Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

New Public Management and Reformation of Public Sector

Disusun Oleh Kelompok I

Amalia Afindaningrum 165020307111014

Annisa Zulfaa Puspitarini 165020301111082

Geonardo Primaditya Nugraha 165020307111010

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN AKUNTANSI

MALANG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

New Public Management (NPM) merupakan isu penting dalam reformasi sektor publik.
Konsep NPM juga memiliki keterkaitan dengan permasalahan manajemen kinerja sektor publik
karena pengukuran kinerja menjadi salah satu prinsip NPM yang utama. Gerakan NPM pada
awalnya terjadi di negara-negara maju di Eropa, akan tetapi pada perkembangannya konsep NPM
telah menjadi suatu gerakan global, sehingga negara-negara berkembang pun juga terkena
pengaruh penyebaran global dari konsep ini. New Public Management (NPM) merupakan sistem
manajemen administrasi publik yang paling aktual di seluruh dunia dan sedang direalisasikan di
hampir seluruh negara industri. Sistem ini dikembangkan di wilayah anglo Amerika sejak paruh
kedua tahun 80-an dan telah mencapai status sangat tinggi khususnya di Selandia Baru.

Dalam NPM, pemerintah dipaksa untuk mengadopsi, baik teknik-teknik administrasi


bisnis juga nilai-nilai bisnis. Ini meliputi nilai-nilai seperti kompetisi, pilihan pelanggan, dan
respek atas semangat kewirausahaan. Sejak tahun 1990-an, reformasi-reformasi di sektor publik
menghendaki keunggulan-keunggulan yang ada di sektor swasta diadopsi dalam prinsip-prinsip
manajemen sektor publik.

Pendekatan manajerial model NPM yang dikembangkan pertama kali oleh Hood ini atau
managerialism istilah Polit atau market based public administration istilah Lan dan Rosenbloom
atau entrepreneurial government istilah Osbone dan Gebler, walau memiliki istilah yang berbeda
namun pada dasarnya sama-sama berupaya mentransformasi birokrasi lama menjadi birokrasi
baru. Dengan melakukan hal-hal yang sebagaimana dikemukakan Owen E. Hughes (1994, 3) :
Improving public management, reducing budgets, privatisations of public enterprise seem
universal; no-one now is arguing for or increasing the scope of government or bureaucracy.
BAB II

ANALISIS NEW PUBLIC MANAGEMENT DALAM PENERAPANNYA DI INDONESIA

2.1 Pengertian New Public Management

New Public Management tidak selalu dipahami sama oleh semua orang, bagi sementara
orang, NPM adalah suatu system manajemen desentral dengan perangkat-perangkat manajemen
baru seperti controlling, benchmarking dan lean management, bagi yang lain, NPM dipahami
sebagai privatisasi sejauh mungkin atas aktivitas pemerintah. Sebagian besar ahli membedakan
antara pendekatan manajemen sebagai perangkat baru pengendalian pemerintah dan pendekatan
persaingan sebagai deregulasi secara maksimal serta penciptaan persaingan pada penyediaan
layanan pemerintah kepada masyarakat.

Jika disimpulkan, NPM memiliki ciri-ciri berikut: pertama, pengendalian yang


berorientasi pada persaingan dengan cara pemisahan wewenang antara pihak yang memberi dana
dan pihak pelaksana tugas; kedua, memfokuskan pada efektifitas, efisiensi dan mutu pelaksanaan
tugas; ketiga, pemisahan manajemen strategis apa dari manajemen operasional bagaimana,
keempat dalam pemberian order dan anggaran umum, pelaksana order pemerintah dan swasta
diperlakukan sama. Keempat, adanya upaya meningkatkan inovasi yang terarah (sebagai bagian
dari order kerja) karena adanya pendelegasian (bukan hanya desentralisasi) manajemen
operasional.

2.2 Tujuan New Public Management

1. Menurut Rainey (1990): ‘public management aims to achieve skills and improve skills and
improve accountability’ Manajemen publik itu ditujukan untuk meningkatkan tercapainya tujuan
sektor publik (lebih efektif dan efisien), pegawainya lebih berkeahlian dan lebih mampu
mempertanggungjawabkan kinerjanya.

2. Menurut Graham & Hays (1991): “public managemen are concerned with
efficiency,accountability,goal achlevement and dozen of other managerial and technical
question”, Manajemen publik itu bertujuan untuk menjadikan sector public lebih efisien,
akuntabel, dan tujuannya tercapai serta lebih mampu menangani berbagai masalah manajerial
dan teknis.

Tujuan New Public Management adalah untuk merubah administrasi publik sedemikian
rupa sehingga, kalaupun belum bisa menjadi perusahaan, ia bisa lebih bersifat seperti perusahaan.
Administrasi publik sebagai penyedia jasa bagi warga harus sadar akan tugasnya untuk
menghasilkan layanan yang efisien dan efektif. Tapi, di lain pihak ia tidak boleh berorientasi
pada laba. Padahal ini wajib bagi sebuah perusahaan kalau ia ingin tetap bertahan dalam pasar
yang penuh persaingan.

2.3 Karakteristik New Public Management

Menurut C.Hood (1991) terdapat 7 karakteristik New Public Management, yaitu:

1. Hands-on professional management. Pelaksanaan tugas manajemen pemerintahaan diserahkan


kepada manajer professional.

2. Explicit standards and measures of performance. Adanya standar dan ukuran kinerja yang
jelas.

3. Greater emphasis on out put controls. Lebih ditekankan pada control hasil/keluaran.

4. A shift to desegregations of units in the public sector. Pembagian tugas ke dalam unit-unit
yang dibawah.

5. A shift to greater competition in the public sector. Ditumbuhkannya persaingan ditubuh sektor
publik.

6. A stress on private sectore styles of management practice. Lebih menekankan diterapkannya


gaya manajemen sektor privat.

7. A stress on greater discipline and parsimony in resource use. Lebih menekankan pada
kedisiplinan yang tinggi dan tidak boros dalam menggunakan berbagai sumber. Sektor publik
seyogjanya bekerja lebih keras dengan sumber-sumber yang terbatas (to do more with less).
2.4 Penerapan NPM di Indonesia

Tidak dapat disangsikan lagi bahwa pengaruh globalisasi dibidang ekonomi sangat
menguntungkan negara-negara maju, karena dalam "upaya" mcmperbaiki ekonomi negara-
negara berkembang, terdapat unsur-unsur ideologi yang disusupkan kedalam suatu negara,
Seperti Amerika Serikat yang berada dibalik Iembaga bantuan peminjaman seperti IMF dan
Bank Dunia, jika ingin memberikan bantuan maka salah satu persyaratannya harus menerima
prinsip pasar bebas. Hal ini bagi negara berkembang seperti negara Indonesia akan berakibat
hanya dijadikan negara koloni, yaitu tidak Iebih hanya pasar barang dan tempat pemasaran
industri oleh negara-negara maju.

Karena terdapat unsur keberpihakan pada negara-negara maju, pengaruh globalisasi bagi
Indonesia menimbulkan keterpurukan ekonomi yang disebabkan ketidak mampuan kita dalam
bersaing secara cepat pada hasil-hasil produksi di tanah air. Demikian juga tingkat
ketergantungan kita yang secara tidak sadar telah mengikat secara politik prinsip-prinsip kapitalis
dan pemikiran liberal. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi
informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi.

Beberapa pihak berpendapat bahwa NPM tidak tepat diterapkan untuk negara-negara
berkembang. Dalam implementasinya mereka mengalami kesulitan. Akibat adanya
kecenderungan birokrasi yang masih sulit dihilangkan. Pengadopsian model NPM yang
dilakukan oleh negara berkembang ini apakah memang benar-benar menjadikan lebih baik
atukah hanya sekadar perubahan luarnya saja. Kita perlu menilik sejauh mana efektifitas
penerapan NPM di negara-negara berkembang pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya.
Sebagai negara yang juga turut ingin berbenah Indonesia berusaha menerapkan paradigma NPM
tersebut. Meski ada sikap pesimis dari berbagai pihak mengenai kesanggupan penerapannya.
Salah satu yang menonjol adalah adanya reformasi birokrasi di Departemen Keuangan
dan Badan Pemeriksa Keuangan. Dalam reformasinya kedua instansi ini berfokus pada pilar-pilar
yang menjadi pokok perubahan birokrasi, yaitu: kelembagaan\/ organisasi, proses bisnis, sumber
daya manusia, serta prasarana dan sarana. Tidak salah lagi, bahwa upaya ini dilakukan untuk
memperbaiki standar pelayanan umum yang diberikan kepada publik.

Dalam reformasi birokrasinya, sebagai penerapan dari NPM, baik Departemen Keuangan
maupun Badan Pemeriksa Keuangan menggunakan konsep Balanced Score Card, yaitu dengan
membentuk strategy map dan key performance indicators (KPI) sebagai standar dan alat
pengukuran kinerja. Bisa dikatakan bahwa dalam konsepnya kedua instansi ini sukses. Hanya
saja dalam pelaksanaannya dirasa masih setengah hati.

Hal ini terlihat dari belum sinkronnya antara program dengan strategi yang dibentuk. Juga
antara program dengan KPI. Terlebih pada anggarannya pada format DIPA. Hal ini saling
berkaitan karena money follow functions. Ketika strategi program beserta KPI-nya terbentuk
secara rapi maka tentunya anggaran akan mengikuti mekanisme tersebut.

2.5. Reformasi Sektor Publik

Reformasi sektor publik penting artinya dalam kaitannya dengan peningkatan layanan
kepada masyarakat. Reformasi ini penting dilakukan kaitannya dengan peningkatan kepercayaan
masyarakat akan pengelolaan keuangan dan pertanggungjawabannya. Dua hal penting dalam
reformasi sektor publik adalah reformasi anggaran dan laporan keuangan.
Menurut pengalaman banyak negara, reformasi sektor publik senantiasa di awali dengan
reformasi akuntansi pemerintahan, baru kemudian meluas ke sektor publik yang lain. Menurut
Power dan Laughlin (1992), inti dari proses reformasi sektor publik adalah perubahan dari sistem
akuntansi berbasis kas ke akuntansi dan anggaran berbasis akrual. Menurut Mardiasmo (2004),
reformasi sektor publik haruslah diawali dengan reformasi anggaran, reformasi manajemen,
reformasi akuntansi, reformasi audit dan reformasi lembaga. salah satu bentuk dari reformasi
sektor publik adalah New Public Management (NPM).
Menurut Peters (2001), inti dari munculnya pendekatan New Public Management (NPM)
dalam organisasi sektor publik adalah “that private sector techniques and practices are directly
transferable to the public sector”. Atau adanya keinginan untuk mentransfer teknis dan praktis
manajemen yang ada di perusahaan swasta ke organisasi sektor publik. Hal tersebut berdasarkan
keyakinan bahwa praktik manajemen di sektor swasta lebih baik dibanding dengan praktik dan
manajemen pada sektor publik. Oleh karena itu untuk memperbaiki kinerja sektor publik, perlu
diadopsi beberapa praktik dan teknik manajemen yang diterapkan di sektor swasta ke dalam
sektor publik.

2.6. Reformasi Anggaran dalam Perspektif New Public Management

Reformasi anggaran dalam perspektif New Public Management (NPM) yang dimaksud
adalah adanya perubahan yang mendasar dalam penggunaan model anggaran. Model anggaran
yang digunakan selama ini oleh organisasi sektor publik adalah traditional budget reporting.
Padahal NPM merekomendasikan penggunaan Performance Budget Reporting (PBR) guna
pengelolaan anggaran organisasi sektor publik dan telah meninggalkan traditional budget
reporting (Mardiasmo,2004; Bastian, 2006; Mahsun dkk, 2006).

Traditional budgeting sering disebut dengan line item budgeting yaitu penyusunan
anggaran yang dilakukan pada dan dari mana dana berasal (pos-pos penerimaan) dan untuk
apa dana tersebut digunakan (pos-pos pengeluaran). Jenis anggaran ini relatif dianggap paling
tua dan banyak mengandung kelemahan. Namun demikian “line item budgeting” sangat
populer penggunaannya karena dianggap mudah untuk dilaksanakan.

Line item budgeting mempunyai sejumlah karakteristik penting, dimana tujuan utamanya
adalah untuk melakukan kontrol keuangan dan sangat berorientasi pada input organisasi,
penetapannya melalui pendekatan “incremental” (kenaikan bertahap) dan tidak jarang dalam
praktiknya memakai kemampuan menghabiskan atau menyerap anggaran sebagai salah satu
indikator penting untuk mengukur keberhasilan organisasi.

Karakteristik Keunggulan Kelemahan

1. Titik berat perhatian 1. Relatif mudah 1. Perhatian terhadap


pada segi menelusurinya laporan pelaksanaan
pelaksanaan dana 2. Mengamankan anggaran penerimaan
pengawasan komitmen di antara dan pengeluaran sangat
2. Penekanan hanya partisipan sehingga sedikit
pada segi dapat mengurangi 2. Diabaikannya
administrasi konflik pencapaian prestasi
realisasi penerimaan
dan pengeluaran yang
dianggarkan
3. Para penyusun
anggaran tidak
memiliki alasan
rasional dalam
menetapkan target
penerimaan dan
pengeluaran

Performance budgeting (anggaran yang berorientasi pada kinerja) adalah sistem


penganggaran yang berorientasi pada output organisasi dan berkaitan sangat berat dengan visi,
misi, rencana strategi organisasi (Bastian,2006). Performance budgeting mengalokasikan
sumber daya pada program, bukan pada unit organisasi semata dan memakai output
measurement sebagai indikator kinerja organisasi. Model ini juga menggunakan teknik
penyusunan anggaran berdasarkan pertimbangan beban kerja (work load) dan unit cost dari
setiap kegiatan yang terstruktur. Struktur tersebut diawali dengan pencapaian tujuan, program,
dan didasari oleh pemikiran bahwa penganggaran digunakan sebagai alat manajemen.

Karakteristik Keunggulan Kelemahan

1. Terdiri atas program 1. Pendelegasian 1. Tidak semua kegiatan


dan kegiatan, wewenang dalam dapat distandarisasi
pengukuran hasil pengambilan 2. Tidak semua hasil kerja
kerja, program keputusan dapat diukur secara
pelaporan 2. Merangsang kuantitatif
2. Ditekankan pada partisipasi, 3. Tidak jelas mengenai
pengukuran hasil memotivasi unit kerja, siapa pengambil
kerja, bukan dan penilaian
keputusan dan siapa
pengawasan anggaran yang bersifat yang menanggung
faktual
3. Lebih fokus pada beban atas keputusan
efisiensi dan output 3. Fungsi perencanaan
yang maksimal dan mempertajam
pembuatan keputusan
4. Menghasilkan
informasi biaya dan 4. Alokasi dana optimal
hasil kerja guna didasarkan efisiensi
menyusun target dan unit kerja
evaluasi pelaksanaan 5. Menghindari
pemborosan

2.7. Perubahan Basis Akuntansi Rekomendasi New Public Management (NPC)

Sebagaimana semangat dari New Public Management (NPM) tentang reformasi sektor
publik dapat dilakukan dengan merubah model laporan anggaran dan laporan keuangan
organisasi sektor publik. Hal ini dapat dilakukan dengan merubah laporan anggaran tradisional
(line item budgeting) menjadi laporan anggaran performance budgeting, dan juga menyusun
laporan keuangan berbasis akuntansi accrual dengan double entry bookeeping system.
Perubahan basis akuntansi sendiri mencerminkan tingkat transparansi dan akuntabilitas
publik organisasi sektor publik. Basis akuntansi merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang
menentukan kapan pengaruh atas transaksi atau kejadian harus diakui untuk tujuan pelaporan
keuangan. empat macam basis akuntansi yang ada yaitu:
1. Akuntansi berbasis kas (cash basis of accounting)
Menurut konsep akuntansi berbasis kas, transaksi ekonomi dan kejadian lain diakui
ketika kas diterima atau dibayarkan. Basis kas ini dapat mengukur kinerja keuangan
organisasi yaitu untuk mengetahui perbedaan antara penerimaan kas dan pengeluaran
kas dalam suatu periode.
2. Modifikasi dari akuntansi berbasis kas (modified cash basis of accounting)
Pada dasarnya sama dengan akuntansi basis kas, namun dalam basis ini pembukuan
untuk periode tahun berjalan masih ditambah dengan waktu atau periode tertentu
(specified period) misalnya 1 atau 2 bulan setelah periode tertentu (“leaves the books
open”). Penerimaan dan pengeluaran kas yang terjadi selama periode tertentu tetapi
diakibatkan oleh periode pelaporan sebelumnya akan diakui sebagai penerimaan dan
pengeluaran atas periode pelaporan yang lalu (periode sebelumnya).
3. Akuntansi berbasis akrual (accrual basis of accounting)
Akuntansi berbasis akrual berarti suatu basis akuntansi dimana transaksi ekonomi dan
peristiwa-peristiwa diakui dan dicatat dalam catatan akuntansi dan dilaporkan dalam
periode laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, bukan pada saat kas
atau ekuivalen kas diterima atau dibayarkan.
4. Modifikasi dari akuntansi berbasis akrual (modified accrual basis of accounting)
Basis akuntansi ini meliputi pengakuan beberapa aktiva, namun tidak seluruhnya,
seperti aktiva fisik, dan pengakuan beberapa kewajiban, namun tidak seluruhnya,
seperti utang pensiun.
Basis Kas Basis Akrual

1. mengukur aliran sumber-sumber kas 1. pengakuan dampak keuangan dari


2. transaksi keuangan diakui pada saat uang transaksi-transaksi dalam periode
diterima / dibayarkan terjadinya transaksi menurut timbulnya
3. menunjukkan ketaatan pada anggaran hak dan kewajiban
belanja (spending limits) dan pada 2. sesuai untuk pelaporan kinerja mengenai
peraturan lain asset management, cost efficiencies dan
4. menghasilkan laporan yang kurang cost recoveries
komprehensif bagi pengambilan 3. sistem ini memerlukan ; pencatatan yang
keputusan komprehensif mengenai assets dan
liabilities dan sistem pengukuran biaya

2.8. Perubahan Sistem Akuntansi

Selain melakukan perubahan basis akuntansi, untuk dapat melakukan perubahan model
laporan keuangan organisasi sektor publik juga harus dilakukan dengan merubah desain sistem
tata buku menjadi sistem tata buku berpasangan (Double Entry Accounting System). Adapun
secara umum tahapan dalam proses desain tersebut adalah; (Bodnar dan Hopwood, 2001;142)

a) Design a rough classification of accounts, or chart of account, and related financial


statements and reports,
b) Review this with management and operating personnel,
c) Finalize statements, chart of account and other report,
d) Prepare a plan of journalizing and design the necessary business papers and
procedures to implement and operate the system.
Berdasarkan langkah-langkah diatas, menyiapkan chart of account menjadi kebutuhan
yang penting dalam double entry accounting system terutama dalam upaya merubah model
laporan keuangan. Chart of account digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi
dalam hal pelaporan dan kontrol keuangan (Bodnar dan Hopwood, 2001;142).

Untuk mendesain chart of accounts haruslah dipertimbangkan kebutuhan pelaporan


untuk ekternal dan kebutuhan informasi bagi organisasi. Salah satu cara untuk
mengorganisasikan chart of accounts adalah dengan mengelompokkan akun-akun aktiva,
kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban ke dalam “block” atau kelompok yang berurutan
dari masing-masing kelompok rekening-rekening. Hal tersebut dinamakan block coding
(Bodnar dan Hopwood, 2001;149).
DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik : Suatu Pengantar. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Bodnar, George H dan William S Hopwood. 2001. Accounting Information Systems. Eighth
Edition. Prentice Hall Inc. USA : New Jersey.