Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hukum Termodinamika I menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan
dimusnahkan tetapi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Prinsip tersebut
juga dikenal dengan istilah konservasi energi yang berlaku untuk sistem tertutup dan terbuka.
Secangkir kopi panas ditaruh dalam suatu ruangan, maka akan dengan sendirinya kopi
tersebut menjadi dingin. Dalam kasus tersebut Hukum Termodinamika I telah terpenuhi,
karena energi yang dilepaskan kopi sebanding dengan energi yang diterima oleh lingkungan.
Tetapi jika dibalik, secangkir kopi menjadi panas dalam sebuah ruangan yang dingin, tentu hal
tersebut tidak akan terjadi. Salah satu contoh diatas menjelaskan bahwa proses berjalan dalam
suatu arah tertentu, tidak sebaliknya.
Suatu proses yang telah memenuhi Hukum Termodinamika I, belum tentu dapat
berlangsung. Diperlukan suatu prinsip selain Hukum Termodinamika I untuk menyatakan
bahwa suatu proses dapat berlangsung, yaitu Hukum Termodinamika II. Dengan kata lain,
suatu proses dapat berlangsung jika memenuhi Hukum Termodinamika I dan Hukum
Termodinamika II.
Kegunaan Hukum Termodinamika II tidak sebatas hanya pada mengidentifikasi arah
dari suatu proses, tetapi juga bisa untuk mengetahui kualitas energi (Hukum Termodinamika I
berhubungan dengan kuantitas energi dan perubahan bentuk energi); menentukan batas teoritis
unjuk kerja suatu sistem; dan memperkirakan kelangsungan reaksi kimia (degree of completion
of chemical reaction). Sementara itu dalam bahasannya, Hukum Termodinamika II membahas
tentang proses reversibel dan irreversibel, siklus carnot, mesin kalor, mesin pendingin , mesin
pemanas, serta entropi.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana bunyi dari hukum II termodinamika?
2. Apa yang dimaksud dengan siklus termodinamika?
3. Apa yang dimaksud dengan entropi?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain:

1
1. Untuk mengetahui bunyi dari hukum II termodinamika
2. Untuk mengetahui tentang siklus termodinamika
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan entropi

1. 4. Metode Penulisan
Penulisan makalah ini melalui prosedur studi pustaka, baik media buku maupun
internet. Semua informasi dan gagasan yang telah diperoleh dalam makalah ini, kami
gabungkan menjadi satu kesatuan dan menyeluruh, untuk menjelaskan makalah kami tentang
hukum termodinamika kedua, sehingga kami dapat menarik kesimpulan dari intisari
pembahasan makalah ini.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hukum II Termodinamika


Termodinamika (bahasa Yunani: thermos = 'panas' and dynamic = 'perubahan') adalah
fisika energi , panas, kerja, entropi dan kespontanan proses. Hukum kedua termodinamika
mengatakan bahwa aliran kalor memiliki arah. Dengan kata lain, tidak semua proses di alam
adalah reversibel (arahnya dapat dibalik). Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa
kalor mengalir secara spontan dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah dan tidak
pernah mengalir secara spontan dalam arah kebalikannya. Misalnya, jika sebuah kubus kecil
dicelupkan ke dalam secangkir air kopi panas, kalor akan mengalir dari air kopi panas ke kubus
es sampai suhu keduanya sama.
Hukum pertama termodinamika tidak dapat menjelaskan apakah suatu proses mungkin
terjadi ataukah tak mungkin terjadi. Oleh karena itu, muncullah hukum kedua termodinamika
yang disusun tidak lepas dari usaha untuk mencari sifat atau besaran sistem yang merupakan
fungsi keadaan. Ternyata orang yang menemukannya adalah Clausius dan besaran itu disebut
entropi. Hukum kedua ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Proses suatu sistem terisolasi yang disertai dengan penurunan entropi tidak
mungkin terjadi. Dalam setiap proses yang terjadi pada sistem terisolasi, maka entropi
sistem tersebut selalu naik atau tetap tidak berubah.”
Hukum kedua termodinamika memberikan batasan dasar pada efisiensi sebuah mesin
atau pembangkit daya. Hukum ini juga memberikan batasan energi masukan minimum yang
dibutuhkan untuk menjalankan sebuah sistem pendingin. Hukum kedua termodinamika juga
dapat dinyatakan dalam konsep entropi yaitu sebuah ukuran kuantitatif derajat ketidakaturan
atau keacakan sebuah sistem.
Dari hasil percobaan para ahli menyimpulkan bahwa mustahil untuk membuat sebuah
mesin kalor yang mengubah panas seluruhnya menjadi kerja, yaitu mesin dengan efisiensi
termal 100%. Kemustahilan ini adalah dasar dari satu pernyataan hukum kedua termodinamika
sebagai berikut :
“Adalah mustahil bagi sistem manapun untuk mengalami sebuah proses di mana
sistem menyerap panas dari reservoir pada suhu tunggal dan mengubah panas seluruhnya
menjadi kerja mekanik, dengan sistem berakhir pada keadaan yang sama seperti keadaan
awalnya”.

3
Pernyataan ini dikenal dengan sebutan pernyataan “mesin” dari hukum kedua
termodinamika.
Dasar dari hukum kedua termodinamika terletak pada perbedaaan antara sifat alami
energi dalam dan energi mekanik makroskopik. Dalam benda yang bergerak, molekul
memiliki gerakan acak, tetapi diatas semua itu terdapat gerakan terkoordinasi dari setiap
molekul pada arah yang sesuai dengan kecepatan benda tersebut. Energi kinetik dan energi
potensial yang berkaitan dengan gerakan acak menghasilkan energi dalam.
Jika hukum kedua tidak berlaku, seseorang dapat menggerakkan mobil atau pembangkit
daya dengan mendinginkan udara sekitarnya. Kedua kemustahilan ini tidak melanggar hukum
pertama termodinamika. Oleh karena itu, hukum kedua termodinamika bukanlah penyimpulan
dari hukum pertama, tetapi berdiri sendiri sebagai hukum alam yang terpisah. Hukum pertama
mengabaikan kemungkinan penciptaan atau pemusnahan energi. Sedangkan hukum kedua
termodinamika membatasi ketersediaan energi dan cara penggunaan serta pengubahannya.
Panas mengalir secara spontan dari benda panas ke benda yang lebih dingin, tidak pernah
sebaliknya. Sebuah pendingin mengambil panas dari benda dingin ke benda yang lebih panas,
tetapi operasinya membutuhkan masukan energi mekanik atau kerja. Hal umum mengenai
pengamatan ini dinyatakan sebagai berikut :
“Adalah mustahil bagi proses mana pun untuk bekerja sendiri dan menghasilkan
perpindahan panas dari benda dingin ke benda yang lebih panas.”
Pernyataan ini dikenal dengan sebutan pernyataan “pendingin” dari hukum kedua
termodinamika.
Pernyataan “pendingin” ini mungkin tidak tampak berkaitan sangat dekat dengan
pernyataan “mesin”. Tetapi pada kenyataannya, kedua pernyataan ini seutuhnya setara.
Sebagai contoh, jika seseorang dapat membuat pendingin tanpa kerja, yang melanggar
pernyataan “pendingin” dari hukum kedua, seseorang dapat mengabungkannya dengan sebuah
mesin kalor, memompa kalor yang terbuang oleh mesin kembali ke reservoir panas untuk
dipakai kembali. Meski gabungan ini akan melanggar pernyataan “mesin” dari hukum kedua,
karena selisih efeknya akan menarik selisih panas sejumlah dari reservoir panas dan
mengubah seutuhnya menjadi kerja W.
Perubahan kerja menjadi panas, seperti pada gesekan atau aliran fluida kental (viskos)
dan aliran panas dari panas ke dingin melewati sejumlah gradien suhu, adalah suatu proses
irreversibel. Pernyataan “mesin” dan “pendingin” dari hukum kedua menyatakan bahwa
proses ini hanya dapat dibalik sebagian saja. Misalnya, gas selalu mengalami kebocoran secara
spontan melalui suatu celah dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah.

4
Gas-gas dan cairan-cairan yang dapat bercampur bila dibiarkan akan selalu tercampur dengan
sendirinya dan bukannya terpisah. Hukum kedua termodinamika adalah sebuah pernyataan
dari aspek sifat searah dari proses-proses tersebut dan banyak proses ireversibel lainnya.
Perubahan energi adalah aspek utama dari seluruh kehidupan tanaman dan hewan serta
teknologi manusia, maka hukum kedua termodinamika adalah dasar terpenting dari dunia
tempat makhluk hidup tumbuh dan berkembang.
Dua formulasi dari hukum kedua termodinamika yang berguna untuk memahami
konversi energi panas ke energi mekanik, yaitu formulasi yang dikemukakan oleh
Kelvin-Planck dan Rudolf Clausius. Adapun hukum kedua termodinamika dapat dinyatakan
sebagai berikut :

1. Formulasi Kelvin-Planck
“Tidak mungkin untuk membuat sebuah mesin kalor yang bekerja dalam suatu siklus
yang semata-mata mengubah energi panas yang diperoleh dari suatu sumber pada suhu
tertentu seluruhnya menjadi usaha mekanik.” Dengan kata lain, formulasi kelvin-planck
menyatakan bahwa tidak ada cara untuk mengambil energi panas dari lautan dan menggunakan
energi ini untuk menjalankan generator listrik tanpa efek lebih lanjut, misalnya pemanasan
atmosfer. Oleh karena itu, pada setiap alat atau mesin memiliki nilai efisiensi tertentu. Efisiensi
menyatakan nilai perbandingan dari usaha mekanik yang diperoleh dengan energi panas yang
diserap dari sumber suhu tinggi.

2. Formulasi Clausius
“Tidak mungkin untuk membuat sebuah mesin kalor yang bekerja dalam suatu siklus
yang semata-mata memindahkan energi panas dari suatu benda dingin ke benda
panas”. Dengan kata lain, seseorang tidak dapat mengambil energi dari sumber dingin (suhu
rendah) dan memindahkan seluruhnya ke sumber panas (suhu tinggi) tanpa memberikan energi
pada pompa untuk melakukan usaha. (Marthen Kanginan, 2007: 249-250)

Berbeda dari hukum pertama, hukum kedua ini mempunyai berbagai perumusan. Kelvin
mengetengahkan suatu permasalahan dan Planck mengetengahkan perumusan lain. Karena
pada hakekatnya perumusan kedua orang ini mengenai hal yang sama maka perumusan itu
digabung dan disebut perumusan Kelvin-Planck bagi hukum kedua termodinamika.
Perumusan ini diungkapkan demikian :

5
“Tidak mungkin membuat pesawat yang kerjanya semata-mata menyerap kalor dari sebuah
reservoir dan mengubahnya menjadi usaha”
Oleh Clausius, hukum kedua termodinamika dirumuskan dengan ungkapan :
“Tidak mungkin membuat pesawat yang kerjanya hanya menyerap kalor dari reservoir
bertemperatur rendah dan memindahkan kalor ini ke reservoir yang bertemperatur tinggi,
tanpa disertai perubahan lain”.

Hukum kedua termodinamika terbagi menjadi 2 yaitu :

1. Untuk mesin kalor


” tidak mungkin mengubah semua kalor yang terdapat pada resevoir kalor temperatur tinggi
menjadi kerja dalam sebuah siklus kerja tanpa membuang sebagian kalor ke reservoir kalor
temperatur rendah” . Pernyataan ini dapat digambarkan sebagai berikut .

Gambar 1 proses perubahan kalor menjadi kerja menurut hukum kedua termodinamika

Semua mesin kalor yang bekerja menghasilkan kerja dengan mengkonversikan kalor dari
sumber kalor yang lebih tinggi (Qh) pasti akan membuang sebagian kalor ke resevoir kalor
yang lebih rendah temperaturnya (Ql). Artinya tidak semua kalor dapat diubah menjadi kerja,
pasti ada kebocoran dan kerugian yang disebut efisiensi (η).

Contoh; sebuah motor bakar bensin membakar campuran udara dan bahan bakar dan
menghasilkan kalor. Energi kalor ini tidak semuanya dapat diubah oleh mesin menjadi kerja
(putaran poros), tetapi pasti ada sebagian yang dibuang ke lingkungan sekitar melalui

6
pendingin mesin dan sisa gas buang. Proses konversi energi pada motor bakar menurut hukum
kedua termodinamika dapat digambarkan sebagai berikut .

Gambar 2 proses konversi energi pada motor bakar menurut hukum kedua termodinamika

Efisiensi sistem dapat dihitung dengan membandingkan kerja yang dihasilkan dengan kalor
yang diberikan atau dapat ditulis secara matematis .

2. Untuk mesin pendingin


” Tidak mungkin memindahkan kalor dari reservoir temperatur rendah ke reservoir
temperatur tinggi dalam sebuah siklus kerja tanpa membutuhkan kerja dari luar sistem “.
Hukum kedua termodinamika untuk mesin pendingin dapat digambarkan sebagai berikut.

7
Gambar 3 proses pemindahan kalor dari reservoir temperatur rendah ke reservoir temperatur
tinggi menurut hukum kedua termodinamika.

Semua mesin pendingin memindahkan panas dari ruangan atau sumber panas yang lebih
rendah ke sumber panas yang lebih tinggi membutuhkan kerja dari luar sistem. Pada dasarnya
kalor berpindah dari temperatur tinggi ke temperatur rendah, jadi untuk membalik arah kalor
atau memindahkan kalor dari sumber yang bertemperatur rendah ke daerah yang bertemperatur
lebih tinggi dibutuhkan kerja tambahan (W).

Contoh; Lemari es mendinginkan ruangan di dalam lemari es dengan cara membuang kalor
dari dalam lemari es ke luar ruangan (lingkungan). Temperatur di dalam lemari es lebih rendah
dari pada temperatur di luar lemari es. Supaya lemari es dapat bekerja, maka lemari es
membutuhkan kerja dari luar. Kerja ini diambil dari energi listrik yang digunakan untuk
menggerakan kompressor pada mesin pendingin lemari es.

Inti dari hukum kedua termodinamika adalah setiap proses konversi energi selalu
menghasilkan kerugian yang disebut efisiensi (η). Proses nyata disebut juga proses irreversibel
atau proses yang tidak dapat kembali ke titik semula. Semua proses di alam adalah irreversibel.

8
2.2 Siklus Termodinamika

2.2.1 Pengertian Siklus

Siklus adalah serangkaian proses yang dimulai dari suatu keadaan awal dan berakhir pada
keadaan yang sama dengan keadaan awalnya. Agar dapat melakukan usaha terus-menerus,
suatu sistem harus bekerja dalam satu siklus. Ada 2 macam siklus, yaitu siklus reversibel
(siklus yang dapat balik) dan irreversibel (siklus yang tidak dapat balik).

2.2.2 Siklus Carnot

Tahun 1824 Sadi Carnot menunjukkan bahwa mesin kalor terbalikkan adengan siklus
antara dua reservoir panas adalah mesin yang paling efisien.

Siklus Carnot terdiri dari proses isotermis dan proses adiabatis.


1. Proses a-b : ekaspansi isotermal pada temperatur Th (temperatur tinggi). Gas dalam
keadaan kontak dengan reservoir temperatur tinggi. Dalam proses ini gas menyerap kalor
Th dari reservoir dan melakukan usaha Wab menggerakkan piston.
2. Proses b-c : ekspansi adiabatik. Tidak ada kalor yang diserap maupun keluar sistem.
Selama proses temperatur gas turun dari Th ke Tc (temperatur rendah) dan melakukan usaha
Wab.
3. Proses c-d : kompresi isotermal pada temperatur Tc (temperatur tinggi). Gas dalam
keadaan kontak dengan reservoir temperatur rendah. Dalam proses ini gas melepas kalor
Qc dari reservoir dan mendapat usaha dari luar Wcd

9
4. Proses d-a : kompresi adiabatik. Tidak ada kalor yang diserap maupun keluar sistem.
Selama proses temperatur gas naik dari Tc ke Th dan mendapat usaha Wda .

2.2.3 Mesin Kalor Carnot

Mesin carnot merupakan mesin kalor yang dapat mengubah energi (kalor) menjadi
bentuk lainnya (usaha mekanik). Disamping mesin carnot, terdapat pula mesin-mesin lain
yang digolongkan dalam mesin kalor sperti mesin uap, mesin diesel dan bensin, mesin jet dan
reactor atom. Pada prinsipnya cara kerja mesin kalor ada tiga proses penting yaitu

1. Proses penyerapan kalor dari sumber panas yang sering disebut sebagai reservoir
(tandon) panas.
2. Usaha yang dilakukan oleh mesin.
3. Proses pembuangan kalor pada tempat yang bersuhu rendah, tempat ini sering disebut
reservoir (tandon) dingin.

Pada tahun 1824 seorang insinyur prancis Sadi Carnot (1796-1832) mengusulkan mesin
ideal yang dapat melakukan usaha secara maksimal dan efisien dibandingkan dengan
mesin-mesin kalor lainnya. Ia membuktikan secara teoritis bahwa tidak ada mesin yang lebih
efisien dari mesin ideal ini, walaupun pada kenyataannya mesin ideal ini tidak dapat dibuat.

Mesin carnot bekerja berdasarkan suatu siklus yang disebut siklus carnot. Siklus ini
terjadi pada sebuah silinder berisi gas yang dinding-dindingnya terisolasi secara temal ( panas
tidak dapat menembus dinding silinder). Bahan atau zat yang dilibatkan dalam msin kalor
berdasarkan silkus carnot adalah suatu gas ideal. Proses termodinamika yang terlibat dalam
siklus carnot terdiri dari dua proses isothermal dan dua proses

10
A B : proses isothermal

B C : proses adiabatic

C D : proses isothermal

D A : proses adiabatik

1. Proses AB

Pada proses ini, gas dikontakkan dengan reservoir panas bersuhu T1 melalui dasar
silinder. Kemudian beban sedikit demi sedikit dikurangi sehingga piston (penghisap)
terangkat dan gas akan memuai (berekspansi) secara isothermal pada suhu T1. Selama
proses ini gas menyerap kalor sejumlah Q1 dan melakukan usaha (WAB) Dengan
menaikkan piston keatas.

2. Proses BC

Pada proses ini, dasar silinder yang semula dikontakkan pada reservoir panas
sekarang diberi dinding yang terisolasi terhadap lingkungan. Sedikit demi sedikit
beban dikurangi dan membiarkan gas memuai (mengembang = berekspansi) secara
adiabatik. Selama proses ini suhu gas turun dari T1 menjadi T2 dan gas melakukan
usaha sebanyak WBC yang ditunjukkan dengan naiknya piston.

3. Proses CD

Pada proses ini, gas dikontakkan dengan reservoir dingin bersuhu T2 melalui dasar
silinder. Kemudian beban ditambahkan sedikit demi sedikit sehingga piston turun dan
membiarkan gas termampatkan (terkompres) secara isothermal pada suhu T2. Selama
proses ini gas akan membuang kalor sebanyak Q2 dan menerima usaha (berarti usaha
negatif) dari luar sebesar WCD.

4. Proses DA

Pada proses ini, dasar silinder kembali di isolasikan terhadap lingkunagn. Sedikit
demi sedikit, beban ditambahkan dan biarkan gas termampatkan secara adiabatic.
Selam proses ini suhu gas naik dari T2 menjadi T1 dan gas menerima usaha dari luar
sebanyak WDA yang ditunjukkan dengan turunnya piston.

11
2.2.4 Efisiensi mesin

Prinsip kerja sebuah mesin adalah mengubah energy kalor menjadi energy
mekanik(usaha). Oleh karena tidak semua energy kalor dapat diubah menjadi usaha maka
dikenal istilah efisiensi mesin. Efisiensi mesin (diberi lambing η) didefinisikan sebagai
perbandingan antara usaha (W) yang dilakukan oleh mesin dengan kalor yang diserap mesin
(Q1). Secara matematika dinyatakan sebagai berikut

efisiensi sering dinyatakan dalam persen(%) sehingga persamaan diatas dapat ditulis

dengan menggantikan W dengan Q1-Q2 persamaan diatas dapat ditulis

Berdasarkan hukum I Termodinamika berlaku:

Tc
Carnot  1  x100%
sehingga Th

Keterangan:
η = efisiensi mesin
Tr = temperatur pada reservoir rendah
Tt = temperatur pada reservoir tinggi
Qr = kalor yang dibuang pada reservoir rendah
Qt = kalor yang diserap pada reservoir tinggi

12
2.2.5 Mesin Pendingin Carnot

Hukum kedua thermodinamika menyatakan secara tegas bahwa kalor secara alamiah
mengalir dari bendap bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah. Tapi, ketika kalor dialirkan
dari reservoir suhu rendah ke reservoir suhu tinggi adalah tidak mungkin tanpa disertai suatu
usaha yang dikerjakan padanya. Peralatan yang system kerjanya berdasarkan konsep ini
adalah mesin pendingin. Mesin pendingin memiliki proses yang berlawanan dengan mesin
kalor. Meskipun demikian, karena energy adalah kekal selama pendinginan seperti halnya
pada mesin kalor.

Usaha pada mesin pendingin Carnot dapat dituliskan:

W= Qt — Qr

Contoh keseharian yang terkait dengan mesin pendingin, yaitu, kulkas, AC(air conditioner).

Karakteristik pada mesin pendingin dinyatakan dengan koefisien performansi atau


koefisien kinerja. Koefisien kinerja didefinisikan sebagai perbandingan antara kalor yang
dipindahkan dengan usaha yang dilakukan sistem.

Dalam pengakajian mendalam, jika proses yang terjadi adalah reversible, secara teori kita
dapatkan sebuah peralatan ideal yang disebut pendingin carnot. Secara teori, koefisien
performansi paling besar dimiliki oleh mesin pendingin carnot.

13
Koefisien performansi mesin
pendingin carnot

2.2.5 Mesin Pemanas Carnot


Karakteristik mesin pemanas dinyatakan dengan koefisien kerja yang simbolnya Kp . Secara
matematis dapat dituliskan:

2.3 Entropi

Termodinamika menyatakan bahwa proses alami cenderung bergerak menuju ke keadaan


ketidakteraturan yang lebih besar. Ukuran ketidakteraturan ini dikenal dengan sistem entropi.
Entropi merupakan besaran termodinamika yang menyerupai perubahan setiap keadaan, dari
keadaan awal hingga keadaan akhir sistem. Semakin tinggi entropi suatu sistem menunjukkan
sistem semakin tidak teratur. Entropi sama seperti halnya tekanan dan temperatur, yang
merupakan salah satu sifat dari sifat fisis yang dapat diukur dari sebuah sistem

Perhatikan kembali persamaan hubungan antara kalor dan suhu mutaknya dalam siklus
Carnot, yaitu:

Di mana: besaran disebut entropi, yang diberi symbol S

Dengan demikian, dapat dikatakan jika suatu system pada suhu mutlak (T) mengalami
proses reversible dengan menyerap sejumlah kalor (Q) maka perubahan entropi suatu system
dapat dirumuskan sebagai:

reversibel

14
Di mana: ∆S = perubahan entropi (J/S)

Dari persamaan diatas terlihat bahwa entropi merupakan suatu fungsi keadaan dari suatu
system (sama seperti energy dalam) maka perubahan entropi (entropi keadaan akhir
dikurangi entropi keadaan awal) hanya bergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir
system dan tidak bergatung pada lintasan yang ditempuh system untuk mencapai keadaan
akhir.

2.3.1 Proses reversible

Sejak mesin karnot bekerja, kalor Q1 keluar dari reservoir panas pada suhu mutlak T1 sehingga
entropi panas berkurang. Perubaha entropi reservoir panas dapat dinyatakan dengan:

Tanda minus menunjukan pengurangan entropi karena Q1 menyatakan besaran mtlak kalor.

Sebaliknya , kalor Q2 masuk ke reservoir dingin pada suhu mutlak T2 sehingga entropi dingin
bertambah. Perubahan entropi reservoir dingin dapat dinyatakan dengan:

Namun demikian, total perubahan entropi (∆S) sama dengan nol.

= 0, karena

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa untuk sembarang proses reversible terjadi
perubahan entropi jagat raya sama dengan nol.

Berarti bahwa memperhitungkan perubahan entropi semua bagian system dan

semua bagian dari lingkungan. Jadi, proses reversible tidak mengubah total entropi dari jagat
raya.

15
2.3.2 Proses ireversibel

Proses reversible tidak mengubah entropi jagat raya ( S jagatraya  0 ), sebaliknya pada proses

ireversibel ( atau dapat digunakan pada semua jenis proses) sehingga kelakuan entropi jagat
raya merupakan pernyataan umum lengkap dari hukum kedua termodinamika, yaitu:

“total entropi jagat raya tidak berubah ketika proses reversible terjadi (∆Sjagat
raya=0)dan bertambah ketika proses ireversibel terjadi (∆Sjagat raya>0)”.

2.3.3 Entropi pada Proses Temperatur Berubah


Pada proses yang mengalami perubahan temperatur, entropi dituliskan sebagai berikut.

Keterangan:
∆S = perubahan entropi (J/K)
S1= entropi mula-mula (J/K)
S2 = entropi akhir (J/K)
c = kalor jenis (J/kg K)
m = massa (kg)
T1= suhu mula-mula (K)
T2 = suhu akhir (K)

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan antara lain:

1. Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara spesifik membahas tentang hubung
an antara energi panas dengan kerja.
2. Hukum kedua termodinamika mengatakan bahwa aliran kalor memiliki arah. Dengan kata
lain, tidak semua proses di alam adalah reversibel (arahnya dapat dibalik). Hukum kedua
termodinamika menyatakan bahwa kalor mengalir secara spontan dari benda bersuhu tinggi
ke benda bersuhu rendah dan tidak pernah mengalir secara spontan dalam arah
kebalikannya.
3. Terdapat dua pernyataan dari hukum termodinamika ke-2. Pernyataan kelvin-plank yang
diperuntukkan untuk mesin kalor, dan pernyataan clausius yang diperuntukkan untuk mesin
pendingin/pompa kalor.
4. Sebuah mesin kalor dapat di karakteristikkan sebagai berikut:
 Mesin kalor menerima panas dari source bertemperatur tinggi (energi matahari, bahan
bakar, reaktor nuklir, dll)
 Mesin kalor mengkonvensi sebagian panas menjadi kerja (umumnya dalam bentuk
poros yang berputar)
 Mesin kalor membuang sisa panas ke sink bertemperatur rendah.
 Mesin kalor beroperasi dalam sebuah siklus.

17
DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Miftachul . 2005 . Entropi dan Hukum Kedua Termodinamika . (Online) .


http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1112756344. (Diakses
pada tanggal 18 Juni 2017).

Halliday-Resnick, Fisika, alih bahasa Silaban-Sucipto, Erlangga, Jakarta, 1990.

Rosyid,abdur. 2014 . Hukum Kedua Termodinamika . (Online) .


https://mechanicals.wordpress.com/2014/04/19/hukum-kedua-termodinamika/.
(Diakses pada tanggal 18 Juni 2017).

Team pelajaran . 2016 . Hukum Termodinamika 1 dan 2,Penjelasan, Rumus dan


Contoh Pembahasan Soal Lengkap!. (Online) .
http://www.pelajaran.co.id/2016/05/hukum-termodinamika-i-dan-iipenjelasan-rumus-
dan-contoh-pembahasan-soal.html. (Diakses pada tanggal 18 Juni 2017).