Anda di halaman 1dari 10

Kebersihan Diri pada Anak

1. Pengertian Personal Hygiene


Personal Hygiene merupakan perawatan diri yang dilakukan orang seperti
mandi, toilet, kebersihan tubuh secara umum, dan berhias. Personal hygiene
adalah masalah yang sangat pribadi ditentukan oleh nilai-nilai individu dan
praktik. Ini melibatkan perawatan kulit, telinga, rambut, kuku, gigi, rongga
mulut dan hidung, mata, telinga, dan daerah perineal-genital (Berman, Snyder,
& Frandsen, 2016). Menurut Potter dan Perry (2010), personal hygiene adalah
suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikis. Perawatan diri memengaruhi kenyamanan,
keamanan, dan kesejahteraan klien. Anak yang sedang sakit atau memiliki
hambatan fisik, membutuhkan berbagai tingkat pemenuhan personal hygiene.
2. Tujuan Personal Hygiene (Tarwoto & Wartonah, 2011)
- Mempertahankan perawatan diri baik secara mandiri maupun dengan
bantuan
- Membersikan mikroorganisme dari tubuh, sehingga meminimalkan
terjadinya infeksi kulit
- Meningkatkan kenyamanan, kesegaran dan relaksasi
- Meningkatkan percaya diri
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene
a. Citra Tubuh
Penampilan umum seseorang dapat menggambarkan pentingnya
hygiene pada orang tersebut. citra tubuh merupakan konsep subjektif
seseorang tentang penampilan fisiknya (Potter & perry, 2010).
Gambaran individu terhadap dirinya sagat mempengaruhi kebersihan
dirinya, misalnya karena ada perubahan fisik sehingga individu tidak
peduli terhadap kebersihannya.
b. Praktik Sosial
Kelompok – kelompok sosial dapat mempengaruhi praktik personal
hygiene pribadi. Selama masa kanak-kanak, anak – anak mendapatkan
praktik hygiene dari orangtua mereka. Kebiasaan keluarga, jumlah
orang di rumah, dan ketersediaan air panas atau air mengalir merupakan
beberapa faktor yang memepengaruhi perawatan kebersihan (Potter &
perry, 2010). Anak-anak yang selalu di manja dalam kebersihan diri,
maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola hygiene (Tarwoto &
Wartonah, 2011).
c. Status Sosial Ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang yang terbatas dapat mempengaruhi
jenis, frekuensi dan tingkat praktik kebersihan yang digunakan (Potter
& perry, 2010). Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti
sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat-alat mandi yang semuanya
memerlukan uang untuk menyediakannya (Tarwoto & Wartonah,
2011).
d. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan seseorang mempengaruhi pemahamannya tentang
hubungan antara kebersihan dan kesehatan. Sebelum seseorang
melakukan personal hygiene, mereka harus termotivasi dan percaya
bahwa mereka mampu merawat diri (Tarwoto & Wartonah, 2011).
e. Budaya
Kepercayaan kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan
hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik
perawatan diri yang berbeda. Di sebagian masyarakat, apabila individu
sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan (Potter & perry, 2010).
f. Kebiasaan Seseorang
Setiap individu mempunyai pilihan kapan untuk mandi dan melakukan
perawatan rambut. Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk
tertentu dalam perawatan diri, seperti penggunaan sabun, sampo dan
lain-lain (Potter & perry, 2010; Tarwoto & Wartonah, 2011).
g. Kondisi Fisik
Pada keadaan sakit, seseorang mungkin tidak memiliki motivasi dan
kemampuan untuk merawat diri dan perlu bantuan untuk melakukannya
(Potter & perry, 2010).
4. Dampak yang Sering Timbul pada Masalah Personal Hygiene
Kebersihan diri sangatlah penting dalam kehidupan anak. Kebersihan diri
yang terjaga dengan baik akan membuat anak menjadi sehat, dan terhindar dari
berbagai macam penyakit. Berikut ini adalah dampak yang ditimbulkan jika
anak tidak menjaga kebersihan diri dengan baik (Tarwoto & Wartonah, 2011):
a. Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpelihara kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang
sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membran
mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada
kuku.
b. Dampak Psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah
gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai,
kebutuhan harga diri, dan gangguan interaksi sosial.

Personal hygiene ini meliputi perawatan kulit, kaki, kuku, mulut dan hidung, gigi,
rambut, mata, telinga, dan daerah genital (Kozier, Berman, & Snyder, 2011).
a. Kulit
Kulit memiliki fungsi perlindungan, sekresi, eksresi, regulasi suhu, dan
sensasi. Kulit yang sehat merupakan garis pertama pertahanan tubuh.
Untuk itu, kebersihan kulit harus tetap dijaga agar kesehatan kulit
terjaga dan dapat melakukan fungsinya dengan baik. Agar kulit dapat
menjalankan fungsinya sebagai perlindungan, seseorang harus menjaga
kebersihan dan kesehatan kulit. Hal ini dapat dilakkukan dengan
menjaga agar seprai dan pakaian tetap kering, karena seprai atau
pakaian yang lembab dapat mengganggu integritas kulit dan dapat
menyebabkan pertumbuhan bakteri meningkat. Selain itu, untuk
mencegah pertumbuhan bakteri dapat juga dilakukan dengan
pembersihan kulit seperti mandi atau cuci muka. Hal ini untuk
mengurangi minyak berlebih, sel kulit mati, dan kotoran yang
menempel pada kulit. Tetapi dalam melakukan aktivitas tersebut,
penggunaan seperti sabun atau kosmetik harus sesuai dengan jenis kulit
untuk mencegah terjadinya iritasi kulit. Kemudian, untuk menjaga
fungsi sensasi kulit, dapat dilakukan dengan mandi menggunakan air
yang tidak terlalu dingin ataupun terlalu panas, karena hal ini dapat
merusak organ sensorik pada kulit. Lalu, untuk menjaga fungsi eksresi
dan sekresi, seseorang tidak boleh malas mandi, karena mandi dapat
menghilangkan keringat dan minyak yang mengandung
mikroorganisme. Namun, mandi juga tidak boleh dilakukan terlalu
sering karena akan menyebabkan kekeringan kulit (Potter & perry,
2010).
b. Mulut
Hygiene mulut dilakukan untuk menjaga kesehatan mulut, gigi, gusi,
dan bibir. Untuk menjaga hygiene mulut, klien dapat menggosok gigi
untuk membersihkan gigi dari sisa-sisa makanan, plak, dan bakteri,
serta menghilangkan bau mulut. Menggosok gigi sebaiknya dilakukan
setidaknya 4 kali sehari, yaitu setelah makan dan sebelum tidur. Sikat
gigi yang digunakan pun harus dapat menjangkau semua area gigi.
Klien juga harus mengganti sikat gigi setiap 3 bulan atau setelah
penyakit infeksi tenggorokan untuk meminimalkan pertumbuhan
mikroorganisme pada permukaan sikat. Ketika menggosok gigi, klien
harus menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi berfluorida.
Penggunaan sikat gigi pun tidak boleh berbagi dengan orang lain karena
dapat memungkinkan penyebaran penyakit (Potter & perry, 2010).
c. Mata, Telinga dan Hidung
Perawat atau keluarga dapat membantu anak dengan membersihkan
mata anak menggunakan kain bersih yang telah dibasahi air dan jangan
menggunakan sabun, serta jangan menekan mata. Gunakan kain yang
berbeda untuk setiap mata. Perawatan mata dengan menyeka dari dalam
keluar kanus mata untuk mencegah sekresi dari pengeluaran ke dalam
kantung lakrimal. Pembersihan telinga dilakukan dengan waslap yang
dilembabkan dan dirotasikan ke kanal telinga dengan lembut untuk
mengeluarkan serumen pada telinga anak.
Pada perawatan hidung, perawat mencegah anak jangan mengeluarkan
kotoran dengan kasar karena mengakibatkan tekanan yang dapat
mencederai gendang telinga dan mukosa hidung. Perdarahan hidung
merupakan tanda kunci dari pengeluaran yang kasar, iritasi mukosa atau
kekeringan. Jika anak tidak dapat membuang sekresi nasal, perawat
membantu dengan menggunakan waslap basah atau jika sekresi nasal
berlebihan dapat juga dibuang dengan penghisap (Potter & perry, 2010).
d. Rambut
Rambut yang tidak bercahaya, kusut, kotor mengindikasikan perawatan
rambut yang tidak tepat. Kebersihan rambut dan kulit kepala biasanya
mempengaruhi tingkat kenyamanan seseorang. Untuk menjaga
kebersihan rambut, dapat dilakukan dengan memakai sampo ketika
mandi untuk membersihkan rambut dan kulit kepala. Pemakaian sampo
ini bergantung pada aktivitas yang dilakukan dan keadaan rambut
seseorang. Klien di rumah sakit yang berbaring di tempat tidur, keringat
berlebihan, atau mendapat terapi yang meninggalkan darah atau larutan
di rambut akan membutuhkan pemakaian sampo lebih sering.
Kemudian biasakan untuk mensisir rambut setelah mandi atau jika
merasa rambut kusut (Potter & perry, 2010).
e. Perineal-Genital
Pada wanita, bersihkan bagian labia mayora, kemudian bersihkan
lipatan antara labia mayora dan labia minora. Bersihkan daerah pubis
ke rektum dengan menggunakan waslap yang berbeda. Kemudian
pastikan daerah yang telah dibersihkan kering dengan baik. Pada laki-
laki, pastikan daerah penis dan skrotum dibersihkan dan dikeringkan
dengan baik (Kozier, Berman, & Snyder, 2011).
f. Kaki dan Kuku
Tindakan yang dapat menjaga kebersihan kaki dan kuku antara lain
perendaman untuk melembutkan kutikula dan lapisan sel tanduk,
pembersihan dan pengeringan menyeluruh, dan menggunting kuku
(Potter & perry, 2010).
5. Definisi Memandikan
Memandikan merupakan prosedur membersihkan seluruh tubuh anak dengan
menggunakan air dan sabun.
6. Manfaat Mandi
Mandi dapat menghilangkan akumulasi minyak, keringat, sel kulit mati, dan
bakteri. Mandi yang berlebihan juga tidak baik karena dapat mengganggu
pelumasan efek sebum, menyebabkan kekeringan pada kulit. Selain
membersihkan, mandi juga merangsang sirkulasi. Mandi dengan air hangat
dapat melebarkan arteriol superfisial, membawa lebih banyak darah dan nutrisi
pada kulit. Menggosok kulit juga lebih baik dari titik terjauh tubuh ke titik
yang paling dekat, karena hal ini sangat efektif dalam memfasilitasi aliran balik
darah vena. Mandi juga menghasilkan rasa sejahtera. Mandi menyegarkan dan
merelaksasikan serta seringkali meningkatkan moral, penampilan dan
kepercayaan diri (Kozier, Berman, & Snyder, 2011).
7. Tata Cara Melakukan Memandikan
a. Tujuan
Membersikan mikroorganisme dari tubuh, sehingga meminimalkan
terjadinya infeksi kulit dan meningkatkan kenyamanan, kesegaran dan
relaksasi
b. Indikasi
- Anak yang tidak bisa mandi secara mandiri, dengan bantuan secara
total maupun sebagian
- Anak dengan tirah baring.
- Anak dengan penurunan kesadaran.
c. Kontraindikasi

d. Alat
- 2 handuk mandi (1 untuk wajah, 1 untuk bagian tubuh lainnya)
- 2 waslap
- Perlak
- Sabun dan tempatnya
- Selimut mandi untuk menutup tubuh anak selama mandi
- Baskom untuk air mandi 2 buah
- Termometer
- Air hangat (43-46 oC)
- Sarung tangan sekali pakai (bila ada resiko kontak dengan cairan
tubuh)
- Perlengkapan mandi (lotion, bedak, sikat gigi, dan pasta gigi)
- Pakaian yang bersih sesuai kebutuhan
- Pispot atau urinal
- Kantong/keranjang linen kotor
e. Prosedur
- Mencuci tangan
- Atur posisi yang nyaman bagi anak, letakkan perlak atau alas lain
yang tahan air
- Lepaskan baju anak, jika salah satu ekstremitas cedera atau kurang
mobilitasnya, mulailah membuka dari sisi yang sehat. Bila
terpasang IV line, melepaskan baju dari lengan yang tidak terdapat
IV line nya.
- Tetap pertahankan agar permukaan tubuh yang lain tetap tertutup
- Isi baskom dengan air bersuhu hangat (43-46oC)
- Masukan waslap ke dalam baskom, peras sampai air tidak menetes
- Mencuci muka dan leher
 Handuk dibentangkan dibawah kepada, muka, telinga dan
leher.
 Bersihkan mata klien tanpa sabun, menggunakan bagian
yang berbeda untuk setiap mata. Gerakkan waslap dari arah
dalam keluar kantus mata. Tidak menekan mata secara
langsung. Bila terdapat kerak-kerak pada kelopak mata
basahi 2-3 menit sebelum dibersihkan. Kemudian keringkan
mata dengan hati-hati.
 Bersihkan, bilas, dan keringkan dengan baik bagian dahi,
pipi, hidung, leher dan telinga.
- Menggosok gigi (bagi anak yang tidak memiliki resiko aspirasi)
 Tinggikan tempat tidur pada bagian kepala atau posisikan
anak dalam posisi miring
 Letakkan handuk di bawah dagu anak
 Oleskan pasta gigi pada sikat gigi
 Bersihkan permukaan dalam dan luar dari gigi atas dan
bawah dengan menyikat dari gusi ke mahkota setiap gigi.
 Bersihkan lidah dengan lembut,
 Bantu anak untuk berkumur dengan cairan pencuci
mulut/pembilas 2-3 kali
- Mencuci lengan/tangan
 Letakkan handuk memanjang di badan klien
 Membersihkan lengan dengan sabun dan air, menggunakan
usapan yang panjang dan tegas dari area distal ke proximal.
- Mencuci dada dan perut
 Turunkan selimut sampai bagian atas pubis
 Kedua tangan di keataskan kemudian ketiak, dada, dan perut
dibersihkan dengan air dan sabun lalu dikeringkan dengan
handuk.
- Mencuci punggung
 Bantu anak untuk miring (kanan atau kiri) atau tengkurap
untuk membersihkan punggung dan bokong, meletakkan
handuk sepanjang sisi klien.
 Kemudian punggung sampai bokong dibersihkan
menggunakan air dan sabun, lalu dikeringkan dengan
handuk.
 Bersihkan dan keringkan punggung dari leher ke bokong
dengan usapan memanjang dan tegas. Memberi perhatian
khusus pada lipatan di daerah bokong dan anus
- Mencuci kaki
 Tutup bagian dada dengan bagian atas dari selimut mandi.
Ekspos bagian dekat tungkai bawah dengan melipat selimut
ke arah tengah. Pastikan daerah perineum tertutup.
 Buka kaki yang terjauh dengan meletakkan tangan dibawah
tungkai. Mengangkat tangan dari atas dan pasang handuk
secara memanjang di bawah tungkai.
 Gunakan usapan memanjang lembut dan tegas pada waktu
membersihkan, dari tumit ke lutut dan dari lutut ke paha.
Keringkan
- Mencuci perineal-genital
 Pada wanita, bersihkan bagian labia mayora, kemudian
bersihkan lipatan antara labia mayora dan labia minora.
Bersihkan daerah pubis ke rektum dengan menggunakan
waslap yang berbeda. Kemudian pastikan daerah yang telah
dibersihkan kering dengan baik. Pada laki-laki, pastikan
daerah penis dan skrotum dibersihkan dan dikeringkan
dengan baik
f. Hal yang Harus Diperhatikan
- Perhatikan toleransi anak terhadap prosedur yang meliputi
frekuensi nafas, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu, nyeri, dan
respon klien.
- Mengkaji kembali integritas kulit anak khususnya yang mengalami
kulit kering, kemerahan, dan adanya lesi

Daftar Pustaka

Berman, A., Snyder, S.J., & Frandsen, G. (2016). Fundamentals of nursing:


Concepts, practice, and process, 10th edition. New Jersey: Pearson
Education Inc.
Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S. (2011). Fundamentals of nursing:
Concepts, process, and pratice (7th ed.). New Jersey: Prentice Hall.
Lynn, P., & LeBon, M. (2011). Taylor's clinical nursing skill. United States:
Lippincott Williams & Wilkins.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). Fundamental of nursing (7th ed.). Singapore:
Elsevier.
Tarwoto and Wartonah. (2011). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika