Anda di halaman 1dari 36

Topik 2

Instrumen Pengawasan Sanitasi Industri

A. Sasaran Pengawasan Sanitasi Industri


Sebelum Saudara melakukan penyusunan instrumen pengawasan sanitasi industri,
sebaiknya Saudara sudah benar-benar memahami dan menguasai teknik penyusunan instrumen
sebagaimana dijabarkan secara lengkap pada Topik 1. Hal lain yang juga harus dipersiapkan
dalam penyusunan instrumen adalah peraturan yang berlaku terkait dengan materi pengawasan,
baik yang berlaku secara nasional seperti undang undang, peraturan pemerintah, dan peraturan
menteri, ataupun peraturan yang berlaku secara lokal misalnya peraturan daerah, dan peraturan
gubernur.
Instrumen yang akan Saudara susun tentunya sesuai dengan kebutuhan dan sasaran dalam
pengawasan sanitasi industri. Adapun sasaran pengawasan sanitasi industri sebagaimana
disebutkan dalam Bab 2 meliputi:
1. Penyediaan air bersih
2. Pengolahan limbah cair
3. Penyehatan tanah adan pengelolaan sampah
4. Penyehatan makanan & minuman
5. Penyehatan udara
6. Pengendalian vector
7. House keeping
8. Jamban dan peturasan
9. Fasilitas cuci tangan
Untuk mempermudah dalam penyusunan instrumen pengawasan sanitasi industri secara
lengkap, maka berikut ini akan diuraikan dan dijabarkan masing masing sasaran pengawasan
dengan memberikan contoh dalam penyusunan instrumen berdasarkan pada peraturan yang
berlaku.

B. Instrumen Pengawasan Penyediaan Air Bersih


Terkait dengan pengawasan penyediaan air bersih di industri terdapat peraturan menteri
kesehatan yang perlu diperhatikan, pertama Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun
2016 tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri, kedua Peraturan
Menteri Kesehatan R.I. Nomor 32 tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Hygiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua,
dan Pemandian Umum.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016, meyebutkan bahwa
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan (SBMKL) merupakan konsentrasi/kadar dari setiap
parameter media lingkungan yang ditetapkan dalam rangka perlindungan kesehatan pekerja
sesuai satuannya berupa angka minimal yang diperlukan, atau maksimal atau kisaran yang
diperbolehkan, bergantung pada karakteristik parameter.
Media lingkungan air meliputi air minum dan air untuk keperluan higiene dan sanitasi, baik
kuantitas maupun kualitas. Kecukupan air minum untuk lingkungan kerja industri dihitung
berdasarkan jenis pekerjaan dan lamanya jam kerja setiap pekerja untuk setiap hari. Standar
baku mutu (SBM) di bawah ini berlaku secara umum untuk setiap pekerja setiap hari. Jika jenis
pekerjaan memerlukan lebih banyak air minum, maka kebutuhannya disesuaikan dengan jenis
pekerjaan tersebut.
Kecukupan penyediaan air minum untuk pekerja dipersyaratkan minimal sebanyak 5
liter/orang/hari. Sedangkan kecukupan air untuk keperluan higiene dan sanitasi dihitung
berdasarkan kebutuhan minimal dikaitkan dengan perlindungan kesehatan dasar dan higiene
perorangan. Ketersediaan air sebanyak 20 liter/orang/hari hanya mencukupi untuk kebutuhan
higiene dan sanitasi minimal, sehingga untuk menjaga kondisi kesehatan pekerja yang optimal
diperlukan volume air yang lebih, yang biasanya berkisar antara 50-100 liter/orang perhari.
Selanjutnya dalam Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 32 tahun 2017 menyebutkan
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi
meliputi parameter fisik, biologi, dan kimia yang dapat berupa parameter wajib dan parameter
tambahan. Parameter wajib merupakan parameter yang harus diperiksa secara berkala sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, sedangkan parameter tambahan hanya
diwajibkan untuk diperiksa jika kondisi geohidrologi mengindikasikan adanya potensi
pencemaran berkaitan dengan parameter tambahan. Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi
tersebut digunakan untuk pemeliharaan kebersihan perorangan seperti mandi dan sikat gigi,
serta untuk keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan, dan pakaian. Selain itu Air untuk
Keperluan Higiene Sanitasi dapat digunakan sebagai air baku air minum.
Terkait dengan persyaratan kesehatan air untuk keperluan hygiene sanitasi dalam
Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 32 tahun 2017 menyebutkan bahwa air dalam keadaan
terlindung dari sumber pencemaran, binatang pembawa penyakit, dan tempat
perkembangbiakan vektor :
a. Tidak menjadi tempat perkembangbiakan vektor dan binatang pembawa penyakit.
b. Jika menggunakan kontainer sebagai penampung air harus dibersihkan secara berkala
minimum 1 kali dalam seminggu.
Lebih jauh dalam peraturan diatas menyebutkan bahwa air untuk keperluan hygiene
sanitasi harus aman dari kemungkinan kontaminasi :
a. Jika air bersumber dari sarana air perpipaan, tidak boleh ada koneksi silang dengan pipa air limbah di
bawah permukaan tanah.
b. Jika sumber air tanah non perpipaan, sarananya terlindung dari sumber kontaminasi baik limbah
domestik maupun limbah industri.
c. Jika melakukan pengolahan air secara kimia, maka jenis dan dosis bahan kimia harus tepat.
Persyaratan kesehatan lingkungan air minum untuk kepentingan di industri terdapat
beberapa ketentuan sebagai berikut:
1. Berasal dari sumber air yang improved/terlindung (perpipaan, mata air terlindung, sumur bor
terlindung, sumur gali terlindung dan penampungan air hujan terlindung).
2. Tersedia dalam jumlah yang cukup dan kontinyu.
3. Kualitas air minum diperiksa secara berkala.
4. Memenuhi kualitas fisik.
Adapun persyaratan kesehatan lingkungan air untuk keperluan hygiene dan sanitasi
ditetapkan sebagai berikut:
1. Berasal dari sumber air yang improved/terlindung (perpipaan, mata air terlindung, sumur bor
terlindung, sumur gali terlindung dan penampungan air hujan terlindung).
2. Tersedia dalam jumlah yang cukup dan kontinyu.
3. Air yang berasal dari pengolahan air limbah / grey water hanya digunakan untuk
menggelontor toilet dan menyiram tanaman.
4. Kualitas air harus diperiksa secara berkala.
5. Memenuhi kualitas fisik.
Selanjutnya dalam upaya pengawasan penyediaan air untuk kepentingan hygiene industri
di tempat kerja, dijelaskan bahwa setiap penyelenggara baik badan usaha, usaha perorangan,
kelompok masyarakat dan/atau individual yang melakukan penyelenggaraan penyediaan air
untuk keperluan hygiene sanitasi, wajib menjamin kualitas air untuk keperluan hygiene sanitasi
yang memenuhi Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan.
Untuk menjaga agar kualitas air untuk keperluan hygiene sanitasi senantiasa dalam
keadaan memenuhi Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan perlu
dilakukan pengawasan internal dan eksternal. Pengawasan internal merupakan pengawasan
yang dilakukan oleh penyelenggara melalui penilaian mandiri, pengambilan, dan pengujian
sampel air yang dilakukan minimal satu kali dalam satu tahun. Sedangkan pengawasan eksternal
dilakukan oleh tenaga kesehatan lingkungan yang terlatih pada dinas kesehatan
kabupaten/kota, atau kantor kesehatan pelabuhan untuk lingkungan wilayah kerjanya.
Untuk melakukan pengawasan penyediaan air keperluan hygiene sanitasi di industri dapat
menggunakan contoh formulir pengawasan sebagai berikut:
LEMBAR CHECKLIST
PENGAWASAN INTERNAL DAN EKSTERNAL
Nama Perusahaan : ………………………………………………..
Alamat : ………………………………………………..
Kabupaten/Kota : ………………………………………………..
Provinsi : ………………………………………………..
Jenis Peruntukan Air : Hygiene-sanitasi
Tanggal Pengawasan : ...................................................

ADA / DIPERIKSA
NO PARAMETER TIDAK KET
ADA TIDAK
BERLAKU
1. Fisik
a. Kekeruhan
b. Warna
c. Zat padat terlarut (TDS)
d. Suhu
e. Rasa
f. Bau
2. Biologi
a. Total coliform
b. E. coli
3. Kimia wajib
a. pH
b. Besi
c. Fluorida
d. Kesadahan
e. Mangan
f. Nitrat, sebagai N
g. Nitrit, sebagai N
h. Sianida
i. Diterjen
j. Pestisida total
Kimia tambahan
a. Air raksa
b. Arsen
c. Kadmium
d. Kromium (valensi 6)
e. Selenium
f. Seng
g. Sulfat
h. Timbal
i. Benzene
j. Zat organik (KMnO4)
4. Tidak ada koneksi silang dengan pipa air
limbah di bawah permukaan tanah (jika air
bersumber dari sarana air perpipaan)
5. Sumber air tanah non perpipaan, sarananya
terlindung dari sumber kontaminasi baik
limbah domestik maupun industri.
6. Tidak menjadi tempat berkembangbiaknya
vektor dan binatang pembawa penyakit
7. Jika melakukan pengolahan air secara kimia,
maka jenis dan dosis bahan kimia harus
tepat
8 Jika menggunakan kontainer sebagai
penampung air harus dibersihkan secara
berkala minimum 1 kali dalam seminggu.

Penanggung Jawab Petugas Pengawasan

........................................... .................................................

C. Instrumen Pengawasan Pengolahan Limbah Cair


Manusia dan lingkungan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dalam sebagian
besar aktivitasnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, manusia membutuhkan
lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya. Interaksi antara manusia dan lingkungan tersebut
jika dilakukan dengan tidak bertanggung jawab akan mengganggu keseimbangan dan
kelestarian alam, yang pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri. Oleh
karena itu, perlu upaya menjaga kelestarian lingkungan supaya lingkungan dapat berfungsi
sebagaimana mestinya dan dapat dimanfaatkan manusia secara optimal.
Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 28H ayat (1) disebutkan
bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan”, sehingga lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi dan hak
konstitusional bagi setiap warga negara. Oleh karena itu pemerintah dan pemangku kepentingan
wajib untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam melaksanakan
pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup tetap menjadi penunjang hidup bagi rakyat
Indonesia serta makhluk hidup lainnya.
Kegiatan pembangunan yang didukung ilmu pengetahuan dan teknologi, selain
meningkatkan kualitas hidup dan merubah gaya hidup manusia, juga mengandung resiko
terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan apabila tidak arif bijaksana dalam
melaksanakannya. Dalam konteks pembangunan yang sangat dinamis di berbagai daerah,
muncul beragam usaha dan kegiatan oleh manusia, diantaranya dalam bentuk industri. Jenis
kegiatan tersebut berpotensi menghasilkan air limbah. Air limbah sesuai dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air diperbolehkan dibuang ke media lingkungan dalam hal ini air sungai dengan izin
tertulis dari Bupati/Walikota dan telah memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan.
Penetapan Baku Mutu Air Limbah dilaksanakan berdasarkan asas tanggung jawab; asas
kelestarian dan berkelanjutan; dan asas manfaat. Adapun tujudan dari pengaturan penetapan
Baku Mutu Air Limbah adalah untuk:
1. Pedoman bagi Bupati/Walikota dalam mengeluarkan izin pembuangan air limbah.
2. Pedoman bagi Bupati/Walikota dalam memberikan saran, arahan, petunjuk dan pembinaan
kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.
3. Mencegah terjadinya pencemaran air.
4. Mewujudkan kualitas air yang sesuai dengan peruntukannya.
5. Menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup.
6. Penilaian dokumen lingkungan, rekomendasi dan izin lingkungan, dan
7. Instrumen pengendalian pencemaran lingkungan.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup R.I. Nomor 5 tahun 2014 tentang Baku Mutu Air
Limbah pasal 16 menyatakan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 3 ayat (1) wajib:
a. Melakukan pemantauan kualitas air limbah paling sedikit 1 (satu) kali setiap bulannya sesuai
dengan parameter yang telah ditetapkan dalam izin pembuangan air limbah.
b. Melaporkan hasil pemantauan sebagaimana dimaksud pada huruf a sekurang-kurangnya 3
(tiga) bulan sekali kepada penerbit izin pembuangan air limbah, dengan tembusan kepada
Menteri dan gubernur sesuai dengan kewenangannya.
c. Laporan hasil pemantauan sebagaimana dimaksud pada huruf b paling sedikit memuat:
1) catatan debit air limbah harian.
2) bahan baku dan/atau produksi senyatanya harian.
3) kadar parameter baku mutu limbah cair, dan
4) penghitungan beban air limbah.
d. Laporan sebagaimana dimaksud pada huruf c disusun berdasarkan format pelaporan yang
telah ditetapkan.
Terkait dengan pengelolaan limbah industri pada Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor
70 tahun 2016 tentang standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri
menegaskan suatu industri harus memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan, termasuk
sarana pembuangan air limbah, dengan ketentuan :
1. Air limbah dari berbagai sumber dapat mengalir dengan lancar dan salurannya dalam
keadaan tertutup,
2. Tersedia instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang memadai.
Contoh instrumen pengawasan pengelolaan limbah industri sesuai dengan Peraturam
Menteri Lingkungan Hidup R.I. Nomor 5 tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah.

HASIL PEMANTAUAN LIMBAH


KEGIATAN ......................................
Nama Industri :
Kode Sampel :
Lokasi Pengambilan Contoh Uji :
Jam, Tanggal, Tahun Pengambilan :
Contoh Uji
Petugas Pengambil Contoh Uju :
Debit air limbah saat pengambilan : ............................ m3 / detik
contoh uji
Tanggal, Tahun penerimaan :
contoh uji
Tanggal, Tahun analisis contoh uju :
Lama waktu produksi : ....................................... jam / hari
Jumlah bahan baku waktu : ....................................... ton / hari (satuan
pengambilan contoh uji (satuan disesuaikan atau dikonversi)
bahan baku / hari)
Jumlah produksi waktu : ....................................... ton / hari (satuan
pengambilan contoh uji (satuan disesuaikan atau dikonversi)
produksi / hari)

Hasil Analisis Baku Mutu


Beban Beban Metode
No Kadar Kadar
Parameter Pencemaran Pencemaran Uji
(mg/L) (mg/L)
(kg/ton) (kg/ton)
1. BOD
2. COD
3. .....
4. .....
5. .....
6. .....
7. .....
8. .....
9. .....
10. pH
Kuantitas air .............................. m3/ton ............................. m3/ton
11. limbah paling produk atau bahan baku produk atau bahan baku
tinggi
..................................,.............................

Tanda tangan & Cap Lab

..................................................
D. Instrumen Pengawasan Penyehatan Tanah dan Pengelolaan Sampah
Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Industri pasal 1 menyebutkan bahwa pengaturan standar dan
persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri bertujuan untuk:
1. Mewujudkan kualitas lingkungan kerja industri yang sehat dalam rangka menciptakan
pekerja yang sehat dan produktif;
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan, penyakit akibat kerja, dan kecelakaan kerja;
3. Mencegah timbulnya pencemaran lingkungan akibat kegiatan industri.
Selanjutnya pada pasal 2 disebutkan bahwa setiap industri wajib memenuhi standar dan
menerapkan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri. Standar kesehatan lingkungan
kerja industri meliputi:
1. Nilai ambang batas faktor fisik dan kimia;
2. Indikator pajanan biologi; dan
3. Standar baku mutu kesehatan lingkungan.
Sedangkan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri meliputi:
1. Persyaratan faktor fisik;
2. Persyaratan faktor biologi;
3. Persyaratan penanganan beban manual; dan
4. Persyaratan kesehatan pada media lingkungan.
Standar baku mutu media tanah yang berhubungan dengan kesehatan meliputi kualitas
tanah dari aspek biologi, kimia dan radioaktivitas.
1. Standar Baku Mutu biologi tanah meliputi angka telur cacing (Ascaris lumbricoides) dan fecal coliform
yang mengindikasikan adanya pencemaran tanah oleh tinja.
2. Standar Baku Mutu kimia tanah meliputi kimia anorganik yang terdiri dari 7 parameter yaitu Timah
hitam, Arsen, Kadmium, Krom (valensi 6), senyawa Merkuti, Boron dan Tembaga dalam satuan
mg/kg. Sedangkan parameter organik meliputi BaP, DDT, Dieldrin, PCP, Dioksin (TCDD) dan Dioxin-like
PCBs.
3. Standar Baku Mutu radioaktivitas sebagai indikator pencemaran Radon dengan satuan Bq/m3 tanah
berkisar antara 100-300, di mana 3,7 Bq/m3 adalah setara dengan 1 pCi/L
Persyaratan kesehatan lingkungan media tanah yang baik untuk kegiatan industri,
dipersyaratkan sebagai berikut:
1. Memenuhi persyaratan konstruksi untuk jenis tanah peruntukan industri.
2. Tidak tercemar oleh limbah domestik maupun industri baik berupa limbah padat, cair maupun
gas.
3. Tidak menjadi tempat perkembangbiakan vektor dan binatang pembawa penyakit.
4. Jika tidak memungkinkan untuk mendapatkan kualitas tanah sesuai dengan persyaratan
teknis bangunan industri maka perlu dilakukan rekayasa atau remediasi tanah agar tidak
menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan dampak kesehatan pekerja
Contoh instrumen pengawasan kualitas tanah lingkungan industri sesuai dengan
Peraturam Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016.

HASIL PEMANTAUAN KUALITAS TANAH


..............................................
Nama Industri :
Kode Sampel :
Lokasi Pengambilan Contoh Uji :
Jam, Tanggal, Tahun Pengambilan :
Contoh Uji
Petugas Pengambil Contoh Uji :
Tanggal, Tahun penerimaan :
contoh uji
Tanggal, Tahun analisis contoh uji :

Metode
No Parameter Hasil Analisis Baku Mutu Unit
Uji
Tidak ada telur /
Jumlah / 10 gr
1. Telur Cacing ......... 10 gram tanah
tanah kering
kering
CFU/10 gr
2. Fecal coliform ......... 0
tanah kering
3. Timah hitam (Pb) ......... ≤ 3300 mg/kg
4. Arsen (As) ......... ≤ 70 mg/kg
5. Kadmium (Cd) ......... ≤ 1300 mg/kg
6. Krom (CrHeksavalen) ......... ≤ 6300 mg/kg
7. Senyawa Merkuri (Hg) ......... ≤ 4200 mg/kg
8. Boron ......... Tidak ada batas mg/kg
9. Tembaga (Cu) ......... Tidak ada batas mg/kg
10. BaP ......... ≤ 35 mg/kg
11. DDT ......... ≤ 1000 mg/kg
12. Dieldrin ......... ≤ 160 mg/kg
13. PCP ......... ≤ 360 mg/kg
14. Dioxin (TCDD) ......... ≤ 1,4 µg/kg TEQ
15. Dioxin-like PCBs ......... ≤ 1,2 µg/kg TEQ
16. Radon ......... 100-300 Bq/m3
..................................,.............................

Tanda tangan & Cap Lab

..................................................
Kegiatan industri pada umumnya sebagaimana kegiatan yang lain akan menimbulkan
buangan padat berupa sampah baik berupa sampah B3 maupun sampah non B3. Terkait dengan
buangan padat berupa sampah B3 maupun non B3 pada kegiatan industri, maka diperlukan
adanya sarana pengelolaan limbah B3 dan non B3 yang baik sehingga tidak menimbulkan
pengaruh negatip terhadap tempat kerja, lingkungan maupun terhadap tenaga kerja.
Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau di buang dari suatu
sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi,
bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif karena dalam penanganannya baik untuk
membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar. Sampah adalah bahan
yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam
pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufktur atau
materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. Dalam Undang- Undang No.18 tentang
Pengelolaan Sampah dinyatakan definisi sampah sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia
dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat.
Menurut Daniel terdapat tiga jenis sampah, di antaranya:
1. Sampah organik: sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang bisa terurai secara
alamiah/biologis, seperti sisa makanan dan guguran daun. Sampah jenis ini juga biasa
disebut sampah basah.
2. Sampah anorganik: sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang sulit terurai secara biologis.
Proses penghancurannya membutuhkan penanganan lebih lanjut di tempat khusus, misalnya
plastik, kaleng dan styrofoam. Sampah jenis ini juga biasa disebut sampah kering.
3. Sampah bahan berbahaya dan beracun (B3): limbah dari bahan-bahan berbahaya dan
beracun seperti limbah rumah sakit, limbah pabrik dan lain-lain.
Kemudian di dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah, diatur beberapa jenis–jenis sampah yaitu sebagai berikut :
1. Sampah rumah tangga yaitu sampah yang berbentuk padat yang berasal dari sisa kegiatan
sehari-hari di rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik dan dari proses alam
yang berasal dari lingkungan rumah tangga. Sampah ini bersumber dari rumah atau dari
komplek perumahan.
2. Sampah sejenis sampah rumah tangga yaitu sampah rumah tangga yang bersala bukan dari
rumah tangga dan lingkungan rumah tangga melainkan berasal dari sumber lain seperti
pasar, pusat perdagangan, kantor, sekolah, rumah sakit, rumah makan, hotel, terminal,
pelabuhan, industri, taman kota, dan lainnya.
3. Sampah spesifik yaitu sampah rumah tangga atau sampah sejenis rumah tangga yang
karena sifat,konsentrasi dan/atau jumlahnya memerlukan penanganan khusus, meliputi,
sampah yang mengandung B3 (bahan berbahaya dan beracun seperti batere bekas, bekas
toner, dan sebagainya), sampah yang mengandung limbah B3 (sampah medis), sampah
akibat bencana, puing bongkaran, sampah yang secara teknologi belum dapat diolah,
sampah yang timbul secara periode (sampah hasil kerja bakti)

Pengelolaan sampah juga semakin berkembang sejalan dengan perkembangan jenis


sampah yang akan dikelola. Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh,
dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.
1. Pengurangan sampah, yaitu kegiatan untuk mengatasi timbulnya sampah sejak dari
produsen sampah (rumah tangga, pasar, dan lainnya), mengguna ulang sampah dari
sumbernya dan/atau di tempat pengolahan, dan daur ulang sampah di sumbernya dan atau
di tempat pengolahan.
2. Penanganan sampah, yaitu rangkaian kegiatan penaganan sampah yang mencakup
pemilahan (pengelompokan dan pemisahan sampah menurut jenis dan sifatnya),
pengumpulan (memindahkan sampah dari sumber sampah ke TPS atau tempat pengolahan
sampah terpadu), pengangkutan (kegiatan memindahkan sampah dari sumber, TPS atau
tempat pengolahan sampah terpadu, pengolahan hasil akhir (mengubah bentuk, komposisi,
karateristik dan jumlah sampah agar diproses lebih lanjut, dimanfaatkan atau dikembalikan
alam dan pemprosesan aktif kegiatan pengolahan sampah atau residu hasil pengolahan
sebelumnya agar dapat dikembalikan ke media lingkungan.
3. Tempat penampungan sementara adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat
pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah
terpadu.
4. Tempat pengolahan sampah terpadu adalah tempat dilaksanakannya kegiatan
pengumpulan, pemilahanm penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahaan, dan
pemrosesan akhir sampah.
5. Tempat pemrosesan akhir sampah (TPA) adalah tempat untuk memroses dan
mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan.
Pengelolaan sampah pada kegiatan industri lebih ditekankan kepada sejauh mana
perusahaan tempat praktek kerja industri mengelola sampahnya agar tidak menimbulkan
gangguan kesehatan dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja bagi tenaga kerja. Pengelolaan
sampah industri dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Upaya menciptakan kondisi kebersihan dalam ruang kerja dan di luar ruang kerja misalnya
di gang, koridor, halaman dan taman, serta tempat-tempat kegiatan lainnya.
2. Menyediakan tempat sampah, kesesuaiannya dengan volume sampah yang dihasilkan,
konstruksi tempat sampah, pemisahan tempat sampah untuk jenis sampah yang memiliki
karakteristik berbeda misalnya sampah organik dengan anorganik, sampah basah dan
sampah kering, sampah berbahaya/B3, sampah radiologi.
3. Melaksanakan kegiatan pembersihan sampah dan pemeliharaan kebersihan di dalam
maupun di luar ruang kerja di lingkungan perusahaan.
4. Melaksanakan upaya pengangkutan sampah.
5. Melaksanakan upaya pemusnahan sampah.
6. Menyediakan petugas sampah.
Berdasarkan hal-hal diatas, maka untuk melakukan pemantauan pengelolaan sampah
industri dapat menggunakan contoh instrumen sebagai berikut:

PEMANTAUAN PENGELOLAAN SAMPAH


..............................................
Nama Industri :
Alamat Industri :
Jenis Industri :
Luas Lahan Industri :
Jumlah Petugas Pengelola Sampah : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Petugas Pemantau :
Tanggal Pemantauan :
No Item Pemantauan Ya Tidak Ket.
1. Apakah ada upaya kebersihan lingkungan kerja
2. Apakah tersedia tempat sampah yang memadai
3. Apakah ada upaya pemisahan sampah
4. Apakah semua sampah dapat tertampung
5. Apakah tempat sampah yang tersedia kuat
6. Apakah tempat sampah yang tersedia dilengkapi tutup
7. Apakah tempat sampah mudah dibersihkan
8. Apakah tempat sampah kedap air
9. Apakah ada upaya pengangkutan sampah yang baik
10. Apakah ada pengolaan sampah B3 secara khusus
11. .........
..................................,.............................

Tanda tangan
..................................................

E. Instrumen Pengawasan Penyehatan Makanan & Minuman


Ketersediaan makanan dan minuman di tempat kerja industri merupakan hal yang penting
untuk diperhatikan. Penyediaan makanan dan minuman di tempat kerja tentu sangat menunjang
keberlangsungan pelaksanaan pekerjaan di tempat kerja, hal ini disebabkan karena untuk
melaksanakan pekerjaan dengan baik setiap tenaga kerja memerlukan tambahan kalori yang
bersumber dari makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Untuk terlaksananya penyediaan makanan dan minuman yang baik bagi tenaga kerja,
tentunya perlu dilakukan suatu usaha penyediaan makanan dan minuman yang memenuhi
persyaratan yang berlaku, diantaranya persyaratan kesehatan yang berhubungan dengan
penyelenggara pangan, penjamah pangan, waktu dan suhu pangan.
Terkait dengan persyaratan kesehatan yang berhubungan dengan penyelenggara pangan,
perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Tersedia kebijakan setempat untuk memastikan tiga hal penting diterapkan dalam
pengamanan pangan, yaitu tenaga yang professional, pengendalian waktu dan suhu dalam
penanganan pangan dan pencegahan kontaminasi silang.
2. Melakukan pencegahan kontaminasi silang agar tidak terjadi pencemaran oleh
mikroorganisme dan cemaran lain di setiap tahap penanganan pangan melalui tiga jalur
pangan ke pangan, tangan ke pangan, dan atau peralatan ke pangan.
3. Sanitasi tempat penerimaan, penyimpanan, pengolahan, dan penyajian pangan dikakukan
secara rutin bukan hanya mengenai kebersihan tetapi juga ketepatan penggunaan
disinfektan untuk kebersihan.
4. Menjamin semua penjamah pangan mempunyai kemampuan dan keahlian dalam
menangani pangan, higiene dan keamanan pangan yang dapat diperoleh melalui pelatihan
formal atau pemagangan.
5. Menunjuk seorang penyelia penjamah pangan untuk mengawasi kinerja penjamah pangan.
6. Memastikan bahwa penjamah pangan tidak menjamah pangan jika terdapat kemungkinan
kontaminasi pangan.
7. Menjaga tersedianya sarana cuci tangan yang dapat diakses dengan mudah oleh penjamah
pangan yang dilengkapi dengan air hangat yang mengalir dan sabun dan mengeringkannya
dengan lap kertas sekali pakai.
Adapun persyaratan kesehatan yang berhubungan dengan penjamah pangan, perlu
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Bertanggungjawab terhadap keamanan pangan dengan cara menjaga pangan sedemikian
rupa agar pangan tersebut tetap aman dan layak dikonsumsi.
2. Harus dalam keadaan sehat dan bebas dari penyakit menular yang dibuktikan dengan surat
keterangan dokter secara berkala.
3. Jika merasakan gejala sakit dan atau didiagnosa menderita suatu penyakit, maka harus
melaporkan kepada penyelianya/penyelenggara.
4. Jika dalam keadaan sakit dan kemungkinan dapat menyebabkan kontaminasi pangan, maka
penjamah pangan tidak diperbolehkan menangani pangan sampai sembuh kembali.
5. Melaporkan kepada penyelianya jika merasa melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan
kontaminasi pangan.
6. Selalu mencuci tangan dengan air hangat yang mengalir dan sabun dan mengeringkannya
dengan lap kertas sekali pakai.
7. Selalu mencuci tangan jika akan menjamah pangan setelah dari toilet, merokok, batuk dan
bersin memegang saputangan, makan, minum dan memegang rambut atau bagian tubuh
lainnya
8. Selalu mencuci tangan sebelum menangani pangan siap saji dan setelah memegang pangan
mentah.
9. Tidak makan, bersin, meniup, batuk, meludah atau merokok di dekat pangan atau
tempatnya.
10. Tidak menyentuh pangan siap saji secara langsung.
11. Mencegah terjadinya kontaminasi pangan dengan rambut dengan cara mengikat atau
memakai tutup rambut.
Persyaratan kesehatan yang berhubungan dengan waktu dan suhu pangan yang harus
diperhatikan dalam penyediaan makanan dan minuman di tempat kerja antara lain:
1. Penyelenggara/penjamah pangan harus memperhatikan waktu dan suhu penggunaan,
pengolahan, penyimpanan bahan pangan maupun pangan siap saji sesuai jenisnya.
2. Penjamah pangan harus memisahkan tempat penyimpanan antara bahan pangan dan
pangan siap saji.
3. Penjamah pangan harus membuang pangan sisa (left over food) jika sudah tidak memenuhi
batas waktu dan suhu penyimpanan.
4. Penjamah pangan harus melakukan pencatatan waktu dan suhu penyimpanan pangan
secara sistematis dengan sistem pelabelan dan penggunaan alat ukur.
Dalam penyelenggaraan penyediaan makanan dan minuman bagi tenaga kerja di tempat
kerja, agar diperoleh kualitas makanan dan minuman yang memenuhi persyaratan kesehatan
disamping harus memperhatikan persyaratan penyelenggara pangan, penjamah pangan, waktu
dan suhu pangan seperti tersebut diatas, juga harus memperhatikan persyaratan kesehatan
yang berhubungan dengan disain dan konstruksi tempat pengolahan makanan dan minuman.
Hal ini disebabkan karena disain dan konstruksi tempat pengolahan makanan dan minuman akan
menentukan kualitas makanan dan minuman yang dihasilkan.
Persyaratan kesehatan yang berhubungan dengan disain dan konstruksi tempat
pengolahan makanan dan minuman yang harus diperhatikan meliputi:
1. Persyaratan umum
a. Disain dan konstruksi bangunan cocok untuk tempat pengolahan pangan, dilengkapi
ruang untuk pengaturan sarana dan peralatan.
b. Mudah dibersihkan dan dilakukan sanitasi apabila diperlukan.
c. Rapat vektor dan binatang pembawa penyakit.
d. Tidak dapat menjadi tempat perkembangbiakan vektor dan binatang pembawa penyakit.
2. Sistem penyediaan air
a. Tersedia air yang mencukupi untuk air minum dan air untuk keperluan higiene dan
sanitasi.
b. Idealnya air yang digunakan sudah melalui proses pengolahan (air dari PDAM), bila
terpaksa harus menggunakan air dari sumber terlindung.
3. Sistem pembuangan air limbah
a. Mempunyai sistem pembuangan air limbah yang berfungsi menyalurkan air limbah
dengan baik.
b. Tidak menyebabkan koneksi silang dengan pipa air minum sehingga menimbulkan
kontaminasi sumber air dan pangan.
4. Sistem penyimpanan sampah dan sampah daur ulang
a. Mempunyai tempat penyimpanan sampah dan sampah daur ulang yang mencukupi dan
rapat vektor dan binatang pembawa penyakit.
b. Mudah dan efektif untuk dibersihkan.
5. Sistem ventilasi
Tempat pengolahan makanan harus mempunyai penghawaan alami atau buatan yang cukup
dan efektif menghilangkan asap, uap dan gas lainnya yang berasal dari proses pengolahan
pangan.
6. Sistem pencahayaan
Tempat pengolahan makanan harus mempunyai sistem pencahayaan alam atau buatan yang
mencukupi untuk menunjang kegiatannya.
Berdasar uraian diatas, maka dapat dibuat contoh instrumen yang dapat digunakan dalam
pengawasan penyediaan makanan dan minuman di tempat kerja, sebagai berikut:

PENGAWASAN PENYEDIAAN MAKANAN DAN MINUMAN


...............................................
Nama Industri :
Alamat Industri :
Jenis Industri :
Jumlah Tenaga Kerja : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Jumlah Petugas Penjaman Makanan : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Petugas Pemantau :
Tanggal Pemantauan :
No Item Pemantauan Ya Tidak Ket.
1. Tersedia kebijakan setempat terkait pengelolaan makanan
2. Dilakukan pencegahan kontaminasi pada makanan
3. Penjamah pangan mempunyai kemampuan dan keahlian
dalam menangani makanan
4. Terdapat petugas penyelia penjamah pangan
5. Tersedianya sarana cuci tangan
6.
7.
..................................,.............................

Tanda tangan
..................................................

F. Instrumen Pengawasan Penyehatan Udara


Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Industri menyebutkan bahwa Standar Baku Mutu (SBM) media
udara meliputi standar baku mutu udara dalam ruang (indoor air quality) dan udara ambien
(ambient air quality). Standar kualitas udara dalam ruang perkantoran mengacu kepada
peraturan perundang-undangan mengenai Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Perkantoran sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2016,
sedangkan SBM udara ambien mengacu ke peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan yang berlaku diantaranya adalah Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor : KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar Pencemar Udara.
Kualitas udara dalam tempat kerja sangat dipengaruhi oleh kandungan unsur kimia
diudara tempat kerja. Nilai Ambang Batas (NAB) bahan kimia di tempat kerja meliputi 255
(duaratus limapuluh lima) parameter sebagaimana tercantunm dalam tabel 13 Peraturan
Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Kerja Industri. Selanjutnya untuk mengevaluasi pajanan biologi dan potensi risiko
kesehatan pekerja dapat menggunakan acuan Indikator Pajanan Biologi (IPB). Indikator Pajanan
Biologi (IPB) atau Biological Exposure Indices (BEI) merupakan nilai acuan konsentrasi bahan
kimia yang terabsorpsi, hasil metabolisme (metabolit) bahan kimia yang terabsorpsi, atau efek
yang ditimbulkan oleh bahan kimia tersebut.
Nilai indikator pajanan biologi sebanyak 45 (empatpuluh lima) bahan kimia yang ada di
tempat kerja dapat dilihat pada Tabel 14 Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016
tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Perkantoran menyebutkan bahwa untuk mendapatkan tingkat kesehatan dan
kenyamanan dalam ruang perkantoran persyaratan pertukaran udara ventilasi untuk ruang kerja
adalah 0,57 m3/org/min sedangkan untuk ruang pertemuan adalah 1,05 m3/min/orang.
Sedangkan laju pergerakan udara yang disyaratkan adalah berkisar antar 0.15 – 0.50 m/detik.
Untuk ruangan kerja yang tidak menggunakan pendingin harus memiliki lubang ventilasi minimal
15% dari luas lantai dengan menerapkan sistim ventilasi silang.
Ruang yang menggunakan AC secara periodik harus dimatikan dan diupayakan mendapat
pergantian udara secara alamiah dengan cara membukan seluruh pintu dan jendela atau dengan
kipas angin. Saringan/filter udara AC juga harus dibersihkan secara periodik sesuai dengan
ketentuan pabrik.
Sistem perancangan ventilasi pada bangunan industri harus mengacu pada SNI 03-6572-
2001. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan untuk memastikan ventilasi dapat mencegah
pencemar udara adalah sebagai berikut:
1. Ruang kerja dan sistem ventilasinya tidak berhubungan langsung dengan dapur (pantry)
ataupun area parkir;
2. Filtrasi/penyaringan udara yang efektif;
3. Pemeliharaan unit pendingin udara dan system ventilasi lain, termasuk pembersihan secara
regular;
4. Pencegahan adanya halangan/obstruksi pada ventilasi;
5. Menempatkan peralatan yang menggunakan bahan pelarut (solvent) pada area yang
dilengkapi dengan local exhaust ventilation (LEV);
Persyaratan minimum kualitas udara dalam ruangan perkantoran dapat dilihat pada Tabel
6 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Perkantoran. Jika persyaratan sudah terpenuhi tetapi masih terjadi SBS (Sick
Building Syndrome), maka perlu dilakukan investigasi.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-45/MENLH/10/1997 tentang
Indeks Standar Pencemar Udara menyebutkan bahwa pencemaran udara dapat menimbulkan
gangguan terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya, selanjutnya
menyatakan bahwa untuk memberikan kemudahan dan keseragaman informasi kualitas udara
ambien kepada masyarakat di lokasi dan waktu tertentu serta sebagai bahan pertimbangan
dalam melakukan upaya-upaya pengendalian pencemaran udara, perlu disusun Indeks Standar
Pencemar Udara.
Indeks Standar Pencemar Udara adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang
menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan
kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya.
Parameter Indeks Standar Pencemar Udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
1. Partikulat (PM10);
2. Karbon Monoksida (CO);
3. Sulfur dioksida (SO2);
4. Nitrogen dioksida (NO2);
5. Ozon (O3);
Berdasarkan pada uraian diatas, maka dapat dibuat contoh instrumen pemantauan
kualitas udara tempat kerja sebagai berikut:
PENGAWASAN PENYEHATAN UDARA TEMPAT KERJA
.............................................................................
Nama Industri :
Alamat Industri :
Jenis Industri :
Jumlah Tenaga Kerja : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Petugas Pemantau :
Tanggal Pemantauan :
No Item Pemantauan Ya Tidak Ket.
1. Ruang kerja dan sistem ventilasinya tidak berhubungan
langsung dengan dapur (pantry)
2. Ruang kerja dan sistem ventilasinya tidak berhubungan
langsung dengan area parkir
3. Terdapat filtrasi/penyaringan udara yang efektif
4. Pemeliharaan unit pendingin udara dan system ventilasi
lain, termasuk pembersihan secara regular
5. Pencegahan adanya halangan/obstruksi pada ventilasi
6. Menempatkan peralatan yang menggunakan bahan pelarut
(solvent) pada area yang dilengkapi dengan local exhaust
ventilation (LEV)
6. Dilakukan pemantauan kualitas udara tempat kerja
7. Dilakukan pemantauan kualitas udara ambien

..................................,.............................

Tanda tangan
..................................................

G. Instrumen Pengawasan Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit


Vektor dan binatang pembawa penyakit yang perlu di perhatikan dalam kegiatan industri
dianataranya adalah nyamuk untuk kelompok vektor, sedangkan untuk kelompok binatang
pembawa penyakit meliputi tikus, lalat dan kecoa. Standar baku mutu vektor penyakit meliputi
Anopheles spp, Aedes aegypti, dan Culex sp. Standar baku mutu vektor tersebut selengkapnya
dapat dijumpai pada Tabel 32 Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016 tentang
Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri. Adapun standar baku mutu
binatang pembawa penyakit selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 33.
Terkait dengan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit maka bangunan
untuk keperluan industri diharuskan memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Tersedia upaya pencegahan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit secara
terpadu dengan mendahuluan cara/teknologi yang tidak menggunakan bahan
kimia/insektisida, terutama di industri pangan.
2. Tersedia tenaga khusus untuk pencegahan dan pengendalian vektor dan binatang pembawa
penyakit.
3. Memastikan semua sarana dan bangunan yang ada tidak menjadi tempat
berkembangbiaknya vektor dan binatang pembawa penyakit.
Berdasarkan pada uraian diatas, maka dapat dibuat contoh instrumen pemantauan
pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit tempat kerja sebagai berikut:
PENGAWASAN PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PEMBAWA PENYAKIT
.............................................................................
Nama Industri :
Alamat Industri :
Jenis Industri :
Jumlah Tenaga Kerja : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Petugas Pemantau :
Tanggal Pemantauan :
No Item Pemantauan Ya Tidak Ket.
1. Tersedia upaya pencegahan pengendalian vektor terpadu
2. Tersedia upaya pencegahan pengendalian binatang
pembawa penyakit terpadu
3. Tersedia tenaga khusus untuk pencegahan dan
pengendalian vektor
4. Tersedia tenaga khusus untuk pencegahan dan
pengendalian binatang pembawa penyakit
5. Bangunan yang ada tidak menjadi tempat
berkembangbiaknya vektor
6. Bangunan yang ada tidak menjadi tempat
berkembangbiaknya binatang pembawa penyakit

Hasil Pengukuran Baku Mutu Vektor dan Binatang


No Rendah Tinggi Ket.
Pembawa Penyakit
1. Man Biting Rate (MBR) Nyamuk Anopheles
2. Angka Paritas Nyamuk Anopheles
3. Kapasitas Vektor Nyamuk Anopheles
4. Entomological Inoculation Rate (EIR) Nyamuk Anopheles
5. Indeks habitat (IH) Larva Anopheles
6. Indeks Kontainer Larva Aedes spp.
7. Indeks Kontainer Larva Culex sp.
8. Success Trap Tikus
9. Indeks Populasi Lalat
10. Indeks Populasi Kecoa/Lipas Periplaneta Americana(PA)
11. Indeks Populasi Blatella germanica (BG)
12. Indeks Populasi Supella longipalpa (SL)
13. Indeks Populasi Blatta orientalis (BO)
..................................,.............................

Tanda tangan
..................................................

H. Instrumen Pengawasan Housekeeping


Semua tempat kerja yang ditujukan bagi karyawan, harus benar-benar aman dan dapat
menjamin keselamatan tenaga kerja mencakup pengaturan untuk berbagai area kerja yang biasa
dilewati ataupun sering dilakukan aktivitas kerja, dimana area kerja tersebut mengandung
berbagai potensi bahaya yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja dan kerugian lain.
Area kerja yang kotor, penuh debu dan berantakan dapat menyebabkan karyawan merasa
tidak nyaman dan aman saat bekerja. Kondisi tersebut akan berimbas pada keselatam kerja
terganggu dan tingkat produktivitas kerja menurun. Penataan area kerja yang buruk secara tidak
langsung bisa menghambat pergerakan kerja karyawan dan kemungkinan besar menyebabkan
kecelakaan kerja, seperti terjatuh, terpeleset, atau lainnya.
Penilaian pelaksanaan housekeeping / tatagraha di industri tempat praktek dengan
menggunakan instrument penilaian yang sudah Saudara siapkan. Cek kembali apakah
instrument yang Saudara buat sudah meliputi aspek-aspek / substansi materi di bawah ini:

1. Tempat pengelola, gang-gang, ruang penyimpanan (gudang) harus dijaga dalam kondisi
sanitair.
2. Atap, gang-gang, lantai, dinding, basement, gudang bawah tanah, jamban, toilet, septick tank,
saluran pembuangan, dan lain-lain setiap saat harus bersih dan aman serta dalam kondisi
yang sanitair.
3. Setiap bangunan, halaman, gang-gang dan keseluruhan wilayah milik perusahaan harus
dijaga bebas dari akumulasi debu dan sampah lainnya.
4. Setaip lantai ruang kerja harus dikelola secara bersih dan sebisa mungkin dalam kondisi
kering.
5. Apabila ada kegiatan-kegiatan yang menggunakan air maka sistem drainase / pematusan
harus dikelola dengan baik (dimungkinkan dalam kondisi cepat kering). Pekerja harus
menggunakan sepatu khusus untuk tempat semacam itu.
6. Lantai / permukaan jalan lainnya harus terjaga dalam kondisi baik, bebas minyak / air, semua
hal yang bernbahaya yang ada dijalanan harus dihilangkan.
7. Setiap lantai, tempat kerja dan jalan / gang harus bebas dari gundukan, serpihan / lubang.
8. Dilarang meludah ke dinding, lantai, tempat kerja / lantai bangunan lainnya.
9. Jika disediakan tempat meludah konstruksinya harus bisa dibersihkan dan di desinfeksi serta
harus dalam keadaan bersih setiap hari untuk menjaga kesehatan.
10. Jika tempat sampah digunakan untuk sampah basah / yang dapat terurai konstruksinya harus
dibuat tidak bocor, nyaman, bersih dan dirawat dengan baik / sanitair.
11. Jika menggunakan mesin / peralatan kimia di dalam mengelola sanitasi pemeriksaan secara
periodik harus dilakukan untuk menjamin efisiensi peralatan dan mencatat hasil setiap
pemeriksaan.
12. Peralatan penerangan harus sering dibersihkan untuk menjaga intensitas penerangan agar
tetap berada pada level yang memenuhi syarat. Jika menggunakan penerangan alami pada
siang hari maka jendela harus sering dibersihkan agar pencahayaan diruang tersebut
memenuhi syarat.
13. Bahan-bahan buangan yang mudah terbakar harus ditempatkan pada wadah logam yang
dapat menutup sendiri dan harus dikosongkan minimal 1 kali dalam sehari
14. Bahan-bahan yang mudah terbakar sebaiknya jangan disimpan dibawah tangga.
15. Alat pemadam kebakaran harus dijaga agar mudah dioperasikan dan terlindung dari proses
pendinginan. Jika alat pemadam kebakaran memakai tipe asam soda sebaiknya diisi ulang
minimal setahun sekali.
16. Bahan-bahan / material harus di tumpuk dan dihindarkan dari getaran / vibrasi dan sentakan
agar tidak mudah jatuh.
17. Barang-barang yang tertata baik dan bersih tidak lagi menghambat pergerakan para
karyawan.
Berdasarkan pada uraian diatas, maka dapat dibuat contoh instrumen pemantauan
pelaksanaan housekeeping / tatagraha di industri sebagai berikut:
PENGAWASAN PELAKSANAAN HOUSEKEEPING
.............................................................................
Nama Industri :
Alamat Industri :
Jenis Industri :
Jumlah Tenaga Kerja : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Petugas Pemantau :
Tanggal Pemantauan :
No Item Pemantauan Ya Tidak Ket.
1. Tempat pengelola dalam kondisi sanitair.
2. Gang-gang dalam kondisi sanitair.
3. Ruang penyimpanan dalam kondisi sanitair.
4. Atap dalam kondisi yang sanitair
5. Lantai dalam kondisi yang sanitair
6. Dinding dalam kondisi yang sanitair
7. Basement dalam kondisi yang sanitair
8. Gudang bawah tanah dalam kondisi yang sanitair
9. Jamban dalam kondisi yang sanitair
10. Toilet dalam kondisi yang sanitair
11. Septick tank dalam kondisi yang sanitair
12. Saluran pembuangan dalam kondisi yang sanitair
13. Setiap bangunan bebas dari akumulasi debu
14. Setiap bangunan bebas dari sampah
15. Halaman bebas dari akumulasi debu
16. Halaman bebas dari sampah
17. ........
..................................,.............................

Tanda tangan
..................................................
I. Instrumen Pengawasan Jamban dan Peturasan
Penilaian jamban dan peturasan tidak dapat dipisahkan dengan penilaian aspek sanitasi
industri lainnya, karena tidak adanya penilaian jamban dan peturasan maka penilaian sanitasi
industri belum selesai. Adanya jamban dan peturasan yang kotor, berbau dan tidak sehat akan
mempengaruhi kesehatan karyawan dan akhirnya karyawan akan terganggu kesehatannya dan
berujung pada gangguan produktivitas kerja tenaga kerja. Jamban dan peturasan merupakan
sarana sanitasi utama yang harus disediakan perusahaan dan dikelola dengan baik, disamping
sarana sanitasi lainnya. Ketidaknyamanan yang diakibatkan adanya jamban dan peturasan yang
tidak sehat akan menimbulkan bau yang tidak sedap, lantai yang licin menyebabkan terpeleset
dan jatuh, lebih jauh lagi akan menimbulkan penyakit pada tenaga kerja. Kondisi tersebut
memerlukan pengelolaan yang baik sehingga kondisi jamban dan peturasan menjadi bersih dan
sanitair. Sanitair berarti sehat dan aman. Sehat karena dalam jamban dan peturasan tidak
terdapat bakteri penular penyakit, tidak terjangkau serangga yang dapat mengontaminasi
makanan tenaga kerja.
Yang perlu Saudara pertimbangkan dalam menilai jamban dan peturasan tidak saja kondisi
kebersihan dari sarana tersebut melainkan juga hal lain yang mempengaruhi kualitas jamban
agar tidak mempengaruhi timbulnya penyakit atau mengganggu kesehatan tenaga kerja
sehingga produktivitas kerja jadi menurun. Pertimbangan tersebut meliputi:
1. Konstruksi jamban dan peturasan
2. Jumlah jamban dan peturasan
3. Pengelolaan dan pemeliharaan jamban
4. Penyediaan air bersih
Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Industri menyebutkan bahwa standar baku mutu (SBM) sarana toilet
untuk pekerja industri ditetapkan berdasarkan rasio yaitu perbandingan jumlah toilet dengan
jumlah pekerja. Rasio sarana toilet berbeda antara laki-laki dan perempuan. Jika toilet digunakan
oleh pekerja laki-laki maka harus ada peturasan/urinoir paling banyak 1/3 dari jumlah toilet yang
disediakan.
Berdasar uraian diatas maka dapat dibuat contoh instrumen pemantauan pengelolaan
jamban dan peturasan di industri sebagai berikut:

PEMANTAUAN PENGELOLAAN JAMBAN DAN PETURASAN


.............................................................................
Nama Industri :
Alamat Industri :
Jenis Industri :
Jumlah Tenaga Kerja : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Jumlah Jamban :
Jumlah Peturasan :
Petugas Pemantau :
Tanggal Pemantauan :
No Item Pemantauan Ya Tidak Ket.
1. Konstruksi jamban kokoh / kuat
2. Konstruksi peturasan kokoh / kuat
3. Jumlah jamban memenuhi kebutuhan
4. Jumlah peturan memenuhi kebutuhan
5. Dilakukan tindakan pembesihan jamban setiap hari
6. Dilakukan tindakan pembersihan peturasan setiap hari
7. Tersedia air yang cukup pada setiap jamban
8. Tersedia air yang cukup pada setiap peturasan
9. Tersedia alat pembersih jamban yang sesuai
10. Tersedia alat pembersih peturasan yang sesuai
11. Tersedia sabun untuk mencuci tangan
12. Air buangan mengalir dengan baik
13. Tidak tercium bau Ammoniak disekitar jamban
14. Penerangan di jamban dan peturasan mencukupi
15. Lantai jamban dan peturasan kedap air
16. Dinding jamban dan peturasan mudah dibersihkan
17. ........
..................................,.............................

Tanda tangan
..................................................

J. Instrumen Pengawasan Fasilitas Cuci Tangan


Fasilitas cuci tangan keberadaannya harus dibarengi dengan sejumlah persyaratan baik
persyaratan konstruksi, kebersihan, kapasitas maupun pemeliharaannya. Tempat Cuci tangan
berupa wastafel dengan ukuran setidaknya dengan diameter 50 centimeter. Dalam melakukan
penilaian terhadap tempat cuci tangan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, antara
lain :
1. Penyediaan fasilitas cuci tangan di setiap ruang kerja.
2. Kapasitas dan fasilitas cuci tangan dibanding jumlah seluruh karyawan dan pengunjung rata-
rata perhari.
3. Cara penempatan ruang fasilitas cuci tangan pekerja laki-laki dan perempuan.
4. Konstruksi pemisah ruang.
5. Kualitas bahan yang digunakan untuk fasilitas cuci tangan serta persyaratannya.
6. Tempat cuci tangan tersedia minimal 1 (satu) buah di setiap lantai
7. Perlengkapan tempat cuci tangan , misalnya handuk biasa di dekat lavatory / atau wastafel.
8. Sistem penyediaan air bagi tempat cuci tangan.
9. Ketersediaan shower dengan air panas dan dingin bagi karyawan yang bekerja dengan bahan
beracun, infeksi, irritants.
10. Ketersediaan zat tertentu untuk system pembersihan yang tidak bisa dihilangkan dengan
sabun.
11. Kesesuaian penyediaan air bersih dengan peraturan yang berlaku.

Berdasar uraian diatas maka dapat dibuat contoh instrumen pemantauan pengelolaan
jamban dan peturasan di industri sebagai berikut:
PEMANTAUAN PENGELOLAAN TEMPAT CUCI TANGAN
.............................................................................
Nama Industri :
Alamat Industri :
Jenis Industri :
Jumlah Tenaga Kerja : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Jumlah Tempat Cici Tangan :
Jumlah Pancuran Bilas (Shower) :
Petugas Pemantau :
Tanggal Pemantauan :
No Item Pemantauan Ya Tidak Ket.
1. Terdapat tempat cuci tangan pada setiap ruang kerja
2. Jumlah tenpat cuci tangan sesuai dengan kebutuhan
3. Tempat cuci tangan ditempatkan pada tempat yang
mudah dijangkau
4. Terdapat pemisahan tempat cuci tangan untuk laki-laki
dan perempuan
5. Terdapat dinding pemisah yang kokoh
6. Tempat cuci tangan terbuat dari bahan yang kuat
7. Terdapat fasilitas penunjang untuk cuci tangan
8. Tersedia air dalam jumlah yang cukup
9. Kualitas air untuk cuci tangan memenuhi syarat
10. Limbah dari tempat cuci tangan mengalir dengan baik
11. Terdapat pancuran bilas pada tempat kerja kimia
12. ........
..................................,.............................

Tanda tangan
..................................................

Latihan

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
1. Lengkapi dan sempurnakanlah contoh-contoh instrumen yang diperlukan dalam pengawasan
sanitasi industri sehingga menjadi instrumen yang siap untuk digunakan!.
2. Cermatilah materi pada Topik 2 diatas, apakah sudah sesuai dengan standar-standar dan
ketentuan yang berlaku?.
3. Terkait dengan sanitasi industri apa saja yang harus mendapatkan pengawasan?

Ringkasan

1. Sasaran pengawasan sanitasi industri pada suatu tempat kerja meliputi:


a. Penyediaan air bersih
b. Pengolahan limbah cair
c. Penyehatan tanah adan pengelolaan sampah
d. Penyehatan makanan & minuman
e. Penyehatan udara
f. Pengendalian vector
g. House keeping
h. Jamban dan peturasan
i. Fasilitas cuci tangan
2. Yang perlu pertimbangkan dalam menilai jamban dan peturasan di tempat kerja tidak saja
kondisi kebersihan dari sarana tersebut melainkan juga hal lain yang mempengaruhi kualitas
jamban agar tidak mempengaruhi timbulnya penyakit atau mengganggu kesehatan tenaga
kerja sehingga produktivitas kerja jadi menurun. Pertimbangan tersebut meliputi:
a. Konstruksi jamban dan peturasan
b. Jumlah jamban dan peturasan
c. Pengelolaan dan pemeliharaan jamban
d. Penyediaan air bersih
3. Terkait dengan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit maka bangunan untuk
keperluan industri diharuskan memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Tersedia upaya pencegahan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit secara
terpadu dengan mendahuluan cara/teknologi yang tidak menggunakan bahan
kimia/insektisida, terutama di industri pangan.
b. Tersedia tenaga khusus untuk pencegahan dan pengendalian vektor dan binatang
pembawa penyakit.
c. Memastikan semua sarana dan bangunan yang ada tidak menjadi tempat
berkembangbiaknya vektor dan binatang pembawa penyakit.

Tes 2
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-45/MENLH/10/1997 mengatur
tentang :
A. Indeks Standar Pencemar Udara.
B. Indeks Standar Buangan Limbah Cair.
C. Indeks Standar Pengelolaan Sampah Organik.
D. Indeks Standar Pengelolaan Sampah B3.

2. Ketersediaan tempat cuci tangan dilihat dari aspek jumlah dipersyaratkan :


A. Minimal satu buah setiap 50 orang tenaga kerja.
B. Minimal satu buah setiap 25 orang tenaga kerja.
C. Minimal satu buah setiap lantai.
D. Minimal satu buah setiap ruang kerja.

3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Perkantoran menyebutkan bahwa untuk mendapatkan tingkat kesehatan
dan kenyamanan dalam ruang perkantoran persyaratan pertukaran udara ventilasi untuk
ruang kerja adalah :
A. 0,57 m3/org/min
B. 0,75 m3/org/min
C. 0,65 m3/org/min
D. 0,56 m3/org/min
Topik 3

Instrumen Pengawasan Keselamatan dan


Kesehatan Kerja
A. Sasaran Pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Saudara mahasiswa yang berbahagia, sebelum menyusun instrumen pengawasan
keselamatan dan kesehatan kerja, terlabih dahulu Saudara harus bisa mengidentifikasi sasaran
dalam pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja. Oleh karena itu bacalah materi pada
bagian awal Topik 3 ini dengan cermat.
Undang-Undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja Pasal 2 telah menetapkan
jaminan dan persyaratan keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam
tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan
hukum Republik Indonesia. Selain keselamatan kerja, aspek kesehatan kerja juga harus
diperhatikan sesuai dengan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 4 yang memberikan hak
kesehatan pada setiap orang dan pada Pasal 164 dan Pasal 165 menyatakan bahwa upaya
kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari
gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerja.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat K3 adalah segala kegiatan
untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya
pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Berbicara masalah keselamatan dan
kesehatan kerja, berarti membicarakan dua hal besar yaitu keselamatan kerja dan kesehatan
kerja. Keselamatan kerja bersifat teknis dengan sasaran lingkungan kerja, sedangkan kesehatan
kerja bersifat medis dengan sasaran tenaga kerja.
Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penyusunan instrumen pengawasan keselamatan
dan kesehatan kerja di tempat kerja dapat dikelompokkan menjadi :
1. Instrumen Pengawasan keselamatan kerja
2. Instrumen Pengawasan kesehatan kerja.

B. Instrumen Pengawasan Keselamatan Kerja


Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
menjelaskan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya
dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktivitas
Nasional; bahwa setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula
keselamatannya; bahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman
dan efisien; bahwa berhubung dengan itu perlu diadakan segala daya-upaya untuk membina
norma-norma perlindungan kerja; bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam
Undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja jang
sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi.
Lebih lanjut pada Pasal 3 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
dinyatakan bahwa untuk mewujudkan kondisi diatas, maka setiap kegiatan industri harus
memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja sebagai berikut:
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan;
2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;
3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
4. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-
kejadian lain yang berbahaya;
5. Memberi pertolongan pada kecelakaan;
6. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;
7. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu,
kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran;
8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun psykhis,
peracunan, insfeksi dan penularan;
9. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
10. Menyelenggarakan suhu dan lembah udara yang baik;
11. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
12. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;
13. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan cara dan proses kerjanya;
14. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang;
15. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
16. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan
barang;
17. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
18. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
Sebagai pelaksanaan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja, maka ditetapkan Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di tempat
kerja, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor
PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di tempat kerja.
Faktor fisika adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika yang dalam keputusan
diatas terdiri dari iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang mikro, sinar ultra ungu, dan medan
magnet. Sedangkan faktor kimia adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat kimia yang
dalam keputusan diatas meliputi bentuk padatan (partikel), cair, gas, kabut, aerosol dan uap yang
berasal dari bahan-bahan kimia. Nilai Ambang Batas faktor fisika secara lengkap dapat dibaca
pada BAB II yang kemudian dijabarkan lebih lanjut pada Lampiran 1 dari peraturan diatas.
Sedangkan Nilai Ambang Batas faktor kimia secara lengkap dan rinci dapat dilihat pada Lampiran
2 peraturan yang sama.
Nilai Ambang Batas faktor kimia dapat digunakan sebagai (pedoman) rekomendasi pada
praktek higene perusahaan dalam melakukan penatalaksanaan lingkungan kerja sebagai upaya
untuk mencegah dampaknya terhadap kesehatan. Dengan demikian NAB faktor kimia antara lain
dapat pula digunakan:
1. Sebagai kadar standar untuk perbandingan.
2. Sebagai pedoman untuk perencanaan proses produksi dan perencanaan teknologi
pengendalian bahaya-bahaya di lingkungan kerja.
3. Menentukan pengendalian bahan proses produksi terhadap bahan yang lebih beracun
dengan bahan yang sangat beracun.
4. Membantu menentukan diagnosis gangguan kesehatan, timbulnya penyakit penyakit dan
hambatan-hambatan efisiensi kerja akibat faktor kimiawi dengan bantuan pemeriksaan
biologik
Berdasar uraian diatas maka untuk pengawasan keselamatan kerja industri, dapat dibuat
contoh instrumen pengawasan sebagai berikut :
PEMANTAUAN PENGAWASAN KESELAMATAN KERJA
.............................................................................
Nama Industri :
Alamat Industri :
Jenis Industri :
Jumlah Tenaga Kerja : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Petugas Pemantau :
Tanggal Pemantauan :
Hasil
No Item Pemantauan Faktor Fisika Ket.
Pengukuran
1. Iklim kerja menggunakan parameter ISBB (OC)
2. Intensitas Cahaya (Lux)
3. Intensitas Suara (dBA)
4. Getaran alat kerja mengenai lengan dan tangan (m/det2)
5. Getaran yang berpengaruh terhadap seluruh tubuh (m/det2)
6. Radiasi frekuensi radio a. Kekuatan Medan listrik ( V/m )
dan gelombang mikro b. Kekuatan medan magnit ( A/m )
7. Radiasi sinar ultra ungu (mW/cm2).
8. Medan magnit statis untuk seluruh tubuh (Tesla)

Hasil
No Item Pemantauan Faktor Kimia Ket.
Pengukuran
A. Pengukuran Kualitas Kimia Udara Ambien
1. Partikulat (PM10)
2. Karbon Monoksida (CO)
3. Sulfur dioksida (SO2)
4. Nitrogen dioksida (NO2)
5. Ozon (O3)
B. Pengukuran Kualitas Kimia Udara di tempat kerja,
1. ......................
2. ......................
Parameter yang diukur bisa saja berbeda antara industri yang
3.
satu dengan industri yang lain.
..................................,.............................

Tanda tangan
..................................................

C. Instrumen Pengawasan Kesehatan Kerja


Kesehatan Kerja adalah upaya peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya bagi karyawan di semua jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan yang
disebabkan oleh kondisi karyawan, perlindungan karyawan dari risiko akibat faktor yang
merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan karyawan dalam suatu lingkungan kerja
yang mengadaptasi antara karyawan dengan manusia dan manusia dengan jabatannya. Untuk
mencegah timbulnya gangguan kesehatan dan pencemaran lingkungan di industri, lingkungan
kerja industri harus memenuhi standar dan persyaratan kesehatan agar pekerja dapat
melakukan pekerjaan sesuai jenis pekerjaannya dengan sehat dan produktif.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.02/MEN/1980 tentang
Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja, menyebutkan
bahwa keselamatan kerja yang setinggi-tingginya dapat dicapai bila antara lain kesehatan
tenaga kerja berada dalam taraf yang sebaik-baiknya. Untuk menjamin kemampuan fisik dan
kesehatan tenaga kerja yang sebaik-baiknya perlu diadakan pemeriksaan kesehatan yang
terarah. Pemeriksaan kesehatan kerja tersebut terdiri dari pemeriksaan kesehatan sebelum kerja,
pemeriksaan kesehatan berkala, dan pemeriksaan kesehatan khusus.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor :PER.15/MEN/VIII/2008 tentang
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, menyatakan bahwa dalam rangka memberikan
perlindungan bagi pekerja/buruh yang mengalami kecelakaan di tempat kerja perlu dilakukan
pertolongan pertama secara cepat dan tepat. Berdasarkan ketentuan tersebut diatas lebih jauh
disebutkan bahwa pengusaha wajib menyediakan petugas P3K dan fasilitas P3K di tempat kerja,
serta pengurus wajib melaksanakan P3K di tempat kerja. Ketentuan lebih rinci terkait petugas
P3K, fasilitas P3K dan pelaksanaan P3K di tempat kerja dapat dilihat pada lampiran dari
peraturan diatas.
Terkait dengan pemeliharaan kesehatan tenaga kerja, pemerintah dengan Keputusan
Presiden R.I. Nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, menyatakan bahwa Jaminan
Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat
pemelihaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang
diberikan kepada setiap orang yang telah membayar membayar iuran atau iurannya dibayar oleh
Pemerintah. Kepesertaan Jaminan Kesehatan tersebut diharapkan adalah seluruh warga negara
Indonesia termasuk didalamnya adalah tenaga kerja yang bekerja disektor industri baik formal
maupun nonformal.
Seorang tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya di tempat kerja tidak akan lepas
dari kondisi berbahaya yang ada di tempat kerja. Oleh karena itu maka pengusaha wajib
menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kerja di tempat kerja, hal itu sesuai dengan
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : PER.08/MEN/VII/2010 tentang Alat
Pelindung Diri. Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk
melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi
bahaya di tempat kerja.
Alat Pelindung Diri yang harus disediakan diantaranya adalah Pelindung kepala, Pelindung
mata dan muka, Pelindung telinga, Pelindung pernapasan beserta perlengkapannya, Pelindung
tangan, Pelindung kaki, termasuk Pakaian pelindung, Alat pelindung jatuh perorangan, dan
Pelampung.
Pelaksanaan pekerjaan sehari-hari di tempat kerja tidak dapat terhindar dari penanganan
beban secara manual. Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016 tentang Standar
dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri menyebutkan bahwa persyaratan
penangangan beban manual merupakan hal-hal atau kondisi yang harus dipenuhi oleh setiap
tempat kerja dalam rangka mencegah atau mengurangi risiko terjadinya cedera pada tulang
belakang ataupun bagian tubuh lain akibat aktivitas penanganan beban manual. Adapun
persyaratan penanganan beban manual yang baik adalah sebagai berikut:
1. Sedapat mungkin hindari melakukan aktivitas penanganan beban secara manual di tempat
kerja yang dapat menyebabkan risiko cedera; atau
2. Apabila tidak memungkinkan, maka
a. Lakukan penilaian risiko yang sesuai dan memadai pada semua aktivitas penanganan
beban manual yang dilakukan oleh karyawan, dengan memperhatikan faktor-faktor yang
ditentukan.
b. Lakukan pengendalian yang tepat untuk mengurangi risiko cedera pada karyawan yang
mungkin timbul akibat melakukan aktivitas penanganan beban manual ke tingkat risiko
yang dapat diterima.
c. Memberikan informasi yang tepat kepada setiap karyawan yang melakukan aktivitas
penanganan beban manual berupa:
1). Berat dari setiap beban atau benda yang akan ditangani.
2). Bagian atau sisi terberat dari beban atau benda yang akan diangkat yang menyebabkan
pusat gravitasi tidak berada di sentral.
d. Ulangi penilaian risiko jika:
1). Adanya dugaan bahwa penilaian tersebut tidak lagi sesuai.
2). Terdapat perubahan bermakna pada aktivitas penanganan beban manual yang
dimaksud.
Berdasarkan uraian diatas, maka untuk melakukan pengawasan terhadap aspek kesehatan
kerja pada tenaga kerja di industri dapat menggunakan instrumen pengawasan sebagai berikut :
PEMANTAUAN PENGAWASAN KESEHATAN KERJA
.............................................................................
Nama Industri :
Alamat Industri :
Jenis Industri :
Jumlah Tenaga Kerja : Laki Laki : ......... orang, Perempuan : ....... orang
Petugas Pemantau :
Tanggal Pemantauan :
No Item Pemantauan Ya Tidak Ket.
1. Apakah dilakukan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja
2. Apakah dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala
3. Apakah dilakukan pemeriksaan kesehatan khusus
4. Apakah ada petugas P3K sesuai kebutuhan
5. Apakah tersedia kotak P3K sesuai kebutuhan
6. Apakah isi kotak P3K sesuai ketentuan
7. Apakah semua tenaga kerja mengikuti BPJS Kesehatan
8. Apakah semua tenaga kerja mengikuti BPJS
Ketenagakerjaan
9. Apakah tersedia APD yang diperlukan
10. Apakah jumlah APD memenuhi kebutuhan
11. Apakah ada penanganan beban secara manual
12. ......
13 ......
..................................,.............................

Tanda tangan
..................................................
Latihan

Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan
berikut!
1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 mengatur
tentang apa?.
2. Faktor lingkungan fisik tempat kerja yang harus diawasi terkait dengan keselamatan kerja
mepiluti apa saja?.
3. Sebutkan beberapa syarat keselamatan kerja yang harus terpenuhi pada suatu tempat kerja!.

Ringkasan
1. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
menjelaskan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya
dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta
produktivitas Nasional; bahwa setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu
terjamin pula keselamatannya; bahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan
dipergunakan secara aman dan efisien.
2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor :PER.15/MEN/VIII/2008 tentang
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, menyatakan bahwa dalam rangka memberikan
perlindungan bagi pekerja/buruh yang mengalami kecelakaan di tempat kerja perlu dilakukan
pertolongan pertama secara cepat dan tepat. Berdasarkan ketentuan tersebut diatas lebih
jauh disebutkan bahwa pengusaha wajib menyediakan petugas P3K dan fasilitas P3K di
tempat kerja, serta pengurus wajib melaksanakan P3K di tempat kerja.
3. Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Industri menyebutkan bahwa persyaratan penangangan beban
manual merupakan hal-hal atau kondisi yang harus dipenuhi oleh setiap tempat kerja dalam
rangka mencegah atau mengurangi risiko terjadinya cedera pada tulang belakang ataupun
bagian tubuh lain akibat aktivitas penanganan beban manual.

Tes 3

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!


1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : PER.08/MEN/VII/2010 mengatur
tentang :
A. Pengendalian Kebakaran.
B. Pemeriksaan Kesehatan.
C. Alat Pelindung Diri.
D. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
2. Segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja
melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja:
A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
B. Keselamatan Kerja.
C. Kesehatan Kerja.
D. Hygiene Perusahaan.
3. Salah satu parameter udara ambien yang harus diukur terkait dengan keselamatan dan
kesehatan kerja di industri adalah:
A. Partikulat (PM10).
B. Debu terendap.
C. Karbon dioksida.
D. Kadar oksigen.

Kunci Jawaban Tes


Tes 1
1. D.
2. B.
3. A.

Tes 2
1. A.
2. C.
3. A.

Tes 3
1. C.
2. A.
3. A.
Daftar Pustaka
Agus Sartono. 2001. Long Term Financing Decision: Views and Practices of Financial Managers of
Listed Public Firms in Idonesia. Gadjah Mada International Journal Business. Januari.
Volume 5 No. 1.
Cooper, Donald R., dan Emory, William. 1995. Business Research Methods, Richard D Irwin, Inc.
Burner Gordon C II & Hensel Paul J. 1992. Marketing Scale Handbook: A Compilation of Multi-
Item Measures, American Marketing Association, Illinois.
Hair, Joseph F., Jr., dkk. 1995. Multivariate Data Analysis with Readings. 4thedition. Prentice Hall.
New Jersey.
Jogiyanto. 2005. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman, BPFE,
Yogyakarta.
Keputusan Presiden R.I. Nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks
Standar Pencemar Udara
Lerbin, Aritonang., R., 2011. Metode Penelitian Kuantitatif. Modul Pelatihan Metodologi
Penelitian Universitas Islam “45”.
Marija J Noursis. 1993. SPSS for Windows Profesional Statistics Release 6.0. SPSS Inc. USA.
Nazir, Moh, Ph. D.1998. Metode Penelitian, Ghalia Indonesia.
Noeng Muhadjir. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif: Telaah Positivistik, Rasionalistik,
Phenomenologik, Realisme Metaphisik, Rake Sarasin, Yogyakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 32 tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Hygiene Sanitasi, Kolam
Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Perkantoran.
Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Industri
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup R.I. Nomor 5 tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di tempat kerja.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : PER.08/MEN/VII/2010 tentang Alat
Pelindung Diri.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor :PER.15/MEN/VIII/2008 tentang
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan
Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air
Sekaran, Uma. 2000. Research Methods for Business: A Skill Building Approach, 3rd ed., John
Wiley & Sons Inc, 1994.
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.
Suharsimi Arikunto. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi III. Rineka
Cipta. Jakarta.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.