Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Belajar merupakan proses manusia mencapai berbagai macam kompetensi,

keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat.

Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang

membedakan manusia dengan makhluk hidup Iainnya. Belajar mempunyai

keuntungan, baik bagi individu maupun masyarakat. Bagi individu, kemampuan

untuk belajar terus-menerus akan memberikan dampak positif terhadap

perkembangan kuatitas hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat, belajar mempunyai

peranan yang sangat penting dalam pengembangan budaya dan pengetahuan.

Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan

perubahan dalam dirinya meialui pengalaman-pengalaman. Dengan demikian,

belajar dapat membawa perubahan bagi si pembelajar, baik perubahan dalam

pengetahuan, sikap, maupun keterampilan dan juga akan mernbantu dalam

memecahkan permasalahan hidup agar dapat menyesuaikan diri dengan

Iingkungannya.

Pada dasarnya prinsip belajar lebih dititikberatkan pada aktivitas siswa

yang menjadi dasar dalam proses pembelajaran baik dijenjang SD, SLTP, SLTA

maupun di tingkat Perguruan Tinggi. Dengan belajar, siswa dapat merasa, berpikir

dan bergerak untuk memahami setiap kenyataan yang diinginkan untuk

menghasilkan sebuah perilaku, pengetahuan, dan teknologi serta segala sesuatu


yang dibutuhkan dalam kehidupannya. Melalui belajar, siswa dapat

memperbaharui dan mengembangkan dirinya agar kehidupannya menjadi lebih

baik.

Siswa adalah individu yang unik, mempunyai ciri masing-masing dan

harus dihargai keberadaannya. Siswa bukan sebagai objek yang pasif menerima

pengetahuan tetapi siswa merupakan subjek yang harus aktif pada saat kegiatan

belajar-mengajar berlangsung.

Dalam proses belajar-mengajar, siswa merupakan subjek yang harus aktif,

sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Ketika siswa belajar, terjadi perubahan

perilaku akibat kegiatan belajar-mengajar mengakibatkan siswa memiliki

penguasaan terhadap materi pengajaran yang disampaikan dalam kegiatan belajar-

mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Yang harus diingat, hasil belajar

adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek

potensi kemanusiaan saja.

Untuk mempermudah pembelajaran di sekolah, pemerintah membuat

kurikulum yang memuat berbagai mata pelajaran dan salah satunya adalah mata

pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata pelajaran IPS merupakan kajian

antar disiplin. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi

yang berkaitan dengan isu sosial. Melalui mata pelajaran IPS, siswa diarahkan

untuk dapat menjadi Warga Negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung

jawab serta warga dunia yang cinta damai. 1 Menyadari akan peran penting dalam

kehidupan, maka belajar IPS selayaknya merupakan kebutuhan dan menjadi

kegiatan yang menyenangkan. Oleh karena itu, materi IPS akan Iebih mudah bi!a
1
Siswanto, Ilrnu Sosial Dasar, (Malang: IKIP Malang, 1989) h.2
disajikan atau diajarkan dalam bentuk nyata, karena hal itu akan dapat mereka

terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran IPS yang efektif harus

dimulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman nyata dan selanjutnya

menuju ke pengalaman yang Iebih abstrak.

Namun dalam penerapan pembelajaran IPS terutama di Sekolah Dasar

(SD), dalam proses kegiatan belajar-mengajar masih ada guru yang mengajarkan

siswa dengan cara menggunakan metode lama atau metode ceramah. Siswa hanya

disuruh untuk membaca dan menghafal materi pembelajaran. Guru masih belum

menguasai cara-cara (teknik-teknik) mengajarkan IPS dengan menggunakan

strategi belajar yang tepat dan efisien, sehingga siswa hanya sekedar meniru dan

menghafal setiap materi yang diberikan. Dengan demikian siswa tidak menjadi

aktif dan mandiri serta tidak dapat berpikir kritis terhadap materi pelajaran.

Masalah pembelajaran yang dijabarkan diatas terjadi juga di SDN 06 Pagi

Menteng Atas Jakarta Selatan. Selama peneliti melakukan observasi, peneliti

menemukan adanya suatu yang kurang baik yaitu dalam mengajarkan materi

pelajaran IPS guru hanya menggunakan metode ceramah dan tidak menggunakan

media pembelajaran. Padahal, jika dalam kegiatan belajar-mengajar guru tidak

menggunakan media pembelajaran dan hanya menggunakan metode ceramah

secara terus-menerus dapat mengakibatkan siswa tidak termotivasi dan mandiri

serta aktif dalam pembelajaran IPS. Hal demikian akan berpengaruh terhadap

hasil belajar siswanya. Rendahnya hasil belajar IPS tentang sumber daya alam

siswa kelas IV SDN Ka Tengah IV, Bekasi Utara ini sungguh sangat

memprihatinkan. Pencapaian hasil belajar siswa di sekolah tersebut masih di


bawah dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan. Hal ini

dapat dilihat pada hasil tes formatif, dari 37 siswa yang mendapat nilai di atas 65

hanya 11 siswa, sedangkan 26 siswa hasilnya di bawah nilai 65. Dengan demikian

nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan oleh sekolah di

awal pembelajaran tidak tercapai. Pembelajaran disebut berhasil jika 70% dari

jumlah siswa mencapai nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 65.

Materi pembelajaran yang diajarkan oleh guru hendaknya menjadi

bermakna. Bermakna dimaksudkan yaitu bagaimana mengajarkan siswa untuk

berpikir dan memahami materi pelajaran bukan hanya sekedar mendengar,

menerima dan mengingat. Setiap unsur materi pelajaran harus diolah dan

diinterpretasikan sedemikian rupa sehingga masuk akal. Sesuatu yang tidak masuk

akal tidak akan menempel dalam ingatan seseorang.

Untuk menciptakan pelajaran yang bermakna bagi siswa, ada beberapa

pendekatan atau metode yang sering digunakan. Salah satu pendekatan tersebut

yaitu pendekatan konstruktivisme. Pendekatan ini memberikan kebebasan kepada

peserta didik yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan cara belajar

menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi dan hal lain yang

diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.

Pendekatan atau teori yang dikenal dengan konstruktivis menyatakan

bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasi informasi kompleks,

mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan-merevisi aturan-aturan

itu apabila tidak lagi sesuai. Hakikat dan teori konstruktivis adalah ide bahwa

siswa harus menjadikan informasi menjadi miliknya sendiri.


Pendekatah konstrutivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri

secara kreatif, aktif dan produktif berdasarkan pengetahuan pengalaman belajar

yang bermakna.

Dengan kegiatan pembelajaran, guru dan siswa memegang peranan yang

penting. Guru dan siswa memiliki kedudukan sebagai subjek belajar. Sebagai

subjek belajar, keduanya dituntut aktif dalam mericari data, informasi, dan

interpretasi data dari materi pelajaran. Dengan demikian proses belajar-mengajar

bertanggung dalam suasana yang tidak statis, tidak monoton, dan tidak

membosankan. Untuk itu, guru dituntut agar dapat mengimplementasikan proses

belajar-mengajar kearah pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan

menyenangkan.

Melaiui pendekatan konstrutivisme, siswa lebih aktif dan kreatif dalam

proses pembelajaran. Siswa diberikan kesempatan untuk mengeluarkan ide-ide

mereka. Selain menjadi lebih bertanggung jawab dalam menghadapi suatu

permasalahan. Pembelajaran seperti ini secara tidak Iangsung telah

membangkitkan minat dan semangat belajar siswa sehingga dapat meningkatkan

hasil belajar mereka terutama tentang mata pelajaran IPS yang selama ini

dianggap sebagai mata pelajaran yang sangat membosankan.

Dengan pembelajaran yang bermakna ini, diharapkan siswa lebih

memahami konsep-konser dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terutama

tentang sumber daya alam yang ada dalam lingkungan sosialnya. Siswa

diharapkan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam yang ada

disekitarnya.
B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka terungkap beberapa

masalah yang terjadi dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Kelas IV

Sekolah Dasar Negeri Ka Tengah IV Bekasi Utara adalah sebagai berikut:

1. Guru mengajarkan masih bersifat monoton dan menggunakan metode

lama (ceramah).

2. Guru lebih dominan dalam kegiatan belajar-mengajar yang

mengakibatkan hasil belajar siswa tidak sesuai dengan yang diharapkan.

3. Apakah dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme dapat

meningkatkan hasil belajar siswa?

4. Apakah dengan menggunakan media/alat peraga dapat meningkatkan

semangat dan hasil belajar siswa?

5. Apakah dengan pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan motivasi

belajar siswa?

6. Apakah dengan pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan kinerja

guru?

C. Pembatasan Masalah

Fokus penelitian ini dibatasi pada identifikasi fokus area, maka peneliti

hanya membatasi Iingkup permasalahannya pada penerapan pendekatan

konstruktivisme dalam upaya meningkatkan hasil belajar IPS tentang sumber daya

alam di kelas IV SDN Ka. Tengah Bekasi Utara.


D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan fokus

penelitian, maka rumusan masalahnya adalah: "Apakah pendekatan

konstruktivisme dapat meningkatkan hasil belajar IPS tentang sumber daya alam

di kelas IV SDN Ka Tengah IV Bekasi Utara?".

C. Kegunaan Penelitian

Penelitian yang berfokus pada upaya meningkatkan hasil belajar IPS di

kelas IV SDN Ka Tengah IV, Bekasi Utara menggunakan pendekatan

konstruktivisme ini dapat bermanfaat, baik secara teoritis maupun secara praktis.

1. Secara Teoritis

Peneliti mengharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan

perbaikan dan peningkatan hasil belajar serta perubahan yang baik pada

siswa.

2. Secara Praktis

Secara praktis hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi :

a. Siswa

Diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajar

siswa terhadap mata pelajaran IPS.

a. Pendidik

Sebagai bahan informasi untuk mengembangkan konsep-

konsep IPS di Sekolah Dasar, pendidik diharapkan kreatif dalam


menggunakan pendekatan atau metode yang sesuai dengan masalah

yang dihadapi dalam proses pembelajaran.

b. Sekolah

Sebagai bahan acuan dan perbandingan dalam mengembangkan

model pembelajaran.
BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Hakikat Hasil Belajar IPS tentang Sumber Daya Alam

1. Pengertian Belajar

Belajar menjadi suatu proses untuk mendapatkan hasil tertentu yang

dilakukan oleh seorang individu melalui berbagai somber mencapai peningkatan

dalam dirinya. Hal ini sesuai dengan pengertian belajar yang diungkapkan oleh

Howard L Kingsley berikut ini: Seperti yang dikutip Ahmadi dan Supriyono

"Learning is the process by whichbehavior (in the broader sence) is originated or

changed through practice or training„. Hal ini bahwa berarti belajar adalah proses

dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek

atau latihan.

Menurut Cronbach dalam Baharudin dan Wahyuni. Belajar yang terbaik

adalah melalui pengalaman.2 Dengan pengalaman tersebut pelajar menggunakan

seluruh panca inderanya.

Gagne dalam Qurtubi menyatakan bahwa belajar adalah perubahan yang

terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar terus-menerus,


1
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologo

Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), p. 120


2

2
Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajoran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,
2008), h. 13
bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.3 Selanjutnya Gagne

berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dari

dalam diri dan keduanya sating berinteraksi.

Pendapat lain yang lebih popular ialah memandang belajar sebagai

perubahan kelakuan, suatu "change of behavior". Suatu definisi yang sering

dikutip ialah yang diberikan oleh Hilgard dalam Nasution, sebagai berikut :

Learning is the process, by which an activity originates or is changed through

training procedures (whether in the laboratory on in the natural environtment) as

distinguishe from change by factors not attributable to training.4

Seseorang belajar biia ia ingin melakukan suatu kegiatan sehingga

kelakuannya berubah. la dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat

dilakukannya. la menghadapi situasi dengan cara lain. Kelakuan harus kita

pandang dalam arti yang luas meliputi pengamatan, pengenalan, perbuatan, minat,

keterampilan, sikap dan lain-lain. Jadi belajar tidak hanya mengenai bidang

intelektual saja akan tetapi seluruh pribadi anak, kognitif, afektif maupun

psikomotor.

Wertheimer dalam Djaali, berpendapat bahwa dalam proses belajar,

tidaklah dapat mempergunakan metode menghapal, tetapi lebih baik bila siswa

belajar dengan pengertian dan pemahaman. 5 Oleh karena itu, para ahli jiwa dari

aliran kognitif berpendapat bahwa tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan

pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah

3
Ahmad Qortubi, Perencanaan Sistem Pengajaran, (Tangerang: PT Bintang Harapan Sejahtera,
2009),h.1
4
Nasution S, Asas-asas Kurikuturn, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h.59
5
Djaali, Psikologi Pendidikon, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h.63 6 Ibid., h.6-7
laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat Iangsung dalam situasi itu

dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah.

Berdasarkan uraian di atas, belajar dalam penelitian ini didefinisikan

sebagai suatu perubahan tingkah laku peserta didik. Perubahan tersebut tidak

hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk

kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, dan

penyesuaian did dalam did peserta didik.

2. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar menurut Subino dapat dimasukan ke dalam salah satu dari

tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. 6 Belajar dimaksudkan untuk

menimbulkan perubahan perilaku yaitu perubahan dalam aspek kognitif, afektif

dan psikomotor. Perubahan-perubahan dalam aspek itu menjadi hash, dari proses

belajar. Perubahan hash, belajar itu merupakan prilaku yang reievan dengan tujuan

pengajaran. Oleh karenanya, hasil, belajar dapat berupa perubahan dalam

kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor, tergantung dari tujuan

pengajarannya.

Menurut Bloom dalam Suprijono, hasil belajar mencakup kemampuan

kognitif, afektif dan psikomotor. Domain kognitif adalah knowledge

(pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas,

contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan

hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan

6
Balitbang Depdiknas, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, (Jakarta: Balitbang Depdiknas, 2000),
h. 127-128
baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap

menerima), responding (memberikan respon), valuling (nilai): organizing

(organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi

initatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotor juga mencakup keterampilan

produktif, teknik, fisik, sosial,manajerial, dan intelektual.

Secara umum hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor

dari dalam (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Menurut Suryabrata,

yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan psikologis (misalnya

kecerdasan, motivasi berprestasi, dan kemampuan kognitif), sedangkan yang

termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan faktor instrumental

(misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran).7

Sementara itu, Surya mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak

dalam :

1) Kebiasaan, seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali


menghindari kecendrungan penggunaan kata atau struktur yang keliru,
sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan
benar; 2) Keterampilan, seperti : menulis dan berolahraga yang meskipun
sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi
gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi; 3) Pengamatan, yakni proses
menerima, menafsirkan dan memberi arti ransangan yang masuk melalui
indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai
pengertian yang benar; 4) Berpikir asosiatif, yakni berpikir dengan cara
mengasosiasikan sesuatu dengan yang lainnya dengan menggunakan daya
ingat; 5) Berpikir rasional dan kritis, yakni menggunakan prinsip-prinsip
dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti
"bagaimana" (how), dan "mengapa" (why); 6) sikap, yakni kecendrungan
yang relative menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk
terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan
keyakinan; 7) Inhibisi (menghindari hal yang mubazir); 8) Apresiasi
(menghargai karya-karya bermutu); 9) Perilaku afektif, yakni perilaku
yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira,
7
Balitbang Depdiknas, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, (Jakarta : Balitbang Depdiknas,
2000), h. 127-128.
kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.8

Perubahan perilaku akibat kegiatan belajar mengakibatkan peserta didik

memiliki penguasaan terhadap materi pengajaran yang disampaikan dalam

kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pemberian

diberikan oleh Soedijarto yang mendefinisikan belajar tekanan sebagai tingkat

penguasaan yang dicapai dalam mengikuti proses belajar-mengajar siswa sesuai

dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.9

Dengan memperhatikan berbagai teori diatas dapat disimpulkan bahwa

hasil belajar adalah perbuatan perilaku peserta didik akibat belajar yang

disebabkan karena dia mencapai penguasaan atas sejumlah bahan pelajaran yang

diberikan dalam proses belajar-mengajar dan hasil itu dapat berupa perubahan

dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

3. Pengertian Ilmu Pengetehuan Sosial

Pemikiran tentang konsep pendidikan IPS di Indonesia banyak

dipengaruhi oleh pemikiran social studies dari Negara Barat yaitu Amerika

Serikat, yang merupakan salah satu Negara yang kita anggap sebagai warga

Negara yang memiliki pengalaman panjang dan reputasi akademis yang signifikan

dalam bidang ilmu sosial. Amerika memiliki sebuah lembaga yang memberikan

perhatian khusus pada pengembangan social studies. Secara berkala lembaga

tersebut "melahirkan" kajian-kajian akademiknya melalui sebuah jurnal yang

dipublikasikan oleh National Council for the Social Studies (NCSS) berikut.

8
http://laskarkornik.blogspot.com/2009/12/hakikat-belajar.htm!
9
Purwanto, Evaluasi Hosil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009), h. 46
Social studies is the integrated study of the social sciences and
humanities to promote civic competence. Within the school program,
social studies provides coordinated, economics, geography, history, law,
philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well
as appropriate content from the humanities, mathematics and natural
sciences. The primary purpose of social studies is to help young people
develop the ability to make informed and reasoned decision for the public
good as citizens of a culturally diverse, democratic society in an
interdependent world.10

Ilmu-ilmu sosial adalah studi terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial dan

humaniora untuk mempromosikan kompetensi sipil. Dalam program sekolah studi

sosial menyediakan terkoordianasi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat,

ilmu politik, psikologi, agama, dan sosiologi, serta konten yang sesuai dari

humaniora, Matematika dan ilmu alam. Tujuan utama penelitian sosial adalah

untuk membantu kaum muda dalam mengembangkan kemampuan untuk

membuat keputusan informasi dan alasan bagi masyarakat baik sebagai warga

masyarakat, beragama budaya demokratis dunia yang sating tergantung.

Berdasarkan pendapat diatas terdapat perbedaan yang esensial antara IPS

sebagai ilmu-ilmu sosial (social sciences) dengan pendidikan IPS sebagai social

studies. Jika IPS lebih dipusatkan pada pengkajian ilmu murni dari berbagai

bidang yang termasuk dalam ilmu-ilmu sosial atau dalam kata lain IPS adalah

sebagai wujudnya. Setiap disiplin ilmu yang tergabung dalam ilmu-ilmu social

berusaha untuk mengembangkan kajiannya sesuai dengan alur keilmuannya.

Nursid Sumaatmatdja dalam Supriatna dkk, berpendapat bahwa studi

sosial (social studies) berbeda dengan ilmu-ilmu sosial. Studi sosial bukan

merupakan bidang keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan

10
Nana Supriatna, dkk, Pendidikan IPS di SD, (Bandung: UPI PRESS, 2007), h. 4
suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah sosial, untuk mengkaji

masalah-masalah sosial tentunya studi sosial lebih bersifat praktis dari pada

akademis teoritis. Hal ini didasarkan pada gejala dan mendesak. Oleh karena itu

pendekatannya digunakan bersifat indisipliner, multidisipliner, dan terpadu

(intergrated).11 Dengan demikian, bentuk dan studi sosial Iebih banyak

menunjukkan pada program studi gabungan yang berasal dari berbagai disiplin

ilmu.

Soetjipto dan Soedjiran berpendapat bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial

(social studies) ialah pendekatan pengajaran ilmu-ilmu dengan cara memilih dan

menyusun bahan-bahan dari berbagai disiplin ilmu sosial secara terpadu untuk

tujuan pendidikan di sekolah. Bahan-bahan IPS dipilih dan diambil dari berbagai

ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, psikologi sosial, ilmu politik,

antropologi dan sosiologi.12 Karena IPS sebagai hash pilihan dari berbagai bahan

ilmu-ilmu sosial maka pilihan itu harus benarbenar bermanfaat bagi anak didik

menurut tingkat umur, kelas masingmasing.

IPS lahir dari keinginan para pakar pendidikan untuk membekali para

siswa supaya nantinya mereka mampu menghadapi dan menangani kompleksitas

kehidupan di masyarakat yang sering kali berkembang secara tidak terduga.

Perkembangan seperti ini dapat membawa dampak yang negatif. Karena Iuasnya

akibat kehidupan maka lahirlah masalah yang sering kali disebut masalah sosial.

Para peserta didik nantinya harus menghadapi gejala-gejala itu. Barr dkk,

menjelaskan bahwa untuk menghadapi kompleksitas kehidupan para peserta didik


11
Ibid., h. 87
12
Soedjiran dan Soetjipto, Ilmu Pengetahuan Sosial, (Jakarta: Percetakan Negara RI,
1984), h. 5
harus mampu memadukan informasi dari ilmu-ilmu sosial. Bahkan diperlukan

bahan-bahan yang berasal dari ilmu-ilmu alam dan humaniora.13

Tujuan pengembangan IPS dapat dikembangkan atas dasar pernikiran

bahwa pendidikan IPS merupakan suatu disiplin ilmu. Oleh karena itu pendidikan

IPS harus mengacu pada tujuan pendidikan nasional. Dengan demikian tujuan

pendidikan IPS adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam

menguasai disiplin ilmu-ilmu sosial untuk mencapai tujuan pendidikan yang Iebih

tinggi.

Menurut Hasan dalam Supriatna dkk, tujuan pendidikan IPS dapat

dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu pengembangan kemampuan intelektual

siswa, pengembangan kemampuan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota

masyarakat dan bangsa serta pengembangan diri siswa sebagai pribadi. Tujuan

pertama berorientasi pada kemampuan intelektual yang berhubungan dengan diri

siswa dan kepentingan ilmu pengetahuan khususnya ilmu-ilmu sosial. Tujuan

kedua berorientasi pada diri siswa dan kepentingan masyarakat. Sedangkan tujuan

ketiga lebih berorientasi pada pengembangan pribadi siswa baik untuk

kepentingan dirinya, masyarakat maupun ilmu.14

Dengan demikian, berbagai teori diatas dapat disimpulkan bahwa Ilmu

Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari berbagai ilmu-ilmu sosial yang

bertujuan mengembangkan peserta didik untuk menjadi warga Negara yang

demokratis dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai.

13
Djojo dkk, Pendidikan IPS III, (Jakarta: Depdikbud, 1992/93), h. 4
14
Nana Supriatna dkk, op.cit., h. 5
4. Pengertian Sumber Daya Alam

Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia

untuk kelangsungan hidupnya yang berasal dari alam. Berdasarkan surnbernya,

sumber daya alam terdiri atas dua bagian, yaitu sumber daya alam hayati dan

sumber daya alam non hayati. Sumber daya alam hayati adalah sumber daya alam

yang berasal dari makhluk hidup. Contohnya hutan dan hasil pertanian.

Sedangkan sumber daya alam non hayati adalah sumber daya alam yang berasal

dari benda mati. Contohnya air, bahan galian, dan tanah.

Berdasarkan kemampuan untuk diperbarui, sumber daya alam terdiri atas

dua bagian, sumber daya alam yang dapat diperbarui dan sumber daya alam yang

tidak dapat diperbarui. Sumber daya alam yang dapat diperbarui adalah sumber

daya alam yang tidak akan habis dan selaiu dapat diremajakan kembali.

Contohnya air, tanah, hasil pertanian, hutan dan hewan. Sedangkansumber daya

alam yang tidak dapat diperbarui sumber daya alam yang suatu scat akan habis

dan tidak dapat diremajakan kembali. Contohnya adalah berbagai jenis bahan

galian.

5. Karakteristik Siswa Kelas IV SD

Teori Piaget cenderung banyak digunakan dalam proses pembelajaran,

walaupun Teori ini bukan teori mengajar. Teori Piaget adalah teori kognitif,

peserta didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang di pelajarinya.

Dalam menyajikan materi harus menarik minat peserta didik sehingga mereka

senang terlibat dalam proses pembelajaran. Piaget dalam Trianto mengemukakan


ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu: 1) 0 – 2 tahun adalah tahap sensori

motor, ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan dan langkah demi

langkah; 2) 2 – 7 tahun adalah tahap pra operasional, ciri perkembangannya

menggunakan simbol atau bahasa tanda konsep intuitif; 3) 8 – 11 tahun atau lebih

adalah tahap operasi kongkrit, ciri perkembangannya memakai aturan jelas atau

logis dan reversible dan kekebalan; 4) 11 tahun atau lebih adalah tahap operasi

formal, ciri perkembangannya abstrak, murni simbolis, deduktif, induktif dan

logis.15

Siswa kelas IV SD berada dalam tahap operasional konkret, dengan

demikian dalam memberikan materi pelajaran, guru diharapkan lebih

menitikberatkan pada alat peraga atau media yang lebih bersifat konkret dan logis.

Keterlibatan dan penerimaan dalam kehidupan kelompok bagi anak usia sekolah

dasar merupakan minat dan perhatiannya pada kompetensi/kompetensi social

yang positif dan produktif yang akan berkembang pada usia ini. Hasil

pergaulannya dengan kelompok teman sebaya, anak cenderung meniru kelompok

teman sebaya baik dalam hal penampilan maupun bahasa. Selama masa

perkembangannya, pada anak tumbuh berbagai sarana yang dapat

menggambarkan dan mengolah pengalaman dalam dunia di sekeliling mereka.

Dengan memperhatikan karakteristik kognitif siswa kelas IV SD dengan

segala aspek dimensi perkembangannya, maka diharapkan sistem pengajaran yang

dikembangkan mampu melayani kebutuhan belajar yang bermakna bagi siswa.

Melalui penyampaian materi pelajaran yang tepat, maka peserta didik dapat

15
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2007), h. 15
mengikuti pelajaran dengan baik, sehingga siswa antusias untuk belajar,

menjadikan IPS sebagai pelajaran yang menyenangkan dan tujuan dari

pembelajaran itu sendiri dapat tercapai dengan maksimal dan memuaskan.

B. Hakikat Pendekatan Konstruktivisme

1. Pendekatan Konstruktivisme

Konstruktivisme sosial berasal dari Vygotsky. Asumsi Vygotsky dalam

Suprijono adalah bahasa merupakan aspek sosial. Menurutnya pembicaraan

egosentrik merupakan permulaan dari pembentukan inner speech (kemampuan

bicara yang pokok) yang akan digunakan sebagai alat dalam berpikir.16 Menurut

Vygotsky, inner speech (kemampuan bicara yang pokok) berperan dalam

pembentukan pengertian spontan. Pengertian spontan mempunyai dua segi suatu

pengertian dalam dirinya sendiri dan pengertian untuk orang lain. Pengertian yang

terakhir ini menjelaskan pengertian yang diletakkan dalam pembicaraan untuk

dapat berkomunikasi dengan orang lain.

Penerapan konstruktivisma dalam proses belajar-mengajar menghasilkan

metode pengajaran yang menekankan aktivitas utama pada siswa.17 Teori

pendidikan yang didasari konstruktivisme memandang murid sebagai orang yang

menanggapi secara aktif objek-objek dan peristiwa-peristiwa dalam

lingkungannya, serta memperoleh pemahaman tentang seluk-beluk objek-objek

dan peristiwa-peristiwa itu. Menurut teori ini, perlu disadari bahwa siswa adalah

subjek utama dalam kegiatan penemuan pengetahuan. Mereka menyusun dan,

16
Agus Supriajono, op.cit., h.32
17
Lorsbach. A & K. Tobin. 1992. “Cosntructivism as a referent for Science Teaching”.
membangun pengetahuan melalui berbagai pengalaman yang memungkinkan

terbentuknya pengetahuan. Mereka harus menjalani sendiri berbagai pengalaman

yang pada akhirnya memberikan percikan pemikiran (insight) tentang

pengetahuan-pengetahuan tertentu.

Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat

generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari.

Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang

dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan

pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai

pengetahuan dan menjadi Iebih dinamis.18 Pendekatan konstruktivisme

mempunyai beberapa konsep umum seperti :

1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah


ada.
2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri
pengetahuan rnereka.
3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui
proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan
pembelajaran terbaru.
4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan
dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan
pemahamannya yang sudah ada.
5. Ketidak seimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang
utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-
gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan
pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.

Dalam proses belajar terjadi perkembangan dari pengertian spontan ke

ilmiah. Menurut Vygotsky pengertian ilmiah tidak datang dalam bentuk yang jadi

pada seorang anak. Pengertian ini mengalami perkembangan. ini tergantung pada

tingkat kemampuan anak untuk saling berelasi dan saling mempengaruhi.


18
http://id.wikipedia.org/wiki/Konstruktivisme
Dalam pandangan konstruktivisme, pengetahuan tumbuh dan berkembang

melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan kuat apabila

selalu diuji oleh berbagai cara pengalaman baru. Menurut Piaget dalam Trianto,

manusia memiliki struktur dan otaknya, seperti sebuah kotak-kotak yang masing-

masing mempunyai makna yang berbeda-beda. Pengalaman yang sama bagi

seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing-masing individu dan disimpan

dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan

kotak-kotak atau struktur pengetahuan dalam otak manusia. 19 Oleh karena itu,

pada saat manusia belajar, menurut Piaget, sebenarnya telah terjadi dua proses

dalam dirinya, yaitu proses organisasi informasi dan proses adaptasi.

Proses organisasi adalah proses ketika manusia menghubungkan informasi

yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau

sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses organisasi ilmiah, dengan

menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya,

sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasi informasi atau

pengetahuan tersebuit. Sedangkan proses adaptasi adalah proses yang berisikan

dua kegiatan. Pertama, menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang

diterima oleh manusia atau disebut dengan asimilasi. Kedua, mengubah struktur

pengetahuan yang baru, sehingga akan terjadi keseimbangan.

Pendekatan belajar konstruktivisme memiliki beberapa strategi dalam

proses belajar. Strategi-strategi dalam belajar menurut Slavin dalam Baharudin

dan Wahyuni, adalah :

1. Top-down Processing. Dalam pembelajaran konstruktivisme, siswa


19
Trianto, op.cit., h. 109
belajar dimulai dari masalah yang kompleks untuk dipecahkan,
kemudian menghasilkan atau menemukan keterampilan yang
dibutuhkan.
1. Cooperative Learning, yaitu strategi yang digunakan untuk proses
belajar, dimana siswa akan lebih mudah menemukan secara
komperhensif konsep-konsep yang sulit jika mereka mendiskusikannya
dengan siswa lain tentang masalah yang dihadapi.
2. Generative Leaming, strategi ini menekankan pada adanya integrasi
yang aktif antara materi atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan
skemata.20

Menurut teori ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi

pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar member pengetahuan kepada

siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan didalam benaknay. Guru

dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan membeFi kesempatan

kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan

mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka

untuk belajar.

2. Penerapan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pendidikan IPS di SD

Salah satu landasan teoritik pendidikan modern termasuk CTL adalah

teori pembelajaran konstruktivis. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan

pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif

proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar Iebih diwarnai student centered

dari pada teacher centered. Sebagian waktu proses belajar-mengajar berlangsung

dengan berbasis pada aktivitas siswa.

20
Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, op.cit., h. 127-128
Dalam pembelajaran IPS di SD pendekatan konstruktivisme dapat

dilakukan pada semua topik dan pokok bahasan. Namun demikian, ketika guru

menggunakan pendekatan ini, mereka dapat membahas dan mengkaji topik yang

dimunculkan oleh guru dan siswa saat kegiatan berlangsung. Artinya, materi yang

dibahas di kelas tidak harus selalu sama dengan apa yang direncanakan guru

dalam rencana pelajaran atau program-program lainnya yang telah disusun

sebelumnya.

Pendekatan konstruktivis dapat digunakan oleh guru IPS dalam

mengembangkan materi ajar di kelas. Selama ini, pengajaran IPS di sekolah masih

menggunakan pendekatan tradisional seperti ceramah dan Iebih menekankan pada

aspek kognitif dan mengabaikan keterampilanketerampilan social. Konsekuensi

dari metode tersebut adalah siswa merasa bosan terhadap materi pelajaran IPS dan

dalam jangka panjang, tentu saja akan terjadi penurunan kualitas pembelajaran itu

sendiri.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu

yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Kegiatan yang

dilaksanakan adalah dengan cara membagi siswa menjadi beberapa kelompok.

Setiap kelompok bertugas untuk mengumpulkan data tentang penggunaan uang.

Jadi pada kegiatan ini siswa ditugaskan untuk menggunakan lingkungan sekitar

sebagai sumber dan media pembelajaran.

Dalam pandangan Brook and Brook dalam Supriatna dkk, pendekatan

konstruktivisme mengharuskan guru-guru IPS untuk melakukan hal-hal berikut ini

1) Mendorong dan menerima otonomi dan inisiatif siswa dalam


mengembangkan materi pembelajaran; 2) Menggunakan data mentah dan sumber
utama (primary resources), untuk dikembangkan dan didiskusikan bersama-sama
dengan siswa di kelas; 3) Memberikan tugas kepada siswa untuk mengembangkan
klasifikasi, analisis, melakukan prediksi terhadap peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari, dan menciptakan konsep-konsep baru; 4) Bersifat fleksibel
terhadap response dan interpretasi siswa dalam masalah-masalah social, bersedia
mengubah strategi pembelajaran yang tergantung pada minat siswa, serta
mengubah isi pelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi siswa; 5) Memfasilitasi
siswa untuk memahami konsep sambil mengembangkannya melalui dialog
dengan siswa; 6) Mengernbangkan dialog antara guru dengan siswa dan antara
siswa dengan rekan-rekannya; 7) Menghindari penggunaan alat tes untuk
mengukur keberhasilan siswa; 8) Mendorong siswa untuk membuat analisis dan
elaborasi terhadap masalah-masalah controversial yang dihadapinya; 9) Memberi
peluang kepada siswa untuk berpikir mengenai masalah yang dihadapi siswa; dan
10) Memberi peluang kepada siswa untuk membangun jaringan konsep serta
membentuk methapora.21

Dengan demikian, dalam mengevaluasi keberhasilan belajar model

konstruktivis dalam pendidikan IPS di SD, proses belajar nampaknya lebih

penting dari pada hasil. Guru IPS melakukan evaluasi belajar dengan

menggunakan konstruktivisme harus mampu mencatat keterampilanketerampilan

21
Nana Supriatna dkk, op.cit., h. 39-42
yang dikembangkan dalam kegiatan belajar-mengajar. Kemampuan-kemampuan

dalam mengumpulkan informasi atau data untuk dirinya serta

mengkomunikasikan hasil untuk berbagai keperlaun harus dapat dikembangkan

dan dievaluasi dalam pengajaran IPS yang bersifat konstruktivis.

3. Peran Guru dalam Pendekatan Konstruktivisme

Seperti yang telah kita ketahui, proses belajar-mengajar selama ini guru

masih belum menguasai cara-cara mengajar dengan menggunakan strategi belajar

yang baik, sehingga siswa hanya sekedar meniru dan menghafal setiap materi

yang diberikan. Dengan demikian siswa tidak menjadi aktif dan tidak dapat

berpikir kritis terhadap materi.

Dalam pendekatan konstruktivisme menurut Trianto, guru berperan

sebagai: 1) Menjadikan pengetahuan bermakna bagi siswa; 2) Memberi

kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan

3) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.22

Dalam kelas konstruktivisme, tugas guru adalah membantu siswa

mencapai tujuannya. Artinya guru hanya sebagai fasilitator dalam pembelajaran.

Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk

rnenemukan sesuatau yang baru bagi siswa.

C. Bahan Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian ini menemukan bahwa pemanfaatan metode dalam

pembelajaran IPS mampu menumbuhkan motivasi dan hasil belajar yang baik
22
Trianto, op.cit., h. 109
bagi siswa karena konstruktivisme adalah strategi pembelajaran yang menekankan

kepada asspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga

pembelajaran melalui strategi ini dapat bermakna.

Oktavia Qomari Leni, menyatakan hasil penelitian menunjukkan bahwa

penerapan pembelajaran konstruktivisme dengan pendekatan scaffolding pada

mata pelajaran Akuntansi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1

SMA Negeri 1 Bangil. Peningkatan prestasi untuk ranah kognitif sebesar 7,44 %

pada sikuus II dan 13,72 % pada sikius III, untuk ranah afektif meningkatkan

prestasi siswa sebesar 3,44 % pada sikius II dari 5,31 % pada sikius Ill, sedangkan

untuk ranah psikomotorik sebesar 32,74 %. pada siklus II dan 6,43 % pada siklus

III. Adapun saran dalam penelitian ini agar SMA Negeri 1 Bangil menerapkan

pendekatan scaffolding sebagai alternatif pendekatan pembelajaran serupa atau

pada bidang studi yang lain.23

Penelitian lain yang berkaitan pada pembelajaran IPS dengan

menggunakan pendekatan konstruktivisme dilakukan oleh Sobariah. la

menyimpulkan bahwa pembelajaran IPS dengan menggunakan pendekatan

konstruktivisme dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, menyimpulkan bahwa

terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dalam penggunaan metode

konstruktivisme terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar IPS dapat

meningkat. Berdasarkan pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa

penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran IPS dapat

meningkatkan hasil belajar siswa dalam belajar memanffatkan sumber daya alam
23
http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/akuntansi/article/view/3318/1059
yang ada di Iingkungannya, siswa jadi lebih aktif dan tanggap dalam berpikir dan

bertindak.

D. Pengembangan Konseptual Perencanaan Tindakan

Bahasan-bahasan diatas menjelaskan bahwa kemampuan peserta didik

dalam memahami suatu pengetahuan harus berdasarkan pada proses asimilasi dan

akomodasi yang harus didasari pada keseimbangan keduanya. Pada saat kegiatan

pembelajaran pendidik harus menyediakan fasilitas proses yang memuat peserta

didik aktif menemukan sendiri pengetahuannya, dengan cara menggunakan

pendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Dalam proses belajar, pendidik menggunakan pendekatan konstruktivisme

karena pada pendekatan ini akan membuat siswa aktif dan menemukan

pengetahuan yang diperolehnya dengan cara membuat kegiatan yang aktif. Jika

hal ini dapat diciptakan maka pengetahuan yang diperoleh peserta didik dapat

lebih bermakna dan berarti untuk diterapkan dalam kehidupannya.

Pengertian hasil belajar IPS tentang sumber daya alam merupakan suatu

dorongan internal dan eksternal dalam diri siswa untuk mengadakan perubahan

tingkah laku. Perubahan tingkah laku itu dapat dilihat dari aspek kognitif, afektif,

dan psikomotor.

Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik, menghargai

keunikan peserta didik secar individu, penggunaan metode aktif, menciptakan ide

atau pengetahuan baru agar peserta didik dalam kegiatan belajar dapat

menemukan dan mengembangkan pengetahuan dalam dirinya dengan


mengkonstruksi pengalaman-pengalaman yang dialami oleh peserta didik

sehingga dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Peserta didik diberi

kata-kata semangat oleh guru sehingga dalam belajar tentang sumber daya alam,

akan timbul kemauan dan semangat yang tinggi dalam belajar. Peserta didik tidak

Iangsung diberikan contoh tentang manfaat sumber daya alam, namun peserta

didik dengan sendirinya mengkonstruksi pengetahuan yang telah ada didalam

dirinya.

Berdasarkan uraian diatas, diduga jika pembelajaran IPS dilaksanakan

menggunakan pendekatan konstruktivisme yang menekankan siswa menjadi aktif

dan daya bernalar atau berpikir Iebih cepat serta siswa dapat menghubungkan satu

konsep dengan konsep Iainnya melalui pengalaman yang telah dilaluinya maka

hasil belajar siswa akan meningkat.

E. Hipotesis Tindakan

Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini sebagai berikut: "Dengan

pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan hasil belajar tentang sumber

daya alam dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Ka. Tengah IV, Bekasi

Utara".

Anda mungkin juga menyukai