindakan perawatan dan

SAK (Standar Asuhan Keperawatan) minimal 10 kasus terbanyak.


d. Fasilitas
1) Alat dan bahan
Jumlah fasilitas dan alat-alat kedokteran maupun keperawatan dapat

dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oelh masing-masing

institusi dengan memperhatikan jenis alat, bahan/ warna, ukuran,

jenis kegiatan, jumlah yang dibutuhkan serta pertimbangan bahan

yang diapakai, disimpan maupun dicuci.


2) Mesin
12

Mesin adalah peralatan yang digerakan oleh mesin maupun

elektronik yang digunakan untuk membantu menangani pasien baik

secara medis maupun keperawatan.


3) Sumber Dana
Secara teori salah satu fungsi rumah sakit memberikan pelayanan

kesehatan baik medis maupun non medis. Agar pelayanan rumah

sakit dapat berjalan semaksimal mungkin dan dapat dirasakan oleh

seluruh masyarakat, maka rumah sakit perlu mempersiapkan

peralatan atau bahan medis dan jasa pemborongan.

B. PROSES

1. Proses asuhan keperawatan

Proses asuhan keperawatan adalah metode ilmiah dalam

pemberian asuhan keperawatan. Proses asuhan keperawatan juga

merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama

antara perawat dengan klien, keluarga dan atau masyarakat untuk

mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Carpenito, 1989 cit Keliat,

1999).

The Washington State Board Of Nursing (Swansburg, 1996)

menyebutkan definisi legal praktek keperawatan meliputi observasi,

pengkajian, diagnosis, asuhan atau konseling, dan penyuluhan kesehatan

kepada individu yang sakit, cedera, atau pemeliharaan kesehatan atau

pencegahan sakit yang dilaksanakan oleh perawat berlisensi.

Pelaksanaannya di terima dan disepakati oleh profesi keperawatan dan

kedokteran.
13

Menurut Swansburg (1996) elemen primer manajemen pelayanan

keperawatan adalah adanya sistem untuk mengevaluasi seluruh upaya,

termasuk evaluasi proses manajemen, praktek keperawatan, dan seluruh

pelayanan keperawatan. Evaluasi memerlukan standar yang dapat

digunakan sebagai tolok ukur kualitas dan kuantitas pelayanan. Standar

juga dapat digunakan sebagai alat bantu menentukan sasaran tiap divisi

dalam keperawatan.

UU RI No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dalam penjelasan

tentang Pasal 53 ayat 2 mendefinisikan standar profesi sebagai “pedoman

yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi

secara baik”. Atau secara singkat dapat dikatakan standar adalah

pedoman kerja agar pekerjaan berhasil dan bermutu. Berdasarkan alasan

ini maka kehadiran Standar Asuhan Keperawatan yang identik dengan

standar profesi keperawatan, berguna sebagai kriteria untuk mengukur

keberhasilan dan mutu asuhan keperawatan. SAK terdiri dari 6 standar :

a. Standar Pengkajian Keperawatan


b. Standar Diagnosis Keperawatan
c. Standar Perencanaan Keperawatan
d. Standar Pelaksanaan / Implementasi
e. Standar Evaluasi
f. Standar Catatan Asuhan Keperawatan (Depkes RI, 1998).

Dalam standar-standar dimaksud mencantumkan kriteria-kriteria

yang harus dipenuhi dalam pemberian asuhan keperawatan. Mutu asuhan

keperawatan dapat dipertangungjawabkan secara profesional apabila

kriteria-kriteria tersebut dapat dipenuhi. Dengan memahami dan

mematuhi kriteria dalam Standar Asuhan Keperawatan, yang selanjutnya

diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan, maka bukan hanya


14

profesionalitas dijaga dan ditingkatkan, tetapi juga meliputi aspek-aspek

keamanan dan kenyamanan pasien.

Standar Asuhan Keperawatan tidak harus baku, melainkan

sewaktu-waktu dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan

perkembangan IPTEK Kesehatan khususnya Keperawatan, serta sistem

nilai masyarakat yang berlaku.

Sistematika penyusunan Standar Asuhan Keperawatan sebagai

berikut:

a. STANDAR I : Pengkajian Keperawatan


Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan

dikumpulkan secara terus menerus, tentang keadaannya untuk

menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data kesehatan harus

bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. Komponen

pengkajian keperawatan meliputi :


1) Pengumpulan data :
Kegiatan pengumpulan data dimulai pada saat pasien masuk dan

dilanjutkan secara terus menerus selama proses keperawatan

berlangsung. Kriteria :
a) Menggunakan format yang ada
b) Sistematis
c) Diisi sesuai item yang tersedia
d) Aktual (baru)
e) Absah (valid)
2) Pengelompokkan data :
Dengan mengelompokkan data, perawat dapat segera menentukan

masalah yang terjadi pada pasien. Kriteria :


a) Data Biologis
b) Data Psikologis
c) Data Sosial
d) Data Spiritual
3) Perumusan masalah
Kriteria :
15

a) Kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola

fungsi kehidupan.
b) Perumusan masalah ditunjang oleh data yang telah

dikumpulkan.
b. STANDAR II : Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien yang nyata

maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan yang

pemecahannya. Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data

status kesehatan pasien, dianalisis dan dibandingkan dengan norma

fungsi kehidupan pasien. Kriteria :


1) Diagnosa keperawatan dihubungkan dengan penyebab

kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien


2) Di buat sesuai dengan wewenang perawat.
3) Komponennya terdiri dari masalah, penyebab dan gejala/tanda

(PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE).


4) Bersifat aktual apabila masalah kesehatan pasien sudah nyata

terjadi.
5) Bersifat potensial apabila masalah kesehatan pasien

kemungkinan besar akan terjadi


6) Dapat ditanggulangi oleh perawat.
c. STANDAR III : Perencanaan Keperawatan
Perencanaan Keperawatan disusun berdasarkan diagnosa

keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya

kebutuhan klien. Komponen perencanaan keperawatan meliputi :


1) Prioritas masalah. Kriteria :
a) Masalah-masalah yang mengancam kehidupan merupakan

priorias pertama.
b) Masalah-masalah yang mengancam kesehatan seseorang

adalah prioritas kedua.


c) Masalah-masalah yang mempengaruhi perilaku merupakan

prioritas ketiga.
2) Tujuan asuhan keperawatan. Kriteria :
a) Spesifik
16

b) Bisa diukur
c) Bisa dicapai
d) Realistik
e) Ada batas waktu
3) Rencana tindakan. Kriteria :
a) Disusun berdasarkan tujuan asuhan keperawatan
b) Melibatkan pasien/keluarga
c) Mempertimbangkan latar belakang budaya pasien/keluarga
d) Menentukan alternatif tindakan yang tepat
e) Mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang

berlaku, lingkungan, sumber daya dan fasilitas yang ada


f) Menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien
g) Kalimat perintah ringkas, tegas dengan bahasanya mudah

dimengerti.
d. STANDAR IV : Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan

yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi

secara maksimal yang mencakup aspek peningkatan, pencegahan,

pemeliharaan serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan

pasien dan keluarganya. Kriteria :


1) Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan
2) Menyangkut keadaan bio-psiko-sosio spiritual pasien
3) Menjelaskan setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan

kepada pasien/keluarga
4) Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
5) Menggunakan sumberdaya yang ada
6) Menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik
7) Menerapkan prinsip aman, nyaman, ekonimis, privasi dan

mengutamakan keselamatan pasien


8) Melaksanakan perbaikan tindakan berdasarkan respons pasien
9) Merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam

keselamatan pasien
10) Mencatat semua tindakan yang telah dilaksanakan
11) Merapikan pasien dan alat setiap selesai melakukan tindakan
12) Melaksanakan tindakan keperawatan berpedoman pada prosedur

teknis yang telah ditentukan.


17

Implementasi keperawatan berorientasi pada 14 komponen

keperawatan dasar yang meliputi :

1) Memenuhi kebutuhan oksigen


2) Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan

elektrolit
3) Memenuhi kebutuhan eliminasi
4) Memenuhi kebutuhan keamanan
5) Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan fisik
6) Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
7) Memenuhi kebutuhan gerak dan kegiatan jasmani
8) Memenuhi kebutuhan spiritual
9) Memenuhi kebutuhan emosional
10) Memenuhi kebutuhan komunikasi
11) Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis
12) Memenuhi kebutuhan pengobatan dam membantu proses

penyembuhan
13) Memenuhi kebutuhan penyuluhan
14) Memenuhi kebutuhan rehabilitasi
e. STANDAR V : Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik, sistematis dan

berencana untuk menilai perkembangan pasien. Kriteria :


1) Setiap tindakan keperawatan dilakukan evaluasi
2) Evaluasi hasil menggunakan indikator yang ada pada rumusan

tujuan
3) Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan
4) Evaluasi melibatkan pasien, keluarga dan tim kesehatan
5) Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar.
f. STANDAR VI : Catatan Asuhan Keperawatan
Catatan keperawatan sebagai bukti dari pelaksanaan asuhan

keperawatan, adanya catatan tentang respon/tanggapan pasien

terhadap penyakit disebut dokumentasi asuhan keperawatan. Catatan

asuhan keperawatan dilakukan secara individual. Kriteria :


1) Dilakukan selama pasien dirawat inap dan rawat jalan
2) Dapat digunakan sebagai bahan informasi, komunikasi dan

laporan
3) Dilakukan segera setelah tindakan dilaksanakan
18

4) Penulisannya harus jelas dan ringkas serta menggunakan istilah

yang baku
5) Sesuai dengan pelaksanaan proses keperawatan
6) Setiap pencatatan harus mencantumkan initial/paraf/nama

perawat yang melaksanakan tindakan dan waktunya


7) Menggunakan formulir yang baku
8) Disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Depkes RI,

1998).

2. Proses Manajemen Pelayanan Keperawatan

Manajemen adalah suatu seni dalam menyelesaikan pekerjaan

dengan melalui orang lain (Adikoesoema, 1994). Mekanisme kerja fungsi

manajemen menurut Handoko (1995) dapat digambarkan dalam skema :

Keinginan kebutuhan Perencanaan

Pengorganisasia Tujuan

n
Pengarahan

Pengkoordinasian

Informasi
Pengawasan

Gambar 3. Skema mekanisme kerja fungsi-fungsi manajemen

Menurut Monica (1998) cit Hersey dan Blancard (1977)

menyebutkan bahwa manajemen yang komprehensif yaitu bekerja

dengan dan melalui individu dan kelompok untuk mencapai tujuan

organisasi. Proses manajemen pelayanan keperawatan terdiri dari:

a. Planning atau Perencanaan


19

Perencanaan adalah sebuah keputusan untuk suatu kemajuan

yang berisikan apa yang akan dilakukannya serta bagaimana, kapan

dan dimana akan dilaksanakannya (Marquis, 2000). Perencanaan

dibuat untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan

kepada semua pasien, menegakkan tujuan, mengalokasikan anggaran

belanja, memutuskan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang

dibutuhkan, membuat pola struktur organisasi yang dapat

mengoptimalkan efektifitas staff serta menegakkan kebijaksanaan

dan prosedur operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang

telah ditetapkan.

Unit perawatan merupakan unit terkecil dalam kegiatan

pelayanan rumah sakit. Perencanaan yang disusun mengacu kepada

kerangka utama rencana strategi rumah sakit dengan

mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, peluang yang nyata dan

ancaman eksternal yang harus diantisipasi. Kerangka perencanaan

terdiri dari:

1) Misi, berisi tujuan jangka panjang mengenai bagaimana

langkah mencapai visi

2) Filosofi, sesuatu yang bisa menguatkan motivasi

3) Tujuan, berisikan tujuan yang ingin dicapai

4) Obyektif, berisi langkah-langkah rinci bagaimana mencapai

tujuan

5) Prosedur, berisi pelaksanaan perencanaan


20

6) Aturan, berisi langkah-langkah antisipasi untuk hal-hal yang

menyimpang.

Model perencanaan meliputi :

1) Reactive planning, yaitu tak ada perencanaan, manajer langsung

melakukan tindakan begitu menemukan masalah. Perubahan yang

terjadi tidak pasti karena dipengauhi oleh masalah dan kondisi

yang ada

2) Inactive planning, yaitu perencanaan sudah dibuat sejalan dengan

masalah yang muncul (telah ada bayangan atau perencanaan

tetapi dalam pelaksanaannya dilakukan sejalan dengan

pekembangan masalah.

3) Preactive planning, yaitu penyusunan perencanaan dengan

mengetahui rencana ke depan pencapaian target yang sudah pasti

(sudah jelas dan tidak berubah). Ciri dari perencanaan ini adalah

tujuan yang akan dicapai jelas, tedapat pembatasan waktu

peencanaan belangsung, terdapat indikator pencapaian target,

risiko dan ketidakpastian jelas.

4) Proactive planning, yaitu pembuatan perencanaan dengan

memperhatikan masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Masa

lalu digunakan sebagai pengalaman untuk menyusun perencanaan

sekarang dan masa depan, masa sekarang sebagai pelaksanaan

perencanaan, dan masa depan merupakan perencanaan yang

disusun berdasarkan evaluasi pelaksanaan perencanaan masa lalu

dan sekarang. Perencanaan meliputi:


21

a) Jangka pendek (target waktu dalam minggu/bulan)

Meliputi perubahan jadwal dinas (pagi, siang, malam) akibat

perubahan kondisi bangsal dan permintaan fasilitas yang

segera akibat kerusakan yang tidak dapat diperkirakan

sebelumnya

b) Jangka menengah (periode dalam satu tahun)

Meliputi pengaturan dinas, perbaikan peralatan/service,

permintaan perlengkapan rutin/barang habis pakai

c) Jangka panjang (untuk tahun mendatang)

Meliputi pengembangan SDM baik perawat maupun non

perawat, penambahan peralatan, penambahan jumlah tenaga,

cuti tahunan dan sebagainya

Berdasarkan buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan

di RS (Depkes RI, 1999), Tugas Kepala Ruang dalam perencanaan

(P1) meliputi:

1) Menyusun rencana kerja kepala ruang

2) Berperan serta menyusun falsafah dan tujuan pelayanan

keperawatan di ruang rawat yang bersangkutan

3) Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi

jumlah maupun kualifikasi untuk di ruang rawat, koordinasi

dengan kepala perawat instalasi/kepala instalasi.

Tugas kepala ruang dalam perencanaan meliputi:

1) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer

2) Membuat usulan pengembangan tenaga.


22

3) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai

kebutuhan.

b. Organizing
Di dalam pengorganisasian asuhan keperawatan dikenal

beberapa model pemberian asuhan keperawatan. Model Praktek

Keperawatan Profesional (MPKP) terdiri dari 5 elemen subsistem

(Hoffart and Woods, 1996) yaitu :

1) Nilai-nilai profesional

2) Pendekatan manajemen

3) Metode pemberian Askep

4) Hubungan profesional

5) Sistem kompensasi dan penghargaan.

Ada beberapa teori mengenai metode asuhan keperawatan

care dellivery system antara lain menurut teori Gillies (1989):

1) Metode Kasus (Total Care Method)

Disebut juga Total patient care, perawat mempunyai otonomi dan

tanggung jawab terhadap perawatan pasien selama shift kerja (± 8

jam). Pasien menerima asuhan keperawatan yang diberikan secara

total dan tidak terfragmentasi atau terpecah-pecah. Metode ini

lebih mudah dikerjakan karena satu orang perawat hanya

bertanggung jawab pada satu atau dua orang pasien dan maksimal

tiga, tergantung dari tingkat kebutuhan pasien dan model ini

membutuhkan koordinasi diantara perawat-perawat yang

melakukan asuhan keperawatan.

Kelebihan dari metode kasus ini:


23

a) Sederhana dan langsung

b) Garis pertanggung jawaban jelas

c) Kebutuhan klien cepat terpenuhi

d) Memudahkan perencanaan tugas

Kerugian dari metode ini, yaitu:

a) Membutuhkan dana yang cukup tinggi (Costly), karena pada

pelaksanaannya memerlukan perawat pelaksana yang

mempunyai kemahiran, keterampilan dan profesionalisme

tinggi sehingga reward juga harus tinggi.

b) Memerlukan supervisi yang adekuat dari kepala ruang

(charge nurse)

c) Memerlukan kepala ruang (charge nurse) yang mampu

memberikan training yang baik kepada perawat pelaksana.

2) Metode Fungsional (functional nursing)

Perawat pelaksana hanya bertugas berdasarkan tugas tertentu

(task oriented). Keuntungan dari metode ini, yaitu:

a) Lebih efisien

b) Tugas dapat segera diselesaikan

c) Sedikit kebingungan karena tugasnya hanya satu

d) Kebutuhan akan perawat profesional (register nurse) sedikit

sehingga dana yang dibutuhkan juga minimal.

Kerugian dari metode ini, yaitu:

a) Asuhan keperawatan menjadi terfragmentasi

b) Kepuasan kerja rendah


24

c) Tidak ada tantangan dalam melakukan tugas

d) Lebih banyak membutuhkan koordinasi, terutama supervisi dari

kepala ruang untuk menghindari kesalahan dalam pemberian

asuhan keperawatan

e) Keseluruhan asuhan keperawatan tidak diperhatikan karena

tanggung jawab hanya pada tugas yang dilakukan

3) Metode Tim (team nursing)

Metode ini menggunakan prinsip bahwa ada sekelompok perawat

pelaksana yang dipimpin oleh ketua tim dalam memberikan

asuhan keperawatan kepada sekelompok pasien. Ketua Tim

bertanggung jawab kepada kepala ruang.

Keuntungan dari metode ini, yaitu:

a) Meningkatkan metode kolaborasi

b) Kebingungan akses ke pasien berkurang

Kerugian dari metode tim, yaitu:

a) Saat pelaksanaan rencana keperawatan yang dibuat oleh

Ketua Tim, kemungkin terjadi pelaksanaan yang tidak sesuai

standar asuhan keperawatan

b) Membutuhkan perencanaan dan komunikasi diantara anggota

tim, sehingga metode ini menjadi tidak efektif karena

membutuhkan banyak waktu

c) Jalur tanggung jawab menjadi tidak jelas

d) Asuhan keperawatan terfragmentasi dan dapat terjadi

overlapping/nursing error.
25

4) Metode Primer (primary nursing)

Metode ini merupakan suatu metode penugasan kerja

terbaik dalam suatu organisasi atau kelompok kerja dengan semua

staf keperawatan yang profesional. Pada pelaksanaannya hampir

sama dengan metode case method nursing atau total patient care.

Kebutuhan akan Register Nurse sangat tinggi. Pada metode ini

setiap perawat primer memberikan tanggung jawab secara

menyeluruh terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi

keperawatan.

Penanggung jawab adalah Perawat Primer (PN). PN harus

mempunyai kemampuan membina komunikasi antara pasien,

dokter, AN dan anggota tim kesehatan lain. Setiap PN merawat

4-6 pasien dan bertanggung jawab terhadap pasien selama 24 jam

dari pasien masuk sampai pasien pulang. Ada kontinuitas asuhan

keperawatan yang bersifat komprehensif dan dapat

dipertanggungjawabkan. Dalam satu tim PN mempunyai

beberapa perawat pelaksana (associate nurse/AN) dan bila PN

tidak ada, perawatan dilanjutkan oleh AN.

Keuntungan dari metode primer, yaitu:

a) Tingkat kepuasan yang tinggi

b) Tingkat tanggung jawab dan otomi jelas

c) Perawat tertantang dalam menyelesaikan masalah dan diberi

penghargaan

Kerugian dalam metode ini, yaitu:


26

a) Costly

b) Kesulitan dalam menentukan standar RN. Hal ini disebabkan

untuk mencapai standar, semua PN harus RN, dan hal ini

menjadi sulit karena kendala ekonomi sehingga RS tidak

mampu memberi reward yang cukup dan terjadi keterbatasan

tenaga.
Dokter Kepala Ruang Sarana RS

Perawat Primer

Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana

pagi Gambar 4. Bagan Model malam


sore Keperawatan Primer

5) Metode Manajemen Kasus (nursing case management)

Pada metode ini ada seorang perawat yang menjalankan

sekumpulan aktivitas, mengerahkan, memantau dan mengevaluasi

semua sumber yang digunakan oleh pasien secara total selama

sakit.

Empat hal penting dalam manajemen kasus:

a) Pencapaian berdasar waktu yang ditentukan tim yang

terlibat

b) Yang bertindak sebagai case manager adalah orang yang

memberi pelayanan langsung


27

c) Seorang perawat/dokter yang terlibat bisa melampaui

unit

d) Perlu partisipasi aktif pasien dan keluarga untuk

menyusun evaluasi pelaksanaan kegiatan

6) Model keperawatan primer modifikasi didasarkan pada beberapa

alasan antara lain :

a) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena

sebagai perawat primer harus mempunyai latar belakang

pendidikan S1 Keperawatan.

b) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena

tanggung jawab pasien terfragmentasi pada berbagai tim.

c) Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan

komunitas asuhan keperawatan dan akuntabilitas asuhan

keperawatan terdapat pada PN.

c. Uraian tugas pokok kepala ruang


Tugas kepala ruangan dalam pengorganisasian, meliputi:

1) Tugas Pokok:

a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien

di ruang rawat

b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain

c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga

d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK

e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian

f) Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiatan

guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat


28

g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety.

2) Uraian tugas:

a) Mensosialisasikan, mengatur dan mengendalikan pelaksanaan

kebijakan yang telah ditentukan kepada semua staf

b) Mengecek kelengkapan inventaris peralatan dan obat-obatan

yang tersedia untuk kelancaran pelayanan

c) Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai

kebutuhan

d) Memeriksa keadaan ruangan dan peralatan serta menyusun

laporan kerusakan, usulan perbaikan dan pemeliharaannya

e) Menyusun data yang berhubungan dengan pelayanan untuk

membuat laporan harian, bulanan, triwulan serta tahunan

f) Mengadakan rapat secara berkala untuk mengetahui masalah

dan mendapatkan cara penyelesaian agar pelaksanaan

pelayanan berjalan baik

g) Memberikan pengarahan, orientasi dan bimbingan kepada staf

baru/mahasiswa praktek di ruangan

h) Mengkoordinir pelaksanaan tatatertip, disiplik, kebersihan dan

keamanan ruangan.

i) Melaksanakan asuhan dengan menggunakan pendekatan

proses ilmiah

j) Membuat usulan nilai pra DP3 semua tenaga yang menjadi

tanggung jawabnya

k) Membuat usulan pengembangan tenaga


29

l) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam

rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di instalasi

m) Membagi staf keperawatan ke dalam grup MPM sesuai dengan

kemampuan dan beban kerja

n) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer (PN)

o) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan

beban kerja

p) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas perawat

primer dan perawatan asosiet (PN & AN)

q) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk

mencapai kinerja yang optimal

r) Melakukan upaya peningkatan mutu asuhan dan pelayanan

dengan mengevaluasi melalui berbagai metode evaluasi

peningkatan mutu

s) Berperan sebagai konsultan/pembimbing bagi perawat primer

(PN)

t) Mendelegasikan tugas pada sore, malam, dan hari libur kepada

penanggung jawab tugas jaga ruangan

u) Membuat laporan pelaksanaan tugas secara berkala/insidentil

v) Bertanggung jawab terhadap kelengkapan entry data dalam

billing system.

d. Uraian tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari PN ,

AN , dan PJ
Berdasarkan struktur organisasi dan uraian jabatan keperawatan

adalah sebagai berikut:


30

1) Tugas Pokok Primery Nurse:

a) Mengelola asuhan keperawatan pasien di ruang rawat

b) Melakukan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain

c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga

d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK

e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian

f) Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiaatan

guna peningkatan mutu pelayanan keperawata di ruang rawat

g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety

2) Tugas Primary Nurse :

a) Bertugas pada pagi hari

b) Bersama AN menerima operan tugas jaga dari AN yang tugas

jaga malam

c) Bersama AN melakukan konfirmasi /Supervisi tentang kondisi

pasien segera setelah selesai operan tugas jaga setiap pasien.

d) Bersama AN melakukan do’a bersama sebagai awal dan akhir

tugas, dilakukan setelah selasai operan tugas jaga malam.

e) Melakukan pre conference dengan semua AN yang ada dalam

grupnya pada setiap awal dinas pagi

f) Membagi tugas / pasien kepada AN sesuai kemampuan dan

beban kerja.

g) Melakukan pengkajian, menetapkan masalah/diagnosa dan

perencanaan keperawatan kepada semua pasien yang menjadi

tanggungjawabnya dan ada bukti direkam keperawatan.


31

h) Memonitor dan membimbing tugas AN.

i) Membantu tugas AN untuk kelancaran pelaksanaan asuhan

pasien

j) Mengoreksi, merevisi dan melengkapi catatan askep yang

dilakukan oleh AN yang ada dibawah tanggung jawabnya.

k) Melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien sesuai tujuan

yang ada dalam perencanaan asuhan keperawatan dan ada

bukti dalam rekam keperawatan.

l) Melaksanakan post conference pada setiap akhir dinas dan

menerima laporan akhir tugas jaga dari AN untuk persiapan

operan tugas jaga berikutnya.

m)Mendampingi AN dalam operan tugas jaga kepada AN yang

tugas jaga berikutnya.

n) Memperkenalkan AN yang ada dalam satu grup /yang akan

merawat selama pasien dirawat kepada pasien baru.

o) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference dengan

dokter/tim kesehtan lain setiap seminggu sekali.

p) Menyelenggarakan diskusi kasus /conference dalam pertemuan

rutin keperawatan di ruangan minimal sebulan sekali.

q) Menyelenggarakan diskusi kasus/conference sesuai prosedur.

r) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam

rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan

s) Menggantikan tugas PJ ruang pada pagi hari jika PJ tidak ada.


32

t) Mendelegasikan tugas perawat primer pada sore, malam, hari

libur kepada perawat asosiete

u) Memberikan bimbingan mahasiswa praktek yang ada dalam

groupnya dalam rangka orientasi dan pelaksanaan praktek

keperawatan.

v) Perawat primer menginformasikan peraturan dan tata tertib

yang berlaku pada pasien/keluarga.

w) Perawat primer melakukan visite/monitoring perkembangan

pasien dan memberitahukan serta menyiapkan pasien yang

akan pulang

x) Perawat primer meneriama konsultasi/keluahan

pasien/keluarga dan berupaya mengatasinya, serta

memfasilitasi pelaksanaan konsultasi dengan dokter

y) Perawat primer membuat laporan tugas kepada Karu setiap

akhir tugas tentang kondisi pasien dan masalah yang ada

z) Mengikuti pertemuan ilmiah/rutin yang diselenggaraan RS di

lingkungan tugasnya

3) Tanggung Jawab Primary Nurse :

a) Kebenaran kajian data, diagnosa dan rencana keperawatan

(1) Kebenaran kajian data keperawatan

(2) Kebenaran diagnosis

(3) Kebenaran rencana keperawatan

b) Kebenaran layanan asuhan, evaluasi dan resume keperawatan


33

(1) Kebenaran dan ketepatan pelaksanaan tindakan

keperawatan

(2) Kebenaran evaluasi keperawatan

(3) Kebenaran resume keperawatan

c) Kebenaran dan ketetapan pendidikan/penyuluhan kesehatan

pada pasien

d) Pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien dengan kolaborasi tim

kesehatan lain

e) Kelengkapan dan kebenaran informasi kepada pasien tentang

dokter dan perawat yang bertanggung jawab, jadwal konsultasi

& rencana tindakan yang akan dilakukan & rencana perawatan

setelah pasien pulang

f) Kelengkapan dan kebenaran isian dokumen asuhan

keperawatan

g) Kebenaran bimbingan dan arahan kepada perawat asosiet dan

mahasiswa praktek klinik keperawatan

h) Kebenaran dan kelengkapan laporan dan dokumen asuhan

keperawatan

4) Wewenang Primary Nurse :

a) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan tugas

kepada AN/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya

b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk

pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan

pasien
34

c) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan

d) Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan

penanggung jawab ruang dan PN lain

e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan

prima kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya

f) Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang tidak bertugas.

5) Tugas Pokok Penanggung Jawab Tugas Jaga:

a) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien

di ruang rawat pada sore, malam dan hari libur

b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain

c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga

d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK

e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian

f) Melakukan pengendalian, pemantuan dan evaluasi kegiatan

guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat

pada sore, malan, dan hari libur.

g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety.

6) Uraian Tugas Penanggung Jawab Tugas Jaga:

a) Memberikan pengarahan, orientasi dan bimbingan kepada

mahasiswa praktek di ruangan

b) Mengkoordinir pelaksanaan tata tertib, disiplin, kebersihan dan

keamanan ruangan
35

c) Melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan

proses kekperawatan

d) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam

rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan di ruangan

e) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan

beban kerja

f) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas asuhan dan

pelayanan

g) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk

mencapai kinerja yang optimal

h) Melakukan upaya peningatan mutu asuhan dan pelayanan

i) Berperan sebagai konsultan dari perawat asosiet (AN) pada

saat PN tidak bertugas.

7) Tanggung Jawab Penanggung Jawab Tugas Jaga:

a) Ketepatan koordinasi tugas asuhan dan

pelayanan di ruangan

b) Kebenaran arahan tugas staf dan mahasiswa

c) Kelancaran memfasilitasi kebutuhan yang

diperlukan untuk asuhan dan pelayaan

d) Kelancaran layanan dan asuhan yang

komprehensif dan prima

e) Kelancaran pelaksanaan pendelegasian tugas

Pj. Ruang keperawatan pada sore, malam dan hari libur


36

f) Kebenaran dan ketepatan penggunaan

sumber daya yang efisien dan efektif

g) Kebenaran laporan pelaksanaan kegiatan

asuhan dan pelayanan keperawatan.

8) Wewenang Penanggung Jawab Tim:

a) Mengatur dan membimbing dan memberikan

arahan anggota tim/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung

jawabnya

b) Meminta bahan dan perangkat kerja yang

dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai

dengan kebutuhan pasien

c) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan

d) Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas

dengan penanggung jawab ruang dan PN lain

e) Melakukan asuhan dan pelayanan yang

komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi

tanggung jawabnya

f) Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang

tidak bertugas.

9) Tugas Pokok Assosiate Nurse ( AN ) :

a) Melaksanakan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap

b) Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain

c) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga

d) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK


37

e) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian

f) Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiatan

guna peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat

inap

g) Mendukung terlaksananya program Patient Safety.

10) Uraian Tugas Assosiate Nurse (AN):

a) Melakukan doa bersama setiap awal dan akhir tugas yang

dilakukan setelah selesai serah terima operan tugas jaga.

b) Mengikuti pre konference yang dilakukan PN setiap awal tugas

pagi.

c) Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi

tanggung jawab dan ada bukti direkam keperawatan.

d) Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti direkam

keperawatan.

e) Melakukan konsultasi tentang masalah pasien kepada PN.

f) Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada

pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti

direkam keperawatan.

g) Menerima keluhan pasien dan keluarga dan berusaha untuk

mengatasinya.

h) Melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien

yang menjadi tanggung jawabnya.


38

i) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan setiap akhir tugas

pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada

bukti direkam keperawatan.

j) Mengikuti post konference yang diadakan oleh PN pada setiap

akhir tugas dan melaporkan kondisi/perkembangan semua

pasien yang menjadi tanggung jawabnya kepada PN dan ada

bukti di rekam keperawatan

k) Bila PN tidak ada, wajib mengenalkan AN yang ada dalam

satu group yang akan memberikan asuhan keperawatan pada

jaga berikutnya kepada pasien/keluarga baru.

l) Mengkuti diskusi kasus/conference dalam pertemuan rutin

m)Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas AN

n) Melaksanakan tugas PN pada sore, malam, dan hari libur

o) Berkoordinasi dengan Pj tugas jaga apabila ada kesulitan

tentang pelayanan

p) Bertanggung jawab atas kelengkapan entry data dalam Billing

System.

11) Tanggung Jawab Assosiete Nurse (AN ):

a) Kebenaran asuhan keperawatan meliputi kajian diagnosis,

rencana tindakan keperawatan

b) Kebenaran dan ketepatan pelayanan dan asuhan keperawatan

yang komprehensif dan prima

c) Kelengkapan bahan dan peralatan kesehatan

d) Kebenaran isian rekam keperawatan


39

e) Kebenaran infomasi/bimbingan/penyuluhan kesehatan kepada

pasien/keluarga

f) Ketepatan penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif

12) Wewenang Assosiete Nurse (AN) :

a) Memeriksa kelengkapan dan alat yang diperlukan

b) Meminta bahan dan perangkat kerja sesuai dengan kebutuhan

pelaksanaan tugas

c) Melakukan pengkajian, menetapkan diagnosa dan perencanaan

keperawatan bagi pasien baru pada saat PN tidak bertugas sore,

malam, dan hari libur

d) Melakukan asuhan keperawatan pasien

e) Melaporkan asuhan keperawatan pasien ke Pj tugas jaga dan

Perawat Primer (PN)

e. Actuating
Actuating/directing tidak lepas dari kemampuan

manajer/pimpinan untuk bisa mengarahkan stafnya ataupun

bawahannya untuk menjalankan fungsi masing-masing dengan baik

(Adikoesoema, 1994).
Adikoesoema (1994) menjelaskan beberapa cara manajer

merangsang bawahannya agar pelaksanaan kegiatan meningkat

dalam rangka mencapai tujuan organisasi :

1) Motivasi

Motivasi atau memotivasi merupakan proses dengan apa

seseorang manajer merangsang bawahannya untuk bekerja


40

dalam rangka mencapai sasaran organosatoris. Teori model

motivasi yang perlu diterapkan dalam rangka mencapai sasaran

organisasi adalah :

a) Model tradisional: menaikkan sistem upah untuk

memotivasi para karyawan

b) Model hubungan antar manusia: kontak sosial yang

dialami karyawan baik di alam kerja maupun di luar jam

kerja juga mempunyai arti penting

2) Kemampuan Individu

Untuk memajukan organisasi/perusahaan disamping motivasi

juga penting untuk menelaah kemampuan individu. Bila sudah

menjadi karyawan tentu tugas manajer meng-upgrade,

mengadakan training, kursus dan sebagainya secara

berkelanjutan untuk memajukan pengetahuannya. Menurut buku

pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di Rumah Sakit tugas

Kepala ruang sebagai penggerak dan pelaksanaan (P2) terdiri

dari :

a) Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan

pelayanan di ruang rawat, melalui kerja sama dengan petugas

lain yang bertugas diruang rawatnya.

b) Menyusun jadual/daftar dinas tenaga keperawatan dan tenaga

lain sesuai kebutuhan pelayanan dan peraturan yang berlaku

di RS.
41

c) Melaksanakan orientasi kepada tenaga keperawatan

baru/tenaga lain yang akan kerja di ruang rawat.

d) Memberikan orientasi kepada siswa/mahasiswa keperawatan

yang menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan praktek.

e) Memberi orientasi kepada pasien/keluarganya meliputi:

penjelasan tentang peraturan RS, tata tertib ruang rawat,

fasilitas yang ada dan cara penggunaannya serta kegiatan

rutin sehari-hari.

f) Membimbing tenaga keperawatan untuk melaksanakan

pelayanan/asuhan keperawatan sesuai standar.

g) Mengadakan pertemuan berkala/sewaktu-waktu dengan staf

keperawatan dan petugas lain yang bertugas di ruang

rawatnya.

h) Memberi kesempatan/ijin kepada staf keperawatan untuk

mengikuti kegiatan ilmiah/penataran dengan koordinasi

kepala instalasi/kepala bidang perawatan.

i) Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat-obatan sesuai

kebutuhan berdasarkan ketentuan/kebijaksanaan RS.

j) Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan alat agar

selalu dalam keadaan siap pakai.

k) Mendampingi visite dokter dan mencatat instruksi dokter,

khususnya bila ada perubahan program pengobatan pasien.


42

l) Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di

ruang rawat menurut tingkat kegawatan, infeksi/non infeksi

untuk kelancaran pemberian asuhan keperawatan.

m)Mengendalikan kualitas sistem pencatatan dan pelaporan

asuhan keperawatan dan kegiatan lain secara tepat dan benar,

hal ini penting untuk tindakan keperawatan.

n) Memberi motivasi kepada petugas dalam memelihara

kebersihan lingkungan di ruang rawat.

o) Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di ruang

rawat.

p) Meneliti/memeriksa pengisian daftar permintaan makanan

pasien berdasarkan macam dan jenis makan pasien.

q) Meneliti/memeriksa ulang pada saat penyajian makanan

pasien sesuai dengan program dietnya.

Teori pengarahan SDDM:

a) Teori X

Teori ini menganggap karyawan adalah orang yang malas

hingga harus diarahkan dengan paksaan bahkan dengan

ancaman atau hukuman.

b) Teori Y

Teori ini menganggap bahwa rata-rata karyawan senang

bekerja asal diberi rangsangan dan dihargai, mempunyai

kemauan dan dedikasi yang tinggi asal diajak komunikasi

yang baik serta imbalan yang baik.


43

c) Teori Z

Teori ini menyatakan bahwa peran serta semua jajaran

karyawan merupakan kunci suksesnya produktivitas dari

suatu organisasi. Untuk mencapai sasaran tersebut, perlu 3

hal penting: Motivasi, Kemampuan individu dan Sistem

manajemen.

f. Controlling
Nursalam (2002), pengawasan melalui komunikasi,

mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun

pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada

pasien. Kegiatan supervise meliputi:


1) Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau

melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki atau

mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat itu juga


2) Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua

tim, membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan

yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan

dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar laporan ketua tim

tentang pelaksanaan tugas.


3) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan

rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim


4) Audit keperawatan
Menurut buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS

bahwa, tugas kepala ruang yaitu sebagai Pengawasan,

Pengendalian dan Penilaian (P3) meliputi :


44

a) Mengendalikan dan menilai pelaksanaan asuhan

keperawatan yang telah ditentukan.

b) Mengawasi dan menilai siswa/mahasiswa keperawatan

untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai tujuan

program bimbingan yang telah ditentukan.

c) Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan yang

berada dibawah tanggung jawabnya.

d) Mengawasi, mengendalikan dan menilai pendayagunaan

tenaga keperawatan, peralatan dan obat-obatan.

e) Mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan sesuai

standar yang berlaku secara mandiri atau koordinasi dengan

tim pengendalian mutu asuhan keperawatan.

Untuk keperluan mengevaluasi hasil kerja diperlukan terlebih

dahulu persiapan:

1) Standard operation procedure.

2) Standar/pedoman diagnosis dan terapi.

3) Indikator penilaian penampilan

Fungsi pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi

terakhir dari proses manajemen. Ada 3 macam pengawasan yaitu :

1) Pengendalian pendahuluan, yaitu pengendalian ini dipusatkan

pada permasalahan pencegahan timbulnya penyimpangan-

penyimpangan dari bawahan terhadap kinerja pemberi

pelayanan keperawatan, baik sumber daya, SDM, bahan/alat

maupun dana.
45

2) Concurent control, pengendalian ini berlangsung saat pekerjaan

berlangsung guna memastikan sasaran tercapai.

3) Feedback control. Pengendalian ini untuk mengontrol terhadap

hasil dari pekerjaan yang telah diselesaikan, jika ada

penyimpangan akan merupakan pelajaran untuk aktifitas yang

sama di masa yang akan datang.

C. OUTPUT

1. Efisiensi Ruang Rawat

Efisiensi pelayanan meliputi 4 indikator mutu pelayanan kesehatan

yang meliputi (BOR, LOS, TOI, BTO)

a. BOR (Bed Occupancy Rate), merupakan

indikator untuk menilai seberapa efektifitas pemakaian tempat tidur

yang ada di suatu ruangan atau rumah Sakit dalam jangka waktu

tertentu. Standar internasional yang baik adalah 80-90%, sedangkan


BOR = adalah
standar nasional Jumlah hari perawatan
70-80%. x 100%

Jumlah Tempat Tidur x hari perawatan

b. ALOS (Length Of Stay), adalah rata-rata

lama hari seorang pasien dirawat. Indikator ini selain memberikan

gambaran tingkat efisiensi juga dapat memberikan gambaran mutu

pelayanan jika diterapkan pada diagnosis tertentu yang masih

membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Secara umum ALOS yang

ideal antara
LOS =6-9Jumlah
hari. Lama hari perawatan pasien keluar
Jumlah pasien keluar hidup atau mati
46

c. TOI (Turn Over Internal), penghitungan

lama tempat tidur tidak terisi.

TOI adalah rata-rata jumlah hari tempat tidur tidak ditempati dari saat

diisi hingga saat terisi berikutnya. Indikator ini dapat memberikan

gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya, tempat

tidur kosong hanya dalam waktu 1-3 minggu.


TOI= jumlah total kapasitas tempat tidur- hari perawatan

Jumlah pasien keluar (hidup+mati)

2. Penerapan SAK (Instrumen A, B, C)

a. Instrumen A

Instrumen A merupakan evaluasi terhadap pendokumentasian

asuhan keperawatan yang telah baku. Evaluasi dilakukan terhadap

dokumentasi asuhan keperawatan pasien yang dirawat minimal 3 hari.

Dokumentasi keperawatan adalah sistem pencatatan kegiatan

sekaligus pelaporan semua kegiatan asuhan keperawatan sehingga

terwujud data yang lengkap, nyata, dan tercatat dan bukan hanya

tingkat kesakitan dari pasien tapi juga jenis, kualitas, dan kuantitas

pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien.

Dokumentasi keperawatan merupakan sesuatu yang mutlak

harus ada untuk perkembangan perawatan, khususnya proses

profesionalisasi keperawatan serta upaya uuntuk membina dan


47

mempertahankan akontabilitas perawat dan keperawatan. Dalam

membuat dokumentasi harus memperhatikan aspek-aspek:

1) Keakuratan data

2) Breavity (ringkas)

3) Legibility (mudah dibaca)

Komponen dokumentasi keperawatan:

1) Pengkajian

Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan

dikumpulkan secara terus-menerus tentang keadaaan pasien untuk

menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data harus

bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. Komponen

pengkajian meliputi pengumpulan data, pengelompokan data, dan

perumusan masalah.

2) Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien baik aktual

maupun potensial berdasarkan hasil pengkajian data. Diagnosa

dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien, dianalisa,

dan dibandingkan dengan fungsi normal kehidupan pasien. Kriteria

diagnosa dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan

pemenuhan kebutuhan pasien, dibuat sesuai dengan wewenang

perawat, dengan komponen terdiri atas masalah, penyebab dan

tanda gejala (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE)

yang bersifat aktual apabila masalah kesehatan sudah nyata terjadi


48

dan bersifat potensial apabila masalah kesehatan kemungkinan

besar akan terjadi, dan dapat ditanggulangi oleh perawat.

3) Rencana keperawatan

Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa

keperawatan. Komponen rencana perawatan meliputi prioritas

masalah, tujuan, dan rencana tindakan. Prioritas masalah ditentukan

dengan memberi prioritas utama masalah yang mengancam

kehidupan dan prioritas selanjutnya masalah yang mengancam

masalah kesehatan pasien. Prioritas ketiga adalah masalah yang

mempengaruhi perilaku.

4) Implementasi

Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang

ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi yang

mencakup aspek peningkatan, pencegahan, pemeliharaan, serta

pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan

keluarga.

Pelaksanaan tindakan keperawatan harus sesuai dengan

rencana yang ada, menyangkut keadaan bio-psiko-sosio-spiritual

pasien, menjelaskan setiap tindakan perawatan yang akan

dilaksanakan pada klien, sesuai waktu yang telah ditentukan

dengan menggunakan sumber-sumber yang ada. Tindakan

perawatan dilakukan dengan menerapkan prinsip aseptik dan


49

antiseptik, aman, nyaman, ekonomis, menjaga privasi, dan

mengutamakan keselamatan pasien, dan merapikan pasien dan alat

setiap selesai tindakan.

Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat pada format

asuhan keperawatan yang berlaku. Perbaikan tindakan dilakukan

berdasarkan respon pasien dan merujuk dengan segera bila ada

masalah yang mengancam keselamatan pasien.

5) Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan secara peroidik, sistematis, dan berencana,

untuk menilai perkembangan pasien. Evaluasi dilaksanakan dengan

memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal

untuk mengidentifikasi masalah dan rencana perawatan selanjutnya

termasuk strategi perawatan yang telah diberikan untuk

memecahkan masalah pasien.

6) Catatan asuhan keperawatan

Pencatatan merupakan data tertulis tentang status kesehatan dan

perkembangan pasien selama dalam perawatan. Pencatatan

dilakukan selama pasien dirawat inap maupun rawat jalan.

Pencatatan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan

komunikasi. Penulisan harus jelas dan ringkas, serta menggunakan

istilah yang baku sesuai dengan pelaksanaan proses perawatan.

Setiap pencatatan harus mencantumkan paraf dan nama perawat

yang melaksanakan tindakan dan waktu pelaksanaan, dan


50

menggunakan format yang tersedia serta sesuai dengan peraturan

yangn berlaku.

b. Instrumen B

Salah satu indikator mutu asuhan keperawatan adalah dilihat

dari persepsi klien tentang mutu asuhan keperawatan yang diberikan.

Dan untuk mengevaluasi hal ini diperlukan suatu instrumen yang

baku. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta menggunakan format

standar asuhan keperawatan yang telah ditetapkan oleh rumah sakit

untuk mengevaluasi persepsi klien terhadap mutu asuhan

keperawatan.

c. Instrumen C

Dalam melakukan tindakan keperawatan yang baik harus

sesuai dan mengacu pada protap-protap atau standar yang telah

ditetapkan dengan hasil tindakan mencapai 100%. Sebagai dasar

penilaian tindakan keperawatan yang mengacu pada instrumen

evaluasi penerapan standar asuhan keperawatan di rumah sakit yang

telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang

mengacu pada pedoman dari Departemen Kesehatan.

3. Mutu Pelayanan Keperawatan


Kegiatan menjamin kualitas pelayanan keperawatan merupakan

kegiatan menilai, memantau atau mengatur pelayanan yang berorientasi


51

pada pasien. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu supaya

lancar dipengaruhi oleh:

a. Misi, visi, dan tujuan rumah sakit yang dijabarkan secara lokal

ruang rawat

b. Struktur organisasi lokal, mekanisme kerja (standar-standar) yang

diperlakukan di ruang rawat

c. Sumber daya manusia keperawatan yang memadai baik kualitas

maupun kuantitas.

d. Metode penugasan dan landasan model pendekatan kepada klien

yang ditetapkan.

e. Tersedianya berbagai sumber/fasilitas yang mendukung pencapaian

kualitas pelayanan yang diberikan.

f. Kesadaran dan motivasi dari seluruh tenaga keperawatan yang ada

g. Komitmen dari pimpinan rumah sakit (Nurachmah, 2000).

1) Pelayanan keperawatan menurut Depkes 1992 meliputi 7

standar yaitu :
a) Standar 1. Falsafah dan Tujuan
Pelayanan keperawatan dikelola dan diorganisasi agar dapat

memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien sesuai

dengan standar yang ditetapkan. Nilai untuk standar 1 jika

dilaksanakan sesuai kriteria yang ada adalah 4.


b) Standar 2. Administrasi dan Pengelolaan
Pendekatan sistematik digunakan untuk memberikan asuhan

keperawatan berorientasi pada kebutuhan pasien. Pola administrasi


52

dan pengelolaan organisasi yang telah dikelola dan diorganisir

dengan baik, nilai rata-rata untuk standar 2 adalah 4,5

c) Standar 3. Staf dan Pimpinan


Pelayanan keperawatan dikelola untuk mencapai tujuan pelayanan.

Pencapaian nilai rata-rata standar 3 adalah 3,8


d) Standar 4. Fasilitas dan Perawatan
Fasilitas dan peralatan yang memadai untuk mencapai tujuan

pelayanan keperawatan.
e) Standar 5. Kebijakan dan Prosedur
Adanya kebijakan dan prosedur secara tertulis yang sesuai dengan

kemajuan ilmu pengetahuan dan prinsip praktek keperawatan yang

konsiten dengan tujuan pelayanan keperawatan.


f) Standar 6. Pengembangan Staf dan Program Pendidikan
Program dan pengembangan staf bertujuan untuk meningkatkan

profesionalisme.
g) Standar 7. Evaluasi dan Pengendalian Mutu
Pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan

yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam

program pengendalian mutu rumah sakit.

4. Penilaian Kinerja Pribadi Perawat

Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem

pelayanan kesehatan yang dikembangkan sesuai rencana pembangunan

kesehatan. Pelayanan yang diberikan dipengaruhi oleh tersedianya tenaga

yang berkualitas maupun sarana yang tersedia guna menunjang proses

pelayanan. Dampak dari tidak terpenuhinya kondisi tersebut, maka pasien

merasa tidak diterima. Pelayanan kesehatan tidak terlepas dari “

Personality performance” atau penampilan pribadi dalam menangani

pasien.Penampilan pribadi merupakan ceriman sikap keseharian seperti


53

kompetensi, sopan santun, kredibilitas, dapat diandalkan, dan komunikatif.

Faktor tersebut perlu mendapat dukungan berupa sarana atau fasilitas

penunjang seperti ruang tunggu, penataan ruang, kenyamanan, kebersihan

maupun peralatan yang digunakan.

Kinerja perawat yang berkualitas akan menunjang proses

pelayanan. Integritas dari karyawan termasuk kompetensi, pengetahuan

dan tanggungjawab menunjang pemberian pelayanan yang prima.

Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya

oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan

produktifitas (Swansburg,1987 dan Nursalam, 2002). Berdasarkan teori

terdapat beberapa aspek yang dinilai yaitu: pengetahuan, sikap,

keterampilan dan kinerja.

Proses penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam

mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa

keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi. Jenis alat evaluasi

pelaksanaan kinerja perawat yang umum digunakan ada 5, yaitu:

a. Laporan bebas

b. Pengguruan

c. Cheklist pelaksanaan kerja

d. Penilaian grafik

e. Perbandingan pilihan (Henderson, 1984 cit. Nursalam

2002)

5. Kepuasan Kerja Perawat


Pengertian kepuasan kerja menurut Newstrom ”job satisfaction is

the favorableness or unfavoraleness with employes view their work”


54

kepuasan kerja berarti perasaan mendukung atau tidak mendukung yang

dialami dalam kerja. Menurut Handoko, kepuasan kerja adalah keadaan

emosional yang menyenangkan dengan pekerjaannya.


Sedangkan menurut Stephen Robin; kepuasan itu terjadi apabila

kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat

kesukaan dan ketidaksukaan dikaitkan dengan pegawai; merupakan sikap

umum yang dimiliki oleh pegawai yang erat hubungannya dengan

imbalan-imbalan yang mereka yakini akan mereka terima setelah

melakukan sebuah pengorbanan.


Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut

Schemerhorn ada 5 yaitu:

a. Pekerjaan itu sendiri, setiap pekerjaan memerlukan ketrampilan

tertentu, sukar atau tidaknya suatu pekerjaan sera persaan seseorang

bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut

akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.

b. Penyelia (supervisor), penyelia yang baik mau menghargai pekerjaan

bawahannya.

c. Teman sekerja

d. Promosi, berkaitan dengan ada atau tidaknya mendapat kesempatan

untuk meningkatkan karir selama bekerja.

e. Gaji, merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang bisa

dianggap layak atau tidak layak

Wesley dan Yukl (1977) mengatakan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi kepuasan kerja dari kondisi sebenarnya adalah :


55

a. Kompensasi: sikap pekerja terhadap pembayaran yang

diterimanya setelah ia membandingkannya dengan rekan lain baik

didalam maupun diluar organisasi tempat ia bekerja. Pada dasarnya

kompensasi dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu

kompensasi finansial dan kompensasi bukan financial. Kompensasi

financial ada yang langsung dan ada yang tidak langsung, sedangkan

kompensasi nonfinancial dapat berupa pekerjaan dan dari lingkungan

dimana tempat bekerja. Teori “Hierarki Kebutuhan” dari Abraham

Maslow, bila menggunakan teorinya, imbalan terutama gaji/upah

termasuk dalam “alat” untuk memenuhi kebutuhan dasar ( basic

physiological needs ). Teori dasarnya adalah bahwa apabila kebutuhan

dasar manusia belum terpenuhi, ia akan mempunyai dorongan untuk

berusaha memperoleh/mencari, guna memenuhi kebutuhannya.

b. Pekerjaan itu sendiri: signifikansi pekerjaan, umpan balik dari

pekerjaan itu sendiri (informasi langsung dan jelas diperoleh dari

pekerja atas efektivitas dan hasil kerjanya).

c. Keamanan kerja: kepuasan pekerja dalam menduduki pekerjaannya

selama ia mau termasuk imbalan gaji, pinjaman, hari libur, fasilitas

kesehatan, pensiunan di hari depannya.

d. Kesempatan pengembangan diri: kesempatan untuk maju atau

berprestasi dalam jenjang karir.

Tabel 2.1 Kegiatan MPKP


Penanggungjawab
No Kegiatan
Kabid Karu Katim PP
I. Manajemen Approach
A. Perencanaan
1. Visi -  - -
56

2. Misi -  - -
3. Filosofi -  - -
4. Kebijakan  - - -
5. Rencana jangka pendek -   
B. Pengorganisasian
1. Struktur organisasi -  - -
2. Jadual dinas -   -
3. Daftar pasien -   -
C. Pengarahan
1. Operan -  - -
2. Pre conference -   -
3. Post conference -   -
4. Iklim motivasi -   -
5. Pendelegasian -   -
6. Supervisi -   -
D. Pengendalian
1. Indikator mutu -  - -
2. Audit dokumen -  - -
3. Survey kepuasan -  - -
4. Survey masalah kesehatan -  - -
keperawatan
II. Compensatory Reward
1. Rekrutmen  - - -
2. Seleksi  - - -
3. Kontrakkerja  - - -
4. Orientasi  - - -
5. Penilaiankinerja -   -
6. Pengembanganstaf -  - -
III. Profesional Relationship
1. Rapatkeperawatan -  - -
2. Konferensikasus -   -
3. Rapattimkesehatan -  - -
4. Visit dokter -   -
IV. Patient Care Delivery
1. Gangguan konsep diri: -   
Harga diri rendah
2. Risiko perilaku kekerasan -   
3. Isolasi social -   
4. Gangguan persepsi -   
sensori: Halusinasi
5. Gangguan proses pikir: -   
Waham
6. Risiko bunuh diri -   
7. Defisit perawatan diri -   
57

BAB III
HASIL PENGKAJIAN

Pengkajian dilakukan selama hari Rabu, 20 Juni 2012 sampai hari Sabtu, 23 Juni

2012.

A. GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT DAN RUANGAN


1. Gambaran Umum Rumah Sakit
Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta beralamat di Jalan

Ki Hajar Dewantara No. 80 Surakarta, PO BOX 187, Kode pos 57126

Surakarta. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didirikan pada tahun

1918 M, dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Juli 1919 M.

Sejak diterapkan UU No. 22 tahun 1999, tentang otonomi daerah. Rumah

Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Pusat

Surakarta berubah menjadi Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta sampai


58

saat ini. Sebelumnya Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta, tepatnya yaitu

di Jalan Bayangkara No.8 Surakarta (tepat di samping Stadion Sriwedari

Surakarta).
Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta memiliki luas tanah

100.067 m2, dan memiliki luas bangunan 21.145 m2 dengan jumlah

bangsal sebanyak 13 bangsal (bangsal VIP, Kresna, Shinta, Ayodya, Dewi

Kunti, Wisanggeni, Srikandi, Maespati, Sena, Pringgondani, Abimanyu,

Amarta, dan Sumbadra), dan kapasitas tempat tidur mencapai 293 tempat

tidur. Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta terletak pada lokasi yang

cukup strategis karena masih dalam lingkungan sekitar Karisidenan

Surakarta yang mudah dijangkau oleh transportasi umum.


Jenis pelayanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit Jiwa

Daerah Surakarta terdiri dari pelayanan di dalam rumah sakit dan di luar

rumah sakit. Adapun jenis pelayanan yang tersedia di rumah sakit

tersebut antara lain:


a. Pelayanan yang bersifat spesialistik
1) Pelayanan pencegahan
a) Penyuluhan kesehatan jiwa
b) Pelatihan kesehatan jiwa
c) Pendidikan kesehatan jiwa
d) Penelitian kesehatan jiwa
e) Bimbingan bakat, minat, kepribadian, dan konseling
f) Seminar, symposium kesehatan jiwa
2) Pelayanan rawat jalan
3) Pelayanan rawat inap
4) Pelayanan gawat darurat
5) Pelayanan penunjang diagnostik
6) Terapi bio-psiko-sosial
7) Pelayanan rehabilitasi
b. Pelayanan yang dilakukan di luar rumah sakit (ekstra murah).
1) Pelayanan integratif: Pelayanan integratif yang dilakukan

meliputi pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan di Puskesmas

dan RSU Kabupaten/ Kota, dengan kegiatan:


a) Pembinaan pelayanan kesehatan jiwa
59

b) Pelayanan konsultasi ahli kesehatan jiwa


c) Pelatihan terhadap tenaga medik dan non medik Puskesmas/

RSU tentang kesehatan jiwa.


2) Kegiatan lintas sektoral: Kegiatan pembinaan dan pelayanan

lintas sektoral dalam wadah Badan Pelaksana Kesehatan Jiwa

Masyarakat (BPKJM) dilakukan bersama-sama dengan instansi

dan sektor-sektor lain yang berperan dalam pembinaan upaya

kesehatan jiwa masyarakat.


3) Pelayanan yang lain: Pelayanan yang lain yang tersedia di

Rumah Sakir Jiwa Daerah Surakarta antara lain:


a) Surat keputusan sehat jiwa untuk sekolah dan pekerjaan
b) Surat keputusan sehat jiwa untuk kepentingan umum (untuk

caleg/ kades/ bupati dan lainnya)


c) Visum kejiwaan
d) Surat keputusan bebas narkotika untuk umum
e) Perawatan jenazah
f) Ambulance
g) Hot line service untuk konsultasi lewat telepon (0271-

665581) bagi masyarakat umum


c. Peningkatan kinerja dan mutu pelayanan
Dalam rangka pengembangan potensi Rumah Sakit Jiwa

Daerah Surakarta saat ini telah mengembangkan pelayanan unggulan

di bidang sub-spesialis psikogeriatri yang didukung dengan tenaga

serta sarana dan prasarana yang memadai. Hal ini melengkapi

pengembangan program Model Praktek keperawatan Profesional

(MPKP) yang telah dikembangkan sebelumnya (Catatan Medik

RSJD Surakarta, 2009).


Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam

medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil

bahwa BOR keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta


60

pada bulan Februari 85, 15 %, bulan Maret 85, 98 %, dan bulan April

81, 74%.
Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam

medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil

bahwa ALOS keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta

pada bulan Februari 30 hari, bulan Maret 30 hari, dan bulan April

31 hari.
Hasil pendokumentasian yang didapatkan dari instalasi rekam

medik di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta didapatkan hasil

bahwa TOI keseluruhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada

bulan Februari 5 hari, bulan Maret 6 hari dan bulan April 2 hari.

2. Gambaran Umum Ruangan


a. Profil Ruang Shinta
Ruang Shinta merupakan salah satu ruang atau bangsal di

Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang digunakan untuk perawatan

gangguan jiwa rehabilitasi khusus pasien perempuan dewasa. Ruang

Shinta merupakan bangsal kelas II dan III yang memberikan

pelayanan untuk pasien Jamkesmas, PKMS, Jamkesda dan umum.


Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang Shinta

didapatkan informasi bahwa Ruang Shinta adalah satu-satunya ruang

pelayanan keperawatan yang menerapkan metode MPKP dan metode

TIM dalam pemberian asuhan keperawatan, dimana metode TIM ini

terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan

keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi

menjadi 2 TIM yang terdiri dari Ketua Tim (KaTim) dan Perawat

Asosiate (PA) atau perawat pelaksana. Jumlah ketenagaan di Ruang

Shinta terdapat 14 orang yang terdiri dari 12 tenaga perawat, 1 Kepala


61

Ruang dan 1 administrasi (pelaksana urusan TU). Semua pegawai

ruang Shinta berjenis kelamin perempuan. Ruang Shinta memiliki

kapasitas tempat tidur sebanyak 30 tempat tidur pasien, 1 ruang

perawat sekaligus ruang tindakan medis, 1 ruang dokter, 1 ruang

kamar mandi perawat sekaligus ruang dapur, dan 1 ruang kamar

mandi pasien.
1) Visi, Misi, Motto dan Tujuan Ruang Shinta
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang didapatkan

informasi bahwa ruangan sudah memiliki visi, misi,


WC motto, dan
Dapur
Tempat
filosofi ruangan secara
istirahat
khusus, akan tetapi berdasarkan perintah
WC
dari bidang keperawatan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta visi,

misi, motto, dan filosofi yang digunakan adalah visi, misi, motto,

dan filosofi Rumah Sakit.


2) Lokasi dan Denah Ruangan Shinta

Lokasi dan denah Ruang Shinta


Ruang dapat dilihat pada gambar
Kelas II
dibawah ini:

Ruan
g
Dokte
r
Ruang
Ruang Perkumpulan
Perawat

Halaman Ruang
Belakang Kelas III

WC WC WC WC
62

3) Struktur organisasi ruang Shinta

KepalaBidangKeperawatan

H. Sukardi, S. Kep., MM

KepalaInstalasiRawat KepalaSeksiKeperawatan
Inap
Warno, S. Kep

DokterRuangan KepalaRuang PerawatKontrol

Mardini, S. Kep., Ns., M. Kep


TU ruangan

Kepala Tim I KepalaTim II

Pupus Risnawati, S. Kep Yuli Sumarni, S. Kep

PA PA

Sulistyowatik, S. Kep Venita Antonia, S, Kep

Fitriani W, AMK Retno Maruti, AMK

Sri Mulyani, AMK Betzaba Dewi, AMK

Juniarsih S, AMK Tutik Sri, AMK

Murpiati,Struktur
Gambar:... AMK organisasi ruang Shinta Istiani, AMK

Indah Ayu, S. Kep.,Ns


63

B. INSTRUMEN A

Evaluasi ini dilakukan dengan menggunakan format evaluasi

dokumentasi asuhan keperawatan. Studi dokumentasi dilakukan pada 10

berkas rekam medis pasien di ruang Shinta. Hasil yang diperoleh dapat dilihat

pada tabel dibawah ini.

Tabel ... Nilai Rata-rata Instrumen A di Ruang Shinta RSDJ Surakarta


Aspek yang
No Hasil (%) Keterangan
dinilai
 18,5% data pengkajian tidak dicatat lengkap,
masalah tidak dirumuskan berdasarkan
1. Pengkajian 82,5
kesenjangan antara status kesehatan dengan norma
dan fungsi kehidupan.
54,4% diagnosa keperawatan tidak berdasarkan
2. Diagnosa 46,6 masalah yang telah dirumuskan, tidak dirumuskan
diagnosa resiko.
33,4% rencana tindakan tidak menggambarkan
keterlibatan pasien atau keluarga, perencanaan
3. Perencanaan 66,6
tidak disusun secara prioritas. Perencanaan sudah
menggunakan format yang baku dari rumah sakit.
10% tindakan tidak sesuai dengan rencana
4. Tindakan 90 keperawatan, tindakan keperawatan tidak
berkelanjutan antar shift.
5. Evaluasi 75  25% evaluasi tidak mengacu pada tujuan.
Catatan  Pencatatan ditulis pada format yang baku, sudah
6. asuhan 100 ditulis secara ringkas, jelas, perawat sudah
keperawatan menuliskan nama, tanggal, jam dan tanda tangan.
Rata-rata 76,78
Sumber : Hasil observasi tanggal .... di ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah
Surakarta.
Kriteria hasil:

76 – 100% : baik

56 – 75% : cukup

40 – 55% : kurang baik

<40% : tidak baik

(Arikunto, 1998)
64

Berdasarkan tabel di atas, maka hasil dari Instrumen A tentang

dokumentasi keperawatan yaitu 76,78 % adalah baik. Dari asuhan keperawatan

yang dirasa kurang adalah diagnosa keperawatan yang tidak merumuskan

diagnosa resiko (46,6%), perencanaan tidak disusun menurut prioritas (66,6%).

C. INSTRUMEN B
1. Management Approach
a. Perencanaan
1) Visi
Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki visi ruangan (100%).

Namun, berdasarkan kebijakan dari RS visi yang digunakan

diruangan adalah visi RS. Adapun Visi RSJD Surakarta adalah

“Menjadi pusat pelayanan kesehatan jiwa pilihan yang profesional

berbudaya dan berstandar internasional”.


2) Misi
Ruang Shinta RSJD Surakarta memiliki misi ruangan (100%).

Namun, berdasarkan kebijakan dari RS misi yang digunakan

diruangan adalah misi RS. Adapun misi RSJD Surakarta adalah:


a) Memberikan pelayanan kesehatan jiwa profesional dan

paripurna yang terjangkau masyarakat


b) Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan standar

internasional secara berkelanjutan


c) Menerapkan nilai-nilai budaya kerja aparatur dalam

memberikan pelayanan kedapa pelanggan


d) Meningkatkan peran serta dan kemandirian masyarakat untuk

mencapai derajat kesehatan jiwa yang optimal.


3) Filosofi
Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak memiliki filosofi ruangan,

Ruang Shinta menggunakan filosofi Rumah Sakit (100%).


4) Kebijakan
65

RSJD Surakarta menjadikan Ruang Shinta sebagai ruang

percontohan pelaksanaan MPKP. Belum adanya SK MPKP untuk

setiap ruangan Belum ada kebijakan pelaksanaan MPKP.


5) Rencana harian
Belum ada rencana jangka pendek kepala ruang. Belum ada rencana

jangka pendek ketua tim. Belum ada rencana jangka pendek perawat

pelaksana.
2. Pengorganisasian
a. Struktur organisasi
Kelengkapan struktur organisasi di ruangan Shinta 100%. Struktur

organisasi di ruang Shinta dapat dilihat pada lampiran (gambar ...)


b. Jadwal dinas
Jadwal dinas di ruang shinta dibuat dalam bentuk lembaran dan dibuat

untuk 1 bulan. Jadwal dinas, dapat dilihat pada lampiran (tabel ...)
c. Daftar pasien
Ruang shinta memiliki daftar pasien yang ditulis di white board

ruangan. Daftar pasien dapat dilihat pada lampiran (tabel ...).


3. Pengarahan
a. Operan
Ruang shinta Surakarta sudah melaksanakan operan, namun tidak

sesuai dengan standar MPKP dikarenakan kesibukan perawat saat

pergantian shift (40 %).

b. Pre conference
Ruang shinta sudah melakukan kegiatan pre conference namun berhenti

karena kurangnya pengakuan dari pihak manajemen (0%).


c. Post conference
Ruang shinta tidak pernah melaksanakan pre conference, dikarenakan

kesibukan perawat (0%).


d. Iklim motivasi
Ruang shinta sudah menciptakan iklim motivasi diruangan, salah

satunya dengan memberikan motivasi kepada semua stafnya

mengembangkan jenjang karir dan kompetensi nya (78,75 %).


e. Pendelegasian
66

Ruang Shinta sudah melakukan pendelegasian tugas jika ada salah satu

petugas yang tidak bisa bertugas sesuai dengan jadwal dinasnya (83 %).
f. Supervisi
Di ruang Shinta RSJD Surakarta sudah dilakukan supervisi (70 %).

Supervisi dilakukan setiap hari, katim menulis laporan berdasarkan dari

supervisi perawat pelaksana.


4. Pendelegasian
a. Indikator mutu
Ruang Shinta RSJD Surakarta belum memenuhi standar indikator mutu,

dibuktikan dengan:
1) BOR 21,37 %
2) ALOS 29,4
3) TOI 5,6
4) Angka lari, angka cedera, angka pengekangan dan angka infeksi

nosokomial tidak terkaji.


5) Hasil pengkajian indikator mutu sebesar 71, 4 %.
b. Audit dokumen
Di ruang Shinta sudah dilakukan audit dokumen terutama setelah pasien

pulang (100 %).


c. Survey kepuasan
Ruang Shinta belum melaksanakan survey kepuasan pasien dan

keluarga. Hasil pengkajian 0%.


d. Survey masalah kesehatan
Ruang Shinta belum melakukan survey masalah kesehatan. Hasil

pengkajian :
1) HDR 25 %
2) RPK 30 %
3) ISOS 10 %
4) Halusinasi 60 %
5) Waham 30 %
6) RBD 4 %
7) DPD 10 %
5. Compensatory Reward
a. Penilaian kinerja: Penilaian kinerja SDM

ruangan Shinta dilakuakan 100% dengan supervisi baik langsung

ataupun tidak langsung.


67

b. Pengembangan staf: Upaya dalam rangka

peningkatan pendidikan keperawatan berkelanjutan dilakukan 100%

oleh kepala ruang.


6. Profesional Relationship
a. Rapat keperawatan
Ruang Shinta RSJD Surakarta rutin melakukan rapat keperawatan

ruangan 1 kali dalam sebulan. Terdapat jadwal rapat keperwatan rutin,

adanya notulen rapat, agenda rapat membahas tentang masalah-masalah

ruangan, ada kesimpulan rapat, dan ada daftar hadir. Rapat keperawatan

ruangan 100% sudah dilakukan di ruang Shinta.


b. Konferensi kasus
Ruang Shinta RSJD Surakarta tidak pernah melakukan konferensi

kasus, hasil pengkajian didapatkan 0%.


c. Rapat tim keehatan
Hasil dari pengkajian didapatkan kegiatan rapat tim kesehatan di ruang

Shinta RSJD Surakarta mencapai 66,6%. Rapat tim kesehatan jarang

dilakukan dan tidak ada presentasi permasalahan yang sedang dihadapi

ruangan.
d. Visit dokter
Visit dokter d ruang Shinta rutin dilakukan dan katim ruangan selalu

mendampingi dokter dalam pemeriksaan pasien dan berkolaborasi

dengan dokter sesuai dengan standar. Hasil pengkajian didapatkan

100% untuk visit dokter.


7. Patient Care Delivery
a. Gangguan konsep diri; harga diri rendah.
b. Resiko perilaku kekerasan
c. Isolasi sosial
d. Gangguan pesepsi sensori: halusinasi
e. Gangguan proses pikir: waham
f. Resiko bunuh diri
g. Defisit perawatan diri.

Hasil pengkajian:

1. Pengkajian (82,5%)
68

Perawat sudah menuliskan hasil pengkajian pada format, namun tidak

semua item pengkajian diisi secara lengkap.


2. Analisa data
Data subjektif dan data objektif yang tertulis dalam analisa data tidak

ada dalam data pengkajian.


3. Diagnosa keperawatan
Hasil pengkajian diagnosa keperawatan sebesar 46,6 %. Perumusan

diagnosa keperawatan tidak sesuai dengan analisa data. Diagnosa tidak

diprioritaskan.
4. Intervensi keperawatan
Hasil pengkajian intervensi keperawatan sebesar 66,6 %. Format

intervensi keperawaan sudah baku sesuai dengan format yang disusun

oleh RSJD Surakarta.


5. Implementasi
Hasil pengkajian implementasi keperawatan sebesar 90 %. Beberapa

tindakan keperawatan ada yang tidak sesuai dengan rencana intervensi.

6. Evaluasi
Hasil pengkajian evaluasi keperawatan sebesar 70%. Evaluasi sudah

sesuai dengan tujuan pada rencana intervensi dan sudah dicatat.


7. Dokumentasi keperawatan
Hasil pengkajian dokumentasi keperawatan sebesar 100 %. Perawat

sudah mencatat asuhan keperawatan pada format yang sudah tersedia,

sudah di catat dengan jelas dan berkesinambungan pada shif pagi-sore-

malam.
69

8. Jadwal dinas

Nama perawat Tanggal


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
Mardini, P P L P P P P P P L L P P L L P L P P P P P P L P P P P P P
S.Kep.,M.Kes
TIM I
Pupus P Km Km X S S L L L L S P P P P L L Ks Ks P P P L Kp P P P P P P
Suistyowatik P L M M X L S S S L C C C C M M X L P S S S L P M M X L P P
Murpiati S S S L P P P L M M X P S S S L M M X L L P P L P P M M X L
Fitriani M M X P P L P S S S M M X L C C C C L P M M X L P P P L M M
Sri Mulyani P P M M X L P P P L M M X P P S S S M M X L S L S S L P S S
Sulasmi X L P L P P M M X L P P P P L P S L L M X L S S L S M M X P
TIM II
YS P P L P P P P P P L P P P L P P P P P P P L P L P P P P P P
Yenita A L L S S M M X L P P P L M M X S L P P L M M X S S L P P P P
Betzaba P P P P L P P P P S L P P P L P L S S S L P P P P P S L M M
L S S L S M M X P L L P S M M X L P P S L P S M M X L P S L P
Tutik X P L P P L M M X P S S L L M M X C C C C L M M X L S S S S
Istiani M M X L S S S L M M X L S S S L M M M P X L X L M M X P P P
70

9. Daftar pasien ruang Sintha

Ketua Tim 1 (Pupus Risnawati, S.Kep)

No Nama No registrasi Diagnosa


Keperawatan
1. Endang S 038027 HDR
2. Eko Riani 046760 RPK
3. Ida 046969 Halusinasi
4. Sri Lestari 001652 Halusinasi
5. Ani Suparni 008481 RPK
6. Rubiyanti 009212 Halusinasi
7. Pawit 035705 DPD
8. Sri Astutik 023574 RPK
9. Rusmiati 047168 RPK
10. Sri Wahyuni B 047018 Halusinasi
11. Sunarni 034895 Isolasi Sosial
12. Mujiati 046951 Halusinasi
13. Jani 047164 Halusinasi

Ketua Tim 2 (Yuli Sumarni, S.Kep)

No Nama No Diagnosa
registrasi Keperawatan
1. Suparmi 047006 Halusinasi
2. Siti Rustini 045967 RPK
3. Sri Wahyuni A 047042 Halusinasi
4. Sunarti 007151 Halusinasi
5. Nur Hayu Tri 045938 HDR
6. Nur witanti 046069 HDR
7. Maryati 044939 RPK
8. Siti Nuryani 012822 Halusinasi
9. Kasti 040301 HDR
10. Martini 055812 Waham
11. Suyatini 047024 Isolasi Sosial
71

No Komponen pengkajian Standar Masalah POA Target


Manajemen Approach
A. Perencanaan
1. Visi Adanya visi ruangan Ruang Shinta tidak memiliki Mengusulkan ke RS untuk Pelaksanaan
- Ruang Shinta RSJD Shinta yang digunakan wewenang untuk menerapkan memberikan wewenang perencanaan
Surakarta memiliki visi sebagai landasan visi yang sudah disusun di dalam menerapkan visi 85%
ruangan (100%). Namun, perencanaan organisasi. ruangan diruangan
berdasarkan kebijakan dari
RS visi yang digunakan
diruangan adalah visi RS.
2. Misi Adanya misi ruangan Ruang Shinta tidak memiliki Mengusulkan ke RS untuk Pelaksanaan
- Ruang Shinta RSJD Shinta yang menjelaskan wewenang untuk menerapkan memberikan wewenang perencanaan
Surakarta memiliki misi tujuan organisasi dalam misi yang disusun ruangan terhadap ruangan untuk 85%
ruangan (100%). Namun, mencapai visi yang telah menerapkan misi yang
berdasarkan kebijakan ditetapkan. sudah di buat oleh ruangan
dari RS misi yang
digunakan diruangan
adalah visi RS.
3. Filosofi Adanya filosofi ruangan Filosofi yang terdapat dalam Mengusulkan pembuatan Pelaksanaan
- Ruang Shinta RSJD Shinta yang menjadi ruangan adalah filosofi Rumah filosofi di ruangan yang perencanaan
Surakarta tidak memiliki rujukan kegiatan Sakit mengacu pada filosofi 85 %
filosofi ruangan. organisasi dan arahan Rumah Sakit
- Ruang Shinta seluruh rencana jangka
menggunakan filosofi panjang
Rumah Sakit (100%).
4. Kebijakan Adanya kebijakan dari Belum adanya SK pelaksanaan Mengusulkan pembuatan Pelaksanaan
- RSJD Surakarta kepala bidang terhadap MPKP diruangan SK MPKP perencanaan
72

menjadikan Ruang Shinta ruangan Shinta sebagai 85 %


sebagai ruang acuan dalam pelaksanaan
percontohan pelaksanaan MPKP diruangan.
MPKP
- Belum adanya SK MPKP
untuk setiap ruangan
- Belum ada kebijakan
pelaksanaan MPKP
5. Rencana Jangka Pendek Sebelum operan , setiap Ruang Shinta RSJD Surakarta - Mengusulkan kepada Pelaksanaan
- Belum ada rencana jangka perawat membuat rencana belum melaksanakan setiap perawat untuk perencanaan
pendek kepala ruang kegiatan harian sesuai pembuatan rencana jangka membuat rencana 85 %
- Belum ada rencana jangka dengan perannya untuk pendek yang sesuai dengan harian sesuai dengan
pendek ketua tim setiap shift. jabatan masing-masing jabatannya masing-
masing.
- Belum ada rencana jangka 1. Rencana harian KaRu: - Melakukan role model,
pendek perawat pelaksana - Asuhan keperawatan. praktek dan bimbingan
- Supervisi KaTim dan pelaksanaan pembuatan
PP. rencana harian masing-
- Supervisi tenaga selain masing perawat
perawat dan
bekerjasama dengan
unit terkait.
2. Rencana harian KaTim:
- Penyelenggaraan
askep.
- Supervisi perawat
pelaksana.
- Kolaborasi dengan tim
73

kesehatan lain.
- Alokasi pasien sesuai
perawat dinas.
3. Rencana harian katim
- Tindakan keperawatan
untuk sejumlh perawat
pada setiap shift.
B Pengorganisasian
1 Struktur organisasi Adanya struktur organisasi Struktur organisasi ruangan Mengusulkan penggantian Pelaksanaan
- Kelengkapan struktur di ruang MPKP belum di perbaharui, padahal 2 struktur organisasi yang pengorganis
organisasi di ruangan Shinta menunjukkan adanya perawat ruangan Shinta ada baru asian 85 %
100%. pembagian kerja dan yang sudah pindah ruangan,
bagaimana fungsi yang namun namanya masih
berbeda-beda tercantum dalam struktur
dikoordinasikan. Serta organisasi.
menunjukkan spesialisasi
pekerjaan.
2 Jadwal dinas Adanya jadwal dinas Jadwal dinas tidak dibuat untuk - Mengusulkan
- Jadwal dinas di ruang diruang MPKP mencakup 1 minggu (sesuai yang pembuatan jadwal
shinta dibuat dalam jadwal dinas perawat yang disarankan MPKP) dan tidak dinas yang sesuai
bentuk lembaran dan bertugas dan terpampang di papan dengan MPKP
dibuat untuk 1 bulan penanggungjawab shift. - Mengusulkan jadwal
dinas staf untuk
dipampang diruangan
74

3 Daftar pasien Adanya daftar pasien di - Daftar nama pasien tidak - Mengusulkan untuk
- Ruang shinta memiliki ruang MPKP berisi nama semua tercantum di papan mencantumkan nama
daftar pasien yang ditulis pasien, nama dokter, nama - Daftar pasien di ruang dokter yang
di white board ruangan. perawat ketua tim, perawat shinta tidak langsung bertanggung jawab
pelaksana yang diperbaharui apabila ada - Mengusulkan untuk
bertanggungjawab pada pasien yang pulang ataupun memperbaharui daftar
pasien dan alokasi perawat pasien yang datang nama pasien setiap
saat menjalankan dinas hari.
ditiap shift.
C Pengarahan
1 Operan Adanya operan diruang Terdapat beberapa perawat - Melakukan role model,
- Ruang shinta Surakarta MPKP mencakup serah yang datang terlambat atau praktek dan bimbingan
sudah melaksanakan terima antara shift pagi, pulang lebih cepat dikarenakan pelaksanaan operan
operan, namun tidak sore dan malam yang ada beberapa keperluan yang setiap pergantian shift.
sesuai dengan standar dipimpin oleh kepala mendesak. - Memotivasi untuk
MPKP dikarenakan ruang atau meningkatkan
kesibukan perawat saat penanggungjawab shift kedisiplinan dalam
pergantian shift (40 %) bertugas.
2 Pre conference Adanya pre conference Belum adanya komitmen antar - Melakukan role model, 100%
- Ruang shinta sudah diruang MPKP perawat untuk melaksanakan praktek dan bimbingan
melakukan kegiatan pre menunjukan: pre conference pelaksanaan pre
conference namun a. Komunikasi ketua tim conference setiap
berhenti karena kurangnya dengan perawat pergantian shift.
pengakuan dari pihak pelaksana setelah - Memotivasi untuk
manajemen selesai operan melaksanakan pre
mengenai rencana conference sesuai
kegiatan pada tim dengan yang
tersebut yang disarankan MPKP
75

dipimpin oleh ketua


tim atau penanggung
jawab shift

b. Isi pre conference


adalah rencana
perawat (rencana
harian)
3 Post conference Adanya post Belum adanya komitmen antar - Melakukan role model, 100%
- Ruang shinta tidak pernah conferencediruang MPKP perawat untuk melaksanakan praktek dan bimbingan
melaksanakan pre menunjukan : post conference pelaksanaan post
conference, dikarenakan a. Komunikasi ketua tim conference setiap
kesibukan perawat (0%). dengan perawat pergantian shift.
pelaksana tentang - Memotivasi untuk
hasil kegiatan melaksanakan post
sepanjang shift yang conference sesuai
dipimpin oleh ketua dengan yang
tim atau penanggung disarankan MPKP
jawab shift
b. Isi post conference
adalah hasil asuhan
keperawatan tiap
perawat dan hal
penting (tindak lanjut)
4 Iklim motivasi Penciptaan iklim motivasi Terdapat beberapa iklim Mengusulkan untuk 100%
- Ruang shinta sudah diruang MPKP diterapkan motivasi yang belum meningkatkan iklim
menciptakan iklim dengan cara : diterapkan di ruang shinta. motivasi yang sesuai
motivasi diruangan, salah a. Budaya pemberian MPKP diruangan.
76

satunya dengan reinforcement positif


memberikan motivasi b. Berdoa bersama
kepada semua stafnya sebelum memulai
mengembangkan jenjang kegiatan yang
karir dan kompetensi nya dilakukan setiap
(78,75 %) pergantian dinas
c. Memanggil staf secara
berkala untuk
mengidentifikasi
masalah setiap
personil secara
mendalam dan
membantu
penyelesaiannya
d. Manajemen SDM
melalui penerapan
pengembangan
jenjang karir dan
kompetensi
e. Sistem reward yang
adil sesuai dengan
kinerja
5 Pendelegasian Pendelegasian diruang - Ruang Shinta RSJD - Motivasi untuk 100%
Ruang Shinta sudah MPKP dilakukan melalui Surakarta sudah melakukan mempertahankan
melakukan pendelegasian mekanisme pelimpahan pendelegasian tetapi belum sistem pendelegasian
tugas jika ada salah satu tugas dan wewenang yang dilakukan secara resmi yang sudah sesuai
petugas yang tidak bisa dilakukan secara (menggunakan surat dengan MPKP dan
bertugas sesuai dengan berjenjang. Dalam hal ini pendelegasian) mengusulkan untuk
77

jadwal dinasnya (83 %) yang mengatur - Ruang Shinta tidak pernah mengadakan evaluasi
pendelegasian adalah dilakukan evaluasi hasil hasil bagi pegawai
kepala seksi keperawatan, oleh pegawai yang yang didelegasikan
kepala ruang, ketua tim mendapat pendelegasian untuk melakukan tugas
atau penanggung jawab untuk melakukan kegiatan di luar ruangan seperti
shift di luar ruangan rapat atau pertemuan
- Di ruang Shinta belum RS lainnya
adanya format - Mengusulkan
pendelegasian pembuatan format
pendelegasian
6 Supervisi Proses pengawasan Ruang Shinta sudah Motivasi untuk 100%
Di ruang Shinta RSJD terhadap pelaksanaan melaksanakan supervisi tetapi mempertahankan
Surakarta sudah dilakukan kegiatan di ruang MPKP tidak sesuai MPKP salah pelaksanaan supervisi
supervisi (70 %) dilaksanakan oleh orang satunya adalah supervisi tidak yang sudah sesuai dengan
Supervisi dilakukan setiap yang memiliki dilakukan secara terjadwal MPKP
hari, katim menulis laporan kemampuan yang cakap
berdasarkan dari supervisi dalam bidang yang
perawat pelaksana disupervisi
D Pengendalian
1 Indikator mutu - Standar internasional Ruang Shinta RSJD Surakarta Mengusulkan kepala ruang Pelaksanaan
Ruang Shinta RSJD Surakarta BOR yang dianggap belum memenuhi standar untuk membuat laporan pengendalia
belum memenuhi standar baik adalah 80 – 90 % indikator mutu, dibuktikan mengenai hasil BOR, n sebesar
indikator mutu, dibuktikan sedangkan standar dengan dibuktikannya : ALOS, TOI, angka lari, 100 %
dengan dibuktikannya : nasional BOR adalah 70 - Tidak adanya perhitungan angka pengekangan, dan
- BOR 21,37 % – 80 % BOR, ALOS, TOI, angka angka infeksi nosokomial
- ALOS 29,4 - ALOS yang ideal antara lari, angka pengekangan setiap bulan
- TOI 5,6 6 – 9 hari dan angka infeksi
- Angka lari, angka cedera, - TOI yang ideal adalah nosokomial untuk ruang
78

angka pengekangan dan tempat tidur kosong Shinta


angka infeksi nosokomial hanya dalam waktu 1 – - Tidak adanya hasil
tidak terkaji. 3 hari rekapitulasi BOR, ALOS,
- TOI diukur oleh kepala TOI, angka lari, angka
- Hasil pengkajian ruang secara teratur pengekangan dan angka
indikator mutu 71,4 % setiap bulan. infeksi per ruangan,
- Angka lari yang ideal perekapan hanya dilakukan
adalah 0 (zero defect) oleh RS
- Angka lari diukur oleh
kepaa ruang secara
teratur setiap bulan
- Angka lama waktu
pengekangan dihitung
selama periode waktu
tertentu (1 bulan)
- Angka cedera yang
ideal adalah tidak ada
kasus pasien dengan
cedera artinya 0 (zero
defect)
- Angka infeksi
nosokomial diukur
melalui perhitungan
2 Audit dokumen Kegiatan audit dilakukan Ruang Shinta RSJD Surakarta Motivasi untuk 100%
Di ruang Shinta sudah oleh kepala ruang dengan sudah melakukan audit meningkatkan pelaksanaan
dilakukan audit dokumen memeriksa rekam medik dokumen, terutama setelah audit dokumenberdasarkan
terutama setelah pasien setiap pasien yang telah pasien pulang atau meninggal. peraturan yang telah
pulang (100 %) pulang atau meninggal. Hasil pengkajian : ditentukan melalui MPKP.
79

Hasil audit direkapitulasi - Perumusan diagnosa Mengusulkan untuk


dalam satu bulan sebagian ada yang tidak mencatumkan setiap
sesuai dengan hasil diagnosa aktual yang
pengkajian (46,6 %) muncul setiap harinya
- Perumusan perencanaan
tidak sesuai dengan
diagnosa (66,6 %)
- Implementasi sesuai
dengan hasil pengkajian
tetapi belum sesuai dengan
diagnosa dan perencanaan
(90 %)
3 Survey kepuasan Survey kepuasan Di ruang Shinta tidak memiliki - Mengusulkan 100%
Ruang Shinta belum dilakukan setiap pasien form survey kepuasan pasien pengadaan form
melaksanakan survey dan keluarga pada saat dan keluarga. kepuasan pasien dan
kepuasan pasien dan pasien pulang Keluarga tidak merasa puas keluarga
keluarga. Hasil pengkajian dengan pelayanan RS karena - Melakukan penilaian
0% keluarga tidak pernah kepuasan pasien dan
mendapatkan informasi keluarga pada saat
mengenai perkembangan pasien pulang
pasien secara rinci - Mengusulkan
diadakannya survey
kepuasan pasien dan
keluarga
- Melakukan rekapitulasi
survey kepuasan
pasien dan keluarga
4 Survey masalah kesehatan / Survey diagnosis Ruang MPKP RSJD Surakarta - Mengusulkan adanya 100%
80

keperawatan keperawatan dengan tidak melaksanakan survey survey masalah


Ruang Shinta belum standar NANDA untuk masalah kesehatan secara rutin kesehatan di ruang
melakukan survey masalah pasien baru atau opname Shinta secara rutin
kesehatan yang dilakukan untuk satu setiap bulan
Hasil pengkajian : periode waktu tertentu (1 - Melakukan role model,
- HDR 25 % bulan) praktek dan bimbingan
- RPK 30 % pelaksanaan survey
- ISOS 10 % masalah kesehatan atau
- Halusinasi 60 % keperawatan
- Waham 30 % - Mengusulkan untuk
- RBD 4 % merekapitulasi hasil
- DPD 10 % masalah kesehatan
Compensatory Reward
1. Penilaian kinerja ditujukan - Pelaksanaan penilaian - Usulan untuk penilaian
kepada Karu, Katim dan kinerja SDM tidak kinerja SDM dilakukan
PA. Kemampuan tiap terjadwal secara khusus. dengan supervisi
Penilaian kinerja SDM dievaluasi melalui - Kurangnya keterlibatan ruangan secara 100%
- Penilaian kinerja SDM supervisi baik langsung dalam event ilmiah terjadwal.
ruangan Shinta maupn tidak langsung dan (seminar, pelatihan, - Usulan untuk
dilakuakan 100% dengan dilakukan secara terjadwal. workshop) pembuatan surat
supervisi baik langsung finansial dan non
ataupun tidak langsung. finansial
- Usulan untuk
diterbitkannya SK
MPKP
2. Pengembangan staf Adanya upaya pendidikan Tidak adanya masalah dalam Motivasi kembali SDM 100%
- Upaya dalam rangka keperawatan berkelanjutan upaya peningkatan pendidikan ruangan yang belum
81

peningkatan pendidikan dan program keperawatan berkelanjutan. melakukan pendidikan


keperawatan pengembangan jenjang keperawatan berkelanjutan
berkelanjutan dilakukan karir. untuk peningkatan
100% oleh Kepala Ruang pendidikan dan program
pengembangan jenjang
karir.
Professional Relationship
1. Rapat keperawatan Rapat keperawatan - Tidak terdapat masalah - Pertahankan rapat 100%
- Ruang Shinta RSJD ruangan MPKP bertujuan rapat keperwatan ruangan keperawatan ruangan
Surakarta rutin melakukan untuk menyampaikan Shinta karen sudah berjalan yang sudah rutin
rapat keperawatan ruangan informasi permasalahan dengan rutin dan sesuai dilakukan.
1 kali dalam sebulan. yang ditemukan pada standar.
- Terdapat jadwal rapat pasien, evaluasi hasil kerja
keperwatan rutin, adanya secara keseluruhan,
notulen rapat, agenda rapat informasi/peraturan/perke
membahas tentang mbangan IPTEK, dan lain-
masalah-masalah ruangan, lain
ada kesimpulan rapat, dan
ada daftar hadir.
- Rapat keperawatan
ruangan 100% sudah
dilakukan di ruang Shinta.
2. Konferensi kasus Konferensi kasus di ruang - Di ruanga Shinta RSJD - Motivasi untuk 100%
- Ruang Shinta RSJD MPKP dilakukan untuk Surakarta tidak diadakan mengadakan konferensi
Surakarta tidak pernah mendiskusikan kasus konferensi kasus.. kasus yang dipimpin
melakukan konferensi asuhan keperawatan oleh Katim dan Kepala
kasus, hasil pengkajian pasien/keluarga, dilakukan Ruang Shunta RSJD
didapatkan 0% 2 kali perbulan dan Surakarta
82

kasusnya bergantian antar


tim dan tujuan dilakukuan
konferensi kasus adalah
untuk mengenal kasus dan
permasalahan, kemudian
mendiskusikan alternative
penyelesaian masalah,
menyimpulkan hasil dan
mencatat rencana tindak
lanjut.
3. Rapat tim kesehatan Adanya rapat tim - Mengusulkan 100%
- Hasil dari pengkajian kesehatan di ruang MPKP - Rapat tim kesehatan sudah untuk melakukan
didapatkan kegiatan rapat adalah untuk membahas diadakan tetapi jarang presentasi hasil
tim kesehatan di rauang manajerial ruang MPKP dilakukan. dari rapat tim
Shinta RSJD Surakarta yaitu untuk menyamakan keehatan di ruang
mencapai 66,6% persepsi tentang informasi Shinta RSJD
- Rapat tim kesehatan yang didapatkan dari Surakarta
jarang dilakukan dan tidak masalah yang ditemukan
ada presentasi khususnya masalah
permasalahan yang manajerial, meningkatkan
sedang dihadapi ruangan. kesinambungan pelayanan
kesehatan dan
meningkatkan koordinasi
antar tim kesehatan.
4. Visit Dokter Visit dokter adalah - Pertahankan 100%
- Visit dokter d ruang kunjungan dokter k - Visit dokter d ruang kolaborasi yang
Shinta rutin dilakukan dan ruangan untuk melakukan shinta RSJD Surakarta baik dengan dokter
katim ruangan selalu pemeriksaan kesehatan tidak ditemukan visit
83

mendampingi dokter pada pasien dan ketua tim masalah karena sudah - Komitmen dari
dalam pemeriksaan pasien bertanggung jawab sesuai dengan standar dokter dan perawat
dan berkolaborasi dengan melakukan kolaborasi hari, jam untuk
dokter sesuai dengan serta mendampingi dokter visite dokter
standar saat melakukan - Usulan tentang
- Hasil pengkajian pemeriksaan dan jadwal visite dokter
didapatka 100% untuk menyampaikan informasi
visit dokter. tentang pasien dengan
komunikasi yg terapeutik
Patient Care Delivery System:
Sistem pemberian asuhan keperawatan yang diterapkan di MPKP adalah asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan.
1. Gangguan konsep diri: HDR - SOP Proses asuhan keperawatan Mengusulkan untuk 100%
- SAK belum sesuai dengan SOP dan melakukan asuhan
Hasil pengkajian: SAK keperawatan sesuai dengan
10.Pengkajian (82,5%) SOP dan SAK
Perawat sudah menuliskan
hasil pengkajian pada
format, namum tidak
semua item pengkajian
diisi secara lengkap
11. Analisa data
Data subjektif dan data
objektif yang tertulis
dalam analisa data tidak
ada dalam data pengkajian
12. Diagnosa keperawatan
(46,6%)
Perumusan diagnosa
84

keperawatan tidak sesuai


dengan analisa data.
Diagnosa tidak
diprioritaskan
13. Intervensi (66,6%)
Sudah baku, sesuai format
14. Implementasi (90%)
Beberapa tindakan
keperawatan ada yang
tidak sesuai dengan
rencana intervensi.
15. Evaluasi (70%)
Evaluasi sudah sesuai
dengan tujuan pada
rencana intervensi dan
sudah dicatat.
16. Dokumentasi (100%)
Perawat sudah mencatat
asuhan keperawatan pada
format yang sudah
tersedia, sudah di catat
dengan jelas dan
berkesinambungan pada
shif pagi-sore-malam

2. Isolasi sosial - SOP Proses asuhan keperawatan Mengusulkan untuk 100%


Hasil pengkajian: - SAK belum sesuai dengan SOP dan melakukan asuhan
a. Pengkajian (82,5%) SAK keperawatan sesuai dengan
85

Perawat sudah menuliskan SOP dan SAK


hasil pengkajian pada
format, namum tidak
semua item pengkajian
diisi secara lengkap
b. Analisa data
Data subjektif dan data
objektif yang tertulis
dalam analisa data tidak
ada dalam data pengkajian
c. Diagnosa keperawatan
(46,6%)
Perumusan diagnosa
keperawatan tidak sesuai
dengan analisa data.
Diagnosa tidak
diprioritaskan
d. Intervensi (66,6%)
Sudah baku, sesuai format
e. Implementasi (90%)
Beberapa tindakan
keperawatan ada yang
tidak sesuai dengan
rencana intervensi.
f. Evaluasi (70%)
Evaluasi sudah sesuai
dengan tujuan pada
rencana intervensi dan
86

sudah dicatat.
g. Dokumentasi (100%)
Perawat sudah mencatat
asuhan keperawatan pada
format yang sudah
tersedia, sudah di catat
dengan jelas dan
berkesinambungan pada
shif pagi-sore-malam
3. Halusinasi - SOP Proses asuhan keperawatan Mengusulkan untuk 100%
Hasil pengkajian: - SAK belum sesuai dengan SOP dan melakukan asuhan
a. Pengkajian (82,5%) SAK keperawatan sesuai dengan
Perawat sudah menuliskan SOP dan SAK
hasil pengkajian pada
format, namum tidak
semua item pengkajian
diisi secara lengkap
b. Analisa data
Data subjektif dan data
objektif yang tertulis
dalam analisa data tidak
ada dalam data pengkajian
c. Diagnosa keperawatan
(46,6%)
Perumusan diagnosa
keperawatan tidak sesuai
dengan analisa data.
Diagnosa tidak
87

diprioritaskan
d. Intervensi (66,6%)
Sudah baku, sesuai format

e. Implementasi (90%)
Beberapa tindakan
keperawatan ada yang
tidak sesuai dengan
rencana intervensi.
f. Evaluasi (70%)
Evaluasi sudah sesuai
dengan tujuan pada
rencana intervensi dan
sudah dicatat.
g. Dokumentasi (100%)
Perawat sudah mencatat
asuhan keperawatan pada
format yang sudah
tersedia, sudah di catat
dengan jelas dan
berkesinambungan pada
shif pagi-sore-malam
4. Resiko perilaku kekerasan - SOP Proses asuhan keperawatan Mengusulkan untuk 100%
(RPK) - SAK belum sesuai dengan SOP dan melakukan asuhan
Hasil pengkajian: SAK keperawatan sesuai dengan
a. Pengkajian (82,5%) SOP dan SAK
Perawat sudah menuliskan
hasil pengkajian pada
88

format, namum tidak


semua item pengkajian
diisi secara lengkap

b. Analisa data
Data subjektif dan data
objektif yang tertulis
dalam analisa data tidak
ada dalam data pengkajian
c. Diagnosa keperawatan
(46,6%)
Perumusan diagnosa
keperawatan tidak sesuai
dengan analisa data.
Diagnosa tidak
diprioritaskan
d. Intervensi (66,6%)
Sudah baku, sesuai format
e. Implementasi (90%)
Beberapa tindakan
keperawatan ada yang
tidak sesuai dengan
rencana intervensi.
f. Evaluasi (70%)
Evaluasi sudah sesuai
dengan tujuan pada
rencana intervensi dan
sudah dicatat.
89

g. Dokumentasi (100%)
Perawat sudah mencatat
asuhan keperawatan pada
format yang sudah
tersedia, sudah di catat
dengan jelas dan
berkesinambungan pada
shif pagi-sore-malam
5. Waham - SOP Proses asuhan keperawatan Mengusulkan untuk 100%
Hasil pengkajian: - SAK belum sesuai dengan SOP dan melakukan asuhan
a. Pengkajian (82,5%) SAK keperawatan sesuai dengan
Perawat sudah menuliskan SOP dan SAK
hasil pengkajian pada
format, namum tidak
semua item pengkajian
diisi secara lengkap
b. Analisa data
Data subjektif dan data
objektif yang tertulis
dalam analisa data tidak
ada dalam data pengkajian
c. Diagnosa keperawatan
(46,6%)
Perumusan diagnosa
keperawatan tidak sesuai
dengan analisa data.
Diagnosa tidak
diprioritaskan
90

d. Intervensi (66,6%)
Sudah baku, sesuai format
e. Implementasi (90%)
Beberapa tindakan
keperawatan ada yang
tidak sesuai dengan
rencana intervensi.
f. Evaluasi (70%)
Evaluasi sudah sesuai
dengan tujuan pada
rencana intervensi dan
sudah dicatat.
g. Dokumentasi (100%)
Perawat sudah mencatat
asuhan keperawatan pada
format yang sudah
tersedia, sudah di catat
dengan jelas dan
berkesinambungan pada
shif pagi-sore-malam
6. Defisit perawatan diri - SOP Proses asuhan keperawatan Mengusulkan untuk 100%
Hasil pengkajian: - SAK belum sesuai dengan SOP dan melakukan asuhan
a. Pengkajian (82,5%) SAK keperawatan sesuai dengan
Perawat sudah menuliskan SOP dan SAK
hasil pengkajian pada
format, namum tidak
semua item pengkajian
diisi secara lengkap
91

b. Analisa data
Data subjektif dan data
objektif yang tertulis
dalam analisa data tidak
ada dalam data pengkajian
c. Diagnosa keperawatan
(46,6%)
Perumusan diagnosa
keperawatan tidak sesuai
dengan analisa data.
Diagnosa tidak
diprioritaskan
d. Intervensi (66,6%)
Sudah baku, sesuai format
e. Implementasi (90%)
Beberapa tindakan
keperawatan ada yang
tidak sesuai dengan
rencana intervensi.
f. Evaluasi (70%)
Evaluasi sudah sesuai
dengan tujuan pada
rencana intervensi dan
sudah dicatat.
g. Dokumentasi (100%)
Perawat sudah mencatat
asuhan keperawatan pada
format yang sudah
92

tersedia, sudah di catat


dengan jelas dan
berkesinambungan pada
shif pagi-sore-malam
7. Resiko bunuh diri (RBD) - SOP Proses asuhan keperawatan Mengusulkan untuk 100%
Hasil pengkajian: - SAK belum sesuai dengan SOP dan melakukan asuhan
a. Pengkajian (82,5%) SAK keperawatan sesuai dengan
Perawat sudah menuliskan SOP dan SAK
hasil pengkajian pada
format, namum tidak
semua item pengkajian
diisi secara lengkap
b. Analisa data
Data subjektif dan data
objektif yang tertulis
dalam analisa data tidak
ada dalam data pengkajian
c. Diagnosa keperawatan
(46,6%)
Perumusan diagnosa
keperawatan tidak sesuai
dengan analisa data.
Diagnosa tidak
diprioritaskan
d. Intervensi (66,6%)
Sudah baku, sesuai format
e. Implementasi (90%)
Beberapa tindakan
93

keperawatan ada yang


tidak sesuai dengan
rencana intervensi.
f. Evaluasi (70%)
Evaluasi sudah sesuai
dengan tujuan pada
rencana intervensi dan
sudah dicatat.
g. Dokumentasi (100%)
Perawat sudah mencatat
asuhan keperawatan pada
format yang sudah
tersedia, sudah di catat
dengan jelas dan
berkesinambungan pada
shif pagi-sore-malam
94

BAB IV

ANALISA DATA

A. ANALISA SWOT

No ANALISA SWOT
1. STRENGTH
a. Ruang Shinta sudah memiliki struktur organisasi yang
menunjukkan pembagian tim, dan pembagian pasien.
b. Sudah adanya SAK, SOP, Protap di ruang Shinta yang digunakan
dalam penerapan asuhan keperawatan dan tindakan keperawatan
bagi pasien.
c. Ruang Shinta memiliki sarana dan prasarana yang memadai.
d. Sudah adanya daftar dinas perawat di ruang Shinta.
e. Sudah adanya daftar pasien di ruang Shinta.
f. Tingkat ketergantungan pasien sudah diklasifikasikan sesuai dengan
kebutuhan pasien.
g. Sarana dan prasarana di Ruang Shinta sudah mencukupi dan
memenuhi standar.
h. Sudah adanya sistem pendelegasian di ruang Shinta.
i. Terdapat ... perawat sarjana keperawatan ners di ruang Shinta.
j. Terdapat 1 orang magister keperawatan di Ruang Shinta.
k. Proses komunikasi yang baik antar perawat di ruang Shinta.
2. WEAKNESS
a. Belum adanya visi, misi, motto dan tujuan ruang Shinta.
b. Belum adanya rencana harian karu, katim dan perawat pelaksana.
c. Kegiatan pre conference, post conference dan operan belum
berjalan secara optimal sesuai standar.
d. Kegiatan supervisi dari karu dan katim belum terjadwal.
e. Belum terdokumentasinya hasil supervisi dari karu ke katim dan
dari katim ke perawat pelaksana.
f. Tidak adanya pengakuan MPKP dari bidang keperawatan.
g. Kurangnya keterlibatan perawat pada kegiatan pengembangan
SDM.
3. OPPORTUNITY
a. Adanya visi, misi, motto dan tujuan bidang keperawatan RSJD
Surakarta.
b. Adanya kegiatan supervisi dari bidang keperawatanke semua
bangsal di RSJD Surakarta.
c. Adanya peraturan yang dibuat oleh pihak rumah sakit.
d. Adanya program pelatihan khusus dan seminar intern atau ekstern.
4. THREATMEN
a. Adanya tuntutan dari masyarakat yang lebih tinggi dalam
profesional keperawatan.

100
95

B. PERUMUSAN MASALAH

No Fungsi Data Fokus Masalah


Manajemen
MANAGEMENT APPROACH
1. Perencanaan a. Wawancara Belum adanya
Berdasarkan hasil wawancara kesadaran perawat
dengan karu ruang Shinta untuk mengisi buku
didapatkan informasi bahwa sudah rencana harian
tersedia buku rencan harian jangka jangka pendek yang
pendek tetapi perawat tidak sudah tersedia di
mengisi buku rencana kegiatan ruangan
harian (rencana jangka pendek),
perawat hanya mengikuti rutinitas
yang sudah tertera di ruangan
b. Observasi
Berdasarkan hasil observasi selama
pengkajian di ruang Shinta,
perawat tidak pernah terlihat
membuat rencana harian jangka
pendek
c. Kuisioner
Berdasarkan hasil kuisioner di
ruang Shinta didapatkan hasil
bahwa perawat tidak memiliki
rencana harian jangka pendek
2. Pengarahan a. Wawancara  Belum
 Berdasarkan hasil wawancara berjalannya
dengan karu ruang Shinta kegiatan pre
didapatkan informasi bahwa conference, post
kegiatan pre conference, post conference dan
conference dan operan sudah operan sesuai
tidak berjalan lagi sesuai dengan MPKP
MPKP karena kurangnya  Belum adanya
pengakuan dari pihak form dan
manajemen RS pendokumentasia
 Hasil wawancara dengan an pendelegasian
karu ruang Shinta untuk
kegiatan pendelegasian
belum terdokumentasikan
dengan baik karena belum
adanya format pendelegasian.
b. Observasi
 Berdasarkan hasil observasi
di ruang Shinta didapatkan
bahwa perawat sudah tidak
menjalankan kegiatan pre
conference, post conference
96

dan operan.
 Ruang Shinta belum
memiliki format
pendelegasian.
c. Kuisioner
Berdasarkan hasil kuisioner di
ruang Shinta diperoleh bahwa
kegiatan pre dan post conference
serta operan 0%.
3. Pengendalian a. Wawancara Belum tersedianya
Berdasarkan hasil wawancara form survey
dengan kepala ruang Shinta kepuasan pasien dan
didapatkan bahwa ruang Shinta keluarga serta belum
belum melaksanakan survey berjalannya kegiatan
kepuasan pasien dan keluarga survey kepuasan
serta belum memiliki form survey pasien dan keluarga
kepuasan pasien dan keluarga.
b. Observasi
Berdasarkan hasil observasi di
ruang Shinta didapatkan bahwa
tidak ditemukan form survey
kepuasan pasien dan keluarga.
c. Kuisioner
Berdasarkan hasil kuisioner
didapatkan bahwa kegiatan
survey kepuasan pasien dan
keluarga sebesar 0%.

C. SCORING MASALAH

No Masalah Mg Sv Mn Nc Af Skor Prioritas


1. Rencana harian 5 3 4 4 4 960 5
2. Conference (pre dan
4 4 5 5 4 1600 3
post conference)
3. Operan 5 5 5 5 5 3125 1
4. Survey kepuasan
keluarga, pasien dan 5 4 5 4 5 2000 2
perawat
5. Pendelegasian 4 3 5 4 5 1200 4

Keterangan
Mg : kecenderungan besar dan seringnya kejadian masalah
Sv : besarnya kerugian yang ditimbulkan
Mn : dilihat dari kemungkinan masalah dapat dipecahkan
Nc : melibatkan pertimbangan dan perhatian perawat
Af : ketersediaan sumber daya
97

Skor
5 : sangat penting
4 : penting
3 : cukup penting
2 : kurang penting
1 : sangat kurang penting
130

D. POA

PLANNING OF ACTION

Ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta

Tujuan Tempat dan


No Masalah Rencana tindakan Sasaran Target PJ
Tujuan Umum Tujuan Khusus waktu
1 Penerapan 1. Sosialisasi Perawat mampu 1. Perawat dapat Semua 1. Ruang Shinta, Pelaksanaan Laelatul
kegiatan MPKP tentang melaksanakan menyebutkan staf tanggal 26 dokumentasi dan Tia
belum optimal penerapan pre, mekanisme pre, tujuan dari pre perawat juni 2012: dan simulasi S.
(pre, post post post conference dan post sosialisasi dapat
conference, conference, dan operan conference, dan membuat mencapai
operan operan keperawatan operan atau jadawal pre optimal
keperawatan) keperawatan dengan optimal. timbang terima dan post (100%)
2. Membuat keperawatan conference,
jadwal dan yang operan
melaksanakan dilaksanakan keperawatan
bersama-sama 2. Perawat dapat 2. Ruang Shinta,
pre dan post mendemonstras tanggal 26
conference ikan pre dan Juni 2012:
dan operan post pelaksanaan
keperawatan conference, pre dan post
timbang terima conference,
atau operaran operan
keperawtan keperawatan
sesuai standar. yang telah
disepakati
131

3. Perawat dapat
melaksanakan
dan
membiasakan
pre dan post
conference dan
operan secara
rutin setiap
hari.
2 Survey 1. Pengadaan Perawat mampu 1. Perawat bisa Semua 1. Ruang Shinta, Pelaksaan Herawati
kepuasaan format survey meningkatkan melakukan staf tanggal 26 survey dan
keluarga, kepuasaan mutu pelayanan survey kepada perawat Juni 2012: mutu
pasien dan keluarga, kepada pasien keluarga, pengadaan pelayanan
perawat pasien dan pasien dan format survey kepada
perawat. perawat kepuasaan keluarga dapat
2. Pembuatan sendiri. keluarga, dilaksanakan
leaflet dan 2. Perawat bisa pasien dan secara optimal
lembar balik 7 memberikan perawat (100%)
diagnosa penyuluhan serta
keperawatan kesehatan baik ,elakukan
jiwa. kepada survey
keluarga tersebut
pasien maupun 2. Tanggal 6 Juli
pasien sendiri 2012:
Pengadaan
leaflet dan
lembar balik
7 diagnosa
132

keperawatan.
3 Pendelegasian 1. Pengadaan Kepala ruang 1. Pendelegasian Kepala 1. Ruang Shinta Tugas Mahacak
surat mampu di ruangan ruang tanggal 27 pendelegasian ri
pendelegasian melakukan Shinta menjadi Juni 2012: bisa dilakukan
2. Motivasi untuk pendelegasian jelas dengan pengadaan sesuai
mempertahank secara formal adanya surat surat standar(100%).
an systemdidalam ruangan resmi pendelegasia
pendelegasian sesuai standar. pendelegasian n tugas.
yang sudah 2. Mempermudah
sesuai standar. melakukan
evaluasi hasil
dari
pendelegasian.
4 Rencana harian 1. Mengusulkan Perawat mampu 1. Perawat Semua 1. Ruang Pembuatan Astri dan
adanya membuat rencana mampu staf Shinta, rencana harian D.
rencana harian di ruangan membuat perawat tanggal 26 dialkukan yuliastuti
harian. Shinta setiap hari rencana harian Juni 2012: secara optimal
2. Membuat dan pasien memberikan setiap hari
format melaksanakannya 2. Kegiatan contoh (100%).
rencana secara terjadwal harian pasien membuat
harian. menjadi jelas rencana
3. Memotivasi dan susuai harian.
semua staf jadwal
perawat untuk
menbuat
rencana
harian.
132

BAB V

PEMBAHASAN

A. KESENJANGAN TEORI

1. Pre conference dan Post conference

a. Definisi Pre dan Post Conference

Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap

hari. Konferensi dilakukan sebelum atau setelah melakukan operan

dinas, sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas perawatan

pelaksanaan. konference sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri

sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar. Konferensi terdiri dari

pre conference dan post conference yaitu :

1) Pre Conference

Pre conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana

setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut

yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim. Jika

yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang, maka pre

conference ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana tiap

perawat (rencana harian), dan tambahan rencana dari katim dan

PJ tim (Modul MPKP, 2006).

Waktu : setelah operan

Tempat : Meja masing – masing tim

Penanggung jawab : Ketua tim atau Pj tim


133

Kegiatan :

a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara

b) Ketua tim atau pj tim menanjakan rencana harian masing –

masing perawat pelaksana

c) Ketua tim atau Pj tim memberikan masukan dan tindakan

lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu.

d) Ketua tim atau Pj tim memberikan reinforcement

e) Ketua tim atau Pj tim menutup acara

2) Post Conference

Post conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana

tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada

shift berikut. Isi post conference adalah hasil askep tiap perawatan

dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post conference

dipimpin oleh katim atau Pj tim (Modul MPKP, 2006).

Waktu :Sebelum operan ke dinas berikutnya.

Tempat : Meja masing – masing tim.

Penanggung jawab : ketua tim atau Pj tim

Kegiatan :

a) Ketua tim atau Pj tim membuka acara.

b) Ketua tim atau Pj tim menanyakan kendala dalam asuhan

yang telah diberikan.

c) Ketua tim atau Pj tim yang menanyakan tindakan lanjut

asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift

berikutnya.
134

d) Ketua tim atau Pj menutup acara.

b. Tujuan Pre dan Post Conference

Secara umum tujuan konferensi adalah untuk menganalisa

masalah-masalah secara kritis dan menjabarkan alternatif penyelesaian

masalah, mendapatkan gambaran berbagai situasi lapangan yang dapat

menjadi masukan untuk menyusun rencana antisipasi sehingga dapat

meningkatkan kesiapan diri dalam pemberian asuhan keperawatan dan

merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan perubahan non

kognitif (McKeachie, 1962).

Pre dan Post Conference juga membantu koordinasi dalam

rencana pemberian asuhan keperawatan sehingga tidak terjadi

pengulangan asuhan, kebingungan dan frustasi bagi pemberi asuhan

(T.M.Marelli, et.al, 1997).

1) Tujuan pre conference adalah:

a) Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien,

merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi hasil

b) Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan

c) Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan

pasien

2) Tujuan post conference adalah:

Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian

masalah dan membandingkan masalah yang dijumpai.


135

c. Syarat Pre dan Post Conference

1) Pre conference dilaksanakan sebelum pemberian asuhan

keperawatan dan post conference dilakukan sesudah pemberian

asuhan keperawatan

2) Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit

3) Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya tentang keadaan

pasien, perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu

ditambahkan

4) Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan, ketua tim

dan anggota tim

d. Panduan perawat pelaksanaan dalam melaksanakan konferensi

Adapun panduan bagi PP dalam melakukan konferensi adalah sebagai

berikut: (Ratna Sitorus, 2006).

1) Konferensi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan

pergantian dinas pagi atau sore sesuai dengan jadwal perawatan

pelaksana.

2) Konferensi dihadiri oleh perawat pelaksana dan PA dalam timnya

masing – masing.

3) Penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil

evaluasi kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas

malam.

Hal hal yang disampaikan oleh perawat pelaksana meliputi :

a) Keadaan klien

b) Keluhan klien
136

c) TTV

d) Hasil pemeriksaan laboraturium atau diagnostic terbaru.

e) Masalah keperawatan

f) Rencana keperawatan hari ini.

g) Perubahan keadaan terapi medis.

h) Rencana medis.

4) Perawat pelaksana mendikusikan dan mengarahkan perawat

asosiet tentang masalah yang terkait dengan perawatan klien yang

meliputi :

a) Klien yang terkait dengan pelayanan seperti : keterlambatan,

kesalahan pemberian makan, kebisikan pengunjung lain,

kehadiran dokter yang dikonsulkan.

b) Ketepatan pemberian infuse.

c) Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran cairan.

d) Ketepatan pemberian obat / injeksi.

e) Ketepatan pelaksanaan tindakan lain,

f) Ketepatan dokumentasi.

5) Mengiatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan.

6) Mengiatkan kembali tentang kedisiplinan, ketelitian, kejujuran

dan kemajuan masing–masing perawatan asosiet.

7) Membantu perawatan asosiet menyelesaikan masalah yang tidak

dapat diselesaikan.

Tahap – tahap inilah yang akan dilakukan oleh perawat – perawat

ruangan ketika melakukan pre conference


137

e. Kesenjangan data dengan teori

Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%, hasil

ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pre-conference masih kurang

maksimal. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain:

1) Menyiapkan tempat untuk pre coference

2) Menjelaskan tujuan dilakukan post

conference

3) Memandu pelaksanaan pre conference

4) Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan

asuhan keperawatan pasien/tindakan

5) Memotivasi untuk memberikan tanggapan

dan penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan

6) Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk

melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi

tanggung jawabnya, menyimpulkan hasil pre conference.

Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 0%, hasil

ini menunjukkan bahwa pelaksanaan post-conference masih kurang

maksimal. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain:

1) Menyiapkan tempat

untuk post coference

2) Menjelaskan tujuan

dilakukan post conference,


138

3) Menerima penjelasan

dari PA tentang hasil tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah

dilakukan

4) Mendiskusikan masalah

yang telah ditemukan dalam memberikan askep pada pasien dan

mencari upaya penyelesaian masalah,

5) Menyimpulkan hasil

post conference, mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan

tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde keperawatan).

2. Pendelegasian

a. Definisi Pendelegasian

Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melalui orang lain

agar aktifitas organisasi tetap berjalan. Penerapan delegasi di MPKP

dalam bentuk pendelegasian tugas oleh kepala ruangan kepada ketua

tim dan ketua tim kepada perawat pelaksana. Pendelegasian dilakukan

melalui mekanisme pelimpahan tugas dan wewenang.

Pendelegasian tugas dilakukan secara berjenjang yang

penerapanya dibagi menjadi 2 jenis, yaitu pendelegasian terencana dan

pendelegasian insidentil.

1) Pendelegasian terencana adalah pendelegasian yang secara

otomatis terjadi sebagai konsekuensi sistem penugasan yang

diterapkan diruang MPKP. Bentuknya antara lain adalah :


139

a) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada ketua tim untuk

menggantikan tugas sementara tugas kepala ruang karena

alasan tertentu

b) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada penanggung jawab

shif

c) Pendelegasian ketua tim kepada perawat pelaksana dalam

pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan.

2) Pendelegasian insidentil, yang terjadi apabila salah satu personil

ruang MPKP berhalangan hadir, sehingga pendelegasian tugas

harus dilakukan. Dalam hal ini yang mengatur pendelegasian

adalah kepala seksi perawatan, kepala ruangan, ketua tim atau

penanggung jawab shif dan tergantung pada personil yang

berhalangan.

b. Prinsip Pendelegasian

Prinsip pendelegasian tugas di MPKP antara lain adalah :

1) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian

2) Personil yang menerima pendelegasian adalah personel yang

berkompetemen dan setara dengan kemampuan yang digantikan

tugasnya

3) Uraian tugas yang didelegasikan harus dijelaskan secara verbal,

terinci dan tertulis

4) Pejabat yang mengatur pendelegasian wajib memonitor

pelaksanaan tugas dan menjadi rujukan bila ada kesulitan yang

dihadapi
140

5) Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang

sudah dilaksanakan dan hasilnya

c. Mekanisme Pendelegasian

Mekanisme yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Bila kepala ruangan berhalangan, kepala seksi menunjuk salah satu

ketua tim untuk menggantikan tugas kepala ruang.

2) Bila ketua tim berhalangan hadir, maka kepala ruangan menunjuk

salah satu anggota tim (perawat pelaksana) menjalankan tugas

ketua tim.

3) Bila ada perawat pelaksana yang berhalangan hadir, sehingga satu

tim kekurangan personil maka kepala ruangan berwenang

memindahkan perawat pelaksana dari tim lain masuk tim yang

kekurangan personiltersebut atau katim melimpahkan pasien

kepada perawat pelaksana yang hadir.

d. Panduan Pendelegasian

Pendelegasian dilaksanakan melalui proses sebagai berikut:

1) Buat rencana tugas yang perlu dituntaskan

2) Identifikasi ketrampilan dan tingkat pendidikan yang diperlukan

untuk melaksanakan tugas

3) Pilih orang yang mampu melaksanakan tugas yang didelegasikan

4) Komunikasikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan dan apa

tujuaanya

5) Buat batasan waktu dan monitor penyelesaian tugas


141

6) Jika bawahan tidak mampu melaksanakan tugas karena

menghadapi masalah tertentu, manajer harus bisa menjadi model

peran dan menjadi narasumber untuk menyelesaikan masalah yang

terjadi

7) Evaluasi kinerja setelah tugas selesai

8) Pendelegasian terdiri dari tugas dan kewenangan

Kesenjangan data dengan teori

Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 83%, hasil ini

menunjukkan bahwa pelaksanaan pendelegasian di ruang Shinta sudah cukup

baik. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain:

1) Pembuatan rencana tugas yang perlu dituntaskan,

2) Adanya evaluasi kinerja setelah tugas selesai

3) Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian.

3. Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga

Menurut Soejadi (1996), pasien atau klien merupakan individu

terpenting dirumah sakit sebagai konsumen sekaligus sasaran produk

rumah sakit. Didalam suatu proses keputusan, konsumen yaitu pasien,

tidak akan berhenti hanya sampai proses penerimaan pelayanan. Pasien

akan mengevaluasi pelayanan yang diterimanya tersebut. Hasil dari proses

evaluasi itu akan menghasilkan perasaan puas atau tidak puas (Sumarwan,

2003). Kotler (1997) menyatakan bahwa kepuasan adalah tingkat keadaan

yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan


142

penampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam hubungannya

dengan harapan seseorang (Sumarwan, 2003).

Kepuasan pasien dapat berhubungan dengan berbagai aspek

diantaranya mutu pelayanan yang diberikan, kecepatan pemberian layanan,

prosedur serta sikap yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan itu

sendiri (Anwar, 1998 dalam Awinda, 2004).

Kepuasan pasien adalah tingkat kepusan dari persepsi pasien

dan keluarga terhadap pelayanan kesehatan dan merupakan salah satu

indikator kinerja rumah sakit. Bila pasien menunjukkan hal-hal yang bagus

mengenai pelayanan kesehatan terutama pelayanan keperawatan dan

pasien mengindikasikan dengan perilaku positifnya, maka dapat kita tarik

kesimpulan bahwa pasien memang puas terhadap pelayanan tersebut

(Purnomo, 2002).

Kesenjangan data dengan teori

Berdasarkan hasil observasi tingkat kepuasan keluarga dan pasien didapatkan

nilai sebesar 16,78% dan 21,52% terhadap perawatan di ruang Shinta, hasil

ini menunjukkan bahwa kepuasan terhadap pelayanan di ruang Shinta sudah

cukup baik. Beberapa hal yang masih memerlukan perbaikan antara lain:

1) Pemberian informasi yang jelas kepada keluarga mengenai

perkembangan dan kondisi pasien selama di rawat di rumah sakit

2) Pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga dari pihak Rumah

Sakit

3) Pendekatan perawat terhadap pasien dan keluarga pasien


143

4. Rencana Harian Kepala Ruang, Kepala Tim dan Perawat Pelaksana

Rencana harian adalah rencana aktifitas pada tiap shift yang

dilakukan oleh perawat asosiet/perawat pelaksana, perawat primer/ketua

tim dan kepala ruangan. Rencana harian dibuat sebelum operan dilakukan

dan dilengkapi pada saat operan dan pre conference.

a. Rencana harian kepala ruangan


Isi kegiatan harian kepala ruangan meliputi semua kegiatan

yang dilakukan oleh seluruh SDM yang ada di ruangan dalam rangka

menghasilkan pelayanan asuhan keperawatan yang berkualitas.

Kepala ruangan harus mengetahui kebutuhan ruangan dan mempunyai

hubungan keluar dengan unit yang terkait untuk memenuhi kebutuhan

tersebut. Demikian pula dengan asuhan keperawatan, kepala ruangan

sebagai narasumber utama atau konsultan untuk menjamin

terlaksananya asuhan keperawatan pada semua tim di ruangan.Berikut

isi rencana harian kepala ruangan meliputi :


1) Asuhan keperawatan
2) Supervisi Katim dan perawat pelaksana
3) Supervisi tenaga selain perawat
4) Kerja sama dengan unit yang terkait
b. Rencana Harian Ketua Tim
Isi rencana harian ketua tim antara lain adalah:
1) penyelenggaraan asuhan keperawatan pada pasien di timnya,
2) Melakukan supervisi perawat pelaksana untuk menilai

kompetensi secara langsung dan tidak langsung, serta on the job

trainning yang dirancang,


3) Kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya.
4) Ketua tim sebaiknya hanya dinas pagi, karena pada pagi hari

banyak kegiatan atau tindakan yang dilakukan dan merencanakan

kegiatan sore dan malam.


144

c. Rencana Harian Perawat Pelaksana


Isi rencana harian perawat pelaksana adalah tindakan

keperawatan untuk sejumlah klien yang dirawat pada shif dinasnya.

Rencana harian perawat pelaksana shif sore dan malam agak berbeda

jika hanya satu orang dalam satu tim maka perawat tersebut berperan

sebagai ketua tim dan perawat pelaksana sehingga tidak ada kegiatan

pre dan post conference. Perawat pelaksana akan membuat rencana

yang ditujukan pada tindakan keperawatan untuk sejumlah pasien

yang dirawat pada shift dinasnya.


Rencana Catatan harian Perawat Pelaksana/Assosiet (PP/PA)

pada shift sore dan malam agak berbeda jika hanya 1 (satu) orang

dalam satu tim. Perawat tersebut akan berperan sebagai ketua tim dan

PA/PP, sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference

Kesenjangan data dengan teori

Berdasarkan hasil observasi didapatkan nilai sebesar 100%, hasil ini

menunjukkan bahwa pelaksanaan pembuatan rencana harian perawat

di ruang Shinta sudah baik. Beberapa hal yang masih memerlukan

perbaikan antara lain:

1) Pembuatan rencana harian yang masih perlu disosialisasikan

kepada perawat yang belum memahami cara pembuatannya.

2) Pemberian reward kepada perawat yang sudah konsisten dengan

pembuatan rencana harian.

3) Melakukan kontrol dan monitor terhadap pembuatan rencana

harian pada masing-masing individu perawat.

B. ANALISIS
a. Pre dan Post Conference
145

Tabel 4.2 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta


No OBSERVASI
VARIABEL YANG DINILAI
SL SR KD TP
1. Menyiapkan tempat untuk pre coference √
2. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √
tanggung jawab
3. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √
4. Memandu pelaksanaan pre conference √
5. Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan rencana √
keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya
6. Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √
dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan kerja
7. Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan asuhan √
keperawatan pasien/tindakan
8. Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √
penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan
9. Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk melaksanakan √
asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi tanggung
jawabnya.
10 Memberikan reinforcemen positif pada PA √
11 Menyimpulkan hasil post conference √
JUMLAH 0 3 3 5

Tabel 4.3 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta


OBSERVASI
No VARIABEL YANG DINILAI S
SR KD TP
L
1. Menyiapkan tempat untuk post coference √
2. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √
tanggung jawab
3. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √
4. Menerima penjelasan dari PA tentang hasil √
tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan
5. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan dalam √
memberikan askep pada pasien dan mencari upaya
penyelesaian masalah
6. Memberi reinforcemen pada PA √
7. Menyimpulkan hasil post conference √
8. Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan operan √
tugas jaga shift berikutnya (melakukan ronde
keperawatan)
JUMLAH 0 2 5 1
a. Faktor Pendukung dan Kendala pre post conference

1) Faktor Pendukung
146

a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka. Ru, Ka.Tim dan

staf ruangan

b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III

Keperawatan

c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan

MPKP model MTM

2) Faktor Kendala

a) Antusiasme KaRu, KaTim dan Staf dalam pelaksanaan dokumentasi

asuhan keperawatan kurang

b) Kedisiplinan perawat yang kurang berkaiatan dengan jam datang dan

pulang kerja.

c) Kurangnya kesadaran dari beberapa perawat tentang pentingnya pre

conference dan post conference

d) Belum adanya standar operasional pre conference dan post conference

yang ditetapkan oleh rumah sakit

3) Kesinambungan

a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang keperawatan

untuk penggunaan standar operasional pre conference dan psot

conference yang akan dipakai RSJ Daerah Surakarta

b)Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat

khususnya ruang Shinta tentang pre conference dan post conference

c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan pre

conference dan post conference pada tiap shift

d)Perlunya panduan, sosialisasi dan bimbingan dalam pelaksanaan pre


147

conference dan post conference

e) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pre conference dan post

conference secara periodic.

2. Pendelegasian

Tabel 4.2 Pelaksanaan Pendelegasian Ruang Shinta RSJD Surakarta


Skor
No Pernyataan Pendelegasian
Karu Katim Katim
Pendelegasian dilakukan kepada staf yang memiliki
1 kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan 4 3 3
tugas
Tugas yang dilimpahkan dijelaskan sebelum
2 4 4 4
melakukan pendelegasian
Selain pelimpahan tugas, kewenangan juga
3 3 4 4
dilimpahkan
4 Waktu pendelegasian tugas ditentukan 3 3 3
Apabila si pelaksana tugas mengalami kesulitan,
5 Karu, Katim memberikan arahan untuk mengatasi 3 3 3
masalah
6 Ada evaluasi setelah selesai tugas dilaksanakan 2 3 3
Sub Total 19 20 20

a. Faktor Pendukung dan Kendala Pelaksanaan Pendelegasian


1) Faktor

Pendukung

a) Kerjasama dan dukungan yang baik dari pihak Ka. Ru, Ka.Tim dan staf

ruangan

b) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III

Keperawatan

c) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan

MPKP model MTM

2) Faktor Kendala

a) Adanya agenda yang tidak terduga


148

b) Kesibukan individu dan ruangan untuk menjalankan rapat evaluasi hasil

kegiatan pendelegasian

c) Surat pendelegasian biasanya diberikan hanya untuk kegiatan di luar

Rumah Sakit saja.

3) Kesinambungan

a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi dari bidang

keperawatan untuk penggunaan surat pendelegasian yang akan dipakai

RSJ Daerah Surakarta

b) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh

perawat khususnya ruang Shinta tentang adanya rapat evaluasi hasil

setiap kegiatan yang didelegasikan.

c) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk

melaksanakan pendelegasian secara resmi, dengan menggunakan surat

pendelegasian.

3. Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga

Penilaian Kepuasan Keluarga


RESPONDEN
NO KOMPONEN
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Perawat bersikap sopan 3 4 4 3 3 3 4 4
2. Perawat berpenampilan rapi 3 4 4 3 3 4 4 3
Perawat menggali informasi dari
3. 4 3 4 3 4 4 4 3
keluarga
Perawat memberikan informasi
4. 3 3 4 4 4 4 2 2
mengenai masalah yang dihadapi pasien
Perawat memberikan informasi
5. mengenai tindakan yang akan dilakukan 3 3 4 3 3 3 2 3
kepada pasien ( inform consent )
Perawat menjelaskan perkembangan
6. 3 3 4 3 3 3 2 3
pasien
7. Perawat melakukan penyuluhan kepada 3 3 3 4 3 3 3 2
keluarga mengenai cara perawatan yang
149

harus dilakukan keluarga dirumah


Perawat menyiapkan keperluan pulang
8. pasien yang meliputi jadwal kegiatan 3 4 4 4 3 4 3 3
harian dan sisa obat
9. Perawat menjelaskan waktu kontrol 3 4 4 4 3 4 3 2
Perawat memberikan pesanan pulang
10. 3 4 4 3 4 3 3 2
yang mudah dimengerti
Perawat memberikan penjelaskan
11. rujukan yang bisa digunakan bila ada 3 4 4 3 3 3 3 2
yang perlu dikonsulkan
Perawat membantu keluarga untuk
12. 4 3 4 2 3 2 4 3
konsul dokter
3 4 4 3 3 4 3 31
JUMLAH
8 1 7 9 9 0 7
TOTAL NILAI 312
Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012.
Keterangan: 4 (sangat setuju), 3 (setuju), 2 (tidak setuju), 1 (sangat tidak setuju)
Perhitungan:
Total skor x 100%
n x item x skore tertinggi

= 312 x100% = 312 x 100% = 81,25%


8 x 12 x 4 384

Penilaian Kepuasan Klien


RESPONDEN
NO KOMPONEN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Perawat menyambut dengan
1. 3 4 4 3 4 4 4 3 4 3
ramah ketika Saudara datang
2. Perawat memperkenalkan diri 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4
Perawat menjelaskan sarana di
3. ruangan yang dapat 4 3 3 3 4 4 3 4 3 4
dimanfaatkan
Perawat menjelaskan aturan-
4. aturan yang berlaku selama 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4
perawatan
Perawat menanyakan masalah-
masalah yang saudara alami
5. 3 3 3 3 4 4 2 3 3 4
terkait dengan kondisi
kesehatan saudara
Perawat menjelaskan masalah
6. 3 3 3 3 4 4 2 3 4 4
kesehatan yang saudara alami
Perawat membicarakan tujuan
7. perawatan yang hendak 3 3 4 3 4 4 2 3 3 3
dicapai
8. Perawat meminta pendapat 3 4 4 3 4 3 2 2 3 3
150

saudara dalam merancang


tindakan yang akan diberikan
kepada saudara
Perawat menjelaskan kegiatan
9. yang harus dilatih untuk 3 4 4 3 4 4 3 2 4 3
dilakukan secara mandiri
Perawat melakukan
10. penyuluhan kesehatan untuk 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3
mengatasi masalah saudara
Perawat membantu memenuhi
kebutuhan dasar saudara
11. 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3
(makan, mandi) ketika saudara
mengalami kesulitan
Perawat mau mendengarkan
12. 4 3 4 3 4 3 3 3 3 4
keluhan saudara dengan sabar
Perawat segera menanggapi
13. 4 3 4 3 3 3 3 3 4 4
keluhan saudara
Perawat mendampingi
14. saudara ketika dilakukan 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4
pemeriksaan dokter
Perawat menjaga privasi
15 saudara saat melakukan 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3
tindakan keperawatan
Perawat selalu membuat
16. 4 3 4 3 4 3 2 4 4 3
perjanjian dengan saudara
Perawat selalu menepati
17. 4 3 4 3 3 3 3 3 4 4
janji yang ditetapkan
18. Perawat bersikap sopan 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3
19. Perawat berpenampilan rapi 4 4 4 3 4 4 3 4 3 3
Perawat menjelaskan
20. kegiatan yang harus saudara 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4
lakukan di rumah
Perawat menjelaskan obat-
21. obatan yang harus 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4
diteruskan di rumah
Perawat menjelaskan waktu
22. 3 3 2 3 4 4 3 3 3 4
kontrol
7 7 7 6 8 8 6 7
JUMLAH 73 78
5 7 9 6 4 1 1 3
TOTAL NILAI 747
Sumber : Hasil observasi tanggal 21 juni-03 Juli 2012.

Keterangan: 4 (sangat setuju), 3 (setuju), 2 (tidak setuju), 1 (sangat tidak setuju)


Perhitungan:
Total skor x 100%
n x item x skore tertinggi
151

= 751 x100% = 747 x 100% = 84,87%


10 x 22 x 4 880

a. Faktor Pendukung

dan Kendala Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga


1) Faktor Pendukung
a. Hubungan

perawat dengan pasien dan keluarga pasien baik


b. Tingkat

pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III

Keperawatan
c. Model

asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan MPKP

model MTM
2) Faktor Kendala
Belum adanya standar operasional untuk lembar survey kepuasan

pasien dan keluarga di ruangan Shinta


3) Kesinambungan
a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat

khususnya ruang Shinta tentang survey kepuasan pasien dan

keluarga, terutama pasien yang akan pulang.

b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan

survey kepuasan pasien dan keluarga setiap ada kunjungan keluarga

pasien.

c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan survey

kepuasan pasien dan keluarga terutama kepada pasien yang pulang.

4. Rencana Harian

Penilaian Rencana Harian


No Aspek yang Dinilai Karu Katim Katim
1 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas 0 0 0
2 Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian 0 0 0
3 Urutan kegiatan disusun secara kronologis 0 0 0
152

4 Tercantum kegiatan manajerial 0 0 0


5 Tercantum kegiatan asuhan 0 0 0
6 Rencana Harian dikerjakan secara konsisten 0 0 0
Total Skor 0

b. Faktor Pendukung dan Kendala Pembuatan Rencana Harian


1) Faktor Pendukung
a) Tingkat pendidikan sebagian besar perawat di Ruang Shinta D III

Keperawatan
b) Model asuhan keperawatan yang sudah diterapkan menggunakan

MPKP model MTM


2) Faktor Kendala
Kesibukan masing-masing individu dalam pembuatan rencana harian,

kurangnya reward yang diberikan ruangan kepada perawatnya.


3) Kesinambungan

a) Perlunya komitmen dan persamaan persepsi seluruh perawat

khususnya ruang Shinta tentang pembuatan rencana harian untuk

setiap kali berangkat dinas.

b) Perlu peningkatan kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan

pembuaran rencana harian masing-masing individu.

c) Perlunya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembuatan

rencana harian masing-masing individu.

C. PENYELESAIAN MASALAH
1. Pre dan Post Conference

Tabel 4.6 Langkah Pelaksanaan Pre Conference dan Post Conference


Asuhan Keperawatan Di Ruang Shinta RSJD Surakarta
No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu Tempat
A. Persiapan
1. Mengobservasi Mahasiswa KaRu, Mengetahui Ruang
pelaksanaan pre Profesi ners KaTim, PA hasil Shinta
conference dan UNSOED Pelaksanaan
post conference pre
conference
dan post
153

conference
2. Study kepustakaan Mahasiswa Materi Pre Mendapat Ruang
dan persiapan Profesi ners conference sumber Shinta
materi tentang pre UNSOED dan post Pustaka yang
conference dan conference mendukung
post conference penyusunan
standar
operasional
3. Koordinasi dengan Mahasiswa KaRu, Menyamakan Ruang
Ka Ru, PN dan PA Profesi ners KaTim, PA persepsi Shinta
UNSOED antara kepala
ruang, primer
nursing dan
perawat
asosiet
B. Pelaksanaan
1. Menjadi role Mahasiswa KaRu, Pelaksanan Ruang
model, pre Profesi ners KaTim, PA pre Shinta
conference dan UNSOED conference
post conference dan post
conference
C Evaluasi
1. Mengevaluasi pre Mahasiswa KaRu, Mengevaluasi Ruang
conference dan Profesi ners KaTim, PA pelaksanan Shinta
post conference UNSOED pre
bersama Ka Ru, PN conference
dan AN dan post
conference

Tabel 4.6 Pelaksanaan Pre Conference Ruang Shinta RSJD Surakarta setelah
intervensi
No OBSERVASI
VARIABEL YANG DINILAI
SL SR KD TP
1. Menyiapkan tempat untuk pre coference √
2. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √
tanggung jawab
3. Menjelaskan tujuan dilakukan pre conference √
4. Memandu pelaksanaan pre conference √
5. Menjelaskan masalah keperawatan pasien dan √
rencana keperawatan yang menjadi tanggung
jawabnya
6. Membagi tugas pada PA sesuai kemampuan yang √
dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan
kerja
154

7. Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan √


asuhan keperawatan pasien/tindakan
8. Memotivasi untuk memberikan tanggapan dan √
penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan
9. Mengklarifikasikan kesiapan PA untuk √
melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien
yang menjadi tanggung jawabnya.
10 Memberikan reinforcemen positif pada PA √
11 Menyimpulkan hasil pre conference √
JUMLAH 8 3 0 0

Tabel 4.7 Pelaksanaan Post Conference Ruang Shinta RSUD Goeteng


Taroenadibrata Purbalingga Periode Maret 2012 setelah intervensi
OBSERVASI
No VARIABEL YANG DINILAI
SL SR KD TP
1. Menyiapkan tempat untuk post coference √
2. Menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi √
tanggung jawab
3. Menjelaskan tujuan dilakukan post conference √
4. Menerima penjelasan dari PA tentang hasil √
tindakan/hasil asuhan keperawatan yang telah
dilakukan
5. Mendiskusikan masalah yang telah ditemukan √
dalam memberikan askep pada pasien dan
mencari upaya penyelesaian masalah
6. Memberi reinforcemen pada PA √
7. Menyimpulkan hasil post conference √
8. Mengklarifikasi pasien sebelum melakuakan √
operan tugas jaga shift berikutnya (melakukan
ronde keperawatan)
JUMLAH 2 6 0 0

Tabel 4.7 Perbandingan pre conference dan post conference sebelum dan setelah
intervensi
Variabel Sebelum Sesudah selisih
Pre Conference 0% 100% 100%
Post Conference 0% 100% 100%

Berdasarkan hasil observasi sebelum dilakukan intervensi pre dan post

conference di ruang Shinta didapatkan hasil 0%, sebelumnya ruang Shinta rutin

menjalankan pre dan post conference, namun karena kurangnya reward dari

kepala ruang dan kesibukan masing-masing individu akhirnya pre dan post

conference sudah tidak di jalankan secara rutin lagi.


155

Selisih nilai observasi sebelum dan sesudah intervensi 100%, artinya

setelah ada intervensi ruang Shinta mengalami peningkatan, setiap hari

menjalankan pre dan post conference secara teratur dan berjalan dengan lancar.

Perlu adanya motivasi agar pre dan post conference di ruang Shinta bisa kembali

berjalan secara rutin.

2. Survey kepuasan keluarga dan pasien


Tabel 4.4 Langkah Pelaksanaan survey kepuasan keluarga dan pasien
di Ruang Shinta RSJ Daerah Surakarta
No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu Tempat
A. Persiapan
1. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu, Mengetahui Ruang
survey kepuasan Profesi ners KaTim. hasil Shinta
keluarga UNSOED survey
2. Studi literatur Mahasiswa Materi survey Mendapat Ruang
mengenai survey Profesi ners kepuasan sumber Shinta
kepuasan keluarga UNSOED pelanggan pustaka yang
dan pasien (keluarga dan mendukung
pasien) penyusunan
survey
kepuasan
pasien dan
keluarga
3. Melakukan Mahasiswa KaRu Tersusunnya Ruang
koordinasi tentang Profesi ners form survey Shinta
pembuatan form UNSOED kepuasan
survey kepuasan pasien dan
pasien dan keluarga keluarga
B. Pelaksanaan
1. Sosialisasi Mahasiswa KaRu, Perawat Ruang
penggunaan form Profesi ners KaTim, PA R.Shinta dapat Shinta
survey kepuasan UNSOED mengetahui
panilaian
kepuasan
pasien dan
keluarga.
2. Aplikasi survey Mahasiswa Keluarga Ruang
kepuasan pasien Profesi ners pasien dan Shinta
dan keluarga saat UNSOED pasien.
pasien akan pulang.
C Evaluasi
1. Evaluasi tingkat Mahasiswa Mengetahui Ruang
156

kepuasan keluarga Profesi ners tingkat Shinta


dan pasien di ruang UNSOED kepuasan
Shinta. keluarga dan
pasien
terhadap
perawatan di
ruang Shinta

Tabel 4.5 Penilaian tingkat kepuasan keluarga dan pasien terhadap perawatan di
ruang Shinta sebelum dan sesudah intervensi
Variable Sebelum Sesudah Selisih
Kepuasan pasien 83,22 % 100% 16.78%
Kepuasan keluarga 78,48 % 100% 21.52%
Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa nilai survey kepuasan

pasien dan keluarga sebesar 83,22% dan 78,48%, selisih sebelum dan sesudah

dilakukan intervensi dan pengadaan form survey kepuasan pasien dan keluarga

yaitu 16,78% dan 21,52%. Terjadi peningkatan 100% pada masing-masing

variabel.

Berdasarkan observasi setelah intervensi diharapkan dengan adanya

pengadaan form resmi untuk survey kepuasan pasien dan keluarga di ruang

Shinta dapat diaplikasikan secara berkelanjutan.

3. Pendelegasian
Tabel 4.4 Langkah Pengadaan Surat Pendelegasian di Ruang Shinta RSJ
Daerah Surakarta
No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu Tempat
A. Persiapan
1. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu, Mengetahui Ruang
pendelegasian Profesi ners KaTim. pelaksanaan Shinta
UNSOED pendelegasian
yang sudah
berjalan
2. Studi literatur Mahasiswa KaRu Mendapat sumber Ruang
mengenai Profesi ners dan pustaka yang Shinta
pendelegasian UNSOED KaTim mendukung
penyusunan surat
pendelegasian
3. Melakukan Mahasiswa KaRu Tersusunnya form Ruang
koordinasi tentang Profesi ners pendelegasian Shinta
157

pembuatan form UNSOED


pendelegasian

B. Pelaksanaan
1. Sosialisasi Mahasiswa KaRu, Perawat R.Shinta Ruang
penggunaan form Profesi ners KaTim, dapat mengetahui Shinta
pendelegasian UNSOED PA cara pelaksanaan
pendelegasian
secara formal
2. Aplikasi Mahasiswa KaTim Ruang
pendelegasian Profesi ners Shinta
UNSOED
C Evaluasi
1. Evaluasi Mahasiswa KaRu Mengetahui Ruang
pelaksanaan Profesi ners dan manfaat surat Shinta
pendelegasian UNSOED KaTim pendelegasian
secara resmi
Evaluasi Pendelegasian

Hasil observasi sebelum intervensi didapatkan 83% pendelegasian sudah berjalan

baik di ruang Shinta. Penyelesaian masalah terhadap peningkatan pencapaian

pendelegasian secara formal di ruangan Shinta dilakukan dengan pengadaan

format/ form pendelegasian. Pengadaan form pendelegasian kemudian di

sosialisasikan kepada seluruh perawat. Pencapaian pengadaan form pendelegasian

100% tercapai.

4. Rencana Harian
Tabel ... Pelaksanaan Pembuatan Rencana Harian KaRu, KaTim, dan PP
No Kegiatan Pelaksana Sasaran Tujuan Waktu Tempat
A. Persiapan
1. Mengkaji penilaian Mahasiswa KaRu, Mengetahui Ruang
rencana harian Profesi ners KaTim. hasil Shinta
KaRu, KaTim dan UNSOED Survey
Perawat Pelaksana rencana harian
2. Studi literatur Mahasiswa Materi Mendapat Ruang
mengenai pedoman Profesi ners tentang sumber Shinta
rencana harian UNSOED rencana pustaka
harian pedoman
rencana harian
3. Melakukan Mahasiswa KaRu, Tersusunnya Ruang
koordinasi tentang Profesi ners KaTim dan form rencana Shinta
pembuatan rencana UNSOED PP harian
harian pada KaRu,
158

KaTim dan PP
B. Pelaksanaan
1. Sosialisasi Mahasiswa KaRu, Perawat Ruang
penggunaan form Profesi ners KaTim, PP R.Shinta dapat Shinta
rencana harian UNSOED membuat
rencana harian
secara
terjadwal
2. Aplikasi Mahasiswa KaRu, Perawat Ruang
pembuatan rencana Profesi ners KaTim dan mampu Shinta
harian setiap kali UNSOED PP membuat
dinas. rencana harian
C Evaluasi
1. Evaluasi Mahasiswa KaRu, Mengetahui Ruang
pembuatan rencana Profesi ners KaTim dan tingkat Shinta
harian UNSOED PP kemampuan
dalam
pembuatan
rencana
harian.

Tabel ... Observasi Pembuatan Rencana Harian KaRu, KaTim, dan PP


No Aspek yang Dinilai Karu Katim Katim PP
1 Menyusun Rencana Harian setiap kali dinas 4 4 4 4
2 Mencantumkan tanggal dinas di Rencana Harian 4 4 4 4
3 Urutan kegiatan disusun secara kronologis 4 4 4 4
4 Tercantum kegiatan manajerial 4 4 4 4
5 Tercantum kegiatan asuhan 4 4 4 4
6 Rencana Harian dikerjakan secara konsisten 4 4 4 4
Total Skor 24

Tabel ... Evaluasi Pembuatan Rencana Harian di ruang Shinta.


Variable Sebelum Sesudah Selisih
Rencana Harian KaRu 0% 100% 100%
Rencana Harian KaTim 0% 100% 100%
Rencana Harian PP 0% 100% 100%
Sumber : Hasil observasi di ruang Shinta RSJD Surakarta

Berdasarkan tabel diatas, terjadi peningkatan antara sebelum dan

sesudah dilakukan intervensi pembuatan rencana harian kepala ruang, kepala tim

dan perawat pelaksana, dengan nilai 100%. Artinya selama dilakukan intervensi
159

semua perawat membuat rencana harian setiap hari, dan hasil evaluasi juga

menunjukkan bahwa rencana harian perawat dikatakan sudah cukup baik.

Perubahan menuju kebiasaan yang baik sangat sulit untuk dilaksanakan,

karena berkaitan dengan sifat masing-masing individu, faktor lingkungan, iklim

motivasi dan reward yang akan didapatkan ketika sudah menjalankan kegiatan

tersebut.

D. TEORI BERUBAH

Perubahan pelayanan keperawatan mempunyai dua pilihan yang

berhubungan dengan perubahan, mereka melakukan inovasi dan berubah atau

mereka yang diubah oleh suatu keadaan atau situasi. Perubahan pelayanan

kesehatan/ keperawatan merupakan kesatuan yang menyatu dalam

perkembangan dan perubhaan keperawatan di Indonesia.

Perubahan dapat dijabarkan dengan beberapa cara, termasuk

perubahan yang direncanakan atau yang tidak direncanakan. Perubahan yang

tidak direncanakan adalah perubahan yang terjadi tanpa persiapan. Sebaliknya

perubahan yang direncanakan adalah perubahan yang telah direncanakan dan

dipikirkan sebelumnya, terjadi dalam waktu yang lama, dan termasuk adanya

tujuan yang jelas. Perubahan terencana lebih mudah dikelola daripada

perubahan yang terjadi pada perkembangan manusia, tanpa persiapan, atau

perubahan karena suatu ancaman. Untuk alasan tersebut, maka perawat harus

dapat mengelola perubahan.

Diantara banyak teori perubahan, teori Kurt Lewin paling banyak

dianut oleh para inovator dan pemberharu. Lewin (1951) mengungkapkan


160

bahwa perubahan dapat dibedakan menjadi 3 tahapan, yang meliputi: 1)

unfreezing; 2) moving; dan 3) refreezing; (Kurt Lewin, 1951 dari Lancaster,

J., Lancaster, W. 1982). Perubahan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Pencairan (unfreezing)–motivasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan

semula dan berubahnya keseimbangan yang ada, merasa perlu untuk

berubah dan berupaya untuk berubah, menyiapkan diri, dan siap untuk

berubah atau melakukan perubahan.

2. Bergerak (moving)–bergerak menuju keadaan yang baru atau

tingkat/tahap perkembangan baru karena memiliki cukup informasi

serta sikap dan kemam-puan untuk berubah, memahami masalah yang

dihadapi, dan mengetahui langkah–langkah penyelesaian yang harus

dilakukan, kemudian melakukan langkah nyata untuk berubah dalam

mencapai tingkat atau tahap baru.

3. Pembekuan (refreezing), motivasi telah mencapai tingkat atau tahap

baru, atau mencapai keseimbangan baru. Tingkat baru yang telah

dicapai harus dijaga agar tidak mengalami kemunduran atau bergerak

mundur pada tingkat atau tahap perkembangan semula. Oleh karena itu,

perlu selalu ada upaya untuk mendapatkan umpan balik, kritik yang

konstruktif dalam upaya pembinaan (reinforcement) yang terus-

menerus, dan berkelanjutan.

Adanya tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat,

menyebabkan perawat harus berubah secara terencana dan terkendali. Salah

satu teori perubahan yang dikenal dengan teori lapangan (field theory) dengan

analisis kekuatan medan (force field analysis) dari Kurt Lewin (1951) dalam
161

Ma’rifin, (1997), ada kekuatan pendorong untuk berubah (driving forces) dan

ada kekuatan penghambat terjadinya perubahan (restraining force).

Perubahan terjadi apabila salah satu kekuatan lebih besar dari yang lain.

1. Faktor Pendorong Terjadinya Perubahan

a. Kebutuhan dasar manusia

Manusia memiliki kebutuhan dasar yang tersusun berdasarkan hierarki

kepentingan. Kebutuhan yang belum terpenuhi akan memotivasi

perilaku sebagaimana teori kebutuhan Maslow (1954). Di dalam

keperawatan kebutuhan ini dapat dilihat dari bagaimana keperawatan

mempertahankan dirinya sebagai profesi dalam upaya memenuhi

kebutuhan masyarakat akan pelayanan/asuhan keperawatan yang

profesional.

b. Kebutuhan dasar interpersonal

Manusia memiliki tiga kebutuhan dasar interpersonal yang melandasi

sebagian besar perilaku seseorang: (1) kebutuhan untuk berkumpul

bersama-sama; (2) kebutuhan untuk mengendalikan/melakukan

kontrol; dan (3) kebutuhan untuk dikasihi, kedekatan, dan perasaaan

emosional. Kebutuhan tersebut di dalam keperawatan diartikan

sebagai upaya keperawatan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam

pembangunan kesehatan dan perkembangan iptek.

2. Faktor Penghambat

Menurut New dan Couillard (1981), faktor penghambat (restraining force)

terjadinya perubahan yang disebabkan oleh: (1) adanya ancaman terhadap


162

kepentingan pribadi; (2) adanya persepsi yang kurang tepat; (3) reaksi

psikologis; dan (4) toleransi untuk berubah rendah.

3. Alasan Perubahan

Lewin juga (1951) mengidentifikasi beberapa hal dan alasan yang harus

dilaksanakan oleh seorang manajer dalam merencanakan suatu perubahan,

yaitu:

a) Perubahan hanya boleh dilaksanakan untuk alasan yang baik.

b) Perubahan harus secara bertahap.

c) Semua perubahan harus direncanakan dan tidak secara drastis atau

mendadak.

d) Semua individu yang terkena perubahan harus dilibatkan dalam

perencanaan perubahan.

Alasan perubahan Lewin (1951) tersebut diperkuat oleh pendapat Sullivan

dan Decker (1988) hanya ada alasan yang dapat diterapkan pada setiap

situasi, yaitu:

a) Perubahan ditujukan untuk menyelesaikan masalah.

b) Perubahan ditujukan untuk membuat prosedur kerja lebih efisien.

c) Perubahan ditujukan untuk mengurangi pekerjaan yang tidak penting


163

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dan hasil analisis data yang telah dilakukan dapat ditarik

kesimpulan bahwa :

1. Terjadi peningkatan pelaksanaan pre dan post conference sebesar 100% di

ruang Shinta.
2. Terjadi peningkatan pembuatan rencana harian jangka pendek setiap

perawat sebesar 100% di ruang Shinta.


3. Terjadi peningkatan penilaian tingkat kepuasan keluarga (16,78%) dan

kepuasan pasien (21,52%) terhadap perawatan di ruang Shinta sebanyak.


4. Pencapaian pengadaan form pendelegasian 100% tercapai.
164

Saran

Berdasarkan pembahasan dan analisis situasi yang telah dilakukan, saran yang

dapat diajukan adalah:

1. Perlunya pemberian motivasi untuk semua perawat dalam melaksanakan

pre dan post conference di ruangan.


2. Perlu diadakan reward bagi perawat yang sudah mampu membuatan

rencana harian perawat secara konsisten.


3. Perlu diadakan sosialisasi lebih lanjut mengenai lembar atau format

pendelegasian yang baru.


4. Perlu adanya pembuatan format rencana harian perawat (Ka Ru, Ka Tim,

PP) untuk memudahkan perawat dalam menjalankan fungsinya.


5. Adanya ketegasan dari pihak Bidang Keperawatan dalam penerapan

MPKP di ruangan rawat inap RSJD Surakarta.