Anda di halaman 1dari 10

RENCANA PERAWATAN ODONTEKTOMI GIGI MOLAR KETIGA

BAWAH KANAN IMPAKSI SEBAGIAN DENGAN ANGULASI


MESIOANGULAR KELAS II, LEVEL A

Operator :
Cici Anggraini
121611101048

Instruktur :
drg. Hengky Bowo Ardhianto MD.Sc

BAGIAN BEDAH MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2018

1
I. Identitas Penderita
Nama penderita : fathurrohman
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 24 tahun
Pekerjaan : Mahasiswa Hukum
Alamat : Jalan Mastrip No. 24a, Jember

II. Anamnesa
Pasien sering merasakan sakit pada gigi belakang kanan bawah dan pada pipi
dekat giginya. Rasa sakit tersebut biasanya hilang timbul dan paling sering
terjadi bila pasien merasa kelelahan. Hal ini sudah dirasakan pasien sejak ± 2
tahun yang lalu. Rasa sakit kemudian hilang dengan sendirinya setelah beberapa
menit. Pasien ingin gigi tersebut dicabutkan. Kondisi sekarang tidak sakit.

III. Kajian Rontgenologis


Gambar:

Klasifikasi:
a. Relasi gigi terhadap ramus mandibula ke permukaan distal M2 bawah
Kelas II: ruang antara bagian anterior ramus dan permukaan distal M2 bawah
kurang dari diameter mesio-distal mahkota gigi M3.
b. Kedalaman relatif di dalam tulang rahang
Level A : bagian tertinggi dari M3 sejajar dengan dataran oklusal gigi M2

2
c. Posisi sumbu panjang gigi impaksi terhadap sumbu panjanggigi M2 adalah
mesioangular
d. Jumlah / bentuk akar gigi impaksi adalah 2 akar dengan akar sudah terbentuk
sempuran,bentuk aka rterpisah dan konvergen.
e. Tingkat Kesulitan
Nilai
Posisi terhadap sumbu gigi: mesioangular 1
Kedalaman ruang: Level A 1
Relasi ramus terhadap distal M2: Kelas II 2
Tingkat kesulitan 4 (kesulitan
minimal)

IV. Diagnosa
Perikoronitis kronis pada gigi 48 oleh karena impaksi sebagian dengan
angulasi mesioangular, kedalaman level A dan relasi ramus terhadap distal molar
dua Kelas II.

V. Metode Pengambilan Gigi Impaksi


Metode yang digunakan adalah odontektomi yaitu pengambilan gigi impaksi
yang didahului dengan pengambilan jaringan penghambat (jaringan lunak:
gingiva, jaringan keras: tulang alveolar) di sekitar gigi tersebut secukupnya,
kemudian dikeluarkan secara utuh. Metode alternatif apabila odontektomi tidak
berhasil adalah dengan metode odontotomi, yaitu pengambilan gigi impaksi
dengan pemotongan atau pemecahan gigi terlebih dahulu kemudian dikeluarkan
satu persatu.

VI. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan:
1. Alat dasar: kaca mulut, sonde, ekskavator, pinset kedokteran gigi
2. Alat anastesi: dispossible syringe 2,5 ml
3. Alat untuk membuat flap: handle dan scalpel, rasparatorium, pinset chirugis

3
4. Alat untuk membuang jaringan keras penghambat: contra high speed, bur
tulang, mata bur long shank, chisel dan hammer.
5. Alat pengungkit : bein bengkok, bein lurus (besar dan kecil) dan cryer
6. Alat pencabutan : tang mahkota gigi molar rahang bawah, tang sisa akar
rahang bawah dan tang trismus.
7. Alat untuk menjahit : needle holder, cutting edge, gunting dan pinset
chirurgis.
8. Alat lain: neirbecken, petridish, deppen glass, tempat tampon, lap dada, kain
penutup wajah, tempat alkohol, cotton roll, water syringe, saliva ejector, duck
clamp, cheek retractor, knable tang, bone file, arteri clamp, dan alat kuret.
Bahan yang digunakan:
Betadine antiseptik, Pehacain, alkohol 70%, larutan PZ, aquadest steril, benang
non absorbable, cotton pellet, tampon, adrenalin, dan vaselin.

VII. Tahap Pelaksanaan


A. Persiapan alat dan bahan
B. Persiapan penderita meliputi :
1) informed consent, persetujuan pasien terhadap tindakan operasi setelah
diberi penjelasan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi setelah
operasi.
a. terjadinya keterbatasan membuka mulut sementara oleh karena
kelelahan otot pembuka-penutup mulut
b. terjadinya bengkak ekstra oral sementara
c. terjadinya parastesi
d. terjadinya fraktur mandibula
2) pemeriksaan tanda vital
3) pemeriksaan fisik (tidur berapa jam) dan psikis (cemas)
4) mengukur lebar buka mulut pre operasi
C. Persiapan alat dan bahan

4
D. Persiapan operator dan asisten operasi
1. Ass. Op 1 :
a) Mempersiapkan informed consent
b) Mempersiapkan kondisi fisik pasien : memeriksa vital sign dan lebar buka
mulut pasien
c) Mengantarkan pasien ke ruang operasi
d) Membantu operator saat operasi berlangsung
e) Memegang suction dan cheek retractor
f) Memeriksa vital sign dan lebar buka mulut pasien
2. Ass. Op 2 :
a) Mempersiapkan alat-alat operasi
b) Membantu mengambilkan alat pada saat operasi berlangsung
c) Membereskan dan mencuci alat operasi
3. Ass. Op 3 :
a) Membantu operator, ass. Op 1, dan ass. Op 2 apabila diperlukan.
b) Mendudukkan pasien ke ruang operasi dan membuat pasien relaks
c) Menghidupkan lampu dan memasang foto rontgen
d) Melaporkan semua tahapan dan kegiatan operasi kepada instruktur
e) Mencatat tindakan apa saja yang dilakukan saat operasi dan waktu
tahapan-tahapan operasi
f) Membantu fiksasi pasien
g) Membawa pasien keluar ruang operasi sampai ke dental chair
h) Menuliskan resep
E. Asepsis daerah kerja dengan betadine antiseptik
F. Anastesi lokal dengan pehacain
1) Blok N. Alveolaris inferior 1 cc
2) Blok N. Lingualis 0,5 cc
3) Infiltrasi N. Buccalis longus 0,5 cc
G. Mengulas bibir dan sudut mulut penderita dengan vaselin (agar bibir tidak
kering dan terluka) kemudian menutup muka penderita dengan kain penutup
steril dan dijepit dengan duck clamp.

5
H. Pembuatan mukoperiosteal flap
1. Tipe : Mucoperiosteal full thickness
2. Bentuk : Trapezoid
3. Syarat insisi :
a. Harus di jaringan sehat.
b. Harus berlandaskan tulang supaya gerakan insisi terkontrol dan saat
penjahitan flap tidak mudah putus.
c. Gerakan satu arah hingga menggores tulang
d. Basis flap harus lebar untuk suplai vaskularisasi
e. Aksesbilitas (lapang pandang yang lebar)
4. Cara :
Insisi dimulai dari arah vertikal sebelah bukal dari linea oblique externa
ramus ascendens, yaitu sepanjang 1-2 cm sebelah distal gigi impaksi
berhenti pada distal gigi molar kedua. Kemudian menyusuri tepi gingiva
sebelah lingual mengelilingi gigi impaksi dan berhenti pada sepertiga
mesiodistal gigi molar kedua membentuk diagonal distomesial dan insisi
berakhir pada pada batas mukosa bergerak dan tidak bergerak, kemudian
dipisahkan dengan rasparatorium hingga tulang alveolar tampak.
Gambar:

6
I. Menghilangkan jaringan penghambat dilakukan dengan memotong tulang
alveolar menggunakan bur tulang pada sisi bukal molar ketiga impaksi
hingga mencapai servikal gigi M3. Tujuan untuk menghilangkan jaringan
penghambat jalan keluarnya gigi hingga mudah diungkit.
Gambar :

J. Apabila jaringan penghambat bagian bukal sudah dihilangkan, kemudian


dilakukan pemotongan mahkota gigi bagian distal mahkota gigi M3 secara
melintang dimana makin ke servikal bagian yang dipotong makin kecil.
Bagian mahkota distal yang terpotong diungkit dengan menggunakan bein
dan dikeluarkan lebih dahulu. Kemudian sisa potongan gigi dikeluarkan
dengan diungkit menggunakan bein.
Gambar:

K. Menghaluskan tulang yang tajam dengan bone file.


L. Debridement yaitu dengan
1. membersihkan serpihan tulang atau gigi dari soket dengan alat kuret
2. irigasi dengan larutan PZ untuk menghilangkan serbuk gigi dan tulang
sisa pengeburan.

7
M. Kontrol perdarahan:
1. perdarahan normal, druk dengan tampon, langsung dilakukan penjahitan
2. perdarahan abnormal, druk dengan tampon adrenalin dan pemberian
vitamin K dan bila terjadi perdarahan cukup besar, dilakukan kauterisasi
pembuluh darah
N. Menutup luka operasi:
Dengan melakukan penjahitan 3 simpul yaitu 2 simpul di oklusal gigi impaksi
dan 1 simpul di daerah bukal.
Gambar:

VIII. Instruksi Pasca Odontektomi:


a. Penderita dianjurkan menggigit tampon selama 30-60 menit
b. Penderita diberitahu kadang-kadang setelah tampon dilepas darah masih
merembes, maka sebaiknya dikompres.
c. Daerah luka tidak boleh dimainkan dengan lidah dan dihisap-hisap
d. Tidak boleh kumur keras-keras setelah operasi
e. Selama 24 jam setelah operasi tidak boleh makan dan minum yang panas
f. Jika ada pembengkakan setelah 24 jam disarankan kumur-kumur air garam
hangat
g. Disarankan untuk banyak istirahat
h. Disarankan untuk meningkatkan kebersihan mulut
i. Disarankan untuk minum obat secara teratur sesuai resep yang diberikan

8
IX. Pemberian Resep
R/ Amoxicillin tab. 500 mg No. XII
 3 d.d 1

R/ Asam mefenamat tab. 500 mg No. XII


 p.r.n I

R/ Becomzet tab. X
 3 d.d I

X. Kontrol
a. 24 jam post odontektomi
tujuan untuk kontrol perdarahan, keradangan, kebersihan daerah operasi dan
kontrol jahitan.
b. 4 hari post odontektomi
tujuan untuk mengetahui proses radang reda atau belum, kontrol kebersihan
daerah operasi.
c. 7 hari post odontektomi
tujuan untuk mengetahui penyembuhan tulang dan membuka jahitan.

9
No Tindakan Waktu
Mulai Selesai
1 Anastesi lokal
2 Membuat flap
3 Menghilangkan jaringan penghambat
4 Mengeluarkan/mengungkit gigi
5 Menghaluskan tulang yang tajam,
debridement dan irigasi
6 Suturing/ penjahitan

10