Anda di halaman 1dari 6

BAB V

PEMBAHASAN

Pada praktikum ini dilakukan pencucian dan sterilisasi alat dan kemasan sediaan.
Sebelum dilakukan proses sterilisasi, alat-alat yang akan disterilisasi dicuci terlebih dahulu.
Pencucian bertujuan untuk mengurangi sebagian mikroorganisme pada alat dan kemasan
sediaan. Untuk alat-alat gelas dilakukan pencucian menggunakan air mengalir sebanyak 3x,
tanpa dikeringkan dengan bantuan lap atau tissue. Selanjutnya diakukan pencucian alat dan
kemasan yang terbuat dari bahan alumunium. Langkah yang dilakukan yaitu mendidihkan
dalam tepol 1% selama 5 menit. Merendam dalam larutan Na2CO3 5 % selama 5 menit.
Membilas dengan aquadest panas mengalir. Kemudian mendidihkan dengan air 5 menit
selanjutnya membilas dengan aquadest. Sedangkan untuk alat dan kemasan dari bahan karet
dilakukan pencucian dengan cara mendidihkan dalam air selama 5 menit. Kemudian, alat dan
kemasan tersebut dipindahkan dan direndam dalam etanol 70%.
Pada pencucian digunakan larutan tepol 1%. Larutan ini berfungsi sebagai
surfaktan yang akan mengikat lemak pada alat maupun kemasan. Lemak tersebut akan diikat
oleh gugus lipofil dari surfaktan. Sedangkan gugus hidrofilnya yang membuat kotoran bisa
terbuang bersama air. Selain itu juga untuk membebaskan pirogen (depirogenasi) dan
disinfektan. Na2CO3 5 % juga berfungsi untuk membersihkan kotoran. Sifat Na2CO3 yang
mampu mengikat kotoran atau mampu mencampur minyak dengan air dapat meningkatkan
efektifitas pencucian. Penggunaan etanol 70% dalam pencucian alat karet bertujuan untuk
menghilangkan sebagian mikroorganisme dengan cara mendenaturasi protein pada sel
mikroorganisme.
Proses yang selanjutnya setelah pencucian alat yaitu dilakukan pengeringan alat
dimana alat dikeringkan dengan oven pada suhu 100oC selama 10 menit dengan posisi
terbalik untuk alat-alat gelas. Namun untuk alat gelas yang tidak bisa diletakkan terbalik
diposisikan miring dalam peletakannya. Dalam pengeringan ini perlu diperhatikan
penyusunan alat dan kemasan dalam oven. Sebaiknya alat dan kemasan disusun agak
renggang sehingga aliran udara dapat menembus dan terdispersi ke seluruh permukaan gelas.
Untuk alat yang terbuat dari karet, proses pengeringan dilakukan secara manual tanpa
menggunakan oven. Hal ini dikarenakan bahan karet tidak tahan terhadap pemanasan tinggi
sehingga dikhawatirkan akan meleleh pada suhu pengeringan tersebut. Setelah alat-alat kering
selanjutnya dilakukan pembungkusan. Alat-alat dibungkus berdasarkan metode yang akan
digunakan untuk sterilisasi. Alat yang disterilkan dengan panas kering dibungkus dengan
menggunakan alumunium foil karena alumunium foil bersifat menghantarkan panas. Selain
itu agar panas dari oven tidak langsung mengenai alat yang dapat menyebabkan pecahnya
alat. Sedangkan alat yang disterilkan menggunakan panas basah dengan autoklaf dibungkus
dengan menggunakan kertas perkamen. Hal ini dikarenakan kertas perkamen memiliki pori-
pori yang lebih besar daripada alumunium foil sehingga dapat ditembus oleh uap panas.
Pada pembungkusan alat-alat yang telah dicuci dilakukan rangkap dua. Tujuan
dilakukannya pembungkusan rangkap dua ini yaitu untuk menghindari kontaminasi dari
ruangan kelas 3 ke ruangan kelas 2. Pencucian alat dilakukan di ruangan kelas 3 sedangkan
proses formulasi dilakukan di ruangan kelas 2. Sehingga saat dibawa ke ruangan kelas 2,
bungkus terluar diluar dilepas lalu disemprot dengan menggunakan alkohol. Sedangkan
bungkus terakhir dilepas ketika akan dilakukan formulasi. Setelah bungkusnya dilepas tidak
perlu disemprot dengan alkohol karena dapat menyebabkan kontaminasi pada formula yang
dibuat ( sediaan mengandung alkohol). Pada CPOB, ruangan industri farmasi diklasifikasikan
menjadi 4, yaitu ruang kelas 1, 2, 3 dan kelas 4. Kelas 1 atau disebut white area, kelas 2 atau
yang disebut clean area, kelas 3 atau grey area, yang terakhir yaitu kelas 4 disebut dengan
black area.
Selanjutnya dilakukan proses sterilisasi alat dan kemasan sediaan. Sterilisasi
merupakan suatu proses untuk menghilangkan, mematikan, atau menghancurkan semua
bentuk mikroorganisme hidup baik yang patogen maupun tidak, bahkan dalam bentuk
vegetatif (spora) dari suatu objek atau bahan. Secara umum metode pembuatan sediaan steril
dibagi menjadi 2, yaitu metode sterilisasi akhir dan metode aseptis.
Metode sterilisasi akhir yaitu sterilisasi yang dilakukan pada akhir percobaan yaitu setelah
sediaan selesai dikemas, baru dilakukan sterilisasi. Sedangkan metode sterilisasi aseptis yaitu
sterilisasi yang dilakukan dengan cara sterilisasi pada semua alat dan bahan sediaan (pada
awal sebelum pembuatan sediaan) sesuai dengan sifat dari alat dan bahan yang digunakan,
kemudian dilanjutkan pada proses pembuatan dan pengemasan harus dalam keadaan steril.
Pada praktikum kali ini, terdapat sebagian alat yang di sterilisasi dengan metode aseptis dan
ada juga yang di sterilisasi dengan metode sterilisasi akhir.
Sterilisasi sangat penting dilakukan karena merupakan salah satu elemen penting
dalam suatu rangkaian proses pembuatan sediaan steril. Pada praktikum kali ini, metode
sterilisasi dilakukan dengan dua metode yaitu sterilisasi panas kering dan sterilisasi panas
basah tergantung bahan yang ingin disterilisasikan. Pada proses sterilisasi terdapat beberapa
jenis waktu sterilisasi, diantaranya:
 Waktu pemanasan yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu yang
diinginkan.
 Waktu kesetimbangan yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu yang sama
antara di luar dan di dalam alat.
 Waktu pembinasaan yaitu waktu yang dibutuhkan untuk membunuh atau
membinaskan seluruh mikroba.
 Waktu pengeluaran udara yaitu waktu yang dibutuhkan sampai muncul tetes-tetes air
atau untuk mengeluarkan udara dalam autoklaf agar suhunya dapat ditingkatkan.
 Waktu menaik yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu sterilisasi.
 Waktu tambahan jaminan sterilisasi yaitu waktu yang ditambahkan untuk
mengantisipasi adanya ketidaksesuaian waktu kesetimbangan. Jumlahnya adalah
setengah dari waktu kesetimbangan.
 Waktu pendinginan yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mendinginkan alat.
 Waktu penurunan yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan suhu dan tekanan
di dalam autoklaf agar autoklaf dapat dibuka.
Sterilisasi panas kering dilakukan dengan menggunakan oven suhu 180oC selama 30
menit. Metode ini digunakan untuk bahan yang tahan terhadap pemanasan tinggi tetapi tidak
dapat ditembus oleh uap air dengan mudah, seperti alat-alat gelas yang terbuat dari kaca,
misalnya cawan petri, kaca arloji, sendok porselin, batang pengaduk, vial, pinset, dll. Prinsip
sterilisasi panas kering menggunakan oven ini yaitu mikroba akan mengalami dehidrasi
sampai kering, dan selanjutnya mikroba akan teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga
akan mengakibatkan kematian pada mikroorganisme tersebut. Dalam sterilisasi ini perlu
diperhatikan penyusunan alat gelas dalam oven, yaitu sebaiknya alat gelas disusun agak
renggang sehingga aliran udara dapat menembus dan terdispersi keseluruh permukaan gelas.
Pada sterilisasi ini, waktu pemanasan yang dibutuhkan 41 menit, waktu kesetimbangan
sebesar 0 menit, waktu pembinasaan 30 menit, waktu tambahan jaminan sterilisasi sebsar 0
menit, dan waktu pendinginan 16 menit. Keuntungan menggunakan metode sterilisasi panas
kering adalah alat-alat yang disterilkan akan tetap kering
Selanjutnya pada praktikum ini, dilakukan juga sterilisasi panas basah dengan
menggunakan autoklaf pada suhu 121 oC. Metode ini digunakan untuk bahan yang tidak tahan
terhadap pemanasan tinggi dan untuk bahan-bahan gelas yang memiliki skala pengukuran.
Sterilisasi panas basah menggunakan autoklaf merupakan proses sterilisasi termal
menggunakan uap jenuh di bawah tekanan yang berlangsung di dalam suatu bejana. Prinsip
sterilisasi panas basah menggunakan autoklaf ini yaitu uap panas yang jenuh akan menembus
membran mikroba/dinding sel mikroba yang mengakibatkan koagulasi dan denaturasi protein
penyusun tubuh mikroba sehingga dapat membunuh mikroba tersebut. Pada sterilisasi ini,
waktu pemanasan yang dibutuhkan 24 menit, waktu pengeluaran udara yaitu 8 menit, waktu
menaik sebesar 10 menit, waktu kesetimbangan sebesar 0 menit, waktu pembinasaan 20
menit, waktu tambahan jaminan sterilisasi sebesar 0 menit, waktu penurunan sebesar 40 menit
dan waktu pendinginan 6 menit. Secara keseluruhan, metode panas basah lebih efektif
dibandingkan panas kering. Kelebihan panas basah dibanding panas kering yaitu uap air
mempunyai daya bakterisida yang lebih besar daripada panas kering sehingga sterilisasi dapat
dilakukan pada suhu yang lebih rendah dan waktu yang lebih singkat. Kapasitas kalor uap air
lebih besar dibandingkan kapasitas kalor udara kering,sehingga pemindahan kalor dapat
terjadi dengan lebih. Selain itu, uap air dapat menempati seluruh ruangan dengan merata.
BAB VI
KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :


a) Sediaan steril adalah bentuk sediaan yang memenuhi syarat bebas mikrooganisme
hidup, seperti bakteri, virus, fungi, protozoa, dan prion disamping syarat fisika dan
kimia.
b) Tujuan dilakukan pencucian yaitu untuk mengurangi terlebih dahulu jumlah
mikroorganisme. Sedangkan tujuan dilakukan sterilisasi yaitu untuk meminimalisir
atau meniadakan potensi kontaminasi dari mikroba yang tidak diinginkan.
c) Metode sterilisasi yang dilakukan, meliputi:
 Metode sterilisasi panas basah dengan menggunakan oven suhu 180oC selama
30 menit. Metode digunakan untuk bahan yang tahan terhadap pemanasan
tinggi tetapi tidak dapat ditembus oleh uap air dengan mudah, seperti alat-alat
gelas yang terbuat dari kaca, misalnya cawan petri, kaca arloji, sendok
porselin, batang pengaduk, vial, pinset, dll.
 Sedangkan metode sterilisasi panas basah dengan menggunakan autoklaf suhu
121oC selama 20 menit. Metode ini digunakan untuk bahan yang tidak tahan
terhadap pemanasan tinggi dan untuk bahan-bahan gelas yang memiliki skala
pengukuran, seperti gelas ukur, beaker glass, bahan karet dll.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Lampiran Peraturan Kepala BPOM RI tentang Pedoman Cara Pembuatan
Obat yang Baik. Jakarta: Badan Pengawasan Obat dan Makanan