Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM PERAWATAN KELUARGA PADA PASIEN GOUT

Diajukan untuk memenuhi mata kuliah Community Nursing Process 2

oleh:

Rica Faricha 220110130054

Raden Nida Yudiastri Muthia 220110130128

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS PADJAJARAN

JATINANGOR

2016
Daftar Isi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gout lebih dikenal di masyarakat sebagai sebutan untuk suatu penyakit yang bernama
asam urat, tetapi sebenarnya asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin. Asam
urat selalu ada dalam tubuh manusia, yang apabila kadarnya meningkat dapat menimbulkan
beberapa keluhan. Peningkatan kadar asam urat darah atau hiperurisemia adalah kadar asam
urat darah di atas 7 mg/dl pada laki-laki dan di atas 6 mg/dl pada perempuan (Wortmann,
1995).

Menurut American College of Rheumatology, gout adalah suatu penyakit dan potensi
ketidakmampuan akibat radang sendi yang sudah dikenal sejak lama, gejalanya biasanya
terdiri dari episodik berat dari nyeri infalamasi satu sendi.

Gout adalah bentuk inflamasi arthritis kronis, bengkak dan nyeri yang paling sering di
sendi besar jempol kaki. Namun, gout tidak terbatas pada jempol kaki, dapat juga
mempengaruhi sendi lain termasuk kaki, pergelangan kaki, lutut, lengan, pergelangan tangan,
siku dan kadang di jaringan lunak dan tendon. Biasanya hanya mempengaruhi satu sendi pada
satu waktu, tapi bisa menjadi semakin parah dan dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi
beberapa sendi. Gout merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik
yang ditandai oleh meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia).

Besarnya angka kejadian hiperurisemia pada masyarakat Indonesia belum ada data
yang pasti. Penelitian lapangan yang dilakukan pada penduduk kota Denpasar, Bali
didapatkan prevalensi hiperurisemia sebesar 18,2% (Wisesa dan Suastika, 2009).

Satu survei epidemiologik yang dilakukan di Bandungan, Jawa Tengah atas kerjasama
WHO-COPCORD terhadap 4.683 sampel berusia antara 15 – 45 tahun di dapatkan bahwa
prevalensi hiperurisemia sebesar 24,3% pada laki-laki dan 11,7% pada wanita. Secara
keseluruhan prevalensi kedua jenis kelamin adalah 17,6% (Darmawan et al, 2009).

Tanda dan gejala gout diantaranya yaitu:

a. Akut
Serangan awal gout berupa nyeri yang berat, bengkak dan berlangsung cepat, lebih
sering di jumpai pada ibu jari kaki. Ada kalanya serangannyeri di sertai kelelahan, sakit
kepala dan demam.

b. Interkritikal

Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut dimana terjadi periode interkritikal
asimtomatik. Secara klinik tidak dapat ditemukan tanda-tanda radang akut.

c. Kronis

Pada gout kronis terjadi penumpukan trofi (monosodium urat) dalamjaringan yaitu di
telinga, pangkal jari dan ibu jari kaki.

Berdasarkan insidensi yang terjadi dan juga banyaknya keluhan mengenai nyeri yang
dapat mengganggu aktifitas penderita, maka kami akan melakukan Range of Motion ROM)
kepada penderita penyakit untuk mengurangi rasa nyeri pada bagian persendiannya.

1.2 Tujuan

Tujuan dari dilakukannya perawatan keluarga kepada pasien gout yaitu untuk
mengetahui keefektifan dari intervensi mengenai Range of Motion ROM) terhadap pasien
gout.

1.3 Manfaat

Dengan dilakukannya perawatan keluarga kepada pasien gout, maka diharapkan akan
mendapatkan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi ilmu pengetahuan

Mengetahui keefektifan dari intervensi Range of Motion ROM) kepada pasien gout.

2. Bagi pasien gout

Pasien gout dapat mengetahui cara untuk mengurangi rasa nyeri pada persendiannya
dengan melakukan Range of Motion ROM).
3. Bagi perawat

Perawat dapat mempraktekan cara melakukan Range of Motion ROM) kepada pasien
gout.
BAB II
ISI

I. Data Umum
Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :
1. Nama kepala keluarga(KK) : Tn. Mm (Alm.)
2. Alamat dan telepon : Komp. Griya Prima Alam Asri
No 2 blok D3, Rancaekek / 087722675136
3. Pekerjaan kepala keluaga : Pensiun PNS
4. Pendidikan kepala keluarga : SLTP
5. Komposisi keluarga dan genogram :
No Hub
Jenis Status
Nama Dengan Umur Pendidikan Pekerjaan
Kelamin Kesehatan
KK
1. Pensiunan
Ny. Sa P Istri 76 SD Asam Urat
PNS
2. Ll P Anak 58 SMA Ibu RT Asam Urat
3. Uj L Anak 55 S1 PNS Sehat
4. Cc P Anak Alm SMA - -
5. Ar L Anak 53 SMA PNS Sehat
6. As L Anak 50 S1 PNS Sehat
7. Dd L Anak 48 S1 PNS Sehat
8. Es P Anak 46 SMA Ibu RT Sehat
9. Ys P Anak 44 SMA Ibu RT Asam Urat
10. Ah L Anak Alm - - -
11. Mr P Anak 41 S1 Ibu RT Asam Urat
Genogram :

Tn. Mm Ny. Sa
76 Th 76 th

Ll Uj Cc Ar As Dd Ah
Es Ys Mr

Perempuan Laki – laki Meninggal Pasien yg diidentifikasi

6. Tipe keluarga : Jenis tipe keluarga tradisional :


Keluarga dengan orangtua tunggal: ditinggalkan suami karena meninggal

7. Suku bangsa : Sunda, biasa nya sunda lebih suka dengan makan lalab-lalaban
sehingga banyak yang mengalami penyakit asam urat
8. Agama : Islam
9. Status sosial ekonomi keluarga : Rp. 1.500.000,- / bulan, ditambah dengan + Rp.
100.000,- / bulan dari setiap anak nya.
10. Aktivitas rekreasi keluarga : silaturahmi keluarga, lebih suka berendam air hangat 1
bulan sekali, menonton tv.

II. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga


11. Tahap perkembangan keluarga saat ini :
Keluarga Ny.Sa mempunyai 10 orang anak, anak pertama berumur 58 tahun dan
anak terakhir berumur 41 tahun, maka keluarga Ny. Sa berada pada tahapan
perkembangan keluarga dengan tahap masa tua. Yang artinya tahap ini masuk ke
tahap lansia, dan orang tua mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia fana ini.
12. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :
Ingin melaksanakan rukun islam yang kelima ( Berangkat Haji). Masih kendala dalam
biaya.
13. Riwayat keluarga inti :
Tidak ada penyakit keturunan. Hanya Ny. Sa terkena penyakit asam urat. Sering
kumat apabila terlalu capek, makanan tidak dijaga, sangat senang makan lalab-
lalaban, sehingga anak-anak nya terutama anak perempuan menjadi terbiasa makan
makanan lalab, dan hampir semua anak perempuannya juga memiliki kadar asam urat
yang tinggi. Cek kadar asam urat biasanya dilakukan apabila sudah terasa sangat nyeri
hingga tidak bisa berakktivitas.
14. Riwayat keluarga sebelumnya.
Sudah sekitar + 3 tahun ini kadar asam urat Ny. Sa selalu tinggi.
III. Pengkajian lingkungan
15. Karakteristik rumah.
luas rumah lebar 7 M, panjang 15M, terdiri dari 2 kamar tidur, 1 mushola, ruang
tamu, ruang keluarga/ruang tv, dapur, dan 1 kamar mandi.
- Type bangunan : lantai keramik
- Ventilasi : sinar matahari masuk dengan cukup, jendela di ruang tamu bisa di
buka, jendela di ruang keluarga bisa dibuka, jendela di kamar Ny. Sa bisa dibuka.
- Kebersihan ruang : terdapat banyak barang-barang zaman dahulu di bagian dapur
sehingga terlihat kumuh.
- Sumber air : dari PAM
- Denah rumah :
Kamar
Mandi Dapur

Kamar tdr
Musholla 2
R.
Keluarga
Kamar
R. Tamu Tidur
Utama

Teras Halaman Depan


16. Karakteristik tetangga dan komunitas RW.
Biasanya ibu-ibu lansia sering mengajak Ny. Sa untuk mengikuti kegiatan senam pagi
setiap hari minggu di lapang dekat komplek rumah.
17. Mobilitas geografis keluarga :
Keluarga ini tidak pernag berpindah tempat.
18. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat :
Untuk kegiatan di masyarakat sekitar, Ny. Sa sering mengikuti kegiatan pengajian
ibu-ibu setempat, dan arisan RT. Sedangkan perkumpulan dengan keluarga biasanya
anak-anak mengunjungi rumah Ny. Sa untuk melihat keadaan Ny. Sa + 1 minggu satu
kali atau paling lama 1 bulan sekali.
19. Sistem pendukung keluarga :
Yang merawat Ny. Sa adalah yang paling dekat rumah nya dengan Ny. Sa, yaitu anak
yang paling terakhir. Jarak dari rumah dengan puskesmas + 100 meter, sehingga
mudah untuk berobat ataupun check up.
20. Pola komunikasi keluarga :
Ny. Sa cenderung lebih memendam perasaan yang tidak bisa diungkapkan pada anak-
anaknya. Sehingga karakteristik komunikasi yang dimiliki Ny. Sa ini adalah
komunikasi disfungsional dalam keluarga nya karena adanya ketidakmampuan dalam
mengungkapkan kebutuhan.
21. Struktur kekuatan keluarga :
Biasanya anak pertama yang selalu mengendalikan dan mempengaruhi anggota
keluarga lainnya untuk mengubah perilaku. Karena anak pertama yang dapat
dipercayai oleh semua anggota keluarga Ny. Sa.
22. Struktur peran.
Ny. Sa sekarang menjadi satu-satu nya orant tua dan panutan bagi anak-anak nya saat
ditinggal suami nya meninggal. Dan peran sebagai anak nya terutama yang tinggal
dekat dengan Ny. Sa menjadi anak yang memberikan perhatian lebih pada Ny. Sa
23. Nilai atau norma keluarga.
Menyesuaikan dengan nilai agama yang dianutnya, Ny. Sa percaya bahwa apapun
yang diberi Allah baik penyakit atau kesehatan adalah hal yang harus diterima.
IV. Fungsi keluarga.
24. Fungsi afektif. :
Ny. Sa dalam menggabarkan kebutuhannya cenderung tidak terbuka. Tetapi dari
anak- anak nya sudah lebih sensitif akan hal yang dibutuhkan untuk Ny. Sa.
25. Fungsi sosialisasi :
Keluarga Ny. Sa sudah terbiasa berperilaku baik dengan sesama saudara dan
lingkungan sosialnya, maka dari itu mereka sering bersilaturahmi satu sama lain.
26. Fungsi perawatan kesehatan.
Jika Ny. Sa sudah merasakan kaku saat bergerak biasanya Ny. Sa sudah mengerrti
bahwa asam uratnya sedang kambuh dan harus segera makan obat atau berobat. Tapi
apabila sudah tidak terasa, kadang Ny. Sa makan makanan sembarangan.
27. Fungsi reproduksi.
a. jumlah anak 10, tetapi 2 sudah meninggal. Anak yang masih hidup 8 orang.
b. karena pada saat zaman dahulu tidak ada sistem KB, maka untuk pengaturan
kehamilan tidak bisa dijaga.
28. Fungsi ekonomi
Ny. Sa berpenghasilan tetap sebagai pensiunan PNS, dan memang tidak menentu juga
apabila anak-anak Ny. Sa memberikan uang per bulan nya pada beliau. Dan untuk
saat ini kebutuhan Ny. Sa cukup untuk menghidupi dirinya sendiri. Tetapi masih tidak
bisa menabung untuk berangkat haji.
V. Stres dan koping keluarga
29. Stresor jangka pendek dan panjang
a. stresor jangka pendek yang sering dialami ketika Ny. Sa sudah merasa drop atau
sakit / sudah terasa tidak enak badan. Dikarenakan masih belum siap untuk
menghadap pulang ke yang Maha Kuasa, masih banyak yang harus diperbaiki
meskipun sudah berumur.
b. Stresor jangka panjang yaitu saat ditinggal suaminya meninggal, beliau sampai
tidak bisa melupakannya sampai + 1 tahun.
30. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stresor.
Keluarga menerima ini apa adanya dan anak-anaknya selalu mendukung baik
psikologis maupun fisik Ny. Sa.
31. Strategi koping yang digunakan.
Biasanya anak-anak nya selalu memberikan perhatian yang lebih dari biasanya
apabila Ny. Sa sudah merasakan stressor yang dialaminya.
32. Strategi adaptasi disfungsional.
Ny. Sa kadang sering mengeyel, dan tidak bisa diberitahu oleh anak-anak nya apabila
stressor nya sedang meningkat.
VI. Pemeriksaan Fisik :
a) Tanda tanda vital :
- TD : 130/80 mmHg
- Nadi : 86x / mnt
- Suhu : 36,6oC
- Respirasi : 22x/ mnt
b) Head to toe :
1) Kepala

Bentuk kepala simetris, tidak terdapat kelainan, tidak terdapat benjolan, tidak ada
luka/lesi, kepala bersih, klien membersihkan kepala 2 kali dalam seminggu.

2) Mata

Bentuk kedua mata simetris, tidak ada perdarahan ataupu peradangan, tetapi klien
sering merasa kesat dibagian kedua matanya.

3) Hidung

Hidung klien berfungsi dengan baik, bentuk simetris. Tidak ada peradangan ataupun
perdarahan, tidak ada polip.

4) Mulut

Mulut klien bersih, tidak ada tanda peradangan atau perdarahan. Gigi graham klien
sudah tidak ada, hanya bagian bawah dan atas yang masih bisa digunakan untuk
makan.

5) Telinga

Telinga klien kiri kanan sudah berfungsi kurang baik, klien dapat mendengar bunyi
detik arloji hanya dari jarak 5cm. Telinga bersih, tidak ada luka ataupun peradangan,
klien tidak menggunakan alat bantu dengar.

6) Leher

Kebersian baik, tidak ada tanda peradangan ataupun lika, tidak ada pembesaran
kelenjar tyroid.

7) Dada
Dada simetris, tidak ada kelainan, tidak ada batuk.

8) Abdomen

Simetris, tidak ada kelainan, tidak ada lesi atau luka, kebersihan tejaga.

9) Ekstremitas

Klien dapat beraktifitas dengan baik, namun lebih sering terasa linu pada sendi sendi
terutama bagian lutut.

Kulit di ekstremitas bawah terlihat ada memar.

c) Pemenuhan kebutuhan dasar :

a. Pola nutrisi

Klien makan 3 kali/hari. Nafsu makan baik. Klien biasanya minum teh pahit
hangat 1 hari kurang dari 8 gelas.

b. Pola eliminasi

Klien BAK 3-4 kali/hari dengan warna putih dan bau khas urine. Klien BAB
maksimal 1 kali/ 2 hari dengan konsistensi padat.

c. Pola aktivitas

Klien masih bisa berjalan jauh untuk membeli masakan ke warung setiap pagi.

d. Pola istirahat dan tidur

Klien tidur malam jam 9 kadang jam 11 malam dan bangun tidur jam 5 subuh
ketika adzan subuh. Klien kadang – kadang tidur siang.

VII. Harapan Keluarga


Berharap minimal 1 bulan sekali ada petugas kesehatan yang sering mengunjungi lansia
kerumah nya masing-masing, agar tidak usah capek-capek keluar dari rumah, karena lansia
sudah tidak bisa lagi berjalan dengan lancar, dan sudah sering terasa lelah nya.
II. Analisa Data
No Data Masalah Penyebab Tipologi
1. DS : Nyeri kronis Ketidakmampuan Aktual
Ny. Sa mengeluh persendian pada Ny. Sa keluarga untuk
lutut terasa nyeri dan kaku melakukan
setelah beraktivitas yang perawatan diri.
terlalu lama, setelah itu
pada saat duduk selalu
bersusah payah untuk
berdiri, saat sedang sholat
dari ruku ke sujud sangat
sulit digerakkan, setelah dari
sujud sangat sulit pula untuk
berdiri.
DO :
Bagian persendian kaki
tampak kaku.
2. DO : Kurang Ketidakmampuan Aktual
Ny. Sa menyatakan tentang pengetahuan keluarga
bagaimana cara melakukan tentang merawat diri
perawatan mandiri bagi perawatan diri terhadap
penyakit asam urat. penyakit asam
DS : urat.
Ny. Sa tidak begitu
mengetahui bagaimana cara
merawat diri untuk
mengatasi rasa sakit saat
asam urat kambuh, biasanya
hanya dipijat-pijat dan
memakai balsem .
III. Skala Prioritas Masalah
a. Nyeri kronis pada Ny. Sa b.d ketidakmampuan keluarga untuk melakukan perawatan
diri.
No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
1. Sifat masalah : Aktual 3/3 x 1 1 Saat ini Ny. Sa masih sering
merasakan nyeri, terutama
jika beraktivitas terlalu
lama.
2. Kemungkinan masalah 2/2 x 2 2 Dana ada, ada tindakan
dapat diubah : mudah untuk mengatasi, fasilitas
ada, pengetahuan keluarga
terhadap penyakit cukup
3. Potensi masalah untuk 2/3 x 2 2/3 Masalah sudah lama, ada
dicegah : cukup upaya-upaya yang telah
dilakukan
4. Menonjolnya masalah : 2/2 x 1 1 Ny. Sa menyataka nyeri
masalah berat harus segera yang dirasakan sangat
ditangani mengganggu dan ingin tau
bagaimana cara merawat
diri untuk mengatasi
penyakitnya.
Jumlah 4 2/3

b. Kurang pengetahuan tentang perawatan diri b.d ketidakmampuan keluarga merawat diri
terhadap penyakit (asam urat)
No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
5. Sifat masalah : Aktual 3/3 x 1 1 Saat ini Ny. Sa belum
mengetahui bagaimana
perawatan yang benar bagi
penderita asam urat.
6. Kemungkinan masalah 2/2 x 2 2 Dana ada, ada tindakan
dapat diubah : mudah untuk mengatasi, fasilitas
ada, pengetahuan keluarga
terhadap penyakit cukup,
keluarga sangat tertarik
dengan informasi-informasi
kesehatan.
7. Potensi masalah untuk 2/3 2/3 Masalah sudah lama, ada
dicegah : cukup upaya-upaya yang telah
dilakukan
8. Menonjolnya masalah : 1/2 x 1 1/2 Ny. Sa belum mengetahui
masalah berat harus segera cara perawatan yang benar
ditangani tetapi selama ini sudah
berusaha merawat diri
sesuai dengan kemampuan
dirinya sendiri dan saran
dari anak-anaknya.
Jumlah 4 1/6

Diagnosa Keperawatan sesuai prioritas :


1. Nyeri kronis pada Ny. Sa b.d ketidakmampuan keluarga untuk melakukan perawatan diri.
2. Kurang pengetahuan tentang perawatan diri b.d ketidakmampuan keluarga merawat diri
terhadap penyakit (asam urat).

IV. Rencana Keperawatan


No Dx. Tujuan Intervensi Rasional
1. Umum : 1. Mengkaji upaya- 1. Untuk
Setelah dilakuka asuhan upaya yang telah mengetahui
keperawatan keluargam dilakukan untuk upaya apa saja
Nyeri Ny. Sa berkurang. menurunkan rasa yang telah
Khusus : nyeri. dikakukan
setelah kunjungan keluarga 2. Mengajarkan klien.
dapat : teknik-teknik 2. Akan
a. Mengetahui cara untuk mengurangi melancarkan
mengatasi rasa nyeri. rasa nyeri. peredaran
b. Mempraktekan teknik- 3. Memotivasi Ny. darah sehingga
teknik pengurangan rasa Sa untuk kebutuhan
nyeri mempraktekkan oksigen
c. Menyatakan rasa nyeri metoda pengurang terpenuhi dan
berkurang. nyeri yang telah mengurangi
diajarkan. nyeri.
4. Menganjurkan Ny. 3. Agar klien
Sa untuk menjaga dapat
keseimbangan mempraktekan
aktivitas dan metoda
istirahat. pengurangan
5. Menganjurkan Ny. nyeri.
Sa mengurangi 4. Untuk
aktivitas yang meminimalisir
berlebihan. gejala penyakit
5. Agar rasa nyeri
tidak datang
terlalu sering
dan berlebihan.
2. Umum: 1. Kaji tingkat 1. Mengetahui
Setelah dilakukan asuhan pengetahuan Ny. tingkat
keperawatan keluarga, Sa tentang asam pengetahuan
pengetahuan keluarga urat dan tindakan klien.
tentang perawatan diri yang telah 2. Untuk
terhadap penyakit asam urat dilakukan. mempertahank
meningkat. 2. Menjelaskan cara an sendi dan
Khusus : perawatan yang mempraktekan
Setelah kunjungan keluarga tepat bagi secara mandiri
dapat : penderita asam saat penyakit
a. Mengetahui cara urat. kambuh sesuai
perawatan penderita kemampuan
asam urat klien.
b. Melakukan tindakan
yang tepat saat terjadi
serangan asam urat.

V. Implementasi
Tanggal Implementasi Evaluasi
Kamis, 19 1. memperkenalkan diri dan Keluarga sangat terbuka
Mei 2016. menjelaskan maksud dan tujuan. dan merasakan senang
Pukul 10.12 2. Melakukan pengkajian : akan kehadiran
WIB - Mengkaji data umum keluarga mahasiswa. Keluarga
- Mengkaji riwayat penyakit keluarga berharap untuk
- Mengkahi riwayat dan tahap mendapatkan informasi-
perkembangan keluarga informasi kesehatan
- Mengkaji lingkungan keluarga tentang penyakit yang
- Mengkaji fungsi keluarga diderita.
- Mengkaji koping da stres keluarga
- Melakukan pemeriksaan fisik.
- Mengkaji permasalahan kesehatan
yang terjadi pada keluarga.
- Mengkaji tindakan yang biasa
dilakukan untuk mengurangi gejala.
3. Melakukan kontrak waktu untuk
mengadakan kunjungan keluarga.
Jumat, 20 1. Mengajarkan teknik ROM pada S : Ny. Sa berusaha
Mei 2016. ekstremitas yang sering dikeluhkan mempraktekan apa yang
Pukul 10.00 nyeri oleh Ny. Sa untuk mengurangi telah diajarkan.
WIB rasa nyeri. O : Ny. Sa terlihat sangat
2. Memotivasi Ny. Sa untuk antusias saat melakukan
mempraktekkan metoda pengurang teknik ROM.
nyeri yang telah diajarkan. A : Tujuan belum tercapai
3. Menganjurkan Ny. Sa untuk menjaga P : memotivasi keluarga
keseimbangan aktivitas dan istirahat. untuk tetap melakukan
4. Menganjurkan Ny. Sa mengurangi teknik-teknik yang sudah
aktivitas yang berlebihan. diajarkan.
5. Kaji tingkat pengetahuan Ny. Sa
tentang asam urat dan tindakan yang
telah dilakukan.
6. Menjelaskan cara perawatan yang
tepat bagi penderita asam urat.
Senin, 23 1. Mengevaluasi efektivitas metode S : Ny. Sa menyatakan
Mei 2016. yang diajarkan terhadap penurunan nyeri mulai berkurang,
Pukul 15.30 nyeri. apabila teknik sering
2. Memotivasi keluarga untuk tetap dipraktekan.
terus mempraktekan metode O : Ny. Sa mempraktekan
pengurangan nyeri yang telah di teknik yang sudah
ajarkan kapanpun. diajarkan 3 hari yang lalu.
Dan terlihat sudah terbiasa
menggerakannya.
A : Tujuan tercapai
P : Berikan pujian
terhadap tindakan yang
dilakukan Ny. Sa.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Lesson Learned


Daftar Pustaka

http://www.digilib.stikesmuh-pkj.ac.id/e-skripsi/index.php?p=fstream-
pdf&fid=353&bid=408

http://repository.unand.ac.id/20122/3/BAB%201.pdf

http://repository.maranatha.edu/2032/3/0610013_Chapter1.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31060/4/Chapter%20II.pdf

http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/viewFile/555/556
LAMPIRAN

 Jurnal terkait Implementasi

Bachelor Science of Nursing Program

Institute of Health Science of Muhammadiyah

Pekajangan Pekalongan

July, 2013

ABSTRACT

Lukki Apriliana Jaya, Ratih Anjayani, Mokhamad Arifin, Rita Dwi Hartanti

The Effect of Range of Motion (ROM) to Muscle Strength in Patient with Gout in the
Work Territory of Community Health Center of Batang III Regency of Batang in 2013

xii, 70 pages, 6 tables, 2 schemes, 8 appendices

Gout caused the increase of uric acid in the blood, if it was not handled causing painful
inflammation which results in the hindrance of mobilization. One way of to handled
hindrance of mobilization is Range of Motion. This research aimed at finding out the effect of
Range of Motion (ROM) to muscle strength in patient with gout. This research was designed
as pre experimental with one group pretest and posttest approach without control group.
Samples in this research were 12 individuals. From the result of Paried T Test it was revealed
that there was effect in the strength of muscle in patient with gout before and after the
intervention with Range of Motion (ROM) in the work territory of Community Health Center
of Batang III Regency of Batang with ρ value 0.000 < 0.05. The researcher recommended
that health care provider give nursing care in the form of Range of Motion (ROM) to the
patient with gout in order to recover the patients’ muscle strength and reduce the hindrance of
mobilization.

Key words : Gout, Range of Motion (ROM)

Bibliography : 35 books (2003-2011), 4 websites

PENDAHULUAN
World Health of Organization (WHO) menyatakan bahwa kesehatan tidak hanya
meliputi aspek medis, tetapi juga aspek mental dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan
yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Kesehatan secara kompleks sebagai keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara
sosial dan ekonomi. Kesehatan merupakan suatu alat untuk hidup secara produktif (Maulana
2009, hh.4-5).

Status kesehatan menjadi indikator pembangunan kesehatan yang merupakan bagian


dari pembangunan nasional yang diupayakan oleh pemerintah. Pengertian sehat lebih
mengutamakan pada konsep sehat-produktif, yaitu sehat sebagai sarana atau alat untuk hidup
sehari-hari secara produktif. Upaya kesehatan harus diarahkan agar setiap penduduk dapat
memiliki kesehatan yang cukup dan dapat hidup produktif (Effendy & Makfudli 2009, h.3).

Salah satu penyakit yang saat ini mengganggu produktivitas masyarakat adalah asam
urat atau gout, yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat penumpukan asam urat (uric acid)
dalam tubuh secara berlebihan. Penyakit ini dapat mengakibatkan produksi asam urat
meningkat yang disebabkan meningkatnya asupan makanan kaya purin sehingga proses
pembuangannya melalui ginjal menurun. Gout sering diartikan sebagai encok atau rematik
yang disebabkan gangguan pada tulang dan sendi, namun sebenarnya Gout adalah penyakit
yang disebabkan peningkatan asam urat darah (Vitahealth 2005, h.1). Angka prevalensi gout
di dunia secara global belum tercatat, namun di Amerika Serikat angka prevalensi gout pada
tahun 2010 sebanyak 807.552 orang (0,27%) dari 293.655.405 orang. Indonesia menempati
peringkat pertama di Asia Tenggara dengan angka prevalensi 655.745 orang (0,27%) dari
238.452.952 orang (Right Diagnosis Statistik, 2010). Penderita asam urat sebagian besar
termasuk dalam golongan usia produktif yaitu usia 30-50 tahun dan 32% terjadi pada pria di
bawah usia 34 tahun (Utami 2003, h. 22). Nyeri yang disebabkan penyakit gout
mengakibatkan gangguan gerak sehingga menganggu aktivitas sehari-hari dan produktivitas
kerja, tak jarang penderita mengalami depresi karena kualitas dan produktivitasnya menurun
drastis (Khomsan dan Harlinawati 2008, h.4).

Peningkatan angka prevalensi penyakit gout di Indonesia disebabkan konsumsi


makanan yang tinggi purin seperti kerang, udang, kepiting, kacang, melinjo, bayam,
kangkung, daun singkong, kacang-kacangan yang dikeringkan beserta olahannya (tahu,
tempe, dan oncom), asparagus, jeroan hewan, makanan yang diawetkan, dan tapai (Hembing,
2008, h.10). Penyakit gout juga disebabkan minum beralkohol, kecapaian, stres, infeksi dan
sumbatan pembuluh darah (Yatim, 2006.h.34).

Penyakit gout dikatakan meningkat jika kadar asam urat di dalam darah lebih dari 7
mg/dl pada pria dan 6 mg/dl pada wanita. Kadar asam urat di dalam darah sangat bergantung
pada usia dan jenis kelamin (Misnadiarly 2007, h.9). Akibat kadar asam urat di dalam darah
yang tinggi, tubuh akan meresponnya dengan ditandai menggigil, denyut jantung cepat,
badan lemah dan jumlah sel darah putih meningkat (Yatim 2006, h. 35). Tanda tersebut pada
awalnya akan berlangsung selama beberapa hari dan setelah itu reda dalam beberapa bulan,
hingga pada akhirnya serangan gout akan menjadi lebih sering dan durasi waktunya menjadi
lebih lama. Serangan berikutnya menimbulkan rasa nyeri lebih hebat, rasa sakit lebih lama,
frekuensi serangan meningkat dan kesembuhan lebih pendek, disertai dengan bengkak dan
kaku sendi (Kahandar & Suhada, 2006, h.30).

Kaku sendi jika tidak diobati dengan baik, akan menyebabkan komplikasi yang lebih
berbahaya seperti persendian menjadi rusak sehingga pincang, peradangan tulang, batu ginjal
(kencing batu), gagal ginjal dan kerusakan ligamen dan tendon seperti penurunan kekuatan
otot (Vitahealth 2005, h.22). Kekuatan otot diukur menggunakan derajat kekuatan otot
dengan cara meminta pasien untuk menggerakkan bagian tubuh. Derajat kekuatan otot dapat
dibagi sebagai berikut (1) Derajat 0 yaitu paralisis total atau tidak ditemukan adanya
kontraksi pada otot; (2) Derajat 1 yaitu kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan
dari tonus otot yang dapat diketahui dengan palpasi dan tidak dapat menggerakan sendi; (3)
Derajat 2 yaitu otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya tidak dapat
melawan pengaruh gravitasi; (4) Derajat 3 yaitu di samping dapat menggerakkan sendi, otot
juga dapat melawan pengaruh gravitasi tetapi tidak kuat terhadap tahanan yang diberikan oleh
pemeriksa, (5) Derajat 4 yaitu kekuatan otot seperti derajat 3 disertai dengan kemampuan otot
terhadap tahanan ringan; dan (5) Derajat 5 yaitu kekuatan otot normal.

Penurunan kekuatan otot pada pasien gout menyebabkan gangguan mobilitas fisik
yaitu suatu keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh baik satu ataupun lebih pada ekstremitas
secara mandiri dan terarah (Nanda, 2012, h.304). Salah satu intervensi untuk mengatasi
gangguan mobilitas fisik antara lain range of motion (ROM) yaitu suatu gerakan yang dalam
keadaan normal dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan. Tujuan dilakukan ROM yaitu
(1) mempertahankan dan memelihara kekuatan otot; (2) memelihara mobilitas sendi; (3)
merangsang sirkulasi darah; (4) mencegah kelainan bentuk. ROM terdiri dari dua jenis yaitu
ROM pasif yaitu ROM yang dilakukan oleh pasien dengan bantuan perawat setiap gerakan
dan ROM aktif yaitu latihan ROM yang dilakukan sendiri oleh pasien tanpa bantuan perawat
dari setiap gerakan yang dilakukan (Suratun dkk 2008, hh.172-173).

Range of motion (ROM) atau rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan
yang dilakukan pada suatu sendi. ROM bisa dilakukan pada tiga potongan tubuh yaitu sagital,
frontal dan transversal. Pasien yang mobilitas sendinya terbatas karena disabilitas, trauma dan
penyakit memerlukan latihan sendi untuk mengurangi bahaya mobilitas (Hidayat dan Uliyah
2005, 146-147). Latihan gerak sendi tersebut dapat dilakukan secara adekuat pada sendi yang
sakit, sehingga mampu meningkatkan mobilitas fisik dan mengurangi resiko kelemahan otot
pada pasien gout (Suratun dkk, 2008, h.122).

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Batang 2012 tercatat 118 kasus gout yaitu 32 kasus
di Puskesmas Batang I, 22 kasus di Puskesmas Batang II, 47 kasus di Puskesmas Batang III
dan 18 kasus di Puskesmas Batang IV. Puskesmas Batang III merupakan Puskesmas dengan
kasus penyakit gout tertinggi. Kondisi geografis wilayah Puskesmas Batang III berada di
daerah pedesaan dan merupakan sentra industri kecil penghasil emping yang berkontribusi
pada peningkatan konsumsi masyarakat terhadap makanan dengan kadar purin yang tinggi
seperti daun dan buah melinjo dalam sayur yang diolah menjadi lauk sehari-hari. Keadaan ini
menyebabkan angka prevalensi penyakit gout di Kabupaten Batang tinggi. Penderita gout
mengalami keluhan atau gejala seperti nyeri sendi dan kekakuan otot yang mengganggu
aktivitas. Salah satu upaya yang telah dilakukan penderita gout untuk mengurangi rasa sakit
nyeri adalah dengan berjalan kaki ringan di pagi hari.

Berdasarkan uraian tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Range of Motion (ROM) Terhadap Kekuatan Otot pada Pasien Gout di Wilayah
Puskesmas Batang III Kabupaten Batang Tahun 2013”.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh Range of Motion (ROM) terhadap
kekuatan otot pada pasien gout di Wilayah Puskesmas Batang III Kabupaten Batang Tahun
2013.

METODE PENELITIAN
Desain penelitian menggunakan pra-eksperimen (pre-experiment designs) yaitu suatu
kegiatan yang dilakukan sebelum adanya percobaan yang berupa perlakuan terhadap suatu
variabel dan perlakuan tersebut diharapkan terjadi perubahan atau pengaruh terhadap variabel
yang lain (Notoatmodjo 2005, h.162). Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan teknik one group pretest and postest without control group yaitu
mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek.
Kelompok subjek diobservasi lagi setelah intervensi (Nursalam 2003, h.85).

Populasi penelitian adalah seluruh pasien gout di wilayah Puskesmas Batang III
Kabupaten Batang sebanyak 47 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive
sampling. Polli & Beck (2009, h. 312) didasarkan pada keyakinan bahwa pengetahuan
peneliti tentang populasi dapat digunakan untuk memilih anggota sampel. Peneliti mungkin
menetapkan untuk memilih sampel yang dinilai menjadi khas dari populasi atau sebagian dari
tema tentang isu-isu yang diteliti. Pengambilan sampel dalam penelitian ini didasarkan pada
kekuatan otot, jadi hanya pasien gout yang mengalami gangguan kekuatan otot dengan kadar
asam urat yang tinggi.

Penelitian dilakukan di wilayah Puskemas Batang III Kabupaten Batang. Penelitian


dilakukan sesuai dengan jadwal penelitian (terlampir).

Penelitian ini menggunakan instrumen prosedur pemeriksaan derajat kekuatan otot


dengan ketentuan sebagai berikut: Derajat 0 yaitu Paralisis total / tidak ditemukan adanya
kontraksi pada otot. Derajat 1 yaitu kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan dari
tonus otot yang dapat diketahui dengan palpasi dan tidak dapat menggerakan sendi. Derajat 2
yaitu otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya tidak dapat melawan
pengaruh gravitasi. Derajat 3 yaitu di samping dapat menggerakkan sendi, otot juga dapat
melawan pengaruh gravitasi tetapi tidak kuat terhadap tahanan yang diberikan oleh
pemeriksa. Derajat 4 yaitu kekuatan otot seperti derajat 3 disertai dengan kemampuan otot
terhadap terhadap tahanan ringan. Derajat 5 yaitu kekuatan otot normal.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada pasien gout menunjukkan perubahan kekuatan otot setelah dilakukan intervensi
Range of Motion (ROM). Pada hari kedua terdapat 5 responden (33,3%) yang telah
mengalami perubahan derajat kekuatan otot, sedangkan hari ketiga terdapat 10 responden
(66,6%) yang mengalami perubahan derajat kekuatan otot. Pada hari keempat terdapat 1
orang (6,6%) yang mengalami peningkatan kekuatan otot, hari kelima terdapat 8 orang
(53,3%) yang mengalami peningkatan kekuatan otot, sedangkan pada hari terakhir intervensi
diketahui semua (100%) responden sudah mengalami perubahan kekuatan otot.

Dari hasil penelitian juga dapat diketahui bahwa responden mengalami peningkatan
kekuatan otot sesudah dilakukan Range of Motion yaitu dari rata-rata kekuatan otot
responden sebelum dilakukan Range of Motion sebesar 2,07 menjadi 3,13. Hasil ini
menunjukkan bahwa ROM dapat meningkatkan kekuatan otot. Hal ini sesuai dengan Suratun
dkk (2008, h.172) yang menyatakan bahwa tujuan Range of Motion (ROM) adalah
mempertahankan atau memelihara kekuatan otot, memelihara mobilitas persendian,
merangsang sirkulasi darah dan mencegah kelainan bentuk. Dari hasil penelitian bahwa
Range of Motion (ROM) juga dapat menurunkan nyeri pada pasien gout.

Hasil penelitian diperoleh ρ value sebesar 0,001 < 0,05, dapat disimpulkan ada
pengaruh kekuatan otot pada pasien gout sebelum dan sesudah dilakukan Range of Motion
(ROM) di Wilayah Puskesmas Batang III Kabupaten Batang.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Batang III Kabupaten
Batang didapatkan hasil simpulan sebagai berikut:

1. Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan diketahui yang tidak bekerja sebesar


41,7%, pedagang sebesar 41,7% dan pekerja swasta sebesar 16,6%.

2. Kekuatan otot sebelum diberikan intervensi Range of Motion (ROM) diketahui rata-rata:
2,00.

3. Kekuatan otot sesudah diberikan intervensi Range of Motion (ROM) diketahui rata-rata:
3,00.

4. Ada pengaruh kekuatan otot pada pasien gout sebelum dan sesudah dilakukan Range of
Motion (ROM) di Wilayah Puskesmas Batang III Kabupaten Batang.

SARAN

1. Bagi profesi keperawatan


Hasil penelitian ini sebaiknya dapat dijadikan sebagai rujukan bagi perawat untuk
memberikan asuhan keperawatan berupa Range of Motion (ROM) pada pasien gout
memulihkan kekuatan otot pada pasien gout dan mengurangi gangguan mobilisasi pasien
gout.

 Dokumentasi

(Kamis, 19 Mei 2016) - Pengkajian

(Jumat, 20 Mei 2016) - Intervensi


(Senin, 23 Mei 2016) - Evaluasi

(Dok. Bagian ekstremitas yg memar) (Dok. Bagian ektremitas)